Anda di halaman 1dari 25

Asuhan Keperawatan

Pengkajian
Waham adalah suatu keyakinan yang salah yang dipertahankan secara kuat/terus
menerus namun tidak sesuai dengan kenyataan.
Untuk mendapatkan data waham, anda harus melakukan observasi terhadap perilaku
berikut ini:
1. Waham Kebesaran. Meyakini bahwa ia memiliki kebesaran atau kekuasaan
khusus, diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: saya ini pejabat
di departemen kesehatan lho atau Saya punya tambang emas.
2. Waham Curiga. Meyakini bahwa ada seseorang atau kelompok yang berusaha
merugikan/mencederai dirinya, diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: Saya tahu anda ingin menghancurkan hidup saya karena iri dengan kesuksesan
saya.
3. Waham Agama. Meyakini keyakinan terhadap suatu agama secara berlebihan,
diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: Kalau saya mau masuk
surge saya harus menggunakan pakaian putih setiap hari.
4. Waham Somatik. Meyakini bahwa tubuh atau bagian tubuhnya
terganggu/terserang penyakit, diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan.
Contoh: Saya sakit kanker. Setelah pemeriksaan laboratorium tidak ditemukan tanda
tanda kanker namun pasien terus mengatakan bahwa ia terserang kanker.
5. Waham Nihilistik. Meyakini bahwa dirinya sudah tidak ada di dunia/meninggal,
diucapkan berulang kali tapi tidak sesuai kenyataan. Contoh: Ini kana lam kubur ya,
semua yang ada disini adalah roh roh.
Berikut ini beberapa contoh pertanyaan yang bisa digunakan sebagai panduan untuk
mengkaji pasien dengan waham:
1. Apakah pasien memiliki pikiran/isi pikir yang berulang ulang diungkapkan dan
menetap?
2. Apakah pasien takut terhadap objek atau situasi tertentu, atau apakah pasien cemas
secara berlebihan tentang tubuh atau kesehatannya?
3. Apakah pasien pernah merasakan bahwa benda benda disekitarnya aneh atau
tidak nyata?
4. Apakah pasien pernah merasakan bahwa ia berada di luar tubuhnya?
5. Apakah pasien pernah merasa diawasi atau dibicarakan oleh orang lain?
6. Apakah pasien berpikir bahwa pikiran atau tindakannya dikontrol oleh orang lain
atau kekuatan dari luar?
7. Apakah pasien menyatakan bahwa ia memiliki kekuatan fisik atau kekuatan
lainnya atau yakin bahwa orang lain dapat membaca pikirannya?
Selama pengkajian harus mendengarkan dan memperhatikan semua informasi yang
diberikan oleh pasien tentang wahamnya. Untuk mempertahankan hubungan saling
percaya yang telah terbina jangan menyangkal, menolak, atau menerima keyakinan
pasien.
(Keliat, 2011)
Pengkajian Pada Waham

Latihan
Dokumentasikan pengkajian dan diagnosis keperawatan pasien waham dengan
menggunakan format yang tersedia.
Proses Pikir
( ) Sirkumstansial
( ) Tangensial
( ) Flight of Ideas
( ) Blocking
( ) Kehilangan asosiasi
( ) Pengulangan bicara
Isi Pikir
( ) Obsesi
( ) Fobia
( ) Depersonalisasi
( ) Ide terkait
( ) Hipokondria
( ) Pikiran Magis
Waham
( ) Agama
( ) Somatik
( ) Kebesaran ( ) Curiga
( ) Nihilistik
( ) Sisip Pikir ( ) Siat Pikir
( ) Kontrol pikir
(Keliat, 2011)

ASUHAN KEPERAWATAN WAHAM

No
Diagnosa
1
Gangguan
proses pikir :
Waham

Tujuan
Pasien mampu :
- berorientasi kepada
realitas secara bertahap
- berinteraksi denganorang
lain dan lingkungan
- menggunakan obat
dengan prinsip 5 benar

Intervensi
SP 1
- identifikasi kebutuhan pasien bicara
konteks realita (tidak mendukung atau
membantah waham pasien)
- latih pasien untuk memenuhi
kebutuhannya
- masukkan dalam jadwal harian pasien

Rasional
- mengetahui kebutuhan klien
- memperdekat hubungan
kontak dengan klien agar
terpenuhi kebutuhan klien

SP 2
- evaluasi kegiatan yang lalu (SP1)
- tanyakan program pengobatan
- jelaskan pentingnya penggunaan obat
p
- ada gangguan jiwa
- jelaskan akibat bila tidak digunakan
sesuai program
- jelaskan akibat bila putus obat
- jelaskan cara mendapatkan obat
- jelaskan pengobatan dengan prinsip 5
B
- latih pasien minum obat
- masukkan dalam jdwal kegiatan
pasien

- mengetahui evaluasi /
kemajuan klien dari
sebelumnya
- minum obat secara benar
dengan prinsip 5 benar dapat
mempercepat penyembuhan
penyakit klien.

SP 3
- evaluasi kegiatan yang lalu (SP1 dan
SP 2)
- identifikasi potensi/ kemampuan yang
dimiliki
- pilih/ latih potensi /kemampuan lain
yang dimiliki
- masukkan dalam jadwal kegiatan

- memperoleh dan menggali


kemampuan yang dimiliki
klien

SP 4
- evaluasi kegiatan yang lalu (SP1, SP2,
dan SP 3)
- pilih kemampuan yang dapat
dilakukan
- pilih dan latih potensi kemampuan
lain yang di miliki

- Untuk menggali dan


memperdalam kemampuan
klien secara mendalam yang
dapat dimanfaatkan dalam
kegiatan sehari-hari

RESIKO BUNUH DIRI (RBD)


1. Definisi RBD
Bunuh diri adalah suatu keadaan dimana individu mengalami resiko untuk menyakiti
diri sendiri atau melakukan tindakan yang dapat mengancam nyawa. Dalam sumber
lain dikatakan bahwa bunuh diri sebagai perilaku destruktif terhadap diri sendiri
yang jika tidak dicegah dapat mengarah pada kematian. Perilaku destruktif diri yang
mencakup setiap bentuk aktivitas bunuh diri, niatnya adalah kematian dan individu
menyadari hal ini sebagai sesuatu yang diinginkan (Stuart dan Sundeen, 1995.
Dikutip Fitria, Nita, 2009).
Bunuh diri merupakan suatu upaya yang disadari dan bertujuan untuk mengakhiri
kehidupan, individu secara sadar berupaya melaksanakan hasratnya untuk mati.
Perilaku bunuh diri meliputi isyarat-isyarat, percobaan atau ancaman verbal, yang
akan mengakibatkan kematian, luka, atau menyakiti diri sendiri (Clinton, 1995).
2. Teori RBD
a.Oleh Emile Durkheim (1858-1917)
Durkheim menyatakan bahwa derajat integrasi sebuah masyarakat adalah
berhubungan terbalik dengan tingkat bunuh dirinya.Tingkat bunuh diri akan rendah
pada

