Anda di halaman 1dari 10

MAKANAN PEDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)

Dr. Suparyanto, M.Kes


MAKANAN PEDAMPING AIR SUSU IBU (MP-ASI)

PENGERTIAN MAKANAN PENDAMPING ASI


Makanan pendamping ASI adalah makanan yang diberikan pada anak usia 624 bulan. Peranan
makanan tambahan sama sekali bukan untuk menggantikan ASI melainkan untuk melengkapi ASI. Jadi,
makanan pendamping ASI harus tetap diberikan kepada anak, paling tidak sampai usia 24 bulan
(Yesrina, 2000).
Makanan Pendamping ASI adalah makanan atau minuman yang mengandung gizi diberikan
kepada bayi/anak untuk memenuhi kebutuhan gizinya (Utami, 2006).
TUJUAN PEMBERIAN MP-ASI
Tujuan pemberian makanan pendamping ASI adalah untuk menambah energi dan zat-zat gizi
yang diperlukan bayi karena ASI tidak dapat memenuhi kebutuhan bayi secara terus menerus. (Yesrina,
2000). Dengan demikian makanan tambahan diberikan untuk mengisi kesenjangan antara kebutuhan
nutrisi total pada anak dengan jumlah yang didapatkan dari ASI (WHO, 2003).
DAMPAK MEMBERIKAN MP-ASI TERLALU DINI

a. Risiko jangka pendek


Pengenalan makanan selain ASI kepada diet bayi akan menurunkan frekuensi dan intensitas
pengisapan bayi, yang akan merupakan risiko untuk terjadinya penurunan produksi ASI.
Pengenalan serealia dan sayur-sayuran tertentu dapat mempengaruhi penyerapan zat besi dari
ASI sehingga menyebabkan defisiensi zat besi dan anemia.

Resiko diare meningkat karena makanan tambahan tidak sebersih ASI.

Makanan yang diberikan sebagai pengganti ASI sering encer, buburnya berkuah atau berupa sup
karena mudah dimakan oleh bayi. Makanan ini memang membuat lambung penuh, tetapi memberi
nutrient lebih sedikit daripada ASI sehingga kebutuhan gigi/nutrisi anak tidak terpenuhi.

Anak mendapat faktor pelindung dari ASI lebih sedikit, sehingga resiko infeksi meningkat.

Anak akan minum ASI lebih sedikit, sehingga akan lebih sulit untuk memenuhi kebutuhan nutrisi
anak

Defluk atau kolik usus yaitu istilah yang digunakan bagi kerew

elan atau tangisan yang terus menerus bagi bayi yang dipercaya karena adanya kram di dalam
usus.

Risiko jangka panjang


1.Obesitas
Kelebihan dalam memberikan makanan adalah risiko utama dari pemberian makanan yang
terlalu dini pada bayi. Konsekuensi pada usia-usia selanjutnya adalah terjadi kelebihan berat badan
ataupun kebiasaan makan yang tidak sehat.
2.Hipertensi
Kandungan natrium dalam ASI yang cukup rendah ( 15 mg/100 ml). Namun, masukan dari diet
bayi dapat meningkatkan drastis jika makanan telah dikenalkan. Konsekuensi dikemudian hari akan
menyebabkan kebiasaan makan yang memudahkan terjadinya gangguan/hipertensi.
3.Arteriosklerosis

Pemberian makanan pada bayi tanpa memperhatikan diet yang mengandung tinggi energi dan
kaya akan kolesterol serta lemak jenuh, sebaliknya kandungan lemak tak jenuh yang rendah dapat
menyebabkan terjadinya arteriosklerosis dan penyakit jantung iskemik.
4.Alergi Makanan
Belum matangnya sistem kekebalan dari usus pada umur yang dini dapat menyebabkan alergi
terhadap makanan. Manifestasi alergi secara klinis meliputi gangguan gastrointestinal, dermatologis, dan
gangguan pernapasan, dan sampai terjadi syok anafilaktik.(Cox, 2006)
TANDA-TANDA BAYI SUDAH SIAP DIBERIKAN MP-ASI
1.
Mempunyai kontrol yang baik terhadap kepala dan leher.
2.

Sudah bisa duduk sendiri

3.

