Anda di halaman 1dari 39

LILO

LI1. Memahami dan Menjelaskan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
LI2. Memahami dan Menjelaskan Status Gizi Anak dan Ibu Hamil
LI3. Memahami dan Menjelaskan RISKESDAS
LI4. Memahami dan Menjelaskan Gaya Hidup yang Mencerminkan Hidup Sehat
LI5. Memahami dan Menjelaskan PHBS Menurut Pandangan Islam

LI1. Memahami dan Menjelaskan Pola Hidup Bersih dan Sehat (PHBS)
a. Definisi
Perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) adalah sekumpulan perilaku yang
dipraktikkan atas dasar kesadaran sebagai hasil pembelajaran yang menjadikan
seseorang atau keluarga dapat menolong diri sendiri di bidang kesehatan dan
berperan aktif dalam mewujudkan kesehatan masyarakatnya.
Menurut Lawrence Green (1980), dalam Notoatmodjo (2007), dalam Jariston
(2009), ada tiga faktor penyebab mengapa seseorang melakukan perilaku hidup
bersih dan sehat yaitu:
1.
Faktor Pemudah (Predisposing factors)
Faktor ini mencakup pengetahuan dan sikap anak-anak terhadap perilaku
hidup bersih dan sehat.Dimana faktor ini menjadi pemicu atau antesenden
terhadap perilaku yang menjadi dasar atau motivasi bagi tindakannya akibat
tradisi, kebiasaan, kepercayaan, tingkat pendidikan, dan tingkat sosial
ekonomi.
2.
Faktor pemungkin (enambling factors)
Faktor pemicu teradap perilaku yang memungkinkan suatu motivasi atau
tindakan terlaksana.Faktor ini mencakup ketersediaan sarana dan prasarana
atau fasilitas kesehatan bagi anak-anak, misalnya air bersih, tempat
pembuangan sampah, jamban, ketersediaan makanan bergizi, dan
sebagainya.Fasilitas ini pada hakikatnya mendukung atau memungkinkan
terwujudnya perilaku hidup bersih dan sehat.
3.
Faktor penguat (reinforcing factors)
Faktor yang menentukan apakah tindakan kesehatan memperoleh dukungan
atau tidak.Faktor ini terwujud dalam bentuk sikap dan perilaku pengasuh
anak-anak atau orangtua yang merupakan tokoh yang dipercaya atau dipanuti
anak-anak.Contoh pengasuh anak-anak memberikan keteladanan dengan
melakukan cuci tangan sebelum makan atau selalu minum air yang sudah
dimasak. Maka hal ini akan menjadi penguat untuk perilaku hidup bersih dan
sehat bagi anak-anak.
Tujuan PHBS:
1. Tujuan Umum
Meningkatnya rumah tangga sehat di desa kabupaten/kota di seluruh
Indonesia.
2. Tujuan Khusus
Meningkatkan pengetahuan, kemauan dan kemampuan anggota rumah
tangga untuk melaksanakan PHBS.
Berperan aktif dalam gerakan PHBS di masyarakat.
Manfaat PHBS:
1. Manfaat PHBS bagi rumah tangga:
a. Setiap rumah tangga meningkatkan kesehatannya dan tidak mudah sakit.
b. Anak tumbuh sehat dan cerdas.
2

c. Produktivitas kerja anggota keluarga meningkat dengan meningkatnya


kesehatan anggota rumah tangga maka biaya yang dialokasikan untuk
kesehatan dapat dialihkan untuk biaya investasi seperti biaya pendidikan,
pemenuhan gizi keluarga dan modal usaha untuk peningkatan pendapatan
keluarga.
2. Manfaat PHBS bagi masyarakat:
a. Masyarakat mampu mengupa yakan lingkungan yang sehat.
b. Masyarakat mampu mencegah dan menanggulangi masalah-masalah
kesehatan.
c. Masyarakat memanfaatkan pelayanan kesehatan yang ada.
d. Masyarakat mampu mengembangkan Upaya Kesehatan Bersumber
Masyarakat (UKBM) seperti
3. posyandu, jaminan pemeliharaan kesehatan, tabungan bersalin (tabulin),
arisan jamban, kelompok
4. pemakai air, ambulans desa dan lain-lain.
Strategi PHBS
Strategi adalah cara atau pendekatan yang dilakukan untuk mencapai tujuan PHBS.
Kebijakan Nasional Promosi Kesehatan telah menetapkan tiga strategi dasar
promosi kesehatan dan PHBS yaitu:
1.
Gerakan Pemberdayaan (Empowerment)
Pemberdayaan adalah proses pemberian informasi secara terus-menerus dan
berkesinambungan mengikuti perkembangan sasaran, serta proses membantu
sasaran agar sasaran tersebut berubah dari tidak tahu menjadi tahu atau sadar
(aspek knowledge), dari tahu menjadi mau (aspek attitude), dan dari mau
menjadi mampu melaksanakan perilaku yang diperkenalkan (aspek practice).
Sasaran utama dari pemberdayaan adalah individu dan keluarga serta
kelompok masyarakat. Bilamana sasaran sudah pindah dari mau ke mampu
melaksanakan boleh jadi akan terkendala oleh dimensi ekonomi. Dalam hal
ini kepada yang bersangkutan dapat diberikan bantuan langsung, tetapi yang
sering kali dipraktikkan adalah dengan mengajaknya ke dalam proses
pengorganisasian masyarakat (community organization) atau pembangunan
masyarakat (community development). Untuk itu sejumlah individu yang
telah mau dihimpun dalam suatu kelompok untuk bekerjasama memecahkan
kesulitan yang dihadapi.Tidak jarang kelompok ini pun masih juga
memerlukan bantuan dari luar (misalnya dari pemerintah atau dari
dermawan).Disinilah letak pentingnya sinkronisasi promosi kesehatan dan
PHBS dengan program kesehatan yang didukungnya.
2.
Bina Suasana (Social Support)
Bina suasana adalah upaya menciptakan lingkungan sosial yang mendorong
individu anggota masyarakat untuk mau melakukan perilaku yang
diperkenalkan. Seseorang akan terdorong untuk mau melakukan sesuatu
apabila lingkungan sosial dimanapun ia berada (keluarga di rumah, orangorang yang menjadi panutan/idolanya, kelompok arisan, majelis agama, dan
bahkan masyarakat umum) menyetujui atau mendukung perilaku tersebut.
3

3.

Oleh karena itu, untuk mendukung proses pemberdayaan masyarakat


khususnya dalam upaya meningkatkan para individu dari fase tahu ke fase
mau, perlu dilakukan Bina Suasana. Terdapat tiga pendekatan dalam Bina
Suasana yaitu: pendekatan individu, pendekatan kelompok, dan pendekatan
masyarakat umum.
Pendekatan Pimpinan (Advocacy)
Advokasi adalah upaya atau proses yang strategis dan terencana untuk
mendapatkan komitmen dan dukungan dari pihak-pihak yang terkait
(stakeholders). Pihak-pihak yang terkait ini bisa brupa tokoh masyarakat
formal yang umumnya berperan sebagai penentu kebijakan pemerintahan dan
penyandang dana pemerintah. Juga dapat berupa tokoh-tokoh masyarakat
informal seperti tokoh agama, tokoh pengusaha, dan yang lain yang
umumnya dapat berperan sebagai penentu kebijakan (tidak tertulis)
dibidangnya dan atau sebagai penyandang dana non pemerintah. Perlu
disadari bahwa komitmen dan dukungan yang diupayakan melalui advokasi
jarang diperoleh dalam waktu yang singkat. Pada diri sasaran advokasi
umumnya berlangsung tahapan-tahapan yaitu: a) mengetahui atau menyadari
adanya masalah, b) tertarik untuk ikut mengatasi masalah, c) peduli terhadap
pemecahan masalah dengan mempertimbangkan berbagai alternatif
pemecahan masalah, d) sepakat untuk memecahkan masalah dengan memilih
salah satu alternatif pemecahan masalah, dan e) memutuskan tindak lanjut
kesepakatan.
b. Jenis

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Rumah Tangga


PHBS di Rumah Tangga adalah upaya untuk memberdayakan anggota rumah
tangga agar tahu, mau dan mam-pu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat
serta berperan aktif dalam gerakan kesehatan di masyarakat.
PHBS di Rumah Tangga dilakukan untuk mencapai Rumah Tangga ber PHBS yang
melakukan 10 PHBS yaitu :
1. Persalinan ditolong oleh tenaga kesehatan
2. Memberi ASI ekslusif
3. Menimbang balita setiap bulan
4. Menggunakan air bersih
5. Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun
6. Menggunakan jamban sehat
7. Memberantas jentik dd rumah sekali seminggu
8. Makan buah dan sayur setiap hari
9. Melakukan aktivitas fisik setiap hari
10.Tidak merokok di dalam rumah
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Institusi Kesehatan
4

PHBS di Institusi Kesehatan adalah


masyarakat pengunjung dan petugas
mempraktikkan Perilaku Hidup Bersih
mewujudkan Institusi Kesehatan Sehat
institusi kesehatan.

upaya untuk memberdayakan pasien,


agar tahu, mau dan mampu untuk
dan Sehat dan berperan aktif dalam
dan mencegah penularan penyakit di

Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di
Institusi Kesehatan yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menggunakan air bersih


Menggunakan Jamban
Membuang sampah pada tempatnya
Tidak merokok di institusi kesehatan
Tidak meludah sembarangan
Memberantas jentik nyamuk

Perilaku Hidup bersih dan Sehat (PHBS) di Sekolah


PHBS di Sekolah adalah sekumpulan perilaku yang dipraktikkan oleh peserta didik,
guru dan masyarakat lingkungan sekolah atas dasar kesadaran sebagai hasil
pembelajaran, sehingga secara mandiri mampu mencegah penyakit, meningkatkan
kesehatannya, serta berperan aktif dalam mewujudkan lingkungan sehat.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di
sekolah yaitu :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Mencuci tangan dengan air yang mengalir dan menggunakan sabun


Mengkonsumsi jajanan sehat di kantin sekolah
Menggunakan jamban yang bersih dan sehat
Olahraga yang teratur dan terukur
Memberantas jentik nyamuk
Tidak merokok di sekolah
Menimbang berat badan dan mengukur tinggi badan setiap 6 bulan
Membuang sampah pada tempatnya

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat Kerja


PHBS di Tempat kerja adalah upaya untuk memberdayakan para pekerja agar tahu,
mau dan mampu mempraktikkan perilaku hidup bersih dan sehat serta berperan
aktif dalam mewujudkan Tempat Kerja Sehat.
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat kerja antara lain :
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.

