Anda di halaman 1dari 19

TUGAS KUNJUNGAN LAPANGAN

BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS


LAPORAN DIAGNOSTIK KOMUNITAS MAHASISWA YARSI YANG JAJAN
SEMBARANGAN

KELOMPOK A-10
Ketua

: Helena Azhar Ainun

1102012111

Sekretaris

: Deza Harati Zulfikar

1102012060

Anggota

: Adek Prima Rahmi P

1102012004

Affy Syifarani

1102012008

Azando Rizki Putra

1102012038

Dian Suciaty Annisa

1102012064

Dita Evita Hersafitri

1102012069

Frastio Saputra

1102012094

Hendri Prasetyo

1102012113

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS YARSI


JAKARTA
TAHUN AJARAN 2014/2015

Lembar Persetujuan Pembimbing


Laporan Diagnosis dan Intervensi Komunitas Tentang Perilaku Tidak Sehat Mahasiswa/i
Yarsi yang Jajan Sembarangan

Menyetujui,
Dosen Pembimbing

Dr. Andari R. Putri

DAFTAR ISI
Lembar Persetujuan Pembimbing.....................................................................................................i
DAFTAR ISI....................................................................................................................................ii
BAB I...............................................................................................................................................1
PENDAHULUAN...........................................................................................................................1
1.1. Latar Belakang......................................................................................................................1
1.2. Perumusan Masalah..............................................................................................................3
1.3. Tujuan Penelitian...................................................................................................................3
1.4. Manfaat Penelitian................................................................................................................3
BAB 2..............................................................................................................................................4
TINJAUAN PUSTAKA..................................................................................................................4
2.1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat..........................................................................................4
2.2. Penyakit Akibat Jajan Sembarangan.....................................................................................4
2.3. Teori Perilaku........................................................................................................................9
2.4. Kerangka Teori....................................................................................................................12
2.5. Kerangka Konsep................................................................................................................13
DAFTAR PUSTAKA.....................................................................................................................14
LAMPIRAN..................................................................................................................................15

BAB I
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
Cempaka Putih terdiri atas 3 kelurahan yaitu Rawasari, Cempaka Putih Timur, dan
Cempaka Putih Barat dengan total 27.060 KK. Total luas wilayahnya 4,69 km2.
Universitas YARSI terletak di Jalan Letjend Soeprapto Kecamatan Cempaka Putih.
Universitas YARSI memiliki 5 fakultas yaitu Kedokteran Umum, Psikologi, Hukum, Teknik
Informatika, dan Ekonomi. Sebagian besar mahasiswanya merupakan pendatang dari Sumatra,
Kalimantan, dan Sulawesi. Disekitar Cempaka Putih juga terdapat beberapa Universitas lain
seperti UMJ, STIAMI, dan Universitas Trisakti Fakultas Ekonomi.
Karena banyaknya universitas disekitar kawasan Cempaka Putih maka banyak rumah
tinggal pribadi yang beralih fungsi sebagai kost-kostan untuk mahasiswa/i. Makan merupakan
kebutuhan primer bagi manusia begitupun dengan mahasiswa, maka jajan merupakan hal yang
lumrah dan pasti pernah dilakukan oleh sebagian besar mahasiswa, terlebih dengan begitu
padatnya jadwal dan tugas kuliah sehingga banyak yang memilih jalan praktis untuk mengganjal
perut dengan cara jajan. Kebanyakan mahasiswa jajan di tempat yang dekat dengan kampus dan
tempat kostnya. Di belakang kampus YARSI, berjejer berbagai macam makanan yang dijual oleh
PKL dan juga ada yang berada di kios-kios atau rumah.
Menurut KBBI, jajan adalah membeli makanan atau minuman di warung. Kadang saat
jajan kita kurang memperhatikan kebersihan dari makanan yang kita beli yang sering berakibat
terjadinya gangguan pencernaan seperti diare, tipes, dan hepatitis. Ditambah lagi dengan
kurangnya kesadaran untuk mencuci tangan menjadikan gangguan perut menjadi hal yang
pernah dialami oleh sebagian besar mahasiswa akibat jajan sembarangan.
Dalam rangka peningkatan status kesehatan masyarakat, ada berbagai upaya yang bisa
dilakukan di mana salah satunya adalah sanitasi lingkungan atau kesehatan lingkungan. Hal ini
sesuai dengan konsep H. L. Blum yang menyatakan bahwa faktor yang paling besar memberikan
kontribusi bagi status kesehatan masyarakat adalah faktor lingkungan. Faktor lingkungan ini
terdiri dari unsur fisik,kimia, biologi dan radioaktif. Faktor inipun sangat bergantung atau selalu
berinteraksidengan faktor perilaku, keturunan dan pelayanan kesehatan.
Salah satu penyakit akibat sampah adalah diare. Diare merupakan salah satu masalah
kesehatan utama di Negara berkembang, termasuk Indonesia. Di Indonesia ditemukan sekitar 60
juta kejadian diare setiap tahunnya dan merupakan penyebab utama kesakitan dan kematian
(Depkes RI, 2003).
Permasalahan yang terjadi adalah kebiasaan jajan sembarangan serta kurangnya
kesadaran untuk mencuci tangan sebelum makan dapat meningakatkan angka kejadian diare.
1

