Anda di halaman 1dari 40

Kata Pengantar

Di dalam risalah ini diikhiarkan


mengemukakan dan mengupas beberapa
pasal yang dianggap perkara pokok dan
terpening untuk perjuangan kita sekarang.
Diikhiarkan mengerjakannya dengan
tenang dan pikiran yang dingin. Sebab,
soal perjuangan yang mengenai kehidupan
dan nasib rakyat kita yang bermilyunan tak
dapat dan tak boleh diperlakukan sebagai
soal diri sendiri. Soal menunjukan jalan
pada rakyat adalah semata-mata soal
perhitungan dan bukan soal kehendak diri kita
sendiri. Diikhiarkan di dalam kupasan yang
dikemukakan ini, supaya tercapai ukuran di
atas.
Akan tetapi maksud persoalan dan
pengupasan ini memang supaya dapat
menyempurnakan perjuangan yang kita
lakukan sekarang. Memang pula segala pikiran
yang diuraikan di sini ditujukan pada sekalian
pahlawan kita yang melakukan kewajibannya
di segala lapangan perjuangan serta terutama
mengingat sekalian yang telah tewas di dalam
menjalankan kewajibannya terhadap rakyat
dan bangsa kita.
Mudah-mudahan sumbangan ikiran ini akan
dapat memperteguh dasar perjuangan kita.
Merdeka!
Pengarang

Pendahuluan
Keadaan setelah dua bulan berdirinya
Republik Indonesia dapat kita gambarkan
seperi berikut:
Harapan dan keinginan untuk serta akan
dapat mempertahankan kemerdekaan kita,
umum ada pada segala lapisan bangsa kita.
Belum pernah di tahun-tahun yang lalu
gerakan kemerdekaan memuncak seperi
sekarang. Terutama pada pemuda, tampak
bahwa segenap jiwanya dipasangkan pada
perjuangan kemerdekaan kita. Akan tetapi,
lambat laun rakyat banyak di desa dan di
kota yang memperhebat perjuangan kita.
Rakyat jelata turut tergolak ke dalam gerakan
kemerdekaan, didorong oleh kegelisahan yang
disebabkan oleh suasana masyarakatnya.
Bagi rakyat jelata nyata bahwa semboyan
merdeka itu idak saja berari Negara
Indonesia yang berdaulat, pun idak pula
saja bendera merah-puih baginya berari
simbol persatuan dan cita-cita bangsa dan
negara, akan tetapi terutama kemerdekaan
dirinya sendiri dari sewenang-wenang, dari
kelaparan dan kesengsaraan, dan merahpuih baginya terutama simbol perjuangannya
itu, yaitu perjuangan kerakyatan. Ucapanucapan kegelisahan rakyat yang kerapkali
merupakan perbuatan yang kejam serta
pelanggaran hak milik dengan kekerasan,
dapat dimengeri, jika dicari sebab-sebabnya
lebih dalam. Selama iga setengah tahun
penjajahan Jepang, sendi-sendi masyarakat
di desa diobrak-abrik serta diruntuhkan
dengan kerja paksa, dengan penculikan

orang desa dijadikan romusha jauh dari


tempat inggalnya, dijadikan serdadu, dengan
penyerahan hasil bumi dengan paksa, dengan
penanaman hasil bumi dengan paksa, dengan
sewenang-wenang yang iada batasnya.
Demikian pula di antara rakyat jelata di kota,
keidakpasian di dalam kedudukannya,
menyebabkan kegelisahan. Beribu-ribu orang
yang sebelum Jepang datang, mempunyai
pencaharian sebagai kaum buruh, kehilangan
mata pencahariannya. Berpuluh ribu orangorang desa melarikan dirinya ke kota untuk
meluputkan diri dari sewenang-wenang serta
kelaparan yang ada di desa, berpuluh ribu
pula orang pelarian romusha, heiho dan kerja
paksa lainnya menambah bayaknya jiwa di
kota yang idak mempunyai pencaharian
yang tentu. Segala ini menyebabkan bahwa
kegelisahan di dalam masyarakat di kota terus
memuncak. Bahaya segala ini akan meletus di
dalam pemberontakan dan kerusuhan terus
bertambah besar untuk Jepang.
Setelah Jepang rubuh dan ia bersedia untuk
ditawan, sehingga kekuasaan pemerintahnya
menjadi lemah, bahaya akan meledaknya
tenaga yang terhimpun di dalam masyarakat
itu, terus bertambah besar. Untuk
menghindarkan bahaya itu macam-macam
muslihat Jepang yang digunakannya; antara
lain adalah diikhiarkannya untuk mengalirkan
kegelisahan orang itu terhadap golongangolongan lagi.
Kebencian yang tambah lama tambah
besar terhadap jepang diputarkan oleh
Jepang dengan agitasi dan propagandanya

terhadap bangsa kulit puih, orang Tionghoa,


pangrehpraja dan selanjutnya tak dapat kita
mungkiri, bahwa propaganda dan agitasi
Jepang itu banyak pengaruhnya dan berhasil
juga baginya. Selama iga setengah tahun
negeri kita dikuncinya dari luar negeri,
sehingga kita idak mengetahui keadaan di
luar dan ia leluasa menjual dustanya yang
menjadi dasar propagandanya. Tatkala
kebencian rakyat kita terhadap Jepang telah
umum dan di sana-sini imbul kerusuhan,
digunakannya perasaan kebangsaan kita untuk
mendinginkan kepanasan terhadap dia.
Dibentuknya Angkatan Muda untuk
memperhebat agitasi kebangsaan, supaya
dapat menghindarkan bahaya sosial yang
mengancamnya. Agitasi kebangsaan itu
memang memuaskan untuk pemuda-pemuda
serta kaum terpelajar kita yang berada di
dalam kegelisahan dan kebimbangan. Pada
umumnya adalah gerakan rahasia Jepang
seperi Naga Hitam, Kipas Hitam, dan lainlain buatan kolone kelima Jepang, buatan
Kenpetai, Kaigun dan lain-lain sangat
menunjukkan kegiatannya terhadap pemudapemuda kita dan memang ada juga dapat
mempengaruhi jiwanya, meskipun kerapkali
pada lahirnya umum pemuda kita membenci
Jepang. Dengan idak sadar, biasanya jiwanya
terpengaruh juga oleh propaganda Jepang
itu dan ingkah lakunya, hingga cara berpikir,
adalah kerapkali menyonto-menyonto Jepang.
Kegiatan jiwanya terutama terlihat sebagai
kebencian terhadap bangsa-bangsa asing,
yaitu sebenarnya yang ditunjukan oleh Jepang
untuk dimusuhi, bangsa Sekutu, bangsa