Tidak merokok di tempat kerja


Membeli dan mengkonsumsi makanan dari tempat kerja
Melakukan olahraga secara teratur/aktifitas fisik
Mencuci tangan dengan air bersih dan sabun sebelum makan dan sesudah buang
air besar dan buang air kecil
Memberantas jentik nyamuk di tempat kerja
Menggunakan air bersih
Menggunakan jamban saat buang air kecil dan besar
Membuang sampah pada tempatnya
Mempergunakan Alat Pelindung Diri (APD) sesuai jenis pekerjaan

Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) di Tempat - tempat Umum


PHBS di Tempat-tempat Umum adalah upaya untuk memberdayakan masyarakat
pengunjung dan pengelola tempat umum agar tahu, mau dan mampu untuk
mempraktikkan PHBS dan berperan aktif dalam mewujudkan tempat Umum Sehat.
Tempat Umum adalah sarana yang diselenggarakan oleh pemerintah/swasta, atau
perorangan yang digunakan untuk kegiatan bagi masyarakat seperti sarana
pariwisata, transportasi, sarana ibadah, sarana perdagangan dan olahraga, rekreasi
dan sarana sosial lainnya.
Ada beberapa indikator yang dipakai sebagai ukuran untuk menilai PHBS di Tempat
- Tempat Umum yaitu :
6

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Menggunakan air bersih


Menggunakan jamban
Membuang sampah pada tempatnya
Tidak merokok di tempat umum
Tidak meludah sembarangan
Memberantas jentik nyamuk

LI2. Memahami dan Menjelaskan Status Gizi Anak dan Ibu Hamil
Pengertian Status Gizi
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk anak yang
diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga didefinisikan
sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara kebutuhan dan
masukan nutrien.Penelitian status gizi merupakan pengukuran yang didasarkan pada
data antropometri serta biokimia dan riwayat diit (Beck, 2000: 1).
Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Status Gizi
1. Faktor External
Faktor eksternal yang mempengaruhi status gizi antara lain:
Pendapatan Masalah gizi karena kemiskinan indikatornya adalah taraf
ekonomi keluarga, yang hubungannya dengan daya beli yang dimiliki
keluarga tersebut (Santoso, 1999).
Pendidikan Pendidikan gizi merupakan suatu proses merubah
pengetahuan, sikap dan perilaku orang tua atau masyarakat untuk
mewujudkan dengan status gizi yang baik (Suliha, 2001).
Pekerjaan Pekerjaan adalah sesuatu yang harus dilakukan terutama untuk
menunjang kehidupan keluarganya. Bekerja umumnya merupakan kegiatan
yang menyita waktu. Bekerja bagi ibu-ibu akan mempunyai pengaruh
terhadap kehidupan keluarga (Markum, 1991).
Budaya Budaya adalah suatu ciri khas, akan mempengaruhi tingkah laku
dan kebiasaan (Soetjiningsih, 1998).
2. Faktor Internal
Faktor Internal yang mempengaruhi status gizi antara lain :
Usia Usia akan mempengaruhi kemampuan atau pengalaman yang
dimiliki orang tua dalam pemberian nutrisi anak balita (Nursalam, 2001).
Kondisi Fisik Mereka yang sakit, yang sedang dalam penyembuhan dan
yang lanjut usia, semuanya memerlukan pangan khusus karena status
kesehatan mereka yang buruk. Bayi dan anak-anak yang kesehatannya buruk,
adalah sangat rawan, karena pada periode hidup ini kebutuhan zat gizi
digunakan untuk pertumbuhan cepat (Suhardjo, et, all, 1986).

Infeksi Infeksi dan demam dapat menyebabkan menurunnya nafsu makan


atau menimbulkan kesulitan menelan dan mencerna makanan (Suhardjo, et,
all, 1986).
Penilaian Status Gizi
Penilaian status gizi secara langsung menunit Supariasa (2001) dapat dilakukan
dengan:
1. AntropometriAntropometri adalah ukuran tubuh manusia. Sedangkan
antropometri gizi adalah berhubungan dengan berbagai macam pengukuran
dimensi tubuh dan komposisi tubuh dan tingkat umur dan tingkat gizi.
Antropometri secara umum digunakan untuk melihat keseimbangan asupan
protein dan energi.
2. Klinis Pemeriksaan klinis adalah metode untuk menilai status gizi
berdasarkan atas perubahan-perubahan yang terjadi dihubungkan dengan
ketidakcukupan zat gizi, seperti kulit, mata, rambut, dan mukosa oral atau
organ yang dekat dengan permukaan tubuh seperti kelenjar tiroid.
3. Biokimia Penilaian status gizi dengan biokimia adalah pemeriksaan
spesimen yang diuji secara laboratoris yang dilakukan pada berbagai macam
jaringan. Jaringan tubuh yang digunakan antara lain darah, urine, tinja dan
juga beberapa jaringan tubuh seperti hati dan otot.
4. Biofisik Penilaian status gizi secara biofisik adalah metode penentuan
status gizi dengan melibat kemamapuan fungsi dan melihat perubahan
struktur dari jaringan.
Penilaian status gizi secara tidak Iangsung menurut Supariasa, IDN (2001)
dapat dilakukan dengan:
1. Survey Konsumsi Makanan
Survey konsumsi makanan adalah metode penentuan status gizi secara tidak
langsung dengan melihat jumlah dan jenis zat dan gizi yang dikonsumsi.
Kesalahan dalam survey makanan bisa disebabkan oleh perkiraan yang tidak
tepat dalam menentukan jumlah makanan yang dikonsumsi balita,
kecenderungan untuk mengurangi makanan yang banyak dikonsumsi dan
menambah makanan yang sedikit dikonsumsi ( The Flat Slope Syndrome ),
membesar-besarkan konsumsi makanan yang bernilai sosial tinggi, keinginan
8

melaporkan konsumsi vitamin dan mineral tambahan kesalahan dalam


mencatat (food record).
2. Statistik Vital
Yaitu dengan menganalisis data beberapa statistik kesebatan seperti angka
kematian berdasarkan umur, angka kesakitan dan kematian karena penyebab
tertentu dan data lainnya yang berhubungan dengan gizi.
3. Faktor Ekologi
Malnutrisi merupakan masalah ekologi sebagai hasil interaksi antara beberapa
faktor fisik, biologisdan lingkungan budaya. Jumlah makanan yang tersedia
sangat tergantung dan keadaan ekologi seperti iklim, tanah, irigasi, dan lainlain.
Bentuk aplikasi penilaian status gizi dengan antropometri antara lain dengan
penggunaan teknik Indeks Massa Tubuh (IMT) atau Body Mass Index (BMI). IMT
ini merupakan alat atau cara yang sederhana untuk memantau status gizi orang
dewasa, khususnya yang berkaitan dengan kekurangan dan kelebihan berat badan.
Dengan IMT ini antara lain dapat ditentukan berat badan beserta resikonya.
Misalnya berat badan kurang dapat meningkatkan resiko terhadap penyakit infeksi,
sedangkan berat badan lebih akan meningkatkan resiko terhadap penyakit
degeneratif.
Berikut contoh penggunaan metode IMT ini untuk mementukan kondisi berat badan
kita. Pada contoh ini akan disampaikan penjelasan tentang cara-cara yang
dianjurkan untuk mencapai berat badan normal berdasarkan IMT yang kemudian
disesuaikan dengan keseimbangan konsumsi sehari-hari.
Untuk memantau indeks masa tubuh orang dewasa digunakan timbangan berat
badan dan pengukur tinggi badan.Penggunaan IMT hanya untuk orang dewasa
berumur > 18 tahun dan tidak dapat diterapkan pada bayi, anak, remaja, ibu hamil,
dan olahragawan.
Untuk mengetahui nilai IMT ini, dipergunakan formula sebagai berikut :
Berat Badan (Kg)
IMT = ------------------------------------------------------Tinggi Badan (m) X Tinggi Badan (m)
Berdasarkan perhitungan diatas maka akan dapat ditentukan standard IMT
seseorang dengan berpedoman sebagai berikut :
Kategori

IMT

Kurus

Kekurangan berat badan tingkat berat

<>

Kurus sekali

Kekurangan berat badan tingkat ringan

17,0 18,4

Normal

Normal

18,5 25,0

Gemuk

Kelebihan berat badan tingkat ringan

25,1 27,0

Obes

Kelebihan berat badan tingkat berat

> 27,0

Dalam pemakaian untuk penilaian status gizi, antropomteri disajikan dalam bentuk
indeks yang dikaitkan dengan variabel lain. Variabel tersebut adalah sebagai
berikut:
a.

Umur.
Umur sangat memegang peranan dalam penentuan status gizi, kesalahan
penentuan akan menyebabkan interpretasi status gizi yang salah. Hasil
penimbangan berat badan maupun tinggi badan yang akurat, menjadi tidak
berarti bila tidak disertai dengan penentuan umur yang tepat. Kesalahan yang
sering muncul adalah adanya kecenderunagn untuk memilih angka yang mudah
seperti 1 tahun; 1,5 tahun; 2 tahun. Oleh sebab itu penentuan umur anak perlu
dihitung dengan cermat.Ketentuannya adalah 1 tahun adalah 12 bulan, 1 bulan
adalah 30 hari. Jadi perhitungan umur adalah dalam bulan penuh, artinya sisa
umur dalam hari tidak diperhitungkan ( Depkes, 2004).

b.

