Anda di halaman 1dari 23

ANTENATAL CARE

I.

PENDAHULUAN
Antenatal care atau asuhan antenatal menurut WHO/UNICEF 2003
adalah pelayanan yang dilakukan pada wanita selama kehamilan, yang dapat
membantu kesehatan wanita setelah melahirkan dan bayi yang akan
dilahirkan. Asuhan antenatal adalah jalan masuk bagi wanita-wanita hamil
untuk menerima berbagai promosi kesehatan dan pencegahan berbagai
penyakit, termasuk dukungan nutrisi; pencegahan dan penatalaksanaan
anemia; pencegahan, deteksi, dan penatalaksanaan malaria, tuberkulosis, dan
infeksi menular seksual/HIV/AIDS (secara khusus pencegahan HIV dari ibu
ke anak); dan imunisasi tetanus toksoid. 1
Asuhan antenatal merupakan sebuah kesempatan untuk mengedukasi
ibu agar melahirkan pada tenaga kesehatan yang terampil. Asuhan antenatal
juga merupakan waktu yang ideal untuk memberikan konseling pada ibu
tentang jarak kehamilan.1
Asuhan antenatal merupakan contoh yang baik dalam upaya
pencegahan. Pada tahun 1929, Kementerian Kesehatan Inggris membuat suatu
klinik pelayanan antenatal. Pada tahun 1942, tablet vitamin diberikan kepada
ibu-ibu hamil trimester 2 ke atas. Di Amerika Serikat, mortalitas ibu hamil
menurun dari 319 per 100.000 kelahiran di tahun 1936 menjadi 15 per
100.000 kelahiran di tahun 1985.2
Asuhan antenatal menuai kesuksesan di Afrika, karena sebesar dua
pertiga wanita hamil (69 persen) melakukan setidaknya satu kali pelayanan
antenatal. Meskipun, untuk mencapai keselamatan total ibu dan anak,
setidaknya dilakukan empat kali pelayanan antenatal.3
Upaya peningkatan kesehatan ibu dan bayi merupakan dua hal yang
sangat erat hubungannya karena keadaan kesehatan ibu hamil akan
mempengaruhi kesehatan bayi yang dilahirkan. Disamping itu karena berbagai
faktor yang mempengaruhi kesehatan ibu hamil dan bayi yang dilahirkan,
menyebabkan Angka Kematian Ibu (AKI) di Indonesia pada tahun 2002 masih

tinggi yaitu sekitar 307 per 100.000 kelahiran hidup, dan Angka Kematian
Bayi (AKB) mencapai 35 per 1.000 kelahiran hidup. 4
Angka Kematian Ibu dan Angka Kematian Bayi di Indonesia ini masih
sangat jauh tertinggal dibandingkan Negara ASEAN lainnya. Diharapkan AKI
akan turun menjadi 150 per 100.000 kelahiran hidup dan AKB akan menjadi
40 per 1.000 kelahiran hidup pada tahun 2010. 4
II.

TUJUAN ASUHAN ANTENATAL


Asuhan antenatal merupakan pelayanan terhadap individu yang
bersifat preventive care untuk mencegah terjadinya masalah yang kurang baik
bagi ibu maupun janin. Asuhan antenatal merupakan upaya kesehatan
perorangan yang memperhatikan presisi dan kualitas pelayanan medis yang
diberikan. Agar dapat melalui persalinan dengan sehat dan aman diperlukan
kesiapan fisik dan mental ibu, sehingga ibu dalam keadaan status kesehatan
yang optimal. Keadaan kesehatan ibu yang optimal sangat berpengaruh bagi
pertumbuhan janin yang dikandungnya.4
Adapun tujuan dilaksanakannya Asuhan antenatal, antara lain:4

Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan


tumbuh kembang janin.

Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental, dan sosial


ibu.

Mengenali dan mengurangi secara dini adanya penyulit-penyulit atau


komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit
secara umum, kebidanan dan pembedahan.

Mempersiapkan persalinan cukup bulan dan persalinan yang aman dengan


trauma seminimal mungkin.

Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan mempersiapkan


ibu agar dapat memberikan ASI secara eksklusif.

Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran janin


agar dapat tumbuh kembang secara normal.


III.

Mengurangi bayi lahir prematur, kelahiran mati dan kematian neonatal.

