Anda di halaman 1dari 10

KATA PENGANTAR

Dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih lagi maha penyayang
segala puji bagi Allah yang telah memberikan taufik dan hidayahnya sehingga
penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini disusun untuk memenuhi
salah satu tugas Biologi yang diberi judul penulis:
jaringan Dewasa
Di dalam penulisan makalah ini penulis banyak memiliki kekurangan
kekurangan dan banyak hal yang kurang ternilai batasan penulis begitu pula penulis
makalah ini tak lupa mengucapkan banyak banyak terima kasih kepada yang
terhormat Bapak guru Biologi sebagai penulis mengucapkan terima kasih semoga
Allah akan memberikan balasan yang baik pula.
Saya menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari
kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Namun demikian, saya telah
berupaya dengan segala kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki sehingga
dapat selesai dengan baik dan oleh karenanya, saya dengan rendah hati dan
dengan tangan terbuka menerima masukan, saran dan usul guna penyempurnaan
makalah ini.

Malingping,

Agustus 2015

Penyusun

2. Definisi Jaringan Dewasa


Jaringan dewasa/permanen adalah jaringan yang bersifat non
maristematik yang sel-selnya tidak melakukan diferensiasi dan spesialisasi
lagi atau tidak mempunyai kemampuan totipotensi.
Kemampuan totipotensi adalah kemampuan jaringan yang sel selnya
bisa cleavage / membelah, berdefiferensiasi-spealisasi membentuk sel yang
berbeda dari yang sebelumnya.
Jaringan dewasa ini sel-selnya masih mempunyai kemampuan untuk
membelah membentuk seperti dirinya misalnya untuk regenerasi, tumbuh
namun totipotensi tidak terjadi.
Jaringan dewasa meliputi jaringan pelindung (epidermis dan jaringan
gabus), jaringan dasar (parenkim), jaringan penguat (kolenkim dan
sklerenkim), dan jaringan pengangkut (xilem dan floem).
A. Jaringan Pelindung
Tumbuh-tumbuhan memerlukan perlindungan dari semua pengaruh luar
yang merugikan pertumbuhannya,misalnya kekurangan air, kerusakan
mekanis, suhu udara yang terlalu tinggi atau rendah, kehilangan zat-zat
makanan, serta perlindungan terhadap serangan penyakit dan hama.
Jaringan pelindung pada tumbuhan berupa jaringan epidermis dan jaringan
gabus
1) Jaringan Epidermis
Jaringan epidermis merupakan jaringan terluar tumbuhan yang berasal
dari jaringan protoderma dan menutupi seluruh tubuh tumbuhan.
Jaringan epidermis biasanya terdiri dari satu lapisan sel yang masih
hidup dan terletak pada permukaan luar organ tumbuhan. Bentuk selnya
bermacam-macam dan susunannya rapat sehingga tidak terdapat ruangruang antarsel (non intercellular spaces). Vakuolanya yang besar terdapat di
bagian tengah, berisi cairan sel yang berwarna (antosianin) atau dapat pula
tidak berwarna.
Jaringan epidermis selain berfungsi sebagai jaringan pelindung juga
berfungsi sebagai tempat pertukaran zat Epidermis terdapat pada batang,
akar, dan daun. Epidermis pada permukaan daun dan batang biasanya
dilapisi semacam zat lemak yang disebut kutikula, misalnya pada daun
nangka. Sementara itu, pada daun pisang dan daun keladi, epidermisnya
membentuk lapisan lilin yang kedap air. Sebagian sel-sel epidermis dapat
berkembang menjadi alat-alat tambahan lain yang disebut derivat
epidermis, misalnya stomata dan trikomata.
Berikut adalah ciri-ciri jaringan epidermis:

Terdiri dari satu lapis yang tersusun atas sel-sel hidup dan tersusun
rapat sehingga tidak ada ruang antarsel.
Bentuk, ukuran, dan susunannya beragam. Namun umumnya
berbentuk persegi panjang.
Tidak memiliki klorofil. Kecuali pada epidermis tumbuhan paku.
Dinding sel jaringan epidermis bagian luar yang berbatasan dengan
udara mengalami penebalan, namun dinding sel epidermis bagian
dalam yang berbatasan dengan jaringan lain tetap tipis.
Dapat mengalami modifikasi membentuk derivat jaringan epidermis.

a) Stomata (Mulut Daun)


Stomata merupakan derivat jaringan epidermis pada daun. Stomata
berupa lubang-lubang yang masing-masing dibatasi oleh sel penutup, yaitu
selsel epidermis yang telah mengalami perubahan bentuk dan fungsi.
Berfungsi sebagai akses keluar masuk oksigen dan karbon dioksida.
Stomata berfungsi untuk pertukaran gas. Adapun bagian bagian
stomata sebagai berikut.
(1) Sel Penutup (Guard Cell)
Sel penutup disebut juga sel penjaga. Sel penutup terdiri dari sepasang
sel yang kelihatannya simetris dan umumnya berbentuk ginjal. Sel-sel
penutup merupakan sel-sel aktif (hidup). Pada sel-sel penutup terdapat
kloroplas.
(2) Celah (Aperture = porus)
Di antara kedua sel penutup terdapat celah (porus) yang berupa lubang
kecil. Sel penutup dapat mengatur menutup atau membukanya porus
berdasarkan perubahan osmosisnya.
(3) Sel Tetangga (Subsidiary Cell)
Sel tetangga merupakan sel-sel yang berdampingan atau yang berada di
sekitar sel-sel penutup. Sel-sel tetangga dapat terdiri dari dua buah atau
lebih yang secara khusus melangsungkan fungsinya secara berasosiasi
dengan selsel penutup.
(4) Ruang Udara Dalam (Substomata Chamber)
Ruang udara merupakan suatu ruang antarsel yang besar dan berfungsi
ganda dalam fotosintesis, transpirasi, dan juga respirasi. Keadaan keempat
bagian tersebut berbeda pada saat stomata terbuka dan tertutup.
Berdasarkan letak sel penutupnya, stomata dapat dibedakan menjadi dua
macam sebagai berikut.

(1) Stomata fanerofor, yaitu stomata yang sel-sel penutupnya terletak pada
permukaan daun (menonjol) sehingga memudahkan pengeluaran air,
misalnya pada tumbuhan hidrofit.
(2) Stomata kriptofor, yaitu stomata yang sel-sel penutupnya berada jauh
di bawah permukaan daun (tersembunyi), fungsinya untuk mengurangi
penguapan yang berlebihan. Contohnya pada tumbuhan xerofit.

Berdasarkan letak sel penutupnya, stomata dapat dibedakan menjadi


dua macam sebagai berikut.
(1) Stomata fanerofor, yaitu stomata yang sel-sel penutupnya terletak pada
permukaan daun
(menonjol) sehingga memudahkan pengeluaran air, misalnya pada
tumbuhan hidrofit.
(2) Stomata kriptofor, yaitu stomata yang sel-sel penutupnya berada jauh di
bawah permukaan daun (tersembunyi), fungsinya untuk mengurangi
penguapan yang berlebihan. Contohnya pada tumbuhan xerofit.
b) Trikomata
Trikomata merupakan derivat epidermis yang membentuk struktur
beragam seperti rambut, sisik, rambut kelenjar, tonjolan, dan lain-lain.
Trikomata terdapat hampir pada semua organ tumbuhan. Terkadang
trikomata berbentuk pendek yang tampak berupa penonjolan-penonjolan
(seperti bukit-bukit kecil) pada permukaan epidermis. Trikomata mempunyai
fungsi sebagai berikut.
(1) Memperbesar fungsi epidermis sebagai jaringan pelindung terutama
mencegah penguapan
yang berlebihan. Misalnya trikomata pada
daun, tulang daun, dan batang.
(2) Sebagai alat pengisap air dan garam-garam tanah, misalnya bulu akar.
(3) Membantu penyebaran biji dan memungkinkan biji-biji itu tumbuh.
(4) Melindungi tumbuhan dari gangguan luar. Misalnya rambut-rambut
penyengat (pneumatokist).

