Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

A. Pengertian
Secara umum kebudayaan banyak diartikan sebagai hasil karya manusia yang
lahir dari cipta, rasa dan karsa. Seluruh penggambaran, apersepsi, persepsi,
pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan unsur pengetahuan yang secara
sengaja dimiliki seorang individu. Namun semua itu bisa hilang dari akalnya yang
sadar yang disebabkan oleh berbagai hal yang sampai saat ini masih dipelajari
oleh ahli psikologi. Sejak dahulu para ahli biologi yang mempelajari perilaku dan
membuat pelukisan tentang sistem organisme dari suatu spesies mulai dari prilaku
mencari makan, menghindari ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat,
mencari pasangan, kawin dan lain-lain. Berbeda dengan organism hewan,
organisme manusiajuga dipelajari oleh para ahli sampai pada hal yang terkecil.
Namun hal itu tidak dapat menentukan pola tingkah lakunya.
BAB II
HUBUNGAN KEBUDAYAAN DENGAN KEPRIBADIAN

A. Teori Kebudayaan

Secara umum kebudayaan banyak diartikan sebagai hasil karya manusia yang lahir dari
cipta, rasa dan karsa. Berikut ada empat teori dan pendekatan kebudayaan, yaitu:

1. Memandang kebudayaan sebagai kata benda : Dalam arti lewat produk budaya kita
mendenifisikan dan mengelola kebudayaan itu. Teori produk budaya ini juga penting
karena semua hasil budaya yang ada di muka bumi merupakan produk budaya
kolektif manusia. Identitas budaya dapat dilihat dari pendekatan ini.
2. Memandang kebudayaan sebagai kata kerja : Pendekatan ini dikemukakan oleh Pleh
Van Peursen. Pendekatan ini juga penting untuk dipahami, karena akan mampu
menjelaskan kepada kita bagaimana proses-proses budaya itu terjadi di tengah
kehidupan kita. Produk-produk budaya yang kita pahami lewat pendekatan pertama di
atas ternyata juga menyiratkan adanya proses-proses budaya manusia yang oleh Van
Peursen disebut ada tiga terminal proses budaya. Kehidupan mistis dimana mitos
berkuasa, atau kuasa mitos mengemudikan arah kebudayaan suatu masyarakat,
dilanjutkan dengan hadirnya kehidupan ontologis danyang terakhir adalah kehidupan
fungsional yang hari-hari ini lebih mendominasi kehidupan budaya kita.
3. Memandang kebudayaan sebagai kata sifat : Ini untuk membedakan mana kehidupan
yang berbudaya dan tidak berbudaya, membedakan antara kehidupan manusia yang
berbudaya dan makhluk lain seperti hewan dan benda-benda yang tidak memiliki
potensi budaya. Dalam memandang kebudayaan sebagai kata sifat maka unsur nilai-
nilai menjadi sangat penting. Kebudayaan dikonstruksi sebagai konfigurasi nilai-nilai
atau sebagai kompeksitas nilai-nilaiyang kemudian beroperasi pada berbagai-bagai
level kehidupan. Konfigurasi nilai yang dimiliki berbagai komunitas budaya yang
berbeda kemudian melahirkan konstruksi budaya yang berbeda-beda pada komunitas
budaya itu.
4. Memandang kabudayaan sebagai kata keadaan : Kondisi-kondisi budaya tertentu
menjadi menentukan wajah kebudayaan.
B. Gerak Kebudayaan