Menunjukkan ketertarikan terhadap makanan.

4.

Lidah tetap di dalam saat sendok dimasukkan ke dalam mulutnya.

5.

Terbiasa pada tekstur dan makanan baru

6.

Menggapai makanan atau benda lain, meraih dan memasukkannya ke dalam mulut.

7.

Memindahkan sendok dari satu tangan ke tangan yang lainnya

8.
Bila sudah kenyang, bisa menunjukkannya dengan cara memalingkan kepala atau dengan
menutup mulut rapat-rapat. (Almatseir, 2001)
TANDA BAYI SUDAH SIAP DIBERI MP-ASI MENURUT (WHO, 2003) ADALAH :
1.
Dapat mengendalikan lidahnya lebih baik

2.

Mulai melakukan gerakan mengunyah keatas dan ke bawah

3.

Suka memasukkan sesuatu ke dalam mulutnya

4.

Berminat terhadap rasa yang baru

5.

Pada usia ini juga sistem pencernaan sudah cukup matang untuk mencerna berbagai makanan

WAKTU PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)


Makanan pendamping ASI harus mulai diberikan ketika bayi tidak lagi mendapat cukup energi
dan nutrient dari ASI saja. Untuk kebanyakan bayi, makanan tambahan mulai di berikan pada usia 6
bulan. Pada usia ini otot dan saraf di dalam mulut bayi cukup berkembang untuk memamah. Sebelum
usia 4 bulan, bayi akan mendorong makanan keluar dari mulutnya karena mereka belum bisa
mengendalikan gerakan lidahnya dengan baik (WHO, 2003)
JENIS MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)
Jenis makanan pendamping ASI yang diberikan oleh menurut WHO, adalah sebagai berikut :
1.

Bubur / sup dari makanan pokok (serealia, umbi-umbian dan buah-buahan yang bertepung )

2.

Kacang-kacangan (Misalnya merah, kacang polong dan kacang hijau)

3.

Sumber makanan hewani (makanan dari hewan)

4.

Sayuran berdaun hijau dan buah-buahan

5.

Minyak, lemak dan gula.

ALASAN MPASI DIBERIKAN PADA USIA 6 BULAN


ASI adalah salah satu makanan dan minuman yang dibutuhkan oleh bayi sampai berumur 6
bulan

Menunda makanan padat sampai bayi berumur 6 bulan dapat menghindarkan dari berbagai risiko
penyakit

Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada sistem pencernaan bayi
untuk berkembang menjadi lebih matang

Menunda pemberian makanan padat memberikan kesempatan pada bayi agar sistem yang
dibutuhkan untuk mencerna makanan padat dapat berkembang dengan baik.

Menunda pemberian makanan padat mengurangi risiko alergi makanan

Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari anemia karena kekurangan
zat besi

Menunda pemberian makanan padat membantu melindungi bayi dari risiko terjadinya obesitas di
masa datang

Menunda pemberian makanan padat membantu para ibu untuk menjaga kesedian ASI

Menunda pemberian makanan padat membantu jarak pada kelahiran bayi

Menunda pemberian makanan padat membuat pemberiannya menjadi lebih mudah. (Dian, 2006)

JADWAL PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI (MP-ASI)


Jadwal makan bayi sebaiknya disesuaikan dengan jadwal makan keluarga yaitu, 3x makanan
pokok (sarapan pagi, makan siang, makan malam), 2x makanan selingan (jam 10.00 dan 16.00), serta 3x
ASI (saat bagun pagi, sebelum tidur siang dan malam).
Jadwal pemberian makanan tambahan menurut umur, jenis makanan, frekuensi pemberian dapat
dilihat pada berikut :
Tabel: Jadwal Pemberian Makanan Tambahan Menurut Umur, Jenis Makanan dan Frekuensi Pemberian
Umur Jenis Makanan Berapa kali sehari
6 7 bulan:
1.
ASI Kapan diminta
2.

Bubur lunak/sari buah

3.

Bubur : bubur havermoot/ bubur tepung beras merah 1 2 kali sehari

7 9 bulan:
1.
ASI Kapan diminta
2.

Buah-buahan

3.

Hati ayam atau kacang-kacangan

4.

Beras merah atau ubi

5.