Diare dapat terjadi oleh berbagai faktor, seperti lingkungan yang kurang bersih, penyediaan air
bersih yang masih kurang memadai, infeksi yang disebabkan oleh virus dan bakteri. Tempat pun
memberi peran besar, terlebih jika tempat penjual makanan itu terletak dekat dengan selokan dan
tempat pembuangan sampah sementara, seperti yang terjadi di sekita kampus YARSI. Dimana
kebersihan dari air yang digunakan oleh penjual juga merupakan air yang tidak bersih.
Dengan melihat kondisi ini maka penulis tertarik untuk membuat penelitian ini.

1.2. Perumusan Masalah


Perilaku tidak sehat mahasiswa/i Yarsi yang jajan sembarangan.
2

1.3. Tujuan Penelitian


Tujuan umum penelitian ini adalah untuk melihat perilaku tidak sehat mahasiswa YARSI
yang lebih menyukai jajan sembarangan.
1.4. Manfaat Penelitian
Dalam penelitian ini, manfaat yang bisa didapat antara lain adalah
Sebagai salah satu sumber informasi dan bahan masukan bagi peneliti
selanjutnya.
Sebagai bahan masukan bagi pihak kampus serta instansi terkait lainnya dalam
menetapkan program pemeliharaan kesehatan lingkungan pemukiman, khususnya
pembuangan dan penampungan sampah serta regulasi PKL di belakang kampus
Yarsi.

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat atau disingkat PHBS, yaitu sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai upaya agar dirinya sehat dan aktif membantu
kesehatan masyarakat di sekitarnya. PHBS memang sepertinya mudah dikatakan tapi
penerapannya sangat sulit karena membutuhkan kesadaran dan kesungguhan akan pentingnya
menjaga kesehatan. Semua perilaku manusia sebenarnya pasti punya pengaruh terhadap
kesehatan, apapun bentuknya, mulai dari makan, tidur, mandi, berpakaian, sampai cara belajar,
hanya saja diprioritaskan mana perilaku yang berpotensi menimbulkan penyakit.
PHBS dilakukan tidak hanya di lingkungan rumah tapi juga di lingkungan sekolah atau
kuliah. PBHS baik untuk mendidik dan menanamkan kesadaran akan pentingnya kebersihan
sebagai upaya menjaga kesehatan diri dan lingkungan. Upaya PHBS yang dapat dilakukan
diantaranya:
1. Mencuci tangan dengan air bersih yang mengalir dan sabun
2. Makan sayur buah dan daging
3. Jajan di kantin sekolah yang sehat
4. Menggosok gigi secara teratur
5. Mandi dan keramas teratur
6. Membuang sampah pada tempatnya
7. Tidak merokok
8. Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap bulan
9. Mengikuti kegiatan olah raga di sekolah
10. Memberantas jentik nyamuk secara rutin
11. Buang air besar dan buang air kecil di jamban sekolah
12. Tidur yang cukup
Kali ini kami hanya membahas poin ke tiga tentang jajan di kantin sekolah yang sehat.
Saat jajan di kantin sebaiknya pilih jajan yang sehat, jajan yang sehat itu adalah jajan yang bersih
dan jauh dari jangkauan lalat. Jajan makanan yang banyak dihinggapi lalat bisa menyebabkan
diare karena lalat yang tadinya hinggap di kotoran akan membawa kuman penyakit pada
makanan yang akan ia hinggapi.
2.2. Penyakit Akibat Jajan Sembarangan
Diare
Menurut World Health Organization (WHO), penyakit diare adalah suatu penyakit yang
ditandai dengan perubahan bentuk dan konsistensi tinja yang lembek sampai mencair dan
bertambahnya frekuensi buang air besar yang lebih dari biasa, yaitu 3 kali atau lebih dalam
sehari yang mungkin dapat disertai dengan muntah atau tinja yang berdarah. Di Bagian Ilmu
4