BENTUK PELAYANAN ANTENATAL


1) Anamnesis
Anamnesa pada kujungan pelayanan antenatal pertama dari ibu hamil
meliputi: 4
a. Identifikasi ibu (nama,nama suami,usia,pekerjaan,agama,dan alamat
ibu)
b. Keluhan utama atau apa yang diderita, apakah ibu datang untuk
memeriksakan kehamilan atau ada masalah lain.
Kebanyakan dari keluhan-keluhan itu adalah ketidaknyaman yang
normal dan merupakan bagian dari perubahan yang terjadi pada tubuh
ibu selama proses kehamilan berlangsung. Namun demikian, penting
untuk mengetahui dan membedakan antara ketidaknyamanan yang
normal dengan tanda-tanda bahaya. Beberapa keluhan yang paling
sering dikeluhkan ibu hamil adalah sakit kepala, nyeri lingkaran
bundle, bengkak, rasa panas dalam perut, dan peningkatan cairan
vagina.4
Tanda-tanda bahaya selama masa kehamilan bila tidak dilaporkan
atau tidak terdeteksi oleh ibu hamil dapat menyebabkan kematian.
Tanda-tanda bahaya selama kehamilan seperti bengkak pada muka atau
tangan, nyeri abdomen yang hebat, berkurangnya gerak janin,
perdarahan pervaginam, sakit kepala hebat, penglihatan kabur, demam,
muntah-muntah

hebat,

keluar

cairan

banyak

secara

tiba-tiba

pervaginam. 4
c. Riwayat haid, untuk mengetahui faal alat kandungan.
Riwayat menstruasi sangatlah penting. Wanita yang memiliki
siklus menstruasi teratur yakni 28 hari akan berovulasi pada
pertengahan siklus. Dan dengan demikian, usia kehamilan menjadi
lebih sederhana ditentukan yaitu sejak haid terakhir. Jika siklus
menstruasi secara signifikan lebih panjang dari 28-30 hari, ovulasi
akan terjadi di atas 14 hari. Tanpa adanya riwayat menstruasi yang

teratur, terprediksi, dan tersiklik yang dapat menunjukkan siklus


ovulasi, menentukan tanggal kehamilan yang akurat dengan anamnesis
dan pemeriksaan fisik merupakan suatu hal yang sulit.5
d. Riwayat kehamilan sekarang, meliputi:

HPHT (hari pertama haid terakhir)

Gerak janin (kapan mulai dirasakan apakah ada perubahan)

Penggunaan obat-obatan (termasuk jamu-jamuan)


Sangatlah penting untuk memastikan ada tidaknya penggunaan
kontrasepsi steroid sebelum kehamilan. Karena ovulasi mungkin
saja tidak terjadi 2 minggu setelah perdarahan terakhir, dan oleh
karena itu mungkin saja terjadi kesalahan dalam menentukan
waktu konsepsi dengan berpatokan pada waktu ovulasi.5

e. Riwayat kebidanan yang lalu, meliputi: 4

Berapa kali hamil, anak yang lahir hidup, persalinan tepat waktu,
persalinan premature, keguguran, atau kegagalan kehamilan,
persalinan dengan tindakan (forcep, vakum ekstraksi, tau operasi
Caesar)

Perdarahan pada kehamilan, persalinan, kelahiran, atau paska


persalinan

Persalinan yang lalu : spontan atau buatan, aterm atau premature,


perdarahan, siapa yang menolong.

Melahirkan janin dengan BB <2,5 kg atau >4 kg

Bayi yang dilahirkan : jenis kelamin, berat dan panjang badan,


hidup atau mati, bila mati umur berapa dan penyebabnya

f. Riwayat KB
g. Riwayat kesehatan (penyakit yang pernah diderita),meliputi: penyakit
kardiovaskular, TB paru, Hepatiti B, Diabetes, Hipertensi, PMS atau
HIV/AIDS, Malaria, status imunisasi TT dan lain-lain.
h. Kebiasaan makan dan gizi yang dikonsumsi (gizi seimbang), dengan
perhatian pada vitamin A dan zat besi.

i. Kebiasaan hidup sehat meliputi kebiasaan merokok, minum obat/


alkohol / obat tradisional dan olahraga.
2) Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik yang dilakukan meliputi pemeriksaan fisik secara
umum, yaitu berat badan, tinggi badan, tekanan darah, denyut nadi,
pemeriksaan tiroid, limfonodus, paru-paru, jantung, payudara, abdomen,
dengan mengukur tinggi fundus dan ada tidaknya denyut jantung janin,
pemeriksaan kedua tungkai, dan skrining pemeriksaan neurologis dasar.6
Pemeriksaan berat badan ibu hamil penting untuk melihat status gizi
ibu hamil, apakah kurang gizi atau gizi lebih. Ibu hamil dengan indeks
massa tubuh <20 kg/m2 memiliki risiko yang tinggi untuk mengalami
pertumbuhan janin terhambat dan meningkatkan risiko kematian perinatal.
Pemeriksaan skrining untuk bakterial vaginosis juga perlu dilakukan
karena wanita hamil dengan bakterial vaginosis berisiko tinggi untuk
mengalami persalinan prematur.7
Kategori
berat
Kurus
Normal
Gemuk
Obesitas