Sayuran (wortel, bayam)

6.

Air tajin 3 4 kali sehari

9 12 bulan:
1.
ASI Kapan diminta
2.

Buah-buahan

3.

Bubur atau roti

4.

Daging/kacang-kacangan/ayam/ikan

5.

Beras merah/kentang/labu/jagung

6.

Sari buah 4 6 kali sehari. (Krisnatuti D, Yenrina, 2000)

TIPS MEMPERKENALKAN MP-ASI


Perkenalkan hanya satu jenis makanan baru dan berikan selama 2 sampai 4 hari sebelum
perkenalkan makanan yang lain untuk memastikan bayi anda tidak alergi terhadap makanan tersebut.

Urutan pemberian makan:


1.
Mulailah pemberian makanan padat dengan makanan yang paling tidak menyebabkan alergi
(kadar protein paling rendah), yaitu serelia (beras merah, beras putih, havermut). Campurkan dengan
ASI, air atau susu formula hingga semi-cair.
2.
Beberapa ahli gizi merekomendasikan agar sayuran diperkenalkan sebelum buah, karena buah
yang rasanya manis akan membuat sayuran yang rasanya kurang manis menjadi tidak menarik untuk
bayi. Mulailah dengan sayuran yang rasanya hambar seperti kentang, kacang hijau, labu, zucchini, baru
kemudian perkenalkan buah seperti pisang, alpukat, apel, pir, blewah, timun suri.

Pangku bayi anda atau dudukkan di kursi makan atau tempat duduk bayi saat anda menyuapi
bayi anda. Posisi makan yang semestinya adalah digendong anda atau didudukkan di tempat duduk bayi
pilihlah posisi yang paling aman untuk anda dan bayi anda.

Mulai pemberian makanan padat secara bertahap. Untuk mempermudah peralihan, mulailah
pemberian makanan padat dengan makanan yang sudah dikenalnya ASI atau susu formula. Mulailah
pemberian makanan padat dengan meletakkan sedikit makan di ujung sendok dan letakkan sendok
tersebut di tengah lidah bayi. Lihat reaksi bayi anda. Anda mungkin akan mendapatkan senyum tanda
persetujuan atau seringai tanda tidak setuju. Cobalah untuk memperkenalkan satu makanan baru selama
tiga kali. Ada kemungkinan bayi anda makan dengan tidak teratur. Ingatlah bahwa pada usia ini anda
hanya memperkenalkan bayi anda pada makanan dan tekstur baru.

Ketahui kapan harus berhenti memberi makan. Bayi anda akan berhenti makan bila dia sudah
kenyang. Jangan memaksa untuk tetap memberi makan. Apabila bayi anda sudah kenyang dia mungkin
akan memberikan tanda-tanda sebagai berikut: mengatupkan bibir, menutup mulut, muntah, memainkan
atau menggigit puting, memalingkan wajah dari sendok yang didekatkan ke mulutnya, menyandarkan
tubuh ke belakang, makan atau minum lebih sedikit dan tertidur. Penting bagi bayi anda untuk merespon
tanda-tanda lapar yang timbul dari dalam dirinya sendiri sebagai dasar dari kebiasaan makan yang sehat
untuk sepanjang hidupnya.

Berikan makanan tanpa tambahan gula atau garam. Bayi anda tidak membutuhkan tambahan
gula atau garam. Menambahkan bahan-bahan tersebut tidak akan memperbaiki nilai nutrisi dari
makanannya dan membuat bayi Anda menetapkan makanan seperti ini sebagai standar pilihan makanan
di masa mendatang.

Jangan berikan madu selama 1 tahun pertama. Madu tidak boleh diberikan untuk bayi dibawah
12 bulan. Jangan tambahkan madu pada makanan bayi anda atau mencelupkan dotnya ke dalam madu.
Madu terbukti dapat menyebabkan penyakit serius, botulisme yang dapat menyebabkan kematian.

Botol harus digunakan untuk cairan seperti susu formula atau air putih bukan untuk makanan.
Apabila tidak direkomendasikan oleh DSA anda, jangan masukkan jus buah, cereal atau makanan semi
cair/padat lainnya ke dalam botol susu karena dapat menyebabkan bayi anda makan terlalu banyak.

