Anda di halaman 1dari 29

BAB I

PENDAHULUAN
1.1.

LATAR BELAKANG
Oksigenasi merupakan kebutuhan dasar manusia yang paling mendasar yang

digunakan untuk kelangsungan metabolisme sel tubuh, mempertahankan hidup dan aktifitas
berbagai organ sel tubuh.
Dalam kaitannya pemenuhan kebutuhan oksigenasi tidak terlepas dari peranan fungsi
sisitem pernafasan dan kardiovaskuler yang menyuplai kebutuhan oksigen tubuh. Dan dalam
implementasinya mahasiswa keperawatan diharapkan lebih memahami tentang apa
oksigenasi, bagaimana proses keperawatan pada klien dengan gangguan oksigenasi dan
bagaimana praktik keperawatan yang mengalami masalah atau gangguan oksigenasi.
1.2.

TUJUAN

1. Tujuan Umum
Tujuan umum penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa khususnya mahasiswa
S1 keperawatan, mampu mengingat kembali (review) mengenai konsep pemenuhan
kebutuhan oksigenasi dan praktek keperawatan yang bisa diimplementasikan pada klien yang
mengalami gangguan oksigenasi

2. Tujuan Khusus
Tujuan khusus penyusunan makalah ini adalah agar mahasiswa lebih memahami :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Pengertian Oksigenasi
Tujuan pemberian oksigenasi
Anatomi sistem pernafasan
Fisiologi sistem pernafasan
Faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan oksigen
Perubahan Fungsi pernapasan

BAB II
KONSEP DASAR
1

2.1.

Pengertian
Oksigen adalah salah satu kebutuhan yang paling vital bagi tubuh. Otak masih mampu

mentoleransi kekurangan oksigen antara 3-5 menit. Apabila kekurangan oksigen berlangsung
lebih dari 5 menit, maka terjadi kerusakan sel otak secara permanen.. Selain itu oksigen
digunakan oleh sel tubuh untuk mempertahankan kelangsungan metabolisme sel. Oksigen
akan digunakan dalam metabolisme sel membentuk ATP (Adenosin Trifosfat) yang
merupakan sumber energi bagi sel tubuh agar berfungsi secara optimal.
Oksigenasi adalah memenuhi kebutuhan oksigen dalam tubuh dengan cara
melancarkan saluran masuknya oksigen atau memberikan aliran gas oksigen (O 2) sehingga
konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
Oksigenasi adalah memberikan aliran gas oksigen (O2) lebih dari 21 % pada tekanan 1
atmosfir sehingga konsentrasi oksigen meningkat dalam tubuh.
2.2.

Tujuan pemberian oksigenasi

Prosedur pemenuhan kebutuhan oksigen dapat dilakukan dengan pemberian oksigen


dengan menggunakan kanula dan masker, fisioterapi dada, dan cara penghisapan lendir
(suction)
Tujuan :
1. Untuk mempertahankan oksigen yang adekuat pada jaringan.
2. Untuk menurunkan kerja paru-paru.
3. Untuk menurunkan kerja jantung.
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi,
kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.

2.3.
1.

Anatomi Sistem Pernapasan


Saluran Nafas Atas

a. Hidung
2

Terdiri atas bagian eksternal dan internal

Bagian eksternal menonjol dari wajah dan disangga oleh tulang hidung dan kartilago
Bagian internal hidung adalah rongga berlorong yang dipisahkan menjadi rongga

hidung kanan dan kiri oleh pembagi vertikal yang sempit, yang disebut septum.
Rongga hidung dilapisi dengan membran mukosa yang sangat banyak mengandung

vaskular yang disebut mukosa hidung.


Permukaan mukosa hidung dilapisi oleh sel-sel goblet yang mensekresi lendir secara

terus menerus dan bergerak ke belakang ke nasofaring oleh gerakan silia.


Hidung berfungsi sebagai saluran untuk udara mengalir ke dan dari paru-paru.
Hidung juga berfungsi sebagai penyaring kotoran dan melembabkan serta

menghangatkan udara yang dihirup ke dalam paru-paru.


Hidung juga bertanggung jawab terhadap olfaktori (penghirup) karena reseptor
olfaktori terletak dalam mukosa hidung, dan fungsi ini berkurang sejalandengan
pertambahan usia.

b. Faring
o Faring atau tenggorok merupakan struktur seperti tuba yang menghubungkan hidung dan
rongga mulut ke laring
o Faring dibagi menjadi tiga region : nasal (nasofaring), oral (orofaring), dan laring
(laringofaring)
o Fungsi faring adalah untuk menyediakan saluran pada traktus respiratorius dan digestif
c. Laring
Laring atau organ suara merupakan struktur epitel kartilago yang menghubungkan faring

dan trakea
Laring sering disebut sebagai kotak suara dan terdiri atas:
Epiglotis Adalah daun katup kartilago yang menutupi ostium ke arah laring
selama menelan.
Glotis adalah ostium antara pita suara dalam laring.
Kartilago tiroid : kartilago terbesar pada trakea, sebagian dari kartilago ini
membentuk jakun (Adam's apple).
Kartilago krikoid : satu-satunya cincin kartilago yang komplit dalam laring
(terletak di bawah kartilago tiroid).
Kartilago aritenoid : digunakan dalam gerakan pita suara dengan kartilago tiroid.
Pita suara : ligamen yang dikontrol oleh gerakan otot yang menghasilkan bunyi

suara (pita suara melekat pada lumen laring).


Fungsi utama laring adalah untuk memungkinkan terjadinya vokalisasi.

Laring juga berfungsi melindungi jalan nafas bawah dari obstruksi benda asing dan
memudahkan batu.

d.

Trakea
Disebut juga batang tenggorok.
Ujung trakea bercabang menjadi dua bronkus yang disebut karina.

2.
Saluran Nafas Bawah
a. Bronkus
o Terbagi menjadi bronkus kanan dan kiri.
o Disebut bronkus lobaris kanan (3 lobus) dan bronkus lobaris kiri (2 bronkus).
o Bronkus lobaris kanan terbagi menjadi 10 bronkus segmental dan bronkus lobaris
kiri terbagi menjadi 9 bronkus segmental.
o Bronkus segmentalis ini kemudian terbagi lagi menjadi bronkus subsegmental yang
dikelilingi oleh jaringan ikat yang memiliki : arteri, limfatik dan saraf.
b. Bronkiolus
o Bronkus segmental bercabang-cabang menjadi bronkiolus.
o Bronkiolus mengadung kelenjar submukosa yang memproduksi lendir yang
membentuk selimut tidak terputus untuk melapisi bagian dalam jalan napas.

c.

