Anda di halaman 1dari 17

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Angka Kematian Ibu menurut Survei Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI)
tahun 2007 adalah 228 per 100.000 kelahiran hidup, sedangkan target MDs pada
tahun 2015, AKI dapat diturunkan menjadi 102 per 100.000 kelahiran hidup (Dinkes,
2011). Penyebab langsung kematian ibu adalah perdarahan 60 70%, infeksi nifas
20-30% dan kematian akibat abortus dan partus lama 10 20% (Manuaba, 2007).
Masa nifas (puerperium) adalah masa yang dimulai setelah plasenta keluar dan
berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan semula (sebelum hamil)
jika ditinjau dari penyebab kematian pada ibu, infeksi merupakan penyebab kematian
terbanyak nomor dua setelah perdarahan dan diperkirakan 60% kematian ibu akibat
kehamilan terjadi setelah persalinan, dan 50% kematian masa nifas terjadi dalam 24
jam pertama (Suherni, Widyasih & Rahmawati, 2009, hal. 125).
Dari kasus infeksi ini, 25-55% disebabkan oleh infeksi jalan lahir. Infeksi ini
terjadi karena masih banyaknya ibu-ibu yang tidak makan-makanan yang bergizi,
Kebiasaan yang seperti tersebut akan dapat memperlambat proses penyembuhan luka
perineum, selain itu juga dapat memperlambat proses involusi pada ibu post partum
(Prancint. E, Yuyum, R.Heriyati, 2004). Proses penyembuhan luka perineum yang
normal adalah 6-7 hari post partum. Setelah ditelusuri lebih lanjut, mereka ternyata
memiliki kebiasaan makanan yang kurang baik, seperti berpantang makan, makanan
yang dimakan juga tertentu, khususnya lauk (makanan yang berprotein).
Kembalinya alat-alat kandungan ke keadaan sebelum hamil diperlukan
kandungan gizi yang diperlukan ibu. Makanan yang dikonsumsi pada masa nifas
harus bermutu, bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan yang mengandung sumber
tenaga (energy), sumber pembangun (protein), sumber pengatur dan pelindung
(mineral, vitamin dan air). Makanan yang dikonsumsi berguna untuk melakukan
aktivitas, metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses memproduksi Air Susu Ibu
(ASI) serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan
dan perkembangan bayi (Waryana, 2010).
Sehingga sangat tepat jika para tenaga kesehatan memberikan perhatian yang
tinggi pada masa nifas karena permasalahan pada ibu akan berimbas juga kepada
kesejahteraan bayi yang dilahirkan karena bayi tidak akan mendapatkan perawatan
maksimal dari ibunya. Dengan demikian, angka morbiditas dan mortalitas bayi akan

meningkat. Salah satu indikator untuk menentukan derajat kesehatan suatu bangsa
ditandai dengan tinggi rendahnya angka kematian ibu dan bayi. Oleh karena itu
perawatan selama masa nifas merupakan hal yang sangat penting untuk diperhatikan
(Suherni, Widyasih & Rahmawati, 2009, hal. 125).
B. Rumusan Masalah
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Apakah fungsi dan manfaat gizi pada ibu nifas ?


Apakah masalah kesehatan yang dialami ibu nifas ?
Apa sajakah macam zat gizi, manfaat dan jenis masing-masing makanannya ?
Apa sajakah akibat kekurangan dan kelebihan gizi pada ibu nifas ?
Apa sajakah makanan yang harus dibatasi dan dihindari ibu nifas ?
Apa sajakah mitos terkait asupan untuk ibu nifas dan fakta yang sebenarnya ?
Apa contoh menu makanan untuk ibu nifas ?

C. Tujuan
1. Mengetahui fungsi dan manfaat gizi pada ibu nifas.
2. Mengetahui masalah kesehatan yang dialami ibu nifas.
3. Mengetahui macam zat gizi, manfaat dan jenis masing-masing makanannya.
4. Mengetahui akibat kekurangan dan kelebihan gizi pada ibu nifas.
5. Mengetahui makanan yang harus dibatasi dan dihindari ibu nifas.
6. Mengetahui mitos terkait asupan untuk ibu nifas dan fakta yang sebenarnya.
7. Mengetahui contoh menu makanan untuk ibu nifas.