Gunakan boks bayi untuk tidur, bukan untuk makan. Tidur dengan botol susu bisa meyebabkan
berbagai masalah untuk bayi anda.

Botol berisi susu, jus atau cairan lain yang mengandung gula bisa berkumppul di gigi bayi anda
dan menyebakan terjadinya pembusukan gigi, yang disebut nursing-bottle caries - karies susu.

Minum dari botol sambil tiduran bisa menyebabkan infeksi telinga bagian tengah. (Suhaemi,
2005)

PRINSIP PEMBERIAN MAKANAN PENDAMPING ASI


Berikan makanan yang kaya akan gizi sesuai dengan piramida makanan. Saat ini yang dipakai
adalah konsep makanan sehat seimbang seperti yang dituangkan dalam piramida makanan. Segitiga
makanan ini akan membantu kita cara memfokuskan dan menseleksi makanan. Porsi terbesar makanan
kita adalah yang tertera di paling bawah piramida makanan, yaitu beras dan sereal sedangkan makanan
yang kebutuhannya sangat sedikit adalah yang di puncak piramida yaitu lemak dan gula.
Tingkatkan tekstur, frekuensi dan porsi makanan secara bertahap Kebutuhan energi dari
makanan adalah sekitar 200 kcal/hari untuk bayi usia 6-8 bulan, 300 kcal/hari untuk bayi usia 9-11
bulans, dan 550 kcal/hari untuk anak usia 12-23 bulan
Memperhatikan bahan makanan untuk bayi
Sediakan makanan buatan sendiri dengan bahan-bahan lokal, perhatikan keamanan dan
kebersihan dalam menyiapkan. Menyimpan dan memberikan makanan
Pemberian makanan dengan kasih sayang. Pahami kebutuhan dan kondisi bayi. (Djaeni, 2000)
FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PEMBERIAN MP-ASI
a.Sosial Ekonomi
Faktor sosial ekonomi sangat berperan dimana sosial ekonomi yang cukup atau baik akan
memudahkan mencari pelayanan kesehatan yang lebih baik. Faktor ekonomi berkaitan erat dengan
konsumsi makanan atau dalam penyajian makanan keluarga khususnya dalam pemberian MP-ASI.
Kebanyakan penduduk dapat dikatakan masih kurang mencukupi kebutuhan dirinya masing-masing.
Keadaan umum ini dikarenakan rendahnya pendapatan yang mereka peroleh dan banyaknya anggota
keluarga yang harus diberi makan dengan jumlah pendapatan rendah (SKRT, 2004).
b.Status Pekerjaan
Bekerja umumnya merupakan kegiatan yang menyita waktu bagi ibu-ibu yang mempunyai
pengaruh terhadap kehidupan keluarga (Markum, 2003). Seorang yang memerlukan banyak waktu dan
tenaga untuk menyeleseikan pekerjaan yang dianggap penting dan memerlukan perhatian dengan
adanya pekerjaan. Masyarakat yang sibuk akan memiliki waktu yang sedikit untuk memperoleh informasi,
sehingga tingkat pendidikan yang mereka peroleh juga berkurang, sehingga tidak ada waktu untuk
memberikan ASI pada bayinya dan cenderung memberikan MP-ASI pada bayi.
c.Sosial Budaya
Faktor sosial budaya sangat berperan dalam proses terjadinya masalah pemberian MP-ASI
diberbagai kalangan masyarakat. Unsur-unsur budaya mampu menciptakan suatu kebiasaan untuk
memberikan MP-ASI pada bayi dengan alasan bayi tidak akan kenyang dengan diberikan ASI saja.
d.Kemauan Ibu
Seorang ibu yang secara tidak sadar berpendapat bahwa menyusui hanyalah merupakan beban
saja bagi kebebasan pribadinya atau hanya memperburuk ukuran tubuhnya, tidak akan dapat menyusui
anaknya dengan baik perasaan tersebut mempunyai pengaruh negative terhadap produksi susu .
(Kristina, 2007).
KARAKTERISTIK IBU

