Anda di halaman 1dari 14

----------------------- Page 1----------------------PENILAIAN PROSES BELAJAR MENGAJAR IPA DI KELAS MELALUI PEDAGOGI

MATERI SUBYEK
Oleh
Yanti Herlanti
yantiherlanti@fitk-uinjkt.ac.id
UIN Syarif Hidayatullah
Abstrak
Proses belajar mengajar adalah sebuah fenomena wacana.
belajar
mengajar
menjadi utuh apabila melibatkan pengajar, pembelajar, dan

Proses
materi

subyek.
Penilaian
proses belajar mengajar dengan
pend
Pedagogi
Materi
Subyek (PMS)
akan
mampu
mengungkap
kualit
as proses belajar
mengajar secara totalitas.
Kualitas proses belajar mengajar terlih
at dari logika
internal yang terjadi antara pengajar, pembelajar, dan
materi subyek, yang
ketiga melakukan interaksi dalam membangun pengetahuan.
Analisis wacana
adalah
instrumen
yang digunakan
dalam
menilai kualit
as proses belajar
mengajar.
Analisis wacana dilakukan dengan cara pembuat
an teks dasar,
penurunan proposisi, pembuatan struktur makro teks, dan pembuatan str
uktur
global.
Kata kunci: totalitas, logika internal, PMS, analisis wacana
ekatan

PENDAHULUAN
di

Pada kebanyakan evaluasi


sebuah kecenderungan

proses

keberhasilan proses belajar mengajar


hasil belajar.
Padahal

belajar

mengajar IPA,

terja

dilihat dari sisi kuantitas seperti

kalau ditelaah hakekat dari proses belajar mengajar adalah transfer pengetahuan
oleh guru dan
konstruksi pengetahuan oleh siswa
s belajar mengajar tersebut
adalah fenomena wacana.
mengajar sebagai sebuah

Hanya

dan
saja

semua

aktfitas

mengungkap

proses

dalam

prose

belajar

fenomena wacana belum begitu popular.


Evaluasi terhadap
ngungkap Bagaimana

proses

belajar mengajar seyogyanya dapat me

kualitas
transfer
pengetahuan
oleh
Bagaimana
jar mengajar

pengetahuan
siswa?

akses terhadap
yang biasa

guru?
materi

dilakukan hanya berfokus pada


u pula penilaian alternative

Bagaimana

subyek?.

satu

sisi

konstruksi

saja,

Evaluasi
yaitu

proses

bela

siswa. Begit

(alternative assessment) yang akhir-akhir ini marak digunakan hanya mengungkap s


atu sisi saja
yaitu siswa.
cara totalitas

Evaluasi proses belajar mengajar seyogyanya dapat mengungkap se

----------------------- Page 2----------------------S E M I N


T A H U N
2 0 1 1
E v a l u a s i P e
a s a
D e p a n

m
2

R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I P A
T r e n d
b e l a j a r a n I P A M a s a K i n i d a n M
3
J u l i
2 0 1 1 U I N S y a r i f H i d a
y a t u l l a h J a k a r t a |85
tiga sisi kunci pada proses belajar
adalah guru, siswa, dan materi

mengajar,

ketiga

sisi

itu

subyek.
yang

Pedagogi
Materi
Subyek
dapat digunakan
untuk

mengungkap proses belajar


materi subyek memandang

adalah

mengajar

Proses Belajar Mengajar (PBM)


alam bentuk suatu antar
ketergantungan materi subyek,
gan isu totalitas dan

salah

secara

satu pendekatan

totalitas.

sebagai sebuah
pembelajar

Pedagogi
upaya

dan pengajar

bersama

sehubungan

den

logika internal dari tugas social mengkonstruksi pengetahuan dari PBM (Siregar, 2
003).
Pada
pedagogi materi
sebuah fenomena

subyek proses
wacana.

belajar

mengajar

dianggap

sebagai

Sehingga totalitas dan logika internal yang terjadi selama proses belajar mengaj
ar dapat dianalis
menggunakan analisis wacana.
Makalah ini akan mencoba memperkenalkan Bagaimana Pendekatan Pedagogi Ma
teri
subyek (PMS) dapat menilai proses belajar mengajar IPA?
METODE

Metode yang dilakukan


terhadap tesis berpayung

re

pedagogi materi subyek,


as Pendidikan Indonesia

yang

oleh

penulis

dilakukan

adalah

oleh

kajian

pascasarjana

program pendidikan IPA dalam kurun waktu 2000-2005.


