Anda di halaman 1dari 31

Larangan Terhadap Wanita yang Menyerupai Laki-Laki dan Laki-Laki

yang Menyerupai Wanita


Jumat, 13 Maret 2009 21:58 Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. melaknat para
laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan wanita yang menyerupai kaum
laki-laki," (HR Bukhari [5885]).
Masih diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, "Nabi saw. telah melaknat
para banci dan wanita-wanita tomboi, lalu beliau bersabda, "Usir mereka
dari rumah kalian'!"
Ibnu Abbas berkata, "Maka Nabi saw. mengeluarkan si fulan dan Umar
mengeluarkan si fulanah," (HR Bukhari [5886]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. telah
melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai
pakaian laki-laki," (Shahih, HR Abu Dawud [4098]).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, "Rasulullah saw.
bersabda, 'Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga dan tidak akan
dilihat Allah di hari kiamat kelak: Seorang yang duhaka kepada orang
tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, serta laki-laki dayyuts (tidak
memiliki sifat cemburu)'," (Shahih, HR Ahmad [III/134]).
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, dikatakan kepada Aisyah r.a, "Ada
wanita yang memakai sepatu laki-laki." Lantas ia berkata, "Rasulullah saw.
melaknat wanita yang menyerupai laki-laki," (Shahih lighairihi, HR Abu
Dawud [4099]).
Termasuk dalam bab ini hadits Abdullah bin Amr dan Ammar bin Yasir.
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya laki-laki menyerupai kaum wanita dan wanita
menyerupai kaum laki-laki, baik dalam pakaian, ucapan dan lain-lain
yang merupakan sifat khusus bagi masing-masing jenis.
2. Boleh melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, para banci dan
wanita-wanita tomboi.

3. Laki-laki wadam dan wanita tomboy bertentangan dengan sifat yang


telah diciptakan Allah atas mereka dan usaha merubah ciptaan
tersebut hukumnya haram.
Adz-Dzahabi mencantumkannya dalam ktiab al-Kabaair (dosa-dosa
besar), Ibnu Hajar al-Haitsami mencantumkannya dalam kitab azZawaajir (perkara-perkara tercela) sebagai dosa-dosa besar. Apa yang
mereka katakan adalah benar sebagaimana yang dimaksud dalam
hadits bab ini.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy
Syar'iyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan
menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam
Syafi'i, 2006), hlm. 3/221-223.
< Sebelumnya

Berikutnya >

Larangan Menyerupai Laki-Laki


Muslim category
Larangan Menyerupai Laki-Laki ketegori Muslim. Larangan Menyerupai
Laki-Laki
Amr bin Abdul Munim
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu anhu, dia menceritakan.
Artinya : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki
yang bersikap seperti wanita dan wanita seperti laki-laki .
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan.
Artinya : Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki
yang menyerupai wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki .
Hadist di atas menunjukkan kepada kita larangan bagi laki-laki untuk
menyerupai wanita, baik itu dengan cara melembutkan suara maupun
dengan menirukan gerakan, pakaian, perhiasan, dan lain sebagainya dari
karakter kewanitaan. Dan menunjukkan larangan bagi wanita untuk
menyerupai laki-laki, baik itu dengan cara mengkasarkan suaranya maupun
dengan cara meniru gerakan dan pakaian mereka.
Musuh-musuh Islam telah berusaha menggunakan cara yang sangat buruk
untuk merusak Islam dan menghancurkan akidah yang bersemayam dalam

diri para pemeluknya dengan cara menyebarluaskan pakaian-pakaian wanita


yang menyerupai pakaian laki-laki, misalnya celana, kemeja, jaket dan
bahkan sepatu. Padahal mereka semua mengetahui bahwa Islam melarang
wanita menyerupai laki-laki. Penyerupaan wanita seperti orang laki-laki
merupakan awal dari cara perusakan agama Islam dalam diri wanita
Muslimah.
Mengapa wanita dilarang melakukan itu ??
Karena mereka mempunyai kedudukan sebagai isteri, saudara dan sekaligus
ibu rumah tangga.
Tidak diragukan lagi, sebagai seorang istri, wanita akan memberikan
pengaruh terhadap suaminya, saudara dan putera-puterinya. Apabila wanita
itu baik, maka akan memberikan pengaruh positif, dan apabila rusak maka
akan memberikan pengaruh negatif. Wanita merupakan tiang umat, apabila
dia baik maka seluruh umat akan baik dan sebaliknya apabila rusak maka
akan rusak pula seluruh umat.
Sedangkan alasan penyerupaan itu, karena penyerupaan wanita seperti
orang laki-laki merupakan tindakan yang keluar dari fitrahnya sebagai wanita
yang telah diciptakan oleh Allah Azza wa Jalla. Penyerupaan ini termasuk
dosa besar, karena adanya laknat bagi pelakunya.
Yang paling selamat bagi setiap wanita Muslimah adalah memelihara fitrah
yang telah diciptakan Allah Subhanahu wa Taala baginya, tidak menyerupai
laki-laki dalam segala hal, meski dalam hal memakai sandal sekalipun.
Dari Ibnu Abi Malikah, dia berkata : Dikatakan kepada Aisyah Radhiyallahu
Anha, Ada seorang wanita yang memakai sandal . Maka Aisyah berkata.
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat wanita yang menyerupai
laki-laki . melalui Ibnu Juraij, dari Abu Abi Malikah}
Disalin dari buku 30 Larangan Bagi Wanita, oleh Amr Bin Abdul Munin
terbitan Pustaka Azzam - Jakarta.

m site

Beranda

About

Search...

Larangan Terhadap Wanita yang Menyerupai Laki-Laki dan Laki-Laki


yang Menyerupai Wanita
15 Sep 2010 1 Komentar
by scorpio in Larangan-Larangan
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, Rasulullah saw. melaknat para
laki-laki yang menyerupai kaum wanita dan wanita yang menyerupai kaum
laki-laki, (HR Bukhari [5885]).
Masih diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, Nabi saw. telah melaknat
para banci dan wanita-wanita tomboi, lalu beliau bersabda, Usir mereka dari
rumah kalian!
Ibnu Abbas berkata, Maka Nabi saw. mengeluarkan si fulan dan Umar
mengeluarkan si fulanah, (HR Bukhari [5886]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah saw. telah
melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai
pakaian laki-laki, (Shahih, HR Abu Dawud [4098]).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, Rasulullah saw.
bersabda, Ada tiga orang yang tidak akan masuk surga dan tidak akan
dilihat Allah di hari kiamat kelak: Seorang yang duhaka kepada orang
tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, serta laki-laki dayyuts (tidak
memiliki sifat cemburu), (Shahih, HR Ahmad [III/134]).
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, dikatakan kepada Aisyah r.a, Ada
wanita yang memakai sepatu laki-laki. Lantas ia berkata, Rasulullah saw.
melaknat wanita yang menyerupai laki-laki, (Shahih lighairihi, HR Abu
Dawud [4099]).
Termasuk dalam bab ini hadits Abdullah bin Amr dan Ammar bin Yasir.
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya laki-laki menyerupai kaum wanita dan wanita
menyerupai kaum laki-laki, baik dalam pakaian, ucapan dan lain-lain yang
merupakan sifat khusus bagi masing-masing jenis.

2. Boleh melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, para banci dan wanitawanita tomboi.
3. Laki-laki wadam dan wanita tomboy bertentangan dengan sifat yang telah
diciptakan Allah atas mereka dan usaha merubah ciptaan tersebut
hukumnya haram.
Adz-Dzahabi mencantumkannya dalam ktiab al-Kabaair (dosa-dosa besar),
Ibnu Hajar al-Haitsami mencantumkannya dalam kitab az-Zawaajir (perkaraperkara tercela) sebagai dosa-dosa besar. Apa yang mereka katakan adalah
benar sebagaimana yang dimaksud dalam hadits bab ini.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin Ied al-Hilali, Al-Manaahisy
Syariyyah fii Shahiihis Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi
Larangan menurut Al-Quran dan As-Sunnah, terj. Abu Ihsan alAtsari (Pustaka Imam Syafii, 2006), hlm. 3/221-223.
ADVERTISEMENT
Assalamualaikum ya ukhtii
Pada kesempatan ini penulis coba menghadirkan tulisan tentang larangan wanita
menyerupai laki-laki. Berikut larangannya berdasarkan dalil-dalil yang jelas:
Dari Abdullah bin Abbas Radhiyallahu 'anhu, dia menceritakan.
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang bersikap
seperti wanita dan wanita seperti laki-laki".
Sedangkan dalam riwayat yang lain disebutkan.
"Artinya : Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam melaknat orang laki-laki yang menyerupai
wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki". (Hadits Riwayat Bukhari)
Hadist di atas menunjukkan kepada kita larangan bagi laki-laki untuk menyerupai wanita,
baik itu dengan cara melembutkan suara maupun dengan menirukan gerakan, pakaian,
perhiasan, dan lain sebagainya dari karakter kewanitaan. Dan menunjukkan larangan bagi
wanita untuk menyerupai laki-laki, baik itu dengan cara mengkasarkan suaranya maupun
dengan cara meniru gerakan dan pakaian mereka.
Musuh-musuh Islam telah berusaha menggunakan cara yang sangat buruk untuk merusak
Islam dan menghancurkan akidah yang bersemayam dalam diri para pemeluknya dengan
cara menyebarluaskan pakaian-pakaian wanita yang menyerupai pakaian laki-laki, misalnya
celana, kemeja, jaket dan bahkan sepatu. Padahal mereka semua mengetahui bahwa Islam
melarang wanita menyerupai laki-laki. Penyerupaan wanita seperti orang laki-laki
merupakan awal dari cara perusakan agama Islam dalam diri wanita Muslimah.
Mengapa wanita dilarang melakukan itu ??
Karena mereka mempunyai kedudukan sebagai isteri, saudara dan sekaligus ibu rumah
tangga.
Tidak diragukan lagi, sebagai seorang istri, wanita akan memberikan pengaruh terhadap
suaminya, saudara dan putera-puterinya. Apabila wanita itu baik, maka akan memberikan
pengaruh positif, dan apabila rusak maka akan memberikan pengaruh negatif. Wanita
merupakan tiang umat, apabila dia baik maka seluruh umat akan baik dan sebaliknya
apabila rusak maka akan rusak pula seluruh umat.
Sedangkan alasan penyerupaan itu, karena penyerupaan wanita seperti orang laki-laki
merupakan tindakan yang keluar dari fitrahnya sebagai wanita yang telah diciptakan oleh

