Anda di halaman 1dari 9

PENGARUH TRANSPORTASI DALAM KEHIDUPAN MANUSIA

TRANSPORTASI YANG SEHAT UNTUK


LINGKUNGAN

DISUSUN OLEH:

ANANDA INSAN F. (0710610018)

CHOERUR ROBACH (0710610026)

FAKULTAS TEKNIK JURUSAN SIPIL


UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
Bab I Pendahuluan
Setiap hari manusia melakukan berbagai aktivitas, seperti makan, minum, tidur dan
bergerak. Manusia bergerak bertujuan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Dalam
pergerakannya, manusia membutuhkan alat bantu yang dinamakan alat transportasi, yang
memungkinkan manusia menempuh jarak yang jauh dalam waktu yang singkat. Dewasa ini,
alat transportasi sudah mengalami kemajuan yang pesat seiring dengan berkembangnya
teknologi. Teknologi yang maju ini bahkan memungkinkan manusia untuk melakukan
perjalanan keluar dari atmosfir bumi dan menjelajahi ruang angkasa. Bahkan baru-baru ini
RRC(negeri China) tengah mengembangkan stasiun luar angkasa pertama.

Majunya teknologi saat ini tentunya juga akan membawa dampak yang negatif bagi
lingkungan. Yang marak dibicarakan dunia saat ini adalah isu perubahan iklim(climate
change) akibat pemanasan global. Pemanasan global terjadi karena gas buangan seperti
karbon monoksida(CO), karbon dioksida(CO2), sulfur dioksida (SO2), nitrogen dioksida dan
gas-gas lain yang berbahaya. Secara statistik, Negara kita memberikan sumbangan polutan
yang cukup tinggi mengingat Negara kita adalah Negara berkembang. Sementara peyumbang
terbesar gas-gas polutan ini adalah Negara-negara maju karena aktivitas- aktivitas
perindustrian dan transportasi yang secara umum lebih tinggi daripada Negara-negara
berkembang. Aktivitas- aktivitas ini akan memberikan polutan berupa asap yang sangat
mengganggu pernafasan dan dalam jangka panjang dapat menyebabkan penyakit gangguan
pernafasan seperti asma, bronchitis dan lain-lain.

Negara kita, Indonesia sebagai Negara berkembang tentunya tidak bisa hanya tinggal
diam dengan isu perubahan iklim ini. Setiap hari di negeri kita, ada begitu banyak aktivitas
yang tentunya memberikan kontribusi pada pemanasan global ini, yang secara garis besar
dikelompokkan menjadi aktivitas industri dan transportasi. Yang akan kita bahas disini adalah
aktivitas transportasi dan dampak yang ditimbulkan, serta bagaimana menciptakan
transportasi yang sehat untuk lingkungan.
Bab II Data dan Analisis
Transportasi di Negara kita mengalami perkembangan dari tahun ke tahun. Seiring
dengan perkembangan ini, kadar polusi juga ikut meningkat. Berikut ini akan disajikan data
transportasi di negeri kita berupa jumlah kendaraan dari tahun 1990-1999, sumber dan standar
kesehatan emisi gas buang, perkiraan emisi gas buang dari berbagai kendaraan bermotor di
daerah JABOTABEK sebagai sampel dan dampak yang ditimbulkan oleh gas buang itu pada
makhluk hidup.
Pertumbuhan jumlah kendaraan bermotor yang terjadi di kota-kota besar mencapai
8-12% per tahun. Dimana data mengenai pertumbuhan dari berbagai jenis kendaraan dari
tahun 1990 hingga tahun 1999
Tabel I.Jumlah kendaraan di Indonesia mulai tahun 1990-1999
(Tidak termasuk kendaraan ABRI dan CD )

Bisa kita lihat bahwa jumlah kendaraan senantiasa meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah ini
meningkat seiring dengan pertumbuhan penduduk yang tinggi dan kebutuhan akan
transportasi yang kian meningkat Sehingga faktor jumlah kendaraan memegang peranan yang
cukup besar dalm hal polusi udara.
Jenis parameter pencemar udara didasarkan pada baku mutu udara ambien menurut
Peraturan Pemerintah Nomor 41 tahun 1999
Tabel II. Sumber dan Standar Kesehatan Emisi Gas Buang