BAB II
PEMBAHASAN

2.1. Fungsi dan Manfaat Gizi Pada Ibu Nifas


Makanan yang dikonsumsi berfungsi untuk melakukan aktivitas, metabolisme,
cadangan dalam tubuh, proses memproduksi Air Susu Ibu (ASI) serta sebagai ASI itu
sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi. Untuk
mengembalikan alat-alat kandungan ke keadaan sebelum hamil diperlukan kandungan
gizi yang diperlukan ibu. Makanan yang dikonsumsi pada masa nifas harus bermutu,
bergizi dan cukup kalori. Sebaiknya makan yang mengandung sumber tenaga (energy),
sumber pembangun (protein), sumber pengatur`dan pelindung (mineral, vitamin, dan air)
(Waryana, 2010).
Masa nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu, sehingga masa nifas terutama
bila menyusui akan meningkat 25% karena berguna untuk proses kesembuhan karena
sehabis melahirkan dan untuk memproduksi air susu yang cukup untuk menyhatkan bayi
(Waryana, 2010).
Penelitian telah menunjukkan bahwa wanita yang mengikuti diet sehat selama
kehamilan memiliki penurunan risiko gejala depresi postpartum (PDD). Hasil penelitian
ini menunjukkan bahwa kepatuhan ibu untuk diet berdasarkan sayuran, buah, kacangkacangan, kacang-kacangan, produk susu, ikan dan minyak zaitum selama kehamilan
memiliki efek perlindungan terhadap PPD. Sementara pada penelitian lain, menunjukkan
bahwa tidak ada hubungan antara asupan ikan atau n-3 PUFA dan depresi, tetapi asupan
ikan sangat terkait dengan karakteristik sosiodemografi dan perilaku perempuan.
Ditemukan bahwa wanita yang mengkonsumsi, < 3 g ikan /hari berisiko lebih tinggi
mengalami PDD daripada yang wanita yang mengkonsumsi > 30 g /hari.
2.2. Masalah Kesahatan yang Dialami Ibu Nifas
Pada masa nifas bisa terjadi berbagai kemungkinan komplikasi dan diperlukan
deteksi dini komplikasi pada masa nifas. Deteksi dini komplikasi pada Masa Nifas yaitu:
1. Perdarahan Pervaginam
Pada kehamilan terjadi peningkatan sirkulasi volume darah yang mecapai 50%.
Perubahan volume darah tergantung pada beberpa faktor, misalnya kehilangan darah
selama melahirkan dan mobilisasi serta pengeluaran cairan ekstravasekuler (Bobak, et
al 2005). Mentolerasi kehilangan darah pada saat melahirkan perdarahan pervaginam
normalnya 400-500 cc. Sedangkan melaui caesaria kurang lebih 700-1000 cc.
Bradikardia (dianggap normal), jika terjadi takikardia dapat merefleksikan adanya
kesulitan atau persalinan lama dan darah yang keluar lebih normal atau perubahan
setelah melahirkan (Saleha, 2009). Perdarahan pervaginam yang melebihi 500 ml

setelah bersalin didefinisikan sebagai perdarahan pasca persalinan, terdapat beberapa


masalah mengenai definisi ini:
Perkiraan kehilangan darah biasanya tidak sebanyak yang sebenarnya, kadangkadang hanya setengah dari biasanya. Darah tersebut bercampur dengan cairan
amnion atau dengan urine, darah juga tersebar pada spon, handuk dan kain di

dalam ember dan lantai.


Volume darah yang hilang juga bervariasi akibatnya sesuai dengan kadar
hemoglobin ibu. Seorang ibu dengan kadar hemoglobin normal akan dapat
menyesuaikan diri terhadap kehilangan darah yang akan berakibat fatal pada
anemia. Seorang ibu yang sehat dan tidak anemia pun dapat mengalami akibat

fatal dari kehilangan darah.


Perdarahan dapat terjadi dengan lambat untuk jangka waktu beberapa jam dan
kondisi ini dapat tidak dikenali sampai terjadai syok.
Perubahan vagina dan perineum pada masa nifas terjadi pada minggu ketiga,

vagina mengecil dan timbul ragae (lipatan atau kerutan) kembali. Perlukaan vagina
yang tidak berhubungan dengan luka perineum tidak sering dijumpai. Mungkin
ditemukan setelah persalinan biasa, tetapi lebih sering akibat ektraksi dengan junam,
terlebih apabila kepala janin harus diputar. Tobekan terdapat pada dinding lateral dan
baru terlihat pada pemeriksaan spekulum.
Biasanya setelah melahirkan, perineum menjadi agak bengkan/edema/memar dan
mungkin ada luka jahitan bekas robekan atau episotomi, yaitu sayatan untuk
memperluas pengeluaran bayi. Penyembuhan luka biasnaya berlangsung 2-3 minggu
setelah melahirkan (Suhermi, et al. 2009). Vagina yang semula teregang akan kembali
secara bertahap ke ukuran sebelum hamil, 6 sampai 8 minggu setelah bayi lahir.
2. Infeksi Masa Nifas
Pada ibu pascapersalinan terdapay beberapa perubahan tanda-tanda vital seperti
berikut;
o Suhu : selama 24 jam pertama, suhu mungkin meningkat menjadi 38C,
sebagai akibat meningkatnya kerja otot, dehidrasi dan perubahan hormonal.
Jika terjadi peningkatan suhu 38C yang menetapkan 2 hari setelah 24 jam
melahirkan, maka perlu diperhatikan jika adanya infeksi sperti sepsis
puerperalis (infeksi selama post partum), infeksi saluran kemih, edometris
(peradangan

endometrium),

(Maryunani, 2009).

