Anda di halaman 1dari 29

PERILAKU KEKERASAN

PENGERTIAN

Perilaku kekerasan / Agresifitas adalah perilaku yang bertujuan untuk


melukai seseorang secara fisik atau psikologis (Berowitz dalam
Soetjiningsih, 2004).

WHO (1999) mengemukakan bahwa kekerasan adalah penggunaan


kekuatan fisik dan kekuasaan, ancaman atau tindakan untuk diri sendiri,
perorangan atau sekelompok orang atau masyarakat yang kemungkinan
besar mengakibatkan memar/trauma, kematian, kerugian psikologis,
kelainan perkembangan atau perampasan hak.

Dapat disimpulkan bahwa, perilaku kekerasan atau agresifitas dapat


didefinisikan sebagai perilaku melukai diri sendiri, orang lain/sekelompok
orang dan lingkungan, baik secara verbal, fisik, dan psikologis yang dapat
mengakibatkan trauma, perampasan hak, kerugian psikologis, dan bahkan
kematian.

TEORI PERILAKU KEKERASAN

Perilaku kekerasan dapat dijelaskan dengan menggunakan beberapa teori,


antara lain:

1. Teori Belajar Sosial


Menurut Bandura yang dikutip Bem, perilaku individu pada umumnya dipelajari
secara observasional melalui pemodelan, yaitu mengamati bagaimana suatu
perilaku baru dibentuk dan kemudian menjadi informasi penting dalam
mengarahkan perilaku. Sebagian besar perilaku individu diperoleh sebagai
hasil belajar melalui pengamatan atas perilaku yang ditampilkan oleh individu
lain yang menjadi model. Contoh: kegiatan demonstrasi yang dilanjutkan
dengan tindakan anarkhis (membakar ban di tengah jalan, merobohkan pintu
gerbang, bentrok dengan aparat keamanan, dan sebagainya) di suatu tempat
dapat menjadi model perilaku kekerasan bagi para demonstran di tempat lain

Teori Insting

Teori Freud mengenai insting kerap mengundang kontroversi. Teori ini


menegaskan bahwa timbulnya perilaku kekerasan adalah karena
insting, yaitu perwujudan psikologis dari suatu sumber rangsangan
actor dalam yang dibawa sejak lahir, Dengan teori ini diasumsikan
semua orang mempunyai kecenderungan untuk melakukan kekerasan.
Semula Freud mengemukakan bahwa perilaku kekerasan itu berkaitan
erat dengan energi libidoseksual, Jika insting seksual ini mengalami
hambatan maka timbullah perilaku kekerasan. Selanjutnya Freud
mengemukakan dikotomi energi positif dan energi destruktif yang
keduanya diduga memiliki dasar biologistik yang harus terwujud
dalam perilaku nyata. Jika energi destruktif mengarah ke pihak luar
maka menjadi pemicu perilaku kekerasan terhadap orang lain,
sedangkan jika mengarah ke diri sendiri maka dapat mendorong
keinginan untuk menyakiti diri sendiri atau perilaku bunuh diri.

Teori Kepribadian

Sifat-sifat kepribadian sebagai sifat internal berkorelasi


dengan perilaku kekerasan termasuk emosi. Anak yang
mengalami gangguan seperti cepat marah dan mudah
menyerang cenderung mengembangkan pola perilaku
kekerasan pada usia selanjutnya. Dengan demikian aktor
temperamen yang merupakan bagian dari komponen
kepribadian berkaitan dengan perilaku kekerasan.

Teori Kognitif

Konsep dasar teori kognitif mengacu pada kegiatan mental


yang tidak dapat diubah begitu saja dalam menjelaskan
perilaku actor dengan postulat yang sesungguhnya seperti
persepsi, pikiran, intensi, perencanaan, keterampilan, dan
perasaan. Teori kognitif actor menekankan pentingnya
interaksi resiprokal actor-faktor individu sebagai penentu
perilaku kekerasan.