Gerak kebudayaan adalah gerak manusia yang hidup dalam masyarakat yang menjadi
wadah kebudayaan tadi. Gerak manusia terjadi oleh sebab hubungan-hubungan yang
terjadi antar terjadi kelompok masyarakat. Kebudayaan suatu kelompok manusia jika
dihadapkan pada unsur-unsur suatu kebudayaan asingyang berbeda, lambat laun akan
diterima dan di olah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya
kepribadian manusia itu sendiri. Proses itu dinamakan akulturasi. Dalam proses akulturasi
ada unsur-unsur kebudayaan asing yang mudah diterima seperti: unsur kebendaan (alat
tulis menulis), unsur-unsur yang membawa manfaat besar untuk mass media (radio
transistor) dan unsur yang mudah disesuaikan dengan keadaan masyarakat yang
menerima unsur-unsur tersebut (penggiling padi yang dengan biaya murah serta
pengetahuan teknis yang sederhana. Sedangkan unsur-unsur kebudayaan yang sulit
diterima misalnya: unsur yang menyangkut kepercayaan (ideologi, falsafah hidup) dan
unsur-unsur yang dipelajari pada taraf pertama proses sosiologi (contoh : nasi). Pada
umumnya generasi muda adalah individu yang dapat dengan cepat menerina unsur-unsur
kebudayaan asing yang masuk melalui proses akulturasi. Sebaliknya generasi tua, lebih
sukar. Hal ini disebabkan karena pada generasi tua, norma-norma yang tradisional sudah
internalized (mendarah daging, menjiwai) sehingga sukar untuk mengubahnya.

C. Definisi Kepribadian

Sejak dahulu para ahli biologi yang mempelajari perilaku dan membuat pelukisan tentang
sistem organisme dari suatu spesies mulai dari prilaku mencari makan, menghindari
ancaman bahaya, menyerang musuh, beristirahat, mencari pasangan, kawin dan lain-lain.
Berbeda dengan organism hewan, organisme manusiajuga dipelajari oleh para ahli
sampai pada hal yang terkecil. Namun hal itu tidak dapat menentukan pola tingkah
lakunya.

Pola-pola tingkah laku tersebut hampir semua tidak sama bahkan bagi semua jenis ras
yang ada di bumi. Hal tersebut tidak dapat diseragamkan karena seorang manusia yang
disebut homo sapiens bukan saja ditentukan oleh sistem organik biologinya saja, namun
dipengaruhi juga oleh akal dan jiwa sehingga timbul variasi pola tingkah laku tersebut.
Melihat hal tersebut, maka para ahli lebih fokus kepada pola tindakan manusia. Dengan
pola tingkah lakuyang lebih khusus yang ditentukan oleh nalurinya, dorongan-dorongan,
dan refleksnya. Susunan unsur-unsur akal dan jiwa yang menentukan tingkah laku atau
tindakan seorang individu disebut “ Kepribadian “. Dalam bahasa populer istilah
kepribadian juga berarti ciri-ciri watak yang konsisten, sehingga seorang individu
memiliki suatu identitas yang khas berbeda dengan individu yang lain. Konsep
kepribadian yang lebih spesifik belum bisa di definisikan sampai sekarang karena luasnya
cakupan dan sulit untuk dirumuskan dalam satu definisi sehingga cukup kiranya
untukkita memakai arti yang lebih kasar sampai didapatkan definisi yang sebenarnya dari
para ahli psikologi.

D. Unsur - Unsur dan Aneka Warna Kepribadian

Pengetahuan, unsur-unsur yang mengisi akal dan alam jiwa orang yang sadar, terkandung
di dalam otaknya secara sadar. Manusia memiliki panca indra yang sebagai alat penerima
dari setiap kondisi dan situasi di alam sekitarnya yang mengalami proses fisik, fisiologi,
psikologi sehingga getaran dan tekanan dari alat penerima tersebut nantinya
diproyeksikan atau dipancarkan kembali oleh individu tersebut berupa gambaran
lingkungan sekitar yang dalam ilmu antropologi disebut “ Persepsi “. Penggambaran
tersebut dapat menjadi bayangan dimana individu tersebut berfokus.