pembengkakan

payudaran

dan

lain-lain

o Beberapa bakteri dapat menyebabkan infeksi setelah persalinan, infeksi masa


nifas merupakan penyebab tertinggi AKI. Infeksi alat genital merupakan
komplikasi masa nifas. Infeksi yang meluar kesaluran urinary, payudara, dan
pasca pembedahan merupakan salah satu penyebab terjadinya AKI tinggi.
Gajala umum infeksi berupa suhu badan panas, malaise, denyut nadi cepat.
Gejala lokal dapat berupa uterus lembek, kemerahan dan rasa nyeri pada
payudara atau adanya disuria.
3. Sakit kepala, Nyeri Epigastrik, Penglihatan kabur
Gejala-gejala ini merupakan tanda-tanda terjadinya eklampsia post partum bila
disertai dengan tekanan darah yang tinggi
4. Demam, Muntah, Rasa sakit waktu bersin
Pada masa nifas dini sensitifitas kandung kemih terhadap tegangan air kemih di dalam
vesika sering menurun akibat trauma persalianan serta analgesia epidural atau spinal.
Sensasi peregangan kandungan kemih juga mungkin berkurang akibat rasa tidak
nyaman, yang ditimbulkan oleh epiosomi yang lebar, laserasi, hematom dinding
vagina.
5. Payudara yang berubah menjadi merah, panas, dan terasa sakit
Dapat disebabkan karena tidak memberikan ASI secara adekuat, putting susu yang
lecet, BH yang terlalu ketat, diet yang tidak tepat, kurang istirahat dan adanya anemia.
Selama kehamilan, payudara disiapkan untuk laktasi (hormon estrogen dan
progesteron) kolostrum, cairan payudara yang keluar sebelum produksi susu terjadi
pada trisemester III dan minggu pertama postpartum. Pembesaran mamae/payudara
terjadi dengan adanya penambahan sistem vaskuler dan limpatik sekitar mamae
(Maryunani, 2009).
6. Perubahan pada sistem pencernaan
Ibu pospartum setelah melahirkan sering mengalami konstipasi. Hal ini umumnya
disebabkan karena makanan padat dan kurang berserat selama persalinan. Di samping
itu rasa takut untuk buang air besar, sehubungan dengan jahitan pada perineum.
7. Rasa sakit, merah, lunak dan pembengkakan di kaki
Selama masa nifas dapat terbentuk thrombus sementara pada vena-vena maupun
pelvis yang mengalami dilatasi.
8. Depresi postpartum (PDD)
Postpartum Depression (PPD) atau Depresi pasca melahirkan didefinisikan sebagai
gangguan gejala depresif dengn onset 1 bulan setelah melahirkan.Sekitar 12 -16%
wanita mengalami PPD diseluruh dunia. Efek buruk dr PDD ini antara lain
terganggunya perkembangan anak, dan kognitif serta fungsi social.Wanita hamil
mentransfer DHA, salah satu PUFA n-3 penting, untuk janin mereka untuk
mendukung perkembangan saraf yang optimal selama kehamilan. DHA sangat

terkonsentrasi di membran neuronal sinaptik dan memiliki membran yang unik sifat
biofisik penting untuk fungsi sinaptik yang penting bagi gangguan mood. Sebagai
konsekuensi dari transfer selektif DHA pada janin, ibu hamil dan pasca melahirkan
mungkin pada peningkatan risiko PPD karena menipisnya DHA.
2.3. Macam-Macam Zat Gizi, Manfaat dan Jenis Masing-Masing Makanannya
1. Karbohidrat
Fungsi sebagai sumber tenaga (energi). Untuk pembakaran tubuh, pembentukan
jaringan baru, penghematan protein.
Sumber: nasi, jagung, gandum, roti, sagu, ketela, dan tepung terigu.

2. Protein
Protein diperlukan untuk pertumbuhan dan penggantian sel sel yang rusak atau mati.
Protein dari makanan harus diubah menjadi asam amino sebelum diserap oleh sel
mukosa usus dan dibawa ke hati melalui pembuluh darah vena portae.
a. Protein nabati, contoh tahu, tempe, kacang-kacangan
b. Protein hewani, contoh ikan, udang, kerang, kepiting, daging ayam, hati, telur,
susu dan keju
3. Vitamin
a. Vitamin A
Pemberian Vitamin A pada ibu nifas, yang diberikan segera setelah bayi dilahirkan
sampai usia bayi 60 bulan. Terbukti dapat menaikan status vitamin A bayi pada
usia 2 bulan sampai bayi berusia enam bulan. Sehingga dengan pemberian
suplementasi vitamin A pada ibu nifas dapat menurunkan resiko terjadinya
gangguan kesehatan akibat kekurangan vitamin A, seperti buta senja. Selain
berfungsi untuk kesehatan mata, Vitamin A juga berfungsi untuk kekebalan tubuh,
sehingga dengan terpenuhinya Vitamin A pada ibu nifas dapat berdampak positif
pada bayi yang dilahirkan, karena kemungkinan bayi akan mempunyai kekebalan
tubuh yang berasal dari Vitamin A.
Sumber: sayuran hijau, buah-buahan yang berwarna kuning jingga, seperti daun
singkong, wortel, pepaya, tomat, mangga, jeruk, kacang panjang, buncis.
b. Vitamin B1 (Thiamin)