Bronkiolus Terminalis
o Bronkiolus membentuk percabangan menjadi bronkiolus terminalis (yang tidak
mempunyai kelenjar lendir dan silia).

d. Bronkiolus respiratori
o Bronkiolus terminalis kemudian menjadi bronkiolus respiratori.
o Bronkiolus respiratori dianggap sebagai saluran transisional antara jalan napas
konduksi dan jalan udara pertukaran gas.
e. Duktus alveolar dan Sakus alveolar
o Bronkiolus respiratori kemudian mengarah ke dalam duktus alveolar dan sakus
alveolar.
o Dan kemudian menjadi alveoli.
4

f.

Alveoli
o Merupakan tempat pertukaran O2 dan CO2
o Terdapat sekitar 300 juta yang jika bersatu membentuk satu lembar akan seluas 70 m2
o Terdiri atas 3 tipe :
1) Sel-sel alveolar tipe I : adalah sel epitel yang membentuk dinding alveoli.
2) Sel-sel alveolar tipe II : adalah sel yang aktif secara metabolik dan mensekresi
surfaktan (suatu fosfolipid yang melapisi permukaan dalam dan mencegah
alveolar agar tidak kolaps).
3) Sel-sel alveolar tipe III : adalah makrofag yang merupakan sel-sel fagotosis dan
bekerja sebagai mekanisme pertahanan.

g. Paru-paru
o Merupakan organ yang elastis berbentuk kerucut.
o Terletak dalam rongga dada atau toraks.
o Kedua paru dipisahkan oleh mediastinum sentral yang berisi jantung dan beberapa
o
o
o
o

pembuluh darah besar.


Setiap paru mempunyai apeks dan basis.
Paru kanan lebih besar dan terbagi menjadi 3 lobus oleh fisura interlobaris.
Paru kiri lebih kecil dan terbagi menjadi 2 lobus.
Lobos-lobus tersebut terbagi lagi menjadi beberapa segmen sesuai dengan segmen
bronkusnya.

h. Pleura
o Merupakan lapisan tipis yang mengandung kolagen dan jaringan elastis
o Terbagi mejadi 2 :
1)
2)

Pleura parietalis yaitu yang melapisi rongga dada.


Pleura viseralis yaitu yang menyelubingi setiap paru-paru.

o Diantara pleura terdapat rongga pleura yang berisi cairan tipis pleura yang berfungsi
untuk memudahkan kedua permukaan itu bergerak selama pernapasan, juga untuk
mencegah pemisahan toraks dengan paru-paru.
o Tekanan dalam rongga pleura lebih rendah dari tekanan atmosfir, hal ini untuk
mencegah kolap paru-paru.
2.4.

Fisiologi Sistem Pernapasan


Bernafas/pernapasan merupkan proses pertukaran udara diantara individu dan

lingkungannya dimana O2 yang dihirup (inspirasi) dan CO2 yang dibuang (ekspirasi).
Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa
ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernapasan, diafragma, isi abdomen, dinding

abdomen, dan pusat pernapasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernapasan antara
12-15 kali per menit.
Proses bernafas terdiri dari 3 bagian, yaitu :
1.
Ventilasi .
Yaitu masuk dan keluarnya udara atmosfir dari alveolus ke paru-paru atau sebaliknya.
Proses keluar masuknya udara paru-paru tergantung pada perbedaan tekanan antara udara
atmosfir dengan alveoli. Pada inspirasi, dada ,mengembang, diafragma turun dan volume paru
bertambah. Sedangkan ekspirasi merupakan gerakan pasif.
Faktor-faktor yang mempengaruhi ventilasi :
a. Tekanan udara atmosfir
b. Jalan nafas yang bersih
c. Pengembangan paru yang adekuat
2.

Difusi
Yaitu pertukaran gas-gas (oksigen dan karbondioksida) antara alveolus dan kapiler paru-

paru. Proses keluar masuknya udara yaitu dari darah yang bertekanan/konsentrasi lebih besar
ke darah dengan tekanan/konsentrasi yang lebih rendah. Karena dinding alveoli sangat tipis
dan dikelilingi oleh jaringan pembuluh darah kapiler yang sangat rapat, membran ini kadang
disebut membran respirasi.
Perbedaan tekanan pada gas-gas yang terdapat pada masing-masing sisi membran
respirasi sangat mempengaruhi proses difusi. Secara normal gradien tekanan oksigen antara
alveoli dan darah yang memasuki kapiler pulmonal sekitar 40 mmHg.
Faktor-faktor yang mempengaruhi difusi :
a.
b.
c.
d.
e.
f.
3.

Luas permukaan paru.


Tebal membran respirasi.
Jumlah darah.
Keadaan/jumlah kapiler darah.
Afinitas.
Waktu adanya udara di alveoli.

Transpor
Yaitu pengangkutan oksigen melalui darah ke sel-sel jaringan tubuh dan sebaliknya

karbondioksida dari jaringan tubuh ke kapiler.


Oksigen perlu ditransportasikan dari paru-paru ke jaringan dan karbondioksida harus
ditransportasikan dari jaringan kembali ke paru-paru. Secara normal 97 % oksigen akan
berikatan dengan hemoglobin di dalam sel darah merah dan dibawa ke jaringan sebagai
oksihemoglobin. Sisanya 3 % ditransportasikan ke dalam cairan plasma dan sel-sel.

Faktor-faktor yang mempengaruhi laju transportasi :


a.
b.
c.
d.
e.

Curah jantung (cardiac Output / CO).


Jumlah sel darah merah.
Hematokrit darah.
Latihan (exercise).
Keadaan pembuluh darah.
Penyampaian oksigen ke jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi,

kardiovaskuler, dan keadaan hematologi.

Sistem Respirasi
Sistem pernapasan terdiri atas organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa

ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernapasan, diafragma, isi abdomen,
dinding abdomen dan pusat pernapasan di otak. Bernafas adalah pergerakan udara dari
atmosfer ke sel tubuh dan pengeluaran CO2 dari sel tubuh sampai ke luar tubuh. Ada tiga
langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan difusi.