Allah Azza wa Jalla. Penyerupaan ini termasuk dosa besar, karena adanya laknat bagi
pelakunya.
Yang paling selamat bagi setiap wanita Muslimah adalah memelihara fitrah yang telah
diciptakan Allah Subhanahu wa Ta'ala baginya, tidak menyerupai laki-laki dalam segala hal,
meski dalam hal memakai sandal sekalipun.
Dari Ibnu Abi Malikah, dia berkata : Dikatakan kepada Aisyah Radhiyallahu Anha, "Ada
seorang wanita yang memakai sandal". Maka Aisyah berkata. "Rasulullah Shallallahu 'alaihi
wa sallam melaknat wanita yang menyerupai laki-laki". (Hadits shahih. Diriwayatkan oleh
Imam Abu Daud (4099) melalui Ibnu Juraij, dari Abu Abi Malikah)

Disalin dari buku 30 Larangan Bagi Wanita, oleh Amr Bin Abdul Mun'in terbitan Pustaka

4. Mengenakan pakaian yang menyerupai pakaian wanita.


Di antara fithrah yang disyariatkan Allah kepada hambaNya yaitu agar lakilaki menjaga sifat kelelakiannya dan wanita menjaga sifat kewanitaannya
seperti yang telah diciptakan Allah. Jika hal itu dilanggar, maka yang terjadi
adalah kerusakan tatanan hidup di masyarakat. Dalam hadits shahih
disebutkan:
Rasulullah Shallallahu alaihi wasalam melaknat laki-laki yang menyerupai
wanita dan wanita yang menyerupai laki-laki. (HR. Al-Bukhari).
Sebagian ulama berkata, Yang dimaksud menyerupai dalam hadits tersebut
adalah dalam hal pakaian, berdandan, sikap, gerak-gerik dan sejenisnya,
bukan dalam berbuat kebaikan. Karena itu, termasuk dalam larangan ini
adalah larangan menguncir rambut, memakai anting-anting, kalung, gelang
kaki dan sejenisnya bagi laki-laki, sebab hal-hal tersebut adalah kekhususan
bagi wanita. Rasulullah ` bersabda:
Allah melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang
memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Daud, Shahihul Jami , 5071) .

Dia Wanita Atau Laki-Laki?


Selasa, 12 Oktober 2010 13:00

Ilustrasi. (foto: chicagoemploymentlawyer)

Sesungguhnya Allah Taala telah menciptakan kaum


lelaki dan kaum wanita sebagai dua jenis kelamin yang
berbeda. Allah Taala juga telah menetapkan dan
menakdirkan bahwa laki-laki tidak sama dengan wanita
baik dalam bentuk fisik, kondisi dan penampilannya.
Sifat lemah lembut dan cenderung suka berhias
merupakan salah satu sifat yang membedakan wanita
dengan kaum lelaki. Namun bagaimana kenyataan yang
terjadi di jaman ini yang disebut-sebut sebagai zaman
modern? Saat ini dengan mudah akan kita jumpai kaum wanita serupa dengan
kaum laki-laki dalam hal berpakaian, gerakan, suara dan dalam semua hal yang
merupakan fitrah bagi laki-laki. Demikian pula sebaliknya, banyak kaum laki-laki
yang menyerupai wanita. Kaum laki-laki tidak mau kalah untuk ikut berdandan
sebagaimana dandanan kaum wanita. Lalu bagaimana hukum Islam terhadap hal
ini?

Ibnu Abbas radhiallahu anhu berkata, Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam melaknat
para laki-laki yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. (HR.
Bukhari)
Wahai wanita muslimah, apakah kita menutup telinga dari sabda Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam tersebut? Sesungguhnya menyerupai laki-laki demikian juga laki-laki yang
menyerupai wanita merupakan dosa besar dikarenakan ancaman laknat yang disampaikan oleh
Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam.
Sebagian wanita ada yang melakukan beberapa perkara yang merupakan sifat khusus laki-laki,
seperti berbicara dengan suara laki-laki (dengan dibuat-buat) atau semacamnya dengan maksud
membuat orang lain tertawa atau untuk menakut-nakuti. Jika ia telah mengetahui keharaman
menyerupai laki-laki namun ia tetap melakukannya, niscaya ia masuk ke dalam perkara yang
dilaknat oleh Rasulullah. Apabila ia berbicara dengan suara laki-laki untuk menakut-nakuti
mereka, maka ia berdosa dengan dosa yang lebih besar daripada jika ia hanya ingin membuat
mereka tertawa. Yang demikian itu karena ia telah melakukan dua larangan yaitu menyerupai
laki-laki dan menakut-nakuti orang. Nabi shallallahu alaihi wa sallam telah bersabda, Tidak
halal bagi seorang muslim untuk menakut-nakuti muslim yang lain. (HR. Abu Dawud)
Ath-Thabari berkata di dalam Al-Fath, yang maknanya, Tidak boleh bagi laki-laki untuk
menyerupai wanita dalam pakaian dan perhiasan yang khusus untuk wanita, demikian juga
sebaliknya.
Al-Hafizh berkata: Demikian juga dalam berbicara dan berjalan, adapun dalam berpakaian,
maka hal itu berbeda-beda sesuai dengan adat dari masing-masing negeri, karena mungkin ada
kaum yang tidak membedakan antara pakaian wanita dengan pakaian laki-laki. Akan tetapi

wanita dibedakan dengan adanya hijab dan cadar. Adapun celaan menyerupai dalam hal
berbicara dan berjalan, maka itu khusus pada orang yang melakukannya dengan sengaja.
Sedangkan orang yang memang sudah pembawaannya begitu, maka ia diperintahkan
memaksakan diri untuk meninggalkannya dan membiasakan terus menerus hal itu (perilaku yang
sesuai jenis kelaminnya ed.) secara bertahap. Jika seseorang tidak meninggalkan hal ini serta
terus-menerus melakukannya, maka ia terkena celaan tersebut. Apalagi jika nampak darinya
sesuatu yang menunjukkan bahwa ia ridha dengan hal tersebut sehingga menjadi jelas, bahwa ia
termasuk dalam golongan orang-orang yang ber-tasyabuh atau menyerupai sesuatu (yaitu
menyerupai lawan jenisnya -ed). Sesungguhnya selalu terdapat hikmah dalam setiap larangan
Allah baik yang kita ketahui ataupun yang tersembunyi. Allah Azza wa Jalla telah menciptakan
makhluk-Nya dengan ciptaan yang paling sempurna serta disertai dengan sifat yang terbaik
sesuai keadaannya. Semoga kita termasuk kaum yang berpikir. Allahu alam.
***
Disarikan dari Untukmu Muslimah Kupersembahkan Nasehatku oleh Ummu Abdillah Al
Wadiiyyah dengan beberapa tambahan oleh Ummu Asma Karimah

Laknat bagi wanita yang menyerupai lakilaki


Rasul Arasy
Jum'at, 26 Agustus 2011 15:35:27

(Arrahmah.com) - Zaman kita sekarang telah muncul sekelompok wanita yang menyimpang
dari fitrah Allah, padahal Allah telah menciptakan manusia di atas fitrah itu. Mereka
menunjukkan sifat yang tidak sesuai dengan tabiat kewanitaan mereka, padahal Allah telah
menjadikan tabiat tersebut untuk membedakan dengan tabiat laki-laki.
Mereka menyangka bahwa mereka bisa berubah menjadi laki-laki. Akibatnya sekelompok wanita
tersebut banyak menemui kesulitan dan kesempitan, mereka mengalami problem fisik dan psikis,
menjadi wanita-wanita yang tersisihkan yang dibenci sekaligus menjadi pelampiasan kemarahan
suami dan anak-anak mereka.
Disamping itu ada ancaman yang amat keras lagi bagi para wanita yang meyimpang dari fitrah
dan kodrat kewanitaan mereka serta menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian, penampilan,
akhlak dan tindakan. Dalam sebuah hadits shahih dari ibnu Abbas Radhiallaahu anhu dia berkata:
'Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan
wanita yang berpenampilan seperti laki-laki (HR. Al-Bukhari).
Laknat artinya terusir dan dijauhkan dari rahmat Allah Hadits lain yang juga diterima dan Ibnu
Abbas ra dia berkata: 'Nabi Shallallaahu alaihi wa Sallam telah melaknat kaum laki-laki yang
berpenampilan seperti wanita dan wanita yang berpenampilan laki-laki,' (HR. Al-Bukhari) wanita
yang berpenampilan seperti laki-laki artinya yang meniru-niru laki-laki dalam berpakaian dan
penampilan. Adapun meniru dalam hal ilmu dan pemikiran maka hal itu terpuji.
Dari Salim Bin Abdullah dari bapaknya, dia berkata: 'Telah bersabda Rasulullah Shallallaahu
alaihi wa Sallam : 'Ada tiga golongan manusia yang tidak akan dipandang oleh Allah Azza
Wajalla pada hari kiamat: Orang yang durhaka kepada orang tua, wanita yang menyerupai lakilaki, dan Dayuts (orang yang tidak punya rasa cemburu Pent.)' (HR. An-Nasai)
Beberapa bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki

Banyak sekali bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki. Masalah ini tidaklah terbatas hanya
dalam hal pakaian saja tetapi mencakup lebih dari itu, diantara bentuk (penyerupaan) terhadap
laki-laki yang sering dilakukan oleh para wanita adalah:

Menyerupai laki-laki dalam hal berpakaian berupa memakai pakaian yang persis
menyerupai pakaian laki-laki dan memakai celana panjang yang pada asalnya merupakan
pakaian laki-laki dari Abu Hurairah Radhiallaahu anhu bahwa Rasul Shallallaahu alaihi
wa Sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai
pakaian laki-laki pernah ditanyakan kepada Aisyah Radhiallaahu anha bahwa ada seorang
wanita yang memakai sandal (model laki-laki-pent), maka berkatalah Aisyah: 'Rasul
Shallallaahu alaihi wa Sallam melaknat wanita yang meniru-niru laki-laki.' (HR. Abu
Dawud).