Dibutuhkan agar kerja syaraf dan jantung normal, membantu metabolisme


karbohidrat secara tepat oleh tubuh, nafsu makan yang baik , membantu proses
pencernaan makanan, meningkatkan pertahanan tubuh terhadap infeksi dan
mengurangi kelelahan.
Sumber: hati, kuning telur, susu, kacang kacangan, tomat jeruk nanas dan
kentang bakar.
c. Vitamin B2 (Riboflavin)
Dibutuhkan untuk pertumbuhan, vitalitas, nafsu makan, pencernaan, system urat
syaraf, jaringan kulit dan mata
Sumber: hati, kuning telur, susu, keju, kacang- kacangan, dan sayuran berwarna
hijau.

d. Vitamin B3 (Niacin)
Disebut juga Nitocine Acid, dibutuhkan dalam proses pencernaan, kesehatan
kulit, jaringan syaraf dan pertumbuhan.
Sumber: susu, kuning telur, daging, kaldu daging, hati, daging ayam, kacangkacangan beras merah, jamur dan tomat.
e. Vitamin B6 (Pyridoksin)
Dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah serta kesehatan gigi dan gusi.
Sumber: gandum, jagung, hati dan daging.
f. Vitamin B12 (Cyanocobalamin)
Dibutuhkan untuk pembentukan sel darah merah dan kesehatan jaringan saraf.
Sumber: telur, daging hati, keju, ikan laut dan kerang laut.
g. Asam folat
Untuk pertumbuhan pembentukkan sel darah merah dan produksi inti sel.
Sumber: hati, daging, ikan, jeroan dan sayuran hijau.
h. Vitamin C
Untuk pembentukan jaringan ikat dan bahan semu jaringan ikat (untuk
penyembuhan luka), pertumbuhan tulang, gigi dan gusi, daya tahan terhadap
infeksi, serta memberikan kekuatan pada pembuluh darah.
Sumber: jeruk, tomat, melon, brokoli, jambu biji, mangga, papaya dan sayuran.
i. Vitamin D

Vitamin D : untuk pertumbuhan, pembentukkan tulang dan gigi serta penyerapan


kalsium dan fosfor.
Sumber: minyak ikan, susu, margarine dan penyinaran kulit dengan sinar
matahari pagi ( sebelum pukul 09.00 )
j. Vitamin E
Fungsi berpengaruh dalam kesuburan wanita
Sumber: Kecambah, Gandum, biji-bijian, kacang tanah, kedelai.
k. Vitamin K
Untuk mencegah perdarahan agar proses pembekuan darah normal.
Sumber: kuning telur, hati, brokoli, asparagus dan bayam.
4. Mineral
a. Zat kapur
Untuk pembentukan tulang.
Sumber: susu, keju, kacang kacangan dan sayuran berwarna hijau.
b. Zat Besi
Tambahan zat besi sangat penting dalam masa menyusui karena dibutuhkan untuk
kenaikan sirkulasi darah dan sel, serta menambah sel darah merah ( HB ) sehingga
daya angkut oksigen mencukupi kebutuhan.
Sumber: kuning telur, hati, daging, kerang, ikan, kacang kacangan dan sayuran
hijau..
c. Fosfor
Dibutuhkan untuk pembentukan kerangka dan gigi anak.
Sumber: susu, keju dan daging.
d. Yodium
Sangat penting untuk mencegah timbulnya kelemahan mental dan kekerdilan fisik
yang serius.
Sumber: minyak ikan, ikan laut dan garam beryodium.
e. Kalsium
Untuk pertumbuhan gigi anak.
Sumber: susu dan keju
f. Air
Fungsi membentuk cairan tubuh, alat pengangkut unsur-unsur gizi, mengatur
panas tubuh.
2.4. Akibat kekurangan dan kelebihan gizi pada ibu nifas

