Anda di halaman 1dari 49

Psychiatry and Reproductive

Medicine
KEPANITERAAN KLINIK ILMU KESEHATAN JIWA
Pembimbing : dr. RR Dyah Rikayanti N, Sp.KJ

Disusun oleh:

Raditya Rezha
Bunga Kartika
Tika Nurfadilah

KEPANITERAAN KLINIK STASE ILMU KESEHATAN JIWA


RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KOTA BANJAR
PROGRAM STUDI PENDIDIKAN DOKTER
FAKULTAS KEDOKTERAN DAN KESEHATAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JAKARTA
2015

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji dan syukur atas kehadirat Allah SWT yang telah memberikan
bimbingan dan petunjuk-Nya, akhirnya dengan ini kami dapat menyelesaikan Referat
Kepaniteraan Klinik sesuai pada waktu yang telah ditentukan.
Tujuan disusunnya laporan ini adalah sebagai dasar kewajiban dari suatu proses kegiatan
yang kami lakukan dalam masa kepaniteraan klinik stase ilmu kesehatan jiwa di RSUD Kota
Banjar yang kemudian dipresentasikan.
Penyusunan

laporan

ini

juga

dimaksudkan

untuk

memberitahukan

dan

mempertanggungjawabkan tugas Referat kami kepada bagian kepaniteraan klinik di RSUD Kota
Banjar.

Banjar, Juni 2015

Penulis

Psikologi Menstruasi

Sistem reproduksi berkaitan dengan perubahan hormonal, merupakan faktor penting


dalam meningkatnya prevalensi depresi berat dan gangguan mood lainnya pada wanita dari
dewasa muda sampai beberapa tahun setelah menopause (Burt dan Stein, 2002). Dengan
prevalensi 5-10%, sindrom pre-menstrual ini barangkali sangat umum menjadi penyakit
fungsional pada wanita subur dan memiliki karakteristik yang cenderung tidak normal,
bermanifestasi sebagai mood yang depresi, labil, dan mudah marah (Eriksson et al., 2002).
Hubungan antara sindrom pre-menstrual dan psikopatologi ini cukup rumit. Mayoritas pasien
memiliki riwayat gejala depresi dan perburukan gejala pre-menstrual yang mengarah ke
gangguan jiwa seperti skizofrenia, gangguan obsesif-kompulsif, dan penyalahgunaan alkohol.
Data diambil dari wanita yang mengalami gangguan psikiatrik dengan gangguan disforia
pre-menstrual, dikumpulkan dari pengalaman investigator psikiater dan ahli bedah di University
Columbia dan Institut Psychiatric New York (Harrison et al., 1989). Para peserta direkrut melalui
media cetak dan elektronik atau diarahkan oleh tenaga kesehatan profesional. 350 orang
dianggap memenuhi syarat untuk mengikuti penelitian ini setelah mengikuti wawancara, 195
orang menyelesaikan kuesioner mengenai gejala yang mereka rasakan (minimal 1 bulan),
riwayat medis, diagnosis dan terapi psikiatrik, dan riwayat keluarga dengan gangguan jiwa.
Akhirnya terpilih 140 subjek. Karena 55 wanita lainnya dianggap tidak memenuhi syarat: 33
orang memiliki gangguan jiwa lain dan 22 orang lainnya memiliki sakit secara medis dan riwayat
terapi obat hormonal. 140 peserta telah diatur mengisi instrumen yang mengukur disforia dan
evaluasi psikiatrik yang terstruktur. Dibuat 2 grup yaitu 86 wanita dengan gangguan disforia
(PMS) yang nyata tetapi tanpa riwayat gangguan psikiatrik dan kelompok kontrol yaitu 45
wanita tanpa disforia pre-menstrual dan gangguan psikiatrik, diukur dengan instrumen yang
sama.
Pasien dan subjek kontrol serupa dalam hal usia (rata-rata 32 dan 33 tahun), latar
belakang etnis (82% dan 90% kulit putih), lamanya pendidikan (15 dan 17) dan status
pernikahan (42% dan 32% menikah; 16% dan 12% bercerai). Dibandingkan dengan kelompok
kontrol, peserta dengan sindrom pre-menstrual lebih sering menggambarkan pernikahan mereka
tidak bahagia (39% dan 3%). 80% wanita dengan sindrom pre-menstrual dan 67% subjek kontrol
memiliki riwayat konsumsi obat kontrasepsi oral. Gejala mood (38% dan 16%) dan gejala fisik

(42% dan 11%), ketidakteraturan konsumsi kontrasepsi oral signifikan lebih besar pada
kelompok dengan sindrom pre-menstrual.
Kategori riwayat keluarga dengan gangguan jiwa, pada kelompok dengan sindrom premenstrual yaitu 70% subjek memiliki riwayat gangguan mayor depresi setidaknya dalam 4
minggu. Sedangkan pada kelompok kontrol, hanya 41%. Pasien dengan sindrom pre-menstrual
dilaporkan menjalani terapi pengobatan psikotropika lebih sering dibanding kelompok kontrol
(27% dan 2%). Ide bunuh diri (12% dan 7%), depresi setelah melahirkan (7% dan 0%),
gangguan panik (16% dan 5%), dan penyalahgunaan alkohol dan obat-obatan (16% dan 11%)
hampir serupa secara statistik. Kedua kelompok tersebut juga serupa dalam hal riwayat depresi
pada minimal 1 orangtua (38% dan 28%) atau minimal 1 saudara kandung (24% dan 19%).
Bagaimanapun, wanita dengan sindrom disforia pre-menstrual secara signifikan memiliki
anggota keluarga dengan gejala pre-menstrual juga.
Evaluasi morbiditas dari psikiatri pada wanita dengan sindrom pramenstruasi prospektif yang
telah dikonfirmasi dilanjutkan oleh peneliti dari Healthsource Premenstrual Syndrome Program,
Magee-Womens Hospital, and the University of Pittsburgh (Pearlstein et al., 1990). 97 subjek
telah dirujuk untuk evaluasi diagnostik dan pengobatan ketidaknyamanan pramenstruasi. Mereka
diminta untuk menilai gejala mereka secara prospektif setiap hari selama tiga bulan dan
didiagnosis dengan akhir gangguan dysphoric fase luteal sesuai dengan standar yang diterima
( American Psychiatric Association , 1987) . Para penulis berhati-hati untuk memasukkan kriteria
inklusi yaitu peningkatan lebih dari 30 persen di sebagian besar keluhan pramenstruasi mereka
dan tidak ada gangguan postmenstrual yang terdeteksi.
Gangguan kejiwaan didiagnosis dengan Jadwal Affective Disorders dan Skizofrenia, wawancara
semiterstruktur memberikan penjelasan rinci tentang perubahan psikopatologis sekarang dan
masa lalu ( Endicott dan Spitzer , 1978) . Untuk menghindari kebingungan potensial antara
episode panjang akhir luteal fase gangguan dysphoric dan episode singkat depresi, penulis
memutuskan untuk mendiagnosis gangguan mood hanya ketika durasi episode lebih besar dari
satu bulan .
Gangguan kejiwaan masa lalu atau saat ini diidentifikasi dalam 80 (82 persen) dari 97 pasien ini
dengan sindrom pramenstruasi. Sembilan belas wanita (20 persen) ditemukan memiliki

gangguan kejiwaan saat ini, khususnya gangguan depresi (12 pasien), gangguan kecemasan
(enam pasien), skizofrenia atau gangguan schizoaffective ( dua pasien ) , dan penyalahgunaan
obat atau alkohol ( dua pasien ) . Riwayat satu atau lebih gangguan kejiwaan masa lalu ada pada
61 ( 63 persen ) dari kasus . Gangguan paling umum adalah depresi berat ( 37 persen dari seluruh
kelompok ) dan gangguan depresi lainnya ( 19 persen ) . Dari 51 wanita dengan anak-anak yang
termasuk dalam sampel ini , 15 ( 29 persen ) menderita depresi postpartum. Sindrom disetorkan
lainnya termasuk gangguan kecemasan ( 10 persen ) dan penyalahgunaan alkohol atau narkoba
( 9 persen ) . Gangguan kepribadian didiagnosis pada 8 persen subyek dan terdiri dari gangguan
kepribadian avoidant dalam lima pasien , gangguan kepribadian paranoid dalam dua , dan
gangguan kepribadian kompulsif satu .
Kekuatan dysphoria pramenstruasi sebagai prediktor episode depresi utama masa depan yang
prospektif dievaluasi oleh peneliti dari New York State Psychiatric Institute dan Columbia
University, New York ( Graze et al., 1990) . Masalah ini penting , karena sebagian besar pasien
dengan sindrom pramenstruasi memiliki riwayat pribadi masa lalu atau sejarah keluarga penyakit
depresi . Kedua variabel , tentu saja , prediktor kuat dari gangguan afektif berikutnya dan dapat
mengacaukan gambaran klinis khusus untuk sindrom ini .
Subyek direkrut pada 1981-1982 dari kalangan perempuan yang menanggapi pemberitahuan
bahwa sukarelawan dibayar untuk studi karakteristik biologi dan karakteristik mood dari siklus
menstruasi. Kriteria inklusi diperlukan adanya penyakit medis atau kejiwaan saat ini.
Tiga puluh enam subjek yang dievaluasi pada 1984-1985 sebagai bagian dari penelitian ini .
Kehadiran perubahan premenstrual dysphoric dinilai dengan beratnya penilain dari sembilan
item : perasaan tertekan ; memiliki keinginan bunuh diri ; merasa bersalah ; Perasaan " kosong " ;
perasaan sedih atau biru ; merasa kesepian ; memiliki penurunan harga diri ; ingin sendirian ; dan
memiliki pandangan pesimis. Pola temporal perubahan mood ditunjukkan oleh premenstrual
perburukan depresi, perubahan suasana hati , kecemasan , mudah marah , dan penarikan sosial .
Wawancara awal menentukan adanya riwayat keluarga yaitu gangguan afektif mayor dan durasi
episode terpanjang sebelumnya depresi yang dialami oleh subjek . Wawancara tindak lanjut
dipastikan apakah subjek mengalami gejala yang memungkinkan diagnosis depresi berat setelah
pendaftaran .

Pewawancara tidak menyadari diagnosis didirikan pada awal penelitian . Tiga belas pasien (36
persen) memiliki setidaknya satu episode depresi berat selama interval tindak lanjut , yang
berkisar 2,7-4,4 tahun (rata-rata 3,6 tahun ) . Interval tindak lanjut identik untuk sub kelompok
pasien dengan dan tanpa episode depresi mayor baru .
Usia rata-rata dari dua sub kelompok adalah sama ( 33 vs 36 tahun ) . Perbandingan univariat
antara subkelompok menunjukkan frekuensi yang sama gangguan sebelum depresi mayor (77
berbanding 78 persen ) dan riwayat keluarga yang positif ( 54 berbanding 65 persen ) . Indeks
keparahan dysphoria pramenstruasi, yang diukur pada awal penelitian, dua kali lebih tinggi pada
pasien yang berkembang menjadi episode depresi berat di kemudian hari. Analisis bivariat
menunjukkan bahwa tingkat keparahan dysphoria pramenstruasi pada penilaian awal berkorelasi
kuat dengan perkembangan depresi selama masa tindak lanjut .
Indeks keparahan dari dysphoria pramenstruasi, yang diukur pada awal ke dalam penelitian,
adalah dua kali lebih tinggi pada pasien yang mengembangkan sebuah episode dari
depresi mayor di kemudian hari. Analisis bivariat menunjukkan bahwa tingkat keparahan
dysphoria pramenstruasi pada penilaian awal berkorelasi kuat dengan perkembangan depresi
selama periode tindak lanjut. Sebaliknya, tidak di episode depresi sebelumnya ataupun riwayat
keluarga yang depresi berkorelasi secara signifikan dengan hasil sasaran. Hirarki analisis regresi
berganda mengkonfirmasi data ini dan mendirikan tingkat signifikansi 0,01 untuk pentingnya
kontribusi dari dysphoria pramenstruasi untuk terjadinya suatu depresi epidode selama beberapa
tahun ke depan. Korelasi spesifik muncul untuk gejala depresi pramenstruasi, gejala seperti
kecemasan, mudah marah, dan suasana hati yang tidak menentu sepanjang menstruasi yang
siklus tidak memisahkan mereka dengan dan tanpa episode baru depresi mayor.
Para peneliti dari Massachusetts General Hospital, Boston (Bailey dan Cohen, 1999), juga
menilai prevalensi dari suasana aktif dan gangguan kecemasan di kalangan wanita dengan gejala
pramenstruasi. Peserta adalah 206 wanita yang di rekrut untuk uji klinis terapi antidepresan
melalui media iklan atau selebaran yang diterbitkan di pusat kebugaran, pusat kesehatan dan
rumah sakit. Sebuah wawancara skrining mengikuti peringkat gejala harian yang membangun
sebuah diagnosis dari gangguan premenstrual dysporia. Morbiditas psikiatri dinilai dengan
instrumen terstruktur yang meliputi modul untuk suasana hati/ mood (depresi mayor, distimia