Negara-negara

Katholik

dimana

agama

menyediakan

thema

pemersatu.Disamping itu ia juga mengemukakan bahwa solidaritas social akan


meningkat pada saat perang dan depresi ekonomi.
Durkheim menyatakan ada 4 jenis bunuh diri yang berbeda,yyaitu
1.
Altruistic suicide
Bunuh diri ini muncul pada saat individu adalah sangat dekat mengidentifikasikan
dirinya dengan kemlompok sosialnya dan individu merasa harus mengorbankan
hidupnya untuk tujuan yang lebih mulia.Individu mengalami solidaritas yang
ekstrem dengan system.Contoh : Kamikaze,dll
2.
Egoistic Suicide
Bunuh diri muncul pada saat individu tidak dapat mengintegrasikan dirinya secara
tepat pada kelompok sosialnya dan individu merasa ditolak atau kehilangan muka
dihadapan kelompo sosialnya.
3.
Fatalistic Suicide
Bunuh diri ini muncul pada saat individu merasakan terpojok dan tidak ada jalan
keluar.Contohnya adalah narapidana yang dihukum pertama kali kemudian
memutuskan untuk menggantung diri.
4.
Anomic Suicide

Bunuh diri muncul pada saat individu merasakan bahwa norma-norma sudah tidak
dapat berfungsi sebagai akibat dan karakter dari masyarakat yang tidak berfungsi
dengan baik,tidak ada kesatuan dan kelekatan.
3. Klasifikasi RBD
Perilakubunuhdiriterbagimenjaditigakategori (Stuart, 2006):

Ancamanbunuhdiriyaituperingatan
verbal

atau

bahwaseseorangtersebutmempertimbangkanuntukbunuhdiri.

nonverbal

Orang

yang

inginbunuhdirimungkinmengungkapkansecara verbal bahwaiatidakakanberada di


sekitarkitalebih lama lagiataumengomunikasikansecaranon verbal.

Upayabunuhdiriyaitusemuatindakanterhadapdirisendiri yang
dilakukanolehindividu yang dapatmenyebabkankematianjikatidakdicegah.

Bunuhdiriyaitumungkinterjadisetelahtandaperingatanterlewatkanataudiabaikan.
Orang

yang

melakukanbunuhdiridan

yang

tidakbunuhdiriakanterjadijikatidakditemukantepatpadawaktunya.
Sementaraitu, Yosep (2010) mengklasifikasikanterdapattigajenisbunuhdiri, meliputi:

Bunuhdirianomik
Bunuhdirianomikadalahsuatuperilakubunuhdiri yang didasariolehfaktorlingkungan
yang penuhtekanan (stressful) sehinggamendorongseseoranguntukbunuhdiri.

Bunuhdirialtruistik
Bunuhdirialtruistikadalahtindakanbunuhdiri

yang

berkaitandengankehormatanseseorangketikagagaldalammelaksanakantugasnya.

Bunuhdiriegoistik
Bunuhdiriegoistikadalahtindakanbunuhdiri
yang
diakibatkanfaktordalamdiriseseorangsepertiputuscintaatauputusharapan.
4. Fase RBD
Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau
sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada
tahap

ini

tidak

akan

mengungkapkan

idenya

apabila

tidak

ditekan.

Walaupundemikian,
perawatperlumenyadaribahwapasienpadatahapinimemilikipikirantentangkeinginanu
ntukmati
Suicidal intent, Padatahapiniklienmulaiberpikirdansudahmelakukanperencanaan
yang konkrituntukmelakukanbunuhdiri,
Suicidal
Padatahapiniklienmengekspresikanadanyakeinginandanhasratyandalam
,bahkanancamanuntukmengakhirihidupnya .

threat,

Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang
diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya
tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang
dilakukanpadafaseinipadaumumnyatidakmematikan,
misalnyameminumbeberapapilataumenyayatpembuluhdarahpadalengannya.

Hal

initerjadikarenaindividumemahamiambivalenantaramatidanhidupdantidakberencana
untukmati. Individuinimasihmemilikikemauanuntukhidup, ingin di selamatkan,
danindividuinisedangmengalamikonflik mental. Tahapinisering di namakan Crying
for help sebabindividuinisedangberjuangdengan stress yang tidakmampu di
selesaikan.
Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai indikasi
individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang
mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan
kehidupannya.
Suicide.

Tindakan

yang

bermaksudmembunuhdirisendiri

.halinitelahdidahuluiolehbeberapapercobaanbunuhdirisebelumnya. 30% orang yang


berhasilmelakukanbunuhdiriadalah

orang

pernahmelakukanpercobaanbunuhdirisebelumnya.

yang
Suicide

iniyakinimerupakanhasildariindividu

yang

tidakpunyapilihanuntukmengatasikesedihan yang mendalam.


5. Manifestasi Klinis RBD
Psikodinamika Bunuh Diri
Pikiran Ingin mati* (ex:Riwayat)

Respon (dilakukan atau tidak bergantung lingkungan, social, fisik dan jiwa)

Maladaptif

Motivasi

Apatis, dan Raguragu

Adaptif Peningkatan diri

Kecewa karena orla atau tujuan tak tercapai


Pasien tampak Murung, tak bergairah,diam, putus
asa, merasa bersalah, gagal, tak berguna,
depresi, agirasi, gelisah, insomnia, bb turun,

Niat (pergulatan, ex-catatan bd)

Merokok, Mengebut, Berjudi, Tindakan criminal, Terlibat


dalam tindakan rekreasi beresiko tinggi, Penyalahgunaan
Destruksi secara tidak langsung zat, Perilaku yang menyimpang secara social, Perilaku
yang menimbulkan stress, Gangguan makan

Pencideraan Diri

Pada Pasien tampak membakar kulit, melukai


tubuh sedikit demi sedikit, , menggigit jari

Bunuh Diri (destruksi langsung)