Pada masa nifas, ibu memerlukan tambahan nutrisi 3 kali lipat dari kondisi
biasanya untuk pemulihan tenaga atau aktivitas ibu, metabolisme, cadangan dalam tubuh,
penyembuhan luka jalan lahir, serta untuk memenuhi kebutuhan bayi berupa produksi
ASI. Diet yang diberikan harus bermutu tinggi dengan cukup kalori, cukup protein,
cairan, serta banyak buah-buahan karena ibu nifas mengalami hemokonsentrasi
(Wiknjosastro, 2005). Oleh karena itu pemenuhan nutrisi atau zat gizi sangat diperlukan
pada masa ini. Beberapa hal yang diakibatkan karena kurangnya zat gizi pada masa nifas
yaitu, kurangnya produksi ASI dan lamanya proses penyembuhan luka persalinan.
Keadaan kurang gizi pada ibu tingkat berat baik pada waktu hamil maupun
menyusui dapat mempengaruhi volume ASI. Produksi ASI terjadi penurunan pada tiap
bulan pertambahan usia bayi, yaitu berkisar 500-700 ccpada enam bulan pertama usia
bayi, 400 600 cc pada enam bulan kedua dan 300-500 cc pada tahun kedua usia anak.
Selama menyusui ibu membutuhkan tambahan protein di atas kebutuhan normal sebesar
20 g/hari. Peningkatan kebutuhan ini ditujukan bukan hanya untuk transformasi menjadi
protein susu, tetapi juga untuk sintesis hormon yang memproduksi (prolaktin) serta yang
mengeluarkan ASI (oksitosin).
Kecukupan zat gizi sangat berperan dalam proses penyembuhan luka. Tahapan
penyembuhan luka memerlukan protein sebagai dasar untuk pembentukan fibroblast dan
terjadinya kolagen, disamping elemen-elemen lain yang diperlukan untuk proses
penyembuhan luka seperti vitamin C yang berperan dalam proses kecepatan
penyembuhan luka. Vitamin A berperan dalam pembentukan epitel dan sistem imunitas,
dan masih banyak zat gizi lain yang diperlukan (Nurhikmah, 2009).
Selain kurang gizi, kelebihan gizi juga akan menyebabkan masalah pada masa
nifas. Kelebihan zat gizi tertentu pada masa ini dapat menyebabkan penyakit tertentu
pada ibu. Jika ibu mengalami kelebihan kalori pada masa nifas, dapat menyebabkan
kegemukan. Kegemukan adalah gejala awal yang dapat menjadi factor penyebab dari
berbagai penyakit seperti penyakit jantung, dan diabetes. Selain itu kelebihan zat gizi
tertentu seperti mineral Na juga dapat menyebabkan penyakit yaitu tekanan darah tinggi.
Sehingga perlu diperhatikan asupan untuk ibu pada masa nifas.
2.5. Makanan yang harus dibatasi dan dihindari ibu nifas.
1. Kopi dan Teh
Makanan yang cukup berbahaya dan perlu untuk dihindari selama Ibu dalam
masa nifas dan menyusui adalah makanan dan minuman yang mengandung kafein.

Hal ini dikarenakan kafein tidak akan terbuang secara sempurna, melainkan
sebagiannya akan tersisa pada ASI yang dihasilkan. Pada akhirnya, ASI yang
dihasilkan akan mengandung kafein dan tertelan oleh bayi. Akibatnya bayi dapat
menjadi rewel dan sulit tidur, dikarenakan mereka belum dapat mengeluarkan kafein
dari dalam tubuh sebaik orang dewasa.
2. Coklat
Coklat dapat berbahaya bagi bayi. Hal ini diakibatkan karena coklat
mengandung kafein yang cukup tinggi, yaitu antara 5-35 mg dalam setiap 30gram
coklat. Hal ini seperti telah dijelaskan sebelumnya, akan dapat membuat bayi sulit
tidur.
3. Makanan Yang Pedas
Kandungan rasa pedas yang ada di dalam makanan tersebut, sedikit banyak
akan terkonsumsi oleh bayi melalui ASI, dan akan membuat perut anak menjadi panas
(iritasi) dan bahkan dapat mengakibatkan diare.
4. Overdosis Vitamin C
Jangan sampai memakan vitamin C terlalu banyak, karena vitamin C
cenderung bersifat asam. Vitamin C yang terbawa terlalu banyak di dalam ASI pada
akhirnya akan dapat membuat perut bayi menjadi perih dan juga membuat sistem
pencernaan bayi terkena iritasi. Pada umumnya, jika tubuh kita kelebihan vitamin C,
maka akan dibuang melalui sistem ekskresi (urin) sehingga secara umum tidak akan
berbahaya. Akan tetapi pada bayi yang masih kecil, sistem pencernaan mereka belum
bekerja dengan baik sehingga kelebihan vitamin C akan tersimpan lama di dalam
tubuh dan menimbulkan efek negatif.
5. Susu Sapi
Susu sapi adalah salah satu makanan yang tidak dapat dicerna oleh banyak
bayi dengan baik. Bukan setiap bayi, akan tetapi cukup banyak bayi yang memiliki
intoleransi terhadap bahan makanan berbasis susu sapi (lactose-intolerant). Saat ibu
menyusui mengkonsumsi susu sapi, sebagian dari alergen yang ada di dalam susu sapi
akan masuk ke dalam ASI. Akibatnya, alergen tersebut akan memicu alergi pada bayi,
yang dapat membuat bayi menjadi kolik, muntah, susah tidur bahkan terkena eksim
pada kulit. Tapi ini bukan berarti ibu tidak boleh untuk mengkonsumsi susu sapi atau
produk berbahan dasar susu sapi. Jika memang tidak ada efek negatif yang terlihat
nyata pada bayi, konsumsi susu sapi dapat dilanjutkan.
6. Lemak Jenuh & Lemak Trans
Makanan yang mengandung lemak jenuh dan lemak trans akan dapat
berbahaya bagi perkembangan otak bayi. Hal itu dikarenakan lemak jenuh dan lemak
trans (trans fat) terbukti menghambat produksi omega 3, yang sangat dibutuhkan oleh