Belanda, bangsa Indo (bangsa kita sendiri),


Ambon, Menado, kedua-duannya bangsa kita
sendiri, Tionghoa, pangrehpraja; maksudnya
tak lain, seluruh dunia boleh dibenci asalkan
jangan membenci Jepang.
Demikian keadaan sebelum pernyataan
Indonesia Merdeka, demikian pula bahanbahan untuk mendirikan perumahan
Indonesia Merdeka. Tatkala Negara Indonesia
Merdeka didirikan rata-rata orang yang
mengemudikannya, adalah bekas pegawai
dan pembantu Jepang. Hal ini menjadi
halangan untuk membersihkan masyarakat
kita dari penyakit Jepang yang berbahaya
untuk jiwa pemuda kita itu. Pendidikan
poliik yang di waktu jaman jajahan Belanda
telah begitu ipis, di dalam jaman Jepang
sama sekali idak ada, jiwa pemuda dibentuk
untuk dapat menerima perintah saja, untuk
tunduk dan mendewa-dewakan, seperi orang
Jepang tunduk kepada Tenno dan mendewadewakannya. Demikian pula pemuda kita
hanya diajar tunduk pada pemimpin dan
mendewa-dewakannya, idak diajar dan idak
cakap berindak dengan bertanggungjawab
sendiri. Kesadaran revolusioner yang harus
berdasar pada pengetahuan kemasyarakatan,
ipis benar. Oleh karena itu, kecakapannya
untuk menyusun dan mempergunakan
kemungkinan yang ada di dalam masyarakat,
sangat kecil. Oleh karena itu pula, maka
senjata dan alat perjuangan yang seharusnya
dapat dibentuk dari tenaga yang terhimpun
dalam masyarakat sebagai kebencian terhadap
penindasan dan pemerasan Jepang, idak
terbentuk. Segala kegelisahan yang ada di

dalam masyarakat dijuruskan oleh pemudapemuda kita, pada kebencian terhadap


bangsa-bangsa asing yang hidup di dalam
negeri kita, pada berbaris-baris dengan
tombak yang sekarang juga menjalar menjadi
pembunuhan dan perampokan serta ruparupa kegiatan lain lagi, yang diilik dengan kaca
mata perjuangan kemasyarakatan idak berari
atau adalah reaksioner, seperi iap-iap
indakan fasisis itu selamanya reaksioner.
Terlambat datangnya balatentara Sekutu
untuk mengganikan balatentara Jepang yang
tak berkemauan lagi untuk memerintah,
sebenarnya memberikan kesempatan yang
baik bagi pemerintahan Negara Republik
Indonesia untuk menyusun kekuasaan
Republik Indonesia. Akan tetapi hal ini iada
tercapai seperi seharusnya.
Sebabnya yang pertama ialah yang
mengendalikan pemerintahan Negara
Republik Indonesia bukan orang yang berjiwa
kuat. Kebanyakan dari mereka telah terlalu
biasa membungkuk serta berlari untuk
Jepang atau Belanda, jiwanya bimbang
dan nyata idak sanggup berindak dan
bertanggungjawab.
Sebab yang kedua adalah bahwa banyak
antara mereka merasa berhutang budi kepada
Jepang, yang mengurniakan persediaan
Indonesia Merdeka pada mereka. Akhirnya
dianggapnya, bahwa ia menjadi pemerintah,
ialah oleh karena bekerja bersama dengan
Jepang.

Oleh karena itu maka sesudah kekuasaan


Jepang menjadi lemah, dan kemudian runtuh
serta pula belum diganikan oleh kekuasaan
militer Sekutu, idak pula Negara Republik
Indonesia dapat mendirikan kekuasaan
bangsa kita sendiri sehingga berupa dan
bangsa yang tak berpemerintah, sedangkan
rakyat yang gelisah belum mendapatkan
didikan dan belum mempunyai pengetahuan
tentang menyelesaikan soal kemasyarakatan
berhubung dengan pemerintahan. Maka
imbullah kekacauan yang menjalar terus;
di dalam keadaan begini agitasi kebangsaan
berakibat rupa-rupa yang iada dikehendaki
atau dikuasai oleh orang yang membuat
agitasi. Pembunuhan bangsa asing serta
perampokan yang jika kita ilik keadaan
rakyat, dapat dimengeri, idak urung pula
menyatakan kelemahan pemerintah Republik
Indonesia yang belum dapat merasakan
dirinya sebagai pemerintah yang dipandang
dan dihormai oleh rakyatnya.
Pemuda-pemuda kita yang berikhiar
mempergunakan kegelisahan rakyat itu,
iada pula mempunyai syarat-syarat yang
perlu untuk dapat memimpin rakyat di dalam
perjuangan yang seharusnya dilakukan.
Pemuda kita itu umumnya hanya mempunyai
kecakapan untuk menjadi serdadu, yaitu
berbaris, menerima perintah menyerang,
menyerbu dan berjibaku dan idak pernah
diajar memimpin.
Oleh karena itu ia idak berpengetahuan lain,
cara ia mengadakan propaganda dan agitasi
pada rakyat banyak itu seperi dilihatnya

dan diajarnya dari Jepang, yaitu fasisis.


Sangat menyedihkan keadaan jiwa pemuda
kita. Mereka terus di dalam kebimbangan,
meskipun semangatnya meluap-luap,
mereka belum mempunyai pengerian
tentang kemungkinan serta kedudukan
perjuangan yang diperjuangkannya sehingga
pandangannya tak dapat jauh. Pegangannya
banyak kali tak lain daripada semboyan
merdeka atau mai. Tiap kali kalau terasa,
bahwa kemerdekaan belum pasi serta ia
belum pula menghadapi mai, mereka berada
terus di dalam kebimbangan.
Obat untuk kebimbangan itu umumnya dicari
dengan perbuatan yang terus-menerus,
sehingga perbuatan dijadikan madat untuk
jiwa. Bagi bangsa kita, mabuk perbuatan
pemuda-pemuda kita ini, sebenarnya suatu
keuntungan yang besar benar dan memang
pula perbuatan-perbuatan merekalah yang
menjadi pendorong keras bagi perjuangan
kita pada permulaannya, akan tetapi tentu
pula perbuatan yang sebenarnya iada
berpengerian ini, banyak pula salah tubruk,
sehingga merusakkan dan merugikan
perjuangan kita. Demikian umpamanya
hasutan perbuatan-perbuatan terhadap
bangsa-bangsa asing, yang melemahkan
kedudukan perjuangan kita di dalam
pandangan dunia internasional.
Terhadap cita-cita kita hendak mendirikan
negara kita sendiri, dunia luar mulanya
menyatakan simpainya. Boleh dikatakan,
bahwa pandangan umum di dunia mula-mula
memihak pada kita, terutama seluruh kaum

buruh di dunia, akan tetapi dengan bertambah


banyaknya kejadian yang menunjukan
kekacauan di antara rakyat kita, yang sulit
dapat dipahamkan sebagai ucapan perjuangan
kemerdekaan, seperi pembunuhan serta
perampokan, perasaan umum di dunia
terhadap perjuangan kita dapat berubah,
seperi terbuki juga di waktu yang akhir ini.
Pada umumnya sekalian tanda kekacauan
di negeri kita, hanya akan mengecewakan
idak saja kaum kapitalis, akan tetapi juga
kaum buruh di seluruh dunia. Kaum kapital
kecewa akan kemungkinan untuk modalnya
yang diharapkan dapat memberikan hasil,
jika keamanan sudah ada di dalam negeri
kita. Kaum buruh kecewa akan tandatanda kekejaman fasisis, yang telah sangat
terkenal di dunia pada waktu itu, serta
akan payah juga akan dapat menelan
pembunuhan-pembunuhan orang asing,
apalagi pembunuhan dan kekejaman terhadap
orang Indo, Ambon dan Menado, yang
bangsa kita sendiri. Sekalian ini hanya akan
dimengerikan sebagai kementahan di dalam
perasaan kebangsaan yang sebenarnya mesi
mengandung kesadaran poliik kebangsaan
pada pokoknya.
Kebencian terhadap orang Indo, Ambon
dan Menado hanya dapat diarikan oleh
luar negeri, bahwa kesadaran kebangsaan
kita di antara rakyat banyak terbuki masih
sangat ipis atau belum ada sama sekali.
Selama penduduk daerah yang satu masih
dapat diadu-dombakan dengan penduduk
daerah yang lain, memang sulit bagi dunia