Sistem kardiovaskuler
Kemampuan oksigenasi pada jaringan sangat dipengaruhi oleh fungsi jantung untuk

memompa darah sebagai transport oksigen. Darah masuk ke atrium kiri dari vena pulmonaris.
Aliran darah keluar dari ventrikel kiri menuju aorta melalui katup aorta. Kemudian dari aorta
darah disalurkan ke seluruh sirkulasi sistemik melalui arteri, arteriol, dan kapiler serta
menyatu kembali membentuk vena yang kemudian dialirkan ke jantung melalui atrium kanan.
Darah dari atrium kanan masuk dalam ventrikel kanan melalui katup pulmonalis untuk
kemudian dialirkan ke paru-paru kanan dan kiri untuk berdifusi. Darah mengalir di dalam
vena pulmonalis kembali ke atrium kiri dan bersikulasi secara sistemik berdampak pada
kemampuan transport gas oksigen dan karbon dioksida.

Hematologi
Oksigen membutuhkan transport dari paru-paru ke jaringan dan karbon dioksia dari

jaringan ke paru-paru. Sekitar 97% oksigen dalam darah dibawa eritrosit yang telah berikatan
dengan hemoglobin (Hb) dan 3 % oksigen larut dalam plasma. Setiap sel darah merah
mengandung 280 juta molekul Hb dan setiap molekul dari keempat molekul besi dalam
hemoglobin berikatan dengan satu molekul oksigenasi membentuk oksihemoglobin (HbO 2).
Afinitas atau ikatan Hb dengan O2 dipengaruhi oleh suhu, ph, konsentrasi 2,3 difosfogliserat
dalam darah merah.
7

Dengan demikian besarnya Hb dan jumlah eritrosit akan memengaruhi transport gas.

2.5.

Faktor-faktor yang memengaruhi kebutuhan oksigen.


1.
Faktor Fisiologi
a. Menurunnya kapasitas pengingatan O2 seperti pada anemia.
b. Menurunnya konsentrasi O2 yang diinspirasi seperti pada obstruksi saluran napas bagian
atas.
c. Hipovolemia sehingga tekanan darah menurun mengakibatkan transport O2 terganggu.
d. Meningkatnya metabolisme seperti adanya infeksi, demam, ibu hamil, luka, dan lain-lain.
e. Kondisi yang memengaruhi pergerakan dinding dada seperti pada kehamilan, obesitas,
muskulus skeleton yang abnormal, penyalit kronik seperti TBC paru.
a.
b.
c.
d.

2.
Faktor Perkembangan
Bayi prematur yang disebabkan kurangnya pembentukan surfaktan.
Bayi dan toddler adanya risiko infeksi saluran pernapasan akut.
Anak usia sekolah dan remaja, risiko infeksi saluran pernapasan dan merokok.
Dewasa muda dan pertengahan : diet yang tidak sehat, kurang aktivitas, stress yang

e.

mengakibatkan penyakit jantung dan paru-paru.


Dewasa tua : adanya proses penuaan yang mengakibatkan kemungkinan arteriosklerosis,
elastisitas menurun, ekspansi paru menurun.

a.

3. Faktor Perilaku
Nutrisi : misalnya pada obesitas mengakibatkan penurunan ekspansi paru, gizi yang
buruk menjadi anemia sehingga daya ikat oksigen berkurang, diet yang tinggi lemak

b.
c.
d.

menimbulkan arterioklerosis.
Exercise akan meningkatkan kebutuhan oksigen.
Merokok : nikotin menyebabkan vasokontriksi pembuluh darah perifer dan koroner.
Substansi abuse (alcohol dan obat-obatan) : menyebabkan intake nutrisi/Fe menurun

e.

mengakibatkan penurunan hemoglobin, alcohol, menyebabkan depresi pusat pernapasan.


Kecemasan : menyebabkan metabolism meningkat.

a.
b.
c.

4. Faktor Lingkungan
Tempat kerja.
Suhu lingkungan.
Ketinggian tempat dan permukaan laut.

Perubahan-perubahan fungsi jantung yang memengaruhi kebutuhan oksigenasi :


1. Gangguan kondiksi seperti distritmia (takikardia/bradikardia).
2. Perubahan cardiac output, menurunnya cardiac output seoerti pada pasien dekom
menimbulkan hipoksia jaringan.
8

3. Kerusakan fungsi katup seperti pada stenosis, obstruksi, regurgitasi darah yang
mengakibatkan ventrikel bekerja lebih keras.
4. Myocardial iskhemial infark mengakibatkan kekurangan pasokan darah dari arteri
koroner ke miokardium.
2.6.

Perubahan Fungsi pernapasan

1.

Hiperventilasi
Merupakan upaya tubuh dalam meningkatkan jumlah O 2 dalam paru-paru agar

pernapasan lebih cepat dan dalam. Hiperventilasi dapat disebabkan karena :


a.
b.
c.
d.

Kecemasan
Infeksi/sepsis
Keracunan obat-obatan
Ketidakseimbangan asam basa seperti pada asidosis metabolic.

Tanda-tanda dan gejala hiperventilasi adalah takikardia, napas pendek, nyeri dada (chest
pain), menurunkan konsentrasi, disorientasi , tinnitus.
2.

Hipoventilasi
Hivoventilasi terjadi ketika ventilasi alveolar tidak adekuat untuk memenuhi

penggunaan O2 tubuh atau untuk mengeluarkan CO2 dengan cukup. Biasanya terjadi pada
keadaan atelektasis (kolaps paru).
Tanda-tanda dan gejala pada keadaan hipoventilasi adalah nyeri kepala, penurunan
kesadaran, disorientasi, kardiakdistritmia, ketidakseimbangan elektrolit, kejang dan kardiak
arrest.

3.

Hipoksia
Tidak adekuatnya pemenuhan O2 seluler akibat dari defisiensi O2 yang diinspirasi atau

meningkatkan penggunaan O2 pada tingkat seluler. Hipoksia dapat disebabkan oleh :


a.
b.
c.
d.
e.
f.

Menurunnya hemoglobin
Berkurangnya konsentrasi O2 jika berada di puncak gunung.
Ketidakmampuan jaringan mengikat O2 seperti pada keracunan sianida.
Menurunnya difusi O2 dari alveoli ke dalam darah seperti pneumonia.
Menurunnya perfusi jaringan seperti pada syok.
Kerusakan/gangguan ventilasi.

Tanda-tanda hipoksia antara lain : kelelahan, kecemasan, menurunnya kemampuan


konsentrasi, nadi meningkat, pernapasan cepat dan dalam, sianosis, sesak napas, dan
clubbing.
2.7.