s yang mengkaji pedagogi
materi
dan

subyek pada konsentrasi


Pendidikan Biologi

literatu
Universit

Pendidikan

Semua tesi
Fisika,

Pendidikan

Kimia,

dapat ditarik sebuah kesimpulan, bahwa dosen yang memayungi penelitian ini adala
h Dr. Nelson
Siregar. Berdasarkan hal ini, maka Bapak Nelson Siregar, dapat dianggap sebaga
i perintis kajian
Pedagogi Materi Subyek di Indonesia.
HASIL
1.

Pandangan proses belajar mengajar IPA menurut PMS

Pengajaran IPA tidak pernah lepas dari pengetahuan tentang konten (conte
nt knowledge)
dan

pengetahuan
tentang
pedagogi
saat pengajar
IPA

Pada

mengajarkan
IPA
kukan
amalgamsi

(pedagogical

kepada
para pembelajar,
terhadap

pedagogi
dan konten
IPA.
ebagai Pedagogical
Content
Knowledge (PCK).
Shulman
Knowledge of subject

Shulman

knowledge).

maka
(1987)

ia akan

mela

menyebutnya

menjelaskan PCK adalah akumulasi dari

Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta


ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 3----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L P E N D I D I D K A N I P A T
A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n I P A M a s a K i n i d a n M a
s a D e p a n 2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N S y a r i f H i d a y
a t u l l a h J a k a r t a |86
matter,
ledge

Knowledge
of students
of curricula, and

&

possible

misconeptions,

Know

Knowledge of general pdagogy.


Pada
(1987)
amalgamasi

dasarnya
bangunan
melakukan

teoritis PMS

adalah

Shulman

yang

pengetahuan

pedagogi

umum

dengan

pengetahuan

materi

sub

yek

dalam

sebuah

Pengetahuan Konten Pedagogikal


Menurut Shulman

(Pedagogical

Content

Knowlegde/PCK).

(1987) pengetahuan guru berkembang terus menerus melalui pengalaman.


Pengalaman ini lahir
karena guru mengajar konten tertentu dengan cara khusus agar dipahami siswa.
PCK merupakan
suatu
cara praktis mengetahui
leh pengajar
bila mereka

materi

subjek

yang

digunakan

mengajar.
Walaupun PMS berawal dari PCK, ada beberapa perbedaan prinsip antara PC
K dan PMS.
PCK
memandang
bahwa
proses
eorang
guru dengan
cara
melakukan amalgam antara
t PMS, pendapat PCK

konten

tersebut kurang menghargai


ayakan pengajar
(Siregar,

pembelajaran

dan
tugas

pedagogi.
mengkonstruksi

dilakukan
Sedangkan

oleh s

ilmu yang

menuru
diup

1999:11). Menurut PMS proses belajar mengajar bukan sekedar amalgam, tetapi seb
uah totalitas
yang melibatkan logika internal
materi subyek dalam upaya
membangun pengetahuan.
sebagai sebuah

antara

pengajar,

pembelajar,

dan

Jika PCK menggambar proses belajar mengajar IPA

amalgamsi seperti pada Gambar 1, maka PMS menggambarkan proses belajar mengajar
sebagai
sebuah totalitas yang melibatkan logika internal yang ada pada pengajar, pembela
jar dan materi
subyek seperti pada Gambar 2.
Content
Konwledge

Pedagogy
Knowledge

Gambar 1.
Pedagocical Konten Knowledge (PCK):
Kualitas amalgamsi (PCK) diperlukan untuk menilai kualitas proses bela
jar mengajar
IPA
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 4----------------------T A H U N

S E M I N A R
N A S I O N A L
2 0 1 1 T r e n d

P E N D I D I D K A N

I P A

E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a K i n i d a n
M a s a D e p a n
2 3 J u l i
2 0 1 1 U I N S y a r i f H i d a
y a t u l l a h J a k a r t a |87
Gambar 2. Trilogi PBM menurut PMS
Kualitas interaksi secara total dan melibatkan logika internal dlakukan untuk
menilai proses
belajar mengajar IPA di kelas
Shulman tidak mempertimbangkan media bahasa yang digunakan dalam mengko
nsruksi
pengetahuan, padahal PBM
Siregar, 1999:11). Pandangan

adalah

sebuah

fenomena

wacana

PMS adalah PBM sebagai sebuah fenomena wacana, oleh sebab itu analisis wacana di
gunakan
oleh PMS untuk mengungkap totalitas
g terjadi selama PBM.
Jika

dan

logika

internal

yan

menggunakan bahasa Shulman, maka analisis wacana digunakan untuk mengungkap baga
iman
seorang mengajar melakukan amalgam konten dan pedagogi.
atau

