Anda di halaman 1dari 61

PENGARUH KONFLIK PERAN DAN

AMBIGUITAS PERAN TERHADAP


KOMITMEN INDEPENDENSI AUDITOR
INTERNAL PEMERINTAH DAERAH
(Studi Empiris pada Inspektorat Kota Semarang)

SKRIPSI
Diajukan sebagai salah satu syarat
untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1)
pada Program Sarjana Fakultas Ekonomi
Universitas Diponegoro

Disusun oleh :
GARTIRIA HUTAMI
NIM. C2C607065

FAKULTAS EKONOMI
UNIVERSITAS DIPONEGORO
SEMARANG
2011

PERSETUJUAN SKRIPSI

Nama Penyusun

: Gartiria Hutami

Nomor Induk Mahasiswa

: C2C607065

Fakultas/Jurusan

: Ekonomi/Akuntansi

Judul Skripsi

: PENGARUH

KONFLIK

AMBIGUITAS
KOMITMEN

PERAN

PERAN

DAN

TERHADAP

INDEPENDENSI

AUDITOR

INTERNAL PEMERINTAH DAERAH (Studi


Empiris pada Inspektorat Kota Semarang)
Dosen Pembimbing

: Anis Chariri, S.E., M.Com, Ph.D, Akt.

Semarang, 19 September 2011


Dosen Pembimbing,

Anis Chariri, S.E., M.Com, Ph.D, Akt.


NIP. 19670809 199203 1 001

PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN

Nama Penyusun

: Gartiria Hutami

Nomor Induk Mahasiswa

: C2C607065

Fakultas/Jurusan

: Ekonomi/Akuntansi

Judul Skripsi

: PENGARUH
AMBIGUITAS
KOMITMEN

KONFLIK

PERAN

PERAN
INDEPENDENSI

DAN

TERHADAP
AUDITOR

INTERNAL PEMERINTAH DAERAH (Studi


Empiris pada Inspektorat Kota Semarang)

Telah dinyatakan lulus ujian pada tanggal 28 September 2011

Tim Penguji

1. Anis Chariri, S.E., M.Com, Ph.D, Akt. ( ............................................. )

2. Drs. H. Idjang Soetikno, MM, Akt.

( ............................................. )

3. H. M. Didik Ardiyanto, S.E., M.Si, Akt.

( ............................................. )

PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI

Yang bertanda tangan di bawah ini adalah saya, Gartiria Hutami,


menyatakan bahwa skripsi dengan judul: Pengaruh Konflik Peran dan
Ambiguitas Peran terhadap Komitmen Independensi Auditor Internal
Pemerintah Daerah (Studi Empiris pada Inspektorat Kota Semarang) adalah
hasil tulisan saya sendiri. Dengan ini saya menyatakan dengan sesungguhnya
bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat keseluruhan atau sebagian tulisan orang
lain yang saya ambil dengan cara menyalin atau meniru dalam bentuk rangkaian
kalimat atau simbol yang menunjukkan gagasan atau pendapat atau pemikiran dari
penulisan lain, yang saya akui seolah-olah sebagai tulisan saya sendiri, dan/atau
tidak terdapat bagian atau keseluruhan tulisan yang saya salin, tiru, atau yang saya
ambil dari tulisan orang lain tanpa memberikan pengakuan penulis aslinya.
Apabila saya melakukan tindakan yang bertentangan dengan hal tersebut
di atas, baik disengaja maupun tidak, dengan ini saya menyatakan menarik skripsi
yang saya ajukan sebagai hasil tulisan saya sendiri ini. Bila kemudian terbukti
bahwa saya melakukan tindakan menyalin atau meniru tulisan orang lain seolaholah hasil pemikiran saya sendiri, berarti gelar dan ijasah yang telah diberikan
oleh universitas batal saya terima.

Semarang, 16 September 2011


Yang membuat pernyataan,

Gartiria Hutami
NIM. C2C607065

ABSTRACT
This research aims to examine the influence of role conflict and role
ambiguity to the government internal auditors commitment to independence.
Research variables operationally elaborated in several dimensions. Variable
commitment to independence elaborated into three dimensions, namely a strong
belief in values, a willingness to exert considerable effort, and a strong personal
desire. Variable role conflict elaborated into three dimensions, namely inter-role
conflict, intra-sender role conflict, and personal role conflict. Variable role
ambiguity elaborated into six dimensions, namely guidelines, task, authority,
responsibilities, standards, and time.
The population of this research is the Semarang city Regional Inspectorate
officers, who participate in regular inspection as the internal auditor of the
government, with the number of 52 officers where all of them became the
respondents for this research. The data taken from questionnaires distributed to
all respondents. The data were analyzed using multiple regression analysis.
The results of this research show that (1) role conflict is significantly
negatively related to commitment to independence of Inspectorate officers and (2)
role ambiguity is significantly negatively related to commitment to independence
of Inspectorate officers.
Keywords: internal auditing, role conflict, role ambiguity, commitment to
independence.

ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk menguji pengaruh konflik peran dan
ambiguitas peran terhadap komitmen independensi auditor internal pemerintah
daerah. Secara operasional variabel penelitian dielaborasi dalam beberapa
dimensi. Variabel komitmen independensi dielaborasi kedalam tiga dimensi, yaitu
keyakinan kuat atas nilai-nilai, kemauan untuk berusaha keras seperti yang
diharapkan, dan keinginan individu yang kuat. Variabel konflik peran dielaborasi
kedalam tiga dimensi, yaitu inter-role conflict, intra-sender role conflict, serta
personal role conflict. Variabel ambiguitas peran dielaborasi kedalam enam
dimensi, yaitu garis-garis pedoman (guidelines), tugas (task), wewenang
(authorithy), tanggung jawab (responsibilities), standar-standar (standards), dan
waktu (time).
Populasi penelitian ini adalah aparat Inspektorat Kota Semarang, yang
turut melakukan pemeriksaan regular sebagai auditor internal pemerintahan, yang
berjumlah 52 orang di mana seluruh personil aparat Inspektorat dijadikan
responden penelitian. Data diambil dari kuesioner yang telah dibagikan kepada
seluruh responden. Data dianalisis menggunakan analisa regresi berganda.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) konflik peran berpengaruh
negatif signifikan terhadap komitmen independensi aparat Inspektorat dan (2)
ambiguitas peran berpengaruh negatif signifikan terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat.
Kata kunci: audit internal,
independensi.

konflik

peran,

ambiguitas

peran,

komitmen

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

- Motto Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?


(QS. AR RAHMAAN [55]: 13)
Jangan sepelekan kebaikan sekecil apapun, meski hanya dengan menjumpai
saudaramu dengan wajah berseri-seri.
(HR. Muslim dan Tirmidzi)
Take time to think....it is the source of power.
Take time to read....it is the foundation of wisdom.
Take time to quiet....it is the opportunity to seek God.
Take time to pray....it is the greatest power on earth.
(Ary Ginanjar ESQ Way 165)
BIG dreams, BIGGER actions, BIGGEST achivements!!!
(Gartiria Hutami)

- Persembahan Demi pertemuan dengan-Nya,


demi kerinduan pada utusan-Nya,
demi bakti kepada orang tua,
dan demi manfaat kepada sesama.
Semoga menjadi ibadah dan amal jariyah. Semoga bermanfaat. Amin.

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah


SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul Pengaruh Konflik Peran dan Ambiguitas
Peran terhadap Komitmen Independensi Auditor Internal Pemerintah
Daerah (Studi Empiris pada Inspektorat Kota Semarang) sebagai salah satu
syarat untuk menyelesaikan Program Sarjana (S1) Jurusan Akuntansi Fakultas
Ekonomi Universitas Diponegoro.
Dalam penelitian ini, banyak pihak yang telah berperan besar dalam
memberikan doa, bimbingan, arahan, saran, kritik, semangat, serta motivasi
sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini. Pada kesempatan ini, penulis
ingin menyampaikan rasa syukur dan ucapan terima kasih kepada :
1. ALLAH SWT pemilik seluruh alam semesta beserta segala isinya.
2. Bapak Prof. Drs. Mohamad Nasir, M.Si., Ph.D, Akt. selaku Dekan
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
3. Bapak Anis Chariri, SE, M.Com, Ph.D, Akt. selaku Dosen Pembimbing
yang telah memberikan waktu, arahan, bimbingan, serta saran kepada
penulis selama penyusunan skripsi.
4. Bapak Drs. H. Sudarno, M.Si., Ph.D, Akt. selaku Dosen Wali yang
telah memberikan arahan dan bimbingan selama perkuliahan.
5. Seluruh Dosen di Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro yang telah
memberikan ilmu pengetahuan kepada penulis selama menuntut ilmu di
Fakultas Ekonomi Universitas Diponegoro.
6. Seluruh

karyawan

Tata

Usaha

Fakultas

Ekonomi

Universitas

Diponegoro, khususnya karyawan Tata Usaha Reguler II atas bantuan


yang telah diberikan kepada penulis.
7. Orang tua yang tercinta dan terhebat, Bapak Cahyo Bintarum dan Ibu
Nurul Qomari, yang telah mencurahkan kasih sayang, doa, waktu, serta

dukungannya baik secara materi dan non-materi, serta segala hal yang
tidak dapat dituliskan dengan kata-kata dan disebutkan satu per satu.
8. Kakak dan adikku tersayang, Mas Adi dan Dik Dayu, yang selalu
memberikan dukungan dan doa kepada penulis setiap saat.
9. Keluarga besar Febru Hartono dan Kamal Bei Widaserana yang telah
mendoakan dan mendukung penulis.
10. Teman-teman satu bimbingan (Vita, Adi, Ganesh, Ayu, Dwiki Rino)
yang telah berjuang bersama-sama.
11. Teman-teman Executive Board 2010/2011 AIESEC UNDIP: Erje,
Dimas, Ridwan, Ardian, Risti, dan Ade ayu. Terima kasih atas
persahabatan seumur hidup serta canda, tawa, dan perjuangan yang
telah kita lalui bersama. See you at the TOP in the future!
12. Teman-teman Executive Board 2009/2010 AIESEC UNDIP: mas
Khaleed, Mba Rima, Mba Eka, Mba Kiky, Andina, dan Sophia. Terima
kasih atas pembelajaran yang diberikan dan motivasi yang tidak pernah
putus walaupun sudah terpisah jarak.
13. Teman-teman KKN Desa Dukun: Boim, Nova, Dyah, Tezar, Rainer,
Lugas, Danny, Taufan, Tika, Yeni, dan Wildan. Terimakasih atas 1,5
bulan yang menyenangkan di lereng gunung Merapi, sungguh
pengabdian sosial yang tak terlupakan bersama kalian semua.
14. Teman-teman Tosite Corner: Bagus, Oyon, Lia, Ucup, Ulum, Mba
Anggit, Mba Dyan, Toyx, dan Mas Yoga. Semoga bisnis ini semakin
berkembang dan kita semua sejahtera dunia akhirat.
15. Fahma Ilmaya dan Afhita Dias sebagai teman sejati yang telah
membantu penulis dari memulai hingga menyelesaikan skripsi ini.
16. Sahabat-sahabat selama kuliah, Keluarga Sinyo: Wenty, Fani, Rizka,
Icha Pemalang, Mira, Enggar, Icha Madiun, Netty, Dewi, dan Dita yang
selalu memberikan doa, semangat, canda, dan tawa di tengah
kesibukan masing-masing.
17. Teman-teman seperjuangan selama kuliah di Akuntansi 2007 kelas A
Reguler II (rekan-rekan HABENK): vita, wulan, iwan, citra, ega, randy,

barkah, dewa, budi, ayu, koyui, siska, memey, etha, yani, tito, jati, aat,
manda, trias, ana, dan lain lain yang selama kurang lebih 4 tahun ini
telah berbagi suka dan duka selama kuliah dan menjadi teman gilagilaan di saat kebosanan melanda dan darah muda bergejolak.
18. Keluarga besar AIESEC UNDIP, para pemimpin muda masa depan,
terimakasih atas pelajaran hidup dan dukungan yang telah diberikan.
19. Teman-teman di Fakultas Ekonomi, seperti: lina, karin, fahma, adin,
nina, ganesh, adi, linda, hana, nimas, zia, nasim, ayu, imam, fadil, anto,
dan lain-lain. Terima kasih karena telah memberikan warna kehidupan
dan pembelajaran selama penulis menimba ilmu di Fakultas Ekonomi.
20. Bapak Drs. Cahyo Bintarum, M.Si selaku Inspektur dan Bapak M.
Zaenudin, SH, M.Si selaku Kepala Sub-Bagian Perencanaan Inspektorat
Kota Semarang yang telah memberikan ijin dan meluangkan waktu
untuk membantu penulis melakukan penelitian.
21. Seluruh Aparat Inspektorat Kota Semarang selaku responden penelitian.
Terima kasih atas waktu dan kesediannya untuk mengisi kuesioner
penelitian.
22. Semua pihak yang telah membantu dan berkontribusi baik secara
langsung maupun tidak langsung dalam penulisan skripsi ini yang tidak
dapat penulis sebutkan satu per satu.
Akhir kata penulis berharap semoga skripsi ini dapat memberikan manfaat
kepada para pembaca dan dapat memberikan sumbangsih akademis bagi
Universitas Diponegoro.