(5) Sebagai alat penerus rangsang yang datang dari luar. Misalnya trikomata
pada daun tembikar.
(6) Sebagai alat sekresi.
Berdasarkan ada tidaknya fungsi sekret, trikomata dapat dibedakan
menjadi dua sebagai berikut.
(1) Trikomata yang tidak menghasilkan secret (trikomata nonglandular).
Beberapa macam trikomata nonglandular sebagai berikut.
(a) Rambut bersel satu atau bersel banyak dan tidak pipih, contohnya
pada Lauraceae dan
Moraceae.
(b) Rambut sisik yang memipih dan bersel banyak, contohnya pada daun
durian (Durio zibetinus).
(c) Rambut bercabang dan bersel banyak, contohnya pada daun waru
(Hibiscus tiliaceus).
(2) Trikomata yang menghasilkan sekret (trikomata glandular). Trikomata
pada daun tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan trikomata glandular
yang sederhana, memiliki tangkai dengan kepala bersel satu atau bersel
banyak. Pada tumbuhan sering dijumpai berbagai macam trikomata
glandular, yaitu sebagai berikut.
(a) Trikomata hidatoda, terdiri dari sel tangkai dan beberapa sel kepala
dan mengeluarkan larutan. Misalnya pada keluarga keladi (Araceae).
(b) Kelenjar garam, terdiri dari sebuah sel kelenjar besar dengan tangkai
yang pendek, misalnya pada tumbuhan bakau.
(c) Kelenjar madu, berupa rambut bersel satu atau lebih dengan plasma
yang kental dan mampu mengeluarkan madu ke permukaan sel, misalnya
pada tanaman pisang.
(d) Rambut gatal, berupa sel tunggal dengan pangkal berbentuk kantung
dan ujung runcing. Isi sel menyebabkan rasa gatal. Misalnya pada rambut
sengat kemaduh (Laportea stimulans).
(c) Spina (duri). Terdapat pada beberapa jenis tumbuhan seperti mawar dan
bunga kertas.
(d) Velamen. Sering disebut epidermis ganda. Terdapat pada akar gantung.
(e) Sel kipas. Terdapat pada bagian atas permukaan daun beberapa jenis
tumbuhan. Fungsinya untuk mengurangi penguapan.
(f) Sel kersik yang menyebabkan permukaan batang tumbuhan menjadi
keras. Contohnya pada tumbuhan tebu.
2) Jaringan Gabus
Selain epidermis ada sejenis jaringan tertentu yang sifatnya lebih kuat
dari epidermis, jaringan ini dikenal sebagai jaringan gabus (cork tissue).
Perhatikan Gambar 2.8. Biasanya jaringan ini berada di bagian tepi,
meskipun tidak mutlak dan banyak terdapat pada tumbuhan yang berumur