Gangguan Oksigenasi
Permasalahan dalam hal pemenuhan kebutuhan oksigen tidak terlepas dari adanya

gangguan yang terjadi pada sistem respirasi baik pada anatomi maupun fisiologi dari organorgan respirasi.
Gangguan pada sistem respirasi dapat disebabkan diantaranya oleh karena
peradangan, obstruksi, trauma, kanker, degeneratif, dan lain-lain. Gangguan tersebu akan
menyebabkan kebutuhan oksigen dalam tubuh tidak terpenuhi secara adekuat. Secara garis
besar, gangguan respirasi dikelompokkan menjadi tiga. Yaitu:
a) Gangguan irama/frekuensi pernapasan.
1.
a.

Gangguan irama pernafasan antara lain :


Pernafasan 'cheyne-stokes' yaitu siklus pernafasan yang amplitudonya mula-mula

dangkal, makin naik kemudian makin menurun dan berhenti. Lalu pernafasan dimulai
lagi dengan siklus baru. Jenis pernafasan ini biasanya terjadi pada klien gagal jantung
kongesti, peningkatan tekanan intrakranial, overdosis obat. Namun secara fisiologis, jenis
pernafasan ini terutama terdapat pada orang di ketinggian 12.000-15.000 kaki diatas
b.

permukaan laut dan pada bayi saat tidur.


Pernafasan 'biot' yaitu pernafasan yang mirip dengan pernafasan cheyne-stokes, tetapi
amplitudonya

rata dan disertai apnea, keadaan pernafasan ini kadang ditemukan pada

penyakit radang selaput otak.


c.
Pernafasan 'kussmaul' yaitu pernafasan yang jumlah dan kedalaman meningkat sering
melebihi 20 kali/menit. Jenis pernafasan ini dapat ditemukan pada klien dengan asidosis
metabolik dan gagal ginjal.
2.

Gangguan frekuensi pernafasan

a.

Takipnea/ hipernea, yaitu frekuensi pernafasan yang jumlah nya meningkat diatas

b.

frekuensi pernafasan normal.


Bradipnea, yaitu kebalikan dari takipnea dimana frekuensi pernafasan yang jumlahnya
menurun dibawah frekuensi pernafasan normal.

b) Insufisiensi pernafasan
Penyebab insufisiensi pernafasan

dapat

dibagi

menjadi

kelompok

yaitu:

1. Kondisi yang menyebabkan hipoventilasi alveolus


10

2. Kelainan yang menurunkan kapasitas difusi paru.


3. Kondisi yang menyebabkan terganggunya pengangkutan oksigen dari paru-paru
kejaringan.
c) Hipoksia.
Hipoksia adalah kekuranga oksigen dijaringan, istilah ini lebih tepat daripada anoksia. Sebab
jarang terjadi tidak ada oksigen sama sekali dalam jaringan. Hipoksia dapat dibagi kedalam
kelompok yaitu :
1.
Hipoksemia
2.
Hipoksia hipokinetik (stagnant anoksia/anoksia bendunga)
3.
Overventilasi hipoksia
4.
Hipoksia histotoksik
2.8.

Masalah Keperawatan Berkaitan dengan Kebutuhan Oksigen


Masalah keperawatan yang umum terjadi terkait dengan kebutuhan oksigen ini, antara

lain :
1. Tidak Efektifnya Jalan Napas.
Masalah keperawatan ini menggambarkan kondisi jalan napas yang tidak bersih,
misalnya karna adanya sumbatan, penumpukan sekret, penyempitan jalan napas oleh karena
spasme bronkus, dan lain lain.
2. Tidak efektifnya Pola Napas.
Tidak efektifnya pola napas ini merupakan suatu kondisi dimana pola napas, yaitu
inspirasi dan ekspirasi, menunjukkan tidak normal. Penyebab biasanya karena kelemahan
neuromuskular, adanya sumbatan ditrakeobronkhinal, kecemasan dan lain-lain.
3. Gangguan pertukaran gas.
Gangguan pertukaran gas

merupakan

suatu

keadaan

dimana

terjadi

ketidakseimbangan antara oksigen yang dihirup dengan karbondioksida yang dikeluarkan


pada pertukaran gas antara alveoli dan kapiler. Penyebabnya bisa karena perubahan membran
alveoli, kondisi anemia, proses penyakit, dan lain-lain.
4. Penurunan perfusi jaringan.
Penurunan perfusi jaringan adalah suatu keadaan dimana sel kekurangan suplai nutrisi
dan oksigen. Penyebabnya dapat terjadi karena kondisi hipovelemia, hipervolemia, retensi
karbon diogsida.
5. Intoleransi aktivitas.
Intoleransi aktivitas adalah keadaan dimana seseorang mengalami penurunan
kemampuan untuk melakukan aktivirtasnya. Penyebabnya antara lain karena ketidak

11

seimbangan antara suplai dan kebutuhan oksigen, produksi yang dihasilkan menurun, dan
lain-lain.
6. Perubahan pola tidur.
Gangguan kebutuhan oksigen dapat mengakibatkan pola tidur terganggu. Kesulitan
bernafas (sesak nafas) menyebabkan seseorang tidak bisa tidur. Perubahan pola tidur juga
dapat terjadi karena kecemasan dengan penyakit yang dideritanya.
7. Resiko terjadinya iskemik otak.
Gangguan oksigenasi mengakibatkan suplai darah keotak berkurang. Hal tersebut
disebabkan oleh cardiac output yangmenurun, aliran darah keotak berkurang, gangguan
perfusi jaringan otak, dan lain-lain. Akibatnya, otak kekurangan oksigen sehingga beresiko
terjadinya kerusakan jaringan otak.

2.9.

Pemeriksaan Fungsi Paru Dengan Alat Spirometri


Respirasi (Pernapasan atau ventilasi) sebagai suatu siklus inspirasi dan ekspirasi.

Frekuensi pernapasan orang dewasa normal berkisar 12 - 16 kali permenit yang mengangkut
kurang lebih 5 liter udara masuk dan keluar paru. Volume yang lebih rendah dari kisaran
normal seringkali menunjukkan malfungsi sistem paru. Volume dan kapasitas paru diukur
dengan alat berupa spirometer atau spirometri, sedang hasil rekamannya disebut dengan
spirogram.
Udara yang keluar dan masuk saluran pernapasan saat inspirasi dan ekspirasi
sebanyak 500 ml disebut dengan volume tidal, sedang volume tidal pada tiap orang sangat
bervariasi tergantung pada saat pengukurannya. Rata-rata orang dewasa 70% (350 ml) dari
volume tidal secara nyata dapat masuk sampai ke bronkiolus, duktus alveolus, kantong
alveoli dan alveoli yang aktif dalam proses pertukaran gas. Sedang sisanya sebanyak 30%
(150 ml) menetap di ruang rugi (anatomic dead space).
Volume total udara yang ditukarkan dalam satu menit disebut dengan minute volume
of respiration (MVR) atau juga biasa disebut menit vantilasi. MVR ini didapatkan dari hasil
kali antara volume tidal dan frekuensi pernapasan normal permenit. Rata-rata MVR dari 500
ml volume tidal sebanyak 12 kali pernapasan permenit adalah 6000 ml/menit.
Volume pernapasan yang melebihi volume tidal 500 ml dapat diperoleh dengan mengambil
nafas lebih dalam lagi. Penambahan udara ini biasa disebut volume cadangan inspirasi
(Inspiratory reserve volume) sebesar 3100 ml dari volume tidal sebelumnya, sehingga volume
tidal totalnya sebesar 3600 ml.