Berat Badan
Berat badan merupakan salah satu ukuran yang memberikan gambaran
massa jaringan, termasuk cairan tubuh. Berat badan sangat peka terhadap
perubahan yang mendadak baik karena penyakit infeksi maupun konsumsi
makanan yang menurun. Berat badan ini dinyatakan dalam bentuk indeks BB/U
(Berat Badan menurut Umur) atau melakukan penilaian dengam melihat
perubahan
berat badan pada saat pengukuran dilakukan, yang dalam
penggunaannya memberikan gambaran keadaan kini. Berat badan paling banyak
digunakan karena hanya memerlukan satu pengukuran, hanya saja tergantung
pada ketetapan umur, tetapi kurang dapat menggambarkan kecenderungan
perubahan situasi gizi dari waktu ke waktu (Djumadias Abunain, 1990).

c.

Tinggi Badan
Tinggi badan memberikan gambaran fungsi pertumbuhan yang dilihat
dari keadaan kurus kering dan kecil pendek. Tinggi badan sangat baik untuk
melihat keadaan gizi masa lalu terutama yang berkaitan dengan keadaan berat
10

badan lahir rendah dan kurang gizi pada masa balita. Tinggi badan dinyatakan
dalam bentuk Indeks TB/U ( tinggi badan menurut umur), atau juga indeks
BB/TB ( Berat Badan menurut Tinggi Badan) jarang dilakukan karena
perubahan tinggi badan yang lambat dan biasanya hanya dilakukan setahun
sekali. Keadaan indeks ini pada umumnya memberikan gambaran keadaan
lingkungan yang tidak baik, kemiskinan dan akibat tidak sehat yang menahun
( Depkes RI, 2004).
Berat badan dan tinggi badan adalah salah satu parameter penting untuk
menentukan status kesehatan manusia, khususnya yang berhubungan dengan
status gizi. Penggunaan Indeks BB/U, TB/U dan BB/TB merupakan indikator
status gizi untuk melihat adanya gangguan fungsi pertumbuhan dan komposisi
tubuh (M.Khumaidi, 1994).
Penggunaan berat badan dan tinggi badan akan lebih jelas dan
sensitive/peka dalam menunjukkan keadaan gizi kurang bila dibandingkan
dengan penggunaan BB/U. Dinyatakan dalam BB/TB, menurut standar WHO
bila prevalensi kurus/wasting < -2SD diatas 10 % menunjukan suatu daerah
tersebut mempunyai masalah gizi yang sangat serius dan berhubungan langsung
dengan angka kesakitan.
Macam Klasifikasi Status Gizi
1. Klasifikasi Status Gizi
Tabel 1.Tabel Status Gizi
INDEKS
Berat badan
umur (BB/U)

Tinggi badan
umur (TB/U)

STATUS GIZI
menurut Gizi Lebih

AMBANG
*)

BATAS

> + 2 SD

Gizi Baik

-2 SD sampai +2
SD

Gizi Kurang

< -2 SD sampai -3
SD

Gizi Buruk

< 3 SD

menurut Normal
Pendek (stunted)

Berat badan menurut Gemuk


tinggi badan (BB/TB)
Normal

2 SD
< -2 SD
> + 2 SD
-2 SD sampai + 2
SD

11

Kurus (wasted)

< -2 SD sampai -3
SD

Kurus sekali

< 3 SD

Sumber : Depkes RI, 2002.


2. Klasifikasi di atas berdasarkan parameter antropometri yang dibedakan
atas:
Berat Badan / Umur Status gizi ini diukur sesuai dengan berat badan
terhadap umur dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai
dengan tabel 1.
Tinggi Badan / Umur Status gizi ini diukur sesuai dengan tinggi badan
terhadap umur dalam bulan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai
dengan tabel 1.
Berat Badan / Tinggi Badan Status gizi ini diukur sesuai dengan berat
badan terhadap tinggi badan yang hasilnya kemudian dikategorikan sesuai
dengan tabel 1
Lingkar Lengan Atas / Umur Lingkar lengan atas (LILA) hanya
dikategorikan menjadi 2 kategori yaitu gizi kurang dan gizi baik dengan
batasan indeks sebesar 1,5 cm/tahun.
3. Menurut Depkes RI (2005) Parameter berat badan / tinggi badan
berdasarkan kategori Z-Score diklasifikasikan menjadi 4 yaitu:
1. Gizi Buruk ( Sangat Kurus)

: <-3 SD

2. Gizi Kurang (Kurus)

:-3SDs/d<-2SD

3. Gizi Baik (Normal)

:-2SDs/d+2SD

4. Gizi Lebih (Gemuk)

:>+2SD

Dalam bidang gizi, antropometri telah diaplikasikan secara luas untuk menilai
status gizi masyarakat. Ukuran tubuh yang sering digunakan adalah berat badan
dan panjang badan atau tinggi badan. Selain itu, ukuran tubuh lainnya seperti
lingkar lengan atas, lapisan lemak dibawah kulit, tinggi duduk, lingkaran perut, dan
lingkaran pinggul juga sering digunakan dalam penilaian status gizi.Penilaian status
gizi masyarakat dengan antropometri pada dasarnya adalah mengukur perubahan
pertumbuhan anak yang mencakup pengukuran berat badan dan panjang badan atau
tinggi badan dengan membandingkan hasil pengukuran dengan baku sesuai indeks
antropometri yang digunakan, seperti indeks Berat Badan menurut Umur (BB/U),
Berat Badan menurut Panjang Badan atau Tinggi Badan (BB/PB, BB/TB), Panjang
Badan atau Tinggi Badan menurut Umur (PB/U atau TB/U), atau dengan indeks
antropometri yang lainnya
12

STATUS GIZI ANAK


Status Gizi anak umur 6-18 tahun dikelompokan menjadi tiga kelompok umur yaitu
6-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun.Indikator status gizi yang digunakan untuk
kelompok umur ini didasarkan pada pengukurran antropometri berat badan (BB)
dan tinggi badan (TB) yang disajikan dalam bentuk tinggi badan menurut umur
(TB/U) dan Indeks Massa Tubuh menurut umur (IMT/U). Indeks massa tubuh anak
dihitung berdasarkan rumus berikut: Dengan menggunakan baku antropometri anak
5-19 tahun WHO 2007 dihitung nilai Z_score TB/U dan IMT/U masing-masing
anak.
Standar Deviasi Unit (SD) atau Z-Skor
SD disebut juga Z-skor. WHO menyarankan menggunakan cara ini untuk
meneliti dan untuk memantau pertumbuhan:
1 SD unit (1 Z-skor) + sama dengan 11% dari median BB/U
1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 10% dari median BB/TB
1 SD unit (1 Z-skor) kira-kira 5% dari median TB/U
Waterlow juga merekomendasikan penggunaan SD untuk menyatakan ukuran
pertumbuhan (Growth Monitoring).
WHO memberikan gambaran perhitungan SD unit terhadap baku NCHS Contoh: 1
SD unit = 11-12% unit dari median BB/U, misalnya seorang anak berada pada 75%
median BB/U berarti 25% unit berada di bawah median atau -2. Pertumbuhan
nasional untuk suatu populasi dinyatakan dalam positif dan negatif 2 SD unit (Zskor) dari median, yang termasuk hampir 98% dari orang-orang yang diukur yang
berasal dari referensi populasi. Di bawah -2 SD unit dinyatakan sebagai kurang gizi
yang ekuivalen dengan:
78% dari median untuk BB/U (+ 3 persentil)
80% median untuk BB/TB
90% median untuk TB/U
Rumus perhitungan Z-skor:
Z-skor =
Nilai Individu Subjek Nilai Median Baku Rujukan
Nilai Simpang Baku Rujukan

13

Secara umum prevalensi kependekan pada anak umur 6-18 tahun adalah 34,6
persen, masih tidak jauh berbeda dengan pada anak balita, sedangkan prevalensi
kekurusan dan kegemukan lebih rendah dari prevalensi pada balita. Prevalensi
kependekan pada kelompok umur 6-12 tahun, 13-15 tahun dan 16-18 tahun masih
tinggi yaitu masih diatas 30,0%, tertinggi pada umur 6-12 tahun (35,6 persen) dan
terendah pada kelompok umur 16-18 tahun yaitu 31,2 persen. Prevalensi kekurusan
pada kelompok umur 6-12 tahun sama dengan pada umur 13-15 tahun yaitu 11,2
persen dan 11,1 persen dan terendah pada kelompok umur 16-18 tahun yaitu 8,9
persen. Prevalensi kegemukan tertinggi pada kelompok umur 6-12 tahun yaitu 9,2
14