panjang. Dalam hal ini, biasanya epidermis tumbuhan telah mati atau tidak
aktif
lagi sebelum terjadi penggabusan itu. Dengan demikian dapat dikatakan
bahwa jaringan gabus ini menggantikan fungsi epidermis. Selain itu, jaringan
gabus juga berfungsi sebagai pembatas antara jaringan-jaringan di dalam
tumbuhan. Jaringan gabus dibedakan menjadi 3 macam yaitu eksodermis,
endodermis, dan kulit gabus (peridermis).
Jika epidermis hilang atau rusak, lapisan sel di bawahnya akan berubah
menjadi jaringan pelindung dan bergabus yang mengandung suberin.
Jaringan inilah yang dinamakan eksodermis. Endodermis adalah lapisan sel
yang terdapat dalam akar yang dinding selnya bergabus. Lapisan sel ini
sering dianggap sebagai lapisan sel yang paling dalam dari korteks (kulit
kayu) atau lapisan sel paling luar dari silinder pusat (stele). Sementara itu,
kulit gabus atau peridermis mempunyai bagian-bagian sebagai berikut.
a) Felogen (cork cambium) yaitu kambium gabus yang merupakan
suatu lapisan sel meristematis.
b) Felem (cork) yaitu gabus sebagai produk dari felogen yang terbentuk
ke arah luar.
c) Feloderma yaitu suatu parenkim gabus yang dapat dikatakan hampir
homogen dengan parenkim korteks yang terbentuk ke arah dalam.
b. Jaringan Dasar (Parenkim)
Jaringan parenkim atau jaringan dasar (ground tissue) merupakan suatu
jaringan yang terbentuk dari sel-sel hidup dengan struktur morfologi serta
fisiologi yang bervariasi dan masih melakukan segala kegiatan proses
fisiologis. Disebut sebagai jaringan dasar karena hampir setiap bagian
tumbuhan mempunyai jaringan ini. Parenkim terdapat pada akar, batang,
daun, dan melingkupi jaringan lainnya, misalnya pada xilem dan floem.
Parenkim mempunyai dinding sel tipis dan jika mengalami penebalan
biasanya terdiri dari selulosa yang masih lentur. Dinding selnya jarang sekali
mengandung lignin, kecuali organ yang telah tua. Dinding sel yang telah
menebal umumnya mempunyai plasmodesmata yang dapat membantu
kelancaran pertukaran zat. Jaringan parenkim mempunyai sel-sel yang masih
hidup. Di bagian tengah ruang selnya terdapat sentra vakuola besar berisi
zat-zat makanan cadangan. Dalam protoplasma biasanya terdapat plastida
baik leukoplas, kloroplas, maupun kromoplas. Di antara sel-sel parenkim,
terdapat ruang antarsel (intercellular spaces) yang berperan dalam
pertukaran atau peredaran gas-gas. Kebanyakan sel parenkim berbentuk
segi banyak (polihedral).

Selain sebagai jaringan dasar, jaringan parenkim juga berfungsi sebagai


jaringan penghasil dan penyimpan cadangan makanan. Parenkim penghasil
makanan adalah parenkim yang digunakan sebagai tempat fotosintesis,
misalnya pada mesofil daun. Hasil-hasil fotosintesis akan disimpan dalam
parenkim. Parenkim batang dan akar pada beberapa tumbuhan berfungsi
untuk Penyimpan pati sebagai cadangan makanan, misalnya pada ubi jalar
(Ipomea batatas). Selain itu, epidermis juga berfungsi sebagai penyokong
tubuh apabila vakuolanya berisi air, seperti pada tumbuhan lunak (bayam).
Terdapat berbagai macam jaringan parenkim antara lain parenkim
asimilasi, parenkim makanan, parenkim air, parenkim udara, dan parenkim
pengangkut.
1) Parenkim asimilasi terdiri dari sel-sel yang mengandung banyak plastida
kloroplas sehingga disebut juga klorenkim, misalnya pada daun. Parenkim ini
bermanfaat bagi berlangsungnya fotosintesis (sintesis karbohidrat).
2) Parenkim makanan mengandung plastida amiloplasyang berfungsi
sebagai tempat penyimpanan makanan cadangan, misalnya pada akar,
umbi, umbi lapis, dan akar rimpang.
3) Parenkim air digunakan sebagai jaringan penyimpan air, di mana air ini
terikat dalam vakuola dari selselnya secara aktif, misalnya pada batang yang
bersifat succulent (mampu menyimpan air dalam jaringan sehingga tampak
berdaging) seperti pada tumbuhan kaktus.
4) Parenkim udara mempunyai ruang-ruang antarsel yang cukup besar dan
di dalamnya terdapat udara, misalnya pada alat pengapung tumbuhan dan
tangkai daun Canna sp.
5) Parenkim pengangkut terdiri atas sel-sel memanjang dengan letak
menurut arah pengangkutan, misalnya pada xilem dan floem.
c. Jaringan Penguat
Di dalam tubuh tumbuhan diperlukan adanya jaringan penguat untuk
memperkokoh tubuh. Oleh karena itu, tumbuhan memerlukan jaringan
penguat atau penunjang yang disebut juga jaringan mekanik. Jaringan
mekanik ini umumnya terdiri dari sel-sel berdinding tebal serta mengandung
lignin dan zat-zat lainnya. Zat-zat tersebut memberi sifat keras pada dinding
selnya. Berdasarkan bentuk dan sifatnya, jaringan mekanik dibagi atas
kolenkim dan sklerenkim.
1) Jaringan Kolenkim
Jaringan ini menjadi penguat utama organ-organ tumbuhan yang masih
aktif mengadakan pertumbuhan dan perkembangan. Kolenkim merupakan
jaringan homogen yang tersusun atas sel-sel kolenkim. Kolenkim umumnya
terletak di bawah epidermis batang, tangkai daun, tangkai bunga, dan ibu
tulang daun. Kolenkim jarang terdapat pada akar. Sel kolenkim biasanya
memanjang sejajar dengan pusat organ tempat kolenkim itu terdapat.