Lompat
gedung,
minum
racun,
senjata api

6. Proses Terjadi
Proses Perilaku bunuh diri berkembang dalam rentang diantaranya :
a. Suicidal ideation, Pada tahap ini merupakan proses contemplasi dari suicide, atau
sebuah metoda yang digunakan tanpa melakukan aksi/ tindakan, bahkan klien pada
tahap ini tidak akan mengungkapkan idenya apabila tidak ditekan. Walaupun
demikian, perawat perlu menyadari bahwa pasien pada tahap ini memiliki pikiran
tentang keinginan untuk mati
b. Suicidal intent, Pada tahap ini klien mulai berpikir dan sudah melakukan
perencanaan yang konkrit untuk melakukan bunuh diri,
c. Suicidal threat, Pada tahap ini klien mengekspresikan adanya keinginan dan hasrat
yan dalam , bahkan ancaman untuk mengakhiri hidupnya .
d. Suicidal gesture, Pada tahap ini klien menunjukkan perilaku destruktif yang
diarahkan pada diri sendiri yang bertujuan tidak hanya mengancam kehidupannya
tetapi sudah pada percobaan untuk melakukan bunuh diri. Tindakan yang dilakukan
pada fase ini pada umumnya tidak mematikan, misalnya meminum beberapa pil atau
menyayat pembuluh darah pada lengannya. Hal ini terjadi karena individu
memahami ambivalen antara mati dan hidup dan tidak berencana untuk mati.
Individu ini masih memiliki kemauan untuk hidup, ingin di selamatkan, dan individu
ini sedang mengalami konflik mental. Tahap ini sering di namakan Crying for help
sebab individu ini sedang berjuang dengan stress yang tidak mampu di selesaikan.
e. Suicidal attempt, Pada tahap ini perilaku destruktif klien yang mempunyai
indikasi individu ingin mati dan tidak mau diselamatkan misalnya minum obat yang
mematikan . walaupun demikian banyak individu masih mengalami ambivalen akan
kehidupannya.
f.Suicide, Tindakan yang bermaksud membunuh diri sendiri . hal ini telah didahului
oleh beberapa percobaan bunuh diri sebelumnya. 30% orang yang berhasil
melakukan bunuh diri adalah orang yang pernah melakukan percobaan bunuh diri
sebelumnya. Suicide ini yakini merupakan hasil dari individu yang tidak punya
pilihan untuk mengatasi kesedihan yang mendalam.

7. Pohon Masalah RBD


Risiko tinggi menciderai diri,
lingkungan dan orang lain

Risiko bunuh diri

Harga diri rendah


8. Penatalaksanaan RBD
kronis
Penatalaksanaan Medis
1.
Untuk pasien dengan depresi dapat diberikan terapi elektro konvulsi.
2.
Diberikan obat obat terutama anti depresan dan psikoterapi.
Penatalaksanaan Keperawatan
1.
Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2.
Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a)
Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya.
b)
Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c)
Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting
d)
Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e)
Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan
3.
Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a)
Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
b)
Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian
masalah
c)
Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik
Penatalaksanaan
1.
Bantu klien untuk menurunkan resiko perilaku destruktif yang diarahkan
pada diri sendiri, dengan cara :
- Kaji tingkatan resiko yang di alami pasien : tinggi, sedang, rendah.
- Kaji level Long-Term Risk yang meliputi : Lifestyle/ gaya hidup, dukungan social
yang tersedia, rencana tindakan yang bisa mengancam kehidupannya, koping
mekanisme yang biasa digunakan
2.
Berikan lingkungan yang aman ( safety) berdasarkan tingkatan resiko ,
managemen untuk klien yang memiliki resiko tinggi
- Orang yang ingin suicide dalam kondisi akut seharusnya ditempatkan didekat
ruang perawatan yang mudah di monitor oleh perawat.
- Mengidentifikasi dan mengamankan benda benda yang dapat membahayakan
klien misalnya : pisau, gunting, tas plastic, kabel listrik, sabuk, hanger dan barang
berbahaya lainnya.
3.
Membantu meningkatkan harga diri klien
- Tidak menghakimi dan empati
- Mengidentifikasi aspek positif yang dimilikinya
- Mendorong berpikir positip dan berinteraksi dengan orang lain

- Berikan jadual aktivitas harian yang terencana untuk klien dengan control impuls
yang rendah
- Melakukan terapi kelompok dan terapi kognitif dan perilaku bila diindikasikan.
4.
Bantu klien untuk mengidentifikasi dan mendapatkan dukungan social
- Informasikan kepada keluarga dan saudara klien bahwa klien membutuhkan
dukungan social yang adekuat
- Bersama pasien menulis daftar dukungan sosial yang di punyai termasuk jejaring
sosial yang bisa di akses.
- Dorong klien untuk melakukan aktivitas social
5.
Membantu klien mengembangkan mekanisme koping yang positip.
- Mendorong ekspresi marah dan bermusuhan secara asertif
- Lakukan pembatasan pada ruminations tentang percobaan bunuh diri.
- Bantu klien untuk mengetahui faktor predisposisi apa yang terjadi sebelum anda
memiliki pikiran bunuh diri
- Memfasilitasi uji stress kehidupan dan mekanisme koping
- Explorasi perilaku alternative
- Gunakan modifikasi perilaku yang sesuai
Pemeriksaan dan penatalaksanaan
1.
klinik harus menilai resiko bunuh diri pada pasien individual berdasarkan
pemeriksaan klinis. Hal yang paling prediktif yang berhubungan dengan resiko
bunuh diri
2.
memeriksa pasien yang berusaha bunuh diri, jangan meninggalkan mereka
sendirian dan keluarkan benda yang berbahaya dari ruangan
3.
pasien yang baru saja melakukan usaha bunuh diri.
4.
penatalaksaannya adalah sangat tergantung pada diagnosis. Pada pasien
dengan gangguan depresi berat mungkin diobati sebaga pasien rawat jalan jika
keluarganya dapat mengawasi mereka secara ketat dan pengobatannya dapat dimulai
secar cepat.
5.
ide bunuh diri pada pasien alkoholik biasanya menghilang dengan
abstinensia dalam beberapa hari. Jika depresi menetap setelah tanda psikologis dari
putusnya alkohol yang menghilang dengan adanya kecurigaan yang tinggi pada
ganguan depresi berat
6.
ide bunuh diri pada pasien skizofrenia harus ditanggapi secara serius,
karena mereka cendrung menggunakan kekerasan atau metode yang kacau dengan
letalitas yang tinggi
7.
pasien dengan gangguan keperibadian mendapat manfaat dari konfrontasi
empatik dan bantuan dengan mendapatkan pendekatan yang rasional dan
bertanggung jawab.
8.
hospitalisasi jangka panjang, diindikasi pada keadaan yang menyebabkan
mutilasi diri.
Psikoterapi dengan pedoman wawancara. Mulailah dengan bertanya apakah pasien
pernah merasa menyerah atau merasa mereka lebih baik meninggal. Pendekatan
tersebut menyebabkan stigma yang kecil dan dapat dilakukan sebagian besar orang
Berbicaralah mengenai apa yang sebenarnya yang difikirkan pasien dan catatlah
fikirannya (Lontarkan pertanyaan pada pasien)

Pertimbangkan usia dan kecanggihan pasien dan apakah maksud pertanyaan pasien
sesuai dengan caranya (Apakah cara yang dipilih untuk bunuh diri tersedia pada
pasien)
Pertanyaan yang terakhir menentukan penilaian dan pengobatan karena pasien dapat
menunjukkan cara untuk keluar dari dilemanya.
9. Asuhan Keperawatan RBD
Pengkajian
Bunuh diri adalah tindakan secara sadar yang dilakukan oleh pasien untuk
mengakhiri

kehidupannya.