Teori Frustasi-Agresi

Terjadinya frustasi adalah jika seseorang tidak dapat


memiliki sesuatu yang diinginkan pada waktu orang
tersebut benar-benar memerlukannya. Schacter,
menyatakan setiap tindakan agresi dan kekerasan pada
akhirnya dapat dilacak penyebabnya dalam kaitannya
dengan frustasi. (Hakim, 2010)

Ada beberapa teori yang berkaitan dengan timbulnya perilaku kekerasan

Faktor psikologis

Psychoanalytical theory

Frustation aggresion theory

Faktor sosial budaya


Social

learning theory yang dikembang kan oleh Bandura dalam (Yosep


2010, h. 14) ini mengemukakan bahwa agresi tidak berbeda dengan
respon-respon yang lain. Agresi dapat dipelajari melalui observasi atau
imitasi, dan semakin mendapatkan penguatan maka semakin besar
kemungkinan untuk terjadi. Jadi seseorang akan berespon terhadap
kebangkitan emosioalnya secara agresif sesuai dengan respon yang
dipelajarinya.

Faktor biologis
Penelitian

neurobiologi mendapatkan bahwa adanya pemberian stimulus

elektris
ringan

pada hipotalamus (yang berada ditengah sistem limbik) binatang

ternyata
menimbulkan

perilaku agresif. Faktor-faktor yang mendukung antara lain :

1) Masa kanak-kanak yang tidak menyenangkan


2) Sering mengalami kegagalan
3) Kehidupan yang penuh tindakan agresif
4) Lingkungan yang tidak kondusif

Faktor prespitasi

Fitria ( 2009, h.144 ) mengemukakan, faktor-faktor prespitasi dapat dibedakan


menjadi faktor internal dan eksternal.
1) Internal adalah semua faktor yang dapat menimbulkan kelemahan, menurunya
percaya diri , rasa takut sakit, hilang kontrol dan lain-lain.
2) Eksternal adalah penganiayaan fisik, kehilangan orang yang dicintai, krisis dan
lain-lain. (Perwiranti, 2013)

PROSES TERJADINYA

FAKTOR PENYEBAB PERILAKU KEKERASAN

Faktor predisposisi

- Faktor biologis

Intinctual drive theory (teori dorongan naluri)

Psycomatic theory (teori psikomatik)

- Faktor psikologis

Frustasion aggresion theory ( teori argesif frustasi)

Behavioral theory (teori perilaku)

Existential theory (teori eksistensi)

- Faktor sosio kultural

Social enviroment theory ( teori lingkungan )

Social learning theory ( teori belajar sosial )

Faktor Presipitasi

Stressor yang mencetuskan perilaku kekerasan bagi setiap individu


bersifat buruk. Stressor tersebut dapat disebabkan dari luar
maupun dalam. Contoh stressor yang berasal dari luar antara lain
serangan fisik, kehilangan, kematian, krisis dan lain-lain.
Sedangkan dari dalam adalah putus hubungan dengan seseorang
yang berarti, kehilangan rasa cinta, ketakutan terhadap penyakit
fisik, hilang kontrol, menurunnya percaya diri dan lain-lain.Selain
itu lingkungan yang terlalu ribut, padat, kritikan yang mengarah
pada penghinaan, tindakan kekerasan dapat memicu perilaku
kekerasan. (Riyadi dan Purwanto,2009 )

TANDA DAN GEJALA

FISIK

- Mata melotot atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang mengatup,


wajah
- memerah dan tegang serta postur tubuh kaku

Verbal

Mengancam, mengumpat dengan kata-kata kotor, berbicara dengan nada keras,


kasar dan ketus

Emosi

Emosi tidak adekuat, tidak aman dan nyaman, merasa terganggu, dendam,
jengkel, tidak berdaya, bermusuhan, mengamuk, ingin berkelahi, menyalahkan
dan menuntut

Intelektual

Mendominasi, cerewet, kasar, berdebat, meremehkan dan tidak jarang


mengeluarkan kata-kata bernada sarkasme

Spiritual

Merasa diri berkuasa, merasa diri benar, keragu-raguan, tidak bermoral dan
kreativitas terhambat

Social

Menarik diri, pengasingan, penolakan, kekerasan, ejekan dan sindiran

Perhatian

Bolos, melarikan diri dan melakukan penyimpangan seksual. (Perwiranti, 2013)

Observasi: Muka merah, pandangan tajam, otot tegang, nada suara tinggi,
berdebat.

Sering pula tampak klien memaksakan kehendak: merampas makanan,


memukul jika tidak senang.

