Anda di halaman 1dari 88

ISOLASI SENYAWA ANTIBAKTERI Staphylococcus

aureus dan E. Coli DARI EKSTRAK BUAH


BLIMBING WULUH (Averrhoa blimbi. L)

SKRIPSI

Oleh :
Cicik Milyasari
NIM. 03530002

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2010

ISOLASI SENYAWA ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus dan E. Coli


DARI EKSTRAK BUAH
BLIMBING WULUH (Averrhoa blimbi. L)

SKRIPSI

Diajukan kepada:
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN) Maulana Malik Ibrahim Malang
Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam
Memperoleh Gelar Sarjana (S.Si)

Oleh:
CICIK MILYASARI
NIM. 03530002

JURUSAN KIMIA
FAKULTAS SAINS DAN TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN)
MAULANA MALIK IBRAHIM
MALANG
2010

SURAT PERNYATAAN
ORISINALITAS PENELITIAN

Saya yang bertanda tangan dibawah ini:


Nama

: Cicik Milyasari

NIM

: 03530002

Fakultas / Jurusan

: Sains dan Teknologi / Kimia

Judul Penelitian

: Isolasi Senyawa Antibakteri Staphylococcus Aureus dan


E. Coli Dari Ekstrak Buah Blimbing Wuluh (Averrhoa
blmbi. L)

Menyatakan dengan sebenar-benarnya bahwa skripsi yang saya tulis ini


benar-benar merupakan hasil karya saya sendiri, bukan merupakan pengambil
alihan data, tulisan atau pikiran orang lain yang saya akui sebagai hasil tulisan
atau pikiran saya sendiri.
Apabila di kemudian hari terbukti terdapat unsur-unsur jiplakan, maka
saya bersedia untuk mempertanggung jawabkan, serta diproses sesuai paraturan
yang berlaku.

Malang, 6 Juli 2010


Yang membuat pernyataan

Cicik Milyasari
NIM. 03530002

ISOLASI SENYAWA ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus dan E. Coli


PADA EKSTRAK BUAH BLIMBING WULUH (Averrhoa blimbi.L)

SKRIPSI

Oleh:
CICIK MILYASARI
NIM: 03530002

Telah disetujui oleh:

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Eny Yulianti, M. Si
NIP: 197606112005012006

Anton Prasetyo, M. Si
NIP: 197709252006041003

Mengetahui,
Ketua Jurusan Kimia
Fakultas Sains dan Teknologi
Universitas Islam Negeri (UIN)
Maulana Malik Ibrohim
Malang

Diana Candra Dewi, M. Si


NIP: 197707202003122001

ISOLASI SENYAWA ANTIBAKTERI Staphylococcus aureus DAN E. Coli


DARI EKSTRAK BUAH BLIMBING WULUH (Averrhoa blimbi. L)

SKRIPSI

Oleh:
Cicik Milyasari
NIM. 03530002

Telah Dipertahankan di Depan Dewan Penguji Skripsi


dan Dinyatakan Diterima Sebagai Salah Satu
Persyaratan untuk Memperoleh Gelar Sarjana Sains (S. Si)
Tanggal

2010

Susunan Dewan Penguji


1. Penguji Utama

2. Ketua Penguji

3. Sekr. Penguji

4. Anggota Penguji

Tanda Tangan

: Rini Nafsiati Astuti, M.Pd


NIP. 19750531 200312 2 003

( ................................. )

: Tri Kustono Adi, M.Sc


NIP. 19710311 200312 1 002

( ................................. )

: Eny Yulianti, M.Si


NIP. 197606112005012006

( ................................. )

: Anton Prasetyo, M.Si


NIP. 19770925 200604 1 003

Mengetahui dan Mengesahkan


Ketua Jurusan Kimia

Diana Candra Dewi, M.Si


NIP. 19770720 200312 2 001

( ................................. )

ABSTRAK

Milyasari, Cicik, 2010, Isolasi Senyawa Antibakteri Staphylococcua aureus


dan E. coli Dari Ektrak Buah Blimbing Wuluh (Averrhoa blimbi,l).
Pembimbing : Eny Yulianti, M. Si, Anton Prasetyo, M. Si
Kata Kunci: Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L), Flavonoid,
Antibakteri, Kromatografi Lapis Tipis (KLT), Spektrofotometer
FTIR
Telah dilakukan penelitian tentang isolasi senyawa anti bakteri dari ekstrak
buah blimbing wuluh, dengan tujuan untuk mengetahui potensi dari senyawa
flavonoid dan triterpenoid yang terdapat pada buah blimbing wuluh (Averhoa
blimbi,l) yang efektif sebagai antibakteri alami.
Metode yang digunakan dalam penelitian ini meliputi maserasi, pemisahan
dengan KLT analitik dengan variasi eluen yaitu untuk flavonoid menggunakan
eluen butanol-asam asetat glasial-air (BAA) dan metanolkloroform, dengan
komposisi meliputi BAA (4:1:5), BAA (6:1:2), dan metanol-kloroform (1:9),
(1:19) dan (1:39), sedangkan eluen triterpenoid yang digunakan adalah n-heksanaetil asetat (1:1) dengan pereaksi Lieberman-Burchard, untuk mencari eluen terbaik
yang selanjutnya digunakan untuk KLT preparatif. Selanjutnya hasil dari KLT
preparatif digunakan untuk uji antibakteri dan diidentifikasi dengan
spektrofotometer FTIR.
Hasl isolasi senyawa antibakteri Staphylococcus aureurs dan E. coli pada
fraksinasi buah blimbing wuluh (Averhoa blimbi, l). Sebanyak 14 gr ekstrak pekat
ethanol diperoleh dari 50 gr buah blimbing wuluh yang telah dkeringkan. Hasil
KLT Analitik menunjukkan bahwa eluen terbaik untuk KLT Preparatif adalah
methanol-clorofrm (1:9). Hasil identifikasi menunjukkan bahwa isolat merupakan
senyawa golongan flavonid dengan kemungkinan memiliki gugus fungsi OH, CH, C=O, C-O, =C-H dan C=C (cincin benzena). Isolat dapat menghambat
pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus dan E. coli pada konsentrasi 450
mg/ml.

ABSTRACT
Milyasari, cicik, 2010, Antibactery Staphylococcua Aureus Compound Isolation
and E. Coly on Sour Carambola extract (Averrhoa blimbi,l). Advisor : Eny
Yulianti, M. Si. And Anton Prasetyo.
Key Words : Sour Carambola (Averrhoa bilimbi L), Flavonoid, Antibakteri,
Cromatography Thin Lining (KLT), Spectrofotometer FTIR.
Having done research about antibactery staphylococcua aureus compound
isolation from sour carambola fruit extract, by the objective is to know the
potency of flavonoid compound and triterpenoid exid in sour carambola
fruit(Averhoa Blimbi,l) which is efective as natural antibactery.
The research method of this research are maserasi, separating by KLT
analysis by eluen variation, for flafonoid by using eluen asetat sour-butanol waterglacial (BAA) and cloroform-metanol (1:9), by the composition is included BAA
(4:1:5), BAA (6:1:), and cloroform-metanol (1:9), (1:19) dan (1:39), whereas
triterpenoid eluen which is used is n-heksana-etil asetat (1:1) by the reactor is
Lieberman-Burchard, to look for the best eluen for preparative KLT. Then the
result of Preparative KLT is used for antibactery evaluation and identified by
spectrofotometer FTIR.
The result of Antibactery Staphylococcua Aureus Compound Isolation and
E. Coly on fractination Sour Carambola fruit (Averrhoa Blimbi,l). Concentrated
ethanol extract 14 gr from 50 gr Sour Carambola fruit which was draed. The result
of KLT Analysis shows that the best eluen for Preparative KLT is methanolchloroform (1:9). The result identification shows that isolat is compound kind of
flavonod by the possibility has function cluster OH, C-H, C=O, C-O, =C-H and
C=C (benzena ring). Isolat can impede the growing of Staphylococcus Aureus and
E. Coly on 450mg/ml concentration.

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang


Tumbuh-tumbuhan memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia.
Tumbuhan dapat bermanfaat sebagai makanan dan juga obat-obatan. Hal ini
menunjukkan bahwa segala apa yang tercipta ada manfaatnya dan itu semua
merupakan tanda-tanda kekuasaan Allah. Sebagaimana pada ayat-ayat Allah Q.S
Adz-Dzariyaat [51] ayat 20-21:

t7? sr& 4 /3r& u t%>j9 Mt#u F{$# u

Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan?
Salah satu tanda kebesaran Allah adalah buah blimbing wuluh dapat
dimanfaatkan sebagai antibakteri dan air belimbing wuluh dapat dimanfaatkan
sebagai alternatif untuk mengawetkan ikan dan daging.
Sejak zaman Rasulullah telah dikenal pengobatan dengan memanfaatkan
tanaman, antara lain adalah minyak zaitun (Kustoro, 2007). Pemanfaatan tanaman
untuk pengobatan tradisional tersebut sampai sekarang terus berkembang dan
berlangsung di masyarakat. Jenis tanaman yang dipakai sebagai obat tradisional
sangat banyak macamnya, namun pemanfaatannya masih terbatas.
Al-Quran telah menyebutkan sejumlah buah-buahan yang oleh ilmu
pengetahuan modern ditegaskan memiliki khasiat untuk mencegah beberapa jenis
penyakit. Allah memerintahkan manusia supaya memperhatikan keberagaman dan
keindahan ciptaan-Nya disertai seruan agar merenungkan ciptaan-ciptaan-Nya
yang amat menakjubkan.

$o_tzr's &x e. |N$t7t / $o_tzr's [!$t !$y9$# z ttr& %!$# uu


i ;My_u u#y #u% $y=s 9$# zu $Y62#utI ${6ym l #Zyz
tu tyOr& !#s) yrO 4n<) (#$# 3 >7ttF uxu $Y6oK t$9$#u tG9$#u 5>$or&
t 5s)j9 ;MtU 39s ) 4
Artinya: "Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu Kami
tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka Kami
keluarkan dari tumbuhan-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. Kami
keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang
kurma menguraitangkai- tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan

Kami keluarkan pula zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.
Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pula)
kematangannya. Sesungguhnya, pada yang demikian itu ada tanda-tanda
(kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman." (QS. Al-An'am [6]: 99)
Allah menciptakan beragam jenis buah, setiap jenis memiliki rasa dan
aroma tersendiri meskipun semuanya tumbuh di tanah yang sama dan diairi
dengan air yang sama. Sebagaimana penciptaannya, kenyataan bahwa buahbuahan dan sayur-sayuran merupakan sumber-sumber vitamin dan nutrisi esensial
yang melimpah, juga menggugah manusia berakal untuk berpikir. Buah-buahan
yang tumbuh dalam tanah hanya menyerap unsur-unsur gizi yang diperlukan
(mineral-mineral) yang bermanfaat bagi kesehatan manusia.
Belimbing

wuluh

merupakan

salah

satu

tumbuhan

yang

dapat

dimanfaatkan sebagai obat. Hasil dari penelitian latifah (2008) menunjukkan


bahwa ekstrak kasar buah belimbing wuluh mampu menghambat pertumbuhan
bakteri Staphylococcus aureus dan E. coli penyebab diare.
Berdasarkan penelitian Rita (2008), diketahui bahwa buah pare
mengandung saponin, flavonoid, polifenol dan beberapa senyawa triterpenoid.
Sejak lama buah pare digunakan juga sebagai anti kanker, antiinfeksi, dan dalam
tahun-tahun belakangan terungkap bahwa buah pare berkhasiat sebagai anti AIDS.
Efek buah pare sebagai anti virus HIV terletak pada kandungan protein
momorcharin alfa dan beta atau pada protein (Manitto, 1981).
Setiawan (2008), menjelaskan bahwa salah satu tumbuhan yang
mengandung senyawa obat yaitu Bungur (Lagerstroemia Speciosa Pers,). Bagian
tumbuhan ini yang sering digunakan sebagai obat yaitu biji, daun, dan kulit kayu.
Biji dapat digunakan untuk mengobati tekanan darah tinggi dan kencing manis.

Daunya digunakan untuk mengobati kencing batu, kencing manis, dan tekanan
barah tinggi, sedangkan bagian kulit kayu digunakan utuk mengobati diare,
disentri, dan kencing darah (Dalimartha, 2003). Daun bunga diketahui
mengandung senyawa saponin, flavonoid, dan tannin. Biji mengandung senyawa
plantisul, sedangkan kulit kayu dan akar dari tumbuhan ini belum diketahui secara
pasti dan belum ditemukan penelitian yang mengandung senyawanya (Dalimartha,
2003).
Pemanfaatan buah belimbing wuluh sebagai obat merupakan ikhtiar untuk
memperoleh kesembuhan dari Allah yang Maha penyembuh, karena merupakan
kewajiban kita untuk berikhtiar mengobati penyakit. Sungguh tidak ada yang
dapat memberikan kesembuhan kecuali Allah SWT semata. Allah berfirman
dalam surat Asy-Syuara ayat 80:

o us Mt #s)u
Artinya: Dan apabila Aku sakit, dialah yang menyembuhkan aku (QS. AsySyuara [26]: 80)
Ayat di atas menunjukkan bahwa sesungguhnya kesehatan merupakan
suatu nikmat besar yang Allah berikan kepada manusia, akan tetapi nikmat
tersebut kadang kurang disyukuri. Sakit merupakan musibah dan ujian yang
ditetapkan Allah SWT. Segala penyakit yang diberikan oleh Allah tentunya sudah
tersedia obat yang juga diberikan olehNya. Buah blimbing wuluh misalnya, dapat
berfungsi sebagai antibakteri, karena di dalamnya terdapat senyawa aktif antara
lain flavonoid dan triterpenoid (Latifah, 2008).