persen dan terendah pada kelompok umur 16-18 tahun yaitu 1,4 persen, sedangkan
pada kelompok umur 13-15 tahun sebesar 2,5 persen.
Seperti halnya pada balita, prevalensi kependekan, kekurusan dan kegemukan
secara umum lebih tinggi pada anak laki-laki dibanding dengan anak
perempuan.Prevalensi kependekan dan kekurusan di perkotaan lebih rendah
dibanding perdesaan, sebaliknya prevalensi kegemukan lebih tinggi di perkotaan
dari perdesaan.
Masalah kependekan pada kelompok umur 6-12 tahun, 13-15 tahun dan 1618 tahun sangat erat kaitannya dengan tingkat pendidikan dan jenis pekerjaan
kepala rumahtangga serta keadaan ekonomi rumahtangga.Semakin baik tingkat
pendidikan dan jenis pekerjaan kepala rumahtangga serta keadaan ekonomi
rumahtangga semakin rendah prevalensi kependekan.
Sedangkan prevalensi kekurusan tidak memiliki pola hubungan yang jelas
dengan ketiga karakteristik responden tersebut.
Masalah kegemukan memiliki keterkaitan dengan tingkat pendidikan kepala
rumahtangga dan semakin baik keadaan ekonomi rumahtangga.Semakin tinggi
tingkat pendidikan kepala rumahtangga dan semakin baik keadaan ekonomi
rumahtangga prevalensi kegemukan cenderung meningkat.
Implikasi untuk upaya perbaikan gizi anak umur 6-18 tahun
Masih tingginya prevalensi kekurusan pada kelompok umur 6-12 tahun (usia
sekolah) mengindikasikan adanya risiko terganggunya konsentrasi belajar bagi
sekitar sepertiga jumlah siswa SD/MI atau yang sederajat. Masalah kependekan
yang masih tinggi, dimana prevalensi kependekan pada anak perempuan juga tinggi
yaitu sekitar 30 persen, dimana 12 persen diantaranya adalah sangat pendek. Hal ini
merupakan keadaan yang berisiko sebagai calon ibu rumahtangga yang akan
melahirkan generasi penerus. Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut di atas
maka perlu diintensifkan upaya perbaikan gizi anak sekolah, melalui:
Peningkatan edukasi gizi bagi anak sekolah baik di sektor pendidikan formal
maupun informal untuk pencapaian KADARZI UNTUK SEMUA. Untuk ini
diperlukan kerjasama dengan sektorpendidikan baik negeri maupun swasta
untuk merumuskan kurikulum gizi yang memadaisesuai dengan tingkatan
sekolah (SD, SLTP, SLTA atau yang sederajat).
Penyediaan makanan tambahan bagi anak sekolah (PMT-AS) terutama untuk
daerah-daerahmiskin, terutama untuk anak usia sekolah (6-12 tahun). Untuk
ini diperlukan kerjasama antara sektor kesehatan dengan lembaga pendidikan
baik negeri maupun swasta serta sektor terkaitlainnya
STATUS GIZIIBU HAMIL
Penambahan berat badan ibu hamil dicatat setiap bulan. Perkembangan status gizi
ibu hamil (LiLA) dicatat pada awal dan akhir pelaksanaan PMT Pemulihan serta
dilaporkan oleh Kepala Puskesmas ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota
15

Selanjutnya Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota melaporkan perkembangan status


gizi ke Pusat dengan tembusan ke Dinas Kesehatan Provinsi.
Ibu hamil KEK
Sasaran Pemberian Makanan Tambahan ibu hamil adalah ibu hamil yang berisiko
KEK dengan pita LiLA < 23,5 cm. Untuk menentukan sasaran penerima PMT
Pemulihan, balita dan ibu hamil dengan kriteria tersebut di atas perlu
dikonfirmasi kepada Tenaga Pelaksana Gizi atau petugas puskesmas.

GIZI KURANG & GIZI BURUK


Masalah Kekurangan Gizi Utama
Kurang Energi Protein (KEP)
Kurang Energi Protein atau Kurang Kalori Protein adalah keadaan kurang
gizi pada anak yang disebabkan oleh kurangnya asupan energi dan protein.
Kurang energi dan Protein (KEP) pada anak masih menjadi masalah gizi dan
kesehatan masyarakat di Indonesia. Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar tahun
2010, sebanyak 13,0% berstatus gizi kurang, diantaranya 4,9% berstatus gizi
buruk. Data yang sama menunjukkan 13,3% anak kurus, diantaranya 6,0% anak
sangat kurus dan 17,1% anak memiliki kategori sangat pendek.
Anemia Gizi Besi
Adalah suatu keadaan dimana kadar Haemoglobin (Hb) dalam darahkurang dari
normal. Batas normal kadar Hb dalam darah berbeda-beda untuk setiap
kelompok umur dan jenis kelamin.
- B a l i t a : 11 gr%
- Anak usia sekolah : 12 gr%
- Wanita dewasa : 12 gr%
- Pria dewasa : 13 gr%
- Ibu hamil : 11 gr%
- Ibu menyusui>3 bulan : 12 gr%
AGB menjadi masalah kesehatan masyarakat, jika prevalensi 30 %(WHO).
Anemia Gizi Besi (AGB) yang diderita oleh 8,1 juta anak balita, 10 juta anak
usia sekolah, 3,5 juta remaja putri dan 2 juta ibu hamil
16

Kurang Vitamin A (KVA)


Keadaan dimana simpanan vitamin A dalam tubuh kurang. Tahapawal ditandai
dengan gejala rabun senja dan secara sub-klinis dinyatakan defisiensi jika kadar
serum retinol dalam darah <20 mcg/dl. Sekitar 10 juta balita menderita Kurang
vitamin A (KVA).Secara klinis menjadi masalah kesehatan masyarakat, jika
prevalensixeropthalmianya > 0,5%
Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY)
Gejala yang timbul karena tubuh seseorang kekurangan yodium secara terus
menerus dalam jangka waktu yang cukup lama. GAKY menjadi masalah
kesehatan masyarakat, jika prevalensinya >5% .Masalah Gangguan Akibat
Kurang Yodium (GAKY) diderita oleh sekitar 3,4 juta anak usia sekolah.
Klasifikasi daerah endemik:
- Daerah GAKY berat, bila TGR 30%
- Daerah GAKY sedang, bila TGR 20-29,9%
- Daerah GAKY ringan, bila TGR 5-19,9%
- Daerah non-endemik, bila TGR 5%
Total Goitre Rate (TGR)
Angka prevalensi gondok yang dihitung berdasarkan seluruh stadium
pembesaran kelenjar gondok, baik yang teraba (palpable) maupun yang terlihat
(visible). TGR digunakan untuk menentukan endemisitas GAKY
Kurang Energi Kronik (KEK)
Sekitar 30 juta wanita usia subur menderita kurang energi kronis (KEK), yang
bila hamil dapat meningkatkan risiko melahirkan BBLR. Setiap
tahun,diperkirakan sekitar 350 ribu bayi yang BBLR ( 2500 gram), sebagai
salah satu penyebab utama tingginya angka gizi kurang dan kematian balita.
Pada tahun 2005 terdapat sekitar 5 juta balita gizi kurang; 1,7 juta diantaranya
menderita gizi buruk.
17

Sementara masalah gizi kurang dan gizi buruk masih tinggi, ada
kecenderungan peningkatan masalah gizi lebih sejak beberapa tahun terakhir. Hasil
survei di perkotaan menunjukkan bahwa sekitar 12 % penduduk dewasa menderita
gizi lebih. Data lain menunjukkan adanya peningkatan prevalensi penyakit
degeneratif yang berkaitan dengan gaya hidup.
Dalam rangka menurunkan angka kematian Anak akibat gizi buruk,sangat
diperlukan keterlibatan Pemerintah Daerah secara langsung, serta melibatkan
partisipasi masyarakat terutama tokoh masyarakat, untuk mengelola penanganan
anak gizi buruk baik, sehingga diharapkan semua kasus gizi buruk dapat ditangani
dengan baik. Penanganan anak gizi buruk dapat dilakukan secara rawat jalan
maupun rawat inap.Penanganan dengan rawat inap hanya dilakukan di Puskesmas.
Sedangkan penanganan anak gizi buruk dengan rawat jalan, merupakan pelayanan

yang diberikan dan dilakukan di fasilitas kesehatan lain seperti, Puskesmas


Pembantu ataupun Poskesdes, dan lebih membutuhkan partisipasi masyarakat

KELEBIHAN GIZI
Kegemukan dan obesitas terjadi akibat asupan energi lebih tinggi daripada
energi yang dikeluarkan. Asupan energi tinggi disebabkan oleh konsumsi makanan
sumber energi dan lemak tinggi, sedangkan pengeluaran energi yang rendah
disebabkan karena kurangnya aktivitas
fisik dan sedentary life style.
18

Masalah kegemukan dan obesitas di Indonesia terjadi pada semua kelompok umur
dan pada semua strata sosial ekonomi. Pada anak sekolah, kejadian kegemukan dan
obesitas merupakan masalah yang serius karena akan berlanjut hingga usia dewasa.
Kegemukan dan obesitas pada anak berisiko berlanjut ke masa dewasa, dan
merupakan faktor risiko terjadinya berbagai penyakit metabolik dan degeneratif
seperti penyakit kardiovaskuler, diabetes mellitus, kanker, osteoartritis, dll. Pada
anak, kegemukan dan obesitas juga dapat mengakibatkan berbagaimasalah
kesehatan
yang sangat merugikan kualitas hidup anak seperti gangguan
pertumbuhan tungkai kaki, gangguan tidur, sleep apneu
Disamping kegiatan promosi peningkatan kesadaran gizi dan pencegahan
kegemukan dan obesitas pada anak sekolah, juga dapat dilakukan kegiatan
penemuan kasus kegemukan dan obesitas. Namun untuk menghindari stigmatisasi
anak di sekolah, penegakan diagnosis dan penatalaksanaan selanjutnya dilaksanakan
di Puskesmas/Fasilitas Pelayanan Kesehatan lainnya.
a. Penemuan Kasus : dilaksanakan setiap tahun melalui kegiatan penjaringan
kesehatan di sekolah.
Langkah-langkah kegiatan :
1) Pengukuran Antropometri
a) Penimbangan Berat Badan
b) Pengukuran Tinggi Badan
Setelah dilakukan pengukuran antropometri oleh petugas gizi atau
tenaga kesehatan lainnya bersama guru UKS.Selanjutnya data yang
diperoleh dilaporkan ke Puskesmas, untuk ditentukan status gizinya
dan tindak lanjut.
2) Penentuan Status Gizi (di Puskesmas)
a) Menghitung nilai IMT
b) Membandingkan nilai IMT dengan Grafik IMT/U berdasarkan
Standar WHO 2005
c) Menentukan status gizi anak :

Kurus : < - 2 SD
Normal : - 2 SD s/d 1 SD
Gemuk : >1 s/d 2 SD
Obesitas : > 2 SD

3) Tindak lanjut :
Kesimpulan hasil
penjaringan kesehatan di sekolah termasuk hasil
pemeriksaan status gizi disampaikan kepada orang tua dalam amplop tertutup
melalui sekolah dengan ketentuan
sebagai berikut:

19

Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi kurus, maka anak
dirujuk ke Puskesmas untuk dilakukan pemeriksaan lebih lanjut
Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi normal, maka
dianjurkan untuk melanjutkan pola hidup sehat
Jika ditemukan anak sekolah dengan status gizi gemuk atau obesitas,
maka anak dirujuk ke puskesmas untuk pemeriksaan lebih lanjut
Pihak sekolah/UKS bertugas memberikan dukungan dan motivasi agar anak
melaksanakan pola hidup sehat sesuai anjuran dari puskesmas, serta berusaha
menyediakan lingkungan yang kondusif untuk anak.
POLA HIDUP SEHAT CEGAH KEGEMUKAN
Konsumsi buah dan sayur 5 porsi per hari
Membatasi menonton TV, bermain komputer, game/playstation < 2
jam/hari
Tidak menyediakan TV di kamar anak
Mengurangi makanan dan minuman manis
Mengurangi makanan berlemak dan gorengan
Kurangi makan diluar
Biasakan makan pagi dan membawa makanan bekal kesekolah
Biasakan makan bersama keluarga minimal 1 x sehari
Makanlah makanan sesuai dengan waktunya
Tingkatkan aktivitas fisik minimal 1 jam/hari
Melibatkan keluarga untuk perbaikan gaya hidup untukpencegahan
gizi lebih
Target penurunan BB yang sehat

Klasifikasi Gizi Buruk


1. Kurang kalori ( marasmus)
Marasmus adalah kekurangan energy pada makanan yang menyebabkan cadangan
protein tubuh terpakai sehingga anak kurus dan keriput.
Etiologi :
Penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung kalori
Penyebab umum: Kegagalan menyusui anak : ibunya meninggal dan Tidak
adanya makanan tambahan
Tanda & gejala

Tampak sangat kurus, sehingga tulang terbungkus kulit


Wajah seperti orang tua
Cengeng
Kulit keriput , jari lemak subtikus sangat sedikit sampai tidak ada
20

Perut cekung
Sering disertai penyakit kronis ; diare kronik
Patofisiologi

Defisiensi kalori yang lama


Penghancuran jaringan lemak (kebutuhan energy)
Menghilangnya lemak dibawah kulit
Penciutan/pengecilan otot
Pelisutan tubuh yang menyeluruh

2. Kurang protein ( kwashiorkor )


Kwashiorkor adalah penyebab utama dari kekurangan makanan yang mengandung
protein hewani.Penyakit ini biasanya diderita oleh golongan sosial ekonomi rendah.
Etiologi :
Defisiensi asupan protein
Tanda & gejala
Kegagalan pertumbuhan tampak dengan berat badan rendah maupun ada
edema
Edema pada kaki
Wajah membulat dan sembab
Pandangan mata sayu
Cengeng
Cracy papement
Rambut tipis kemerahan seperti warna rambut jagung mudah dicabut tanpa
rasa sakit dan rontok
Pembesaran hati
Otot mengecil, lebih nyata bila diperiksa pada posisi berdiri dan duduk
Sering disertai infeksi anemia , diare.
3. Kurang kalori dan protein ( marasmus kwashiorkor )
Penatalaksanaan
Makanan /minuman dengan biologic tinggi gizi kalori / protein. Pemberian secara
bertahap dari bentuk dan jumlah mula mula cair (seperti susu) lunak (bubur) biasa
( nasi lembek)

Prinsif pemberian nutrisi


21

Porsi kecil,sering,rendah serat, rendah laktosa


Energy / kalori : 100 K kal / kg BB/ hari
Protein : 1 1,5 g / kg BB / hari
Cairan : 130 ml / kg BB / hari Ringan sedang : 100 ml / kg BB / hari Edema
Berat
Obati / cegah infeksi
Antibiotic
Bila
tampak
komlikasi
:
Cotrymoksasol
5
ml
Bila anak sakit berat : Ampicillin 50 mg / kg BB IM/ IV Setiap 6 Jam Selama
2 Hari
Untuk Melihat kemajuan / perkembangan anak
Timbang berat badan setiap pagi sebelum diberi makan
Catat kenaikan BB anak tiap minggu
Wawancara khusus untuk mengetahui tentang pola asuh dan pola makan dengan
memakai instrumen Food Frequency Questioner (FFQ) :
Wawancara masalah kesehatan kepada masing-masing tempat tinggal sasaran
Melakukan pemeriksaan psikologis dan aktifitas anak-anak secara terpadu
Melaksanakan pengukuran status gizi, meliputi : berat badan (BB), tinggi
badan (TB), tebal lemak, kepadatan masa tulang, lingkar lengan atas (LILA)
Melakukan pengambilan sampel darah kapiler (umur 6-23 bulan) dan darah
vena (usia 2-12 bulan) untuk pemeriksaan golongan darah, hemoglobin serta
kimia darah lengkap.
Sebelum dilakukan pengambilan darah, kelompok sasaran penelitian itu diperiksa
kesehatan jasmaninya oleh tim dokter, apakah ada indikasi medis untuk diambil
spesimen darahnya. Untuk kelancaran kegiatan penelitian tersebut, tim peneliti
mengharapkan bantuan bersama petugas puskesmas untuk menyiapkan tempat
fokus penelitian untuk mengumpulkan sasaran, melakukan edukasi dan komunikasi
kepada masyarakat di tempat penelitian.
Pencegahan Gizi Buruk

Secara teratur menimbang anak di Posyandu


Berikan ASI saja pada bayi berusia 2 tahun
Berikan makanan pendamping ASI sesuai usia dan kesehatan anak
Berikan makanan beraneka ragam bagi anggota keluarga lainnya
Beritahukan petugas kesehatan/kader bila anak sakit atau mengalami
gangguan pertumbuhan.

22

Biasakan Makan Aneka Ragam Makanan


Makan 2-3 kali sehari yang terdiri dari 4 macam kelompok bahan makanan
Makanan pokok (sumber zat tenaga): beras, jagung, ubi, singkong, mie, dll.
Lauk pauk (sumber zat pembangun): ikan, telor, ayam, daging, tempe,
kacang-kacangan, tahu, dll).
Sayuran dan buah (sumber zat pengatur): bayam, kangkung, wortel , buncis,
kacang panjang, daun singkong, daun katuk, pepaya, pisang, jeruk,
semangka, dll.
Dari tiap kelompok bahan makanan dan jenis yang dikonsumsi, maka makin
banyak jenisnya makin baik dan ditambah dengan susu.
Mencegah penyakit Gangguan Akibat Kekurangan Yodium (GAKY), yang
ditandai dengan membesarnya kelenjar gondok do daerah leher, sehingga
mengurangi daya tarik seseorang. Dan pertumbuhan anak tidak normal
(kerdil).
Biasakan makan pagi
Untuk menjaga tubuh, agar dapat berkerja atau belajar dengan baik
Membantu memusatkan pikiran untuk belajar dan memudahkan penyerapan
pelajaran
Membantu mencukupi zat gizi
Menjaga kesehatan dan pertumbuhan anggota keluarga, khususnya balita dan ibu
hamil
Ibu hanya memberikan ASI saja pada bayi sampai usia 4 bulan
ASI, makanan bayi yang paling sempurna, murah dan mudah memberikannya
ASI saja mencukupi kebutuhan gizi bayi untuk tumbuh kembang dengan
normal sampai bayi berumur 4 bulan
ASI yang pertama keluar (kolustrum) berwarna kekuningan, mengandung zat
kekebalan untuk mencegah timbulnya penyakit. Oleh karena itu, harus
diberikan kepada bayi dan jangan sekali-kali dibuang
Keluarga tidak perlu mengeluarkan biaya untuk makanan bayi 0-4 bulan
Dengan ASI mempererat ikatan kasih sayang antara ibu dan bayi.

23

24

LI3. Memahami dan Menjelaskan RISKESDAS


DEFINISI
Riset Kesehatan Dasar adalah riset berbasis masyarakat untuk mendapatkan
gambaran kesehatan dasar masyarakat, termasuk biomedis yang menggunakan
sampel Susenas Kor dan informasinya mewakili tingkat kabupaten/kota, Propinsi
dan nasional.
TUJUAN dan MANFAAT
a.Tujuan Umum
Mengetahui data dasar kesehatan untuk keperluan perencanaan di tingkat kabupaten
/ kota, provinsi dan nasional.
b. Tujuan khusus:
a. Mengukur prevalensi penyakit menular dan tidak menular, riwayat penyakit
keturunan termasuk data biomedisnya
b. Mengetahui faktor risiko penyakit menular dan tidak menular
c. Mengetahui ketanggapan sistem kesehatan di unit pelayanan kesehatan
d. Mengukur angka kematian dan menelusuri sebab kematian
MANFAAT PENELITIAN
1. Untuk Dinas Kesehatan Kabupaten/ Kota:
- Mampu merencanakan, melaksanakan survei kesehatan lanjutan di
wilayahnya.
Mampu menyusun perencanaan program lebih akurat, sesuai situasi dan
kondisi tiap kabupaten/kota.
- Mempunyai bahan advokasi yang berbasis bukti.
2. Untuk Provinsi dan Pusat
Mampu memetakan masalah kesehatan dan menajamkan prioritas
pembangunan kesehatan antar wilayah.

25

METODOLOGI
1. Kerangka Konsep

2. Disain Riset
Disain penelitian adalah survei berskala besar, potong lintang (cross-sectional), nonintervensi/observasi
3. Tempat dan Waktu
Lokasi riset adalah seluruh provinsi (33 provinsi), di seluruh kabupaten/ kota (+ 400
kabupaten/ kota), di Indonesia.
4. Populasi dan Sampel
Populasi riset untuk Riskesdas adalah semua rumah-tangga di Indonesia. Sampel
untuk Riskesdas adalah rumah-tangga terpilih di BS terpilih menurut sampling yang
dilakukan oleh BPS untuk Susenas 2007 (sampel Kor).