PMS
metoda

melalui analisis
(tool) untuk

menggali apa dan bagaimana


tahuan seorang pengajar,

wacananya,

cara

memberikan

pengajaran

serta

sebuah
kedalaman

alat
penge

ketika ia mengajarkan konten dengan cara tertentu sesuai pengalamannya.


Dalam hal ini PMS
telah
ulman

selangkah
lebih maju
tidak mengungkapkan

dari

Shulman

(1987),

karena

Sh

bagaimana cara tepat untuk menggali amalgam yang dilakukan oleh pengajar.
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 5----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I P A
T A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n I P A M a s a K i n i d a n M
a s a D e p a n 2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i d a
y a t u l l a h J a k a r t a |88
Beberapa kelebihan PMS dibandingkan PCK, menurut penulis adalah sebagai
berikut:
1. PMS menggunakan fenomena wacana untuk mengungkapkan logika internal yan
g terjadi

selama PBM
2. Dengan melakukan analisis wacana, PMS dapat melihat keterkaitan logika
internal yang
terjadi dari interaksi totalitas antara pengajar, pembelajar, dan mater
i subyek.
3. PMS menjadi
untuk mengungkap

penyempurna

PCK,

karena

PMS

memberikan

solusi

amalgam yang dilakukan oleh guru ketika mengajar, dalam sebuah kajian
yang bersifat
totalitas dalam mengungkap logika internal yang terjadi selama PBM.
PMS memandang proses belajar mengajar sebagai upaya bersama dalam bentu
k suatu
antar ketergantungan materi subyek, pembelajar dan pengajar sehubungan dengan is
u totalitas
dan logika internal dari tugas social mengkonstruksi pengetahuan dari PBM (Sire
gar, 2003).
Pandangan
seperti ini didasarkan
keberhasilan
PBM
dalam
meningkatkan
dengan
upaya

ppemahaman
pengajar dan

pada

materi

sebuah

subyek

pandangan,

bahwa

berhubungan

erat

pembelajar untuk mengkonstruksi kerangka berfikir bersama.


a mengkonstruksi bersama

Upay

tersebut diwujudkan melalui interaksi verbal dalam bentuk wacana antara komponen
-komponen
materi subyek, pengajar, dan pembelajar.
materi subyek, pengajar
dan pembelajar, sedangkan istilah
onstruksi pengetahuan yang

Istilah totalitas mengacu pada


logika

internal

mengacu

pada

terjadi selama PBM.


Sebagai sebuah totalitas, komponen pengajar, pembelajar, dan materi sub
yek melakukan
interaksi sosial dalam PBM.
am memilih dan
mengendalikan
dipilih.

bentuk
Pemilihan

Komponen pengajar memegang peran penting dal


wacana
dan

dan

strategi

pengendalian yang dilakukan


dalam memahami

pengajar bertujuan

materi
epatan

pembelajar

subyek.
Komponen
konstruksinya

pembelajaran
memudahkan

mengkonstruksi

ilmu

yang

pemmbelajar
yang

kec

sesuai
truksi

dengan
ilmu

kondisi
intelektual,
yang
terjadi

kognitif,

dan

sosial.

Kons

menyangkut: Apa yang telah diketahui? Bagian mana yang sulit dan mudah? Bagian mana
yang berhubungan
nen materi

dengan

pengalaman? Bagian mana yang menarik?.

subyek sebagai media untuk berlangsungnya PBM.


makna konten, subtansial,
dan sintatikal.
ek, sedangkan

Kompo

Media disini ber

Pengajar akan mengorganisasi dan mempresentasikan materi suby

pembelajar berusaha memahami materi subyek.


Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 6----------------------S E
T A H U N
E v a l u a s
M a s a
D e

M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I P
2 0 1 1 T r e n d
i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
K i n i d a n
p a n
2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i d
a y a t u l l a h J a k a r t a |89
A

yang

Logika internal
dilakukan secara

totalitas
subyek.

mengacu

pada

oleh interaksi antara


Interaksi berlangsung

upaya

pengajar,

membangun
pembelajar,

pengetahuan
dan

materi

melalui tindakan wacana pengajar yang diarahkan terhadap target tertentu dalam m
ateri subyek
sehingga dapat diakses dengan
sme interaksi ini merupakan
logika internal dalam PBM.
ses merupakan konstruk
teoritis
ahuan.

mudah

oleh

pembelajar.

Mekani

Istilah tindakan pengajar, target, dan diak

yang
digunakan
dalam
Tindakan
pengajar

dikatagorikan sebagai modus


ggali (eliciting), dan
mengendalikan (directing) yang
ek konten, substansi, dan

wacana

upaya

membangun

menginformasikan

pararel

dengan

penget

(informing),

katagori

materi

men
suby

sintatikal yang berlaku sebagai target dari wacana.


es merupakan katagori respon

Istilah diaks

pembelajar
partisipasi

untuk

pengetahuan,

sebagai
perwujudan
dalam
membangun

dari

ini terdiri dari intelligible

upayanya
(dipahami

karena

ber
pe

ngetahuan

dilihat berpadu

dan

mempunyai konsistensi internal), plausible


uai dengan pengetahuan yang

(dipahami

dimiliki
siswa), dan fruitful (bernilai
ada karena lebih berguna
dan

lebih

karena

dari yang

ses

sudah

ringkas).
2. Analisis wacana sebagai instrumen untuk menilai kekuatan logika internal pa
da materi
subyek, pengajar, dan pembelajar
Analisis wacana digunakan
(misalnya pada buku

ek

dalam menilai

kualitas materi

suby

teks). Penilaian ini akan memberkan gambaran apakah materi subyek tersebut mudah
diajarkan
guru
elain

(teachable)
dan mudah
dipahami
itu, analisi wacana
dapat

siswa

(accesable)

. S

digunakan untuk mengungkap kekuatan logika internal yang terjadi selama guru men
gajar, dan
pada saat siswa belajar.
ka kekuatan

PMS memandang bahwa PBM sebagai wacana kelas, ma

logika internal sebagai pengendali PBM dapat diungkapkan melalui analisis wacana
.
Proses analisis wacana dilakukan melalaui empat tahapan yaitu:
1) Pembuatan
teks dasar.

teks

dasar, yaitu
Penghalusan

berupa

penghalusan

menjadi

a/

dilakukan
dengan
cara penghapusan
kalimat/frasa.
Penghapusan

nya.

dilakukan untuk menghapus kata yang memiliki makna sama dengan kata sebelum
Kata
tersebut
menjadi
boros
kalimat,
kemungkinan
menjadi
sulit

atau

teks

dimengerti.
dalam
kurung.
kata/kalimat/frasa
tajam
tanpa keluar

Bagian
yang
Penyisipan
dilakukan agar
dari acuan

sehingga

penyisipan

dihapus
proposisi

tidak
dimasukan
menjadi

kat

menutup
ke
lebih

Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta


ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 7----------------------A T A H U N

S E M I N A R
N A S I O N A L
2 0 1 1 T r e n d

P E N D I D I D K A N

I P

E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
M a s a
D e p a n
2 3 J u l i
2 0 1 1 U I N
a y a t u l l a h J a k a r t a |90
kalimat sebelumnya.
Huruf
menuliskan kata/kalimat/frasa

miring

(italic)

K i n i d a n
S y a r i f H i d
digunakan

untuk

sisipan. Contoh pembuatan teks dasar adalah sebagai berikut


Sumber: Ginting
(2005:29)
2) Penurunan proposisi, yaitu mengkaji teks dasar, menemukan proposisi mikro k
emudian
menariknya menjadi proposisi makro.
Pembentukan proposisi makro dari beberapa proposisi mikro dapat berlangsung
malalui tiga
aturan makro, yaitu:
Penghapusan (deletion): ada sejumlah proposisi mikro yang tidak ikut dal
am
pembentukan proposisi makro. Pada contoh dibawah ini terlihat bahwa p
roposisi mikro
(8) pada teks (5) dan proposisi mikro (10), (11), (13) pada teks (6) m
engalami
penghapusan.
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 8----------------------S E M
P A T A H U N
E v a l u a s i
M a s a
D e p