dan gangguan bipolar) dan gangguan kecemasan (gangguan kecemasan umum, gangguan panik
dan gangguan obsesif-kompulsif).
Sebagai sebuah kelompok, gangguan mood aktif diidentifikasi pada 23 persen dan gangguan
kecemasan 7persen pada pasien. Sebagai tambahan, 8 persen dari sampel menderita dari
keduanya, baik mood dan gangguan kecemasan. Ketiga paling banyak dalam diagnosis utama
adalah distimia (13 persen), depresi berat (12persen) dan gangguan panik 9 persen. Empat puluh
delapan (60 persen) dari 80 pasien dengan suasana aktif dan atau gangguan kecemasan
sebelumnya tidak pernah didiagnosis.
Prevalensi dari gangguan afektif musiman diantara pasien dengan gangguan premenstrual
disphoria dipelajari/ diteliti di Universitas British Columbia, Vancouver (Maskall dkk, 1997).
Evaluasi klinis dilakukan pada 154 wanita yang dirujuk oleh dokter keluarga mereka untuk
dikonsultasikan ke klinik rawat jalan premenstrual syndrome dan 100 dari mereka ditemukan
memiliki kemungkinan tinggi atau moderat pada gangguan premenstrual dishporia. Diagnosis
berdasarkan pada ketidak strukturalnya wawancara, grafik ulasan, dan bila tersedia buku harian
gejala sebuah kelompok kontrol nonklinik termasuk 50 perempuan mahasiswa kedokteran dan
karyawan rumah sakit. Individu-individu dengan gangguan premenstrual disphoria secara
signifika lebih tua (36 berbanding 28 tahun) dan berberat badan lebih (140 pounds berbanding
126 pound) dari pada dengan subjek kontrol. Dua kelompok yang sama sehubungan dengan
waktu tinggal di daerah Vancouver (21 berbanding 20 tahun). Semua peserta menyelesaikan
sebuah intrumen untuk menilai perubahan perilaku saat tidur, nafsu makan, tingkat energi,
suasana hati dan kegiatan sosial, yakni The Seasonal Pattern Assessment Questionnaire
(Rosenthal dkk, 1987). Instrumen diperbolehkan utuk mengklasifikasikan dari peserta dengan
kasus atau tanpa kasus dari gangguan afektif tertentu yang sesuai dengan kriteria yang telah
ditetapkan (Kasper dkk, 1989).
Prevalensi dari gangguan afektif ini jauh lebih tinggi antara wanita dengan gangguan
premenstruasi disphoria dibandingkan peserta kontrol nonklinis (38 berbanding 8 persen, p
<0,001). Dalam kebanyakan kasus (34 dari 38), gangguan musiman memiliki pola musim dingin,
ditandai dengan hipersomnia dan penambahan berat badan. Analisis setiap item ditunjukkan
dengan memburuknya dari suasana hati yang labil, kelelahan dan hiperfagia pada wanita dengan
gejala premenstruasi. Mayoritas (59 persen) pasien dengan akhir fase luteak disphoria

menunjukkan perubahan gejala premenstruasi mereka, dan hampir setengah dari peserta pada
subsampe ini merasa bahwa perubahan itu ditandai atau berat. Para penulis berfikir bahwa
hubungan penting antara akhir fase luteal gangguan disphoria dan penyakit afektif musiman
adalah dengan ditunjukkannya variasi sebelumnya dari musim panas ke musim dingin pada
ketersediaan serotonin (Brewerton dkk, 1988; Sarrias, dkk 1989).
Pekerjaan yang dilakukan oleh peneliti dari Universitas Vienna, Austria, menegaskan tingginya
prevalesnsi dari gangguan premenstruasi disphoria antara wanita dengan gangguan afektif
musiman (Praschak-Rieder dkk, 2001). Peserta direkrut untuk penelitian yang termasuk dari 46
wanita yang datang ke klinik rawat jalan untuk gangguan afektif musimannya, dan 46 wanita
premenopause sehat yang direkrut melalui ikla di koran lokal. Kriteria ekslusi adalah yang
memiliki gangguan medis berat, penyakit ginekologis atau gangguan kejiwaan (selain gangguan
afektif musiman) dan wanita dengan siklus menstruasi yang tidak teratur. Morbiditas psikatri
dinilai dengan wawancara semi struktur, dan pola musiman dikonfirmasi degan kuesioner yang
telah di validasi (Rosenthal, dkk 1987).
Pasien dengan gangguan afektif musiman yang lebih tua dari subyek kontrol (33 vs 24 tahun).
Mereka telah mengalami gangguan mood untuk rata-rata selama sepuluh tahun dan telah
memiliki rata-rata delapan episode depresi sebelumnya. Dua puluh satu perempuan (46 persen)
dengan gangguan afektif musiman dan satu subjek kontrol yang sehat (2 persen) Kriteria
memenuhi untuk gangguan dysphoric premenstrual (p <0,001). usia pasien tidak berkorelasi
dengan prevalensi dari pramenstruasi dysphoria dalam sampel ini. Kelompok peneliti Austria
yang sama menerbitkan bukti pembentukan peran gen promotor serotonin transporter dari
kelompok tersebut antara sindrom pramenstruasi dan gangguan afektif musiman (PraschakRieder et al., 2002). Polimorfisme gen ini telah diidentifikasi sebagai faktor risiko kelainan mood
musiman (Rosenthal et al., 1998), maupun untuk neurotisisme dan depresi (Lesch et al., 1996).
Penelitian ini menguji hipotesis bahwa risiko sindrom pramenstruasi pada pasien dengan
gangguan afektif musiman memiliki korelasi positif dengan riwayat depresi pada keluarga dan
dengan serotonin transporter promotor repeat length polymorphism (5-HTTLPR). 89 pasien
dengan gangguan afektif musiman dengan tidak ada diagnosis psikiatri saat berpartisipasi dalam
studi. Empat puluh delapan pasien diantaranya memenuhi kriteria untuk gangguan dysphoric
premenstrual (American Psychiatric Association, 1994). Pasien dengan dan tanpa dysphoria

pramenstruasi juga serupa berkaitan dengan usia, jumlah kehamilan, suasana polaritas, dan
variasi musiman global gejala mereka. Anggota keluarga dinilai dengan wawancara terstruktur.
Data biologis diperoleh dengan reaksi rantai polymerase amplifikasi material genomik yang
diisolasi dari inti sel darah.
Riwayat gangguan afektif keluarga meningkat secara signifikan akan kemungkinan terjadinya
sindrom pramenstruasi pada pasien dengan gangguan afektif musiman (odds ratio 3,6; p <0,003).
Adanya heterozigot dalam alel pendek 5-HTTLPR dua kali lipat kemungkinan dari sindrom
pramenstruasi (odds ratio 2,7; p <0,04). polimorfisme spesifik bagian genetik tertentu, yaitu,
kehadiran alel pendek, tidak berkorelasi dengan riwayat gangguan mood keluarga. Data
diinterpretasikan dengan benar untuk menunjukkan bahwa riwayat gangguan mood keluarga
menunjukkan kerentanan genetik yang lebih tinggi untuk sindrom pramenstruasi dan kondisi
yang paling mungkin mengikuti poligenik dari pola waris.
Akhirnya, dalam sebuah studi prospektif jangka panjang hubungan antara dysphoria
pramenstruasi dan gangguan depresi mayor, peneliti dari Rush-Presbyterian-St. Luke Medical
Center dan Rush Medical College di Chicago, Illinois, memantau selama dua tahun delapan
pasien dengan sindrom pramenstruasi dan dipilih secara acak dalam kelompok kontrol (Hartlage
et al., 2001). Kelompok serupa dalam usia, latar belakang etnis, status pekerjaan, dan tingkat
pendapatan. Data yang dikumpulkan dengan wawancara psikiatri yang terstruktur pada awal dan
ulangan selama dua tahun berikutnya. Untuk menghindari data yang tumpang tindih dengan
depresi premenstrual, diagnosis depresi berat dibuat hanya untuk episode yang berlangsung
selama satu bulan atau lebih, lebih baik dari periode hanya selama dua minggu.
Empat dari delapan wanita dengan pramenstruasi dysphoria dan dua dari tujuh subyek kontrol
memiliki riwayat depresi berat. Namun, satu-satunya diagnosis saat ini adalah gangguan fobia
yang diidentifikasi pada salah satu pasien dengan sindrom pramenstruasi. Pada akhir periode
tindak lanjut selama dua tahun, tujuh pasien (88 persen) dan tiga subyek kontrol (33 persen) telah
memiliki setidaknya satu episode depresi berat (p <0,05). Riwayat depresi berat hadir di lima
dari sepuluh peserta dengan episode depresi saat ini (tiga pasien sindrom pramenstruasi dan dua
subyek kontrol). Perhitungan penulis 'menunjukkan bahwa wanita dengan sindrom pramenstruasi
14 kali memungkinkan untuk menjadi gangguan depresi berat, dibandingkan dengan seluruh
kelompok kontrol, dan enam kali lebih mungkin dibandingkan subyek kontrol dengan riwayat

depresi berat. Sebaliknya, wanita dengan depresi berat tiga kali lebih mungkin untuk memiliki
gejala sindrom pramenstruasi dibandingkan dengan orang yang tidak depresi. Data ditafsirkan
untuk mengindikasikan bahwa "efek gangguan dysphoric pramenstruasi terhadap perkembangan
penyakit depresi tampaknya menjadi mandiri dan relevan" (Hartlage et al., 2001, hal. 1575) dan
sindrom pramenstruasi adalah salah satu faktor risiko atau bentuk prodromal untuk depresi berat.
Kesimpulannya, sebagian besar pasien dengan sindrom pramenstruasi sedang atau berat tidak
memiliki gangguan mood saat ini. Penelitian yang prospektif yang dilakukan dalam dekade
terakhir telah menghasilkan bukti yang kuat bahwa wanita dengan sindrom pramenstruasi
dengan riwayat gangguan afektif musiman pada keluarga, depresi berat, atau pramenstruasi
dysphoria berat akan memprediksi tinggi frekuensi episode depresi berikutnya.

1. Esterogen dan depresi


Meningkatnya kadar estrogen dalam darah, yang akan menyebabkan gejala depresi dan
khususnya gangguan mental. Kadar estrogen yang meningkat akan mengganggu proses kimia
tubuh termasuk vitamin B6 (Piridoksin) yang dikenal sebagai vitamin anti depresi karena
berfungsi mengontrol produksi serotonin. Serotonin penting sekali bagi otak dan syaraf, dan
kurangnya persediaan zat ini dalam jumlah yang cukup dapat mengakibatkan depresi. Saat kadar
serotonin rendah, otak mengirim sinyal ke tubuh untuk makan karbohidrat, dimana untuk
merangsang produksi serotonin dari yang alami dengan asam amino building block. Pada kasus
ini wanita ingin mengetahui mengapa nafsu makan mereka menjadi tidak terkontrol dan
semangat hilang selama PMS (Shreeve, 1983, Hacker et, al., 2001 dan Brunner & Suddarth,
2001 ).

Batas tertentu estrogen menyebabkan retensi garam dan air serta berat badannya bertambah.
Mereka yang mengalami akan menjadi mudah tersinggung, tegang dan perasaan tidak enak.
Gejala-gejala dapat dicegah bila pertambahan berat badan dicegah.Peranan estrogen pada Pre
Menstrual Syndrome tidak nyata, sebab ketegangan ini timbul terlambat pada siklus tidak pada
saat ovulasi waktu sekresi estrogen berada pada saat puncaknya. Kenaikan sekresi vasopresin
kemungkinan berperan pada retensi cairan pada saat premenstruasi (Ganong, 2003).

