Anda di halaman 1dari 26

5.1.

KONSEP PENDEKATAN PELAKSANAN PEKERJAAN


Pendekatan yang digunakan dalam penyusunan Rencana Pembangunan dan
Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP) antara lain:
1. Pendekatan

normatif,

merupakan

pendekatan

yang

digunakan

untuk

merumuskan suatu kebijakan, strategi dan program berdasarkan data dan


informasi

yang

tersedia

serta

mengacu

pada

produk

peraturan

dan

perundangan yang terkait dengan substansi penyusunan RP3KP dengan


tujuan sebagai dokumen acuan dalam perencanaan, pemrograman dan
penganggaran pembangunan permukiman berkelanjutan baik di perkotaan
dan perdesaan.
2. Pendekatan fasiliatif dan partisipatif digunakan sebagai pertimbangan bahwa
proses

penyusunan

dilakukan

dengan

melibatkan

seluruh

pemangku

kepentingan yang terkait dengan pengembangan permukiman baik di tingkat


nasional, provinsi dan kabupaten/ kota.
3. Pendekatan teknis akademis adalah

pendekatan

yang

menggunakan

metodologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademis, baik dalam


pembagian

tahapan

pekerjaan

maupun

proses

penyusunan

RP3KP

menggunakan beberapa metode dan teknis studi yang baku yang sebelumnya
telah disepakati bersama oleh tim kerja, dan tim pemberi kerja.
Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan Dan Pengembangan
Perumahan Dan Kawasan Permukiman (RP3KP) Kabupaten Batang ini
meliputi 3 kegiatan yaitu: kompilasi data, analisis dan penyusunan database
serta naskah akademis. Kegiatan-kegiatan tersebut akan dilaksanakan dengan
prinsip-prinsip

yang

spesifik

sesuai

dengan

tuntutan

dan

perkembangan

masyarakat yang terjadi. Beberapa prinsip-prinsip ini harus menjadi dasar


penting dalam setiap tahapan dan komponen pekerjaan. Beberapa prinsip
tersebut adalah:

5-1

1. Pemberdayaan masyarakat; yaitu membangun masyarakat dari dalam

(self

development)

permukiman

di

agar

mengenali

daerahnya

permasalahan

masing-masing.

Dalam

perumahan
hal

ini

dan

adalah

pemberdayaan tim Pokjanis (Kelompok Kerja Teknis) yang terdiri dari


kumpulan para stakeholder yang terkait dengan bidang perumahan dan
permukiman.
2. Partisipatif; yaitu selama kegiatan pendataan, serta dalam penyusunan

database perumahan dan permukiman melibatkan secara aktif dari para


Pokjanis.
3. Advokatif; yaitu selalu siap memberikan pendampingan dan arahan strategi

pada

berbagai

permasalahan

yang

mungkin

timbul

selama

kegiatan

penyusunan RP3KP berlangsung. Agar proses penyusunan RP3KP berjalan


dengan lancar dan tetap mengarah pada tujuan serta sesuai dengan
pedoman yang berlaku.
4. Efektif; yaitu kegiatan sosialisasi dan pelatihan RP3KP berlangsung sesuai

dengan pedoman, ditujukan kepada stakeholder perumahan dan permukiman,


mempunyai manfaat yang luas, berdaya guna serta berhasil guna. Utamanya
dapat mendorong kepedulian para stakeholder untuk dapat mengenali dan
memahami pentingnya perencanaan di bidang perumahan dan permukiman
sehingga secara bersama-sama dapat disusun suatu perencanaan perumahan
dan permukiman yang baik.
5. Efisien; Kegiatan harus berlangsung sesuai dengan jadwal kegiatan, tidak

boros sumber daya, mudah, murah, cepat namun tetap berkualitas.


6. Transparan; informasi tentang pelaksanaan pekerjaan terbuka dan mudah

dipahami oleh semua pihak yang terlibat.


7. Akuntabel; hasil pelaksanaan dapat dipertanggungjawabkan secara kualitas

dan kuantitas kepada semua pihak, terutama pemberi pekerjaan (bowhir).

5.2. KERANGKA PEMIKIRAN


Pemikiran mendasar dalam penyusunan RP3KP Kabupaten Batang, seperti
yang telah dibahas sebelumnya, pada awalnya mengacu pada kerangka
pemikiran dalam penyusunan RP3KP secara umum. Berdasarkan kerangka
pemikiran tersebut disesuaikan dengan kondisi yang terkait baik secara
langsung maupun tidak langsung dengan perumahan dan permukiman yang ada

5-2

di Kabupaten Batang. Hal tersebut dimaksudkan supaya pemikiran yang ada


lebih bersifat tepat sasaran dan kontekstual di wilayah perencanaan, yaitu
dalam hal ini adalah Kabupaten Batang.
Penyusunan RP3KP Secara Keseluruhan
Tahapan

awal

yang

dilakukan

dalam

penyusunan

RP3KP

adalah

menetapkan visi dan misi perumahan dan permukiman yang sebelumnya


dilakukan tinjauan terhadap visi/misi Kabupaten dan visi/misi perumahan dan
permukiman. Selain itu juga dilakukan tinjauan terhadap tujuan dan sasaran
perumahan

dan

permukiman

Kabupaten

serta

landasan

hukum

dan

operasionalnya.
Tahapan berikutnya adalah melakukan pendataan yang terdiri dari 2 (dua)
kelompok, yaitu: kondisi perumahan dan permukiman serta inventarisasi dan
pencatatan ulang. Data mengenai kondisi perumahan dan permukiman terbagi
kedalam: stok perumahan dan permukiman, luasan dan sebaran perumahan dan
permukiman serta layanan prasarana dan sarana. Sedangkan inventarisasi dan
pencatatan ulang bersumber dari: RTRW Kabupaten, rencana pembangunan
perumahan

oleh

pengembang,

rencana

pembangunan

perumahan

oleh

masyarakat dan eksisting lahan untuk perumahan dan permukiman. Pada


tahapan ini diperlukan peran serta dari Pokjanis untuk membantu dalam
pengumpulan data. Hasil akhir yang diperoleh dari penyusunan naskah
akademis ini adalah pokok-pokok permasalahan perumahan dan permukiman.
Permasalahan perumahan dan permukiman tersebut terdiri dari 3 (tiga)
bahasan, yaitu: permasalahan yang penting dan genting, permasalahan yang
perlu diantisipasi melalui Peraturan Perundangan dan permasalahan yang dapat
diselenggarakan secara bertahap.
Tersusunnya database perumahan dan permukiman memerlukan tindak
lanjut berupa penyusunan naskah akademis. Analisis yang dilakukan dalam
menyusun naskah akademis adalah proyeksi dan prediksi, yang meliputi:
kependudukan,

kebutuhan

rumah,

ketersediaan

lahan,

serta

kebutuhan

prasarana dan sarana. Selain itu juga dilakukan analisis mengenai arah
pengembangan fisik dan fungsi perumahan dan permukiman. Output dari
analisis

diatas

menjadi

input

dalam

menyusun

konsepsi

pembangunan

perumahan dan permukiman yang didalamnya memuat tentang alokasi ruang,


kebijakan dan strategi, rumusan skala prioritas, strategi pelayanan masyarakat,
kebijakan pembiayaan dan kelembagaan.