1). Tingkat Pendidikan Dalam Pemberian MP-ASI


Tingkat pendidikan merupakan jenjang pendidikan terakhir yang ditempuh seseorang tingkat
pendidikan merupakan suatu wahana untuk mendasari seseorang berprilaku secara ilmiah.
Tingkat pendidikan yang rendah akan susah mencerna pesan atau informasi yang disampaikan
(Notoatmodjo, 2003). Pendidikan diperoleh melalui proses belajar yang khusus diselenggarakan dalam
waktu tertentu, tempat tertentu dan kurikulum tertentu, namun dapat diperoleh dari bimbingan yang
diselenggarakan sewaktu-waktu dengan maksud mempertinggi kemampuan atau ketrampilan khusus.
Dalam garis besar ada tiga tingkatan pendidikan yaitu pendidikan rendah, pendidikan menengah, dan
tinggi. Masing-masing tingkat pendidikan tersebut memberikan tingkat pengetahuan tertentu yang sesuai

dengan tingkat pendidikan. Semakin tinggi tingkat pendidikan formal yang diperoleh, semakin tinggi pula
pengetahuan tentang pemberian MP-ASI yang tepat (Tarmudji, 2003).

2). Umur Ibu


Umur adalah lama hidup individu terhitung saat mulai dilahirkan sampai berulang tahun
(Nursalam, 2003). Semakin cukup umur, tingkat kematangan seseorang akan lebih matang dalam berfikir
dan bekerja. Dari segi kepercayaan masyarakat seseorang yang lebih dewasa akan lebih dipercaya dari
pada orang yang belum cukup tinggi kedewasaannya. Hal ini sebagai akibat dari pengalaman dan
kematangan jiwa (Nursalam, 2003).
3). Pengetahuan
Dari hasil penelitian (FKUI) tampak bahwa ibu yang berpendidikan rendah sampai menengah
lebih cepat memberikan susu botol daripada ibu yang tidak berpendidikan formal. Ibu yang tidak formal
sebagian telah mengetahui apa dampak dari pemberian MP-ASI dini sehingga mendorong ibu untuk
menyusui bayinya sendiri (Notoatmodjo, 2005).
REFERENSI:
1.
Arikunto, 2005. Prosedur penelitian dengan pendekatan Praktek. Jakarta: Rineka Cipta.
2.

Binadiknakes, 2001. Elektromedik dan pengembangannya. Edisi No 17.

3.

BKKBN, 2002. Informasi Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN.

4.
BKKBN, 2004. Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi: Kebijakan Program dan
Kegiatan tahun 2005-2009. Jakarta: BKKBN.
5.

BKKBN, 2005. Unit Pelayanan Kontrasepsi. Jakarta: BKKBN.

6.
Bhuono, 2005. Strategis Jitu Memilih Metode Statistik Penelitian dengan SPSS. Yoagyakarta:
Andi offset.
7.

Manuaba, 2002. Ilmu Kebidanan, Penyakit Kandungan dan Keluarga Berencana. Jakarta: EGC.

8.

Hartanto, 2002. Keluarga Berencana dan Kontrasepsi. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan.

9.

Hastono, 2008. Metode Statistik Inferensial. Jakarta: Universitas Indonesia.

10.
Mansjoer, 2003. Kapita Selekta Kedokteran Jilid 2 Edisi 3. Jakarta: Fakultas Kedokteran
Universitas Indoensia.
11.

Notoatmodjo, 2002. Metodologi Penelitian Kesehatan. Jakarta: Rineka Cipta.

12.

Nursalam, 2003. Metodologi Riset Keperawatan. Jakarta: Infomedika.

13.
Nursalam, 2008. Konsep dan Penerapan Metodologi Penelitan Ilmu Keperawatan, Edisi III .
Jakarta: Salemba Medika.
14.
Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, 2004. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Jakarta:
Balai Pustaka.
15.

Soedigdo, 2002. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis, Jakarta: Binarupa Aksara.

16.

Sugiyono, 2006. Statistika untuk Penelitian. Bandung: CV. Alfa Beta.

17.

Varney, 2007. Buku Ajar Asuhan Kebidanan edisi 4. Jakarta: EGC.

18.

Verralls, 2008. Anatomi dan Fisiologi Terapan dalam Kebidanan Edisi ke 3. Jakarta: EGC

19.

Wiknjosastro, 2006. Ilmu Kandungan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo.