IMT
<18,5
18,5-24,9
25,0-29,9
30

Kehamilan
Tunggal
12,5-18
11,5-16
7-11,5
5-9

Gemeli
Tidak ada data
17-25
14-23
11-19

Tabel. 1. Total penambahan berat badan ibu hamil yang dianjurkan (kg) 10

Pemeriksaan abdomen pada ibu hamil perlu dilakukan dengan lebih


rinci untuk memperoleh informasi yang optimal pada saat persalinan.8,9
Pemeriksaan

yang

dilakukan

pada

palpasi

abdomen

adalah

pemeriksaan Leopold. Pemeriksaan Leopold dilakukan sejak usia


kehamilan 34 minggu untuk menilai taksiran berat janin dan presentasi.
Dapat ditawarkan pemeriksaan USG untuk konfimasi dan kemungkinan
intervensi.10

Inspeksi

Lihat derajat distensi, lihat ada tidaknya pergerakan janin untuk


memastikan bahwa perut membesar sebagai akibat dari kehamilan
dan bukan kista ovarium.8

Palpasi
a)

Pada pemeriksaan leopold I dapat juga ditentukan tinggi fundus


uteri (bagian atas dari uterus) dengan menggunakan bagian ulnar
kedua tangan yang dipalpasi ke bawah dari xiphoideus. Tinggi
fundus diukur dengan menggunakan pita pengukur dari fundus
melewati umbilikus menuju ke batas atas simfisis pubis. 8,9

Gambar 1. Pemeriksaan Leopold I. 11

Gambar 2.cara pengukuran tinggi fundus dan usia kehamilan


berdasarkan tinggi fundus.12

b)

Pada pemeriksaan leopold II dilakukan untuk menentukan posisi


berbaringnya

janin

dengan

cara

kedua

telapak

tangan

ditempatkan pada bagian lateral dari perut ibu. Dengan lembut

salah satu telapak tangan mendorong perut ibu, kemudian


tentukan bagian janin yang dipalpasi. 8

Gambar 3. Pemeriksaan Leopold II. 11

c)

Pada pemeriksaan

leopold III dilakukan untuk menentukan

bagian terbawah dari janin. Kedua tangan digunakan untuk


mempalpasi bagian bawah uterus dan menentukan bagian janin
terbawah. 8

Gambar 4. Pemeriksaan Leopold III. 11

d)

Pada pemeriksaan

leopold IV dilakukan untuk menentukan

apakah bagian terbawah sudah mencapai pintu atas panggul atau


belum. Jika bagian terbawah adalah kepala, kita dapat meraba
penurunan kepala. 8

Gambar 5. Pemeriksaan Leopold IV. 11

Auskultasi
Keadaan

janin

auskultasi

denyut

jantung

janin

dengan

menggunakan stetoskop Pinard atau Dopler melengkapi pemeriksaan


ini. Menganamnesis ibu apakah bayinya mengalami pergerakan atau
tidak juga boleh dilakukan sebagai pengganti auskultasi denyut
jantung janin. 8
3)

Pemeriksaan Laboratorium
Tes

skrining
Hb, MCV

Rekomendasi
Diperiksa

Keterangan
Skrining untuk defisiensi Fe dan
hemoglobinopati.

Bila

darah

lengkap abnormal, periksa anemia


defisiensi

besi

(ferritin)

dan

Golongan

hemoglobinopati(Hb elektroforesis)
Diperiksa setiap kehamilan Skrining untuk mencegah penyakit

darah,

pada trimester I

hemolitik pada bayi baru lahir

Diperiksa

(missal dari isoimunisasi resus)


Skrining HIV untuk mencegah

Titer

Diperiksa bila tidak

transmisi ke bayi
Untuk melihat ibu hamil dini yang

antibody

diketahui riwayat

terpapar dan tidak imun, dan

rubella

sebelumnya atau imunisasi

sebagai petunjuk rekomendasi

rhesus
HIV

vaksinasi pasca melahirkan untuk


Hepatitis C

Diperiksa pada ibu hamil

kehamilan berikutnya
-

dengan:
Pengguna narkoba
Hemodialisis
Peningkatan AST
Hepatitis C

Pernah transfuse
Risiko tinggi terpapar

produk darah
HIV positif
Sifilis
HbsAg

Tattoo di tubuh
Diperiksa setiap kehamilan

Skrining

Diperiksa

terapi / pencegahan
Skrining untuk petunjuk investigasi

untuk

diagnosis

dan

pada ibu dengan kelainan hati dan


untuk kepentingan bayi (vaksinasi
Pemeriksaan Pemeriksaan rutin untuk
lain seperti

toxoplasmosis, B19, mumps

serologi

tidak perlu dilakukan.

