Anda di halaman 1dari 14

Hubungan FaktorFaktor yang Mempengaruhi Kadar Kolesterol

di Dusun N
Periode 2 Juni 3 Juli 2014
Antonius Jonathan
Mahasiswa Fakultas Kedokteran UKRIDA*
102011182
Email : Antoniussjoo@yahoo.com
Abstrak
Akhir-akhir ini di zaman modern ini, gaya hidup telah berubah sangat cepat. banyak hal terkait
dengan faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kadar kolesterol dalam darah, seperti merokok, stres,
selain indeks massa tubuh, dan jenis kelamin. Era globalisasi yang cepat yang meningkatkan faktor
yang dapat mempengaruhi kolesterol seperti kelebihan berat badan, banyak stres, merokok aktif, dan
masih banyak lagi. Tapi kita hanya mengambil beberapa dari beberapa faktor. Semua faktor yang kita
pelajari dalam penelitian ini, analisis akan dilakukan pada kelompok sampel dari 130 orang yang akan
mewakili populasi tentang apa yang kita pelajari. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah
faktor-faktor seperti jenis kelamin, merokok, BMI, dan stres dapat mempengaruhi kadar kolesterol
total seseorang. Desain penelitian adalah studi deskriptif analitik cross-sectional. Data dianalisis
menggunakan SPSS program komputer statistik matematika, dan dianalisis dengan uji ANOVA satu
arah t-test, uji chi-square dan uji Fisher. Uji ANOVA menunjukkan p = 0,445 diperoleh sehingga
dikatakan bahwa faktor-faktor seperti merokok, BMI, gender dan stres tidak mempengaruhi kolesterol
total (P> 0,05, sehingga faktor-faktor ini tidak memiliki perbedaan yang signifikan dalam kolesterol
total). Oleh karena itu kita dapat menyimpulkan hasil penelitian ini tidak menunjukkan hubungan
yang signifikan antara kadar kolesterol total sebesar merokok, BMI, jenis kelamin, dan stres. Jadi
mudah-mudahan studi ini dapat bermanfaat untuk studi yang serupa di kemudian hari.
Kata kunci : kolesterol, indeks masa tubuh, total kolesterol, stress, studi analitik.

Abstract
Lately in this modern time, lifestyle has change very fast. many thing is associated with factors that
can affect cholesterol levels in the blood, such as smoking, stress, in addition to the body mass index,
and gender. Era of rapid globalization that increase the factor that can affect cholesterol such as
overweight, lot of stress, active smoking, and many more. But we only took some of few factor. All
factor that we learn in this study, the analysis will be performed on a sample group of 130 people
who will represent the population about what we studying. This study aims to determine whether
factors such as gender, smoking, BMI, and stress can affect a person's total cholesterol. The study
design was cross-sectional descriptive analytic study. Data were analyzed using SPSS statistic math
computer program, and were analyzed by ANOVA test, one-way t-test, chi-square test and Fisher test.
ANOVA test shows the obtained p = 0.445 so it is said that factors such as smoking, BMI, gender and
stress did not affect total cholesterol (P> 0.05, so these factors do not have significant difference in
total cholesterol). Therefore we can conclude the results of this study have not shown a significant
relationship between total cholesterol levels by smoking, BMI, gender, and stress. So hopefully this
study can be usefull for future studies that similar to this case.
Key Words : Cholesterol, Body mass index, smoking, total cholesterol, stress, analytic studies.