PROGRAM UNGGULAN (PROJECT)

PENGENALAN PUREE KEPADA IBU HAMIL DAN IBU IBU MUDA

13 Fakta Pure

Image by : Dokumentasi Ayahbunda

Seusai masa ASI eksklusif, saatnya dia mendapat makanan pendamping ASI (MP-ASI).
Sebagai ibu, kita mutlak paham perihal bahan makanan pendamping ASI yang
sebaiknya diberikan pada bayi, serta cara mengolah dan menyajikannya agar
manfaatnya bagi tumbuh kembang anak teraih optimal.
1. Apa itu pure? Pure artinya bahan makanan yang dilembutkan. Hampir semua
bahan makanan dapat dibuat pure dan aman untuk bayi. Yang penting, pengolahannya
harus benar agar kandungan nutrisi dan cita rasanya tetap terjaga.
2. Kapan sebaiknya diberikan dan berapa porsinya? Sebaiknya berikan setelah
masa pemberian ASI eksklusif selesai, yakni setelah bayi berusia 6 bulan. Pemberian
MP-ASI ini sebaiknya bertahap, disesuaikan perkembangan keterampilan makan bayi.
Dimulai dengan yang teksturnya lembut dan konsistensinya cair sampai yang kasar dan
padat. Jumlah makanan yang diberikan pun harus bertahap, mulai dari yang sangat
sedikit (1-2 sendok makan) hingga satu porsi yang normal bagi anak.
3. Bagaimana cara mengolah bahan makanan yang tepat untuk dibuat pure?

Serealia. Harus dihaluskan dulu menjadi tepung sebelum diolah jadi makanan
bayi. Namun, ada juga yang dimasak dulu menjadi bubur, baru dihaluskan.

Sayuran. Pilih sayuran yang tidak berserat banyak serta menghasilkan gas,
misalnya daun bayam, buncis dan wortel. Cara terbaik untuk menyiapkan sayuran
adalah dengan mengukusnya, lalu haluskan dengan blender atau food processor sampai
menghasilkan tekstur yang diinginkan.

Buah. Ada buah yang bisa diberikan langsung tanpa dimasak seperti pisang, dan
ada pula yang harus dimasak seperti apel. Untuk golongan yang kedua, cuci, kupas dan
buang semua biji, lalu masukkan ke dalam panci. Beri air secukupnya sampai buah
terendam dan rebus sampai lunak biasanya sekitar 10-15 menit. Setelah matang,
haluskan seperti halnya sayuran.

Daging dan ikan. Pilih daging yang sedikit mengandung lemak, daging ayam
tanpa kulit, atau daging ikan tanpa duri. Semua jenis daging tersebut harus dalam
keadaan benar-benar matang, berikan sedikit demi sedikit sesuai usia bayi, dan
dicampur dengan bahan makanan lain. Sistem pencernaan dan ginjal bayi belum
berkembang sempurna.
4. Adakah urutan pemberian bahan makanan tersebut? Mula-mula tepung beras
(serealia), lalu tambahkan bahan makanan lain. Menurut The American Academy of
Pediatrics (AAP), tidak ada urutan khusus pemberian MP-ASI non-serealia. Jenis bahan
makanan itu sebaiknya dikenalkan satu per satu agar bayi mengenali masing-masing
rasanya serta kalau terjadi reaksi alergi mudah diketahui makanan apa penyebabnya.
Bila perbendaharaan rasa bayi sudah cukup banyak, barulah mulai dicampur.
5. Bagaimana dengan anjuran: kenalkan sayuran dulu daripada buah? Saat
lahir,bayi sudah dibekali atau mengenal rasa manis, sementara rasa asin dan lainnya
harus dipelajari. Jadi, kenalkan dulu bayi rasa sayuran yang hambar, kemudian buah
yang manis. Beberapa pakar meyakini cara ini membuat anak kelak suka makan sayur.
6. Apakah boleh mencampur bahan makanan manis dengan gurih? Boleh,
karena variasi ini akan membuat memori citarasa dalam otak anak makin kaya. Tapi,
sebaiknya tidak mencampur terlalu banyak bahan makanan untuk satu kali pemberian
makan. Kombinasikan secara bergantian agar bayi dapat mengenal rasa masingmasing bahan makanan dengan baik.
7. Mengapa bayi saya menolak pure yang saya berikan? Jangan buru-buru
mengatakan anak menolak makanan. Karena anak masih dalam tahap belajar makan.
Hal itu terjadi secara refleks karena anak belum terampil mengunyah dan menelan
makanan. Coba lagi menyuapinya. Jika dia masih menolak, tunda pemberian makanan
yang sama untuk beberapa hari ke depan. Cobalah jenis makanan lain. Jangan putus
asa, Bunda.
8. Perlukah ditambahkan garam, gula atau madu ke dalam pure? Tidak perlu.