saat lahir)
-

B19,mumps, Ditawarkan untuk


CMV

pemeriksaan serologi pada


perempuan yang terpapar
atau dengan gejala
parvovirus, mumps, CMV
untuk menentukan infeksi
lama (IgG) atau infeksi akut

Skrining

(IgM)
Ditawarkan pada semua ibu -

klamida

hamil.
Diperiksa pada ibu hamil

Skrining

dengan risiko tinggi


Ditawarkan pada semua ibu -

gonore

hamil.
Diperiksa pada ibu hamil

Urin tengah

dengan risiko tinggi


Diperiksa untuk bakteriuria

asimtomatik pada kehamilan


dini dan skrining tiap
trimester pada ibu hamil
dengan riwayat ISK berulang

Tes toleransi

Ditawarkan untuk diagnosis

glukosa dan

(case finding).

gula darah

Diabetes tipe II untuk pasien

puasa

dengan faktor risiko:

Pemeriksaan TTGO 75 g

obesitas dan atau riwayat


Thyroid

DM keluarga
Ditawarkan pada semua ibu

Kadar subnormal pada kehamilan

stimulating

hamil.

dini berhubungan dengan gangguan

hormone

Diperiksa pada ibu hamil

perkembangan intelektual janin

dengan riwayat atau gejala


penyakit tiroid atau penyakit
lain yang berhubungan
Pap smear

dengan tiroid.
Ditawarkan bila ada indikasi. Tabel 2. Rekomendasi Skrining Laboratorium Asuhan Prenatal. 10

4) Pemeriksaan Penunjang Lainnya


4). a. Pemeriksaan USG
Pemeriksaan USG saat ini dipandang sebagai metode pemerksaan yang
non invasive, aman, praktiks dan hasilnya cukup akurat. Namun sebenarnya
belum ada keseragaman mengenai indikasi pemeriksaan USG dalam
kehamilan. Dibeberapa Negara Eropa, pemeriksaan USG dikerjakan secara
rutin selama kehamilan sedikitnya 1-2 kali selama kehamilan. Di Amerika
Serikat pemeriksaa USG tidak dikerjakan secara rutin, melainkan atas indikasi
klinis yaitu bila dalam pemeriksaan klinis dijumpai keadaan yang meragukan
atau mencurigakan adanya kelainan dalam kehamilan. 12
Pemeriksaan USG trimester I ( 8-12 minggu), dapat menentukan taksiran
persalinan dan usia kehamilan lebih akurat daripada hari pertama haid terakhir.
Selain itu, juga dapat dipastikan adanya kehamilan intrauterine, mendeteksi
aktifitas kardiak, mendeteksi dini kehamilan ganda, skrining aneuploidi
dengan nuchal translucency dan diagnosis nonviable-pregnancies.10

10

Uterus dan adneksa dievaluasi untuk terlihat ada tidaknya kantong gestasi
(gestational sac = GS). Penentuan umur kehamilan ini penting untuk
dilakukan mengingat beberapa alasan medik diantaranya: pertumbuhan janin
terhambat (intrauterine growth restriction = IUGR) hanya dapat didiagnosis
bila sejak awal umur kehamilan sudah dapat dipastikan dan dapat
menghindarkan kesalahan melakukan induksi persalinan pada kasus- kasus
yang diduga kehamilan lewat bulan (serotinus). 10

Gambar 6. kehamilan 8 minggu yang berisi mudigah (F).12

Pemeriksaan USG trimester II ( 18-22 minggu) dapat menilai anatomi


janin. Selain itu, pemeriksaan USG trimester II juga dapat meningkatkan
deteksi dini kehamilan tunggal atau ganda, memastikan viabilitas, menilai
parameter perumbuhan (biometri), menilai cairan ketuban dan menilai struktur
serta letak plasenta. 10
Kelainan struktur plasenta merupakan salah satu tanda kelainan janin
terutama bila didapatkan vakuol-vakuol yang cukup besar dikarenakan hal ini
berhubungan dengan triploidi. Penentuan letak plasenta pada trimester kedua
mempunyai makna penting bila didapatkan plasenta previa sentralis.
Sedangkan plasenta marginalis atau letak rendah kemungkinan bisa berubah
letaknya seiring dengan pertambahan besar uterus. 10
Pemeriksaan USG trimester III ( 28-32 minggu) menilai pertumbuhan
janin. Selain itu, pemeriksaan USG trimester III juga dapat memastikan
kehamilan tunggal atau ganda, memastikan viabilitas janin, mengevaluasi
pertumbuhan janin, menentukan posisi janin, mendeteksi kelainan janin yang

11

late onset, mengevaluasi struktur dan letak plasenta, dan mengevaluasi cairan
ketuban. 10
Volume cairan ketuban dapat ditentukan baik secara kualitatif maupun
semikuantitatif dengan mengukur indeks cairan ketuban. Kelainan volume
cairan ketuban pada trimester ketiga dapat berpengaruh pada hasil akhir
kehamilan.