Pencemar Sumber Keterangan


Karbon Monoksida ( CO ) Buangan Kendaraan Standar Kesehatan : 10 mg/
Bermotor, Beberapa proses m3 ( 9 ppm )
industri
Sulfur Dioksida ( SO2 ) Panas dan Fasilitas Standar Kesehatan : 80 ug/m3
Pembangkit Listrik ( 0,03 ppm )
Partikullat Matter Buangan Kendaraan Standar Kesehatan : 50 ug/m3
Bermotor, Beberapa proses selama 1 tahun ; 150 ug/m3
industri
Nitrogen Dioksida ( NO2 ) Buangan Kendaraan Standar Kesehatan : 100 ug/
Bermotor, Panas dan Fasilitas m3 ( 0,05 ppm) selama 1
tahun
Ozon ( O3 ) Terbentuk di Atmosfir Standar Kesehatan : 235 ug/
m3 ( 0,12 ppm) selama 1
tahun
yang menjadi masalah dalam pencemaran udara adalah emisi kendaraan bermotor dimana
sebagian besar kendaraan bermotor ini menggunakan bahan bakar minyak (BBM) berupa
Premix, Premium atau Solar yang mengandung timah hitam (Leaded) berperan sebagai
penyumbang polusi cukup besar terhadap kualitas udara dan kesehatan. Dengan emisi yang
dihasilkan masing-masing kendaraan pada daerah Jabotabek adalah :

Tabel. III
Perkiraan Emisi Gas Buang Dari Berbagai Kendaraan Bermotor di JABOTABEK

Dari table di atas, kita tahu bahwa polutan terbesar adalah karbon monoksida, dan peyumbang
terbanyak gas ini adalah kendaraan penumpang, disusul sepeda motor dan van. Di Negara
berkembang seperti Indonesia, sepeda motor menjadi andalan karena selain harganya yang
cukup terjangkau, perawatannya juga mudah. Akan tetapi, penggunaan sepeda motor
sebenarnya tidak efektif dan mahal dalam hal operasional jika dibandingkan dengan
kendaraan umum. Di Negara-negara maju seperti Jepang, kendaraan umum menjadi prioritas,
karena selain murah, juga bagus dalam hal pelayanan.
Tingkat pencemaran yang tinggi akan memberikan pengaruh yang besar terhadap kerusakan
lingkungan. Dampak yang timbul dapat berupa dampak dalam jangka pendek dan jangka
panjang. Dampak jangka pendek merupakan dampak yang timbul akibat gangguan sementara
dan langsung hilang jika gangguan itu dihilangkan. Sedangkan dampak jangka panjang
merupakan dampak yang timbul akibat akumulasi dari gangguan-gangguan dan baru terasa
akibatnya dalam rentan waktu yang cukup lama serta tidak dapat langsung hilang dengan
menghilangkan gangguan.

Tabel IV. Indeks Standar Pencemaran Udara

Setiap mahluk hidup membutuhkan udara untuk bernafas. Udara yang bersih akan berdampak
pada kesehatan mahluk hidup itu. Tingkat polusi di bumi ini sudah cukup besar sehingga
akibatnya mulai dapat kita rasakan. Banyak penyakit yang muncul akibat pencemaran udara
ini, seperti ganguan pernafasan pada manusia dan hewan, dan kerusakan sel pada beberapa
tanaman. Jika ini dibiarkan terus, dalam beberapa tahun ke depan, mungkin kita sudah tidak
bisa lagi menikmati segarnya udara akibat tingginya pencemaran.
Bab III Pembahasan

Pengaruh Zat Hasil Bakar terhadap Makhluk Hidup

C.1. SULFUR DIOKSIDA

C.2. CARBON MONOKSIDA

C.3. NITROGEN DIOKSIDA

C.4. OZON

C.5. HIDROKARBON

C.6. KHLORIN

C.7. PARTIKEL DEBU

C.8. TIMAH HITAM

Menciptakan transportasi yang sehat untuk lingkungan

Pengurangan Dampak Lingkungan

1. Bahan bakar yang ramah lingkungan

Bahan bakar berbasis fosil yang pada umumnya digunakan dalam aktivitas
transportasi tidaklah ramah terhadaap lingkungan, sebagai akibatnya terjadi emisi
pencemaran udara yang cukup berarti dari proses pembakaran yang terjadi. Hal lain
yang sangat berarti adalah terdapatnya kandungan timbal (Pb) dalam bahan bakar fosil
yang digunakan, sedangkan bahan bakar ini

2. Pengendalian gas buang

Emisi pencemar udara dapat diturunkan dengan diterapkannya pengendali gas buang di
kendaraan bermotor. Jenis alat pengendali yang dapat digunakan adalah pembakaran
akhir (after burner), serta catalytic converter dengan persyaratan bahan bakar yang
digunakan tidak boleh mengandung timbal (Pb).

