Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Tumor ialah penyakit yang berbentuk benjolan atau pembengkakan yang
abnormal dalam tubuh. Tumor itu adalah istilah umum untuk suatu benjolan yang
dapat disebabkan oleh bermacam-macam penyakit seperti neoplasma, infeksi,
kelainan bawaan dan lain sebagainya. Tetapi dalam arti khusus tumor ialah
benjolan yang disebabkan oleh neoplasma.1
Pendekatan anatomi dan fisiologi pada tumor ganas hipofaring menjadi
sangat penting dan memerlukan pendekatan multidisiplin yang menggabungkan
perawatan ahli bedah kepala dan leher, ahli onkologi medis, onkologi radiasi, dan
patologi anatomi.2
Adanya penemuan terbaru dalam bedah rekonstruksi yang disertai
meningkatnya hasil pengobatan melalui kemoterapi dan radioterapi telah
menghasilkan terapi paliatif yang lebih baik. Kemajuan dalam rekonstruksi
mikrovaskuler telah memperluas peran reseksi bedah kuratif. Kemajuan ini pun
disertai dengan pengembangan protokol pemeliharaan organ yang menggunakan
kemoterapi dan radioterapi. Dihadapkan dengan evolusi tekhnik perawatan pasien
dengan tumor ganas hipofaring, maka dokter harus terbiasa dengan berbagai
kondisi patologi anatomi dan manifestasi klinis dari tumor ganas hipofaring saat
memutuskan untuk menggunakan perawatan yang paling tepat.3
Penyebab pasti dari tumor ganas hipofaring belum diketahui dengan jelas.
Merokok dan alkohol merupakan salah satu penyebab terjadinya tumor ganas
pada hipofaring, dimana alkohol dapat menekan respon imun serta membuat
karsinogen hidrokarbon di dalam tembakau menjadi efektif. Keadaan kekurangan
dari zat-zat gizi, serta penurunan imun selular juga akan menambah berat keadaan
penyakit. Untuk alasan ini, prognosis keseluruhan penderita tumor ganas
hipofaring kurang baik.4

1.2 TUJUAN
Tujuan penulisan paper ini adalah untuk meningkatkan kemampuan dalam
penulisan ilmiah di bidang kedokteran khususnya mengenai tumor hipofaring.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1

NEOPLASMA
Neoplasma secara harafiah berarti pertumbuhan baru. Suatu neoplasma,

sesuai definisi Willis, adalah massa abnormal jaringan yang pertumbuhannya


berlebihan dan tidak terkoordinasikan dengan pertumbuhan jaringan normal serta
terus demikian walaupun rangsangan yang memicu perubahan tersebut telah
berhenti. Hal mendasar tentang asal neoplasma adalah hilangnya responsivitas
terhadap faktor pengendali petumbuhan yang normal. Sel neoplastik disebut
mengalami transformasi karena terus membelah diri, tampaknya tidak peduli
terhadap regulatorik yang mengendalikan pertumbuhan sel normal. Selain itu,
neoplasma berperilaku seperti parasit dan bersaing dengan sel dan jaringan normal
untuk memenuhi kebutuhan metaboliknya. Sampai tahap tertentu, neoplasma
memiliki otonomi dan sedikit banyak terus membesar tanpa bergantung pada
lingkungan lokal dan status gizi penjamu. Beberapa neoplasma membutuhkan
dukungan endokrin, dan ketergantungan semacam ini kadang-kadang dapat
dieksploitasi untuk merugikan neoplasma tersebut. Semua neoplasma bergantung
pada penjamu untuk memenuhi kebutuhan gizi dan aliran darah.5
Dalam penggunaan istilah kedokteran yang umum, neoplasma sering
disebut sebagai tumor, dan ilmu tentang tumor disebut onkologi. Dalam onkologi,
pembagian neoplasma menjadi kategori jinak dan ganas merupakan hal penting.
Pembagian ini didasarkan pada penilaian tentang kemungkinan perilaku klinis
neoplasma.5
Suatu tumor dikatakan jinak (benigna) apabila gambaran mikroskopik dan
makroskopiknya mengisyaratkan bahwa tumor tersebut akan tetap terlokalisasi,
tidak dapat menyebar ke tempat lain, dan pada umumnya dapat dikeluarkan
dengan tindakan bedah lokal dan pasien umumnya selamat. Namun, perlu
diketahui bahwa tumor jinak dapat menimbulkan kelainan yang lebih dari sekedar
benjolan lokal, dan kadang-kadang tumor jinak menimbulkan penyakit serius.5

Tumor ganas (maligna) secara kolektif disebut kanker, yang berasal dari
kata Latin yang berarti tumor melekat erat ke semua permukaan yang dipijaknya.
Dikatakan ganas apabila diterapkan pada neoplasma, menunjukkan bahwa lesi
dapat menyerbu dan merusak struktur di dekatnya dan menyebar ke tempat jauh
(metasatasis) serta menyebabkan kematian. Sebanyak 80-90% kanker berkaitan
dengana gen lingkungan (environment) diantaranya: diet, bahan kimia, radiasi dan
virus. Beberapa agen lingkungan sering bekerja-sama (co-carcinogenesis). Bahan
karsinogenik terdiri dari karsinogen kimia, energi radiasi, mikrobaonkogenik
(virus, bakteri, parasit), dll. Tidak semua kanker berkembang sedemikian
mematikan. Sebagian ditemukan secara dini dan berhasil dihilangkan.5
2.1.1

