Anda di halaman 1dari 43

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Pada masa era globalisasi saat ini, perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi
(IPTEK) diberbagai bidang khususnya pada bidang industri merupakan tantangan bagi setiap
perusahaan atau instansi untuk saling bersaing menerapkan prinsip peraturan internasional
dengan adanya informasi pada masa ini, bahwa barang-barang yang akan diperdagangkan
akan didukung oleh adanya hasil dari suatu lembaga pengujian barang dan jasa yang
berkompetisi untuk melakukan pengujian.
Proses pengujian suatu barang dan jasa dibutuhkan keterampilan yang khusus dalam
melakukan pengujian tersebut misalnya: keterampilan dalam melakukan suatu analisa suatu
barang dan jasa baik melalui praktek maupun teori atau lisan yang menjadi pedoman untuk
menganalisa suatu produk agar pengujian suatu produksi tidak terbantahkan oleh pihak lain,
tentunya didukung oleh adanya sumber daya manusia yang memiliki keahlian dalam
menganalisa sutau produk yang siap berkompetensi sehingga dapat bersaing dengan
laboratorium lain baik nasional maupun internasional.
Dengan berkembangnya ilmu pengetahuan dan taknologi (IPTEK) khususnya dibidang
industri pertambangan, dalam hal ini batubara, maka perlu adanya pengawasan terhadap mutu
dari tiap-tiap jenis produksi. Karena mutu dan kualitas dari suatu batubara sangat
berpengaruh dalam penggunaan dan pemanfaatannya.
Sekolah Menengah Kejuruan-SMAK Makassar merupakan salah satu alternative untuk
menindak lanjuti hal tersebut diatas. Oleh karena itu sesuai dengan kurikulum Sekolah
Menengah Kejuruan-SMAK Makassar yang mewajibkan siswa-siswi kelas IV semester VIII
untuk melaksanakan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) sebagai salah satu syarat untuk
menyelesaikan pendidikan pada Sekolah Menengah Kejuruan-SMAK Makassar.

Melihat peranan batubara yang sangat besar ini, maka penulis tertarik untuk
melaksanakan Praktek Kerja Industri pada batubara yang terdapat di Banjarbaru, Kalimantan
selatan yakni PT. GEOSERVICES Site Asam-Asam yang memfokuskan pada Analisis
Proximate dan Total Sulfur pada Batubara.Dimana batubara merupakan salah satu
sumber energy yang depositnya cukup besar dan sudah lama dikenal serta digunakan sebagai
bahan bakar kapal uap, lokomotif, pabrik semen, dan pembangkit listrik tenaga uap (PLTU).

B.

Tujuan Praktek Kerja Industri


Pelaksanaan Praktek Kerja Industri (PRAKERIN) bagi siswa-siswi Sekolah Menengah
Kejuruan-SMAK Makassar bertujuan untuk:

1.

Menambah pengetahuan dan meningkatkan keterampilan dalam bekerja khususnya dalam


bidang pengujian di laboratorium.

2.

Menumbuh kembangkan sikap etos kerja, sikap kemandirian, dan sikap professional sebagai
seorang tenaga analis kimia.

3.

Melatih dan meningkatkan disiplin serta tanggung jawab dalam lingkungan kerja.

4.

Menambah literature bagi perpustakaan Sekolah Menengah Analis Kimia Makassar.

5.

Membuka wawasan siswa agar lebih mengenal dunia kerja.

6.

Mengembangkan kemampuan siswa dalam menerapkan teori-teori yang diperoleh disekolah

7.

Membina siswa agar berhasil menjadi lulusan yang berkualitas, dan

8.

Menyiapkan siswa agar lebih familiar dengan lingkungan dunia kerja.


Tujuan khusus dilaksanakannya kerja praktik adalah untuk:

1.

Mempelajari metode-metode analisa kandungan kimia pada batubara.


2.

Memenuhi salah satu persyaratan dalam menyelesaikan program belajar pada institusi

pendidikan Sekolah Menengah Kejuruan-SMAK Makassar


C. Identifikasi Masalah

Batubara merupakan bahan bakar padat yang mengandung mineral-mineral.


Penanganan batubara memerlukan pengamanan, karena ada beberapa masalah dalam
penanganan batubara antara lain :
1.

Batubara dapat terbakar sendiri.

2.

Batubara dapat menimbulkan ledakan.


Meskipun terdapat masalah dalam penanganan batubara, masyarakat memakai sumber
daya energi di Indonesia, terutama yang menggunakan energi untuk keperluan pembakaran
dalam jumlah besar seperti: Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) dan industri semen,
menyadari bahwa penggunanan batubara mempunyai kelebihan antara lain:

1.

Penekanan biaya operasi yang disebabkan oleh harga batubara yang lebih murah dari pada
jenis sumber energi lainnya.

2.

Batubara dalam dunia industri lebih berperan dibandingkan sumber energi yang lainnya.
Penggunaan batubara dalam bentuk briket merupakan bahan yang sangat potensial
untuk menggantikan korosin maupun kayu bakar yang masih banyak digunakan di daerah
pedesaan, dengan beralihnya kebiasaan membakar kayu bakar ke briket batubara, masalah
ekologi air tanah akan mendapat bantuan yang tak terhingga.

D. Metode Penulisan
Adapun metode metode yang penulis pergunakan dalam penyusunan laporan ini
antara lain :
1. Metode Orientasi di Laboratorium
Pada metode ini, penulis terjun langsung melaksanakan percobaan, dalam hal ini penulis
sendiri yang bertindak sebagai analis dalam melakukan analisa kimia. Dengan metode ini
penulis merekam semua bentuk pengamatan yang berkaitan pada proses analisis kimia.
2.

Metode Study Literatur

Pada metode ini penulis membaca dan mempelajari berbagai literature yang berkaitan dengan
materi tentang analisa batubara.
3. Konsultasi dengan pambimbing
Apabila dijumpai suatu permasalahan yang tidak terdapat pada literature, maka sebagai jalan
keluarnya adalah berkonsultasi langsung dengan pembimbing.

E.

Laporan ini dibagi menjadi 3 bagian utama yang meliputi :


a)

Bagian pendahuluan yang mencakup : halaman judul, lembar pengesahan, lembar


penerimaan, kata pengantar, ucapan terima kasih, daftar isi.

b) Bagian isi yang terdiri dari :

BAB I

: Berisi pendahuluan yang mencakup : latar belakang,tujuan praktek kerja industry, identifikasi
masalah, metode penulisan laporan dan sistimatika laporan.

BAB II

BAB

Sistematika Laporan

: Berisi tinjauan umum perusahaan yang mencakup : sejarah singkat perusahaan, fungsi, tugas
dan struktur kerja divisi laboratorium PT. GEOSERVICES.
III

BAB IV

BAB V

BAB VI

Berisi

landasan

teori

mengenai

batubara,pembentukan,jenis,kelas

batubara

yang

sumber

mancakup

defenisi

daya,proses

pembentukan,sifat,komponen,kegunaan dan penjelasan tentang parameter analisa batubara.


: Berisi tentang metode analisa yang meliputi: analisa proximat (kadar air,kadar abu dan volatile
matter), dan analisa total sulfur.
: Berisi tentang hasil analisa dan pembahasan.

c) Bagian penutup
: Terdiri dari kesimpulan dan saran. Dimana pada kesimpulan mencakup tentang analisa kadar
proximat, dan total sulfur.

BAB II
TINJAUAN UMUM PT. GEOSERVICES

A. Sejarah PT. Geoservices


PT. GEOSERVICES adalah perusahaan konsultan yang seluruhnya dimiliki oleh
perusahaan swasta nasional, dua pendiri utama perusahaan ini adalah master dari Colorado
school of Mines Bapak H.L Ong yang mempunyai gelar Doctor kimia batu-batuan pada tahun
1968 sedangkan Bapak Durban L. Ardjo mendapatkan masternya (M.Sc) dalam metalurgi
pada tahun 1965.

