Anda di halaman 1dari 5

1. Mengapa Gereja perlu terlibat dalam menanggapi persoalan sosial?

Jawab:
Menurut kelompok kami, gereja perlu terlibat dalam permasalahan sosial karena gereja
saat ini telah mengetahui keberadaannya ditengah dunia. Dalam konsili vatikan ke II gereja telah
membuka diri dan menyadari bahwa dengan kebeadaannya ini gereja harus mempunyai peranan
terhadap dunia melalui persoalan- persoalan sosial seperti kemiskinan, perburuhan dan tenaga
kerja, hak asasi, dan persoalan lainnya. Melalui persoalan inilah gereja dituntut untuk berperan
aktif serta memiliki rasa tanggungjawab dalam menghadapi masalah sosial yang terjadi
disekitarnya. Gereja memiliki dokumen- dokumen dan ajaran- ajaran yang mendukung
keterlibatannya dalam masyarakat sosial dan memiliki tanggungjawab yang sama dengan
pemerintahan dan masyarakat untuk mengatasi masalah- masalah tersebut karena pada
hakekatnya gereja adalah bagian dari dunia.
2. Kasus sosial yang menurut kelompok mendesak untuk dibahas serta contoh kasusnya:
Salah satu kasus sosial yang menurut kami mendesak untuk ditanggapi gereja adalah
kemiskinan. Kemiskinan sudah mendarah daging dan menjadi masalah sosial yang harus segera
ditindak lanjuti. Masyarakat menderita karena kemiskinan dan dari kemiskinan ini juga timbul
masalah- masalah sosial baru seperti pencurian, pembegalan, premanisme, penipuan, masalah
kesehatan, dan lain sebagainya. Salah satu kasus yang menyebabkankemiskinan adalah kasus
kejahatan perdagangan wanita yang terjadi dewasa ini di Indonesia, bisa saja disebabkan faktor
kemiskinan yang dialami oleh masyarakat dan kurangnya perhatian orang tua terhadap anaknya.
Kejahatan perdagangan kaum wanita itu masih terus berlanjut dan tidak pernah berhenti,
sehingga membuat masyarakat menjadi resah, kata Sosiolog Universitas Sumatera Utara (USU),
Prof Dr Badaruddin, MA, di Medan, Rabu [03/02], diminta komentarnya mengenai kasus
kejahatan perdagangan wanita tersebut. Menurut dia, kasus kejahatan itu diharapkan agar
secepatnya dapat diantisipasi oleh pihak berwajib, sehingga tidak menelan korban yang lebih
banyak lagi.
Kejahatan yang terjadi di masyarakat itu , akhir -akhir ini semakin berkembang dan
diduga memiliki jaringan atau sindikat, sehingga mereka dengan mudah dapat menjaring
mangsanya.