5-3

Konsepsi yang telah tersusun dari kegiatan diatas selanjutnya ditetapkan


target dan sasaran perumahan dan permukiman yang meliputi: rencana
pengembangan

kawasan

perumahan

dan

permukiman

baru,

rencana

peningkatan kualitas perumahan dan permukiman, serta rencana penanganan


permukiman dan perdesaan. Tahapan yang dilakukan setelah melakukan
kegiatan perencanaan aiatas adalah menetapkan pengembangan kelembagaan
pembiayaan
pembangunan
perundangan,

perumahan

dan

perumahan
pembinaan

permukiman,

dan

pengembangan

permukiman,

terhadap

jasa

tata

pengembangan

pembangunan

laksana
peraturan

perumahan

dan

permukiman. Proses legalisasi merupakan tahap akhir dalam RP3KP setelah


seluruh rangkaian kegiatan dilakukan sepenuhnya dengan tanpa meninggalkan
peran serta dari POKJANIS setempat.

Penyusunan RP3KP Kabupaten Batang


Kegiatan penyusuna RP3KP Kabupaten Batang diawali dengan melakukan
persiapan, yaitu berupa:
-

Melakukan tinjauan terhadap berbagai dasar hukum atau kebijakan tata


ruang, seperti: RTRWP Jawa Tengah, RTRW Kabupaten Batang, Renstra,
Undang-undang Nomor 1 Tahun 2011 tentang Perumahan dan Kawasan
Permukiman, Undang-undang Nomor 26 Tahun 2007 tentang Penataan
Ruang, Undang-undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah,
dan Undang-undang Nomor 33 Tahun 2004 tentang Perimbangan Keuangan
Antara Pusat dan Daerah, serta peraturan perundangan lainnya yang terkait.

Mempersiapkan segala kelengkapan administrasi, memobilisasi tim dan


tenaga ahli, mempersiapkan bahan dan peralatan, mempersiapkan studistudi penunjang kegiatan yang berkaitan, menginventarisasi peta dan datadata sekunder yang dibutuhkan dan yang tidak kalah penting adalah
menyusun rencana dan jadwal kerja.
Kegiatan

selanjutnya

adalah

melakukan

kompilasi

data.

Data

dapat

diperoleh bersumber dari: masukan dan saran tim teknis/narasumber di daerah,


menginventarisasi kondisi lapangan dengan menggunakan foto, peta atau
dengan citra satelit. Data data yang telah terkumpul diatas dalam rangka
untuk mendapatkan berbagai potensi dan permasalahan perumahan dan

5-4

permukiman. Selain data - data sekunder diatas, data primer juga diperoleh
melalui kegiatan dialog dengan stakeholder di daerah (FGD).
Kelengkapan data data yang terkumpul akan memudahkan dalam
melakukan analisis, yaitu analisis tentang: kependudukan, kebutuhan ruang
kawasan, pengembangan kawasan permukiman baru, peningkatan kualitas
permukiman, pengembangan kawasan yang bercirikan perdesaan, kebutuhan
fasilitas

dan

prasarana,

kelembagaan

dan

pembiayaan

pembangunan

perumahan dan permukiman.


Draft RP3KP Kabupaten Batang dapat disusun setelah rangkaian berbagai
analisis diatas selesai dilakukan. Draft RP3KP Kabupaten Batang meliputi:
-

Rencana pengembangan kawasan perumahan dan permukiman baru, yang


terdiri dari:
o Rencana daya tampung penduduk dan kebutuhan ruang;
o Rencana penyediaan rumah;
o Rencana lokasi pembangunan perumahan baru;
o Strategi penanganan pembangunan kawasan permukiman.

Rencana peningkatan kualitas kawasan perumahan dan permukiman, yang


terdiri dari:
o Rencana lokasi peningkatan kualitas perumahan dan permukiman;
o Rencana jenis - jenis program peningkatan kualitas perumahan dan
permukiman;
o Rencana penanganan kawasan perumahan dan permukiman;
o Strategi penanganan peningkatan kualitas perumahan dan permukiman.

Rencana penanganan kawasan permukiman yang bercirikan perdesaan, yang


terdiri dari:
o Penetapan orde kawasan;
o Rencana lokasi kawasan perumahan dan permukiman;
o Strategi penanganan permukiman perdesaan;

Rencana

pengembangan

kelembagaan

pembangunan

perumahan

permukiman;

5-5

dan

Database perumahan dan permukiman.

5-6

Gambar 5.1.
Tahapan Penyusunan RP3KP Kabupaten Batang

5.3. PENDEKATAN PENYUSUNAN RP3KP


Penyusunan RP3KP Kabupaten Batang menggunakan pendekatan dan
metode seperti yang dijelaskan dibawah ini.
5.3.1.Pendekatan Penyusunan
Untuk melaksanakan pekerjaan ini, agar sesuai dengan tujuan dan sasaran
pekerjaan,

yang

dapat

mempertimbangkan

menghasilkan

keluaran

pendekatan-pendekatan

yang

yang

tepat,

akan

dan

dengan

digunakan,

maka

strategi pelaksanaan pekerjaan yang akan digunakan adalah sebagai berikut:


1. Pendekatan Komprehensif
RP3KP sebagai arahan bagi pembangunan dan pengembangan perumahan
dan permukiman tentunya harus mampu menjembatani kebijakan-kebijakan
yang ada dibawahnya, sehingga strategi pelaksanaan pekerjaannya harus
bersifat komprehensif. Hal lain yang mendasari adalah kompleksitasnya
permasalahan
pelaksanaan

perumahan
pekerjaan

dan

adalah

permukiman.
dengan

Secara

umum

mempertimbangkan

strategi
sebanyak

mungkin komponen-komponen yang harus dipertimbangkan sebagai materi


di dalam pedoman pelaksanaan, tetapi juga harus tetap mempertimbangkan
sifat

teknis,

praktis,

ekonomis

dan

kontekstual

terhadap

kawasan

permukiman di wilayah perencanaan.