akan menerima adanya perasaan kebangsaan


Indonesia di antara rakyat kita, dan
perjuangan kita sekarang ini akan diarikan
lain pula.
Bagi kaum modal yang menjadi ukuran
terhadap perjuangan kita, idak lain dari
perhitungan untung-rugi. Jika idak akan
merugikan, ia akan netral, jika menguntungkan
ia akan pro, jika merugikan, ia akan ani.
Jika dianggapnya benar-benar merugikan,
ia akan mengerahkan sekalian tenaga untuk
menentang kita, serta ia akan idak raguragu menyebabkan intervensi militer untuk
membela kepeningan modalnya. Oleh karena
itu maka jika pemerintah Republik Indonesia
tak dapat menghindarkan kekacauan yang
akan mengancam keinginan dan kemungkinan
modal luar negeri, pasi ia akan dimusuhi
oleh modal luar negeri itu, dan oleh karena
itu juga oleh negeri-negeri di mana modal
itu berkuasa. Oleh karena idak mengetahui
atau idak mengindahkan kebenaran ini,
banyak orang kita berindak dan berbuat
seolah-olah mengundang intervensi luar
negeri itu. Perbuatan yang demikian tentu
bertentangan dengan segala ilmu perkelahian,
yang meminta supaya lawan berkedudukan
selemah-lemahnya, yaitu sebolehnya jangan
mempunyai banyak kawan dan pembantu.
Perbuatan demikian dapat dimengeri dengan
mengingat semangat Jibaku. Terus menerus
kita harus awas terhadap bahaya akan
masih dapat menjadi korban didikan atau
propaganda Jepang.
Setelah meninjau dan menyatakan dengan

terus terang apa yang dianggap sebagai


kekurangan dan kelemahan perjuangan
kemerdekaan kita sekarang ini, boleh kita
mengambil kesimpulan, bahwa sekalian
kekacauan dan kebimbangan pada waktu
ini memang sebahagian besar idak dapat
dihindarkan, akan tetapi pasi dapat pula
kita tetapkan, bahwa jika pengerian serta
perhitungan benar ada pada pimpinan
perjuangan tentang keadaan serta
kemungkinan poliik luar dan dalam negeri,
hasil yang didapat akan lebih banyak serta
kekacauan dan kebimbangan pun idak
sebesar sekarang ini. Untuk menyumbang
keperluan pada penerangan dan pengerian
ini akan dikemukakan di sini di dalam
beberapa bab beberapa kenyataan poliik
yang seharusnya dijadikan dasar di dalam
perhitungan kita, supaya dapat menentukan
arah dan langkah di dalam perjuangan
terhadap luar dan juga dalam negeri

I. Keadaan sehabis perang dunia kedua


Kesudahan peperangan dunia kedua
meninggalkan di dunia iga kekuasaan militer
dan ekonomi yang menentukan segalagalanya, yaitu: Amerika-Serikat, Inggris dan
Soviet-Rusland. Susunan internasional yang
menggabungkan negeri-negeri yang terbanyak
di dunia, dipimpin dan dikuasai oleh mereka.
Sekalian negeri lain sebagai perubahan
kekuasaan yang terakhir ini kehilangan
kedaulatannya yang dahulu juga sudah sangat
terbatas.

11

Sistem poliik Soviet-Rusland berdiri teguh


atas dasar-dasar sistem ekonomi-sosialisis,
yang telah melalui ujian yang seberat-beratnya
di dalam beberapa tahun yang lalu dan pada
pokoknya idak begitu tergantung pada
keadaan ekonomi atau poliik dunia di luar
Soviet-Rusland.
Amerika-Serikat dan Inggris sebaliknya
memerlukan seluruh dunia untuk lapang
kehidupan ekonominya yang kapitalisis dan
imperialisis. Peperangan Dunia yang ke-2
yang telah menghancurkan kekayaan benda
dunia seharga beribu-ribu juta rupiah, pada
umumnya telah memiskinkan seluruh dunia,
selain Amerika-Serikat. Alat-alat penghasilan
malah kerap kali hancur dan tak dapat
dipergunakan lagi, manusia pun banyak
kurang untuk dijadikan tenaga pekerja, serta
apa yang ada kurang tenaganya oleh kelaparan
dan kesakitan.
Ini semuannya menyebabkan, bahwa dunia
kapitalis lemah dan belum dapat diketahui
bagaimana carannya kapitalisme ini akan
mendapat cukup kekuatan untuk melanjutkan
kehidupan yang sehat.
Kerubuhan ekonomis di bahagian terbesar
di dunia ini, merupakan dirinya juga sebagai
kekacauan serta pertentangan-pertentangan
poliik yang tajam. Desakan dari pihak
kaum buruh untuk merubah sendi-sendi
masyarakat kapitalis dan menjadi masyarakat
sosialisis bertambah deras. Sebaliknya
pihak yang berpegang pada sistem lama,
meskipun terdesak, mencari segala jalan

untuk memperkuat kedudukannya dengan


niat menyempurnakan sistem kapitalisme
dan imperialisme. Jadi kita menghadapi juga
suatu macam imperialisme baru. Kita hidup
sekarang di dalam zaman yang menentukan
sistem mana yang akan meluas dan akhirnya
menentukan nasib kemanusiaan, yaitu
kapitalisme atau sosialisme. Perlombaan dan
pertarungan dua aliran dan kekuatan ini akan
membuat pertarungan poliik dunia terus
menerus. Kita akan mengalami krisis poliik
terus menerus, mungkin di dalam depressie
ekonomi terus untuk sementara dengan
kemungkinan pada pertarungan-pertarungan
dan mungkin juga peperangan-peperangan
baru dunia.

