Anda di halaman 1dari 49

KELAINAN GUSI

GINGIVITIS
Gingivitis merupakan proses peradangan didalam jaringan periodonsium yang terbatas pada
gingiva, yang disebabkan olehmikroorganisme yaang membentuk suatu koloni serta
membentuk plak gigi yang melekat pada tepi gingival.
Gingivitis adalah peradangan gingiva. Pada kondisi initidak terjadi kehilangan perlekatan. Pada
pemeriksaan klinis terdapat gambaran kemerahan di margin gingiva, pembengkakandengan
tingkat yang bervariasi, perdarahan saat probing dengantekanan ringan dan perubahan bentuk
gingiva. Peradangan gingivatidak disertai rasa sakit.

gambar: gingivitis
Macam macam gingivitis
a.Gingivitis marginalis
Gingivitis yang paling sering kronis dan tanpa sakit, tapi episode akut, dan sakit dapat menutupi
keadaan kronis tersebut. Keparahannya seringkali dinilai berdasarkan perubahan-perubahan
dalam warna, kontur, konsistensi, adanya perdarahan. Gingivitis kronis menunjukkan tepi
gingiva membengkak merah dengan interdental menggelembung mempunyai sedikit warna
merah ungu. Stippling hilang ketika jaringan-jaringan tepi membesar. Keadaan tersebut
mempersulit pasien untuk mengontrolnya, karena perdarahan dan rasa sakit akan timbul oleh
tindakan yang paling ringan sekalipun (Langlais dan Miller, 1998).
b.Acute Necrotizing Ulcerative Gingivitis
ANUG ditandai oleh demam, limfadenopati, malaise, gusi merah padam, sakit mulut yang hebat,
hipersalivasi, dan bau mulut yang khas. Papilla-papilla interdental terdorong ke luar, berulcerasi
dan tertutup dengan pseudomembran yang keabu-abuan.
c.Pregnancy Gingivitis
Biasa terjadi pada trimester dua dan tiga masa kehamilan, meningkat pada bulan kedelapan dan
menurun setelah bulan kesembilan. Keadaan ini ditandai dengan gingiva yang membengkak,

merah dan mudah berdarah. Keadaan ini sering terjadi pada regio molar, terbanyak pada regio
anterior dan interproximal (Susanti, 2003).
d.Gingivitis scorbutic
Terjadi karena defisiensi vitamin c, oral hygiene jelek, peradangan terjadi menyeluruh dari
interdental papill sampai dengan attached gingival, warna merah terang atau merah menyala atau
hiperplasi dan mudah berdarah (Sea, 2000).
Tanda-tanada gingivitis
Menurut Be Kien Nio (1987), gingivitis merupakan tahap awal dari penyakit periodontal,
gingivitis biasanya disertai dengan tanda-tanda sebagai berikut :
1. Gingiva biasanya berwarna merah muda menjadi merah tua sampai ungu karena adanya
vasodilatasi pembuluh darah sehingga terjadi suplay darah berlebihan pada jaringan yang
meradang.
2. Bila menggosok gigi biasanya pada bulu sikat ada noda darah oleh karena adanya perdarahan
pada gingiva di sekitar gigi.
3. Terjadinya perubahan bentuk gingiva karena adanya pembengkakan.
4. Timbulnya bau nafas yang tidak enak.
5. Pada peradangan gingiva yang lebih parah tampak adanya nanah di sekitar gigi dan gingival.
Penyebab gingivitis
Kelainan yang terjadi dalam rongga mulut disebabkan oleh ketidakseimbangan faktor-faktor
yaitu : host, agent, environment, psikoneuroimunologi. Penyebab gingivitis sangat bervariasi,
mikroorganisme dan produknya berperan sebagai pencetus awal gingivitis. Gingivitis sering
dijumpai karena akumulasi plak supra gingiva dan tepi gingiva, terdapat hubungan bermakna
skor plak dan skor gingivitis (Musaikan, 2003, Nurmala, 2010). Lapisan plak pada gingiva
menyebabkan gingivitis atau radang gingiva, umur plak menentukan macam kuman dalam plak,
sedangkan macam kuman dalam plak menentukan penyakit yang ditimbulkan oleh plak. Plak tua
adalah plak yang umurnya tujuh hari mengandung kuman coccus, filament, spiril dan
spirochaeta. Plak tua ini menyebabkan gingivitis (Be, 1987, anonim, 2010).
Plak gigi terbukti dapat memicu dan memperparah inflamasi gingiva. Secara histologis, beberapa
tahapan gingivitis menjadi karakteristik sebelum lesi berkembang menjadi periodontitis. Secara
klinis, gingivitis dapat dikenali (anonim, 2009). Menurut Sriyono et al, (2005) , faktor-faktor
yang dapat menyebabkan terjadinya gingivitis adalah sebagai berikut :
Faktor internal
Faktor intern yang bertanggung jawab atas terjadinya penyakit gingiva
1. Lapisan karang gigi dan noda atau zat-zat pada gigi
2. Bahan makanan yang terkumpul pada pinggiran gingiva tidak dibersihkan oleh air liur dan
tidak dikeluarkan oleh sikat.
3. Gigi berjejal secara abnormal sehingga makanan yang tertinggal tidak teridentifikasi, kadangkadang terbentuk ruangan dikarenakan pembuangan gigi.
4. Kebiasaan seperti menempatkan peniti, kancing, buah pinang dan kawat dalam mulut. Bahan
ini melukai gusi dan menyebabkan infeksi.
Faktor external

Makanan yang salah dan malnutrisi. Pada umumnya seseorang yang kurang gizi memiliki
kelemahan, gejala yang tidak diharap tersebut dikarenakan factor sosial ekonomi yang berperan
sangat penting.Faktor-faktor yang berperan adalah latar belakang pendidikan, pendapatan dan
budaya. Golongan masyarakat berpendapatan rendah tidak biasa melakukan pemeriksaan
kesehatan yang bersifat umum. Diet dengan hanya makan sayuran tanpa unsur serat di dalamnya
juga biasa menjadi faktor penambah.
Proses terjadinya gingivitis
Plak berakumulasi dalam jumlah sangat besar di regio interdental yang terlindung, inflamasi
gingiva cenderung dimulai pada daerah papilla interdental dan menyebar dari daerah ini ke
sekitar leher gigi. Pada lesi awal perubahan terlihat pertama kali di sekitar pembuluh darah
gingiva yang kecil, di sebelah apikal dari epithelium fungsional khusus yang merupakan
perantara hubungan antara gingiva dan gigi yang terletak pada dasar leher gingiva), tidak terlihat
adanya tanda-tanda klinis dari perubahan jaringan pada tahap ini. Bila deposit plak masih ada
perubahan inflamasi tahap awal akan berlanjut disertai dengan meningkatnya aliran cairan
gingiva. Pada tahap ini tanda-tanda klinis dari inflamasi makin jelas terlihat. Papilla interdental
menjadi sedikit lebih merah dan bengkak serta mudah berdarah pada sondase, dalam waktu dua
sampai seminggu akan terbentuk gingivitis yang lebih parah. Gingiva sekarang berwarna merah,
bengkak dan mudah berdarah (Manson dan Eley, 1993).
Akibat gingivitis
Menurut Be Kien Nio (1987), Anonim (2010), apabila gingivitis tidak segera ditangani maka
akan mengakibatkan hal-hal sebagai berikut :Sulcus gingiva akan tampak lebih dalam dari
keadaan normal, akibat pembengkakan gingival ,gingiva mudah berdarah, gingiva berwarna
merah, nafas bau busuk, dan gigi goyang
Pencegahan gingivitis
Menurut Depkes RI. (2002), untuk mencegah terjadinya gingivitis, kita harus berusaha agar
bakteri dan plak pada permukaan gigi tidak diberi kesempatan untuk bertambah dan harus
dihilangkan, sebenarnya setiap orang mampu, tetapi untuk melakukannya secara teratur dan
berkesinambungan diperlukan kedisiplinan pribadi masing-masing. Caranya :
1. Menjaga kebersihan mulut, yaitu : sikatlah gigi secara teratur setiap sesudah makan dan
sebelum tidur.
2. Mengatur pola makan dan menghindari makan yang merusak gigi, yaitu makanan yang
banyak gula.
3. Periksalah gigi secara teratur ke dokter gigi, Puskesmas setiap enam bulan sekali.
Perawatan gingivitis
Menurut J.D. Manson dan B.M. Eley (1998), Mediresource clinical team (2010), perawatan
gingivitis terdiri dari tiga komponen yang dapat dilakukan bersamaan yaitu :
1. Interaksi kebersihan mulut
2. Menghilangkan plak dan calculus dengan scaling
3. Memperbaiki faktor-faktor retensi plak.
Ketiga macam perawatan ini saling berhubungan. Pembersihan plak dan calculus tidak dapat
dilakukan sebelum faktor-faktor retensi plak diperbaiki. Membuat mulut bebas plak ternyata

tidak memberikan manfaat bila tidak dilakukan upaya untuk mencegah rekurensi deposit plak
atau tidak diupayakan untuk memastikan pembersihan segera setelah deposit ulang.
Indeks untuk mengukur gingivitis
Gingivitis diukur dengan gingival indeks. Indeks adalah metoda untuk mengukur kondisi dan
keparahan suatu penyakit atau keadaan pada individu atau populasi. Indeks digunakan pada
praktek di klinik untuk menilai status gingival pasien dan mengikuti perubahan status gingiva
seseorang dari waktu ke waktu, pada penelitian epidemiologis, gingiva indeks digunakan untuk
membandingkan prevalensi gingivitis pada kelompok populasi, dan untuk menilai efektivitas
suatu pengobatan atau alat. Gingiva indeks pertama kali diusulkan pada tahun 1963 untuk
menilai tingkat keparahan dan banyaknya inflamasi gingiva pada seseorang atau pada subjek
dikelompok besar populasi. Menurut metoda ini keempat area gingiva pada masing-masing gigi
(fasial,mesial, distal dan lingual), dinilai tingkat inflamasinya dan diberi skor dari 0 sampai 4.
Penilaiannya adalah ;
0 = Gingiva normal, tidak ada keradangan, tidak ada perubahan warna dan tidak ada perdarahan.
1 = Peradangan ringan : terlihat ada sedikit perubahan warna dan sedikit edema, tetapi tidak ada
perdarahan saat probing.
2 = Peradangan sedang : warna kemerahan, adanya edema, dan terjadi perdarahan saat probing
3 = Peradangan berat : warna merah terang, atau merah menyala, adanya edema, ulserasi,
kecenderungan adanya perdarahan spontan (Wilkins dan Ester, 2005).
PERIODONTITIS
Periodontitis adalah peradangan atau infeksi pada jaringan penyangga gigi (jaringan
periodontium). Yang termasuk jaringan penyangga gigi adalah gusi, tulang yang membentuk
kantong tempat gigi berada, dan ligamen periodontal (selapis tipis jaringan ikat yang memegang
gigi dalam kantongnya dan juga berfungsi sebagai media peredam antara gigi dan tulang) .
Suatu keadaan dapat disebut periodontitis bila perlekatan antara jaringan periodontal dengan gigi
mengalami kerusakan. Selain itu tulang alveolar (tulang yang menyangga gigi) juga mengalami
kerusakan.
Periodontitis dapat berkembang dari gingivitis (peradangan atau infeksi pada gusi) yang tidak
dirawat. Infeksi akan meluas dari gusi ke arah tulang di bawah gigi sehingga menyebabkan
kerusakan yang lebih luas pada jaringan periodontal

Gambar: periodontitis
Bila ini terjadi, gusi dapat mengalami penurunan, sehingga permukaan akar terlihat dan
sensitivitas gigi terhadap panas dan dingin meningkat. Gigi dapat mengalami kegoyangan karena
adanya kerusakan tulang.
Gejala
Kadang pasien tidak merasakan rasa sakit ataupun gejala lainnya. Biasanya tanda-tanda yang
dapat diperhatikan adalah :

Gusi berdarah saat menyikat gigi

Gusi berwarna merah, bengkak, dan lunak.

Terlihat adanya bagian gusi yang turun dan menjauhi gigi.

Terdapat nanah di antara gigi dan gusi.

Gigi goyang.

Pemeriksaan
Dokter gigi biasanya akan melakukan pemeriksaan klinis pada jaringan gusi dan melihat apakah
ada gigi-gigi yang mengalami kegoyangan. Hubungan antara gigi-gigi rahang atas dan bawah
saat menggigit juga akan diperiksa.