Penjelasan di atas diperkuat dengan penelitian Latifah (2008), yang


menunjukkan bahwa hasil spektra FTIR ekstrak kasar buah belimbing wuluh
yakni adanya vibrasi ulur OH dari ikatan hidrogen intermolekuler pada daerah
bilangan gelombang 3425,34 dan 3341,44 cm-1. Pita serapan pada bilangan
gelombang 1731,96 dan 1692,42 cm-1 merupakan akibat dari vibrasi ulur C=O
keton alifatik dan aldehid, sedangkan serapan pada bilangan gelombang 1655,77
cm-1 merupakan akibat dari vibrasi ulur C=C pada cincin aromatik fenol. Vibrasi
ulur R-O-Aromatik terdapat pada daerah bilangan gelombang 1266,18 dan
1214,11 cm-1, vibrasi ulur C-O dari aromatik dan alkohol sekunder pada daerah
1076,21 dan 1057,88 cm-1, vibrasi tekuk dari C-H aromatik di luar bidang terdapat
pada daerah 816,80 dan 778,22 cm-1, sedangkan vibrasi tekuk C-O-C dari eter
terdapat pada daerah 504,35 cm-1 dan vibrasi tekuk C-OH dalam bidang aromatik
fenol terdapat pada daerah 421,42 cm-1 (Latifah, 2008).
Berdasarkan hasil pengamatan spektra FTIR dapat diketahui bahwa pada
ekstrak kasar buah belimbing wuluh terdapat gugus OH, C=O, C=C, CH, dan
C-OH yang didukung adanya cincin aromatik tersubstitusi dan C-O dari alkohol
sekunder, sehingga diperkirakan bahwa golongan senyawa aktif pada ekstrak
kasar buah belimbing wuluh merupakan senyawa aromatik atau fenolik yaitu
suatu jenis dari golongan senyawa flavonoid dan triterpenoid (Latifah, 2008).
Ekstrak kasar buah belimbing wuluh masih kurang efektif sebagai
antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli karena zona
hambatnya masuk dalam kategori sedang (masuk dalam kisaran 5-10 mm), hal ini
diduga karena kandungan senyawa yang berpotensi sebagai antibakteri pada

ekstrak tersebut sudah cukup banyak, sehingga cukup mampu untuk menghambat
pertumbuhan bakteri, maka tetap dianggap berpotensi sebagai antibakteri (Latifah,
2008).
Berdasarkan latar belakang di atas, peneliti ingin melakukan penelitian
tentang fraksinasi senyawa aktif flavonoid dan triterpenoid buah belimbing wuluh,
dengan tujuan untuk mengetahui eluen terbaik dari ekstrak kasar dan mengetahui
fraksi aktif yang berpotensi sebagai anti bakteri alami sehingga diharapkan dapat
memberikan informasi ilmiah kepada masyarakat mengenai pemanfaatan buah
blimbing wuluh bagi kesehatan.

1.2. Rumusan Masalah


Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dari penelitian
ini adalah:
1. Eluen apakah yang terbaik dari ekstrak kasar buah blimbing wuluh yang
berpotensi sebagai anti bakteri Staphylococcus aureus dan E. Coli ?
2. Fraksi aktif manakah yang berpotensi sebagai anti bakteri Staphylococcus
aureus dan E. Coli pada buah blimbing wuluh ?

1.3. Tujuan Penelitian


1. Untuk mengetahui Eluen terbaik dari ekstrak kasar buah blimbing wuluh
(Averrhoa bilimbi L.) yang berpotensi sebagai anti bakteri Staphylococcus
aureus dan E. coli.

2. Untuk mengetahui fraksi aktif yang berpotensi sebagai anti bakteri


Staphylococcus aureus dan E. coli pada buah blimbing wuluh (Averrhoa
bilimbi L.).

1.4. Batasan Masalah


Batasan penelitian ini meliputi:
1. Sampel yang digunakan adalah buah belimbing wuluh varietas berbuah
hijau dewasa (panjang 5 cm) segar yang diperoleh dari daerah lowok
waru kota Malang.
2. Uji antibakteri dilakukan secara in vitro terhadap bakteri Staphylococcus
aureus dan E. coli .
3. Eluen Flavonoid yang digunakan adalah butanol-asam asetat glasial-air
(BAA) dan metanolkloroform, dengan komposisi meliputi BAA (4:1:5),
BAA (6:1:2), dan metanol-kloroform (1:9), (1:19) dan (1:39), sedangkan
eluen triterpenoid yang digunakan adalah heksana-etil asetat (1:1),
metanol-kloroform (1:10), n-heksana-diklorometana (1:9) dengan pereaksi
Lieberman-Burchard.

1.5. Manfaat
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah kepada
masyarakat mengenai pemanfaatan buah belimbing wuluh bagi kesehatan serta
dapat mengetahui senyawa aktif yang berpotensi sebagai antibakteri alami yang
lebih aman sebagai alternatif pengganti antibakteri sintetik.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)


Belimbing wuluh merupakan salah satu spesies dalam keluarga belimbing
(Averrhoa). Diperkirakan tanaman ini berasal dari daerah Amerika tropik.
Tanaman ini tumbuh baik di negara asalnya sedangkan di Indonesia banyak
dipelihara di pekarangan dan kadang-kadang tumbuh secara liar di ladang atau
tepi hutan (Thomas, 2007).

Gambar 2.1 Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

Klasifikasi ilmiah buah belimbing wuluh adalah:


(http://www.nbbnet.gov.my/directories/papercut/detail.php?id= 728S, 2007)
Kerajaan
Divisio
Kelas
Ordo
Familia
Genus
Species

: Plantae
: Magnoliophyta
: Magnoliopsida
: Oxalidales
: Oxalidaceae
: Averrhoa
: Averrhoa bilimbi

Aroma khas buah belimbing wuluh varietas hijau merupakan interaksi


antara senyawa nonanal, asam nonanoat dan (E)-2-Nonenal, sedangkan senyawa
yang bertanggung jawab terhadap rasa pada buah belimbing wuluh adalah (Z)-3heksenol (Pino et al., 2004).

Terdapat dua varietas dari tumbuhan belimbing wuluh yaitu yang


menghasilkan buah berwarna hijau dan kuning muda atau sering pula dianggap
berwarna putih (Thomas, 2007). Pemeliharaan tanaman ini cukup mudah, yang
terpenting ditanam ditempat terbuka, kelembaban tanah selalu dijaga, dan pohon
diberi cukup air (Salsa, 2007). Masyarakat Aceh memanfaatkan air belimbing
wuluh sebagai alternatif untuk mengawetkan ikan dan daging (Irwan, 1999).

2.2. Kandungan Kimia Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)


Latifah (2008), menjelaskan bahwa ekstrak buah belimbing wuluh
mengandung golongan senyawa flavonoid, tannin, saponin, triterpen dan steroid.
Senyawa terpenoid adalah senyawa hidrokarbon isometrik yang juga terdapat
pada lemak/minyak esensial (essential oils), yaitu sejenis lemak yang sangat
penting bagi tubuh. Zat-zat terpenoid membantu tubuh dalam proses sintesa
organik dan pemulihan sel-sel tubuh.
Buah belimbing wuluh mengandung banyak vitamin C alami yang
berguna sebagai penambah daya tahan tubuh dan perlindungan terhadap berbagai
penyakit

(http://www.nbbnet.gov.my/directories/papercut/detail.php?id=

728,

2007). Belimbing wuluh mempunyai kandungan unsur kimia yang disebut asam
oksalat dan kalium (Iptek, 2007), sedangkan berdasarkan hasil pemeriksaan
kandungan kimia buah belimbing wuluh yang dilakukan Herlih (1993)
menunjukkan bahwa buah belimbing wuluh mengandung golongan senyawa
oksalat, minyak atsiri, fenol, flavanoid dan pektin.

Secara umum tumbuhan alam mengandung aglikon flavonoid (yaitu


flavonoid tanpa gula terikat) yang terdapat dalam berbagai bentuk struktur.
Semuanya mengandung 15 atom karbon dalam inti dasarnya, dan tersusun dalam
konfigurasi C 6 C3 C 6 , yaitu dua cincin aromatik yang dihubungkan oleh satuan
tiga karbon yang dapat atau tak dapat membentuk cincin ketiga (Markham,1988).
Flavonoid merupakan senyawa polifenol yang tersebar luas di alam, sesuai
struktur kimianya yang termasuk flavonoid yaitu flavonol, flavon, flavanon,
katekin, antosianidin dan kalkon (Harborne, 1984). Golongan flavonoid dapat
digambarkan sebagai deretan senyawa C6-C3-C6. Artinya, kerangka karbonnya
terdiri atas dua gugus C6 (cincin benzen tersubstitusi) disambungkan oleh rantai
alifatik tiga-karbon. Pengelompokan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin
heterosiklik-oksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola
yang berlainan pada rantai C3 (Robinson, 1995).
Flavonoid biasanya terdapat sebagai flavonoid O-glikosida pada senyawa
tersebut satu gugus hidroksil flavonoid (atau lebih) terikat pada satu gula (atau
lebih) dengan ikatan hemiasetal yang tak tahan asam (Markham, 1988).
Zakaria et al. (2007), memperkirakan bahwa senyawa flavonoid yang
terkandung dalam belimbing wuluh adalah tipe luteolin dan apigenin.

OH
O

HO
OH

OH

OH
O

HO
OH

Luteolin

Apigenin

Gambar 2.2 Struktur Luteolin dan Apigenin (Robinson, 1995)

Hasil identifikasi Wong dan Wong (1995) menunjukkan bahwa 47,8%


total senyawa volatil yang terdapat dalam buah belimbing wuluh merupakan asam
alifatik, asam heksadekanoat (20,4%), dan asam yang paling dominan adalah (Z)9-oktadekanoat. Senyawa ester yang dominan adalah butil nikotinat (1,6%) dan
heksil nikotinat (1,7%). Pino et al. (2004) dalam buah belimbing wuluh
terkandung sekitar 6 mg/kg total senyawa volatile.

2.3. Manfaat Buah Belimbing Wuluh (Averrhoa bilimbi L.)


Belimbing wuluh banyak mengandung senyawa kimia yang bermanfaat
untuk menyembuhkan beberapa penyakit. Sifat kimiawi dan efek farmakologis
pada belimbing wuluh antara lain menghilangkan rasa sakit (analgetik),
memperbanyak pengeluaran racun, antiradang, peluruh kencing, astringent
(Dalimartha, dkk, 2005).
Berdasarkan hasil penelitian Latifah (2008), menunjukkan bahwa
belimbing wuluh dapat dimanfaatkan sebagai penghambat pertumbuhan bakteri
Staphyloccocus aureus dan E. coli.
Perasan air buah belimbing wuluh sangat baik untuk asupan kekurangan
vitamin C. Ada yang memanfaatkan buah belimbing wuluh untuk dibuat manisan
dan sirup, sebagai obat untuk sariawan, sakit perut, gondongan, rematik, batuk
rejang, gusi berdarah, sakit gigi berlubang, memperbaiki fungsi pencernaan, untuk
membersihkan noda pada kain, menghilangkan karat pada keris, membersihkan

tangan yang kotor, mencuci botol, menghilangkan bau amis, sebagai bahan
kosmetika serta mengkilapkan barang-barang yang terbuat dari kuningan
(http://www.nbbnet.gov.my/directories/papercut/detail.php?id= 728, 2007).

2.3.1. Manfaat Buah Blimbing Wuluh

(Averrhoa bilimbi L.) Dalam

Perspektif Islam
Orang yang mau mendalami ayat-ayat Al-Qur`an akan menyadari bahwa
Allah sudah merentangkan segala penjelasan di dalam Kitab-Nya dan
menunjukkan kepada manusia cara-cara untuk memudahkan hidup baik di dunia
ini maupun di alam berikutnya (akhirat). Subjek lain yang menarik perhatian
manusia adalah yang diutarakan Al-Qur`an tentang makanan-makanan khas yang
baik untuk kesehatan manusia, seperti buah kurma.
4s+ 5#u xu #u wu yu 5=ur& i My_u NuyftG s% F{$# u
=)t 5s)j9 ;MtU 9s ) 4 2W{$# <t/ 4n?t $p|t/ exu 7nu &!$y/
"Dan di bumi ini terdapat bagian-bagian yang berdampingan dan kebun-kebun
anggur, tanaman-tanaman dan pohon kurma yang bercabang dan yang tidak
bercabang, disirami dengan air yang sama. Kami melebihkan sebagian tanamantanaman itu atas sebagian yang lain tentang rasanya. Sesungguhnya, pada yang
demikian itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi kaum yang berpikir."
(QS. Ar-Ra'd [13]: 4)
Kurma, buah-buahan yang disebut dalam surah Maryam, pohonnya
tumbuh di padang gersang bersuhu panas dan banyak manfaatnya. Allah
mengindentifikasikan khasiat penyembuhan dari buah ini dengan menceritakan
pada Maryam, yang sedang menghadapi persalinan, supaya makan daging buah
kurma.

)|@ 's#9$# g2 7s9) hu $w| 7tGtrB 7/u yy_ s% ttrB r& !$pJtrB $y1y$os
Nxt o) <)s #Ytnr& |u;9$# z ts? $*s ( $Yt hs%u 1u$#u ?3s $wy_ $Y7s 7n=t
$|) uu9$# zk=2& n=s $Y| uq=9
"Maka Jibril menyerunya dari tempat yang rendah: 'Janganlah kamu bersedih
hati, sesungguhnya Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan
goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan
menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu, maka makan, minum, dan
bersenang hatilah...." (QS. Maryam [19]: 24-26).
Ayat al-quran surah (ar-rad 13:4) di atas menjelaskan bahwa betapa
besar manfaat buah kurma bagi kehidupan manusia di bumi ini. Kurma, dengan
kandungan 50% gula, sungguh sangat bergizi karena daging buahnya terdiri atas
fruktosa dan glukosa yang keduanya berkalori tinggi, dan mudah serta cepat
dicerna. Kandungan gulanya menenangkan saraf yang gelisah serta memberikan
rasa aman pada kejiwaan. Kurma segar memberikan manfaat besar kepada otak.
Kurma, dengan kandungan 2.2% protein, juga berisi banyak jenis vitamin A, B1,
dan B2. Protein-protein ini melindungi tubuh dari serangan penyakit dan infeksi,
menunjang sel-sel tubuh memperbaharui diri, dan menyeimbangkan cairan-cairan
tubuh (www. Harunyahya.com/indo).
Buah-buahan selain kurma yang juga memberikan manfaat bagi tubuh
ialah blimbing wuluh. Batang buah belimbing wuluh mengandung beberapa
senyawa kimia yaitu saponin, tanin, glukosida, kalsium oksalat, sulfur, asam
format, peroksidase dan kandungan kimia pada daun yaitu tanin, sulfur, asam
format, peroksidase, kalsium oksalat, kalium sitrat (Dalimartha, S., dkk,
2005).