Sejak didirikan pada tahun 1971 PT. GEOSERVICES terus dikembangkan dalam
memberikan pelayanan dibidang pertambangan ini mempekerjakan 400 karyawan yang
diantaranya ialah ahli dari luar negeri. Laboratorium batubara didirikan pada tahun 1982
dengan laboratorium pusatnya di Bandung. Saat ini PT. geoservices telah memiliki 7
laboratorium batubara dan mempekerjakan sedikitnya 600 orang karyawan. Selain
laboratorium yang ada di Bandung, laboratorium lainnya terdapat di Balikpapan, Banjarbaru,
Dumai, Jakarta, Makassar, Surabaya, Samarinda, Tg. Redep, Medan dan Singapore.
Laboratorium kimia ini termasuk slah satu unit kerja yang didirikan pertama kali
disamping unit kerja lainnya, seperti pemetaan dan eksplorasi, pelayanan yang dapat
diberikan pada waktu itu ialah pemeriksaan kualitas mineral dan air, sekarang laboratorium
PT. GEOSERVICES selain dapat melayani pemeriksaan mineral dan air juga dapat
melayani pemeriksaan kualitas batubara, minyak dan gas.
PT. Geoservices bekerja sama dengan perusahaan asing yaitu ACIRL (Australia Coal
Industri Resources Laboratories) dan untuk menjaga kualitas hasil pekerjaan di PT.
Geoservices maka dilakukan secara rutin setiap bulan Round Robin Check yang di ikuti oleh
58 laboratorium yang ada di Indonesia maupun Australia. Sedangkan Daily Check adalah
pemeriksaan suatu mutu analisa yang dilakukan sendiri dengan menggunakan sampel standar
yang telah diketahui mutunya.

B.

Fungsi dan Tugas


PT. Geoservices mempunyai fungsi dan tugas dalam pengujian dan menganalisa
mineral-mineral, batubara, minyak dan gas bumi. Untuk menjalankan pengujian itu, PT.
Geoservices bekerjasama dengan analis dari Australia pada tahun 1986-1989 dan Australia
laboratories pada tahun 1991, tujuannya adalah untuk mendapatkan kesempatan yang luas

untuk pelatihan para staf laboratorium baik yang berada di Indonesia maupun yang ada
diluar Indonesia.
PT. Geoservices adalah lisensi untuk perlakuan pengawasan muatan batubara di
Indonesia dan memiliki staff pengawas yang terlatih dengan pengawas yang luas tentang
control dengan berat badan dagang atau komoditi. PT. Geoservices telah mengerjakan
berbagai pengujian dan pelayanan terhadap industry batubara Indonesia. Layanan ini tentang
loging test batuan secara cepat yang telah ditawarkan sejak tahun 1982.
Pada tahun 1989 pelayanan loging test semakin ditingkatkan dengan menambahkan
yang baru dan modern sehingga loging test dilakukan dengan system komputerisasi digital
menawarkan pula pembukaan dan hal mengenai pelayanan loging test untuk penyelidikan
dan produksi minyak dibawah 2000 meter. Sebelum tahun 1991, PT. Geoservices
mengembangkan system loging testnya, selain itu, PT. Geoservices menawarkan pelatihan
bagi para pekerja dari instruktur yang berpengalaman selama lebih dari 10 tahun yang telah
mendapat izin dari Badan Tenaga Atom Nasional (BATAN) untuk menggunakan sumber
radio aktif.
PT. GEOSERVICES memberikan pelayanan-pelayanan yang secara garis besarnya
sebagai berikut:

Export superintending
Sebagai independent arbitor untuk pemasok batubara dengan pembeli untuk tujuan
penentuan dan kualitas batubara yang akan pengapalan.

Pengujian Contoh Eksplorasi Tambang dan Preparation plant


Laboratorium pengujian yang terdapat di Bandung , Samarinda dan Balikpapan, disamping
mengerjakan pengujian superintending, dilengkapi pula dengan peralatan dan personal untuk
menangani pengujian batubara yang lebih rumit dan bervariasi serta di perlukan dalam
program eksplorasi, tanmbang dan coal preparation plant.

Sampling
Mengerjakan

sampling

untuk

pembuatan

sertifikat

sampling

dan

pengujian

PT.

GEOSERVICES memiliki pegawai yang ahli dalam penentuan presisi sampling dan bias.

Pengujian Kimia
PT. GEOSERVICES melakukuan pengujian kimia suatu batubara berdasarkan permintaan
client.

C. Struktur Kerja Divisi Laboratorium PT. Geoservices


Tugas divisi laboratorium di PT. Geoservices dibagi dalam dua bagian yaitu:
1.

Komersial (Superintending Work)


a. Jumlah (Quantity)
Dilakukan dengan cara draf survey, yaitu penetapan jumlah berat batubara yang masuk
dalam kapal pengangkut.
b. Kualitas (Quality)
Dilakukan dengan cara draf survey, yaitu penetapan kualitas batubara yang masuk dalam
kapal pengangkut.

Sampling
Pengambilan sampel dilakukan dengan cara sedikit demi sedikit dari semua sampel yang
ada sehingga sampel tersebut mampu mewakili seluruh jumlah sampel yang ada.
Preparasi
Sampel dipersiapkan secara sistematis untuk keperluan analisa dengan tahap kerja
sebagai berikut :

Air drying (pengeringan pada udara terbuka)

Crushing (proses pengecilan ukuran)

Dividing (pembagian sampel)

Milling (pengecilan ukuran menjadi halus sehingga siap untuk

dianalisa)

Selain proses di atas ada juga tes yang dilakukan pada bagian lain yaitu :

Size analysis (analisa ukuran batubara)

Hardgrove Grindability Indeks / HGI (mengetahui kemudahan batubara untuk digerus)

Free Moisture (kadar air bebas)

c. Analisa (Analysis)
Untuk mengetahui persentasi kandungan zat-zat atau mineral tertentu serta nilai total
moisture yang terkandung dalam batubara tersebut agar dapat diketahui kualitasnya, analisa
yang biasa dilakukan pada bagian ini adalah :

Proximate : Moisture, Ash, Volatile Matter, dan Fixed


Carbon.

Total Moisture

Total Sulfur

2.

Calori Value

Kualitas Kontrol (Quality control)


Ruang lingkup pada bagian ini adalah :

a.

Product Control

Suatu kegiatan untuk mengontrol hasil produksi yang bertujuan untuk spesifikasi dari
kualitas yang kita punya atau produksi.
b.

Washability Test
Kegiatan untuk mempelajari karakteristik batubara apabila dilakukan pencucian
berdasarkan density-nya.

c.

Preparation
Kegiatan ini meliputi Air drying lost, crushing, dividing, dan milling.

d.

Testing
Kegiatan ini meliputi free moisture.

e.

Analysis
Kegiatan ini meliputi :
Analisis analisi dasar, yaitu analisis proximat (Moisture, Ash, Volatile Matter dan Fixed
Carbon)
Analisi ultimate (karbon, hydrogen, nitrogen, sulfur dan oksigen) dan penentuan unsur-unsur
tertentu dalam batubara.
Penentuan-penentuan khusus (calorific value, hardgrove grindability index, abrasion index,
ash fushion temperature, ash analysis, klor,dsb).

BAB III
URAIAN TEORI
A. Tinjauan Umum
1. Definisi Batubara
Batubara adalah batubara hidrokarbon padat yang terbentuk dari tumbuh-tumbuhan
dalam lingkungan bebas oksigen dan terkena pengaruh panas serta tekanan yang berlangsung
lebih lama. Sifat kimia batubara ditentukan oleh jenis dan jumlah unsur kimia yang
terkandung dalam tumbuh-tumbuhan. Proses perubahan tumbuh-tumbuhan menjadi batubara
sangat di pengaruhi oleh : waktu, tekanan, dan bakteri pembusuk.
Batubara (coal) adalah sumber energi fosil yang paling banyak kita miliki di dunia ini.
Batubara sendiri merupakan campuran yang sangat kompleks dari zat kimia organik yang
mengandung karbon, oksigen, dan hidrogen dalam sebuah rantai karbon serta sedikit nitrogen
dan sulfur. Pada campuran ini juga terdapat kandungan air dan mineral (Anonim1, 2010).
Batubara merupakan sisa tumbuhan dari zaman prasejarah yang berubah bentuk yang
awalnya berakumulasi di rawa dan lahan gambut. Penimbunan lanau dan sedimen lainnya,

