Anda di halaman 1dari 9

BAB II

TINJAUAN TEORI
A. Pengertian Penyakit Menular, Kejadian Luar Biasa (KLB), dan Wabah
Penyakit Menular
Penyakit menular ialah penyakit yang disebabkan oleh agentinfeksi
atau toksinnya, yang berasal dari sumber penularan atau reservoir, yang
ditularkan/ ditansmisikan kepada pejamu (host) yang rentan. Penyakit
menular (Communicable Desease) adalah penyakit yang disebabkan oleh
adanya agen penyebab yang mengakibatkan perpindahan atau penularan
penyakit dari orang atau hewan yang terinfeksi, kepada orang atau hewan
yang rentan (potential host), baik secara langsung maupun tidak langsung
melalui perantara (vector) atau lingkungan hidup.
Kejadian Luar Biasa (KLB) ialah kejadian kesakitan atau kematian
yang menarik perhatian umum dan mungkin menimbulkan kehebohan/
ketakutan di kalangan masyarakat, atau menurut pengamatan epidemiologik
dianggap adanya peningkatan yang berarti (bermakna) dari kejadian
kesakitan/ kematian tersebut kepada kelompok penduduk dalam kurun
tertentu. Selain itu, KLB adalah kejadian yang melebihi keadaan biasa, pada
satu/ sekelompok masyarakat tertentu atau terjadinya peningkatan frekuensi
penderita penyakit, pada populasi tertentu, pada tempat dan musim atau tahun
yang sama. Termasuk dalam KLB ialah kejadian kesakitan/ kematian yang
disebabkan oleh penyakit-penyakit baik yang menular maupun yang tidak
menular dan kejadian bencana alam yang disertai wabah penyakit.
Wabah adalah kejadian berjangkitnya suatu penyakit menular dalam
masyarakat yang jumlah penderitanya meningkat secara nyata melebihi dari
keadaan yang lazim pada waktu dan daerah tertentu serta dapat menimbulkan
malapetaka (U.U. No. 4 tahun 1984 tentang wabah penyakit yang
menular).Suatu wabah dapat terbatas pada lingkup kecil tertentu (disebut
outbreak, yaitu serangan penyakit) lingkup yang lebih luas (epidemi) atau
bahkan lingkup global (pandemi).Kejadian atau peristiwa dalam masyarakat
atau wilayah dari suatu kasus penyakit tertentu yang secara nyata melebihi
dari jumlah yang diperkirakan.

B. Penanggulangan Kejadian Luar Biasa Penyakit Menular dan Program


Pencegahannya
Penanggulangan KLB penyakit menular dilaksanakan dengan upayaupaya:
1. Pengobatan, dengan memberikan pertolongan penderita, membangun
pos-pos kesehatan di tempat kejadian dengan dukungan tenaga dan sarana
obat yang memadai termasuk rujukan.
2. Pemutusan rantai penularan atau upaya pencegahan misalnya, abatisasi
pada KLB, DBD, kaporisasi pada sumur-sumur yang tercemar pada KLB
diare, dsb.
3. Melakukan kegiatan pendukung yaitu penyuluhan, pengamatan/
pemantauan (surveinlans ketat) dan logistik.
Sedangkan untuk program pencegahan ialah mencegah agar penyakit
menular tidak menyebar di dalam masyarakat, yang dilakukan antara lain
dengan memberikan kekebalan kepada host melalui kegiatan penyuluhan
kesehatan dan imunisasi.
C. Macam Penyakit-Penyakit Menular
Penyakit-penyakit menular dikelompokkan menjadi beberapa
kelompok yaitu:
1. Penyakit menular potensial mewabah
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit menular berikut:
a. Diare
b. Demam berdarah dengue
c. Malaria (di daerah endemik tinggi)
d. Filaria (di daerah endemik tinggi)
2. Penyakit menular endemik tinggi
Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
a. Tuberkulosis paru
b. Lepra (Morbus Hansen)
c. Patek (Framboesia)
d. Anjing gila (Rabies)
e. Antraks

3. Penyakit menular penting lain


Ke dalam kelompok ini dimasukkan sejumlah penyakit berikut:
a. Penyakit menular seksual
1) Sifilis (Raja Singa)
2) Gonorhoe (kencing nanah)
3) HIV/ AIDS
b. Penyakit menular lain
1) Hepatitis-B
2) Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA)
D. Cara Penularan Penyakit Menular
Dikenal beberapa cara penularan penyakit menular yaitu:
1. Penularan secara kontak, baik kontak langsung maupun kontak tidak
langsung (benda-benda bekas dipakai pasien).
2. Penularan melalui vehicle seperti melalui makanan dan minuman yang
tercemar.
3. Penularan melalui vector.
4. Penularan melalui suntikan, transfusi, tindik, dan tato.
E. Surveilans Epidemiologi Penyakit Menular
Surveilans epidemiologi suatu penyakit dapat diartikan sebagai
kegiatan pengumpulan data/ informasi melalui pengamatan terhadap
kesakitan/ kematian dan penyebarannya serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya secar sistematik, terus menerus dengan tujuan untuk
perencanaan suatu program, mengevaluasi hasil program, dan sistem
kewaspadaan dini. Secara singkat dapat dikatakan: Pengumpulan Data/
Informasi Untuk Menentukan Tindakan (Surveillance For Action). Untuk
dapat memonitor/ mengamati distribusi penyakit menular di dalam
masyarakat wilayah kerja Puskesmas, dilakukan pencatatan peristiwa
kesakitan dan kematian yang diakibatkan oleh penyakit menular tersebut.
Pengumpulan, pengolahan, analisis, dan interpretasi data mengenai
peristiwa kesakitan dan kematian penyakit menular/ penyakit tidak menular
ini di dalam wilayah kerja serta menggunakannya sebagai informasi untuk