Wawancara: diarahkan pada penyebab marah, perasaan marah, tanda-tanda


marah yang dirasakan klien

Tanda dan Gejala menurut (Yosep dalam Damaiyanti dan


Iskandar, 2012) Muka marah dan tegang, mata melotot
atau pandangan tajam, tangan mengepal, rahang
mengatup, wajah memerah dan tegang, postur tubuh
kaku, pandangan tajam, mengatupkan rahang dengan
kuat, mengepalkan tangan, jalan mondar-mandir.
(Puspitasari, 2013)

TAHAPAN

Triggering intcidens

Fase ini ditandai dengan adanya pemicu sehingga muncul agresi klien. Beberapa
factor yang mungkin menjadi pemicu agresi meliputi : provokasi , respon
terhadap kegagalan, komunikasi yang buruk, situasi yang menyebabkan
frustasi, pelanggaran batas terhadap jarak personal, dan harapan yang tidak
terpenuhi.

Ascalation phase

Fase in di tandai dengan kondisi kebangkitan fisik dan emosional,dapat


disetarakan dengan respon flight or flight karena kondisi ini ada kondisi
sebelum tejadinya kekerasana maka diagnose keperawatan yang tepat pada
fase in adalah risk for other directed violence (nanda 2007) atau
violence/aggressive behaviore risk (ICNP,2005)

Crisis point

Fase in merupakan fase lanjutan dari escalation phase apabila negosiasi dan
teknik descalation gagal mencapai tujuan. Emosi menonjol yang dutunjukan
oleh klien adalah bermusuhan.

Setting phase

Fase in adalah fase dimana klien yang melakukan perilaku kekerasan telah
melepaskan energy marahnya.Meskipun begitu,klien mungkin masih merasa
cemas atau marah dan mempunyai resiko kembali ke masa awal.

Post crisis depression

Dalam fase in klien mungkin mengalami kecemasan,depresi dan berfokuspada


kemarahan dan kelelahan.

Return to normal functional

Ini adalah fase dimana klien telah kembali kepada keseimbangan normal,dari
perasaan cemas,depresi dan kelelahan.Fase in merupakan kesempatan yang
sangat baik bagi klien untuk melatih kemampuan kognitif,fisik,dan emosi jika
suatu saat klien terpicu untuk menjadi agresif.

Asuhan Keperawatan Pasien dengan Resiko


Perilaku kekerasan

Pengkajian

Perilaku kekerasan adalah suatu bentuk perilaku yang


bertujuan untuk melukai seseorang secara fisik maupun
psikolog. Berdasarkan definisi ini maka perilaku kekerasan
dapat dilakukan secara verbal, diarahkan pada diri sendiri,
orang lain, dan lingkungan. Perilaku kekerasan dapat
terjadi dalam dua bentuk yaitu saat sedang berlangsung
perilaku kekerasan atau riwayat perilaku kekerasan.

Data perilaku kekerasan dapat diperoleh melalui observasi atau wawancara tentang perilaku berikut
ini:

Muka merah dan tegang

Pandangan tajam

Mengatupkan rahang dengan kuat

Mengepalkan tangan

Jalan mondar mandir

Bicara kasar

Suara tinggi, menjerit atau berteriak

Mengancam secara verbal atau fisik

Melempar atau memukul benda/orang lain

Merusak benda

Tidak mempunyai kemampuan untuk mencegah/ mengontrolperilaku kekerasan

PENATALAKSANAAN

Medis

Obat-obatan yang biasa diberikan pada pasien dengan marah atau perilaku
kekerasan adalah :

Antianxiety dan sedative hipnotics.

Buspirone obat antianxiety

Antidepressants

Lithium

Antipsychotic

Keperawatan
Strategi

preventif

Kesadaran diri

Pendidikan klien

Latihan asertif

Strategi antisipatif

Komunikasi

Perubahan lingkungan

Tindakan perilaku

Strategi pengurungan

Managemen krisis

Seclusion merupakan tindakan keperawatan yang terakhir dengan


menempatkan klien dalam suatu ruangan dimana klien tidak dapat
keluar atas kemauannya sendiri dan dipisahkan dengan pasien lain.

Restrains adalah pengekangan fisik dengan menggunakan alat


manual untuk membatasi gerakan fisik pasien menggunakan
manset, sprei pengekang (Yosep, 2007)

POHON
MASALAH

ASKEP

Kembali KE MAKALAH :D