Berdasarkan

besarnya

kemungkinan

pasien

melakukan bunuh diri, kita mengenal tiga macam perilaku bunuh diri, yaitu
isyarat bunuh diri, ancaman bunuh diri, dan percobaan bunuh diri.
Isyarat bunuh diri ditunjukkan dengan berperilaku secara tidak langsung ingin
bunuh diri, misalnya, dengan mengatakan Tolong jaga anak-anak karena saya
akan pergi jauh atau segala sesuatu akan lebih baik tanpa saya.
Pada kondisi ini pasien mungkin sudah memiliki ide untuk mengakhiri hidupnya,
namun tidak disertai dengan ancaman dan percobaan bunuh diri. Pasien
umumnya mengungkapkan perasaan seperti rasa bersalah/ sedih/ marah/ putus
asa/ tidak berdaya. Pasien juga mengungkapkan hal hal negative tentang diri
sendiri yang menggambarkan harga diri rendah.
(Keliat, 2011)

Ancaman bunuh diri


Ancaman bunuh diri umumnya diungkapkan oleh pasien, berisi keinginan untuk
mati disertai rencana untuk mengakhiri kehidupan dan persiapan alat untuk
melaksanakan rencana tersebut. Secara aktif pasien telah memikirkan rencan
bunuh diri, namun tidak disertai dengan percobaan bunuh diri.
Walaupun dalam kondisi ini pasien belum mencoba bunuh diri, pengawasan ketat
harus dilakukan. Kesempatan sedikit saja dapat dimanfaatkan pasien untuk
melaksanakan rencana bunuh dirinya.

(Keliat, 2011)

Percobaan bunuh diri


Percobaan bunuh diri adalah tindakan pasien mencederai atau melukai diri untuk
mengakhiri kehidupannya. Pada kondisi ini pasien aktif mencoba bunuh diri
dengan cara gantung diri, minum racun, memotong urat nadi, atau menjatuhkan
diri dari tempat yang tinggi. Berdasarkan jenis jenis bunuh diri ini dapat dilihat
data data yang diharus dikaji tiap jenisnya.
(Keliat, 2011)

Pengkajian Risiko Bunuh Diri

1. Keluhan

Utama:

2. Pengalaman
masa
lalu
yang
tidak
menyenangkan:

3. Konsep
diri

Harga

Diri
(Umumnya pasien mengatakan hal hal negative tentang dirinya, yang
menunjukkan harga diri rendah)
4. Alam Perasaan:
( ) Sedih
( ) Putus Asa
( ) Ketakutan
( ) Gembira Berlebihan
(Pasien umumnya merasakan kesedihan dan keputusasaan yang sangat
dalam)
5. Interaksi selama wawancara:
( ) Bermusuhan
( ) Kontak mata kurang
( ) Tidak kooperatif
( ) Defensif
( ) Mudah tersinggung
( ) Curiga
(Pasien biasanya menunjukan kontak mata kurang)
6. Afek:
( ) Datar
( ) Labil

( ) Tumpul
( ) Tidak sesuai
(Pasien biasanya menunjukan afek yang datar atau tumpul)
7. Mekanisme koping maladaptive (cara penyelesaian masalah yang tidak
baik):
( ) Minum alcohol
( ) Menghindar
( ) Reaksi Lambat
( ) Mencederai
( ) Bekerja berlebihan
( ) Lainnya
(Pasien biasanya menyelesaikan masalahnya dengan cara menghindar dan
mencederai diri sendiri)
8. Masalah psikososial dan lingkungan:
( ) Masalah dengan dukungan keluarga
( ) Masalah dengan perumahan
(Keliat, 2011)
Diagnosa Keperawatan Risiko Bunuh Diri
1.
Perilaku Kekerasan (Resiko mencederai diri sendiri)
2.
Resiko Bunuh Diri
3.
Gangguan Interaksi Sosial (Menarik diri)
4.
Gangguan Konsep Diri (Harga Diri Rendah)
Ada 5 gejala yang timbul setiap hari selama 2 minggu yaitu :
Mood depresi, kehilangan minat & kesenangan.
Berat badan turun, insomnia, hipersomnia, gangguan psokomotur, kelelahan,
merasa tidak berharga atau bersalah, tidak mampu berpikir, sering ingin mati.
Perencanaan. Tujuan :
1.
Mencegah menyakiti diri sendiri.
2.
Meningkat harga diri klien
3.
Menggali masalah dalam diri klien.
4.
Mengajarkan koping yang sehat.
Intervensi
Perawat harus menyadari responsnya terhadap suicide supaya bersikap obyektif. I.
Proteksi (mencegah menyakiti diri) Mengatakan kepada klien bahwa tim kesehatan
akan mencegah klien untuk mencoba bunuh diri.
1.
Verbal
2.
Nonverbal : Menghilangkan benda- benda berbahaya seperti : Ikat
pinggang, benda tajam.
3.
Observasi Perilaku (Mencegah klien melukai dirinya)
4.
Perhatikan verbal & nonverbal klien.
5.
Ditempatkan ditempat aman, bukan diisolasi dan semua tindakan
dijelaskan 6
6.
Pengawasan selama 24 jam (Menemani pasien terus-menerus sampai Dia
dapat dipindahkan ketempat yang aman)

7.
Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien
mendapatkan obat
8.
Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi
pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri
9.
Intervensi krisis klien tetap waspada.
10.
Kadang- kadang klien merasa baik, dan berhenti tapi karena kambuh lagi
Pada klien yang anoreksia,
1.
Awasi klien pada saat makan, agar banyak yang dimakan.
2.
Meningkatkan harga diri
Setiap kegiatan / prilaku positif segera dipuji.
Menghilangkan rasa bersalah & menyalahkan
Sediakan waktu untuk klien sehingga klien merasa dirinya penting
Bantu untuk mengekspresikan perasaan positif/negative.
Identifikasi sumber kepuasan dan rencana aktivitas yang cepat berhasil
Dorong klien menuliskan hasil yang telah dicapai
3.
Menguatkan koping yang sehat.
Membuat klien bertanggung jawab terhadap perilakunya
Modifikasi Prilaku dibutuhkan dengan prilaku yg responsif. Misal : Pada anoreksia
Boleh dikunjungi keluarga bila berat badan naik Kg.
Bila tidak mau makan, pasang NGT.
4.
Eksplorasi perasaan.
Tujuan membuat klien memahami proses penyakitnya/ masalahnya.
Mengeksplorisasi faktor predisposisi & pencetus.
Mengikuti terapi kelompok.
Mengarah pada masalahnya. Misal : Klien marah, belajar marah konstruktif
5.
Mengatur batasan dan control
Membuat daftar perilaku yang mesti diubah / dikontrol.
Dibuat berstruktur dan batasan yang jelas Misal : Dalam 2 hari ini tidak ada usaha
merusak diri.
6.
Mengarahkan dukungan sosial. Karena Klien tidak punya sumberdaya
internal dan eksternal, maka :
Melibatkan keluarga & teman.
Mengajarkan tentang pola-pola suicide & cara mengatasinya.
Keluarga mencurahkan perasaan dan membuat rencana masa depan.
Kalau perlu terapi keluarga.
Buat pusat penanganan krisis.
7.
Pendidikan mental
Pendidikan gizi bagi A. Nervosa dan bulimia.
Pentingnya patuh pada prigram pengobatan.
Penyakit kronis yand diderita.

