Anda di halaman 1dari 4

SUBJEKTIF

Dokumen Farmasi Pasien (DFP)


Nama pasien

: Ny. EP

Usia

: 37 tahun

Alamat

: Purwokerto

Jenis kelamin

:P

BB/TB

: 45 kg/-

Tgl MRS

: 07/06/10

No. RM

:061XXX

Keluhan utama (Subjektive) :Pasien rujukan datang dengan keluhan mulai tadi pagi mengalami
kekakuan mulut, gigi gathok, susah makan dari kemarin, kaki berat kalau buat berjalan ,
kesadaran menurun (tidur terus), terpasang infus RL+DC (sudah 1 minggu)
Riwayat penyakit dahulu

:-

Riwayat pengobatan

:-

Diagnosis

: Myastenia gravis

Data klinik (Objektive)


TTV 7/6
8/6
9/6
10/6
TD
130/80 130/80 120/80 140/80

11/6
120/80

12/6
110/70

Normal
120/80

N
RR

72
20

Suhu 36,5
GCS

356

Laboratorium

50
20

88
24

88
24

80
16

60
21

60 - 90
16 - 20

36,5

36,8

36,8

37

36,5

36,5
-37,5
15

Keterangan
Meningkat pada
tgl 07,08,10 dan
menurun
pada
tanggal 12
normal
Meningkat pada
tgl 09, 10dan 12
Normal
3+5+6=14.
menurun

Pemeriksaan
Hb
Leukosit
Hct
Eritrosit
Trombosit

Satuan
g/dL
/L
%
106/L
/L

7/6
14,8
7750
44
8,9
333000

MCV
MCH
MCHC
RDW
MPV
Basofil
Batang
Segmen
Limfosit
Monosit
GDS
Na
K
Cl
Tot protein
Albumin
Globulin
Berat jenis

fL
pg
%
%
fL
%
%
%
%
%
Mg/dl
Mmol/L
Mmol/L
Mmol/L
Gr/dl
Gr/dl
Gr/dl

84,2
28,2
33,5
13,8
9,5
0,1
0
73
20,1
6,2
91
136
2,8
108
6,04
3,9
2,14
1,015

SN
Leukosit
Nitrit
Protein
Glukosa
Bilirubin
Eritrosit
Sedimen erit
Sed. Leu
Sed. Epitel
Bakteri

9
500
+
75
normal
250
10-20
50-60
1-2
+4

Normal
13,8-17,5
3800-9800
40,7-50,3
4,3-5,9
150000
400000
80 97,6
27 33
33 36
10 15
13
0-1
35
50 70
25 35
46
<200
137-145
3,6-5
98-107
6,6-8,7
3,6-5
2,3-3,5
1,0151,025

Keterangan
Normal
Normal
Normal
Meningkat
Normal

3800-9800

Menurun

<30 mg/dl

Meniingkat

3,5-5x106
<5
0-4
+1
+

Menurun
MEnigkatt
meningkat
Normal
ada

Normal
Normal
Normal
Normal
menurun
Menurun
menurun
Meningkat
Mnurun
Meningkat
Normal
Menurun
Menurun
MEningkat
Mnurun
Normal
Menurun
Normal

(Tatro,2003; Tefferi, 2001).

Adanya peningkatan pada tekanan daraha dan RR dikarenakan miastenia gravis menyebabkan
gangguan pada otot, sehingga terjadi ketidakseimbangan pada parameter tersebut. Sedanglan
penurunan angka GCS terjadi karena misatenia gravis menggangu system saraf sehingga terjadi
penurunan kesadaran.