2. Fase luteal dan Serotonin


Fungsi gonad pada wanita secara langsung dikontrol oleh hormonhormon gonadotropik hipofisis
anterior, yaitu follicle-stimulatin hormone (FSH) dan luteinizing hormone (LH). Kedua hormon
ini pada gilirannya diatur oleh gonadotropin-releasing hormone (GnRH) dari hipotalamus yang
sekresinya pulsatif serta efek umpan-balik hormon-hormon gonad (Sherwood, 2001; William,
2001).
Selama fase folikel, folikel ovarium mengeluarkan estrogen di bawah pengaruh FSH, LH dan
estrogen itu sendiri. Kadar estrogen yang rendah tetapi tetap terus meningkat tersebut pertama
menghambat sekresi FSH, yang menurun selama bagian terakhir fase folikel, dan kedua secara

inkomplit menekan sekresi LH, yang terus meningkat selama fase folikel. Pada saat pengeluaran
estrogen mencapai puncaknya, kadar estrogen yang tinggi itu akan memicu lonjakan sekresi LH
pada pertengahan siklus. Lonjakan LH ini menyebabkan ovulasi folikel yang matang. Sekresi
estrogen merosot sewaktu folikel mati pada ovulasi (Sherwood, 2001). Sel-sel folikel lama
diubah menjadi korpus luteum, yang mengeluarkan progesteron serta estrogen selama fase luteal.
Progesteron sangat menghambat FSH dan LH, yang terus menurun selama fase luteal. Korpus
luteum bergenerasi dalam waktu sekitar dua minggu apabila ovum yang dikeluarkan tidak
dibuahi atau tertanam di uterus. Kadar progesteron dan estrogen menurun secara tajam pada saat
korpus luteum berdegenerasi, sehingga pengaruh inhibitorik pada sekresi FSH dan LH lenyap.
Kadar kedua hormon hipofisis anterior ini kembali meningkat dan merangsang berkembangnya
folikel-folikel baru seiring dengan dimulainya fase folikel (Sherwood, 2001).
Fase-fase di uterus yang terjadi pada saat yang bersamaan mencerminkan pengaruh hormonhormon ovarium pada uterus. Pada awal fase folikel, lapisan endometrium yang kaya akan
nutrien dan pembuluh darah terlepas. Pelepasan ini terjadi akibat merosotnya estrogen dan
progesteron ketika korpus luteum tua dan berdegenerasi pada akhir fase luteal sebelumnya. Pada
akhir fase folikel, kadar estrogen yang meningkat menyebabkan endometrium menebal.
Pada fase luteal kadar hormon esterogen dan progesteron tidak seimbang. Secara umum
penurunan level dari hormone gonadal berhubungan dengan penurunan fungsi aktivitas
serotonergic. Sebagai tambahan tampak terjadi penurunan aktivitas dari beberapa serotonergic
selama siklus pada fase luteal yang hanya terjadi pada wanita PMS. Bukti lebih jauh mengenai
keterlibatan system serotonergic pada dysphoric PMS berasal dari penelitian yang menunjukkan
respons positif terhadap pengobatan dengan SRI (Serotonoin reuptake inhibitor) (Eriksson,
1999).

Perubahan dan Proses Psikologis Selama Kehamilan

Permasalahan psikologis selama masa kehamilan dan persalinan adalah suatu kondisi dimana
terjadi peningkatan atau pengurangan emosi, kepribadian, motivasi dan konsep diri yang terjadi
selama masa kehamilan dan persalinan.
Peristiwa dan proses psikologis dapat diidentifikasi sebagai berikut:
a. TrimesterPertama Trimester pertama sering dianggap sebagai periode penyesuaian.
Penyesuaian yang dilakukan wanita adalah terhadap kenyataan bahwa ia sedang mengandung.
Penerimaan terhadap kenyataan ini dan arti semua ini bagi dirinya merupakan tugas psikologis
yang paling penting pada trimester pertama kehamilan.
b. TrimesterKedua . Pada trimester ini pula ibu dapat merasakan gerakan bayinya. Banyak ibu
yang merasa terlepas dari kecemasan dan rasa tidak nyaman seperti yang dirasakan pada
trimester pertama. Pada trimester kedua relatif lebih bebas dari ketidaknyamanan fisik, ukuran
perut belum menjadi suatu masalah, lubrikasi vagina lebih banyak dan hal yang menyebabkan
kebingungan sudah surut, dia telah berganti dari mencari perhatian ibunya menjadi mencari
perhatian pasangannya, semua faktor ini berperan dalam meningkatnya libido dan kepuasan seks.
c. TrimesterKetiga
Seorang ibu mungkin mulai merasa takut akan rasa sakit dan bahaya yang akan timbul pada
waktu melahirkan dan merasa khawatir akan keselamatannya. Rasa tidak nyaman timbul kembali
pada trimester ketiga dan banyak ibu yang merasa dirinya aneh, berantakan, canggung dan jelek
sehingga memerlukan
6perhatian lebih besar dari pasangannya, disamping itu ibu mulai sedih karena akan terpisah dari
bayinya dan kehilangan perhatian khusus yang diterima selama hamil, terdapat perasaan mudah
terluka (sensitif).
Permasalahan Psikologis Yang Memerlukan Penanganan Khusus
Adapun beberapa gejala yang dapat terjadi pada ibu beserta penanganannya, yaitu:
a. Pseudosyesis
- Wanita tidak hamil yang percaya bahwa dirinya hamil, diikuti dengan munculnya
-

gejala dan tanda (dugaan) kehamilan


Lakukan anamnese terarah yang akurat (termasuk latar belakang psikis),
pemeriksaan fisik (khoasma/hiperpegmentasi, pelunakan dan keunguan pada
serviks, pembesaran uterus) dan pemeriksaan tambahan (USG dan uji kehamilan)

Lakukan konseling bahwa kehamilan harus dipastikan (perdarahan lucut dengan


kombinasi estrogen-progesteron), akan dilakukan upaya pemeriksaan dan

pengobatan untuk kehamilan dan dukungan psikososial


b.Reaksicemas
- Gangguan ini ditandai dengan rasa cemas dan ketakutan yang berlebihan
- Kecemasan baru terlihat apabila wanita tersebut mengungkapkannya karena
gejala klinik yang ada, sangat tidak spesifik (twitching, tremor, berdebar-debar,
-

kaku otot , gelisah, dan mudah lelah, insomnia)


Timbul gejala-gejala somatik akibat hiperaktifitas otonom (palpitasi, sesak nafas,

rasa dingin di telapak tangan, berkeringat, pusing, rasa terganjal pada leher)
Tenangkan dengan psikoterapi. Walau kadang kadang upaya ini kurang memberi

hasil tetapi prosedur ini sebaiknya paling pertama dilakukan


Bila pasien tidak mampu untuk melakukan kegiatan sehari-hari atau kekurangan

asupan kalori /gizi maka harus dilakukan rawat inap di rumah sakit.
c. Reaksipanik
- Ditandai dengan rasa takut dan gelisah yang hebat, terjadi dalam periode yang
-

relatif singkat dan tanpa sebab-sebab yang jelas.


Pasien mengeluhkan nafas sesak atau rasa tercekik, telinga berdenging, jantung

berdebar, mata kabur, rasa melayang, takut mati, atau merasa tidak tertolong lagi.
Pemeriksaan fisik menunjukan pasien gelisah dan ketakutan, muka pucat,

pandangan liar, pernafasan pendek, dan cepat dan takhikardi.


Karena reaksi panik hanya berlangsung dalam waktu yang relatif singkat, cukup

diberikan dosis tunggal diazepam 5 mg IV.


d. Reaksiobsesif-kompulsif
- Gambaran spesifik dari gangguan ini adalah selalu timbulnya perasaan,
rangsangan, atau pikiran untuk melakukan sesuatu, tanpa objek yang jelas, diikuti
-

dengan perbuatan yang dilakukan secara berulang kali.


Pengulangan perbuatan tersebut dapat mencelakai dirinya, bayi yang dikandung

atau orang lain.


Adanya potensi gawat darurat pada wanita hamil dengan reaksi obsesifkompulsif menjadi alasan untuk dirawat dirumah sakit atau dalam pengawasan
tim medis yang memadai. Psikoterapi cukup membantu untuk mengembalikan

wanita ini pada status emosional yang normal.


- Pada kasus yang berat diberikan diazepam 5 mg IV dan observasi ketat
e. Depresiberat
- Depresi pada wanita hamil, ditandai oleh perasaan sedih, tidak bergairah,
menyendiri penurunan berat badan, insomnia, kelemahan, rasa tidak dihargai dan

pada kasus yang berat, ada keinginan untuk melakukan bunuh diri.
Penelitian di RS Dr. Sutomo Surabaya (1999) menunjukan angka kejadian depresi
pasca persalinan (Postpartum Blues) sebesar 15,2% (persalinan fisiologis) dan

46,2% (persalinan patologis).


Sulit untuk melakukan komunikasi karena mereka cenderung menarik diri, tidak

mampu berkomunikasi, kurang perhatian dan sulit untuk mengingat sesuatu.


f. Reaksi mania
- Reaksi mania ditandai dengan rasa gembira yang berlebihan (eforia), mudah
-

terangsang, hiperaktif, banyak bicara (logore), mengganggu dan rasa percaya diri
yang berlebihan.
Reaksi mania dalam kehamilan merupakan masalah yang cukup rumit karena obat
lithium karbonat, dapat menimbulkan berbagai akibat yang merugikan pada janin
(Ebsteins abnormality, kelemahan tonus otot dan menurunnya kemampuan

menghisap pada bayi yang baru dilahirkan).


Pasien-pasien yang terkontrol pada saat hamil, cenderung mengalami episode

mania pada 7-14 hari saat pasca persalinan.


g. Skizofrenia
- Skizofrenia ditandai dengan gangguan proses berpikir, persepsi dan realita. Pada
tingkat tertentu, dapat dijumpai halusinasi, waham kebesaran, gangguan bicara
-

dan hilangnya asosiasi dan realita dan lingkungan sekitarnya.


Obat untuk penderita skizofrenia diekskresi melalui ASI sehingga tidak
dianjurkan untuk menyusui bayinya. Bila psikofarmaka tidak dapat digunakan,
dapat digunakan terapi kejut listrik (ECT)

h. Rasakehilangan
-

Rasa kehilangan merupakan adaptasi dari kemarahan, kekecewaan dan kesedihan


yang harus dihadapi dan diatasi.

Lakukan konseling dan minta pasangan tersebut untuk memutuskan apa yang
terbaik bagi yang mereka (menyimpan hasil konsepsi, menyaksikan cacat yang
terjadi, mendekap janin yang telah dilahirkan, meminta otopsi ) agar proses
adaptasi terhadap berjalan baik.

Beri kesempatan (paling tidak 6 bulan) untuk resolusi, sebelum memulai


kehamilan berikutnya.

Gangguan psikologis pada pasangan infertile


Infertilitas merupakan suatu kondisi yang menunjukkan ketidakmampuan suatu pasangan untuk
mendapatkan atau menghasilkan keturunan. Beda halnya infertil yang berarti kekurangmampuan
suatu pasangan untuk menghasilkan keturunan dan bukan ketidakmampuan mutlak.
1.

Penyebab infertilitas
a.

Usia kesuburan untuk pria didapat ketika berusia 24-25 tahun dan 21-24 tahun untuk

wanita, sebelum usia tersebut kesuburan belum benar matang dan setelahnya berangkat
menurun.
b.

Frekuensi hubungan seksual

c.

Lingkungan: baik fisik, kimia, maupun biologi ( radiasi, rokok, narkotik, alkohol, dan

lain-lain).
d. Gizi dan nutrisi terutama kekurangan protein dan vitamin tertentu.
e.

Stress psikis mengganggu siklus haid libido, serta kesulitan spermatocista dan lain-lain.

f.

Kelainan anatomi dan fisiologi saluran reproduksi atau organ reproduksi wanita seperti

vagina, uterus, serviks, tuba fallopi, dan ovarium.


g.

Faktor lain: prolactinoma( tumor pada hipofisis), hiper/hipotiroid (kelebihan /

kekurangan hormon tiroid).


2.

Tanda gejala gangguan psikologis pada wanita infertilitas

Dalam buku psikologi wanita karangan kartini kartono (2006) disebutkan gambaran tentang
gangguan psikologis pada wanita yang infertil yaitu sebagai berikut:
a.

Ada kebiasaan dan religi dari banyak suku bangsa di dunia yang menegaskan bahwa

wanita tiddak mampu melahirkan anak adalah wanita binferior. Hal inilah yang membuat
wanita yang tidak mampu memberikan keturunan menjadi rendah diri dan kehilangan
percaya diri.
b.

Pada beberapa wanita yang lain, selalu berusaha mengingkari trauma sterilitasnya

dengan justifikasi bahwa ia tidak menginginkan kehadiran anak dalam kehidupannya.


c.

Sebagai manifestasi dari sterilitassnya, banyak wanita infertil mengambil substitusi lain

dengan cara mengembangkan hobi, meniti karier, mengadopsi anak, dan lainnya.
d. Setiap kegagalan dan kekecewaan selalu diproyeksikan kepada orang lain.
e.

Adapula wanita steril yang memiliki sifat pseudo-keibuan, menghibur diri dengan

memilih pekerjaan yang bersifat keibuan.


3.

Pengelolaan gangguan psikologis pada infertilitas

Gangguan psikologis pada infeertilitas merupakan siklus yang tidak terputus. Infertilitas dapat
disebabkan oleh adanya gangguan psikologis yang menghambat proses reproduksi itu sendiri dan
dampak dari infertilitas ini juga mengakibatkan gangguan psikologis. Adapun penanganannya
dapat dilakukan dengan konseling baik secara individu atau konseling pasangan, mengingat

kondisi ini melibatkan kedua belah pihak, yaitu suami dan istri.

B. Gangguan Psikologis pada Kehamilan Palsu (Pseudocyesis)


Kehamilan palsu adalah suatu keadaan dimana seorang wanita berada dalam kondisi yang
menunjukkan berbagai tanda dan gejala kehamilan seperti tidak mendapatakan menstuasi,
adanya mual muntah, pembesaran perut, peningkatan berat badan, dan gejala kehamilan lainnya
bahkan kadang kala hasil tes urine dapat menjadi positif palsu(false positive), tetapi
sesungguhnya tidak benar-benar hamil (Suririnah, 2005). Faktor yang sangat sering berhubungan
dengan terjadinya kehamilan palsu adalah faktor emosional/psikis yang menyebabkan kelenjar
pituitari terpengaruh sehingga menyebabkan kegagalan sistem endokrin dalam mengontrol
hormon yang menimbulkan keadaan seperti hamil.