Penggambaran tentang situasi dan kondisi lingkungan dengan fokus pada bagian-bagian
yang menarik dan mendapat perhatian lebih akan diolah oleh akal dan dihubungkan
dengan penggambaran yang sejenis dan diproyeksikan oleh akal dan muncul kembali
menjadi kenangan. Pengambaran baru dengan pengertian baru dalam psikologi disebut “
apersepsi”. Penggambaranyang terfokus secara lebih intensif yang terjadi karena
pemusatan yang lebih intensif dalam psikologi disebut “pengamatan”. Seseorang dapat
menggabungkan dan membandingkan bagian-bagiandari suatu penggambaran yang
sejenis secara konsisten dan azas tertentu. Dengan kemampuan proses akal tersebut
membentuk penggambaran baru yang abstrak yang tidak mirip dengan berbagai macam
bahan konkret dari penggambaran yang baru tadi. Penggambaran abstrak tadi dalam ilmu
sosial disebut “konsep”. Cara pengamatan yang secara sengaja dibesar-besarkan atau
ditambahi atau di kurangi pada bagian tertentu sehingga membentuk penggambaran yang
sangat baru yang secara nyata sebenarnya tidak pernah ada dan terkesan tidak realistik
disebut “fantasi“. Keinginan yang semakin menggebu-gebu untuk mendapatkan sesuatu
yang telah di gambarkan terlebih dahuluakan menimbulkan suatu perasaan yang aneh dan
tekanan jiwa.

Seluruh penggambaran, apersepsi, persepsi, pengamatan, konsep, dan fantasi merupakan


unsur pengetahuan yang secara sengaja dimiliki seorang individu. Namun semua itu bisa
hilang dari akalnya yang sadar yang disebabkan oleh berbagai hal yang sampai saat ini
masih dipelajari oleh ahli psikologi. Unsur pengetahuan tersebut bukannya hilang atau
lenyap namun terdesak ke bagian jiwanya yang dalam ilmu psikologi disebut “alam
bawah sadar”.

Di alam bawah sadar tersebut, pengetahuan seseorang tercampur, terpecah-pecah menjadi


bagian yang tercampur aduk tidak teratur. Ini dikarenakan akal sadar seseorang tidak mau
menyusunnya dengan rapi sehingga adalakanya muncul sacara tiba-tiba secara utuh atau
terpotong bercampur dengan pengetahuan yang berbeda. Adakalanya pengetahuan
seseorang secara sengaja atau karena berbagai sebab terdesak ke dalam bagian jiwa yang
lebih dalam yang oleh ilmu psikologi disebut “alam tak sadar”.Proses yang terjadi dalam
alam bawah sadar banyak dipelajari oleh ahli psikologi dan dikembangkan oleh S. Freud
dalam ilmu psikoanalisa.

Selain pengetahuan, alam kesadaran manusia juga mengandung berbagai macam


perasaan. “Perasaan” adalah suatu keadaan dalam kesadaran manusia yang karena
pengetahuannya dinilai sebagai keadaan yang positif atau negative. Suatu perasaan yang
bersifat subjektif karena adanya unsur penilaian tadi biasanya menimbulkan “kehendak”
dalam kesadaran seseorang. Perasaan atau keinginan yang berdebar-debar tersebut
disebut “emosi”. Kesadaran manusiajuga mengandung berbagai perasaan yang di
pengaruhi oleh organismenya khususnya gen sebagai naluri yang disebut “dorongan”.
Sedikitnya ada 7 dorongan naluri yaitu :

1. Dorongan untuk mempertahankan hidup


2. Dorongan seks
3. Dorongan mencari makan
4. Dorongan untuk bergail / berinteraksi dengan sesama
5. Dorongan untuk menirukan tingkah laku sesamanya
6. Dorongan untuk berbakti
7. Dorongan untuk keindahan.

Seperti yang telah dijelaskan di atas bahwa kepribadian seseorang dibentuk oleh
pengetahuan yang dimilikinya dari penggambaran dunia sekitarnya serta fantasi
mengenai berbagai macam hal, juga ada materi yang menjadi objek dan sasaran unsur
kepribadian secara sistematis. Ada 3 hal yang merupakan isi keribadian yang pokok
yaitu:

1. Beragam kebutuhan organik diri sendiri, kebutuhan dan dorongan psikologi diri
sendiri, serta dorongan organik maupun psikologi sesama manusia selain diri sendiri
2. Beragam hal yang bersangkutan dengan kesadaran individu akan identitas diri sendiri
dari aspek fisik, psikologi, yang menyangkut kesadaran individu.
3. Beragam cara untuk memenuhi, memperkuat, berhubungan, mendapatkan atau
menggunakan beragam kebutuhan sehingga tercapai rasa kepuasan dalam memenuhi
kebutuhan tersebut.