bersama dengan pergeseran kerak bumi (dikenal sebagai pergeseran tektonik) mengubur rawa
dan gambut yang seringkali sampai ke kedalaman yang sangat dalam. Dengan penimbunan
tersebut, material tumbuhan tersebut terkena suhu dan tekanan yang tinggi. Suhu dan tekanan
yang tinggi tersebut menyebabkan tumbuhan tersebut mengalami proses perubahan fisika dan
kimiawi dan mengubah tumbuhan tersebut menjadi gambut dan kemudian batu bara
(Anonim2, 2009).
Kondisi yang baik pada proses pembentukan batubara adalah lingkungan yang berawa
dangkal. Kondisi tersebut terdapat pada cekungan sedimen yang terbentuk sepanjang pantai,
daerah delta dan danau. Batubara terbentuk oleh adanya perubahan secara fisik dan kimia
yang dipengaruhi oleh bakteri pengurai, tekanan, temperatur, serta waktu (Anonim2, 2009).
Pembentukan batu bara memerlukan kondisi-kondisi tertentu dan hanya terjadi pada
era-era tertentu sepanjang sejarah geologi. Zaman Karbon, kira-kira 340 juta tahun yang lalu,
adalah masa pembentukan batu bara yang paling produktif dimana hampir seluruh deposit
batu bara (black coal) yang ekonomis di belahan bumi bagian utara terbentuk. Pada zaman
Permian, kira-kira 270 juta tahun lalu, juga terbentuk endapan-endapan batu bara yang
ekonomis di belahan bumi bagian selatan, seperti Australia, dan berlangsung terus hingga ke
zaman tersier (70 - 13 juta tahun lalu) di berbagai belahan bumi lain (Anonim2, 2009).

Pembentukan batubara dimulai sejak Carboniferous Period (Periode Pembentukan


Karbon atau Batu Bara) dikenal sebagai zaman batu bara pertama yang berlangsung antara
360 juta sampai 290 juta tahun yang lalu. Mutu dari setiap endapan batu bara ditentukan oleh
suhu dan tekanan serta lama waktu pembentukan, yang disebut sebagai maturitas organik.
Proses awalnya gambut berubah menjadi lignit (batu bara muda) atau brown coal (batu bara
coklat). Ini adalah batu bara dengan jenis maturitas organik rendah. Dibandingkan dengan
batu bara jenis lainnya, batu bara muda agak lembut dan warnanya bervariasi dari hitam

pekat sampai kecoklat-coklatan. Mendapat pengaruh suhu dan tekanan yang terus menerus
selama jutaan tahun, batu bara muda mengalami perubahan yang secara bertahap menambah
maturitas organiknya dan mengubah batubara muda menjadi batu bara sub-bituminus.
Perubahan kimiawi dan fisika terus berlangsung hingga batu bara menjadi lebih keras dan
warnanya lebih hitam dan membentuk bituminus atau antrasit. Dalam kondisi yang tepat,
peningkatan maturitas organik yang semakin tinggi terus berlangsung hingga membentuk
antrasit (Anonim2, 2009).
Tingkat perubahan yang dialami batubara dalam proses pembentukannya, dari gambut
sampai menjadi antrasit disebut sebagai pengarangan memiliki hubungan yang penting dan
hubungan tersebut disebut sebagai tingkat mutu batu bara. Batu bara dengan mutu yang
rendah, seperti batu bara muda dan sub-bituminus biasanya lebih lembut dengan materi yang
rapuh dan berwarna suram seperti tanah. Baru bara muda memilih tingkat kelembaban yang
tinggi dan kandungan karbon yang rendah, dan dengan demikian kandungan energinya
rendah. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi umumnya lebih keras dan kuat dan
seringkali berwarna hitam cemerlang seperti kaca. Batu bara dengan mutu yang lebih tinggi
memiliki kandungan karbon yang lebih banyak, tingkat kelembaban yang lebih rendah dan
menghasilkan energi yang lebih banyak (Anonim3, 2010).
Sumber daya batubara (Coal Resources) adalah bagian dari endapan batubara yang
diharapkan dapat dimanfaatkan. Sumber daya batu bara ini dibagi dalam kelas-kelas sumber
daya berdasarkan tingkat keyakinan geologi yang ditentukan secara kualitatif oleh kondisi
geologi/tingkat kompleksitas dan secara kuantitatif oleh jarak titik informasi. Sumberdaya ini
dapat meningkat menjadi cadangan apabila setelah dilakukan kajian kelayakan dinyatakan
layak. Cadangan batubara (Coal Reserves) adalah bagian dari sumber daya batubara yang
telah diketahui dimensi, sebaran kuantitas, dan kualitasnya, yang pada saat pengkajian
kelayakan dinyatakan layak untuk ditambang (Putrago, 2009).

Beberapa teori tentang definisi batubara yaitu :


a)

Thiese (1974)
Batubara adalah suatu benda padat yang kompleks, terdiri dari bermacam-macam unsur
yang mewakili beberapa komponen kimia. Batubara ini terbentuk dari sisa-sisa tanaman.

b.

Spaceman (1958)
Batubara adalah suatu benda karbon berkomposisi maceral.

Proses pembentukan batubara ini diawali dari :


Peat lignite subbitumine bitumine antrasit
c.

The Internasional Hand Book Of Coal Petrography


Batubara adalah batuan sediment yang mudah terbakar, terbentuk dari sisa-sisa tanaman
dalam variasi tingkat pengawetan diikuti oleh proses kompaksi.

2. Pembentukan Batubara
Batubara terbentuk dari tumbuh-tumbuhan yang mengalami proses pembusukan, proses
perubahan sebagai akibat dari bermacam-macam pengaruh kimia dan fisika.
Pembentukan batubara dari sisa-sisa tumbuhan menjadi gambut kemudian batubara
mudah sampai batubara tua terjadi dalam dua tahap yaitu tahap biokimia dan tahap kimia
fisika.
a.

Proses biokimia
Proses degradasi boikimia banyak berperan, bila tanaman terakumulasi dalam
lingkungan rawa atau payau tanaman tersebut akan menjadi jenuh air. Proses pembusukan
akan terjadi oleh kerja mikroba anaerobic. Mikroba ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen
dan mempunyai kemampuan yang sama terhadap mikroba aerobic.

Aktifitas mikroba yang berupa bakteri dan fungi tersebut pertama-tama menghancurkan
bagian yang lunak seperti selulosa, protoplasma dan pati, sedangkan bagian yang lebih keras
seperti lilin, damar dan kulit kayu akan tertinggal.
Aktifitas mikroba pada batubara tergantung pada jumlah dan sirkulasi air, temperature,
suplay oksigen dan perkembangan racun. Apabila factor tersebut tidak berimbang, maka
aktifitas mikroba akan terganggu,keaktifan mikroba berkurang bila air semakin dalam. Bila
tanaman tertutupi air dengan cepat maka tanaman akan terhindar dari proses pembusukan,
maka disinilah akan terjadi proses desintegrasi atau penguraian oleh mikroba.
b.

Proses kimia fisika


Batubara terbentuk dengan cara kompleks dan memerlukan waktu yang sangat lama, di
bawah pengaruh fisika, kimia ataupun keadaan geologi.
Tingkat kedua dalam pembentukan batubara adalah tingkat penimbunan atau
penguburan, dalam tingkat ini proses degradasi biokimia tidak berperan tetapi didominasi
oleh proses dynamo kimia atau kimia fisika. Proses inilah yang menyebabkan perubahan
gambut menjadi batubara dalam berbagai tingkatan. Selama proses ini, terjadi penguraian air
lembab. Oksigen dan zat terbang dan bertambahnya persentase karbon padat, belerang dan
kandungan abunya.
Pembentukan batubara merupakan proses yang sangat kompleks, terdapat serangkaian
factor yang diperlukan batubara yaitu:

1) Posisi Geotektonik
Posisi geotektonik adalah suatu tempat yang keberadaannya dipengaruhi oleh gaya
tektonik lempeng dalam pembetukan cekungan batubara, posisi geotektonik merupakan
factor yang dominan.
2) Potofografi (morfologi)