Kesehatan Anak FKUI, diare diartikan sebagai buang air besar yang tidak normal atau bentuk
tinja yang encer dengan frekuensi lebih banyak dari biasanya.
Lebih dari 90% kasus diare akut adalah disebabkan oleh agen infeksius (Ahlquist dan
Camilleri, 2005). Diare dapat disebabkan oleh infeksi virus seperti Enterovirus (Virus ECHO,
Coxsackie, Poliomyelitis), Adenovirus, Rotavirus, Astrovirus dan lain-lain; infeksi bakteri seperti
Vibrio, E.Coli, Salmonella, Shigella, Campylobacter, Yersinia, Aeromonas dan sebagainya;
infeksi parasit seperti cacing (Ascaris, Trichiuris, Strongyloides), Protozoa (Entamoeba
histolytica, Giardia lamblia, Trichomonas hominis), jamur (Candida albicans) (Kliegman, 2006).
Diare dapat juga disebabkan oleh intoleransi laktosa, alergi protein susu sapi namun tetap
sebagian besar diare disebabkan oleh infeksi. Di Indonesia, penyebab utama diare adalah
Shigella, Salmonella, Campylobacter, E. Coli, dan Entamoeba histolytica (Depkes RI, 2000).
Beberapa faktor yang menyebabkan terjadinya diare adalah mengkonsumsi makanan
jajanan yang tidak terjamin kebersihannya, lingkungan, peran keluarga, dan ekonomi. Cara
persiapan dan penyimpanan bahan makanan dapat menimbulkan akibat buruk, sebagai contoh
dalam kehidupan seharihari adalah penyimpanan air di rumah atau kantin atau warung sekolah,
penggunaan atau juga kemungkinan kontaminasi silang dari makanan mentah ke makanan yang
sudah di masak, atau dari tempat pembungkus atau penampung, makanan dan peralatan masak,
atau status kesehatan dan perilaku hygiene para pengolah makanan. Dari kondisi ini makanan
dapat terkontaminasi oleh berbagai racun, sehingga bisa menimbulkan diare karena terdapat
berbagai macam mikroba. Makanan atau jajanan yang sering dikonsumsi anak sekolah sangat
sensitif terhadap pencemaran, yang bersumber dari bahan tambahan pangan berupa pewarna
tekstil, zat pengawet, dan pemanis buatan.
Penyakit diare pada anak usia muda tampaknya makin sering dijumpai di berbagai negara
tropis, khususnya di daerah perkotaan yang kotor dan padat. Sampai saat ini penyakit diare masih
merupakan salah satu masalah kesehatan utama dari masyarakat di Indonesia. Diare selalu masuk
dalam urutan 3 besar dari 10 penyakit terbanyak Puskesmas. Besarnya masalah tersebut terlihat
dari tingginya angka kesakitan dan kematian akibat diare. Angka kesakitan diare di Indonesia
adalah sekitar 200 400 kejadian diare di antara 1000 penduduk setiap tahunnya. Kejadian diare
di Indonesia berjumlah sekitar 60 juta per tahunnya dan 80% adalah anak-anak.
Sebagian dari penderita (12 %) akan jatuh ke daam dehidrasi dan kalau tidak segera
ditolong 50- 60% diantaranya dapat meninggal (4). Hal inilah yang menyebabkan sejumlah
350.000 500.000 anak meninggal setiap tahunnya. Diare merupakan penyakit dengan frekuensi
KLB yang cukup tinggi, bahkan cenderung meningkat dari tahun ke tahun.
Kejadian diare pada anak laki-laki hampir sama dengan anak perempuan. Penyakit ini
ditularkan secara fecal-oral melalui makanan dan minuman yang tercemar. Di negara yang
sedang berkembang, insiden yang tinggi dari penyakit diare merupakan kombinasi dari sumber
air yang tercemar, kekurangan protein dan kalori yang menyebabkan turunnya daya tahan tubuh
(Suharyono, 2003).
Tinja akan menjadi cair dan mungkin disertai dengan lendir ataupun darah. Warna tinja
bisa lama-kelamaan berubah menjadi kehijau-hijauan karena tercampur dengan empedu. Anus
5

dan daerah sekitarnya lecet karena seringnya defekasi dan tinja makin lama makin asam sebagai
akibat banyaknya asam laktat yang berasal darl laktosa yang tidak dapat diabsorbsi oleh usus
selama diare.
Gejala muntah dapat terjadi sebelum atau sesudah diare dan dapat disebabkan oleh
lambung yang turut meradang atau akibat gangguan keseimbangan asam-basa dan elektrolit
(Kliegman, 2006). Bila penderita telah kehilangan banyak cairan dan elektrolit, maka gejala
dehidrasi mulai tampak. Berat badan turun, turgor kulit berkurang, mata dan ubunubun besar
menjadi cekung, selaput lendir bibir dan mulut serta kulit tampak kering (Hasan dan Alatas,
1985). Menurut Kliegman, Marcdante dan Jenson (2006), dinyatakan bahwa berdasarkan
banyaknya kehilangan cairan dan elektrolit dari tubuh, diare dapat dibagi menjadi:

Diare tanpa dehidrasi Pada tingkat diare ini penderita tidak mengalami dehidrasi karena
frekuensi diare masih dalam batas toleransi dan belum ada tanda-tanda dehidrasi.
Diare dengan dehidrasi ringan (3%-5%) Pada tingkat diare ini penderita mengalami diare
3 kali atau lebih, kadangkadang muntah, terasa haus, kencing sudah mulai berkurang,
nafsu makan menurun, aktifitas sudah mulai menurun, tekanan nadi masih normal atau
takikardia yang minimum dan pemeriksaan fisik dalam batas normal.
Diare dengan dehidrasi sedang (5%-10%) Pada keadaan ini, penderita akan mengalami
takikardi, kencing yang kurang atau langsung tidak ada, irritabilitas atau lesu, mata dan
ubun-ubun besar menjadi cekung, turgor kulit berkurang, selaput lendir bibir dan mulut
serta Universitas Sumatera Utara kulit tampak kering, air mata berkurang dan masa
pengisian kapiler memanjang ( 2 detik) dengan kulit yang dingin yang dingin d an
pucat.
Diare dengan dehidrasi berat (10%-15%) Pada keadaan ini, penderita sudah banyak
kehilangan cairan dari tubuh dan biasanya pada keadaan ini penderita mengalami
takikardi dengan pulsasi yang melemah, hipotensi dan tekanan nadi yang menyebar, tidak
ada penghasilan urin, mata dan ubun-ubun besar menjadi sangat cekung, tidak ada
produksi air mata, tidak mampu minum dan keadaannya mulai apatis, kesadarannya
menurun dan juga masa pengisian kapiler sangat memanjang ( 3 detik) dengan kulit
yang dingin dan pucat.

Komplikasi utama akibat penyakit gastroenteritis ini adalah dehidrasi dan masalah
kardiovaskular akibat hipovolemia dengan derajat berat. Apabila diare itu disebabkan oleh
Shigella, demam tinggi dan kejang bisa timbul. Abses pada saluran usus juga dapat timbul akibat
infeksi shigella dan salmonella terutama pada demam tifoid yang dapat menyebabkan perforasi
pada saluran usus. Hal ini sangat berbahaya dan mengancam nyawa. Muntah yang berat dapat
menyebabkan aspirasi dan robekan pada esofagus (Kliegman, Marcdante, Jenson, Behrman,
2006).

