Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Badan Kesehatan Dunia (WHO) dalam laporannya, Senin
(27/10/2008) mengumumkan bahwa penyakit

jantung, infeksi dan

kanker masih tetap mendominasi peringkat teratas penyebab utama


kematian di dunia. Serangan jantung dan problemseputarnya masih
menjadi pembunuh nomor satu dengan 29 persen kematian
globalsetiap tahun. Gaya hidup masyarakat yang terus berubah
membuat angka kematian akibat penyakit jantung dan pembuluh
darah (kardiovaskuler) meningkat. Bahkan saat ini kardiovaskuler
menjadi pembunuh urutan nomor satu di Indonesia.Penyakit jantung
adalah penyakit yang tersering ketiga kematian pada wanita berusia
antara 25 dan 44 tahun (Martin dkk, 1999). Karena relatif sering terjadi
pada wanita usia subur, penyakit jantung menjadi penyulit sekitar 1%
kehamilan. Angka kejadian di Indonesia pada tahun 2005-2006
berkisar 1,2%.
Diabetes menjadi salah satu dari sebab utama penyakit dini dan
kematian pada banyak negara. Pada tahun 2000, 3,2 juta orang
meninggal karena komplikasi terkait dengan diabetes. Diabetes
adalah penyebab utama kebutaan, amputasi dan gagal ginjal.
Komplikasi ini berdampak banyak pada sosial dan beban finansial dari
diabetes. Umumnya 180 juta orang berpotensi menderita diabetes dan
diprediksi akan meningkat pada tahun 2030. Indonesia menjadi
negara tertinggi keempat dalam jumlah pasien diabetes setelah India,
Cina dan USA.
Di Amerika Serikat diabetes merupakan penyebab tertinggi kelima
menyebabkan kematian dan bertanggung jawab atas biaya
langsung dan tidak langsung , Komponen terbesar dari pengeluaran
medik dihubungkan dengan perawatan pasien diabetes rawat inap
(50% dari biaya total), pengobatan diabetes (12%), peresepan untuk
pengobatan komplikasi diabetes (11%) dan visit dokter (9%). Orang
46

47

dengan diagnosis diabetes, rata-rata mempunyai pengeluaran medik


2,3 kali lebih besar daripada pengeluaran pasien tanpa diagnosis
diabetes.
Pandangan bahwa perempuan yang menderita penyakit ginjal
sebaiknya menghindari kehamilan, telah ada sejak abad lalu,
dipercaya akan kurang baik dan pasien yang menderita penyakit ginjal
disarankan melakukan terminasi kehamilan.
Setelah tahun 1975 rasa pesimis itu berganti menjadi optimis
sehubungan dengan banyaknya publikasi studi kasus mengenai
kehamilan dengan penyakit ginjal yang dikonfirmasi dengan biopsy
ginjal, sehingga kebanyakan perempuan dengan gangguan ginjal
dapat melewati kehamilan tanpa kelainan yang berarti. Selain itu,
data-data mengenai perempuan hamil dengan transplantasi ginjal
sejak tahun 2000 telah memberikan hasil yang menggembirakan.
Kesemuanya ini memberikan pandangan bahwa sebagian besar
perempuan yang mempunyai gangguan fungsi ginjal minimal dapat
hamil dengan kemungkinan kehamilannya berhasil mencapai 90%.
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional dan
anatomik ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan gejalagejala dan kelainan fisik serta pemeriksaan hasil laboraturium. Apabila
hal itu tidak diperhatikan dan diperhitungkan, ada kemungkinan salah
membuat diagnosis, sehingga dapat merugikan ibu dan janin. Untuk
itu, diperlukan asuhan yang tepat bagi ibu hamil dengan penyakit
ginjal, dan dalam makalah ini akan dibahas tentang penyakit ginjal
dalam kehamilan dan asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
penyakit ginjal.

B. Tujuan dan Manfaat


Adapun tujuan dan manfaat dari penulisan makalah ini adalah
sebagai berikut :
1. Mengetahui etiologi dari jantung dalam kehamilan
2. Mengetahui faktor prediposisi dari jantung dalam kehamilan
3. Mengetahui patofisiologi dari jantung dalam kehamilan

48

4. Mengetahui manifestasi klinisdari jantung dalam kehamilan


5. Mengetahui diagnosa dari jantung dalam kehamilan
6. Mengetahui pemeriksaan penunjang dari jantung dalam
kehamilan
7. Mengetahui penatalaksanaan dari jantung dalam kehamilan
8. Mengetahui pemberian asuhan kebidanan pada ibu hamil dengan
penyakit jantung
9. Untuk mengetahui perubahan anatomik dan fungsional ginjal dan
saluran kemih selama kehamilan.
10. Untuk mengetahui penyakit-penyakit ginjal dan saluran kemih
yang sering terjadi pada kehamilan dan pengaruhnya terhadap
kehamilan.
11. Untuk mengetahui pengaruh kehamilan terhadap penyakit ginjal
dan saluran kemih.
12. Sebagai acuan untuk merencanakan asuhan kebidanan yang
tepat bagi ibu hamil dengan penyakit ginjal.
13. Untuk mengetahui standar profesi kebidanan dalam penanganan
DM pada ib hamil
14. Mengetahui patilogis dari DM dalam lkehailan
15. Mengetahui diagnosa DM dalam penyakit kehamilan
16. Mengetahui penatalaksanaan dari DM dalam kehamilan
17. Mengetahui asuhan terfokus Jantung, DM, dan Ginjal dalam
kehamilan.
BAB II
TINJAUAN TEORISTIS
A. Penyakit Jantung dalam Kehamilan
1. Pengertian
Kehamilan

akan

menimbulkan

perubahan

pada

sistem

kardiovaskuler. Penyakit kerdiovaskuler dapat dijumpai pada


wanita hamil atau tidak hamil. Jelaslah bahwa wanita dengan
penyakit kardiovaskuler dan menjadi hamil, akan terjadi pengaruh
timbal balik yang dapat mengurangi kesempatan hidup wanita
tersebut.

49

Pada

kehamilan

dengan

jantung

normal,

wanita

dapat

menyesuaikan kerjanya terhadap perubahan-perubahan secara


fisiologis. Perubahan itu disebabkan oleh :
a. Hipovolemia : dimulai sejak kehamlan 8 minggu dan mencapai
puncaknya 28-32 minggu lalu menetap
b. Jantung dan diafragma terdorong ke atas oleh pembesaran
rahim.
Kondisi normal ibu dalam kehamilan :
a. Denyut jantung dan nadi meningkat
b. Pukulan jantung meningkat
c. Volume darah meningkat
d. Tekanan darah menurun sedikit
Maka dapat dipahami bahwa kehamilan dapat mebperbesar
penyakit

jantung

bahkan

menyebabkan

payah

jantung

( dekompensasi kordis )
2. Pengaruh Kehamilan terhadap Penyakit Jantung
Terdapat saat-saat yang berbahaya bagi penderita adalah :
a. Pada

kehamilan

32-36

minggu,

dimana

volume

darah

mencapai puncaknya ( hipervolume )


b. Pada kala II, dimana wanita yang mengerahkan tenaga untuk
mengedan dan memerlukan kerja yang berat
c. Pada pasca persalinan, dimana darah dari ruang intervillus
plasentayang sudah lahir, sekarang masuk ke dalam sirkulasi
darah ibu.
d. Pada masa nifas , ada kemungkinan infeksi.
3. Pengaruh penyakit jantung terhadap kehamilan :
a. Dapat terjadi abortus
b. Prematuritas : lahir tidak cukup bulan
c. Dismaturitas, lahir cukup bulan namun dengan berat badan
lahir rendah

50

d. Lahir dengan APGAR rendah atau lahir mati


e. Kematian janin dalam rahim ( KIDR )
4. Klasifikasi Penyakit Jantung Dalam Kehamilan :
Kelas I :
a. Tanpa pembatasan kegiatan fisik
b. Tanpa gejala pada kegiatan biasa
Kelas II :
a. Sedikit dibatasi kegiatan fisiknya
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Kegiatan fisik biasa menimbulkan gejala insufisiensi jantung
d. Gejalanya adalah lelah, palpitasi, sesak nafas, dan nyeri dada (
angina pektoris )
Kelas III :
a. Kegiatan fisik sangat dibatasi
b. Waktu istirahat tidak ada keluhan
c. Sedikit kegiatan fisik menimbulkan keluhan insufisiensi jantung
Kelas IV :
a. Waktu istirahat dapat timbul keluhan insufisiensi jantung,
apalagi kerja fisik yang tidak berat
b. Kira-kira 80 % penderita adalah kelas I dan II serta kehamilan
dapat meningkatkan kelas tersebut menjadi II, III, IV . Faktorfaktor yang dapat mempengaruhi adalah umur, anemia, adanya
aritma jantung dan hipertrofi ventrikel , dan pernah sakit
jantung.
5. Diagnosis :
a. Anamnesis :
1) Pernah sakit jantung dan berobat pada dokter untuk
penyakitnya
2) Pernah demam rematik
b. Pemeriksaan : auskultasi/ palpasi

51

Empat kriteria ( Burwell & Metcalfe )


1) Adanya bising diastolik, presistolik, atau bising terusmenerus.
2) Pembesaran jantung yang jelas
3) Adanya bising jantung yang nyaring disertai thrill
4) Aritmia yang berat
5) Pemeriksaan elektrokardiogram ( EKG )
Jika wanita hamil disangka menderita penyakit jantung, yang
paling baik adalah yang paling baik dikonsultasikan kepada
ahlinya.
Keluhan dan gejala : mudah lelah, dispnea, palipitasi kordis,
nadi tidak teratur, edema / pulmonal , dan sianosis. Hal ini dapat
dikenal dengan muntah.
6. Penanganan
a. Selama kehamilan
1) Memberikan

pengertian

kepada

ibu

hamil

untuk

melaksanakan pengawasan antenatal yang teratur sesuai


dengan

jadwal

yang

ditentukan

misalnya

sekali

seminggu ) merupakan hal yang penting.


2) Kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau kardiolog ,
untuk penyakit jantung harus dibina sedini mungkin.
3) Pencegahan terhadap kenaikan berat badan dan retensi air
yang berlebihan. Jika terdapat anemia harus diobati.
4) Timbulnya hipertensi atau hipotensi akan memberatkan
jantung, hal ini harus diobati.
5) Bila terjadi keluhan yang agak berat, seperti sesak nafas,
infeksi saluran pernafasan,dan sianosis, penderita harus
dirawat di rumah sakit untuk pengawasan dan pengobatan
yang lebih intensif.

52

6) Skema kunjungan antenatal : Setiap 2 minggu menjelang


kehamilan 28 minggu dan 1 kali setelahnya.
7) Wanita hamil dengan penyakit jantung harus cukup
istirahat, cukup tidur, diet rendah garam, dan pembatasan
jumlah cairan.
8) Sebaiknya penderita dirawat 1-2 minggu sebelum taksiran
persalinan.
9) Pengobatan khusus bergantung pada kelas penyakit :
10)Kelas I

: Tidak memerlukan pengobatan tambahan.

11) Kelas II

: Biasanya tidak memerlukan terapi tambahan.

Mengurangi kerja fisik

terutama antara kehamilan 28-36

minggu.
12)Kelas III

: Memerlukan digitalisasi atau obat lainny.

Sebaiknya dirawat di rumah sakit sejak kehamilan 28-30


minggu.
13)Kelas IV

: Harus dirawat di rumah sakit dan diberikan

pengobatan, bekerja sama dengan kardiolog.


b. Selama Persalinan
1) Penderita kelas I dan kelas II biasanya dapat meneruskan
kehamilan dan bersalin pervaginam, namun dengan
pengawasan yang baik serta bekerja sama dengan ahli
penyakit dalam.
2) Membuat daftar his : daftar nadi, pernafasan, tekanan
darah yang diawasi dan dicatat setiap 15 menit dalam kala I
dan setiap 10 menit dalam kala II. Bila ada tanda-tanda
payah jantung ( dekompensasi kordis ) diobati dengan
digitalis. Memberikan sedilanid dosis awal 0,8 mg dan
ditambah dosis 1,2-1,6 mg intravena secara perlahanlahan. Jika perlu, suntikan dapat diulang 1-2 kali dalam 2
jam. Di kamar bersalin harus tersedia tabung berisi
oksigen, morfin, dan suntikan diuretikum.

53

3) Kala II yaitu kala yang kritis bagi penderita. Bila tidak timbul
tanda-tanda payah jantung, persalinan dapat ditunggu,
diawasi, dan ditolong secara spontan. Dalam 20-30 menit,
bila janin belum lahir, kala II segera diperpendek dengan
ekstrasi vakum atau forseps. Kalau dijumpai disproporsi
sefalopelvik, maka dilakukan sectio caesaria dengan lokal
anestesi/ lumbal/ kaudal dibawah pengawasan beberapa
ahli multi disiplin.
4) Untuk menghilangkan rasa sakit boleh diberikan obat
analgesik seperti petidin dan lain-lain. Jangan diberikan
barbiturat ( luminal ) atau morfin bila ditaksir bayi akan lahir
dalam beberapa jam.
5) Kala II biasanya berjalan seperti biasa. Pemberian
ergometrin

dengan

hati-hati,

biasanya

sintometrin

intramuskuler adalah aman.


c. Pasca persalinan dan nifas
1) Setelah bayi lahir, penderita dapat tiba-tiba jatuh kolaps,
yang disebabkan darah tiba-tiba membanjiri tubuh ibu
sehingga kerja jantung menjadi sangat bertambah. Hal i9ni
harus diawasi dan dipahami oleh penolong. Selain itu,
perdarahan merupakan komplikasi yang cukup berbahaya.
2) Karena itu penderita harus tetap diawasi dan dirawat
sekurang-kurangnya 2 minggu setelah persalinan.
d. Penanganan Secara Umum
1) Penderita kelas II dan kelas IV tidak boleh hamil karena
kehamilan sangat membahayakan jiwanya.
2) Bila

hamil,

sedini

ungkin

abortus

buatan

medikalis

hendaknya dipertimbangkan untuk dikerjakan.


3) Pada kasus tertentu sangat dianjuurkan tidak hamil lagi
dengan melakukan tubektomi, setelah penderita afebris,
tidak anemis, dan sedikit keluhan.

54

4) Bila tidak mau sterilisasi,

dianjurkan menggunakan

kontrasepsi. Kontrasepsi yang baik adalah IUD ( AKDR ).


e. Masa laktasi
1) Laktasi diperbolehkan pada wanita dengan penyakit
jantung kelas I dan II, yang sanggup melakukan kerja fisik.
2) Laktasi dilarang pada wanita dengan penyakit jantung kelas
III dan IV.
7. Prognosis
a. Bagi Ibu
Prognosis bergantung pada beratnya penyakit yang diderita,
umur, dan penyulit-penyulit lain. Pengawasan pengobatan,
pimpinan persalinan, dan kerjasama dengan penderita serta
kepatuhan dalam menaati larangan, ikut menentukan prognosis.
b. Bagi Bayi
1) Bila penyakit jantung tidak terlalu berat, tidak begitu
mempengaruhi kematian perinatal.
2) Namun pada penyakit yang berat, prognosis akan buruk
karena akan terjadi gawat janin.
B. Diabetes Mellitus dalam Kehamilan
Diabetes

mellitus

merupakan

penyakit

metabolik

dengan

penyebab yang beragam, ditandai adanya hiperglikemi kronis serta


perubahan metabolisme karbohidrat, lemak, dan protein akibat defek
sekresi, atau kerja insulin, atau keduanya.
Terdapat 4 macam klasifikasi diabetes yaitu:
1) Diabetes tipe 1 (disebabkan oleh destruksi sel yang akan
menyebabkan defisiensi absolut insulin)
2) Diabetes tipe 2 (disebabkan oleh defek sekresi insulin yang
progresif karena adanya insulin yang resisten).

55

3) Tipe spesifik diabetes lainnya (disebabkan oleh faktor genetik,


penyakit eksokrin pankreas, atau obat-obatan)
4) Diabetes Mellitus Gestasional (DMG)
Ada dua macam perempuan hamil dengan diabetes mellitus,
yaitu:
1) Perempuan hamil dengan diabetes yang sudah diketahui sejak
sebelum perempuan tersebut hamil (pregestasional/ diabetes
overt).
2) Perempuan hamil dengan diabetes yang baru diketahui setelah
perempuan tersebut hamil (diabetes mellitus gestasional). Setelah
ibu melahirkan, keadaan DMG sering akan kembali ke regulasi
glukosa normal.
1. Definisi
Diabetes Mellitus Gestasional didefinisikan sebagai intoleransi
glukosa dengan keparahan bervariasi yang dimulai atau baru
ditemukan saat hamil.
a. Komplikasi pada Ibu
Meningkatkan risiko terjadinya abortus, preeklampsia,
seksio sesarea, kelahiran prematur, dan terjadinya diabetes
mellitus tipe 2 di kemudian hari
b. Komplikasi pada Janin
1) Meningkatkan risiko terjadinya makrosomia, pembesaran
organ seperti hepar, kelenjar adrenal, dan jantung.
2) Meningkatkan risiko terjadinya kelainan kongenital pada
janin,

terutama

pada

bayi

yang

ibunya

mengalami

hiperglikemi berat atau tidak terkontrol dengan baik.


3) Janin makrosomia meningkatkan risiko terjadinya trauma
persalinan seperti distosia bahu, fraktur tulang, dan injuri
pleksus brakhialis

56

4) Meningkatkan
hipoglikemi

risiko

pada

terjadinya

neonatal,

hiperbilirubinemia,

hipokalsemia,

polisitemia,

hiperbilirubinemia neonatal, sindroma distres respirasi


(RDS)
5) Meningkatnya mortalitas atau kematian janin (IUFD), pada
ibu hamil penderita diabetes mellitus yang tidak terkontrol
dengan baik.
2. Insidensi
Prevalensi global diabetes mellitus diperkirakan akan mencapai
380 pada tahun 2025. Pada tahun 2002, di Amerika terdapat lebih
dari 131.000 perempuan hamil yang enderita komplikasi diabetes
mellitus. Jumlah ini merupakan 3,3 % dari seluruh kelahiran hidup
dan lebih dari 90%-nya menderita diabetes mellitus gestasional.
Meningkatnya prevalensi diabetes mellitus tipe 2, khususnya pada
penduduk yang lebih muda, menyebabkan kehamilan dengan
diabetes meningkat pula.
3. Patofisiologi
Sebagian kehamilan ditandai dengan adanya resistensi insulin
dan hiperinsulinemia, yang pada beberapa perempuan akan
menjadi

faktor

predisposisi

untuk

terjadinnya

DM

selama

kehamilan. Resistensi ini berasal dari hormon diabetogenik hasil


sekresi plasenta yang terdiri dari hormon pertumbuhan (growth
hormon), corticotropin releasing hormon, placental lactogen, dan
progesteron. Hormon ini dan perubahan endokrinologik serta
metabolik akan menyebabkan perubahan dan menjamin pasokan
bahan bakar dan nutrisi ke janin sepanjang waktu. Akan terjadi
diabetes mellitus gestasional apabila fungsi pankreas tidak cukup
untuk mengatasi keadaan resistensi insulin yang diakibatkan oleh
perubahan diabetogenik selama kehamilan.
4. Diagnosis dan Skrining DMG