2. Pendekatan Fleksibilitas
Adanya kompleksitas permasalahan di bidang perumahan dan permukiman
menuntut adanya pemecahan permasalahan yang arif dan bijaksana yang
mampu

mengakomodasikan

fleksibilitas

dimasukkan

pekerjaan,

mengingat

ke

seluruh
dalam

bahwa

kepentingan.
strategi

inovasi

dan

Oleh

pendekatan
kreativitas

karena

itu,

pelaksanaan
harus

tetap

dipertimbangkan di dalam setiap pelaksanaan pemecahan masalah di


lapangan. Meskipun demikian, fleksibilitas yang dimaksud disini bukan
7

5-

flesibilitas total, tetapi masih dalam lingkup maksud dan tujuan disusunnya
pedoman pelaksanaan.
3. On the Spot Strategy (Pengamatan langsung di lapangan)
Pendekatan dengan melakukan pengamatan langsung di lapangan untuk
mendapatkan data-data yang empiris seakurat mungkin. Pendekatan secara
langsung tersebut dapat berupa pengamatan visual maupun wawancara
dengan narasumber.
4. Pendekatan Referensif (literature)
Pendekatan melalui sumber-sumber dari referensif/literatur dimaksudkan
untuk mendapatkan data yang berupa arahan kebijaksanaan, pedoman
pelaksanaan, informasi yuridis dan lain-lain yang bersifat mendukung
terhadap pengamatan di lapangan. Pendekatan referensif tersebut dapat juga
digunakan untuk mendapatkan acuan teori-teori ilmiah yang berdasarkan
pemikiran para ahli.
5. Pendekatan Partisipatif
Pendekatan partisipatif dalam hal penyusunan database sangat diperlukan
terutama kaitannya dengan pelibatan POKJANIS dalam membantu dengan
cara diskusi dalam pemberian informasin tentang potensi dan masalah
perumahan dan permukiman, mewakili aspirasi masyarakat dan memberi
masa untuk skenario arah perencanaan. Dengan pendekatan semacam ini
diharapkan akan dapat menghimpun sumberdaya, merencanakan serta
melaksanakan kegiatan dan proyek dalam upaya mengidentifikasi keadaan
sosial, ekonomi dan lingkungan serta permasalahannya.

6. Pendekatan GIS (Geography Information System)


GIS merupakan suatu sistem terorganisir meliputi hardware, software, data
geografis, dan personil yang ditujukan untuk pengumpulan, penyimpanan,
pemutakhiran,

manipulasi,

analisa,

dan

display

dari

berbagai

bentuk

informasi berbasis geografis. Penggunaan GIS memudahkan dan memadukan


antar database informasi perumahan dan permukiman dengan suatu
referensi geografis tertentu sehingga dapat memberikan gambaran yang
lebih jelas tentang kondisi suatu wilayah. Lebih lanjut aplikasi GIS ini akan

5-8

memudahkan dalam proses inputing, storing, retrieving, exchanging dan


updating (pemasukan, penyimpanan, pengambilan kembali, pertukaran dan
pemutakhiran) data.
Dengan menggunakan GIS maka akan dimungkinkan beberapa keuntungan
diantaranya:
a. Lebih banyak informasi tersedia.
b. Informasi yang akurat dan terpercaya.
c. Penghematan, untuk jangka panjang (efisiensi).
d. Sistem pendukung dalam pengambilan keputusan.
e. Analisa kuantitatif untuk prediksi dimungkinkan.
f. Tersedia Peta Digital yang mudah diupdate.

Kegiatan Penyusunan Rencana Pembangunan dan Pengembangan Perumahan


dan Kawasan Permukiman (RP3KP) Kabupaten Batang akan membangun
suatu sistem yang integral dan dapat diakses dengan mudah, yang berisi
informasi perumahan dan permukiman. Software pendukung yang dipakai
dalam penyusunan sistem ini adalah ArcView GIS. Proses pembuatan sistem
informasi ini dapat digambarkan dalam gambar berikut ini.

Berhubung penyusunan RP3KP merupakan suatu rangkaian kegiatan yang


saling terkait, keberadaan database yang baik akan menjadi bahan
masukan untuk menyusun naskah akademis. Oleh karena itu dalam
pelaksanaannya perlu melakukan beberapa kegiatan sebagai berikut:

5-9

Menganalisis kondisi perumahan yang ada, termasuk di dalamnya berisi

1.

tentang stok perumahan yang ada, luasan dan persebaran kawasan


perumahan, serta layanan prasarana dan sarana.
Melakukan inventarisasi dan pencatatan ulang terhadap pembangunan

2.

perumahan dan permukiman oleh pengembang dan masyarakat, lahan


peruntukan

untuk

perumahan

dan

permukiman,

serta

pembangunan

permukiman skala besar.


Menganalisis pokok permasalahan yang dihadapi, meliputi permasalahan

3.

fisik dan non fisik, permasalahan yang perlu diantisipasi, serta daftar masalah
lain yang perlu ditangani secara bertahap.
Melakukan proyeksi dan prediksi terhadap kependudukan, perkiraaan

4.

kebutuhan rumah, perhitungan ketersediaan lahan, perkiraan kebutuhan


layanan jaringan prasarana dan sarana.
Menentukan arah pengembangan perumahan dan permukiman, termasuk

5.

di

dalamnya

adalah

arah

pengembangan

secara

fisik,

dan

arah

pengembangan sesuai dengan fungsi kota.


5.3.2.Metode Pelaksanaan Penyusunan
Sesuai dengan yang tercantum dalam KAK, metode yang dikembangkan
adalah :
Pengkajian terhadap perkembangan/perubahan/pembaharuan peraturan

1.

perundangan tentang perumahan dan permukiman.


Metode yang dimuat dalam Pedoman Penyusunan RP3KP, diantaranya

2.

adalah:
a.

Pokjanis sebagai perantara (menjembatani) di antara penyusun


atau konsultan dengan pihak pemerintah lokal dan pihak lain yang terkait.

b.

Pembahasan dilakukan setiap ada progress dan perubahan


yang signifikan.

c.

Pembahasan informal dan konsultasi dilakukan setiap saat jika


diperlukan.

5 - 10

5.4. METODE PELAKSANAAN


Secara umum, metode pelaksanaan penyusunan RP3KP disesuaikan dengan
apa yang dimuat dalam Pedoman Penyusunan RP3KP, diantaranya adalah:
1.