Tidak berpegang teguh terhadap Hijab (pakaian wanita muslimah) yang disyariatkan.
Imam Adz-Dzahabi berkata: 'Diantara perbuatan yang menyebabkan terlaknatnya wanita
adalah menampakkan perhiasan, emas dan berlian di balik cadar (hijab) dan memakai
wangi-wangian ketika keluar atau memakai pakaian yang mencolok (norak) ... Semua itu
termasuk tabarruj yang dimurkai Allah dan dimurkai pula orang yang melakukannya di
dunia dan akhirat.

Banyak keluar rumah tanpa ada keperluan baik bersama sopir pribadi, naik kendaraan
umum atau menyetir sendiri seperti yang banyak terjadi dibeberapa negara atau berjalan
kaki sekalipun jaraknya jauh.

Berdesak-desakan dengan laki-laki dan bercampur baur dengan mereka di pasar-pasar


dan di tempat-tempat umum, bahkan sebagian mereka tidak merasa malu untuk
mengantri di barisan laki-laki ketika menunggu, masuk dan duduk diantara laki-laki
khususnya di lapangan bisnis.

Meninggikan suara dalam berbicara dengan laki-laki dengan suara yang keras sehingga
terdengar dari kejauhan. Padahal tabiat seorang wanita biasanya berbicara rendah dan
menghindari berbicara dengan laki-laki asing.

Meniru kebiasaan laki-laki dalam hal berjalan dan beraktifitas, berupa berjalan di pasarpasar atau jalanan seperti berjalannya laki-laki dengan gagah menyerupai gerakan lakilaki yang menampakkan kegagahan dan kejantanan.

Kasar dalam bermuamalah dan berakhlak dengan keluarga dan kerabatnya, tidak lembut,
galak, keras kepala dan tidak menghargai orang lain, sifat-sifat ini tercela bagi laki-laki
maka bagaimana bagi wanita?

Tidak memakai perhiasan yang khusus bagi wanita seperti pacar, celak mata, dan yang
lainnya sehingga menjadi seperti laki-laki dalam bentuk dan penampilan. Aisyah
Radhiallaahu anhu berkata: Ada seorang wanita menyodorkan sebuah buku dengan
tangannya dari balik hijab kepada Rasulullah Shallallaahu alaihi wa Sallam, beliaupun

mengambilnya lalu berkata: 'Aku tidak tahu apakah ini tangan laki-laki ataukah tangah
wanita?' Aisyah menjawab: 'Ta-ngan wanita.' Beliau berkata lagi: 'Kalau engkau wanita
maka engkau harus merubah kuku-kukumu,' maksudnya dengan pacar.' (HR. Abu
Dawud)

Menyerupai laki-laki dalam berpenampilan berupa memotong rambut seperti potongan


rambut laki-laki, memanjangkan kuku, posisi ketika berdiri atau duduk dan sebagainya.

Melepaskan diri dari pengawasan suami atau wali. Dia tidak mau menerima kalau dirinya
berada di bawah pengaturan suami atau wali dia menginginkan kebebasan bertindak
secara mutlak tanpa izin atau pengawasan laki-laki yang memang bertanggung jawab atas
dirinya.

Bepergian tanpa mahram dengan berbagai alat transportasi dan yang paling masyur
adalah pesawat terbang. Dia sendirilah yang membeli tiket, pergi ke bandara, dan
bepergian tanpa mahram yang menyertainya dan melindunginya dari orang-orang fasik.
Perbuatannya itu telah menyimpang dari diennya (agamanya) dan tabiatnya. Rasul
Shallallaahu alaihi wa Sallam telah bersabda:'Janganlah seorang wanita bepergian (safar)
kecuali dengan mahramnya.' (muttafaq 'alaih)

Sedikitnya rasa malu, seorang wanita tomboy telah tercabut rasa malu dari kepribadian
dan akhlaknya, ia tak ubahnya seperti pohon bugil tak berkulit. Berbicara tentang segala
hal, ngobrol dengan setiap orang pergi ke berbagai tempat tanpa rasa malu dan akhlak,
sebagai mana sabda Rasul Shallallaahu alaihi wa Sallam dalam sebuah hadits yang
shahih: 'Sesungguhnya diantara hal yang telah diketahui manusia dari ucapan para nabi
yang dulu adalah: Kalau kamu tidak merasa malu maka bertindaklah semaumu.'

Inilah beberapa bentuk penyerupaan wanita terhadap laki-laki yang keburukannya begitu nyata
dikalangan para wanita, dan hal ini amat patut disesalkan. Dari penjelasan di atas bisa kita tarik
kesimpulan yang menyeluruh tentang definisi wanita tomboy yaitu: wanita yang menyerupai
laki-laki dalam hal berpakaian, penampilan, berjalan, berbicara, meninggikan suara, beraktifitas
dan bercampur baur. Atau secara ringkasnya bahwa seorang wanita dikatakan tomboy kalau dia
meniru seperti laki-laki (padahal yang ia tiru adalah merupakan ciri laki-laki yang bertentangan
dengan kodrat kewanitaannya-pent).
Beberapa sebab seorang wanita menjadi tomboy
Ada beberapa penyebab yang mendorong seorang wanita menjadi tomboy yang secara umum
diantaranya adalah sebagai berikut:

Kurangnya iman dan sedikitnya rasa takut kepada Allah, karena terjerumusnya seseorang
kepada maksiat baik dosa kecil ataupun dosa besar merupakan akibat dari kurangnya
iman dan lemahnya perasaan merasa diawasi oleh Allah Azza wa Jalla.

Pendidikan yang jelek, peribahasa mengatakan bahwa seseorang adalah anak bagi
lingkungannya. Bila lingkungan tempat dia hidup merupakan lingkungan yang shaleh,

maka diapun akan shaleh, kalau lingkungannya jelek maka diapun akan seperti itu.
Seorang anak wanita yang hidup dirumah yang semrawut yang kosong dari pendidikan
yang baik pada umumnya akan menyeret dia kepada berbagai penyimpangan.

Pengaruh media masa dengan berbagai bentuk dan jenisnya, baik tontonan, yang di
dengar, ataupun bacaan. Di dalamnya berkembang dan tersebar pemikiran-pemikiran
sesat dan penyimpangan yang akan menyesatkan para wanita dan mendorong mereka
untuk melanggar norma agama dan prinsip-prinsip kebenaran.

Taklid buta, dia berpakaian dan berprilaku tanpa memahami dan mengetahui apa yang dia
lakukan, juga tidak memikirkan manfaat dan madharaat-nya. Dia hanya sekedar ikutikutan kepada apa yang ada di sekitar dirinya, dari kawan-kawannnya dan dari para
seniwati (artis atau bintang), sekalipun hal itu bertendengan tabiat kewanitaannya.

Kawan bergaul yang jelek, di antara hal yang tidak diragukan lagi adalah kawan bergaul
yang mempunyai pengaruh besar dalam pribadi seseorang baik positif ataupun negatif.
Sebagaimana sabda nabi Muhammad Shallallaahu alaihi wa Sallam : 'Perumpamaan
kawan bergaul yang saleh dengan kawan bergaul yang jelek seperti orang yang menjual
minyak wangi dengan peniup pande besi (kiir). Panjual minyak wangi mungkin dia akan
memberikan kepadamu atau kamu membeli darinya, atau kamu bisa mencium harumnya.
Adapun peniup pande besi mungkin dia bisa membakar pakaianmu atau kamu mencium
bau busuk darinya.' (Muttafaq 'alaih).

Kurang percaya diri dan upaya menarik perhatian, sebagian wanita ada yang merasa
kurang percaya diri dan berupaya menutup kekurangan itu dengan cara yang justeru
menyeret mereka kepada keburukan yaitu menyerupai laki-laki dalam berperilaku,
penampailan, pakaian dan sebagainya.

Contoh yang buruk, contoh (figur) merupakan unsur pendidikan yang terpenting.
Kadang-kadang seorang ibu berprilaku menyerupai laki-laki lalu di contoh oleh anak
perempuannya. Umumnya para anak wanita memiliki kepribadian karena mencontoh ibuibu mereka. Maka seorang ibu yang tidak menghargai dan tidak menghormati ayah, pada
umumnya anak wanitanya pun bertabiat seperti itu yaitu tidak menghargai suami mereka.
Dan seorang ibu yang kasar nada bicaranya dan selalu keras dalam bersuara maka anak
wanita-nya pun akan mewarisi sifat ini pula.

Tidak adanya rasa cemburu dari suami atau walinya, sehingga tidak mencegah dia dari
penyimpangan dalam masalah hijab dan pakaian dan tidak melarangnya dari perilaku
yang tidak layak.

Demikian diantara sebab-sebab terpenting yang dapat menjerumuskan wanita ke dalam sikap
meniru kaum laki-laki. Semoga Allah menjaga kita dari segala perbuatan yang menyelisihi
syari'atNya serta membimbing kita semua agar tetap diatas fitrah yang diridhaiNya.

Larangan laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai


laki-laki..!!
oleh Kesadaran Amar ma'ruf Nahi mungkar pada 15 Mei 2010 pukul 7:33

Laki-laki yang sengaja menyerupai wanita dalam berpakaian, berdandan, bertingkah laku,
berbicara, bergaya dan sebagainya adalah haram. Demikian pula wanita yang menyerupai lakilaki, berdasarkan hadits-hadits sebagai berikut :
:
-
Dari Ibnu Abbas RA, ia berkata, Rasulullah Shollallohu 'Alaihi Wasallam melanat orang lakilaki
yang menyerupai wanita dan para wanita yang menyerupai laki-laki. [HR. Bukhari]

Dan dalam hadits lain disebutkan..