Dinding sel kolenkim tidak mengandung lignin, tetapi mengandung


selulosa, pektin, dan hemiselulosa. Adakalanya dalam sel kolenkim terdapat
kloroplas sehingga juga berfungsi dalam fotosintesis.
Sel-sel kolenkim biasanya mengalami penebalan setempat pada dinding
selnya. Berdasarkan letak dan bentuk penebalan, kolenkim dibedakan
menjadi tiga macam yaitu kolenkim angular, kolenkim lamellar, dan
kolenkim lacunate. Kolenkim angular (sudut) mengalami penebalan pada
bagian-bagian sudutnya. Kolenkim lamellar (papan) mengalami penebalan
pada dinding dinding sel yang tangensial saja. Sementara itu, kolenkim
lacunate (lakuna) mengalami penebalan pada permukaan ruang antarsel.
2) Jaringan Sklerenkim
Jaringan ini juga merupakan jaringan penguat, tetapi hanya terdapat
pada jaringan tumbuhan yang tidak lagi mengadakan pertumbuhan dan
perkembangan. Jaringan sklerenkim terdiri atas sel-sel mati. Dinding selnya
sangat tebal dan kuat karena mengandung lignin (komponen utama kayu).
Dinding selnya mengalami penebalan primer dan penebalan sekunder oleh
zat lignin.
Berdasarkan bentuknya, sklerenkim dibagi menjadi dua, yaitu serabut
sklerenkim yang terbentuk seperti benang panjang, dan sklereid (sel batu).
Sklereid terdapat pada berkas pengangkut, di antara sel-sel parenkim,
korteks batang, tangkai daun, akar, buah, dan biji. Sklerenkim berfungsi
menguatkan bagian tumbuhan yang sudah dewasa. Sklerenkim juga
berfungsi untuk melindungi bagian-bagian lunak yang berada di bagian lebih
dalam misalnya pada kulit biji jarak, tempurung kelapa, dan buah kenari.
d. Jaringan Pengangkut
Jaringan pengangkut berfungsi untuk mengangkut zatzat mineral
(unsur hara dan air) yang diserap oleh akar dari tanah. Selain itu, jaringan
pengangkut juga sebagai pengangkut zat-zat makanan hasil fotosintesis
untuk disalurkan ke bagian-bagian lain. Berdasarkan bentuk dan sifatnya,
jaringan ini dibedakan menjadi jaringan floem dan jaringan xilem.
1) Floem
Floem berfungsi mengangkut dan mengedarkan zatzat makanan hasil
fotosintesis dari daun ke seluruh bagian tumbuhan. Floem tersusun atas selsel yang masih aktif atau hidup dan yang telah mati. Floem merupakan
suatu jaringan dewasa yang kompleks. Pelaksanaan fungsi floem didukung
oleh sel-sel penyusunnya. Floem terdiri dari beberapa sel atau unsur yaitu
unsur-unsur kibral, sel pengantar, sel albumen, parenkim floem, dan seratserat floem. Unsur-unsur kibral atau tapis terdiri atas dua macam, yaitu selsel tapis dan komponen buluh tapis. Sel-sel penyusun buluh tapis
mempunyai dinding melintang yang berfungsi sebagai sekat-sekat.
Sekatsekat ini mempunyai pori-pori dan berfungsi sebagai tapisan atau
saringan.