Pokjanis sebagai perantara (menjembatani) antara penyusun/konsultan


dengan pihak pemerintah lokal dan pihak lain yang terkait.

2.

Pembahasan secara formal dan dihadiri oleh kalangan secara luas di


tingkat kabupaten.

3.

Pembahasan insidensial dilakukan setiap ada progres dan perubahan yang


signifikan.

4.

Pembahasan informal atau konsultasi dilakukan setiap saat jika diperlukan.

5.5. TEKNIK DAN METODE ANALISIS


Metode

analisis dalam kegiatan penyusunan Rencana Pembangunan

dan Pengembangan Perumahan dan Kawasan Permukiman (RP3KP) Kabupaten


Batang Tahun 2015 sebagai berikut:
5.5.1.Teknik Analisis
Analisis adalah kegiatan atau proses untuk mengidentifikasi karakteristik
suatu

hal

tertentu.

Berdasarkan

cara

penarikan

kesimpulan/hasil

dalam

hubungannya dengan kegiatan penyusunan RP3KP Kabupaten Batang akan


digunakan

analisis

deduktif,

yaitu

suatu

analisis

yang

lebih

banyak

mengungkapkan fakta/informasi yang terjadi dan yang perlu dilakukan adalah


menarik kesimpulan dengan cara mengaitkan adanya sekumpulan fakta tersebut.
Berdasarkan jenis datanya, analisis ada 2 macam yaitu:
1. Analisis Kuantitatif
Metode

ini

digunakan

untuk

memprediksikan

penduduk,

menghitung

kebutuhan sarana dan prasarana, menghitung LQ sektor ekonomi, distribusi


dan beban lalu lintas, serta analisa lain yang sifatnya kuantitatif. Analisis ini
dilakukan dengan menggunakan alat bantu data-data yang dapat diukur
dengan jelas, biasanya berupa angka-angka, grafik, tabel dan data-data
statistik lainnya.
2. Analisis Kualitatif

5 - 11

Analisis ini menggunakan data-data yang tidak secara langsung dapat diukur
besarannya, dengan kata lain tidak menggunakan data-data statistik untuk
menyatakan hasil akhir. Biasanya dikenal ada beberapa teknik analisis, yaitu:
a.

Analisis Komparatif
Analisis ini biasanya digunakan untuk membandingkan dua fenomena
(perkembagan) yang berbeda. Hasil akhir analisis ini ditentukan melalui
tingkat

perbandingan

yang

dilakukan.

Dalam kajian

wilayah

dapat

digunakan analisis komparatif dengan melakukan perbandingan antara


berbagai kondisi dan permasalahan untuk mendapatkan karakteristik
struktur wilayah perencanaan.
b. Analisis Deskriptif
Analisis ini adalah menggambarkan kondisi/keadaan yang berkembang di
masyarakat. Pada umumnya metode ini merupakan uraian-uraian/narasi
yang harus bisa merepresentasikan keadaan yang sebenarnya tanpa
dikurangi atau ditambahi.
c.

Analisis Proyektif.
Analisis ini biasanya dilakukan setelah mendapat masukan/hasil dari 2
analisis

diatas.

Pada

dasarnya

metode

proyektif

lebih

banyak

memfokuskan pada upaya memahami fenomena yang berkembang, untuk


dapat ditentukan arah kecenderungannya/trend. Jadi dalam metode ini,
unsur intuitif atau peramalan sangat diperlukan.
d. Analisis Normatif
Analisa mengenai keadaan yang seharusnya menurut pedoman ideal atau
norma-norma tetentu. Pedoman atau norma ini dapat berbentuk standar,
landasan hukum, batasan-batasan yang dikeluarkan oleh instansi tertentu
5.5.2.Metode Analisis
Beberapa analisis yang digunakan dalam penyusunan RP3KP Kabupaten
Batang antara lain:
1.

Analisis Kependudukan
Analisis kependudukan merupakan analisis untuk mengetahui perkembangan

penduduk

dan

komposisi

penduduk

sehingga

dapat

digunakan

untuk

5 - 12

mempertimbangkan kebutuhan sarana dan prasarana, dan kebutuhan ruang,


termasuk dalam perencanaan program perumahan dan permukiman.
Tujuan: mengetahui kondisi penduduk dilihat dari kuantitas dan kualitasnya
sehingga dapat diketahui potensi sumber daya manusianya dalam mendukung
pembangunan perumahan dan permukiman di Kabupaten Batang.
Metode:
Proyeksi dan Pertumbuhan Penduduk

a.

Proyeksi

penduduk

adalah

perhitungan

(kalkulasi)

yang

menunjukkan

keadaan fertilitas, mortalitas, dan migrasi di masa yang akan datang.


Proyeksi penduduk akan dihitung dengan menggunakan model perhitungan,
diantaranya dengan menggunakan Model Pertumbuhan Geometris.

Model Pertumbuhan Geometris


Model Pertumbuhan Geometris adalah perhitungan pertumbuhan penduduk
menggunakan dasar bunga (bunga majemuk). Rumus yang digunakan
adalah:
Pn = Po ( 1 + r )n
Dimana:

Pn = jumlah penduduk pada tahun ke n (jiwa)


Po = jumlah penduduk awal (jiwa)
r

= tingkat pertumbuhan penduduk ( % )

n = jumlah tahun pada periode tertentu / selisih tahun


b.

Tingkat Kepadatan Penduduk


Tingkat kepadatan penduduk menunjukkan kualitas lingkungan permukiman,
semakin padat penduduk pada suatu wilayah mengakibatkan semakin besar
tekanan terhadap sumber daya dan daya dukung fisik lingkungan yang ada
pada wilayah tersebut, yang pada gilirannya menyebabkan penurunan
kualitas lingkungan dan prasarana sarana.

Jumlah Penduduk
Luas Wilayah
100 %

5 - 13

2.