Morfologi dari cekungan tercelup pada saat pembentukan gambut sangat penting
karena menentukan penyebaran rawa-rawa dimana batubara tersebut terbentuk.Tofografi
mempunyai efek yang terbatas terhadap iklim dan keadaannya tergantung pada posisi
geotektonik.
a) Iklim
kelembaban memegang peranan penting dalam pembentukan batubara dan merupakan
factor pengontrol pertumbuhan flora dan kondisi yang sesuai. Iklim bergantung pada posisi
geografis dan lebih luas lagi di pengaruhi oleh posisi geotektonik.
b) Penurunan
penurunan cekungan batubara dipengaruhi oleh gaya tektonik, jika penurunan dan
pengendapan gambut yang seimbang akan menghasilkan batubara yang tebal.
c) Unsur geologi
proses geologi menentukan berkembangnya evolusi kehidupan berbagai macam
tumbuhan. Dalam masa perkembangan geologi membahas sejarah pengendapan batubara dan
metamorfosa organic. Makin tua umur batuan makin dalam pula penimbunan yang terjadi
sehingga terbentuk batubara yang bermutu tinggi.
d) Tumbuhan
flora merupakan unsur yang utama pembentukan batubara. Pembentukan dari flora
terakumulasi pada suatu lingkungan dan zona fisiografi dengan iklim dan tofografi tertentu.
Flora merupakan factor penentu terbentuknya berbagai tipe batubara.

e) Dekomposisi
dekomposisi flora yang merupakan bagian dari transformasi biokimia dari organic
merupakan titik awal untuk seluruh alterasi.
f) Sejarah sesudah pengendapan

sejarah cekungan batubara secara luas tergantung pada posisi geotektonik yang
mempengaruhi perkembangan batubara dan cekungan batubara.
g) Struktur cekungan batubara
terbentuknya cekungan pada batubara umumnya mengalami deformasi oleh gaya
tektonik yang akan menghasilkan lapisan batubara dalam bentuk-bentuk tertentu.
h) Metamorfosa organic
perubahan mutu batubara diakibatkan oleh factor tekanan dan waktu. Tekanan dapat
disebabkan oleh lapisan sediment penutup yang sangat tebal. Hal ini menyebabkan
bertambahnya percepatan proses metamorfosa organic akan dapat mengubah gambut menjadi
batubara sesuaib dengan perubahan sifat kimia, fisika dan optiknya.
Proses pembentukan batubara yang dibantu oleh factor fisika dan kimia akan mengubah
selulosa menjadi lignite, subbitumine, butimine, dan antrasit.

Reaksi pembentukan batubara


5C6H10O5
sellulosa

lignit
5C6H10O5

sellulosa

butumine

C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO


gas metan
C20H22O4 + 3CH4 + 8H2O + 6CO2 + CO
gas metan

3. Komponen Komponen dalam Batubara


Didalam analisa batubara terdapat beberapa komponen yaitu :
a. Air

Air didalam batubara dapat dibagi menjadi dua bagian yaitu air bebas dan air lembab. Air
lembab dalam batubara sangat dipengaruhi oleh keadaan linkungan dimana batubara itu
berada demikian juga air lembab sangat bervariasi yang merupakan karakteristik dari
batubara tersebut.
b. Karbon, Hydrogen, dan Oksigen.
Ketiga unsur ini merupakan unsur pokok pembentuk batubara dan merupakan komponen
paling dominan.

c. Nitrogen
Kandungan nitrogen dalam batubara umumnya tidak lebih dari 2%. Nitrogen dalam
batubara terdapat sebagai senyawa organic yang terikat pada ikatan karbon dalam batubara,
oleh karena itu dalam penentuan kadar nitrogen ini harus dilakukan destruksi sample
batubara.

d. Sulfur
Bentuk sulfur dalam batubara umumnya terdapat dalam tiga bentuk yaitu sulphur
organic, sulphate sulphur, pyritik sulphur.
e. Abu (Mineral)
Abu dalam batubara merupakan senyawa-senyawa oksida dari Ca, Al, Fe dan Ti, Mn,
Mg, Na, K dalam bentuk silikat, oksida sulfat, sulfide dan phosphate, sedangkan unsur-unsur
As, Ni, Cu, Pb, dan Zn terdapat dalam jumlah yang sangat penting dalam analisis terhadap
batubara dengan tujuan untuk mengetahui jenis serta kualitas batubara tersebut.

4. Jenis Jenis Batubara


a.

Gambut (peat)

Golongan ini sebenarnya belum termasuk jenis batubara, tapi merupakan bahan bakar.
Hal ini disebabkan karena masih merupakan fase awal dari proses pembentukan batubara.
Endapan ini masih memperlihatkan sifat asal dari bahan dasarnya (tumbuh-tumbuhan).
b. Lignit (Batubara Coklat, Brown Coal)
Golongan ini sudah memperlihatkan proses selanjutnya berupa struktur kekar dan gejala
pelapisan. Apabila dikeringkan maka gas dan airnya akan keluar. Endapan ini bisa
dimanfaatkan secara terbatas untuk kepentingan yang bersifat sederhana, karena panas yang
dikeluarkan sangat rendah.

c.

Sub-Bituminous (Bitumen Menengah)


Golongan ini memperlihatkan ciri-ciri tertentu yaitu warna yang kehitam-hitaman dan
sudah mengandung lilin. Ciri lain adalah sisa bagian tumbuh-tumbuhan tinggal sedikit dan
berlapis. Endapan ini dapat digunakan untuk pemanfaatan pembakaran yang cukup dengan
temperatur rendah. Nilai kalori 3000- 6300 kal/gram.

d.

Bituminous
Golongan ini dicirikan dengan sifat-sifat yang padat, hitam, rapuh (brittle) dengan
membentuk bongkah-bongkah prismatik. Berlapis dan tidak mengeluarkan gas dan air bila
dikeringkan. Endapan ini dapat digunakan antara lain untuk kepentingan transportasi dan
jenis industri kecil. Nilai kalori antara 6300 7300 kal/gram.

Batubara sediment adalah batubara yang terdiri dari maceral-maceral, mineral, dan zatzat organic. Mineral dalam batuan sediment anorganik dapat dipandang serta dengan maceral,
tetapi bedanya adalah maceral menunjukkan modifikasi struktur dan susunan kimia yang
bertahap selama proses pembentukan batubara.
Maceral di bagi menjadi tiga golongan utama yaitu :

a. Vitrinit
Vitrinit merupakan maceral terbanyak merupakan maceral yang reaktif. Umumnya
berasal dari kayu dan merupakan konstituen utama dari batubara yang keras, tenang dan lebih
berkilau. Vitrinit menjadi lunak dan elastic, membentuk suatu kokas meleleh karena itulah
vitrinit merupakan komponen yang sangat penting bagi batubara kokas.
b. Inertinit
Berasal dari jaringan kayu dan tanaman yang lunak merupakan maceral yang tidak
reaktif, walaupun ada sebagian yang reaktif. Intertinit telah banyak berubah dari bahan
asalnya, ini disebabkan karena adanya oksigen yang banyak selama berlangsungnya proses
pembentukan batubara.
c. Exinit
Exinit merupakan golongan maceral yang sedikit jumlahnya. Exinit berasal dari spora
tanaman, biji tepung sari, perekat berlemak dari daun dan resin. Exinit relative banyak
mengandung hydrogen dan pada pemanasan akan menghasilkan gas.