57

Skrining

awal

DMG

adalah

dengan

cara

melakukan

pemeriksaan beban 50 g glukosa pada kehamilan 24-28 minggu,


dan pasien tidak perlu puasa.
Kadar glukosa serum atau plasma yang normal harus kurang
dari 130 mg per dl (7,2 mmol per l) atau kurang dari 140 mg per dl
(7,8 mmol per l). Dengan memakai nilai 130 mg per dl atau lebih
akan meningkatkan sensitivitas tes sekitar 80 90 %, tetapi
menurunkan spesifitasnya dibanding bila dipakai nilai 140 mg per
dl atau lebih.
Apabila yang dipakai hanya nilai 130 mg per dl, hal ini akan
meningkatkan terdeteksinya kasus diabetes mellitus gestasional
yang berarti akan meningkatkan hasil positif palsu. Oleh karena
itu, untuk mendeteksi adanya diabetes mellitus gestasional
sebaiknya dipakai dua nilai, yaitu 130 mg per dl dan 140 mg per
dl.
Hasil tes satu jam yang abnormal harus dilanjutkan dengan
pemeriksaan beban 100 g glukosa. Selama tiga hari, pasien
disuruh diet yang tidk ketat, kemudian dilakukan pemeriksaan
darah puasa yang diambil dari pembuluh darah vena, setelah 1, 2,
dan 3 jam pemberian 100 g glukosa. Selama periode pemeriksaan
pasien harus tetap duduk dan tidak boleh merokok.
Untuk kriteria diagnostik sering dipakai kriteria dari the National
Diabetes Data Group (NDGG), tapi tidak memakai kriteria dari
Carpenter dan Coustan. Diagnosis diabetes mellitus gestasional
ditegakkan apabila didapatkan dua atau lebih nilai yang abnormal.
Diagnosis yang praktis ialah digunakan beban 75 g glukosa dan
apabila ditemukan nilai > 140 mg/dl dianggap DMG dan nilai >
200 mg/dl merupakan DM yang jelas (berat).
5. Penatalaksanaan
a. Pengelolaan
1) Pemeriksaan dan pemantauan kadar gula darah

58

Penanganan paling umum dan sering digunakan


secara klinis adalah pemeriksaan konsentrasi gula darah
ibu

agar

knsentrasinya

dapat

dipertahankan

seperti

kehamilan normal. Pada perempuan dengan DMG harus


dilakukan

pengamatan

gula

darah

preprandial

dan

posprandial. Fourth International Workshop Conference on


Gestasional

Diabetes

Mellitus

menganjurkan

untuk

mempertahankan konsentrasi gula darah kurang dari 95


mg/ dl (5,3 mmol/l) sebelum makan dan kurang dari 140
dan 120 mg/ dl (7,8 dan 6,7 mmol/l), satu atau dua jam
setelah makan.
2) Pengaturan pola makan
Pengaturan pola makan yaitu dengan membatasi
asupan karbohidrat hingga 40% - 50% dari keseluruhan
kalori, protein 20%, lemak 30 40%, makan tinggi serat.
Kenaikan berat badan selama kehamilan diusahakan hanya
sekitar 11 12,5 kg saja. Program pengaturan gizi dan
makanan yang dianjurkan oleh Ikatan Diabetes Amerika
(American

Diabetes

Association)

adalah

pemberian

kaloridan gizi yang adekuat unuk memenuhi kebutuhan


kehamilan dan mengurangi hiperglikemi ibu. Kalori harian
yang dibutuhkan bagi perempuan dengan berat badan
normal pada paruh kedua kehamilan adalah 30 kcal per kg
berat badan normal.
Bila IMT lebih dari 30 kg per m 2, maka dianjurkan
asupan rendah kalori sampai 30 33 % (sekitar 25 kilo
Kalori per kg). Diet ini akan mencegah terjadinya
ketonemia.
3) Pemberian Insulin
Perawatan yang lebih seksama dan pemberian insulin
dilakukan pada perempuan yang memiliki gejala morbiditas

59

janin (berdasarkan pemeriksaan glukosa atau adanya janin


makrosom) atau perempuan yang mempunyai konsentrasi
gula darah yang tinggi.
Manfaat terapi insulin yakni menurunkan kejadian
makrosomia janin dan morbiditas perinatal.
Dosis

insulin

yang

diberikan

sangat

individual.

Pemberian insulin ditujukan untuk mencapai konsentrasi


gula darah pascaprandial kurang dari 140 mg/dl sampai
mencapai kadar glikemi di bawah rata-rata dan hasil
perinatal yang lebih baik.
Kejadian makrosomia dapat diturunkan dengan cara
pemberian insulin untuk mencapai konsentrasi gula darah
praprandial kurang lebih 80 mg/dl (4,4 mmol/l).
Sebagai alternatif pemberian antideiabetik seperti
metformin

dan

sulfonylurea

dapat

dipakai

untuk

mengendalikan gula darah.


b. Implikasi dan Penatalaksanaan Antepartum
1) Kemungkinan terjadinya peningkatan gangguan hipertensi
Diperlukan pemantauan tekanan darah, kenaikan
berat badan, dan ekskresi proteinuria, khususnya pada
paruh kedua kehamilan secara baik. Kriteria diagnostik
standar dan penatalaksanaan gangguan hipertensi dapat
diterapkan pada perempuan dengan DMG.
2) Risiko terjadinya kelainan kongenital dan makrosomia janin
terutama pada bayi yang ibunya mengalami hiperglikemi
berat.
Diperlukan pemantauan pertumbuhan janin secara
berkala dan terus-menerus (misalnya dengan USG yang
terarah)

untuk

mengetahui

perkembangan

dan

pertumbuhan ukuran janin, dan mendeteksi kelainan janin

60

sehingga dapat ditentukan saat dan cara persalinan yang


tepat.
3) Pemeriksaan antenatal dianjurkan dilakukan sejak umur
kehamilan 32 sampai 40 minggu.
Pemeriksaan antenatal dilakukan terhadap ibu hamil
yang kadar gula darahnya tidak terkontrol, yang mendapat
pengobatan insulin, atau yang

menderita

hipertensi.

Dianjurkan untuk melakukan pemeriksaan nonstress test,


profil biofisik, atau modifikasi pemeriksaan profil biofisik
seperti nonstress test dan indeks cairan amnion.
4) Memperkirakan maturitas/ kematangan paru-paru janin
(misalnya dengan amniosintesis) apabila ada rencana
terminasi (seksio sesarea) apad kehamilan 39 minggu.
5) Kematian janin intruterin
Pasien hendaknya dirujuk ke pusat pelayanan yang
lebih baikagar dapat dilakukan pemantauan gerakan janin
dan pemeriksaan kardiotokografi.
c. Cara dan Waktu Persalinan
Perempuan hamil dengan DMG bukan merupakan indikasi
seksio sesarea. Penanganan persalinan tetap harus berdasar
indikasi ibu dan janin, sama halnya dengan pengelolaan hamil
tanpa diabetes.
Pengambilan keputusan untuk melakukan persalinan lebih
awal (pada kehamilan 38 minggu) dengan cara induksi
persalinan atau seksio sesarea dilakukan atas pertimbangan
risiko terjadinya kematian perinatal dan morbiditas perinatal
yang berhubungan dengan makrosomia, distosia bahu, gawat
janin, dan terjadinya sindroma distres respirasi.
Penatalaksanaan perempuan hamil dengan DMG pada
kehamilan 38 minggu dengan cara induksi persalinan yang

61

mendapatkan pengobatan insulin, dihubungkan dengan upaya


menurunkan berat badan janin di atas 4000 gram.
Bila berat janin diduga lebih dari 4.500 g, persalinan
dianjurkan dengan cara seksio sesarea.
d. Pengelolaan Pascapersalinan
1) Perempuan dengan DMG jarang memerlukan insulin
karena sudah tidak ada resistensi terhadap insulin pada
periode pascasalin.
2) Pasien dengan diabetes yang terkontrol dengan diet,
setelah persalinan tidak perlu diperiksa kadar glukosanya.
Namun, bila waktu kehamilan diberi pengobatan insulin,
sebelum meninggalkan rumah sakit perlu diperiksa kadar
glukosa puasa dan 2 jam pascaprandial.
3) Perlu dilakukan pemeriksaan gula darah puasa dalam dua
waktu atau 2 jam setelah pemberian 75 g glukosa pada
glocose tolerance test (kadar glukosa kurang dari 140 mg
per dl berarti normal, kadar antara 140-200 mg per dl
berarti ada gangguan toleransi glukosa, kadar lebih dari
200 berarti diabetes mellitus) dilakukan pada 6 minggu
postpartum, untuk menurunkan risiko terjadinya tipe 2
diabetes mellitus di kemudian hari. Bila tes ini menunjukkan
kadar normal, maka kadar gukosa darah puasa dievaluasi
lagi setelah 3 tahun.
4) Skrining diabetes dilakukan secara berkala, khususnya bagi
pasien dengan kadar glukosa darah puasa yang meningkat
waktu kehamilan.
5) Perempuan

yang

pernah

menderita

DMG

diberikan

konseling agar menyusui anaknya, karena pemberian ASI


akan memperbaiki kontrol kadar gula darah.
6) Segera dilakukan perencanaan penggunaan kontrasepsi,
dikarenakan sekali perempuan hamil menderita diabetes,

62

maka akan beresiko terkena hal yang sama pada


kehamilan berikutnya. Tidak ada pembatasan penggunaan
kontrasepsi hormonal pada pasien dengan riwayat DMG.
7) Bagi perempuan yang obes, setelah melahirkan harus
melakukan upaya penurunan berat badan denga diet dan
olahraga secara teratur agar risiko terjadinya diabetes
menjdai menurun.
C. Penyakit Ginjal dalam Kehamilan
1. Pengertian
Dalam kehamilan terdapat perubahan-perubahan fungsional
dan anatomik ginjal dan saluran kemih, yang sering menimbulkan
gejala-gejala
laboratorium.

dan

kelainan

Apabila

hal

fisik

serta

pemeriksaan

hasil

itu

tidak

diperhatikan

dan

diperhitungkan, ada kemungkinan salah membuat diagnosis,


sehingga dapat merugikan ibu dan janin.
Perubahan anatomik terdapat peningkatan pembuluh darah,
dan ruangan intertisiil pada ginjal dan juga ginjal akan memanjang
kira-kira 1 cm. Semuanya itu akan kembali normal setelah
melahirkan. Ureter, pielum dan kaliks mengalami pelebaran dalam
kurun waktu yang pendek sesudah kehamilan 3 bulan, dan
terutama pada sisi sebelah kanan. Pelebaran yang tidak sama ini
mungkin

karena

perubahan

uterus

yang

membesar

dan

mengalami dekstrorotasi atau karena terjadinya penekanan pada


vena ovarium kanan yang terletak di atas ureter, sedangkan pada
yang di sebelah kiri tidak terdapat karena adanya sigmoid sebagai
bantalan.