Tifoid
Demam Typhoid adalah suatu penyakit infeksi sistemik bersifat akut yang di sebabkan
oleh Salmonella Typhi. Penyakit ini di tandai oleh panas berkepanjangan, di topang dengan
bakteremia tanpa keterlibatan struktur endotelial atau endokardial dan invasi bakteri sekaligus
multiplikasi ke dalam sel fagosit mononuklear dari hati, limpa, kelenjar limfe usus dan peyers
patch. (Sumarmo S.dkk 2008).
Penyebab utama dari penyakit ini adalah mikroorganisme Salmonella Typhosa dan
Salmonella Typhi, A, B, dan C. Mikroorganisme ini banyak terdapat di kotoran, tinja manusia
dan makanan atau minuman yang terkena mikroorganisme yang di bawa oleh lalat. Sebenarnya
sumber utama dari penyakit ini adalah lingkungan yang kotor dan tidak sehat. Tidak seperti virus
yang dapat beterbangan di udara, mikroorganisme ini hidup di sanitasi yang buruk seperti
lingkungan kumuh, makanan dan minuman yang tidak higenis
Gejala demam typhoid sering kali muncul setelah 1 sampai 3 minggu terpapar mulai dari
tingkat sedang hingga parah. Gejala klasik yang muncul mulai dari demam tinggi, malas, sakit
kepala, konstipasi atau diare, Rose-Spot pada dada dan Hepatosplenomegali (WHO, 2010). Rose
spot adalah suatu ruam makulopapular yang berwarna merah dengan ukuran 1 sampai 5 mm,
sering kali di jumpai pada daerah abdomen, thoraks, ekstremitas dan punggung pada orang kulit
putih, tetapi tidak pernah di laporkan di temukan pada anak Indonesia. Ruam ini muncul pada
hari ke 7 sampai 10 dan bertahan selama 2 sampai 3 hari. (Soedarmo et al. 2010) Periode
inkubasi demam typhoid pada anak antara 5 sampai 40 hari dengan rata-rata 10 sampai 14 hari.
Gejala klinis ringan tidak memerlukan perawatan, sedangkan gejala klinis berat harus di rawat.
Anak mengalami demam tinggi pada sore hingga malam hari dan turun pada pagi hari. Banyak
penderita demam typhoid yang di akibatkan kurang masukan cairan dan makanan. (Soedarmo et
al. 2010)
Penderita typhoid perlu di rawat di rumah sakit untuk isolasi agar penyakit ini tidak
menular ke orang lain. Penderita harus istirahat total minimal 7 hari bebas panas. Istirahat total
ini untuk mencegah terjadinya komplikasi di usus. Makanan yang di konsumsi adalah makanan
lunak dan tidak banyak berserat. Sayuran dengan serat kasar seperti daun singkong harus di
hindari, jadi harus benar-benar di jaga makanannya untuk memberi kesempatan kepada usus
menjalani upaya penyembuhan. (Soedarto, 2007 ).
Demam typhoid masih merupakan masalah kesehatan sedang berkembang. Besarnya
angka kasus demam typhoid di dunia ini sangat sukar di tentukan sebabab penyakit ini di kenal
mempunyai gejala dengan spektrum klinisnya sangat luas. Di perkirakan angka kejadian dari
150/100.000/tahuan di Amerika Selatan dan 900/100.000/tahun di Asia. Umur di Indonesia
(daerah endemis) di laporkan antara 3 smpai 19 tahun mencapai 91% kasus. Angka yang kurang
lebih sama juga di laporkan dari Amerika Selatan. Salmonella Typhi dapat hidup dalam tubuh
manusia (manusia sebagai natural reservoir). Manusia yang terinfeksi Salmonella Typhi dapat
mengeksresikanya melalui sekret saluran nafas, urin dan tinja dalam jangka waktu yang sangat
bervariasi. Salmonella Typhi yang berada di luar tubuh manusia dapat hidup untuk beberapa
minggu apabila berada di dalam air, es, debu atau kotoran yang kering maupun pada pakian.
7

Akan tetapi Salmonella Typhi hanya dapat hidup kurang dari 1 minggu pada raw sewage, dan
mudah di matikan dengan klorinasi dan pasteurisasi (temperatur 630C).
Terjadinya penularan Salmonella Typhi sebagian besar melalui minuman atau makanan
yang tercemar oleh mikroorganisme yang berasal dari penderita atau pembawa mikroorganisme
biasanya keluar bersamasama dengan tinja (melalui rute oral fekal, jalur oro, fenal). Dapat juga
terjadi transmisi transplasental dari seorang ibu hamil yang berada dalam bakteremia ke pada
bayinya, pernah di laporkan pula transmisi oro fekal dari seorang ibu pembawa mikrooranisme
pada saat proses kelahirannya kepada bayinya dan sumber mikroorganisme berasal dari
labolatorium peneliti. (Sumarmo S.dkk 2008)
Secara umum untuk memperkecil kemungkinan tercemar (Salmonella Typhi) maka setiap
individu harus memperhatikan kualitas makanan dan minuman yang mereka konsumsi.
Salmonella Typhi di dalam air akan mati apabila di panaskan setinggi 570C untuk beberapa
menit atau dengan proses iodinasi atau klorinasi. Untuk makanan pemanasan sampai suhu 570 C
beberapa menit dan secara merata juga dapat mematikan kuman Salmonella typhi. Penurunan
endemisitas suatu negara atau daerah tergantung baik pada baik buruknya pengadaan sarana air
dan pengaturan pembuangan sampah serta tingkat kesadaran individu terhadap higiene pribadi.
Imunisasi aktif dapat membantu menekan angka kejadian demam typhoid. (Sumarmo S.dkk
2008)