Perawatan selama di rumah sakit Ancaman/percobaan bunuh diri dengan diagnosa


keperawatan : Risiko Bunuh Diri
1.
Tindakan keperawatan untuk pasien percobaan bunuh diri
a.Tujuan : Pasien tetap aman dan selamat
b.
Tindakan : Melindungi pasien
Untuk melindungi pasien yang mengancam atau mencoba bunuh diri, maka saudara
dapat melakukan tindakan berikut :
1.
Menemani pasien terus-menerus sampai dia dapat dipindahkan ketempat
yang aman
2.
Menjauhkan semua benda yang berbahaya (misalnya pisau, silet, gelas, tali
pinggang)
3.
Memeriksa apakah pasien benar-benar telah meminum obatnya, jika pasien
mendapatkan obat
4.
Dengan lembut menjelaskan pada pasien bahwa saudara akan melindungi
pasien sampai tidak ada keinginan bunuh diri
SP 1 Pasien: Percakapan untuk melindungi pasien dari percobaan bunuh diri
1.
Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien percobaan bunuh diri
a.Tujuan: Keluarga berperan serta melindungi anggota keluarga yang mengancam
atau mencoba bunuh diri
b.
Tindakan:
1.
Menganjurkan keluarga untuk ikut mengawasi pasien serta jangan pernah
meninggalkan pasien sendirian
2.
Menganjurkan keluarga untuk membantu perawat menjauhi barang-barang
berbahaya disekitar pasien
3.
Mendiskusikan dengan keluarga perlunya melibatkan pasien agar tidak
sering melamun sendiri
4.
Menjelaskan kepada keluarga pentingnya pasien minum obat secara teratur
SP 1 Keluarga : Percakapan dengan keluarga untuk melindungi pasien yang
mencoba bunuh diri.
Isyarat Bunuh Diri dengan diagnosa harga diri rendah diri.
1.
Tindakan keperawatan untuk pasien isyarat bunuh diri
a.Tujuan:
1) Pasien mendapat perlindungan dari lingkungannya
2) Pasien dapat mengungkapkan perasaanya
3) Pasien dapat meningkatkan harga dirinya
4) Pasien dapat menggunakan cara penyelesaian masalah yang baik
b.
Tindakan keperawatan
1.
Mendiskusikan tentang cara mengatasi keinginan bunuh diri, yaitu dengan
meminta bantuan dari keluarga atau teman.
2.
Meningkatkan harga diri pasien, dengan cara:
a.Memberi kesempatan pasien mengungkapkan perasaannya
b.
Berikan pujian bila pasien dapat mengatakan perasaan yang positif.
c.Meyakinkan pasien bahwa dirinya penting

d.
Membicarakan tentang keadaan yang sepatutnya disyukuri oleh pasien
e.Merencanakan aktifitas yang dapat pasien lakukan 3.
Meningkatkan kemampuan menyelesaikan masalah, dengan cara:
a.Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalahnya
b.
Mendiskusikan dengan pasien efektifitas masing-masing cara penyelesaian
masalah
c.Mendiskusikan dengan pasien cara menyelesaikan masalah yang lebih baik
SP 2 Pasien : Percakapan melindungi pasien dari isyarat bunuh diri
SP 3 Pasien :
1.
Tindakan keperawatan untuk keluarga dengan pasien isyarat bunuh diri
a.Tujuan : keluarga mampu merawat pasien dengan risiko bunuh diri.
b.
Tindakan keperawatan:
1.
Mengajarkan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri
2.
Menanyakan keluarga tentang tanda dan gejala bunuh diri yang penah
muncul pada pasien.
3.
Mendiskusikan tentang tanda dan gejala yang umumnya muncul pada
pasien berisiko bunuh diri.
4.
Mengajarkan keluarga cara melindungi pasien dari perilaku bunuh diri
a.Mendiskusikan tentang cara yang dapat dilakukan keluarga bila pasien
memperlihatkan tanda dan gejala bunuh diri.
b.
Menjelaskan tentang cara-cara melindungi pasien, antara lain:
1.
Memberikan tempat yang aman. Menempatkan pasien di tempat yang
mudah diawasi, jangan biarkan pasien mengunci diri di kamarnya atau jangan
meninggalkan pasien sendirian di rumah
2.
barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri. Jauhkan pasien dari
barang-barang yang bisa digunakan untuk bunuh diri, seperti: tali, bahan bakar
minyak / bensin, api, pisau atau benda tajam lainnya, zat yang berbahaya seperti
obat nyamuk atau racun serangga.
3.
Selalu mengadakan pengawasan dan meningkatkan pengawasan apabila
tanda dan gejala bunuh diri meningkat. Jangan pernah melonggarkan pengawasan,
walaupun pasien tidak menunjukan tanda dan gejala untuk bunuh diri.
5.

Menganjurkan keluarga untuk melaksanakan cara tersebut di atas.

6.
Mengajarkan keluarga tentang hal-hal yang dapat dilakukan apabila pasien
melakukan percobaan bunuh diri, antara lain :
1.
Mencari bantuan pada tetangga sekitar atau pemuka masyarakat untuk
menghentikan upaya bunuh diri tersebut
2.
Segera membawa pasien ke rumah sakit atau puskesmas mendapatkan
bantuan medis
7.
Membantu keluarga mencari rujukan fasilitas kesehatan yang tersedia bagi
pasien
8.
Memberikan informasi tentang nomor telepon darurat tenaga kesehatan
9.
Menganjurkan keluarga untuk mengantarkan pasien berobat/kontrol secara
teratur untuk mengatasi masalah bunuh dirinya.