Semarang, September 2011


Penulis,

Gartiria Hutami

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .........................................................................................

HALAMAN PERSETUJUAN SKRIPSI ............................................................

ii

HALAMAN PENGESAHAN KELULUSAN UJIAN ....................................... iii


PERNYATAAN ORISINALITAS SKRIPSI ..................................................... iv
ABSTRACT ..........................................................................................................

ABSTRAK .......................................................................................................... vi
MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vii
KATA PENGANTAR ....................................................................................... viii
DAFTAR ISI

................................................................................................... xi

DAFTAR TABEL .............................................................................................. xiv


DAFTAR GAMBAR ......................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ....................................................................................... xvi
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN ..............................................................................

1.1 Latar Belakang Masalah ..............................................................

1.2 Rumusan Masalah .......................................................................

1.3 Tujuan Penelitian .........................................................................

1.4 Manfaat Penelitian .......................................................................

1.4.1 Bagi Akademik...................................................................

1.4.2 Bagi Pemerintah Kota Semarang .......................................

1.5 Sistematika Penulisan ..................................................................

TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................... 10


2.1 Landasan Teori ............................................................................ 10
2.1.1 Teori Peran ......................................................................... 10
2.1.2 Independensi Aparat Inspektorat ....................................... 14
2.2 Penelitian Terdahulu .................................................................... 19
2.3 Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis ...... 22
2.3.1 Pengaruh Konflik Peran terhadap Komitmen
Independensi Aparat Inspektorat ....................................... 22

2.3.2 Pengaruh Ambiguitas Peran terhadap Komitmen


Independensi Aparat Inspektorat ....................................... 26
BAB III METODE PENELITIAN ................................................................... 31
3.1 Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ............................. 31
3.1.1 Variabel Penelitian ............................................................. 31
3.1.2 Definisi Operasional .......................................................... 31
3.2 Populasi dan Sampel Penelitian................................................... 34
3.3 Jenis dan Sumber Data ................................................................ 35
3.3.1 Jenis Data ........................................................................... 35
3.3.2 Sumber Data ....................................................................... 35
3.4 Metode Pengumpulan Data ......................................................... 35
3.5 Metode Analisis ........................................................................... 36
3.5.1 Statistik Deskriptif ............................................................. 37
3.5.2 Uji Kualitas Data ................................................................ 37
3.5.3 Uji Non-Response Bias ...................................................... 39
3.5.4 Uji Asumsi Klasik .............................................................. 39
3.5.5 Model Regresi Berganda .................................................... 42
3.5.6 Pengujian Hipotesis............................................................ 43
BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN .................................. 46
4.1 Deskripsi Obyek Penelitian ......................................................... 46
4.2 Hasil Analisis............................................................................... 48
4.2.1 Deskripsi Variabel Penelitian............................................. 48
4.2.2 Uji Kualitas Data ................................................................ 50
4.2.3 Uji Non-Response Bias ...................................................... 52
4.2.4 Uji Asumsi Klasik .............................................................. 53
4.2.5 Model Regresi Berganda .................................................... 57
4.2.6 Uji Koefisien Determinasi ................................................. 58
4.2.7 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)......................... 58
4.2.8 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)....... 59
4.3 Pembahasan ................................................................................. 60

4.3.1 Pengaruh Konflik Peran terhadap Komitmen


Independensi Aparat Inspektorat ....................................... 60
4.3.2 Pengaruh Ambiguitas Peran terhadap Komitmen
Independensi Aparat Inspektorat ....................................... 63
BAB V

PENUTUP ....................................................................................... 65
5.1 Kesimpulan .................................................................................. 65
5.2 Implikasi ...................................................................................... 65
5.2.1 Implikasi Praktis ................................................................ 65
5.2.2 Implikasi Teoritis ............................................................... 66
5.2 Keterbatasan dan Saran ............................................................... 66

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 68


LAMPIRAN-LAMPIRAN.................................................................................. 72

DAFTAR TABEL
Tabel 2.1 Penelitian Terdahulu ........................................................................... 21
Tabel 3.1 Variabel Penelitian .............................................................................. 34
Tabel 4.1 Rincian Pendistribusian dan Penerimaan Kuesioner .......................... 46
Tabel 4.2 Profil Responden ................................................................................. 47
Tabel 4.3 Statistik Deskriptif Variabel Penelitian............................................... 49
Tabel 4.4 Hasil Uji Validitas............................................................................... 51
Tabel 4.5 Hasil Uji Reliabilitas ........................................................................... 52
Tabel 4.6 Hasil Uji Normalitas Data ................................................................... 54
Tabel 4.7 Hasil Uji Multikolinieritas .................................................................. 55
Tabel 4.8 Hasil Uji Glejser ................................................................................. 56
Tabel 4.9 Hasil Analisis Regresi Berganda ........................................................ 57
Tabel 4.10 Hasil Uji Koefisien Determinasi ......................................................... 58
Tabel 4.11 Hasil Uji Statistik F ............................................................................. 59
Tabel 4.12 Ringkasan Hasil Pengujian Hipotesis ................................................. 60

DAFTAR GAMBAR
Gambar 2.1 Kerangka Pemikiran .......................................................................... 30
Gambar 4.1 Uji Normalitas Data .......................................................................... 53
Gambar 4.2 Hasil Uji Heteroskedastisitas ............................................................ 56

DAFTAR LAMPIRAN
LAMPIRAN A Kuesioner Penelitian ................................................................. 72
LAMPIRAN B Statistik Deskriptif .................................................................... 80
LAMPIRAN C Uji Validitas .............................................................................. 81
LAMPIRAN D Uji Reliabilitas .......................................................................... 86
LAMPIRAN E

Uji Normalitas .......................................................................... 92

LAMPIRAN F

Uji Multikolinieritas ................................................................. 93

LAMPIRAN G Uji Heteroskedastisitas ............................................................. 94


LAMPIRAN H Analisis Regresi ........................................................................ 95
LAMPIRAN I

Daftar Nama Responden ........................................................... 96

LAMPIRAN J

Surat Keterangan Penelitian ..................................................... 97

BAB I
PENDAHULUAN

1.1

Latar Belakang Masalah


Tema tentang independensi dalam profesi auditor memiliki pemahaman

yang sangat penting dan mendalam demi tercapainya tujuan organisasi. Sorotan
masyarakat terhadap profesi auditor sangatlah besar sebagai dampak beberapa
skandal perusahaan besar dunia seperti Enron dan WorldCom (Verrechia, 2003).
Sorotan tajam diarahkan pada perilaku auditor dalam berhadapan dengan klien
yang dipersepsikan gagal dalam menjalankan perannya sebagai auditor
independen.
Independensi adalah cara pandang yang tidak memihak di dalam
pelaksanaan pengujian, evaluasi hasil pemeriksaan, dan penyusunan laporan audit
perusahaan (Arens et al., 1996). Dalam buku Standar Profesional Akuntan Publik
(2001) seksi 220 PSA No 04 Alinea 02 disebutkan bahwa auditor harus bersikap
independen, artinya tidak mudah dipengaruhi, karena ia melaksanakan
pekerjaannya untuk kepentingan umum (dibedakan dalam hal berpraktik sebagai
auditor intern). Dengan demikian, ia tidak dibenarkan memihak kepada
kepentingan siapapun, sebab bagaimanapun sempurnanya keahlian teknis seorang
auditor, jika ia kehilangan sikap tidak memihak, maka ia tidak dapat
mempertahankan kebebasan pendapatnya.
Dalam lingkup Pemerintahan Daerah, independensi auditor internal sangat
dibutuhkan untuk menjalankan fungsi pengawasan serta fungsi evaluasi terhadap

kecukupan dan efektivitas kerja sistem pengendalian manajemen yang


diselenggarakan Satuan Kerja Perangkat Daerah. Auditor internal bertanggung
jawab untuk dapat mempertahankan independensinya dalam kondisi apapun,
sehingga pendapat, kesimpulan, pertimbangan, serta rekomendasi dari hasil
pemeriksaan yang dilakukan tidak memihak dan dipandang tidak memihak
terhadap pihak manapun. Sebagaimana hasil penelitian yang dilakukan Lubis
(2004), disebutkan bahwa independensi akuntan sebagai perilaku profesional
berpengaruh terhadap kualitas opini audit yang diberikan oleh akuntan tersebut.
Hal ini sejalan dengan pendapat Mautz dan Sharaf (1993, h.246) yang mengatakan
bahwa jika akuntan tidak independen terhadap kliennya, maka opininya tidak akan
memberikan tambahan apapun.
Kedudukan dasar dari peran auditor internal tersebut dapat menciptakan
sebuah tantangan bagi mereka untuk menjaga independensi (Ahmad dan Taylor,
2009). Pertama, adanya kondisi yang kompleks dan perubahan dalam lingkungan
operasional auditor internal, termasuk kompleksitas dan perubahan peraturan dan
teknologi, dapat meningkatkan kemungkinan terjadinya ambiguitas peran (Ahmad
dan Taylor, 2009). Kahn et al. (dalam Beauchamp et al., 2004) mendefinisikan
ambiguitas peran sebagai suatu keadaan di mana informasi yang berkaitan dengan
suatu peran tertentu kurang atau tidak jelas. Sawyer dan Dittenhofer (dalam
Ahmad dan Taylor, 2009) juga menjelaskan penyebab terjadinya ambiguitas peran
dalam lingkungan auditor internal adalah bahwa auditor internal mungkin
melakukan investigasi internal dengan kondisi proses operasional yang belum
dikenali, kompleks, dan semakin meluas, serta individu yang berada dalam objek