Dalam melaksanakan aksinya itu, sindikat perdagangan wanita itu, menjanjikan kepada
korbannya akan diberikan pekerjaaan di hotel mewah, restoran, dan tempat-tempat lainnya.
Namun, kenyatannya, wanita yang sudah masuk perangkap itu, mereka jual kepada orang
lain. Seterusnya, wanita malang itu, dijadikan sebagai pekerja seks komersial (PSK).
Ia mengatakan, perbuatan tidak terpuji dan melanggar hukum ini, sudah sering terjadi
dan bukan hanya di ibukota Jakarta dan daerah lainnya. Bahkan belum lama ini, dua orang
wanita masih kecil di Belawan, Medan juga diperjualbelikan kepada sindikat dan akhirnya anak
tersebut dibawa ke sebuah hotel untuk melayani laki-laki. Kasus perdagangan wanita itu sering
dialami dari keluarga yang tidak mampu dan tergolong miskin, serta kehidupan mereka susah,
kata Badaruddin.
Lebih jauh ia mengatakan, tindak kejahatan yang sengaja mengeksploitasi wanita dan
anak-anak itu sudah berlangsung cukup lama, bahkan kegiatan ilegal itu diduga juga melibatakan
jaringan internasional.
Sehingga misi para pelaku kejahatan itu cukup aman, dan sulit untuk dideteksi petugas
kepolisian.Sindikat perdagangan wanita itu juga banyak tersebar di berbagai negara misalnya,
Malaysia, Indonesia, Thailand dan beberapa negara lainnya di Asia Tenggara ini, kata
Badaruddin juga Gurubesar FISIP USU.
Data Bareskrim Polri menunjukkan, tahun 2005 ada 71 kasus perdagangan orang dengan
korban 125 orang dewasa dan 18 anak.Pada 2006,ada 84 kasus dengan korban 496 orang dewasa
dan 129 anak, serta pada 2007 ada 123 kasus dengan korban 210 orang dewasa dan 71 anak.
Sementara pada 2008, hingga Maret terdapat 53 kasus dengan korban delapan orang dewasa dan
22 anak.
Contoh kasus berikutnya adalah dari artikel berita Merdeka. Malang, nasib bayi 10
bulan, Komang Astina Olivia putri dari pasangan Putu Judi Teneling (22) dan Luh Susanti
(20), asal Desa Pejarakan, Buleleng di Bali.

Bayi ini menderita kanker mata sebelah kirinya yang cukup serius. Bahkan, benjolan
yang ada di mata sang bayi perempuan ini, besarnya mencapai ukuran bakso besar. Itu
dirasakan sejak pasutri ini datang dari merantau di Sumatra, beberapa bulan lalu.
Sempat dirawat yakni Rumah Sakit Kerta Usada Buleleng ruangan Abimanyu III.
Namun karena keterbatasan dana, keluarga memilih pulang dan cukup dengan membiarkan
mata bengkak anaknya ditambal perban.
Tampak anak ini terus menerus menangis, seakan menahan sakit yang dideritanya.
Saat ibu dari anak itu dimintai keterangan, tampak sang ibu terus menangis sambil mencium
pipi putri tersayangnya, karena tidak kuasa melihat kondisi putrinya.
"Ini sudah lama anak saya sakit, sekarang anak saya kondisinya drop. Dana kami juga
sudah habis-habisan," katanya, sambil menangis dan mencium pipi putrinya, Rabu (4/3)
Buleleng Bali.
Selama menjalani pemeriksaan di Bali, dirinya mengaku sudah menghabiskan dana
sebesar Rp 20 Juta. Meskipun diakuinya, dirinya telah memiliki kartu BPJS.
"Rata-rata biaya yang sudah habis dalam perawatan ini sampai Rp 20 juta. Kami cuma
mengharapkan, belas kasihan dari semua pihak, terutama pemerintah agar memperhatikan
kondisi kami ini," harapnya.
3. Dokumen-dokumen gerejayang membahas tentang kemiskinan:
Dokumen gereja yang membahas tentang kemiskinan antara lain adalah Gaudium Et
Spes tahun 1965. GS (Gaudium et Spes) menaruh keprihatinan secara luas pada tema hubungan
Gereja dan Dunia modern. Ada kesadaran kokoh dalam Gereja untuk berubah seiring dengan
perubahan kehidupan manusia modern. Soal-soal yang disentuh oleh GS dengan demikian
berkisar tentang kemajuan manusia di dunia modern. Di lain pihak tetap diangkat ke permukaan
soal jurang yang tetap lebar antara si kaya dan si miskin. Relasi antara Gereja dan sejarah
perkembangan manusia di dunia modern dibahas dalam suatu cara yang lebih gamblang,
menyentuh nilai perkawinan, keluarga, dan tata hidup masyarakat pada umumnya. Judul