Pelebaran

juga

karena

pengaruh

progesterone,

sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis fisiologis dalam


kehamilan. Ureter juga mengalami pemanjangan, melekuk, dan
kadang berpindah letak ke lateral, dan akan kembali normal 8-12
minggu setelah melahirkan. Semua hal di atas dapat dilihat

63

dengan

pemeriksaan

pielografi

intravena

(IVP=intravenosus

pylography).
Selain itu juga terjadi hyperplasia dan hipertrofi otot dinding
ureter dan kaliks, dan berkurangnya tonus otot-otot saluran kemih
karena pengaruh kehamilan. Dilatasi ureter ini memunginkan
timbulnya refluks air kemih dari kandung kemih ke dalam ureter.
Akibat pembesaran uterus, hiperemi organ-organ pelvis dan
pengaruh hormonal, terjadi perubahan pada kandung kemih yang
dimulai pada kehamilan usia 4 bulan. Kandung kemih akan
berpindah ke lebih anterior dan superior. Pembuluh-pembuluh di
daerah mukosa akan membengkak dan melebar. Otot kandung
kemih mengalami hipertrofi akibat pengaruh hormone esterogen.
Kapasitas kandung kemih meningkat sampai 1 Liter, kemungkinan
karena efek relaksasi dari hormon progesteron.
2. Perubahan Fungsi
Segera sesudah konsepsi, terjadi peningkatan aliran plasma
(RPF) dan tingkat filtrasi glomerolus (GFR). Sejak kehamilan
trimester 2 GFR akan meningkat sampai 30-50%, di atas nilai
normal wanita tidak hamil. Akibatnya akan terjadi penurunan dari
kadar kreatinin serum dan urea nitrogen darah. Nilai normal
kreatinin serum adalah 0,5 mg-0,7 mg/100 ml dan urea nitrogen
darah 8-12 minggu/100ml.
3. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih adalah bila pada pemeriksaan urin,
ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih dari 10.000 per ml. urin
yang diperiksa harus bersih, segar, dan dari aliran tengah
(midstream) atau diambil dari pungsi suprasimpisis. Ditemukan
bakteri yang jumlahnya lebih dari 103 per ml ini disebut dengan
istilah bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin tidak disertai gejala,
disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin pula disertai dengan
gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik. Walaupun infeksi ini

64

dapat terjadi karena penyebaran kuman melalui pembuluh


darahatau saluran limfe, akan tetapi yang terbanyak atau tersering
adalah kuman-kuman naik ke atas melalui uretra, ke dalam
kandung kemih dan saluran kemih yang lebih atas. Kuman yang
tersering dan terbanyak sebagai penyebab adalah Escheria coli
(E.coli), di samping kemungkinan kumn-kuman lain seperti
Enterbacter aerogenes, Klebsiella, Psedomonas dan lain-lain.
4. Gejala Bakteriuria
Gejala bakteriuria dibagi dalam :
a. Bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik)
Frekuensi bacterium tanpa gejala kira-kira 2-10 %, dan
dipengaruhi
hamil.Beberapa

oleh

parietas,

peneliti

sosioekonomi

mendapatkan

adanya

wanita
hubungan

kejadian bakteriuria ini dengan peningkatan kejadian anemia


dalam

kehamilan

persalinan

premature,

gangguan

pertumbuhan janin, dan preeklamsia. Oleh karena itu pada


wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan seksama
sampai air kemih bebas dari bakteri yang dibuktikan dengan
pemeriksaan beberapa kali. Pengobatan dapat dilakukan
dengan

pemberian

obat

sulfonamide

ampisilin,

atau

nitrofurantoin.
b. Bakteriuria dengan gejala (simptomatik)
1) Sistisis
Sistitis adalah peradangan kandung kemih disebabkan
oleh bakteri atau kuman-kuman lain. Sistitis ini cukup
dijumpai dalam kehamilan dan nifas. Kuman penyebab
utama adalah E.coli, di samping dapat pula oleh kumankuman lain. Factor predisposisi lain adalah uretra wanita
yang pendek, sistokel, adanya sisa air kemih yang
tertinggal, di samping penggunaan kateter yang sering
dipakai dalam usaha mengeluarkan air kemih dalam

65

pemeriksaan ginekologik atau persalinan. Penggunaan


kateter ini akan mendorong kuman-kuman yang ada di
uretra distal untuk masuk ke dalam kandung kemih.
Dianjurkan untuk tidak menggunakan kateter bila tidak
perlu betul.
Gejala-gejala sistitis yaitu disuria terutama pada akhir
berkemih, meningkatnya frekuensi bekemih dan kadangkadang disertai nyeri di bagian atas simpisis, perasaan
ingin berkemih yang tidak dapat ditahan,air kemih kadangkadang terasa panas, suhu badan mungkin normal atau
meningkat, dan nyeri di daerah suprasimpisis. Pada
pemeriksaan laboratorium, biasanya ditemukan banyak
leukosit dan eritrosit dan kadang-kadang juga ada bakteri.
Kadang-kadang dijumpai hematuria sedangkan proteinuria
biasanya tidk ada.
Pengobatan

sama

seperti

bakteriuria

di

tambah

bikarbonas natrikus untuk menetralisir kencing menjadi


biasa.
2) Pielonefritis Akut
Merupakan salah satu komplikasi yang sering dijumpai
dalam kehamilan. Penyakit ini biasanya disebabkan oleh
Escheria coli, dan dapat pula oleh kuman-kuman lain
seperti

Stafilokokus

aereus,

Basillus

proteus,

dan

pseudomonas aeruginosa. Kuman dapat menyebar secara


hematogen atau limfogen, akan tetapi terbanyak berasal
dari kandung kemih. Predisposisinya antara lain yaitu
penggunaan kateter untuk mengeluarkan air kemih waktu
persalinan atau kehamilan, air kemih yang tertahan sebab
perasaan sakit waktu berkemih karena trauma persalinan,
atau luka pada jalan lahir. Diajurkan tidak menggunakan

66

kateter untuk mengeluarkan air kemih, bila tidak diperlukan


betul. Penderita yang menderita pielonefritis kronik atau
glomeroluneftitis

kronik

yang

sudah

ada

sebelum

kehamilan, sangat mendorong terjadinya pielonefritis akuta


ini.
Gejala-gejala penyakit biasanya timbul mendadak,
wanita yang sebelumnya merasa sakit sedikit pada
kandung kemih, tiba-tiba menggigil, badan panas, dan rasa
nyeri di punggung (angulus kostovertebralis) terutama
sebelah kanan. Nafsu makan berkurang, mual, muntahmuntah, dan kadang diare, dan dapat pula jumlah urin
sangat berkurang (oligouria). Pada pemeriksaan air kemih
ditemukan banyak sel leukosit dan sering bergumpalgumpal, silinder sel darah, dan kadang-kadang ditemukan
bakteri E.coli. pembiakan air kemih menunjukkan hasil
positif.
Pengobatan

penderita

harus

dirawat,

istirahat

berbaring, dan diberikan cukup cairan dan antibioitika


seperti ampicilin atau sulfonamide, sampai tes kepekaan
kuman ada, kemudian tes antibiotic disesuaikan dengan
hasil tes kepekaan tersebut. Biasanya pengobatan berhasil
baik, walaupun kadang-kadang penyakit ini dapat timbul
lagi. Pengobatan sedikitnya dilanjutkan selama 10 hari, dan
kemudian penderita harus tetap diawasi akan kemungkinan
berulangnya penyakit. Perlu diingat ada obat-obat yang
tidak boleh diberikan pada kehamilan walaupun mungkin
baik untuk pengobatan infeksi saluran kemih seperti
tetrsiklin,

sedangkan

pada

hasil

konsepsi

seringkali

menimbulkan keguguran atau persalinan premature.


3) Pielonefritis Kronika

67

Pielonefritis
menunjukkan

kronik

biasanya

gejala-gejala

tidak

penyakit

atau

sedikit

saluran

kemih.