26

Seluruh anggota rumah-tangga terpilih merupakan unit observasi/ pengamatan


dalam rumah-tangga, sesuai dengan kuesioner yang telah disiapkan.Instrumen untuk
wawancara, pemeriksaan antropometri dipergunakan untuk seluruh anggota rumah
tangga terpilih.
Sampel garam rumah-tangga untuk pemeriksaan titrasi kadar Yodium dan sampel
pemeriksaan yodium dalam urin sebesar 10 persen dari BS terpilih. Responden
pemeriksaan urin adalah anak usia sekolah (6-12 tahun), laki-laki atau perempuan.
Untuk data biomedis dengan pengambilan spesimen darah, hanya 10 persen BS
yang dipilih di daerah perkotaan dan pedesaan, atau sebesar 28 ribu rumahtangga.Sampel untuk biomedis sebanyak 4 anggota rumah tangga dengan klasifikasi
2 orang dewasa laki-laki dan perempuan (kepala rumah tangga dengan istri/suami),
satu anak balita (1-4 tahun), dan satu anak (5-14 tahun).
5. Kerangka Sampel
Kerangka pengambilan sampel (sampling frame) menggunakan blok sensus (BS)
dari Badan Pusat Statistik (BPS). Cara pengambilan sampel adalah cluster sampling
dengan menggunakan blok sensus BPS. Rancangan sampel 2 tahap di daerah
perkotaan dan 3 tahap di daerah perdesaan. Untuk rancangan sampel 2 tahap, tahap1 dari kerangka sampel BS dipilih sejumlah BS secara PPS (probability proportional
to size) menggunakan linear systematic sampling dengan size adalah banyaknya
rumah-tangga hasil listing di setiap BS hasil P4B (Pendaftaran Pemilih dan
Pendataan Penduduk Berkelanjutan). Pada tahap-2, dari jumlah rumah-tangga hasil
listing di tiap BS terpilih, dipilih 16 rumah-tangga secara linear systematic
sampling. Untuk rancangan sampel 3 tahap, hampir sama dengan 2 tahap, hanya
sesudah tahap-1, dibentuk sejumlah sub-BS. Selanjutnya dipilih satu sub-BS secara
PPS dengan size banyaknya rumah-tangga hasil listing di setiap sub-BS hasil
P4B.Pada tahap-3, dari jumlah rumah-tangga hasil listing di tiap BS terpilih, dipilih
16 rumah-tangga secara linear systematic sampling.
6. Besar Sampel
Berdasarkan perhitungan dengan rumus:
n = Z2 x P (1-P) x DE
d2
Bila digunakan p=50%, z=1,96 dan d=0,15 maka besar sampel adalah 171 rumah
tangga / kecamatan. Penggunaan cluster sampling memerlukan design effect, yang
biasanya dipakai angka 2, sehingga jumlah sampel per kecamatan adalah 171 x 2 =
342 rumah tangga. Perkiraan drop out sebesat 10%, maka sampel yang dibutuhkan
adalah 100/90 x 342 = 381 rumah tangga. Untuk kepraktisan di lapangan maka
dibulatkan besar sampel per kabupaten adalah 400 rumah tangga.
27

Dengan menggunakan kerangka sampling BPS dan perkiraan jumlah sampel di atas,
di seluruh Indonesia didapatkan 280 ribu rumah-tangga terpilih. Jumlah rumahtangga tiap provinsi dan kabupaten/ kota berbeda sesuai dengan prinsip PPS
tersebut.
Rumah tangga terpilih oleh BPS dalam KOR Susenas 2007, apabila dalam proses
pengumpulan data Riskesdas menolak, tidak dapat digantikan dengan rumah-tangga
lainnya
7. Kriteria Inklusi dan Eksklusi
Seluruh anggota rumah tangga dalam rumah tangga terpilih dijadikan sebagai
responden untuk wawancara dengan kuesioner yang telah disiapkan, dan dilakukan
pengukuran antropometri.
Pemeriksaan visus pada responden usia 5 tahun.
Pemeriksaan gigi permanen.pada responden usia 12 tahun.
Pemeriksaan tekanan darah pada responden usia 12 tahun
Sampel responden pemeriksaan yodium dalam urin adalah anak usia sekolah (6-12
tahun) laki-laki atau perempuan.
Sedangkan pengambilan spesimen darah dilakukan dengan kriteria sebagai berikut :
a. Kriteria inklusi
Semua orang yang terpilih dalam DSRT-BPS dimasukkan sebagai responden
dengan kriteria sebagai berikut :
Anak usia 12-59 bulan
Anak usia 5-14 tahun
Perempuan dewasa usia 15 tahun
Laki-laki dewasa usia 15 tahun
b. Kriteria eksklusi
Usia diluar kriteria inklusi
Ibu hamil
Sakit berat
Jompo
Menolak menjadi responden
8. Data yang Dikumpulkan
Jenis data yang dikumpulkan secara lengkap dapat dilihat pada Instrumen terlampir.
Secara garis besar data yang dikumpulkan terdiri dari blok-blok pertanyaan sebagai
berikut:
a.

Pengenalan Tempat

b.

Keterangan Rumah-tangga
28

c.

Keterangan Pewawancara

d.

Keterangan Anggota Rumah-tangga

e.

Mortalitas

f.

Autopsi Verbal untuk Kejadian Kematian

g.

Manajemen Pelayanan Kesehatan

h.

Sanitasi Lingkungan

i.

Konsumsi Makanan Rumah-tangga

j.

Penyakit Menular, Tidak Menular, dan riwayat penyakit turunan

k.

Ketanggapan Pelayanan Kesehatan (Rawat Inap dan Rawat Jalan)

l.

Pengetahuan, Sikap, dan Perilaku Kesehatan

m.

Disabilitas/ ketidak mampuan

n.

Kesehatan Mental

o.

Imunisasi dan Pemantauan Pertumbuhan Balita

p.

Kesehatan bayi

q.

Pengukuran dan Pemeriksaan

Jenis data biomedis dari spesimen darah yang dikumpulkan menghasilkan data
tentang:
a.

Penyakit menular (DHF, TB paru, malaria, rubella, HIV, demam typhoid,


PMS, CMV).

b.

Penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi (DPT, polio, campak,


hepatitis).

c.

Penyakit tidak menular/ kronik degeneratif (DM, dislipidemia, thyroid,


kardiovaskuler, thrombosis, neoplasma).

d.

Kelainan gizi (anemia, defisiensi mikronutrien).

e.

Penyakit kelainan bawaan (thalasemia).

Semua sampah biomedis akan dikelola oleh RS yang ditunjuk untuk dimusnahkan
sesuai
prosedur universal
precaution.
29

9. Prosedur Pengambilan, Transportasi, Penyimpanan dan Pemeriksaan


Spesimen Darah
*

Prosedur Pengambilan,
Spesimen Darah.

Transportasi,

Penyimpanan

dan

Pemeriksaan

Untuk pemeriksaan spesimen secara biologi molekuler dan imunologi akan


dilakukan secara bertahap. Seluruh spesimen darah akan disimpan di
laboratorium Badan Litbang Kesehatan, Jakarta.

Sebagian hasil pemeriksaan akan disampaikan kepada responden, sebagian ke


Puskesmas, sebagian ke Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota setempat untuk
ditindak-lanjuti.

Seluruh pemeriksaan spesimen darah dilakukan sesuai prosedur baku yang


dilakukan di laboratorium kesehatan.

10. Instrumen dan Prosedur Pengumpulan Data


Pengembangan instrumen kuesioner dilakukan oleh Pokja Persiapan Riskesdas
berdasarkan indikator yang telah disepakati di tingkat global seperti Millennium
Development Goals (MDGs), Grand Strategy Kesehatan, Standar Pelayanan
Minimal (SPM), maupun masukan dari Unit Utama Depkes.
Instrumen dan peralatan terdiri dari:
a.

Kuesioner (Daftar Sampel Rumah Tangga/ DSRT, instrumen rumah-tangga


dan Individu).

b.

Kantong plastik untuk sampel garam

c.

Peralatan medis (pengukur tekanan darah digital, alat pemeriksaan visus, alat
pemeriksaan gigi)

d.

Peralatan antropometri (alat ukur tinggi dan panjang badan (microtoise, length
measuring board), timbangan berat badan digital, pita lingkar lengan atas/
LILA, pita ukur lingkar perut).

e.

Pot penampung urin

f.

Peralatan pengambilan darah vena

g.

Peralatan penyimpanan spesimen darah (sebelum dikirim ke Badan Litbang


Kesehatan).

Prosedur pengumpulan data akan dilakukan dengan membentuk tim yang terdiri
dari 4 orang yaitu:
1 orang ketua tim sekaligus sebagai koordinator lapangan
30

3 orang pewawancara, sekaligus melakukan pengukuran dan pemeriksaan


Setiap tim bertanggung jawab pada 10 - 15 BS yang akan diselesaikan dalam waktu
4-6 minggu. Jumlah tim pengumpul data di tiap Kabupaten/ Kota bervariasi,
tergantung pada jumlah BS.
Pengumpulan data Riskesdas dilakukan sesudah pengumpulan data Susenas 2007
(yang dilakukan oleh BPS). Bila pengumpulan data Susenas dilakukan bulan Juli Agustus 2007, pelaksanaan pengumpulan data Riskesdas akan dilakukan segera
sesudahnya yaitu bulan September - November 2007.
Semua sampel Susenas (Kor) sebanyak 280 ribu rumah-tangga merupakan juga
sampel Riskesdas (tidak dapat dilakukan penggantian sample).
Pengukuran antropometri, pemeriksaan tekanan darah, pemeriksaan visus dan gigimulut, dilakukan sesuai dengan prosedur baku (lihat lampiran).
Untuk pengumpulan data biomedis (spesimen darah), dilakukan oleh tim tersendiri
yang terdiri dari 2 orang petugas laboratorium yang ditunjuk. Pengumpulan data
biomedis dilakukan hanya pada sub-sampel (10 persen dari BS terpilih di daerah
perkotaan dan pedesaan).
Untuk pengambilan spesimen, berdasarkan kelaziman di lapangan, diputuskan halhal sebagai berikut:
1.