II. Kedudukan Indonesia dalam dunia


sekarang
Letak Indonesia di dalam lingkungan daerah
pengaruh kapitalisme-imperialisme InggrisAmerika. Nasib Indonesia tergantung dari
nasib kapitalisme-Imperialisme InggrisAmerika.
Di dalam lebih dari satu abad terakhir ini,
kekuasaan Belanda atas negeri dan bangsa
kita adalah buah perhitungan dan penetapan
poliik luar negeri Inggris. kita ketahui bahwa
setelah dipermulaan abad ke sembilan belas
Inggris merampas dan mengembalikan
Indonesia dari dan pada Belanda, sebenarnya
Belanda berada di negeri kita ini idak lagi
atas kekuatan sendiri tetapi atas karunia
13

Inggris serta tergantung semata-mata dari


poliik Inggris. Poliik Inggris terhadap Asia
Timur ini dapat dijalankannya lebih dari
seabad lamanya, meskipun tenaga dan
keadaan baru imbul seperi, seperi Rusia,
Jepang, Amerika Serikat, Revolusi Tiongkok,
akan tetapi tak urung pula kedudukannya
berubah, terutama di Tiongkok. Perubahan
yang besar terhadap daerah kita terjadi
dengan pengusiran kekuasaan Belanda dari
Indonesia oleh militer Jepang. Oleh karena
Jepang kalah ia untuk sementara akan hilang
dari alam poliik Asia Tenggara ini, akan tetapi
sebaliknya boleh dikatakan segala kedudukan
Jepang itu akan jatuh ke tangan AmerikaSerikat, yang sekarang telah menjadi kekuatan
Pasiik yang jauh terbesar. Terhadap poliik
Inggris yang telah lebih dari seabad umurnya
ia sekarang merasakan dirinya di seluruh
Asia dan juga di negeri kita sebagai perubah
dan pembaharu keadaan. Jika Inggris idak
dapat menyesuaikan dirinya dengan poliik
Amerika Serikat yang dikuasai oleh hukum
kehidupan kapitalismenya sendiri, nyata ia
akhirnya akan kalah dengan tenaga Amerika
Serikat. Nyata bahwa kekuasaan Belanda
hingga waktu ini hanya suatu alat di dalam
percaturan poliik Inggris. Nyata pula bahwa
untuk poliik Amerika Serikat kekuasaan
Belanda atas negeri kita idak sama dengan
untuk poliik Inggris. Di dalam kebenaran ini
berada kemungkinan untuk kita mendapatkan
kedudukan yang baru yang cocok dengan
kehendak poliik kekuasaan raksasa pasiik
Amerika-Serikat ini, akan tetapi juga batas
kemungkinan bagi kita selama susunan dunia

berupa kapitalisiis dan imperialisis seperi


sekarang. Sekarang itu kita tetap akan berada
di dalam dan dilipui oleh alam imperialismekapitalisme Amerika-Inggris, dan bagaimana
juga usaha kita, kita sendiri idak akan cukup
tenaga untuk meruntuhkan alam itu, yang
akan dapat memberi kita kemerdekaan
yang sepenuh-penuhnya. Oleh karena itu
maka nasib Indonesia, lebih daripada nasib
bangsa-bangsa lain di dunia tergantung pada
keadaan dan sejarah internasional dan lebih
pula dari bangsa lain bangsa kita memerlukan
berubahnya dasar-dasar pergaulan hidup
kemanusiaan, yang akan dapat menghilangkan
imperialisme dan kapitalisme di dunia ini.
Selama ini belum terjadi, maka perjuangan
kebangsaan kita akan idak dapat memuaskan
sepenuh-penuhnya, serta kemerdekaan yang
kita dapat, jika kita peroleh sepenuhnya
terhadap Belanda, pun hanya berupa
kemerdekaan seperi yang terlihat pada lainlain negeri kecil, yang di bawah pengaruh
negeri kapitalis yang besar, yaitu berupa
kemerdekaan nama saja.

III. Revolusi Kerakyatan


Revolusi kita ini yang keluar berupa revolusi
nasional, jika dipandang dari dalam berupa
revolusi kerakyatan. Meskipun kita telah
berpuluh tahun berada di dalam lalu-lintas
dunia modern, meskipun masyarakat negeri
kita telah sangat dirubah dan dipengaruhi
olehnya, akan tetapi di seluruh kehidupan
15

rakyat kita terutama di desa, alam kehidupan


serta pikiran orang masih feodal. Penjajahan
Belanda berpegang pada segala sisa-sisa
feodalisme itu untuk menahan kemajuan
sejarah bangsa kita. Begitu umpamanya
pangrehpraja tak lain dari alat yang dibuat
oleh penjajah Belanda dari warisan feodal
masyarakat kita. Berupa-rupa aturan yang
dilakukan atas rakyat kita di desa tak lain
daripada lanjutan yang lebih teratur daripada
kebiasaan feodal, demikian penghargaan yang
begitu rendah terhadap diri orang desa, yang
masih dipandang setengah budak-belian,
bukan saja di dalam mata kaum ningrat kita,
akan tetapi juga di dalam pandangan kaum
penjajah Belanda.
Penjajah Belanda itu mencari kekuatannya
dengan perkawinan raio-modern dengan
feodalisme Indonesia, menjadi akhirnya
contoh fasisme yang terutama di dunia ini.
Fasisme di tanah jajahan jauh mendahului
fasisme Hitler ataupun Mussolini. Sebelum
Hitler mengadakan concentrasikamp
Buchenwald atau Belzen, Boven-Digul
sudah lebih dahulu diadakan. Oleh karena
itu maka pergerakan rakyat kita dari sejak
mula di dalam menentang penjajahan asing
sebenarnya menentang feodal-bureau-kraie
dan akhirnya autokraie dan fasisme jajahan
Belanda, dan oleh karena itu pergerakan
kerakyatan yang sejai. Tuntutan kedaulatan
rakyat di dalam pergerakan kita itu memang
sebagai gambaran yang sebenarnya tentang
persoalan rakyat kita terhadap penjajahan
asing yang autokrais dan fasisis itu.
Rakyat di dalam perjuangan sebagai bangsa

menuntut hak-hak kemanusiaannya, yang


akan memberi ia jaminan, bahwa ia tak akan
dapat diperlakukan lagi sebagai budak-belian.
Oleh karena itu maka di dalam pandangan kita
revolusi kita sekarang adalah revolusi nasional
dan revolusi kerakyatan yang bersangkutan
dengan alam feodal di negeri dan masyarakat
kita, terutama desa. Akan tetapi tentu saja
kita tak dapat menyamakan revolusi kita
ini dengan umpamannya revolusi Perancis.
Kita berada di dalam dunia yang telah dapat
mempergunakan kekuatan atom, dengan
teknik dan susunan serta kepintaran yang
sama sekali tak dapat disamakan dengan
dunia dan keadaan waktu jaman revolusi
Perancis. Masyarakat kita sendiri mengenal
susunan trust dan kartel, telegrap, radio,
pabrik-pabrik dan perusahaan kapital besar,
seperi minyak, dll., yang menyatakan pada
kita, bahwa meskipun kita menetapkan
bahwa revolusi kita ini revolusi kerakyatan,
sekali-kali kita jangan keliru hingga hendak
menyamakannya dengan revolusi Perancis,
di dalam kedudukan dan kemungkinannya.
Tatkala revolousi Perancis belum ada
kapitalisme dan imperialisme dunia, seperi
yang digambarkan di atas, serta dunia belum
pula menjadi satu di dalam perhubungan
ekonomi seperi sekarang, dan pula susunan
dan kedudukan masyarakat serta negeri
Perancis berbeda sama sekali dengan susunan
dan kedudukan masyarakat dan negeri kita
Indonesia sekarang.
Perancis serta revolusi Perancis adalah
perinis serta pembuka jalan untuk dunia yang
kapitalisis-imperialisis, sedangkan revolusi