TATA NAMA DAN KLASIFIKASI

2.1.1.1 KLASIFIKASI5
Berdasarkan perilaku klinis, neoplasma dibagi: Jinak (benign), Ganas
(malignant). Istilahbenign dan malignant menunjukkan

sifat (behavior)

biologik tumor. Sifat biologik ditentukan oleh derajat diferensiasi tumor dan
kecepatan tumbuh (juga kecepatan kematian sel). Neoplasma (jinak/ganas)
mempunyai 2 komponen dasar yaitu :
A. Parenkim

: Sel tumor/neoplastik yang proliferatif, yang menentukan

perilaku biologis tumor.


B. Stroma

: Jaringan pendukung parenkim, tidak bersifat neoplastik,

terdiri dari jaringan ikat dan pembuluh darah.


Klasifikasi berdasarkan Sifat Biologik Tumor yaitu :
a. Jinak :

Pertumbuhan yang lambat, berkapsul, tidak infiltratif, tidak terdapat


anak sebar, kerusakan jaringan sekitar tidak ditemukan

Umumnya dapat disembuhkan

b. Ganas:

Pertumbuhan yang cepat, infiltratif, anak sebar sering ditemukan,


kerusakan jaringan sekitar sering ditemukan

Dapat menimbulkan kematian.

c. Intermediate (tumor yang agresiflokal/tumor ganas berderajat rendah):

Invasif lokal, kemampuan metastasis kecil.

Jinak tetapi destruktif/ganas tetapi metastasis lambat.

Tabel 2.1 Perbandingan tumor jinak dan ganas


Karakteristik

Jinak

Ganas

Diferensiasi/

Berdiferensiasi baik; struktur Sebagian

anaplasia

mungkin khas jaringan asal

tidak

diferensiasi

memperlihatkan

disertai

anaplasia;

struktur sering tidak khas


Laju

Biasanya progresif dan lambat; Tidak terduga dan mungkin cepat

pertumbuhan

mungkin berhenti tumbuh atau atau


menciut;

gambaran

lambat;

gambaran

mitotik

mitotik mungkin banyak dan abnormal

jarang dan normal


Invasi lokal

Biasanya kohesif dan ekspansil, Invasi lokal, menginfiltrasi jaringan


massa berbatas tegas yang tidak normal di sekitarnya; kadang-kadang
menginvasi atau menginfiltrasi mungkin

tampak

jaringan normal disekitarnya

tetapi

ekspansil

kohesif
dengan

dan
invasi

mikroskopik
Metastasis

Tidak ada

Sering ditemukan; semakin besar


dan semakin kurang berdiferensiasi
tumor

primer,

semakin

kemungkinan metastasis

2.1.1.2 TATA NAMA5

besar

Tata nama/ nomenklatur umum:


a. Neoplasma jinak :
-

Parenkhim + akhiranoma

Mesenkim + akhiranoma

b. Neoplasma ganas :
-

Parenkhim +akhirancarcinoma

Mesenkhim+akhiransarcoma

1. Tata nama tumor jinak


Secara umum dengan menambah akhiran oma pada sel asal tumor.
a. Mesenkimal tumor:
- Fibrosit
: Fibroma
- Lipid
: Lipoma
- Osteosit
: Osteoma
- Chondrosit
: Chondroma
- Otot polos
: Leiomyoma
- Otot lurik
: Rhabdomyoma
- Pembuluh darah : Hemangioma, dst.
b. Epitelial (parenkim) tumor:
-

Berdasarkan sel asal: Adrenocortical adenoma, bronchial adenoma

Arsitektur mikroskopis: Adenoma ginjal, Papilloma (squamous cell


papilloma, transisional cell papilloma)

Bentuk makroskopis

Papilloma

:Membentuk tonjolan seperti jari pada epitel

permukaan

Cystadenoma :Membentuk massa kistik

Papillary Cystadenoma: Membentuk papil & menonjol dalam kista

Polyp

: Membentuk tonjolan diatas permukaan mukosa

dan menonjol kedalam lumen (lambung/usus)


-

Pengecualian

: Neoplasma jinak sel epitel plasenta disebut Mola

Hidatidosa

2. Tata nama tumor ganas


a. Tumor ganas mesenkimal: akhiran sarcoma
- Fibrosit
: Fibrosarcoma
- Lipid
: Liposararcoma
- Osteosit
: Osteosarcoma
- Chondrosit
: Chondrosarcoma
- Otot polos
: Leiomyosarcoma
- Otot lurik
: Rhabdomyosarcoma
- Pembuluh darah : Angiosarcoma, dst.
- Pengecualian: limfoma (= limfosarcoma) yaitu tumor ganas jaringan
limfoid
b.
-