Bayi tidak diambil darah.

2.

Anak balita (1-4 tahun) dan anak (5-14 tahun) diambil darahnya sebanyak 5
cc, separuh untuk pemeriksaan langsung di lapangan, separuh disimpan
untuk selanjutnya dikirim ke pusat (Balitbangkes) untuk pemeriksaan
serologis.

3.

Dewasa perempuan dan laki-laki diambil darahnya sebanyak 15 cc, 5 cc


untuk pemeriksaan langsung di lapangan dan sisanya disimpan untuk
selanjutnya dikirim ke pusat (Balitbangkes) untuk pemeriksaan serologis.

Jumlah subyek yang diambil darahnya adalah sebagai berikut:


Subyek

Volume

Peruntukan

Anak balita

5 cc

2 cc untuk pemeriksaan langsung


3 cc untuk pemeriksaan serologis

Anak

5 cc

2 cc untuk pemeriksaan langsung


3 cc untuk pemeriksaan serologis

Dewasa perempuan 15 cc

5 cc untuk pemeriksaan langsung


10 cc untuk pemeriksaan serologis

Dewasa laki-laki

5 cc untuk pemeriksaan langsung

15 cc

31

10 cc untuk pemeriksaan serologis


Darah untuk pemeriksaan serologis akan dimasukkan ke dalam tabung dan secara
berkala (diperkirakan setiap 3 hari atau 2 kali seminggu) dibawa oleh kurir ke
laboratorium terdekat yang mempunyai fasilitas penyimpanan darah.
11. Bahan Pengumpulan Data
Bahan pengumpulan data terdiri dari instrumen pengumpulan data (kwesioner) dan
peralatan. Kuesioner untuk wawancara telah diuji-coba terlebih dahulu untuk
mengetahui masalah dalam tingkat kesulitan, pemahaman bahasa dan istilah
kesehatan, alur pertanyaan.Kuesioner hari uji coba direvisi. Alat pengukuran akan
ditera sebelumnya, untuk meningkatkan validitasnya.
12. Organisasi Pengumpulan Data
Organisasi pengumpulan data Riskesdas adalah sebagai berikut:
1.

2.

Di tingkat pusat dibentuk Tim Penasehat, Tim Pengarah, Tim Pakar, Tim
Teknis, Tim Manajemen dan Tim Pelaksana Pusat:
-

Tim Penasehat terdiri dari Menkes dan Kepala BPS, Kepala BKKBN
dan Pejabat eselon I Depkes.

Tim Pengarah terdiri dari Kabadan, Pejabat eselon I, eselon II Depkes


dan sektor terkait.

Tim Pakar terdiri dari para ahli di bidangnya masing-masing.

Tim Teknis terdiri dari Pejabat eselon II di lingkungan Balitbangkes dan


BPS

Tim Manajemen terdiri dari Pejabat eselon II, eselon III Balitbangkes

Tim Pelaksana Pusat membentuk Koordinator Wilayah (korwil), setiap


korwil mengkoordinir beberapa provinsi.

Di tingkat provinsi dibentuk Tim Pelaksana Riskesdas Provinsi:


-

3.

Tim Pelaksana di tingkat provinsi diketuai oleh Kadinkes Provinsi,


Kasubdin Bina Program, Peneliti Balitbangkes, dan Kasie Litbang/
Kasie Puldata Dinkes Provinsi.

Di tingkat kabupaten/kota
Kabupaten/Kota :
-

dibentuk

Tim

Pelaksana

Riskesdas

Tim Pelaksana di tingkat kabupaten/ kota diketuai oleh Kadinkes


Kabupaten, Kasubdin Bina Program tingkat kabupaten, Peneliti
Balitbangkes, Politeknik Kesehatan (Poltekes), dan Kasie Litbangda.
32

Di tingkat Kabupaten/ Kota dibentuk Tim Pengumpul Data. Banyaknya tim


pengumpul data tergantung kepada jumlah Blok Sensus (BS) di Kabupaten/ Kota
tersebut. Setiap tim pengumpul data mencakup 10 - 15 BS. Tiap tim pengumpul
data terdiri dari 4 orang yang diketuai oleh Ketua Tim (Katim). Kriteria tim
pengumpul data (termasuk Katim) adalah minimal D3 bidang kesehatan terutama
keperawatan, dapat bekerja penuh selama pengumpulan data Riskesdas yang
diperkirakan
selama
1
bulan
di
lapangan.
Tenaga pengumpul data akan direkrut dari tenaga Poltekkes, tenaga Stikes.
Kekurangan tenaga pengumpul data dapat menggunakan staf Dinas Kesehatan
kabupaten dengan persetujuan kepala bidang masing-masing untuk dibebaskan dari
tugas rutin.Tenaga pengumpul darah adalah tenaga laboratorium yang telah
disepakati
13. Manajemen dan Analisis Data
Data hasil pengukuran dan wawancara tiap tim dikumpulkan di Tim Pelaksana
tingkat Kabupaten. Kelengkapan data tersebut telah diverifikasi oleh Ketua
Tim.Manajemen data dilakukan oleh Korwil masing-masing.Manajemen data di
korwil meliputi penomoran, editing, pemrosesan data (data entry, dan
cleaning).Program komputer untuk manajemen data tersebut disiapkan oleh Badan
Litbang Kesehatan.Untuk data autopsi verbal (sebab kematian), setelah diberi
nomor/dibukukan, dikirim ke tingkat pusat (Balitbangkes) untuk dianalisis dan
ditegakkan diagnosis penyebab kematian, sesuai International Classification of
Diseases,
tenth
revision
(edisi
2006).
Setelah masing-masing korwil menyelesaikan manajemen data, data dikirim ke
pusat (Balitbangkes) untuk disatukan, dilakukan verifikasi akhir dan pembobotan.
Analisis awal tingkat nasional akan dilakukan di tingkat pusat. Data yang telah
bersih, akan dikembalikan ke masing-masing korwil guna dilakukan analisis.
Analisis data di tingkat Kabupaten/Kota berupa frekuensi distribusi dan tabulasi
silang terhadap berbagai variabel. Untuk data yang representatif pada tingkat
provinsi, akan dianalisis di tingkat provinsi. Dinas Kesehatan Povinsi melakukan
analisis data untuk membandingkan indikator kesehatan antar kabupaten dan profil
kesehatan
tingkat
provinsi.
Balitbangkes melakukan analisis di tingkat pusat untuk membandingkan indikator
kesehatan antar provinsi, profil kesehatan nasional dan membuat analisis
kecenderungan, membandingkan dengan hasil survei sejenis yang sudah dilakukan
pada periode sebelumnya dan membandingkan hasil survei serupa dengan negara
lain
LI4. Memahami dan Menjelaskan Gaya Hidup yang Mencerminkan Hidup
Sehat

33

Berikut ini 10 perilaku tidak sehat yang sering kita lakukan, serta cara
mengatasinya:
1.

Stress Berlebihan

Sejak dulu, kita tahu bahwa stres yang berlebihan dapat menurunkan daya tahan
tubuh seseorang dan memacu resiko penyakit jantung, serta membuat kita tidak
nyaman.Stres yang berlebihan juga memacu penuaan dini.Ibu-ibu yang memiliki
anak-anak dengan penyakit kronis merupakan orang-orang yang mengalami stres,
dan mengalami penuaan dini yang paling ekstrim.
Cara cepat untuk mengurangi stres adalah dengan menarik nafas dalam-dalam yang
disebut dengan pernafasan difragmatik.Untuk jangka panjangnya, luangkan waktu
untuk melakukan hal-hal yang dapat mengurangi stres Anda.
2. Minum Alkohol
Bukan merupakan suatu kebetulan bila alkohol merupakan kabar buruk mengenai
stres.Para
wanita
sebaiknya
membatasi
diri
meminum
minuman
beralkohol.Berbagai gangguan kesehatan juga bisa timbul dari kebiasaan minum
alkohol yang berlebihan.Termasuk serangan jantung, kangker hati, kanker
tenggorokan, dan kanker payudara.
3. Kurang Bergerak
Dengan sedikit menggerakkan tubuh, kita dapat memperpanjang hidup serta
mengurangi kelebihan berat, mengurangi stres, dan bahkan mencegah penyakit
Alzheimer. Langkah pertama yang perlu dilakukan yaitu hanya dengan berjanji pada
diri sendiri bahwa kita akan lebih aktif. Parkirlah mobil dari jauh pintu masuk,
menggunakan tangga dan tidak menggunakan lift, melakukan olahraga/senam, jalan
kaki selama 30 menit atau lebih banyak selama lima kali atau lebih dalam satu
minggu.
4.

Mengkonsumsi Makanan Berlemak

Lemak yang dikonsumsi secara berlebihan dapat memacu kolesterol tinggi dan
merangsang penyakit jantung.Biasakan diri Anda untuk mengkonsumsi makanan
yang non-kolesterol dan berkadar lemak rendah.
Tips: Takar asupan lemak, jangan lebih dari 10 persen (atau kurang) dari seluruh
kalori.
5. Merokok
Untuk mengurangi bahaya kanker dan kerutan dini, Anda dapat mengganti rokok
dengan permen karet rasa nikotin.Berdasarkan penelitian di tahun 2004, permen
karet rasa nikotin memberikan hasil dua kali lipat dimana perokok berhenti
merokok dibandingkan dengan keinginan/janji si perokok untuk berhenti merokok.
6. Menghirup Udara Polusi
Polusi udara dapat menyebabkan batuk dan sakit mata/mata perih dan hal ini
berhubungan dengan serangan pada penyakit asma dan saluran pernafasan.
34

Usahakan untuk berada di dalam ruangan sebanyak yang Anda bisa bila kadar udara
sedang tinggi.
7.