Parenkim floem merupakan jaringan parenkim yang terdapat di bagian


pembuluh tapis (floem). Pada bagian ini terdapat sel-sel pengantar dan selsel albumen. Sel albumen merupakan sel jari-jari empulur dan sel-sel
parenkim pembuluh tapis. Sel-sel ini kaya akan zat putih telur. Jaringan
parenkim pada floem terdiri dari sel-sel yang masih hidup dan melakukan
kegiatan-kegiatan tertentu. Parenkim floem berfungsi untuk menyimpan zatzat tepung, lemak, dan zat organik lainnya serta merupakan tempat
akumulasi beberapa zat, misalnya tanin dan resin.
Sel pengantar atau pengiring terdiri dari sel-sel masih hidup dan bersifat
meristematis. Fungsi sel-sel pengantar belum diketahui secara pasti. Namun,
diperkirakan bahwa sel pengantar berfungsi sebagai pembawa hormonhormon bagi penyembuhan luka dan menyalurkan zat-zat makanan bagi selsel tapis.
Serat-serat floem terdiri atas floem primer maupun sekunder. Floem
primer terbentuk dalam organ-organ tumbuhan yang masih mengadakan
pertumbuhan memanjang. Adapun serat-serat floem sekunder terbentuk dari
sel-sel kambium.
2) Xilem
Jaringan xilem merupakan jaringan dewasa yang kompleks dan tersusun
dari berbagai macam sel. Pada umumnya, sel-sel penyusun xilem telah mati
dengan dinding sel yang tebal dan mengandung lignin. Xilem berfungsi
mengangkut air dan zat-zat mineral (hara) dari akar ke daun serta sebagai
jaringan penguat. Xilem terdiri atas beberapa unsur atau sel-sel yaitu unsur
trakeal (trakea dan trakeida), serat xilem, dan parenkim xilem.
Trakea merupakan bagian terpenting pada xylem tumbuhan bunga
(Anthophyta). Trakea tersusun atas tabung-tabung yang berdinding tebal
karena adanya lapisan selulosa sekunder dan diperkuat lignin sebagaibahan
pengikat. Lubang atau noktah yang terdapat diujung-ujung sel trakea disebut
perforasi. Trakea hanya terdapat pada Angiospermae (tumbuhan berbiji
tertutup) dan tidak terdapat pada Gymnospermae (tumbuhan berbiji
terbuka), kecuali anggota Gnetaceae (golonganbelinjo).
Trakeida mempunyai diameter lebih kecil dibandingkan trakea,
walaupun dinding selnya juga tebal dan berkayu. Rata-rata diameter trakeida
30 milimeter dan panjangnya beberapa milimeter. Trakeida terdapat pada
semua tumbuhan Spermatophyta (tumbuhan berbiji). Pada ujung sel trakeida
terdapat lubang seperti saringan.
Pada batang anggota tumbuhan Dicotyledoneae, jika dilihat dari arah
luar letak xilem berada Pada bagian dalam sesudah kambium. Sementara
itu pada akar, xilem terletak di tengah dan berbentuk menjari dikelilingi
floem. Pada akar Monocotyledoneae, letak xylem berdampingan dengan
floem dan xilem di sebelah luar. Antara xilem dan floem tidak dibatasi oleh
kambium.

Anda telah mengetahui struktur serta fungsi xilem dan floem. Xilem dan
floem tersusun atas unsur-unsur yang berbeda-beda. Lakukan kegiatan
berikut agar Anda dapat membandingkan unsur-unsur penyusun xilem dan
floem.

PENUTUP

2.1 Kesimpulan