Tumor ganas epitelial; akhirancarcinoma


Adenoma
: Adenocarcinoma
Squamouscell papilloma : Squamouscell carcinoma
Cystadenoma
: Cystadenocarcinoma
Pengecualian:
Hepatoma= hepatocellular carcinoma
Basalioma= basal cell carcinoma
Seminoma= carcinoma dari testicular epithelium
Choriocarcinoma= neoplasma ganas dari epitel plasenta (bentuk

ganas dari Mola Hidatidosa)


Melanoma= tumor ganas sel melanosit (jinak: nevus)

2.2 ANATOMI HIPOFARING


Hipofaring (laringofaring) terletak memanjang mulai dari tulang hyoid
sampai batas bawahnya yaitu kartilago krikoid. Salurannya berbentuk corong dan
berhubungan dengan orofaring di superior, laring di anterior, vertebra servikal di
posterior, dan esofagus servikalis di inferior. Hipofaring ini dibagi menjadi tiga
bagian yaitu sinus piriformis lateral, dinding posterior faring, dan daerah
postkrikoid anterior.6
Sinus piriformis berada setentang laring dan meluas dari plika
faringoepiglotis ke batas atas esofagus. Berhubungan ke lateral dengan membran
tirohyoid dan kartilago tiroid. Sedangkan ke arah medial dengan lipatan
ariepiglotik, permukaan posterolateral aritenoid dan kartilago krikoid. Dinding
posterior faring meluas setentang tulang hyoid sampai ke daerah sendi
krikoaritenoid. Regio post krikoid merupakan bagian dinding anterior hipofaring
antara batas atas dan bawah lamina krikoid.4

Gambar 2.1. Anatomi Faring

Gambar 2.2 & 2.3. Anatomi Hipofaring


Dinding hipofaring terdiri dari 4 lapisan yaitu lapisan mukosa yang
merupakan lapisan paling dalam berupa epitel stratified skuamosa, lapisan fibrous
dari aponeurosis faring, lapisan otot yang dibentuk oleh otot konstriktor faring dan
fasia yaitu lapisan terluar.6
Lapisan otot merupakan lapisan yang penting karena perluasan tumor dari
mukosa krikoid posterior dapat menginvasi ke dalam otot krikoaritenoid posterior
yang menyebabkan fiksasi pita suara, dan otot konstriktor inferior menyatu
dengan otot krikofaringeus inferior dimana disini berada daerah segitiga Killian.2

Aliran darah hipofaring berasal dari sistem karotis external yang terbagi
menjadi tiga cabang yaitu arteri tiroid superior, arteri faringeal asenden, dan arteri
lingual. Drainase vena menuju ke sistem arteri selain itu juga ke plexus vena
prevertebral.2,3
Persarafan

sensorik

dari

hipofaring

adalah

berasal

dari

nervus

glossofaringeus serta nervus vagus melalui pleksus faringeal, nervus laringeal


superior, dan nervus laringeal rekuren. Nervus laringeal superior akan menembus
membran tirohyoid dan bergabung dengan nervus vagus dimana serabut saraf
bergabung pada nervus Arnold ke kanal auditori eksternal. Hubungan ini akan
menghasilkan referred otalgia pada kebanyakan pasien dengan tumor ganas
hipofaring. Persarafan motorik pada muskulus faringeal konstriktor berasal dari
pleksus faringeal, sedangkan muskulus krikoaritenoid posterior di inervasi oleh
nervus laringeal rekuren.1
Sistem limfatik sinus piriformis berjalan melalui membran tirohyoid dan
berjalan ke dalam limfa jugular atas. Sistem limfatik dari dinding posterior
berakhir pada persarafan faringeal lateral atau kelenjar parafaringeal dan
kemudian ke kelenjar limfa servikal bagian dalam. Sistem limfatik dari daerah
post krikoid berjalan ke dalam kelenjar parafaringeal tapi dapat juga berjalan ke
dalam kelenjar dari supraklavikula dan paratrakea.7

2.3

EPIDEMIOLOGI
Sebuah tinjauan dari data yang dikumpulkan dari beberapa pendaftar

kanker di Kanada pada tahun 1990-1999 mengungkapkan bahwa kanker


hipofaring adalah 5% dari semua kanker kepala dan leher. Di Kanada, ini
merupakan kejadian sekitar 0,8 kasus baru per 100.000 orang / tahun. Insidensi
puncak terlihat pada dekade keenam dan ketujuh dari kehidupan dengan 80%
kasus adalah laki-laki. Serupa dengan data NCDB (National Cancer Data Base),
74% dari pasien yang disajikan dengan penyakit stadium lanjut, dan kelangsungan
hidup adalah 35% pada 5 tahun.2

2.4

ETIOLOGI
Penyebab pasti dari tumor ganas hipofaring belum diketahui dengan jelas.

Merokok dan alkohol merupakan salah satu penyebab terjadinya tumor ganas
pada hipofaring, dimana alkohol dapat menekan respon imun serta membuat
karsinogen hidrokarbon di dalam tembakau menjadi efektif. Keadaan kekurangan
dari zat-zat gizi, serta penurunan imun selular juga akan menambah berat keadaan
penyakit.2,8
2.5

MANIFESTASI KLINIS
Tumor ganas hipofaring biasanya tampak setelah penyakit sudah lanjut.