Muntah
Muntah adalah debit kuat dari isi lambung melalui mulut. Muntah, juga disebut emesis,
merupakan respons gejala ke sejumlah pemicu berbahaya. Muntah adalah pengusiran kuat, dan
berbeda dari keembali regurgitasi yang mudah dari isi lambung ke mulut. Meskipun tidak
menyenangkan, muntah adalah fungsi penting pengusiran tubuh dari zat berbahaya.
Muntah adalah proses kompleks yang dihasilkan dari interaksi yang terkoordinasi jalur
saraf, otak, dan otot-otot sistem pencernaan. Titik pemicu utama muntah di otak disebut daerah
postrema. Struktur ini terkena bahan kimia di dalam aliran darah dan cairan serebrospinal. Studi
ilmiah menunjukkan bahwa stimulasi daerah postrema oleh berbagai macam obat serta racun
bakteri, radiasi, dan kondisi fisiologis, menginduksi muntah.
Jalur saraf tertentu (disebut jalur saraf aferen) merangsang muntah bila dipicu oleh
gerakan, infeksi telinga atau tumor, penyakit Meniere, bau, rangsangan visual, rasa sakit, dan
selera buruk. Jalur lainnya menyebabkan muntah sebagai respon terhadap iritasi perut, distensi
dari usus dan saluran empedu, radang perut, dan infark miokard.
Muntah yang berlangsung hanya satu atau dua hari biasanya disebabkan oleh infeksi,
reaksi obat-obatan, racun, uremia, dan ketoasidosis diabetes. Muntah yang berlangsung lebih dari
satu minggu dapat disebabkan oleh kondisi medis atau psikiatris jangka panjang. Infeksi pada
sistem pencernaan lebih sering pada bayi, balita, dan orang dewasa muda (20-29 tahun).
Gejala yang terkait dengan muntah tergantung pada penyebab infeksi gastrointestinal
yang juga akan menyebabkan demam, nyeri otot, dan diare.
8

2.3. Teori Perilaku


Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalaman serta interaksi
manusia dengan lingkungannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan, sikap dan tindakan.
Dengan kata lain, perilaku merupakan respon/reaksi seorang individu terhadap stimulus yang
berasal dari luar maupun dari dalam dirinya. Respon ini dapat bersifat pasif (tanpa tindakan:
berpikir, berpendapat, bersikap) maupun aktif (melakukan tindakan). Sesuai dengan batasan ini,
perilaku kesehatan dapat di rumuskan sebagai bentuk pengalaman dan interaksi individu dengan
lingkungannya, khususnya yang menyangkut pengetahuan dan sikap tentang kesehatan.
Perilaku aktif dapat dilihat, sedangkan perilaku pasif tidak tampak, seperti pengetahuan,
persepsi, atau motivasi. Beberapa ahli membedakan bentuk-bentuk perilaku ke dalam tiga
domain yaitu pengetahuan, sikap, dan tindakan atau sering kita dengar dengan istilah knowledge,
attitude, practice (Sarwono, 2004).
Di Indonesia istilah perilaku kesehatan sudah lama dikenal dalam 15 tahun akhir-akhir ini
konsep-konsep di bidang perilaku yang berkaitan dengan kesehatan ini sedang berkembang
dengan pesatnya, khususnya dibidang antropologi medis dan kesehatan masyarakat. Istilah ini
dapat memberikan pengertian bahwa kita hanya berbicara mengenai prilaku yang secara sengaja
dilakukan dalam kaitanya dengan kesehatan. Kenyataanya banyak sekali prilaku yang dapat
mempengaruhi kesehatan, bahkan seandainya seseorang tidak mengetahuinya, atau melakukanya
dengan alasan yang sama sekali berbeda (menurut Gochman,1988 yang dikutip Lukluk A, 2008).
Perilaku manusia terbentuk karena adanya kebutuhan. Menurut Abraham Harold Maslow,
manusia memiliki lima kebutuhan dasar, yakni:
a. Kebutuhan fisiologis/biologis,
b. Kebutuhan rasa aman,
c. Kebutuhan mencintai dan dicintai,
d. Kebutuhan harga diri,
e. Kebutuhan aktualisasi diri.

Komponen perilaku menurut Gerace & Vorp,1985 yang dikutip Lukluk A, (2008) dapat
dilihat dalam 2 aspek perkembangan penyakit, yaitu :
a. Perilaku mempengaruhi faktor resiko penyakit tertentu. Factor resiko adalah ciri kelompok
individu yang menunjuk mereka sebagai at-high-risk terhadap penyakit tertentu.
b. Perilaku itu sendiri dapat berupa faktor resiko. Contoh: merokok dianggap sebagai faktor
resiko utama baik bagi penyakit jantung koroner maupun kanker Paru karena kemungkinan
mendapatkan penyakit ini lebih besar pada perokok daripada orang yang tidak merokok.