1.

Tanda gejala gangguan psikologis pada pseudocyesis

Wanita dengan pseudocyesis memiliki kondisi psikologis seperti berikut ini:


a.

Adanya sikap yang ambivalen terhadap kehamilannya yaitu ingin sekali menjadi hamil,

sekaligus tidak ingin menjadi hamil. Ingin memiliki anak yang dibarengi dengan rasa takut untuk
menetralisasi keinginan mempunyai anak.
b.

Keinginan untuk menjadi hamil terutama sekali tidak timbul dari dorongan keibuan, akan

tetapi khusus dipacu oleh dendam , sikap bermusuhan, dan harga diri. Sebagai contoh pada
wanita yang steril.
c.

Secara bersamaan muncul kesediaan untuk menyadari sekaligus kesediaan untuk tidak mau

menyadari bahwa kehamilannya adalah ilustrasi belaka.


d. Wanita dengan pseudocyesis tidak terlepas dari pseudologi, yaitu fantasi-fantasi kebohongan
yang selalu ditampilkan ke depan untuk mengingkari hal-hal yang tidak menyenagkan.

2.

Pengelolaan gangguan psikologis pada pseudocyesis

Peristiwa pseudocyesis merujuk pada peristiwa pseudologia, yaitu fantasi-fantasi kebohongan

yang selalu ditampilkan ke depan untuk mengingkari atau menghindari realitas yang tidak
menyenangkan. Wanita pseudocyesis ingin sekali menonjolkan egonya untuk menutupi
kelemahan dirinya, oleh karena itu dipilihlah aliran konseling psikoanalisis dengan menekankan
pentingnya riwayat hidup klien, pengaruh dari pengalaman diri pada kepribadian individu, serta
irasionalitas dan sumber-sumber tak sadar dari tingkah laku manusia. Peran konselor dalam hal
ini adalah menciptakan suasana senyaman mungkin agar klien merasa bebas untuk
mengekspresikan pikiran-pikiran yang sulit. Proses ini bisa dilakukan dengan meminta klien
berbaring di sofa dan konselor di belakang (sehingga tidak terlihat). Konselor berupaya agar
klien mendapat wawasan dengan menyelami kembali dan kemudian menyelesaikan pengalaman
masa lalu yang belum terselesaikan. Dengan begitu klien diharapkan dapat memperoleh
kesadaran diri, kejujuran dan hubungan pribadi yang lebih efektif, dapat menghadapi ansietas
dengan realistis, serta dapat mengendalikan tingkah laku irasional. (Lesmana, 2006).

C. Gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah


1.

Fenomena kehamilan di luar nikah

Remaja bisa saja mengatakan bahwa seks bebas atau seks pranikah itu aman untuk dilakukan.
Namun, bila remaja melihat dan memahami akibat dari perilaku itu, ternyata lebih banyak
membawa kerugian. Salah satu risikonya adalah kehamilan di luar nikah. Sungguh merupakan
suatu permasalahan kompleks yang dapat menghancurkan segalanya, masa muda, pendidikan,
kepercayaan dan kebanggan orang tua, serta pandangan negatif dari masyarakat. Selain itu,
kehamilan yang tidak diinginkan yang juga mengarah pada tindakan aborsi kriminalis.
2.

Tanda gejala gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah

Umumnya kehamilan di luar nikah dialami oleh remaja, dimana remaja dengan rentang usia 1219 tahun memiliki kondisi psikis yang labil, karena masa ini merupakan masa transisi dan
pencarian jati diri. Dengan kehamilan di luar nikah banyak permasalahan yang akan dihadapi
oleh remaja natara lain adalah sebagai berikut:
a.

Timbulnya perasaan takut dan bingung yang luar biasa, terutama pada wanita yang menjadi

objek akan merasakan ketakutan besar terhadap respons orang tua, dan biasanya mereka
menutupi kehamilannya hingga didapatkan tindakan lain.
b.

Rasa ketakutan jika kekasih yang menghamilinya tidak mau bertanggung jawab dan tidak

mau menolongnya keluar dari kondisi yang rumit itu.


c.

Cemas jika sampai teman-temannya mengetahui, apalagi pihak sekolah yang mungkin saja

akan mengeluarkannya dari bangku sekolah.


d. Rasa takut yang timbul karena ia sangat tidak siap menjadi seorang ibu.
e.

Timbul keinginan untuk mengakhiri kehamilannya dengan aborsi (Kartono, K., 2007).

3.

Pengelolaan gangguan psikologis pada kehamilan di luar nikah

Penatalaksanaan yang bisa dilakukan guna menangani permasalahan ini adalah dengan konseling
humanistik, dimana manusia sebagai individu berhak menentukan sendiri keputusannya dan
selalu berpandangan bahwa pada dasarnya manusia itu adalah baik (Rogers, 1971). Sebagai
konselor yang ingin memberikan konseling perlu memiliki 3 karakter seperti berikut ini:
a.

Empati, adalah kemampuan konselor untuk merasakan bersama dengan klien, usaha berpikir

bersama tentang dan untuk mereka (klien).


b.

Positive regard (acceptance), yaitu menghargai klien dengan berbagai kondisi dan

keberadaannya.
c.

Congruence (genuineness), adalah kondisi transparan dalam hubungan terapeutik.

Oleh karena itu, di dalam menghadapi permasalahan kehamilan di luar nikah bagi para remaja,
maka bidan dapat mmemberikan konseling bersama yaitu konseling keluarga, antara remaja itu
sendiri, konselor dan pihak keluarga, mengingat orang tua masih memiliki andil yang besar pada
kehidupan anak remaja mereka (Lesmana, 2006).

D. Gangguan psikologis pada kehamilan yang tidak dikehendaki


1.

Permasalahan pada kehamilan yang tidak dikehendaki

Kehamilan yang tidak dikehendaki tidak hanya terjadi pada remaja akibat hubungan yang
terlampau bebas, tetapi juga pada wanita yang telah menikah sebagai akibat dari kegagalan
kontrasepsi dan penolakan pada jenis kelamin bayi yang ia kandung.
2.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada wanita dengan kehamilan yag tidak dikehendaki

a.

Pada kehamilan yang tidak dikehendaki, wanita merasa bahwa janin yang dikandungnnya

bukanlah bagian dari dirinya dan berusaha untuk mengeluarkan dari tubuhnya melalui tindakan
seperti aborsi.
b.

Beberapa wanita bersikap katif-agresif , mereka sangat marah dan dendam pada kekasih dan

suaminya yang merasa sanggup menanggung konsekuensi dari tindakannya. Selain itu, calon
bayinya dianggap sebagai beban dan malapetaka bagi dirinya.
3.

Pengelolaan gangguan psikologis pada wanita dengan kehamilan yang tidak dikehendaki

Penanganan dalam masalah ini tidak jauh berbeda dengan penanganan pada kehamilan di luar
nikah. Perbedaannya hanya pada teknik konselingnaya-karena kehamilan ini terjadi pada wankta
yang telah menikah- yaitu dengan konseling pasangan.

E. Gangguan psikologis pada kehamilan dengan keguguran


1.

Konsep keguguran / abortus

Abortus spontan adalah suatu keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup
hidup sendiri di luar uterus (berat 400-1.000 gram atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu),
sedangan abortus kriminalis adalah abortus yang terjadi karena tindakan-tindakan yang tidak
legal atau tidak berdasarkan indikasi medis (Rustam, M., 1998).
2.

Faktor penyebab abortus

a)

Kemiskinan atau ketidakmampuan ekonomi.

b) Ketakutan terhadap orang tua.

c)

Moralitas sosial.

d) Rasa malu dan aib.


e)

Hubungan cinta yang tidak harmonis.

f)

Pihak pria yang tidak bertanggung jawab.

g) Kehamilan yang tidak diinginkan.

3.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada abortus

a)

Reaksi psikologis wanita terhadap keguguran bergantung pada konstitusi psikisnya sendiri.

b)

Menimbulkan Sindrom Pasca-abortus yang meliputi menangis terus-menerus , depresi

berkepanjangan, perasaan bersalah, ketidakmampuan untuk memaafkan diri sendiri, kesedihan


mendalam, amarah, kelumpuhan emosional, problem atau kelainan seksual, kekacauan pola
makan, perasaan rendah diri, penyalahgunaan alcohol dan obat-obatan terlarang, mimpi-mimpi
buruk dan gangguan tidur lainnya, dorongan untuk bunuh diri, kesulitan dalam relasi serangan
gelisah dan panik, serta selalu melakukan kilas balik.

4.

Pengelolaan Gangguan Psikologis Pada Wanita Pasca-abortus

Sindrom Pasca-abortus berada dalam kategori kekacauan akibat stress pasca-trauma. The
American Psychiatric Assosiation (APA) menjelaskan bahwa kekacauan akibat stress pacatrauma terjadi apabila orang mengalami suatu peristiwa yang melampaui batas pengalaman
manusia biasa, di mana pengalaman ini hampir dipastikan akan mengguncangkan jiwa siapa saja.
Sindrom pasca-abortus ditangani dengan konseling kejiwaan dan psikologis, namun demikian
penyembuhan secara rohani juga diperlukan. Pada dasarnya, terapi konseling untuk wanita postaborsi tidak jauh berbeda dengan konseling karena kehilangan, dimana dalam konseling ini harus
memperhatikan setiap fase dalam penerapannya.

F. Gangguan Psikologi pada Kehamilan dengan Janin Mati

Kematian janin merupakan hasil akhir dari gangguan pertumbuhan janin, kegawatan janin, dan
akibat infeksi yang tidak terdiagnosis sebelumnya sehingga tidak terobati ( Saipuddin, A.B,
2007).
1.

Tanda dan Gejala Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Janin Mati

Ibu dan bayi yang meninggal pada periode perinatal akan mengalami kesedihan yang mendalam.
Selama kehamilan mereka telah mulai mengenali dan merasa dekat dengan bayinya. Ibu yang
mengalami proses kehilangan/kematian janin dalam kandungan akan merasakan kehilangan.
Pada proses berduka ini, ibu memperlihatkan perilaku yang khas dan merasakan reaksi
emosional tertentu, yang dapat dikelompokkan dalam berbagai tahapan berikut.
a.

Menolak (denial). Ketika disampaikan janinnya mati,reaksi ibu pertama kali adalah syok dan

menyangkal bahwa janinnya telah mati.


b.

Marah (anger). Beberapa ahli menyebutkan ini sebagai tahap pencarian. Orang tua/ibu

marah, mengapa bayinya sampai bisa meninggal.


c.

Tawar-menawar ( bargaining). Dalam fase ini ortu/ibu akan mulai menawar, seandainya

bayinya tidak meninggal ia akan melakukan hal tertentu asal bayinya tetap hidup.
d.

Depresi ( depression). Emosi predominan dalam fase ini adalah kesedihan berduka diiringi

dengan kehilangan, mereka menolak dan menarik diri, orang tua mungkin akan mengalami
kesulitan untuk kembali ke kehidupan normal sehari-hari.
e.

Menerima (acceptance). Fase akhir dari berduka meliputi penerimaan rasa kehilangan dan

kembali ke aktivitas normal sehari-hari. Hal yang sangat personal ini membutuhkan waktu
berbulan-bulan.
2.

Pengelolaan gangguan psikologis pada kehamilan dengan janin mati

Dalam memberikan bantuan dan konseling pada ibu dengan janin mati harus disesuaikan dengan
fase dimana ia berada. Dengan memperhatikan hal itu diharapkan bantuan yang diberikan adalah
bantuan yang tepat,bukan bantuan yang justru membuat keadaan semakin kacau.

G. Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Ketergantungan Obat

Kehamilan dengan ketergantungan obat didefinisikan sebagai kondisi suatu kehamilan, dimana
terdapat pola penggunaan zat psikoaktif dan zt lain yang memiliki implikasi berbahaya bagi
wanita dan janinnya atau bbl (Varney,2007).
1.

Jenis-jenis obt yang menimbulkan ketergantungan

a.

Antikolinergik

Yaitu jenis obat yang memberikan efek menenangkan,membuat pemakai tidak atau kurang
mampu merasakan sensasi. Banyak digunakan dalam tindakan medis seperti anestesi
(pembiusan), meliputi Atropin, Beladona, dan Skopolamin.
b.

Kanabis/ganja

Yaitu jenis-jenis obat yang tergolong dalam kelas Canabis sativa atau tanaman rami. Tanaman
semak/perdu yang tumbuh secara liar di hutan yang mana daun, bunga, dan biji kanabis
berfungsi untuk relaksan dan mengatasi keracunan ringan (infoksikasi ringan). Jenisnya antara
lain adalah Mariyuana, Tetra hidrocanabinol (THC), dan Ganja.
c.