17

kita ini sebenarnya harus dipandang revolusi


yang akan turut menutup sejarah kapitalisisimperialis, sehingga perjuangan sosial yang
telah berlaku di dunia sebagai akibat dari
sistem kapitalis-imperialis, yang merupakan
perjuangan kaum buruh, perjuangan kaum
sosialis dan segala kemenangan-kemajuannya,
seperi terdapat di dunia pada waktu ini, tentu
membedakan benar kedudukan revolusi kita
dari revolusi Perancis, yang hanya demokraisburgerlijk itu.
Jadi memang revolusi kita ini tak dapat lain
dari juga bercorak sosial. Bahwa di dalam
revolusi kita ini kaum buruh berkedudukan
yang pada pokoknya lain daripada kaum buruh
di negeri Perancis di dalam jaman revolusi
Perancis, meskipun di dalam mentaliteit-nya
terdapat beberapa persamaan, yaitu tanda
mudanya dan kekurangan kesadaran kelas.
Corak sosial revolusi kita ini menunjukkan pula
kemungkinan sosial yang ada di dalam revolusi
kita. Sebab segala faktor ini dinamis. Tetapi
seperi telah dikemukakan di atas segala-gala
ini terutama tergantung pada keadaan serta
kemungkinan internasional, untuk negeri kita.
Subjekif memang corak sosial revolusi kita
akan dapat lebih jelas dan mendalam, akan
tetapi objekif kemungkinan berlanjutnya akan
sama sekali tergantung daripada perubahanperubahan yang akan berlaku di dunia. Batasbatasnya telah saja dikemukakan di atas.

IV. Revolusi Nasional


Ke luar bentuk revolusi berupa nasional, ke
dalam menurut hukum masyarakat demokrais
dengan corak sosial. Jika kurang memahamkan
kebenaran sehingga ke dalam pun yang kita
anjurkan hanya revolusi nasional saja dengan
idak ada atau kurang pengerian tentang
kedudukan demokrasi di dalam pengorbanan
masyarakat kita, bahaya sangat besar bahwa
kita, oleh karena tak dapat mengukur musuh
kita feodalisme kita berkawan dengan
semangat feodalisme yang masih hidup sesuai
dengan semacam nasionalisme, menjadi
nasionalisme yang mempunyai semacam
solidarisme, yaitu solidarisme-feodal (yang
hierarkis), menjadi fasisme alias musuh
kemajuan dunia dan rakyat yang sebesarbesarnya. Idiologi yang kelihatan seperi kacau
sekarang, kerapkali tampak sebagai semacam
nasionalisme atau nasional-komunisme ala
Hitler atau Mussolini. Oleh karena itu maka di
dalam menyusun kekuatan masyarakat kita di
dalam revolusi kita ini, harus kita sedikitpun
tak boleh lupa, bahwa kita mengadakan
revolusi demokrasi. Revolusi nasional itu
hanya buntutnya daripada revolusi demokrasi
kita. Bukan nasionalisme harus nomor satu,
akan tetapi demokrasi, meskipun kelihatannya
lebih gampang, kalau orang banyak dihasut
membenci bangsa asing saja. Memang
benar bahwa cara demikian buat sementara
berhasil, (lihat saja sukses Mussolini, Hitler,
Franco, Ciang Kai Shek dll.) akan tetapi untuk
kemajuan masyarakat perbuatan demikian
tetap reaksioner dan bertentangan dengan
kemajuan dunia, dan perjuangan sosial

19

seluruh dunia, orang yang menganjurkannya


tetap musuh rakyat, meskipun sedikit waktu
didewakan rakyat seperi Hitler dan Mussolini.

V. Revolusi dan Pembersihan


Dengan penentuan alam perjuangan kita
seperi di atas, maka nyata bahwa revolusi kita
ini harus dipimpin oleh golongan demokrais
yang revolusioner dan bukan oleh golongan
nasionalisis yang pernah membudak kepada
fasis-fasis lain, fasis kolonial Belanda atau fasis
militer Jepang.
Perjuangan demokrasi revolusioner itu
memulai dengan membersihkan diri dari
noda-noda fasis Jepang, mengungkung
penglihatan orang-orang yang masih jiwanya
terpengaruh oleh propaganda Jepang dan
didikan Jepang. Orang-orang yang sudah
menjual jiwa dan kehormatannya kepada fasis
Jepang disingkirkan dari pimpinan revolusi kita
(orang-orang yang pernah bekerja di dalam
propaganda, polisi rahasia Jepang, umumnya
di dalam usaha kolone 5 Jepang). Orangorang ini harus dianggap sebagai pengkhianat
perjuangan dan harus diperbedakan dari
kaum buruh biasa yang bekerja hanya untuk
sekedar memenuhi kebutuhan hidupnya. Jadi
sekalian poliieke collaboratoren dengan fasis
Jepang seperi yang disebutkan di atas harus
dipandang sebagai fasis sendiri atau perkakas
dan kaki tangan fasis Jepang dan tentu sudah
berdosa dan berkhianat pada perjuangan dan
revolusi rakyat.

Negara Republik Indonesia yang kita jadikan


alat dalam revolusi rakyat kita, harus
kita jadikan alat perjuangan demokrais,
dibersihkan dari sisa-sisa Jepang dan
fasismenya. Undang-undang dasar yang belum
sempurna demokrais itu ditukar dengan
undang-undang dasar demokrais yang tulen,
yang menerakan sebagai pokok dari segala
susunan negara adalah hak-hak pokok rakyat,
yaitu hal-hal kemerdekaan berikir, berbicara,
beragama, menulis, mendapat kehidupan,
mendapat pendidikan, turut membentuk dan
menentukan susunan dan urusan negara
dengan hak memilih dan dipilih untuk segala
badan yang mengurus negara.

VI. Revolusi dan Partai


Untuk dapat menyusun segala tenaga buat
mengerjakan revolusi dengan tepat dan
teratur, pimpinan harus merupakan suatu
balatentara yang membentengi idiologi dan
pengetahuan yang tersusun rapi di dalam
suatu partai revolusioner.
Partai revolusioner yang berideologi dan
berteori lengkap dan rapi dan berorganisasi
modern dan eisien yang perlu akan
memimpin revolusi, yaitu mengurus segala
kekuatan masyarakat yang akan dapat
diperjuangkan menetapkan strategi dan takik
perjuangan, membentuk dan mempergunakan
segala alat dan senjata perjuangan.
Partai ini harus partai kerakyatan yang
revolusioner, sebaiknya dipimpin oleh

21

orang-orang yang berpengetahuan tentang


perjuangan revolusioner yang modern, yang
berpengetahuan dan berpengalaman tentang
perjuangan revolusioner yang ada di dunia
dan tahu menentukan langkah perjuangan
kita dengan perubahan di dunia umumnya.
Partai tak usah beranggota banyak asal saja
dapat merupakan balatentara yang berdisiplin
rapi dan mempunyai eiciency modern dan
berbenteng ideologi dan pengetahuan yang
kuat dan lengkap.