pemeriksaan berbicara dalam bahasa dan menggunakan istilah yang asing bagi
pemahaman auditor internal.
Ambiguitas peran mengurangi tingkat kepastian apakah informasi yang
diperoleh dalam pemeriksaan telah objektif dan relevan. Ambiguitas peran dapat
menyebabkan auditor internal mengalami tekanan (Schuller et al. dalam
Koustelios, 2004) dan penurunan kepuasan kerja (Jackson dan Schuller, Perreault,
Beehr et al. dalam Koustelios, 2004). Maka dapat disimpulkan bahwa, ambiguitas
peran juga dapat mengurangi kemampuan auditor internal untuk tetap bersikap
independen (Ahmad dan Taylor, 2009).
Kedua, peran auditor internal mengandung konflik (Ahmad dan Taylor,
2009). Menurut Mohr dan Puck (2003) konflik peran merupakan suatu pikiran,
pengalaman, atau persepsi dari pemegang peran (role incumbent) yang
diakibatkan oleh terjadinya dua atau lebih harapan peran (role expectation) secara
bersamaan, sehingga timbul kesulitan untuk melakukan kedua peran tersebut
dengan baik dalam waktu yang bersamaan.
Konflik peran dalam lingkungan auditor internal dapat berasal dari
pertentangan yang berasal dari peran dalam melakukan audit dan peran dalam
memberikan jasa konsultasi. Dalam peran audit, auditor internal harus menjaga
independensi dengan tidak mendasarkan pertimbangan auditnya pada objek
pemeriksaan. Namun dalam peran konsultasi, auditor internal harus bekerja sama
dan membantu objek pemeriksaan (Ahmad dan Taylor, 2009).
Konflik peran yang dijumpai oleh auditor internal berhubungan dengan
kedudukan auditor internal itu sendiri dalam organisasi profesinya. Dengan

demikian, konflik peran

yang dialami oleh auditor internal mungkin

mengakibatkan auditor rentan terhadap tekanan dari objek pemeriksaan. Hal


tersebut mengakibatkan rusaknya independensi auditor internal (Koo dan Sim,
1999).
Penelitian mengenai pengaruh konflik peran dan ambiguitas peran
terhadap auditor internal pernah dilakukan sebelumnya oleh Ahmad dan Taylor
(2009). Penelitian tersebut menggunakan sampel auditor internal yang diperoleh
dari database Institute of Internal Auditors Malaysia. Tujuan dari penelitian
tersebut adalah untuk mengembangkan ukuran-ukuran konsep komitmen
independensi, konflik peran, dan ambiguitas peran dalam konteks lingkungan
kerja auditor internal, dengan maksud untuk memberikan bukti empiris mengenai
pengaruh konflik peran dan ambiguitas peran beserta dimensinya terhadap
komitmen independensi auditor internal. Skala yang digunakan merupakan skala
yang dikembangkan dari ukuran komitmen organisasi yang berasal dari literatur
perilaku

organisasi.

Instrumen

pengukuran

komitmen

organisasi

yang

dikembangkan oleh Porter et al. (1974, dalam Ahmad dan Taylor, 2009)
merupakan basis untuk pengembangan ukuran konsep komitmen independensi.
Sedangkan fokus penelitian sekarang adalah menguji kembali variabelvariabel tersebut dengan menggunakan instrumen pengukuran komitmen
independensi yang sama, namun dalam lingkup kerja yang berbeda, yaitu auditor
internal

Pemerintah

Daerah.

Tujuan

dari

penelitian

ini

adalah

untuk

mengembangkan ukuran-ukuran konsep komitmen independensi, konflik peran,


dan ambiguitas peran dalam lingkup kerja auditor internal Pemerintah Daerah,

dengan maksud untuk memberikan bukti empiris mengenai pengaruh konflik


peran dan ambiguitas peran beserta dimensinya terhadap komitmen independensi
auditor internal Pemerintah Daerah.

1.2

Rumusan Masalah
Banyaknya skandal akuntansi, seperti dalam kasus Enron, WorldCom, dan

lain-lain, disebabkan karena auditor internal hanya bertindak secara pasif dan
berorientasi pada audit kepatuhan sehingga kurang mempertimbangkan sistem
pengendalian internal perusahaan. Oleh sebab itu, dibutuhkan suatu peran yang
memungkinkan auditor dapat bertindak sebagai konsultan bisnis yang berfungsi
sebagai pemberi deteksi dini dalam mengidentifikasi risiko usaha dan berorientasi
pada kinerja perusahaan secara keseluruhan (Sardjono, 2007). Peran tersebut
dilakukan oleh suatu fungsi auditor internal yang membantu pihak manajemen
untuk memastikan bahwa sistem pengendalian internal perusahaan telah
dikembangkan dengan tepat dan seluruh operasi perusahaan telah dilakukan
secara efektif, efisien, dan ekonomis (Haron et al., 2004).
Akan tetapi, kedudukan mendasar dari peran auditor internal cenderung
menimbulkan suatu tantangan bagi mereka dalam menjaga komitmen untuk
bersikap independen (Ahmad dan Taylor, 2009). Pertama, peran auditor internal
mengandung konflik. Konflik peran dapat berasal dari pertentangan yang berasal
dari peran mereka ketika melakukan jasa audit dan jasa konsultasi manajemen
yang keduanya mengandung perbedaan antara peraturan yang berasal dari profesi
auditor internal dan harapan dari manajemen perusahaan. Konflik peran juga

dapat disebabkan oleh adanya ketidaksesuaian antara nilai-nilai personal yang


diyakini oleh auditor internal dan harapan yang berasal dari manajemen dan
organisasi profesi. Konflik peran dapat menimbulkan tekanan pada auditor,
sehingga auditor cenderung rentan terhadap tekanan dari klien.
Kedua, lingkungan perusahaan yang semakin kompleks dan meningkatnya
perubahan dalam lingkungan operasional auditor internal, termasuk kompleksitas
dan perubahan peraturan dan teknologi, dapat meningkatkan kemungkinan
terjadinya ambiguitas peran (Ahmad dan Taylor, 2009). Kompleksitas dan
perubahan seperti itu dapat mengakibatkan auditor internal kesulitan dalam
melaksanakan tugas atau menerapkan standar profesi dengan benar. Ambiguitas
peran dapat menimbulkan ketegangan kerja yang dapat mengurangi kemampuan
auditor internal untuk tetap bersikap independen (Ahmad dan Taylor, 2009).
Dengan demikian, adanya konflik peran dan ambiguitas peran dapat
memperlemah komitmen auditor internal dalam menjaga independensi mereka.
Penelitian yang menghubungkan komitmen independensi auditor internal
pemerintahan dengan koflik peran dan ambiguitas peran belum banyak dilakukan,
terutama di level Pemerintah Daerah. Banyaknya tuduhan kasus kecurangan yang
menimpa

aparat

mengindikasikan

pemerintahan
rendahnya

di

Indonesia

komitmen

secara

independensi

tidak

langsung

auditor

internal

pemerintahan dalam menjalankan perannya sebagai mitra kerja Pemerintah


Daerah yang memberikan pandangan atau rekomendasi secara obyektif dan
independen, serta memberikan jasa konsultasi untuk meningkatkan nilai dan
kinerja dari Pemerintah Daerah. Oleh sebab itu, penelitian ini ditujukan untuk

menemukan bukti empiris tentang pengaruh dari konflik peran dan ambiguitas
peran terhadap komitmen independensi auditor internal Pemerintah Daerah
dengan melakukan studi empiris pada Inspektorat Kota Semarang. Inspektorat
Kota Semarang oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dijadikan sebagai
percontohan di antara Inspektorat Pemerintah Daerah lainnya terkait pengawasan
dan peningkatan kualitas pelayanan publik pemerintahan, hal ini dibuktikan
dengan berbagai undangan yang diterima Inspektorat Kota Semarang untuk
memberikan paparan pada Rapat Evaluasi Supervisi Peningkatan Pelayanan
Publik dan Seminar Anti Korupsi yang diselenggarakan di Sulawesi Utara, DKI
Jakarta, Sulawesi Selatan, serta Kalimantan Timur (Cahyo Bintarum 2011,
komunikasi personal, 8 September). Berdasarkan uraian di atas, maka penelitian
ini dimaksudkan untuk menjawab pertanyaan sebagai berikut:
1. Apakah konflik peran berpengaruh terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat?
2. Apakah

ambiguitas

peran

berpengaruh

terhadap

komitmen

independensi aparat Inspektorat?

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:
1. Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh
ambiguitas peran beserta dimensinya terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat.

2. Untuk menguji dan memperoleh bukti empiris mengenai pengaruh


konflik peran beserta dimensinya terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat.

1.4

Manfaat Penelitian
1.4.1

Bagi Akademik
Hasil penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan referensi bagi
mahasiswa atau pembaca lain yang berminat untuk membahas
masalah yang sama dan juga untuk menambah pengetahuan bagi
yang membacanya.

1.4.2

Bagi Pemerintah Kota Semarang


Penelitian ini dapat digunakan oleh Pemerintah Kota Semarang
sebagai bahan masukan untuk memperbaiki kinerja para auditor
internalnya.

Diharapkan

Pemerintah

Kota

Semarang dapat

menciptakan lingkungan yang kondusif dan terhindar dari


benturan-benturan kepentingan yang dapat mempengaruhi tingkat
independensi aparat Inspektorat.

1.5

Sistematika Penulisan
Penelitian ini dibagi menjadi 5 bagian dengan sistematika penulisan

sebagai berikut:

BAB I

Pendahuluan merupakan bagian yang menjelaskan latar belakang


masalah, perumusan masalah yang diambil, tujuan dan manfaat
penelitian serta sistematika penulisan.

BAB II

Tinjauan Pustaka berisi penjelasan mengenai teori yang melandasi


penelitian ini. Selain itu bab ini juga menjelaskan mengenai kerangka
pemikiran pembahasan dan hipotesis penelitian.

BAB III

Metode Penelitian merupakan bagian yang menjelaskan bagaimana


penelitian ini dilaksanakan secara operasional. Dalam bagian ini
diuraikan mengenai variabel penelitian dan definisi operasional,
penentuan sampel, jenis dan sumber data, metode pengumpulan data,
serta metode analisis.

BAB IV

Hasil dan Pembahasan merupakan bagian yang menjelaskan deskripsi


objek penelitian, analisis data, dan pembahasan.

BAB V

Penutup merupakan bagian terakhir dalam penulisan skripsi. Bagian


ini memuat kesimpulan, keterbatasan penelitian
untuk rekomendasi penelitian selanjutnya.