Tumor ganas ini bersifat agresif dan tumbuh dengan cepat. Biasanya akan
mengadakan penyebaran ke kelenjar limfe dan pembesaran pada kelenjar limfe.9
Nyeri di tenggorok waktu menelan merupakan keluhan yang sering
dikemukakan oleh pasien dengan tumor ganas hipofaring, dan nyeri juga
dirasakan menyebar ke telinga homolateral, kenaikan produksi lendir di tenggorok
dan suara serak. Metastasis homogen kadang-kadang terjadi tetapi jarang dapat
ditunjukkan pada pemeriksaan pertama. Penderita ini biasanya berada dalam
keadaan umum buruk akibat intake makanan yang kurang.1,2,3,9
Gejala yang umum yang diperlihatkan untuk pasien tumor ganas
hipofaring adalah odinofagia,

disfagia dan otalgia. Disfagia pada pasien ini

biasanya progresif dan kesulitan menelan cairan yang padat menunjukkan suatu
lesi yang lebih lanjut. Pasien juga mengeluhkan harus berulang kali
membersihkan tenggorokan atau sensasi seperti ada benda bulat yang
menghalangi. Otalgia persisten unilateral yang pada pemeriksaan otoskopi normal
dilanjutkan dengan pemeriksaan endoskopik dari hipofaring tersebut. Dispnea dan
suara serak ditemukan pada stadium akhir dari penyakit, mungkin disebabkan
oleh invasi laring langsung atau keterlibatan yang berulang dari saraf laring
tersebut. Dapat juga dijumpai Syndrome Peterson Kelly ( Syndrome Plummer
Vinson).1,2,4

10

Detail riwayat penyakit, ditinjau dari sistem yang menyeluruh, dan


peninjauan kembali dari riwayat merokok dan minum alkohol sangat penting
dalam memutuskan rencana perawatan yang tepat. Banyak pasien dengan tumor
ganas hipofaring akan memiliki komorbiditas paru atau jantung, yang dapat
mempengaruhi terapi mereka. Kekurangan gizi yang signifikan juga dapat terjadi
karena diet yang tidak memadai atau konsumsi alkohol yang berlebihan.10
Sebelum melakuakan pemeriksaan kepala dan leher dengan rinci, banyak
informasi dapat diperoleh dari menilai status umum pasien. Adanya suara serak,
dispnea ringan, atau adanya tanda dari stridor laring memberikan informasi
mengenai keadaan jalan nafas. Status gizi yang buruk dapat dilihat dari kulit
pucat, kehilangan turgor kulit dan kondisi umum pada kulit dan kuku.2
Pemeriksaan kepala dan leher yang menyeluruh wajib bagi semua pasien.
Pemeriksaan rongga mulut meliputi evaluasi gigi, karena banyak pasien
membutuhkan perawatan gigi definitif sebelum terapi radiasi. Rongga mulut juga
harus diperiksa misalkan adanya leukoplakiaatau lesi primer. Evaluasi laring dan
hipofaring dapat dilakukan dengan pemeriksaan cermin tidak langsung ( indirect
mirror examination ). Jika banyak terdapat sekresi ludah dan pasien merasa tidak
nyaman dengan pemeriksaan kaca laring indirek, dapat kita lakukan dengan
pemeriksaan endoskopi. Sinus piriformis atas, ariepiglotik dan aritenoid dapat
dilihat juga. Puncak sinus piriformis mungkin tertutup oleh sekresi. Adanya
edema dan eritema pada struktur ini menunjukkan keterlibatan tumor.2

2.6

PERLUASAN TUMOR
Tumor ganas hipofaring hampir sebagian besar adalah tipe sel skuamosa

dengan tingkat diferensiasi yang bervariasi. Variasi tempat terjadinya meliputi


daerah sinus piriformis, dinding posterior faring dan regio postkrikoid.1,2,3
a. Karsinoma Sinus Piriformis
Sinus piriformis adalah tempat yang paling sering terlibat. Terdapat
60% 70% dari semua tumor ganas hipofaring. Lebih banyak terjadi pada

11

pria diatas umur 50 60 tahun. Tumor ini tumbuh dengan sangat cepat dan
bersifat agresif serta mempunyai prognosis yang jelek.2,3,4
Penyebaran submukosa ke daerah lain dari hipofaring dan di servikal
esofagus dapat terjadi melalui penyebaran jauh. Penyebaran pada bagian
lateral tumor sinus piriformis meliputi kartilago tiroid dan juga jaringan
ikat di leher, sedangkan pada bagian medialnya akan meliputi laring dan
juga paraglotik.2,3,4
Tumor ini terbatas pada suatu daerah yang dibatasi pada daerah
superior oleh plika glossoepiglotik, di inferior oleh puncak sinus piriformis
dan di lateral oleh kartilago tiroid dan bagian medial oleh plika
ariepiglotik.2
Karena ukuran dari sinus piriformis yang besar, biasanya sering
asimptomatik dalam waktu yang lama. Tumor dapat tumbuh ke arah atas
yaitu daerah valekula dan pada daerah dasar lidah. Kebawah ke regio post
krikoid, plika ariepiglotik, ventrikel dan dapat berinfiltrasi ke kartilago
tiroid.2
b. Karsinoma Dinding Posterior Faring
Penyebaran dari karsinoma dinding belakang hipofaring sering
eksofitik dan tidak menyerang fasia prevertebra sampai menjadi lanjut.
Tumor juga akan menyebar ke arah lateral, sedangkan kearah superior
akan menyebar ke dasar tonsil dan orofaring, dan kearah bawah akan
menyebar kearah postkrikoid.3,4
Tumor ini biasanya menginvasi kartilago krikoid dan juga otot
krikoaritenoid posterior, dimana penyebaran sering ke kelenjar limfe
paratrakea maupun ke kelenjar limfe profunda.10
Tumor ganas ini dapat mengenai permukaan valekula epiglotis,
valekula pangkal lidah dan juga tumor ini sering mengenai plika
glosoepiglotik.1,4