Polihidramnion

misalnya

dapat

menyebabkan

persalinan

premature sedangkan oligohidramnion merupakan tanda telah terjadi


insufisiensi plasenta. 10
4).b. Pemeriksaan Kardiotokografi
Kardiotokografi merupakan salah satu alat elektronik yang digunakan
untuk mendeteksi adanya gangguan yang berkaitan dengan hipoksia janin
dalam hubungannya dengan adanya kontraksi ataupun aktivitas janin.6
Cara pemantauan ini bisa dilakukan secara langsung (invasif/internal)
yakni dengan alat pemantau yang dimasukkan dalam rongga rahim atau secara
tidak langsung (noninvasif / eksternal) yakni dengan alat yang dipasang pada
dinding perut ibu. Pada saat ini cara eksternal yang lebih popular karena bisa
dilakukan selama antenatal ataupun intranatal, praktis, aman, dengan nilai
prediksi positif yang kurang lebih sama dengan internal yang lebih invasif. 6
Denyut jantung janin dalam pemeriksaan kardiotokografi ada dua macam: 6

Denyut jantung janin basal (basal fetal heart rate) yakni frekuensi dasar
(baseline rate) dan variabililtas (variablity) denyut jantung janin saat

uterus dalam keadaan istirahat (relaksasi)


Perubahan periodic (reactivity) merupakan perubahan denyut jantung janin
yang terjadi saat ada gerakan janin atau kontraksi uterus.
Dalam keadaan normal frekuensi dasar denyut jantung janin berkisar

antara 120-160 dpm. Disebut takhikardi apabila frekuensi dasar >160 dpm.
Bial terjadi peningkatan frekuensi yang berlangsung cepat (<1-2 menit)
disebut suatu akselerasi (acceleration). Bradikardi bila frekuensi dasar < 120
dpm. Bila terjadi penurunan frekuensi yang berlangsung cepat (<1-2 menit)
disebut deselerasi (deceleration). 6

12

5) Diagnosis
Setelah dilakukan anamnesis dan pemeriksaan fisik, maka dapat
ditegakkan diagnosis. Selain itu dapat pula diketahui: 4

Hamil atau tidak

Primi atau multigravida

Usia kehamilan

Janin hidup atau mati

Janin tunggal atau kembar

Letak anak

Anak terletak intra atau ekstrauterine

Keadaan jalan lahir

Keadaan umum penderita

6) Terapi
Tujuan terapi pada ibu hamil adalah untuk mencapai derajat kesehatan
yang setinggi-tingginya dalam kehamilan dan menjelang persalinan. Keluhan
yang mengganggu perlu diperhatikan dan diberi pengobatan. Berikan
konseling pada ibu hamil mengenai kehidupan waktu hamil, higene dan gizi,
pemeriksaan antenatal, dan tanda-tanda bahaya.4

Kebutuhan makanan pada ibu hamil

Kebutuhan Makanan Ibu Hamil dalam Sehari Kebutuhan Makanan Ibu Hamil
Ibu Hamil dalam Sehari
Bahan
Wanita
Ibu hamil
makanan
Dewasa Tidak Triwulan 1
Triwulan 2
Triwulan 3
Hamil
Nasi
3 1/2 piring
3 1/2 piring
4 piring
3 piring
Ikan
1 1/2 piring
1 1/2 piring
4 potong
3 potong
Tempe
3 potong
3 potong
4 potong
5 potong
Sayuran
1 1/2 mangkuk 1 1/2 mangkuk 3 mangkuk
3 mangkuk
Buah
2 potong
2 potong
2 potong
2 potong
Gula
5 sdm
5 sdm
5 sdm
5 sdm

13

Susu
Lemak,
minyak/santan
Air
Garam

5 sendok teh

1 gelas
5 sendok teh

1 gelas
5 sendok teh

1 gelas
5sendok teh

4 gelas
6 gelas
6 gelas
1 sendok teh
1 sendok teh
1 sendok teh
Tabel 3. Kebutuhan gizi dan makanan 13

6 gelas
1sendok teh

Kebutuhan zat gizi


Kebutuhan dan Zat gizi

Kebutuhan wanita

Kebutuhan wanita

dewasa

hamil

Energy (kalori)
2300
2500
Lemak (g)
75
80
Protein (gram)
48
60
Kalsium (mg)
500
700
Zat besi (mg)
26
56
Vit A(SI)
500
700
Vit D
400
600
Vit B 1 (mg)
1
1,2
Vit B 2 (mg)
1
1,2
Vit B 3
10
11
Vit C (mg)
60
80
Natrium
4
2,4
Tabel 4. Kebutuhan gizi dan makanan 13
7) Prognosis
Prognosis atau ramalan persalinan dibuat setelah diagnosis ditegakkan.
Prognosis persalinan dapat diperkirakan apakah akan berjalan normal dan lahir
normal atau sulit dan berbahaya.4
Masalah-masalah lain yang dialami :
Masalah
Terbang