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar belakang
Kolestrol sudah menjadi sesuatu yang dipandang buruk di mata masyarakat,
dimana masyarakat beranggapan bahwa mempunyai kolestrol merupakan sesuatu hal
yang buruk. Kolestrol itu sendiri sebenarnya bukanlah sesuatu yang buruk, bilamana
kadar yang terdapat dalam tubuh sesuai dengan kadar normalnya. Tidak kekurangan
maupun kelebihan. Kolesterol tinggi merupakan salah satu permasalahan gizi yang ada di
Indonesia. Menurut survei KRT (1992) dilaporkan bahwa penyakit jantung merupakan
penyebab kematian utama (16,5%) dari total angka kematian. Hampir pada semua kasus
disebabkan oleh penyumbatan pembuluh darah oleh kolesterol. Faktor yang
mempengaruhi tinggi rendahnya kolesterol yang utama adalah keturunan, makanan, berat
badan, aktivitas fisik, umur dan jenis kelamin, alkohol dan rokok. 1
Kolestrol ini merupakan prekusor dari steroid, yang karenannya kadar kolestrol
yang terlalu rendah bukan merupakan hal yang baik. Tetapi terlalu tingginya kolestrol itu
sendiri pun juga tidak baik karena dapat menyebabkan berbagai macam penyakit. Faktorfaktor yang mempengaruhi kolestrol itu sendiri salah satunya adalah jumlah lemak yang
kita konsumsi, dikarenakan kolestrol merupakan hasil metabolisme dari lemak. Masih
banyak faktor-faktor yang diperkirakan mempengaruhi kadar kolestrol tersebut seperti,
usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan, penghasilan, pekerjaan, kadar hemoglobin, dan
lainnya, tetapi belum diketahui hasil pastinya.
1.2 Permasalahan
Dari latar belakang yang ada maka permasalahan penelitian kita adalah untuk
melihat apakah ada korelasi antara keempat faktor tersebut terhadap kadar kolesterol
dalam tubuh.
1.3 Tujuan Penelitian
Tujuan umum untuk melihat apakah adanya hubungan faktor-faktor yang dapat
mempengaruhi kadar kolesterol

Tujuan khusus :
-

Melihat hubungan rokok terhadap kadar kolesterol


Melihat hubungan jenis kelamin terhadap kadar kolesterol
Melihat hubungan indeks masa tubuh terhadp kadar kolesterol
Melihat hubungan stress terhadap kadar kolesterol

1.4 Manfaat penelitian


1. Bagi peneliti
Mengaplikasikan ilmu yang diperoleh dalam perkuliahan khususnya dalam bidang
bidang penelitian serta memberi bahan masukan dan perbandingan bagi penelitian
lanjut yang serupa.
2. Bagi Masyarakat
Memberikan informasi tentang faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kadar
kolesterol dan diharapkan dari hasil penelitian ini diharapkan dapat menambah
pengetahuan mengenai kolestrol dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, sehingga
penyakit yang disebabkan kadar kolestrol yang berlebih dapat lebih di kurangi dan
terkontrol.

Bab II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Kerangka Teori
A. Kolestrol
Kolestrol adalah metabolit yang menganduk lemak sterol yang ditemukan pada
membrane sel dan disirkulasikan dalam plasma darah. kolestrol merupakan sejenis
lipid yang merupakan molekul lemak atau yang menyerupainya. Kolestrol merupakan
komponen structural membrane sel dan merupakan senyawa induk dari hormone
steroid, citamin D3, dan garam empedu. Kolestrol disintesis secara de novo di dalam
hati dan sel epitel usus dan juga dapat diperoleh dari lipid makanan. Sintesis kolestrol
secara de novo bergantung pada jumlah kolestrol dan trigliserida dalam lipid
makanan. Biosintesis kolestrol diawali dengan asetil-CoA dalam proses yang sangat
rumit melibatakan 32 macam enzim, beberapa diantaranya dapat larut dalam sitosol
dan yang lainnya terikat pada membrane RE. penyusun kerangka karbon dasar pada
kolestrol adalah isoprene. Pencernaan dan penyerapan lipid pada makanan dapat
berlangsung dengan sempurna hanya jika terdapat garam empedu dalam jumlah yang
memadai. Garam empedu disintesis dalam hati dari kolestrol dan melewati saluran
empedu, masuk ke dalam usus dua belas jari dan kemudian masuk ke dalam usus
halus bagian atas (jejenum). Penyerapan kembali misel gram empedu terjadi di dalam
usus halus bagian bawah (ileum) dan dari sini sebagian besar garam empedu akan
kembali ke dalam hati melalui darah. Kolestrol berlebih dilarutkan dalam misel garam
empedu. Tingginya kadar kolestrol dalam tubuh menjadi pemicu munculnya berbagai
penyakit, akan tetapi tidak semua kolestrol berdampak buruk bagi tubuh, hanya
kolestrol yang termauk kategori LDL saja yang berakibat buruk, sedangkan jenis
kolestrol HDL merupakan kolestrol yang dapat melarutkan kolestrol LDL dalam
tubuh. Batas normal kolestrol dalam tubuh adalah 160-200 mg.1, 2
B. Index Massa Tubuh (IMT)

