Anda di halaman 1dari 21

ANEMIA

Wahyu Siswandari

Bagian Patologi Klinik Jurusan Kedokteran


FKIK UNSOED

Anemia : kadar Hb < normal ~ jumlah eritrosit ,


Ht
Nilai rujukan Hb bervariasi, tgt :
umur
jenis kelamin
ras
letak geografis
metode pemeriksaan
Anemia gejala, perlu di cari penyakit dasarnya.
Gejala klinis anemia ???

KLASIFIKASI ANEMIA
1. Berdasar morfologi
- Anemia mikrositik hipokromik (MCV, MVH, MCHC )
- Anemia normositik normokromik (MCV, MVH, MCHC N)
- Anemia makrositik hiperkromik (MCV, MVH, MCHC )
2. Berdasar etiologi
- kehilangan darah
- aktivitas eritropoiesis
- destruksi eritrosit

Indeks eritrosit
MCV (Mean Corpusculum Volume)
MCV = Ht / eri (juta) x 10 (fl)
N : 77 93 fl
MCH (Mean Corpusculum Hemoglobin)
MCH = Hb / eri (juta) x 10 (pg)
N : 27 32 pg
MCHC (Mean Corpuscular Hemoglobin Concentration)
MCHC = Hb / Ht x 100%
N : 31 35 %

ANEMIA MIKROSITIK HIPOKROMIK


Penyebab :
1. Defisiensi besi
2. Gangguan metab besi anemia sideroblastik
3. Gangguan pembentukan globin thalasemia,
hemoglobinopati
4. Penyakit kronik

Langkah diagnostik
mikrositik hipokromik (MCV, MCH )
kadar Fe serum :
Cad besi sstlg

Ring sideroblas :

tinggi

normal/tinggi

rendah

(+)

(-)

(-)

Hb elektroforesis : normal

abnormal

normal

kadar feritin :
An. sideroblastik

rendah
hemoglobinopati
thalasemia

tinggi

An. def besi An peny kronik

Sumber : Dacie and Lewis Practical Haematology, 2001

Anemia defisiensi besi


Penyebab :
1. Kebutuhan besi meningkat :
- masa pertumbuhan, wanita hamil/menyusui
2. Intake besi kurang :
- diet <<
- malabsorbsi pasca gastrektomi
3. Kehilangan besi :
- perdarahan traktus gastrointestinal
- perdarahan uterus

Pemeriksaan laboratorium :
1. SADT
- mikrositik hipokromik tampak jika Hb < 9 gr/dl dan
atau Ht < 27%
- anisositosis
- poikilositosis sel pensil, ovalosit, sel target
- polikromasi perdarahan akut
2. MCV, MCH, MCHC
3. Jumlah retikulosit : / N
4. Sumsum tulang : eritroid hiperplasi, cadangan besi
5. Kadar feritin serum (10-500 g/L)
6. Kadar Fe serum ( N : 60-180 mg/dl)
7. Kadar TIBC ( N : 200-410 mg/dl )

Thalasemia
Thalasemia kelainan genetik SDM akibat defek molekul pada gen
penyandi rantai globin
Penurunan kadar Hb anemia
Gamb klinis bervariasi tanpa gejala ringan berat
Klasifikasi :
-Kelainan sintesis globin thalasemia :
Thalasemia-
Thalasemia-
Thalasemia-

terbanyak

Thalasemia-
-Kelainan struktur globin varian Hb

Klasifikasi secara klinis :


Thalasemia mayor
- defek molekul pada 2 gen globin
(homosigot / heterosigot ganda)
- gejala : anemia (+)
Thalasemia minor
- defek molekul pada 1 gen globin
- gejala : anemia (-)/(+) ringan, SDM mikrositik
Susunan Hb :
HbF 22 (fetus)
HbA 22 (95% Hb dewasa)
HbA2 22 (3,5% Hb dewasa)
HbF 22 (<1% Hb dewasa)

Diagnosis :
-Gejala klinik
-Laboratorik :
Anemia mikrositik hipokromik
Kadar HbA2 > 3,6% Thalasemia
Kadar HbA2 < 3,6% Thalasemia

