Anda di halaman 1dari 59

PERUT KEMBUNG

Kelompok B 5
Ketua
: Reynaldi Fattah Z
1102013246
Sekertaris : Nabila Nurul Shabrina 1102013193
Anggota : Prima Paramitha M
1102013229
Rafli
1102013240
Rindayu Yusticia Indira P 1102013251
Rizki Marfira
1102013255
Selly Viani 1102012267
Yoan Rahmah Aprilia 1102013306
Yoga Prasetyo 1102013308
Yoga Pratayoga M
1102013309

Perut Kembung
Seorang pria, 40 tahun, datang ke dokter dengan
keluhan perut kembung disertai dengan muntah, nyeri
perut, tidak bisa buang angin dan tidak bisa buang air
besar sejak 1 hari yang lalu.
Pada pemeriksaan fisik distensi abdomen pemeriksaan
colok dubur didapatkan tonus sphincter ani baik, ampula
kolaps, serta tidak ditemukan feses, lendir dan darah.
Untuk memastikan diagnosis dilakukan pemeriksaan
radiologi foto polos abdomen dan BNO 3 posisi. Kemudian
dokter merencanakan untuk melakukan tindakan operasi.
Pasien bersedia dilakukan tindakan operasi karena tidak
bertentangan dengan ajaran islam.

SASARAN BELAJAR
LI 1. Mahasiswa Mampu
(Duodenum Rectum)
1. 1. Makroskopis
1. 2. Mikroskopis
LI 2. Mahasiswa Mampu
Usus
2. 1. Proses Absorbsi
2. 2. Proses Defekasi
LI 3. Mahasiswa Mampu
Paralitik)
3. 1. Definisi
3. 2. Etiologi
3. 3. Epidemiologi
3. 4. Klasifikasi
3. 5. Patofisiologi
3. 6. Manifestasi Klinis
3. 7. Diagnosis
3. 8. Diagnosis Banding
3. 9. Penatalaksanaan
3. 10. Komplikasi
3. 11. Prognosis
3. 12. Pencegahan
LI 4. Mahasiswa Mampu

Memahami dan Menjelaskan Anatomi Saluran Cerna

Memahami dan Menjelaskan Fisiologi & Biokimia

Memahami dan Menjelaskan Ileus (Obstruktif &

Memahami dan Menjelaskan Tindakan Operasi dalam

ANATOMI SALURAN
CERNA
1. Makroskopis

ANATOMI SALURAN
CERNA
Duodenum

ANATOMI SALURAN
CERNA
Jejunum

Ileum

ANATOMI SALURAN
CERNA

Colon

ANATOMI SALURAN
CERNA

ANATOMI SALURAN
CERNA

Caecum

ANATOMI SALURAN
CERNA

Caecum

ANATOMI SALURAN
CERNA

Pada colon terdapat taenia :

ANATOMI SALURAN
CERNA
Perdarahan (Truncus Coeliacus)

ANATOMI SALURAN
CERNA
Perdarahan (Cabang A. Mesenterica Superior)

ANATOMI SALURAN
CERNA
Perdarahan (A. Renalis)

ANATOMI SALURAN
CERNA
Perdarahan (A. Mesenterica
Inferior)

ANATOMI SALURAN
CERNA

Perdarahan (V. Mesenterica Superior)

ANATOMI SALURAN
CERNA
Perdarahan (V. Mesenterica
Inferior)

ANATOMI SALURAN
CERNA

Perdarahan (V. Lienalis)

ANATOMI SALURAN
CERNA
Bersatu menjadi V. Portae Hepatis

ANATOMI SALURAN
CERNA
Persarafan (simpatis)

ANATOMI SALURAN
CERNA

Persarafan (parasimpatis)

ANATOMI SALURAN
CERNA

2. Mikroskopis

Usus Halus

FISIOLOGI & BIOKIMIA


USUS

1. Proses Absorbsi

Usus Halus
Usus halus mempunyai 2 fungsi utama pencernaan dan
absorbsi bahan-bahan nutrisi dan air
Proses pencernaan ini dimulai dari mulut dan lambung oleh
kerja ptialin, asam klorida dan pepsin terhadap makanan
yang masuk
Proses dilanjutkan didalam duodenum terutama oleh kerja
enzim-enzim pankreas yang menghidrolisis karbohidrat,
lemak dan protein menjadi zat-zat yang lebih sederhana
Adanya bikarbonat dalam sekret pankreas membantu
menetralkan asam dan memberikan pH optimal untuk kerja
enzim-enzim
Sekresi empedu dan hati membantu proses pencernaan
dengan mengemulsikan permukaan yang lebih luas bagi
kerja lipase pankreas.