12

Meskipun paru dalam keadaan kosong setelah fase ekspirasi maksimal, akan tetapi
sesungguhnya paru-paru masih memiliki udara sisa yang disebut dengan volume residu yang
mempertahankan paru-paru dari keadaan kollaps, besarnya volume residu sekitar 1200 ml.
Berikut cara pemeriksaan vital paru dengan alat spirometri :
1.
2.

Siapkan alat spirometri.


Nyalakan alat terlebih dahulu dengan memencet tombol ON.

3.

Masukkan data seperti umur, seks, TB, BB.


Kemudian masukkan mouthpiece yang ada dalam alat

spirometri kedalam mulutnya dan tutuplah hidung dengan penjepit hidung.


5.
Untuk mengatur pernapasan, bernapaslah terlebih dahulu dengan tenang sebelum
6.
7.

melakukan pemeriksaan.
Tekan tombol start jika sudah siap untuk memulai pengukuran.
Mulai dengan pernapasan tenang sampai timbul perintah dari alat untuk ekspirasi
maksimal (tidak terputus). Bila dilakukan dengan benar maka akan keluar data dan kurva

pada layar monitor spirometri.


8.
Kemudian ulangi pengukuran dengan melanjutkan inspirasi dalam dan ekspirasi
9.

maksimal.
Setelah selesai lepaskan mouthpiece, periksa data dan kurva kemudian dilanjutkan
dengan mencetak hasil rekaman (tekan tombol print pada alat spirometri).

13

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN

3.1. Pengkajian Keperawatan


Secara umum pengkajian dimulai dengan mengumpulkan data tentang :
1.

Biodata pasien (umur, sex, pekerjaan, pendidikan).


Umur pasien bisa menunjukkan tahap perkembangan pasien baik secara fisik maupun

psikologis, jenis kelamin dan pekerjaan perlu dikaji untuk mengetahui hubungan dan
pengaruhnya terhadap terjadinya masalah/penyakit, dan tingkat pendidikan dapat berpengaruh
terhadap pengetahuan klien tentang masalahnya/penyakitnya.
2.

Keluhan utama dan riwayat keluhan utama (PQRST).


Keluhan utama adalah keluhan yang paling dirasakan mengganggu oleh klien pada

saat perawat mengkaji, dan pengkajian tentang riwayat keluhan utama seharusnya
mengandung unsur PQRST (Paliatif/Provokatif, Quality, Regio, Skala, dan Time).
3.
a)
b)
c)
d)
e)
4.

Riwayat perkembangan
Neonatus : 30 - 60 x/mnt
Bayi : 44 x/mnt
Anak : 20 - 25 x/mnt
Dewasa : 15 - 20 x/mnt
Dewasa tua : volume residu meningkat, kapasitas vital menurun
Riwayat kesehatan keluarga

Dalam hal ini perlu dikaji apakah ada anggota keluarga yang mengalami masalah / penyakit
yang sama.
5.

Riwayat sosial
Perlu dikaji kebiasaan-kebiasaan klien dan keluarganya, misalnya : merokok,

pekerjaan, rekreasi, keadaan lingkungan, faktor-faktor alergen dll.


14

6.

Riwayat psikologis

Disini perawat perlu mengetahui tentang :


a. Perilaku / tanggapan klien terhadap masalahnya/penyakitnya
b. Pengaruh sakit terhadap cara hidup
c. Perasaan klien terhadap sakit dan therapi
d. Perilaku / tanggapan keluarga terhadap masalah/penyakit dan therapi
7.
8.

Riwayat spiritual
Pemeriksaan fisik
a.

Hidung dan sinus

Inspeksi : cuping hidung, deviasi septum, perforasi, mukosa (warna, bengkak, eksudat,
darah), kesimetrisan hidung.
Palpasi : sinus frontalis, sinus maksilaris.
b.

Faring

Inspeksi : warna, simetris, eksudat ulserasi, bengkak.


c.

Trakhea

Palpasi : dengan cara berdiri disamping kanan pasien, letakkan jari tengah pada bagian
bawah trakhea dan raba trakhea ke atas, ke bawah dan ke samping sehingga kedudukan
trakhea dapat diketahui.
d.

Thoraks

Inspeksi :
1) Postur, bervariasi misalnya pasien dengan masalah pernapasan kronis klavikulanya
menjadi elevasi ke atas.
2) Bentuk dada, pada bayi berbeda dengan orang dewasa. Dada bayi berbentuk
bulat/melingkar dengan diameter antero-posterior sama dengan diameter tranversal
(1:1). Pada orang dewasa perbandingan diameter antero-posterior dan tranversal
adalah (1 : 2)
Beberapa kelainan bentuk dada diantaranya :
a. Pigeon chest yaitu bentuk dada yang ditandai dengan diameter tranversal sempit,
diameter antero-posterior membesar dan sternum sangat menonjol ke depan.
b. Funnel chest merupakan kelainan bawaan dengan ciri-ciri berlawanan dengan pigeon
chest, yaitu sternum menyempit ke dalam dan diameter antero-posterior mengecil. Barrel
chest

ditandai

dengan

diameter

antero-posterior

dan

tranversal

sama

atau

perbandingannya 1 : 1.

15

Kelainan tulang belakang diantaranya :


a.
b.
c.

Kiposis atau bungkuk dimana punggung melengkung/cembung ke belakang.