Anemia mikrositik hipokromik


Fe serum

TIBC

Saturasi
Transferin

Ferritin

Cadangan
besi ss tlg

Hb A2 & F

Defisiensi
besi

Tdk ada

Anemia krn
penyakit
kronis

N/

N/

N/

N/

Thalasemia

N/

N : - thal

:- thal
N

Anemia
sideroblastik

N/

N/

N/

N/

ANEMIA NORMOSITIK NORMOKROMIK


normositik normokromik (MCV, MCH N)
Jumlah retikulosit :
Darah samar

meningkat
(+)

normal/ rendah
(-)

(tinja,urin,dll)
Tes Coomb

(+)

Ss tlg

hiperseluler
eri hiperplasi
anemia paska
perdarahan

AIHA

(-)
hiperseluler

(-)
hiposeluler

eri hiperplasi
anemia hemolitik
lain

peny ginjal, infeksi,


malnutrisi, an aplastik

Anemia perdarahan
Perdarahan akut > 500 mL hipovolemia belum tjd anemia
Tubuh memulihkan volume hemodilusi anemia
Pemeriksaan laboratorium :
Fase hemodilusi
-Anemia normositik normokromik
-Trombositopenia & hipofibrinogenemia
Fase II (regenerasi)
-Polikromasi (retikulosit>), makrositosis, leukositosis, neutrofilia,
trombositosis sumsum tulang efektif
Jika perdarahan ke dalam rongga tubuh :
Ureum , bilirubin indirek

Anemia hemolitik
An hemolitik destruksi eritrosit >>, umur ritrosit memendek, yang
tidak dapat dikompensasi oleh sumsum tulang
Penyebab :
Intrinsik (di eritrosit) bawaaan
Ekstrinsik (di luar eritrosit) didapat
Pemeriksaan laboratorium :
1. Tanda peningkatan destruksi eritrosit :
- bilirubin indirek
- urobilinogen urin & tinja
- anemia normositik normokromik

2. Tanda peningkatan produksi eritrosit :


- retikulositosis
- sumsum tulang hiperseluler, eritropoiesis >>
3. Tanda hemolisis intravaskuler :
- hemoglobinemia
- hemoglobinuria
- hemosideriuria
- methemalbumin
- penurunan haptoglobin & hemopeksin
4. Pemeriksaan khusus utk mencari penyebab :
- SADT : ovalosit ovalositosis herediter
sferosit an hemolitik autoimun
- tes Coomb autoimun aglutinasi +
- G6PD def G6PD

ANEMIA MAKROSITIK HIPERKROMIK


Anemia makrositik
Ss tlg

megaloblastik

Retikulosit
Respon pengobatan

rendah
vit B12

non megaloblastik
tinggi

rendah

asam folat

berhasil
def vit B12

def asam folat

anemia
hemolitik

penyakit hati

Penyebab anemia megaloblastik :


1.

2.

3.

4.

Kekurangan asam folat :


- intake <<, alkoholisme, obat (difenilhidantoin,
nitrofurantoin, tetrasiklin, tuberkulostatik),
malabsorbsi, kehamilan & menyusui, penyakit dgn
hemopoiesis cepat (leukemia, anemia hemolitik)
Kekurangan vit B 12 :
- anemia pernisiosa, pasca gasterektomi, infeksi
Diphyllobotrium latum
Obat-obatan
- 6-merkaptopurin, 5-fluorasil, sitosin arabinosid,
alkaloid vinka, difenil hidantoin
Kelainan kongenital

Pemeriksaan laboratorium :
1. Gambaran darah tepi :
- makrositik, anisositosis, poikilositosis, Howell-Jolly bodies
- trombosit <<
- leukosit << hipersegmentasi, giant stab cells
2. Gambaran sumsum tulang :
- fragmen hiperseluler
- hemopoiesis tidak efektif diseritropoiesis (eritrosit dg
inti megaloblastik), disgranulopoiesis (giant stab cell, giant
metamielosit, hipersegmentasi), distrombopiesis
(magakariosit dg inti hiperlobulasi)
3. Pemeriksaan kimia :
- LDH & bilirubin indirek

4. Pemeriksaan khusus :
- Kadar folat serum ( N 3-15 g/L)
- kadar folat eritrosit ( N 160 640 g/L)
- kadar vit B12 serum ( N 160 925 g/L)
5. Pemeriksaan lain telur cacing D. latum