FISIOLOGI & BIOKIMIA


USUS

Usus Halus

Proses pencernaan disempurnakan oleh sejumlah enzim


dalam getah usus (sukus enteriukus)
Banyak di antara enzim-enzim ini terdapat pada brush
border vili dan mencernakan zat-zat makanan sambil
diabsorbsi
Enzim-enzim utama pencernaan adalah kelenjar ludah
menghasilkan amylase (ptyalin) ludah; kelenjar ludah
menghasilkan pepsin dan lipase lambung; mukosa
duodenum menghasilkan enterokinase; kelenjar eksokrin
pankreas menghasilkan tripsin, kemotripsin,
karbosipeptidase, nuclase, lipase pankreas; amilase
pankreas; hati menghasilkan asam empedu (bukan
enzim), kelenjar usus menghasilkan aminopeptidase,
dipeptidase, maltase, lactase, sukrosa, lipase usus,
nucleotidase.

FISIOLOGI & BIOKIMIA


USUS

FISIOLOGI & BIOKIMIA


USUS

2. Proses Defekasi

Pergerakan feses ke rektum mengakibatkan distensi dinding


rektum dan merangsang refleks defekasi
Defekasi dikendalikan oleh stingier ani eksterna dan interna
Sfingter interna dikendalikan oleh sistem saraf otonom, dan
sfingter eksterna berada di bawah kontrol volunter
Defekasi dipercepat dengan adanya peningkatan tekanan
intraabdomen yang terjadi akibat kontraksi volunter otot-otot
dada dengan glotis ditutup, dan kontraksi secara terus- menerus
dari otol-otot abdomen
Bila defekasi tidak sempurna, rektum relaksasi dan hasrat untuk
defekasi hilang
Air tetap terus diabsorpsi dari massa feses, menyebabkan feses
menjadi keras, sehingga defekasi selaniutnya lebih sukar.
Kelainan dari proses defekasi adalah konstipasi dan diare.

FISIOLOGI & BIOKIMIA


USUS

2. Proses Defekasi

Feses berair adalah karakteristik dari penyakit usus halus,


sedangkan feses semi padat lebih sering dihubungkan dengan
gangguan kolon.
Feses yang sangat besar dan berminyak menunjukkan
malabsorbsi usus, dan adanya mukus dan pus dalam feses
menunjukkan enteritis inflamasi atau kolitis.

ILEUS OBSTRUKTIF
1. Definisi
Obstruksi usus dapat didefinisikan sebagai
gangguan (apapun penyebabnya) aliran normal isi
usus sepanjang saluran usus.

ILEUS OBSTRUKTIF
2. Epidemiologi

Obstruksi usus halus menempati sekitar 20% dari seluruh


pembedahan darurat, dan mortalitas dan morbiditas sangat
bergantung pada pengenalan awal dan diagnosis yang tepat
Di negara maju, adhesi intraabdomen merupakan penyebab
terbanyak terjadinya obstruksi usus. Pada pasien digestif yang
memerlukan tindakan reoperasi, 30-41% disebabkan obstruksi
usus akibat adhesi. Untuk obstruksi usus halus, proporsi ini
meningkat hingga 65-75%.
Walaupun, di negara berkembang seperti di Indonesia. Adhesi
bukanlah sebagai penyebab utama terjadinya obstruksi usus.
Penyebab tersering obstruksi usus di Indonesia, adalah hernia,
baik sebagai penyebab obstruksi sederhana (51%) maupun
obstruksi usus strangulasi (63%).

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Perlengketan Usus
Lengkung usus menjadi melekat pada area yang sembuh secara
lambat atau pada jaringan parut setelah pembedahan abdomen

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Intusepsi
Salah satu bagian dari usus menyusup kedalam bagian lain yang
ada dibawahnya akibat penyempitan lumen usus .

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Volvulus
Usus besar yang mempunyai mesocolon dapat terpuntir sendiri
dengan demikian menimbulkan penyumbatan dengan
menutupnya gelungan usus yang terjadi amat distensi. Keadaan
ini dapat juga terjadi pada usus halus yang terputar pada
mesentriumnya

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Hernia
Protrusi usus melalui area yang lemah dalam usus atau dinding
dan otot abdomen atau defek di dinding rongga peritoneum yang
memungkinkan terbentukkan tonjolan peritoneum mirip kantong
yang dilapisi serosa

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Tumor
Tumor yang ada dalam dinding usus meluas kelumen usus atau
tumor diluar usus menyebabkan tekanan pada dinding usus.