perkembangan otak bayi. Hindari makanan gorengan yang memakai minyak bekas
karena mengandung lemak jenuh yang tinggi. Selain itu, hindari makanan fast food
seperti hamburger dan hot dog karena mengandung lemak trans (trans fat) yang
berbahaya.
7. Alkohol & Nikotin
Seperti apa yang sudah dijelaskan pada beberapa poin sebelumnya, alkohol
dan nikotin akan terbawa dalam ASI dan terkonsumsi oleh bayi. Pada bayi, efek
negatif alkohol (minuman keras) dan nikotin (rokok) akan sangat terasa, di antaranya
kecanduan terhadap kedua hal tersebut. Hal ini akan membuat bayi pusing, lemah,
sulit bangun dan juga produksi ASI pun akan berkurang.
2.6. Mitos terkait asupan untuk ibu nifas dan fakta yang sebenarnya.
Banyak aspek-aspek sosial budaya yang mempengaruhi masyarakat Indonesia.
Aspek sosial budaya pada masa nifas sendiri memiliki arti sebagai suatu hal yang
berkaitan dengan budi dan akal manusia untuk mencapai tujuan bersama pada masa
sesudah persalinan. Banyak mitos atau aspek social budaya pada masa nifas yang
sangat merugikan namun tak sedikit pula mitos yang memiliki dampak negative.
Adapun berbagai macam-macam aspek sosial budaya pada masa nifas baik di
masyarakat desa maupun masyarakat kota
a. Tak boleh makan ikan, telur dan daging supaya jahitan cepat sembuh.
Pernyataan ini tidak benar. Pada ibu nifas, justru pemenuhan kebutuhan
protein semakin meningkat untuk membantu penyembuhan luka baik pada
dinding rahim maupun pada luka jalan lahir yang mengalami jahitan. Protein ini
dibutuhkan sebagai zat pembangun yang membentuk jaringan otot tubuh dan
mempercepat pulihnya kembali luka.
Tanpa protein sebagai zat pembangun yang cukup, maka ibu nifas akan
mengalami keterlambatan penyembuhan bahkan berpotensi infeksi bila daya
tahan tubuh kurang akibat pantang makanan bergizi. Protein juga diperlukan
untuk pembentukan ASI. Ibu nifas sebaiknya mengkonsumsi minimal telur, tahu,
tempe dan daging atau ikan bila ada. Kecuali bila ibu nifas alergi dengan ikan laut
tertentu atau alergi telur sejak sebelum hamil, maka sumber protein yang
menyebabkan alergi tersebut dihindari. Bila memang alergi jenis protein tertentu
misal ikan laut, Ibu nifas boleh mencari ganti sumber protein dari daging ternak
b.

dan unggas juga dari protein nabati seperti kacang kacangan.


Setelah melahirkan atau setelah operasi, ibu hanya boleh makan tahu dan tempe
tanpa garam atau biasa disebut dengan ngayep dan makanan harus disangan /
dibakar sebelum dikonsumsi.

Adapun dampak negative pada ibu apabila setelah melahirkan atau di


operasi hanya dapat mengkonsumsi tahu dan tempe tanpa garam dan makanan
harus dibakar sebelum di konsumsi adalah dapat merugikan karena dapat
menghambat penyembuhan luka karena pada dasarnya makanan yang sehat akan
c.

mempercepat penyembuhan luka.


Masa nifas harus minum abu dari dapur dicampur air, disaring, dicampur garam
dan asam diminumkan supaya ASI banyak.
Hal tersebut tidak dibenarkan karena abu, garam dan asam tidak
mengandung zat gizi yang diperlukan oleh ibu menyusui untuk memperbanyak

d.

produksi ASI nya.


Tak boleh makan yang berkuah dan tak boleh banyak minum air putih.
Pernyataan ini juga keliru. Tubuh ibu nifas membutuhkan banyak cairan
terutama mengganti cairan tubuh yang hilang baik saat mengalami perdarahan,
keringat, untuk pembentukan ASI. Bila cairan tubuh ibu nifas tidak tercukupi,
maka akan terjadi kekurangan cairan, mengalami panas dan produksi ASI sedikit.
Sebaiknya ibu nifas minum air putih yang cukup kurang lebih 8 gelas sehari
disertai dengan asupan susu maupun jus buah. Bila setiap selesai minum ibu nifas
akan sering buang air kecil justru lebih baik. Tidak perlu khawatir jahitan pada
daerah perineum (luka jahitan jalan lahir) akan basah dan tidak sembuh. Justru
sebaliknya. Semakin sering dibersihkan terutama dengan sabun dan air lalu
dikeringkan setiap buang air kecil, maka jahitan akan segera pulih.
Perawatan luka pada jalan lahir berbeda dengan jahitan pada bagian tubuh
yang lain misalnya pada tangan. Luka di jalan lahir dijahit dengan benang khusus
yang cukup kuat dan bagian dalam luka (otot) benangnya akan menyatu dengan

e.