Lordosis yaitu dada membusung ke depan atau punggung berbentuk cekung.
Skoliosis yaitu tergeliatnya tulang belakang ke salah satu sisi.
3)

Pola napas

o eupnea yaitu pernapasan normal dimana kecepatan 16 - 24 x/mnt, klien tenang, diam dan
tidak butuh tenaga untuk melakukannya,
o tachipnea yaitu pernapasan yang cepat, frekuensinya lebih dari 24 x/mnt, atau bradipnea
yaitu pernapasan yang lambat, frekuensinya kurang dari 16 x/mnt
o apnea yaitu keadaan terhentinya pernapasan.
4) Kaji volume pernapasan
o hiperventilasi yaitu bertambahnya jumlah udara dalam paru-paru yang ditandai dengan
pernapasan yang dalam dan panjang
o hipoventilasi yaitu berkurangnya udara dalam paru-paru yang ditandai dengan
pernapasan yang lambat.
5) Kaji sifat pernapasan apakah klien menggunakan pernapasan dada yaitu pernapasan
yang ditandai dengan pengembangan dada, ataukah pernapasan perut yaitu
pernapasan yang ditandai dengan pengembangan perut.
6) Kaji ritme/irama pernapasan yang secara normal adalah reguler atau irreguler,
o cheyne stokes yaitu pernapasan yang cepat kemudian menjadi lambat dan kadang
diselingi apnea.
o kusmaul yaitu pernapasan yang cepat dan dalam, atau pernapasan biot yaitu
pernapasan yang ritme maupun amplitodunya tidak teratur dan diselingi periode
apnea.
7) Perlu juga dikaji kesulitan bernapas klien, apakah dispnea yaitu sesak napas yang
dan kebutuhan oksigen tidak terpenuhi, ataukah ortopnea yaitu kemampuan bernapas
hanya bila dalam posisi duduk atau berdiri.
8) Perlu juga dikaji bunyi napas
stertor/mendengkur yang terjadi karena adanya obstruksi jalan napas bagian
atas.
stidor yaitu bunyi yang kering dan nyaring dan didengar saat inspirasi.
16

wheezing yaitu bunyi napas seperti orang bersiul,


rales yaitu bunyi yang mendesak atau bergelembung dan didengar saat inspirasi
ronchi yaitu bunyi napas yang kasar dan kering serta di dengar saat ekspirasi.
9) Perlu juga dikaji batuk dan sekresinya, apakah klien mengalami
o batuk produktif yaitu batuk yang diikuti oleh sekresi.
o non produktif yaitu batuk kering dan keras tanpa sekresi.
o hemoptue yaitu batuk yang mengeluarkan darah.
10) Status sirkulasi, dalam hal ini perlu dikaji heart rate/denyut nadi.
takhikardi yaitu denyut nadi lebih dari 100 x/mnt, ataukah.
bradikhardi
yaitu
denyut
nadi
kurang
dari

60

x/mnt.

Juga perlu dikaji tekanan darah.


hipertensi yaitu tekanan darah arteri yang tinggi.
hipotensi yaitu tekanan darah arteri yang rendah.
11) Juga perlu dikaji tentang oksigenasi pasien apakah
o anoxia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam jaringan kurang.
o hipoxemia yaitu suatu keadaan dengan jumlah oksigen dalam darah kurang.
o hipoxia yaitu berkurangnya persediaan oksigen dalam jaringan akibat kelainan
internal atau eksternal.
o cianosis yaitu warna kebiru-biruan pada mukosa membran, kuku atau kulit
akibat deoksigenasi yang berlebihan dari Hb.
o clubbing finger yaitu membesarnya jari-jari tangan akibat kekurangan oksigen
dalam waktu yang lama.
Palpasi :

Untuk mengkaji keadaan kulit pada dinding dada, nyeri tekan, massa, peradangan,

kesimetrisan ekspansi dan taktil vremitus.


Taktil vremitus adalah vibrasi yang

dapat

dihantarkan

melalui

sistem

bronkhopulmonal selama seseorang berbicara. Normalnya getaran lebih terasa pada


apeks paru dan dinding dada kanan karena bronkhus kanan lebih besar. Pada pria lebih
mudah terasa karena suara pria besar.
3.2. Diagnosa Keperawatan
Diagnosa keperawatan yang lazim terjadi pada pasien dengan gangguan pemenuhan
kebutuhan oksigenasi diantaranya adalah :
1.
2.
3.
4.

Bersihan jalan nafas tidak efektif


Pola napas tidak efektif
Gangguan pertukaran gas
Penurunan kardiak output
17

5.
Rasa berduka
6.
Koping tidak efektif
7.
Perubahan rasa nyaman
9.
Potensial/resiko infeksi
10. Interaksi sosial terganggu
11. Intoleransi aktifitas, dll sesuai respon klien
1.

Bersihan jalan napas tidak efektif


Yaitu

tertumpuknya

sekresi

atau

adanya

obstruksi

pada

saluran

napas.

Tanda-tandanya :

Bunyi napas yang abnormal


Batuk produktif atau non produktif
Cianosis
Dispnea
Perubahan kecepatan dan kedalaman pernapasan

Kemungkinan faktor penyebab :

2.

Sekresi yang kental atau benda asing yang menyebabkan obstruksi


Kecelakaan atau trauma (trakheostomi)
Nyeri abdomen atau nyeri dada yang mengurangi pergerakan dada
Obat-obat yang menekan refleks batuk dan pusat pernapasan
Hilangnya kesadaran akibat anasthesi
Hidrasi yang tidak adekuat, pembentukan sekresi yang kental dan sulit untuk di

expektoran
Immobilisasi
Penyakit paru

menahun

yang

memudahkan

penumpukan

sekresi

Pola napas tidak efektif


Yaitu respon pasien terhadap respirasi dengan jumlah suplay O2 kejaringan tidak adekuat
Tanda-tandanya :

Dispnea
Peningkatan kecepatan pernapasan
Napas dangkal atau lambat
Retraksi dada
Pembesaran jari (clubbing finger)
Pernapasan melalui mulut
Penambahan diameter antero-posterior
Cianosis, flail chest, ortopnea
Vomitus
Ekspansi paru tidak simetris

18

Kemungkinan faktor penyebab :

Tidak adekuatnya pengembangan paru akibat immobilisasi, obesitas, nyeri


Gangguan neuromuskuler seperti : tetraplegia, trauma kepala, keracunan obat

anasthesi
Gangguan muskuloskeletal seperti : fraktur dada, trauma yang menyebabkan kolaps

paru
CPPO seperti : empisema, obstruksi bronchial, distensi alveoli
Hipoventilasi akibat kecemasan yang tinggi
Obstruksi jalan napas seperti : infeksi akut atau alergi yang menyebabkan spasme

bronchial atau oedema


Penimbunan CO2 akibat penyakit paru

3.