I
2
P
a

N
0
e
n

A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I
1 1 T r e n d
m b e l a j a r a n
I P A M a s a K i n i d a n

2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i
d a y a t u l l a h J a k a r t a |91
Sumber: Pridi (2002:49)
Generalisasi: Beberapa proposisi mikro menghasilkan suatu proposisi makro
yang
bersipat umum. Contohnya adalah sebagai berikut:
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 9----------------------S E M
P A T A H U N
E v a l u a s i
M a s a
D e p

I
2
P
a

N
0
e
n

A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I
1 1 T r e n d
m b e l a j a r a n
I P A M a s a K i n i d a n

2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i
d a y a t u l l a h J a k a r t a |92
Sumber: Pridi (2002: 50)
Konstruksi (construction): Beberapa proposisi mikro merupakan bagian dar
i satu
proposisi makro. Contohnya adalah sebagai berikut:

Sumber: Pridi (2002: 51)


Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 10----------------------S E M
P A T A H U N
E v a l u a s i
M a s a
D e p

I
2
P
a

N
0
e
n

A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I
1 1 T r e n d
m b e l a j a r a n
I P A M a s a K i n i d a n

2 3 J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i
d a y a t u l l a h J a k a r t a |93
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 11----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I P
A T A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
K i n i d a n
M a s a
D e p a n
2 3 J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i d
a y a t u l l a h J a k a r t a |94
3)

Pembuatan struktur makro teks

Pembuatan struktur makro diturunkan beberapa kali mulai dari proposisi mak
ro, kemudian
proposisi mikro dengan menggunakan bentuk bagan represantasi teks.
Contoh representasi
teks yang merupakan struktur makro suatu teks adalah sebagai berikut:
Sumber: Pridi (2002)
4)

Pembuatan struktur global

Struktur makro dapat dibentuk struktur global dengan memperhatikan keterpad


uan hubungan
antar unit tema. Contoh struktur global adalah sebagai berikut:
Sumber: Pridi (2002)
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 12----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I
P A T A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
K i n i d a n
M a s a
D e p a n
2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i
d a y a t u l l a h J a k a r t a |95

Analisis
wacana dapat
mengungkap
yang terjadi selama

totalitas

dan

logika

internal
proses
oleh

belajar mengajar berlangsung.


Yayat Ibayanti (2002)

merupakan sebuah contoh


peran analisis wacana

untuk

Penelitian

menggambarkan

pada

yang dilakukan
kita

bagaimana

dalam mengungkap kekuatan logika internal yang terjadi pada guru selama pembelaj
aran.
1)

Potongan teks asli ketika guru mengajar di kelas


Sumber: Ibayanti, 2002

2)

Teks dasar: Teks asli yang telah mengalami penghalusan


Teks asli

Teks Dasar

Guru:kita sudah [pernah] mempelajari beberpa


pelajari beberapa sistem
sistem organ, [eee] tubuh manusia, Nah coba
a. Nah
coba sebutkan
sebutkan sistem organ tubuh manusia [itu] ?
sia?

10. Kita sudah


organ

tubuh

mem
manusi

system organ tubuh manu


11. Sistem pernapasan

Siswa 11: sistem pernapasan


12. Sistem pencernaan
13. Sistem koordinasi

Siswa 12: Sistem pencernaan


Siswa 13: Sistem koordinasi
3)

Proposisi makro mikro


Sumber: Ibayanti, 2002

Dengan mengkaji proposisi makro mikro, dapat disimpulkan logika internal


ang dilakukan

oleh guru adalah eliciting.


4. Struktur makro
Dengan mengkaji struktur makro, tindakan
uru berupa tanya
jawab
yang dilakukan
dengan
dan menyimpulkan.
Contoh

eliciting
cara

yang dilakukan oleh g

meriviu,

menegaskan,

struktur makro adalah sebagai berikut:


Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 13----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I
P A T A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
K i n i d a n
M a s a
D e p a n
2 3
J u l i

2 0 1 1

U I N

S y a r i f

H i

d a y a t u l l a h J a k a r t a |96
Sumber: Ibayanti, 2002
4. Struktur Global
Struktur
PBM.

selama

global

menggambarkan
Apakah

semua tindakan

tindakan
pedagogi
guru
sudah
t dari apakah
motif informing,

optimal?

eliciting, dan directing dilakukan


Contoh struktur global dari

oleh

Hal

pengajar

pedagogi
ini dapat

guru

pada

saat

diliha
PBM.