5. Sifat Sifat Batubara


Sifat-sifat batubara digolongkan menjadi dua kelompok besar yaitu sifat fisika dan sifat kimia
:
1) Sifat fisika
Sifat fisika dari batubara tergantung pada susunan kimia yang membentuknya. Sifat-sifat dari
batubara saling berkaitan. Sifat-sifat fisika tersebut meliputi :
a. Berat jenis

Berat jenis batubara berkisar 1,25 g/cm3, pertambahannya sesuai dengan peningkatan
derajat batubara. Tetapi berat jenis batubara dari batubara jenis lignite (1,5 g/cm 3)sampai
batubara jenis bitumine (1,25 g/cm3)kemudian naik pada batubara jenis antrasit (1,5 g/cm3).
b. Kekerasan
Kekerasan batubara tergantung pada struktur batubara yang ada. Keras atau lemahnya
batubara juga tergantung pada komposisi dan jenis dari batubara tersebut.
c. Warna
Warna batubara bervariasi dari coklat dari pada lignite menjadi hitam sampai hitam
logam pada antrasit. Hampir seluruh batubara jenis bitumine merupakan perselingan antara
batubara berwarna terang dan kusam.
e. Goresan
Goresan batubara berkisar antara terang sampai coklat tua. Lignite mempunyai goresan
hitam keabu-abuan dan batubara jenis bitumine mempunyai warna goresan hitam.

e. Serpihan
Serpihan batubara memperlihatkan bentuk dari potongan batubara dari sifat
memecahkan. Hal ini memperlihatkan sifat dan mutu dari suatu batubara. Batubara dengan
zat terbang tinggi cenderung membentuk serpihan dalam bentuk persegi, balok atau kubus.
2) Sifat kimia
Sifat kimia dari batubara sangat berhubungan langsung dengan peningkatan derajat batubara
tersebut baik senyawa organic maupun senyawa anorganik. Sifat kimia dari batubara meliputi
:

a. Karbon
Bentuk atom karbon murni dalam alam dapat berupa intan, grafit, dan amorf. Bentuk
karbon amorf diperoleh dari minyak gas alam atau bahan bakar minyak bumi lain yang
terbakar dalam udara terbatas. Karbon yang terdapat dalam suatu batubara bertambah sesuai
dengan peningkatan derajat batubaranya. Karbon bertambah sesuai dengan naiknya derajat
batubara dan kira-kira 60% sampai 100%.Persentasinya akan lebih kecil pada lignite dan
akan menjadi besar pada antrasit dan hamper 100% dalam grafit. Karbon yang terkandung
dalam setiap batubara sangat penting peranannya sebagai penyebab energy kalor.
b. Hydrogen
Hydrogen yang terdapat dalam batubara berupa kombinasi alifatik dan aromatic dan
berangsur habis akibat evolusi tanaman. Kandungan hydrogen dalam batubara jenis lignite
berkisar antara 5% sampai 6% sekitar 4,5% sampai 5,5 % dalam batubara jenis bitumine dan
sekitar 3% sampai 3,5% dalam batubara jenis antrasit.
c. Oksigen
Oksigen yang terdapat dalam batubara berupa ikatan atau kelompok hidroksil,
karboksil, metoksil dan karbonil yang tidak reaktif. Kandungan oksigen dalam batubara jenis
lignite berkisar 20% atau lebih, dalam batubara bitumine berkisar antara 4% sampai 10% dan
1,5% sampai 2% dalam batubara jenis antrasit.
d. Nitrogen
Nitrogen yang terdapat dalam batubara berupa senyawa organic. Nitrogen terbentuk
hampir seluruhnya dari protein tanaman asalnya,jumlahnya sekitar 0,5 % sampai 3%.
Batubara bitumine biasanya mengandung Nitrogen lebih banyak dari pada batubara jenis
lignite dan antrasit.
e. Sulfur

Sulfur dalam batubara terdapat sebagian sulfit besi yang sering disebut sebagai senyawa
pyritic sulphur. Sulfur dalam batubara biasanya dalam jumlah kecil dan kemungkinan berasal
dari protein tanaman pembentuk dan diperkaya oleh bakteri sulfur. Kemudian sulfur dalam
batubara biasanya lebih kecil 4% tetapi dalam beberapa hal mempunyai konsentrasi yang
lebih tinggi. Kehadiran sulfur dapat membahayakan dalam proses pembakaran karena dapat
mengakibatkan polusi.

6. Kegunaan Batubara
Kegunaan batu bara dapat di kelompokan dalam tiga kelompok yaitu:
a. Sebagai bahan bakar langsung
Batubara dapat digunakan secara langsung dalam bentuk padatan tanpa melalui
pengolahan, misalnya digunakan sebagai bahan bakar pada ketel uap, pabrik semen dan pada
industry-industri kecil.
b. sebagai bahan bakar tak langsung
sebelum digunakan sebagai sumber energy, batubara terlebih dahulu diproses menjadi

2.
3.

bentuk lain. Proses tersebut antara lain :


1. Pencairan : proses ini menghasilkan bahan bakar minyak
Gasifikasi : proses ini menghasilkan bahan bakar gas
Karbonisasi : hasil utama dari proses ini berupa kokas atau semi kokas yang digunakan
dalam bentuk bongkahan/briket yang digunakan sebagai bahan bakar industry dan rumah

4.

tangga
Suspensi : proses ini diperoleh coal water fuel yang mempunyai sifat mirip dengan bahan
bakar minyak
c. bukan sebagai bahan bakar
pemanfaatan batubara pada berbagai jenis industry yang penggunaanya bukan sebagai
bahan bakar misalnya ; bahan bakar industry petrokimia, reduktor, karbon aktif, elektroda dan

lain-lain.
7. Kelas Sumber Daya
A. Sumber Daya Batubara Hipotetik (Hypothetical Coal Resource)
Sumber daya batu bara hipotetik adalah batu bara di daerah penyelidikan atau bagian

dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat-syarat yang
ditetapkan untuk tahap penyelidikan survei tinjau. Sejumlah kelas sumber daya yang belum
ditemukan yang sama dengan cadangan batubara yang diharapkan mungkin ada di daerah
atau wilayah batubara yang sama dibawah kondisi geologi atau perluasan dari sumberdaya
batubara tereka. Pada umumnya, sumberdaya berada pada daerah dimana titik-titik sampling
dan pengukuran serat bukti untuk ketebalan dan keberadaan batubara diambil dari distant
outcrops, pertambangan, lubang-lubang galian, serta sumur-sumur. Jika eksplorasi
menyatakan bahwa kebenaran dari hipotesis sumberdaya dan mengungkapkan informasi yg
cukup tentang kualitasnya, jumlah serta rank, maka mereka akan di klasifikasikan kembali
sebagai sumber daya teridentifikasi (identified resources) (Sukandarrumidi, 2006).
B. Sumber Daya Batubara Tereka (Inferred Coal Resource)
Sumber daya batu bara tereka adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan untuk tahap penyelidikan prospeksi. Titik pengamatan mempunyai
jarak yang cukup jauh sehingga penilaian dari sumber daya tidak dapat diandalkan. Daerah
sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data
dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 1,2 km
4,8 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus
dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm atau lebih
(Sukandarrumidi, 2006).
C. Sumber Daya Batubara Tertunjuk (Indicated Coal Resource)
Sumber daya batu bara tertunjuk adalah jumlah batu bara di daerah penyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syaratsyarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi pendahuluan. Densitas dan kualitas titik
pengamatan cukup untuk melakukan penafsiran secara relistik dari ketebalan, kualitas,
kedalaman, dan jumlah insitu batubara dan dengan alasan sumber daya yang ditafsir tidak
akan mempunyai variasi yang cukup besar jika eksplorasi yang lebih detail dilakukan. Daerah

sumber daya ini ditentukan dari proyeksi ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data
dari titik pengukuran dan sampling berdasarkan bukti geologi dalam daerah antara 0,4 km
1,2 km. termasuk antrasit dan bituminus dengan ketebalan 35 cm atau lebih, sub-bituminus
dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006).
D. Sumber Daya Batubara Terukur (Measured Coal Resourced)
Sumber daya batu bara terukur adalah jumlah batu bara di daerah peyelidikan atau
bagian dari daerah penyelidikan, yang dihitung berdasarkan data yang memenuhi syarat
syarat yang ditetapkan untuk tahap eksplorasi rinci. Densitas dan kualitas titik pengamatan
cukup untuk diandalkan untuk melakukan penafsiran ketebalan batubara, kualitas,
kedalaman, dan jumlah batubara insitu. Daerah sumber daya ini ditentukan dari proyeksi
ketebalan dan tanah penutup, rank, dan kualitas data dari titik pengukuran dan sampling
berdasarkan bukti geologi dalam radius 0,4 km. Termasuk antrasit dan bituminus dengan
ketebalan 35 cm atau lebih, sub bituminus dengan ketebalan 75 cm atau lebih, lignit dengan
ketebalan 150 cm (Sukandarrumidi, 2006).
8. Proses Pembentukan Batubara
A. Prinsip Sedimentasi
Pada dasarnya batubara termasuk ke dalam jenis batuan sedimen. Batuan sedimen
terbentuk dari material atau partikel yang terendapkan di dalam suatu cekungan dalam
kondisi tertentu, dan mengalami kompaksi serta transformasi balik secara fisik, kimia
maupun biokimia. Pada saat pengendapannya material ini selalu membentuk lapisan yang
horisontal.
B. Skala Waktu Geologi
Proses sedimentasi, kompaksi, maupun transportasi yang dialami oleh material dasar
pembentuk sedimen sehingga menjadi batuan sedimen berjalan selama jutaan tahun.
Kedua konsep tersebut merupakan bagian dari proses pembentukan batubara yang
mencakup proses :