C. Rokok
D. Jenis Kelamin
Lebih banyak pria termasuk kategori kelebihan berat badan dibandingkan
wanita, sementara kebanyakan wanita termasuk kategori obesitas. Distribusi lemak
tubuh juga berbeda berdasarkan jenis kelamin, pria cenderung mengalami obesitas
visceral dibandingkan wanita. Proses-proses fisiologis dipercaya dapat berkonstribusi
terhadap meningkatnya simpanan lemak pada perempuan. Prevalensi penduduk
merokok setiap hari tinggi pada kelompok usia produktif (16-24 tahun). Pada saat ini
prevalensi perokok pada laki-laki 11 kali lebih tinggi dibandingkan perempuan, tetapi
rata-rata rokok dihisap oleh perokok perempuan lebih banyak dibandingkan dengan
laki-laki.5
E. Stress
Seseorang yang mengalami stress atau tekanan, kadar kolesterol darahnya lebih
tinggi dibandingkan saat tidak mengalami tekanan.6 Telah lama diketahui bahwa stress
termasuk etiologi dari penyakit jantung koroner. Stress ini bisa emosional, berkaitan
dengan pekerjaan , social, cultural, herediter, dan stressor fisik. Orang dengan
hiperkolesterolemia mempunyai resiko lebih tinggi menderita penyakit jantung
arterosklerotik daripada orang dengan kadar normal. Sebaliknya, hasil studi
menunjang adanya sifat protektif dari lipoprotein tertentu yang disebut high density
lipoprotein (HDL), yang ternyata dapat menghambat atau mencegah perkembangan
arterosklerosis. Kadar HDL serum wanita lebih tinggi dari kadar pada pria, sesuai
dengan hasil studi yang menunjukkan bahwa estrogen berfungsi menaikkan kadar
HDL, sementara androgen cenderung menurunkan kadar HDL. Selama stress, kadar
kolesterol serum meningkat. Ada penelitian yang menunjukkan antara stress menahun
dengan tekanan darah. Stress meningkatkan tekanan darah, yang pada gilirannya
melemahkan dan merusak pelapis pembuluh darah, menyediakan tempat bagi
mengendapnya lipid sehingga terbentuk plak kolesterol.6 Dari salah satu jurnal
disebutkan bahwa IMT menjadi salah satu penentu pengukuran untuk obesitas yang
dimana kadar kolesterol yang meningkat menjadi faktor terjadi obesitas.7

2.2 Kerangka Konsep


Berdasarkan pada masalah dan tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini,
maka kerangka konsep dalam penellitian dapat digambarkat sebagai berikut :
Variabel Independent
1.
2.
3.
4.
5.
6.

7.

Umur
Jenis kelamin
Kerja
Penghasilan
Tingkat pendidikan
Hemoglobin

Variabel Dependent
Total kolesterol

2.3 Hipotesis
Hipotesis alternatif :
-

Ada hubungan antara umur terhadap kadar kolesterol total.