12

c. Karsinoma Regio Postkrikoid


Tumor ganas postkrikoid sering tidak menunjukkan gejala sampai pada
stadium lanjut. Tumor ini sering menyerang membran kartilago krikoid
dan muskulus krikoaritenoid. Perluasan ke bagian bawah dapat masuk ke
esofagus servikal.1,4
Tumor ini cenderung terjadi pada wanita, yang bersamaan dengan
Syndrome Peterson Kelly (Syndrome Plummer Vinson).1,4
DIAGNOSIS9,10

2.7

Jika telah ditemukan gejala dan tanda yang mengarahkan diagnosa ke


tumor ganas hipofaring, maka untuk menegakkan diagnosa perlu untuk
melengkapi beberapa pemeriksaan berikut :

Anamnesis dan pemeriksaan fisik yang lengkap


Langkah pertama yang paling penting adalah mengumpulkan semua
informasi yang lengkap seperti keluhan, faktor resiko, riwayat keluarga,
dan kondisi kesehatan pasien secara keseluruhan. Pemeriksaan fisik
bertujuan untuk menemukan tanda yang membuktikan adanya kanker dan
penyakit penyerta lainnya. Selain itu juga dapat menentukan apakah sudah
terjadi penyebaran atau metastase melalui pemeriksaan kelenjar limfe pada
leher.

Pemeriksaan darah
Pemeriksaan darah tidak begitu membantu untuk mendiagnosa tumor
ganas hipofaring. Namun hal ini berguna untuk menilai fungsi hati dan
ginjal, selain itu juga dapat menilai kondisi kesehatan pasien secara
keseluruhan.

Pemeriksaan leher dan kepala


Siapapun yang dicurigai memiliki tumor ganas hipofaring, maka perlu
untuk melakukan pemeriksaan fisik dengan perhatian khusus pada area
kepala dan leher. Dalam hal ini untuk memeriksa laring dan hipofaring
diperlukan cermin laring, rigid laringoskopi atau fiber optik laringoskopi.
Pasien dengan tumor ganas hipofaring memiliki resiko tinggi untuk

13

memiliki tumor lain di regio kepala dan leher, sehingga nasofaring, mulut,
lidah dan leher harus diperhatikan secara seksama untuk menemukan
adanya bukti tumor.

Panendoskopi
Panendoskopi adalah prosedur yang mengkombinasikan laringoskopi,
esofagoskopi dan bronkoskopi secara bersamaan. Pemeriksaan ini
memungkinkan dokter untuk memeriksa keseluruhan area yang meliputi
laring dan hipofaring, termasuk esofagus dan trakea. Prosedur ini biasanya
dilakukan di ruang operasi dengan pasien dalam kondisi anestesi umum.
Jika tumor yang ditemukan cukup besar atau tampak seperti menyebar,
maka perlu untuk melihat ke dalam esofagus dan trakea untuk menentukan
ukuran tumornya dan seberapa jauh penyebarannya ke daerah sekitar.
Dapat pula dilakukan pengambilan sebagian jaringan tumor (biopsi) untuk
pemeriksaan histopatologi.

Pemeriksaan radiologi
Ketika tumor terdeteksi melalui pemeriksaan, maka pemeriksaan radiologi
sangat berguna untuk menentukan ada tidaknya penyebaran tumor.

Computed Tomography Scan (CT Scan)


Pemeriksaan ini dapat membantu untuk menentukan ukuran tumor, apakah
tumor tumbuh ke dalam jaringan terdekat, dan apakah tumor tersebut telah
menyebar ke kelenjar limfe di leher.

Magnetic Resonance Imaging (MRI)


Magnetic resonance imaging (MRI) berbeda dengan X-Ray, dimana MRI
menggunakan gelombang radio dan medan magnet yang kuat. Energi dari
gelombang radio diserap dan kemudian dilepaskan berdasarkan pola
tertentu berdasarkan jaringan dan penyakit tertentu. Komputer kemudian
menerjemahkan pola tersebut menjadi gambar bagian tubuh yang sangat
detail. Tidak seperti CT-Scan yang hanya mampu melakukan potongan
cross sectional, MRI mampu memproduksi potongan yang paralel dengan
panjang tubuh.
MRI sering kali digunakan untuk memeriksa daerah leher. MRI sangat
membantu untuk menghasilkan gambar otak dan spinal cord dengan jelas.
MRI terkadang lebih membantu ketimbang CT-Scan
14

Barium Swallow
Adalah rangkaian pemeriksaan X-Ray yang diambil ketika pasien
meneguk cairan berisi kontras. Barium dapat terlihat pada X-Ray sebagai
sesuatu yang melapisi tenggorokan. Hal ini berguna untuk melihat
penampilan tenggorokan ketika menelan sesuatu. Hal itu juga dapat
menunjukkan bagaimana penampakan hipofaring dan serta fungsinya
dalam proses menelan.