Gangguan pertukaran gas


Yaitu perubahan asam basa darah sehingga terjadi asidosis respiratori dan alkalosis
respiratori.
Tanda-tandanya :

Dispnea,
Abnormal gas darah arteri
Hipoksia
Gelisah
Takikardia
Sianosis
Hipoksemia
Tingkat kedalaman irama pernafasan abnormal

Kemungkinan penyebab :

Penumpukan cairan dalam paru


Gangguan pasokan oksigen
Obstruksi saluran pernapasan
Bronkhospasme
Edema paru
Pembedahan paru

3.3. Rencana Keperawatan


1.
Bersihan jalan napas tidak efektif
Intervensi:
19

a. Auskultasi dada bagian anterior dan posterior.


b. Rasional : untuk mengetahui adanya penurunan atau tidaknya ventilasi dan bunyi
tambahan.
c. Lakukan pengisapan jalan napas bila diperlukan.
d. Rasional : Merangsang terjadinya batuk atau pembersihan jalan napas secara mekanik
pada pasien yang tak mampu batuk secara efektif dan penurunan kesadaran.
e. Pertahankan kaedekuatan hidrasi untuk menurunkan viskositas sekresi.
f. Rasional : memobilisasi keluarnya sputum.
g. Instruksikan untuk batuk efektif & teknis napas dalam untuk memudahkan keluarnya
sekresi.
Rasional : memudahkan ekspansi maksimal paru atau jalan napas lebih kecil dan
membantu silia untuk mempermudah jalan napas
h. Kolaborasi

dengan

berikan

obat

sesuai

indikasi:

mukolitik,

ekspektoran, bronkodilator, analgesik


Rasional : Untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret.
i. Kolaborasi

dengan

berikan

obat

sesuai

indikasi

:mukolitik,

ekspektoran, bronkodilator.
Rasional : untuk menurunkan spasme bronkus dengan mobilisasi sekret
j. Kolaborasi dengan bantu mengawasi efek pengobatan nebulizer dan fisioterapi lain
mis : spiromerti iasentif, perkusi, drainase postural.
Rasional : memudahkan pengenceran dan pembuangan secret.
2.

Pola napas tidak efektif

a. Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan pada posisi semi fowler


Rasional : Merangsang fungsi pernapasan atau ekspansi paru
b. Bantu klien untuk melakukan batuk efektif & napas dalam
Rasional

Meningkatkan

gerakan

sekret

ke

jalan

napas,

sehingga

mudah

untuk dikeluarkan
c. Berikan tambahan oksigen masker/ oksigen nasal sesuai indikasi
Rasional : Meningkatkan pengiriman oksigen ke paru untuk kebutuhan sirkulasi.
d. Berkolaborasi dengan dokter dalam pemberian ekspektoran
Rasional : Membantu mengencerkan secret, sehingga mudah untuk dikeluarkan
3.

Gangguan pertukaran gas


a. Berikan O2 sesuai indikasi

20

Rasional : Meningkatkan konsentrasi oksigen alveolar dan dapat memperbaiki


hipoksemia jaringan
b. Pantau GDA Pasien
Rasional : Nilai GDA yang normal menandakan pertukaran gas semakin membaik
c. Pantau pernapasan
Rasional : Untuk evaluasi distress pernapasan

3.4 Beberapa Metode pemenuhan kebutuhan oksigen


1. Pemberian oksigen
Pemberian oksigen merupakan tindakan memberikan oksigen ke dalam paru-paru
melalui saluran pernapasan dengan alat bantu oksigen. Pemberian oksigen pada pasien dapat
melalui tiga cara yaitu melalui kanula, nasal, dan masker. Pemberian oksigen tersebut
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan oksigen dan mencegah terjadinya hipoksia.
Persiapan Alat dan Bahan :
1.

Tabung oksigen

lengkap dengan

flowmeter dan

humidifier.
2.
3.

Nasal kateter, kanula, atau masker.


Vaselin,/lubrikan atau pelumas ( jelly).

Prosedur Kerja :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Cuci tangan.
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur yang akan dilakukan.
Cek flowmeter dan humidifier.
Hidupkan tabung oksigen.
Atur posisi semifowler atau posisi yang telah disesuaikan dengan kondisi pasien.
Berikan oksigen melalui kanula atau masker.
Apabila menggunakan kateter, ukur dulu jarak hidung dengan telinga, setelah itu
berikan lubrikan dan masukkan.
Catat pemberian dan lakukan observasi.
Cuci tangan.

2. Fisioterapi dada

21

Fisioterapi dada merupakan suatu rangkaian tindak keperawatan yang terdiri atas
perkusi, vibrasi dan postural drainage.
a. Perkusi
Disebut juga clapping adalah pukualn kuat, bukan berarti sekuat-kuatnya, pada
dinding

dada

dan

punggung

dengan

tangan

dibentuk

seperti

mangkuk.

Tujuannya, secara mekanik dapat melepaskan sekret yang melekat pada dinding bronkhus.
Prosedur kerja :
1. Tutup area yang akan dilakkan perkusi dengan handuk atau pakaian untuk mengurangi
ketidaknyamanan.
2. Anjurkan klien tarik napas dalam dan lambat untuk meningkatkan relaksasi.
3. Perkusi pada tiap segmen paru selama 1-2 menit.
4. Perkusi tidak boleh dilakukan pada daerah dengan struktur yang mudah cedera
seperti : mammae, sternum dan ginjal.
b. Vibrasi
Getaran kuat secara serial yang dihasilkan oleh tangan perawat yang diletakkan datar
pada dinding dada klien. Tujuannya, vibrasi digunakan setelah perkusi untuk meningkatkan
turbulensi udara ekspirasi dan melepaskan mukus yang kental. Sering dilakukan bergantian
dengan perkusi.
Prosedur :
1. Letakkan telapak tangan, telapak tangan menghadap ke bawah di area dada yang akan
di drainage. Satu tangan diatas tangan yang lain dengan jari-jari menempel bersama
dan ekstensi. Cara yang lain: tangan bisa diletakkan secara bersebelahan.
2. Anjurkan klien menarik napas dalam melalui hidung dan menghembuskan napas
secara lambat lewat mulut atau pursed lips.
3. Selama masa ekspirasi, tegangkan seluruh otot tangan dan lengan dan gunakan hampir
semua tumit tangan. Getarkan (kejutkan) tangan keaarh bawah. Hentikan getaran jika
klien melakukan inspirasi.
4. Setelah tiap kali vibrasi, anjurkan klien batuk dan keluarkan sekret ke dalam tempat
sputum.
c. Postural drainage

22

Merupakan salah satu intervensi untuk melepaskan sekresi dari berbagai segmen paruparu dengan menggunakan pengaruh gaya gravitasi. Waktu yang terbaik utnuk melakukannya
yaitu sekitar 1 jam sebelum sarapan pagi dan sekitar 1 jam sebelum tidur pada malam hari.
Postural drainage harus lebih sering dilakukan apabila lendir klien berubah warnanya menjadi
kehijauan dan kental atau ketika klien menderita demam.