Rekomendasi
Keterangan
Menaiki pesawat udara aman untuk ibu hamil sampai 4 minggu sebelum taksiran
persalinan.
Lama perjalanan berhubungan dengan risiko

Menyusui

thrombosis vena
Menyusui terbaik untuk bayi. Menyusui kontraindikasi pada HIV, ketergantungan
obat, dan pemakaian obat-obat tertentu.

14

Konseling tingkah laku terstruktur dan


program
Olahraga

edukasi

ASI

meningkatkan

kesuksesan menyusui
Ibu hamil harus menghindari olahraga yang berisiko jatuh atau membahayakan perut.
Menyelam

selama

kehamilan

tidak

direkomendasikan.
Perawatan Walaupun pewarnaan rambut tidak jelas rambut

berhubungan
paparan

dengan

terhadap

malformasi

tindakan

ini

janin,
harus

dihindari pada kehamilan dini


Berendam Kemungkinan harus dihindari pada trimester air panas pertama.
dan sauna

Paparan panas maternal pada kehamilan dini


berhubungan dengan defek tuba neuralis dan

keguguran.
Persalinan Semua ibu hamil harus dikonseling tentang apa yang harus dilakukan bila ketuban
pecah, bila persalinan dimulai, strategi
manajemen nyeri dan nilai dukungan pada
Obat

persalinan.
Hanya sedikit obat yang aman untuk ibu Risiko yang

bebas dan hamil, khususnya pada trimester pertama

berhubungan

herbal

dengan
pengobatan
individual harus
dibahas
berdasarkan

Seks

kebutuhan pasien
Hubungan seksual selama masa kehamilan tidak berhubungan dengan luaran kehamilan

Alkohol

yang buruk
Semua ibu hamil harus diskrining apakah Ada bukti bahwa

15

peminum alkohol.

konseling efektif

Tidak diketahui jumlah aman konsumsi untuk menurukan


alcohol selama kehamilan. Dianjurkan tidak konsumsi alkohol
minum alkohol.

ibu

hamil

dan

mordibitas
bayinya.
Harus diinformasikan potesial efek buruknya Ibu hamil dengan

Napza

terhadap janin.

ketergantungan

Rujukan ke unit detoksifikasi dapat

obat sering

diindikasikan. Methadone dapat

memerlukan

menyelamatkan hidup pada perempuan

intervensi khusus

tergantung opiod
Merokok

Semua ibu hamil harus diskrining apakah Konseling


merokok atau tidak, konseling kehamilan bahaya merokok
khusus diberikan pada ibu hamil perokok.

dan strategi
multikompo non
efektif untuk
menurunkan

Bekerja

BBLR
Bekerja dengan berdiri cukup lama dan terpapar zat kimia tertentu berhubungan
dengan komplikasi kehamilan
Tabel 5. Masalah-masalah dalam kehamilan 10

IV.

PELAKSANAAN PELAYANAN ANTENATAL


1) Kunjungan Antenatal

Sesuai dengan kebijakan Departemen Kesehatan, kunjungan


pelayanan antenatal sebaiknya dilakukan paling sedikit empat kali selama
kehamilan, dengan ketentuan waktu sebagai berikut: 4

Minimal 1 (satu) kali pada trimester pertama = K1

16

Pada kunjungan yang pertama di minggu 8-12,dilakukan tes


kehamilan dan taksiran persalinan, memberikan jadwal kunjungan
asuhan antenatal(empat kali kunjungan) atau dilakukan perawatan
yang lebih khusus. Melakukan skrining, mengobati dan memberikan
langkah-langkah

pencegahan.

Menilai

perkembanngan

janin,

pencegahan masalah darurat, memberikan saran dan nasihat 3

Minimal 1 (satu) kali pada trimester kedua = K2


Pada kunjungan yang kedua di minggu 24-26, dilakukan penilaian
pada kondisi ibu dan janin khusus pasien dengan hipertensi dalam
kehamilan

dan

anemia.