Batang belimbing wuluh selama ini belum pernah dimanfaatkan sebagai


obat ataupun yang lainnya oleh masyarakat. Ditinjau dari sisi agama, batang
tanaman berfungsi sebagai penopang supaya tetap tegak dan sebagai tempat untuk
mentransfer air dan mineral dari akar ke daun. Firman Allah SWT dalam surat
Ibrahim ayat 24:
!$y9$# $ysu M/$rO $y=r& Bt7hs ;tyftx. Zt6hs Zy=x. WsWt !$# z>u y#x. ts? s9r&
Artinya:Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat
perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan
cabangnya (menjulang) ke langit .(QS Ibrahim 14: 24)
Ayat di atas menjelaskan bahwa setiap bagian dari makhluk hidup
mempunyai manfaat seperti batang, kalau batang tumbuhan diambil maka
tumbuhan itu tidak akan bisa berdiri tegak dan akan mati.
Semenjak zaman Rasulullah telah banyak dipraktikkan terapi dengan
tumbuh-tumbuhan yang mengandung obat atau dikenal dengan terapi herba. Pada
zaman Rasulullah belimbing wuluh belum dikenal dan ditemukan, sehingga
belum dimanfaatkan sebagai obat. Pemanfaatan tanaman obat itu terus
berkembang seiring dengan berkembangnya industri jamu atau obat tradisional,
farmasi, kosmetik, makanan dan minuman.

2.4. Flavonoid
Flavonoid merupakan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada
tanaman hijau,kecuali alga. Flavonoid yang sering ditemukan pada tumbuhan
tingkat tinggi (Angiospermae) adalah flavon dan flavonol dengan C- dan O
glikosida, isoflavon C- dan O-glikosida, flavanon C dan O-glikosida, khalkon

dengan C- dan O-glikosida, dan dihidrokhalkon, proantosianidin dan antosianin,


auron O-glikosida, dan dihidroflavonol O-glikosida. Golongan flavon, flavonol,
flavanon, isoflavon, dan khalkon juga sering ditemukan dalam bentuk aglikonnya
(Markham, 1988).
Efek flavonoid terhadap macam-macam organisme sangat banyak dan
dapat menjelaskan mengapa tumbuhan yang mengandung senyawa ini digunakan
dalam pengobatan tradisional. Flavonoid dapat bekerja sebagai inhibitor kuat
pernapasan, menghambat fosfodieterase, menghambat aldoreduktase, protein
kinase, sebagai pereduksi yang baik dan beberapa fungsi lain. Aktivitas
antioksidasinya mungkin dapat menjelaskan bahwa flavonoid sebagai komponen
aktif dalam tumbuhan dapat digunakan sebagai obat tradisional untuk mengobati
gangguan fungsi ginjal (Robinson, 1995).

Gambar 2.3 Struktur inti senyawa flavonoid (Robinson, 1995)

Pada kebanyakan tumbuhan, flavonoid terikat pada gula sebagai glikosida


dan aglikon flavonoid yang mungkin terdapat dalam satu tumbuhan dalam bentuk
kombinasi glikosida (Harbone, 1987). Aglikon flavonoid (yaitu flavonoid tanpa
gula terikat) terdapat dalam berbagai bentuk struktur (Markham, 1988).

Golongan flavonoid dapat digambarkan sebagai deretan senyawa


C 6 C3 C 6 artinya kerangka karbonnya terdiri atas dua gugus C6 (cincin
benzena) disambungkan oleh rantai alifatik tiga karbon. Kelas-kelas yang
berlainan dalam golongan flavonoid dibedakan berdasarkan cincin heterosiklikoksigen tambahan dan gugus hidroksil yang tersebar menurut pola yang berlainan
(Robinson, 1991).
Flavonoid merupakan senyawa pereduksi yang baik, menghambat banyak
reaksi oksidasi, baik secara enzim maupun non enzim. Flavonoid bertindak
sebagai penampung yang baik radikal hidroksi dan superoksida dengan demikian
melindungi

lipid

membran

terhadap

reaksi

yang

merusak.

Aktivitas

antioksidannya dapat menjelaskan mengapa flavonoid tertentu merupakan


komponen aktif tumbuhan yang digunakan secara tradisional untuk mengobati
gangguan fungsi hati (Robinson, 1995).
Flavonoid merupakan golongan terbesar senyawa fenol alam (Harbone,
1987). Flavonoid tergolong senyawa polar karena mempunyai sejumlah gugus
hidroksil yang tak tersulih atau suatu gula, sehingga akan larut dalam pelarut polar
seperti etanol, metanol, butanol, aseton, dimetilsulfoksida, dimetilformamida, dan
air. Adanya gula yang terikat pada flavonoid cenderung menyebabkan flavonoid
lebih mudah larut dalam air dan dengan demikian campuran pelarut di atas dengan
air merupakan pelarut yang lebih baik untuk glikosida. Sebaliknya, aglikon yang
kurang polar seperti isoflavon, flavanon, dan flavon serta flavonol yang
termetoksilasi cenderung lebih mudah larut dalam pelarut seperti eter dan
kloroform (Markham, 1988).

Analisa flavonoid lebih baik dengan memeriksa aglikon yang terdapat


dalam ekstrak tumbuhan yang telah dihidrolisis sebelum memperhatikan
kerumitan glikosida yang ada dalam ekstrak asal (Harbone, 1987).

2.4.1 Potensi Flavonoid Sebagai Anti Bakteri


Antibakteri adalah suatu zat yang mencegah terjadinya pertumbuhan dan
reproduksi bakteri. Mikroorganisme dapat dihambat atau dibunuh dengan proses
fisik atau bahan kimia. Bahan antimikroba diartikan sebagai bahan yang
mengganggu pertumbuhan dan metabolisme mikroba, sehingga bahan tersebut
dapat menghambat pertumbuhan atau bahkan membunuh mikroba. Apabila
mikroorganisme yang dimaksud adalah bakteri, maka antimikroba lebih sering
disebut dengan bahan antibakteri (Ardiansyah, 2007).
Uji efektifitas senyawa aktif antibakteri pada penelitian yang dilakukan
Latifah (2008), ekstrak yang digunakan adalah ekstrak etanol. Berdasarkan hasil
uji golongan senyawa aktif diketahui bahwa ekstrak etanol mengandung senyawa
aktif flavonoid dan triterpenoid. Flavonoid dapat berefek antibakteri melalui
kemampuan untuk membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein
yang dapat larut serta dengan dinding sel bakteri (Robinson, 1995).
Latifah (2008), menjelaskan bahwa senyawa flavonoid dalam ekstrak
etanol lebih dominan daripada triterpenoid. Flavonoid merupakan senyawa yang
cenderung bersifat polar, kepolaran senyawa inilah yang mengakibatkan senyawa
lebih mudah menembus dinding sel bakteri Staphyloccocus aureus karena struktur
dinding sel bakteri ini berlapis tunggal dan tersusun atas peptidoglikan (protein

dan gula) serta lipid dengan kadar rendah (1-4 %), sehingga ekstrak etanol lebih
mudah menembus dinding sel bakteri ini. Dinding sel bakteri E. coli lebih sulit
ditembus senyawa yang bersifat polar karena struktur dinding sel bakteri ini
berlapis tiga yang tersusun atas peptidoglikan dan lipid dengan kadar yang tinggi
(11-22 %), sehingga ekstrak etanol lebih sulit menembus dinding sel bakteri ini.
Sjahid (2008), telah melakukan penelitian, menunjukkan bahwa senyawa
aktif flavonoid yang terkandung pada daun dewandaru memiliki aktivitas
antibakteri, antioksidan, penangkal radikal bebas, penghambat hidrolisis dan
oksidasi enzim, serta antiinflamasi.

2.4.2. Teknik Pemisahan


2.4.2.1. Ekstraksi dengan Metode Maserasi
Ekstraksi merupakan peristiwa pemindahan massa zat aktif yang semula
berada dalam sel ditarik oleh pelarut sehingga terjadi larutan zat aktif dalam
pelarut tersebut. Pada umumnya ekstraksi akan bertambah baik bila permukaan
serbuk simplisia yang bersentuhan dengan pelarut makin luas. Pada dasarnya
semakin halus serbuk simplisia makin baik pula ekstraksinya, tetapi dalam
pelaksanaannya tidak selalu demikian karena ekstraksi masih tergantung juga
pada sifat fisik dan kimia simplisia yang bersangkutan (Ahmad, 2006).
Metode ekstraksi bahan alam, dikenal suatu metode maserasi. Maserasi
merupakan suatu metode ekstraksi menggunakan lemak panas, akan tetapi
penggunaan lemak panas ini telah digantikan oleh pelarut-pelarut organik yang

volatil. Penekanan utama pada maserasi adalah tersedianya waktu kontak yang
cukup antara pelarut dan jaringan yang diekstraksi (Guether, 1987).
Berdasarkan penelitian Latifah (2008) diketahui bahwa pelarut akuades
menghasilkan ekstrak pekat terbesar diikuti oleh etanol, metanol, kloroform dan
terakhir petroleum eter. Berat ekstrak pekat yang dihasilkan oleh pelarut polar
lebih besar daripada pelarut nonpolar, sehingga diduga bahwa senyawa yang
terdapat pada buah belimbing wuluh cenderung bersifat polar seperti flavonoid.
Hal ini didukung oleh warna filtrat , warna dan tekstur ekstrak pekat serta prinsip
like dissolve like yaitu senyawa polar cenderung larut dalam pelarut polar dan
senyawa nonpolar cenderung larut dalam pelarut nonpolar.
Hasil penelitian yang sama, Latifah (2008) menambahkan bahwa pelarut
terbaik untuk memperoleh ekstrak kasar senyawa antibakteri pada buah belimbing
wuluh adalah etanol. Hal ini didukung oleh berat ekstrak pekat, uji golongan
senyawa aktif dan uji efektifitas antibakteri. Hasilnya menunjukkan bahwa daya
hambat ekstrak kasar etanol lebih tinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus
(gram positif) dibandingkan E. coli (gram negatif), hal ini ditunjukkan oleh nilai
diameter zona hambat terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang secara umum
lebih besar dari pada bakteri E. coli. Zakaria et al. (2007) juga menyatakan bahwa
ekstrak buah belimbing wuluh lebih efektif untuk bakteri gram positif
dibandingkan bakteri gram negatif.

2.4.2.2. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)

Kromatografi adalah suatu nama yang diberikan untuk teknik pemisahan


tertentu. Pada dasarnya semua cara kromatografi menggunakan dua fase yaitu fase
diam dan fase gerak. Pemisahan-pemisahan ini bergantung pada gerakan relatif
dari dua fase ini (Sastrohamidjojo, 2005). Prinsip dari pemisahan adalah adanya
perbedaan sifat fisik dan kimia dari senyawa yaitu kecenderungan dari molekul
untuk melarut dalam cairan (kelarutan), kecenderungan molekul untuk menguap
(keatsirian), kecenderungan molekul untuk melekat pada permukaan serbuk labus
(adsorpsi, penyerapan). Salah satu cara pemisahan adalah Kromatografi Lapis
Tipis.
Kromatografi Lapis Tipis (KLT) dapat digunakan untuk tujuan analitik
dan preparatif. KLT analitik digunakan untuk menganalisa senyawa-senyawa
organik dalam jumlah kecil misalnya, menentukan jumlah komponen dalam
campuran dan menentukan pelarut yang tepat untuk pemisahan dengan KLT
preparatif. KLT preparatif digunakan untuk memisahkan campuran senyawa dari
sampel dalam jumlah besar berdasarkan fraksinya, yang selanjutnya fraksi-fraksi
tersebut dikumpulkan dan digunakan untuk analisa berikutnya (Townshend, A.,
1995).
Identifikasi dari senyawa-senyawa yang terpisah dari lapisan tipis
menggunakan harga Rf. Harga Rf didefinisikan sebagai berikut (Sastrohamidjojo,
2005):
Harga Rf =

Jarak yang digerakkan oleh senyawa dari titik asal


.....(2.1)
Jarak yang digerakkan oleh pelarut dari titik asal

Harga-harga Rf untuk senyawa-senyawa murni dapat dibandingkan


dengan harga-harga standart. Harga-harga Rf yang diperoleh hanya berlaku untuk

campuran tertentu dari pelarut dan penyerap yang digunakan, meskipun demikian
daftar dari harga-harga untuk berbagai campuran dari pelarut dan penyerap dapat
diperoleh (Sastrohamidjojo, 2005).

Tabel berikut merupakan sifat flavonol dan flavon umum:

Tabel 2.1 Sifat flavonol dan flavon umum


Flavonoid

Rf (x100) dalam BAA

Flavonol
Kemferol

83

Kuersetin

64

Mirisetin

43

Flavon
Apigenin

89

Luteolin

78

Krisoeriol

82

Trisin

73

Sumber: Harborne, 1984

Flavonoid berupa senyawa polifenol dan warnanya ak an berubah bila


bereaksi dengan basa sehingga flavonoid mudah dideteksi pada kromatogram.
Flavon 7-glikosida berwarna coklat pudar, kuning atau hijau dengan sinar UV dan
berubah menjadi hijau-kuning terang dengan uap NH3. Isoflavon sukar dicirikan
karena reaksinya yang tidak khas dengan pereaksi warna manapun. Beberapa
isoflavon (misalnya daidzein) memberikan warna biru muda cemerlang dengan
sinar UV bila diuapi amonia, tetapi kebanyakan yang lain (misalnya genestain)
tampak sebagai bercak lembayung pudar dengan amonia berubah menjadi coklat
pudar (Harborne, 1987).