Hal yang perlu diperhatikan dalam pelaksanaan postural drainage yaitu:


a. Batuk 2 atau 3 kali berurutan setelah setiap kali berganti posisi.
b. Minum air hangat setiap hari sekitar 2 liter.
c. Jika harus menghirup bronkodilator, lakukanlah 15 menit sebelum melakukan postural
drainage.
d. Lakukan latihan napas dan latihan lain yang dapat membantu mengencerkan lendir.
Peralatan:
a.
b.
c.
d.
e.

Bantal
Papan pengatur posisi
Tisu wajah
gelas air
Sputum pol

Prosedur

1. cuci tangan.
2.
pilih area yang tersumbat yang akan di drainage berdasarkan pengkajian semua area
3.
4.
5.

paru, data klinis dan chest X-ray.


Baringkan klien dalam posisi untuk mendrainage area yang tersumbat.
Minta klien mempertahankan posisi tersebut selama 10-15 menit.
Selama 10-15 menit drainage pada posisi tersebut, lakukan perkusi dan vibrasi dada

6.

diatas area yang di drainage.


Setelah drainage pada posisi pertama, minta klien duduk dan batuk. Bila tidak bisa

batuk, lakukan suction. Tampung sputum di sputum spot.


7.
Minta klien istirahat sebentar bila perlu.
8.
Anjurkan klien istirahat sebentar bila perlu.
9.
Anjurkan klien minum sedikit air.
10. Ulangi langkah 3-8 sampai semua area tersumbat telah ter drainase.
11.
Ulangi pengkajian dada pada semua bidang paru.
12. Cuci tangan
13. Dokumentasikan

23

3.5. Napas dalam dan batuk efektif


a. Napas dalam
Yaitu bentuk latihan napas yang terdiri dari atas pernapasan abdominal (diafragma)
dan purse lips breathing.
Prosedur

1.
2.
3.
4.

Atur posisi yang nyaman.


Fleksikan lutut klien untuk merelaksasikan otot abdomen.
Tempatkan 1 atau 2 tangan pada abdomen, tepat dibawah tulang iga
Tarik napas dalam melalui hidung, jaga mulut tetap tertutup. Hitung samapi 3

selama inspirasi.
5.
Hembuskan udara lewat bibir seperti meniup (purse lips braething) secara
perlahan-lahan
b. Batuk efektif
Yaitu latihan batuk untuk mengeluarkan sekret.
Prosedur :
1.
2.

Tarik napas dalam lewat hidung dan tahan napas untuk beberapa detik
Batukkan 2 kali. Pada saat batuk tekan dada dengan bantal. Tampung sekret

pada sputum pot.


3.
Hindari penggunaan waktu yang lama selama batuk karena dapat
menyebabkan fatigue dan hipoksia.

24

4. Suctioning (pengisapan lendir)


Pengisapan lendir (suction) merupakan tindakan pada pasien yang tidak mampu
mengeluarkan sekret atau lendir secara sendiri. Tindakan tersebut dilakukan untuk
membersihkan jalan napas dan memenuhi kebutuhan oksigenasi.
Persiapan Alat dan Bahan :
1.

Alat pengisap lendir dengan botol yang berisi


larutan desinfektan

2.
3.
4.

Kateter pengisap lender


Pinset steril
Dua kom berisi larutan akuades/NaCl 0,9% dan
larutan desinfektan

5.
6.

Kasa steril
Kertas tisu

Prosedur Kerja :
1.
2.

Cuci tangan.
Jelaskan pada pasien mengenai prosedur
yang akan dilaksanakan.

3.

Atur pasien dalam posisi terlentang dan


kepala miring ke arah perawat

4.
5.

Gunakan sarung tangan


Hubungakan kateter penghisap dengan
selang penghisap

6.
7.

Hidupkan mesin penghisap


Lakukan penghisapan lendir dengan
memasukan kateter pengisap ke dalam kom berisi akuades atau NaCl 0,9% untuk
mencegah trauma mukosa.

8.

Masukkan

kateter

pengisap

dalam

keadaan tidak mengisa


9.

Tarik lendir dengan memutar kateter


pengisap sekitar 3-5 detik

10.

Bilas kateter dengan akuades atau NaCl


0,9%

11.
12.
13.

Lakukan hingga lendir bersih


Catat respon yang terjadi
. Cuci tangan
25

BAB IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Oksigen (O2) adalah satu komponen gas dan unsur vital dalam proses metabolisme untuk
mempertahankan kelangsungan hidup seluruh sel-sel tubuh. Oksigenasi adalah peristiwa
menghirup udara dari luar yang mengandung Oksigen (O 2) kedalam tubuh serta
menghembuskan Karbondioksida (CO2) sebagai hasil sisa oksidasi. Penyampaian oksigen ke
jaringan tubuh ditentukan oleh sistem respirasi (pernafasan), kardiovaskuler dan hematology.
Sistem pernafasan terdiri dari organ pertukaran gas yaitu paru-paru dan sebuah pompa
ventilasi yang terdiri atas dinding dada, otot-otot pernafasan, diagfragma, isi abdomen,
dinding abdomen dan pusat pernafasan di otak. Pada keadaan istirahat frekuensi pernafasan
12-15 kali per menit. Ada 3 langkah dalam proses oksigenasi yaitu ventilasi, perfusi paru dan
difusi.

26

DAFTAR PUSTAKA
http://juliardisyah.blogspot.com/2013/11/askep-kebutuhan-oksigenasi_16.html

27

28

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur saya hanturkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan
karuniaNya jualah kami dapat menyelesaikan makalah yang membahas tentang Konsep
Kebutuhan Oksigen . Makalah ini dibuat dalam rangka memenuhi tugas kelompok untuk
perbaikan nilai KDM. Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada Bapak H. Damhuji,
S.Si.T, MPH. sebagai dosen pembimbing yang telah memberikan bimbingan dalam penulisan
makalah ini.
Semoga makalah ini dapat bemanfaat bagi pembaca sekalian. Kritik dan saran dari
pembaca akan sangat bermanfaat bagi kesempurnaan makalah kami. Salah dan khilaf kami
mohon maaf. Akhir kata kami mengucapkan terima kasih.

Pontianak, 19 April 2015