Gambar . Pemeriksaan kedalaman poket


Kemudian dokter gigi akan melakukan pemeriksaan yang disebut periodontal probing, yaitu
teknik yang digunakan untuk mengukur kedalaman poket (kantong yang terbentuk di antara gusi
dan gigi). Kedalaman poket ini dapat menjadi salah satu petunjuk seberapa jauh kerusakan yang
terjadi.
Sebagai tambahan, pemeriksaan radiografik (x-rays) juga perlu dilakukan untuk melihat tingkat
keparahan kerusakan tulang.
Penyebab
Periodontitis umumnya disebabkan oleh plak. Plak adalah lapisan tipis biofilm yang
mengandung bakteri, produk bakteri, dan sisa makanan. Lapisan ini melekat pada
permukaan gigi dan berwarna putih atau putih kekuningan. Plak yang menyebabkan gingivitis
dan periodontitis adalah plak yang berada tepat di atas garis gusi. Bakteri dan produknya dapat
menyebar ke bawah gusi sehingga terjadi proses peradangan dan terjadilah periodontitis.
Perawatan
Pada kasus-kasus periodontitis yang belum begitu parah, biasanya perawatan yang diberikan
adalah root planing dan kuretase, yaitu pengangkatan plak dan jaringan yang rusak dan
mengalami peradangan di dalam poket dengan menggunakan kuret. Tujuan utamanya adalah
menghilangkan semua bakteri dan kotoran yang dapat menyebabkan peradangan. Setelah
tindakan ini, diharapkan gusi akan mengalami penyembuhan dan perlekatannya dengan gigi
dapat kembali dengan baik.

Pada kasus-kasus yang lebih parah, tentunya perawatan yang diberikan akan jauh lebih
kompleks. Bila dengan kuretase tidak berhasil dan kedalaman poket tidak berkurang, maka perlu
dilakukan tindakan operasi kecil yang disebut gingivectomy. Tindakan operasi ini dapat
dilakukan di bawah bius lokal.
Pada beberapa kasus tertentu yang sudah tidak bisa diatasi dengan perawatan di atas, dapat
dilakukan operasi dengan teknik flap, yaitu prosedur yang meliputi pembukaan jaringan gusi,
kemudian menghilangkan kotoran dan jaringan yang meradang di bawahnya.
Antibiotik biasanya diberikan untuk menghentikan infeksi pada gusi dan jaringan di bawahnya.
Perbaikan kebersihan mulut oleh pasien sendiri juga sangat penting.
Pencegahan Periodontitis

Sikat gigi dua kali sehari, pada pagi hari setelah sarapan dan malam hari sebelum tidur.

Lakukan flossing sekali dalam sehari untuk mengangkat plak dan sisa makanan yang
tersangkut di antara celah gigi-geligi.

Pemakaian obat kumur anti bakteri untuk mengurangi pertumbuhan bakteri dalam mulut,
misalnya obat kumur yang mengandung chlorhexidine. Lakukan konsultasi terlebih
dahulu dengan dokter gigi Anda dalam penggunaan obat kumur tersebut.

Berhenti merokok

Lakukan kunjungan secara teratur ke dokter gigi setiap 6 bulan sekali untuk kontrol rutin
dan pembersihan.

Perikoronitis
Perikoronitis merupakan perdangan pada jaringan lunak disekeliling gigi yang akan erupsi,
paling sering terjadi pada molar 3 bawah. Perikoronitis merupakan suatu kondisi yang umum
terjadi pada Molar impaksi dan cenderung muncul berulang, bila molar belum erupsi sempurna.
Akibatnya, dapat terjadi destruksi tulang di antara gigi molar dan geraham depannya.
EPIDEMIOLOGI
Perikoronitis dapat terjadi pada usia berpapun, tetapi paling terjadi pada anak anak dan dewasa
muda yang gigi giginya sedang bererupsi. Umumnya hal ini berkaitan dengan molar ketiga
bawah yang sedang bererupsi dalam alignemen yang baik, tetapi dibatasi erupsinya oleh ruang

yang tidak cukup. Radiograf dari daerah tersebut menggambarkan radiolusensi menghilang atau
sangat menebal karena deposisi dari tulang yang reaktif.
4. FAKTOR PENYEBAB
Faktor penyebab utama dari perikoronitis adalah karena gigi molar 3 tidak dapat erupsi dengan
baik dikarenakan tidak cukup ruang untuk pertumbuhannya, sehingga sulit untuk erupsi
dinamakan impaksi Impaksi bertendensi menimbulkan infeksi ( perikoronitis ), dikarenakan
adanya karies pada gigi geraham depannya. Cukup banyak kasus karies pada gigi molar 2
dikarenakan gigi molar 3 mengalami impaksi. Hal ini terbukti dari hasil pengamatan Akbar
Rahayu (1981 ) pada penderita yang berobat pada bagian bedah mulut dan Maksilo Fasial
Ladokgi TNI AL M.E. Martadinata. Menurut Akbar, terbentuknya karies dipermudah, terutama
kalau erupsinya Molar 3 sebagian maka sisa sisa makanan akan sulit untuk di bersihkan karena
sikat gigi sulit menjangkau wilayah gigi gigi bagian belakang sementara sisa sisa makanan
masuk di celah antara gigi karena letaknya di ujung dan tersembunyi di belakang geraham
depannya sehingga dapat menimbulkan invasi kuman dan menyebabkan peradangan setempat.
Ada sejumlah faktor yang menyebabkan gigi mengalami impaksi. Karena jaringan sekitarnya
yang terlalu padat, adanya retensi gigi susu yang berlebihan, tanggalnya gigi susu terlalu awal.
Bisa juga karena tidak adanya tempat untuk erupsi. Rahang kesempitan dikarenakan
pertumbuhan tulang rahang yang kurang sempurna. Teori lain mengatakan Pertumbuhan rahang
dan gigi mempunyai tendensi bergerak maju ke arah depan. Apabila pergerakan ini terhambat
oleh sesuatu yang merintangi, bisa terjadi impaksi gigi. Misalnya, karena infeksi, trauma,
malposisi gigi, atau gigi susu tanggal sebelum waktunya. Sementara, menurut teori Mendel,
pertumbuhan rahang dan gigi dipengaruhi oleh faktor keturunan. Jika salah satu orang tua (ibu)
mempunyai rahang kecil, dan bapak bergigi besar- besar, ada kemungkinan salah seorang
anaknya berahang kecil dan bergigi besar-besar. Akibatnya, bisa terjadi kekurangan tempat
erupsi gigi molar 3, dan terjadilah impaksi. Sempitnya ruang erupsi gigi molar 3, menurut drg.
Danardono, itu karena pertumbuhan rahangnya kurang sempurna. Hal ini bisa karena perubahan
pola makan. Manusia sekarang cenderung menyantap makanan lunak, sehingga kurang
merangsang pertumbuhan tulang rahang. Makanan lunak yang mudah ditelan menjadikan rahang
tak aktif mengunyah. Sedangkan makanan banyak serat perlu kekuatan rahang untuk mengunyah
lebih lama. Proses pengunyahan lebih lama justru menjadikan rahang berkembang lebih baik.
Seperti diketahui, sendi-sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya
rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi-sendi itu pun kurang aktif, sehingga rahang
tidak berkembang semestinya. Rahang yang harusnya cukup untuk menampung 32 gigi menjadi
sempit. Akibatnya, gigi bungsu yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat untuk
tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring, atau bahkan tidur di dalam karena
tidak ada tempat untuk nongol. Ada 3 sumber utama infeksi gigi, yaitu :
Dari periapikal ( ujung akar gigi ) sebagai akibat kerusakan pulpa dan masuknya kuman
ke jaringan periapikal
Dari jaringan periodontal ( jaringan pengikat akar gigi ) sebagai akibat saku gusi semakin
dalam karena penumpukan karang gigi sehingga penetrasi kuman semakin mudah.
Dari Perikoroner akibat akumulasi kuman di sekeliling mahkota gigi saat erupsi / tumbuh.
Impaksi gigi molar kadang kadang tampak pada waktu dilakukan pemeriksaan roentgen rutin
seputar daerah tidak bergigi pada rahang bawah. Penekanan selaput lender antara mahkota molar

3 dan prothesa menyebabkan rasa sakit. Tekanan pada gusi yang menutupi menyebabkan
kematian sel dan dapat menimbulkan penyebaran infeksi.
GAMBARAN KLINIS
Penderita Perikoronitis ini biasanya mengeluh kesakitan yang kadang tidak tertahankan dan
seringkali menyebabkan perasaan yang kurang nyaman pada saat membuka mulutnya, dengan
membuka mulut pasien akan merasa semakin terasa sakit. Pasien mengeluh nafsu makannya
menjadi berkurang dikarenakan lebih terasa sakit bila tersentuh oleh makanan, dan mengunyah.
Rasa sakit yang idiopatik merupakan rasa sakit molar yang sedang erupsi atau rasa sakit yang
menyebar ke bagian leher dan kepala. Pasien sering mengeluh sakit meski kadang secara klinis
dan rongent tidak ada yang tidak normal. Kecuali adanya gigi impaksi tertanam dalam sekali.
Daerah infeksi terlihat gusi ( ginggiva ) yang hiperemis, bengkak, dan terlihat lebih mengkilat
daripada daerah gusi yang lain. Kadang sudah timbul pernanahan, disebut perikoronal abses,
yang nanahnya dapat keluar dari marginal.
6. PENATALAKSANAAN
Perlindungan antibiotic dianjurkan jika ada gejala gejala konstitusional dan kemungkinan
adanya penyebaran infeksi. Perikoronitis paling baik dirawat dengan membuka ruang folikuler,
membilas bahan purulen dari sulkus gusi dengan larutan saline dan menghilangkan trauma oklusi
apapun. Perawatan yang pasti biasanya adalah pencabutan gigi yang bersangkutan. Tetapi Bila
ruangan cukup untuk erupsi gigi dilakukan operkuloktomi yaitu pengambilan jaringan lunak
disekitar gigi yang mengalami impaksi.untuk memberi kesempatan gigi molar 3. Bila ruangan
tidak cukup untuk erupsi gigi dilakukan ekstraksi gigi penyebab. Gigi molar 3 rawan
menyebabkan masalah kesehatan gigi dan mulut misalnya perikoronitis yang menimbulkan nyeri
yang terasa amat mengganggu dikarenakan banyak hal, sehingga banyak dari para ahli
menyarankan untuk melakukan ekstraksi molar 3 walaupun pertumbuhannya normal dan tidak
mengganggu fungsi gigi gigi yang lain. Sebenarnya rasa sakit bisa dengan mudah dihilangkan
dengan pemberian antibiotic, tetapi yang jadi masalah adalah apabila ada sisa makanan yang
menempel pada daerah daerah molar 3 akan sangat sulit untuk dibersihkan karena posisinya
yang terletak di paling belakang sehingga rasa nyeri akan terus kambuh dan sakit lagi.
Untuk menghindari kemungkinan muncul komplikasi lebih lanjut, pencabutan sebaiknya
dilakukan sedini mungkin. Sebelum menimbulkan kerusakan pada gigi yang lain. Selain itu bila
pencabutan dilakukan pada umur yang lebih muda, penyembuhan pasca pencabutan bisa lebih
cepat. Tetapi bagaimana bila timbulnya perandangan (perikoronitis) sedangkan gigi molar 3
masih berada di bawah gusi dan tidak dapat di cabut? Solusinya adalah harus mengoperasi gigi
molar 3 itu terlebih dahulu. Bukan mencabut gigi molar depannya ( molar 2 )
7. PENCEGAHAN
Seperti diketahui, sendi sendi di ujung rahang merupakan titik tumbuh atau berkembangnya
rahang. Kalau proses mengunyah kurang, sendi sendi itupun kurang aktif, sehingga rahang
tidak berkembang semestinya. Rahang yang seharusnya cukup untuk menampung 32 gigi
menjadi sempit. Akibatnya, gigi molar 3 yang selalu tumbuh terakhir itu tidak kebagian tempat
untuk tumbuh normal. Ada yang tumbuh dengan posisi miring, atau bahkan tidur di dalam
karena tidak ada tempat untuk erupsi. Maka, untuk mendukung perkembangan rahang, sebaiknya
sering sering mengkonsumsi makanan berserat supaya gigi jadi lebih aktif menggigit,

memotong, dan mengunyah. Rahang pun menjadi makin aktif dan diharapkan akan tumbuh
normal. Dampaknya, pertumbuhan gigi pun bisa lebih baik. Dan periksalah gigi secara teratur ke
dokter gigi.