Sedative pada susunan system saraf pusat

Yaitu bebagai jenis obat-obatan yang mampu menenangkan atau menjadikan fase relaksasi pada
system SSP, yaitu barbiturate, klordiazepoksid, diazepam, flurazepam, glutetimida, dan
meprobamat.
d. Stimulant pada SSP
Yaitu berbagai jenis obat-obatan yang mampu menstimulasi kerja SSP yang terdiri atas
antiobesitas, amfetamin, kokain, metilfedinat, metaqualon, dan fenmetrazin.
e.

Halusinogen

Yaitu berbagai jenis obat-obatan yang memberikan efek rasa sejahtera dan euphoria ringan, serta
membuat pemakainya berhalusinasi, yaitu LSD, ketamin, meskalin, dimetiltriptamin, dan
fensiklidin.
f.

Opiate/narkotik

Opiate atau opium adalah bubuk yang dihasilkan langsung oleh tanaman yang bernama Poppy /
Papaver Sonmiverum dimana didalam tanaman tersebut terkandung morfin yang sangat baik

untuk menghilangkan rasa saikit dan kodein yang berfungsi sebagai antitusif.jenisnya antara lain
adalah kodein, heroin, hidromorfon, meperidin, morfin, opium, pentazosin, dan tripelenamin.

2.

Tanda dan gejala gangguan psikologis pada kehamilan dengan ketergantungan obat

a.

Wanita dengan ketergantungan obat cenderung memiliki angka depresi, kepanikan, dan

fobia yang lebih tinggi dari pria, sehingga jika ia dalam masa kehamilan akan memberikan
dampak buruk bagi janinnya.
b.

Wanita dengan ketergantungan obat merasa dirinya tidak hamil, sehingga ia cenderung

mengingkari kehamilannya.
c.

Wanita hamil dengan ketergantungan obat sangat beresiko terlambat dalam melakukan

perawatan prenatal. Mereka enggan berinteraksi dengan system perawatan kesehatan, terutama
jika mereka mereka menggunakan obat-obatan terlarang yang menyebabkan meraka ketakutan
terhadap implikasi hukum.
d.

Terdapat perasaan berdosa dalam dirinya karena kehamilannya, sehingga takut bayi yang ia

kandung juga akn mengalami hal seperti dirinya.


e.

Bagi wanita dengan adiksi yang tidak mau bergerak ke siklus pemulihan, setiap

kekhawatiran pada bayinya mungkin dikesampingkan oleh kekhawatirannya mendapatkan obat.


f.

Adakalanya kehamilan menjadi katalis untuk memulai siklus pemulihan pada wanita dengan

ketergantungan obat.

3.

Penanganan Gangguan Psikologis pada Kehamilan dengan Ketergantungan Obat

a.

Ketergantungan obat merupakan suatu kondisi yang tercipta karena adanya pengaruh

lingkungan dan factor kebiasaan


b.

Dalam penanganan permasalahan ini perlu dilakukan konseling dengan pendekatan

behavioristik, dimana konselor membantu klien untuk belajar bertindak dengan cara-cara yang
baru dan pantas, atau membantu mereka untuk memodifikasi atau mengeliminasi tingkah laku
yang berlebih dan maladatif

c.

Tujuan dari konseling yang diberikan adalah untuk mengubah tungkah laku yang maladatif

dsn belajar tingkah laku yang lebih efektif. Memfokuskan pada faktor-faktor yang
memepengaruhi tingkah laku dan menemukan cara untuk mengatasi tingkah laku yang
bermasalah. Dalam hal ini bidan harus mampu untuk mengubah tingkah laku maladatifnya, yang
tentunya melalui tahapan-tahapan dan proses yang kontinu.
d. Riwayat pasien yang lengkap dengan pertanyaan secara spesifik sangat penting diperoleh
bertujuan mendeteksi penyalahgunaan zat, sehingga akan dapat diperoleh factor-faktor yang
mempengaruhi ketergantungan obat pada wanita tersebut. Bidan harus mengerti bahwa wanita
sering kali menggunakan lebih dari 10 zat, contohnya, wanita yang menggunakan sedatif
mungkin juga menggunakan stimulasi
e.

Bidan harus mampu memberikan penguatan/reinforcement dan terus memberikan dukungan

pada wanita dalam setiap tahap perubahan tingkah laku pemulihannya, dan juga menanamkan
pengertian akan berharganya sang buah hati, yang dapat mendorong wanita untuk melakukan
proses pemulihan. Bidan harus memberikan dukungan kontinu pada wanita saat melakukan
pemulihan dan pola kekambuhan adiksi.
f.

Jadilah pendengar yang baik bagi wnaita dengan ketergantungan zat, karena sering kali

penerimaan yang baik menimbulkan kepercayaan dan rasa tenang bagi wanita.
g.

Dengan perawatan yang terus-menerus,bidan dapat bekerja untuk meminimalkan komplikasi

ibu dan janin, mendorong pengurangan zat dan mendukung siklus pemulihan.
h. Bidan perlu berkolaborasi dengan tim kesehatan yang lain dalam proses pemulihan , yaitu
dengan perawat, dokter, dan psikolog, serta melibatkan keluarga dalam proses pemulihan.

Depresi Saat Kehamilan


Kehamilan merupakan waktu transisi, yakni suatu masa antara kehidupan sebelum
memiliki anak yang sekarang berada dalam kandungan dan kehidupan nanti setelah anak tersebut
lahir. Perubahan status yang radikal ini dipertimbangkan sebagai suatu krisis disertai periode
tertentu untuk menjalani proses persiapan psikologis yang secara normal sudah ada selama
kehamilan dan mengalami puncaknya pada saat bayi lahir.
Secara umum, semua emosi yang dirasakan oleh wanita hamil cukup labil. Ia dapat
memiliki reaksi yang ekstrem dan susana hatinya kerap berubah dengan cepat. Reaksi emosional
dan persepsi mengenai kehidupan juga dapat mengalami perubahan. Ia menjadi sangat sensitif
dan cenderung bereaksi berlebihan. Seorang wanita hamil akan lebih terbuka terhadap dirinya
sendiri dan suka berbagi pengalaman kepada orang lain. Ia merenungkan mimpi tidurnya, anganangannya, fantasinya, dan arti kata-katanya, objek, peristiwa, konsep abstrak, seperti kematian,
kehidupan, keberhasilan, dan kebahagiaan. Ia dapat mengidentifikasi bentuk-bentuk fisik yang
berhubungan erat dengan masa usia subur atau mencukupkan diri dengan kehidupan atau
makanan.
Selama kehamilan berlangsung, terdapat rangkaian proses psikologis khusus yang jelas,
yang terkadang tampak berkaitan erat dengan perubahan biologis yang sedang terjadi. Peristiwa
dan proses psikologis ini dapat diidentifikasi pada trimester ketiga dan pembagian trimester ini
akan digunakan pada diskusi berikut. Respons psikologis umum terhadap kehamilan yang baru
saja dibahas dan proses manapun peristiwa psikologis khusus lain dapat lain dapat terulang lagi.
Departemen Kesehatan dan Layanan Kemanusiaan telah melaporkan bahwa 1 dari 8
orang akan mengalami gangguan depresi dan jumlah tersebut hampir 2 kali lipat pada wanita
(Depression Gideline Panel, 1993).

Insiden

Walaupun perubahan fisiologis dan psikologis muncul selama kehamilan dan dalam
waktu 9 bulan kehamilan insidens gangguan emosional yang serius sebenarnya rendah tetapi
pada beberapa wanita perlu penanganan adekuat.
Insidens gangguan jiwa pada kehamilan lebih rendah dibanding post partum dan di luar
kehamilan. Post partum 10-15%, diluar kehamilan 2-7%.
Namun Ohara melaporkan bahwa 10% wanita hamil memenuhi syarat mengalami depresi
mayor dan minor.

Etiologi
Hasil penelitian sampai saat ini menunjukkan etiologi yang multifaktorial. Beberapa
faktor yang dilaporkan seperti faktor hormonal, neuroendokrin, biokemikal, psikologik, sosial,
budaya, genetik dan kepribadian, atau hubungan timbal balik diantara faktor-faktor tersebut.
Eskirol sejak tahun 1845 telah menghubungkan faktor keturunan penyebab gangguan
tersebut.
Salah satu dari banyak teori yang berhubungan dengan psikopatologi menyangkut hal
melahirkan anak adalah bahwa beberapa penelitian epidemiologi melaporkan gangguan mental
menjadi bertambah berat selama kehamilan, disamping faktor fisiologis mayor yang diturunkan
dan stres psikologis.
Sejauh ini belum ada mekanisme biokimia seperti hormonal atau neuroendokrin yang
jelas. Dalton menyatakan progesteron yang tiba-tiba rendah menyebabkan penyakit mental pada
masa nifas. Salah satu hal yang memegang peranan penting adalah ketidakseimbangan antara
hormon estrogen dan progesteron.

Pengaruh psikologis pada kehamilan


Kehamilan, disamping memberi kebahagiaan yang luar biasa, juga sangat menekan jiwa
sebagian besar wanita. Pada beberapa wanita dengan perasaan ambivalen mengenai kehamilan,

stres mungkin meningkat. Respon terhadap stres mungkin dapa tterlihat bervariasi yang tampak
atau tidak tampak. Sebagai contoh, sebagian besar wanita mengkhawatirkan apakah bayinya
normal. Pada mereka yang memiliki janin dengan resiko tinggi untuk kelainan bawaan, stres
meningkat (Tunis & Golbus, 1991). Selama kehamilan dan terutama mendekati akhir kehamilan,
harus dibuat rencana untuk perawatan anak dan perubahan gaya hidup yang akan terjadi setelah
kelahiran. Pada sejumlah wanita, takut terhadap nyeri melahirkan sangat menekan jiwa.
Pengalaman kehamilan mungkin dapat diubah oleh komplikasi medis dan obstetrik yang dapat
terjadi. Burger dkk. (1993) telah menunjukkan bahwa wanita dengan komplikasi kehamilan
adalah 2 kali cenderung memiliki ketakutan terhadap kelemahan bayi mereka atau menjadi
depresi.

Pemeriksaan prenatal
Sebaiknya masalah mengenai kesehatan mental dibicarakan. Skrining penyakit mental
sebaiknya dilakukan pada pemeriksaan prenatal pertama. Ini mencakup riwayat gangguan
psikiatrik dahulu, termasuk rawat inap dan rawat jalan.
Penilaian gangguan cemas dan mood dalam kehamilan mencakup pemeriksaan medis
dasar yang sesuai dalam hal ini termasuk pemeriksaan darah lengkap, fungsi tiroid, ginjal dan
hati. Disarankan juga pemeriksaan toksikologi urin.
Penggunaan obat psikoaktif sebelumnya atau saat ini seperti juga penggunaan alkohol
dan obat terlarang perlu dicatat. Gejala-gejala yang menunjukkan disfungsi mental sebaiknya
diperiksa. Kondisi seperti kecemasan dan depresi mungkin berhubungan dengan peningkatan
resiko kelahiran prematur (Paarlberg dkk, 1996).
Masa kehamilan dibagi menjadi tiga periode atau trimester, masing-masing selama 13
minggu. Kehamilan itu unik pada setiap wanita.
A. Trimester Pertama
Trimester pertama sering dianggap sebagai periode penyesuaian terhadap kenyataan
bahwa ia sedang mengandung. Sebagian besar wanita merasa sedih dan ambivalen tentang

kenyataan bahwa ia hamil. Kurang lebih 80% wanita mengalami kekecewaan, penolakan,
kecamasan, defresi, dan kesedihan.
Fokus wanita adalah pada dirinya sendiri yang akan menimbulkan ambivalensi mengenai
kehamilannya seiring usahanya menghadapi pengalaman kehamilan yang buruk, yang pernah ia
alami sebelumnya, efek kehamilan terhadap kehidupannya kelak ( terutama jika ia memiliki
karir), tanggung jawab yang baru atau tambahan yang akan ditanggungnya, kecemasan yang
akan berhubungan dengan kemampuannya untuk menjadi seorang ibu, masalah-masalah
keuangan dan rumah tangga, dan keberterimaan orang terdekat terhadap kehamilannya. Perasaan
ambivalen ini biasanya berakhir dengan sendirinya seiring ia menerima kehamilannya, sementara
itu, beberapa ketidaknyamanan pada trimester pertama, seperti nausea, kelemahan, perubahan
nafsu makan, kepekaan emosional, semua ini dapat mencerminkan konflik dan defresi yang ia
alami dan pada saat bersamaan hal-hal tersebut menjadi pengingat tentang kehamilannya.
Trimester pertama sering menjadi waktu yang menyenangkan untuk melihat apakah
kehamilan akan dapat berkembang dengan baik. Hal ini akan terlihat jelas terutama pada wanita
yang telah beberapa kali mengalami keguguran dan bagi para tenaga kesehatan profesional
wanita yang cemas akan kemungkinan terjadi keguguran kembali atau teratoma.
Berat badan sangat bermakna bagi wanita hamil selama trimester pertama. Berat badan
dapat menjadi salah satu uji realitas tentang keadaannya karena tubuhnya menjadi bukti nyata
bahwa dirinya hamil.
Validasi kehamilan dilakukan berulang-ulang saat wanita mulai memeriksa dengan
cermat setiap perubahan tubuh, yang merupakan bukti adanya kehamilan. Bukti yang paling kuat
adalah terhentinya menstruasi.
Hasrat seksual pada trimester pertama sangat bervariasi antara wanita yang satu dan yang
lain. Meski beberapa wanita mengalami peningkatan hasrat seksual, tetapi secara umum
trimester pertama merupakan waktu terjadinya penurunan libido dan hal ini memerlukan
komunikasi yang jujur dan terbuka terhadap pasangan masing-masing.
Banyak wanita merasakan kebutuhan kasih sayang yang besar dan cinta kasih tanpa seks.
Libido secara umum sangat dipengaruhi oleh keletihan, nausea, depresi, payudara yang