VII. Revolusi dan Pemerintahan


Langkah yang pertama yang harus dilakukan di
dalam keadaan sekarang untuk memperbaiki
dan merubah keadaan adalah selain
menyusun segala kekuatan revolusioner yang
sadar di dalam suatu susunan partai yang
berdisiplin, memperbaiki secepat mungkin
kedudukan Negara Republik Indonesia, dan
mencegah menjalarnya kekacauan di antara
rakyat dengan cara yang tersusun.
Secepat mungkin seluruh pemerintahan
harus didemokraiseer, sehingga rakyat
banyak masuk tersusun di dalam lingkungan
pemerintahan. Ini mudah dikerjakan
dengan menghidupkan dan di mana perlu
membangunkan dewan-dewan perwakilan
rakyat dari desa hingga ke puncak
pemerintahan. Alat-alat kekuasaan pun
seboleh-bolehnya didemokraiseer, sehingga
mengecilkan jurang pertentangan pada rakyat
banyak. Untuk sementara pangrehpraja lama

dapat diberi kedudukan sebagai pengawas


dan penasehat segala perubahan pemerintah
di dalam daerahnya masing-masing atau
ditarik ke kantor-kantor, ke polisi, agraria
dan sebagainya. Dengan terbentuknya alat
pemerintahan baru ini dengan sendirinya
kekacauan mendapatkan bantahan pada
pusatnya sendiri, yaitu di desa sendiri, serta
pemerintahan mendapat alat yang dapat
dipergunakan untuk menjalankan revolusi
demokrasi juga di dalam alam ekonomi dan
sosial desa. Masyarakat kita mendapat alat
untuk disusun baru dari pokoknya, yaitu desa.
Segala cita-cita pembaharuan masyarakat kita
dapat dimulai membentuknya dari situ.
Dengan sendirinya pula kedudukan kita
terhadap dunia luar akan menjadi bertambah
kuat. Usaha kita yang tersusun untuk terus
menerus memperkuatkan kedudukan itu,
adalah memperkuat organisasi negara
kita secara demokrais, dan memperbesar
kepercayaan dunia, bahwa kita sanggup
mengatur rapi negara dan rakyat kita dengan
idak mengecewakan perhubungan ekonomi,
poliik dan kebudayaan kita dengan dunia
luar negeri. Selama alam kita alam dunia
kapitalis, terpaksa kita menjaga jangan sampai
kita dimusuhi oleh dunia kapitalis itu, jadi
membuka negara kita untuk lapang usaha
mereka sedapat mungkin, yaitu dengan
batas, bahwa keselamatan rakyat idak akan
terganggu olehnya. Demikian pula terhadap
pemasukan orang-orang asing ke dalam negeri
kita. Di dalam masyarakat yang berdasar
demokrais yang kuat dan sehat, segala ini
dapat dipikul dengan mudah, dengan tak perlu

23

menimbulkan perbencian golongan-golongan


berdasar atas kebangsaan seperi terdapat
sekarang. Segala hukum dan hal penduduk
diatur secara demokrais dengan semangat
kemanusiaan dan kesosialan.

VIII. Memperjuangkan isi kemerdekaan


Negara Republik Indonesia yang kita
perjuangkan sebagai alat di dalam revolusi
kerakyatan kita mendapat harga yang penuh,
jika kita isi dengan kerakyatan yang tulen.
Bagi kita kemenangan yang berari itu ialah
kemenangan yang berisi, bukan kemenangan
nama dan kehormatan semata saja. Pedoman
yang sebenarnya untuk perjuangan poliik
kita harus ditujukan kepada isi itu. Perjuangan
kebangsaan pada umumnya, tak luput dari
bahaya terlalu terpengaruh oleh nama dan
rupa. Oleh karena itu kerapkali apa yang
dinamakan kemenangan kebangsaan itu,
terbuki kosong untuk rakyat banyak. Jika kita
hargakan Indonesia Merdeka kita dengan
harga demokrasi yang tulen, maka di dalam
perjuangan poliik kita terhadap dunia isinya
itu yang dipertarungkan. Negara Republik
Indonesia hanya nama yang kita berikan pada
isi yang kita maksudkan dan kehendakkan itu.

IX. Pembencian Bangsa Asing


Salah satu hal terpening di dalam perjuangan
kita adalah sikap dan poliik kita terhadap
golongan-golongan yang agak mengasing di

antara penduduk negeri kita, yaitu orangorang asing, orang peranakan, Eropa atau
Asia, orang yang beragama Kristen, orang
Ambon, Menado dan sebagainya. Hingga
sekarang kita belum mempunyai sikap
dan poliik yang memuaskan terhadap
golongan ini semua. Malah di hari kemudian
ini terjadi hal-hal yang terang salah dan
merusakkan pada perjuangan kerakyatan
kita. Sifat membenci pada golongan dan
bangsa yang asing itu, memang suatu sifat
yang tersembunyi di dalam iap-iap gerakan
kebangsaan yang memabukkan dirinya
dengan nafsu membenci bangsa-bangsa asing
untuk mendapatkan kekuatan, niscaya pada
akhirnya akan berhadapan dengan seluruh
dunia dan kemanusiaan. Nafsu kebangsaan
yang pada mulanya dapat merupakan suatu
kekuatan itu, mesi iba pada satu jalan buntu
dan akhirnya mencekik dirinya sendiri dalam
suasana jibaku. Kekuatan yang kita cari, adalah
pada pengobaran perasaan keadilan dan
kemanusiaan. Hanya semangat kebangsaan
yang dipikul oleh perasaan keadilan dan
kemanusiaan dapat mengantar kita maju di
dalam sejarah dunia.
Sebab pada akhirnya semua kebangsaan harus
menemui ajalnya di dalam suatu kemanusiaan
yang melipui seluruh dunia menjadi satu
bangsa, yaitu bangsa manusia yang hidup
di dalam pergaulan yang berdasar keadilan
dan kebenaran, idak lagi terbatas oleh
perasaan-perasaan sempit yang memecah
manusia sesama manusia oleh karena kulitnya
berlainan warna, atau oleh karena turunan
darahnya berlainan. Pada habisnya perasaan-

25

perasaan sempit ini sebagai pendorong


indakan dan kelakuan kita, baru habis ikatan
buta kita kepada sejarah kebiadaban kita. Baru
kita dapat melihat terang perbedaan antara
cinta pada tanah air dari perasaan membenci
orang asing atau membenci golongangolongan dalam negeri kita yang sebagai
perbuatan sejarah terasing atau mengasingkan
diri oleh karena turunan darahnya, darah
yang bodoh dan darah yang biadab itu. Sikap
kita terhadap sekalian ini harus berdasar
penglihatan kemasyarakatan, berdasar atas
penyelidikan yang jujur dan perhitungan di
dalam berbaki kepada cita-cita kemanusiaan
dan keadilan sosial.

X. Kaum Buruh
Pada ingkatan kapitalisme ini di mana kapital
dunia mengalami konsentrasi yang lebih
besar, terutama di New York dan London,
maka segenap produksi dunia yang kapitalisis
lebih dari dulu dikuasai oleh satu atau dua
pusat kapital, terutama Wallstreet. Sebagai
akibat peperangan ini maka boleh dikatakan
seluruh dunia terikat hutang pada Wallstreet
itu. Hal ini membuat bahwa kedudukan
dan kekuatan dunia itu menjadi sungguhsungguh internasional. Oleh karena itu maka
pertahanan dan perjuangan kaum buruh
terhadapnya hanya akan dapat berhasil baik,
jika disusun dengan mengakui kenyataan ini.
Susunan dan perjuangan kaum buruh pun
harus berdasar internasional.