Aneka ragam kepribadian individu dan Kebudayaan

Adanya beragam struktur kepribadian manusia disebabkan adanya beragam isi dan
sasaran dari pengetahuan, perasaan, kehendak dan keinginan kepribadian serta perbedaan
kualitas hubungan antar berbagai unsur kepribadian dalam kesadaran individu.

Mempelajari materi dari setiap unsur kepribadian merupakan tugas psikologi yang berupa
kebiasaan / habit atau berbagai macam materi yang menyebabkan timbulnya kepribadian.
• Kebiasaan (Habit)
• Adat istiadat (Custom)
• Sistem social (Sosial Sstem)
• Kepribadian individu (Individual Personality)
• Kepribadian umum (Modal Personality)

Kebiasaan, adat dan kepribadian

Karena materi yang merupakan isi dari pengetahuan dan perasaan seorang individu
berbeda dengan individu yang lain, dan juga sifat serta intensitas kaitan antara beragam
bentuk pengetahuan maka setiap manusia memiliki kepribadian yang khas. Dari berbagai
jenis kepribadian tersebut telah diringkas menjadi berbagai type dan sub type yang
merupakan tugas psikologi. Walaupun begitu, antropologi dan ilmu sosial lainnya juga
memperhatikan masalah kepribadian ini walaupun hanya memperdalam atau memahami
adat istiadat dan sistem sosial lainya. Ini dikarenakan ada hubungan yang sangat jelas
antara kepribadian individu atau kelompok dengan adat dan kebudayaan suatu daerah.
Dimana kebudayaan itu mempengaruhi pembentukan pola kepribadian seorang individu.

Kepribadian umum

Para pengarang etnografi sering mencantumkan suatu pelukisan tentang watak atau
kepribadian umum dari para warga suatu kebudayaan dalam karyanya.pelukisan itu
didapat dari kesan yang diperoleh saat bergaul dengan individu yang diteliti. Pergaulan
inilah yang akan menimbulkan kesan yang nantinya secara umum akan dipresentasikan
dalam setiap karyanya. Abad ke 20 ada pakar psikologi A. Kardiner, R Linton tahun
1930-an mengembangkan metode yang eksak untuk mengukur kepribadian umum. Bahan
etnografinya dikumpulkan Linton sedangkan Kardiner menerapkan metode-metode
psikologi dan menganalisa data psikologinya yang dituangkan dalam karyanya “ The
Individual And His Society”( 1938).

Mereka menemukan konsep basic personality structure atau kepribadian dasar karena
pada umumnya masyarakat mengalami pengaruh lingkungan kebudayanaan yang sama
selama pertumbuhan. Pembentukan watak banyak dipengaruhi oleh pengalaman
hidupnya dari kecil. Juga dengan pengaruh kebiasaan yang tertanam dari sejak kecil
karena terus mengikuti adat dan norma yang telah ditetapkan. Metode penelitian
kepribadian umum dengan cara mempelajari adat istiadat pengasuhan anak terus
dikembangkan sehingga berkembang menjadi bagian antropologi yan dinamakan
personality and culture.

Kepribadian dan Kebudayaan Barat serta Kepribadian dan Kebudayaan Timur

Dalam banyak tulisan banyak dibahas tentang perbedaan kepribadian dari kebudayaan
barat dan timur. Konsep barat-timur dicetuskan pada pertengahan abad 19 ketika
kolonialisme berkembang dari negara Eropa Barat. Kebudayaan bangsa timur yang
awalnya masih asli dan tradisional terus mendapat pengaruh terutama setelah masuknya
system pendidikan sekolah Eropa Barat. Mereka mengalami perubahan menyusul
masuknya pengaruh kebudayaan barat yang didsebut modernisasi.