Perilaku dapat diberi batasan sebagai suatu tanggapan individu terhadap rangsangan yang
berasal dari dalam maupun luar diri individu tersebut. Secara garis besar bentuk perilaku ada dua
macam, yaitu :
a. Perilaku Pasif (respons internal) Perilaku yang sifatnya masih tertutup, terjadi dalam diri
individu dan tidak dapat diamati secara langsung. Perilaku ini sebatas sikap belum ada tindakan
yang nyata.
b. Perilaku Aktif (respons eksternal) Perilaku yang sifatnya terbuka, perilaku aktif adalah
perilaku yang dapat diamati langsung, berupa tindakan yang nyata.
Perilaku kesehatan adalah tanggapan seseorang terhadap rangsangan yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, sistem pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan. Respons atau
reaksi organisme dapat berbentuk pasif (respons yang masih tertutup) dan aktif (respons terbuka,
tindakan yang nyata atau practice/psychomotor). Menurut Notoatmodjo (2003), rangsangan yang
terkait dengan perilaku kesehatan terdiri dari empat unsur, yaitu sakit dan penyakit, sistem
pelayanan kesehatan, makanan dan lingkungan.

Perilaku Terhadap Sakit dan Penyakit


Perilaku tentang bagaimana seseorang menanggapi rasa sakit dan penyakit yang bersifat
respons internal (berasal dari dalam dirinya) maupun eksternal (dari luar dirinya), baik respons
pasif (pengetahuan, persepsi, dan sikap), maupun aktif (praktik) yang dilakukan sehubungan
dengan sakit dan penyakit. Perilaku seseorang terhadap sakit dan penyakit sesuai dengan
tingkatan-tingkatan pemberian pelayanan kesehatan yang menyeluruh atau sesuai dengan
tingkatan pencegahan penyakit, yaitu:
a. Perilaku peningkatan dan pemeliharan kesehatan (health promotion behavior)
b. Perilaku pencegahan penyakit (health prevention behavior)
c. Perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior)
d. Perilaku pemulihan kesehatan (health rehabilitation behavior)

Perilaku Terhadap Sistem Pelayanan Kesehatan


Perilaku ini adalah respons individu terhadap sistem pelayanan kesehatan modern maupun
tradisional, meliputi:
a. Respons terhadap fasilitas pelayanan kesehatan
b. Respons terhadap cara pelayanan kesehatan
c. Respons terhadap petugas kesehatan
d. Respons terhadap pemberian obat-obatan
10

Respons tersebut terwujud dalam pengetahuan, persepsi, sikap dan penggunaan fasilitas, petugas
maupun penggunaan obat-obatan.

Perilaku Terhadap Lingkungan Kesehatan (Environmental behaviour)


Perilaku ini adalah respons individu terhadap lingkungan sebagai determinant (faktor
penentu) kesehatan manusia. Lingkup perilaku ini sesuai lingkungan kesehatan lingkungan,
yaitu:
a. Perilaku terhadap air bersih, meliputi manfaat dan penggunaan air bersih untuk kepentingan
kesehatan.
b. Perilaku sehubungan dengan pembuangan air kotor atau kotoran. Disini menyangkut pula
hygiene, pemeliharaan, teknik dan penggunaannya.
c. Perilaku sehubungan dengan pembuangan limbah, baik limbah cair maupun padat. Dalam hal
ini termasuk sistem pembuangan sampah dan air limbah yang sehat dan dampak pembuangan
limbah yang tidak baik.
d. Perilaku sehubungan dengan rumah yang sehat. Rumah sehat menyangkut ventilasi,
pencahayaan, lantai, dan sebagainya.
e. Perilaku terhadap pembersihan sarang-sarang vektor.

Lewin (1951,dalam buku Azwar, 2007) merumuskan suatu model hubungan perilaku
yang mengatakan bahwa perilaku adalah fungsi karakteristik individu dan lingkungan.
Karakteristik individu meliputi berbagai variabel seperti motif, nilai nilai, sifat kpribadian dan
sikap yang saling berinteraksi pula dengan faktor faktor lingkungan dalam menentukan
perilaku. Faktor lingkungan memiliki kekuatan besar dalam menentukan perilaku, bahkan
kadang kadang kekuatannya lebih besar dari pada karakteristik individu. Hal inilah yang
menjadikan prediksi perilaku lebih kompleks. Teori tindakan beralasan mengatakan bahwa sikap
mempengaruhi perilaku lewat suatu proses pengambilan keputusan yang teliti dan beralasan dan
dampaknya terbatas hanya pada 3 hal yaitu :
1. Perilaku tidak banyak ditentukan oleh sikap umum tetapi oleh sikap yang spesifik terhadap
sesuatu.
2. Perilaku dipengaruhi tidak hanya oleh sikap tetapi juga oleh norma norma subjektif
(subjective norms) yaitu keyakinan kita mengenai apa yang orang lain inginkan agar kita
perbuat.
3. Sikap terhadap suatu perilaku bersama normanorma subjektif membentuk suatu intensi atau
niat untuk berperilaku tertentu.