Ada hubungan antara jenis kelamin terhadap kadar kolesterol total.
Ada hubungan antara kerja terhadap kadar kolesterol total.
Ada hubungan antara penghasilan terhadap kadar kolesterol total.
Ada hubungan antara tingkat pendidikan terhadap kadar kolesterol total.
Ada hubungan antara hemoglobin terhadap kadar kolesterol total.

Ho :
-

Tidak ada hubungan antara umur terhadap kadar kolesterol total.


Tidak ada hubungan antara jenis kelamin terhadap kadar kolesterol total.
Tidak ada hubungan antara kerja terhadap kadar kolesterol total.
- Tidak ada hubungan antara penghasilan terhadap kadar kolesterol total.
- Tidak ada hubungan antara tingkat pendidikan terhadap kadar kolesterol total.
- Tidak ada hubungan antara hemoglobin terhadap kadar kolesterol total.

BAB III
METODOLOGI PENELITIAN
3.1 Desain Penelitian

Penelitian ini menggunakan desain penelitian analitik dengan studi cross sectional.
Dalam penelitian ini digunakan variabel dependent (terikat) dan variabel independent
(bebas). Variabel terikat adalah total kolesterol. Variabel bebas berupa jenis kelamin,
usia, pekerjaan, penghasian, tingkat pendidikan, serta kadar hemoglobin. Pengolahan
data dilakukan dengan menggunakan SPSS 22 ( Statistical product and Service Solution )
dan digunakan uji statistik yang sesuai. Analisis yang digunakan adalah analisis univariat
untuk menggambarkan variabel-variabel yang diteliti baik variabel katagorik maupun
variabel numerik. Analisis bivariat yang digunakan bertujuan untuk melihat hubungan
dari masing-masing variabel independen.
3.2 Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian dilakukan pada wilayah kerjs Puskesmas X, Kecamatan Y. Pengumpulan
data dimulai pada tanggal 2 Mei 2015 sampai dengan 3 Agustus 2015.
3.3 Sumber Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini ada dua jenis yaitu :
a.Data Primer
Sumber yang digunakan adalah sumber data primer dari pengukuran untuk variabel
kadar kolesterol, kuesioner untuk variabel merokok, IMT, jenis kelamin dan stress.
3.4. Populasi
Populasi disini adalah semua warga yang berusia 60 tahun berdomisili di dusun N dalam
kurun waktu 2 Juni - 3 Juli 2014 di wilayah dusun N, desa K dengan jumlah populasi
sebanyak 130 orang.
3.5. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Kriteria inklusi yang dipilih adalah :
a. Seluruh warga yang berusia 20 45 tahun.
Yang dijadikan sebagai kriteria eksklusi adalah :
a. Orang yang menolak untuk melakukan penelitian sebanyak 6 orang.
b. Orang yang mengkonsumsi obat penurun kadar kolesterol sebanyak 4 orang.
c. Sampel sebanyak 130 orang warga.

3.6 Sampel
Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah purposive sampling yaitu teknik
pengambilan sampling berdasarkan pertimbangan-pertimbangan tertentu di dalam
pengambilan sampelnya. Dalam penelitian ini, sampel yang digunakan sebanyak 130
orang.
Variabel independen (variabel bebas), adalah variabel yang menjadi sebab timbulnya
variabel dependen. Dalam penelitian ini variabel independennya adalah rokok, indeks
masa tubuh, jenis kelamin, dan stres. Variabel dependen (variabel terikat) adalah variabel
yang dipengaruhi atau menjadi akibat karena adanya variabel independen. Dalam
penelitian ini, yang menjadi variabel dependen adalah kadar kolesterol.

BAB IV
HASIL PENELITIAN
4.1 Analisis Univariat

Penelitian dilakukan dengan jumlah sampel sebanyak 130 orang. Kemudian


dicari karakteristik subjek menurut jenis kelamin, rokok, stress, dan index massa tubuh
(IMT).
Tabel 2. Sebaran Subjek Berdasarkan IMT, Rokok, Jenis kelamin, dan Stress.