sebuah pengajaran dapat dilihat di bawah ini:


Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 14----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L
P E N D I D I D K A N
I P
A T A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n
I P A M a s a
K i n i d a n
M a s a
D e p a n
2 3 J u l i
2 0 1 1 U I N
S y a r i f H i d
a y a t u l l a h J a k a r t a |97
Sumber: Ibayanti, 2002
ampu

Pada penelitian
mengungkap logika

Jamaludin

Mahrun

(2000)

analisis

wacana

internal dan interaksi totalitas yang terjadi pada guru dan siswa dalam membangu
n pengetahuan.
Contohnya pada petikan di bawah
a eliciting bersinergi dengan

ini,

motif

tindakan

guru

berup

motif tindakan siswa plausible.


Sumber: Mahrun, 2000
KESIMPULAN
Pedagogi materi subyek sebagai sebuah pendekatan yang dapat digunakan u
ntuk menilai
proses belajar mengajar IPA di kelas.
ajar sebagai sebuah
fenomena
wacana,
sehingga
analisis
ntuk
menilai kualitas logika

PMS memandang proses belajar meng


wacana

dapat

internal yang terjadi selama proses belajar mengajar.


a internal dapat dinilai secal
totalitas,

tidak

hanya

mengungkap

dari sisi siswa

digunakan

Kualitas logik
sebagai

pe

mbelajar,

tetapi

juga dari

pengajar dan materi subyek


berkaitan dalam membangun

sisi
dalam

sebuah

interaksi

yang

saling

pengetahuan.
Daftar Pustaka
Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta
ISBN: 978-979-16401-9-0
----------------------- Page 15----------------------S E M I N A R
N A S I O N A L P E N D I D I D K A N I P A T
A H U N
2 0 1 1 T r e n d
E v a l u a s i P e m b e l a j a r a n I P A M a s a K i n i d a n M a
s a D e p a n 2 3
J u l i
2 0 1 1 U I N S y a r i f H i d a y
a t u l l a h J a k a r t a |98
Ibayanti, Y. (2002). Analisis Strategi Mengajar pada Topik Sistem Syaraf di
SMU.
Tesis.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia.
Ginting, R. (2005). Analisis representasi teks dan gambar topik sel di buku
SMA dan Biologi
Umum, studi analisis wacana pedagogi materi subyek. Tesis. Bandung
: Universitas
Pendidikan Indonesia.
Mahrun, J. (2000). Dampak pengajaran guru terhadap hasil belajar ditinjau d
ari keterampilan
intelektual siswa pada topik suhu dan kalor. Tesis. Bandung: Unive
rsitas Pendidikan
Indonesia.
Pridi, L.H. (2002).
Kajian atas Wacana Penurunan Sifat pada Modul Penatar
an Tertulis Guru
SLTP Bidang Studi IPA di Pusat Pengembangan Penataran Tertulis Ban
dung.
Tesis.
Bandung: Universitas Pendidikan Indonesia
Siregar, Nelson. (1998). Penelitian Kelas: Teori, Metodologi, dan Analisis .
Bandung: IKIP
Bandung Press
______________. (1999). Pedagogi Materi Subyek: Memapankan Pengetahuan Pra
ktis
Mengajar. Makalah Lokakarya MGMP Kimia Propinsi Jawa Barat, 26 Ag
utus 1999
di Sanggar IPA, SMUN 8 Bogor
______________. (2000). PBM sebagai Wacana Membangun Pengetahuan: Acuan
Lapangan untuk Pengembangan Kurikulum. Makalah Pelatihan Revisi K
urikulum
FMIPA Universitas Negeri Padang, 26 31 Oktober 2000
______________, et.al.
mapankan Pengetahuan

(2000).

Proyek

Penelitian

Kelas

untuk

Me

Praktis
Guru
dan
Menanggulangi
Kesulitan
d
Mengolah
Materi
Subyek. Penelitian Hibah Bersaing Perguruan Tinggi , FPMIPA UPI Ba

alam
ndung

________________ (2003). Pedagogi Materi Subyek: Dasar-dasar Pengembangan P


BM.
Materi Perkuliahan.

Bandung: PPs UPI.

Diterbitkan oleh Jurusan Pendidikan IPA FITK UIN Jakarta


ISBN: 978-979-16401-9-0