ILEUS OBSTRUKTIF
3. Etiologi
Strangulasi
gangguan lebih lanjut dimana pasokan darah dan drainase
menyebabkan infark segmen yang terperangkap.

ILEUS OBSTRUKTIF
Penyakit ini merupakan penyakit bawaan yang disebabakan disfungsi
umum kelenjar eksokrin pancreas. Keadaan ini menyebabakan berkurangnya
enzim pancreas yang mengalir ke lumen usus halus sehingga isi usus halus
menjadi kental dan menyumbat lumen usus. Gambaran radiologis yang
ditemukan ialah pelebaran usus dan tampak bayangan udara yang granular
diantara mekonium yang kental tersebut.

ILEUS OBSTRUKTIF
Faktor Predisposisi
Obstruksi mekanik, menurut lokalisasinya dibagi menjadi :

OBSTRUKSI MEKANIK RENDAH


Obstruksi mulai dari caecum sampai anorektal. Obstruksi ini
paling banyak disebabkan oleh tumor ganas, penyebab lainnya
adalah :
Volvulus, Scibala, Paralise colon distal (pseudoparalise)

OBSTRUKSI MEKANIK TINGGI


Menurut letaknya dapat dibedakan menjadi
Obstruksi diatas pylorus
Pada obstruksi ini gejalanya yang menonjol adalah : muntah-muntah
dimana muntahannya dapat dirasakan seperti asam lambung,
serangan rasa nyeri lebih sering, distensi abdomen agak kurang.

ILEUS OBSTRUKTIF
Faktor Predisposisi
Obstruksi dibawah pylorus
Obstruksi ini sering ditemukan pada :
- Perlengketan, hernia interna, volvulus, gumpalan ascariasis
Pada obstruksi ini muntahannya faeculent (feces) warna kuning
seperti tinja. Serangan nyeri perut agak jarang, tetapi perut
lebih distensi.

ILEUS OBSTRUKTIF
4. Klasifikasi

Berdasarkan
lokasi
ILEUS
MEKANIK

Letak rendah
Berdasarkan
sifat
sumbatan

KLASIFIKASI

ILEUS
NEUROGENIK

Adinamik /
ileus paralitik

Dinamik /
ileus spastika

ILEUS
VASCULAR

Letak tinggi

Partial
obstruction
Simple
obstruction
Strangulated
obstruction

ILEUS OBSTRUKTIF
5. Patofisiologi

ILEUS OBSTRUKTIF
6. Manifestasi Klinis
Gejala utama :
Nyeri Kolik
- Obstruksi usus halus : kolik dirasakan disekitar umbilicus.
- Obstruksi kolon : kolik dirasakan disekitar suprapubik.
Muntah
- Stenosis Pilorus : Encer dan asam.
- Obstruksi usus halus : Berwarna kehijauan.
- Obstruksi kolon : onset muntah lama.
Perut Kembung (distensi)
Konstipasi
- Tidak ada defekasi
- Tidak ada flatus

ILEUS OBSTRUKTIF
6. Manifestasi
Klinis

Gejala selanjutnya yang bisa muncul termasuk dehidrasi, oliguria,


syok hipovolemik, pireksia, septikemia, penurunan respirasi dan
peritonitis. Terhadap setiap penyakit yang dicurigai ileus obstruktif,
semua kemungkinan hernia harus diperiksa.

ILEUS OBSTRUKTIF
5. Manifestasi Klinis
Perbedaan ileus usus halus dan usus besar

Perbedaan ileus obstruktif simple dan strangulata

ILEUS OBSTRUKTIF
7. Diagnosis
Anamnesis
Pada anamnesis ileus obstruktif usus halus biasanya sering
dapat ditemukan penyebabnya, misalnya berupa adhesi dalam
perut karena pernah dioperasi sebelumnya atau terdapat
hernia (Sjamsuhudajat & Jong, 2004; Sabara, 2007).
Pada ileus obstruksi usus halus kolik dirasakan di sekitar
umbilkus, sedangkan pada ileus obstruksi usus besar kolik
dirasakan di sekitar suprapubik. Muntah pada ileus obstruksi
usus halus berwarna kehijaun dan pada ileus obstruktif usus
besar onset muntah lama (Anonym, 2007)