Penderita mungkin menderita tekanan darah tinggi. Pada


keadaan penyakit yang lebih berat didapatkan penurunan
tingkat filtrasi glomerolus (GFR) dan pada urinalisis urin
mungkin normal, mungkin ditemukan protein kurang dari 2
gr per hari, gumpalan sel-sel darah putih.
Penderita

yang

hipertensi

dan

insufisiensi

ginjal

mempunyai prognosis buruk. Penderita ini sebaiknya tidak


hamil, karena risiko tinggi. Pengobatan penderita yang
menderita pielonefritis kronika ini tidak banyak yang dapat
dilakukan, dan kalau menunjuk ke arah pielonefritis akuta,
terapi sperti yang telah diuraikan. Perlu dipertimbangkan
untuk terminasi kehamilan pada penderita yang menderita
pielonefritis kronika.
4) Glomerulonefritis Akuta
Glomerulonefritis akuta jarang dijumpai pada wanita
hamil. Peyakit ini dapat timbul setiap saat dalam kehamilan,
dan penderita nefritis dapat menjadi hamil. Yang menjadi
penyebab biasanya Streptococcus beta-haemolyticus jenis
A. Gambaran klinik ditandai timbulnya hematuria dengan
tiba-tiba, edema dan hipertensi pada penderita sebelumnya
tampak sehat. Kemudian sindroma ditambah dengan
oligouria sampai anuria, nyeri kepala, dan mundurnya visus
(retinitis albuminika). Diagnosis menjadi sulit apabila timbul
serangan kejang-kejang dengan atau tanpa koma yang
disebabkan oleh komplikasi hipertensi serebral, atau oleh
uremia, atau apabila timbul edema paru-paru akut. Apabila
penyakitnya diketahui dalam trimester III, maka perbedaan
dengan preeklamsia dan eklampsia selalu harus dibuat.

68

Pengobatan : istirahat baring, diet yang sempurna dan


rendah

garam,

pengendalian

hipertensi

serta

keseimbangan cairan dan elektrolit. Untuk pemberantasan


infeksi cukup diberi penicillin, karena streptococcus peka
terhadap penicillin. Apabila ini tidak berhasil, maka harus
dipakai antibiotika yang sesuai dengan hasil tes kepekaan.
Kehamilan tidak banyak mempengaruhi jalan penyakit.
Sebaliknya glomerulonefritis akuta mempunyai pengaruh
tidak baik terhadap hasi konsepsi, terutama yang disertai
tekanan darah yang sangat tingggi dan insufisiensi ginjal,
dapat menyebabkan abortus, partus prematurus dan
kematian janin.
5) Glomerulonefritis Kronika
Penyakit ini adalah menahun karena wanita sebelum
hamil telah menderita glomerulonefritis kronika. Karena itu,
pada pemeriksaan kehamilan pertama dapat dijumpai
proteinuria, sedimen yang tidak normal, dan hipertensi.
Diagnosis mudah dibuat bila dijumpai proteinuria, sedimen
yang tidak normal, dan hipertensi. Apabila gejala-gejala
penyakit penyakit baru timbul dalam kehamilan yang sudah
lanjut,

atau

ditambah

dengan

pengaruh

kehamilan

(superimposed preeclampsia), maka lebih sulit untuk


membedakannya dari preeklampsi murni.
Bila penyakit tekah lama dan pengobatan tidak adekuat
akhirnya fungsi ginjal bertambah buruk dan pada tingkat
paling akhir terjadi ginjal kisut.
Pengaruh terhadap kehamilan dan persalinan yaitu
pada kehamilan akan menyebabkan abortus, partus
premaaturus

dan

kematian

janin

dalam

kandungan.

Sedangkan pada persalinan menyebabkan seperti pre-

69

eklamsi, kala II pendek dengan bantuan vakum ektraksi


atau forseps bila anak hidup dan embriptomi bila mati.
6) Sindroma Nefrotik
Sindroma nefrotik, yang dahulu dikenal dengan nama
nefrosis, ialah suatu kumpulan gejala yang terdiri atas
edema,

proteinuria

(lebih

dari

gram

sehari),

hipoalbuminemia, dan hiperkolesterolemia. Keadaan ini


dijumpai dalam kehamilan.
Penyebabnya yaitu penyakit-penyakit seperti diabetes
militus,

lupus

eritematosus,

amiloidosis,

sifilis,

dan

trombosis vena renal, keracunan oleh logam, obat dan


racun lainya.
Pengobatan yaitu cari penyebabnya dan obati sesuai
penyababnya, biarkan diit tinggi protein, antibiotik untuk
mencegah

infeksi,

berikan

heparin

untuk

mencegah

trombo-embolisme( pada nifas), kortikosteroid dosis tinggi


(pengaruh terhadap kehamilan tergantung dari penyebab,
berat dan ringannya penyakit).
7) Gagal Ginjal Akut
Gagal ginjal mendadak (acute renal failure) merupakan
komplikasi yang sangat gawat dalam kehamilan dan nifas,
karena dapat menimbulkan kematian atau kerusakan fungsi
ginjalyang tidak bisa sembuh lagi.
Kelainan ini didasari oleh 2 jenis patologi:
a) Nekrosis

tubular

akut,

apabila

sumsum

ginjal

mengalami kerusakan.
b) Nekrosis kortikal bilateral apabila sampai kedua ginjal
yang menderita.
Penderita yang mengalami gagal ginjal mendadak ini
sering dijumpai pada kehamilan muda 12-18 minggu, dan
kehamilan telah cukup bulan. Pada kehamilan muda, sering

70

diakibatkan oleh abortus septic yang diakibatkan oleh


bakteri Chlostridia welchii atau streptococcus. Gambaran
klinik lain yaitu berupa sepsis, dan adanya tanda-tanda
oligouria mendadak dan azothemia serta pembekuan darah
intravaskuler (DIC), sehingga terjadi nekrosis tubular yg
akut. Kerusakan ini dapat sembuh kembali bila kerusakan
tubulus tidak terlalu luas dalam waktu 10-14 hari.
Seringkali dilakukan tindakan tindakan histerektomi
untuk menagatasinya, akan tetapi ada peneliti yang
menganjurkan tidak perlu melakukan operasi histerektomi
tersebut

asalkan

penderita

diberikan

antibiotic

yang

adekuat dan intensif serta dilakukan dialysis terus menerus


sampai fungsi ginjal baik. Lain halnya dengan nekrosis
kortikal yang bilateral, biasanya dihubungkan dengan
solusio plasenta, preeclampsia berat atau eklampsia,
kematian janin dalam kandungan yang lama, emboli air
ketuban yang mnyebabkan terjadinya DIC, reaksi transfusi
darah

atau

pada

perdarahan

banyak

yang

dapat

menimbulkan iskemi. Penderita dapat meninggal dalam


waktu 7-14 hari setelah timbulnya anuria. Kerusakan
jaringan dapat terjadi di beberapa tempat yang tersebar
atau ke seluruh jaringan ginjal. Gagal ginjal dalam
kehamilan ini dapat dicegah bila dilakukan:
a) Penangan kehamilan dan persalinan dengan baik.
b) Perdarahan, syok, dan infeksi segera diatasi atau
diobati dengan baik.
c) Pemberian trannfusi darah dengan hati-hati
8) Batu Ginjal (Nefrolitiasis) dan Saluran Kemih (Urolitiasis)
Batu saluran kemih dalam kehamilan tidaklah biasa.
Walaupun demikian perlu juga diperhatikan karena urotiasis
ini dapat mendorong timbulnya infeksi saluran kemih, atau

71

menimbulkan

keluhan

pada

penderita

berupa

nyeri

mendadak, kadang-kadang berupa kolik, dan hematuria.


Kalau batu cukup besar maka operasi harus dilakukan,
biasanya tidak mempengaruhi kehamilan. Yang penting
adalah kerjasama multidisiplin.
Diagnosis lebih tepat dengan melakukan pemeriksaan
intravenous pielografi, akan tetapi janin harus dilindungi
dari efek penyinaran. Hal ini dapat pula dengan USG dan
MRI.
Bila diketahui adanya urolitiasis dalam kehamilan,
terapi pertama adalah analgetika untuk menghilangkan
sakitnya, diberi cairan banyak agar batu dapat ke bawah,
karena hampir 80% batu akan dapat turun ke bawah, serta
antibiotika. Pada penderita yang membutuhkan tindakan
operasi, sebaiknya operasi dilakukan setelah trimester
pertama atau setelah post partum. Bila batu tersebut
diperkirakan menghalangi jalannya persalinan, kehamilan
diakhiri dengan SC, dan batu diangkat post partum dengan
seksio alta atau lipotripsi.
9) Ginjal Polikistik
Ginjal
(herediter).

polikistik

merupakan

Kehamilan

umunya

kelainan
tidak

bawaan

mempengaruhi

perkembangan pembentukan kista pada ginjal, begitu pula


sebaliknya. Akan tetapi bila fungsi ginjal kurang baik, maka
kehamilan akan memperberat atau merusak fungsinya.
Sebaliknya
sebaiknya

wanita
tidak

yang
hamil

telah
karena

mempunyai

kelainan

kemungkinan

timbul

komplikasi akibat kehamilan selalu tingggi.


10)Tuberkulosis Ginjal
Jarang dijumpai wanita hamil dengan tuberculosis
ginjal,

walaupun

dalam

literature

disebutkan

ada.

72

Kehamilan akan mempengaruhi TBC ginjal tersebut, bila


tidak diobati. TBC pada ginjal dapat hamil terus, asal fungsi
ginjalnya baik.
Diagnosis TBC ginjal ditentukan bila ditemukan tuberkel
kuman MIkrobakterium tuberculosis pada ginjal, tetapi hal
ini sulit dilakukan karena diperlukan tindakan invasive. Tes
Tuberkulin tidak dapat dijadikan patokan karena kehamilan
mengurangi
ditegakkan

sensitivitas
bila

tuberculin.

ditemukan

Diagnosis

leukosit,

eritrosit,

dapat
dan

tuberculosis dalam urin.


Penanganan TBC ginjal dalam kehamilan:
a) Konservatif, dengan mengobati gejala yang timbul
sampai akhir kehamilan.
b) Paliatif,

dengan

melakukan

terminasi

kehamilan

bertujuan untuk mencegah kerusakan yang ditimbulkan


oleh proses tuberculosis.
c) Radikal, yang terdiri atas nefroktomi atau kombinasi
aborsi dan nefrektomi. Nefrektomi merupakan pilihan
apabila tuberculosis hanya terjadi pada 1 ginjal. Aborsi
tidak menghentikan proses tuberculosis.
Komplikasi yang dapat terjadi adalah abortus dan janin
yang terinfeksi. Mortalitas ibu dan bayi apabila tidak diobati
berkisar 30-40%. Terapi TBC ginjal sama dengan terapi
TBC organ-organ lain. Untuk membuat diagnosis TBC
ginjal diperlukan pemeriksaan laboraturium khusus.