1. Pembusukan, yakni proses dimana tumbuhan mengalami tahap pembusukan (decay) akibat
adanya aktifitas dari bakteri anaerob. Bakteri ini bekerja dalam suasana tanpa oksigen dan
menghancurkan bagian yang lunak dari tumbuhan seperti selulosa, protoplasma, dan pati.
2. Pengendapan, yakni proses dimana material halus hasil pembusukan terakumulasi dan
mengendap membentuk lapisan gambut. Proses ini biasanya terjadi pada lingkungan berair,
misalnya rawa-rawa.
3. Dekomposisi, yaitu proses dimana lapisan gambut tersebut di atas akan mengalami
perubahan berdasarkan proses biokimia yang berakibat keluarnya air (H2O) dan sebagian
akan menghilang dalam bentuk karbondioksida (CO2), karbonmonoksida (CO), dan metana
4.

(CH4).
Geotektonik, dimana lapisan gambut yang ada akan terkompaksi oleh gaya tektonik dan
kemudian pada fase selanjutnya akan mengalami lipatan dan patahan. Selain itu gaya tektonik
aktif dapat menimbulkan adanya intrusi/terobosan magma, yang akan mengubah batubara
low grade menjadi high grade. Dengan adanya tektonik setting tertentu, maka zona batubara

5.

yang terbentuk dapat berubah dari lingkungan berair ke lingkungan darat.


Erosi, dimana lapisan batubara yang telah mengalami gaya tektonik berupa pengangkatan
kemudian dierosi sehingga permukaan batubara yang ada menjadi terkupas pada
permukaannnya. Perlapisan batubara inilah yang dieksploitasi pada saat ini (Anonim2, 2009).

B. TINJAUAN KHUSUS
1. Sampling
Sampling adalah proses pengambilan sebagian populasi dari seluruh populasi yang
akan diperiksa kualitasnya. Bagian populasi yang terambil disebut contoh. Tujuan sampling
adalah mendapatkan contoh yang selain kualitasnya bisa mewakili seluruh populasi,
jumlahnya juga masih relative masih bisa ditangani. Faktor utama yang menentukan tingkat

a.
b.
c.
d.

kualitas suatu sampling adalah variabilitas komponen-komponen pembentuk populasi.


Metode sampling yang umum digunakan adalah sebagai berikut :
International Standard Organization (ISO)
British Standard (BS)
American Society For Testing and Material (ASTM)
Australian Standard (AS)

Proses pengambilan contoh dari batubara dapat dilakukan dengan truck, astrockpile,
atau pada waktu pengapalan meliputi pengambilan sejumlah increment yang merupakan
gabungan dari gross sampel. Gross sampel kemudian dicrushing dan dilakukan preparasi
contoh sampai dapat dilakukan analisa.
2. Preparasi
Preparasi suatu contoh adalah pengurangan massa dan ukuran yang cocok untuk analisa
di laboratorium. Preparasi contoh untuk penentuan kadar air dan general analysis. Biasanya
mencakup pembagian dan pengurangan.
a. Pengeringan udara
Pengeringan udara dapat dihitung dari hilang masa setelah pengeringan udara.
Pengeringan udara pada gross sampel dilakukan jika contoh tersebut terlalu basah untuk
diproses tanpa menghilangkan air atau yang menyebabkan timbulnya kerusakan pada crusher
atau mill.
b. Pengecilan ukuran butir
Pengecilan ukuran butir adalah proses pengecilan ukuran atas contoh tanpa
menyebabkan perubahan apapun terhadap massa contoh. Contoh alat mekanis yang
digunakan untuk pengecilan ukuran sampel adalah jaw crusher, roll crusher, Raymond mill.
Jawcrusher atau roll crusher digunakan untuk mengurangi ukuran diatas 5 mm, 11.2
mm, 2.33 mm. Raymond mill digunakan untuk menghancurkan contoh sampai 0.212 mm
yang dilakukan untuk contoh general analysis.
c. Pencampuran dan Pembagian
Pada tiap tahap preparasi contoh untuk mengetahui homogenitasnya contoh dapat
dicampur secara manual dengan menggunakan reffle atau dengan membentuk timbunan
berbentuk kerucut dan dapat pula dicampur secara mekanis dengan menggunakan rotary
sample divider sebanyak tiga kali. Sedangkan untuk pembagian contoh dapat dilakukan
dengan 2/8,4/8 dan sebagainya.
C. Parameter Analisa Batubara

1. Analisa Proximate
Proximate adalah rangkaian analisa awal dalam pengujian suatu contoh batubara.
Analisa proximate adalah pengujian batubara yang terdiri dari kandungan air ((Moisture in
Analysis), zat terbang (Volatile Matter), kandungan mineral (Ash Content) dan Fixed Carbon.
a. Kandungan Air (Moisture in Analysis)
Moisture in Analysis adalah moisture yang dianggap terdapat dalam rongga- rongga
kapiler dan pori-pori batubara yang relative kecil, yang mana pada kedalaman aslinya secara
teori bahwa kondisi tersebut adalah kondisi yang tingkat kelembaban yang 100% serta pada
suhu 30oC, karena sulitnya mengemulsi kondisi batubara pada kedalaman aslinya, maka
badan standarisasi menetapkan kondisi batubara pada kedalaman aslinya, maka badan
standarisasi menetapkan kondisi pendekatan untuk dipergunakan pada metode standar
pengujian di laboratorium.
Standar internasional (ISO), British (BS), Australia (AS) dan Amerika (ASTM)
menetapkan bahwa kondisi pendekatan yang dipergunakan tersebut adalah kondisi dengan
tingkat kelembaban antar 96% sampai 97% dengan suhu 300C.
Banyaknya kandungan moisture in Analysis dikenal pula istilah lain dari moisture in
Analysis dalam suatu batubara dapat dipergunakan sebagai tolak ukur tinggi rendahnya
tingkat rank batubara tersebut.
Selain istilah moisture in Analysis dikenal pula istilah lain dari moisture in Analysis
yaitu Bed Moisture yang banyak dipakai, sedangkan Moisture Holding Capacity (MHC)
adalah istilah yang digunakan oleh International Standard Organization (ISO), British
Standard (BS) dan sedangkan Amarican Society For Testing and Materials (ASTM)
mempergunakan istilah Equilibrium Moisture.
MHC dan Equilibrium Moisture adalah istilah yang dipergunakan untuk nama pengujian.
b. Zat Terbang (Volatile Matter)
volatile Matter (VM) adalah banyaknya zat yang hilang bila sampel batubara
dipanaskan pada suhu dan waktu yang telah ditentukan (setelah dikoreksi dengan kadar
moisture). Suhunya adalah 9000C, dan waktunya 7 menit tepat. Moisture berpengaruh pada

hasil penentuan VM sehingga sampel yang dikeringkan dengan oven akan memberikan hasil
yang berbeda dengan sampel yang dikeringkan di udara. Factor-faktor yang mempengaruhi
hasil penentuan VM ialah suhu, waktu, kecepatan, pemanasan, penyebaran butir (size
distibition) dan ukuran partikelnya.
c. Kandungan Mineralnya (Ash Content)
Kandungan abu akan terbawa bersama gas pembakaran melalui ruang bakar dan
daerah konversi dalam bentuk abu terbang (fly ash) yang jumlahnya mencapai 80 persen dan
abu dasar sebanyak 20 persen. Semakin tinggi kadar abu, secara umum akan mempengaruhi
tingkat pengotoran (fouling), keausan, dan korosi peralatan yang dilalui.
Batubara sebenarnya tidak mengandung abu,tetapi mengandung zat organic yang
berupa mineral.
Abu merupakan residu anorganik hasil pembakaran batubara , terdiri dari oksida-oksida
logam seperti Fe2O3,MgO, Na2O, K2O, dan sebagainya.Dan juga mengandung logam oksidaoksida non logam seperti SiO2,P2O5, dan lain-lain.
Pembakaran batubara pada metode British Standar (BS), dan Australian Standar (AS)
dilakukan pada suhu 8150C dan dilakukan selama tiga jam dan dianggap konstan. Pada
metode ISO, pembakaran batubara dilakukan dengan dua tahap. Tahap pertama, pembakaran
dilakukan mulai suhu ruangan sampai pada suhu 5000C selama 1 jam, ditahan selama 30
menit (untuk brown coal dan lignite harus ditahan selama 1 jam)kemudian dilanjutkan sampai
8150C 100C.
Pada metode ASTM, umumnya dilakukan pada suhu 750 0C selama 4 jam, namun pada
batubara tertentu lama pembakaran bias berkurang maupun bertambah tergantung dari jenis
batubara yang dianalisa.