Tabel 3. Hubungan kadar kolesterol dengan factor-faktor yang mempengaruhinya.

4.2 Analisa Bivariat


Analisis Bivariat Analisis bivariat dimaksudkan untuk mengetahui hubungan antara
varibel bebas dan variabel terikat. Analisis bivariat dilakukan pada variabel yang telah
dikategorikan dengan menggunakan uji chi square (X2), menggunakan = 0,05 dan 95%
Confedence Interval (CI).7
Uji chi square (X2) digunakan bila data penelitian berupa frekuensi-frekuensi dalam
bentuk kategori baik itu nominal atau ordinal, uji ini juga digunakan untuk menentukan
signifikansi dua variabel atau lebih.7
Rumus: Oij : Jumlah observasi untuk kasus-kasus yang dikategorikan dalam baris ke-I
pada kolom ke-j Eij :Banyak kasus yang diharapakan di bawah Ho untuk dikategorikan
dalam baris ke-I pada kolom ke-j X2 : Nilai chi square r : Jumlah baris, k : Jumlah kolom
Selain itu untuk menghitung estimasi besar risiko masing-masing variabel bebas terhadap
variabel terikat dihitung digunakan nilai Odds Ratio (OR).7,8

Rumus: OR : Odds ratio risiko terhadap kejadian BBLR a/b : rasio antara banyaknya
kasus yang terpapar dan kasus yang tak terpapar c/d : rasio antara banyaknya kontrol yang
terpapar dan kontrol yang tak terpapar Interpretasi : OR < 1 : Merupakan faktor protektif OR
= 1 : Tidak ada hubungannya/ pengaruhnya OR > 1 : Merupakan faktor risiko.7,8

1. Faktor indeks masa tubuh terhadap kadar kolesterol

2. Faktor rokok terhadap kadar kolesterol

3. Faktor jenis kelamin terhadap kadar kolesterol

4. Faktor Stress terhadap kadar kolesterol

BAB V
PEMBAHASAN
Dari data diatas didapatkan bahwa orang dengan IMT <18,5 atau underweight ada 19
orang (14,6%) dan 3 orang diantaranya memiliki kadar kolesterol normal dan ada 16 orang
dengan hiperkolesterolemia. Dan pada orang yang normal weight atau dengan IMT 18,5-25
ada 79 orang (60,8%) dan 2 diantaranya memiliki kolesterol normal dan ada 77 orang dengan
hiperkolesterol. Sedangkan pada 32 orang dengan IMT >25 atau over weight ada 3 orang
yang kolesterolnya normal dan 29 orang dengan hiperkolesterolemia, serta tidak didapatkan
hubungan yang bermakna dari indeks massa tubuh (IMT) seseorang dengan kadar kolesterol
yang dimilikinya (p>0,05).
Hubungan merokok dengan kadar kolesterol seseorang ditemukan bahwa dari 107
orang (82,3%) orang yang tidak merokok ditemukan 6 orang yang memiliki kadar kolesterol
normal dan 101 orang memiliki hiperkolesterolemia, dan dari 23 orang (17,7%) yang
merokok ditemukan 2 orang yang kadar kolesterolnya normal dan 21 orang yang
hiperkolesterolemia, serta dengan menggunakan uji Fisher ditemukan tidak ada hubungan
yang bermakna antara merokok dengan kadar kolesterol seseorang (p>0,05).
Dari penelitian hubungan antara jenis kelamin dan kadar kolesterol, ditemukan bahwa
dari 89 orang (68,5%) laki-laki ada

