Anda di halaman 1dari 24

KONSEP DAN APLIKASI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA


LANSIA: GANGGUAN
ELIMINASI URINARIUS

Review konsep
Faktor penyebab
Faktor yg mempengaruhi
Dampak pd fungsi normal
Asuhan Keperawatan
Trend dan isu
Latihan kasus

REVIEW KONSEP
1. Gg eliminasi urinarius:
Individu mengalami/ berada pd risiko disfungsi
eliminasi urinarius.
2. Komponen saluran perkemihan bagian
bawah yg membantu mempertahankan
kontinensia:
-Otot detrusor dlm dinding saluran kemih,
mengembangkan kandung kemih utk
meningkatkan volume urine.
-Sfingter internal/ uretra bagian proksimal, saat
berkontraksi mencegah urine merembes.
-Sfingter eksternal, jk terkontrol akan
mendukung selama situasi stres (kandung
kemih yg sangat tegang).

3. Bagian inervasi kandung kemih berasal dari


saraf spinal (S2-S4).
Kandung kemih dikontrol oleh saraf
parasimpatis (saraf dibagian korteks serebral,
otak bagian tengah, medula) mengontrol urine
yg berlebih.
4. Panjang uretra wanita 3-5 cm, pria 20 cm.
Kontinensia dipertahankan oleh uretra.
5. Kapasitas kandung kemih normal lansia 250300 ml.
Keinginan berkemih jk urine dlm kandung kemih
sebanyak 150-250 ml.
6. Posisi duduk bg wanita & posisi berdiri bg
pria memungkinkan relaksasi optimal dari
sfingter urinarius eksternal & otot perineal.

7. Mekanisme utk merangsang refleks


pengosongan tdk efektif jk kapasitas
kandung kemih <200 ml.
8. alkohol, kopi, teh bersifat diuretik
alami yg mengiritasi kandung kemih.
9. Nyeri pd saraf spinal (S2-S4)
menimbulkan tonus kandung kemih
spastis/ refleks.
Cedera pd saraf spinal di bawah S2-S4
menimbulkan kandung kemih atoni/
lemah.

FAKTOR PENYEBAB
1. Ketidak-mampuan saluran kandung kemih
(anomali saluran urinarius kongenital).
2. Penurunan kapasitas/ iritasi kandung kemih
(infeksi, trauma, uretritis, glukosuria, Ca).
3. Penurunan isyarat kandung kemih/ kerusakan
kemampuan mengenali isyarat kandung kemih:
- Cedera medula spinalis/ tumor/ infeksi.
- Cedera otak/ tumor/ infeksi.
- Cedera serebrovaskular.
- Pyk demielinisasi.
- Sklerosis multipel.
- Neuropati diabetes.
- Neuropati alkohol.
- Parkinson.

4. Efek pembedahan sfingter kandung


kemih (pasca prostatektomi, diseksi pelvis
luas).
5. Penurunan tonus otot akbt pengobatan
(antihistamin, epineprin, antikolinergis,
sedatif, terapi imunosupresan, diuretik,
transqulizer, relaksan otot).
6. Kelemahan otot dasar pelvis:
-Obesitas
-Proses penuaan
-Penurunan BB substansial
-Kelahiran anak

7. Ketidakmampuan mengomunikasikan
kebutuhan.
8. Obstruksi saluran keluar kandung kemih
(konstipasi impaksi, kekronisan).
9. Penurunan tonus otot (dehidrasi).
10. Penurunan perhatian pd isyarat kandung
kemih (depresi, delirium).
11. Hambatan lingkungan utk ke kamar mandi:
-Jarak ke kamar mandi.
-Lampu kurang terang.
-Lingkungan kurang ramah.
-Tempat tidur yg terlalu tinggi.
-Pagar tempat tidur.
12. ketidak-mampuan ke kamar mandi
(penggunaan kafein/ alkohol, kerusakan
mobilisasi).

ASUHAN KEPERAWATAN
PENGKAJIAN KEPERAWATAN (DATA SUBJEKTIF)
1.Apakah memiliki masalah dg pengontrolan urine atau ke
kamar mandi.
2.Riwayat gejala:
a.Adanya keluhan (kurang kontrol, merembes, keraguraguan, dorongan, sering, nyeri/ tdk nyaman, rasa
terbakar, perubahan pola pengosongan, retensi).
Retensi urinarius disebabkan sumbatan jalan keluar
kandung kemih, ketdk-adekuatan otot detrusor, kerusakan
jaras aferen.
b. Awitan & durasi
c. Frekuensi
d. Dicetuskan oleh apa.
e. Dihilangkan oleh apa
f. Diperburuk oleh apa
g. Gaya hidup (pekerjaan, seksual, sosial).
Isolasi sosial pasien inkontinensia dpt memengaruhi dirinya
krn takut, bingung, malu, terpengaruh bau & estetika.