Dari Abu Hurairah Rodhiyallohu 'Anhu dia berkata, "Rasulullah SHollallohu 'Alaihi Wasallam
melanat orang laki-laki yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian
lakilaki".
[HR. Abu Dawud juz 4, hal. 60, no. 4098].
Juga dilarang menyambung rambut, sebagaimana disebutkan dalam hadits,
Dari Ibnu Umar RA ia berkata, "Nabi SAW melanat wanita yang menyambung rambut dan
wanita yang minta disambung rambutnya, (dan melanat) wanita yang mencacah (mentatto) dan
wanita yang minta dicacah (ditatto)". [HR. Bukhari juz 7, hal. 63].
dalam hadits lain disebutkan..
Dari Asma'Rodhiyallohu 'Anha, ia berkata : Ada seorang wanita bertanya kepada Nabi
Shollallohu 'Alaihi Wasallam .Ia berkata, "Ya Rasulullah, sesungguhnya anak perempuan saya
terkena sakit panas sehingga rambutnya rontok, dan saya telah menikahkannya. Apakah boleh

saya sambung rambutnya..? Maka Rasulullah Sshollallohu 'Alaihi Wasallam bersabda: "Allah
melanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang disambung rambutnya". [HR.
Bukhari juz 7, hal. 63]

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, "Telah dilanat wanita yang menyambung rambut dan wanita yang
minta disambung rambutnya, wanita yang mencabut bulu dahi (atau ngerik alis) dan wanita yang
dicabut bulu dahinya atau ( dikerik alisnya) dan wanita yang mencacah (mentatto) dan wanita
yang minta dicacah (ditatto) bukan karena sakit". [HR. Abu Dawud juz 4, hal. 78, no. 4170].

Biarkan saya tetap masuk

Lupa kata sandi Anda?

MendaftarFacebook membantu Anda terhubung dan berbagi dengan orang-orang


dalam kehidupan Anda.

Catatan Sejarah dan Peradaban Islam

Dapatkan Catatan melalui RSS

LAKI-LAKI MENYERUPAI WANITA DAN WANITA MENYERUPAI


LAKI-LAKI
oleh Sejarah dan Peradaban Islam pada 15 Juni 2010 pukul 3:43

Hukum Berpenampilan dan Berperilaku seperti Lawan Jenis


Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan wanita
yang menyerupai laki-laki. (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)
Ath-Thabari rahimahullah memaknai sabda Nabi Shallallahu alaihi wa sallam di atas dengan
ucapan: Tidak boleh laki-laki menyerupai wanita dalam hal pakaian dan perhiasan yang khusus
bagi wanita. Dan tidak boleh pula sebaliknya (wanita menyerupai laki-laki). Al-Hafidz Ibnu
Hajar rahimahullah menambahkan: Demikian pula meniru cara bicara dan berjalan. Adapun
dalam penampilan/ bentuk pakaian maka ini berbeda-beda dengan adanya perbedaan adat
kebiasaan pada setiap negeri. Karena terkadang suatu kaum tidak membedakan model pakaian
laki-laki dengan model pakaian wanita (sama saja), akan tetapi untuk wanita ditambah dengan
hijab. Pencelaan terhadap laki-laki atau wanita yang menyerupai lawan jenisnya dalam berbicara
dan berjalan ini, khusus bagi yang sengaja. Sementara bila hal itu merupakan asal penciptaannya
maka ia diperintahkan untuk memaksa dirinya agar meninggalkan hal tersebut secara berangsurangsur. Bila hal ini tidak ia lakukan bahkan ia terus tasyabbuh dengan lawan jenis, maka ia
masuk dalam celaan, terlebih lagi bila tampak pada dirinya perkara yang menunjukkan ia ridla
dengan keadaannya yang demikian. Al-Hafidz rahimahullah mengomentari pendapat Al-Imam
An-Nawawi rahimahullah yang menyatakan mukhannats yang memang tabiat/ asal
penciptaannya demikian, maka celaan tidak ditujukan terhadapnya, maka kata Al-Hafidz
rahimahullah, hal ini ditujukan kepada mukhannats yang tidak mampu lagi meninggalkan sikap
kewanita-wanitaannya dalam berjalan dan berbicara setelah ia berusaha menyembuhkan
kelainannya tersebut dan berupaya meninggalkannya. Namun bila memungkinkan baginya untuk
meninggalkan sifat tersebut walaupun secara berangsur-angsur, tapi ia memang enggan untuk
meninggalkannya tanpa ada udzur, maka ia terkena celaan. (Fathul Bari, 10/345)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullah memang menyatakan: Ulama berkata, mukhannats itu ada
dua macam.
Pertama: hal itu memang sifat asal/ pembawaannya bukan ia bersengaja lagi memberat-beratkan
dirinya untuk bertabiat dengan tabiat wanita, bersengaja memakai pakaian wanita, berbicara
seperti wanita serta melakukan gerak-gerik wanita. Namun hal itu merupakan pembawaannya
yang Allah Subhanahu wa Taala memang menciptakannya seperti itu. Mukhannats yang seperti
ini tidaklah dicela dan dicerca bahkan tidak ada dosa serta hukuman baginya karena ia diberi
udzur disebabkan hal itu bukan kesengajaannya. Karena itulah Nabi Shallallahu alaihi wa

sallam pada awalnya tidak mengingkari masuknya mukhannats menemui para wanita dan tidak
pula mengingkari sifatnya yang memang asal penciptaan/ pembawaannya demikian. Yang beliau
ingkari setelah itu hanyalah karena mukhannats ini ternyata mengetahui sifat-sifat wanita
(gambaran lekuk-lekuk tubuh wanita) dan beliau tidak mengingkari sifat pembawaannya serta
keberadaannya sebagai mukhannats.
Kedua: mukhannats yang sifat kewanita-wanitaannya bukan asal penciptaannya bahkan ia
menjadikan dirinya seperti wanita, mengikuti gerak-gerik dan penampilan wanita seperti
berbicara seperti mereka dan berpakaian dengan pakaian mereka. Mukhannats seperti inilah yang
tercela di mana disebutkan laknat terhadap mereka di dalam hadits-hadits yang shahih.
Adapun mukhannats jenis pertama tidaklah terlaknat karena seandainya ia terlaknat niscaya
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam tidak membiarkannya pada kali yang pertama, wallahu
alam. (Syarah Shahih Muslim, 14/164)
Namun seperti yang dikatakan Al-Hafidz rahimahullah, mukhannats jenis pertama tidaklah
masuk dalam celaan dan laknat, apabila ia telah berusaha meninggalkan sifat kewanitawanitaannya dan tidak menyengaja untuk terus membiarkan sifat itu ada pada dirinya.
Dalam Sunan Abu Dawud dibawakan hadits dari Abu Hurairah radhiallahu anhu, ia berkata:
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang memakai pakaian wanita dan
wanita yang memakai pakaian laki-laki. (HR. Abu Dawud no. 3575. Asy-Syaikh Muqbil
rahimahullah berkata: Hadits ini hasan dengan syarat Muslim).
Asy-Syaikh Muqbil rahimahullah dalam kitab Al-Jamiush Shahih (3/92) menempatkan hadits
ini dalam kitab An-Nikah wath Thalaq, bab Tahrimu Tasyabbuhin Nisa bir Rijal (Haramnya
Wanita Menyerupai Laki-Laki), dan beliau membawakannya kembali dalam kitab Al-Libas, bab
Tahrimu Tasyabbuhir Rijal bin Nisa wa Tasyabbuhin Nisa bir Rijal (Haramnya Laki-Laki
Menyerupai Wanita dan Wanita Menyerupai Laki-Laki) (4/314).
Dalam masalah laki-laki menyerupai wanita ini, Al-Imam An-Nawawi rahimahullah
mengatakan: Allah Subhanahu wa Taala menciptakan laki-laki dan perempuan di mana
masing-masingnya Dia berikan keistimewaan. Laki-laki berbeda dengan wanita dalam
penciptaan, watak, kekuatan, agama dan selainnya. Wanita demikian pula berbeda dengan lakilaki. Siapa yang berusaha menjadikan laki-laki seperti wanita atau wanita seperti laki-laki, berarti
ia telah menentang Allah dalam qudrah dan syariat-Nya, karena Allah Subhanahu wa Taala
memiliki hikmah dalam apa yang diciptakan dan disyariatkan-Nya. Karena inilah terdapat nashnash yang berisi ancaman keras berupa laknat, yang berarti diusir dan dijauhkan dari rahmat
Allah, bagi laki-laki yang menyerupai (tasyabbuh) dengan wanita atau wanita yang tasyabbuh
dengan laki-laki. Maka siapa di antara laki-laki yang tasyabbuh dengan wanita, berarti ia
terlaknat melalui lisan Nabi Shallallahu alaihi wa sallam. Demikian pula sebaliknya. (Syarah

Riyadhish Shalihin, 4/288)


Dan hikmah dilaknatnya laki-laki yang tasyabbuh dengan wanita dan sebaliknya, wanita
tasyabbuh dengan laki-laki, adalah karena mereka keluar/menyimpang dari sifat yang telah Allah
Subhanahu wa Taala tetapkan untuk mereka. (Fathul Bari, 10/345-346)
Asy-Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah berkata: Apabila seorang laki-laki tasyabbuh dengan
wanita dalam berpakaian, terlebih lagi bila pakaian itu diharamkan seperti sutera dan emas, atau
ia tasyabbuh dengan wanita dalam berbicara sehingga ia berbicara bukan dengan gaya/ cara
seorang lelaki (bahkan) seakan-akan yang berbicara adalah seorang wanita, atau ia tasyabbuh
dengan wanita dalam cara berjalannya atau perkara lainnya yang merupakan kekhususan wanita,
maka laki-laki seperti ini terlaknat melalui lisan makhluk termulia (Rasulullah shallallahu alaihi
wa sallam, pen.). Dan kita pun melaknat orang yang dilaknat oleh Rasulullah Shallallahu alaihi
wa sallam. (Syarah Riyadhish Shalihin, 4/288)
Perbuatan menyerupai lawan jenis secara sengaja haram hukumnya dengan kesepakatan yang
ada (Fathul Bari, 9/406) dan termasuk dosa besar, karena Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah
rahimahullahu dan selainnya mengatakan: Dosa besar adalah semua perbuatan maksiat yang
ditetapkan hukum had-nya di dunia atau diberikan ancaman di akhirat. Syaikhul Islam
menambahkan: Atau disebutkan ancaman berupa ditiadakannya keimanan (bagi pelakunya),
laknat9, atau semisalnya. (Mukhtashar Kitab Al-Kabair, Al-Imam Adz-Dzahabi, hal. 7)
Al-Imam Adz-Dzahabi rahimahullahu memasukkan perbuatan ini sebagai salah satu perbuatan
dosa besar dalam kitab beliau yang masyhur Al-Kabair, hal. 145.
Adapun sanksi/hukuman yang diberikan kepada pelaku perbuatan ini adalah sebagaimana
disebutkan dalam hadits berikut:
Nabi Shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita (mukhannats)
dan wanita yang menyerupai laki-laki (mutarajjilah10). Dan beliau Shallallahu alaihi wa sallam
bersabda: Keluarkan mereka (usir) dari rumah-rumah kalian. Ibnu Abbas berkata: Maka Nabi
Shallallahu alaihi wa sallam pun mengeluarkan Fulan (seorang mukhannats) dan Umar
mengeluarkan Fulanah (seorang mutarajjilah). (HR. Al-Bukhari no. 5886)
Hadits ini menunjukkan disyariatkannya mengusir setiap orang yang akan menimbulkan
gangguan terhadap manusia dari tempatnya sampai dia mau kembali dengan meninggalkan
perbuatan tersebut atau mau bertaubat. (Fathul Bari, 10/347)
Mereka harus diusir dari rumah-rumah dan daerah kalian, kata Al-Qari. (Aunul Mabud, 13/189)
Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu menyatakan: Ulama berkata: Dikeluarkan dan diusirnya