Meninjau,

merencanakan

kelahiran,

pencegahan masalah darurat , memberikan saran dan nasihat. 3

Minimal 2 (dua) kali pada trimester ketiga = K3 dan K4


Pada kunjungan yang ketiga di minggu 32,dilakukan penilaian pada
kondisi ibu dan janin khusus pasien dengan hipertensi dalam
kehamilan, anemia dan kehamilan kembar. Berikan langkah-langkah
pencegahan. Meninjau, merencanakan kelahiran, pencegahan masalah
darurat, memberikan saran dan nasihat3
Pada kunjungan yang keempat di minggu 36-38, dilakukan
penilaian pada kondisi ibu dan janin khusus pasien dengan hipertensi
dalam kehamilan, anemia, kehamilan kembar dan malpresentasi.
Berikan langkah-langkah pencegahan. Meninjau, merencanakan
kelahiran, pencegahan masalah darurat, memberikan saran dan
nasihat.3
Apabila terdapat kelainan atau penyulit kehamilan, seperti mual,
muntah, keracunan kehamilan, perdarahan, kelainan letak, dan lainlain, frekuensi pemeriksaan disesuaikan dengan kebutuhan.4
Pada pemeriksaan harus dilakukan Standar Minimal Asuhan
Antenatal 7T, yang terdiri dari: 4
Timbang berat badan

17

Ukur Tekanan darah


Ukur Tinggi fundus uteri
Pemberian imunisasi TT (Tetanus Toksoid) lengkap
Pemberian Tablet zat besi, minimal 90 hari selama kehamilan
Tes terhadap penyakit menular seksual, HIV/AIDS, dan malaria
Temu wicara atau konseling dalam rangka persiapan rujukan.
Asuhan antenatal ini sebaiknya dilakukan oleh tenaga kesehatan
professional.

Dalam

pelayanan

antenatal,

selain

pemeriksaan

kehamilan, juga perlu diberikan penjelasan kepada ibu hamil


mengenai hal-hal yang perlu diperhatikan dalam kehamilan, yang
mencakup pola makan selama kehamilan, higiene umum dalam
kehamilan, dan mengenai hubungan seks selama kehamilan.4,12
2) Pencegahan
a. Tetanus Toksoid

Vaksinasi

tetanus

toksoid

pada

pemeriksaan

antenatal

dapat

menurunkan kemungkinan kematian bayi dan mencegah kematian ibu


akibat tetanus. Semua ibu hamil harus diberitahukan tentang pemberian 5
suntikan tetanus sesuai dengan program TT seumur hidup. Selain itu, ibu
hamil juga harus memahami bahwa risiko infeksi tetanus akan berkurang
jika persalinannya dibantu oleh tenaga kesehatan yang terlatih.4,12
Setiap ibu hamil yang belum pernah diberikan imunisasi tetanus harus
mendapatkannya paling sedikit 2 kali suntikan selama kehamilannya, yaitu
pertama pada saat kunjungan antenatal pertama dan kedua kali pada 4
minggu kemudian. Walaupun demikian apabila ada waktu, suntikan ketiga
dapat diberikan juga. Untuk mencegah tetanus terhadap bayi baru lahir,
dosis terakhir harus diberikan paling lambat 2 minggu sebelum
melahirkan. 4
Apabila ibu pernah diberikan imunisasi sebelumnya, maka satu kali
pemberian serum tambahan masih diperlukan selama kehamilannya.

18

Berikan satu suntikan pada kunjungan antenatal pertama, paling lambat 2


minggu sebelum persalinan. 4
Imunisasi
TT1

Interval
Pada kunjungan antenatal

Durasi Perlindungan
-

TT2
TT3
TT4
TT5

pertama
4 minggu setelah TT1
6 bulan setelah TT2
1 tahun setelah TT3
1 tahun setelah TT4

3 tahun
5 tahun
10 tahun
25 tahun/seumur
hidup

Tabel 6. Pemberian Imunisasi Tetanus Toksoid Lengkap4

b. Aktivitas Fisik
Tujuan senam hamil adalah10

Membentuk dan menyesuaikan sikap tubuh agar lebih baik dalam


menyangga beban kehamilan

Memperkuat dan mempertahankan elastisitas otot dinding perut ,


ligament-ligamen, otot dasar panggul dan lain-lain yang menahan
tekanan tambahan dan berhubungan dengan persalinan

Membangun daya tahan tubuh

Memperbaiki sirkulasi dan respirasi

Menyesuaikan dengan pertambahan berat badan dan perubahan


keseimbangan

Meredakan ketegangan dan membantu relaks

Membentuk kebiasaan bernafas dengan baik, pernafasan yang baik


mempunyai peran penting dalam persalinan

Memperoleh kepercayaan dan sikap mental yang baik

Program senam hamil Antenatal yang sederhana yang terbaik adalah10

Berjalan adalah senam yang paling baik10

19

Senam untuk ketiga titik yang bermasalah10


Punggung bagian bawah: goyangan panggul
Abdomen : merangkak, melingkar, memiringkan panggul
Dasar panggul : senam kegel,merangkak