dokumen ini mengatakan suatu perubahan eksternal dari kebijakan hidup Gereja: Kegembiraan
dan harapan, duka dan kecemasan manusia-manusia zaman ini, terutama kaum miskin dan yang
menderita, adalah kegembiraan dan harapan, duka dan kecemasan para murid Kristus juga.
Kardinal Joseph Suenens (dari Belgia) berkata bahwa pembaharuan Konsili Vatikan II tidak
hanya mencakup bidang liturgis saja, melainkan juga hidup Gereja di dunia modern secara
kurang lebih menyeluruh. GS membuka cakrawala baru dengan mengajukan perlunya membaca
tanda-tanda zaman (signs of the times).
Penjelasan tentang perubahan-perubahan dalam tata hidup masyarakat zaman ini;
martabat pribadi manusia; ateisme sistematis dan ateisme praktis; aktivitas hidup manusia;
hubungan timbal balik antara Gereja dan dunia; beberapa masalah mendesak, seperti
perkawinan, keluarga; cinta kasih suami isteri; kesuburan perkawinan; kebudayaan dan iman;
pendidikan kristiani; kehidupan sosial ekonomi dan perkembangan terakhirnya; harta benda
diperuntukkan bagi semua orang; perdamaian dan persekutuan bangsa-bangsa; pencegahan
perang; kerjasama internasional.
Dokumen gereja berikutnya adalah Mater Et Magistra tahun 1961. Masalah-masalah
sosial yang diprihatini oleh Ensiklik ini khas pada zaman ini. Soal jurang kaya miskin tidak
hanya disimak dari sekedar urusan pengusaha dan pekerja, atau pemilik modal dan kaum buruh,
melainkan sudah menyentuh masalah internasional. Untuk pertama kalinya isu internasional
dalam hal keadilan menjadi tema ajaran sosial Gereja. Ada jurang sangat hebat antara negaranegara kaya dan negara-negara miskin. Kemiskinan di Asia, Afrika, dan Latin Amerika adalah
produk dari sistem tata dunia yang tidak adil. Di lain pihak, persoalan menjadi makin rumit
menyusul perlombaan senjata nuklir, persaingan eksplorasi ruang angkasa, bangkitnya ideologiideologi. Dalam Ensiklik ini diajukan pula jalan pikiran Ajaran Sosial Gereja: see, judge, and
act. Gereja Katolik.
Kemudian gereja juga diajak untuk bertindak dalam dokumen Octogesima Advenientes.
Arti Octogesima adalah yang ke-80; maksudnya: surat apostolik ini dimaksudkan untuk
manandai usia Rerum Novarum yang ke-80 tahun. Paulus VI menyerukan kepada segenap
anggota Gereja dan bangsa manusia untuk bertindak memerangi kemiskinan. Soal-soal yang
berkaitan dengan urbanisasi dipandang menjadi salah satu sebab lahirnya kemiskinan baru,
seperti orang tua, cacat, kelompok masyarakat yang tinggal di pinggiran kota, dst. Diajukan ke
permukaan pula masalah-masalah diskriminasi warna kulit, asal usul, budaya, sex, agama. Gereja

mendorong umatnya untuk bertindak ambil bagian secara aktif dalam masalah-masalah politik
dan mendesak untuk memperjuangkan nilai-nilai / semangat injili serta mempertjuangkan
keadilan sosial.
4. Bentuk keterlibatan sosial yang bisa dilakukan kelompok:s
Bentuk keterlibatan sosial yang bisa dilakukan kelompok dalam menanggapi
permasalahan sosial tentang kemiskinan ini adalah mengadakan bakti sosial bersama gereja ke
desa dengan mayoritas penduduk yang berkekurangan, mengikuti pos kesehatan di gereja-gereja
untuk membantu pelayanan di pos kesehatan itu. Dalam pos kesehatan tersebut kita dapat terlibat
aktif dalam pelayanan warga yang kurang mampu. Sebagai mahasiswa farmasi pos kesehatan
tidak hanya menjadi ajang untuk mencari pengalaman dalam pelayanan kefarmasian, namun juga
membantu warga-warga yang kurang mampu untuk berobat dan mendapat kesehatan yang layak.