Abses Peridontal
Abses periodontal adalah suatu inflamasi purulen terlokalisir pada jaringan periodontal. Yang
diklasifikasikan menjadi tiga golongan diagnostik, yaitu: abses gingiva, abses periodontal, dan
abses perikoronal. Abses gingiva melibatkan jaringan interdental dan marginal gingiva. Abses
periodontal adalah suatu infeksi yang terletak di sekitar poket periodontal serta dapat
mengakibatkan kerusakan ligamentum periodontal dan tulang alveolar. Abses perikoronal
disebabkan oleh mahkota gigi yang erupsi sebagian.

Gambar 1. A, Invasi furkasi yang dalam merupakan lokasi abses periodontal yang umum. B, Anatomi furkasi
seringkali mencegah pembersihan kalkulus dan plak mikrobial secara definitif.

Umumnya, abses periodontal ditemukan pada penderita periodontitis yang tidak dirawat dan
disebabkan oleh poket periodontal yang dalam. Abses periodontal seringkali timbul sebagai
eksaserbasi akut poket yang ada. Abses periodontal dihubungkan dengan sejumlah kondisi klinis,
terutama akibat pembersihan plak yang tidak sempurna. Kondisi tersebut diidentifikasi pada
pasien setelah menjalani bedah periodontal, pemeliharaan pencegahan, terapi antibiotik sistemik,
dan akibat penyakit rekuren. Kondisi-kondisi abses periodontal yang tidak berhubungan dengan
penyakit periodontal inflamasi antara lain perforasi atau fraktur gigi, dan impaksi benda asing.
Diabetes mellitus yang tidak terkontrol dengan baik dinyatakan sebagai salah satu faktor
predisposisi pembentukan abses periodontal. Pembentukan abses periodontal dilaporkan menjadi
salah satu penyebab utama kehilangan gigi. Namun, jika dilakukan perawatan yang baik dan

dilanjutkan dengan pemeliharaan periodontal preventif yang konsisten, gigi-geligi yang


mengalami kerusakan tulang signifikan dapat dipertahankan sampai bertahun-tahun.

Gambar 2. Abses periodontal pasca-profilaksis setelah penyembuhan poket periodontal


secara parsial di atas sisa-sisa kalkulus.

Gambar 3. A. Ditemukan fistula pada attached gingiva gigi kaninus kanan rahang atas. B. Pengangkatan flap
menunjukkan bahwa penyebabnya adalah fraktur akar.

Gambar 4. Abses periodontal lokal pada gigi kaninus kanan rahang atas seorang pria dewasa penderita diabetes
mellitus tipe 2 yang tak-terkontrol. Pada sebagian pasien, pembentukan abses periodontal adalah tanda pertama
penyakit tersebut.

Berikut merupakan tabel tanda dan gejala abses periodontitis :

EPULIS
Epulis adalah suatu tumor yang bersifat jinak dan pertumbuhannya berada di atasgingival dan
berasal dari periodontal dan jaringan periosteum. Epulis ini bersifat fibrous,hiperplastik atau
granulatif. Dalam pertumbuhannya epulis ini bisa tidak bertangkai atau biasa disebut sensile dan
dan bisa pula bertangkai (peduncullated). Epulis ini dapat berasaldari iritasi kronis yang berlanjut
menjadi epulis fissuratum/denture hyperplasia akibatrangsangan tepi protesa tidak baik dan
berlangsung lama dalam rongga mulut. Selain ituepulis juga dapat terjadi pada pasien dengan
gangguan hormonal ( Style,2009). Epulis Congenitalis disebut Congenital granular cell tumor
(GCT). Epulis ini terdapatpada mukosa bayi yang baru lahir.
Etiologinya secara jelas belum diketahui namun didugaberasal dari sel epitel bakal benih gigi
(odontogenik). Epulis ini terlihat seperti benjolan yangmuncul pada alveolar ridge dalam rongga
mulut. Hal ini menghambat pernafasan dan asupan makanan bayi.
Secara klinis massa peduncullated kadang multiobuler dan berwarna merahmuda lunak. Evaluasi
patologis tumor yang disebut diagnosis GTC antara lain penampakan makroskopik permukaan
luar terlihat tidak biasa dan potongannya homogenus. Histologisnya terlihat sel polygonal yang

menyebar teratur dan mengandung ovalnuclei dan abundantcoarsely granular cytoplasm


( Style,2009).

KELAINAN PADA LIDAH


GLOSSITIS
Glossitis adalah peradangan atau infeksi pada lidah. Glossitis dapat terjadi akut atau kronik.
Penyakit ini juga merupakan kondisi mumi dari lidah sendiri atau merupakan cerminan dari
penyakit tubuh yang penampakannya ada pada lidah. Glossitis dapat menyerang semua umur.

Gambar: glossitis
Etiologi
1.

penyebab lokal

bakteri dan infeksi virus

trauma atau iritasi mekanis dari sesuatu yang terbakar, gigi, atau peralatan gigi

2.

iritasi lokal seperti dari tembakau, alkohol dan makanan yang pedas ataupun makan yang
berbumbu

alergi dari pasta gigi dan obat kumur

penyebab sistemik

kelainan nutrisi, penyakit kulit dan infeksi sitemik

malnutrisi

infeksi seperti sipilis dan HIV

Gejala dan tanda

Peradangan pada lidah

Permukaan lidah yang halus

Sulit berbicara, menelan/menguyah

Warna lidah menjadi pucat jika oleh anemia pernisiosa dan merah berapi api jika oleh
kekurangan vitamin B

Kadang kesulitan bernafas

Mulut perih

Pengobatan
Tujuannya pengobatan adalah mengurangi peradangan. Perawatan biasanya tidak memerlukan
rawat inap kecuali lidah bengkak sangat parah. Baik kebersihan mulut perlu, termasuk menyikat
gigi menyeluruh setidaknya dua kali sehari, flossing sedikitnya setiap hari. Kortikosteroid seperti
prednison dapat diberikan untuk mengurangi peradangan glositis. Untuk kasus ringan, aplikasi
tropikal ( seperti berkumur prednosin yang tidak ditelan). Antibiotik , obat anti jamur atau anti
mikroba lainnya mungkin diresepkan jika penyebabnya glossitis adalah infeksi
GLOSSODYNIA
Sindrom mulut terbakar (disebut juga glossodynia, glossopyrosis, dysaesthesia oral) ditandai
dengan sensasi terbakar yang mempengaruhi mukosa oral yang disebabkan oleh faktor lokal dan
sistemik lain misalnya xerostomia, desain gigi tiruan yang tidak baik, diabetes, anemia
(Coulthard dkk., 2003).
Sindrom mulut terbakar adalah kondisi yang sangat menyakitkan yang sering didefinisikan
sebagai sensasi panas di lidah, bibir, palatum ataupun di seluruh rongga mulut. Walaupun

sindrom ini dapat mengenai siapapun, namun lebih banyak terjadi pada wanita setengah baya
maupun lanjut usia. Sindrom mulut terbakar sering terjadi dengan disertai berbagai kondisi
medis dan gigi, dari kekurangan gizi dan menopause sampai mulut kering alergi. Tetapi
hubungan mereka tidak jelas, dan penyebab pasti sindrom mulut terbakar tidak selalu dapat
diidentifikasi dengan pasti (National Institute of Dental and Craniofacial Research, 2010).

Gambar; glossodynia
MANAJEMEN MEDIS
Sensasi terbakar di rongga mulut yang terdeteksi memiliki penyebab lokal maupun sistemik
harus di rawat. Jika penyebab tidak terdeteksi atau perawatan yang dilakukan tidak menunjukan
hilangnya gejala, sensasi rasa terbakar ini mungkin disebabkan oleh defisiensi vitamin B1 dan
B6. Pemeriksaan terhadap level vitamin tersebut dapat dilakukan kemudian disertai dengan
peresepan vitamin B1 dan B6 selama 1 bulan dosis terukur (50 mg perhari). Perhatikan kaitan
gejala dengan sifat neoplastik serta hubungan dengan stres dan kecemasan (Coulthard dkk.,
2003).
Pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan, tergantung pada penyebab gejala sindrom,
pengobatan mungkin dapat mencakup:
1. Menyesuaikan atau mengganti gigi palsu yang mengiritasi
2. Mengobati gangguan yang ada seperti diabetes, sindrom Sjgren, atau masalah tiroid untuk
memperbaiki gejala mulut terbakar
3. Suplemen untuk kekurangan nutrisi
4. Ganti obat jika obat yang menyebabkan mulut terbakar
5. Resep obat untuk
6. meredakan mulut kering

7. mengobati kandidiasis oral


8. membantu mengontrol nyeri dari kerusakan saraf
9. mengurangi kecemasan dan depresi.
Bila penyebab yang mendasari tidak dapat ditemukan, pengobatan ditujukan pada gejala untuk
mencoba mengurangi rasa sakit yang terkait dengan sindrom mulut terbakar (National Institute
of Dental and Craniofacial Research, 2010).

Gejala klinis (Coulthard dkk., 2003).


1. Jenis kelamin: lebih sering terjadi pada wanita daripada pria
2. Umur: biasanya lebih dari 50 tahun
3. Sifat: sensasi terbakar. Pasien mungkin mendeskripsikannya sebagai mukosa mulut yang
terasa terbakar atau terkena merica
4. Durasi: muncul setiap hari dan biasanya terjadi dalam periode yang panjang (bulanan sampai
tahunan). Gejala yang dirasakan pasien tidak mengganggu tidur. Beberapa pola yang berbeda
dapat dideskripsikan dan diklasifikasikan menurut sistem:
a. Tipe 1: tidak muncul saat bangun tidur, keparahan meningkat dengan jalannya hari
b. Tipe 2: muncul saat bangun dan terasa sepanjang hari
c. Tipe 3: intermiten, pola kejadian tidak dapat diprediksi
5. Lokasi: sensasi terbakar biasanya terjadi pada lidah, bibir, palatum keras, muncul di salah satu
tempat tersebut ataupun bersamaan. Jika muncul di salah satu tempat, maka seringnya muncul
pada lidah. Pada tipe 3 muncul di tempat yang tidak biasa seperti tenggorokan dan dasar mulut.
6. Faktor inisiasi: tidak terdapat faktor inisiasi yang jelas. Namun pasien melaporkan bahwa
sensasi ini tidak muncul saat mereka makan ataupun bekerja dan lebih terasa saat istirahat.
Analgesik seringnya tidak efektif.
7. Rasa sakit datang secara konstan namun dapat juga datang dan pergi. Kecemasan dan depresi
umum didapati pada orang dengan sindrom mulut terbakar dan kemungkinan diakibatkan oleh
rasa sakit kronis yang mereka alami (National Institute of Dental and Craniofacial Research,
2010).
8. Gejala lain dari BMS termasuk: Kesemutan atau mati rasa di ujung lidah atau di mulut,
Perubahan rasa pahit atau seperti logam, Mulut kering atau sakit mulut (National Institute of
Dental and Craniofacial Research, 2010).