Gunakan gerakan tubuh yang terbaik10


Gerakan bangun dari tidur: ketika hendak bangun dari tempat
tidur atau lantai, selalu tekukkan kaki terlebih dahulu,
kemudian miringkan badan, selanjutkan tegakkan tubuh
dengan bantuan kedua lengan mengarah ke posisi duduk. 10

Gambar 7.gerakan bangun tidur 10

Gerakan mengangkat barang : bila hendak mengangkat barang


/ benda : tekukkan lutut / jongkok (bukan membungkuk) lebih
dahulu lalu barang atau benda di angkat. Langkah-langkah ini
akan melindungi punggung bagian bawah.10

Gambar 8. Gerakan mengangkat barang 10

3) Persiapan Persalinan
WHO memprediksi bahwa ibu hamil dapat mengalami komplikasi
yang membahayakan jiwa. Namun demikian, hampir tidak mungkin untuk

20

memprediksi ibu mana yang akan mengalami komplikasi tersebut. Faktor


yang memegang peranan penting dalam mengurangi angka kematian ibu
hamil adalah tenaga kesehatan yang terampil dalam menolong ibu pada
saat persalinan. Selain itu penting juga bekerja sama dengan ibu, keluarga
dan masyarakat dalam mempersiapkan persalinan serta membuat suatu
rencana tindakan bilamana terjadi komplikasi.4
Ibu hamil juga perlu mengetahui tanda-tanda mulainya persalinan
sebagai berikut:4
His teratur dan makin sering timbul, disertai nyeri mulai dari
pinggang menjalar ke perut
Keluarnya darah dan lendir dari vagina
Terjadi pembukaan serviks
Rencana tindakan yang akan dilaksanakan didiskusikan pada ibu
hamil dan keluarganya agar diperoleh kepastian bahwa ibu hamil dapat
menerima

tindakan

yang

diperlukan,

sehingga

menghilangkan

kebingungan dan kekacauan pada saat persalinan dan meningkatkan


kepastian bahwa ibu menerima pelayanan dan tindakan yang sesuai dan
tepat waktu.4

21

DAFTAR PUSTAKA
1. United State Agency. Focused antenatal care: providing integrated,
individualized care during pregnancy. Access to Clinical and Community
Maternal, Neonatal, and Womenss Health Services 2007. p. 1-4.
2. Johnson TRB, Gregory KD, Niebyl JR. Preconception and prenatal care: part
of the continuum. In: Gabbe SG, Niebyl JR, Simpson JL, editors. Obstetrics
Normal and Problem Pregnancies fifth edition. Philadelphia: Churcill of
Livingstone, Elsevier; 2007.
3. Lincetto O, Mothebesoane-Anoh, Gomez P, Munjaja. Antenatal care [online].
2012

[cited

2014

January

1st].

Available

from

http://www.who.int/pmnch/media/publications/aonsectionIII_2.pdf.
4. Handayani R, dkk. Pedoman pelayanan antenatal. Jakarta: Departemen
Kesehatan RI; 2007. hlm. 3-96.
5. Bari Abdul. Asuhan Antenatal. Dalam : Ilmu Kebidanan. Edisi 4. Jakarta :
Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2010. Hal. 279.
6. Evans AT, Le Hew HT. Prenatal care. In: Evans AT, editor. Manual of
Obstetrics 7th edition. United States: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.
7. Khan RS. Antenatal care: components and choices [online]. 2013 [cited 2014
1st].

January

Available

from

http://www.hospitals.aku.edu/karachi/Documents/Antenatal-Care.pdf.
8. Pitkin J, Peattle AB, Magowan BA. Antenatal care. In: Pitkin J, Peattle AB,
Magowan BA, editors. Obstetrics and Gynaecology an illustrated colour text.
Philadelphia: Churcill of Livingstone, Elsevier; 2003. p. 4-5.
9. Nani Desiyani. Modul Pemeriksaan Antenatal. [online]. [cited 2014 January
19th].

Available

from

http://kedokteran.unsoed.ac.id/Files/Kuliah/modul

%20/Modul%20A3%20-%20Pemeriksaan%20Leopold.pdf
10. Kornia M,Kristanto H, Panduan Penatalaksanaan Kasus Obstetri.Penerbit
Pelawa Sari; 2012.Hal1-33

22

11. Bambang. Perawatan Antenatal. [online]. 2011 [cited 2014 January 19 th].
Available

from

http://reproduksiumj.blogspot.com/2011/08/perawatan-

antenatal-lanjutan.html
12. Wiknjosastro H. Ultrasonografi Dalam Obstetri. Dalam : Ilmu Kebidanan.
Edisi 3. Jakarta : Penerbit Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo; 2007. Hal.
133-152.

23