3. Sistem transportasi masal


Untuk mengatasi jumlah penumpang dan mobilitas yang tinggi, perlu adanya sistem
transportasi masal baik berbasis jalan raya maupun non-jalan raya. Sistem transportasi
masal yang saat ini ada di Indonesia meliputi angkutan umum perkotaan dan pedesaan,
bis umum, kereta api, serta jenis angkutan berbasis air dan udara.

4. Usaha pemerintah
Beberapa usaha pemerintah untuk mengurangi tingkat pencemaran udara terutama di
kota-kota besar antara lain:

1. Pemberi insentif bagi kendaraan bermotor yang memakai bahan bakar gas:

a. Keringanan pajak kendaraan bermotor yang menggunakan bahan bakar gas berupa
PBBKB (Pajak Bahan Bakar Kendaran Bermotor). Ref. PERPU. No.21 tahun 1997.

b. Pemberian keringanan pajak untuk bea-impor conversion kit, sehingga harga jualnya
dapat ditekan dan terjangkau oleh masyarakat.

c. Peraturan pemerintah yang mewajibkan kepada Agen Tunggal Pemegang Merk


(ATPM) untuk memasang Catalytic Converter pada setiap kendaraan baru yang sudah
diproduksi.

2. Pembuatan Bahan Bakar Nabati (BBN)


Kebijakan pemerintah untuk percepatan pembuatan BBN antara lain:

a. Peraturan Pemerintah (PP) No.5 tahun 2006 tentang kebijakan energi nasional.

b. Instruksi Presiden (Inpres) No.1 tahun 2006 tentang penyediaan dan pemanfaatan
BBN.

c. Keputusan Presiden (Keppres) No.10 tahun 2006 tentang Tim Nasional


pengembangan BBN untuk percepatan pengurangan kemiskinan dan pengangguran.

Solusi BBN untuk transportasi adalah sebagai pengganti/subtitusi solar atau bensin. Untuk
solar digunakan bio-diesel, sedangkan untuk bensin digunakan bio-ethanol. Bio-diesel
merupakan bentuk ester dari minyak nabati (sawit, minyak kelapa, jarak pagar,dll).
Sedangkan bio-ethanol merupakan anhydrous alkohol berasal dari fermentasi tetes/nira
tebu, singkong, jagung atau sagu.
Tabel VI. Perbandingan minyak jarak (BBN) dengan minyak diesel (BBM)

Blending 10% (B10) adalah bahan bakar dengan komposisi 10% minyak nabati dan 90%
minyak solar. B10 jauh lebih ramah lingkungan dan memiliki nilai cetane lebih tinggi. Angka
cetane B10 sekitar 64 sehingga membuat tarikan mesin kendaraan jauh lebih tinggi
dibandingkan solar biasa. Sementara nilai opasitas (kadar asap) turun antara 10-20 persen.
Penurunan juga terjadi pada kandungan sulfur pada biodiesel hasil pencampuran tersebut.
(Sumber: SUARA PEMBARUAN DAILY, 28/9/04)
3. Keputusan Gubernur Propinsi DKI Jakarta Nomor 95 Tahun 2000 Tentang Pemeriksaan
Emisi Dan Perawatan Mobil Penumpang Pribadi di Propinsi DKI Jakarta
Bab IV Kesimpulan
Dampak transportasi terhadap lingkungan terlihat sebagai sutau hal yang negatif,
paling tidak apabila kita bandingkan secara relatif dengan dampaknya terhadap ekonomi dan
sosial. Yang terpenting adalah bagaimana peran kita untuk menciptakan sistem transportasi
yang berkelanjutan dan ramah lingkungan sehingga dapat dimanafaatkan oleh generasi
mendatang.