Anda di halaman 1dari 2

Tuberkulosis Paru

Tuberkulosis paru merupakan penyakit menular yang disebabkan oleh kuman


Mycobacterium tuberculosis. Organisme ini bersifat intraseluler dan banyak menyerang organ
paru (Alsagaff, Hood, et al. 2010). TB terbukti pertama kali ditemukan pada mummie Mesir
sekitar 1500 sebelum masehi. Hipocrates kemudian menyebutnya sebagai Phtiasis
Pulmonalis atau plak putih (Dooley & Chaison, 2009).
Tuberkulosis paru dapat menyebabkan kerusakan jaringan yang luas. Hal ini dapat dilihat
dari pada pemeriksaan foto toraks, tuberkulosis dapat memberi gambaran bermacam-macam
yaitu bayangan berawan/nodular, kavitas, atau bayangan bercak milier pada parenkim paru.
Gambaran foto toraks juga dapat menginformasikan sejauh mana tuberkulosis telah merusak
paru dan jaringan lain (Perhimpunan Dokter Paru Indonesia, 2002).
Tuberkulosis (TB) paru merupakan masalah kesehatan terbesar yang belum dapat
teratasi. Sekitar sepertiga penduduk dunia diperkirakan terinfeksi oleh

Mycobacterium

tuberculosis. Menurut survei pada tahun 1995 diperkirakan ada 9 juta pasien TB baru dan 3
juta kematian akibat TB diseluruh dunia dimana 95% kasus TB dan 98% kematian akibat TB
di dunia, terjadi pada negara-negara berkembang. Demikian juga, kematian wanita akibat TB
lebih banyak dari pada kematian karena kehamilan, persalinan dan nifas. Dari semua
penderita TB, sekitar 75% adalah kelompok usia yang paling produktif secara ekonomis (1550 tahun) (DepkesRI, 2007).
Situasi TB di dunia semakin memburuk, jumlah kasus TB meningkat dan banyak
yang tidak berhasil disembuhkan, terutama pada negara yang dikelompokkan dalam 22
negara dengan masalah TB besar (high burden countries). Menyikapi hal tersebut, pada tahun
1993, WHO mencanangkan TB sebagai kedaruratan dunia (global emergency). Munculnya
pandemi HIV/AIDS di dunia menambah permasalahan TB. Koinfeksi dengan HIV akan
meningkatkan risiko kejadian TB secara signifikan. Pada saat yang sama, kekebalan ganda

kuman TB terhadap obat anti TB (multidrug resistance = MDR) semakin menjadi masalah
akibat kasus yang tidak berhasil disembuhkan. Keadaan tersebut pada akhirnya akan
menyebabkan terjadinya epidemi TB yang sulit ditangani. (DepkesRI, 2007).
Jumlah terbesar kasus TB terjadi di Asia Tenggara yaitu 35 % dari kasus seluruh TB di
dunia. TB juga menjadi masalah utama kesehatan masyarakat di Indonesia. Indonesia
menduduki peringkat ke-5 untuk insidens kasus TB terbanyak di dunia setelah India, China,
Afrika Selatan, dan Nigeria dari total jumlah pasien TB di dunia. Diperkirakan pada tahun
2004, setiap tahun ada 539.000 kasus baru dan kematian 101.000 orang. Insidensi kasus TB
BTA positif sekitar 110 per 100.000 penduduk. Survey Kesehatan Rumah tangga (SKRT)
pada tahun 2001 menunjukkan TB menjadi penyebab kematian pertama dari golongan
penyakit infeksi (DepkesRI, 2007).