73

BAB III
ANALISIS KEPROFESIAN
A. Tinjauan Teori
Menurut Permenkes RI No 1464/Menkes/Per/X/2010 Tentang Izin
Dan

Penyelenggaraan

Praktik

Bidan

Pada

Bab

III

Tentang

Penyelenggaraan Praktik.
Bidan

dalam

PASAL 9
menjalankan
praktik,

berwenang

untuk

memberikanpelayanan yang meliputi:


a. Pelayanan kesehatan Ibu
b. Pelayanan kesehatan anak
c. Pelayanan kesehatan reproduksi perempuan dan keluarga berencana
PASAL 10
(1) Pelayanan kesehatan Ibu sebagaimana dimaksud dalam pasal 9
huruf a diberikan pada masa pra hamil, kehamilan, masa persalinan,
masa nifas, masa menyusui dan masa antara dua kehamilan
(2) Pelayanan kesehatan Ibu sebagaiman dimaksud pada ayat (1)
meliputi:
a. Pelayanan konseling pada masa pra hamil
b. Pelayanan antenatal pada kehamilan normal
c. Pelayanan persalinan normal

74

d. Pelayanan ibu nifas normal


e. Pelayanan ibu menyusui
f. Pelayanan konseling pada masa antara dua kehamilan.
(3) Bidan dalam memberikan pelayanan sebagaimana dimaksud pada
a.
b.
c.
d.
e.
f.

ayat 2 berwenang untuk:


Episiotomi
Penjahitan luka jalan lahir tingkat 1 dan 2
Penanganan kegawatdaruratan, dilanjutkan perujukan
Pemberian tablet fe pada ibu hamil
Pemberian vitamin A dosis tinggi pada ibu nifas
Fasilitas atau bimbingan inisiasi menyusu dini dan promosi air susu Ibu

g.
h.
i.
j.
k.

ekslusif
Pemberian uterotonika pada management aktif kala III dan post partum
Penyuluhan dan konseling
Bimbingan pada kelompok ibu hamil
Pemberian surat keterangan kematian
Pemberian surat keterangan cuti bersalin
Menurut

Kepmenkes

RI

No

369/Menkes/SK/III/2007Tentang

Standar Profesi Bidan Pada Standar Kompetensi Bidan ke-3.

75

76

Menurut Draft Standar Kompetensi Bidan Indonesia (revisi


November 2011 pada komponen area kompetensi 4 : Landasan Ilmiah
Praktik Kebidanan, pada bagian komponen kompetensi 4.2, yakni
Bidan memiliki pengetahuan ynag diperlukan untuk dapat memberikan

77

pelayanan antenatal yang berkualitas tinggi guna memaksimalkan


kesehatan selama kehamilan ermasuk deteksi dini dan pengobatan
atau rujukan pada komplikasi tertentu, tepatnya pada 4.2.27 Tanda,
gejala dan indikasi untuk melakukan rujukan dengan komplikasi
tertentu yang mempengaruhi ibu atau janin (misalnya, asma, infeksi
HIV, diabetes mellitus, kondisi jantung, malpresentations/ kelainan
letak, gangguan plasenta, kelahiran prematur, kehamilan lewat waktu)
B. ANALISIS
Berdasarkan Permenkes 1464 disebutkan bahwa kewenangan
bidan adalah pada kehamilan, persalinan, dan nifas normal.
Sedangkan

menurut

Kepmenkes

396,

Bidan

harus

memiliki

pengetahuan tambahan tentang tanda, gejala, dan indikasi rujukan


pada komplikasi tertentu dalam kehamilan, seperti asma, infeksi HIV,
infeksi IMS, diabetes, kelainan jantung, postmatur/ serotinus serta
akibat dari penyakit akut dan kronis tersebut bagi kehamilan dan
janinnya. Selain itu bidan juga harus dapat melakukan identifikasi
penyimpangan kehamilan normal dan melakukan penanganan yang
tepat termasuk merujuk ke fasilitas pelayanan tepat dari diabetes
mellitus, dan hasil laboratorium yang tidak normal. Begitupun menurut
Draft Standar Kompetensi Bidan Indonesia (revisi November 2011),
bahwa kewenangan bidan hanya sebatas mendeteksi tanda, gejala,
dan indikasi untuk melakukan rujukan dengan komplikasi diabetes,
dan kondisi jantung).
Artinya bidan hanya berwenang dalam identifikasi, penanganan
awal termasuk konseling, serta melakukan rujukan ke fasilitas
kesehatan dengan tepat.
BAB IV
ASUHAN TERFOKUS
A. Penyakit Jantung dalam Kehamilan
Asuhan terfokus yang diberikan antara lain:

78

1. Melakukan deteksi dini pada semua ibu hamil untuk mendeteksi


adanya tanda dan gejala adanya penyakit jantung yang diderita
ibu dengan anamnesa riwayat kesehatan ibu, dan keluarganya.
Kemudian pendeteksian dini ini dapat dilanjutkan dengan
pengujian diagnosis yaitu:
a. Elektrokardiogram (mendeteksi aritmia atau denyut jantung
tidak teratur, masalah dengan sistem konduksi listrik, atau bukti
dari masalah jantung sebelumnya ) .
b. Magnetic Resonance Imagining ( MRI ) juga dapat dilakukan
setelah pertengahan trisemester II
c. Kateterisasi jantung dan angioplasti yang memerlukan paparan
sinar x hanya dapat dilakukan bila secara klinis diperlukan.
Perut terlindung untuk melindungi janin.
Dalam hal ini bidan melakukan kolaborasi dengan dokter.
2. Melakukan pemeriksaan fisik seperti memonitor tekanan darah
dengan baik. Selama kehamilan , suara jantung ketiga dan
fungsional sistolik murmur mungkin normal. Denyut jantung
biasanya meningkat. Setelah pemeriksaan fisik, pada ibu dapat
ditemukan sianosis, kesulitan bernafas, dan oedema pada kaki.
3. Memberikan pengertian mengenai dampak kehamilan baik bagi
ibu tersebut maupun pada janinnya sehingga ibu hamil dapat
memahami alasan untuk melaksanakan pengawasan antenatal
yang teratur sesuai dengan jadwal yang ditentukan.
4. Menjelaskan pada ibu mengenai keadaan kehamilannya dan
dirinya sekarang setiap selesai melakukan antenatal care.
5. Pengelolaan diet dengan melakukan konseling kepada ibu untuk
mencegah kenaikan berat badan yang berlebihan.
6. Memberikan konseling tentang waktu istirahat cukup, cukup tidur,
diet rendah garam, dan pembatasan jumlah cairan.
7. Kerjasama dengan ahli penyakit dalam atau kardiolog, dan harus
dibina sedini mungkin.
B. Diabetes Mellitus dalam Kehamilan
Asuhan terfokus yang diberikan oleh bidan antara lain:
1. Penapisan dan Deteksi Dini

79

Penapisan dan deteksi dini dilakukan pada saat pemeriksaan


kehamilan atau antenatal care, dengan cara:
a. Anamnesa untuk mengetahui risiko tinggi terjadinya diabetes
mellitus gestasional Kelompok

resiko

tinggi

terjadinya

diabetes melitus gestational, adalah:


1) Riwayat kebidanan yang mencurigakan
a) Beberapa kali mengalami keguguran
b) Pernah melahirkan anak mati tanpa sebab yang jelas
c) Pernah melahirkan bayi dengan cacat bawaan
d) Pernah melahirkan bayi dengan BBL: 4000 gram
e) Pernah keracunan kehamilan
f) Pernah mengalami polihidramnion
2) Riwayat ibu yang mencurigakan
a) Umur ibu waktu hamil lebih dari 30 tahun
b) Riwayat DM dalam keluarga
c) Riwayat DMG sebelumnya
d) Obesitas
e) Infeksi saluran kencing yang berulang selama hamil
Skrining dilakukan sedini mungkin selama, namun beberapa
sumber

mengatakan

bahwa

skrining

dilakukan

pada

kehamilan minggu ke-28 atau lebih dengan catatan pada


kelompok ibu-ibu dengan resiko tinggi, skrining dilakukan
pada minggu ke-24 kehamilan. Javanovic menganjurkan
waktu skrining yang terbaik ialah pada minggu ke 27-31
kehamilan. Skrining ulang dilakukan pada minggu ke 33-36
kehamilan, pada ibu hamil dengan resiko tinggi atau tes
toleransi glukosa positif.
b. Pemeriksaan fisik : adanya obesitas dan edema.
c. Pemeriksaan penunjang berupa pemeriksaan glukosa darah.
Pemeriksaan glukosa darah ini dapat berdasarkan WHO atau
American Collage ofObstetricians and Gyenecologists
1) Cara WHO
Sejak tahun 1980 WHO telah membuat cara
skrining untuk diabetes mellitus. Untuk mendeteksi
diabetes mellitus dilakukan tes toleransi glukosa oral
dengan beban 75 gram. Dinyatakan diabetes mellitus
bila kadar glukosa darah plasma vena puasa >140