mukhannats ada tiga makna:


Salah satunya, sebagaimana tersebut dalam hadits yaitu mukhannats ini disangka termasuk lakilaki yang tidak punya syahwat terhadap wanita tapi ternyata ia punya syahwat namun
menyembunyikannya.
Kedua: ia menggambarkan wanita, keindahan-keindahan mereka dan aurat mereka di hadapan
laki-laki sementara Nabi Shallallahu alaihi wa sallam telah melarang seorang wanita
menggambarkan keindahan wanita lain di hadapan suaminya, lalu bagaimana bila hal itu
dilakukan seorang lelaki di hadapan lelaki?
Ketiga: tampak bagi Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam dari mukhannats ini bahwa dia
mencermati (memperhatikan dengan seksama) tubuh dan aurat wanita dengan apa yang tidak
dicermati oleh kebanyakan wanita. Terlebih lagi disebutkan dalam hadits selain riwayat Muslim
bahwa si mukhannats ini mensifatkan/ menggambarkan wanita dengan detail sampai-sampai ia
menggambarkan kemaluan wanita dan sekitarnya, wallahu alam. (Syarah Shahih Muslim,
14/164)
Bila penyerupaan tersebut belum sampai pada tingkatan perbuatan keji yang besar seperti si
mukhannats berbuat mesum (liwath/homoseks) dengan sesama lelaki sehingga lelaki itu
mendatanginya pada duburnya atau si mutarajjilah berbuat mesum (lesbi) dengan sesama
wanita sehingga keduanya saling menggosokkan kemaluannya, maka mereka hanya
mendapatkan laknat dan diusir seperti yang tersebut dalam hadits di atas. Namun bila sampai
pada tingkatan demikian, mereka tidak hanya pantas mendapatkan laknat tapi juga hukuman
yang setimpal11. Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkan untuk mengeluarkan
mukhannats dari rumah-rumah kaum muslimin agar perbuatan tasyabbuhnya (dengan wanita) itu
tidak mengantarkannya untuk melakukan perbuatan yang mungkar tersebut (melakukan
homoseks)12. Demikian dikatakan Ibnu At-Tin rahimahullahu seperti dinukil Al-Hafidz Ibnu
Hajar Al-Asqalani rahimahullahu (Fathul Bari, 10/345).

Kesimpulan: hukum mukhannats memandang wanita ajnabiyyah (non mahram)


Dalam hal ini, fuqaha terbagi dua pendapat:
Pertama: mukhannats dihukumi sama dengan laki-laki jantan yang berselera terhadap wanita.
Demikian pendapat madzhab Al-Hanafiyyah terhadap mukhannats yang bersengaja tasyabbuh
dengan wanita padahal memungkinkan bagi dirinya untuk merubah sifat kewanita-wanitaannya
tersebut. Sebagian Al-Hanafiyyah juga memasukkan mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita
karena asal penciptaannya walaupun ia tidak berselera dengan wanita, demikian pula pendapat
Asy-Syafiiyyah. Adapun madzhab Al-Hanabilah berpandangan bahwa mukhannats yang

memiliki syahwat terhadap wanita dan mengetahui perkara wanita maka hukumnya sama dengan
laki-laki jantan (tidak kewanita-wanitaan) bila memandang wanita.
Dalil yang dipegangi oleh pendapat pertama ini adalah firman Allah Subhanahu wa Taala:
Katakanlah kepada kaum mukminin, hendaklah mereka menundukkan pandangan mata
mereka. (An-Nur: 30)
Adapun dalil yang mereka pegangi dari As Sunnah adalah hadits Ummu Salamah dan hadits
Aisyah radhiallahu anhuma tentang mukhannats yang menggambarkan tubuh seorang wanita di
hadapan laki-laki sehingga Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melarang mukhannats ini
masuk menemui istri-istri beliau Shallallahu alaihi wa sallam.
Kedua: mereka berpandangan bahwa mukhannats yang tasyabbuh dengan wanita karena
memang asal penciptaannya demikian (tidak bersengaja tasyabbuh dengan wanita) dan ia tidak
berselera/ bersyahwat dengan wanita, bila ia memandang wanita ajnabiyyah maka hukumnya
sama dengan hukum seorang lelaki bila memandang mahram-mahramnya. Sebagian AlHanafiyyah berpendapat boleh membiarkan mukhannats yang demikian bersama para wanita.
Namun si wanita hanya boleh menampakkan tubuhnya sebatas yang dibolehkan baginya untuk
menampakkannya di hadapan mahram-mahramnya dan si mukhannats sendiri boleh memandang
wanita sebatas yang diperkenankan bagi seorang lelaki untuk memandang wanita yang
merupakan mahramnya. Demikian yang terkandung dari pendapat Al-Imam Malik rahimahullahu
dan pendapat Al-Hanabilah.
Dalil mereka adalah firman Allah Subhanahu wa Taala:
atau laki-laki yang mengikuti kalian yang tidak punya syahwat terhadap wanita.
Di antara ulama salaf ada yang mengatakan bahwa yang dimaksud dengan:
(yang tidak punya syahwat terhadap wanita) adalah mukhannats yang tidak berdiri kemaluannya.

Dari As Sunnah, mereka berdalil dengan hadits Aisyah radhiallahu anha (yang juga menjadi
dalil pendapat pertama). Dalam hadits Aisyah ini diketahui bahwa Nabi Shallallahu alaihi wa
sallam pada awalnya membolehkan mukhannats masuk menemui istri-istri beliau karena
menyangka ia termasuk laki-laki yang tidak bersyahwat terhadap wanita. Namun ketika beliau
mendengar mukhannats ini tahu keadaan wanita dan sifat mereka, beliau pun melarangnya
masuk menemui istri-istri beliau karena ternyata ia termasuk laki-laki yang berselera dengan
wanita.

Inilah pendapat yang rajih, insya Allah Subhanahu wa Taala.


Adapun bila si mukhannats punya syahwat terhadap wanita, maka hukumnya sama dengan lakilaki jantan yang memandang wanita ajnabiyyah. (Fiqhun Nazhar, hal. 172-176)
Wallahu taala alam bish-shawab.
1 Seperti pendapat Mujahid rahimahullahu (Tafsir Ibnu Katsir, 5/402)
2 Kata Ikrimah rahimahullahu: Dia adalah mukhannats yang tidak bisa berdiri dzakarnya.
(Tafsir Ibnu Katsir, 5/402). Ibnu Abbas radhiallahu anhuma mengatakan: Dia adalah laki-laki
yang tidak memiliki syahwat terhadap wanita.
3 Yakni dengan empat lekukan pada perutnya.
4 Ujung lekukan itu sampai ke pinggangnya, pada masing-masing sisi (pinggang) empat
sehingga dari belakang terlihat seperti delapan. Al-Khaththabi rahimahullahu menjelaskan:
Mukhannats ini hendak mensifatkan putri Ghailan itu besar badannya, di mana pada perutnya
ada empat lipatan dan yang demikian itu tidaklah didapatkan kecuali pada wanita-wanita yang
gemuk. Secara umum, laki-laki biasanya senang dengan wanita yang demikian sifatnya. (Fathul
Bari, 9/405)
5 Thaif adalah negeri besar terletak di sebelah timur Makkah sejarak 2-3 hari perjalanan. Negeri
ini terkenal memiliki banyak pohon anggur dan kurma (Fathul Bari, 8/54-55). Ketika itu
Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam telah mengepung Thaif.
6 Ghailan bin Salamah Ats-Tsaqafi salah seorang tokoh/ pemimpin Bani Tsaqif, yang mendiami
Thaif. Pada akhirnya ia masuk Islam dan ketika itu ia memiliki 10 istri, maka Rasulullah
Shallallahu alaihi wa sallam memerintahkannya untuk memilih 4 di antaranya dan menceraikan
yang lainnya. (Fathul Bari, 9/405)
7 Hadits-hadits seperti ini diberi judul oleh Al-Imam An-Nawawi rahimahullahu, dalam
syarahnya terhadap Shahih Muslim, bab Larangan bagi mukhannats untuk masuk menemui
wanita-wanita ajnabiyyah (bukan mahramnya dengan tanpa hijab, pen.)
8 Tidak termasuk laki-laki yang disebutkan dalam ayat:
Atau laki-laki yang mengikuti kalian yang tidak punya syahwat terhadap wanita.
9 Dan dalam hal ini terdapat hadits yang berisi laknat bagi laki-laki yang menyerupai wanita dan
sebaliknya, wanita menyerupai laki-laki.