Analisis karakteristik perumahan dan permukiman


Analisis karakteristik perumahan dan permukiman merupakan analisis dengan

mengidentifikasi karakteristik perumahan dan permukiman, yang dilihat baik dari


karakteristik bangunan, status kepemilikan, arsitektur dan pola permukiman.
Selain itu juga untuk mengidentifikasi kawasan permukiman berdasarkan tingkat
kepadatan, kekumuhan, pola pembangunan, dan sebagainya.
Tujuan : mengetahui kondisi perumahan dan permukiman sehingga dapat
diketahui tingkat kualitas perumahan dan permukiman di Kabupaten Batang
Metode :
a. Tingkat Kualitas Struktur Bangunan

Kualitas struktur bangunan terkait dengan kebutuhan minimal keamanan dan


keselamatan bangunan, khususnya rumah tinggal. Tingkat kualitas struktur
bangunan dinilai berdasarkan persentase banyaknya bangunan rumah yang
tidak memenuhi persyaratan pondasi, dinding, atap, serta lantai suatu
bangunan rumah tinggal yang sehat.
Jumlah Bangunan Rumah dg Struktur Tidak Layak
X 100 %
Jumlah Keseluruhan Bangunan Rumah

b. Tingkat Kepadatan Bangunan

Tingkat kepadatan bangunan adalah jumlah unit rumah per satuan luas (ha)
dalam suatu lingkungan permukiman. Semakin tinggi tingkat kepadatan
bangunan maka lingkungan permukiman akan semakin kumuh akibat
keterbatasan lahan yang tersedia.
Jumlah Bangunan Rumah
Luas Wilayah (ha)

c. Kebutuhan Rumah Total:

Ada 4 aspek yang menjadi pertimbangan dalam perhitungan kebutuhan


rumah diantaranya yaitu: aspek kekurangan jumlah rumah, aspek

5 - 14

pertumbuhan jumlah penduduk, aspek rumah tidak layak huni, dan


aspek permukiman kumuh.
Penghitungan Kekurangan Jumlah Rumah Berdasarkan Status Penguasaan
Bangunan
Merupakan suatu perhitungan kekurangan jumlah rumah atau backlog yang
dilihat dari status kepemilikan bangunan. Backlog rumah didefinisikan sebagai
kekurangan jumlah rumah dari jumlah KK yang ada. Kekurangan jumlah
rumah atau backlog dibagi secara spesifik menurut status kepemilikan rumah.
Rumah

tangga

diklasifikasikan

dengan
sebagai

status
rumah

penguasaan
tangga

yang

bangunan
sudah

milik

sendiri

memiliki

rumah,

sedangkan rumah tangga dengan status penguasaan bangunan kontrak,


sewa, rumah dinas, bebas sewa, rumah milik orang tua/famili, dan lainnya
diklasifikasikan sebagai rumah tangga yang belum memiliki rumah.
Backlog =

Jumlah keluarga Jumlah rumah

d. Tingkat Kesehatan dan Kenyamanan Bangunan

Tingkat kesehatan dan kenyamanan bangunan tempat tinggal akan terkait


dengan 3 aspek, yaitu pencahayaan, penghawaan, serta suhu udara dan
kelembaban dalam ruangan dalam suatu lingkungan permukiman.

Jumlah Bangunan Rumah Tidak Sehat dan Aman


Jumlah Keseluruhan Rumah
X 100%
e. Tingkat Penggunaan Luas Lantai Bangunan

Tingkat

penggunaan

luas

lantai

bangunan

adalah

luas

ruang

yang

dipergunakan untuk melakukan aktifitas sosial, ekonomi dan budaya setiap


orang. Mengacu pada pedoman rumah sehat, bahwa rumah kumuh
mempunyai luas lantai kurang dari 9 meter persegi tiap orang. Oleh
karena

itu,

semakin

kecil

penggunaan

luas

bangunannya

maka

mengindikasikan lingkungan permukiman tersebut semakin kumuh. Teknik


penilaiannya adalah membandingkan luas bangunan rumah dengan jumlah
penghuni rumah.
Jumlah Bangunan Rumah
Jumlah Penghuni Rumah

5 - 15

3.

Analisis penyediaan dan kebutuhan perumahan


Analisis penyediaan perumahan merupakan analisis yang dilakukan dengan

mengidentifikasi

kemampuan

penyediaan

rumah

melalui

jenis-jenis

pola

penyediaan, seperti real estate, masyarakat secara swadaya, instansi sektoral,


perumnas dan sebagainya. Dengan demikian akan diketahui proporsi atau
kontribusi

peran

masing-masing

stakeholder

dan

perkembangan

(trend)

kemampuannya.
Tujuan

mengevaluasi

penyediaan

(ketersediaan)

rumah

bagi

masyarakat hingga saat ini, selain itu dengan mengetahui peran stakeholder
penyedia terkait melalui preferensinya akan dapat diprediksi alokasi lahan bagi
pembangunan perumahan 5 hingga 10 tahun mendatang.
Metode :
Kualitatif deskriptif, dimana melalui masukan yang diperoleh dari stakeholder
terkait seperti REI, perumnas, instansi, dan sebagainya akan dapat diketahui
prosentase

penyediaan

oleh

masing-masing

pihak

dalam

mencari

lokasi

pengembangan perumahan.
Analisis kebutuhan rumah (sebagai tempat tinggal) didasarkan pada asumsiasumsi dasar antara lain: jumlah penghuni (tingkat hunian) rata-rata tiap satu
unit rumah, jumlah rata-rata KK per unit dan sebagainya.
Tujuan : mengetahui tingkat hunian rumah dan kekurangan rumah (backlog) di
Kabupaten Batang.
Metode :

Tingkat Hunian :

Semakin

tinggi

angka

Banyaknya KK dalam Suatu Wilayah


Jumlah Bangunan Rumah

perbandingan

KK

dengan

bangunan

rumah

ini

menunjukkan semakin banyak jumlah anggota keluarga, yang pada gilirannya


berpengaruh pada kebutuhan sarana pelayanan yang semakin besar.
4.

Penghitungan

kebutuhan

rumah

berdasarkan

pertumbuhan

penduduk
Merupakan suatu perhitungan kebutuhan rumah yang didasari oleh adanya
faktor pertumbuhan jumlah penduduk. Perhitungan ini untuk mengetahui

5 - 16

tambahan rumah rata-rata per tahun yang nantinya dapat dipakai untuk
memprediksikan jumlah rumah pada tahun mendatang.
Proses:
a.

Menghitung jumlah kepala keluarga (KK) selama kurun waktu 5


tahun terakhir sehingga dapat diketahui jumlah kebutuhan rumah.
Koefisien dasar tingkat hunian ideal atau penurunan yang diinginkan (misal
dari 4,5 jiwa/ unit menjadi 4 jiwa/unit). Dalam perhitungan kebutuhan rumah
ini, koefisien hunian ditetapkan sebesar 4 jiwa/unit. (Bambang Panudju, 1999).
Jumlah KK pada tahun xn:

b.

Jumlah penduduk
4

Dengan asumsi 1 rumah = 1 KK, maka jumlah KK sama dengan


jumlah kebutuhan rumah pada tahun tersebut.

c.