10.
Menganjurkan keluarga untuk membantu pasien minum obat sesuai prinsip
lima benar yaitu benar orangnya, benar obatnya, benar dosisnya, benar cara
penggunakannya, benar waktu penggunaannya
SP 2 Keluarga : Percakapan untuk mengajarkan keluarga tentang cara merawat
anggota keluarga berisiko bunuh diri. (isyarat bunuh diri)
SP 3 Keluarga : Melatih keluarga cara merawat pasien risiko bunuh diri/isyarat
bunuh diri
SP 4 Keluarga : Membuat perencanaan Pulang bersama keluarga dengan pasien
risiko bunuh diri
Evaluasi
Perhatikan hari- demi hari.
Libatkan klien dalam mengevaluasi prilakunya.
1.
Apakah ancaman Bunuh diri sudah menghilang ?
2.
Apakah perilaku menunjukkan kepedulian pada kegiatan sehari-hari ?
3.
Apakah sumber koping sudah dipakai semua ?
4.
Apakah klien sudah dapat menggambarkan dirinya dengan positif ?
5.
Apakah sudah memakai koping positif ?
6.
Apakah klien terlibat dalam aktivitas meningkatkan diri ?
7.
Apakah klien sudah mendapat keyakinan untuk pertumbuhan diri ?

DEFISIT PERAWATAN DIRI (DPD)


1. Definisi DPD
Perawatan diri adalah salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna memepertahankan kehidupannya, kesehatan dan kesejahteraan
sesuai dengan kondisi kesehatannya, klien dinyatakan terganggu keperawatan dirinya
jika tidak dapat melakukan perawatan diri (Depkes 2000).
Defisit perawatan diri adalah gangguan kemampuan untuk melakukan aktifitas
perawatan diri (mandi, berhias, makan, toileting) (Nurjannah, 2004).
Defisit perawatan diri adalah Salah satu kemampuan dasar manusia dalam memenuhi
kebutuhannya guna mempertahankan hidupnya, kesehatannya,dan kesejaterannya,
sesuaia dengan kondisi kesehtannya. Klien dinyatakan terganggu perawtaan dirinya jika
tidak dapat melakukan perawatan dirinya (Gondohutomo, 2008)
2. Teori DPD
Teori Keperawatan Orem
Orem mendefinisikan perawatan diri sebagai kegiatan-kegiatan yaitu individu
memulai dan melaksanakannya untuk diri sendiri,dalam hal mempertahankan
kehidupan,kesehatan,dan kesejahteraan (Orem,1991). Orem menyatakan bahwa upaya
perawatan diri dilakukan untuk memenuhi tiga macam kebutuhan perawatan diri :
universal,perkembangan,dan deviasi kesehatan.
Kebutuhan universal meliputi aktivitas dalam memenuhi kebutuhan dasar seperti
udara,air,dan makanan ;eliminasi;istirahat dan aktivitas;mencari ketenangan (solitude)
dan interaksi social;mendapat kesempatan untuk hidup dan sejahtera;dan kebutuhan
untuk merasa normal.sedangkan kebutuhan perawatan diri secara perkembangan
berfokus pada proses dan kejadian perkembangan manusia,seperti kehamilan atau
kehilangan anggota keluarga.Terakhir deviasi kesehatan meliputi kegiatan yang muncul
akibat adanya kecacatan pada struktur tubuh manusia (Orem,1991)
Orem (1991) menyatakan bahwa masalah deficit perawatan diri terjadi apabila
seseorang tidak mampu merawat dirinya sendiri atau bergantung pada orang lain
(anggota keluarga yang lain).Defisit perawatan diri terjadi apabila kebutuhan perawatan
diri yang terapeutik (total aktivitas keseluruhan yag dilakukan untuk memenuhi
kebutuhan universal,perkembangan dan deviasi kesehatan) melampaui kemampuan selfcare (kemampuan individu dalam melakukan perawatan diri).

3. Klasifikasi DPD
1.Kurangperawatandiri : Mandi / kebersihan
Kurangperawatandiri (mandi)
adalahgangguankemampuanuntukmelakukanaktivitasmandi/kebersihandiri.
2.Kurangperawatandiri : Mengenakanpakaian / berhias.
Kurangperawatandiri (mengenakanpakaian)
adalahgangguankemampuanmemakaipakaiandanaktivitasberdandansendiri.
3.Kurangperawatandiri : Makan
Kurangperawatandiri (makan)
adalahgangguankemampuanuntukmenunjukkanaktivitasmakan.
4.Kurangperawatandiri : Toileting
Kurangperawatandiri (toileting)
adalahgangguankemampuanuntukmelakukanataumenyelesaikanaktivitas toileting
sendiri.(Nurjannah, 2004)
4. Fase DPD
Pada mulanya klien merasa dirinya tidak berharga lagi sehingga merasa tidak aman
berhubungan dengan orang lain. Biasanya klien berasal dari lingkungan yang penuh
permasalahan, ketegangan, kecemasan dimana-mana, tidak mungkin mengembangkan
kehangatan emosional, dan hubungan positif dengan orang lain yang melibatkan diri
dalam situasi yang baru. Ia terus berusaha mendapatkan rasa aman. Begitu menyakitkan
sehingga rasa nyaman itu tidak tercapai. Hal ini menyebabkan ia membayangkan
nasionalisasi dan mengaburkan realitas dari pada kenyataan. Keadaan dimana seorang
individu mengalami atau beresiko mengalami suatu ketidakmampuan dalam mengalami
stressor interval atau lingkungan dengan adekuatnya.
5. Manifestasi Klinis DPD
Adapun tanda dan gejala defisit perawatan diri menurut Fitria (2009) adalah sebagai
berikut:

a. Mandi/hygiene
Klien mengalami ketidakmampuan dalam membersihkan badan, memperoleh atau
mendapatkan sumber air, mengatur suhu atau aliran air mandi, mendapatkan
perlengkapan mandi, mengeringkan tubuh, serta masuk dan keluar kamar mandi.
b. Berpakaian/berhias
Klien mempunyai kelemahan dalam meletakkan atau mengambil potongan pakaian,
menanggalkan pakaian, serta memperoleh atau menukar pakaian. Klien juga memiliki
ketidakmampuan untuk mengenakan pakaian dalam, memilih pakaian, menggunakan
alat tambahan, menggunakan kancing tarik, melepaskan pakaian, menggunakan kaos
kaki, mempertahankan penampilan pada tingkat yang memuaskan, mengambil pakaian
dan mengenakan sepatu.
c. Makan
Klien mempunyai ketidakmampuan dalam menelan makanan, mempersiapkan makanan,
menangani perkakas, mengunyah makanan, menggunakan alat tambahan, mendapatkan
makanan, memanipulasi makanan dalam mulut, mengambil makanan dari wadah lalu
memasukkannya ke mulut, melengkapi makan, mencerna makanan menurut cara yang
diterima masyarakat, mengambil cangkir atau gelas, serta mencerna cukup makanan
dengan aman.
d. BAB/BAK (toileting)
Klien memiliki keterbatasan atau ketidakmampuan dalam mendapatkan jamban atau
kamar kecil, duduk atau bangkit dari jamban, memanipulasi pakaian untuk toileting,
membersihkan diri setelah BAB/BAK dengan tepat, dan menyiram toilet atau kamar
kecil.
Menurut Depkes (2000) tanda dan gejala klien dengan defisit perawatan diri adalah:
a. Fisik
1) Badan bau, pakaian kotor;
2) Rambut dan kulit kotor;
3) Kuku panjang dan kotor;
4) Gigi kotor disertai mulut bau;
5) penampilan tidak rapi.
b. Psikologis
1) Malas, tidak ada inisiatif; 2) Menarik diri, isolasi diri; 3) Merasa tak berdaya, rendah
diri dan merasa hina.
c. Sosial
1) Interaksi kurang;
2) Kegiatan kurang;
3). Tidak mampu berperilaku sesuai norma;
4) Cara makan tidak teratur BAK dan BAB di sembarang tempat, gosok gigi dan mandi
tidak mampu
6. Proses Terjadi DPD
Menurut DepKes (2000: 20) Proses penyebab kurang perawatan diri adalah :
1.
Faktor Predisposisi