E. Mendidik agar Berbudaya

Di lingkungan sekolah, sering kita dengar sindiran ambon untuk menyebut salah satu
siswa, hanya karena ia berkulit hitam dan berambut keriting, atau sebutan cina hanya
karena matanya sipit, meskipun kedua murid itu belum tentu berasal dari daerah seperti
yang disebutkan. Ada pula sebutan londho, berasal dari bahasa Jawa artinya Belanda,
yang sering dialamatkan kepada anak-anak yang menderita kekurangan pigmen
(kandungan warna pada kulit), dengan tubuh berwarna putih (kepucatan) dan rambut
berwarna kuning (keputih-putihan). Karena fisiknya itu, ia disama-rupakan dengan orang
Eropa (Belanda).

Dalam bentuknya yang lebih vulgar, stigma serupa kadang-kadang bisa bersifat
memojokkan satu etnis/suku tertentu terhadap lainnya, seperti kasus berikut: saat sedang
berdiskusi dalam kelas, seorang anak berbicara agak keras, lalu kemudian guru
menegurnya dengan sedikit memberi saran, kalau berbicara itu yang sopan, jangan terlalu
keras. Kebetulan si murid tadi berasal dari Papua. Dan pada kesempatan lain, secara
kebetulan sang guru bertemu dengan para suporter asal Papua yang sedang terlibat adu
mulut dengan beberapa orang di jalanan. Keesokan paginya di kelas,si anak Papua
langsung masuk sang guru yang wajib diwaspadai. Stigmatisasi Etnis: Antara kesalahan
berpikir dan kurangnya wawasan cultural.

Stigma terhadap etnis tertentu sepertinya terlanjur menjadi konsumsi publik, meskipun
kadang tak ada hubungannya dengan asal muasal kedaerahan. Karena terlalu sering
digunakan, hampir tidak ada kesan diskriminatifnya. Penilaian yang dilakukan semata-
mata dilandasi oleh premis-premis sederhana, untuk kemudian menarik kesimpulan,
sebagaimana contoh di atas. Anak yang matanya sipit adalah orang Cina, di kelas ada tiga
murid etnis Cina yang matanya sipit, maka semua murid yang sipit adalah orang Cina.
Contoh lain; anak yang berbicara keras adalah tidak sopan, ada 5 anak Papua yang
bersuara keras-keras, maka orang Papua adalah orang yang keras dan tidak sopan.

Setidaknya ada dua faktor yang melatarbelakangi munculnya stigmatisasi etnis.

1. Yang bersumber dari cara berpikir instant (fallacy of dramatic instance ). Yakni cara
berpikir yang menghendaki kesimpulan yang cepat, dan selalu tergoda untuk
melakukan over-generalisation terhadap segala hal. Overgeneralisasi dapat terjadi
dalam pemikiran seseorang, sesuatu hal, atau suatu tempat, dengan asumsi bahwa
entitas-entitas tersebut akan selamanya sama dan tidak mungkin berubah. Padahal,
segalanya akan selalu berubah, sehingga hal yang sama tidak bisa kita terapkan pada
orang yang sama terus-menerus dan selama-lamanya.
2. Problem overgeneralisasi juga bersumber dari kurangnya wawasan kebudayaan yang
dimiliki. Khususnya wawasan ke-nusantara-an kita akan pluralitas kultur yang ada.
Akibat minimnya pemahaman tentang budaya orang lain, maka yang tersisa hanyalah
sikap dan cara pandang yang bersifat tunggal (monolitik). Dalam bentuk nya yang
ekstrem dapat berwujud etnosentrisme/sukuisme. Etnosentrisme atau sukuisme adalah
sikap berlebihan yang menganggap hanya etnis kelompok tertentu saja yang baik,
benar dan unggul. Adapun kelompok lainnya tidak. Dampak yang dihasilkannya bisa
sangat fatal akibatnya. Bayangkan saja jika generalisasi kasar dilakukan terhadap
etnis tertentu yang dianggap negatif sebagai; kasar, kotor, bermental buruk, atau
bahkan musuh, maka tidak jarang akan berujung pada konflik komunal.