Lakukan perhitungan yang sama untuk tahun-tahun yang lain,


kemudian hitung rata-ratanya.
Kebutuhan rumah rata-rata pertahun :

X1 + x 2 + x 3 + x 4 + x 5
5
5.

Indikator Kekumuhan
Sesuai dengan Panduan Identifikasi Lokasi Kawasan Perumahan dan

Permukiman mengenai kriteria lokasi kawasan perumahan dan permukiman


kumuh yaitu dengan mempertimbangkan berbagai aspek/ dimensi: ruang/
spasial, lahan, fisik, sosial, ekonomi dan budaya masyarakat lokal yang
menempati kawasan perumahan dan permukiman kumuh. Kriteria lokasi yang
digunakan alam pemilihan lokasi kawasan perumahan dan permukiman kumuh di
masing-masing Kota/Kabupaten yang dapat digunakan, yaitu:
a. Kesesuaian peruntukan dengan RUTRK/RDTRK.
b. Status kepemilikan lahan.
c. Letak/kedudukan lokasi kawasan kumuh.
d. Tingkat Kepadatan Penduduk.

5 - 17

e. Jumlah Penduduk Miskin (Prasejahtera dan sejahtera-1).


f. Kegiatan Usaha Ekonomi penduduk disektor informal.
g. Kepadatan rumah/bangunan (tidak layak huni).
h. Kondisi Tata Letak rumah/bangunan.
i. Kondisi Prasarana dan sarana Lingkungan meliputi penyediaan air bersih,
jamban keluarga/MCK, pengelolaan sampah, sakuran air/drainase, jalan
setapak, jalan lingkungan.
j. Kerawanan kesehatan.
k. Kerawanan sosial.
6.

Perhitungan Kebutuhan Rumah Total

Kebutuhan Rumah Total = Jumlah backlog + Jumlah kebutuhan rumah akibat


faktor pertumbuhan jumlah penduduk + Jumlah permukiman tidak layak huni +
jumlah permukiman kumuh.
Segmentasi Kebutuhan Rumah

a.

Untuk menetapkan segmentasi kebutuhan rumah digunakan standar tingkat


kesejahteraan.
penduduk

Menurut

dibedakan

BPS,

menjadi

pengelompokkan
2

kelompok

tingkat

yaitu

kesejahteraan

kelompok

keluarga

prasejahtera, kelompok keluarga sejahtera I. Dari kedua kelompok keluarga


diatas maka selanjutnya dikelompokkan menjadi 3 kelompok keluarga yaitu
kelompok keluarga miskin dan rawan miskin, keluarga berpenghasilan
rendah, dan keluarga berpenghasilan menengah-atas. Dalam identifikasi
kebutuhan rumah ini variabel-variabel yang mendasari pengelompokkan
tersebut antara lain:
1)

Kelompok keluarga miskin dan rawan miskin.


a) Kondisi rumahnya tidak layak huni, dengan lantai dari tanah.
b) Mempunyai penghasilan dibawah rata-rata/UMR.

2) Kelompok keluarga berpenghasilan rendah.

a) Kondisi rumah layak huni, dengan lantai bukan dari tanah.


b) Mempunyai penghasilan yang diasumsikan dapat digunakan untuk
mengangsur kredit rumah.
c) Mempunyai rumah dengan tipe bangunan rumah antara 21 36.

5 - 18

d) Mempunyai

penghasilan

maksimum

diperkirakan

antara

Rp.900.000,00-Rp.1.500.000,00.
b.

Proses Perhitungan
1) Mengitung persentase jumlah keluarga tiap-tiap

kelompok keluarga

dengan cara membagi jumlah keluarga tiap kelompok dengan jumlah total
keluarga dikalikan 100%. Dengan catatan:
a) Keluarga Prasejahtera masuk dalam kategori Keluarga Miskin dan

Rawan Miskin.
b) Keluarga

Sejahtera

dan

II

masuk

dalam

kategori

Keluarga

Berpenghasilan Rendah.
2) Menghitung

segmentasi

kebutuhan

rumah

berdasarkan

tingkat

penangananya yaitu yang memerlukan pembangunan baru dan yang perlu


peningkatan, tetapi sebelumnya terlebih dahulu menghitung jumlah
persentasenya terhadap jumlah kebutuhan rumah total. Perlu menjadi
catatan jumlah kekurangan jumlah rumah/backlog dan kebutuhan rumah
akibat pertumbuhan jumlah penduduk dianggap sebagai yang memerlukan
pembangunan rumah baru. Sedangkan rumah yang tidak layak huni dan
jumlah

permukiman

kumuh

dianggap

sebagai

jumlah

rumah

yang

memerlukan peningkatan kualitas.


3) Menghitung

kebutuhan

rumah

dengan

mengalikan

persentase

tiap

kelompok kelurga dengan jumlah total kebutuhan rumah dari hasil


perhitungan sebelumnya.
c.

Rumus
1) Menghitung persentase tiap kelompok keluarga.

a) Persentase kelompok keluarga miskin dan rawan miskin = (Jumlah


keluarga prasejahtera/Jumlah keluarga) x 100%.
b) Persentase kelompok keluarga berpenghasilan rendah = (Jumlah
keluarga sejahtera I dan sejahtera II/Jumlah keluarga) x 100%.
2) Menghitung persentase berdasarkan penanganan.

a) % jumlah kebutuhan rumah yang memerlukan pembangunan baru =


(Jumlah backlog dan jumlah kebutuhan rumah akibat pertumbuhan
penduduk / jumlah kebutuhan rumah total) x 100%.

5 - 19

b) % jumlah kebutuhan rumah yang memerlukan peningkatan kualitas =


(Jumlah rumah tidak layak huni dan jumlah rumah yang berada di
lingkungan permukiman kumuh / jumlah kebutuhan rumah total) x
100%.
3) Menghitung kebutuhan rumah tiap kelompok keluarga.
a) Jumlah kebutuhan rumah untuk kelompok keluarga miskin dan rawan

miskin.
-

Untuk pembangunan baru = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga miskin dan rawan miskin x % jumlah kebutuhan rumah
yang memerlukan pembangunan baru.

Untuk peningkatan kualitas = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga miskin dan rawan miskin x % jumlah kebutuhan rumah
yang memerlukan peningkatan kualitas.

b) Jumlah kebutuhan rumah untuk kelompok keluarga berpenghasilan

rendah.
-

Untuk pembangunan baru = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga berpenghasilan rendah x % jumlah kebutuhan rumah yang
memerlukan pembangunan baru.