Penambahan garam akan menambah beban ginjal bayi serta meningkatkan


kemungkinan mereka mengalami tekanan darah tinggi saat dewasa kelak. Untuk gula,
sebaiknya tidak ditambahkan karena bayi cukup puas dengan rasa manis alami bahan
makanan, seperti buah. Selain itu, gula dapat memicu kerusakan gigi. Sementara
madu, sebaiknya dihindari sampai usia bayi 12 bulan, sebab dapat memicu penyakit
botulisme, yakni keracunan makanan yang serius.
9. Kalau ASI atau sufor, boleh ditambahkan ke dalam pure? Boleh, selain
mengencerkan, penambahan ASI juga memperkaya kandungan nutrisi pure. Apalagi,
citarasanya sudah sangat dikenali bayi sehingga dia lebih mudah menerimanya.
Penambahan ASI atau sufor lakukan pada pure sebelum disajikan pada bayi. Anda
boleh gunakan ASI perah yang pernah dibekukan. Tapi, jangan lakukan penambahan
ASI perah pada pure yang akan dibekukan. Karena, ASI perah yang sudah beku lalu
dilelehkan, tidak boleh dibekukan kembali untuk menghindari kontaminasi bakteri dan
kebaikan gizinya.
10. Bayi saya lebih lahap bila makanannya ditambah santan atau mentega.
Bolehkah? Boleh, asal tak berlebihan. Misalnya, tambahkan 1 sendok teh minyak, 1
sendok makan santan, atau 1 sendok teh mentega. Minyak, santan dan mentega
berfungsi sebagai sumber energi dan pelarut vitamin A, D, E dan K untuk diserap tubuh
bayi. Bahkan minyak sayur seperti minyak jagung, zaitun dan canola, merupakan
sumber asam lemak esensial, yakni asam lemak omega 3 dan asam lemak omega 6.
Untuk menghindari garam, pilih mentega yang rasanya tawar. Untuk margarin, pilih
yang tidak mengandung lemak trans.
11. Bolehkah menambah bumbu dapur, seperti seledri atau bawang? Boleh.
Tidak perlu terlalu banyak, agar aroma atau rasanya tidak terlalu menyengat. Yang
penting, cuci bersih dan cincang halus sebelum dicampurkan ke dalam bubur atau nasi
tim bayi.
12. Bagaimana kita bisa mengetahui bahan makanan tertentu yang menjadi
penyebab timbulnya gejala alergi atau reaksi simpang makanan lainnya? Bila
terjadi reaksi alergi ringan maupun berat seperti diare, kembung, muntah atau gatalgatal, segera bawa anak ke dokter dan ceritakan riwayatnya. Untuk memastikan alergi
terhadap bahan makanan tertentu, misalnya susu sapi, anak harus menjalani beberapa
pemeriksaan seperti darah dan tes kulit.
13. Adakah hal-hal yang perlu diwaspadai dalam rangka pengenalan makanan
padat pertama bagi bayi? Ada, antara lain:

Jangan sampai masa kritis pengenalan makanan padat di usia 6-9 bulan
terlewati. Pada masa ini bayi perlu belajar keterampilan mengunyah dan menelan.

Hindari pemberian makanan padat sebelum bayi berusia 6 bulan, karena sistem
pencernaannya belum bekerja sempurna, sehingga memberatkan kerja organ
pencernaan dan ginjalnya. Bisa menyebabkan bayi kenyang dan malas mengisap ASI.
Akibatnya, selain hilang 1-2 waktu menyusu, produksi ASI pun makin berkurang. serta
meningkatkan risiko timbulnya alergi atau reaksi simpang lainnya.