Perkembangan
Keluarga terlalu melindungi dan memanjakan klien sehingga perkembangan inisiatif
terganggu.

Biologis

Penyakit kronis yang menyebabkan klien tidak mampu melakukan perawatan diri.

Kemampuan realitas turun


Klien dengan gangguan jiwa dengan kemampuan realitasyang kurang menyebabkan
ketidakpedulian dirinya dan lingkungan termasuk perawatan diri.

Sosial
Kurang dukungan dan latihan kemampuan perawatan diri lingkungannya. Situasi
lingkungan mempengaruhi latihan kemampuan dalam perawatan diri.
2.
Faktor Presipitasi
Yang merupakan faktor presiptasi defisit perawatan diri adalah kurang penurunan
motivasi, kerusakan kognisi atau perseptual, cemas, lelah/lemah yang dialami individu
sehingga menyebabkan individu kurang mampu melakukan perawatan diri.
Menurut Depkes (2000: 59) Faktor faktor yang mempengaruhi personal hygiene
adalah:
1.
Body Image
Gambaran individu terhadap dirinya sangat mempengaruhi kebersihan diri misalnya
dengan adanya perubahan fisik sehingga individu tidak peduli dengan kebersihan
dirinya.
2.
Praktik Sosial
Pada anak anak selalu dimanja dalam kebersihan diri, maka kemungkinan akan terjadi
perubahan pola personal hygiene.
3.
Status Sosial Ekonomi
Personal hygiene memerlukan alat dan bahan seperti sabun, pasta gigi, sikat gigi,
shampo, alat mandi yang semuanya memerlukan uang untuk menyediakannya.
4.
Pengetahuan
Pengetahuan personal hygiene sangat penting karena pengetahuan yang baik dapat
meningkatkan kesehatan. Misalnya pada pasien penderita diabetes mellitus ia harus
menjaga kebersihan kakinya.
5.
Budaya
Di sebagian masyarakat jika individu sakit tertentu tidak boleh dimandikan.
6.
Kebiasaan Seseorang
Ada kebiasaan orang yang menggunakan produk tertentu dalam perawatan diri seperti
penggunaan sabun, sampo dan lain lain.
7.
Kondisi Fisik atau Psikis
Pada keadaan tertentu / sakit kemampuan untuk merawat diri berkurang dan perlu
bantuan untuk melakukannya.
Dampak yang sering timbul pada masalah personal hygiene.
1.
Dampak Fisik
Banyak gangguan kesehatan yang diderita seseorang karena tidak terpeliharanya
kebersihan perorangan dengan baik, gangguan fisik yang sering terjadi adalah :
gangguan integritas kulit, gangguan membran mukosa mulut, infeksi pada mata dan
telinga dan gangguan fisik pada kuku.
2.
Dampak Psikososial
Masalah sosial yang berhubungan dengan personal hygiene adalah gangguan kebutuhan
rasa nyaman, kebutuhan dicintai dan mencintai, kebutuhan harga diri, aktualisasi diri dan
gangguan interaksi sosial.

7. Pohon Masalah DPD


Penurunan kemampuan
dan motivasi merawat
diri
Defisit perawatan
diri

Isolasi sosial
Harga diri rendah
8. Penatalaksanaan DPD
1.
Penatalaksanaan Medis
Pasien dengan gangguan defisit perawatan diri tidak membutuhkan perawatan medis
karena hanya mengalami gangguan jiwa, pasien lebih membutuhkan terapai kejiwaan
melalui komunikasi terapeutik.
2.
Penatalaksanaan Keperawataan

Tindakan keperawatan
1.
Tindakan keperawatan untuk pasien
a. Tujuan
1) Pasien mampu melakukan kebersihan diri secara mandiri
2) Pasien mampu melakukan berhias/berdandan secara baik
3) Pasien mampu melakukan makan dengan baik
4) Pasien mampu melakukan BAB/BAK secara mandiri
b. Tindakan Keperawatan
1)
Melatih pasien cara-cara perawatan kebersihan diri
Untuk melatih pasien dalam menjaga kebersihan diri Saudara dapat melakukan tahapan
tindakan yang meliputi:
a)
Menjelasan pentingnya menjaga kebersihan diri.
b)
Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
c)
Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri
d)
Melatih pasien mempraktekkan cara menjaga kebersihan diri
2)
Melatih pasien berdandan/berhias
Perawat dapat melatih pasien berdandan. Untuk pasien laki-laki tentu harus dibedakan
dengan wanita.
Untuk pasien laki-laki latihan meliputi :
a)
Berpakaian
b)
Menyisir rambut
c)
Bercukur
Untuk pasien wanita, latihannya meliputi :
d)
Berpakaian
e)
Menyisir rambut
f)
Berhias
3)
Melatih pasien makan secara mandiri
Untuk melatih makan pasien Saudara dapat melakukan tahapan sebagai berikut:
a) Menjelaskan cara mempersiapkan makan
b) Menjelaskan cara makan yang tertib
c) Menjelaskan cara merapihkan peralatan makan setelah makan