Untuk peningkatan kualitas = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga berpenghasilan rendah x % jumlah kebutuhan rumah yang
memerlukan peningkatan kualitas.

c) Jumlah kebutuhan rumah untuk kelompok keluarga berpenghasilan

menengah-atas.
-

Untuk pembangunan baru = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga berpenghasilan menengah-atas x % jumlah kebutuhan
rumah yang memerlukan pembangunan baru.

Untuk peningkatan kualitas = Jumlah kebutuhan rumah kelompok


keluarga berpenghasilan menengah-atas x % jumlah kebutuhan
rumah yang memerlukan peningkatan kualitas.

7.

Analisis kesesuaian lahan bagi permukiman


Analisis kesesuaian lahan bagi permukiman merupakan analisis overlay dari

berbagai kriteria pengembangan permukiman, baik fisik, ekonomi, sosial dan

5 - 20

kebijakan. Dari berbagai kriteria yang dikembangkan, dalam analisis ini


pertimbangan aspek fisik seperti kemiringan lahan, struktur tanah (geologi),
sistem drainase alami, ketersediaan air tanah dan sebagainya, akan menjadi
pertimbangan utama.
Tujuan : mengetahui dimana alokasi kawasan fungsi lindung, kawasan aman
untuk permukiman (direkomendasikan) dan kawasan yang kurang diprioritaskan,
serta kawasan larangan pengembangan permukiman karena pertimbangan
keamanan dan lain sebagainya.
Metode : kualitatif deskriptif, dengan memperhatikan aspek-aspek yang terkait
yang mengacu pada Petunjuk Pelaksanaan Penilaian Tingkat Kekumuhan yang
dikeluarkan oleh Dirjen Perumahan dan Permukiman Tahun 2002, yakni:
a. Status Legalitas Tanah
Status legalitas tanah adalah perbandingan jumlah rumah yang dibangun di
atas

tanah/lahan

yang

diperuntukkan

bukan

sebagai

perumahan

dibandingkan dengan yang dibangun pada tanah yang diperuntukkan bagi


perumahan, sesuai dengan Rencana Detail Tata Ruang (RDTR).
b. Status Penguasaan Bangunan
Status penguasaan bangunan adalah status pemilikan dan penggunaan
bangunan. Status penguasaan bangunan dapat berupa hak milik, hak guna,
dan hak pakai.
c. Frekuensi Bencana Banjir
Frekuensi bencana banjir adalah banyaknya kejadian banjir pada suatu
lingkungan permukiman. Biasanya disebabkan tidak tersedianya atau kurang
terpeliharanya prasarana drainase ataupun tempat pembuangan akhir.
Semakin sering terjadi bencana banjir pada suatu lingkungan permukiman,
tingkat kerawanan bencana terhadap penyakit di lingkungan tersebut semakin
tinggi.
d. Frekuensi Bencana Tanah Longsor
Frekuensi bencana tanah longsor adalah banyaknya kejadian tanah longsor
pada suatu lingkungan permukiman, akibat penempatan bangunan pada
daerah patahan dan longsoran. Semakin sering terjadi bencana tanah longsor
pada suatu lingkungan permukiman dapat dikatakan semakin tinggi tingkat

5 - 21

kerawanan

bagi

kelangsungan

hidup

penduduknya,

dan

secara

fisik

membutuhkan penanganan yang cukup mahal.


8.

Analisis kecenderungan arah perkembangan permukiman


Analisis kecenderungan perkembangan permukiman merupakan analisis

spasial yang mengintegrasikan pertambahan rumah dengan penggunaan lahan.


Tujuan : mengetahui lokasi-lokasi yang berkembang lebih cepat dalam hal
pembangunan perumahan dan permukiman.
Metode:

kualitatif

deskriptif,

dengan

memperhatikan

aspek-aspek

yang

mempengaruhi arah (kecenderungan) perkembangan permukiman antara lain:


1)

Ketersediaan jaringan jalan dan pola sirkulasi (lalu lintas)


regional. Semakin tinggi aksesibilitas (ketersediaan jalan, besarnya arus lalu
lintas dan berada diantara 2 simpul kegiatan) akan semakin mudah suatu
kawasan perumahan baru untuk berkembang.

2)

Kemudahan

dalam

penyediaan

sarana

dan

prasarana

penunjang permukiman seperti air bersih, drainase (bebas genangan), serta


pengelolaan

sampah.

Ketersediaan

jalan

akan

memacu

kemudahan

penyediaan listrik dan telepon. Sehingga kawasan yang telah terakses


jaringan PSD akan lebih cepat berkembang menjadi permukiman baru.
3)

Status lahan yang akan memudahkan pengalihfungsian lahan,


yang umumnya dari non permukiman menjadi permukiman.

4)

Arahan tata ruang wilayah dan kota yang akan mendorong


secara

administratif

(perijinan) dan

legalisasi

kegiatan

pengembangan

permukiman. Pengembangan kegiatan industri, perdagangan dan jasa dan


kegiatan

pelayanan

sosial

akan

memicu

tumbuhnya

permukiman

di

sekitarnya.
9.

Analisis permasalahan perumahan dan permukiman


Analisis prioritas permasalahan perumahan permukiman merupakan analisis

yang

digunakan

untuk

menentukan

tingkat

kepentingan

dari

berbagai

permasalahan perumahan dan permukiman yang muncul sebagai akibat


perkembangan penduduk dan perkembangan wilayah.
Tujuan : mengidentifikasi potensi, permasalahan, peluang dan ancaman yang ada
dalam bidang perumahan dan permukiman di Kabupaten Batang.

5 - 22

Metode : Untuk mengidentifikasi permasalahan perumahan dan permukiman


digunakan analisis deskripsi kualitatif berdasarkan data-data yang telah dihimpun
hasil survei primer dan sekunder.
Dalam analisis ini pertimbangannya meliputi beberapa aspek, diantaranya: aspek
kependudukan, tata ruang dan pengembangan wilayah, pertanahan, prasarana,
pembiayaan, kelembagaan, peran serta masyarakat, dan peraturan perundangundangan.
Permasalahan perumahan dan permukiman (yang merupakan hasil kesimpulan
sementara tentang kondisi yang telah dan sedang berkembang) yang perlu
segera ditangani adalah:
a.

Permasalahan

yang

mendesak

dan

apabila tidak

diatasi

menimbulkan dampak yang sangat meluas, adalah:


1) Pemberian perijinan lokasi permukiman baru yang tidak sesuai dengan
tata ruang.
2) Pemberian perijinan yang melebihi daya dukung lingkungan atau melebihi
kebutuhan yang berkembang.
3) Pertumbuhan kawasan permukiman kumuh yang sangat cepat.
b.