Nilai kandungan abu suatu batubara selalu lebih kecil dari pada kandungan mineralmineralnya. Hal ini terjadi karena selama pembakaran terjadi perubahan kimiawi pada
batubara tersebut, seperti menguapnya air Kristal karbon dioksida dan oksida sulfur.

d. Fixed Carbon
fixed carbon tidak dapat dihitung melalui pengujian secara laboratorium, melainkan
hasilnya didapatkan dari hasil perhitungan jenis analisa proximate lainnya adalah
pengurangan dari kadar abu, kadar air dan kadar zat terbang.

3. Total Sulphur
Dalam batubara, sulfur terdapat dari mineral carbonaceous atau berupa bagian dari
mineral-mineral seperti sulfat dan sulfide. Gas sulfur dioksida (SO 2) yang terbentuk selama
pembakaran merupakan polutan yang dapat mengganggu ekosistem di bumi. Kandungan
sulfur dalam coking coal tidak diinginkan karena akan berakumulasi di dalam cairan panas
sehingga memerlukan proses desulphurisasi.
Dalam batubara sulfur terdapat dalam 3 bagian. Bagian-bagian tersebut adalah :
a. Sulphate sulphur
b. Pyritic sulphur
c. Organic sulphur
Sulfur dalam batubara dapat ditetapkan dengan cara High Temperature Method (HTM)yang
dapat menghitung kandungan sulphur secara keseluruhan sedangkan untuk bagian-bagian
sulphur dapat ditetapkan dengan cara pengujian lanjutan yaitu dengan metode Forms of
Sulphur (FOS). Kandungan sulfur dalam batubara adalah factor yang sangat penting didalam
mengkalkulasi nilai energy kalor bersih dari energy kalor yang kotor.

BAB IV
METODE ANALISA
Dalam pengujian batubara di PT.GEOSERVICES menggunakan metode yang telah
dipatenkan secara internasional dan digunakan diseluruh dunia. Metode tersebut antara lain
Internasional Standard Organization (ISO),American Society For Testing and Materials
(ASTM),British Standard (BS) dan Australian Standard (AS).
Tetapi pada umumnya pada pengerjaannya di laboratorium metode yang sering
digunakan adalah Internasional Standard Organization (ISO) dan Amarican Society For
Testing and Materials (ASTM), ini dimungkinkan karena berdasarkan karena permintaan
konsumen yang menggunakan jasa PT.GEOSERVICES .
A. Proximate
1. Kadar Air (Moisture in Analysis)

Metode : ISO 1172(1999) ; ASTM D3 173 2008


Tujuan :
Untuk mengetahui kadar air dalam suatu batubara.
Dasar prinsip :
Sejumlah berat tertentu contoh dipanaskan pada suhu 105 110 0C sampai didapat berat
konstan dalam oven bebas oksigen dengan pengaliran gas nitrogen. Kadar air dihitung dari
berat yang hilang setelah dipanaskan.

Reaksi :
C240H90O4NS.xH2O C240H90O4NS + xH2O

Alat dan Bahan :


1) Aluminium tray
2) Contoh batubara 1 gram
3) Eksikator
4) Gas nitrogen
5) Neraca analytic
6) Oven
7) Petridish
8) spatula
Cara kerja :
1) Menaikkan suhu oven 105 1100C
2) Mengalirkan gas nitrogen sebanyak 400-500 cc / menit.
3) Mencatat nomor pekerjaan,nomor contoh dan nomor petridish.
4) Menimbang petridish kosong + tutupnya.

5) Menimbang batubara 1 gram ke dalam petridish lalu diletakkan pada tray.


6) Memasukkan tray serta petridish yang berisi contoh ke dalam oven dan letakkan tutup
petridish diatas oven sesuai dengan susunan pada tray.
7) memanaskan selama 3 jam (ISO/BS) dan 1,5 jam (ASTM).
8) mengeluarkan tray beserta contoh dan tutup kembali dengan penutup yang sesuai.
9) Tray beserta contoh didinginkan dalam eksikator selama 10 menit.
10)

Petridish beserta contoh ditimbang dan di catat hasilnya.

Perhitungan :
Kadar Moisture in Analysis : w2 w3 x 100 %
w2 w1
Keterangan ;
W1 = Bobot petridish kosong
W2 = Bobot petridish kosong + contoh sebelum pemanasan
W3 = Bobot petridish kosong + contoh setelah pemanasan

2. Kadar Abu (Ash Content)


Metode : ISO 1172 (1997); ASTM D3 174 2004
Tujuan :
Untuk mengetahui kadar abu dalam suatu batubara.
Dasar prinsip :
Sejumlah berat tertentu contoh dipanaskan secara bertahap sampai mencapai temperature
8150C dalam waktu tertentu sampai didapat berat yang konstan. Kadar abu dapat di hitung
dari berat residu setelah pemanasan

Reaksi

Batubara
Mineral + H2O + CO2 +SO2 + Nox

Alat dan Bahan :


1) Muffle Furnace
2) Dish Ash
3) Aluminium Tray
4) Neraca analitik
5) Contoh batu bara
Cara Kerja :
1)

Mencatat nomor contoh,nomor pakerjaan dan nomor cawan.

2) menimbang cawan kosong beserta tutupnya.


3) Menimbang dan tebarkan secar merata 1 garm contoh batubara kedalam cawan.
4) Memasukkan cawan yang telah berisi contoh kedalam Furnace dan tutup dibiarkan diluar.
5) memijarkan selama 3 jam pada suhu 815C untuk metode ISO dan 4 jam pada suhu 750C
untuk metode ASTM.
6) Mengeluarkan cawan dan tutup kembali dengan penutup yang sesuai.
7) Didinginkan diatas tray selama 15 menit.
8) Menimbang cawan yang berisi residu dan tutupnya

9)

Membersihkan abunya dari cawan dan timbang cawan kosong kembali dan tutup yang
sesuai.

% Ash Content
Perhitungan

Keterangan :
A = Bobot cawan kosong + tutup
B = Bobot cawan kosong + tutup + contoh
C = Bobot cawan + residu
D = Bobot cawan + tutup setelah pemijaran
3. Kadar Zat terbang (Volatile Metter )
Metode : ISO 562 (1998) ; ASTM D3 175-2007
Tujuan :
Untuk mengetahui kadar zat terbang dalam suatu batubara
Dasar prinsip :
Sejumlah berat tertentu sampel dipijarkan pada suhu 900-950C tanpa kontak dengan udara
dalam waktu tertentu. Zat terbang dihitung dari komponen yang hilang dikurangi kadar
airnya.