membesar dan nyeri, kecemasan, kekhawatiran, dan masalah-masalah lain merupakan hal yang
sangat normal terjadi pada trimester pertama.
B. Trimester Kedua
Trimester kedua sering dikenal sebagai periode kesehatan yang baik, yakni periode ketika
wanita merasa nyaman dan bebas dari segala ketidaknyamanan yang normal dialami saat hamil.
Namun, trimester kedua juga merupakan fase ketika wanita menelusur ke dalam dan paling
banyak mengalami kemunduran. Trimester kedua sebenarnya terbagi atas dua fase: praquickening dan pasca-quickening. Quickening menunjukkan kenyataan adanya kehidupan yang
terpisah, yang menjadi dorongan bagi wanita dalam melaksanakan tugas psikologis utamannya
pada trimester kedua, yakni mengembangkan identitas sebagai ibu bagi dirinya sendiri, yang
berbeda dari ibunya.
Pada trimester kedua, mulai terjadi perubahan pada tubuh. Orang akan mengenali Anda
sedang hamil. Pada akhir trimester kedua, rahim akan membesar sekira 7,6 cm di atas pusar.
Pertambahan berat badan rata-rata 7,65-10,8 kg termasuk pertambahan berat dari trimester
pertama. Janin mulai aktif bergerak pada periode ini.
Sebagian besar wanita merasa lebih erotis selama trimester kedua, kurang lebih 80%
wanita mengalami kemajuan yang nyata dalam hubungan seksual mereka dibanding pada
trimester pertama dan sebelum hamil. Trimester kedua relatif terbebas dari segala
ketidaknyamanan fisik, dan ukuran perut wanita belum menjadi masalah besar, lubrikasi vagina
semakin banyak pada masa ini, kecemasan, kekhawatiran dan masalah-masalah yang
sebelumnya menimbulkan ambivalensi pada wanita tersebut mereda, dan ia telah mengalami
perubahandari seorang yang mencari kasih sayang dari ibunya menjadi seorang yang mencari
kasih sayang dari pasangannya, dan semua faktor ini turut mempengaruhi peningkatan libido dan
kepuasan seksual.
C. Trimester Ketiga
Trimester ketiga sering disebut periode penantian dengan penuh kewaspadaan. Pada
periode ini wanita mulai menyadari kehadiran bayi sebagai makhluk yang terpisah sehingga ia
menjadi tidak sabar menanti kehadiran sang bayi. Ada perasaan was-was mengingat bayi dapat

lahir kapanpun. Hal ini membuatnya berjaga-jaga sementara ia memperhatikan dan menunggu
tanda dan gejala persalinan muncul.
Trimester ketiga merupakan waktu persiapan yang aktif terlihat dalam menanti kelahiran
bayi dan menjadi orang tua sementara perhatian utama wanita terfokus pada bayi yang akan
segera dilahirkan. Pergerakan janin dan pembesaran uterus, keduanya menjadi hal yang terus
menerus mengingatkan tentang keberadaan bayi. Wanita tersebut lebih protektif terhadap
bayinya. Sebagian besar pemikiran difokuskan pada perawatan bayi. Ada banyak spekulasi
mengenai jenis kelamin dan wajah bayi itu kelak.
Sejumlah ketakutan muncul pada trimester ketiga. Wanita mungkin merasa cemas dengan
kehidupan bayi dan kehidupannya sendiri. Seperti: apakah nanti bayinya akan lahir abnormal,
terkait persalinan dan pelahiran (nyeri, kehilangan kendali, hal-hal lain yang tidak diketahui),
apakah ia akan menyadari bahwa ia akan bersalin, atau bayinya tidak mampu keluar karena
perutnya sudah luar biasa besar, atau apakah organ vitalnya akan mengalami cedera akibat
tendangan bayi.
Ia juga mengalami proses duka lain ketika ia mengantisipasi hilangnya perhatian dan hak
istimewa khusus lain selama kehamilan, perpisahan antara ia dan bayinya yang tidak dapat
dihindari, dan perasaan kehilangan karena uterusnya yang penuh secara tiba-tiba akan
mengempis dan ruang tersebut menjadi kosong. Depresi ringan merupakan hal yang umum
terjadi dan wanita dapat menjadi lebih bergantung pada orang lain lebih lanjut dan lebih menutup
diri karena perasaan rentannya.
Wanita akan kembali merasakan ketidaknyamanan fisik yang semakin kuat menjelang
akhir kehamilan. Ia akan merasa canggung, jelek, berantakan, dan memerlukan dukungan yang
sangat besar dan konsisten dari pasangannya. Pada pertengahan trimester ketiga, peningkatan
hasrat seksual yang terjadi pada trimester sebelumnya akan menghilang karena abdomennya
yang semakin besar menjadi halangan. Alternatif untuk mencapai kepuasan dapat membantu atau
dapat menimbulkan perasaan bersalah jika ia merasa tidak nyaman dengan cara-cara tersebut.
Berbagi perasaan secara jujur dengan pasangan dan konsultasi mereka dengan anda menjadi
sangat penting.

Dengan demikian resiko dan penyebab yang terkait, seperti tersebut diatas dapat sebagai
pencetus terjadinya reaksi-reaksi psikologis mulai tingkat gangguan emosional yang ringan
ketingkat gangguan jiwa yang serius.

Penatalaksanaa
Perencanaan kehamilan sangat penting pada wanita yang di diagnosis depresi atau mania,
sebaiknya kehamilannya perlu direncanakan atau dikonsultasikan dengan ahli kebidanan dan
kandungan, dan psikiater tentang masalah resiko dan keuntungan setiap pemakaian obat-obat
psikofarmakologi.
Rawat inap sebaiknya dipikirkan sebagai pilihan pengobatan psikofarmakologis pada
trimester I untuk kasus kehamilan yang tidak direncanakan, dimana pengobatan harus dihentikan
segera dan apabila terdapat riwayat gangguan afektif rekuren.
Penggunaan antidepresan trisiklik sebaiknya hanya pada pasien hamil yang mengalami
depresi berat yang mengeluhkan gejala vegetatif dari depresi, seperti : menangis, insomnia,
gangguan nafsu makan dan ada ide-ide bunuh diri. Psikoterapi harus digunakan bila ada konflik
intrapsikis yang berhubungan dengan kehamilan. Terapi perilaku kognitif sangat menolong
pasien depresi dan dapat digunakan bersama antidepresan. Terapi elektrokompulsif ( ECT )
digunakan pada pasien depresi psikotik untuk mendapatkan respon yang lebih cepat, bila
kehidupan ibu dan anak terancam. Belum ada hubungan yang jelas antara penggunaan
nortriptilin, desipramin atau golongan Selective SerotoninReuptake Inhibitors (SSRIs) adalah
anti depresan pilihan untuk wanita hamil, mencakup fluoksetindan sertralin, tidak menyebabkan
hipotensi ortostatik, konstipasi atau sedasi.
Pengobatan depresi dengan elektrosyok selama kehamilan belum diteliti lebih mendalam.
Sebuah tulisan oleh Repke dan Berger (1984) mengatakan bahwa tidak berbahaya bagi janin
pada beberapa terapi. Griffiths dkk(1989) melaporkan hasil wanita yang menjalani 11
pengobatan dari 23 31 minggu. Mereka menggunakan thiamilal dan suksinilkolin, inkubasi dan
ventilasi selama tiap pengobatan. Mereka menemukan bahwa jumlah epinefrin dan norepinefrin,
dopamin plasma meningkat 2 sampai 3 kali lipat selama elektrosyok. Disamping itu denyut

jantung janin meningkat dan denyut jantung ibu,tekanan darah dan saturasi oksigen tetap normal.
Varandkk (1985) menjelaskan deselerasi denyut jantung janin yang bervariasi sebagai tanda khas
kompresi akar saraf selama terapi elektrokompulsif. Sherer dkk (1991) menjelaskan bahwa
wanita yang menjalani pengobatan elektrokompulsif anterpartum mingguan dimulai pada umur
kehamilan 30 minggu. Setiap pengobatan diikuti dengan hipertensi, hipertonisitas uterus dan
perdarahan uterus, ternyata kemudian diketahui penyebabnya adalah karena abrupsi placenta.

2.2 Depresi Pasca Kehamilan


Sebagian perempuan menganggap bahwa masamasa setelah melahirkan adalah masa
masa sulit yang akan menyebabkan mereka mengalami tekanan secara emosional. Gangguan
gangguan psikologis yang muncul akan mengurangi kebahagiaan yang dirasakan, dan sedikit
banyak mempengaruhi hubungan anak dan ibu dikemudian hari. Hal ini bisa muncul dalam
durasi yang sangat singkat atau berupa serangan yang sangat berat selama berbulanbulan atau
bertahun tahun lamanya.
Secara umum sebagaian besar wanita mengalami gangguan emosional setelah
melahirkan. Clydde (Regina dkk, 2001), bentuk gangguan postpartum yang umum adalah
depresi,

mudah

marah

dan

terutama

mudah

frustasi

serta

emosional.

angguan mood selama periode postpartum merupakan salah satu gangguan yang paling sering
terjadi pada wanita baik primipara maupun multipara. Menurut DSM-IV, gangguan pascasalin
diklasifikasikan dalam gangguan mood dan onset gejala adalah dalam 4 minggu pascapersalinan.
Ada 3 tipe gangguan mood pascasalin, diantaranya adalah maternity blues, postpartum
depression dan postpartum psychosis ( Ling dan Duff, 2001).
Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Paltiel (Koblinsky dkk, 1997), bahwa ada
3 golongan gangguan psikis pascasalin yaitu postpartum blues atau sering disebut juga sebagai
maternity blues yaitu kesedihan pasca persalinan yang bersifat sementara. Postpartum depression
yaitu depresi pasca persalinan yang berlangsung sampai berminggu minggu atau bulan dan
kadang ada diantara mereka yang tidak menyadari bahwa yang sedang dialaminya merupakan
penyakit. Postpartum psychosis, dalam kondisi seperti ini terjadi tekanan jiwa yang sangat berat

karena bisa menetap sampai setahun dan bisa juga selalu kambuh gangguan kejiwaannya setiap
pasca melahirkan.
Depresi postpartum pertama kali ditemukan oleh Pitt pada tahun 1988. Pitt ( Regina dkk,
2001 ), depresi postpartum adalah depresi yang bervariasi dari hari ke hari dengan menunjukkan
kelelahan, mudah marah, gangguan nafsu makan, dan kehilangan libido ( kehilangan selera
untuk berhubungan intim dengan suami ). Masih menurut Pitt ( Regina dkk, 2001) tingkat
keparahan depresi postpartum bervariasi. Keadaan ekstrem yang paling ringan yaitu saat ibu
mengalami kesedihan sementara yang berlangsung sangat cepat pada masa awal postpartum,
ini disebut dengan the blues atau maternity blues. Gangguan postpartum yang paling berat
disebut psikosis postpartum atau melankolia. Diantara 2 keadaan ekstrem tersebut terdapat
kedaan yang relatif mempunyai tingkat keparahan sedang yang disebut neurosa depresi atau
depresi postpartum.

Skrining untuk gangguan mood postpartum


Meskipun telah beberapa kali kontak dengan para profesional medis selama periode pascamelahirkan, pasien sering mengabaikan penyakit postpartum afektif. Terlalu sering, depresi
pascamelahirkan dianggap sebagai konsekuensi normal atau alami dari melahirkan.
Perempuan sering melaporkan bertahannya gejala depresi selama berbulan-bulan sebelum
memulai pengobatan. Meskipun gejala depresi dapat muncul spontan, banyak perempuan masih
tertekan satu tahun setelah melahirkan.
Memprediksi siapa yang berisiko terkena penyakit jiwa pasca persalinan sangat sulit.
Individu yang berisiko terbesar sering memiliki sejarah depresi terdahulu atau psikosis
pascamelahirkan, sejarah gangguan mood pada diri pasien atau keluarga, atau depresi selama
kehamilan saat ini. Faktor risiko lain termasuk dukungan sosial yang tidak memadai,
ketidakpuasan perkawinan atau perselisihan, dan peristiwa negative yang baru saja terjadi seperti
kematian dalam keluarga, kesulitan keuangan, atau kehilangan pekerjaan. Penyaringan semua ibu
selama periode antepartum dan postpartum sangat diindikasikan.