Antibodi secara langsung menolak protein-protein asing yang disebut antigen yang menyerang
tubuh termasuk juga bakteri dan virus. Antibodi menolong tubuh untuk melindungi dirinya dari
protein-protein asing ini. Sistem imun pada orang dengan Myasthenia Gravis membuat antibodi
melawan reseptor pada persimpangan neuromuscular. Antibodi tidak normal dapat ditemukan
dalam darah pada banyak orang-orang dengan Myasthenia Gravis. Antibodi menghancurkan
reseptor dengan lebih cepat dibanding tubuh bisa menggantikan mereka lagi. Kelemahan otot
terjadi ketika asetilkolin tidak dapat menggerakkan reseptor pada persimpangan neuromuskular.
Peningkatan jumlah eritrosit dapat disebabkan konsumsi obat seperti : (kloramfenikol,
parasetamol, metildopa, tetrasiklin, INH, asam mefenamat) (Chernecky CC & Berger BJ,2008) .
Pemeriksaan darah yang menunjukkan adanya radang dapat diduga sebagai
gangguan autoimun. Misalnya, pengendapan laju eritrosit (ESR) seringkali
meningkat, karena protein yang dihasilkan dalam merespon radang mengganggu
kemampuan sel darah merah (eritrosit) untuk tetap ada di darah. Sering, jumlah sel
darah merah berkurang (anemia) karena radang mengurangi produksinya

Inflamasi merupakan salah satu proses pertahanan non spesifik, dimana jika ada patogen
atau antigen yang masuk ke dalam tubuh dan menyerang suatu sel, maka sel yang rusak itu akan
melepaskan signal kimiawi yaitu histamin Signal kimiawi berdampak pada dilatasi(pelebaran)
pembuluh darah dan akhirnya pecah. Sel darah putih jenis neutrofil,acidofil dan monosit keluar
dari pembuluh darah akibat gerak yang dipicu oleh senyawa kimia(kemokinesis dan kemotaksis).
Karena sifatnya fagosit,sel-sel darah putih ini akan langsung memakan sel-sel asing tersebut
sehingga jumlah monosit dalam darah meningkat
Pada miastenia gravis , konduksi neuromuskular terganggu, Jumlah asetilkolin
berkurang,
mungkin
akibat
cedera
autoimun.
Antibodi
terhadap
protein neuroreseptor asetilkolin ditemukan dalam penderita miastenia gravis.
Miastenia gravis secara makroskopis otot-ototnya tampak normal. Jika ada atropi,
akibat otot yang tidak dipakai. Secara mikroskopis pada beberapa kasus dapat
ditemukan infiltrasi limfosit dalam otot dan organ organ lain, tetapi pada
otot rangka tidak dapat ditemukan kelainan yang konsisten (price and wilson,1995
dalam Muttaqin,2000;229). Adanya infiltrasi limfosit yakni kebocoran limfosit akan
menyebabkan penurunan limfosit.
Dua molekul asetilkolin terikat pada sebuah reseptor kemudian reseptor ini
akan mengalami perubahan bentuk dengan membuka saluran dalam reseptor yang
memungkinkan aliran kation yakni Na+ dan K+ melintasi membran. Masuknya
ion Na+ akan menimbulkan depolarisasi membran otot sehingga terbentuk
potensial end plate. Keadaan ini selanjutnya akan menimbulkan depolarisasi
membran otot di dekatnya dan terjadi potensial aksi yang ditransmisikan
disepanjang serabut saraf sehingga timbul kontraksi otot. Pada penderita miastenia gravis,
sel antibodi tubuh atau kekebalan akan menyerang sambungan saraf yang mengandung acetylcholine (ACh), yaitu
neurotransmiter yang mengantarkan rangsangan dari saraf satu ke saraf lainnya. Jika reseptor mengalami
gangguan maka akan menyebabkan defisiensi, sehingga komunikasi antara sel saraf dan otot terganggu dan

menyebabkan kelemahan otot.

Pada pasien miastenia gravis terjadi penurunan asetilkolin


dan terjadi kelemahan otot. Sehingga akan terjadi penurunan Na dan K.
Sebagian besar penderita mengalami disfungsi otonom (mulut
kering,konstipasi, retensi urin). Ada nya retensi urin di bagian bladder
menyebabkan peningkatan sedimentasi eritrosit dan leuikosit pada urin, dan
ketidakseimbangan pada parameter globulin dan protein total.

Price and Wilson, 1995. Patofisiologi:Konsep Klinik Proses-Proses Penyakit.


Jakarta:EGC.
Tefferi ayalew., md ed. 2001. Primary Hematology. Totowa. NJ: Humana Press.