Positron Emission Tomography (PET)


Pemeriksaan ini berguna untuk melihat kelompok sel tumor yang masih
kecil. Juga dapat membantu menetukan apakah tumor tersebut benign atau
malignant. Seringkali digunakan untuk melihat apakah sudah ada
penyebaran ke kelenjar limfe atau ke jaringan lainnya.

PATOLOGI2,3,9

2.8

Tumor ganas pada hipofaring yang paling sering adalah karsinoma sel
skuamosa, biasanya keratinizing tetapi non keratinizing karsinoma yang
undifferentiated juga sering di dapat, biasanya bersifat agresif. Walaupun sangat
jarang dapat juga dijumpai tumor jinak paraganglioma dengan karakteristik nyeri
yang dapat meluas ke telinga. Secara umum karsinoma sel skuamosa terdiri atas 2
variasi, yaitu :

Tipe infiltratif dengan prognosis yang buruk karena sering tidak terlihat

atau tidak memberi gejala gejala penyebab


Tipe eksofitik adalah bentuk yang lebih sering, tidak infiltratif dan
perluasannya dapat dideteksi.

2.9

KLASIFIKASI TUMOR DAN STAGING2,9,10


Sistem penentuan stadium secara khusus telah dibuat oleh The American

Joint Committee on Cancer (AJCC) untuk menetukan luas dan penyebaran yang
telah terjadi.
Lesi primer pada hipofaring dapat diklasifikasikan sebagai berikut :
15

Tis
T1

: Tumor in situ
: Tumor terbatas pada salah satu bagian dari hipofaring dan
ukurannya kurang dari 2 cm pada sisi terbesarnya.
T2
: Tumor menginvasi lebih dari satu bagian hipofaring atau
menginvasi daerah yang berdekatan dengannya, atau
berukuran 2 4 cm, tanpa terfiksir pada hemilaring.
T3
: Ukuran tumor melebihi 4 cm, dengan atau tanpa fiksasi dari
hemilaring.
T4a : Tumor menginvasi salah satu dari : kartilago tiroid atau
krikoid, tulang hyoid, kelenjar tiroid, esofagus,
kompartemen pusat jaringan lunak.
T4b

: Tumor menginvasi fasia prevertebral, pembungkus arteri


karotis, atau menginvasi struktur mediastinum.

Klasifikasi untuk kelenjar limfe pada hipofaring adalah sama seperti tempat lain
pada kepala dan leher :

Nx
N0
N1

N2a

N2b

N2c

N3

: Pembesaran kelenjar limfe regional tidak dapat dinilai.


: Tidak terdapat penyebaran kelenjar limfe regional
: Pembesaran kelenjar limfe pada ipsilateral dengan ukuran
kurangdari 3 cm
: Pembesaran kelenjar limfe pada ipsilateral dengan ukuran
lebih 3 cm dan kurang dari 6 cm
:Pembesaran kelenjar limfe dengan multi ipsilateral dan
tidak lebih dari 6 cm
:Pembesaran kelenjar limfe dengan bilateral atau kontralateral dan
tidak lebih dari 6 cm
:Pembesaran kelenjar limfe dengan bilateral dan kontralateral dan
lebih 6 cm.

Metastase (M) :

Mx
: Metastase tidak bisa ditemukan
M0 : Tidak ada metastase jauh
M1 : Metastase jauh

16

Gambar 3. Klasifikasi dari tumor ganas hipofaring


Stadium tumor ganas hipofaring :
Stadium 0
Stadium I
Stadium II
Stadium III
Stadium IV A
Stadium IV B
Stadium IV C

2.10

Tis
T1
T2
T1, T2
T3
T1, T2, T3
T4a
T4b
Semua T
Semua T

N0
N0
N0
N1
N0, N1
N2
N0, N1, N2
Semua N
N3
Semua N

M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M0
M1

TERAPI
Pengobatan pasien dengan tumor ganas hipofaring sangat rumit dan

membutuhkan perhatian beberapa faktor seperti : keadaan penyakit, keadaan


umum penderita, dan penyebaran tumor.2
Secara umum terapi dari tumor ganas hipofaring adalah : operasi, radiasi,
kemoterapi atau kombinasi dari ketiganya.2
A. TERAPI RADIASI2,11
Sinus Piriformis
Radioterapi lebih disukai untuk tumor ganas hipofaring T1 dan T2, dimana
lesi awal dapat diberikan radioterapi dengan dosis tinggi, khususnya tumor
yang eksofitik. Terapi radiasi dapat juga dilakukan pada stadium awal dari
kelenjar limfe servikal maupun retrofaringeal. Dosis yang diberikan adalah 1,8
2 Gray (Gy) / hari dengan dosis total 66,6 70 Gray (Gy).
Dinding Posterior Faring