PENYEBAB (National Institute of Dental and Craniofacial Research, 2010)


Ada beberapa kemungkinan penyebab sindrom mulut terbakar, diantaranya:
1. Kerusakan saraf yang mengendalikan rasa sakit dan pengecapan
2. Perubahan hormon
3. Mulut kering, yang dapat disebabkan oleh banyak obat-obatan dan gangguan seperti sindrom
Sjgren atau diabetes
4. defisiensi nutrisi
5. Oral kandidiasis
6. refluks asam
7. gigi tiruan yang tidak pas atau alergi dengan bahan gigi tiruan
8. Kecemasan dan depresi
Pada beberapa orang, sindrom mulut terbakar mungkin memiliki lebih dari satu penyebab. Tapi
bagi banyak orang, penyebab pasti dari gejala-gejalanya tidak dapat ditemukan.
DIAGNOSIS (National Institute of Dental and Craniofacial Research, 2010)
Diagnosis dapat dilakukan dengan bantuan pemeriksaan oral secara menyeluruh dan
pemeriksaan medis secara umum untuk mengetahui sumber penyebab rasa terbakar tersebut,
diantaranya:
1. Kerja darah untuk mencari infeksi, kekurangan gizi, dan gangguan yang berkaitan dengan
sindrom mulut terbakar seperti diabetes atau masalah tiroid
2. swab oral untuk memeriksa kandidiasis oral tes alergi terhadap bahan gigi tiruan, makanan
tertentu, atau zat lain yang mungkin menyebabkan gejala-gejala tersebut.
MANAJEMEN MEDIS
Sensasi terbakar di rongga mulut yang terdeteksi memiliki penyebab lokal maupun sistemik
harus di rawat. Jika penyebab tidak terdeteksi atau perawatan yang dilakukan tidak menunjukan
hilangnya gejala, sensasi rasa terbakar ini mungkin disebabkan oleh defisiensi vitamin B1 dan
B6. Pemeriksaan terhadap level vitamin tersebut dapat dilakukan kemudian disertai dengan
peresepan vitamin B1 dan B6 selama 1 bulan dosis terukur (50 mg perhari). Perhatikan kaitan
gejala dengan sifat neoplastik serta hubungan dengan stres dan kecemasan (Coulthard dkk.,
2003).
Pengobatan harus disesuaikan dengan kebutuhan, tergantung pada penyebab gejala sindrom,
pengobatan mungkin dapat mencakup:
1. Menyesuaikan atau mengganti gigi palsu yang mengiritasi
2. Mengobati gangguan yang ada seperti diabetes, sindrom Sjgren, atau masalah tiroid untuk
memperbaiki gejala mulut terbakar
3. Suplemen untuk kekurangan nutrisi
4. Ganti obat jika obat yang menyebabkan mulut terbakar

5. Resep obat untuk


6. meredakan mulut kering
7. mengobati kandidiasis oral
8. membantu mengontrol nyeri dari kerusakan saraf
9. mengurangi kecemasan dan depresi.
Bila penyebab yang mendasari tidak dapat ditemukan, pengobatan ditujukan pada gejala untuk
mencoba mengurangi rasa sakit yang terkait dengan sindrom mulut terbakar (National Institute
of Dental and Craniofacial Research, 2010).

Makroglosia
Pembesaran lidah dapat merupakan kelainan perkembangan yang disebabkan oleh hipertrofi otot
lidah. Lidah yang besar akan mendorong gigi dan tapakan gigi akan terbentuk pada lateral lidah,
seperti kerang. Makroglosia dapat terlihat pada sindrom Down dan kretinisme congenital akibat
kekurangan hormone kelenjar tiroid pada ibu. Makroglosia juga dapat merupakan kelainan yang
didapat, selain Karena faktor perkembangan misalnya, karena kehilangan gigi geligi rahang
bawah dalam jumlah banyak. Pembesaran lidah dapat juga disebabkan oleh tumor, radang dan
perubahan hormonal (misalnya pada kretinisme dan akromegali). Bergantung pada derajad
keparahan dan potensinyauntuk menimbulkan masalah pada rongga mulut, pembesaran lidah
dapat dikurangi dengan tindakan bedah.

Gambar 3. Makroglosia
Mikroglosia
Mikroglosia adalah lidah yang kecil. Keadaan ini sangat jarang ditemukan, dapat ditemukan pada
sindrom Pierre robin yang merupakan kelainan herediter.2 Pada hemiatrofi lidah, sebagian lidah
mengecil. Penyebabnya dapat berupa cacat nervus hipoglosus yang mempersarafi otot lidah.

Tanpa rangsangan, otot lidah menjadi atrofi dan tubuh lidah menjadi mengecil. Pada kasus ini,
selain cacat pada lidah juga menimbulkan kerusakan di tempat lain.2,3

Gambar 4. Mikroglosia2
1. Ankyloglosia (tongue tie)2,4
Ankyloglosia merupakan perlekatan sebagian atau seluruh lidah ke dasar mulut.
Frenulum lingualis melekat terlalu jauh ke depan dan terlihat pada posisi bervariasi, yang
paling parah bila terletak pada ujung anterior lidah. Pergerakan lidah dapat terhambat dan
penderita tidak dapat menyentuh palatum durum dalam posisi mulut terbuka. Bicara
dapat terganggu. Kasus ringan tidak membutuhkan perawatan, sedangkan kasus berat
berhasil diobati dengan bedah untuk memperbaiki perlekatan frenulum.

Gambar 5. Ankyloglosia2

Gambar 6. Teknik frenulectomi2


2. Sumbing lidah (cleft tongue)11
Tidak sempurnanya penyatuan bagian tengah lidah selama masa perkembangan
embrional, disertai groove yang dalam pada permukaan dorsal lidah. Pada kelainan ini,
fungsi pengecapan akan terganggu dan terjadi penumpukan serta retensi sisa makanan
pada lidah.
3. Tiroid lingual
Tiroid lingual tampak sebagai suatu penonjolan pada pangkal lidah sekitar
foramen caecum yang mengandung jaringan tiroid. Patogenesis: kelenjar tiroid dibentuk
pada pangkal lidah (foramen caecum).2,5 Pada minggu ke-5 intrauterin akan turun ke
bawah di depan trakea dan berhenti di depan os hyoideum dan os tiroid. Jika sebagian
tidak turun, terjadi tiroid lingual. Secara normal, perjalanan penurunan ini merupakan
suatu saluran yang akhirnya menghilang karena atrofi. Tetapi kadang-kadang sisa saluran
tertinggal dan terbentuk kista (kista tiroglosus).2,5,7

Gambar 7. Tiroid lingual7

4. Kista tiroglosus
Selalu terletak pada garis tengah depan leher. Mikroskopis: dinding kista
mengandung sisa jaringan tiroid yang terdiri atas folikel kelenjar tiroid yang mengandung
koloid.2,7 Kista ini perlu dibedakan dengan kista lain yang ditemukan juga pada leher,
misalnya kista brankiogenik yang letaknya tidak pada garis tengah, tetapi lebih ke
samping.2,5 Pada gambaran mikroskopis, kista brankiogenik tidak mengandung sisa tiroid
tetapi terdiri atas folikel jaringan limfoid yang padat serta dilapisi oleh epitel gepeng
berlapis sebagai lapisan dalam dinding kista.2,5,7
5. Median rhomboid glositis2
Merupakan kelainan kongenital akibat kelainan perkembangan embrional. Kedua
tuberkulum lateral lidah tidak bertemu di tengah lidah dan tidak menutup bagian tengah
yang disebut tuberkulum impar. Bagian tengah tampak sebagai suatu daerah berbentuk
belah ketupat berwarna kemerahan seperti terkena radang dengan permukaan licin karena
tidak berpapil.

Gambar 8. Median rhomboid glositis8


6. Lidah geografik (benign migratory glossitis atau wandering rash)2,4,9
Biasanya terjadi pada anak-anak. Tampak daerah kemerahan pada dorsum lidah
akibat deskuamasi papilla filiformis dikelilingi daerah sedikit menonjol dan berbatas
tegas dengan tepi tidak teratur dan berwarna putih kekuningan. Papilla fungiformis tetap
ada. Gambaran dapat berubah-ubah sehingga dinamakan glositis migratoris jinak. Lesi
umumnya tidak sakit, tetapi kadang-kadang timbul rasa sakit, terutama ketika memakan
makanan asin atau pedas. Jarang sekali disertai stomatitis areata migrans pada sisi lain
mukosa mulut yang umumnya pada mukosa labial atau bukal.

Gambar 9. Lidah geografik9


7. Hairy tongue
Hairy tongue adalah pemanjangan secara abnormal dari papila-papila filiformis
yang membuat dorsum lidah tampak seperti berambut. 2,7 Perubahan pada papila ini
terutama berdampak pada middorsum lidah yang seringkali menjadi berubah warna.
Pemanjangan papila ini dapat berwarna putih, kuning, coklat atau hitam. Perubahan
warna tersebut merupakan akibat dari faktor-faktor intrinsik (organisme-organisme
kromogenik) dikombinasikan dengan faktor-faktor ekstrinsik (warna makanan dan
tembakau).7 Penyebab terjadinya hairy tongue tidak diketahui secara pasti. Perokok berat,
terapi antibiotik, oral hygiene yang buruk, terapi radiasi dan perubahan pH mulut
meningkatkan kemungkinan terjadinya hairy tongue. Hairy tongue lebih sering terjadi
pada pria terutama yang berusia di atas 30 tahun dan prevalensinya meningkat seiring
dengan bertambahnya usia.7,9

Gambar 10. Hairy tongue 9


8. Leukoplakia
Suatu kondisi di mana ada gangguan pada gusi, bagian dalam pipi, bagian bawah
mulut dan lidah. Gangguan itu berupa penebalan atau adanya bercak putih. Penyebab
leukoplakia tidak diketahui, tetapi tembakau, baik merokok atau mengunyah, dianggap

sebagai penyebab utama gangguan ini. Leukoplakia biasanya tidak berbahaya, tetapi
kadang-kadang bisa serius. Meskipun kebanyakan leukoplakia jinak, persentasenya
sangat kecil untuk menunjukkan tanda-tanda awal kanker mulut. Leukoplakia dapat
terlihat dalam beberapa bentuk. Perubahan biasanya terjadi pada gusi, bagian dalam pipi,
bagian bawah mulut dan kadang-kadang di lidah, dan mungkin muncul bercak putih atau
keabu-abuan, serta ada daerah yang menebal atau mengeras. Bagi kebanyakan orang,
berhenti merokok atau konsumsi alkohol membantu memulihkan gangguan ini. Ketika ini
cara itu sudah ditempuh dan tidak efektif atau menunjukkan tanda-tanda awal kanker,
kemungkinan untuk mneyembuhkannya dengan operasi atau laser untuk menghancurkan
sel-sel kanker (cryoprobe).7,9

Gambar 11. Leukoplakia9


9. Burning Mouth Syndrome8,9
Sindrom mulut terbakar (juga disebut oral dysesthesia) terjadi sangat sering
terjadi pada wanita setelah menopause. Bagian mulut yang paling sering terkena adalah
lidah (nyeri pada lidah disebut glossodynia). Rasa terbakar menyakitkan bisa
mempengaruhi seluruh mulut (terutama lidah, bibir, dan atap mulut [palate]) atau hanya
lidah. Rasa tersebut kemungkinan berlanjut atau sebentar-sebentar disertai rasa terbakar
termasuk mulut kering, haus, dan rasa yang berubah. Kemungkinan konsekwensi
termasuk perubahan kebiasaan makan, sifat lekas marah, depresi, dan penghindaran pada
orang lain. Sindrom mulut terbakar tidak sama dengan rasa tidak nyaman sementara yang
kebanyakan orang alami setelah makanan yang mengiritasi atau makanan asam. Sindrom
mulut terbakar kurang baik dipahami. Yang kemungkinan menghadirkan sejumlah
keadaan yang berbeda dengan penyebab yang berbeda tetapi gejala yang umum.
Penyebab umum adalah penggunaan antibiotik, yang merubah keseimbangan bakteri di
dalam mulut, menyebabkan jamur candida sangat berkembangbiak (keadaan yang disebut
sariawan). Gigi palsu yang tidak pas dan alergi terhadap bahan-bahan gigi kemungkinan

penyebab paling mungkin. Penggunaan berlebihan pada pencuci dan semprotan mulut
yang bisa menyebabkan sindrom lidah terbakar, seperti apa saja yang membuat mulut
kering, seperti alkohol atau penggunaan tembakau, dan berbagai pengobatan. Kepekaan
terhadap makanan tertentu dan pewarna makanan, terutama sekali asam sorbic dan asam
benzoat (bahan pengawet makanan), propylene glycol (ditemukan sebagai moustirising
agen pada makanan, obat-obatan, dan kosmetik), chicle (ditemukan pada beberapa
permen karet), dan kayu manis, bisa memainkan beberapa peranan.
Kekurangan vitamin, termasuk B12, asam folat, dan B-kompleks, bisa
menyebabkan sindrom mulut terbakar. Kekurangan zat besi juga termasuk di dalamnya.
Keadaan tersebut mudah didiagnosa oleh dokter tetapi sulit untuk diobati. Sering minum
air atau mengunyah permen karet bisa membantu mulut tetap lembab. Antidepresan,
seperti nortriptyline, atau obat-obatan antianxiety, seperti clonazepam, kadangkala sangat
membantu, meskipun obat-obatan ini bisa membuat gejala-gejala memburuk karena
menyebabkan mulut kering.
10. Glossitis 7
Glossitis adalah peradangan atau infeksi pada lidah yang bisa diakibatkan oleh
bakteri, virus dan jamur. Kontak dengan bahan iritan, trauma mekanik, thermal, dan juga
reaksi alergi dapat juga menjadi predisposisi kelainan ini. Fissure tongue merupakan lesi
yang paling sering ditemukan diikuti geographic tongue , median rhomboid glossitis dan
hairy tongue. Semua lesi tersebut ditemukan lebih sering ditemukan pada pria. Fissure
tongue, geographic tongue,median rhomboid glossitis dan hairy tongue memiliki
prevalensi paling tinggi pada kelompok usia 61-68 tahun, 5-1 2 tahun, 53-60 tahun dan 13-20
tahun, secara berurutan.