Kaum buruh kita sekarang menunjukan


perjuangan pada pertahanan Negara
Indonesia Merdeka. Hal ini sudah selayaknya,
akan tetapi di dalam itu perlu kita kemukakan
kebenaran yang di atas, oleh karena di
dalam perjuangan selanjutnya solidariteit
kebangsaan kaum buruh itu mesi dapat
meningkat menjadi solidariteit dan susunan
internasional, meningkatkan diri seukur
dengan perjuangan kaum buruh di dunia
seluruhnya. Bagi kaum buruh semangat
kebangsaan yang meluap-luap itu dapat
menjadi halangan untuk melihat perjuangan
internasionalnya dan penghargaan serta
kesadaran tentang kedudukan di dalam
masyarakat kapitalis, sehingga membawanya
ke jurusan yang salah dan memundurkan
dan melemahkan kedudukannya. Untuk
menghindarkan bahaya, bahwa di dalam
perjuangan kebangsaan ia melupakan dan
melepaskan dasar-dasar perjuangannya
sendiri, sehingga mudah teripu dan diperkuda
golongan masyarakat lain, maka juga di dalam
perjuangan kebangsaan kaum buruh harus
tahu memperjuangkan kedudukannya sebagai
orang Indonesia dengan caranya sendiri, yaitu
di dalam susunan buruh dan dengan alat-alat
perjuangan kaum buruh. Semangat yang perlu
untuk dapat mengadakan perjuangan secara
itu, ialah semangat kelasnya dan solidariteit
kelasnya yang tak boleh dilemahkan oleh
semangat kebangsaan. Syarat-syarat untuk
dapat menjernihkan kedudukannya itu,
adalah di dalam perjuangan poliiknya kaum
buruh menuntut segala hak kerakyatan yang
sepenuhnya, pun juga dari Negara Indonesia
27

Merdeka sendiri, hak berbicara, menulis,


berkumpul, berapat, bermogok, kepasian
pencaharian, keadaan kesehatan, pelajaran
untuk anak-anaknya, ketentuan gaji dan
sebagainya. Kesadaran dan pengerian kelas
itu harus terus diperdalam dan diperkuat
hingga pada suatu saat yang secepat-cepatnya
dapat menjadi perasaan dan kesadaran
kelas internasional sehingga mudah dapat
rapat pada saat penggabungan perjuangan
kaum buruh kita dengan gabungan kaun
buruh internasional. Susunan sarekat sekerja
harus disusun menurut ukuran modern,
yaitu di dalam industrieverband, pendidikan
kaum buruh harus sesuai dengan keperluan
perjuangannya, yaitu seingkat pada kesadaran
dan pengerian perjuangan internasional
untuk menyusun dunia yang sosialisis. Di
dalam berjuang untuk kemerdekaan Indonesia
kaum buruh sejalan harus berjuang untuk
mendapatkan kedudukannya sendiri yang
terkuat supaya sanggup menjadi pelopor di
dalam perjuangan menentang imperialisme di
Indonesia ini dan memperkuatkan perjuangan
kaum buruh internasional terhadap
kapitalisme dunia.

IX. Pak Tani


Bagi kaum tani kita perjuangan kemerdekaan
ini hanya akan berari jika kerakyatan
dirasakan padanya. Jika revolusi bangsa
Indonesia yang sedang berlaku sepenuhnya
dapat dirasakan sebagai revolusi kerakyatan
bagi Pak Tani, sehingga ia tak dapat

diperlakukan sewenang-wenangnya lagi


oleh pemerintahan, sehingga ia dapat
mengecap hasil keringatnya sepenuhnya
dan idak diganggu oleh rupa-rupa aturan
yang dimaksudkan untuk menyenangkan
orang yang memerintah. Revolusi kita harus
memberantas feodalisme di luar kota-kota
yang berupa tuan tanah, aturan pemerintahan
feodal, pengerahan tenaga dan hasil orang
tani secara feodal seperi digunakan oleh
penjajahan Belanda. Penduduk desa sudah
sesak padat, sehingga meskipun penghasilan
tanah di Jawa dikerjakan dengan kekuatan
yang sepenuhnya, untuk memberi makan
penduduknya masih tak mencukupi untuk
memperinggi kehidupan rakyat kita
umumnya. Hal ini lebih hari lebih mendesak.
Selain dari ikhiar untuk membagi penduduk
Indonesia lebih rata pada kepulauan Indonesia
dengan interimmigrasi; maka menilik
bangun dan kedudukan pulau Jawa tak dapat
dihindarkan, bahwa jawab yang langsung
pada soal penduduk dan penghasilan di
Jawa adalah industrialisasi. Jika kelebihan
jiwa di desa itu dikurangkan sehingga desa
lapang untuk memperinggikan kehidupan
dengan jalan usaha bersama (koperasi), maka
dengan industrialisasi yang diadakan menurut
rencana di bawah pimpinan pemerintah,
sebahagian besar dari kelebihan jiwa di
desa dapat menghadapi kehidupan sebagai
pekerja pabrik yang tetap bertambah baik
dengan bertambah kemakmuran Indonesia
umumnya, terutama dengan dasar kehidupan
Pak Tani yang makmur. Pemerintahan di desa
disehatkan dengan melaksanakan kerakyatan
29

yang sempurna dengan menggunakan


kebiasaan lama juga, pemilihan, rapat
desa, yang diberi kekuasaan sepenuhnya
dan ditambah kecerdasannya dengan
memperinggi pelajaran dan pendidikan di
desa mengadakan pimpinan di dalam segala
usaha desa, membaharui dasar masyarakat
kita, membawa rasionalisasi dan eiciency,
yang akan merombak tradisi desa, supaya
dengan idak menjalani kehidupan kota dan
pabrik, juga di desa imbul modernisasi,
elektrisiteit dan mesin pun dapat masuk
menolong manusia di desa memperinggikan
derajat kehidupan manusia. Sarekat tani yang
harus didirikan harus menjadi perinis di
dalam mencocokan semangat kaum tani pada
tempo yang kita kehendaki itu. Persatuan
tani memudahkan idak saja urusan ini secara
teratur dan besar-besaran, akan tetapi juga
memudahkan persatuan dan perhubungannya
dengan persatuan kaum buruh.