11

Secara sederhana, teori ini mengatakan bahwa seseorang akan melakukan suatu
perbuatan apabila ia memandang perbuatan itu positif dan bila ia percaya bahwa orang lain ingin
agar ia melakukannya. Dalam teori perilaku terencana keyakinankeyakinan berpengaruh pada
sikap terhadap perilaku tertentu, pada normanorma subjektif dan pada kontrol perilaku yang dia
hayati. Ketiga komponen ini berinteraksi dan menjadi determinan bagi intensi yang pada
gilirannya akan menentukan apakah perilaku yang bersangkutan dilakukan atau tidak (Azwar,
2007).
Menurut Green dalam buku Notoatmodjo (2003), menganalisis bahwa perilaku manusia
dari tingkatan kesehatan. Kesehatan seseorang atau masyarakat dipengaruhi oleh 2 faktor pokok
yakni faktor perilaku (behaviour causer) dan faktor dari luar perilaku (non behaviour causer).
Selanjutnya perilaku itu sendiri ditentukan atau terbentuk dari 3 faktor yaitu:
1. Faktorfaktor predisposisi (predisposing factors), yang terwujud dalam pengetahuan, sikap,
kepercayaan, keyakinan, nilai-nilai dan sebagainya.
2. Faktorfaktor pendukung (enabling factors), yang terwujud dalam lingkungan fisik, tersedia
atau tidak tersedianya fasilitas-fasilitas atau sarana-sarana kesehatan misalnya Puskesmas, obatobatan, alat-alat kontrasepsi, jamban dan sebagainya.
3. Faktorfaktor pendorong (reinforcing factors), yang terwujud dalam sikap dan perilaku
petugas kesehatan atau petugas yang lain, yang merupakan kelompok referensi dari perilaku
masyarakat.
Di simpulkan bahwa perilaku seseorang atau masyarakat tentang kesehatan ditentukan
oleh pengetahuan, sikap, kepercayaan, tradisi dan sebagainya dari orang atau masyarakat yang
bersangkutan. Di samping itu ketersediaan fasilitas, sikap dan perilaku para petugas kesehatan
terhadap kesehatan juga akan mendukung dan memperkuat terbentuknya perilaku. Menurut
Leavel dan Clark yang disebut pencegahan adalah segala kegiatan yang dilakukan baik langsung
maupun tidak langsung untuk mencegah suatu masalah kesehatan atau penyakit. Pencegahan
berhubungan dengan masalah kesehatan atau penyakit yang spesifik dan meliputi perilaku
menghindar (Notoatmodjo, 2007).

2.4. Kerangka Teori


Teori Lawrence Green
TEORI PERILAKU

PERILAKU

12

1. Faktor Pendorong / Predisposing


Factors
(Pengetahuan, sikap, keyakinan, nilainilai tradisi, dan sebagainya.)
2. Faktor Pemungkin / Enabling Factors
(Sarana dan prasarana atau fasilitas
untuk terjadinya perilaku kesehatan)
3. Faktor Penguat / Reinforcing Factors
(Tokoh masyarakat dan tokoh agama)
2.5. Kerangka Konsep
SIKAP

NILAI-NILAI
TRADISI

PERILAKU TIDAK SEHAT


JAJAN SEMBARANGAN

FASILITAS
(Sarana dan Prasarana)

13

DAFTAR PUSTAKA
http://digilib.unimus.ac.id/files/disk1/140/jtptunimus-gdl-sitisaodah-6979-3-babii.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/23245/4/Chapter%20II.pdf
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/38761/4/Chapter%20II.pdf
Pradipta H, Aditya, et al. 2013. Hubungan Perilaku Jajan dengan Kejadian Diare pada Anak
Sekolah. Berkala Kedokteran: Vol 9, No. 1.
Rika. 2010. Muntah (Vomiting). http://fkunhas.blogspot.com/2010/08/muntah-vomiting.html
Wiguna Candra. 2014. Perilaku Hidup Bersih dan Sehat untuk Anak Sekolah. Available at:
http://ilmukesmas.com/perilaku-hidup-bersih-dan-sehat-untuk-anak-sekolah/

14

15

LAMPIRAN
Gambar:

10

kuesioner untuk mahasiswa/i Yarsi tentang


jajan sembarangan.

16