Gambar 12. Lesi pada glositis7,9


Glositis secara umum dapat disebabkan oleh beberapa faktor antara lain:
1. Infeksi bakteri dan virus adalah penyebab umum menularnya glossitis. Infeksi jamur lidah
lebih sering terlihat pada pasien immunocompromised (HIV, diabetes mellitus tidak
terkontrol).
2. Trauma adalah penyebab umum glossitis, mungkin karena faktor mekanis atau kimia
yang mengiritasi atau melukai lidah antara lain:
- Burns
- Makanan dan minuman yang mengandung pewarna buatan
- Produk perawatan gigi
- Merokok dan narkotika
- Tembakau dan daun sirih / mengunyah pinang
- Alkohol
- Gigi bergerigi dan peralatan gigi kurang pas (implan,gigi palsu)
- Tindik lidah (buruk dilakukan), terutama bila terinfeksi
3. Alergi lebih cenderung terjadi pada individu hipersensitif.
- produk oral higiene produk
- makanan, minuman, permen karet, permen dengan flavorants tertentu, pewarnaatau
bahan pengawet
- Obat dengan efek samping tertentu seperti bronkodilator dan penghambat ganglion.
- Gigi protesa

4. Defisiensi vitamin dan mineral adalah penyebab umum dari glossitis atrofi. Penipisan
lapisan mukosa lidah dan atrofi papila menyebabkan terpaparnya pembuluh darah
sehingga lidah menjadi kemerahan.
5. Banyak dari penyakit kulit juga melibatkan selaput lendir mulut, termasuk lapisan
mukosa lidah.
Penegakkan Diagnosis
1. Dengan melihat tanda dan Gejala secara umum: lidah sakit, kemerahan, kesulitan
bicara dan kesulitan dalam makan.
2. Pemeriksaan fisik pada lidah: lidah bengkak, lunak dan atrofi papilla
3. Pemeriksaan Penunjang: Lab Darah
4. Rawat Bersama : Bagian Penyakit Dalam, Bagian THT
Prinsip Terapi
Tujuan pengobatan adalah untuk mengurangi peradangan. Perawatan biasanya
tidak memerlukan rawat inap kecuali lidah bengkak sangat parah. Untuk prinsip
penatalaksanaan antara lain dengan:
Medikasi sumber infeksi
Antibiotik, obat antijamur, atau antimikroba lainnya mungkin diresepkan
jika penyebab glossitis adalah infeksi. Kortikosteroid seperti prednison dapat
diberikan untuk mengurangi peradanganglossitis. Untuk kasus ringan, aplikasi topikal
(seperti berkumur prednison yang tidak ditelan) mungkin disarankan untuk
menghindari efek samping dari kortikosteroid ditelanatau disuntikkan.
Peningkatan oral hygiene yaitu menyikat gigi menyeluruh setidaknya dua kali sehari, dan
flossing sedikitnya setiap hari.
Menghindari bahan iritan bila ada seperti makanan panas atau pedas, alkohol, dan
tembakau untuk meminimalkan ketidaknyamanan pada lidah.
Untuk glossitis yang disebabkan oleh kekurangan nutrisi, pasien diberikan diet
makanan yang bergizi dan suplemen.
Komplikasi
1.Tersumbatnya jalan nafas
2.Kesulitan menelan, mengunyah dan bicara
11. Scalloped tongue
Scalloped tongue adalah suatu keadaan yang ditandai oleh lekukan-lekukan pada
tepi lateral lidah. Tekanan abnormal dari gigi-gigi pada lidah akan mencetak pola
tertentu, yang tampak sebagai daerah oval dan cekung yang dibatasi tepi seperti kerang
berwarna putih dan menimbul. Keadaan tersebut biasanya bilateral, tetapi dapat unilateral
atau terisolasi pada daerah dimana lidah berkontak erat dengan gigi-gigi. Penyebabnya
meliputi keadaan-keadaan yang dapat menyebabkan tekanan abnormal pada lidah seperti
gesekan dari lidah terhadap gigi dan diastema, kebiasaan menjulurkan lidah, mengisap

lidah, clenching atau lidah yang membesar. Kondisi ini tidak berbahaya dan sering tanpa
gejala. Pengobatan ditujukan pada eliminasi kebiasaan.2,4

Gambar 13. Scalloped tongue2


12. Kista Blandin-Nuhn (Kista retensi Lingual mukosa)
Kelenjar Blandin-Nuhn adalah kelenjar ludah accesorius pada permukaan ventral
lidah yang terdiri dari unsur-unsur campuran serosa dan mukosa. Ketika terjadi trauma
bagian ventral lidah akan menginduksi ekstravasasi air liur ke dalam jaringan sekitarnya,
proses ini akan menyebabkan pembengkakan tanpa rasa nyeri yang disebut kista dari
Blandin-Nuhn. Kista memiliki bentuk seperti balon dengan ujung bertangkai dengan
permukaan bewarna merah hingga merah muda dan berfluktuasi. Meskipun biasanya
trauma merupakan faktor predisposisi, kista Blandin-Nuhn mungkin juga bawaan. Kista
ini jarang melebihi diameter 1 cm. Terapi adalah biopsi eksisional, dan kekambuhan
jarang terjadi.5,7

Gambar 14. Kista Blandin-Nuhn5


13. Fissured Tongue
Fissured tongue disebut juga lingua fissurata, lingua plicata, scrotal tongue dan
grooved tongue. Fissured tongue merupakan malformasi klinis berupa alur-alur atau

lekukan-lekukan pada permukaan dorsal lidah. Bagian lidah yang berfisur tidak
memperlihatkan adanya papila-papila yang normal. Penyebabnya tidak diketahui dengan
jelas, diduga kuat merupakan kelainan yang diturunkan. Kondisi ini biasanya
asimtomatis, kecuali bila sisa-sisa makanan terkumpul di dalam fisur, dapat
menyebabkan iritasi fokal, sensitif terhadap makanan pedas, dan menimbulkan halitosis
yang terkadang diikuti dengan rasa agak perih atau tidak nyaman seperti agak nyeri.
Kekerapan terjadinya fissured tongue adalah sama untuk laki-laki dan perempuan.
Fissured tongue bertambah parah seiring pertambahan usia, begitu juga jumlah, lebar,
dan kedalaman fisur.2,4

Gambar 15. Fissured tongue2


14. Bald tongue
Bald tongue merupakan kelainan lidah yang mempunyai gambaran klinis berupa
tidak adanya papila filiformis pada lidah yang mengakibatkan permukaan lidah menjadi
licin dan berwarna merah yang disertai rasa sakit. Kondisi ini menyebabkan
terganggunya fungsi pengecapan dan dapat juga menimbulkan sensasi terbakar pada
lidah. Atropi papilla lidah dapat disebabkan oleh trauma kronis, defisiensi nutrisi dan
abnormalitas hematologi, dan obat-obatan. Namun dapat juga dijumpai atropi papilla
lidah pada pasien tanpa adanya penyebab tertentu. Pada pasien lanjut usia, atropi papilla
lidah dianggap sebagai perubahan akibat pertambahan usia.7

Gambar 16. Bald tongue7


15. Keganasan Lidah
14

Pengelolaan neoplasma ganas dasar lidah tetap sulit meskipun kemajuan terbaru
dalam teknik bedah dan program pengobatan multidisiplin. Muncul pada usia yang lebih
tua dengan penyakit lanjut karena sifat gejala asimptomatik dari banyak pasien. Proses
penyakit dan pengobatan seringkali mempengaruhi struktur yang berdekatan, seperti
laring. Hasil klinis ditentukan terutama oleh histologi, tingkat penyakit, dan modalitas
pengobatan. Penilaian yang hati-hati, multidisiplin dan pengobatan selektif berdasarkan
probabilitas menyembuhkan dan memperpanjang fungsi yang sangat penting dalam
pengobatan pasien tersebut. Tingkat kekambuhan tinggi, kelangsungan hidup miskin, dan
perubahan signifikan dalam berbicara dan fungsi menelan adalah pengalaman umum
untuk pasien dengan keganasan di daerah anatomis ini. Meskipun frustrasi, pasien
berpotensi disembuhkan dan harus ditawarkan regimen yang mempertimbangkan
morbiditas dan hasil dalam konteks secara keseluruhan pada kondisi kesehatan pasien.
Alkohol kronis dan penggunaan tembakau termasuk faktor resiko berkembangnya
karsinoma lidah, usia lebih tua, lokasi geografis, dan riwayat keluarga menderita kanker
saluran cerna. Paparan Lingkungan untuk polisiklik hidrokarbon aromatik, asbes, dan
asap pengelasan dapat meningkatkan resiko kanker faring. Kekurangan gizi dan agen
infeksi (terutama papillomavirus dan jamur) juga dapat memainkan peran penting.

Gambar 17. Ca sel squamosa pada lateral lidah14


Dasar lidah memainkan peran penting dalam berbicara dan menelan. Selama fase
faring menelan, makanan dan cairan didorong menuju oropharynx dari rongga mulut oleh
lidah dan otot-otot pengunyahan. Posisi laring tinggi, efektif mengompresi epiglottis dan
laring supraglottic yang memaksa makanan, cairan, dan air liur ke hipofaring dan
kerongkongan leher. Lokasi anatomi saraf hypoglossal dalam dasar lidah menempatkan
risiko invasi atau kompresi dari neoplasma ganas atau penyakit metastasis di leher.
Meskipun laring menghasilkan suara, lidah dan faring adalah organ utama yang
membentuk suara agar ucapan dimengerti. Setiap perubahan dalam mobilitas lidah dan
pharynx diakui sebagai berubahnya berbicara. Setiap hilangnya jaringan dasar dari daerah
lidah mencegah penutupan kedap air dengan laring selama gerakan menelan.
Ketidaksesuaian ini memungkinkan makanan dan cairan masuk ke dalam faring dan
laring, mengubah refleks menelan dan sering mengakibatkan aspirasi. Baik penurunan
neurologis dan perubahan dalam koordinasi gerakan menelan dari keganasan di daerah
ini dapat mempengaruhi pada kemampuan berbicara dan menelan.
Gejala yang paling umum yang terkait dengan neoplasma ganas dasar lidah
adalah disfagia, odynophagia, sensasi massa di tenggorokan, atau adanya massa di leher.
Pasien juga mungkin mengeluh sakit telinga atau disebut hemoptysis. Keterlambatan
diagnosis tidak jarang karena sifat umum dan kadang-kadang gejala samar dan relatif
tidak dapat diaksesnya dasar lidah untuk pemeriksaan. Setelah pemeriksaan fisik, massa
biasanya teraba di daerah ini. Penyakit ekstensif submukosa atau refleks muntah yang
kuat dapat membuat palpasi lebih sulit. Pasien mungkin memiliki adenopati bilateral
karena lokasi garis tengah dan kecenderungan tinggi untuk metastasis ke kelenjar getah
bening regional. Laringoskop tidak langsung atau laringoskopi serat optik yang fleksibel
adalah tambahan yang berguna untuk pemeriksaan.