Penyaringan perempuan untuk gejala depresi selama kehamilan juga dapat membantu
untuk mengidentifikasi perempuan berisiko lebih tinggi untuk depresi pascamelahirkan. The
Edinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) adalah sebuah kuisioner yang digunakan secara
ekstensif untuk deteksi depresi pasca-melahirkan. Skor 10 atau lebih pada EPDS atau jawaban
afirmatif untuk pertanyaan 10 (kehadiran pikiran untuk bunuh diri) membutuhkan evaluasi yang
lebih menyeluruh. EPDS dapat ditambahkan pada bayi baik rutin dan kunjungan pediatrik.
Tidak ada manfaat lebih telah ditunjukkan dari satu alat skrining atas alat skrining yang
lain. Menggunakan 2 pertanyaan berikut mungkin sama efektifnya dengan alat yang lebih
panjang, meskipun mereka belum divalidasi di latar belakang budaya yang berbeda:

Selama 2 minggu terakhir Anda merasa down, depresi, atau putus asa?

Selama 2 minggu terakhir Anda merasa sedikit ketertarikan atau kesenangan dalam
melakukan sesuatu?
Dalam sebuah studi tentang depresi pascamelahirkan antara perkotaan, ibu yang

berpenghasilan rendah, Chaudron et al menemukan bahwa, meskipun EPDS, Beck Depression


Inventory II (BDI-II), dan Postpartum Depression Screening Scale (PDSS) memiliki akurasi
tinggi dalam mengidentifikasi depresi, skor ini mungkin perlu untuk diubah dalam populasi ini
untuk mengidentifikasi depresi lebih akurat. Dalam penelitian, yang meliputi 198 ibu dari bayi
yang

berumur sampai 14 bulan, sensitivitas dan kekhususan masing-masing alat skrining

dihitung dibandingkan dengan diagnosis gangguan depresi mayor atau depresi minor yang dibuat
atas dasar diagnostik wawancara psikiatri. Nilai optimal untuk BDI-II ( 14 untuk depresi mayor
dan 11 untuk depresi minor) dan EPDS ( 9 untuk depresi mayor dan 7 untuk depresi minor)
lebih rendah dari yang direkomendasikan saat ini. Untuk PDSS, nilai optimal sesuai dengan
pedoman saat ini untuk depresi mayor ( 80) tetapi lebih tinggi dari yang direkomendasikan
untuk depresi minor ( 77).

Baby blues

Definisi
Baby blues adalah suatu gangguan psikologis sementara yang ditandai dengan
memuncaknya emosi pada minggu pertama setelah melahirkan.
Menurut Cunningham, baby blues adalah gangguan suasana hati yang berlangsung
selama 3-6 hari pasca melahirkan.
Epidemiologi
Baby blues sudah dikenal sejak lama. Savage pada tahun 1875 telah menulis referensi di
literatur kedokteran mengenai suatu keadaan disforia ringan pasca-salin yang disebut sebagai
milk fever karena gejala disforia tersebut muncul bersamaan dengan laktasi. Dewasa ini, baby
blues syndrome atau sering juga disebut maternity blues atau postpartum blues dimengerti
sebagai suatu sindroma gangguan afek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelah
persalinan, dan ditandai dengan gejala-gejala seperti: reaksi depresi/sedih/disforia, menangis,
mudah tersinggung (iritabilitas), cemas, labilitas perasaan, cenderung menyalahkan diri sendiri,
gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
Gejala-gejala ini mulai muncul setelah persalinan dan pada umumnya akan menghilang
dalam waktu antara beberapa jam sampai beberapa hari. Namun pada beberapa minggu atau
bulan kemudian, bahkan dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat. Baby blues ini
dikategorikan sebagai sindrom gangguan mental yang ringan oleh sebab itu sering tidak
dipedulikan sehingga tidak terdiagnosis dan tidak ditatalaksana sebagaimana seharusnya,
akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan dan dapat membuat
perasaan-perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, dan bahkan kadang-kadang
gangguan ini dapat berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi dan psikosis
pasca-salin, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan
perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya.
Dalam dekade terakhir ini, banyak peneliti dan klinisi yang memberi perhatian khusus
pada gejala psikologis yang menyertai seorang wanita pasca salin, dan telah melaporkan
beberapa angka kejadian dan berbagai faktor yang diduga mempunyai kaitan dengan gejalagejala tersebut. Berbagai studi mengenai baby blues syndrome di luar negeri melaporkan angka
kejadian yang cukup tinggi dan sangat bervariasi antara 26-85%, yang kemungkinan disebabkan
karena adanya perbedaan populasi dan kriteria diagnosis yang digunakan.

Etiologi
Penelitian menunjukkan penyebab baby blues syndrome adalah faktor hormonal yang
akan mempengaruhi keadaan kimiawi otak. Itu merupakan proses biologis dan bukan merupakan
kesalahan seorang ibu atau bergantung pada kepribadian yang lemah. Baby blues syndrome
terjadi 50-80% pada ibu baru. Kondisi ini ditunjukkan dengan peningkatan respon emosi. Ibu
baru akan menunjukkan mood yang mudah berubah, mudah menangis, gelisah, irritabilitas,
kesulitan tidur dan merasa tidak sehat.
Lebih dari 50% dari ibu yang mengalami depresi sebelumnya setelah melahirkan anak
akan menjadi depresi kembali pada kelahiran berikutnya. Wanita akan lebih rentan apabila pada
saat hamil mereka sudah mengalami depresi atau memiliki gejala mood premenstruasi sebelum
hamil. Apabila wanita tersebut mengalami depresi selama hidupnya, risiko untuk berkembang
menjadi postpartum depression juga akan meningkat dari 10 sampai 25% begitu pula dengan
wanita yang mengidap penyakit bipolar (manic-depressive illness) akan menempatkan wanita
pada peningkatan risiko untuk mengalami postpartum depression.
Ibu yang melahirkan bayi dengan berat badan di bawah normal cenderung 3,64 kali
berpeluang lebih besar mengalami baby blues dibandingkan dengan ibu yang melahirkan bayi
dengan berat badan normal.
Ketidakseimbangan hormonal.
Jumlah hormon wanita seperti estrogen dan progesteron meningkat secara tajam pada
saat kehamilan. Pada minggu-minggu setelah melahirkan, jumlah hormon estrogen dan
progesteron lebih menurun dari jumlah sebelum kehamilan. Fluktuasi tiba-tiba pada tingkat
hormonal ini berhubungan dengan gejala dari depresi yang dialami seorang ibu baru. Wanita
lebih rentan pada ketidakseimbangan hormonal dari pria. Itu disebabkan terjadinya reaksi kimia
antara hormon dan otak yang meningkatkan risiko terjadinya baby blues syndrome.
Hormon Thyroid.
Kelenjar thyroid berukuran kecil dan terletak di leher. Beberapa wanita mengalami
penurunan hormon thyroid setelah melahirkan. Rendahnya hormon thyroid akan menyebabkan
gejala depresi, irritabilitas, berkurangnya minat pada aktivitas biasa, kelemahan dan peningkatan
berat badan. Akan tetapi tidak semua wanita mengalami baby blues syndrome akibat
ketidakseimbangan hormon thyroid.

Perubahan gaya hidup.


Ibu baru mengalami banyak perubahan gaya hidup, dan beberapa diantaranya akan
berkontribusi dalam terjadinya baby blue syndrome. Lingkungan yang meningkatkan risiko
gejala baby blues syndrome antara lain:

Perubahan jadwal sehari-hari akibat bayi yang baru lahir


Kepikiran pada berat badan dan bentuk tubuh setelah hamil
Kelelahan dan kurang tidur setelah melahirkan anak
Sedikitnya dukungan dalam merawat bayi
Khawatir akan kemampuan untuk menjadi ibu yang baik depresi
Yang perlu diperhatikan sementara perubahan gaya hidup meningkatkan risiko menjadi

depresi pada beberapa wanita, lainnya dapat mengatasi perubahan tersebut tanpa mengalami.
Patofisiologi
Baby blues bisa disebabkan oleh beberapa faktor antara lain faktor biologis dan faktor
emosi. Ketika bayi lahir, terjadi perubahan level hormon yang sangat mendadak pada ibu.
Hormon kehamilan (estrogen dan progesteron) secara mendadak mengalami penurunan 72 jam
setelah melahirkan dan juga disertai penurunan kadar hormon yang dihasilkan oleh kelenjar
tiroid yang menyebabkan mudah lelah, penurunan mood, dan perasaan tertekan serta di lain sisi
terjadi peningkatan dari hormon menyusui.
Perubahan hormon yang cepat inilah bisa mencetuskan terjadinya baby blue syndrome.
Level neurosteroid berasal dari hormon progesteron yang mengalami fluktuasi selama siklus
menstruasi dan memuncak saat kehamilan. Hormon sex yang dinamakan neurosteroid berikatan
dengan beberapa tipe reseptor termasuk reseptor GABAA untuk memodulasi eksitabilitas dari sel
otak. Kekurangan delta subunit reseptor GABA A pada wanita menunjukkan sikap depresi dan
gangguan cemas setelah melahirkan. Pemberian antidepresan saat kehamilan akan berefek
panjang pada sistem serotonin dan berpengaruh pada sensitivitas reseptor GABAA.
Sebagian besar ibu tidak siap untuk untuk menghadapi kelahiran bayinya, mereka juga
sangat khawatir bayi mereka yang terkena penyakit jaundice dan kesulitan makan yang
merupakan memiliki masalah kesehatan yang umum bagi bayi. Selain itu, ibu yang pertama kali
memiliki bayi merasa tidak sanggup merawat bayinya seorang diri di rumah baik itu dari segi
kasih sayang maupun dari segi finansial. Baby blues syndrome juga sangat mungkin terjadi oleh

para ibu yang pernah mengalami trauma melahirkan atau mengalami kejadian yang sangat
menyedihkan selama mengandung.
Gambaran Klinis
Baby blues syndrome ditandai perasaan sedih, seperti menangis, perasaan kesepian atau
menolak bayi, cemas, bingung, lelah, merasa gagal dan tidak bisa tidur. Baby blues syndrome
relatif ringan dan biasanya berlangsung 2 minggu. Perbedaan dengan postpartum depression
adalah pada frekuensi, intensitas dan lamanya durasi gejala. Dalam postpartum depression,
gejala yang lebih sering, lebih intens dan lebih lama.
Beberapa gejala baby blue syndrome:1-3
1.
2.
3.
4.
5.

Dipenuhi oleh perasaan kesedihan dan depresi disertai dengan menangis tanpa sebab
Mudah kesal, mudah tersinggung dan tidak sabar
Tidak memiliki atau kurang bertenaga
Cemas, merasa bersalah dan tidak berharga
Menjadi tidak tertarik dengan bayi atau menjadi terlalu memperhatikan dan kuatir

terhadap bayinya
6. Tidak percaya diri
7. Sulit beristirahat dengan tenang atau tidur lebih lama
8. Peningkatan berat badan yang disertai dengan makan berlebihan
9. Penurunan berat badan yang disertai tidak mau makan
10. Perasaan takut untuk menyakiti diri sendiri atau bayinya
Berikut adalah perbedaan gejala klinis dari baby blues syndrome, postpartum depression
dan postpartum psychotic:
Tabel 1. Perbedaan gejala klinis dari baby blues syndrome, postpartum depression dan
postpartum psychotic.

Baby Blues Syndrome


Terjadi pada 30-75% ibu

melahirkan
Gangguan suasana hati

dan pikiran (mood)


Munculnya rasa sedih
Murung, gelisah, tidak

nyaman
Kebingungan

yang

Postpartum Depression
Terjadi pada 10-15% ibu

melahirkan
Gangguan suasana hati
dan

pikiran

merata
Mudah/sering menangis
Hampir selalu sulit tidur

Postpartum Psychotic
Terjadi pada 0,1-0,2%

ibu melahirkan
Depresi

gangguan mood
Khayalan yang

dengan

perasaan tertekan yang

(bayi

dengan
kacau

cacat/meninggal,

mengingkari

kelahiran,

subjektif
Menjadi

menangis
Kadang sulit tidur
Terjadi 3-5 hari setelah

melahirkan
Berlangsung
beberapa

mudah/sering

hari

Terjadi antara 3-6 bulan

menganggap

setelah

belum

melahirkan,

dirinya
menikah,

biasanya 12 minggu
Berlangsung
selama

perawan, terus menerus

beberapa

bulan,

diri, mudah terpengaruh,

selama

tidak

mendapatkan

sampai

perawatan bisa mencapai

beberapa minggu
Tanpa pemicu khusus
Tidak
dipengaruhi

beberapa tahun
Pemicu utama

meragukan

bila

memberontak)
Mengeluh letih,
bisa

terjadi

keyakinan

tidur,

tidak

gelisah,

menangis, emosi tidak

bila tidak mendapatkan

terkendali,

kondisi social budaya

dukungan

bingung, bukan dirinya

dan tingkat ekonomi


Bisa terjadi pada orang

dan/atau

anggota

keluarga
Sangat

dipengaruhi

yang tidak pernah dan


berasal

dari

anggota
mengalami

suami

kondisi social budaya

keluarganya yang tidak


pernah

dari

sendiri,

kata-kata

menyakitkan,

dan tingkat ekonomi


Sangat erat hubungannya

obsesi

pada kesehatan bayi.


