Anda di halaman 1dari 8

Kesalahpahaman (miskonsepsi) Materi Kimia pada Siswa Kelas X melalui

Tes Diagnostik Multiple Choice Two-Tier


Pradilla Meilia
pradilla.kim@gmail.com
ABSTRAK : Ilmu kimia memiliki tiga aspek pengetahuan yaitu makroskopik,
mikroskopik dan simbolik. Adanya ketidakseimbangan siswa dalam memahami
ketiga aspek tersebut akan menimbulkan miskonsepsi dalam diri siswa.
Miskonsepsi yang ada harus segera diidentifikasi sedini mungkin agar tidak
berlanjut pada konsep-konsep selanjutnya yang didasari oleh konsep awal yang
sudah salah, mengingat sifat ilmu kimia yang bersifat hirarkis. Salah satu cara
untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa adalah menggunakan tes diagnostik
multiple choice two-tier. Tes diagnostik ini memiliki tiga tahapan dalam
pengembangannya, yaitu penentuan isi, pengumpulan informasi tentang
miskonsepsi siswa, dan pengembangan instrumen tes diagnostik two-tier. Proses
diagnosis ini memiliki kelebihan dibanding dengan proses diagnosis
menggunakan metode wawancara maupun peta konsep, karena lebih efisien dan
menghemat waktu.
Kata kunci: miskonsepsi, tes diagnostik, two-tier multiple choice.
Ilmu kimia merupakan ilmu pengetahuan alam atau sains. Pendidik kimia
memiliki potensi besar untuk melahirkan generasi bangsa yang paham tentang
alam dan fenomena-fenomena yang terjadi di sekitarnya. Fenomena-fenomena
tersebut dapat dijelaskan secara mikroskopis dengan ilmu kimia serta dapat
disimbolkan.
Penjelasan secara mikroskopis menuntut siswa memiliki kemampuan
berpikir abstrak karena pada bagian ini siswa dihadapkan dengan partikel-partikel
yang tidak bisa dilihat namun keberadaannya dapat dibuktikan. Beberapa konsep
kimia sulit dipahami oleh siswa karena konsepnya bersifat kompleks dan abstrak
(Gabel, 1999). Dalam proses pembelajaran, baik ketika membaca maupun ketika
menerima informasi yang ditransfer oleh gurunya, siswa dimungkinkan
mengalami salah pemahaman yang nantinya akan menimbulkan miskonsepsi
(Nakhleh & Krajcik, 1994).
Dahar (2011) menyatakan bahwa dalam pendidikan sains, miskonsepsi
merupakan penghambat konstruksi suatu konsep dalam pemahaman siswa.
Menurut Driver dan Easley (dalam Tysz, 2009) miskonsepsi bersifat kuat, tahan

terhadap pengajaran oleh guru, dan terlihat lebih logis dalam pandangan siswa
meskipun konsep tersebut berbeda dengan konsep para ilmuwan. Dengan sifatsifat miskonsepsi tersebut, jika miskonsepsi tidak segera teridentifikasi selama
kegiatan pembelajaran untuk kemudian dibenahi maka memungkinkan siswa
mengalami kesulitan untuk memahami konsep berikutnya (Dahar, 2011).
Taber (dalam Tan dkk., 2005) menyatakan bahwa miskonsepsi pada diri
siswa harus dapat segera teridentifikasi supaya guru dapat melaksanakan
pembelajaran remediasi untuk mengubah miskonsepsi tersebut menjadi konsep
yang benar. Untuk mendiagnosis miskonsepsi, diperlukan suatu instrumen berupa
tes diagnostik yang dapat mengidentifikasi miskonsepsi yang ada dalam
pemahaman siswa. Tes diagnostik yang digunakan harus valid dan reliabel.
Pengidentifikasian miskonsepsi merupakan proses diagnosis. Proses tersebut
sebaiknya dilakukan dalam pembelajaran, terutama dalam pembelajaran kimia
agar guru segera mengetahui jika ada konsep yang tidak tepat pada diri siswa.
Metode yang digunakan untuk menentukan pemahaman siswa tentang suatu
konsep salah satunya adalah tes diagnostik two-tier multiple choice.
Di Indonesia, instrumen diagnostik yang dapat mendiagnosis miskonsepsi
pada materi kimia tidak banyak dijumpai. Hal tersebut terjadi karena penyusunan
instrumen tes diagnostik yang baik membutuhkan waktu lama (Arifin, 2009:143).
Di lain pihak guru membutuhkan instrumen tes diagnostik yang baik untuk
mengidentifikasi miskonsepsi siswanya, terutama pada pembelajaran kimia. Oleh
karena alasan-alasan yang telah dipaparkan, penulis merasa perlu untuk
mengembangkan instrumen diagnostik berbentuk two-tier multiple choice untuk
mendiagnosis miskonsepsi siswa kelas X pada materi kimia supaya guru dapat
dengan mudah sedini mungkin mengetahui miskonsepsi yang terdapat pada siswa
dan segera melakukan tindakan remediasi yang tepat.