monitoring/ pengamatan distribusi penyakit dan mengambil tindakan di


dalam wilayahnya disebut surveilans.Puskesmas harus mempunyai sistem
surveilans untuk penyakit-penyakit ini, serta menggunakan informasi yang
dapat diungkapkan untuk memonitor masalah penyakit menular di dalam
masyarakat wilayah kerja.
Untuk pemantauan penyakit menular tertentu yang menjadi masalah
kesehatan di wilayah Puskesmas disajikan dalam PWS Mingguan Penyakit
(contoh PWS penyakit campak, diare, DBD, dll).Dengan penggunaan PWS
penyakit secara mingguan ini dapat dikenali/ diketahui secara dini kenaikan/
distribusi suatu penyakit menular tertentu menurut tempat (Desa), dan waktu
adalah Minggu.
F. Program Pemberantasan Penyakit Menular
1. Tujuan
Program ini bertujuan menurunkan angka kesakitan, kematian,
dan kecacatan akibat penyakit menular dan tidak menular.
Penyakit menular yang diprioritaskan dalam program ini adalah:
malaria, demam berdarah dengue, tuberkulosis paru, HIV/ AIDS,
diare, polio, filaria, kusta, pneumonia, dan penyakit-penyakit yang
dapat dicegah dengan imunisasi (PD3I), termasuk penyakit karantina
dan risiko masalah kesehatan masyarakat yang memperoleh
perhatian dunia internasional (public health risk of international
concern).
Penyakit idak menular yang diutamakan adalah: penyakit jantung,
kanker, diabetes melitus dan penyakit metabolik, penyakit
kronis dan degeneratif, serta gangguan akibat kecelakaan dan
cedera.
2. Sasaran
a. Persentase desa yang mencapai Universal Child Immunization(UCI)
sebesar 98%.
b. Angka Case Detection Rate penyakit TB sebesar 70% dan angka
keberhasilan pengobatan TB di atas 85%.
c. Angka Acute Flaccid Paralysis (AFP) diharapkan 2/100.000 anak
usia kurang dari 15 tahun.

d. Penderita Demam Berdarah Dengue (DBD) yang ditangani sebesar


80%.
e. Penderita malaria yang diobati sebesar 100%.
f. CFR diare pada saat KLB adalah < 1,2%.
g. ODHA (Orang Dengan HIV AIDS) mendapat pengobatan ART
sebanyak 100%.
h. Tersedianya dan tersosialisasikannyakebijakan dan pedoman, serta
hukum kesehatan penunjang program yang terdistribusi hingga ke
desa.
i. Terselenggaranya sistem surveilans dan kewaspadaan dini serta
penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB)/ wabah secara
berjenjang hingga ke desa.
3. Kebijakan Pelaksanaan:
a. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk mendorong
peran, membangun komitmen, dan menjadi bagian integral
pembangunan kesehatan dalam mewujudkan manusia Indonesia yang
sehat dan produktif terutama bagi masyarakat rentan dan miskin
hingga ke desa.
b. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diselenggarakan melalui
penatalaksanaan kasus secara cepat dan tepat, imunisasi, peningkatan
perilaku hidup bersih dan sehat, serta pengendalian faktor risiko baik
di perkotaan dan di perdesaan.
c. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan dan memperkuat jejaring surveilans epidemiologi
dengan fokus pemantauan wilayah setempat dan kewaspadaan dini,
guna mengantisipasi ancaman penyebaran penyakit antar daerah
maupun antar negara yang melibatkan masyarakat hingga ke desa.
d. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
mengembangkan sentra rujukan penyakit, sentra pelatihan
penanggulangan penyakit, sentra regional untuk kesiapsiagaan
penanggulangan KLB/ wabah dan bencana maupun kesehatan matra,
serta kemampuan untuk melakukan rapid assessement danrapid
respons.
e. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
memantapkan jejaring lintas program, lintas sektor, serta kemitraan