dan saran-saran

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1

Landasan Teori

2.1.1 Teori Peran


Teori peran (Role Theory) adalah teori yang merupakan perpaduan antara
teori, orientasi, maupun disiplin ilmu. Selain dari psikologi, teori peran berawal
dari sosiologi dan antropologi (Sarwono, 2002). Dalam ketiga ilmu tersebut,
istilah peran diambil dari dunia teater. Dalam teater, seorang aktor harus
bermain sebagai seorang tokoh tertentu dan dalam posisinya sebagai tokoh itu ia
diharapkan untuk berperilaku secara tertentu. Posisi aktor dalam teater
(sandiwara) itu kemudian dianologikan dengan posisi seseorang dalam
masyarakat. Sebagaimana halnya dalam teater, posisi orang dalam masyarakat
sama dengan posisi aktor dalam teater, yaitu bahwa perilaku yang diharapkan
daripadanya tidak berdiri sendiri, melainkan selalu berada dalam kaitan dengan
adanya orang-orang lain yang berhubungan dengan orang atau aktor tersebut. Dari
sudut pandang inilah disusun teori-teori peran.
Linton (1936, dalam Cahyono, 2008), seorang antropolog, telah
mengembangkan teori peran. Teori Peran menggambarkan interaksi sosial dalam
terminologi aktor-aktor yang bermain sesuai dengan apa yang ditetapkan oleh
budaya. Sesuai dengan teori ini, harapan-harapan peran merupakan pemahaman
bersama yang menuntun individu untuk berperilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut teori ini, seseorang yang mempunyai peran tertentu misalnya sebagai

dokter, mahasiswa, orang tua, wanita, dan lain sebagainya, diharapkan agar
seseorang tadi berperilaku sesuai dengan peran tersebut. Mengapa seseorang
mengobati orang lain, karena dia adalah seorang dokter. Jadi karena statusnya
adalah dokter maka dia harus mengobati pasien yang datang kepadanya dan
perilaku tersebut ditentukan oleh peran sosialnya.
Kemudian, sosiolog yang bernama Elder (1975) dalam Mustofa (2006)
membantu memperluas penggunaan teori peran dengan menggunakan pendekatan
yang dinamakan life-course yang artinya bahwa setiap masyarakat mempunyai
harapan kepada setiap anggotanya untuk mempunyai perilaku tertentu sesuai
dengan kategori-kategori usia yang berlaku dalam masyarakat tersebut.
Contohnya, sebagian besar warga Amerika Serikat akan menjadi murid sekolah
ketika berusia empat atau lima tahun, menjadi peserta pemilu pada usia delapan
belas tahun, bekerja pada usia tujuh belas tahun, mempunyai istri/suami pada usia
dua puluh tujuh, pensiun pada usia enam puluh tahun. Di Indonesia berbeda, usia
sekolah dimulai sejak usia tujuh tahun, punya pasangan hidup sudah bisa sejak
usia tujuh belas tahun, dan pensiun pada usia lima puluh lima tahun. Urutan tadi
dinamakan tahapan usia (age grading). Dalam masyarakat kontemporer
kehidupan manusia dibagi ke dalam masa kanak-kanak, masa remaja, masa
dewasa, dan masa tua, di mana setiap masa mempunyai bermacam-macam
pembagian lagi.
Selain itu, Kahn et al. (dalam Ahmad dan Taylor, 2009) juga mengenalkan
teori peran pada literatur perilaku organisasi. Mereka menyatakan bahwa sebuah
lingkungan organisasi dapat mempengaruhi harapan setiap individu mengenai

perilaku peran mereka. Harapan tersebut meliputi norma-norma atau tekanan


untuk bertindak dalam cara tertentu. Individu akan menerima pesan tersebut,
menginterpretasikannya, dan merespon dalam berbagai cara. Masalah akan
muncul ketika pesan yang dikirim tersebut tidak jelas, tidak secara langsung, tidak
dapat diinterpretasikan dengan mudah, dan tidak sesuai dengan daya tangkap si
penerima pesan. Akibatnya, pesan tersebut dinilai ambigu atau mengandung unsur
konflik. Ketika hal itu terjadi, individu akan merespon pesan tersebut dalam cara
yang tidak diharapkan oleh si pengirim pesan.
Harapan akan peran tersebut dapat berasal dari peran itu sendiri, individu
yang mengendalikan peran tersebut, masyarakat, atau pihak lain yang
berkepentingan terhadap peran tersebut. Setiap orang yang memegang
kewenangan atas suatu peran akan membentuk harapan tersebut. Bagi aparat
Inspektorat, harapan dapat dibentuk oleh Musyawarah Pimpinan Daerah
(Muspida) yang terdiri dari: Kepala Pemerintahan Daerah, Wakil Pemerintahan
Daerah, dan Sekretaris Daerah ataupun dari rekan kerja yang bergantung pada
hasil kinerja aparat Inspektorat. Individu atau pihak yang berbeda dapat
membentuk harapan yang mengandung konflik bagi pemegang peran itu sendiri.
Oleh karena setiap individu dapat menduduki peran sosial ganda, maka
dimungkinkan bahwa dari beragam peran

tersebut akan menimbulkan

persyaratan/harapan peran yang saling bertentangan (Ahmad dan Taylor, 2009).


Hal tersebut yang dikenal sebagai konflik peran.
Sebagaimana diungkapkan juga oleh Kats dan Kahn (dalam Damajanti,
2003) bahwa individu akan mengalami konflik dalam dirinya apabila terdapat dua

tekanan atau lebih yang terjadi secara bersamaan yang ditujukan pada diri
individu tersebut. Konflik pada setiap individu disebabkan karena individu
tersebut harus menyandang dua peran yang berbeda dalam waktu yang sama.
Teori peran juga menyatakan bahwa ketika perilaku yang diharapkan oleh
individu tidak konsisten, maka mereka dapat mengalami stress, depresi, merasa
tidak puas, dan kinerja mereka akan kurang efektif daripada jika pada harapan
tersebut tidak mengandung konflik. Jadi, dapat dikatakan bahwa konflik peran
dapat memberikan pengaruh negatif terhadap cara berpikir seseorang. Dengan
kata lain, konflik peran dapat menurunkan tingkat komitmen independensi
seseorang (Ahmad dan Taylor, 2009).
Adapun ambiguitas peran merupakan sebuah konsep yang menjelaskan
ketersediaan informasi yang berkaitan dengan peran. Pemegang peran harus
mengetahui apakah harapan tersebut benar dan sesuai dengan aktivitas dan
tanggung jawab dari posisi mereka. Selain itu, individu juga harus memahami
apakah aktivitas tersebut telah dapat memenuhi tanggung jawab dari suatu posisi
dan bagaimana aktivitas tersebut dilakukan (Ahmad dan Taylor, 2009).
Sama halnya dengan konflik peran Kahn et al. (dalam Ahmad dan Taylor,
2009) mengemukakan bahwa ambiguitas peran juga dapat meningkatkan
kemungkinan seseorang menjadi merasa tidak puas dengan perannya, mengalami
kecemasan, memutarbalikkan fakta, dan kinerjanya menurun. Selain itu, Kahn et
al. (dalam Ahmad dan Taylor, 2009) juga menjelaskan bahwa ambiguitas peran
dapat meningkat ketika kompleksitas organisasi melebihi rentang pemahaman
seseorang. Oleh sebab itu, aparat Inspektorat yang menghadapi ambiguitas peran

kemungkinan sulit untuk menjaga komitmen mereka untuk tetap bersikap


independen.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa individu yang berhadapan
dengan tingkat konflik peran dan ambiguitas peran yang tinggi akan mengalami
kecemasan, ketidakpuasan, dan ketidakefektivan dalam melakukan pekerjaan
dibandingkan individu yang lain (Kahn et al. dalam Damajanti, 2003). Hal
tersebut dapat mempengaruhi kemampuan individu dalam menjaga komitmen
yang ada pada diri mereka, dalam hal ini adalah sulitnya menjaga komitmen untuk
bersikap independen.
2.1.2 Independensi Aparat Inspektorat
International Standards for the Professional Practice of Internal Auditing
(ISPPIA IIA, 2006) mengidentifikasi independensi auditor internal sebagai
kriteria paling penting bagi efektivitas fungsi auditor internal. Jadi, dalam setiap
kejadian, auditor internal diharapkan untuk mempunyai integritas dan komitmen
untuk membuat pendapat yang bebas dari bias (Ahmad dan Taylor, 2009).
Kata independensi merupakan terjemahan dari kata independence yang
berasal dari Bahasa Inggris. Dalam kamus Oxford Advanced Learners Dictionary
of Current English terdapat entri kata independence yang artinya dalam
keadaan independen. Adapun entri kata independent bermakna tidak
tergantung atau dikendalikan oleh (orang lain atau benda); tidak mendasarkan diri
pada orang lain; bertindak atau berfikir sesuai dengan kehendak hati; bebas dari
pengendalian orang lain (Indah, 2010). Makna independensi dalam pengertian

umum ini tidak jauh berbeda dengan makna independensi yang dipergunakan
secara khusus dalam literatur pengauditan.
Arens, et al. (2000) mendefinisikan independensi dalam pengauditan
sebagai "Penggunaan cara pandang yang tidak bias dalam pelaksanaan pengujian
audit, evaluasi hasil pengujian tersebut, dan pelaporan hasil temuan audit".
Sedangkan Mulyadi (1992) mendefinisikan independensi sebagai "keadaan bebas
dari pengaruh, tidak dikendalikan oleh pihak lain, tidak tergantung pada orang
lain" dan akuntan publik yang independen haruslah akuntan publik yang tidak
terpengaruh dan tidak dipengaruhi oleh berbagai kekuatan yang berasal dari luar
diri akuntan dalam mempertimbangkan fakta yang dijumpainya dalam
pemeriksaan.
Standar Profesi Audit Internal (2004) juga menyatakan bahwa auditor
internal harus mempunyai objektivitas yang tinggi. Badan Pengawasan Keuangan
dan Pembangunan (1998) mengartikan obyektivitas sebagai bebasnya seseorang
dari pengaruh pandangan subyektif pihak-pihak lain yang berkepentingan
sehingga dapat mengemukakan pendapat apa adanya. Auditor internal harus
memiliki sikap mental yang objektif, tidak memihak, dan menghindari
kemungkinan timbulnya pertentangan kepentingan. Objektivitas mensyaratkan
bahwa auditor internal tidak menundukkan penilaian mereka dalam masalahmasalah audit terhadap pihak-pihak lain. Dengan demikian, independensi dapat
menghindarkan hubungan yang mungkin mengganggu obyektivitas auditor.
Independensi

pada

Inspektorat

Kota

Semarang

berbeda

dengan

independensi yang dimiliki oleh BPK dan Akuntan Publik dikarenakan secara

organisasi, BPK dan Akuntan Publik berada di luar Pemerintah Kota Semarang.
Inspektorat bertindak sebagai auditor internal Pemerintah Daerah, sebagaimana
diatur dalam Peraturan Daerah Kota Semarang No 13 Tahun 2008 tentang
Organisasi dan Tata Kerja Lembaga Teknis Daerah dan Badan Pelayanan
Perijinan Terpadu Kota Semarang, disebutkan bahwa Inspektorat adalah
merupakan unsur pengawas penyelenggaraan pemerintah daerah yang dipimpin
oleh seorang Inspektur yang bertanggung jawab langsung kepada Walikota dan
secara teknis administratif mendapat pembinaan dari Sekretaris Daerah. Hasil
pemeriksaan yang dilakukan oleh aparat Inspektorat dilaporkan langsung kepada
Walikota untuk kemudian dilakukan tindakan lebih lanjut atas hasil laporan
tersebut. Berdasarkan Undang-Undang No 15 Tahun 2006 tentang Badan
Pemeriksa Keuangan, disebutkan juga bahwa hasil pemeriksaan Inspektorat harus
dilaporkan ke BPK serta, di lain pihak, hasil pemeriksaan BPK terhadap
Pemerintahan Daerah wajib ditindaklanjuti oleh Inspektorat terkait.
Meskipun di dalam Peraturan Pemerintah Nomor 41 Tahun 2007 Tentang
Organisasi Perangkat Daerah dinyatakan bahwa kepala inspektorat secara teknis
administratif mendapat pembinaan dari sekretaris daerah, namun kepala
inspektorat tetap bertanggung jawab secara langsung dan melaporkan hasil
pengawasannya kepada kepala pemerintah daerah (gubernur, bupati, atau
walikota).

Ia juga harus mendapatkan

akses untuk memungkinkannya

berkomunikasi secara langsung dengan kepala pemerintah daerah dan melakukan


komunikasi yang regular untuk mempertahankan independensinya (Tim Penyusun

Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor Publik Sekolah Tinggi
Akuntansi Negara, 2007).
Tim Penyusun Modul Program Pendidikan Non Gelar Auditor Sektor
Publik Sekolah Tinggi Akuntansi Negara (2007) membagi independensi fungsi
pengawasan inspektorat menjadi tiga kategori, yaitu:
1) Independensi program kerja pengawasan
Bebas dari pihak-pihak yang dapat mempengaruhinya dalam penyusunan
program kerja pengawasan dan prosedur audit.
2) Independensi pengujian audit:

Bebas melakukan akses ke seluruh catatan, kekayaan, dan pegawai, yaitu


relevan dengan penugasan auditnya.