Pengertian Miskonsepsi
Miskonsepsi atau salah konsep merupakan konsep yang tidak sesuai dengan
pengertian ilmiah atau pengertian yang diterima para ilmuwan pada bidang yang
bersangkutan (Suparno, 2005). Novak (dalam Suparno, 2005) menyatakan bahwa
prakonsepsi yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah disebut dengan

miskonsepsi. Brown (dalam Suparno, 2005) memandang miskonsepsi sebagai


suatu pandangan yang naif dan mendefinisikan miskonsepsi sebagai suatu
gagasan yang tidak sesuai dengan konsepsi ilmiah. Dalam ilmu kimia,
miskonsepsi dianggap sebagai kesalahan siswa dalam mengkaitkan suatu
fenomena yang ada dengan konsep yang dimiliki. Ilmu kimia bersifat abstrak,
diperlukan tiga aspek dalam memahami konsep kimia secara utuh, yaitu aspek
makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Adanya ketidakseimbangan siswa dalam
penguasaan ketiga aspek ini akan menjadi penyebab terjadinya miskonsepsi.
Siswa tidak dapat menghubungkan fenomena yang mereka dapat secara
makroskopik dengan pengetahuannya terhadap aspek mikroskopiknya.
Salah satu penyebab timbulnya miskonsepsi dalam diri siswa adalah faktor
internal yang berasal dari siswa itu sendiri. Banyak siswa sudah mempunyai
konsep awal sebelum mereka mengikuti pelajaran di sekolah. Namun
kenyataannya masih banyak prakonsepsi siswa yang salah, karena berbedanya
penalaran antara siswa terhadap suatu fenomena. Selain itu, siswa yang sedang
mengalami proses perkembangan kognitif akan sulit memahami konsep yang
abstrak sehingga pemahamannya cenderung terbatas pada hal-hal yang konkret
yang dapat ditangkap oleh panca indera saja.
Miskonsepsi yang ada dalam diri siswa sebaiknya segera diidentifikasi
sedini mungkin karena ilmu kimia bersifat hirarkis, sehingga dikhawatirkan
pemahaman konsep yang salah di awal akan mempengaruhi pengembangan
konsep-konsep selanjutnya. Penting untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa
pada materi-materi kimia di kelas X karena penanaman konsep siswa pada kelas
X merupakan dasar tempat penanaman konsep, jika konsep telah tertanam baik
pada kelas X, maka untuk tingkatan selanjutnya siswa lebih mudah untuk
mengembangkan pengetahuannya tanpa harus dilakukan pembenaran konsep
kembali oleh guru dikarenakan siswa miskonsepsi. Untuk itu perlu diadakan
analisis terhadap siswa.
Diperlukan tes untuk dapat mengukur pemahaman konsep dan letak
kesalahan konsep di dalam pemahaman siswa. Tes yang dapat digunakan adalah
tes diagnostik. Menurut Depdiknas (2007), tes diagnostik merupakan tes yang
dapat digunakan untuk mengetahui kelemahan dan kekuatan siswa. Sehingga

dapat disimpulkan bahwa tes diagnostik memiliki dua fungsi, yaitu untuk
mengidentifikasi kesalahpahaman konsep pada siswa dan untuk merencanakan
perbaikan pembelajaran.

Tes Diagnostik Multiple Choice Two-Tier


Salah satu tes diagnostik yang baik untuk digunakan adalah tes diagnostik
Multiple Choice Two-Tier. Instrumen tes diagnostik two-tier multiple choice
berbentuk pilihan ganda terdiri atas dua tingkat. Tingkat pertama merupakan
pertanyaan pilihan ganda yang terdiri dari lima pilihan jawaban. Tingkat kedua
merupakan lima pilihan alasan dari jawaban pertanyaan tingkat pertama (Tan
dkk., 2005). Tes diagnostik two-tier multiple choice dikembangkan melalui tiga
tahap oleh Tysz (2009) (berdasarkan aturan pengembangan tes diagnostik twotier multiple choice oleh Treagust). Tahap pertama adalah mewawancarai siswa
tentang materi terkait menggunakan pertanyaan terbuka. Tahap kedua adalah
mengembangkan tes pilihan ganda beralasan terbuka dari hasil wawancara. Tahap
ketiga adalah pengembangan tes two-tier multiple choice dari hasil tes tahap
kedua (tes pilihan ganda beralasan terbuka).

Tahap pengembangan instrumen diagnostik two-tier ini disajikan dalam


gambar berikut.

Pada bagan pengembangan instrumen diagnostik two-tier Treagust dan


Mocerino tersebut, tahap pengembangannya terdiri atas tiga tahapan. Tahap
pertama adalah penentuan isi. Sebelum mengidentifikasi letak kesalahpahaman
siswa pada materi kimia yang diajarkan, guru harus mengidentifikasi terlebih dulu
materi yang akan diteliti. Guru hendaknya mampu menemukan pernyataanpernyataan penting dalam materi yang memungkinkan timbulnya miskonsepsi. Isi
materi yang telah dianalisis kemudian dikembangkan menjadi peta konsep untuk
mempermudah menampilkan isi materi serta hubungan-hubungan yang saling
berkaitan antar sub materi dalam materi.