Gambar 18. Squamous cell Ca14


Menurut American Joint Committee on Cancer, dasar lidah adalah sub bagian
dalam orofaring dan dibatasi oleh papilla anterosuperior circumvallate dan aspek
posterior lidah oral (dua pertiga anterior), inferoposterior oleh vallecula, permukaan
katup nafas lingual, dan lateral oleh lipatan glossoepiglottic. Pembentukan lidah dimulai
di lantai rongga mulut primitif selama minggu keempat embrionik dan berkembang dari
daerah 3-4 lengkungan pertama branchial. Lidah juga dialiri oleh arteri dan memiliki
sistem kapiler dan vena yang kompleks. Persarafan lidah termasuk saraf bahasa dan
hypoglossal untuk sensasi dan gerakan dan serat sensorik simpatik, parasimpatis, dan
khusus untuk air liur dan kemampuan rasa. Otot Lidah mencakup otot intrinsik dan
ekstrinsik yang berkontribusi terhadap gerakan bervariasi dan halus yang terlibat dalam
berbicara dan menelan. Karena mukosa dasar lidah mengandung epitel skuamosa,
kelenjar liur minor, jaringan limfoid,dan histologi neoplasma ganas yang muncul dari
daerah orofaring yang cukup bervariasi dan kadang-kadang membingungkan.
Kontraindikasi untuk koreksi bedah dari tumor ganas dasar lidah didasarkan pada
komorbiditas pasien dan kemampuan nya untuk toleransi operasi. Suatu kontraindikasi
yang jelas adalah penolakan pasien. Pertimbangan utama adalah kemampuan pasien
untuk mentoleransi beberapa derajat aspirasi sebagai konsekuensi dari pengobatan.
Penyakit dasar paru-paru harus dinilai dengan hati-hati sebelum operasi. Informed
consent harus diperoleh sebelum intervensi bedah. Selain itu, tumor dapat dianggap bisa
dioperasi karena ukuran (tingkat) atau lokasi. Seperti halnya dengan regio lain dari kepala
dan leher, tahap awal karsinoma sel mucosalsquamous dari dasar lidah dapat diobati
cukup dengan radioterapi atau reseksi bedah. Kemoradiasi telah dianjurkan karena
morbiditas yang terkait dengan bedah reseksi luas. Kemajuan terbaru dalam teknik bedah,

termasuk reseksi endoskopik / dibantu-video dan transfer jaringan bebas, telah


menurunkan morbiditas historis yang terkait dengan operasi dasar lidah.
16. Xerostomia10
Xerostomia adalah perasaan subjektif mulut kering, kondisi dimana terjadi
penurunan produksi saliva. Kondisi ini akan mengakibatkan kesulitan saat berbicara dan
makan. Sekitar 10% dari populasi di dunia pernah mengalami keluhan ini. Xerostomia
biasanya dialami oleh lansia karena angka kejdiannya meningkat seiring pertambahan
usia. Ada beberapa hal yang menyebabkan kelainan ini, tetapi umumnya diakibatkan
karena efek samping obat seperti antihistamin, antihipertensi, antiepilepsi, antiansietas
dan obat-obatan yang berhubungan dengan gangguan mood. Faktor predisposisi lain yang
menyebabkan mulut kering antara lain penyakit otoimun yaitu sindrom Sjogren,
sarkoidosis, DM tipe II, dan setelah terapi radiasi untuk kanker kepala dan leher.

Gambar 19. Permukaan mukosa yang kering,


erosi dan debris epithelial di permukaan gigi.10

Gambar 20. Mulut kering pada sindrom Sjogren,


tidak ada papilla pada permukaan lidah.10
Saliva memainkan peranan yang penting dalam perlindungan jaringan lunak dan
keras oral dan mendukung fungsi oral. Saliva akan melumasi mulut kita dan dapat
mencegah pembentukan karies pada gigi. Manajemen pengobatan untuk xerostomia
dimulai dari mengurangi keluhan dengan minum banyak air agar kekeringan dikurangi,

mudah menelan, hidrasi jaringan di dalam mulut dan membersihkan rongga mulut.
Mengunyah permen karet juga dapat menstimulasi aliran saliva. Pillocarpine
diindikasikan untuk pengobatan xerostomia karena terapi radiasi pada leher dan kepala.
17. Granular Cell Tumor (granular cell myoblastoma)14
Tumor sel granulosa adalah tumor jaringan lunak yang terdiri dari sel-sel oval
yang memiliki sitoplasma yang bergranula. Tumor ini dapat terjadi pada berbagai daerah
yang dilapisi kulit, mukosa, dan bagian visceral, namun predileksi utama di rongga mulut
biasanya di permukaan dorso-lateral lidah. Terdapat kontroversi pada teori histogenesis.
Sebagian besar peneliti berpendapat bahwa tumor ini merupakan proliferasi jinak sel
neurogenik. Tumor sel granulosa dapat terjadi pada usia berapa pun dan pada semua jenis
kelamin, tetapi perempuan memiliki resiko lebih sedikit dibandingkan laki-laki. Lesinya
asimptomatis, soliter, terdapat nodul submucosa berbentuk kubah yang menutupi jaringan
normal, berwarna kuning atau putih. Bila telah mengalami trauma permukaannya menjadi
ulserasi. Tumor sel granulosa memiliki batas yang tegas, konsistensi padat.
Pertumbuhannya sangat lambat dan tidak menimbulkan rasa sakit. Jarang lesi ini tumbuh
pada permukaan ventral lidah. Terapinya dengan eksisi lokal konservatif dan lesi ini
cenderung tidak berulang.4

Gambar 21. Myeloblastoma lidah14


18. Candidiasis oral
Candidiasis oral merupakan infeksi oportunistik di rongga mulut yang disebabkan
oleh pertumbuhan abnormal dari jamur Candida albikans. Terdapat sekitar 30-50%
Candida albikans pada rongga mulut orang dewasa sehat,45% pada neonatus, 45-65%
pada anak-anak sehat, 50-65% pada pasien yang memakai gigi palsu lepasan, 65-88%
pada orang yang mengkonsumsi obat-obatan jangka panjang,90% pada pasien leukemia
akut yang menjalani kemoterapi, dan 95% pada pasienHIV/AIDS.15
Kandidiasis oral dapat menyerang semua umur, baik pria maupun wanita.Meningkatnya
prevalensi infeksi Kandida albikan ini dihubungkan dengan kelompok penderita
HIV/AIDS, penderita yang menjalani transplantasi dan kemoterapi maligna. Dalam

sebuah penelitian mengemukakan bahwa dari 6.545 penderita HIV/AIDS, sekitar 44.8%
adalah penderita kandidiasis.15,16
Pada pemeriksaan fisik rongga mulut: Candidiasis oral berwarna putih
kekuningan, bias ditemukan dimana saja di rongga mulut, dengan bentuk seperti bercak
susu tapi sulit dihilangkan. Ditemukannya oval yeast form merupakan manifestasi
yang berbentuk papul putih menyebar dan plak yang bila dirobek akan berdarah. Bentuk klinis dari
kandidiasis oral: Trush, Kronis hiperplastik, Denture stomatitis, akut atrofik kandidiasis,
angular cheilitis. Untuk pemeriksaan Penunjang dapat dilakukan pemeriksaan
mikroskopis yaitu dengan swab / scraping lesi pada mukosa dan dengan KOH hasilnya akan
terlihat pseudohyphae yang tidak beraturan atau blastospora. 16
Prinsip Terapi untuk kandidiasis oral adalah cari faktor predisposisi dan diterapi
dengan anti jamur topikal maupun sistemik. Obat jamur topical yang dapat digunakan:
Gentian violet, nistatin, amfoterisin B, Ketokonazole,Miconazole, Imidazol, sedangkan
untuk obat jamur sistemik: Nistatin oral, tablet kotrimazol, flukonazole, itraconazole.
Selain itu, penting juga menjaga oral Hygiene. Prognosis kelainan ini baik dengan
pengobatan yang tepat dan efektif.15,16

Gambar 22. Kandidiasis oral15

KELAINAN MUKOSA BUKAL


. Leukoplakia

Merupakan lesi putih keratolitik pada mukosa mulut, yang baik secara klinis maupun
histopatologik, tidak dapat dimasukkan pada penyakit lain. Identik dengan eritroplakia dan
sering dihubungkan dengan keganasan.

Gambar; leukoplakia
Etiologi
o Lokal, misalnya penggunaan tembakau, kandidosis
o Sistemik, misalnya sifilis tersier, defisiensi vitamin B dan asam folat, anemia, xerostomia,
radiasi dan obat antikolinergik.

Leukoplakia dapat ditemukan pada berbagai tempat, terutama di mukosa bukal, gingiva, dan
batas bibir kulit (vermillion). Lesi di dasar mulut dan lidah lebih jarang namun keganasan lebih
tinggi. Semula lebih sering pada pria, namun sekarang perbandingannya lebih kurang sama,
mungkin akibat perubahan kebiasaan merokok. Kedua lesi ini sering terjadi pada usia 60-70
tahun.

Manifestasi Klinis
1. Leukoplakia homogen. Secara keseluruhan tampak homogen dengan pola garis halus
(crustae), berkerut, dan papilomatosa
2. Leukoplakia nonhomogen
o Eritroleukoplakia (eriosit): lesi berwarna putih merah.
o Nodular: permukaan lesi berbenjol-benjol seperti nodul
o Verukosa: pada permukaan lesi terdapat proyeksi-proyeksi tajam dari epitel.

Yang berpotensi menjadi ganas berturut-turut adalah eritroplakia, eritroleukoplakia, nodular


leukoplakia, verukosa leukoplakia, dan homogen leukoptakia.

Diagnosis ditegakkan berdasarkan pemeriksaan sitologi atau biopsi untuk menentukan ada
tidaknya displasia sel. Bila perlu, dilakukan biopsi ulang dalam waktu 6-12 bulan, terutama bila
terdapat perubahan ukuran atau karakteristik lesi.

Penatalaksanaan
Dapat dengan dua cara yaitu terapi nonbedah dan terapi bedah. Terapi nonbedah dengan
pemberian vitamin A 1 x 25.000 IU atau 50.000 IU/hari selama tiga bulan, vitamin E, makanan
dengan kadar karoten tinggi, penghentian rokok dan pemakaian obat kumur beralkohol, serta
pemakaian obat jamur selama 1-2 minggu.

2. Eritroplakia
Daerah mukosa yang kemerahan, memiliki tekstur seperti beludru, dan berdasarkan pemeriksaan
klinis serta histopatologi tidak disebabkan inflamasi atau penyakit lain. Sebagian besar lesi ini,
terutama yang berada di bawah lidah, dasar mulut, palatum molle, dan pilar faucial anterior
memiliki kecenderungan menjadi ganas. Diduga sebagai lesi awal karsinoma sel skuamosa oral.
Jarang ditemukan karena tidak mencolok dan asimtomatik, karena itu pemeriksaan mulut harus
dilakukan dalam keadaan kering dan dengan teliti. Tidak memiliki predileksi jenis kelamin,
meski mungkin berhubungan dengan kebiasaan merokok dan minuman keras.

gambar; eritroplakia
Pemeriksaan Penunjang
Dilakukan pengolesan lesi dengan toluidin biru 1% topikal dengan swab atau kumur. Diagnosis
pasti dengan biopsi.

Penatalaksanaan
Penatalaksanaan sama dengan leukoplakia. Biopsi harus dilakukan namun observasi selama 1-2
minggu sambil menghilangkan iritan yang dicurigai dapat diterima.

Diagnosis Banding
Kandidosis, stomatistis dentata, tuberkulosis, histoplasmosis, iritasi mekanis.

3. Liken Planus
Suatu penyakit yang mengenai kulit dan mukosa, bersifat kronik, dan mudah terjadi eksaserbasi.
Etiologinya belum jelas tetapi diduga karena stres, pemakaian obat, dan defisiensi vitamin B
kompleks jangka panjang.

Mirip dengan leukoplakia, namun liken planus lebih difus, distribusinya menyeluruh, terdapat
minimal satu lesi seperti renda. Kelenturan kulit tidak berubah.

Manifestasi Klinis
o Kulit
Khas adanya papul dengan permukaan dan berbentuk poligonal, berwarna keungu-unguan,
mengkilat, gatal, diameter 1 cm dan distribusinya terutama pada ekstremitas.
o Mukosa mulut
Distribusi lesi pada nukosa bukal, bibir, lidah, dan gingiva. Lesi biasanya bilateral tetapi tidak
simetris. Bentuk lesinya bervariasi yaitu retikular, papular, lesi seperti plak, atopik, bula dan
erosif.

Merupakan suatu kondisi prakanker karena pada pemeriksaan histopatologis terlihat adanya
hiperkeratosis, parakeratosis, ortokeratosis, penebalan lapisan granulosum, rete pegs, dan
degenerasi likuifaksi sel basal.