10 Al-Mutarajjilah yaitu wanita yang menyerupai laki-laki dalam hal pakaian, penampilan, cara
berjalan, mengangkat suara (cara bicara), dan semisalnya. Bukan penyerupaan dalam pendapat/
pikiran/ pertimbangan, dan ilmu. Karena menyerupai laki-laki dalam masalah ini adalah terpuji,
sebagaimana diriwayatkan bahwa pendapat/ pikiran/ pertimbangan Aisyah radhiallahu anha
seperti laki-laki. (Aunul Mabud, 13/189)
11 Asy-Syaikh Muqbil rahimahullahu berkata: Ulama berselisih pendapat tentang hukuman
bagi orang yang berbuat liwath. Yang paling shahih dari pendapat yang ada, hukumannya
dibunuh, baik subyeknya (fail) maupun obyeknya (maful) bila keduanya telah baligh.
(Ijabatus Sail, hal. 362)
12 Para mukhannats yang ada di masa Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam mereka tidaklah
tertuduh melakukan perbuatan keji yang besar, hanya saja kewanita-wanitaan mereka tampak
dari ucapan mereka yang lunak/ lembut mendayu, mereka memacari tangan dan kaki mereka
seperti halnya wanita, dan berkelakar seperti kelakarnya wanita. (Aunul Mabud, 13/189)

Larangan Terhadap Wanita yang


Menyerupai Laki-Laki dan Laki-Laki yang
Menyerupai Wanita
Jumat, 13 Maret 2009 21:58 Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. melaknat para laki-laki yang
menyerupai kaum wanita dan wanita yang menyerupai kaum laki-laki," (HR Bukhari [5885]).
Masih diriwayatkan dari Ibnu Abbas r.a, ia berkata, "Nabi saw. telah melaknat para banci dan
wanita-wanita tomboi, lalu beliau bersabda, "Usir mereka dari rumah kalian'!"
Ibnu Abbas berkata, "Maka Nabi saw. mengeluarkan si fulan dan Umar mengeluarkan si
fulanah," (HR Bukhari [5886]).
Diriwayatkan dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. telah melaknat laki-laki yang
memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki-laki," (Shahih, HR Abu Dawud
[4098]).
Diriwayatkan dari Abdullah bin Umar r.a, ia berkata, "Rasulullah saw. bersabda, 'Ada tiga orang
yang tidak akan masuk surga dan tidak akan dilihat Allah di hari kiamat kelak: Seorang yang

duhaka kepada orang tuanya, wanita yang menyerupai laki-laki, serta laki-laki dayyuts (tidak
memiliki sifat cemburu)'," (Shahih, HR Ahmad [III/134]).
Diriwayatkan dari Ibnu Abi Mulaikah, dikatakan kepada Aisyah r.a, "Ada wanita yang memakai
sepatu laki-laki." Lantas ia berkata, "Rasulullah saw. melaknat wanita yang menyerupai lakilaki," (Shahih lighairihi, HR Abu Dawud [4099]).
Termasuk dalam bab ini hadits Abdullah bin Amr dan Ammar bin Yasir.
Kandungan Bab:
1. Haram hukumnya laki-laki menyerupai kaum wanita dan wanita menyerupai kaum lakilaki, baik dalam pakaian, ucapan dan lain-lain yang merupakan sifat khusus bagi masingmasing jenis.
2. Boleh melaknat laki-laki yang menyerupai wanita, para banci dan wanita-wanita tomboi.
3. Laki-laki wadam dan wanita tomboy bertentangan dengan sifat yang telah diciptakan
Allah atas mereka dan usaha merubah ciptaan tersebut hukumnya haram.
Adz-Dzahabi mencantumkannya dalam ktiab al-Kabaair (dosa-dosa besar), Ibnu Hajar
al-Haitsami mencantumkannya dalam kitab az-Zawaajir (perkara-perkara tercela) sebagai
dosa-dosa besar. Apa yang mereka katakan adalah benar sebagaimana yang dimaksud
dalam hadits bab ini.
Sumber: Diadaptasi dari Syaikh Salim bin 'Ied al-Hilali, Al-Manaahisy Syar'iyyah fii Shahiihis
Sunnah an-Nabawiyyah, atau Ensiklopedi Larangan menurut Al-Qur'an dan As-Sunnah, terj.
Abu Ihsan al-Atsari (Pustaka Imam Syafi'i, 2006), hlm. 3/221-223.

Kaum Pria Yang Menyerupai Kaum Wanita dan Sebaliknya (Studi


memahami hadits Nabi saw)
Diposkan oleh EL-FATH_NAE di 17:41
I. PENDAHULUAN
Belakangan ini, telah terjadi kerancuan timbangan antara pria dan wanita. Kaum
pria menyerupai wanita, dan sebaliknya, kaum wanita menyerupai kaum pria.
Banyak kita dapati di sekitar kita kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan juga
sebaliknya kaum wanita yang menyerupai kaum pria. Contohnya kaum pria
memakai pakaian wanita, kaum wanita memakai pakaian kaum pria, kaum pria
yang memakai anting-anting, bahkan kaum pria yang mengikuti gaya jalan, gaya
bicara dan juga berpenampilan layaknya seorang wanita. Hal ini telah menyalahi
qodrat yang telah diberikan Allah swt kepada kita semua. Di sini kami melakukan

studi memahami hadits Nabi dari segi matan hadits dengan menggunakan berbagai
pendekatan-pendekatan yang ada. Dan juga mengulas syarah hadits tersebut
menurut pendapat para ulama.
II. PEMBAHASAN
A. MATAN HADITS
1) Diriwayatkan oleh Bukhari:
:
: , , , ,

:
.

Artinya:
Muad bin Fadholah menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada
kami, dari Yahya, dari Ikrimata, dari Ibnu Abbas berkata: Nabi saw. melaknat kaum
pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelakilakian dan Beliau berkata: keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun
mengeluarkan si fulan, dan Umar juga mengeluarkan si fulan .
2) Diriwayatkan oleh Abu Dawud:
:
: , , , ,


.

Artinya:
Muslim bin Ibrahim menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada kami,
dari Yahya, dari Ikrimata, dari Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Nabi saw.
melaknat melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita
yang bertingkah kelaki-lakian dan Beliau berkata: Dan keluarkan ,mereka dari
rumah kalian dan keluarkan si fulan, dan si fulan adalah al-mukhannatsin.
3) Diriwayatkan oleh Tirmidzi:
:

: , ,
.

Artinya:
Al-khasan bin Ali al-Khalaal menceritakan kepada kami, Al-Hasan ibn Ali al-Khallal,
dikabarkan pada kami, Abdurrazaq, dikabarkan pada kami, Mamar, dari Yahya ibn
Abi Katsir dan Ayub, dari Ikrimah, dari Ibnu Abbas berkata: Sesungguhnya Nabi
saw. melaknat melaknat kaum pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum
wanita yang bertingkah kelaki-lakian.
B. PENGERTIAN
Al-Mukhannats adalah seorang pria yang menyerupai seorang wanita. AlMutarajjilaat adalah seorang wanita yang menyerupai seorang pria. Menyerupai
disini berarti dengan sengaja (kaum pria atau kaum wanita) meniru dalam segi
pakaian, gaya berjalan, bertingkah laku dan berbicara.
C. ANALISIS TEKS AL-QURAN

Manusia yang lahir dalam keadaan normal jenis kelaminnya sebagai pria dan
wanita. Karena Allah swt telah menciptakan manusia berjenis kelamin pria dan
wanita. Dan tidak ada yang bisa merubah qodrat masing-masing ataupun saling
menyerupai antara keduanya. Allah swt menciptakan pria dan wanita dengan
segala perbedaan serta kekurangan dan kelebihan antara keduanya. Tidak
diperkenankan oleh hukum Islam merubah qodrat Allah swt.
Dalil-dalil syarI yang mengharamkan merubah qadrat yang Allah swt berikan
kepada kita, antara lain sebagai berikut:
1. Al-Quran Surat Al-Hujarat ayat 13:

Artinya: Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki
dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersukusuku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia
di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.
Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.
Ayat ini mengajarkan prinsip Equality before God and Law artinya manusia di
hadapan Allah swt dan hukum itu sama kedudukannya. Dan yang menyebabkan
tinggi rendahnya kedudukan manusia itu bukanlah karena perbedaan jenis kelamin,
ras, bahasa, kekayaan, kedudukan, dan sebagainya, melainkan karena
ketakwaannya kepada Allah swt. Karena itu, jenis kelamin yang normal yang
diberikan kepada seseorang, harus disyukuri dengan jalan menerima qodratnya dan
menjalankan semua kewajibannya sebagai makhluk terhadap khaliknya sesuai
dengan qodratnya tanpa mengubahnya atau menyerupai antara satu dengan yang
lainnya.
2. Al-Quran Surat Al-Nisa ayat 119:

Artinya: dan aku benar-benar akan menyesatkan mereka, dan akan membangkitkan
angan-angan kosong pada mereka dan akan menyuruh mereka (memotong telingatelinga binatang ternak), lalu mereka benar-benar memotongnya, dan akan aku
suruh mereka (merubah ciptaan Allah), lalu benar-benar mereka merobahnya".
Barang siapa yang menjadikan setan menjadi pelindung selain Allah, maka
sesungguhnya ia menderita kerugian yang nyata.
Di dalam kitab-kitab tafsir seperti Tafsir Al-Thabari, Al-Shawi, Al-Khazin, Al-Baidhawi,
Zubdatut Tafsir, dan Shafwatul Bayan disebut beberapa perbuatan manusia yang
diharamkan karena termasuk mengubah ciptaan Allah swt, seperti mengebiri
manusia, homoseksual, lesbian, menyambung rambut dengan sopak, pangur
(memotong giginya), membuat tato, mencukur bulu muka (alis), dan takhannuts,
artinya orang pria berpakaian dan bertingkah laku seperti wanita atau sebaliknya.
3. Al-Quran Surat Al-Mujadilah ayat 22:

Artinya: Kamu tidak akan mendapati sesuatu kaum yang beriman kepada Allah dan
hari akhirat, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan
Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu bapak-bapak, atau anak-anak atau saudarasaudara atau pun keluarga mereka. Mereka itulah orang-orang yang Allah telah
menanamkan keimanan dalam hati mereka dan menguatkan mereka dengan
pertolongan yang datang daripada-Nya. Dan dimasukkan-Nya mereka ke dalam
surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah
rida terhadap mereka dan mereka pun merasa puas terhadap (limpahan rahmat)
Nya. Mereka itulah golongan Allah. Ketahuilah, bahwa sesungguhnya golongan Allah
itulah golongan yang beruntung.
Bahwa tidak ada seorang mumin yang mencintai orang-orang kafir. Barangsiapa
yang mencintai orang-orang kafir, maka ia bukan orang mumin, sedangkan
tindakan menyerupakan diri secara lahiriah merupakan hal yang dicurigai sebagai
wujud kecintaan, oleh karena itu diharamkan.
D. ANALISIS WACANA
1. Asbab wurud al-Hadits
Hadits Nabi riwayat Bukhari dan lima ahli hadits lainnya dari Ibnu Abbas
mengatakan bahwa Nabi melaknat kaum pria yang bertingkah laku kewanitawanitaan dan sebaliknya kaum wanita yang bertingkah laku kelaki-lakian.
: , , , ,

:
.