3. Inkontinensia
a. Riw kontinen:
-derajat kontinen
-Pd usia berapa mengalami kontinen
-Riw sebelumnya dari enuresis
-Riw kandung kemih lemah
Mis pyb & faktor luar sebelumnya dari saluran
urinarius (pengobatan, sakit berat yg akut,
kebersihan, gg mobilitas krn mencegah ke
toilet pd waktunya).
b. Awitan & durasi (siang, malam, wkt yg tdk
tentu)
c. Faktor yg meningkatkan kejadian (batuk,
tertawa, duduk, membalik di tempat tidur,
terlambat ke kamar mandi, bl terangsang,
meninggalkan kamar mandi, lari).

d. Persepsi kebutuhan utk berkemih (ada, tdk


ada, berkurang).
e. Kemampuan menangguhkan berkemih
setelah dorongan (jk ada berapa lama).
f. Sensasi tjd sblm/slm miksi:
-Kesulitan memulai aliran
-Kesulitan mengakhiri mengejan
-Nyeri peregangan (tenesmus)
-Perlu memaksakan urine keluar
-Kurang sensasi utk berkemih
g. Hilang setelah berkemih (lengkap,
keinginan lanjut pengosongan setelah
kandung kemih kosong).
h. Penggunaan kateter, popok, pot urine.
Peralatan yg tdk nyaman, kurang privasi.

4. Adanya faktor risiko:


a.Fisiologi:
-Pola masukan cairan (jenis & jlh, khususnya
sebelum tidur).
-Hipertrofi prostat.
Sumbatan leher kandung kemih dpt
meregangkan kandung kemih & aliran berlebih
menyebabkan tahanan fekal & memperbesar
kelenjar prostat.
-Gg metabolisme (hipokalemia, hiperkalsemia).
-Konstipasi impaksi fekal/berat.
-Melahirkan kembar/sulit.
-Pyk pd pembedahan panggul, kandung kemih,
uterus.

- Pyk kronis (dibetes, alkoholisme,


Parkinson, Alzheimer, sklerosis multipel,
cedera serebrovaskular, kurang vit B).
Pasien DM dpt meningkatkan residu urine,
sering berkemih & dorongan berkemih,
penurunan kewaspadaan/ perhatian akan
kandung kemih yg penuh.
- Dehidrasi
Krn penggunaan diuretik berlebihan, kopi,
alkohol shg menyebabkan inkontinensia
dg mengurangi sensasi thd kandung
kemih yg penuh & menurunkan perhatian
thd sensasi.

- Infeksi vagina, ISK.


Infeksi ulang kandung kemih menyebabkan
perubahan fibrosis dlm dinding kandung kemih
disertai penurunan lanjut dlm kapasitas
kandung kemih.
Tanda-gejala ISK:
Peningkatan suhu, menggigil.
Perubahan keadaan urine.
Sakit daerah pubis bagian atas.
Nyeri saat berkemih.
Berkemih sedikit atau sering.
Peningkatan ketegangan di tulang belakang
individu yg terkena cedera.
Menigkatnya pH urine.
Mual, muntah.
Nyeri pd bokong bawah/ samping.

- Obat ttt (asetaminofen, amitriptilin, aspirin,


barbiturat, klorpropamid, klofibrat, flufenazin,
haloperidol).
Narkotik, sedatif dpt mengurangi kewaspadaan
thd isyarat dari kandung kemih.
Adrenergik menyebabkan retensi dg
meningkatkan tahanan pengeluaran kandung
kemih.
Antikolinergik (antidepresan, antiparkinson,
antispasmodik, antihistamin, antiaritmia,
opium, ganja) menyebabkan retensi kronis
disertai aliran berlebih.
Diuretik mempercepat peningkatan volume
urine.

b. Kemampuan fungsional:
-Persepsi thd isyarat pengeluaran isi kandung
kemih.
-Kemampuan berjalan, keseimbangan,
kemampuan tangan.
-Kemampuan mencapai kamar mandi pd
waktunya.
c. Hambatan lingkungan:
-Lokasi kamar mandi sekitar 40 kaki.
-Jalan yg sempit, pintu yg sempit, ada tangga.
-Lampu yg suram.
-Kemampuan menempatkan kamar mandi dlm
lingkungan masy.
-Daerah sekitar yg asing