Kromatografi lapis tipis (KLT) merupakan cara analisis cepat yang


memerlukan bahan yang sedikit. Penelitian pendahuluan kandungan flavonoid
suatu ekstrak, sudah menjadi kebiasaan umum untuk menggunakan pengembang
beralkohol pada pengembangan pertama dengan kromatografi lapis tipis, misalnya
butanol-asam asetat-air (BAA) (Markham, 1988). Surayya (2000), menggunakan
eluen BAA (6:1:2) untuk memisahkan flavonoid dari biji kapas. Purwaningsih
(2003) menggunakan BAA (4:1:5) untuk memisahkan senyawa flavonoid dari biji
kacang tunggak, sedangkan Dani (2005), menggunakan BAA (4:1:5), BAA
(6:1:2), metanol-kloroform dengan variasi komposisi (7:3), (6:4), (5:5), (4:6),
(3:7), (2:8), (1:9), (1:19), dan (1:39) untuk memisahkan senyawa flavonoid dari
daun kelor.
Robinson (1995), mengatakan bahwa jika tidak ada pigmen yang
menggangu, jaringan tumbuhan (misalnya daun bunga putih), maka dapat
diidentifikasi adanya flavon dan flavonol dengan diuapi uap amonia. Warna
kuning menunjukkan adanya senyawa ini. Kalkon dan auron berubah dari kuning
menjadi merah pada uji ini. Jika ekstrak pigmen dalam air dibasakan, berbagai
perubahan warna dapat terlihat, meskipun perubahan pada pigmen yang satu dapat
menutupi perubahan pada pigmen lain.
Tabel berikut merupakan perubahan warna yang terjadi pada suatu
senyawa setelah diuapi dengan amonia:

Tabel 2.2 Perubahan warna yang terjadi pada senyawa setelah diuapi amoniak
Nama Senyawa
Perubahan Warna
antosianin
lembayung biru
flavon, flavonol, xanton
kuning
flavanon
tanpa warna, menjadi merah jingga
(terutama jika dipanaskan)
kalkon dan auron
lembayung merah
flavanonol
coklat-jingga
Sumber: Robinson, 1995

Rohyami (2008), mengatakan pada buah mahkota dewa dilakukan


optimasi eluen yang akan digunakan untuk mendapatkan isolat murni dengan
menggunakan plat KLT kresgel G 60 F 254 (Carollo, 2006; Urzua, 2004) 3 x 10
cm. Eluen yang digunakan adalah fase atas n-butanol : asam asetat : air, 9 : 2 : 6
(v/v) atau BAA (Rohyami, 2007). Elusi dilakukan setelah chamber KLT penuh
dengan uap eluen, didiamkan sekitar 5 10 menit. Untuk mendeteksi bercak
dilakukan dengan menggunakan lampu UV pada panjang gelombang 254 nm.
Bercak ditandai dengan menggunakan pensil. Pembuktian kemurnian isolat
flavonoid dilakukan dengan kromatografi lapis tipis dua dimensi. Elusi dilakukan
pada plat KLT 6 x 6 cm. Ekstrak kloroform ditotolkan 1 cm dari tepi bawah
kanan. Eluen yang digunakan pada pengembangan pertama adalah eluen terbaik
yang telah diperoleh dari hasil identifikasi pendahuluan. Pengembangan kedua
menggunakan pelarut asam asetat 15 %. Posisi plat yang dielusi adalah posisi 90o
dari kondisi mula-mula.
Jika sudah diperoleh isolat murni pada tahapan di atas, kemudian
dilakukan fraksinasi dengan KLT preparatif. Deteksi dilakukan dengan
menggunakan lampu UV 366 nm. Bercak yang berupa pita diberi tanda dengan

pensil. Setiap bercak yang diperoleh dikerok dan dilarutkan dalam methanol
(Rohyami, 2008).
Identifikasi pendahuluan flavonoid dengan KLT berguna dalam pemisahan
flavonoid menggunakan KLT preparatif. Eluen terbaik pada identifikasi
pendahuluan digunakan untuk pemisahan flavonoid dari fraksi metanol daging
buah mahkota dewa. Prinsip pemisahan pada KLT preparatif tidak berbeda
dengan pemisahan pada KLT. Ukuran plat yang ideal adalah 20 x 20 cm, tetapi
ukuran ini dapat disesuaikan dengan kebutuhan (Rohyami, 2008).

2.4.3. Metode Analisis


2.4.3.1. Spektrofotometri IR
Spektroskopi inframerah merupakan spektroskopi vibrasi. Penggunaan
spektroskopi inframerah pada bidang kimia organik hampir menggunakan daerah
di 650-4000 cm-1. Daerah dengan frekuensi lebih rendah dari 650 cm-1 disebut
inframerah jauh dan daerah dengan frekuensi lebih tinggi dari 4000 cm-1 disebut
inframerah dekat. Ikatan-ikatan yang berbeda (C-C, C=C, C-O, O-H, N-H)
mempunyai serapan yang berbeda dan ikatan-ikatan tersebut dalam molekul
organik

dapat

dideteksi

dengan

mengidentifikasi

frekuensi-frekuensi

karakteristiknya sebagai pita serapan dalam spektrum IR (Sastrohamidjojo, 1991).


Frekuensi serapan C=O dari beberapa flavonoid dapat dilihat pada tabel
2.2 (Geissman, 1969).

Tabel 2.3 Frekuensi serapan C=O dari beberapa flavonoid


Jenis flavonoid
Frekuensi (cm-1)
Flavon

1649

3-hidroksiflavon

1615

5-hidroksiflavon

1652

7-hidroksiflavon

1625

Flavanon
5-hidroksiflavanon

1648

5,7,3,4-tetrahidroksiflavanon

1620

5,7,3,4-tetraacetoksiflavanon

1680

3,5,7,3,4-pentamethoksiflavon

1627

3,5,7,3,4-pentaacetoksiflavon

1640

Sumber : Geissman, 1969

Senyawa flavonoid jika dianalisis dengan spektrofotometri inframerah


akan mempunyai serapan yang spesifik, yaitu serapan di daerah frekuensi 31503050 cm-1 dengan intensitas tajam akibat rentangan C-H aromatic, serapan lebar
antara 3500-3200 cm-1 akibat rentangan O-H, C=O keton pada 1725-1705 cm-1
dan C-O eter pada 1300-1000 cm-1(Sastrohamidjojo, 1991).

2.5. Triterpenoid
Triterpenoid merupakan komponen tumbuhan yang mempunyai bau dan
dapat diisolasi dari bahan nabati dengan penyulingan sebagai minyak atsiri.
Triterpenoid terdiri dari kerangka dengan 3 siklik 6 yang bergabung dengan siklik
5 atau berupa 4 siklik 6 yang mempunyai gugus pada siklik tertentu (Lenny,
2006).

Triterpenoid adalah senyawa yang kerangka karbonnya berasal dari 6


satuan isoprena dan secara biosintesis diturunkan dari hidrokarbon C30 asiklik
yaitu skualena. Senyawa ini berstruktur siklik yang kebanyakan berupa alkohol,
aldehida, atau asam karboksilat (Harborne, 1987). Senyawa ini paling umum
ditemukan pada tumbuhan berbiji, bebas dan sebagai glikosida. Triterpenoid
alkohol monohidroksi dalam tumbuhan tidak bersamaan dengan pigmen,
sedangkan triterpenadiol berada bersama-sama dengan karotenoid dan triterpenoid
asam dengan flavonoid (Robinson, 1995).

Oleanana
Skualena
Gambar 2.4 Senyawa Triterpenoid (Robinson, 1995)

Triterpenoid biasanya terdapat dalam daun dan buah, seperti apel dan buah
per, yang berfungsi sebagai pelindung untuk menolak serangga dan serangan
mikroba. Triterpenoid juga terdapat dalam damar, kulit batang dan getah.
Triterpenoid tertentu dikenal karena rasanya, terutama kepahitannya. Pereaksi
Lieberman-Burchard secara umum digunakan untuk mendeteksi triterpenoid
menghasilkan warna violet (Harborne, 1987).

2.5.1. Potensi Triterpenoid Sebagai Anti Bakteri


Berdasarkan penelitian yang dilakukan Juwita (2006), tentang tanaman
jahe bahwa Kandungan senyawa metabolit sekunder yang terdapat pada tanaman
jahe terutama golongan flavonoid, fenol, triterpenoid, dan minyak atsiri
(Benjelalai, 1984). Umumnya dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme
patogen yang merugikan kehidupan manusia.
Gunawan (2008), juga melakukan penelitian tentang Herba meniran
(Phyllanthus niruri Linn) yang mengandung metabolit sekunder flavonoid,
terpenoid, alkaloid dan steroid (Kardinan dan Kusuma, 2004). Beberapa hasil
penelitian menunjukkan bahwa senyawa terpenoid memiliki aktivitas sebagai
antibakteri yaitu monoterpenoid linalool, diterpenoid (-) hardwicklic acid, phytol,
triterpenoid saponin dan triterpenoid glikosida (Grayson, 2000; Bigham et al.,
2003; Lim et al., 2006).
Selain penelitian di atas, terdapat penelitian lain tentang isolasi dan
identifikasi golongan senyawa triterpenoid pada biji pepaya. Hasilnya
menunjukkan bahwa senyawa triterpenoid pada biji pepaya dapat berfungsi
sebagai antibakteri E. coli dan bakteri Staphyloccocus aureus (Sukadani, dkk.,
2008).

2.5.2. Teknik Pemisahan


2.5.2.1. Ekstraksi dengan Metode Maserasi
Maserasi merupakan cara ekstraksi yang sederhana. Maserasi dilakukan
dengan cara merendam serbuk simplisia (serbuk halus hasil ekstraksi tanaman

obat) dalam pelarut. Pelarut akan menembus dinding sel dan masuk ke dalam
rongga sel yang mengandung zat aktif sehingga zat aktif akan larut, adanya
perbedaan konsentrasi antara larutan zat aktif di dalam sel, maka larutan yang
terpekat di desak keluar. Pelarut yang digunakan dapat berupa air, etanol, airetanol, atau pelarut lain. Keuntungan cara ekstraksi ini, adalah cara pengerjaan
dan peralatan yang digunakan sederhana dan mudah diusahakan, sedangkan
kerugiannya adalah waktu pengerjaannya lama dan ekstraksi kurang sempurna
(Ahmad, 2006).
Metode ekstraksi bahan alam, dikenal suatu metode maserasi. Maserasi
adalah metode perendaman. Penekanan utama pada maserasi adalah tersedianya
waktu kontak yang cukup antara pelarut dan jaringan yang diekstraksi (Guether,
1987 ).
Latifah (2008), menambahkan bahwa hasil uji golongan senyawa aktif
pada ekstrak kasar buah blimbing wuluh mengandung senyawa flavonoid dan
terpenoid. Flavonoid dapat berefek antibakteri melalui kemampuan untuk
membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein yang dapat larut
serta dengan dinding sel bakteri (Robinson, 1995 dalam Ardananurdin dkk, 2004).
Terpenoid dapat menghambat pertumbuhan atau mematikan bakteri dengan
mengganggu proses terbentuknya membran dan atau dinding sel, membran atau
dinding sel tidak terbentuk atau terbentuk tidak sempurna (Ajizah, 2004).

2.5.2.2. Kromatografi Lapis Tipis (KLT)


Kromatografi Lapis Tipis (KLT) merupakan salah satu kromatografi yang
berdasarkan proses adsorpsi. Lapisan yang memisahkan terdiri atas fase diam,
sebagai fase diam dapat digunakan silika atau alumina yang dilapiskan pada
lempeng kaca atau aluminium. Jika fase diam berupa silika gel maka bersifat
asam, jika fase diam alumina maka bersifat basa. Fase gerak atau larutan
pengembang biasanya digunakan pelarut organik atau bisa juga campuran pelarut
organik anorganik (Gritter, 1991).
Pada pemeriksaan triterpena dalam tumbuhan, KLT dilakukan pada silika
gel memakai pengembang seperti heksana-etil asetat (1:1) dan kloroform-metanol
(10:1), pada Rf (75, dan 50) (Harborne, 1984).
Hasil penelitian Sukadani (2008), menjelaskan bahwa

biji pepaya,

dilakukan Uji fitokimia triterpenoid lebih lanjut terhadap ekstrak kental n-heksana
menggunakan pereaksi LiebermannBurchard untuk menentukan ada tidaknya
triterpenoid. Ekstrak kental positif triterpenoid dipisahkan dengan kromatografi
kolom. Sebelum dilakukan pemisahan dengan kromatografi kolom, terlebih
dahulu dilakukan pemilihan eluen dengan teknik KLT. Hasil pemisahan
kromatografi kolom (silika gel 60, n-heksana : eter : etilasetat : etanol (2:3:3:2))
yang sama digabungkan dan dikelompokkan menjadi kelompok fraksi. Masingmasing kelompok fraksi tersebut diuji untuk triterpenoid. Fraksi yang positif
mengandung triterpenoid dengan noda tunggal dilanjutkan dengan uji kemurnian
secara KLT dengan beberapa campuran eluen. Bila tetap menghasilkan satu noda
maka fraksi tersebut dapat dikatakan sebagai isolat relatif murni secara KLT.

Isolat relatif murni ini kemudian dianalisis dengan Spektrofotometer Ultra violettampak dan Inframerah.
Masih dari penelitian Sukadani (2008) pada biji pepaya, setelah diuji
triterpenoid dengan pereaksi Liebermann-Burchard menunjukkan reaksi positif
untuk triterpenoid dengan perubahan warna dari kuning menjadi merah ungu.
Pemisahan dengan kromatografi kolom terhadap ekstrak kental n-heksana
menghasilkan 0,05 g isolat yang menunjukkan positif untuk triterpenoid (F3) yang
berwarna kuning. Hasil identifikasi menggunakan spektroskopi inframerah
menunjukkan bahwa isolat kemungkinan termasuk senyawa golongan triterpenoid
aldehida. Spektrum inframerah mengindikasikan adanya -C-H alifatik stretching,
CH2 bending, CH3 bending, dan C=O. Spektrum ultra violet - visibel
memberikan dua pita serapan pada panjang gelombang (maks) 228,5 nm dan pita
dengan serapan yang landai pada panjang gelombang 287,7 nm. Hasil uji aktivitas
antibakteri terhadap isolat triterpenoid menunjukkan bahwa isolat dapat
menghambat pertumbuhan bakteri Escherichia coli dan Staphylococcus aureus
pada konsentrasi 1000 ppm.
Berdasarkan penelitian Yusuf (2007), dijelaskan bahwa pada tanaman
krisan hasil ekstrak bunga krisan (Chrysanthemum cinerariaefolium) diduga
berupa triterpenoid yang memiliki gugus ester, gugus karbonil, gugus asam, gugus
C-H siklik, gugus C=H alkena. Pemisahan senyawa dilakukan dengan
menggunakan kromatografi lapis tipis yang disinari dengan sinar UV 365 nm,
sedangkan eluen yang digunakan adalah metanol : kloroform = 1:15. Analisis
senyawa dan elusidasi strukturnya dilakukan dengan spektrometer IR.

Prasetya

(2007),

menjelaskan

pada

tumbuhan

Beilschmiedia

Roxburghiana (medang) memberikan hasil positif terhadap pereaksi Lieberman


Burchard, dengan munculnya warna merah yang diindikasikan mengandung
senyawa terpenoid. Penelitian ini menggunakan metode kromatografi cair kolom
vakum (KCKV) dengan eluen n-heksana dan diklorometana (1 : 9).Hasil
identifikasi menggunakan spektrum ultra violet menunjukkan adanya dua puncak
pada panjang gelombang () 229 nm dan 272 nm. Puncak maksimum (max) pada
229 nm dan 272 nm menunjukkan adanya transisi elektron *. Puncakpuncak serapan pada spektrum UV ini khas untuk senyawa terpenoid yang
memiliki kromofor berupa ikatan rangkap (C=C) yang tidak terkonjugasi. Pada
spektrum IR menunjukkan adanya pita serapan pada bilangan gelombang 3422,8
cm-1; 2938,8 cm-1; 2864,5 cm-1; 1632,4 cm-1; 1460,0 cm-1; 1376,5 cm-1 dan
1055,5 cm-1. Pita serapan pada bilangan gelombang 3422,8 cm-1 menunjukkan
adanya vibrasi ulur gugus hidroksi (OH) yang diperkuat dengan adanya vibrasi
ulur ikatan C-O pada bilangan gelombang 1055,5 cm-1. Kedua serapan tersebut
mengindikasikan adanya gugus hidroksi (OH) yang terikat pada atom karbon.
Munculnya vibrasi ulur C-H alifatik pada 2938,8 cm-1 dan 2864,5 cm-1 memberi
petunjuk kemungkinan adanya gugus metil (CH3) dan metilena (CH2). Data ini
diperkuat dengan adanya vibrasi tekuk C-H pada bilangan gelombang 1460,0 cm1 dan 1376,5 cm-1 yang mengindikasikan adanya gugus gem dimetil sebagai ciri
khas senyawa triterpenoid.