17

Infiltrasi tumor ke jaringan padat dan kenyal dari dinding belakang sering
akan mengakibatkan kerusakan pada fasia prevertebra dan ligamen spinalis
anterior, dimana radiasi tidak memberikan hasil yang baik pada keadaan ini.
Untuk lesi primer tumor pada belakang dinding hipofaring membutuhkan
radioterapi setelah operasi guna melindungi kelenjar limfe retrofaring
sehingga mengurangi resiko penyebaran kelenjar tersebut.
Postkrikoid
Tumor pada derah postkrikoid biasanya luas dan telah menyebar jauh ke
esofagus servikal, maka penyinaran hasilnya relatif kurang efektif.
B. TERAPI BEDAH1,2,12
Sinus Piriformis
Pengangkatan

tumor

ini

dilakukan

dengan

cara

parsial

faringolaringektomi, insisi dilakukan ke ipsilateral valekula dan bagian bawah


ipsilateral sinus piriformis bagian belakang, dilanjutkan insisi ke bawah
ventrikel laring dan terus ke komisura anterior dan ke permukaan
interaritenoid secara tegak lurus ke batas atas kartilago krikoid.
Operator yang melakukan operasi dengan teknik ini harus selalu waspada
akan tingginya aspirasi pasca operasi dan harus dapat merekonstruksi daerah
pita suara dengan adekuat untuk mencegah terjadinya komplikasi.
Kasus-kasus yang sebelumnya tidak dapat di operasi dengan teknik ini
mungkin dapat dilakukan prosedur sub total dengan menggunakan
perkembangan metode terakhir yang mendekati faringolaringektomi total.
Dinding Posterior Faring
Karena terbatasnya keberhasilan dengan pembedahan untuk lesi tumor
dinding posterior faring, beberapa ahli bedah memilih untuk

melakukan

pembedahan diikuti dengan radiasi pasca operasi.

18

Operasi pengangkatan dilakukan melalui lateral atau suprahyoid


faringotomi. Pertama laring dibuka kemudian insisi ke bagian lateral yang
dilakukan dengan hati hati untuk menghindari perlukaan pada saraf
hipoglossus serta persarafan laringeal superior. Operasi rekonstruksi dipakai
split thickness skin graft. Lesi tumor yang lebar dan meluas ke lateral
mungkin membutuhkan total faringolaringektomi.
Postkrikoid
Tumor ganas postkrikoid sering tidak menunjukkan gejala sampai pada
stadium lanjut dan lesinya sering menyerang membran kartilago krikoid,
aritenoid dan dapat juga menyebar ke esofagus. Tumor tumor daerah ini
hampir selalu membutuhkan tindakan total laringektomi atau faringektomi
parsial yang diikuti dengan terapi radiasi post operasi. Lesi awal di
rekonstruksi dengan laringotrakeal autograf, tetapi lesi yang lebih besar
biasanya direkonstruksi menggunakan myocutaneus chest flap dalam satu
tahap. Lesi tumor post krikoid yang meluas dan melibatkan esofagus daerah
servikal

membutuhkan

faringolaringoesofagektomi.

Pilihan

untuk

faringoesofageal rekonstruksi termasuk myocutaneus pedicle flap atau graft


menggunakan lambung, kolon dan usus halus.
C. KOMBINASI TERAPI RADIASI DAN PEMBEDAHAN
Umumnya pasien yang telah dioperasi dengan tumor ganas hipofaring
hampir seluruhnya diberikan terapi dengan radiasi. Terapi radiasi post operasi
mempunyai hasil kira-kira 20-40% dibandingkan dengan hanya operasi saja.12
Banyak lesi tumor pada dinding posterior faring diterapi dengan terapi
kombinasi dalam usaha meningkatkan keberhasilan pengobatan. Begitu juga
pada pasien-pasien dengan lesi tumor di regio post krikoid diterapi dengan
faringolaringektomi dan selanjutnya diterapi radiasi pasca operasi. Pemberian
kombinasi pembedahan dan radiasi memberikan angka keberhasilan yang
lebih baik pada pengobatan.1,2,3
D. KEMOTERAPI

19

Kemoterapi dalam pengobatan karsinoma sel skuamosa pada hipofaring


untuk mempertahankan fungsi dari organ dan meningkatkan masa
kelangsungan hidup walaupun manfaat yang di dapat belum signifikan. Tetapi
beberapa peneliti menganjurkan dengan kombinasi obat-obat kemoterapi,
yang mana diberi lebih dari tiga siklus, tergantung dari respon tumor dan
toksisitas obat kemoterapi. Pasien-pasien yang mendapat respon klinis yang
signifikan selanjutnya diberi terapi radiasi.1,2,13,14
Obat kemoterapi yang biasa dipakai adalah Cisplatin (Platinol),
Fluorouracil (Efudex, Adrucil, Fluoroplex), Paclitaxel (Taxol), Methotrexate
(Folex, Rheumatrex), Docetaxel (Taxotere), Cetuximab (Erbitux). Kesemua
obat-obat ini berfungsi untuk menghambat pertumbuhan, berdifferensiasinya
sel-sel kanker dan dapat juga membunuh sel-sel kanker.2,13
2.11