Penatalaksanaannya adalah menghilangkan faktor predisposisi, pemberian kortikosteroid,


vitamin A dosis tinggi, dan obat-obat imunomodulator. Bila setelah pengobatan lesi tidak hilang
maka harus dilakukan biopsi .
4. Reaksi Likenoid
Merupakan lesi yang identik dengan lesi liken planus tetapi disebabkan oleh pemakaian obatobatan. Bila pemakaian obat dihentikan, maka lesi akan hilang. Obat-obatan yang dapat
menginduksi adalah obat antihipertensi, antibiotik, antiparasit, antiartritis, obat
antihiperglikemia, dan lain-lain. Anamnesis harus lengkap sehingga diketahui riwayat pemakaian
obat pada pasien. Penatalaksanaannya adalah mengganti jenis obat.
5. Kandidosis
Kandidosis adalah lesi akibat infeksi Candida albicans dengan gambaran papul putih menyebar
dan plak yang bila dirobek akan berdarah.

gambar; kandidiasis
Faktor Predisposisi
Pemakaian obat seperti antibiotik spektrum luas, antibiotik multipel, kortikosteroid, sitotoksik,
imunosupresif, antikolinergik; kelainan endokrin seperti diabetes melitus, hipotiroid,
hipoparatiroid, hipoadrenalin, poliendokrinopati; kelainan hematologi seperti anemia aplastik,
agranulositosis, limfoma, leukemia; defisiensi imun seperti HIV, hipoplasia timus; kelainan
leukosit seperti leukopenia, agranulositosis, neutropenia; keganasan seperti leukemia, timoma,
dan kanker lanjut; defisiensi nutrisi seperti defisiensi vitamin, malnutrisi, malabsorpsi; dan
keadaan lain seperti kehamilan, usia lanjut, radioterapi.
Manifestasi Klinis
Papul putih menyebar dan plak yang bila dirobek akan berdarah.

Pemeriksaan Penunjang

Dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya penyakit yang menjadi faktor predisposisi,
contohnya:
o Urinalisa untuk mencari diabetes melitus
o Hematologi: pemeriksaan darah lengkap dan hitung jenis leukosit
o Serologi: HIV

Diagnosis Banding
Plak susu, debris makanan.

Penatalaksanaan
o Cari faktor predisposisi dan diterapi.
o Beri terapi oral atau sistemik dengan obat golongan azol, mikostatin oral 1-2 mg.

KELAINAN DASAR MULUT


RANULA
Definisi
Ranula adalah istilah yang digunakan untuk menyebut mukokel yang letaknya di dasar mulut.
Kata ranula yang digunakan berasal dari bahasa latin RANA yang berarti katak, karena
pembengkakannya menyerupai bentuk tenggorokan bagian bawah dari katak. Merupakan
pembengkakan dasar mulut yang berhubungan dan melibatkan glandula sublingualis, dapat juga
melibatkan glandula salivari minor. Ukuran ranula dapat membesar, dan apabila tidak segera
diatasi akan memberikan dampak yang buruk, karena pembengkakannya dapat mengganggu
fungsi bicara, mengunyah, menelan, dan bernafas.

b. Etiologi
Etiologinya tidak diketahui namun diduga ranula terjadi akibat trauma, obstruksi kelenjar saliva,
dan aneurisma duktus glandula saliva. Post traumatic ranula terjadi akibat trauma pada glandula
sublingual atau submandibula yang menyebabkan ekstravasasi mukus, sehingga terbentuk
pseudokista. Ranula juga dikatakan berkaitan dengan penyakit kelenjar saliva dan anomali
kongenital dimana duktus saliva tidak terbuka.
Tanda dan Gambaran Klinis ranula adalah sebagai berikut :
Adanya benjolan simple pada dasar mulut, mendorong lidah ke atas.
Umumnya unilateral , jarang bilateral
Benjolan berdinding tipis transparan, berwarna biru kemerah-merahan.
Benjolan tumbuh lambat, gambaran seperti perut katak.
Pembengkakan selain intra oral dapat juga extra oral.
Tidak ada rasa sakit kecuali meradang atau infeksi.
Bila benjolan membesar dapat mengganggu bicara, makan maupun menelan.
Benjolan oleh karena suatu sebab dapat pecah sendiri, cairan keluar, mengempes kemudian
timbul atau kambuh kembali.
Pada simple ranula benjolan terletak superficial sedangkan plunging ranula benjolan terletak
lebih dalam, bisa menyebar ke dasar otot mylohyoid , daerah submandibular , ke leher bahkan
ke mediastinum
h. Penatalaksanaan

Penatalaksanaan ranula biasanya dilakukan dengan caramarsupialisasi ranula atau


pembuatan jendela pada lesi.Biasanya menggunakan anestesi blok lingual
ditambah denganinfiltrasi regional. Di sekitar tepi lesi ditempatkan rangkaianjahitan
menyatukan mukosa perifer dengan mukosa lesi danjaringan dasar lesi. Kemudian
dilakukan juga drainase denganpenekanan lesi. Setelah itu dilakukan eksisi pada
atap lesisesuai dengan batas penjahitan kemudian lesi ditutup dengan
tampon. Umumnya pasien yang berkunjung ke dokter gigi dan meminta perawatan,
memiliki ukuran ranula yang relatif besar. Perawatan ranula umumnya dilakukan
untuk mengurangi dan menghilangkan gangguan fungsi mulut yang dirasakan
pasien
akibat
ukuran
dan
keberadaan
massa.
Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan faktor penyebab dan
pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab dimaksudkan untuk
menghindarkan terjadinya rekurensi. Biasanya ranula yang etiologinya trauma
akibat kebiasaan buruk atau trauma lokal atau mekanik yang terjadi terus menerus
dapat menyebabkan terjadinya rekurensi ranula. Karena apabila kebiasaan buruk
atau hal yang menyebabkan terjadinya trauma tidak segera dihilangkan, maka
ranula akan dengan mudah muncul kembali walaupun sebelumnya sudah dilakukan
perawatan
pembedahan.
Pembedahan massa dibagi atas tiga jenis, yaitu eksisi, marsupialisasi, dan
dissecting. Pemilihan teknik pembedahan tergantung kepada ukuran dari massa.
PHLEGMON DASAR MULUT

Phlegmon atau Ludwig's angina adalah suatu penyakit kegawatdaruratan, yaitu terjadinya
penyebaran infeksi secara difus progresif dengan cepat yang menyebabkan timbulnya infeksi dan
tumpukan nanah pada daerah rahang bawah kanan dan kiri (submandibula) dan dagu (submental)
serta bawah lidah (sublingual), yang dapat berlanjut menyebabkan gangguan jalan nafas dengan
gejala berupa perasaan tercekik dan sulit untuk bernafas secara cepat (mirip dengan pada saat
terjadinya serangan jantung yang biasa dikenal dengan angina pectoris). Sedangkan Ludwig's
angina sendiri berasal dari nama seorang ahli bedah Jerman yaitu Wilhem Von Ludwig yang
pertama melaporkan kasus tersebut.

Phlegmon adalah infeksi akut yang disebabkan oleh kuman Streptokokus yang menginfeksi
lapisan dalam dasar mulut yang ditandai dengan pembengkakan yang dapat menutup saluran
nafas. Phlegmon berawal dari infeksi pada gigi (odontogenik), 90% kasus diakibatkan oleh
odontogenik, dan 95% kasus melibatkan submandibula bilateral dan gangguan jalan nafas
merupakan komplikasi yang berbahaya dan seringkali merenggut nyawa. Angka kematian
sebelum dikenalnya antibiotik mencapai angka 50% dari seluruh kasus yang dilaporkan, sejalan
dengan perkembangan antibiotika, perawatan bedah yang baik, serta tindakan yang cepat dan
tepat, maka saat ini angka kematian (mortalitas) hanya 8%.
Kata angina pada Ludwig's angina dihubungkan dengan sensasi tercekik akibat obstruksi saluran
nafas secara mendadak. Penyakit ini merupakan infeksi yang berasal dari gigi akibat perjalaran
pus dari abses periapikal.
Gejala dari Ludwig's angina yaitu :

sakit dan bengkak pada leher

leher menjadi merah

demam

lemah dan lesu

mudah capek

kesulitan bernafas

pasien yang menderita penyakit ini mengeluh bengkak yang jelas dan lunak pada bagian anterior
leher, jika dilakukan palpasi tidak terdapat fluktuasi. Bila terjadi penyakit ini maka perlu
dilakukan tindakan bedah dengan segera dengan trakeostomi sebagai jalan nafaas buatan.
Kemudian jika jalan nafas telah ditangani dapat diberikan antibiotik dan dilakukan incisi pada

pus untuk mengurangi tekanan. Dan juga perlu dilakukan perawatan gigi penyebab infeksi
(sumber infeksi) baik perawatan endodontik maupun periodontik.
Kejadian dari phlegmon ini akan menghebat seiring dengan keadaan umum dari penderita, bila
penderita mempunyai keadaan umum yang jelek (diabetes dan sebagainya) maka phlegmon akan
bergerak ke arah potensial space atau rongga jaringan ikat kendor yang berada di bawahnya, dan
hal ini bisa mengakibatkan sepsis atau bakeri meracuni pembuluh darah.

SIALOLITHIASIS
Sialolithiasis merupakan salah satu penyebab terjadinya pembengkakan pada
kelenjar submandibula atau parotis, karena dapat menimbulkan obstruksi pada
duktus kelenjar saliva. Pembentukan batu (calculi) pada sialolithiasis diduga karena
penumpukan bahan degeneratif yang diproduksi oleh kelenjar saliva dan mengalami
proses
kalsifikasi
hingga
terbentuk
batu.
Sebagian besar (80% - 90%) sialolithiasis terjadi di duktus submandibula (warthons
duct) karena struktur anatomi duktus dan karakteristik kimiawi dari sekresi kelenjar
saliva. Kedua faktor ini mendukung terjadinya proses kalsifikasi pada duktus
submandibula
sehingga
muncul
sialolithiasis.

ETIOLOGI
DAN
PATOFISIOLOGI
Sialolithiasis mengandung bahan organik pada pusat batunya, dan anorganik di
permukaannya. Bahan organik antara lain glikoprotein, mukopolisakarida, dan
debris sel. Bahan anorganik yang utama adalah kalsium karbonat dan kalsium
fosfat. Sedangkan ion kalsium, magnesium, dan fosfat sekitar 20-25%. Senyawa
kimia yang menyusunnya antara lain mikrokristalin apetit [Ca5(PO4)OH] atau
whitlokit [Ca3(PO4)].

Pengamatan dengan menggunakan transmisi mikroskop elektron dan mikroanalisis


X ray pada batu sialolithiasis, mendapatkan gambaran menyerupai struktur
mitokondria, lisosom, dan jaringan fibrous. Substansi tersebut diduga sebagai salah
satu penyebab proses kalsifikasi dalam sistem duktus submandibula.

Etiologi sialolithiasis belum diketahui secara pasti, beberapa patogenesis dapat


digunakan untuk menjelaskan terjadinya penyakit ini. Pertama, adanya ekresi dari
intracellular microcalculi ke dalam saluran duktus dan menjadi nidus kalsifikasi.
Kedua, dugaan adanya substansi dan bakteri dari rongga mulut yang migrasi ke
dalam duktus salivary dan menjadi nidus kalsifikasi. Kedua hipotesis ini sebagai
pemicu nidus organik yang kemudian berkembang menjadi penumpukan substansi
organik dan inorganik.
TERAPI
a.
Tanpa
pembedahan
Pengobatan klasik silolithiasis (medical treatment) adalah penggunaan antibiotik
dan anti inflamasi, dengan harapan batu keluar melalui caruncula secara
spontan.Pada beberapa kasus dimana batu berada di wharton papillae, dapat
dilakukan tindakan marsupialization (sialodochoplasty). Sering kali batu masih
tersisa terutama bila berada di bagian posterior Wartons duct, sehingga
pendekatan
konservatif
sering
diterapkan.
b.
Pembedahan
Sebelum teknik endoskopi dan lithotripsi berkembang pesat, terapi untuk
mengeluarkan batu pada sialolithiasis submandibula delakukan dengan
pembedahan, terutama pada kasus dengan diameter batu yang besar (ukuran
terbesar
sampai
10
mm),
atau
lokasi
yang
sulit.
Bila lokasi batu di belakang ostium duktus maka bisa dilakukan tindakan simple
sphincterotomy dengan anestesia lokal untuk mengeluarkannya. Pada batu yang
berada di tengah-tengah duktus harus dilakukan diseksi pada duktus dengan
menghindari injury pada n. lingualis. Hal ini bisa dilakukan dengan anestesi lokal
maupun general, tapi sering menimbulkan nyeri berat post operative. Harus
dilakukan dengan anestesi general, bila lokasi batu berada pada gland's pelvis.
Pada kasus ini harus dilalakukan submaxilectomy dengan tingkat kesulitan yang
tinggi, karena harus menghindari cabang-cabang dari n. facialis.

Kista Dermoid
Kista dermoid adalah suatu pembengkakan jaringan lunak yang berasal dari degenerasi kistik dai
epitel yang terjebak selama perkembangan embrionik. Kista ini dapat terjadi dimana saja di kulit,
tetapi mempunyai kecenderungan untuk timbul di dasar mulut. Kista dermoid secara klasik
tampak seperti massa berbentuk kubah, tidak sakit, muncul di dasar mulut.