80

mg/dL dan atau 2 jam setelah pembebanan >200


mg/dL. Kadar glukosa darah plasma vena puasa yang
normal <100 mg/dL dan dua jam setelah pembebanan
<140 mg/dL. Mereka yang mempunyai kadar glukosa
darah diantara kadar normal dan diabetes mellitus
disebut kelompok toleransi glukosa terganggu. Khusus
untuk wanita hamil dengan toleransi glukosa terganggu
harus diobati sebagai penderita diabetes mellitus.
2) Cara
American
Collage
of
Obstetricians
Kadar glukosa plasma vena

and

Normal

Puasa (mg/dl)
<100

2Jam PP(mg/dl)
<140

Diabetes Melitus

140

200

Toleransi

Glukosa 100-140

140-200

Terganggu
Gynecologists
American CollageofObstetriciansAnd

Gynecologists(1986)

merekomendasikan bahwa penapisan hanya perlu untuk wanitawanita resikotinggi yaitu yang berumur lebih dari 30 tahun, ada
riwayat

keluarga

dengan

diabetes,

pernah

melahirkan

bayi

makrosomia, bayi dengan malformasi atau bayi lahir mati, wanita


hamil yang gemuk, hipertensi atau glukosuria.
Sementara itu, karena masih belum adanya
keseragaman

dalam

membuat

kriteria

diagnosis

diabetes dalam kehamilan, maka American Collage


ofObstetricians and Gyenecologists (Hughes, 1972)
membuat standarisasi.Seseorang dianggap menderita
diabetes

bila

tes

toleransi

glukosanya

menunjukkanhasil sebagai berikut :


a) Puasa : normal atau kurang dari 100 mg%
b) 1/2 jam : lebih dari 150 mg %
c) 1 jam

: lebih dari 160 mg %

d) 2 jam

: lebih dari 160 mg %

81

e) 3 jam

: normal atau lebih dari 120 mg %

2. Pengelolaan Kasus Diabetes Mellitus yang Sudah Ada


a. Penanganan Obstetrik
1) Pemeriksaan antenatal yang teratur sesuai jadwal yang
ditentukan, baik pada BPS, Polindes, maupun Puskesmas
dilakukan pemantauan keadaan klinis ibu dan janin, dan
dipastikan sesuai standar normal, yakni
a) Tekanan darah tidak 140/90 mmHg
b) Pembesaran/ tinggi fundus uteri sesuai dengan usia
kehamilan
c) Denyut jantung janin dalam kisaran normal yakni 120-160
x/menit
d) Program diet
Diet yang dianjurkan pada ibu hamil yakni diberikan
25 kalori/kgBB ideal, kecuali pada penderita yang gemuk
dipertimbangkan kalori yang lebih mudah.Cara yang
dianjurkan adalah cara Broca yaitu BB ideal = (TB-100)10% BB.
Kebutuhan kalori adalah jumlah keseluruhan kalori
yang diperhitungkan dari:
1. Kalori basal 25 kal/kgBB ideal
2. Kalori kegiatan jasmani 10-30%
3. Kalori untuk kehamilan 300 kalor
4. Perlu diingat kebutuhan protein ibu hamil 1-1.5
gr/kgBB.
Kenaikan berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg
pada trimester pertama dan selanjutnya rata-rata 0.5 kg
setiap minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan berat
badan yang dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu
BB kurang14-20 kg, ibu BB normal 12.5-17.5 kg dan ibu
BBlebih/obesitas 7.5-12.5 kg).
e) Pemeriksaan dengan USG jika fasilitas memadai.
f) Melakukan perujukan ke tingkat pelayanan yang lebih
komprehensif

atau

melakukan

kolaborasi

seperti

konsultasi dengan dokter kandungan dan dokter penyakit


dalam, untuk melakukan pemeriksaan penunjang dan

82

penatalaksanaan selanjutnya. Pemeriksaan penunjang


yakni pemeriksaan kadar gula darah secara teratur,
minimal 2 kali seminggu. Nilai normal, yakni < 105 mg/dl
untuk kadar glukosa darah puasa, dan < 120 mg/dl untuk
2 jam pp dan Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 68 minggu sekali
2) Pada tingkat rumah sakit, pemantauan ibu dan janin
dilakukan dengan cara:
a) Pemeriksaan pembesaran/ tinggi fundus uteri sesuai
dengan usia kehamilan
b) Kolaborasi dengan dokter kandungan dan laboratorium
untuk NST - USG serial
c) Kolaborasi dengan dokter kandungan untuk penilaian
paling ideal adalah penilaian janin dengan skor fungsi
dinamik janin-plasenta (FDJP), nilai FDJP < 5 merupakan
tanda gawat janin. Penilaian ini dilakukan setiap minggu
sejak usia kehamilan 36 minggu. Adanya makrosomia,
pertumbuhan janin terhambat (PJT) dan gawat janin
merupakan indikasi untuk melakukan persalinan secara
seksio sesarea.
Pada janin yang sehat, dengan nilai FDJP > 6, dapat
dilahirkan pada usia kehamilan cukup waktu (40-42 mg)
dengan persalinan biasa. Pemantauan pergerakan janin
(normal >l0x/12 jam).
Bila akan melakukan
dilakukan

terminasi

amniosentesis

kehamilan

terlebih

dahulu

harus
untuk

memastikan kematangan janin (bila usia kehamilan < 38


mg).
d) Kehamilan

DMG

dengan

komplikasi

(hipertensi,

preeklamsia, kelainan vaskuler dan infeksi seperti


glomerulonefritis, sistitis dan monilisasis) harus dirawat
sejak usia kehamilan 34 minggu. Penderita DMG dengan
komplikasi biasanya memerlukan insulin.

83

e) Seksio

sesarea

dipertimbangkan

bila

terdapat

makrosomia, pertumbuhan janin terhambat dan gawat


janin. Bila keadaan ibu dan janin baik dan tidak ada
masalah dari aspek DM maupun aspek obstetri lainnya,
maka dapat diharapkan penderita melahirkan melalui
persalinan spontan pervaginam biasa.

Penatalaksanaan Obstetrik Kehamilan Dengan DM.


3. Menjaga Kualitas Kehamilan dan Buah Kehamilan
a. Memberikan pengertian kepada ibu hamil untuk melaksanakan
pemeriksaan ANC yang teratur sesuai dengan jadwal yang
ditentukan.
b. Program diet untuk mengendalikan kadar gula darah ibu dalam
batas normal serta pengontrolan gula darah secara ketat.

84

Sementara itu diet dianjurkan ialah karbohidrat 40%, protein


1-1.5 gr/kg berat badan, lemak 45-60gr. Garam perlu dibatasi
untuk mengurangi kecenderungan retensi air dan garam.
Kenaikan berat badan ibu dianjurkan sekitar 1-2.5 kg pada
trimester pertama dan selanjutnya rata-rata 0.5 kg setiap
minggu. Sampai akhir kehamilan, kenaikan berat badan yang
dianjurkan tergantung status gizi awal ibu (ibu BB kurang14-20
kg, ibu BB normal 12.5-17.5 kg dan ibu BBlebih/obesitas 7.512.5 kg).
Ibu dianjurkan melakukan pemeriksaan gula darah secara
teratur, minimal 2 kali, untuk memastikan kadar gula darah ibu,
dan Nilai normal, yakni < 105 mg/dl untuk kadar glukosa darah
puasa, dan < 120 mg/dl untuk 2 jam pp. Jika penatalkasanaan
dengan diet tidak berhasil, atau kadar gula darah tidak normal,
maka segera lakukan penggunaan insulin.
c. Hb glikosilat diperiksa secara ideal setiap 6-8minggu sekali.
d. Menghindari terjadinya infeksi saluran kemih dan saluran yang
lain melalui konseling personal hygiene/ menjaga kebersihan
diri dengan baik.
e. Pemeriksaan dengan USG jika fasilitas memadai.
4. Kebijakan dan Program-program
a. Sesuai dengan evidence-based practice, pemerintah telah
menetapkan program kebijakan ANC dalam hal kunjungan ANC,
yakni kunjungan ANC dilakukan minimal 4 x selama kehamilan,
yakni:
1) Trimester I
Sebelum 14

minggu: Mendeteksi masalah yg

dapat

ditangani sebelum membahayakan jiwa.


2) Trimester II
14 28 minggu: Sama dengan trimester I ditambah dengan
kewaspadaan

khusus

terhadap

hipertensi

kehamilan

(deteksi gejala preeklamsia, pantau TD, evaluasi edema,


proteinuria)
3) Trimester III

85

28 36 minggu: Sama dengan trimester I dan II, ditambah


deteksi kehamilan ganda.
4) Setelah 36 minggu
Sama dengan 3 kunjungan sebelumnya, ditambah deteksi
kelainan letak atau kondisi yang memerlukan persalinan di
RS.
Program tersebut tercantum dalam Keputusan

Menteri

Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk


Teknis

Standar

Pelayanan

Minimal

Bidang

Kesehatan

di

Kabupaten/Kota bahwa kunjungan ibu hamil sesuai standar adalah


pelayanan yang mencakup minimal :
1) Timbang badan dan ukur tinggi badan
2) Ukur tekanan darah
3) Skrining status imunisasi tetanus (dan pemberian Tetanus
Toksoid)
4) (ukur) tinggi fundus uteri
5) Pemberian tablet besi (90 tablet selama kehamilan)
6) Temu wicara (pemberian komunikasi interpersonal dan
konseling)
7) Test laboratorium sederhana (Hb, Protein urin) dan atau
berdasarkan indikasi (HbsAg, Sifilis, HIV, Malaria, TBC).
b. Safe Motherhood/ Making Pregnancy Safer (MPS)
Program safe motherhood bertujuan untuk mengurangi tingkat
kematian ibu dengan cara:
1) Meningkatkan mutu dari, dan akses ke pelayanan perawatan
kesehatan ibu dan bayi.
2) Mendukung jangkauan dan kapasitas bidan di desa dan
dukun bayi.
3) Memberdayakan masyarakat untuk mengenali kesulitankesulitan selama masa kehamilan dan persalinan agar dapat
mengambil tindakan tepat guna membantu ibu dan bayi.
4) Memperkuat
kapasitas
pemerintah
daerah
dalam
merencanakan, melaksanakan, mengelola dan mengawasi
program persalinan yang aman
c. Expanding Maternal and Neonatal Survival (EMAS)