ILEUS OBSTRUKTIF
7. Diagnosis
Pemeriksaan Fisik
Inspeksi
Dapat ditemukan tanda-tanda generalisata
dehidrasi, yang mencakup kehilangan turgor
kulit maupun mulut dan lidah kering
Palpasi
Pada palpasi bertujuan mencari adanya
tanda iritasi peritoneum apapun atau nyeri
tekan, yang mencakup defance musculair
involunter atau rebound dan pembengkakan
atau massa yang abnormal
Auskultasi
Pada ileus obstruktif pada auskultasi
terdengar kehadiran episodik gemerincing
logam bernada tinggi dan gelora (rush)

ILEUS OBSTRUKTIF
7. Diagnosis
Pemeriksasan Penunjang
Radiologi
Laboratorium
Leukositosis, dengan pergeseran ke kiri, biasanya terjadi bila
terdapat strangulasi, tetapi hitung darah putih yang normal tidak
menyampingkan strangulasi
Pemeriksaan Colok dubur
- Isi rektum menyemprot : Hirschprung disease
- Adanya darah dapat menyokong adanya strangulasi, neoplasma
- Feses yang mengeras : skibala
- Feses negatif : obstruksi usus letak tinggi
- Ampula rekti kolaps : curiga obstruksi
- Nyeri tekan : lokal atau general peritonitis

ILEUS OBSTRUKTIF
8. Diagnosis Banding
Gastroenteritis akut
apendisitis akut
pankreatitis akut
Ileus obstruksi harus dibedakan dengan :
Carcinoid gastrointestinal
Penyakit Crohn
Intussuscepsi pada anak
Divertikulum Meckel
Ileus meconium
Volvulus
Infark Myocardial Akut
Malignansi
Tumor Ovarium
TBC Usus.

ILEUS OBSTRUKTIF
9. Penatalaksanaan
Dasar pengobatan obstruksi usus meliputi :
1. Penggantian kehilangan cairan dan elektrolit ke dalam lumen usus
2. Dekompressi tractus gastrointestinal dengan sonde yang ditempatkan
intralumen dengan tujuan untuk dekompressi lambung sehingga
memperkecil kesempatan aspirasi isi usus
3. Pemberian antibiotika untuk pencegahan pertumbuhan bakteri
berlebihan bersama dengan produk endotoksin dan eksotoksin

ILEUS OBSTRUKTIF
9. Penatalaksanaan
Terapi Umum
1. Istirahat
Dirawat di ruangan gawat darurat
Segera pasang sonde lambung (NGT)
Selang rectal
Pasang kateter
2. Diet
Pasien puasa
Nutrisi perenteral total sampai ada bising usus atau mulai flatus
3. Medikamentosa
Obat pertama :
Prostigmin 3 x 1 sampai IV untuk memacu mobilitas usus
Antibiotik

ILEUS OBSTRUKTIF
9. Penatalaksanaan
Namun harus disadari bahwa terapi non operatif ini dilakulkan dengan
berbagai resikonya seperti resiko terjadinya strangulasi pada daerah
obstruksi dan penundaan terapi pada strangulasi hingga setelah
terjadinya injury akan menyebabkan intestinal menjadi ireversibel.
Penelitian retrospektif melaporkan bahwa penundaan operasi 12 24 jam
masih dalam batas aman namun meningkatkan resiko terjadinya
strangulasi.

ILEUS OBSTRUKTIF

9. Penatalaksanaan
Terapi Operatif

Beberapa tindakan bedah tergantung dari etiologi masing-masing


No
.

Etiologi

Tindakan Operatif

1.

Adhesi

perlengketan dilepaskan dan pita dipotong agar pasase


usus pulih kembali

2.

Hernia Inkarserata

Herniotomi untuk membebaskan usus dari jepitan

3.

Neoplasma

Pengangkatan tumor

4.

Askariasis

enterotomi untuk mengeluarkan cacing

5.

Carcinoma Colon

reseksi luas pada lesi dan limfatik regionalnya

6.

Dovertikel

Reseksi bagian colon yang mengandung divertikel

7.

Volvulus

melepaskan volvulus yang terpelintir dengan melakukan


dekompresi dengan sekostomi temporer

8.

Intusussepsi

Reseksi usus diindikasikan bila usus tersebut tidak dapat


direduksi atau usus tersebut ganggren

ILEUS OBSTRUKTIF
10. Komplikasi
Pada obstruksi kolon dapat terjadi dilatasi progresif pada sekum
yang berakhir dengan perforasi sekum sehingga terjadi pencemaran
rongga perut dengan akibat peritonitis umum.
Komplikasi dari ileus obstruktif antara lain terjadinya nekrosis usus,
perforasi usus, Sepsis, Syok-dehidrasi, Abses Sindrom usus pendek
dengan malabsorpsi dan malnutrisi, Pneumonia aspirasi dari proses
muntah, gangguan elektrolit, meninggal.