Artinya:
Muad bin Fadholah menceritakan kepada kami, Hisyam menceritakan kepada
kami, dari Yahya, dari Ikrimata, dari Ibnu Abbas berkata: Nabi saw. melaknat kaum
pria yang bertingkah kewanita-wanitaan dan kaum wanita yang bertingkah kelakilakian dan Beliau berkata: keluarkan mereka dari rumah kalian. Nabi pun
mengeluarkan si fulan, dan Umar juga mengeluarkan si fulan .
Dari hadits di atas, Nabi saw selain melaknat kaum pria yang bertingkah laku
kewanita-wanitaan dan sebaliknya kaum wanita yang bertingkah laku kelaki-lakian,
juga Nabi saw pernah memerintahkan agar mereka diasingkan ke tempat
pembuangan, mengusirnya dari rumah bahkan kampung halamannya demi
memelihara akhlak. Tujuan penekanan disini adalah agar penyakit orang yang
demikian itu tidak menular kepada sanak saudaranya dan juga para tetangganya.
Dan dikisahkan oleh Ibnu Abbas bahwasanya Nabi saw pernah mengusir si fulan,
dan sifulan ini adalah seorang yang Mukhannats , yaitu seorang budak lelaki
bernama Anjasyah, dia adalah pemandu khafilah Nabi saw. Kemudian diikuti oleh
Khalifah Umar yang juga mengusir si fulan yang bernama Maati. Menurut riwayat
yang lain menyebutkan bahwa Khalifah Umar pernah mengusir si fulan dan si fulan,
menurut sebagian ahli hadits mereka adalah bernama Buaits dan Maati.
2. Perspektif Islam
Sesungguhnya diciptakannya pria dan wanita dari kekuasaan Allah swt beserta
qodratnya masing-masing. Dan Allah swt. telah menentukan qodrat sebagai
seorang pria dan qodrat sebagai seorang wanita yang tidak dapat kita rubah

dengan sendirinya. pria dan wanita diciptakan dengan beserta kekurangan dan
kelebihannya yang menjadikan perbedaan antara pria dan wanita. Namun
perbedaan-perbedaan itu tidak dibuat untuk menimbulkan perselisihan, akan tetapi
Allah swt. Mengikat diantara pria dan wanita dengan sebuah ikatan yang suci yaitu
pernikahan. Seperti yang terkandung dalam Surat ar-Room ayat 21:


Artinya: Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu
isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram
kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih sayang. Sesungguhnya pada
yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.
Namun pada zaman modern ini, banyak kita jumpai kerancuan timbangan antara
pria dan wanita. Banyak kita dapati di sekitar kita kaum pria yang menyerupai kaum
wanita dan juga sebaliknya kaum wanita yang menyerupai kaum pria. Contohnya
kaum pria memakai pakaian wanita, kaum wanita memakai pakaian kaum pria,
kaum pria yang memakai anting-anting, bahkan kaum pria yang mengikuti gaya
jalan , gaya bicara dan juga berpenampilan layaknya seorang wanita. Hal ini telah
menyalahi qodrat yang telah diberikan Allah swt kepada kita semua.
Allah swt. telah membagi kewajiban-kewajiban antara kaum pria dan kaum wanita
dengan adil. Kaum pria berkewajiban menjadi seorang khalifah di dunia ini dan juga
membangun dan memeliharanya. Dan juga kaum wanita yang telah diberikan
kewajiban sesuai dengan qodratnya sebagai seorng wanita.
E. ANALISIS BAHASA
Ketiga hadits di atas memiliki makna yang sama, yang masing-masing diriwayatkan
oleh Bukhari, Abu Dawud dan Tirmidzi, akan tetapi dari ketiga hadits di atas
terdapat perbedaan lafadz matan. Salah satu sebab terjadinya perbedaan lafadz
matan adalah karena adanya ziyadah (tambahan) yaitu pada riwayat Bukhari dan
:
riwayat Abu Dawud terdapat ziyadah

dan pada riwayat Abu Dawud terdapat pula ziyadah

sedangkan pada riwayat Tirmidzi tidak terdapat ziyadah tersebut. Adanya
tambahan kata-kata tersebut harus dilihat dari kepentingan upaya mencari
petunjuk tentang dapat atau tidaknya tambahan tersebut dipertanggungjawabkan
keorisinalannya berasal dari Rasulullah saw.
Menurut saya ziyadah ini bersifat penjelasan bahwa Rasulullah saw benar-benar
melaknat al-Mukhannats dengan mengeluarkannya dari rumah mereka dan
Rasulullah saw pernah mengusir si fulan dari rumah mereka yang kemudian diikuti
oleh Umar. Dan pada riwayat Abu Dawud tambahannya bersifat penjelas dari si
fulan, yaitu seorang Mukhannats.
F. SYARAH HADITS
Al-Mukhannats, berasal dari kata Al-Inkhinaats, artinya berlenggang lenggok dan
bergaya seperti wanita. Dikatakan demikian karena pria yang bersangkutan dalam
segala halnya meniru-niru seorang wanita, dalam pakaiannya, atau cara jalannya,
atau dalam cara bicaranya dengan secara disengaja. Adapun mengenai pria yang

berpenampilan demikian secara alami atau menurut pembawaannya, maka tidak


mengapa, tetapi ia harus melatih dirinya untuk meninggalkan kebiasaan yang tak
layak itu.
Al-Mutarajjilah, berasal dari kata Ar-Rajilah, artinya wanita yang meniru-niru
perbuatan pria dalam segala hal.
Nabi saw. pernah mengusir si Fulan, yang dimaksud ialah Anjasyah seorang budak
hitam yang sikapnya meniru-niru wanita. Dan Khalifah Umar r.a. pernah mengusir si
Anu, yang dimaksud ialah Mati atau lainnya. Hal itu dilakukan oleh Nabi saw. dan
Khalifah Umar r.a. agar akhlak orang-orang tidak rusak seperti dia.
Tidak boleh melakukan penyerupaan dan tidak boleh pula meniru-niru rupa orang
lain, karena hal tersebut berarti menyimpang dari apa yang telah diciptakan oleh
Allah swt.
Penyerupaan pria terhadap wanita dalam cara jalan, cara bicara, atau cara
berpakaiannya, dan lain sebagainya yang menjadi cirri khas wanita. Begitu pula
penyerupaan wanita terhadap pria dalam hal yang sama. Perbuatan tersebut
hukumnya haram,berdasarkan hadits ini.
G. Hukum kaum pria yang menyerupai kaum wanita dan sebaliknya
Seperti halnya yang telah di sampaikan Nabi Muhammad saw. didalam Hadits
bahwa barangsiapa yang mengerjakan perbuatan itu, yaitu kaum pria yang
menyerupai kaum wanita dan sebaliknya kaum wanita yang menyerupai kaum pria,
dihalalkan baginya untuk diusir dan dijauhkan dari rahmat Allah swt. sampai ia
benar-benar bertaubat dan kembali kejalan yang benar. Dan dari beberapa haditshadits shahih diatas terkandung petunjuk bahwa perbuatan tersebut hukumnya
haram.
DAFTAR PUSTAKA
Abbas. Hasjim. Kritik Matan Hadits (Versi Muhaddisin dan Fuqaha). Yogyakarta:
Teras. 2004
Ali. Nizar. Memahami Hadits Nabi (Metode dan Pendekatan). Yogyakarta: YPI alRahmah. 2001
Al-Asqalani. Ibnu Hajar. Fath al-Baari bi Sharh Shahih al-Bukhari. Beirut: Darul Fikr.
juz I. 1996
Ali Nashif. Syekh Manshur. At-Taajul Jaami lil Ushuul fi Ahadits Rasul (Mahkota
pokok-pokok hadits). Bandung: Siar baru algensindo. 1994. jilid 3
As-Syarif. Muhammad. Shilahu al-Ummah ala Haday al-Sanah. Al-Azhar: Daru asShohwah li Natsri. t.th
Ismail. M. Syuyudi. Metodologi Penelitian Hadits Nabi. cet. I. Jakarta: Bulan Bintang.
1992
_________________. Hadits Nabi Yang Tekstual dan Kontekstual. Cet. I. Jakarta: PT.
Bintang. 1994
Muhammad. Abi Abdillah Bin Ismail. Shahih al-Bukhari. juz 3. Bairut: Darul Kutub
Alamiyah. 1996
Surah at-Timidzi. Muhammad bin Isa bin. Abu Isa. Sunan at-Turmudzi. juz 4.