Aktif bekerja sama dengan seluruh perangkat daerah selama pengujian


audit berlangsung.

Bebas dari keinginan pihak-pihak tertentu yang berusaha mengarahkan


auditnya hanya untuk aktivitas-aktivitas tertentu saja dan melakukan
pengujian serta menetapkan bukti yang dapat diterima.

Bebas dari kepentingan individual pihak-pihak tertentu dalam penugasan


auditnya dan pembatas pengujian audit.

3) Independensi pelaporan hasil pengawasan:

Bebas dari perasaan keharusan untuk memodifikasi pengaruh atau


signifikansi dari fakta yang dilaporkan.

Bebas dari tekanan untuk tidak memasukkan permasalahan yang signifikan


ke dalam laporan audit.

Bebas dari berbagai usaha yang dapat melanggar dari judgmentnya sebagai
auditor profesional.
Mautz (1974) dalam Supriyono (1988) mengutip pendapat Carman

mengenai pentingnya independensi sebagai berikut :


Jika manfaat seorang sebagai auditor rusak oleh perasaan pada sebagian
pihak ketiga yang meragukan independensinya, dia bertanggung jawab
tidak hanya mempertahankan independensi dalam kenyataan tetapi juga
menghindari penampilan yang memungkinkan dia kehilangan
independensinya.
Peraturan Badan Pemeriksa Keuangan RI Nomor 01 tentang Standar
Pemeriksaan Keuangan Negara dalam Lampiran II menyebutkan bahwa dalam
semua hal yang berkaitan dengan pekerjaan pemeriksaan, organisasi pemeriksa
dan pemeriksa, harus bebas dalam sikap mental dan penampilan dari gangguan
pribadi, ekstern, dan organisasi yang dapat mempengaruhi independensinya.
Dengan pernyataan standar umum kedua ini, organisasi pemeriksa dan
pemeriksanya bertanggung jawab untuk dapat mempertahankan independensinya
sedemikian rupa, sehingga pendapat, simpulan, pertimbangan atau rekomendasi
dari hasil pemeriksaan yang dilaksanakan tidak memihak dan dipandang tidak
memihak oleh pihak manapun.
Selain itu, seperti yang diungkapkan Supriyono (1988) salah satu faktor
yang mempengaruhi independensi akuntan publik adalah jasa-jasa lain selain audit
yang dilakukan oleh auditor bagi klien. Oleh sebab itu, pemeriksa harus
menghindar dari situasi yang menyebabkan pihak ketiga mengetahui fakta dan
keadaan yang relevan serta menyimpulkan bahwa pemeriksa tidak dapat
mempertahankan independensinya sehingga tidak mampu memberikan penilaian

yang objektif dan tidak memihak terhadap semua hal yang terkait dalam
pelaksanaan dan pelaporan hasil pemeriksaan, sehingga menurut William dan
Walter (2002) publik dapat mempercayai fungsi audit karena auditor bersikap
tidak memihak yang berarti mengakui adanya kewajiban untuk bersikap adil.

2.2

Penelitian Terdahulu
Koo dan Sim (1999) melakukan penelitian mengenai konflik peran yang

dialami oleh auditor di Korea. Dari basis teoritis, konflik peran disebabkan oleh
perbedaan yang terjadi akibat adanya ketidakkonsistenan dalam peran yang
dilakukan oleh auditor. Free engagement system merupakan salah satu jenis
sistem pasar bebas audit yang mengakibatkan timbulnya perjanjian antara auditor
dan klien dan perbedaan harapan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa auditor di
Korea menghadapi konflik peran yang substansial. Konflik tersebut terjadi akibat
auditor mencoba untuk menjaga norma-norma profesional mereka, dan pada saat
yang sama mereka harus mempertimbangkan harapan atau keinginan dari klien.
Penyebab utama konflik peran adalah ketidakkonsistenan struktural dari peran
tersebut, free engagement system, dan perbedaan harapan. Dampak negatif yang
timbul adalah adanya ketidakpuasan kerja dan ketidakmampuan auditor untuk
menjalankan peran sosialnya dengan baik.
Lubis (2004) di Medan melakukan penelitian tentang persepsi auditor dan
user tentang independensi akuntan sebagai perilaku profesional dan pengaruhnya
terhadap opini audit, dengan hasil penelitian sebagai berikut:

1.

Tidak terdapat perbedaan persepsi secara signifikan antara akuntan publik dan
akuntan BPK mengenai independensi akuntan.

2.

Terdapat perbedaan persepsi secara signifikan antara akuntan publik dengan


pemakai jasa akuntan publik mengenai independensi akuntan.

3.

Independensi akuntan sebagai perilaku profesional berpengaruh terhadap


opini audit yang diberikan oleh akuntan tersebut.
Ahmad dan Taylor (2009) melakukan penelitian untuk mengembangkan

ukuran-ukuran konsep komitmen independensi, konflik peran, dan ambiguitas


peran pada lingkungan auditor internal. Sampel yang digunakan adalah auditor
internal pada perusahaan listed di Bursa Efek Malaysia dan mempunyai in-house
departemen audit internal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik peran dan
ambiguitas peran secara signifikan berpengaruh negatif terhadap komitmen
independensi auditor internal. Dimensi konflik peran yang berpengaruh paling
besar terhadap komitmen independensi adalah konflik antara nilai personal auditor
dengan persyaratan dan ekspektasi manajemen dan profesi audit internal,
sedangkan dimensi ambiguitas peran yang berpengaruh besar terhadap komitmen
independensi adalah wewenang dan tekanan waktu yang dialami auditor internal.
Siregar (2009) melakukan penelitian terhadap 41 orang aparat Inspektorat
Kabupaten Deli Serdang untuk menguji secara empiris dan menganalisis apakah
gangguan pribadi, gangguan ekstern, dan gangguan organisasi berpengaruh
terhadap independensi pemeriksa. Hasil penelitiannya membuktikan bahwa
gangguan pribadi, gangguan ekstern, dan gangguan organisasi secara simultan
berpengaruh signifikan terhadap independensi pemeriksa. Sedangkan secara

parsial gangguan pribadi, gangguan ekstern, dan gangguan organisasi juga


berpengaruh signifikan terhadap independensi pemeriksa dan yang memiliki
pengaruh terbesar terhadap independensi pemeriksa adalah gangguan organisasi.
Berikut ini tabulasi penelitian terdahulu berdasarkan uraian di atas :
Tabel 2.1
Penelitian Terdahulu
Peneliti
(Tahun
Penelitian)
Koo dan Sim
(1999)

Tapi
Sari
(2004)

Anda
Lubis

Ahmad
dan
Taylor (2009)

Siregar (2009)

Judul
Penelitian
On The
Conflict
Auditors
Korea

Role
of
in

Variabel
Penelitian
Penyebab
dampak
konflik
auditor

dan
dari
peran

Persepsi Auditor
dan
User
Tentang
Independensi
Akuntan
Sebagai
Perilaku
Profesional dan
Pengaruhnya
terhadap Opini
Audit
Commitment to
Independence
by
Internal
Auditors: The
Effect of Role
Ambiguity and
Role Conflict

Dependen: Opini
Audit

Pengaruh
Gangguan
Pribadi, Ekstern,
dan Organisasi
terhadap
Independensi
Pemeriksa
(Studi Empiris

Dependen:
Independensi
Pemeriksa

Independen:
Independensi
Akuntan
Moderating:
Persepsi Akuntan
Publik, BPK, dan
User.
Dependen:
Komitmen
Independensi
Independen:
Ambiguitas Peran
dan Konflik Peran

Independen:
Gangguan
Pribadi,
Gangguan

Hasil Penelitian
Auditor di Korea mengalami konflik peran
secara signifikan. Penyebab utama konflik
peran adalah ketidakkonsistenan struktural
dari peran tersebut, free engagement
system, dan perbedaan harapan. Dampak
negatif yang timbul adalah adanya
ketidakpuasan kerja dan ketidakmampuan
auditor untuk menjalankan peran sosialnya
dengan baik.
Tidak terdapat perbedaan persepsi secara
signifikan antara akuntan publik dan
akuntan BPK mengenai independensi
akuntan. Terdapat perbedaan persepsi
secara signifikan antara akuntan publik
dengan pemakai jasa akuntan publik
mengenai
independensi
akuntan.
Independensi akuntan sebagai perilaku
profesional berpengaruh terhadap opini
audit yang diberikan oleh akuntan tersebut.
Ambiguitas peran dan konflik peran
berpengaruh negatif signifikan terhadap
komitmen independensi auditor internal.
Dimensi yang berpengaruh paling besar
terhadap komitmen independensi adalah
konflik antara nilai personal auditor
dengan persyaratan dan ekspektasi
manajemen dan profesi audit internal
(dimensi konflik peran) serta wewenang
dan tekanan waktu yang dialami auditor
internal (dimensi ambiguitas peran).
gangguan pribadi, gangguan ekstern, dan
gangguan organisasi secara simultan
berpengaruh
signifikan
terhadap
independensi pemeriksa. Secara parsial
gangguan pribadi, gangguan ekstern, dan
gangguan organisasi juga berpengaruh
signifikan
terhadap
independensi
pemeriksa dan yang memiliki pengaruh

pada Inspektorat
Kabupaten Deli
Serdang)

Ekstern,
Gangguan
Organisasi

dan

terbesar terhadap independensi pemeriksa


adalah gangguan organisasi.

2.3

Kerangka Pemikiran Teoritis dan Pengembangan Hipotesis

2.3.1

Pengaruh Konflik Peran terhadap Komitmen Independensi Aparat


Inspektorat
Konflik peran didefinisikan oleh Brief et al (dalam Amilin dan Dewi,

2008) sebagai the incongruity of expectations associated with a role. Jadi,


konflik peran adalah adanya ketidakcocokan antara harapan-harapan yang
berkaitan dengan suatu peran. Secara lebih spesifik, Leigh et al. (dalam Amilin
dan Dewi, 2008) menyatakan bahwa: Role conflict is the result of an employee
facing the inconsistent Expectations of various parlies or personal needs, values,
etc. Artinya, konflik peran merupakan hasil dari ketidakkonsistenan harapanharapan berbagai pihak atau persepsi adanya ketidakcocokan antara tuntutan peran
dengan kebutuhan, nilai-nilai individu, dan sebagainya. Sebagai akibatnya,
seseorang yang mengalami konflik peran akan berada dalam suasana terombangambing, terjepit, dan serba salah.
Konflik

peran

terjadi

saat

munculnya

peran-peran

yang

saling

bertentangan yang harus dilakukan oleh individu sebagai anggota dalam sebuah
organisasi (Koo dan Sim, 1998). Hal itu mengakibatkan individu yang mengalami
konflik peran tidak dapat membuat keputusan yang tepat mengenai bagaimana
peran-peran tersebut akan dilakukan dengan baik.
Pada umumnya, konflik peran dipandang sebagai suatu peristiwa
multidimensional yang terbagi atas tiga jenis konflik (Mohr dan Puck, 2003).