tubuh sedangkan bagian luar (kulit) jahitan akan lepas sendiri lalu mengering.
Jangan makan buah-buahan selama menyusui karena bayi bisa diare
Pernyataan ini tidak benar. Konsumsi buah sangat baik untuk menjaga
kebugaran tubuh dan sama sekali tidak berpengaruh buruk terhadap mutu ASI.
Jangan kuatir mengkonsumsi buah tidak menyebabkan diare pada bayi. Selain itu
ibu nifas juga memerlukan asupan makanan berserat seperti buah dan sayur
mayur untuk memperlancar buang air besar. Pada ibu nifas kebutuhan serat
sangat penting untuk membantu proses pencernakan, Kadar vitamin dan air
dalam buah juga sangat baik untuk menjaga kesehatan tubuh. Misalnya air jeruk,
buah pisang dan pepaya. Sebaiknya ibu nifas selalu menyertakan menu buah

f.

setiap makan agar tidak mengalami sembelit.


Tak boleh makan terlalu banyak supaya tetap langsing

Pernyataan ini tidak tepat. Pada ibu nifas, makanan bergizi dan porsi makan
perlu ditingkatkan lebih baik dari sebelum kehamilan. Sumber karbohidrat,
lemak, vitamin dan protein sangat dibutuhkan untuk proses pemulihan fisik ibu
selama nifas dan melawan infeksi. Selain itu, juga berguna untuk pembentukan
ASI agar berlangsung lancar.
Langsing bukan dengan diet ketat pasca bersalin, tetapi dengan melakukan
senam nifas dan menyusui bayi secara ekslusif tanpa bantuan susu formula.
Dengan cara demikian, pembakaran lemak pada tubuh akan berlangsung lebih
g.

baik dan ibu akan cepat ramping kembali seperti saat sebelum hamil.
Ibu dilarang makan terong karena terong dapat membuat tubuh si ibu dan bayi
menjadi gatal.
Terong merupakan salah satu jenis sayuran yang banyak mengandung
Vitamin A dan C. Terong jenis ini mempunyai banyak manfaat dan khasiat,
diantaranya mengandung antosianin, termasuk kedalam golongan flavonoid yang
merupakan salah satu jenis antioksidan. Antioksidan ini dapat membantu daya
tahan tubuh menjadi lebih baik. Terong juga kaya akan vitamin A dan C untuk
meningkatkan daya tahan tubuh selain itu, bagi pertumbuhan tubuh terong sangat
bagus karena mengandung fosfor dan magnesimu yang akan membantu
pertumbuhan tulang. Oleh karena itu, tidak benar bila terong dapat menyebabkan

h.

gatal-gatal pada Ibu dan Bayi.


Ibu nifas tidak boleh makan makanan yang pedas karena makanan pedas bila
dikonsumsi ibu dapat menyebabkan ASI menjadi pedas
Sebenarnya, makanan pedas yang mengandung cabai memiliki kandungan
kapsaisin bersifat antikoagulan, yaitu menjaga darah tetap encer dan mencegah
terbentuknya kerak lemak pada pembuluh darah. Namun, bagi ibu nifas
mengonsumsi sambal/cabai dapat menyebabkan naiknya asam lambung sehingga
menimbulkan rasa tidak nyaman di perut. Bila dikonsumsi berlebih dapat
mengakibatkan infeksi pada lambung. Bayangkan saja, apabila ibu yang pasca
melahirkan masih memiliki luka didaerah perut (setelah operasi caesar) ataupun
rasa sakit pasca melahirkan, kemudian megonsumsi cabai/makanan pedas lainnya
akan menambah rasa sakit bagi ibu. Oleh karena itu, larangan ini memiliki
dampak positive bagi Ibu nifas.

2.7. Contoh menu makanan untuk ibu nifas


Pagi
-

Nasi putih

Siang
-

Nasi putih

Malam
-

Nasi putih

Tempe bacem
Ikan goreng
Cabrokoli
Susu
Selingan pagi

Tahu goreng
Pepes ayam
Sayur bening
Buah Semangka
Selingan siang

Pudding
Papaya

Bubur kacang hijau

Perkedel kentang
Telur dadar
Sayur lodeh
Buah pisang

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
1.

Makanan yang bergizi pada masa nifas berfungsi untuk melakukan aktivitas,
metabolisme, cadangan dalam tubuh, proses memproduksi Air Susu Ibu (ASI)
serta sebagai ASI itu sendiri yang akan dikonsumsi bayi untuk pertumbuhan dan
perkembangan bayi sedangkan mengonsumsi makanan yang bergizi pada masa
nifas juga bermanfaat untuk menurunkan resiko depresi postpartum (PDD).

2.