Semarang: Toha Putra. t.th


Zuhri. Muhammad. Hadits Nabi Telaah Historis dan Metodologis. Yogyakarta: PT.
Tiara Wacana. 2003
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook

Zaman sekarang memang sudah semakin maju. Makin banyak perempuan seperti laki-laki dan
laku-laki seperti permpuan. Walaupun mereka memiliki kelainan, tetapi sesungguhnya di dalam
Islam, Allah taala melarangnya. Seperti pada kutipan hadits di bawah ini:

Ibnu Abbas radhiallahu anhuma berkata:

Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam melaknat laki-laki yang menyerupai wanita dan
wanita yang menyerupai laki-laki. (HR. Al-Bukhari no. 5885, 6834)

Oleh karena itu, mau bagaimana pun seorang waria yang mengatakan bahwa hatinya mengatakan
bahwa dia seorang perempuan hingga merubah semua bentuk fisiknya menjadi perempuan, tetap
saja dia adalah laki-laki dan berdasarkan hadist di atas, Rasulullah tidak menyukainya dan
melaknat orang tersebut.
Wallahualam..
Semoga kita berada di jalan yang lurus dan selalu dilindungi olahNYA

Sumber:

[45] Pandangan Islam untuk Gay, Waria dan Khuntsa


Tuesday, 11 January 2011 14:55
Khuntsa adalah istilah yang digunakan oleh para fuqaha' untuk menyebut orang yang
mempunyai alat kelamin ganda, yang dalam bahasa Inggris disebut hermaphrodite, bisexual,
androgyne, gynandromorph dan inter-ex (al-Ba'albakki, al-Maurid, bab Khuntsa). Dalam Mu'jam
Lughat al-Fuqaha', karya Prof. Dr. Rawwas Qal'ah Jie, disebutkan bahwa Khuntsa adalah alladzi lahu alat ad-dzakari wa alat al-untsa (orang yang mempunyai kelamin pria dan wanita)
(Qal'ah Jie, Mu'jam Lughat al-Fuqaha', h. 179).
Karena itu, khuntsa ini merupakan qadha' (ketetapan)
yang diberikan oleh Allah yang tidak bisa dipilih oleh
manusia. Kondisi ini berbeda dengan waria.
Umumnya waria adalah kaum pria yang menyerupai
wa-nita, baik dalam hal tutur kata, pakaian, gaya
berjalan hingga penampilan fisik. Di antara mere-ka,
bahkan ada yang telah mela-kukan operasi plastik
untuk men-dapatkan wajah yang mirip dengan
perempuan; buah dada yang besar sebagaimana
lazim-nya perempuan; pinggul yang aduhai hingga
operasi ganti kelamin. Kelamin mereka yang asalnya laki-laki dipotong, kemu-dian diganti
menjadi perem-puan.
Fakta waria seperti ini jelas berbeda dengan khuntsa, karena itu dalam fikih Islam pun mereka
tidak bisa dihukumi sebagai khuntsa. Karena fakta masing-masing jelas berbeda. Jika khun-tsa
ini merupakan bagian dari qadha' yang ditetapkan oleh Allah, maka waria adalah bentuk
penyimpangan perilaku. Pe-nyimpangan perilaku ini bukan hanya berlaku untuk kaum pria yang
menjadi wanita, tetapi juga berlaku sebaliknya, yaitu kaum wanita menjadi pria. Karena itu,
status hukumnya juga berbeda dengan hukum khuntsa.
Demikian juga dalam kasus gay dan lesbi. Mereka sebenar-nya bukan ditakdirkan suka ke-pada
sesama jenis, karena naluri seksual manusia pada dasarnya bukan hanya membutuhkan pemenuhan, tetapi pemenuhan tersebut harus benar dan halal. Bagi laki-laki, pemenuhan yang
benar tentu bukan dengan laki-laki tetapi dengan perempuan. Demikian sebaliknya, perempu-an
juga bukan dengan perem-puan tetapi dengan laki-laki. Itu baru pemenuhan yang benar. Jika
tidak, maka mereka diang-gap melakukan penyimpangan seksual (hall[an] syadz[an]). Tetapi,
pemenuhan kebutuhan seksual laki-laki dengan perem-puan saja tidak cukup, harus dilakukan
dengan cara yang halal, yaitu melalui pernikahan (hall[an] shahih[an]). Bukan dengan perzinaan
(hall[an]
khathi'[an]).
Laknat
bagi
Gay
dan
Waria
Nabi dengan tegas melak-nat para pelaku penyimpangan perilaku dan seksual ini. Ter-hadap

kaum waria, yaitu kaum pria yang menjadi wanita, Nabi dengan tegas menyatakan, Ra-sulullah
melaknat kaum perem-puan yang menyerupai pria, dan kaum pria yang menyerupai wanita.
(HR. Bukhari, Abu Da-wud, at-Tirmidzi, an-Nasa'i dan Ibn Majah dari Ibn 'Abbas). Hadits ini
tidak hanya berlaku untuk waria, tetapi perempuan yang menyerupai laki-laki. Tidak hanya itu,
Nabi pun melaknat kaum pria yang memakai pakaian wanita, dan wanita yang memakai pakaian pria (HR. Ahmad dan Abu Dawud). Tidak hanya melaknat, Nabi pun memerintahkan agar
mereka diusir (HR. Abu Dawud dari Abu Hurairah).
Nas-nas ini, menurut Imam Nawawi, menegaskan tentang keharaman tindakan penyim-pangan
perilaku tersebut (as-Syaukani, Nailu al-Authar, II/107). Adapun tindakan penyimpang-an
seksual, seperti Gay dan lesbi, dengan tegas dilaknat oleh Allah, Allah melaknat siapa saja yang
melakukan tindakan kaumnya Luth, sebanyak tiga kali. (HR Ahmad dari Ibn 'Abbas). Tidak
hanya itu, Nabi juga dengan te-gas memerintahkan agar mem-bunuh pelaku (al-fa'il wa almaf'ul) (HR Ahmad dari Ibn 'Abbas). Kedua nas ini juga de-ngan tegas menunjukkan ha-ramnya
penyimpangan seksual tersebut.
Berbeda dengan khuntsa, karena statusnya sebagai qadha' Allah, maka orangnya pun tidak
dikenai sanksi apapun. Sebalik-nya, Islam pun mengatur status mereka, apakah dihukumi lakilaki atau perempuan, maka dikembalikan kepada fungsi kelamin mereka yang paling dominan.
Setelah status mereka definitif, maka hukum Islam pun diberlakukan kepada mereka sesuai
dengan statusnya. Karena jenis kelamin dari pihak yang dikenai seruan hukum (al-mukh-thab)
dalam nas hanya ada dua: pria dan wanita.
Sanksi
Hukum Islam bukan hanya memberantas penyimpangan perilaku dan seksual, tetapi juga
mencegah agar penyimpangan tersebut tidak terjadi dan ber-kembang. Untuk mencegah terjadinya penyimpangan perilaku, laki-laki menyerupai wanita dan wanita menyerupai laki-laki,
maka Islam melarang baik pria maupun wanita mengenakan pakaian lawan jenisnya. Pria tidak
diperbolehkan memakai baju perempuan dan perempuan tidak diperbolehkan memakai baju lakilaki. Juga tidak diper-bolehkan memakai sandal, ber-dandan dan bergaya seperti lawan jenisnya.
Jika ada yang melakukan penyimpangan perilaku terse-but, maka dengan tegas Islam
memerintahkan mereka untuk diusir dari rumah dan negerinya, sebagaimana yang dilakukan
Nabi dengan mengusirnya ke kawasan bernama an-Naqi'. Abu Bakar juga membuang satu orang,
begitu juga 'Umar bin al-Khatthab melakukan hal yang sama. Ketika Nabi ditanya oleh 'Umar,
mengapa mereka tidak dibunuh, baginda menjawab, Aku dilarang membunuh orang yang
masih shalat. (as-Syaukani, Nailu al-Authar, II/107).
Demikian halnya terhadap penyimpangan seksual, Islam bukan hanya melarang tetapi juga
mencegah agar penyim-pangan tersebut tidak dilakukan. Islam melarang orang dewasa bermain
dengan anak-anak dan menyodominya, disertai dengan larangan menikahi ibu anak ter-sebut.
Islam juga melarang suami menyetubuhi dubur istrinya. Larangan ini untuk mencegah
penyimpangan kepada sesama jenis yang lebih parah.

Jika penyimpangan seksual tersebut dilakukan maka sanksi untuk mereka pun sangat keras.
Mereka wajib dibunuh, sebagian ulama ada yang menyatakan dirajam; ada yang menyatakan
dijatuhkan dari atas bangunan yang tinggi hingga mati. Sanksi ini bukan hanya berlaku untuk
pelaku, tetapi orang yang diso-domi juga dikenai sanksi yang sama. Kecuali, bagi yang dipaksa
untuk disodomi.
Selain hukuman yang ke-ras, Islam juga mengharamkan tayangan atau apa saja yang bisa
mempromosikan penyimpang-an di atas, baik dalam bentuk fes-tival film, kontes waria maupun
yang lain. Karena semuanya ini bisa mempromosikan dan me-nyuburkan penyimpangan yang
diharamkan Islam. Bahkan kalau ada kedutaan atau atase kebuda-yaan negara penjajah, seperti
Perancis, mensponsori kegiatan tersebut, maka bukan hanya wajib dilarang dan dihentikan,
tetapi bisa ditutup dan diusir dari negeri kaum Muslim.
Tindakan
Hukum
dan
HAM
Terhadap pelaku penyim-pangan seksual, seperti gay, lesbi, dan sejenisnya, juga ter-hadap
pelaku penyimpangan perilaku, seperti waria atau seje-nisnya, tindakan hukum dalam Islam
sangat keras dan tegas. Tindakan hukum seperti itu harus dilakukan karena sesung-guhnya
mereka jelas-jelas telah melakukan penyimpangan peri-laku dan seksual. Penyimpangan perilaku
dan seksual ini tidak bisa dianggap sebagai hak asasi manusia. Dengan berlindung di balik
HAM, tidak boleh penyim-pangan seperti ini dipelihara, karena justru penyimpangan seperti ini
merusak kehidupan dan generasi umat manusia, termasuk diri pelakunya sendiri.
Alasan dan dalil-dalil HAM tidak diakui di dalam Islam dan sama sekali tidak ada nilainya.
Justru alasan dan dalil-dalil seperti ini harus dibuang jauh-jauh dari kehidupan umat Islam.
Karena jelas bertentangan de-ngan argumen dan dalil-dalil syariah. Selain itu, harus disadari
bahwa penggunaan alasan dan dalil HAM ini hanyalah justifikasi untuk memelihara
penyimpang-an yang jelas dilaknat oleh Allah dan Rasul-Nya ini. Wallahu a'lam.[]