XII. Pemuda
Soal yang kelihatanya besar pada waktu ini
adalah soal pemuda. Tak dapat dipungkiri,
bahwa kelihatannya kebangunan kebangsaan
kita yang kita alami ini, seolah-olah digugat
oleh pemuda-pemuda kita. Seolah-olah
mereka yang menentukan tempo perjuangan
kita. Seolah-olah revolusi yang kita alami
sekarang ini, bermula pada semangat dan
kekerasan hai pemuda, jadi didorong oleh
cita-cita semata. Ini semua sepintas lalu. Akan
tetapi jelaslah dari apa yang diuraikan di atas,

bahwa kemungkinan meluapnya semangat


pemuda itu dan kemungkinan disambutnya
oleh masyarakat itu, adalah terletak pada
keadaan masyarakat sendiri. Bagaimana
keadaan itu telah digambarkan dengan singkat
di atas, akan tetapi nyata pula bahwa kaum
pemuda, terutama yang terpelajar yang
sekarang berkobar-kobar dengan semangat
kebangsaan tak akan dapat menjalankan
terus kewajibannya sebagai perinis, jika
semangat kebangsaannya itu idak diisi
dengan semangat kerakyatan dan semangat
kemasyarakatan. Jika idak, ia akan menemui
jalan buntu yang dihadapi iap-iap semangat
kebangsaan. Ia akan menemui saat, ia idak
akan diturui lagi oleh rakyat ataupun ia akan
ditentang.
Dan ia akan mengalami bahwa serdadu
yang akan dapat memenangi revolusi kita
ini, akan tetapi rakyat banyak, kaum buruh
dan Pak Tani bersama-sama dengan kaum
terpelajar, kaum muda. Saat kaum muda ini
meluaskan pandangannya kepada dasardasar masyarakat telah iba, dan pada itu ia
harus mengeri, bahwa tenaga perjuangan
idak berpusat di antara angkatan muda,
akan tetapi pada rakyat banyak, terutama
pada kaum buruh yang tersusun serta serta
mempunyai kesadaran yang tajam, pengerian
tentang perjuangan buruh di dunia umum. Jika
pemuda-pemudi kita mengeri hal ini, ia tahu
bahwa kedudukannya ada sebagai pahlawan
kaum buruh dan kaum tani.
Nyata bahwa anggapan, yang angkatan muda
harus memimpin perjuangan kemerdekaan

31

kita, suatu kekeliruan yang akan dapat


merusakkan perjuangan kita.
Yang harus memimpin revolusi kita ini,
idak lain daripada pusat kekuasaan
poliiknya, merupakan partai kerakyatan
yang revolusioner. Kalau dapat ditunjang
oleh partai buruh yang revolusioner, pada
larasnya angkatan muda hanya dapat menjadi
laskar perinis dari partai yang memimpin
perjuangan. Keliru pula sama sekali orang yang
mengirakan bahwa pemuda yang tergabung
di dalam ikatan balatentara, yaitu yaitu
barisan dan pimpinan militer, yang akan dapat
memimpin revolusi kita. Kekeliruan ini dapat
dimengeri. Tahun-tahun yang kemudian ini,
kita terlalu merasakan kekuasaan militer.
Tak urung hal ini dan didikan militer yang
diberikan pada pemuda-pemuda serta
rakyat kita umumnya, dapat menimbulkan
kekeliruan, seolah-olah perjuangan kita ini
perjuangan militer yang harus dipimpin oleh
orang militer. Hanya pengerian tentang dasar
kemasyarakatan perjuangan kita ini, dapat
menghindarkan kekeliruan ini. Pemuda kita tak
mungkin berpembawaan fasisis atau feodal
militerisis. Pengerian yang masih kurang
benar di dalam segala-gala hal terhadap
soal ini diselenggarakan. Sedang pemuda
berjuang sekarang ini, harus pengeriannya
diisi dan penglihatannya dirubah, supaya ia
jangan merendah menjadi binatang berkelahi
saja, akan tetapi dapat menjadi pemuda
revolusioner yang menghadapi dunia baru,
pemuda yang bercita-cita dan mempunyai
kesadaran serta pengerian yang jernih
tentang duduk perjuangannya untuk rakyat

kita, serta kemanusiaan umumnya.

XIII. Tentara
Meskipun demikian di dalam keadaan
dunia yang sekarang ini, memang perlu
kita memperinggi kesanggupan kita
membela tanah air serta rakyat kita dengan
susunan pertahanan yang selengkapnya.
Kita memerlukan susunan pembelaan itu.
Kita memerlukan balatentara yang teratur
menurut ukuran jaman sekarang. Pemuda
kita seluruhnya harus dididik di dalam
kesanggupan itu. Oleh karena itu bukan saja
kita memerlukan balatentara yang tersusun
dan bersenjata modern, akan tetapi juga
laihan militer segenap rakyat kita, terutama
pemuda. Selekas mungkin kita harus dapat
mengadakan milisi untuk rakyat kita, pada
mana seluruh pemuda dan dari mulai umur
yang tertentu, harus melalui laihan militer,
lamanya tertentu. Oleh karena syarat-syarat
serta alat-alatnya sekarang kurang, maka
keperluan ini dikerjakan dengan alat yang
terbatas, serta sementara segala syarat
dan alat yang kurang dilengkapi. Terutama
sekali tentunya harus diadakan pendidikan.
Si pendidik yaitu akademi darat dan laut.
Dalam hal ini kekurangan dalam negeri dapat
dilengkapi dengan pertolongan dari luar
negeri, untuk dijadikan guru dan instruktur.
Untuk melengkapi alat pertahanan yang
berupa persenjataan, pantas kita di dalam
keadaan kita sekarang, mengobarkan lainlain keperluan. Pembikinan dan pembelian

33

senjata itu , dimasukkan dalam hal terutama


di dalam keadaan sekarang. Akan tetapi
dengan pengakuan bahwa pengerian perkara
dengan secara militer ini, sekali-kali kita idak
boleh melupakan sekejap mata perjuangan
apa yang dikemukakan di atas, bahwa sekalikali tak boleh kita keliru di dalam penghargaan
hal militer ini di dalam revolusi. Di dalam
perjuangan kita yang berupa dan memakai
alat Negara Indonesia, kita terpaksa harus
mengadakan alat perjuangan kenegaraan,
yaitu balatentara. Itu idak boleh berari,
bahwa kita menjadi abdi kenegaraan atau
kemiliteran, alias fasis dan militeris.
Batas-batas hal ini, dengan semangat revolusi
kerakyatan kita, harus ditajamkan sehingga
jangan kita membunuh semangat serta
revolusi kita oleh karena kita sesat pada
militerisme dan fasisme.

* 10 November 1945 adalah tanggal resmi


publikasi pamlet, Perjuangan Kita. Masyarakat
Indonesia lebih mengenal hari itu sebagai
Hari Pahlawan berkaitan dengan pertempuran
Surabaya November 1945. Pamlet ini
sebagaimana dikatakan Benedict Anderson
dalam Our Struggle: Introducion (1968),
suatu analisis situasi yang menyeluruh, suatu
kriik mengenai kebijakan pemerintah dan
personelnya, dan suatu program rasional
bagi perjuangan masa depan diagnosis
masalah-masalah kontemporer Indonesia
yang paling jelas terarikulasikan dan
satu-satunya program yang koheren bagi
perjuangan kebangsaan selama tahuntahun konlik isik dengan Belanda. Pamlet
Perjuangan Kita mungkin hanya dapat
diperbandingkan dengan program radikal
Merdeka 100% Tan Malaka untuk Persatuan
Perjuangan. Pada masa-masa tergening dari
perjuangan nasional itu Soekarno sendiri
idak menawarkan suatu prespekif atau
program tertentu - suatu kediaman yang
kontras dengan posisinya sebagai ideolog pada
periode sebelum dan sesudah fase ini (19451949).

35

Soetan Sjahrir pada sidang pleno KNIP yang diadakan di kota Malang pada bulan
Februari 1947.
Fotografer: Cas Oorthuys