6 orang yang kolesterolnya normal dan 83 orang

diantaranya hiperkolesterolemia, dan dari 41 orang (31,5%) perempuan ada 4 orang


diantaranya yang kolesterolnya normal dan 39 orang diantaranya yang hiperkolesterolemia.
Dan dengan menggunakan uji Fisher menunjukkan tidak ada hubungan bermakna antara
jenis kelamin dan kadar kolesterol (p>0,05) yang dimilikinya.9
Dari data didapat hubungan antara stress dan kadar kolesterol didapatkan bahwa dari
58 orang (44,6%) yang tidak mengalami stress ada 4 orang yang kolesterolnya normal dan
54 orang mengalami hiperkolesterolemia dan dari 72 orang (55,4%) yang mengalami stress
ada 4 orang yang normal kadar kolesterolnya dan 68 orang yang tinggi kolesterolnya, dari uji
Fisher ditemukan tidak adanya hubungan yang bermakna (p>0,05) antara stress dan kadar
kolesterol.9

BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan
Dari tujuan penelitian untuk mengetahui apakah adanya hubungan antara kadar
kolesterol dengan factor-faktor seperti indeks massa tubuh (IMT), rokok, jenis kelamin, dan
stress didapatkan hasil penelitian dengan jumlah sampel sebanyak 130 orang ditemukan
bahwa dari 79 orang (60,8%) yang nomal weight ada 77 orang yang hiperkolesterolemia, dan
dari 107 orang (82,3%) yang tidak merokok didapatkan 101 orang yang hiperkolesterolemia,
dan dari 41 orang (31,5%) perempuan didapatkan 39 orang yang hiperkolesterolemia, dan
pada 58 orang (44,6%) yang tidak mengalami stress ada 54 orang yang hiperkolesterolemia,
ini menunjukkan bahwa tidak ada hubungan yang bermakna antara kadar kolesterol yang
tinggi dengan indeks massa tubuh, kebiasaan merokok, jenis kelamin, dan stress.
Saran
1. Bagi peneliti : agar dapat menambah wawasan tentang hubungan faktor resiko dengan
kadar kolesterol.
2. Bagi masyarakat : mengurangi dan mencegah terjadinya hiperkolesterolemia adalah
dengan mengurangi mengkonsumsi makanan yang berlemak dan berkolesterol tinggi,
tingkatkan asupan buah dan sayuran, olahraga yang teratur, ubah gaya hidup
mengkonsumsi alcohol dan merokok, mengkontrol berat badan yang dapat
disesuaikan dengan standar IMT, dan jangan lupa untuk check up rutin ke dokter.

DAFTAR PUSTAKA
1. Kuchel P, Ralstn GB. Schaums Easy Outlines: Biokimia. Jakarta: Erlangga; 2006.h.77-86.
2. Marks DB, Marks AD, Smith CM. Biokimia kedokteran dasar: sebuah pendekatan klinis.
Jakarta: EGC; 2000.h.478-9.
3. Gibney MJ, Margetts BM, Kearney JM, Arab L. Gizi kesehatan msyarakat. Jakarta: EGC;
2009.h.206-10
4. Gray HH, Dawkins KD, Morgan JM, Simpson IA. Lecture notes: kardiologi. Jakarta:
Erlangga; 2003.h.108-9.
5. Carpenito LJ. Diagnosis keperawatan: aplikasi pada praktek klinis. Jakarta: EGC;
2009.h.543.
6. Hastuti HT. Hubungan antara tingkat konsumsi gizi, olahraga, serta indeks massa tubuh
dengan kadar LDL kolesterol. Diunduh dari: http://eprints.undip.ac.id/13191/1/1340.pdf
7. Sastroasmoro S, Ismael S. Dasar-dasar metodologi penelitian klinis. Edisi ke-4. Jakarta:
Sagung Seto; 2012.
8. Dahlan MS. Statistic untuk kedokteran dan kesehatan: deskriptif, bivariate, dan multivariate,
dilengkapi aplikasi dengan menggunakan spss. Edisi ke-5. Jakarta: Penerbit Salemba
Medika; 2012.
9. Dahlan MS. Penelitian diagnostic: dasar-dasar teoritis dan aplikasi dengan program spss dan
stata. Jakarta:Penerbit Salemba Medika; 2009.

Lampiran
Frequencies

Korelasi

Chi-square

T-test

Oneway Annova