Permasalahan

yang

perlu

diantisipasi

melalui

berbagai

kebijakan dan pengaturan, untuk mencegah dampak negatif apabila tidak


diatasi seperti:
1) Review terhadap peruntukan perumahan dan permukiman terutama pada
kawasan yang berkembang tidak dilindungi menjadi kawasan permukiman.
2) Penetapan

fungsi

dan

peruntukan

kawasan

non

perumahan

yang

berkembang menjadi kawasan perumahan atau sebaliknya.


3) Penetapan negative list terhadap kawasan yang terlarang untuk diubah
menjadi kawasan permukiman dll.
4) Penetapan daya dukung lahan yang mengalami degradasi fisik dan
lingkungan.
c.

Daftar masalah lain yang perlu ditangani namun dapat


diselenggarakan secara bertahap. Terhadap masalah seperti ini, perlu dipilah
menjadi:
1) Masalah yang dapat diselesaikan melalui/menjadi urusan sektor.

5 - 23

2) Masalah yang perlu diselesaikan sebagai urusan umum.

3) Urusan

yang

perlu

dipecahkan

secara

terkoordinasi

melalui

forum

lokal/kota.
10.

Analisis Kebutuhan Sarana dan Prasarana Perumahan

a.

Analisis Kebutuhan Sarana Perumahan

Salah satu bentuk analisis yang akan dilakukan adalah mengkaji kebutuhan
prasarana dan sarana perumahan. Data-data primer dan sekunder yang telah
didapatkan, disesuaikan dengan standar rencana kebutuhan fasilitas yang
kemudian disesuaikan dengan arah pengembangan perkiraan di Kabupaten
Batang. Analisis yang dilakukan dengan metoda diskriptif kualitatif dan
kuantitatif.
b.

Analisis Kebutuhan Prasarana Perumahan

Di dalam pelaksanaan pekerjaan ini dibutuhkan beberapa metodologi untuk


menganalisis, termasuk menghitung dan merencanakan sistem jaringan dari
komponen-komponen PSD-PU. Metodologi tersebut akan dikaitkan dengan
berbagai prosedur dan standar yang berlaku dan digunakan di Indonesia.
Termasuk

proses

dan

standar

yang

digunakan

di

dalam

lingkungan

Kementerian Pekerjaan Umum.


c.

Analisis Pemilihan Lokasi

Konsep pemilihan lokasi harus disesuaikan dengan asas kesesuaian dan


keberlanjutan (sustainability) dan kesempatan (opportunities). Untuk lebih
jelasnya, pemilihan lokasi permasalahan perumahan dan permukiman disini
harus mengacu pada:
1) Kebutuhan dari masyarakat
Apa yang dibutuhkan oleh masyarakat pada suatu lokasi harus dapat
diidentifikasi, agar lokasi yang dipilih tidak salah sasaran.
2) Kecenderungan perkembangan
Yang perlu diperhatian adalah adanya kecenderungan bahwa masalah yang ada
pada suatu wilayah, apabila tidak segera ditangani akan menimbulkan
dampak yang meluas. Disini unsur prediksi diperlukan, sehingga masalah
yang perlu diatasi telah diprioritasnya berdasarkan kemendesakannya.
3) Pertimbangan lingkungan

5 - 24

Setelah kebutuhan masyarakat diketahui dan prioritas masalah diperoleh, yang


terakhir harus diperhatikan adalah kondisi lingkungan. Dalam arti disini
bukan hanya lingkungan secara fisik namun juga lingkungan organisasi.
Lingkungan fisik perlu diperhatikan, karena lokasi terpilih nantinya merupakan
tempat/wadah pengelolaan dan penanganan masalah yang dihadapi. Sehingga
unsur sumber daya sangat diperlukan untuk mendukung kelancaran tujuan
tersebut.

Sedangkan

lingkungan

organisasi

termasuk

didalamnya

adalah:

kesesuaian rencana penanganan dengan peruntukan lokasinya, keterlibatan


aktor yang berperan secara aktif serta bagaimana kondisi pendukung lainnya.
d.

Analisis Pembiayaan Pembangunan Perumahan

Analisis pembiayaan pembangunan perumahan merupakan suatu analisis yang


bertujuan untuk mengenali dan menggali sumber-sumber pendanaan potensial
yang dapat

dijadikan

sumber pembiayaan

perumahan.

Tentunya analisis

pembiayaan perumahan ini harus disesuaikan dengan kondisi sosial ekonomi dan
budaya masyarakat Kabupaten Batang. Terdapat tiga aspek penting pembiayaan
permukiman yaitu sumber dana, aksebilitas dan sasaran (target group).
Perumusan kebijaksanaan pembiayaan permukiman diarahkan guna mengatasi
permasalahan tidak terjangkaunya harga rumah oleh golongan masyarakat
berpenghasilan rendah dan ditujukan guna menciptakan iklim yang kondusif
sehingga masyarakat berpenghasilan rendah dapat menjangkau dan menikmati
hasil-hasil pembangunan perumahan. Analisis ini nantinya diharapkan dapat
memberikan jawaban atas permasalahan pembiayaan permukiman di Kabupaten
Batang baik bagi masyarakat yang di kota maupun di daerah yang masih
bercirikan perdesaan. Hal lainnya yang harus dijawab adalah memasukkan
pembiayaan permukiman sektor non-formal ke dalam sistem pembiayaan formal
yang didukung pendapatan, hubungan atau kemitraan yang harmonis antara
pemerintah, swasta dan masyarakat.
e.

Analisis Kelembagaan Pembangunan Perumahan

Analisis kelembagaan pembangunan perumahan merupakan analisis yang


tujuannya untuk mengembangkan fungsi dan kapasitas lembaga yang ada dalam
mendukung pembangunan perumahan. Pengembangan sistem kelembagaan
harus bersifat komprehensif dan sinergis yaitu mencakup semua aktor, dan
sektor yang terkait dengan bidang perumahan. Dengan melakukan analisis
kelembagaan

ini

diharapkan

akan

tersusun

tatalaksana

penyelenggara

pembangunan perumahan yang baik, sehingga nantinya peran dan kapasitas


25

5-

masyarakat akan semakin meningkat dalam menjawab tantangan dan isu serta
permasalahan dalam penyelenggaraan perumahan dan permukiman yang
mengedepankan strategi pemberdayaan masyarakat.

5 - 26