Reaksi :

Batubara

Mineral +H2O + CO2 + SO2+NOx

Alat dan Bahan :


1) Neraca analitik
2) Cawan silica + tutup
3) Furnace
4) Desikator
5) Stopwatch
Cara kerja :
1. Mencatat nomor contoh,nomor pekerjaan dan nomor cawan
2. Menimbang cawan kosong beserta tutupnya
3. Menimbang dan tebarkan secara merata 1 gram contoh batubara
beserta tutupnya
4. Memasukkan kedalam furnaceselama 7 menit
5. Mengeluarkan cawan dan didinginkan diatas Tray selama 7 menit
6. Menimbang cawan yang berisi residu dan tutupnya
Perhitungan :
% bobot yang hilang

% Volatile matter = % bobot yang hilang -% Inherent Moisture


Keterangan :
M1 = Bobot cawan kosong+ tutup

kedalam cawan Silika

M2 = Bobot cawan + tutup + contoh sebelum pemijaran


M3

Bobot

cawan

tutup

contoh

setelah

pemijaran

B. Kadar Total Sulfur


Metode : ISO 351 (1996) ;ASTM D4239-2008
Tujuan :
Untuk mengetahui kadar sulfur secara total yang terdapat dalam suatu batubara.
Dasar Prinsip :
Sejumlah contoh batubara dipanaskan diatas tungku pada suhu 1350C dan dialirkan gas O 2
dengan kederasan 1 liter/menit membentuk gas SO2 yang ditampung pada bejana yang
berisikan hidrogen peroksida membentuk asam sulfat, asam sulfat dititar dengan natrium
tetraborat dengan Double indikator methylene red + methylene blue dari warna ungu berubah
menjadi kehijauan.
Reaksi :
S(org) + O2 (g)

SO2 (g) + H2O2 (l)

SO2 (g)

H2SO4 (l)

kehijauan
Na2B4O7(l) +H2SO4 + 5H2O

Na2SO4(l) +4H3BO3(l)

Alat dan bahan :


1. Cawan perahu
2. Tungku
3. Neraca
4. Aquadest
5. Bejana Penampung
6. Pipa pembakar
7. Erlenmeyer
8. Buret asam
9. Alumunium oksida
10. Pompa vakum
11. Larutan H2O2 3%
Encerkan larutan H2O2 30% sebanyak 30 ml menjadi 1liter
12. Larutan Natrium Boraks
Larutkan 19.0685 gram Na2B4O7.10H2O dalam labu ukur 2 liter
13. Larutan standar asam sulfat 0.025 N
Gunakan pelarut titrasol satu kapsul larutan dengan konsentrasi 0.10 N asam sulfat.Encerkan
sampai 2 liter dalam labu ukur.
14. Oksigen Murni 99.5 %
15. Contoh batubara
Cara Kerja :
1. Memanaskan tungku pada suhu 1350oC,pompa vakum dihidupkan dan dijaga tekanannya.
2. Menimbang contoh batubara sebanyak 0.5 gram, kedalam cawan perahu yang telah ditaburi
alumunium oksida, dan tutup kembali dengan alumunium oksida.

3. 100 ml larutan hydrogen peroksida yang telah di encerkan (30ml H2O2 ke dalam 1 liter
aquadest) diisikan ke dalam tabung penyerap dan dihubungkan dengan pipa yang ada pada
tungku.
4. Mengalirkan gas oksigen kedalam tungku dengan kederasan 1 liter/menit.
5. Memasukkan cawan yang berisi contoh kedalam pipa pembakar dan tutup kembali dengan
penyumbat.
6. Mendorong pipa setiap divisi per menit setelah 2 menit.
7. Apabila cawan telah berada di tengah tungku (pada menit kesembilan) biarkan selama 5
menit dan pada menit keempat belas keluarkan cawan dan lepaskan bejana penampung.
8. Memindahkan larutan yang ada di bejana kedalam erlenmeyer dan bilas sebanyak 3 kali.
9. Menambahkan double indikator methylene red+ methylene blue dan titar dengan natrium
tetra borat sampai terjadi perubahan warna dari ungu ke hijau.
10.

Melakukan pengerjaan blanko.

Perhitungan :

BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil Analisa
Kadar (%)
Kadar air (Moisture in Analysis)
Abu (Ash Content)

Hasil
4,76 %
12,03%

Zat Terbang (Volatile Matter)

41,76%

Total Sulfur

1,32%

B. PEMBAHASAN
1. Analisa Proximate
a. Penetapan kadar air lembab (Moisture in Analysis)
Pada penentuan kadar air lembab, contoh batubara dipanaskan selama 3 jam pada suhu
100 105 C.Untuk mencegah terjadinya oksidasi pada batubara, kedalam oven dialirkan gas
nitrogen bukan gas oksigen karena pada pemanasan C dan H sebagai komponen utama dalam
batubara akan teroksidasi oleh O2 , sehingga pengurangan berat contoh sebelum dan sesudah
pemanasan akan lebih besar dari yang sebenarnya, dan kadar air lembab yang didapat tidak
kuantitatif lagi.
Hubungan kadar air dengan peringkat batubara adalah pada umumnya semakin tua
semakin kecil kadar airnya.Contoh gambut mempunyai kadar air 80 90 % sedangkan
bituminous mempunyai kadar air 45 %.
b. Penetapan Kadar Abu ( Ash Content )
Batubara yang kadar abunya tinggi akan memiliki nilai kalori yang kecil. Hal ini
dikarenakan kecilnya fixed carbon (karbon padat) yang berpengaruhi terhadap besarnya
pembentukan energi pada proses pembakaran batubara.
Pada prinsipnya kadar abu ditentukan berdasarkan selisih berat batubara sebelum dan
sesudah pemanasan temperatur 815C sealam 3 jam.

Pada kondisi tersebut diatas semua zat organik teroksidasi menjadi CO 2 dan H2O,
sedangkan zat anorganiknya menjadi oksidasinya.
Disebut abu dan berat oksidasi anorganik disebut pula berat abu maka kadar abu dapat
diperoleh dari berat abu tersebut, biasanya abu batubara ini dapat pula digunakan untuk
analisa komposisi batubara yang dinamakan ASH ANALYSIS.Penentuan kadar abu sangat
diperlukan dalam analisis batubara yaitu untuk mengetahui kualitas dan jenis batubara. Abu
batubara biasanya dimanfaatkan sebagai bahan pencampuran pada pembuatan semen.

c. Penetapan Kadar zat terbang (Volatile Matter)


Kadar volatile matter yang dilakukan adalah berdasarkan standar ISO yaitu penetapan
zat terbang dengan cara pemanasan pada temperatur 900C selama 7 menit tepat.Pada
penetapan ini ditentukan banyaknya zat yang menguap pada pemanasan dengan temperatur
dan waktu seperti diatas.Zat- zat terbang yang dimaksud biasanya hidrokarbon yang jumlah
atom C- nya rendah, misalnya CH4 perlu diperhatikan bahwa air tidak termasuk zat
terbang.Kadar volatile matter suatu batubara perlu diketahui terutama untuk penambangan
bawah tanah karena jika kadar volatile matter tinggi maka akan terjadi ledakan yang sangat
membahayakan jiwa manusia.
d. Penetapan Kadar Karbon Padat ( Fixed Carbon )
Kadar Fixed Carbon tidak dapat dilakukan secara langsung tetapi didapat dari hasil
perhitungan secara tidak langsung yaitu :
100 % - (% Ash - % Moisture - % Volatile Matter )

Analisis proximate secara keseluruhan sangat penting dan tidak dapat ditinggalkan dari
suatu analisis batubara karena merupakan dasar penentuan kulitas batubara dalam suatu
industri. Fixed Carbon merupakan komponen utama dalam pembentukan batubara dan
apabila ada pembakaran akan menghasilkan kalor disebabkan terjadinya pemutusan ikatan
ikatan karbon.

2. Analisis Total Sulfur


Total sulfur yang mewakili keselurahan yang ada dalam batubara dianalisa dengan High
Temperature Method (HTM) contoh dibakar pada suhu 1350C.Belerang yang melepas
sebagai sulfur dioksida diabsorpsi dengan perhidrol lalu sulfat yang terbentuk dihitung secara
titrimetri yaitu penitaran dengan larutan penitar natrium tetraborat.

BAB VI
PENUTUP
A. KESIMPULAN
Dari hasil analisa dan pembahasan dapat di simpulkan bahwa:
1) Batubara adalah batuan atau mineral yang secara kimia dan fisika adalah heterogen yang
mengandung unsur unsur karbon,Hidrogen,Oksigen sebagai unsur utama serta belerang dan
Nitrogen sebagai unsur tambahan.
2) Komponen lain adalah senyawa anorganik pembentuk abu tersebut sebagai partikel zat yang
terpisah pisah dalam batubara.
3) Fixed Carbon tidak dapat di analisis secara langsung tetapi dapat di hitung seperti di bawah
ini:
% fixed Carbon = 100 % - ( % Ash - % moisture - % Volatile Matter )