Mengeluh tidak bisa
berdiri,

tidak

bisa

berjalan/bergerak
Terjadi beberapa hari.

penyimpangan mood
Tidak berpikir ingin

dengan

bunuh diri
Jarang ada yang berpikir

yang

pernah/sedang

setelah kelahiran, hampir

dialami.

Bisa

selalu dalam kurun 8

ingin

menyakiti
tidak

merasa

bersalah

tidak berdaya.
Bisa kembali

penyimpangan

sang

bayi
Hampir

dukungan dan bantuan


anggota

keluarga

Rata-rata

terjadi

lain

keluarga

penyimpangan mood.
Kadang berpikir ingin

mengalami

menyakiti sang bayi.


Sering
merasa

2-3

minggu
50%
berasal

mengalami

berlebihan

bisa membuat sang ibu


baru tersebut tenang

mood

keluarga lainnya pernah

dan

dengan sendirinya bila

pada ibu yang anggota

pernah

normal

pengalaman

curiga,

yang

minggu

dari
pernah

penyimpangan mood.
Ingin bunuh diri atau
membunuh sang bayi.

merasa

Bisa merasa ada suara-

tidak

suara yang menyuruhnya

bersalah

dan

berdaya
Perlu

mendapatkan

bantuan dan treatment

bunuh

diri

atau

membunuh sang bayi


Dari populasi penderita,

5%

bunuh

diri,

membunuh

bayinya,

67%
kejadian

4%

mengalami
kedua

kali

penyimpangan

emosional

(affective

disorder)

sepanjang

tahun
Proses kelahiran menjadi
salah satu ketegangan
yang
menjadi

berkembang
penyimpangan

mood yang hebat


Harus
mendapatkan
bantuan,

pengawasan

dan treatment
Berikut adalah perbedaan antara baby blues syndrome dengan postpartum depression.
Tabel 2. Perbedaan baby blues dan postpartum depression
Karakteristik
Insidens

Baby Blues Syndrome

Postpartum Depression

30-75% dari wanita yang

10-15% dari wanita yang

melahirkan

melahirkan
Dalam waktu 3-6 bulan setelah

Onset

3 5 hari setelah melahirkan

Durasi

Hari sampai minggu

Stressor terkait
Pengaruh sosial dan

Tidak ada
Tidak ada; ada dalam semua

budaya
Riwayat gangguan mood
Riwayat gangguan mood

budaya dan kelas sosioekonomi


Tidak ada hubungan

dalam keluarga
Rasa sedih
Mood labil

melahirkan
Bulan sampai tahun jika tidak
diobati
Ada, terutama kurang dukungan
Ada hubungan yang kuat
Ada hubungan yang kuat

Tidak ada hubungan

Ada hubungan

Ada
Ada

Ada
Sering pada awalnya kemudian

Anhedonia
Gangguan tidur
Keinginan untuk bunuh
diri
Keinginan untuk

Ada
Kadang-kadang

depresi secara bertahap


Sering
Hampir selalu

Tidak ada

Kadang-kadang

Jarang

Sering

menyakiti bayi
Rasa bersalah,

Tidak ada, jika ada biasanya

ketidakmampuan

ringan

Sering dan biasanya berat

Rujukan: Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & Sadocks Synopsis of Psychiatry: Behavioral Sciences/Clinical
Psychiatry. 10th edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2007.

Diagnosis
Baby blues syndrome adalah tekanan atau stress yang dialami oleh seorang wanita pasca
melahirkan karena penderita beranggapan bahwa kehadiran bayi akan mengganggu atau merusak
suatu hal dalam hidupnya seperti karier, kecantikan/penampilan dan aktivitas rutin yang
dianggap penting dalam hidupnya. Penderita baby blues syndrome kebanyakannya adalah
kalangan wanita karier, artis, model dan wanita modern tetapi sindrom ini tidak menutup
kemungkinan menyerang pada wanita muda (pernikahan dini) dan semua wanita pasca
melahirkan.
Perubahan sikap yang negatif dengan kondisi emosional yang kurang terkontrol seperti
sering marah, cepat tersinggung, dan menjauh dari bayi yang baru dilahirkan, susah tidur dan
tiba-tiba sering menangis. Apabila ini tidak segera ditangani berdampak negatif terhadap
kesehatan jiwa penderita. Sindrom ini umumnya terjadi dalam 14 hari pertama setelah
melahirkan, dan cenderung lebih buruk sekitar hari ketiga atau empat setelah persalinan.
Seseorang terdiagnosis baby blues syndrome apabila terlihat secara psikologis kejiwaannya
seperti di bawah ini:

Perasaan cemas, khawatir ataupun was was yang berlebihan, sedih, murung, dan

sering menangis tanpa ada sebab (tidak jelas penyebabnya).


Seringkali merasa kelelahan dan sakit kepala dalam beberapa kasus sering migrain.
Perasaan ketidakmampuan, misalnya dalam mengurus anak.
Adanya perasaan putus asa

Jika pasien mengalaminya lebih dari 2 minggu, bisa jadi pasien mengalami postpartum
depression. Apabila gejala diatas tidak disadari dan lama kelamaan tekanan atau stres yang

dirasakan semakin kuat atau semakin besar maka penderita akan mengalami depresi pasca
melahirkan yang berat.
Jika telah mengalami hal ini maka diperlukan penanganan secara berkala, gejala dari
depresi tersebut adalah:

Kelelahan yang berkepanjangan, susah tidur, dan insomnia.


Hilangnya perasaan bahagia dan minat untuk melakukan hal-hal yang menyenangkan.
Tidak memperhatikan diri sendiri dan menarik diri dari keluarga dan teman.
Tidak memperhatikan atau bahkan perhatian yang berlebihan pada anak.
Perasaan takut telah menyakiti anak.
Tidak tertarik pada seks.
Perasaan berubah-ubah dengan ekstrim, terganggu proses berpikir dan konsentrasi.
Kesulitan dalam membuat keputusan sederhana.

Sampai saat ini belum ada alat test khusus yang dapat mendiagnosa secara langsung
postpartum blues. Secara medis, dokter menyimpulkan beberapa simptom yang tampak dapat
disimpulkan sebagai gangguan depresi postpartum blues bila memenuhi kriteria dan gejala yang
ada. Kekurangan hormone thyroid yang ditemukan pada individu yang mengalami kelelahan luar
biasa (fatique) ditemukan juga pada ibu yang mengalami postpartum blues mempunyai jumlah
kadar thyroid yang sangat rendah.
Skrining untuk mendeteksi gangguan mood/depresi sudah merupakan acuan pelayanan
pasca salin yang rutin dilakukan. Untuk skrining ini dapat dipergunakan beberapa kuesioner
dengan alat bantu. Endinburgh Postnatal Depression Scale (EPDS) merupakan kuesioner dengan
validasi yang teruji yang dapat mengukur intensitas perubahan perasaan depresi selama 7 hari
pasca salin. Pertanyaan-pertanyaan berhubungan dengan labilitas perasaan, kecemasan, perasaan
bersalah serta mencakup hal-hal lain yang terdapat pada postpartum blues. Kuesiner ini terdiri
dari 10 pertanyaan, dimana setiap pertanyaan memiliki 4 pilihan jawaban yang mempunyai nilai
skor dan harus dipilih satu sesuai dengan gradasi perasaan yang dirasakan ibu pasca salin saat
itu. Pertanyaan harus dijawab sendiri oleh ibu dan rata rata dapat diselesaikan dalam waktu 5
menit, nilai scoring lebih besar 12 memiliki sensitifitas 86% dan nilai prediksi positif 73% untuk
mendiagnosis postpartum blues. EPDS dapat dipergunakan dalam minggu pertama pasca salin
dan bila hasilnya meragukan dapat diulangi pengisiannya 2 minggu kemudian.
Penatalaksanaan

Disebabkan keparahan postpartum blues biasanya ringan dan menghilang secara spontan,
tidak ada pengobatan khusus selain dukungan dan reassurance yang diindikasikan. Gejala-gejala
yang timbul mungkin menyebabkan penderitaan tetapi biasanya tidak mempengaruhi
kemampuan ibu untuk berfungsi dan merawat bayinya. Konsultasi kejiwaan umumnya tidak
diperlukan. Namun, pasien harus diinstruksikan untuk menghubungi dokter kandungan atau
primary care providernya jika gejala menetap lebih dari dua minggu untuk menidentifikasi dini
gangguan afektif yang lebih parah. Wanita dengan riwayat penyakit jiwa, terutama depresi
postpartum harus dipantau lebih dekat karena mereka berisiko lebih tinggi untuk terkena
penyakit nifas yang signifikan.1
Postpartum blues seringkali terabaikan dan tidak ditangani dengan baik. Banyak ibu yang
berjuang sendiri dalam beberapa saat setelah melahirkan. Mereka merasakan ada suatu yang
salah namun mereka sendiri tidak benar-benar mengetahui apa yang sedang terjadi. Apabila
mereka pergi mengunjungi dokter atau sumber-sumber lainnya untuk minta pertolongan,
seringkali hanya mendapatkan saran untuk beristirahat atau tidur lebih banyak, tidak gelisah,
minum obat atau berhenti mengasihani diri sendiri dan mulai merasa gembira menyambut
kedatangan bayi yang mereka cintai. Penangganan gangguan mental pascasalin pada prinsipnya
tidak berbeda dengan penangganan gangguan mental pada momen-momen lainnya. Para ibu
yang mengalami postpartum blues membutuhkan pertolongan yang sesungguhnya. Para ibu ini
membutuhkan dukungan psikologis seperti juga kebutuhan fisik lainnya yang harus juga
dipenuhi. Mereka membutuhkan kesempatan untuk mengekspresikan pikiran dan perasaan
mereka dari situasi yang menakutkan. Mungkin juga mereka membutuhkan pengobatan dan/atau
istirahat, dan seringkali merasa gembira mendapat pertolongan praktis. Dengan bantuan dari
teman dan keluarga, mereka mungkin perlu untuk mengatur atau menata kembali kegiatan rutin
sehari-hari, atau mungkin menghilangkan beberapa kegiatan, disesuaikan dengan konsep mereka
tentang keibuan dan perawatan bayi.
Bila memang diperlukan dapat diberikan pertolongan dari para ahli, misalnya dari
seorang psikolog atau konselor yang berpengalaman dalam bidang tersebut. Para ahli obstetri
memegang peranan penting untuk mempersiapkan para wanita untuk kemungkinan terjadinya
gangguan mental pasca-salin dan segera memberikan penangganan yang tepat bila terjadi
gangguan tersebut, bahkan merujuk kepada para ahli psikologi/konseling bila memang
diperlukan. Dukungan yang memadai dari para petugas obstetri, yaitu: dokter dan bidan/perawat

sangat diperlukan, misalnya dengan cara memberikan informasi yang memadai/adekuat tentang
proses kehamilan dan persalinan, termasuk penyulit-penyulit yang mungkin timbul dalam masamasa tersebut serta penangganannya. Postpartum blues juga dapat dikurangi dengan cara belajar
tenang dengan menarik nafas panjang dan meditasi, tidur ketika bayi tidur, berolahraga ringan,
ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu, tidak perfeksionis dalam hal menguruskan bayi,
membicarakan rasa cemas dan mengkomunikasikannya, bersikap fleksibel, bergabung dengan
kelompok ibu-ibu baru.
Dalam penangganan para ibu yang mengalami postpartum blues dibutuhkan pendekatan
menyeluruh/holistik. Pengobatan medis, konseling, emosional, bantuan-bantuan praktis dan
pemahaman secara intelektual tentang pengalaman dan harapan-harapan mereka mungkin pada
saat-saat tertentu. Secara garis besar dapat dikatakan bahwa dibutuhkan penanganan ditingkat
perilaku, emosional, intelektual, social dan psikologis secara bersama-sama dengan melibatkan
lingkungannya yaitu: suami, keluarga, dan juga teman dekatnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadocks comprehensive textbook of psychiatry. 7 th
edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins; 2000.
2. Sadock BJ, Sadock VA. Kaplan & sadocks synopsis of psychiatry: behavioral
sciences/clinical psychiatry. 10th edition. New York: Lippincott Williams & Wilkins;
2007.
3. Ryan D. Psychiatric disorders in the postpartum period. BC Med Journal. 2005; 47:1003
4. Mansur, Herawati. 2009. Psikologi Ibu dan Anak untuk Kebidanan. Salemba Medika:
Jakarta.