PROGNOSIS
Tingkat kelangsungan hidup keseluruhan penderita tumor ganas hipofaring

berkisar dari 35% menjadi 40%. Kraus dkk. secara retrospektif ditinjau dari 132
pasien yang menjalani operasi dan terapi pasca operasi untuk tumor ganas
hipofaring dan dilaporkan kelangsungan hidup secara keseluruhan dan bebas
penyakit 5 tahun 30% dan 41% masing-masing. Kim dkk. menemukan suatu
perbandingan dari 5 tahun kelangsungan hidup penyakit dan bebas dari penyakit
tersebut sebanyak 46,8% dan 47,4% masing-masing, dalam tinjauan retrospektif
mereka dari 73 pasien dengan tumor ganas hipofaring. Adanya metastasis kelenjar
getah bening regional, bagaimanapun akan memiliki pengaruh negatif yang
signifikan terhadap angka ini. Kraus et al. melaporkan bahwa kelangsungan hidup
pasien selama 5 tahun adalah 54% pada pasien dengan N1, N0 atau penyakit,
tetapi menurun menjadi 20% pada pasien dengan penyakit N2 atau N3.1,3,14

20

BAB III
PENUTUP
3.1

KESIMPULAN

Tumor ganas pada hipofaring jarang terjadi. Angka kejadian berkisar 5%10% dari semua tumor ganas sistem aerodigestif bagian atas dan 0,5%

dari semua keganasan.


Etiologi dari tumor ganas pada hipofaring tidak terlalu pasti, dimana
merokok dan alkohol merupakan hal

yang paling umum dianggap

sebagai penyebab utama tumor ganas hipofaring.


Tumor ganas hipofaring sebagian besar adalah tipe sel skuamosa.
Pemeriksaan untuk diagnosis terdiri dari : radiologi, endoskopi dan

biopsi.
Terapi yang tepat untuk tumor dari hipofaring berdasarkan pada beberapa
faktor seperti : kondisi pasien, luas penyakit dan luas penyebaran ke

kelenjar limfe.
Pengobatan dari tumor ganas hipofaring adalah : operasi, radiasi,
kemoterapi atau kombinasi ketiganya.

21

DAFTAR PUSTAKA
1. Krstevska Valentina. Hypopharyngeal Cancer. Department of Head and
Neck Cancer. University Clinic of Radiotherapy & Oncology. Skopje.
Republic of Macedonia. 2012
2. Bhayani Kiran Mihir, Weber S. Randal. Hypopharyngeal & Cervical
Esophageal Carcinoma in Baileys Head & Neck Surgery Otolaryngology.
Vol 2. Fifth Edition. Lippincott Williams & Wilkins. Philadelphia. 2014;
1917 1932
3. Lassig D. Anne Amy, MD et al. Neoplasms of The Oropharynx &
Hypopharynx in Ballengers Otorhinolaryngology Head & Neck Surgery.
BC Decker Inc. United States. 2009; 1105 1118
4. Dhingra PL, Dhingra Shruti. Anatomy and Physiology of Pharynx in
Diseases of Ear, Nose & Throat. Fifth Edition. Elsevier. New Delhi. 2013;
253 257
5. Kumar V, dkk. Buku Ajar Patologi. Ed 7. EGC: Jakarta; 2007.
6. Beasley, Nigel. Anatomy of The Pharynx and Esophagus in Scott-Browns
Otorhinolaryngology, Head and Neck Surgery. Vol 2. 7 th Edition. Hodder
Arnold. London. 2008; 1942-1953.
7. Chang, E, Kristi, et al. Reconstruction of Hypopharynx and Esophagus in
Otolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 3. Fourth Edition. Elsevier
Mosby. Philadelphia. 2005; 1945-1957
8. Kim Seungwon, Weber S. Randal. Hypopharyngeal Cancer in Baileys
Head & Neck Surgery Otolaryngology. Vol 22. Fourth Edition. Lippincott
Williams & Wilkins. Philadelphia. 2006
9. Uppaluri Ravindra, Sunwoo B John. Neoplasms of the Hypopharynx and
Cervical Esophagus in Otolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 3.
Fourth Edition. Elsevier Mosby. Philadelphia. 2005; 1899-1927
10. Quon Hary, MD, et all. Hypopharyngeal Cancer. Medscape Drug
Reference. 2013
11. Lefebvre, Jean-Louis, Adenis, Antoine. Radiotherapy and chemotherapy of
squamous cell carcinoma of the hypopharynx and esophagus in
Otolaryngology Head & Neck Surgery. Vol 3. Fourth Edition. Elsevier
Mosby. Philadelphia. 2005; 1932-1942

22

12. Kang, Jan, Chung, et all. Treatment results for hypopharyngeal cancer by
different treatment strategies and its secondary primary-an experience in
Taiwan. Radiation Oncology. 2010; 5: 91
13. Lukarsky, Dusko, et al. Concurrent radiochemotherapy in advanced
hypopharyngeal cancer. Radiation Oncology. 2010; 5: 39
14. Hoffman HT, et al. The National Cancer Data Base report on cancer of the
head and neck. Arch Otolaryngology Head Neck Surgery. 2012; 951-962

23