dengan masyarakat termasuk swasta untuk percepatan program


pencegahan dan pemberantasan penyakit menular melalui pertukaran
informasi, pelatihan, pemanfaatan teknologi tepat guna, dan
pemanfaatan sumberdaya lainnya.
f. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk dilakukan
melalui penyusunan, review, sosialisasi, dan advokasi produk hukum
penyelenggaraan program pencegahan dan pemberantasan penyakit di
tingkat pusat hingga desa.
g. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan profesionalisme sumberdaya manusia di bidang
pencegahan dan pemberantasan penyakit sehingga mampu
menggerakkan dan meningkatkan partisipasi masyarakat secara
berjenjang hingga ke desa.
h. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
menyiapkan, mengadakan, dan mendistribusikan bahan-bahan yang
esensial untuk mendukung penyelenggaraan program pencegahan dan
pemberantasan penyakit hingga ke desa.
i. Pencegahan dan pemberantasan penyakit diarahkan untuk
meningkatkan cakupan, jangkauan, dan pemerataan pelayanan
penatalaksanaan kasus penyakit secara berkualitas hingga ke desa.
4. Kegiatan pokok dan kegiatan indikatif program ini meliputi:
a. Pencegahan dan penanggulangan faktor risiko:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan
dan perundang-undangan, dan kebijakan pencegahan
dan penanggulangan faktor risiko dan diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun rencana kebutuhan untuk
pencegahan dan penanggulangan faktor resiko;
3) Menyediakan kebutuhan pencegahan dan penanggulangan faktor
risiko sebagai stimulam;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan
juklak/juknis/pedoman pencegahan dan penanggulangan faktor
risiko;
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk
melakukan pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;

6) Melakukan bimbingan, pemantauan dan evaluasi kegiatan


pencegahan dan penanggulangan faktor risiko;
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko;
8) Melakukan kajian program pencegahan dan penanggulangan
faktor risiko;
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam pencegahn dan
penanggulangan faktor risiko;
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional
pelaksanaan pencegahan dan pemberantasan penyakit.
b. Peningkatan imunisasi:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan, dan kebijakan peningkatan imunisasi, dan
diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan
peningkatan imunisasi;
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan imunisasi sebagai stimulan
yang ditujukan terutama untuk masyarakat miskin dan
kawasan khusus sesuai dengan skala prioritas;
4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan
juklak/juknis/protap program imunisasi;
5) Menyiapkan dan mendistribusikan sarana dan prasarana
imunisasi;
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit
untuk melaksanakan program imunisasi
7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan
imunisasi;
8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis peningkatan imunisasi;
9) Melakukan kajian upaya peningkatan imunisasi;
10) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan
imunisasi;
11) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional
pelaksanaan imunisasi.

c.

Penemuan dan tatalaksana penderita:


1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundangundangan, dan kebijakan penemuan dan
tatalaksana penderita dan diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan kebutuhan
penemuan dan tatalaksana penderita;
3) Menyediakan kebutuhan penemuan dan tatalaksana penderita
sebagai stimulan;
4) Menyiapkan materi dan menyusun
rancangan juklak/juknis/pedoman program penemuan dan
tatalaksana penderita;
5) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit untuk

melaksanakan program penemuan dan tatalaksana penderita;


6) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan
penemuan dan tatalaksana penderita;
7) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis penemuan dan tatalaksana
penderita;
8) Melakukan kajian upaya penemuan dan tatalaksana penderita;
9) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya penemuan dan
tatalaksana penderita;
10) Melaksanakan dukungan administrasi dan
operasional pelaksanaan penemuan dan tatalaksana penderita.
d. Peningkatan surveilens epidemiologi dan penanggulangan
wabah:
1) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan peraturan dan
perundang-undangan, dan kebijakan peningkatan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah dan
diseminasinya;
2) Menyiapkan materi dan menyusun perencanaan
kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah;
3) Menyediakan kebutuhan peningkatan surveilans epidemiologi
dan penanggulangan KLB/wabah sebagai stimulan;

4) Menyiapkan materi dan menyusun rancangan


juklak/juknis/pedoman program surveilans epidemiologi dan
penanggulangan KLB/wabah;
5) Meningkatkan sistem kewaspadaan dini dan
menanggulangi KLB/ wabah, termasuk dampak bencana;
6) Meningkatkan kemampuan tenaga pengendalian penyakit
untuk melaksanakan program surveilans epidemiologi
dan penanggulangan KLB/wabah;
7) Melakukan bimbingan, pemantauan, dan evaluasi kegiatan
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
8) Membangun dan mengembangkan kemitraan dan jejaring kerja
informasi dan konsultasi teknis peningkatan surveilans
epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah;
9) Melakukan kajian upaya peningkatan surveilans epidemiologi
dan penanggulangan KLB/wabah;
10) Membina dan mengembangkan UPT dalam upaya peningkatan
surveilans epidemiologi dan penanggulangan KLB/wabah.
11) Melaksanakan dukungan administrasi dan operasional
pelaksanaan surveilans epidemiologi dan penanggulangan
KLB/wabah.