d) Praktek makan sesuai dengan tahapan makan yang baik


4)
Mengajarkan pasien melakukan BAB/BAK secara mandiri
Saudara dapat melatih pasien untuk BAB dan BAK mandiri sesuai tahapan berikut:
a)
Menjelaskan tempat BAB/BAK yang sesuai
b)
Menjelaskan cara membersihkan diri setelah BAB dan BAK
c)
Menjelaskan cara membersihkan tempat BAB dan BAK
2.
Tindakan keperawatan pada keluarga
Tindakan keperawatan untuk pasien kurang perawatan diri juga ditujukan untuk keluarga
sehingga keluarga mampu mengarahkan pasien dalam melakukan perawatan diri.
a.
Tujuan
Keluarga mampu merawat anggota keluarga yang mengalami masalah kurang perawatan
diri.
b.
Tindakan keperawatan
Untuk memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawatan diri yang baik
maka perawat harus melakukan tindakan kepada keluarga agar keluarga dapat
meneruskan melatih pasien dan mendukung agar kemampuan pasien dalam perawatan
dirinya meningkat. Asuhan yang dapat dilakukan keluarga bagi klien yang tidak dapat
merawat diri sendiri yaitu :
1.
Meningkatkan kesadaran dan kepercayaan diri :
a.
Bina hubungan saling percaya
b.
Bicarakan tentang pentingnya kebersihan
c.
Kuatkan kemampuan klien merawat diri
2.
Membimbing dan menolong klien merawat diri :
a.
Bantu klien merawat diri
b.
Ajarkan keterampilan secara bertahap
c.
Buatkan jadwal kegiatan setiap hari
3.
Ciptakan lingkungan yang mendukung
a.
Sediakan perlengkapan yang diperlukan untuk mandi
b.
Dekatkan peralatan mandi biar mudah dijangkau oleh klien
c.
Sediakan lingkungan yang aman dan nyaman bagi klien
9. Asuhan Keperawatan DPD
Pengakajian
Kurangnya perawatan diri pada pasien dengan gangguan jiwa terjadi akibat gangguan
perubahan proses pikir sehingga kemampuan untuk melakukan aktivitas perawatan
diri menurun. Defisit perawatan diri tampak dari ketidakmampuan merawat
kebersihan diri, makan secara mandiri, berhias secara mandiri, dan eliminasi/toileting
(buang air kecil/besar) secara mandiri.
Untuk mengetahui apakah pasien mengalami masalah defisit perawatan diri maka
tanda dan gejala yang dapat diperoleh melalui observasi pada pasien yaitu:
1. Gangguan kebersihan diri, ditandai dengan rambut kotor, gigi kotor, kulit berdaki
dan bau, kuku panjang dan kotor.
2. Ketidakmampuan berhias/berdandan, ditandai dengan rambut acak acakan,
pakaian kotor dan tidak rapi, pakaian tidak sesuai, pada pasien laki laki tidak
bercukur, pada pasien wanita tidak berdandan.

3. Ketidakmampuan makan secara mandiri, ditandai dengan ketidakmampuan


mengambil makan secara mandiri, makan berceceran, dan makan tidak pada
tempatnya.
4. Ketidakmampuan defekasi/berkemih secara mandiri, ditandai dengan
defekasi/berkemih tidak pada tempatnya, tidak membersihkan diri dengan baik setelah
defekasi/berkemih.
(Keliat, 2011)
Pengkajian Defisit Perawatan Diri
Status Mental
1. Penampilan tidak rapi
Penggunaan Pakaian tidak sesuai
Cara berpakaian tidak seperti biasanya
Jelaskan..............................................................................................................
Masalah Keperawatan........................................................................................
Kebutuhan Sehari hari
1. Makan
: bantuan minimal/bantuan total
2. Mandi
: bantuan minimal/bantuan total
3. Defekasi/berkemih : bantuan minimal/bantuan total
4. Berpakaian/Berhias : bantuan minimal/bantuan total
Jelaskan..............................................................................................................Masalah
Keperawatan........................................................................................
(Keliat, 2011)
Diagnosa Keperawatan
Berdasarkan data yang didapat ditetapkan diagos keperawatan Defisit Perawatan Diri:
(kebersiha diri, makan, berdandan, defekasi/berkemih)
Tindakan Keperawatan
Tindakan Keperawatan untuk Pasien
Tujuan Tindakan:
1. Pasien mamapu melakukan kebersihan diri secara mandiri
2. Pasien mampu melakukan berhias atau berdanda secara baik
3. Pasien mampu melakukan makan dngan baik
4. Pasien mampu melakukan defekasi atau berkemih secara mandiri
Tindakan Keperawatan :
1. Melatih pasien tentang cara cara perawatan kebersihan diri. Untuk melatih pasien
dalam menjaga kebersihan diri. Perawat dapat melakukan tahapan tindakan yang
meliputi:
a. Menjelaskan pentingnya cara menjaga kebersihan diri
b. Menjelaskan alat-alat untuk menjaga kebersihan diri
c. Menjelaskan cara-cara melakukan kebersihan diri
d. Melatih pasien mempraktikkan cara menjaga kebersihan diri
2. Melatih pasien berdandaan dan berhias. Perawat dapat mlatih pasien berdandan.
Untuk pasien laki-laki harus dibedakan dengan wanita.
a. Untuk pasien laki-laki meliputi
:
- Berpakaian

- Menyisir rambut
- Bercukur
b. Untuk pasien wanita, latihannya meliputi
:
- Berpakaian
- Menyisir rambut
- Berdandan
3. Melatih pasien makan dan minum sendiri. Untuk melatih pasien makan sendiri,
kita dapat melakukan tahapan sebagai berikut:
a. Menjelaskan cara mempersiapkan makanan dan minuman
b. Menjelaskan cara makan dan minum yang tertib dan baik
c. Menjelaskan cara merapihkan peralatan setelah makan dan minum
d. Praktik makan sesuai dengan tahapan makan yang baik
4. Mengajarkan pasien melakukan defekasi dan berkemih secara mandiri. Perawat
dapat melatih pasien untuk defekasi dan berkemih mandiri sesuai tahapan berikut:
a. Menjelaskan tempat defekasi/berkemih yang sesuai
b. Menjelaskan cara membersihkan diri setelah defekasi dan berkemih
c. Menjelaskan cara membersihkan tempat defekasi dan berkemih
Tindakan Keperawatan untuk Keluarga
Tujuan Tindakan:
1. Keluarga mampu mendukung pasien agar perawatan dirinya meningkat
2. Keluarga dapat melatih pasien
3. Keluarga dapat memantau kemampuan pasien dalam melakukan cara perawata diri
Tindakan Keperawatan :
1. Diskusikan dengan keluarga tentang masalah yang dihadapi keluarga dalam
merawat pasien
2. Jelaskan pentingnya perawatan diri untuk mengurangi stigma
3. Diskusikan dengan keluarga tentang fasilitas kebersihan diri yang dibutuhkan oleh
pasien untuk menjaga perawatan diri pasien
4. Anjurkan keluarga untuk terlibat dalam merawat diri pasien dan membantu
mengingatkan pasien dalam merawat diri (sesuai jadwal yang telah disepakati)
5. Anjurkan keluarga untuk memberikan pujian atas keberhasilan pasien dalam
merawat diri
6. Melatih keluarga mengenai cara merawat pasien defisit perawatan diri.