II.2
MUCUS
RETENTION
CYST
1.
Definisi
Mucus retention cyst merupakan pembengkakan yang diakibatkan oleh plug mukus

dari sialolith atau inflamasi pada mukosa yang menekan duktus glandula saliva
minor lalu mengakibatkan terjadinya penyumbatan pada duktus glandula saliva
minor tersebut, yang kemudian terjadi dilatasi akibat cairan mukus yang
menggenang
dan
menumpuk
pada
duktus
glandula
saliva.
2.
Etiologi
Mucus retention cyst disebabkan oleh plug mukus dari sialolith atau inflamasi pada
mukosa yang menekan duktus glandula saliva minor. Hal ini menyebabkan
terjadinya penyumbatan pada duktus glandula saliva minor tersebut.
3.
Gambaran
Klinis
Mucus retention cyst memiliki gambaran klinis yang khas, yaitu massa atau
pembengkakan lunak yang berfluktuasi, berwarna translusen kebiruan apabila
massa belum begitu dalam letaknya. Kadang-kadang warnanya normal seperti
warna mukosa mulut apabila massa sudah terletak lebih dalam, jika dipalpasi
pasien
tidak
sakit.
SITE : Kista parotid yang berlokasi pada lobus superficial seperti massa fluktuasi.
Dasar rongga mulut merupakan tempat yang paling sering terjadi.

Diikuti
pada
bagian
bibir
dan
mukosa
bukal
rongga
mulut.
4.
Gambaran
Histopatologis
Lapisan epithel pada kista retensi mucus merupakan epithel berlapis kuboidal atau
seperti lapisan epithel kolumnair. Memiliki sitoplasma cell yang jelas atau eosinopilik
dan terkadang memperlihatkan diferensiasi mucous. Kista retensi mucus ini 70%
berbentuk
unilocular
dan
30%
multilocular.
Mucus retention cyst menunjukkan adanya epithelial lining dan jarang terjadi pada
glandula saliva mayor. Ketika hal ini terjadi maka akan tampak bentuk multiple,
yakni
poly
cystic
daripada
glandula
parotis.
5.
Perawatan
(Treatment)
Perawatan yang dilakukan meliputi penanggulangan faktor penyebab dan
pembedahan massa. Penanggulangan faktor penyebab dimaksudkan untuk
menghindarkan terjadinya rekurensi. Selanjutnya dilakukan simple eksisi sebagai
pembedahan sederhana yang dikarenakan pacahnya kantung kista. Rekurensi
jarang terjadi, dan walau bagaimanapun kerusakan yang terjadi berdekatan dengan
glandula merupakan bentukan dari mukokel.

KELAINAN PALATUM
Necrotizing sialometaplasia adalah kondisi jinak yang khususnya menyerang
palatum dan jarang pada daerah lain yang mengandung kelenjar ludah.
Pengetahuan akan ini penting karena kondisi ini berpotensi untuk menjadi ganas
dilihat secara klinis maupun mikroskopis. Tindakan bedah yang sebenarnya tidak

diperlukan dilakukan karena kekeliruan diagnosis preoperatif yakni squmous cell


carcinoma
dan
mucoepidermoid
carcinoma.
2.
Etiologi
Inisiasi necrotizing sialometaplasia diyakini berasal dari iskemi kelenjar ludah yang
diawali oleh trauma local, manipulasi bedah, atau anestesi lokal. Kemudian, terjadi
infark, dan muncul squamous metaplasia dari sisa duktus. Kondisi ini diyakini
disebabkan oleh trauma local atau kompromis vascular fokal sehingga terjadi
nekrosis jaringan pada daerah terebut. Pasien bisa saja tidak memiliki riwayat
trauma
sama
sekali.
3.
Gambaran
Klinis
Gejala klinis intraoral, necrotizing sialometaplasia dicirikan dengan kemunculannya
secara spontan, terutama pada pertemuan palatum keras dan palatum lunak. Lesi
dapat berupa pembengkakan yang lunak, sering dengan eritem pada mukosanya.
Setelahnya, mukosa hancur dan membentuk ulser yang dalam dengan tepi yang
tegas dan dasar lobular berwarna abu-abu kekuningan. Pada palatum, lesi ini dapat
unilateral maupun bilateral, dengan lesi tunggal berdiameter 1-3 cm. Rasa nyeri
tidak sebanding dengan ukuran lesi. Penyembuhan memakan waktu lama, yakni 610
minggu.
4.
Gambaran
Histopatologis
Submukosa di sekitar ulser menunjukkan gambaran nekrosis kelenjar ludah dan
squamous metaplasia dari epitel duktus salivarius. Adanya penampakan lobular dari
kelenjar ludah membedakan kondisi ini dengan neoplasia. Ductal squamous
metaplasia menunjukkan tidak adanya atipia sitologik, namun gambarannya dapat
disalahartikan sebagai squamous cell carcinoma. Jika metaplasia terlihat pada
kelenjar ludah residual, maka bisa disalahartikan sebagai mucoepidermooid
carcinoma.
5.
Diagnosis
Banding
Secara klinis, dugaan squamous cell carcinoma dan neoplasma kelenjar ludah minor
malignan harus disingkirkan, biasanya dengan biopsi. Syphilis gumma dan infeksi
jamur juga harus disingkirkan, karena lesinya menunjukkan gambaran punched-out
pada palatum. Selain biopsy, dapat juga dengan tes serologi dan kultur jaringan.
Pada pasien dengan medically compromised, misalnya pasien dengan diabetes
tidak terkontrol, infeksi jamur oportunistik seperti mucormycosis dapat
menyebabkan
gejala
klinis
yang
mirip.
Subacute necrotizing sialadenitis baru-baru ini dideskripsikan sebagai lesi kondisi
peradangan nonspesifik dari kelenjar ludah minor yang etiolognya belum diketahui.
Kondisi ini dicirikan oleh timbulnya rasa nyeri dan pembengkakan yang terlokalisasi
biasanya pada palatum keras atau palatum lunak. Namun, tidak seperti necrotizing
sialometaplasia, kondisi ini dapat sembuh sendiri tanpa menunjukkan adanya
komponen
metaplastik.
6.
Perawatan
(Treatment)
Necrotizing sialometaplasia merupakan kondisi yang jinak dan dapat sembuh
sendiri sehingga tidak memerlukan intervensi bedah. Namun, harus tetap dilakukan

biopsy insisional untuk menegakkan diagnosa. Penyembuhan memakan waktu


sampai beberapa minggu. Manajemen penting yang harus dilakukan ialah irigasi
dengan obat kumur yang terbuat dari campuran baking soda dan air dan
penggunaan analgetika.

PALATOSKIZIS

Labioskizis adalah kelainan congenital sumbing yang terjadi akibat kegagalan fusi atau
penyatuan prominen maksilaris dengan prominen nasalis medial yang dilikuti disrupsi kedua
bibir, rahang dan palatum anterior. Sedangkan Palatoskizis adalah kelainan congenital sumbing
akibat kegagalan fusi palatum pada garis tengah dan kegagalan fusi dengan septum nasi. (sumber
: Asuhan Kebidanan Neonatu, Bayi, dan Anak Balita, 2010)
Labioskizis dan labiopalatoskizis merupakan deformitas daerah mulut berupa celah atau
sumbing atau pembentukan yang kurang sempurna semasa perkembangan embrional di mana
bibir atas bagian kanan dan bagian kiri tidak tumbuh bersatu. (sumber : )
2.2 Klasifikasi
Jenis belahan pada labioskizis atau labiopalatoskizis dapat sangat bervariasi, bisa
mengenai salah satu bagian atau semua bagian dari dasar cuping hidung, bibir, alveolus dan
palatum durum, serta palatum molle. Suatu klasifikasi membagi struktur-struktur yang terkena
menjadi beberapa bagian berikut.
1. palatum primer meliputi bibir, dasar hidung, alveolus, dan palatum durum di belahan
foramen insisivum.
2. palatum sekunder meliputi palatum durum dan palatum molle posterior terhadap
foramen.
3. suatu belahan dapat mengenai salah satu atau keduanya, palatum primer dan palatum
sekunder dan juga bisa berupa unilateral atau bilateral.
4. terkadang terlihat suatu belahan submukosa. Dalam kasus ini mukosanya utuh dengan
belahan mengenai tulang dan jaringan otot palatum.

2.3 Etiologi
Penyebab terjadinya labioskizis dan labiopalatoskizis adalah sebagai berikut.

Kelainan-kelainan yang dapat menimbulkan hipoksia.

Obat-obatan yang dapat merusak sel muda (mengganggu mitosis), misalnya sitostatika dan
radiasi.

Obat-obatan yang mempengaruhi metabolisme, misalnya defisiensi vitamin B6, asam folat, dan
vitamin C.

Faktor keturunan.

Syndrome atau malformasi yang disertai adanya sumbing bibir, sumbing palatum atau keduanya
disebut kelompok syndrome cleft dan kelompok sumbing yang berdiri sendiri non syndromik
clefts.

Beberapa syndromik cleft adalah sumbing yang terjadi pada kelainan kromosom (trysomit 13,
18 atau 21) mutasi genetik atau kejadian sumbing yang berhubungan dengan akibat toksikosis
selama kehamilan (kecanduan alkohol, terapi fenitoin, infeksi rubella, sumbing yang ditemukan
pada syndrome peirrerobin.

Penyebab non syndromik clefts dapat bersifat multifaktorial seperti masalah genetik dan
pengaruh lingkungan.
2.8 Penatalaksanaan

1.

Pemberian ASI secara langsung dapat pula diupayakan jika ibu mempunyai refleks
mengeluarkan air susu dengan baik yang mungkin dapat dicoba dengan sedikit menekan
payudara.

2.

bila anak sukar mengisap sebaiknya gunakan botol peras (squeeze bottles). Untuk mengatasi
gangguan mengisap, pakailah dot yang panjang dengan memeras botol maka susu dapat
didorong jatuh di belakang mulut hingga dapat diisap. Jika anak tidak mau, berikan dengan
cangkir dan sendok.

3. dengan bantuan ortodontis dapat pula dibuat okulator untuk menutup sementara celah palatum
agar memudahkan pemberian minum, dan sekaligus mengurangi deformitas palatum sebelum
dapat dilakukan tindakan bedah.
4. tindakan bedah, dengan kerja sama yang baik antara ahli bedah, ortodontis, dokter anak, dokter
THT, serta ahli wicara.

2.9 Syarat Labioplasti (Rule of Ten)

umur 3 bulan atau > 10 minggu.

Berat badan kira-kira 4,5 kg/10 pon

Hemoglobin > 10 gram/dl

Hitung jenis leukosit < 10.000


2.10 Syarat Palatoplasti
Palatoskizis ini biasanya ditutup pada umur 9-12 bulan menjelang anak belajar bicara, yang
penting dalam operasi ini adalah harus memperbaiki lebih dulu bagian belakangnya agar anak
bisa dioperasi umur 2 tahun. Untuk mencapai kesempurnaan suara, operasi dapat saja dilakukan
berulang-ulang. Operasi dilakukan jika berat badan normal, penyakit lain tidak ada, serta
memiliki kemampuan makan dan minum yang baik. Untuk mengetahui berhasil tidaknya operasi
harus ditunggu sampai anak tersebut belajar bicara antara 1-2 th.
1. jika sengau harus dilakukan tetapi bicara (fisioterapi otot-otot bicara)
2. jika terapi bicara tidak berhasil dan suara tetap sengau, maka harus dilakukan faringoplasti saat
anak berusia 8 tahun.
Faringoplasti ialah suatu pembebasan mukosa dan otot-otot yang kemudian didekatkan satu
sama lain. Pada faringoplasti hubungan antara faring dan hidung dipersempit dengan membuat
klep/memasang klep dari dinding belakang faring ke palatum molle. Tujuan pembedahan ini
adalah untuk menyatukan celah segmen-segmen agar pembicaraan dapat dimengerti.
Perawatan yang dilakukan pasca dilakukannya faringoplasti adalah sebagai berikut.

menjaga agar garis-garis jahitan tetap bersih

bayi diberi makan atau minum dengan alat penetes dengan menahan kedua tangannya.

Makanan yang diberikan adalah makanan cair atau setengah cair atau bubur saring selama 3
minggu dengan menggunakan alat penetes atau sendok.

Kedua tangan penderita maupun alat permainan harus dijauhkan.