ILEUS OBSTRUKTIF
11. Prognosis
Saat operasi, prognosis tergantung kondisi klinik pasien
sebelumnya. Setelah pembedahan dekompresi, prognosisnya
tergantung dari penyakit yang mendasarinya. Selain itu mortalitas ileus
obstruktif ini dipengaruhi banyak faktor seperti umur, etiologi, tempat
dan lamanya obstruksi. Jika umur penderita sangat muda ataupun tua
maka toleransinya terhadap penyakit maupun tindakan operatif yang
dilakukan sangat rendah sehingga meningkatkan mortalitas. Pada
obstruksi kolon mortalitasnya lebih tinggi dibandingkan obstruksi usus
halus.

ILEUS OBSTRUKTIF
12. Pencegahan
PENCEGAHAN PRIMORDIAL
Dilakukan dengan promosi kesehatan atau memberikan pendidikan kesehatan yang berkaitan
ileus obstruktif atau dengan melakukan penyuluhan untuk meningkatkan pengetahuan dan
kemampuan masyarakat dalam menjaga kesehatannya.

PENCEGAHAN PRIMER

Bergaya hidup sehat dengan cara menjaga diri dan lingkungannya


Dengan meningkatkan asupan makanan bergizi yang meningkatkan daya tahan tubuh
Diet Serat
Untuk membantu mencegah kanker kolorektal, makan diet seimbang rendah lemak
dengan banyak sayur dan buah, tidak merokok, dan segera untuk skrining kanker
kolorektal setahun sekali setelah usia 50 tahun.
Untuk mencegah hernia, hindari angkat berat, yang meningkatkan tekanan di dalam perut
dan mungkin memaksa satu bagian dari usus untuk menonjol melalui daerah rentan
dinding perut Anda.

PENCEGAHAN SEKUNDER
Pencegahan sekunder yang dapat dilakukan terhadap ileus obstruktif adalah dengan cara
mendeteksi secara dini, dan mengadakan penatalaksanaan medik untuk mengatasi akibat
fatal ileus obstruktif.

TINDAKAN BEDAH &


OPERASI DALAM ISLAM
1. Al Quran
Surat Al Anam ayat 119

(padahal) sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepadamu apa


yang diharamkan-Nya atasmu. Kecuali apa yang terpaksa.

TINDAKAN BEDAH &


OPERASI DALAM ISLAM
2. Hadist
Hadits hijamah (berbekam)

Dari Ibnu Abbas bahwa Nabi saw berbekam di kepalanya. (HR. Al-Bukhari).
Dari Jabir bahwa dia menjenguk orang sakit. Dia berkata, Aku tidak
meninggalkan tempat ini sebelum kamu berbekam karena aku
mendengar Rasulullah saw bersabda, Padanya terdapat kesembuhan.
(HR. Al-Bukhari). Hadits tersebut menetapkannya disyariatkannya hijamah
dan sudah dimaklumi bahwa hijamah dilakukan dengan membedah atau
menyayat tempat tertentu pada tubuh untuk menyedot darah kotor
dan membuangnya. Jadi disyariatkannya hijamah merupakan dasar
dibolehkannya membedah tubuh untuk membuang penyakit atau
penyebab penyakit.

TINDAKAN BEDAH &


OPERASI DALAM ISLAM
2. Hadist
Hadits Jabir bin Abdullah

Jabir bin Abdullah berkata, Rasulullah SAW mengirim seorang tabib


kepada Ubay bin Kaab maka tabib tersebut memotong pembuluh
darahnya dan menempelnya dengan besi panas. (HR. Muslim). Dalam
hadits ini Nabi SAW menyetujui apa yang dilakukan oleh tabib
tersebut terhadap Ubay bin Kaab, dan apa yang dilakukan oleh tabib
tersebut adalah salah satu bentuk operasi medis yaitu pemotongan
terhadap anggota tertentu. Kemudian dari sisi pertimbangan kebutuhan
penderita kepada operasi yang tidak lepas dari dua kemungkinan
yaitu menyelamatkan hidup dan menjaga kesehatan, pertimbangan
yang dalam kondisi tertentu bisa mencapai tingkat dharurat maka tidak
ada alasan yang rajih menolak operasi medis.

Anda mungkin juga menyukai