Ketiga jenis konflik tersebut adalah: inter-role conflict, intra-role conflict, dan
person-role conflict.
Pertama, individu akan mengalami inter-role conflict ketika harapan
pengirim peran tidak sesuai dengan peran yang dilakukan oleh individu, misalnya:
harapan seorang pegawai kantoran ketika bekerja lembur akan bertentangan
dengan harapan dari keluarga pegawai tersebut.
Kedua, intra-role conflict terjadi apabila elemen-elemen yang berbeda
dalam satu peran individu bertentangan dengan yang lain. Kahn et al. serta
Pandey dan Kumar (dalam Mohr dan Puck, 2003) membagi lagi konflik ini
menjadi dua tipe, yaitu: intra-sender role conflict dan inter-sender role conflict.
Intra-sender role conflict timbul saat satu pengirim peran mempunyai harapan
yang tidak sesuai dengan harapan pemegang peran. Contoh dari konflik ini adalah
ketika seorang supervisor menyuruh seorang bawahan untuk memberikan suatu
informasi yang spesifik tetapi di lain pihak terdapat larangan untuk menggunakan
suatu alat yang memungkinkan bawahan tersebut dapat mengakses informasi yang
diinginkan tersebut (Kahn et al. dalam Mohr dan Puck, 2003). Tipe kedua dari
intra-role conflict, yaitu inter-sender role conflict, adalah konflik yang timbul
ketika harapan dari dua pengirim peran yang berbeda berbenturan dengan harapan
pemegang peran. Contoh dari konflik ini adalah ketika manajer diharuskan untuk
mengikuti suatu instruksi dari, dan melaporkannya kepada, dua atau lebih manajer
yang mempunyai kegiatan yang berbeda.
Ketiga, individu dapat mengalami person-role conflict apabila harapan
yang berkaitan dengan seorang pemegang peran tidak sesuai dengan kebutuhan,

inspirasi, dan/atau nilai-nilai individu tersebut. Contohnya, ketika seseorang yang


diharuskan untuk menggunakan senjata dalam medan pertempuran tetapi
sebenarnya individu tersebut hanya ingin menggunakan senjata dalam hal
kebaikan, dari situasi tersebut maka kemungkinan akan timbul person-role
conflict.
Dalam menjalankan tugasnya di lingkungan pemerintahan, aparat
Inspektorat pasti berhubungan dengan bagian atau individu yang lain. Hubungan
tersebut kemungkinan besar mengakibatkan terjadinya perbedaan-perbedaan yang
mengarah pada konflik. Berdasarkan teori konflik peran dan literatur audit
internal, konflik peran yang berkaitan dengan auditor internal dibagi menjadi tiga
jenis, yaitu: inter-role conflict, intra-sender role conflict, dan personal role
conflict (Ahmad dan Taylor, 2009). Inter-sender role conflict tidak dapat
diadaptasi dalam lingkungan audit internal.
Inter-role conflict timbul karena adanya permintaan peran yang terlalu
banyak, seperti konflik/pertentangan yang dialami auditor internal akibat
perbedaan permintaan dari organisasi dengan aturan standar profesi audit internal
(Ahmad dan Taylor, 2009). Kompleksitas birokrasi dapat menyebabkan prosedur
dan praktik kerja pemerintahan menyimpang dari standar praktik profesional.
Oleh karena itu, dalam lingkungan audit pemerintahan terdapat kemungkinan
yang besar bahwa aparat Inspektorat menjalankan suatu hal yang dapat diterima
oleh pejabat pemerintahan tetapi dilarang dalam profesi audit. Selain itu, peluang
untuk mengabaikan standar etika profesi dan menyetujui permintaan pejabat

pemerintahan akan mengakibatkan menurunnya pelaporan tingkat pelanggaran,


ketidakberesan, dan kelemahan sistem pengendalian internal.
Auditor internal menjalankan dua peran dalam organisasi, yaitu: peran
audit dan peran jasa konsultasi. Hal ini dapat menimbulkan terjadinya intrasender role conflict. Penelitian Reynold (2000) menyimpulkan bahwa
pertentangan yang terjadi karena peran audit dan peran konsultasi pada auditor
internal merupakan subjek konflik. Dalam peran audit auditor internal harus
menjaga independensi dengan tidak mendasarkan pertimbangan auditnya pada
manajemen. Namun dalam peran jasa konsultasi manajemen, auditor internal
harus bekerja sama dan membantu manajemen, termasuk menerima pertimbangan
dari komite audit (Ahmad dan Taylor, 2009).
Auditor internal juga dapat mengalami personal role conflict, seperti
ketika diminta untuk berperan dalam berbagai cara yang tidak konsisten dengan
nilai-nilai pribadi mereka atau diharuskan bertindak melawan serta melaporkan
pelanggaran rekan kerja mereka. Menurut Mutchler (2003), auditor internal
cenderung akan mengabaikan, melunak, atau menunda pelaporan temuan audit
yang berdampak negatif supaya tidak mempermalukan rekan kerja mereka.
Dengan demikian, personal role conflict mengindikasikan ketidaksesuaian antara
harapan manajemen dan nilai personal auditor internal (Ahmad dan Taylor, 2009).
Hal ini menyebabkan kemungkinan auditor diharuskan untuk melakukan hal-hal
yang bertentangan dengan nilai-nilai atau keyakinan individu auditor intenal
tersebut, seperti melakukan perbuatan yang ilegal atau tidak etis.

Konflik peran yang dialami oleh auditor dapat merusak independensi dan
kemampuan auditor untuk melakukan audit yang wajar (Koo dan Sim, 1999).
Apabila auditor mencoba untuk tetap mempertahankan sikap etis profesional
mereka, maka akan membahayakan posisi auditor internal tersebut, sehingga
auditor menjadi rentan terhadap tekanan dari manajemen dan mengakibatkan
menurunnya komitmen independensi (Koo dan Sim, 1999).
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H1: Konflik peran berpengaruh negatif terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat.
2.3.2

Pengaruh Ambiguitas Peran terhadap Komitmen Independensi


Aparat Inspektorat
Agar dapat melaksanakan pekerjaan dengan baik, para karyawan

memerlukan keterangan tertentu yang menyangkut hal-hal yang diharapkan untuk


mereka lakukan dan hal-hal yang tidak harus mereka lakukan. Karyawan perlu
mengetahui hak-hak, hak-hak istimewa dan kewajiban mereka. Ambiguitas peran
didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana informasi yang berkaitan dengan
suatu peran tertentu kurang atau tidak jelas (Kahn et al. dalam Beauchamp et al.,
2004). Rizzo et al. (1970 dalam Michael et al., 2009) menyatakan bahwa
ambiguitas peran menunjukkan ambivalensi saat apa yang diharapakan tidak jelas
karena kekurangan informasi mengenai suatu peran dan apa yang dibutuhkan
dalam suatu tugas. Pegawai tidak mengetahui upaya apa yang harus dilakukan
dalam melaksanakan pekerjaan. Dalam suatu organisasi sebaiknya memiliki
keterangan yang jelas mengenai tugas dan tanggung jawab yang diberikan

penerima mandat. Dapat disimpulkan bahwa ambiguitas peran dapat timbul pada
lingkungan kerja saat seseorang kurang mendapat informasi yang cukup mengenai
kinerja yang efektif dari sebuah peran.
Ahmad dan Taylor (2009) mengembangkan enam dimensi dari ambiguitas
peran auditor internal sebagai berikut:
1) Pedoman (Guidelines)
Berdasarkan ISPPIA (dalam Ahmad dan Taylor, 2009) salah satu tugas
penting auditor internal adalah memberikan bantuan dalam menemukan
kecurangan melalui pemeriksaan kecukupan dan efektivitas sistem pengendalian
internal untuk menentukan tingkat pemeriksaan atau risiko pada berbagai segmen
kegiatan operasional organisasi. Untuk memenuhi tanggung jawab tersebut,
auditor internal sebaiknya menentukan apakah kebijakan yang ada telah ditulis
dengan jelas dan terdapat pedoman dan kebijakan yang jelas mengenai sistem
operasi dan pengujian. Selain itu, kebijakan otorisasi setiap transaksi juga harus
dikembangkan dan dijaga. Di sisi lain, sangat penting juga untuk menciptakan
kejelasan kebijakan tertulis yang menggambarkan aktivitas dan tindakan yang
dilarang ketika terjadi penyimpangan.
2) Tugas (Tasks)
Tugas auditor internal meliputi penilaian sistem pengendalian internal,
mendeteksi kecurangan, serta melaporkan pelanggaran (ISPPIA dalam Ahmad
dan Taylor, 2009). Untuk melakukan tugas tersebut, auditor internal harus
mengetahui dengan jelas mengenai apa yang harus dinilai dan tindakan apa yang
dibutuhkan ketika ditemukan ketidakberesan, kelemahan, dan pelanggaran.

3) Wewenang (Authority)
Tugas auditor internal secara jelas mewajibkan mereka untuk bersikap
independen. Elemen penting yang harus ada agar tercapainya independensi adalah
auditor internal harus memiliki tingkat wewenang yang tepat serta memiliki
keyakinan akan wewenang mereka. Tanpa adanya keyakinan dan atau tidak
adanya kejelasan atas tingkat wewenang yang mereka miliki, auditor internal akan
dapat dipengaruhi oleh tekanan manajemen (Van Peursem dalam Ahmad dan
Taylor, 2009). Oleh sebab itu, dimensi wewenang memastikan bahwa auditor
internal memahami dengan benar mengenai wewenang mereka untuk memeriksa
dan mengulas laporan dari berbagai tingkat manajer dalam perusahaan yang
bertanggung jawab atas otorisasi pembiayaan, memeriksa transaksi yang disetujui
pada tingkat eksekutif, dan menilai aktivitas dewan direksi (Sawyer dan
Dittenhofer dalam Ahmad dan Taylor, 2009).
4) Tanggung Jawab (Responsibilities)
Auditor internal harus memahami dengan jelas mengenai tanggung jawab
mereka. Tanggung jawab auditor internal meliputi penilaian sistem pengendalian
internal dan pendeteksian akan adanya kecurangan (ISPPIA dalam Ahmad dan
Taylor, 2009).
5) Standar (Standards)
Tujuan dari disusunnya standar adalah untuk menggambarkan prinsipprinsip dasar yang menunjukkan praktik auditor internal dan untuk menetapkan
dasar bagi evaluasi kinerja audit internal (ISPPIA dalam Ahmad dan Taylor,
2009). Oleh karena standar bertindak sebagai referensi dalam pelaksanaan tugas

auditor internal, maka sangat penting untuk menyusun standar sejelas mungkin
sehingga tidak menimbulkan berbagai interpretasi.
6) Waktu (Time)
Batasan waktu merupakan faktor mendasar dalam lingkungan audit,
termasuk audit internal. Peran auditor internal akan mengakibatkan mereka
menghadapi adanya pembatasan waktu baik berasal dari tekanan akibat anggaran
waktu atau tekanan tenggat waktu tugas. Azad (1994) membuktikan bahwa
ketidakpastian pengalokasian waktu dapat memberikan pengaruh buruk bagi
pekerjaan auditor internal.
Oleh karena itu, adanya ambiguitas peran dalam seluruh aspek diatas dapat
mempengaruhi sikap dan persepsi aparat Inspektorat. Dalam penelitian Schuller et
al., Beehr et al., dan Babin (dalam Koustelios, 2004), ditemukan bahwa
ambiguitas peran mengakibatkan kepuasan kerja yang rendah, absenteeism, low
involvement, dan tekanan kerja. Ambiguitas peran dapat menyebabkan aparat
Inspektorat rentan terhadap ketidakpuasan kerja hingga kejenuhan sehingga
mengakibatkan turunnya komitmen independensi aparat Inspektorat.
Berdasarkan uraian di atas, dapat dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
H2: Ambiguitas peran berpengaruh negatif terhadap komitmen independensi
aparat Inspektorat.
Berdasarkan uraian pengembangan hipotesis di atas, kerangka pemikiran
penelitian ini dapat digambarkan sebagai berikut:

Gambar 2.1
Kerangka Pemikiran

Konflik Peran
(-)
Komitmen
Independensi
Aparat Inspektorat
(-)
Ambiguitas Peran

Dalam kerangka pemikiran seperti gambar diatas, maka terdapat dua


variabel bebas yakni konflik peran (X1) dan ambiguitas peran (X2) serta satu
variabel terikat yakni komitmen independensi aparat Inspektorat (Y).