Tahap selanjutnya adalah pengumpulan informasi tentang miskonsepsi yang


dialami siswa. Pengumpulan informasi dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu menelaah bahan pustaka, mengumpulkan penjelasan siswa tentang materi
yang diteliti menggunakan jawaban terbuka, mengumpulkan penjelasan siswa
dengan menggunakan tes pilihan ganda yang disertai alasan jawaban terbuka, dan
melakukan wawancara semi terstruktur terhadap siswa. Pada tes diagnostik
multiple choice two-tier, cara-cara tersebut diintegrasi menjadi satu kesatuan yang
dapat saling melengkapi. Pemberian soal dengan jawaban terbuka akan membantu
guru mengetahui tingkat pemahaman konsep siswa, seberapa dalam siswa mampu
menjelaskan fenomena-fenomena yang terkait dengan materi. Sedangkan untuk
pemberian soal pilihan ganda beralasan terbuka akan membantu guru mengetahui
letak miskonsepsi siswa. Wawancara semi terstruktur terhadap siswa bertujuan
untuk meningkatkan validitas informasi yang diperolah.
Analisis data untuk pemahaman konsep dilakukan dengan menentukan
besarnya persentase siswa yang menjawab benar dan analisis data untuk
miskonsepsi yang dialami siswa dapat dilakukan dengan cara menghitung
besarnya persentase kombinasi pemilihan jawaban dan alasan yang konsisten
salah untuk setiap pasangan soal.

Keunggulan Tes Diagnostik Multiple Choice Two-Tier


Proses diagnosis menggunakan two-tier multiple choice memiliki kelebihan
dibanding dengan proses diagnosis menggunakan metode wawancara maupun
peta konsep. Jika menggunakan wawancara, guru membutuhkan lebih banyak
waktu untuk mendiagnosis miskonsepsi yang terdapat pada siswanya, mengingat
rata-rata jumlah siswa di Indonesia pada satu kelas sebanyak 30 orang. Jika
menggunakan metode peta konsep maka guru akan membutuhkan waktu lebih
banyak untuk memeriksa dan mempertimbangkan skor untuk peta konsep yang
telah dibuat oleh siswanya. Jika menggunakan metode two-tier multiple choice
selain menghemat waktu untuk pelaksanaan diagnosis miskonsepsi pada siswa,
guru juga menghemat waktu ketika memeriksa hasil diagnosis tersebut. Hal
serupa juga diungkapkan oleh Tan dan Treagust (1999) yang menyatakan bahwa
tes diagnostik two-tier multiple choice lebih mudah dilaksanakan dan diberi skor

dibandingkan dengan instrumen diagnostik lainnya sehingga memberikan manfaat


lebih bagi guru.

KESIMPULAN
Tes diagnostik multiple choice two-tier merupakan tes diagnostik untuk
mengidentifikasi miskonsepsi yang dialami siswa. Tes diagnostik multiple choice
two-tier memiliki tiga tahapan dalam pengembangannya, yaitu penentuan isi,
pengumpulan informasi tentang miskonsepsi siswa, dan pengembangan instrumen
tes diagnostik two-tier. Tes diagnostik dianggap lebih efisien dan menghemat
waktu dalam membantu guru untuk mengetahui miskonsepsi siswa pada materi
kimia yang diajarkan dan membantu menentukan tindakan yang tepat untuk
remediasi pembelajaran.

DAFTAR RUJUKAN

Arifin, Z. 2009. Evaluasi Pembelajaran. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


Chandrasegaran, A. L., Treagust D. F. & Mocerino, M. 2007. The Development
of a Two-tier Multiple-Choice Diagnostic Instrument for Evaluating
Secondary School Students Ability to Describe and Explain Chemical
Reactions Using Multiple Levels of Representation. Chemistry Education
Research and Practice, 8 (3). (Online), (http://pubs.rsc.org), diakses 15
April 2015.
Dahar, R.W. 2011. Teori-Teori Belajar & Pembelajaran. Jakarta: Penerbit
Erlangga.
Departemen Pendidikan Nasional. 2007. Tes Diagnostik. Jakarta: Depdiknas.
Gabel, D. 1999. Improving Teaching and Learning through Chemistry Education
Research: A Look to the Future. Journal of Chemical Education, 76 (4):
548-554.
Suparno, Paul. 2005. Miskonsepsi dan Perubahan Konsep dalam Pendidikan
Fisika. Yogyakarta: PT. Gramedia Widia Sarana.

Tan, K.C.D., Taber, K., Goh, N.K. dan Chia, L.S. 2005. The Ionization Energy
Diagnostic Instrument: A Two-Tier Multiple-Choice Instrument to
Determine High School Students Understanding of Ionisation Energy.
Chem. Educ.Res. Pract, 6 (4):180-197.
Tysz, C. 2009. Development of Two-Tier instrument and Assess Students`
Understanding in Chemistry. Scientific Research and Essay, 4 (6): 626-631.