Golongan senyawa triterpenoid: menggunakan pengembang heksana-etil


asetat (1:1) dengan pereaksi Lieberman-Burchard menghasilkan warna merah
ungu (violet) (Harborne, 1987).

2.5.3. Metode Analisis


2.5.3.1. Spektrofotometri IR
Peneltian Sukadani (2008), menjelaskan bahwa hasil analisis senyawa
triterpenoid pada biji pepaya menggunakan spektrofotometri inframerah
menunjukkan adanya serapan tajam pada daerah bilangan gelombang 2923,8 cm

-1

-1

dan 2852,2 cm yang diduga serapan dari gugus C-H alifatik stretching. Dugaan
ini diperkuat oleh adanya serapan pada daerah bilangan gelombang 1464,4 cm
dan 1206,5 cm

-1

-1

yang merupakan serapan dari -CH2 dan CH3 bending. Pita

serapan yang tajam pada daerah bilangan gelombang 1710,4 cm

-1

dengan

intensitas kuat mengidentifikasikan gugus karbonil (C=O) (Sastrohamidjojo,


1985).
Masih dari penelitian Sukadani (2008) bahwa isolat kemungkinan
termasuk senyawa golongan triterpenoid aldehida. Spektrum inframerah
mengindikasikan adanya -C-H alifatik stretching, CH2 bending, CH3 bending,
dan C=O.

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1. Pelaksanaan Penelitian


Penelitian dilakukan pada bulan November-Maret 2010. Penelitian
dilaksanakan di Laboratorium Kimia Universitas Islam Negeri (UIN) Malang.

3.2. Alat dan Bahan Penelitian


3.2.1. Alat
Alat yang digunakan untuk proses identifikasi dalam penelitian ini adalah
kertas saring, neraca analitik, seperangkat alat gelas, corong pisah, rotary
evaporator, sentrifuge, seperangkat alat KLT, lampu UV dan seperangkat alat
FTIR merek Varian 1000 scimitar series.
Alat yang digunakan untuk uji antibakteri adalah cawan petri, tabung
reaksi, jarum ose, inkubator, pinset, autoklaf, bunsen, erlenmeyer, beaker glas,
dan penggaris.

3.2.2. Bahan
Bahan utama yang digunakan dalam penelitian ini adalah buah belimbing
wuluh kering. Bahan kimia yang digunakan adalah etanol, ammonia, hidrogen
klorida (HCl) 15%, akuades, asam asetat, n-butanol, kloroform (CHCl3), etil
asetat, methanol, diklorometana.

Uji antibakteri digunakan bahan-bahan sebagai berikut: nutrien agar,


kertas wathman, akuades steril serta biakan bakteri Staphylococcus aureus dan E.

coli
.
3.3. Rancangan Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan dengan rancang bangun penelitian eksperimental
laboratorik. Proses ekstraksi dilakukan dengan pelarut etanol. Ekstrak yang
diperoleh dipisahkan dengan KLTP yang sebelumnya dicari eluen terbaik untuk
dipisahkan dengan KLT analitik. Eluen yang memberikan pemisahan yang baik
(jumlah spot dan pola pemisahan) digunakan sebagai eluen

untuk KLTP,

dilanjutkan uji efektivitas antibakteri terhadap fraksi hasil KLTP dan identifikasi
senyawa buah belimbing wuluh dengan FTIR.

3.4. Tahapan-Tahapan Penelitian


Penelitian ini dilakukan dengan tahapan-tahapan sebagai berikut:
Tahapan Penelitian
1. Preparasi sampel
2. Penentuan kadar air
3. Ekstraksi buah belimbing wuluh dengan metode maserasi
4. Pemisahan ekstrak kasar buah belimbing wuluh dengan Kromatografi
Lapis Tipis (KLT)
a. Kromatografi Lapis Tipis Analitik (KLTA)
b. Kromatografi Lapis Tipis Preparatif (KLTP)
5. Uji efektivitas antibakteri terhadap fraksi hasil KLTP

6. Identifikasi senyawa buah belimbing wuluh dengan FTIR


7. Analisis data

3.5. Cara Kerja


3.5.1. Preparasi Sampel
Sebanyak 5 kg buah belimbing wuluh dicuci bersih, diiris tipis dan
dikeringkan dalam oven pada suhu 37-40 oC sampai diperoleh berat konstan.
Kemudian buah belimbing wuluh dihaluskan menjadi serbuk, hasil yang diperoleh
digunakan sebagai sampel penelitian (Zakaria, et al., 2007).

3.5.2. Penentuan Kadar Air


Analisa kadar air dilakukan dengan metode thermografi yaitu dengan
pemanasan. Analisa ini dilakukan sebanyak 3 kali pengulangan. Cawan yang
digunakan dipanaskan dahulu dalam oven pada suhu 100-105 C sekitar 15 menit
untuk menghilangkan kadar airnya, kemudian cawan disimpan dalam desikator
sekitar 10 menit. Cawan tersebut selanjutnya ditimbang dan dilakukan perlakuan
yang sama sampai diperoleh berat cawan yang konstan. Sampel buah blimbing
wuluh dipotong kecil-kecil, dimasukkan ke dalam cawan yang telah diketahui
beratnya. Sampel ditimbang sekitar 5 g, selanjutnya dikeringkan di dalam oven
pada suhu 100-105 C selama sekitar 1 jam. Sampel kering didinginkan dalam
desikator dan ditimbang. Sampel tersebut dipanaskan kembali dalam oven 20
menit, didinginkan dalam desikator dan ditimbang kembali. Perlakuan ini diulangi

sampai tercapai berat konstan. Kadar air dalam tanaman dihitung menggunakan
rumus berikut:
Kadar air =
Keterangan:

(b c)
100%
(b a )

a = berat konstan cawan kosong

b = berat cawan + sampel sebelum dikeringkan


c = berat konstan cawan + sampel setelah dikeringkan
Faktor koreksi =

100
100 % kadar air

% Kadar air terkoreksi = Kadar air- Faktor koreksi

3.5.3. Ekstraksi Buah Belimbing Wuluh dengan Metode Maserasi


Sampel ditimbang seberat 50 gram dimaserasi dengan pelarut etanol
sebanyak 250 mL. Dibiarkan pada suhu kamar selama 72 jam ( 3 hari) dan
sesekali dikocok. Penambahan etanol dilakukan secara bertahap (setiap 12 jam)
sampai filtrat tidak berwarna. Ekstrak etanol disaring kemudian filtratnya
dipekatkan dengan rotary evaporator. Ekstrak pekat yang diperoleh selanjutnya
dihidrolisis dengan HCl 15% kemudian diekstraksi cair-cair dengan pelarut air :
kloroform (1:1), ekstraksi dilakukan secara bertahap (3X35 mL). Fasa air dan fasa
organik yang diperoleh masing-masing dipisahkan. Masing-masing lapisan yaitu
lapisan atas (fasa air) dan lapisan bawah (fasa organik), dipekatkan dengan rotary
evaporator kemudian ditentukan nilai rendemennya, dan dilakukan identifikasi
senyawa flavonoid dan triterpenoid yang terdapat dalam ekstrak dengan KLT
(Markham, 1988).

3.5.4. Pemisahan Senyawa Flavonoid dan Triterpenoid


Pada tahap ini dilakukan pemisahan senyawa flavonoid dan triterpenoid
dengan KLT analitik dan preparatif. KLT analitik bertujuan untuk mencari eluen
terbaik untuk pemisahan senyawa flavonoid dan triterpenoid dari ekstrak buah
blimbing wluh, hasil yang diperoleh digunakan sebagai eluen untuk KLT
preparatif.

3.5.4.1. Pemisahan Senyawa Flavonoid dan Triterpenoid dengan KLT


Analitik
Pemisahan dengan KLT analitik menggunakan plat silika gel 60 GF254
dengan ukuran 2 x 10 cm. Dalam Markham (1988) disebutkan bahwa pada
umumnya eluen yang digunakan untuk memisahkan komponen-komponen dalam
bahan alam yang diduga mengandung flavonoid adalah campuran n-butanol-asam
asetat glasial-air (BAA) dan metanolkloroform, dengan komposisi meliputi BAA
(4:1:5), BAA (6:1:2), dan metanol-kloroform (1:9), (1:19) dan (1:39).Sedangkan
yang diduga mengandung triterpenoid adalah heksana-etil asetat (1:1), metanolkloroform (1:10), n-heksana-diklorometana (1:9) dengan pereaksi LiebermanBurchard (Harborne, 1987).
Ekstrak pekat flavonoid dan triterpenoid dilarutkan dalam etanol,
kemudian ditotolkan (10-15) pada plat KLT pada jarak 1 cm dari garis bawah
menggunakan pipa kapiler. Kemudian dikeringkan di udara dan dielusi sejauh 8
cm. Hasil pemisahan pada KLT analitik untuk flavonoid diidentifikasi
menggunakan uap amonia sedangkan untuk triterpenoid menggunakan pereaksi
Lieberman-Burchard. Noda yang terbentuk diperiksa dengan lampu UV,

flavonoid diperiksa pada panjang gelombang 254 nm, triterprnoid diperiksa pada
panjang gelombang 365 nm.
Eluen yang memberikan pemisahan paling baik akan digunakan dalam
pemisahan dengan KLT preparatif.

3.5.4.2. Pemisahan Senyawa Flavonoid dan Triterpenoid dengan KLT


Preparatif
Pemisahan dengan KLT preparatif menggunakan plat silika gel 60 GF254
dengan ukuran 10 x 20 cm. Ekstrak pekat flavonoid dan triterpenoid dilarutkan
dalam etanol, kemudian ditotolkan (8-10) sepanjang plat pada jarak 1 cm dari
garis bawah dan 1 cm dari garis tepi dan jarak satu sama lainnya 1 cm.
Selanjutnya dielusi dengan menggunakan pelarut yang memberikan pemisahan
terbaik hasil KLT analitik. Masing-masing senyawa flavonoid dan triterpenoid
akan membentuk noda yang terpisah berdasarkan harga Rf nya. Kemudian
masing-masing noda yang diperoleh dikerok dan dilarutkan dalam etanol.
Masing-masing noda yang telah dikerok dan dilarutkan dalam etanol,
disentrifuge untuk mengendapkan silikanya. Masing-masing supernatant yang
diperoleh dipekatkan dengan desikator vacum sehingga diperoleh isolat dari
masing-masing noda berdasarkan harga Rf nya.

3.5.5. Uji Efektifitas Antibakteri


3.5.5.1. Sterilisasi Alat
Sterilisasi alat dan bahan dengan cara menutup alat-alat yang akan
disterilkan dengan alumunium foil atau kapas, kemudian dimasukkan ke dalam

autoklaf pada suhu 121 0C dengan tekanan 15 psi (per square inchi) selama 15
menit.

3.5.5.2. Penyiapan Media


Pembuatan media dilakukan dengan cara 1 g nutrien agar dilarutkan dalam
50 ml akuades. Suspensi yang dihasilkan dipanaskan sampai mendidih, kemudian
dimasukkan dalam beberapa tabung reaksi masing-masing sebanyak 10 mL dan
ditutup dengan kapas. Proses ini dilakukan di dekat nyala api. Tabung-tabung
tersebut kemudian disterilkan dalam autoklaf pada 121 oC dengan tekanan 15 psi
selama 15 menit kemudian diletakkan dalam posisi miring selama 24 jam pada
suhu ruang (Volk dan Wheeler, 1993).

3.5.5.3. Peremajaan Biakan Murni


Biakan murni bakteri diremajakan pada media padat agar miring dengan
cara menggoreskan jarum ose yang mengandung bakteri Staphylococcus aureus
dan bakteri E. coli secara aseptis yaitu dengan mendekatkan mulut tabung pada
nyala api saat menggoreskan jarum ose. Kemudian tabung reaksi ditutup kembali
dengan kapas dan diinkubasi selama 48 jam pada suhu 37 oC dalam incubator.

3.5.5.5. Pembuatan Biakan Aktif


Satu ose hasil peremajaan biakan murni bakteri dibiakkan dalam 10 mL
akuades steril dan dihomogenkan. Larutan ini berfungsi sebagai biakan aktif .

3.5.5.6. Uji Antibakteri


Media padat (tahap 3.5.5.2) yang telah dipanaskan hingga mencair,
didinginkan sampai suhu 40 oC, dan dituang dalam cawan petri steril. Kemudian
ditambahkan 0,1 mL larutan biakan aktif bakteri dan dihomogenkan kemudian

dibiarkan hingga memadat. Kertas cakram (diameter 5 mm) diresapkan dalam


ekstrak dan kontrol. Proses peresapan dilakukan dengan cara meneteskan 20 L
kontrol positif (penisilin dan streptomisin), kontrol negatif (pelarut) dan ekstrak
(Zakaria et al., 2007). Kertas cakram tersebut kemudian diletakkan di atas
permukaan media bakteri menggunakan pinset dan ditekan sedikit. Media bakteri
yang sudah dipasangi bahan antibakteri diinkubasi pada suhu 37 oC selama 18-24
jam. Pembacaan awal dapat dilakukan setelah 6-8 jam. Diameter zona hambatan
yang terbentuk diukur menggunakan penggaris untuk menentukan efektifitas
antibakteri (Volk dan Wheeler, 1993). Zona hambatan diukur dengan cara
mengurangi diameter keseluruhan (cakram + zona hambatan) dengan diameter
cakram.
Fraksi aktif tersebut diuji untuk mengetahui efektifitas senyawa antibakteri
pada buah belimbing wuluh (kosentrasi 450 mg/mL) (Latifah, 2008).

Pada

penelitian ini kontrol positif penisilin (konsentrasi 10 mg/mL) digunakan untuk


bakteri Staphylococcus aureus dan kontrol positif streptomisin (konsentrasi 10
mg/mL) untuk bakteri E. Coli.