Beberapa masalah kesehatan yang dialami ibu pada masa nifas, diantaranya
perdarahan pervaginam, infeksi masa nifas, sakit kepala, nyeri epigastrik,
penglihatan kabur, demam, muntah, rasa sakit waktu bersin, payudara yang
berubah menjadi merah, panas, dan terasa sakit, perubahan pada sistem
pencernaan, rasa sakit, merah, lunak dan pembengkakan di kaki, dan depresi
postpartum (PDD).

3.

Ibu pada masa nifas membutuhkan berbagai macam zat gizi dan mineral untuk
memenuhi kebutuhan tubuhnya. Zat gizi dan mineral tersebut, yaitu: karbohidrat,
protein, vitamin A, vitamin B1 (Thiamin), vitamin B2 (Riboflavin), vitamin B3
(Niacin), vitamin B6 (Pyridoksin), vitamin B12 (Cyanocobalamin), asam folat,
vitamin C, vitamin D, vitamin E, vitamin K, zat kapur, zat besi, fosfor, yodium,
kalsium, dan air.

4.

Keadaan kurang gizi pada ibu tingkat berat baik pada waktu hamil maupun
menyusui dapat mempengaruhi volume ASI. Kecukupan zat gizi sangat berperan
dalam proses penyembuhan luka. Selain kurang gizi, kelebihan gizi juga akan
menyebabkan masalah pada masa nifas. Kelebihan zat gizi tertentu pada masa ini
dapat menyebabkan penyakit tertentu pada ibu.

5.

Ada beberapa makanan dan minuman yang harus dibatasi dan dihindari oleh ibu
pada masa nifas, diantaranya: kopi, teh, coklat, makanan yang pedas, overdosis
vitamin C, susu sapi, lemak jenuh, lemak trans, alkohol & nikotin.

6.

Banyak mitos atau aspek sosial budaya pada masa nifas yang sangat merugikan
namun ada pula mitos yang memiliki dampak positif. Sebaiknya, sebelum sang
ibu mempercayai mitos-mitos yang ada disekitar, lebih baik dicari terlebih dahulu
kebenaran mitos tersebut.

7.

Menu makanan yang baik untuk ibu pada masa nifas sebaiknya harus bergizi dan
seimbang serta sesuai dengan kebutuhan ibu.

DAFTAR PUSTAKA

Dinkes Jateng. 2011. Profil Kesehatan Jawa Tengah. Semarang: Depkes Jateng.
Manuaba, I.B.G., I.A. Chandranita Manuaba, dan I.B.G. Fajar Manuaba. 2007. Pengantar
Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Prancint.E, Yuyum, R.Heriyati. 2004. Gizi dalam kesehatan reproduksi. EGC. Jakarta.
Suherni, Widyasih, Hesty & Rahmawati, Anita. 2009. Perawatan Masa Nifas. Yogyakarta:
Fitramaya.
Waryana. 2010. Gizi Reproduksi. Pustaka Rihama : Yogyakarta.
Almatsier, Sunita, 2001. Prinsip Dasar Ilmu Gizi. Gramedia Pustaka Utama: Jakarta.
Yulia,

Cica.

Kebutuhan

Gizi

Ibu

Nifas.

http://file.upi.edu/Direktori/FPTK/JUR._PEND._KESEJAHTERAAN_KELUARGA/198007
012005012-CICA_YULIA/KEBUTUHAN_GIZI_IBU_NIFAS.pdf dikses 7 Juni 2015

Arisman, Gizi dalam Daur Kehidupan, Buku Kedokteran, EGC, Jakarta, 2004

Roesli, U, Mengenal ASI Eksklusif,Edisi III, Trubus Agriwidya, Jakarta, 2005


Wiknjosastro H. 2005. Ilmu Kebidanan. Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo
:Jakarta.
Nurhikmah. 2009. Hubungan Perilaku Ibu Berpantang Makanan Selama Nifas Dengan Status
Gizi Ibu Dan Bayinya Di Kecamatan Banjarmasin Utara Di Kota Banjarmasin. Universitas
Gajah Mada. Tesis.
http://www.rumahbunda.com/breastfeeding/7-makanan-yang-harus-dihindari-selamamenyusui/
Ricki,

Krist.

Sholihah,

Tari,

Aspek Sosial Budaya Dalam Masa Nifas. 24 Oktober 2012.


<http://www.scribd.com/doc/39993453/Aspek-Sosial-Budaya-DalamMasa-Nifas>. [diakses pada 5 Juni 2015]

Nur

Ayu.
Mitos
pada
Ibu
Nifas.
15
Januari
2014.
<http://www.slideshare.net/myayanti/mitos-pada-ibu-nifas-oleh-nur-ayusholihah> . [diakses pada 5 Juni 2015]

Romana.
Mitos
Keliru
Seputar
Makanan
untuk
Ibu
Nifas.
<http://health.kompas.com/read/2013/04/30/15025148/Mitos.Keliru.Seputa
r.Makanan.untuk.Ibu.Nifas> . [diakses pada 5 Juni 2015]