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1

Variabel Penelitian dan Definisi Operasional

3.1.1

Variabel Penelitian
Variabel penelitian merupakan suatu atribut atau sifat yang mempunyai

variasi tertentu yang ditetapkan oleh peneliti untuk dipelajari dan ditarik
kesimpulannya (Sugiyono, 1999). Penelitian ini menggunakan dua macam
variabel penelitian.
1. Variabel Terikat
Variabel terikat (dependent variable) dalam penelitian ini adalah
komitmen independensi aparat Inspektorat.
2. Variabel Bebas
Variabel bebas (independent variable) dari penelitian ini adalah
ambiguitas peran (role ambiguity) dan konflik peran (role conflict).
3.1.2

Definisi Operasional
Untuk mempermudah pemahaman dan memperjelas apa yang dimaksud

dengan variabel-variabel dalam penelitian ini maka perlu diberikan definisi


operasional.
3.1.2.1 Komitmen Independensi Aparat Inspektorat
Independensi didefinisikan sebagai bebas dari segala kondisi yang dapat
mengancam objektivitas atau bentuk objektivitas (The International Standards for
The Professional Practices of Internal Auditing, 2006). Variabel komitmen

independensi dioperasionalkan dengan mengadaptasi skala komitmen organisasi


Porter et al. (1974, dalam Ahmad dan Taylor, 2009). Aranya et al. (1981, dalam
Ahmad dan Taylor, 2009) juga mengembangkan skala komitmen profesional
dengan menggunakan 3 dimensi komitmen yang dikembangkan oleh Porter et al.
(1974, dalam Ahmad dan Taylor, 2009), yaitu: keyakinan kuat atas nilai-nilai,
kemauan untuk berusaha keras seperti yang diharapkan, dan keinginan individu
yang kuat.
Dimensi komitmen profesional yang dikembangkan oleh Aranya et al.
(1981, dalam Ahmad dan Taylor, 2009) dimasukkan dalam penelitian ini untuk
mengoperasionalkan variabel komitmen independensi dalam bentuk sebagai
berikut:
1. Keyakinan kuat dan penerimaan kode etik profesional berkaitan dengan nilai
independensi profesi.
2. Kemauan untuk berusaha keras seperti yang diharapkan dalam rangka
memenuhi prinsip dasar profesi untuk menjaga independensi
3. Keinginan individu yang kuat untuk bersikap independen sepanjang waktu.
Instrumen komitmen independensi meliputi 10 item pernyataan yang
dikembangkan dari lingkup 3 dimensi di atas. Berdasarkan skala Likert 7 poin,
Skor tertinggi (skor 7) menunjukkan sikap sangat setuju yang berarti bahwa
auditor mempunyai komitmen independensi yang sangat tinggi dan skor terendah
(skor 1) menunjukkan sikap sangat tidak setuju yang berarti bahwa auditor
mempunyai komitmen independensi yang sangat rendah. Namun ada 3 item
pernyataan yang dikodekan terbalik, yaitu item pernyataan pada kolom B.

3.1.2.2 Konflik Peran (Role Conflict)


Konflik peran didefinisikan sebagai hasil dari ketidakkonsistenan harapanharapan berbagai pihak atau persepsi adanya ketidakcocokan antara tuntutan peran
dengan kebutuhan, nilai-nilai individu, dan sebagainya (Leigh et al. dalam Amilin
dan Dewi, 2008). Konflik peran yang berkaitan dengan auditor internal dibagi
dalam 3 dimensi, yaitu: inter-role conflict, intra-sender role conflict, serta
personal role conflict.
Instrumen konflik peran meliputi 11 item pernyataan yang dikembangkan
dari lingkup 3 dimensi di atas. Berdasarkan skala Likert 7 poin, Skor tertinggi
(skor 7) menunjukkan sikap sangat setuju dan skor terendah (skor 1)
menunjukkan sikap sangat tidak setuju. Skor yang tinggi mengindikasikan adanya
konflik peran yang sangat tinggi dan skor yang rendah mengindikasikan adanya
konflik peran yang sangat rendah.
3.1.2.3 Ambiguitas Peran (Role Ambiguity)
Ambiguitas peran didefinisikan sebagai suatu keadaan di mana informasi
yang berkaitan dengan suatu peran tertentu kurang atau tidak jelas (Kahn et al.
dalam Beauchamp et al., 2004). Enam dimensi dari ambiguitas peran auditor
internal

yang

digunakan

dalam

penelitian

ini

diperoleh

dari

ukuran

unidimensionalitas yang dikembangkan oleh Rizzo et al. (1970, dalam Ahmad


dan Taylor, 2009), yaitu: garis-garis pedoman (guidelines), tugas (task),
wewenang (authorithy), tanggung jawab (responsibilities), standar-standar
(standards), dan waktu (time).

Instrumen pernyataan yang terdiri dari: 5 item untuk dimensi pedoman, 4


item untuk dimensi tugas, 3 item untuk dimensi wewenang, 3 item untuk dimensi
tanggung jawab, 3 item untuk dimensi standar, dan 3 item untuk dimensi waktu
ini dinyatakan dalam kondisi tidak adanya ambiguitas peran. Berdasarkan skala
Likert 7 poin, skor 7 menunjukkan adanya ambiguitas peran yang sangat rendah
dan skor 1 menunjukkan adanya ambiguitas peran yang sangat tinggi.
Tabel 3.1
Variabel Penelitian
Variabel
Komitmen Independensi

Konflik Peran
Ambiguitas Peran

3.2

Pengukuran
3 dimensi.
3 item pernyataan dikodekan terbalik.
Skala likert 7 poin (1=rendah, 7=tinggi)
3 dimensi.
Skala likert 7 poin (1=rendah, 7=tinggi)
6 dimensi.
Semua pernyataan dikodekan terbalik.
Skala likert 7 poin (1=tinggi, 7=rendah)

Populasi dan Sampel Penelitian


Dalam penelitian ini, yang menjadi populasi adalah aparat Inspektorat

Kota Semarang yang berjumlah 52 orang. Pengambilan sampel ditentukan dengan


metode purposive sampling dengan tujuan untuk mendapatkan informasi dari
individu maupun kelompok dengan sasaran yang tepat. Menurut Uma Sekaran
(2003) dalam bukunya Research Methods For Business pengambilan sampel
dalam hal ini terbatas pada jenis orang tertentu yang dapat memberikan informasi
yang diinginkan. Adapun responden atau sampel penelitian adalah aparat
Inspektorat yang bertindak langsung melakukan pemeriksaan di lingkungan
Pemerintah Kota Semarang, yaitu: Inspektur serta seluruh aparat Inspektorat

Pembantu Wilayah I IV yang total berjumlah 33 orang. Metode penelitian yang


dipakai adalah survey. Data diperoleh dengan menggunakan kuesioner yang
disebar kepada aparat Inspektorat Kota Semarang yang merupakan responden atau
sampel dalam penelitian ini.
3.3

Jenis dan Sumber Data

3.3.1

Jenis Data
Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data primer. Data primer

merupakan data yang diperoleh langsung dari sumber asli yang berkaitan dengan
variabel yang menjadi tujuan penelitian (Sekaran, 2003). Data primer ini meliputi
identitas responden dan juga informasi-informasi atau jawaban-jawaban yang
telah diberikan terhadap kuesioner yang telah disebarkan.
3.3.2

Sumber Data
Sumber data berasal dari skor total yang diperoleh dari pengisian

kuesioner yang telah dikirim kepada aparat Inspektorat Kota Semarang.

3.4

Metode Pengumpulan Data


Metode pengumpulan data dalam penelitian ini yaitu dengan teknik

pengumpulan kuesioner, dimana pertanyaan yang sudah disusun oleh peneliti


dibagikan kepada responden yang bersangkutan untuk diisi. Kuesioner dibagi
menjadi 2 (dua) bagian utama yaitu: data tentang demografi responden dan
tentang item-item yang terkait dengan komitmen independensi, konflik peran,
serta ambiguitas peran.

Sebelum kuesioner dibagikan kepada responden sesungguhnya, terlebih


dahulu dilakukan pilot test kuesioner terhadap beberapa mahasiswa program S1
Akuntansi yang dipilih secara random untuk mengetahui apakah kuesioner mudah
dipahami. Selanjutnya kuesioner dibagikan kepada responden.
Dalam pengumpulan data, ada beberapa tahapan yang dilakukan. Pertama
dilakukan kontak via telepon dengan Inspektur Kota Semarang. Dalam kontak via
telepon tersebut ditanyakan apakah boleh dilakukan penelitian pada lingkungan
Inspektorat Kota Semarang dan bila diperbolehkan selanjutnya ditanyakan
mengenai bagaimana prosedur pengajuan ijin penelitian. Apabila Inspektur telah
memperbolehkan untuk mengajukan ijin penelitian maka dilanjutkan ke tahap
kedua, yaitu memasukkan surat ijin penelitian dari fakultas. Tahap ketiga berupa
pembagian kuesioner kepada para responden.
Pengumpulan data dilakukan selama 7 hari, dimulai dari pengajuan surat
permohonan izin penelitian hingga kuesioner yang dikirimkan diterima kembali.
Jangka waktu pengembalian kuesioner ditetapkan 3 hari dihitung dari tanggal
kuesioner disebar.

3.5

Metode Analisis
Sebelum memasuki tahap analisis data, kuesioner yang telah kembali akan

disortir kembali terlebih dahulu. Hanya kuesioner yang diisi oleh responden yang
tepat serta semua item dalam kuesioner telah terisi dengan lengkap yang akan
diproses ke tahap analisis. Analisis data dalam penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan software SPSS 17.

Analisis terbagi dalam lima tahap. Pertama, analisis ditujukan untuk


mengetahui statistik deskriptif responden. Tahap selanjutnya adalah menganalisis
kualitas data. Pada tahap ketiga, analisis ditujukan untuk menguji ada tidaknya
penyimpangan asumsi klasik. Dalam tahap selanjutnya dilakukan analisis regresi
berganda. Kemudian pada tahap terakhir dilakukan pengujian atas hipotesis yang
telah dirumuskan sebelumnya.
3.5.1 Statistik Deskriptif
Statistik deskriptif memberikan gambaran atau deskripsi suatu data yang
dilihat dari nilai rata-rata (mean), standar deviasi, varian, maksimum, minimum,
sum, range, kurtosis dan skewness (kemencengan distribusi) (Ghozali, 2005).
Analisis statistik deskriptif ditujukan untuk memberikan gambaran umum
mengenai demografi responden. Data diperoleh dari kuesioner yang kembali. Data
yang diperoleh akan disortir terlebih dahulu dengan kualifikasi yang telah
ditentukan. Pertama, kuesioner yang disebar harus diisi oleh orang yang tepat dan
kedua, setiap item pertanyaan diisi dengan lengkap. Setelah disortir, data tersebut
dianalisis secara deskriptif yang meliputi menghitung nilai mean, standar deviasi,
nilai minimun, dan nilai maksimun. Untuk memberikan deskripsi tentang karakter
variabel penelitian (variabel independen dan variabel dependen) digunakan tabel
statistik deskriptif yang menunjukkan angka rata-rata, kisaran skor dan standar
deviasi.
3.5.2