3.5.6. Identifikasi Senyawa Buah Blimbing Wuluh dengan FTIR


Isolat hasil KLTP yang memberikan efektivitas antibakteri terbaik
kemudian diidentifikasi dengan menggunakan spektrofotometer FTIR merk
Shimadzu. Isolat diteteskan pada pelet KBr, dikeringkan, kemudian dianalisis
dengan spektroskopi FTIR pada rentang bilangan gelombang 4000-600 cm-1.

3.5.7. Analisis Data


3.5.7.1. Analisis Data KLT
Data

yang

diperoleh

dianalisis

secara

deskriptif

yaitu

dengan

memperhatikan pola pemisahan pada kromatogram dari berbagai eluen yang


digunakan.

3.5.7.2. Analisis Data FTIR


Data yang diperoleh dari hasil spektrum FTIR berupa informasi gugusgugus fungsional yang menyusun suatu struktur senyawa. Data tersebut
diidentifikasi dengan tabel korelasi yang memuat informasi dimana gugus
fungsional menyerap.

3.5.7.3. Analisis Data Uji Antibakteri


Data diperoleh dari hasil zona hambat berupa kemampuan isolat ekstrak
buah blimbing wuluh dalam menghambat bakteri. Data tersebut dianalisis untuk
menguji adanya pengaruh sampel dari isolat hasil KLTP terhadap pertumbuhan
bakteri.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

Hasil penelitian dan pembahasan ini disusun berdasarkan tahapan


penelitian yang telah dilakukan yaitu : Pertama, Preparasi sampel, Kedua,
Penentuan kadar air, Ketiga, Isolasi senyawa anti bakteri pada buah blimbing
wuluh. Isolasi meliputi isolasi dengan metode ekstraksi, metode kromatografi
lapis tipis, Keempat, Uji antibakteri dan Kelima, Identifikasi senyawa flavonoid
dengan metode spektrofotometri inframerah.

4.1. Preparasi Sampel


Buah blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

yang segar ditimbang

sebanyak 5 kg, kemudian dicuci dengan air bersih, diiris tipis dan dikeringkan
dalam oven selama 3 hari pada suhu 37-40 oC sampai diperoleh berat konstan.
Pengeringan dilakukan terkait dengan sifat fisik dari buah belimbing wuluh yang
mudah busuk, dengan pengeringan diharapkan buah belimbing wuluh akan lebih
awet dan tahan terhadap mikroba, kemudian dihaluskan dan diperoleh 179 g
sampel berupa serbuk, perlakuan ini bertujuan untuk memperluas permukaan
sehingga mudah dalam pengekstraksian. Hasil yang diperoleh digunakan sebagai
sampel penelitian.
Selama proses pengeringan terdapat perubahan warna, tekstur dan berat.
Buah belimbing wuluh segar berwarna hijau dan masih segar atau keras, setelah
dioven berwarna kuning kecoklatan dan agak lunak, sedangkan setelah benarbenar kering buah blimbing wuluh berwarna coklat dan kaku. Perubahan warna

tersebut disebabkan oleh terjadinya foto-oksidasi pada buah belimbing wuluh,


sedangkan perubahan tekstur dan berat disebabkan buah belimbing wuluh
kehilangan beberapa persen kandungan airnya (Halimah, 2010).

4.2. Penentuan Kadar Air


Penetapan kandungan air dapat dilakukan beberapa cara, tergantung pada
sifat bahannya. Pada umumnya penentuan kadar air

dilakukan dengan

pengeringan bahan dalam oven pada suhu 105-110 oC selama 3 jam atau sampai
diperoleh berat konstan (Winarno, 2002). Sebagaimana dalam penelitian ini untuk
mendapatkan berat konstan dilakukan dengan cara pengeringan sampel dalam
oven pada suhu 105-110 oC selama 7 jam. Pengovenan dilakukan setiap 30 menit
dilanjutkan dengan pendinginan di dalam desikator selama 10 menit sampai
diperoleh berat konstan yang menunjukkan kandungan air dalam buah sudah
teruapkan secara maksimal.
Untuk mempercepat penguapan air serta menghindari terjadinya reaksi
yang menyebabkan terbentuknya air ataupun reaksi yang lain karena pemanasan
maka dapat dilakukan pemanasan dengan suhu rendah dan tekanan vakum.
Dengan demikian akan diperoleh hasil yang lebih mencerminkan kadar air yang
sebenarnya (Suhardi, 1989).

Kandungan air pada buah blimbing wuluh sangat tinggi, yaitu sebesar 78,9
% (78,9% air dan 21,1% daging buah blimbing wuluh), oleh karena itu perlu
adanya pengeringan sebelum sampel buah blimbing wuluh dimaserasi agar tidak
mengganggu

proses ekstraksi. Pengeringan ini bertujuan untuk proses

penyimpanan agar kerusakan akibat degradasi oleh mikroorganisme maupun


penguraian oleh enzim dapat diminimalkan. Sampel yang telah dihilangkan kadar
airnya cenderung mudah menyerap air sehingga perlu dilakukan penyimpanan
dalam tempat yang kedap udara.

4.3. Ekstraksi Buah Belimbing Wuluh dengan Metode Maserasi


Ekstraksi merupakan peristiwa pemindahan massa senyawa aktif yang
semula berada dalam sel ditarik oleh pelarut, sehingga terjadi larutan senyawa
aktif dalam pelarut tersebut (Ahmad, 2006). Metode ekstraksi yang digunakan
dalam penelitian ini adalah maserasi. Pemilihan metode maserasi dikarenakan
metode ini murah dan mudah dilakukan selain itu dikhawatirkan senyawa
flavonoid dan triterpenoid adalah golongan senyawa yang tidak tahan panas,
sehingga proses ekstraksi ini tidak dilakukan dengan metode soxhlet. Penggunaan
ekstraksi dengan metode soxhlet dapat menurunkan konsentrasi senyawa polifenol
(Cheong, et.al, 2005 dalam Hukmah, 2007).
Proses ekstraksi dilakukan dengan menggunakan pelarut etanol. Menurut
(Markham, 1988), aglikon flavonoid adalah polifenol dan karena itu mempunyai
sifat kimia senyawa fenol. Adanya sejumlah gugus hidroksil atau mempunyai

suatu gula, flavonoid juga bersifat polar dan karenanya cukup larut dalam pelarut
polar seperti etanol.
Proses maserasi dilakukan dengan cara sampel ditimbang kemudian
direndam dalam pelarut ethanol selama 72 jam ( 3) hari karena proses ekstraksi
akan berlangsung optimal dengan tersedianya waktu kontak yang cukup antara
pelarut dan sampel. Selama proses perendaman dilakukan beberapa kali
pengocokan menggunakan shaker dengan kecepatan 150 rpm selama 14 jam (2)
hari, agar kontak antara sampel dan pelarut semakin sering terjadi, sehingga
proses ekstraksi lebih sempurna. Larutan kemudian disaring dan diperolah filtrat
dari pelarut etanol dengan warna coklat tua. Robinson (1995) mengatakan bahwa
warna coklat tersebut merupakan indikasi adanya senyawa flavonoid yang larut
dalam pelarut polar.
Filtrat hasil penyaringan dipekatkan dengan rotary evaporator. Tujuannya
untuk menghilangkan pelarut yang digunakan selama maserasi. Hasil dari
pemekatan adalah ekstrak pekat yang berwarna coklat tua dan tekstur ekstrak
pekat berupa cairan kental.
Ekstrak pekat yang diperoleh selanjutnya dihidrolisis dengan HCl 15%
dengan tujuan untuk merubah flavonoid glikosida menjadi aglikonnya. Reaksi
yang mungkin terjadi adalah seperti Gambar 4.1.

H
O
O

OH
OH
HO

O
O

HO

H+
OH
OH
O
O

OH
OH

HO

O
H

OH
H
O

OH
OH
OH
OH
HO
HO

HO-G

-H

OH

OH
O
O

Gambar 4.1. Reaksi dugaan hidrolisis flavonoid glikosida dengan HCl

Ekstrak pekat yang telah dihidrolisis ini selanjutnya diekstraksi cair-cair


menggunakan corong pisah dengan pelarut air : kloroform (1:1) yakni untuk
mengambil senyawa-senyawa yang bersifat nonpolar (triterpenoid), ekstraksi di
ulangi hingga jernih untuk memaksimalkan proses pengambilan senyawa yang
bersifat non polar (Ata, 2010).
Penambahan pelarut air : kloroform (1:1) menyebabkan terbentuknya dua
fasa yaitu fasa air dan fasa organik. Masing-masing lapisan yaitu lapisan atas (fasa
air yang mengandung senyawa flavonoid) karena densitas air adalah 1kg/L dan

lapisan bawah (fasa organik yang mengandung senyawa triterpenoid) karena


densitas klorofm adalah 1,475-1,481 kg/L, kemudian dipekatkan dengan rotary
evaporator sehingga diperoleh ekstrak pekat yang di duga mengandung senyawa
flavonoid dan senyawa triterpenoid. Penambahan pelarut air:klorofm (1:1) ini
karena senyawa flavonoid yang ada dalam belimbing wuluh merupakan senyawa
yang bersifat polar. Suatu molekul bersifat polar apabila tersusun atas atom-atom
yang berbeda dan strukturnya tidak simetris. Kepolaran suatu molekul ditentukan
oleh harga momen dipolnya (). Suatu molekul bersifat polar bila > 0 atau 0
dan nonpolar bila = 0 (Effendy, 2006). Robinson (2005) menyatakan semakin
banyak gugus hidroksil suatu senyawa fenol memiliki tingkat kelarutan dalam air
dan pelarut polar semakin besar. Struktur senyawa flavonoid tersusun atas atomatom yang berbeda dan bentuknya tidak menyebabkan flavonoid bersifat non
polar, dan flavonoid memiliki gugus hidroksi lebih dari satu dan memiliki momen
dipol tidak sama dengan nol ( 0) yang menyebabkan flavonoid bersifat polar,
sehingga harus dilarutkan dengan pelarut yang bersifat polar. Kemudian
ditentukan nilai rendemennya yang bisa dilihat pada lampiran dan dilakukan
identifikasi senyawa flavonoid dan triterpenoid menggunakan Kromatografi Lapis
Tipis (Saadah, 2010).

4.4. Pemisahan Senyawa Flavonoid dan Triterpenoid dengan Kromatografi


Lapis Tipis (KLT)
Pendugaan secara kualitatif senyawa flavonoid dan triterpenoid dari buah
blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.) dilakukan dengan metode Kromatografi

Lapis Tipis (KLT). KLT merupakan metode pemisahan senyawa kimia dengan
menggunakan fasa diam (selulosa) dan fasa gerak (eluen).
Pemisahan menggunakan plat silika gel 60 F254 karena fasa diam
(adsorben) yang terdapat dalam plat ini berupa silika yang umumnya digunakan
untuk memisahkan senyawa alkaloid, zat warna, fenol, steroid, vitamin-vitamin,
karoten dan asam-asam amino. Sebelum digunakan plat silika gel 60 F254
diaktifasi terlebih dahulu pada suhu 100o C selama 15 menit. Penggunaan
berbagai macam komposisi eluen diharapkan mampu memisahkan komponenkomponen senyawa flavonoid yang terkandung dalam buah blimbing wuluh.
Ekstrak pekat flavonoid (fase air) dan triterpenoid (fase organik)
dilarutkan dalam etanol agar tidak terlalu pekat sehingga dapat terbawa eluen
dengan baik, kemudian ditotolkan (5-10) pada plat KLT pada jarak 1 cm dari garis
bawah menggunakan pipa kapiler, setelah itu diidentifikasi menggunakan uap
amonia untuk senyawa flavonoid karena dengan diuapi amonia berbagai
perubahan warna dapat terlihat seperti : flavon kelihatan berwarna kuning, kalkon
dan auron kelihatan berwarna merah jingga (Robinson, 2005) dan liebermenburchard untuk senyawa triterpenoid akan menghasilkan warna violet (Harborne,
1987). Noda yang terbentuk diperiksa dengan lampu UV pada panjang gelombang
254 nm untuk mengetahui secara jelas ada tidaknya spot yang terbentuk.
Hasil pemisahan ekstrak flavonoid dengan KLT menggunakan eluen
butanol-asam asetat glasial-air (BAA) dan metanolkloroform, dengan komposisi
meliputi BAA (4:1:5), BAA (6:1:2), dan metanol-kloroform (1:9), (1:19) dan
(1:39), sedangkan eluen triterpenoid yang digunakan adalah n-heksana-etil asetat

(1:1), metanol-klorofrm (1:10), n-heksana-diklorometana (1:9) dengan pereaksi


Lieberman-Burchard.sesuai pada Lampiran 3.9.
Penggunaan berbagai macam komposisi eluen ini diharapkan mampu
memisahkan senyawa flavonoid dan senyawa triterpenoid yang terkandung dalam
buah blimbing wuluh. Hasil pemisahan dengan KLT kualitatif menunjukkan
bahwa eluen dengan campuran metanol-kloroform (1:9) untuk senyawa flavonoid
mampu memberikan resolusi (pemisahan) terbaik, hal ini dapat dilihat dengan
adanya noda yang terpisah dengan baik dan warnanya sangat jelas dibandingkan
dengan campuran metanol-cloroform (1:19) dan metanol-cloroform (1:39) yang
warnanya kurang jelas. Pada eluen metanol-kloroform, metanol mempunyai sifat
yang polar dan efek elusinya kuat sedangkan kloroform mempunyai efek elusi
cukup kuat dengan sifat kurang polar. Laju rambat tergantung kepada sifat pelarut
(fase gerak) dan struktur lapisan (fase diam). Fase gerak yang digunakan
mempunyai sifat kurang polar dan sampel yang akan dipisahkan adalah aglikon
flavonoid yang juga bersifat kurang polar, sehingga kesamaan sifat antara fasa
gerak dan sampel dapat memberikan pemisahan terbaik.
Eluen dengan campuran BAA belum mampu memisahkan senyawa
flavonoid dalam buah blimbing wuluh karena eluen dengan campuran BAA
mempunyai sifat kepolaran yang tinggi, sedangkan senyawa flavonoid yang akan
dipisahkan mempunyai sifat kurang polar maka senyawa flavonoid tidak bisa
terpisah secara sempurna. Hal ini terbukti dengan adanya noda yang belum
terpisah dengan baik dan masih berhimpit. Dengan demikian eluen dengan

campuran metanol-klorofrm (1:9) digunakan dalam pemisahan senyawa flavonoid


dengan KLT preparatif.
Hasil pemisahan senyawa triterpenoid dengan KLT kualitatif yang
menggunakan eluen n-heksana-etil asetat (1:1), metanol-klorofrm (1:10), nheksana-diklorometana (1:9) menunjukkan terbentuknya 1 noda yang berwarna
lembayung (sebelum di semprot dengan

pereaksi Lieberman-Burchard) dan

warnanya hilang (setelah disemprot dengan pereaksi Lieberman-Burchard), hal ini


menunjukkan bahwa senyawa tersebut bukan senyawa triterpenoid melainkan
senyawa flavonoid dan diperkuat dari hasil uji reagen senyawa triterpenoid yang
memberikan warna coklat kekuningan, warna tersebut merupakan salah satu
indikator adanya senyawa flavonoid dan bukan senyawa triterpenoid, maka
ekstrak yang di duga mengandung triterpenoid ternyata tidak ditemukan adanya
senyawa triterpenoid pada uji KLT, hal ini diduga karena senyawa triterpenoid
bersifat non polar sedangkan pelarut ethanol (yang digunakan padasaat awal
maserasi) bersifat polar sehingga akan sangat sedikit senyawa triterpenoid yang
dapat terekstrak.
Hasil identifikasi dengan KLT golongan senyawa flavonoid dalam ekstrak
etanol dengan eluen metanol:klorofrm (1:9) menunjukkan terbentuknya 1 noda
yang menunjukkan bahwa pada ekstrak buah blimbing wuluh hanya terdapat satu
senyawa yakni senyawa flavonoid yang terpisah dibawah sinar UV dengan
panjang gelombang 254 nm . Hasil KLT dari pemisahan flavonoid ekstrak etanol
ini dapat ditunjukkan pada Gambar 4.1 dan Tabel 4.2

A
B
Gambar 4.2 Hasil pengamatan KLT senyawa flavonoid pada ekstrak etanol
dibawah sinar sinar UV pada panjang gelombang 254 nm (A)
sebelum diuapi amoniak dan (B) sesudah diuapi amoniak.