Sejarah menunjukkan, pemaknaan secara negatif atas keragaman telah melahirkan


penderitaan panjang umat manusia. Pada saat ini, paling tidak telah terjadi 35 pertikaian
besar antar etnis di dunia. Lebih dari 38 juta jiwa terusir dari tempat yang mereka diami,
paling sedikit 7 juta orang terbunuh dalam konflik etnis berdarah. Pertikaian seperti ini
terjadi dari Barat sampai Timur, dari Utara hingga Selatan. Dunia menyaksikan darah
mengalir dari Yugoslavia, Cekoslakia, Zaire hingga Rwanda, dari bekas Uni Soviet
sampai Sudan, dari Srilangka, India hingga Indonesia. Konflik panjang tersebut
melibatkan sentimen etnis, ras, golongan dan juga agama.

Etnosentrisme atau sukuisme ternyata begitu kental dalam pergaulan sehari-hari.


Pandangan tentang keunggulan etnis tertentu atas lainnya sudah menjadi rahasia publik.
Disebut rahasia, sebab pengakuan keunggulan tersebut diakui secara umum oleh masing-
masing kelompok (etnis, suku, bahkan agama), meskipun secara sembunyi-sembunyi.

Ada beberapa pendekatan dalam proses pendidikan multikultural, yaitu:

1. Tidak lagi terbatas pada generalisasi pandangan tentang pendidikan (education)


dengan persekolahan (schooling) atan pendidikan multikultural dengan program-
program sekolah formal. Pendidikan seharusnya dipahami sebagai transmisi
kebudayaan yang melibatkan banyak pihak untuk bertanggung jawab, sebab program-
program sekolah sesungguhnya terkait erat dengan pembelajaran informal di luar
sekolah.
2. Menghindari generalisasi pandangan tentang kebudayaan dengan kelompok etnik.
Artinya, tidak perlu lagi mengasosiasikan kebudayaan semata-mata dengan
kelompok-kelompok etnik sebagaimana yang terjadi selama ini. secara tradisional,
para pendidik mengasosiasikan kebudayaan hanya dengan kelompok-kelompok sosial
yang relatif (self sufficient), ketimbang dengan sejumlah orang yang secara terus
menerus berkembang dalam lingkungan sosialnya. Dalam konteks pendidikan,
pendekatan ini diharapkan melenyapkan kecenderungan memandang anak didik
secara stereotip menurut identitas etnik mereka dan akan meningkatkan eksplorasi
pemahaman yang lebih besar mengenai kesamaan dan perbedaan di kalangan anak
didik dari berbagai kelompok etnik.
3. Mendorong terwujudnya “kebudayaan baru” yang tentunya membutuhkan interaksi
inisiatif dengan orang-orang yang sudah memiliki kompetensi. Dalam hal ini, segala
upaya untuk mendukung sekolah-sekolah yang terpisah secara etnik sesungguhnya
merupakan antitesis terhadap tujuan pendidikan multikultural. Sebab, kehendak untuk
mempertahankan dan memperluas solidarits kelompok hanya akan menghambat
sosialisasi ke dalam kebudayaan baru tersebut.
4. Pendidikan multikultural meningkatkan kompetensi dalam beberapa kebudayaan.
Kebudayaan mana yang akan diadopsi ditentukan oleh situasi.
5. kemungkinan bahwa pendidikan (baik dalam maupun luar sekolah) meningkatkan
kesadaran tentang kompetensi dalam beberapa kebudayaan. Kesadaran seperti ini
kemudian akan menjauhkan kita dari konsep dwi budaya atau dikhotomi antara
pribumi dan non-pribumi, orang negri dan pendatang. Dikotomi semacam ini hanya
akan membatasi individu untuk sepenuhnya mengekspresikan diversitas kebudayaan.
Dengan pendekatan ini, kesadaran untuk menghindari dikotomi akan semakin kuat,
untuk selanjutnya mengembangkan apresiasi yang lebih baik melalui kompetensi
kebudayaan yang ada pada diri anak didik.

Pendidikan multikultural sepatutnya mampu mengubah segala perspektif serta pandangan


yang kini telah membeku; dari perspektif monokultural kepada yang multikulturalis, dari
yang penuh prasangka dan diskriminatif kepada penghargaan terhadap keragaman dan
perbedaan, toleran dan keterbukaan. Perubahan paradigma semacam ini akan
melenturkan kebekuan sikap dan kepribadian dalam hidup bermasyarakat. Dan pada
akhirnya akan menghasilkan anak didik yang berkebudayaan dan berperadaban.