86

Program EMAS merupakan program hasil kerja sama antara


Pemerintah Indonesia dengan lembaga donor USAID, yang
bertujuan untuk menurunkan AKI dan AKN di Indonesia sebesar
25%. Untuk mencapai target tersebut, program EMAS akan
dilaksanakan di provinsi dan kabupaten dengan jumlah
kematian yang besar, yaitu Sumatera Utara, Banten, Jawa
Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan Sulawesi Selatan, dimana
pada tahun pertama akan dilaksanakan pada 10 kabupaten.
Upaya penurunan AKI dan AKN melalui program EMAS akan
dilakukan dengan cara:
1) Meningkatkan kualitas pelayanan emergensi obstetri dan
bayi baru lahir minimal di 150 Rumah Sakit (PONEK) dan
300 Puskesmas/Balkesmas (PONED)
2) Memperkuat sistem rujukan yang efisien dan efektif antar
Puskesmas dan Rumah Sakit
Dalam pelaksanaannya di lapangan, upaya tersebut
dilakukan dengan pendekatan Vanguard, yaitu:
1) Memilih dan memantapkan sekitar 30 RS dan 60
Puskesmas yang sudah cukup kuat agar berjejaring dan
dapat membimbing jaringan Kabupaten yang lain, dan
2) Melibatkan RS/RB swasta untuk memperkuat jejaring sistem
rujukan di daerah
Pada dasarnya memang tidak ada kebijakan atau program
khusu dari pemerintah untuk penenganan terfokus pada diabetes mellitus
dalam

kehamilan,

dikarenakan,

berdasarkan

Keputusan

Menteri

Kesehatan RI Nomor 828/MENKES/SK/IX/2008 Tentang Petunjuk Teknis


Standar Pelayanan Minimal Bidang Kesehatan di Kabupaten/Kota,
diabetes mellitus bukan merupakan salah satu komplikasi dalam
kehamilan. Namun deteksi dini dan pengelolaan pada ibu hami dengan
diabetes mellitus dijelaskan dalam ilmu kebidanan, dan program
pemerintah dalam pemeriksaan ibu hamil berupa standar pemeriksaan
serta peningkatan kualitas pelayanan obstetri dan neonatal secara tidak

87

langsung

merupakan

penetalaksanaan

kasus

diabetes

mellitus

gestasional.
C. Penyakit Ginjal dalam Kehamilan
1. Penapisan dan Deteksi Dini Penyakit Ginjal Pada Kehamilan
Pada awalnya tanda tanda atau deteksi dini penyakit ginjal
pada ibu hamil sama dengan penyakit ginjal pada pasien
umumnya. Pada kehamilan dapat diketahui dengan anamnesis
riwayat penyakit, pemeriksaan fisik, pemeriksaan laboratorium,
pemeriksaan radiologi seperti USG. Gejalanya antara lain adalah
volume urine tiba-tiba berkurang atau urine tidak keluar, pusing,
mual, tidak nafsu makan, sesak nafas, kadar ureum dan kreatinin
meningkat, nyeri pada perut bawah bagian kanan atau kiri, pada
gagal ginjal kronis biasanya badan sampai bengkak. Jika kadar
ureum dan kreatin meninggi maka kehamilanya tidak bisa
diselamatkan atau janin meninggal.
2. Pengelolaan Kasus yang Sudah Ada
Infeksi pada ginjal kanan atau kiri dapat dialami oleh wanita
pada kehamilan trimester 1, yaitu umur kehamilan yang masih
muda tapi terkadang ibu mengabaikan gejala tersebut hingga pada
akhirnya pertolongan persalinan harus dilakukan oleh dokter
spesialis kandungan dan dokter penyakit dalam agar bayi dapat
diselamatkan.
menyebabkan

Jika

infeksi

kebocoran

ginjal
protein

ini

berlanjut

pada

maka

urinnya

akan

sehingga

menyebabkan hipertensi atau keracunan kehamilan ( preeklamsi).


Jika dilakukan pemeriksaan radiologi atau USG ditemukan tumor
pada ginjall maka tumor tersebut segera diangkat dan pasien harus
melakukan cuci darah secara rutin ( 2 kali seminggu). Pada kasus
ini ibu tidak boleh hamil karena akan menyebabkan kematian pada
janin sebelum umur kehamilan cukup diakibatkan kadar ureum dan
kreatin terus meningkat. Penderita yang mengalami infeksi pada
ginjal dianjurkan untuk mengatur pola hidupnya sehari-hari. Hidup
teratur dengan makanan diet yang sesuai untuk penderita gagal

88

ginjal. Yang dibatasi misalnya mengkonsumsi cairan yang boleh


masuk dalam tubuh 800 cc, garam paling banyak satu sendok teh
peres perhari, kacang-kacangan serta olahanya.
3. Menjaga Kualitas Kehamilam dan Buah Kehamilan.
Pada penderita yang belum menderita penyakit ginjal kronis
atau baru gejala infeksi ginjal maka untuk mempertahankan
kehamilanya dapat dilakukan dengan diet makanan yang dapat
menyebabkan ureum dan kreatin dalam tubuh meningkat dan
mengatur pola hidupnya sehari- hari dengan berolahraga ringan,
menjaga tekanan darah agar tetap normal seta memberi antibiotik
sesuai anjuran dokter. Jika sudah terjadi gagal ginjal akut atau
gagal ginjal kronis maka sebaiknya berkonsultasi dengan dokter
kandungan dan dokter penyakit dalam untuk mempertahankan
kehamilanya.
4. Kebijakan dan Progam
a) Bidan melakukan asuhan terfokus terhadap penyakit ginjal
yang diderita oleh ibu hamil sesuai dengan standar profesi
kebidanan
b) Bidan dapat melakukan kolaborasi dengan dokter specialis
kandungan

dan

dokter

penyakit

dalam

untuk

mempertahankan kehamilanya.
c) Bidan dapat melakukan pemeriksaan USG terhadap
kehamilan awal atau trimester 1 sehingga dapat terdeteksi
secara dini mengenai penyakit yang diderita oleh ibu hamil
agar segera dilakukan penanganan secara khusus dan
melakukan kolaborasi dengan dokter.
d) Menurut Kepmenkes RI No 369/Menkes/SK/III/2007
Tentang Standar Profesi Bidan Pada Standar Kompetensi
Bidan ke-3.
e) Bidan hanya berwenang dalam identifikasi, penanganan
awal termasuk konseling, serta melakukan rujukan ke
fasilitas kesehatan dengan tepat.

89

BAB V
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Berdasarkan tinjauan teoritis dan data yang diperoleh maka dapat
disimpulkan
1. Penanganan pada kehamilan dengan penyakit ginjal, jantung, dan
diabetes mellitus oleh bidan adalah sebatas skrining dan
penatalaksanaan awal, serta prosedur rujukan yang tepat.
2. perubahan fungsional dan anatomik ginjal dan saluran kemih,
sering menimbulkan gejala dan kelainan fisik serta dalam
pemeriksaan laboratorium, sehingga dapat merugikan ibu dan
janin.
3. Infeksi saluran kemih bila ditemukan bakteri yang jumlahnya lebih
dari 103 per ml disebut juga bakteriuria. Bakteriuria ini mungkin
tidak disertai gejala, disebut bakteriuria asimtomatik, dan mungkin
pula disertai dengan gejala-gejala disebut bakteriuria simptomatik.
4. Bakteriuria tanpa gejala (asimptomatik), ini dapat meningkatan
kejadian

anemia

dalam

kehamilan

persalinan

premature,

gangguan pertumbuhan janin, dan preeklamsia. Oleh karena itu


pada wanita hamil dengan bakteriuria harus diobati dengan
seksama sampai air kemih bebas dari bakteri yang dibuktikan
dengan pemeriksaan beberapa kali.
B. SARAN

90

1. Bidan harus tanggap dan kritis dalam mengidentifikasi adanya


penyakit jantung, diabetes mellitus dan penyakit ginjal dalam
kehamilan.
2. Bidan segera melakukan kolaborasi dengan dokter penyakit
dalam apabila penderita mengalami morbiditas tinggi terkait
penyakit tersebut.
DAFTAR PUSTAKA
Prawirohardjo, Sarwono.2009.Ilmu Kebidanan. Jakarta:PT Bina
Pustaka Sarwono.
___________.1984.Obstetri Patologi, Bagian Obstetri dan
Ginekologi Fakultas Kedokteran Universitas Padjajaran
Bandung.Bandung:Elstar Offset.
http://www.gizikia.depkes.go.id/wpcontent/uploads/downloads/2010/12/

Permenkes-Bidan.pdf.

Diunduh

pada tanggal 10 April 2012 Jam 09.00 WIB.


http://www.depkes.go.id/downloads/Keputusan_MENKES_20072010
/Tahun_2007/KMKNo._369_ttg_Standar_Profesi_Bidan.pdf.

Diunduh

pada tanggal 10 April 2012 Jam 09.15 WIB.


http://www.mdguidelines.com/cardiovascular-disease-inpregnancy. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2012 Jam 14.00 WIB.
http://www.nmh.org/nm/diagnostic-testing-during-pregnancy.
Diunduh pada tanggal 5 Mei 2012 Jam 14.00 WIB.
http://www.kesehatanibu.depkes.go.id/archives/371#more371. Diunduh pada tanggal 5 Mei 2012 Jam 15.15 WIB.
http://dinkes.slemankab.go.id/wpcontent/uploads/2011/03/JUKNIS-SPM-2008.pdf. Diunduh pada
tanggal 5 Mei 2012 Jam 16.00 WIB.