Uji Kualitas Data


Hair et al., (1996) mengemukakan bahwa kualitas data yang dihasilkan

dari penggunaan instrumen penelitian dapat dievaluasi melalui uji reliabilitas dan

validitas. Uji reliabilitas dan uji validitas tersebut digunakan untuk mengetahui
konsistensi dan akurasi data yang dikumpulkan dari penggunaan instrumen. Data
yang tidak valid dan tidak reliabel harus dibuang dan tidak dimasukkan dalam
proses analisis data selanjutnya. Sementara data yang telah dinyatakan reliabel
dan valid dapat digunakan untuk proses analisis data selanjutnya.
3.5.2.1 Uji Reliabilitas
Uji reliabilitas dimaksudkan untuk mengukur kehandalan suatu kuesioner.
Suatu kuesioner dikatakan reliabel atau handal jika jawaban responden terhadap
pernyataan adalah konsisten atau stabil dari waktu ke waktu. Suatu alat ukur
dikatakan reliabel jika nilai Cronbach Alpha > 0,60 untuk masing-masing variabel
(Nunnally dalam Ghozali, 2006).
3.5.2.1 Uji Validitas
Uji validitas dimaksudkan untuk mengukur valid atau tidaknya suatu
kuesioner. Pengujian ini dilakukan dengan analisis uji faktor yang bertujuan untuk
memastikan bahwa masing-masing pertanyaan akan terklasifikasi pada variabelvariabel yang telah ditentukan. Suatu kuesioner dikatakan valid jika pernyataan
pada kuesioner mampu mengungkapkan sesuatu yang akan diukur oleh kuesioner
tersebut (Ghozali, 2006). Uji validitas dilakukan dengan cara mengkorelasikan
antara skor masing-masing item dan skor totalnya. Jenis korelasi yang digunakan
di sini adalah korelasi Pearson antara skor setiap pernyataan dengan skor total
item. Apabila tingkat signifikansinya kurang dari 0,05 maka tidak valid.
Pertanyaan yang tidak valid harus dikeluarkan dari kuesioner dan kemudian
dihitung lagi.

3.5.3

Uji Non-Response Bias


Salah satu kelemahan metode survey adalah kemungkinan tingkat

pengembalian

tidak

seperti

yang

diharapkan.

Hal

ini

menyebabkan

dibutuhkannya keputusan untuk menetralisasi sampel dari populasi yang diteliti


karena kemungkinan terjadi perbedaan karakteristik antara kuesioner yang
kembali dan yang tidak kembali (Kurnianingsih, 2007). Uji non-response bias
dilakukan dengan cara membandingkan karakteristik antara responden yang
berpartisipasi dengan responden yang tidak berpartisipasi dalam penelitian ini.
Responden yang mengembalikan kuesioner terlambat atau melebihi batas waktu
yang ditentukan dianggap mewakili responden yang tidak berpartisipasi dalam
penelitian ini.
Pengujian dilakukan dengan menggunakan uji beda yaitu independent
sample t-test. Uji beda t-test digunakan untuk menentukan apakah dua sampel
yang tidak berhubungan mempunyai nilai rata-rata yang berbeda (Ghozali, 2006).
Apabila hasil pengujian menunjukkan nilai F hitung Levene Test signifikan pada
level 5% dan nilai t pada equal variance assumed signifikan pada level 5%, maka
dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan yang signifikan pada rata-rata skor
jawaban antara responden yang berpartisipasi dengan yang tidak berpartisipasi.
3.5.4 Uji Asumsi Klasik
Uji asumsi klasik dilakukan sebelum melakukan analisis regresi berganda.
Analisis regresi hanya dapat dilakukan apabila suatu model yang akan diuji telah
bebas dari asumsi klasik, yaitu: memiliki nilai residual yang terdistribusi normal,
serta bebas heteroskedastisitas, dan multikolinearitas.

3.5.4.1 Uji Normalitas


Uji normalitas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi,
variabel terikat dan variabel bebas, keduanya mempunyai distribusi normal
ataukah tidak. Model regresi yang baik adalah yang mempunyai distribusi normal
atau mendekati normal (Ghozali, 2005). Seperti yang diketahi bahwa uji t dan uji
F mengasumsikan bahwa nilai residual mengikuti distribusi normal. Kalau asumsi
ini dilanggar, maka uji statistik menjadi tidak valid. Untuk menguji apakah data
normal atau tidak dapat dilakukan dengan analisis grafik. Salah satu cara
termudah untuk mendeteksi normalitas adalah dengan melihat penyebaran titik
pada sumbu diagonal dari grafik normal P-P Plot. Pengambilan keputusan dalam
uji normalitas didasarkan pada :
1. Jika data menyebar di sekitar garis diagonal dan mengikuti garis diagonal atau
grafik histogramnya dan menunjukan adanya pola distribusi normal. Oleh
karena itu, model regresinya memenuhi asumsi normalitas.
2. Jika data menyebar jauh dari garis diagonal dan atau tidak mengikuti arah garis
diagonal atau grafik histogram tidak menunjukan pola distribusi normal, maka
modal regresi tidak memenuhi asumsi normalitas.
Untuk memperkuat hasil P-P Plot digunakan uji statistik one-sample
Kolmogorov-Smirnov. Dasar pengambilan keputusan one-sample KolmogorovSmirnov adalah dengan melihat probabilitas signifikan terhadap variabel, jika di
atas 0,05 maka variabel tersebut terdistribusi secara normal.

3.5.4.2 Uji Multikolineritas


Uji Multikolineritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi
ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas (independen) ataukah tidak.
Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antar variabel
independen. Jika variabel independen saling berkorelasi, maka variabel-variabel
tersebut tidak ortogonal. Variabel ortogonal adalah variabel independen yag nilai
korelasi antar sesama variabel independen sama dengan nol (Ghozali, 2005).
Untuk menguji ada tidaknya multikolinearitas dalam suatu model regresi
salah satunya adalah dengan melihat nilai tolerance dan lawannya, dan Variance
Inflation Factor (VIF). Kedua ukuran ini menunjukkan setiap variabel independen
manakah yang dijelaskan oleh variabel lainnya. Tolerance mengukur variabilitas
variabel independen yang terpilih yang tidak dijelaskan oleh variabel independen
lainnya. Jadi nilai tolerance yang rendah sama dengan nilai VIF tinggi (karena
VIF = 1/Tolerance) dan menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi. Bila nilai
tolerance > 0.10 atau sama dengan nilai VIF < 10, berarti tidak ada
multikolinearitas antar variabel dalam model regresi (Ghozali, 2005).
3.5.4.3 Uji Heteroskedastisitas
Uji heteroskedastisitas bertujuan menguji apakah dalam model regresi
terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu pengamatan ke pengamatan lain.
Jika variance dari satu pengamatan ke pengamatan lain tetap, maka terjadi
homoskedastisitas dan apabila berbeda maka terjadi heteroskedastisitas. Model
regresi

yang

baik

adalah

yang

heteroskedastisitas (Ghozali, 2005).

homoskedastisitas

atau

tidak

terjadi

Salah satu cara untuk mendeteksi ada tidaknya heteroskedastisitas adalah


dengan melihat grafik plot antara nilai prediksi dengan residualnya dan dasar
untuk menganalisanya adalah :
1. Jika ada pola tertentu (bergelombang, melebar kemudian menyempit) maka
mengindikasikan telah terjadi heteroskedastisitas.
2. Jika tidak ada pola serta titik yang menyebar di atas dan di bawah angka 0 pada
sumbu Y, maka tidak terjadi heteroskedastisitas.
3.5.5 Model Regresi Berganda
Secara umum, analisis regresi pada dasarnya adalah studi mengenai
ketergantungan variabel dependen (terikat) dengan satu atau lebih variabel
independen (bebas), dengan tujuan untuk megestimasikan dan/atau memprediksi
rata-rata populasi atau nilai variabel independen yang diketahui (Gujarati dalam
Ghozali, 2005).
Untuk melihat bagaimana pengaruh dari variabel bebas (independent)
terhadap variabel tidak bebas (dependent) dalam penelitian ini, model analisis
yang digunakan adalah Model Regresi Linear Berganda, yang dirumuskan:
Y = a + b1X1 + b2X2 +
Keterangan:
Y = nilai estimasi komitmen independensi aparat Inspektorat
a = nilai Y pada perpotongan antara garis linear dengan sumbu vertikal Y
b1 = nilai yang berhubungan dengan variabel X1
X1 = konflik peran
b2 = nilai yang berhubungan dengan variabel X2

X2 = ambiguitas peran
= error of estimation
3.5.6 Pengujian Hipotesis
Pengujian hipotesis untuk penelitian ini menggunakan analisis regresi
dengan menggunakan Software SPSS Statistics versi 17 di mana metode yang
dipilih adalah metode analisis regresi. Untuk mengetahui apakah suatu persamaan
regresi yang dihasilkan baik untuk mengestimasi nilai variabel dependen atau
tidak, dilakukan dengan melakukan Uji Koefisien Determinasi (R2), Uji
Signifikansi Simultan (Uji Statistik F), dan Uji Signifikansi Parameter Individual
(Uji Statistik t) (Ghozali, 2005).
3.5.6.1 Uji Koefisien Determinasi (R2)
Koefisien Determinasi (R2) mengukur seberapa jauh kemampuan model
dalam menerangkan variasi variabel dependen. Nilai koefisien determinasi
adalahantara nol dan satu. Nilai (R2) yang kecil berarti kemampuan variabelvariabel independen dalam menjelaskan variasi variabel dependen amat terbatas.
Nilai yang mendekati satu berarti variabel-variabel independen memberikan
hampir semua informasi yang dibutuhkan untuk memprediksi variasi variabel
dependen (Ghozali, 2005).
Setiap tambahan satu variabel maka R2 pasti meningkat tidak peduli
apakah variabel tersebut berpengaruh secara signifikan terhadap variabel
dependen. Oleh sebab itu, banyak peneliti menganjurkan untuk menggunakan
nilai adjusted R2 saat mengevaluasi model regresi yang terbaik. Tidak seperti R2,

nilai adjusted R2 dapat naik atau turun apabila suatu variabel independen
ditambahkan ke dalam model (Ghozali, 2005).
3.5.6.2 Uji Signifikansi Simultan (Uji Statistik F)
Hasil uji signifikansi simultan menunjukkan apakah semua variabel
independen yang dimasukkan dalam model mempunyai pengaruh secara bersamasama terhadap variabel dependen. ANOVA (Analysis of Variance) dapat
digunakan untuk melakukan uji signifikansi simultan (Ghozali, 2005).
Uji F digunakan untuk melihat apakah semua variabel independen yang
digunakan secara simultan berpengaruh signifikan terhadap variabel dependen.
Dalam penelitian ini digunakan tingkat signifikansi () 0,05 atau 5% untuk
menguji apakah hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini diterima atau ditolak
berdasarkan Uji F. Kriteria suatu hipotesis diterima jika nilai Fhitung > Ftabel.
Sementara itu untuk melihat variabel independen yang paling berpengaruh
terhadap variabel dependen dapat dilihat dari nilai koefisien regresinya. Nilai yang
lebih besar adalah variabel yang paling berpengaruh (Ghozali, 2005).
3.5.6.3 Uji Signifikansi Parameter Individual (Uji Statistik t)
Hasil uji signifikansi parameter individual digunakan untuk mengetahui
apakah variabel independen yang terdapat dalam persamaan regresi secara
individual berpengaruh terhadap nilai variabel dependen (Ghozali, 2005). Kriteria
pengujian yang didasarkan atas probabilitas adalah sebagai berikut:
1. Jika probabilitas (signifikansi) > dari () 0,05, maka variabel independen
secara individual tidak berpengaruh terhadap variabel dependen.

2. Jika probabilitas (signifikansi) < dari () 0,05, maka variabel independen


secara individual berpengaruh terhadap variabel dependen.