Berdasarkan hasil dari KLT analitik maka eluen metanol:kloroform (1:9)


memberikan pemisahan terbaik dengan memperlihatkan satu noda, hal ini
menunjukkan bahwa senyawa isolat hanya mampu memisahkan satu senyawa
yang diduga adalah senyawa flavonoid, diperkuat dengan dilakukan uji reagen
dari hasil ekstrak cair-cair untuk fasa air (flavonoid) dan fasa organik
(triterpenoid), untuk uji flavonoid

menghasilkan warna kuning yang

menunjukkan senyawa flavonoid, dan untuk uji triterpenoid menghasilkan warna


kuning yang menunjukkan bukan senyawa triterpenoid melainkan senyawa
flavonoid, hal ini di mungkinkan bahwa hasil ekstraksi pada buah blimbing wuluh
hanya mengandung satu senyawa yakni senyawa flavonoid.
Warna yang terdapat pada plat KLT menunjukkan adanya warna
lembayung dan tidak terjadi perubahan warna setelah diuapi amonia, maka

dimungkinkan pada hasil ekstrak buah blimbing wuluh terdapat senyawa


flavonoid golongan flavon, flavonol, isoflavon, dihidroflavonol, atau flavanon.

Tabel 4.1 Warna noda dengan eluen campuran metanol-clorofrm ( 1:9), dibawah
sinar UV 254 nm dan golongan flavonoid yang mungkin
Warna bercak dengan sinar UV
Jenis flavonoid yang
mungkin
Sinar UV tanpa NH3
Sinar UV dengan NH3
Lembayung gelap
a Biasanya flavon atau
Perubahan warna sedikit
flavonol tersulih pada 3atau tanpa perubahan
O mempunyai 5-OH
warna
tetapi tanpa 4-OH
bebas
b Beberapa 6- atau 8OH flavon dan flavonol
tersulih pada 3-O serta
mengandung 5-OH
c Isoflavon,
dihidroflavonol,
biflavonil, dan beberapa
flavanon yang
mengandung 5-OH
d Khalkon yang
mengandung 2- atau 6OH tetapi tidak
mengandung 2- atau 4OH bebas

Sumber : Markham, 1988

Dari Tabel 4.2 hal ini dipastikan bahwa buah blimbing wuluh mengandung
senyawa flavonoid golongan flavon, flavonol, isoflavon, dihidroflavonol, atau
flavanon.

Tabel 4.2 Harga Rf dan warna noda pada kromatogram hasil KLT kualitatif
dengan eluen metanol-kloroform (1:9)
Warna noda
Rf
Noda
Sinar UV
Amonia+ sinar UV
1

0,70

Lembayung

Lembayung

Sumber: Data penelitian, 2010

Reaksi yang terjadi antara senyawa flavonoid dengan amonia dapat ditulis
sebagai berikut:

Gambar 4.3 Reaksi antara senyawa flavonoid dengan NH3

Reaksi antara senyawa flavonoid dengan NH3 menunjukkan bahwa


senyawa flavonoid mempunyai 2 cincin (cincin A dan cincin B), pada cincin B
dari senyawa flavonoid yang mengikat gugus OH lebih cenderung mengikat NH3
(amonia) membentuk ONH4+. Karena gugus OH pada ruang cincin B lebih luas
(efek sterik) dari pada gugus O dicincin yang lain, sehingga lebih mudah mengikat
yang lain.

Hasil KLT Preparatif


Hasil pemisahan kromatografi lapis tipis preparatif hampir sama dengan
KLT kualitatif hanya berbeda pada kuantitas dari ekstrak yang digunakan. Dimana
pada KLT prepararif digunakan plat KLT silika gel dengan ukuran yang lebih
besar yaitu dengan ketebalan 1 mm, dan penotolan sepanjang garis plat KLT.
Pada KLTP digunakan eluen terbaik yang diperoleh dari hasil KLT sebelumnya
yaitu metanol-kloroform (1:9). Eluen tersebut mampu memisahkan ekstrak pekat
dengan baik yaitu ekstrak buah blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi L.)

terpisah

jelas. Noda yang dihasilkan pada uji KLT preparatif dikerok dan dilarutkan dalam
pelarut etnol karna hasil kerokan pada uji KLTP adalah senyawa flavonoid yang
bersifat polar . Kemudian diidentifikasi dengan spektrofotometri inframerah.

Gambar 4.4 Noda hasil KLTP ekstrak buah blimbing wuluh

Pada Gambar 4.4 ekstarak blimbing wuluh menghasilkan satu noda yang
terpisah secara sempurna. Berdasarkan perhitungan pada Lampiran 2.4 diperoleh
nilai Rf sebagai berikut

Tabel 4.3 Harga Rf dan warna noda hasil KLT preparatif dengan eluen
metanol-kloroform (1:9)
Warna noda
Rf
Noda
Sinar UV
Amonia+ sinar UV
1

0,70

Lembayung

Lembayung

Sumber: Data penelitian, 2010

4.5. Uji Antibakteri


Uji antibakteri yang digunakan adalah ekstrak etanol yang mengandung
senyawa aktif flavonoid. Flavonoid dapat berefek antibakteri melalui kemampuan
untuk membentuk kompleks dengan protein ekstraseluler dan protein yang dapat
larut serta dengan dinding sel bakteri (Robinson, 1995).
Uji antibakteri ini bertujuan untuk mengetahui efektifitas ekstrak buah
blimbing wuluh sebagai antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureus dan
E. Coli pada konsentrasi 450 mg/ml.
Pada media bakteri Staphylococcus aureus ekstrak dengan konsentrasi 450
mg/ml menunjukkan diameter zona hambat sebesar 3,60 mm, dan untuk bakteri E.
Coli menunjukkan diameter zona hambat sebesar 0,92 mm. Kenyataan ini
menunjukkan bahwa pada konsentrasi 450 mg/ml bakteri Staphylococcus aureus
mempunyai zona hambat lebih besar daripada bakteri E. Coli, karena flavonoid
merupakan senyawa yang cenderung bersifat polar, kepolaran senyawa inilah
yang mengakibatkan senyawa lebih mudah menembus dinding sel bakteri
Staphylococcus aureus karena struktur dinding sel bakteri ini berlapis tunggal dan
tersusun atas peptidoglikan (protein dan gula) serta lipid dengan kadar rendah (1-4
%), sehingga ekstrak etanol lebih mudah menembus dinding sel bakteri ini.

Dinding sel bakteri E.coli lebih sulit ditembus senyawa yang bersifat polar karena
struktur dinding sel bakteri ini berlapis tiga yang tersusun atas peptidoglikan dan
lipid dengan kadar yang tinggi (11-22 %), sehingga ekstrak etanol lebih sulit
menembus dinding sel bakteri ini (Latifah, 2008).

Tabel 4.4 Hasil Uji Efektifitas Antibakteri dari fraksi aktif flavonoid
Cakram
Diameter zona hambat
Rata-rata zona hambat
(mm)
I
II
III
Staphylococcus
4,03
3,36
3,42
3,60
aureus
Penisillin
0,38
0,25
0,36
0,33
E,coli
1,06
0,88
0,83
0,92
streptomycin
0,02
0,08
0,06
0,05
Sumber: Data hasil penelitian.

Hasil uji efektifitas antibakteri dari fraksi aktif flavonoid (Tabel 4.5)
menunjukkan zona hambat dari fraksi aktif flavonoid lebih besar daripada zona
hambat kontrol positif, hal ini menunjukkan bahwa fraksi aktif flavonoid lebih
efektif menghambat bakteri staphylococcus aureus dan E.coli dari pada kontrol
positif, diduga karena konsentrasi yang digunakan untuk uji kontrol positif kecil,
yakni pada konsentrasi 10 mg/ml sehinga zona hambat yang dihasilkan pada
kontrol positif sangat kecil.
Apabila hasil di atas (Tabel 4.5) dikaitkan dengan ketentuan kekuatan
antibakteri yang dikemukakan oleh David Scout, maka kekuatan antibakteri yang
terkandung dalam fraksi aktif flavonoid masuk dalam kategori lemah (masuk
dalam kisaran 5 mm). Hal ini diduga karena kandungan senyawa yang
berpotensi sebagai antibakteri pada ketiga ekstrak tersebut hanya sedikit, sehingga

kemampuannya untuk menghambat pertumbuhan bakteri masih sangat lemah


(latifah,2008).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya hambat fraksi aktif flavonoid
lebih tinggi terhadap bakteri Staphylococcus aureus (gram positif) dibandingkan
bakteri E. Coli (gram negatif), hal ini ditunjukkan oleh nilai diameter zona hambat
terhadap bakteri Staphylococcus aureus yang secara umum lebih besar daripada
bakteri E,Coli . Zakaria et al, (2007) juga mengatakan bahwa ekstrak buah
blimbing wuluh lebih efektif untuk bakteri gram positif dibandingkan bakteri
gram negatif.
Kontrol negatif digunakan untuk mengetahui apakah pelarut yang
digunakan juga memiliki potensi menghambat bakteri. Kontrol negatif yang
digunakan adalah ethanol dan berdasarkan hasil penelitian ini ethanol tidak
memiliki sifat menghambat kedua bakteri uji karena tidak terbentuk zona bening
disekitar cakram, sehingga zona hambat yang terbentuk dari konsentrasi 450
mg/ml murni dari ekstrak flavonoid, tidak ada pengaruh dari pelarut.

4.6. Identifikasi dengan Spektrofotometer FTIR


Spektrofotometer FTIR merupakan suatu metode identifikasi gugus fungsi
dari suatu senyawa berdasarkan perbedaan momen dipol. Bilangan gelombang
yang sering digunakan dalam analisis senyawa bahan alam yaitu di daerah IR
tengah (4000-400 cm-1). Hasil spektra identifikasi senyawa flavonoid dengan
spektrofotometer FTIR dapat dilihat pada Gambar 4.5

Gambar 4.5 Spektra IR dari hasil isolasi dengan KLT preparatif

Spektra tersebut dijelaskan secara rinci pada Tabel 4.6

Tabel 4.6 Interpretasi Spektra FTIR dari Isolat


Bilangan gelombang ekstrak
Range
Jenis vibrasi
Intensitas
Flavonoid (cm-)
(cm-1)
1
3397,38
3500-3000
Rentangan
m-s
asimetri OH
2
2975,96
3000-2850
Rentangan CH
m-w
alifatik
3
2891,10
2900-2800
C-H simetri
s
4
2413,75
3000-2900
CO2 (udara)
w
5
2142,77
2250-2100
Rentangan C=C
w-m
6
1925,79
2000-1660 Overtone aromatic
w
7
1648,06
1670-1640
C=O
vs
8
1536,20 ; 1449, 41 ; 1413,72 1630-1400 Rentangan cincin
s-m
aromatic
9
1386,72 ; 1327,90
1450-1375
CH3 bending
m-s
simetri
10
1275,82
1280-1220
R-O-Ar (eter
s
aromatik)
11
1085,85; 1048,24
1300-1000
C-O alkohol
s
sekunder
12
880,44 ; 645,14 ; 435,85
900-690
C-H out plane, pw-m
substitusi benzen
Keterangan: vs = very strong; s = strong; m = medium; w = weak
Puncak

Hasil identifikasi gugus fungsi menggunakan spektrofotometer FTIR


menunjukkan bahwa isolat hasil pemisahan dengan KLT preparatif mengandung
gugus fungsi OH dari gugus alkohol yang terikat pada gugus alifatik dan
aromatik. Puncak serapan sangat lebar terbentuk pada bilangan gelombang
3397,38 cm-1 sebagai akibat dari vibrasi ikatan hidrogen intramolekul
(Sastrohamidjojo, 2001). Gugus OH ditunjukkan dengan serapan tajam pada
daerah 3397,38 cm-1 yang didukung dengan munculnya serapan pada daerah
1085,85 cm-1: 1048,24 cm-1 untuk ikatan C-O alkohol sekunder. Rentangan C-H
alifatik muncul pada daerah 2975,96 cm-1. Vibrasi ulur C-H simetri terdapat pada
serapan tajam di 2891,10 cm-1, yang diperkuat adanya tekuk =C-H pada 1536,20
cm-1, 1449, 41 cm-1 dan 1413,72 cm-1. Gugus vibrasi ulur C=O karbonil muncul
pada serapan 1648,06 cm-1 dan vibrasi pada serapan 1648,06 cm-1 menunjukkan
adanya pita kerangka C=C yang dipekuat dengan adanya vibrasi ulur C-O eter
pada 1275,82 cm-1. Sedangkan daerah serapan 880,44 cm-1; 645,14 cm-1; 435,85
cm-1 menunjukkan C-H keluar bidang yang berarti ada benzena tersubstitusi pada
cincin aromatik. Adanya benzena ini memperkuat dugaan bahwa pada isolat hasil
pemisahan dengan KLT preparatif mengandung senyawa flavonoid.
Hasil analisis spektrofotometer FTIR menunjukkan bahwa isolat hasil
pemisahan dengan KLT preparatif mempunyai puncak-puncak spesifik senyawa
flavonoid seperti gugus fungsi OH, C-H, C=O, C-O, =C-H dan C=C (cincin
benzena).