PENGKAJIAN KEPERAWATAN (DATA OBJEKTIF)


1.Pancaran urine (lambat, kecil, menetes,
menyebar, lambat/ sulit utk memulai).
2.Urine:
a.Warna (kuning, pucat, kuning tua, merah
kecoklatan, kuning coklat, hijau kecoklatan,
coklat tua, hitam).
b.Bau (tidak, amoniak, menyengat, aseton).
c.Penampilan (jernih, berkabut).
d.Berat jenis (encer <1,003; pekat >1,025;
normal 1,003-1,025).
e.Apakah negatif/positif utk (glukosa,
protein, keton, bakteri, sel darah merah).

f. Reaksi (normal 4,6-7,5 atau pH >7,5).


Urin asam encer akan mencegah infeksi
shg material anorganik larut.
Stasis urine, infeksi, urine alkalin,
penurunan volume urine meyebabkan
pembentukan batu saluran urine.
Stasis/ penumpukan urine menyebabkan
pertumbuhan bakteri yg dpt berpindah ke
ureter sampai ginjal.

3. Cara pengosongan & pola pemasukan


cairan (catat 2-4 hari utk menetapkan batas
dasarnya):
a.Cairan apa yg masuk setiap hari.
b.Kapan inkontinensia tjd.
4. Tonus otot:
a.Abdomen keras, lembut.
Tonus serabut halus kandung kemih dpt
hilang jk kandung kemih meregang sampai
1000 ml (kandung kemih atoni)/ tersalurkan
scr kontinu dg foley kateter.
b. Riw penambahan/ penurunan BB yg
bermakna.
5. Refleks (ada/tdk pd anus).

6. Kandung kemih:
-Distensi (mudah diraba).
Kandung kemih yg sangat tegang menurunkan aliran
darah ke dinding kandung kemih shg menyebabkan
infeksi bakteri.
-Dptkah dikosongkan dg rangsangan dari luar (metode
menepuk dg lembut pd daerah suprapubis/ memberi
kompres air hangat di atas perineum, manuver
valsava, menarik rambut pubis, meregangkan daerah
anus).
Penekanan dari luar oleh tangan/ menegangkan
abdomen merupakan metode efektif utk
mengosongkan kandung kemih scr neurologis.
-Kapasitas (400-500 ml).
Akumulasi urine >500-700 ml dlm kandung kemih
harus dihindarkan.
-Residu urine (tdk ada, jk ada brp jlhnya).

7. Kemampuan fungsional:
-Saat duduk/ bangun dari kursi.
-Jln sendiri ke kamar mandi.
-Mempertahankan keseimbangan.
-Mengganti pakaian.
8. Kemampuan kognitif:
-Meminta utk ke kamar mandi.
-Berinisiatif berkemih dg pengingat.
-Waspada thd inkontinen.
-Mengharapkan menjadi inkontinen.
9. Kaji adanya (konstipasi, dehidrasi,
depresi, gg mobilisasi, gg sensori).
Depresi dpt mencegah mengenali/ bereaksi
thd isyarat kandung kemih.

TREND DAN ISU

- Inkontinensia urinarius memengaruhi 5-15%


lansia yg hidup di rumahnya sendiri &
prevalensi naik sampai 40-50%.
- Sesuai perubahan usia tjd perubahan
fisiologis berakibat pd penurunan kapasitas
kandung kemih, pengosongan tdk sempurna,
merasakan kontraksi slm pengisian,
peningkatan residu urine.
- Kapasitas kandung kemih normal lansia
mengalami kenyamanan 250-300 ml urine.
- Lansia menangguhkan sensasi utk berkemih,
disertai pendeknya interval antara persepsi
yg dikenal dari desakan & perlu utk
pengosongan.

- Faktor yg memengaruhi persepsi lansia utk


mengeluarkan urine:
a.pengobatan, depresi, kurang pemasukan
cairan, gg neurologis.
b.menangguhkan kemampuan utk mencapai
kamar kecil.
c.penurunan kemampuan ginjal utk
mengkonstrasikan urine, penurunan tonus
otot dasar panggul.
d.kemampuan menunda berkemih.
e.penurunan penglihatan, gg mobilisasi,
menurunnya tingkat energi menyebabkan
meningkatnya waktu utk ke toilet.
f. Melahirkan pervagina, bakteriuria, gg
fungsional.

LATIHAN KASUS
Buatlah:
1. Faktor yg mempengaruhi
2. Dampak pd fungsi normal
3. Masalah keperawatan, rencana
tindakan & rasional dari masingmasing masalah keperawatan.