F. Hubungan Kepribadian Dengan Kebudayaan

Menurut Roucek dan Warren, kepribadian adalah organisasi faktor-faktor biologis,


psikologis dan sosiologis yang mendasari perilaku individu. Faktor biologis misalnya,
sistem syaraf, proses pendewasaan, dan kelainan biologis lainnya, sedangkan faktor
psikologis adalah seperti unsur temperamen, kemampuan belajar, perasaan, keterampilan,
keinginan dan lain-lain. Dan yang terakhir, adalah faktor sosiologis. Kepribadian dapat
mencakup kebiasaan-kebiasaan, sikap dan lain-lain yang khas dimiliki oleh seseorang
yang berkembang apabila orang tadi berhubungan dengan orang lain. Ketiga faktor di
atas adalah faktor yang dapat mempengaruhi kepribadian.

Seseorang yang sejak kecil dilahirkan sampai dewasa selalu belajar dari orang-orang
disekitarnya. Secara bertahap dia akan mempunyai konsep kesadaran tentang dirinya
sendiri. Lama-kelamaan perilaku-perilaku si anak akan menjadi sifat yang nantinya
menghasilkan suatu kepribadian. Berikut ini adalah beberapa kebudayaan khusus yang
nyata mempengaruhi bentuk kepribadian yakni:

1. Kebudayaan-kebudayaan khusus atas dasar faktor kedaerahan

Contoh: Adat-istiadat melamar di Lampung dan Minangkabau. Di Minangkabau


biasanya pihak permpuan yang melamar sedangkan di Lampung, pihak laki-
laki yang melamar.

2. Cara hidup di kota dan di desa yang berbeda (urban dan rural ways of life)

Contoh: Perbedaan anak yang dibesarkan di kota dengan seorang anak yang
dibesarkan di desa. Anak kota bersikap lebih terbuka dan berani untuk
menonjolkan diri di antara teman-temannya sedangkan seorang anak desa
lebih mempunyai sikap percaya pada diri sendiri dan sikap menilai (sense of
value)

3. Kebudayaan-kebudayaan khusus kelas social

Di masyarakat dapat dijumpai lapisan sosial yang kita kenal, ada lapisan sosial tinggi,
rendah dan menengah. Misalnya cara berpakaian, etiket, pergaulan, bahasa sehari-hari
dan cara mengisi waktu senggang. Masing-masing kelas mempunyai kebudayaan
yang tidak sama, menghasilkan kepribadian yang tersendiri pula pada setiap individu.

4. Kebudayaan khusus atas dasar agama


Adanya berbagai masalah di dalam satu agama pun melahirkan kepribadian yang
berbeda-beda di kalangan umatnya.

5. Kebudayaan berdasarkan profesi

Misalnya: kepribadian seorang dokter berbeda dengan kepribadian seorang


pengacara dan itu semua berpengaruh pada suasana kekeluargaan dan cara
mereka bergaul. Contoh lain seorang militer mempunyai kepribadian yang
sangat erat hubungan dengan tugas-tugasnya. Keluarganya juga sudah
biasa berpindah tempat tinggal.
BAB III

ENUTUP

Kesimpulan

Kepribadian seseorang terbentuk karena beberapa faktor, antara lain faktor biologis yang
merupakan faktor bawaan, dan juga terbentuk karena pengaruh lingkungannya.
Kebudayaan dapat terbentuk atas dasar kepribadian-kepribadian yang “seragam” dan
“disepakati” menjadi seuatu kebiasaan oleh individu-individu yang ada dalam suatu
masyarakat. Dalam hal ini kepribadian memberikan kontribusi terhadap terbentuknya
budaya. Pun budaya dapat mempengaruhi terbentuknya kepribadian seseorang sebagai
nilai-nilai yang mempengaruhi pola keseharian seorang individu dalam masyarakat yang
menganut nilai budaya tersebut.

Boeree, Dr. C. George, 2006, Psikologi Sosial, Jogjakarta : Prismasophie

Koentjoroningrat, Pengantar antropologi I,

Sumber : www.google.com