4.7. Pemanfaatan Belimbing Wuluh dalam Perspektif Islam


Manusia diberikan kesempatan yang luas untuk mengambil manfaat dari
alam semesta, salah satunya dengan memanfaatkan tumbuhan sebagai obat. Allah
berfirman:

( r&u yr& 2's? %Yy / ls f9$# F{$# n<) u!$y9$# n $r& (#tt s9ur&
t7 sr&
"Dan apakah mereka tidak memperhatikan, bahwasanya Kami menghalau
(awan yang mengandung) air ke bumi yang tandus, lalu Kami tumbuhkan
dengan air hujan itu tanaman yang daripadanya makan hewan ternak mereka
dan mereka sendiri. Maka apakah mereka tidak memperhatikan? ". (Q.S. AlSajadah: 27).

Ayat di atas menjelaskan bahwa berbagai tumbuhan diciptakan oleh Allah untuk
kepentingan manusia. Manusia tidak dibenarkan hanya menikmati apa yang
diciptakan oleh Allah tanpa mau berfikir dan berusaha untuk meningkatkan nilai
tambah ciptaan-Nya serta mengembangkannya menjadi suatu ilmu pengetahuan
Belimbing

wuluh

merupakan

salah

satu

tumbuhan

yang

dapat

dimanfaatkan sebagai obat. Hal ini telah dibuktikan dengan hasil penelitian
(Latifah, 2008), identifikasi dan uji efektifitas senyawa aktif antibakteri pada
buah belimbing wuluh, hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak kasar buah
belimbing wuluh mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dan E. Coli penyebab diare.
Hasil penelitian isolasi senyawa antibakteri menunjukkan bahwa ekstrak
buah blimbing wuluh mampu menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus
aureus dengan zona hambat sebesar 3,60 mm, sedangkan untuk bakteri E. Coli

mempunyai zona hambat sebesar 0,92 mm. Efek farmologi dari buah blimbing
wuluh ini kemungkinan disebabkan oleh salah satu atau gabungan beberapa
senyawa kimia yang terkandung di dalamnya seperti: senyawa golongan
flavonoid. Hal ini ditunjukkan oleh terbentuknya warna lembayung pada uji KLT
dan didukung oleh hasil identifikasi FTIR yang

menunjukkan adanya gugus

fungsi OH, C-H, C=O, C-O, =C-H dan C=C (cincin benzena).
Blimbing

wuluh

mengandung

senyawa

flavonoid

yang

banyak

dimanfaatkan sebagai anti karsinogenik, anti alergi, menghambat pertumbuhan


tumor, antimikroba dan sering digunakan untuk pengobatan tradisional (Harborne,
1988), dan juga senyawa triterpenoid yang banyak dimanfaatkan sebagai obat
penyakit diabetes, gangguan menstruasi, patukan ular, gangguan kulit, kerusakan
hati dan malaria serta menunjukkan aktifitas antibakteri atau antivirus (Robinson,
1995).
Pemanfaatan buah belimbing wuluh sebagai obat bukanlah sesuatu yang
melanggar syariat Islam, bahkan hal ini merupakan suatu upaya untuk mengikuti
sunnah Nabi. Kita dianjurkan untuk mengamalkan pengobatan, sesuai sabda
Rasulullah SAW: Wahai hamba-hamba Allah berobatlah kalian karena tidaklah
Allah Azza wa jalla menimpakan suatu macam penyakit kecuali telah Dia
ciptakan obat untuknya, kecuali satu macam penyakit. Mereka bartanya: Apa
penyakit itu? jawab Beliau: Penyakit tua (pikun). (HR. Ahmad, Ibnu Majah,
Abu Daud, dan At- Tirmizi).

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
1. Eluen terbaik dari ekstrak buah blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi.L) yang
berpotensi sebagai anti bakteri Staphylococcus aureus dan E.coli adalah eluen
metanol-kloroform (1:9).
2. Fraksi aktif yang berpotensi sebagai antibakteri Staphylococcus aureus dan E.
coli pada buah blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi. L) diduga adalah senyawa
flavonoid.

5.2 Saran
Perlu adanya penelitian lebih lanjut tentang isolasi menggunakan metode
pemisahan yang lain seperti HPLC dan penentuan struktur senyawa flavonoid dari
buah blimbing wuluh (Averrhoa bilimbi.L) yang efektif sebagai antibakteri
Staphylococcus aureus dan E. coli dengan metode spektroskopi lainnya seperti
MS dan NMR.

LAMPIRAN

Lampiran 1. Skema Kerja


1. Diagram Alir Penelitian
Buah Blimbing Wuluh
- preparasi sampel
- dianalisa kadar air
Sampel
- diekstraksi dengan metode maserasi
- dipekatkan dengan rotary evaporator
Ekstrak pekat
- dilakukan KLT Analitik
- dilakukan KLT Preparatif

Isolat-isolat
- dilakukan uji antibakteri
- diidentifikasi dengan spektrofotometer FTIR
Data

Keterangan:
- Uji antibakteri menggunakan konsentrasi 450 mg/ml

2. Preparasi Sampel
5 kg Buah Blimbing Wuluh
-

dicuci bersih
diiris tipis
dikeringkan dalam oven pada suhu 37-40 0C
dihaluskan menjadi serbuk

Sampel

3. Analisis Kadar Air


Sampel
-

dipotong kecil-kecil
dimasukkan ke dalam cawan yang telah diketahui berat konstannya
ditimbang sekitar 5 g
dikeringkan di dalam oven pada suhu 100-105 C selama sekitar 1 jam
didinginkan dalam desikator
ditimbang
dipanaskan kembali dalam oven 20 menit
didinginkan dalam desikator dan ditimbang kembali
diulangi perlakuan ini sampai tercapai berat konstan
dihitung kadar airnya menggunakan rumus berikut:
(b c )
Kadar air =
100%
(b a )
Keterangan: a = berat konstan cawan kosong
b = berat cawan + sampel sebelum dikeringkan
c = berat konstan cawan + sampel setelah dikeringkan
100
Faktor koreksi =
100 % kadar air
% Kadar air terkoreksi = Kadar air Faktor koreksi
- dilakukan 3 kali pengulangan

Hasil

4. Ekstraksi Buah Blimbing Wuluh dengan Metode Maserasi

50 gr serbuk blimbing wuluh

residu

direndam dengan pelarut etanol sebanyak 250 ml


dibiarkan pada suhu kamar selama 72 jam
dikocok
disaring

filtrat
- dipekatkan dengan rotary evaporator
Ekstrak pekat
- diidrolisis dengan HCl 15 %
- diekstraksi cair-cair dengan pelarut air:kloroform
(1:1) secara bertahap menggunakan corong pisah
sehingga terbentuk dua lapisan

Lapisan klooform

Lapisan air

- dipekatkan dengan rotary evaporator


- ditentukan nilai rendemen
Ekstrak pekat

5. Pemisahan Ekstrak Buah Blimbing Wuluh dengan KLT Analitik

Ekstrak Pekat
- dilarutkan dalam etanol
- ditotolkan ditepi plat silika gel 2x 10 cm2 pada jarak 1 cm di tepi
bawah
- dikeringkan plat dan dielusi sejauh 8 cm dengan fase gerak untuk
flavonoid adalah BAA (4:1:5), BAA (6:1:2), dan metanolkloroform (1:9), (1:19) dan (1:39), sedangkan triterpenoid adalah
n-heksana-etil asetat (1:1), metanol-kloroform (1:10), n-heksanadiklorometana (1:9)
- dikeringkan dan diuapkan dalam amoniak(flavonoid) dan
pereaksi
Lieberman-Burchard(triterpenoid)
- diamati kromatogram dengan lampu UV
- diamati warnanya dan nodanya
Hasil

6. Pemisahan Ekstrak dengan KLT Preparatif


Ekstrak pekat
- dilarutkan dalam etanol
- ditotolkan sepanjang plat silika gel 5x 20 cm2 pada jarak 1 cm di
tepi bawah.
- dikeringkan plat dan dielusi sejauh 15 cm dengan fase gerak yang
memberikan pemisahan terbaik pada KLT analitik
- dikeringkan dan diuapkan dengan amoniak(flavonoid) dan pereaksi
Lieberman-Burchard(triterpenoid)
- diamati kromatogram dengan lampu UV
- diamati warnanya dan dihitung Rf-nya
- dikerok kemudian dilarutkan dalam pelarut etanol
- disentrifuge
- dipekatkan dengan desikator vakum
Hasil

7. Penyiapan Media
2 g nutrient agar
- dilarutkan dalam 100 mL akuades
- dipanaskan sampai mendidih
- dimasukkan dalam 7 tabung reaksi (5 tabung berisi 10 mL untuk uji
antibakteri dan 2 tabung berisi 5 mL untuk peremajaan) dan ditutup
dengan kapas
- disterilkan dalam otoklaf pada suhu 121 oC selama 15 menit
- diletakkan dalam posisi miring selama 24 jam pada suhu kamar
Media agar padat miring

8. Peremajaan Biakan Murni S.aureus dan E.coli

Biakan murni bakteri


- digoreskan jarum ose pada media padat agar miring secara
aseptis
- tabung reaksi ditutup dengan kapas
- diinkubasi pada suhu 25 oC selama 48 jam diambil satu
Larutan biakan murni

9. Pembuatan Larutan Bakteri S. Aureus dan bakteri E.coli


Hasil peremajaan biakan murni S.
aureus dan E. coli
-

Diambil 1 ose
Dilarutkan masing-masing dalam 10 ml akuades steril

Data hasil pengukuran

10. Uji Efektivitas Antibakteri

Media agar padat berisi


10 ml
- dipanaskan hingga mencair
- didinginkan sampai suhu 40 oC
- ditambahkan 0,1 mL masing-masing dari larutan bakteri dan
dihomogenkan
- dibiarkan hingga memadat
Media bakteri
- dipasangi kertas cakram yang telah direndamkan dalam kontrol dan
isolat
- diinkubasi pada suhu 25 oC selama masa pertumbuhan optimum
masing-masing bakteri
- diamati pertumbuhan bakteri dan diukur diameter zona hambatannya

Hasil

11.

Identifikasi

Senyawa

Flavonoid

dan

Spektrofotometer FTIR
Isolat terbaik

- diteteskan pada pellet KBr


- dikeringkan
- dianalisis dengan spektrofotometer FTIR
Hasil

Triterpenoid

dengan

Lampiran 2. Pembuatan Reagen dan Perhitungan


L.2.1. Pembuatan reagen Lieberman-Burchard
Asam sulfat pekat

5 mL

Anhidrida asetat

5 mL

Etanol absolut

50 mL

Cara pembuatannya adalah asam sulfat pekat 5 mL dan anhidrida asetat 5 mL


dicampur ke dalam etanol absolut 50 mL, kemudian didinginkan dalam
lemari pendingin. Penggunaan reagen ini digunakan langsung setelah
pembuatan (Wagner, 2001: 359-364).

L. 2.2. Pembuatan HCl 15 %


M 1 x V1

= M2 x V2

37 % x V1 = 15 % x 10 mL
V1

= 4 mL

Cara pembuatannya adalah dipipet larutan HCl pekat 37 % sebanyak 4 mL


kemudian dimasukkan dalam labu ukur 10 mL yang berisi 5 mL aquades.
Selanjutnya ditambahkan aquades sampai tanda batas dan dikocok hingga
homogen.

L.2.3. Perhitungan Rendemen Sampel Kering

Rendemen

bobot sampel ker ing


x 100 %
bobot sampel awal

179 g
x 100 %
11000 g

= 1,63 %

L.2.4 Perhitungan harga Rf

Eluen n-butanol : Asam asetat : Air (BAA) (4:1:5)


Harga Rf =

Jarak yang ditempuh senyawa


Jarak yang ditempuh pelarut

Harga Rf =

2,9
8,4

= 0,34

Eluen n-butanol : Asam asetat : Air (BAA) (6:1:2)


Harga Rf =

Jarak yang ditempuh senyawa


Jarak yang ditempuh pelarut

Harga Rf =

5,8
8,4

= 0,69

Eluen methanol-clorofrm (1:9)


Harga Rf =

Jarak yang ditempuh senyawa


Jarak yang ditempuh pelarut

Harga Rf =

3,7
8,4

= 0,44

Eluen methanol-clorofrm (1:19)


Harga Rf =

Jarak yang ditempuh senyawa


Jarak yang ditempuh pelarut

Harga Rf =

6,0
8,4

= 0,71

Eluen methanol-clorofrm (1:39)


Harga Rf =

Jarak yang ditempuh senyawa


Jarak yang ditempuh pelarut

Harga Rf =

0,8
8,4

= 0,09

Lampiran 3. Dokumentasi Penelitian


L.3.1 Gambar irisan buah blimbing wuluh segar dan yang sudah
dikeringkan

L.3.2 Gambar buah blimbing wuluh yang sudah di haluskan (sampel)

L.3.3 Gambar maserasi buah blimbing wuluh menggunakan pelarut ethanol

L.3.4 Gambar maserasi dan dishaker

L.3.4 Gambar ekstrak pekat hasil rotary evaporator

L.3.5 Gambar ekstraksi cair-cair menggunakan air:klorofrm

L.3.6 Gambar ekstrak pekat hasil ekstraksi cair-cair

Flavonoid

Triterpenoid

L.3.7 Gambar hasil uji kualitatif dengan reagen (uji triterpenoid)

L.3.8 Gambar hasil uji kualitatif dengan reagen (flavonoid)

L.3.9. Gambar hasil KLTA menggunakan eluen campuran yang disinari


dengan lampu UV 254 nm

BAA (4:1:5) BAA (6:1:2)

M-C (1:9)

M-C (1:39)

M-C (1:19)

L.3.10. Gambar hasil KLT preparatif menggunakan eluen methanol-clorofrm


(1:9) yang disinari dengan lampu UV 254 nm

L.3.11. Gambar hasil uji efektivitas antibakteri dari ekstrak buah blimbing
wuluh
-

Bakteri stapyloccocus aureus

- Bakteri E. colli

L.3.12 Gambar hasil uji kontrol positif pinicillin terhadap bakteri


Stapylococcus aureus dan streptomycin terhadap bakteri E.cili

L.3.13 Gambar hasil uji kontrol negatif menggunakan ethanol

L.3.14 Gambar Hasil Spektra IR dari Hasil KLT Preparatif