Terlalu Sering Kena Sinar Matahari

Batasi diri Anda dari sengatan sinar matahari dan gunakan tabir matahari, paling
tidak yang mengandung SPF 15 untuk mencegah resiko kanker kulit dan juga
kerutan.
8. Kurang Tidur
Kurang tidur berhubungan dengan obesitas, diabetes, tekanan darah tinggi dan
masalah ingatan. Singkirkan segera televisi dan benda-benda elektronik lain yang
mengganggu ketenangan dari kamar tidur Anda. Tata ulang kamar tidur Anda dan
ciptakan suasana kamar tidur yang nyaman dengan lampu yang temaram yang
membuat Anda tidur dengan nyenyak.
9. Kelebihan Berat Badan
Kelebihan berat badan dapat memicu kemungkinan penyakit serangan jantung,
diabetes, bahkan kanker. Penelitian mutakhir menyatakan jenis diet yang dilakukan
kurang penting dibandingkan dengan komitmen Anda untuk melakukan diet
tersebut dengan disiplin.
10. Mengonsumsi Gula Berlebih
Gula yang berlebihan dapat menaikkan berat badan dan kemungkinan terserang
penyakit jantung.Ahli nutrisi menyarankan untuk menjaga tambahan gula pada
makanan kecil/cemilan dan kue-kue kering sampai 12 sendok teh per hari pada diet
berkalori 2200. Selain itu ganti makanan yang manis-manis dengan buah-buahan
dan sayuran segar
LI5. Memahami dan Menjelaskan PHBS Menurut Pandangan Islam
Dalam kehidupan manusia pasti melewati tiga hal, yaitu sehat, sakit dan mati. Sehat
dan sakit merupakan rona dan dinamika yang abadi selama manusia masih hidup di
muka bumi. Ini yang harus disikapi dengan bijak dan adil bagi umat beragama.
Sehat menurut batasan World Health Organization (WHO) adalah keadaan sejahtera
dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif
secara sosial dan ekonomis. WHO pada tahun 1984 menyatakan bahwa aspek
agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehatan seutuhnya.
Bila sebelumnya pada tahun 1947 WHO memberikan batasan sehat hanya dari 3
aspek saja, yaitu sehat dalam arti fisik (organobiologik), sehat dalam arti mental
(psikologik/psikiatrik) dan sehat dalam arti sosial; maka sejak 1984 batasan tersebut
sudah ditambah dengan aspek agama (spiritual).
Islam sejak awal sangat mementingkan hidup sehat melalui tindakan promotifpreventif-protektif. Langkah dimulai dari pembinaan terhadap manusia sebagai
35

subjek sekaligus objek persoalan kesehatan itu sendiri. Islam menanamkan nilainilai tauhid dan manifestasi dari tauhid pada diri manusia. Nilai-nilai tersebut
mampu merubah persepsii tentang kehidupan manusia yang pada gilirannya tentu
saja dapat merubah perilakunya. perilaku yang diharapkan dari manusia yang
bertauhid adalah perilaku yang merealisasikan ketaatan kepada perintah dan
larangan Allah SWT.
Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting dalam
kehidupan manusia, karena itu Rasulullah saw. menegaskan bahwa orang Islam
yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada orang mukmin yang
lemah seperti diungkapkan dalam hadis berikut:

Orang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih disenangi di mata Allah daripada
orang mukmin yang lemah. (HR. Muslim)
Senada dengan hadis ini, ada pepatah Arab yang menyatakan:

Akal yang sehat terdapat dalam jiwa yang sehat.
Mengingat pentingnya kesehatan sebagaimana diungkapkan dalam hadits di atas,
maka menjaga kesehatan merupakan perintah wajib bagi setiap muslim. Karena
dalam kaidah hukum Islam perintah terhadap sesuatu juga berarti perintah untuk
melaksanakan perantaranya. Artinya jika membangun badan/fisik yang sehat
merupakan perintah wajib, maka melakukan perbuatan untuk menjaga kesehatan
hukumnya wajib pula.
Secara filosofis, makna kesehatan menurut ajaran Islam adalah kesehatan dalam diri
manusia yang meliputi sehat jasmani dan rohani atau lahir dan batin. Orang yang
sehat secara jasmani dan rohani adalah orang berperilaku yang lebih mengarah pada
tuntunan nilai-nilai ruhaniyah, sehingga melahirkan amal saleh. Ada empat faktor
utama yang mempengaruhi kesehatan, ialahh lingkungan (yang utama), perilaku,
pelayanan kesehatan, dan genetik. Bila ditilik semuanya tetaplah bemuara pada
manusia. Faktor lingkungan yang mencakup fisik, biologi, sosial, dan ekonomi
mempunyai pengaruh paling besar terhadap kondisi kesehatan. Manusialah yang
paling memiliki kemampuan untuk memperlakukan dan menata lingkungan hidup
Ketika Islam memandang kesehatan merupakan faktor yang sangat penting, maka
Islam juga memberikan petunjuk bagaimana hidup sehat. Di antara yang sangat
ditekankan dalam Islam adalah faktor makanan. Islam menyuruh kaum muslim
36

tidak memakan makanan kecuali makanan yang halal dan bergizi seperti dalam
firman Allah SWT:


Hai sekalian manusia, makanlah yang halal lagi baik (bergizi) dari apa yang
terdapat di bumi.. (QS. Al-Baqarah: 168)
Makanan yang halal dan bergizi akan membuat tubuh kuat dan tahan terhadap
serangan penyakit. Dengan tubuh yang sehat dan kuat ini maka kemungkinan
tertular penyakit menjadi kecil. Orang yang mudah terserang penyakit adalah orangorang yang tidak memiliki antibody yang kuat yang biasanya disebabkan kondisi
fisik yang tidak sehat. Karena itu, kesehatan tubuh harus benar-benar diperhatikan
dengan mengonsumsi makanan-makanan yang halal dan bergizi. Makanan yang
halal dalam Islam adalah makanan-makanan yang terpilih tidak saja dari segi
substansi makanannya tetapi juga dari segi asal makanan diperoleh. Konsep
kesehatan dalam Islam tidak hanya mengutamakan kesehatan fisik tetapi juga
psikis.
Sedangkan makanan yang bergizi adalah makanan-makanan yang lebih spesifik lagi
dari sekian banyak makanan yang halal. Sehingga dengan kriteria makanan yang
halal dan bergizi ini, makanan yang masuk ke dalam perut manusia benar-benar
makanan yang terpilih. Islam menyadari betul bahwa perut adalah sumber
munculnya berbagai macam penyakit, karena itu agar tubuh sehat, makanan yang
akan masuk ke dalam perut harus disaring terlebih dahulu, baik aspek gizi maupun
kehalalannya.

Urgensi Kebersihan dan Kesehatan


Islam tidak membiarkan manusia di alam ini terbelenggu dalam persoalan yang
tidak dapat dipecahkan. Hal ini sebagaimana firman Allah SWT berikut ini:

Allah sekali-kali tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman dalam keadaan
kamu sekarang ini, sehingga Dia menyisihkan yang buruk dari yang baik. (QS. Ali
Imran: 179)

37

Landasan nilai tauhid mengajarkan agar setiap muslim bergaya hidup bersih dan
sehat. Ini merupakan cara efektif untuk menghindari sakit. Kebersihan misalnya,
sangat ditekankan oleh Islam dan dinilai sebagai cerminan dari Iman seseorang.
Kewajiban membersihkan dari najis, hadats kecil, janabah, sunnah untuk bersiwak
membuktikan bahwa Islam sangat perduli terhadap kebersihan fisik dan jiwa.
Dengan berwudhu, seorang muslim akan secara langsung membersihkan tangan
(yang biasanya menjadi pangkal masuknya penyakit ke dalam mulut) dan muka.
Kemudian, mencuci kemaluan dengan air setelah buang air kecil atau buang air
besar. Adapun, ibadah puasa memberikan pengaruh sangat baik terhadap kesehatan
perut. Dengan puasa, sistem pencernaan yang bekerja, laksana mesin mendapatkan
kesempatan untuk diistirahatkan
Dari hidup bersih menuju hidup sehat. Islam mengantisipasi sesuatu yang
mengganggu kesehatan, yaitu penyakit. Penyakit dalam pandangan Islam
merupakan sesuatu yang harus diberantas. Sebab, orang yang terjangkit penyakit
pastilah mengganggu pelaksanaan ibadah secara sempurna dan menghambat
produktifitas manusia. Islam mengajarkan pengobatan, tetapi Islam lebih menekan
pada pencegahan terkena penyakit. Oleh karena itu, perlu umat Islam mempunyai
perspektif bahwa membangun kesadaran hidup bersih, sehat dan mengobati
penyakit adalah bagian dari dakwah Islam
Karena itu, salah satu tujuan dari ajaran Islam ialah menghilangkan
kemadharatan/bahaya (dafu al-dharar) yang menimpa manusia baik bahaya yang
mengancam fisik maupun psikis. Tujuannya adalah agar manusia dapat menjalankan
tugasnya sebagai makhluk Allah SWT. -menyembah dan mengabdi kepada-Nya- di
muka bumi ini dengan baik. Jika kondisi fisik atau psikis seseorang tidak sehat tentu
ia tidak akan dapat menunaikan tugas tersebut dengan baik. Karena itu, Islam sangat
memperhatikan masalah kesehatan dan menganjurkan agar manusia menjaga
kesehatan.
Di samping itu, untuk mencapai tubuh yang sehat, dalam pandangan Islam tidak
cukup hanya mengandalkan faktor internal tubuh manusia saja, tetapi juga faktor
lingkungan. Sebaik apapun makanan yang dikonsumsi manusia, jika lingkungannya
tidak sehat atau tidak bersih, maka ancaman penyakit masih tetap besar. Karena
penyakit bisa datang melalui makanan yang dikonsumsi dan bisa juga melalui udara
dan hewan yang kotor. Maka dari itu, Islam juga sangat menekankan kebersihan.

Kesimpulan
Dua konsep Islam tentang kebersihan dan kesehatan sangat tepat untuk membangut
sumber daya manusia yang berkualitas. Karena untuk menjadi manusia yang
38

produktif dan kreatif prasyaratnya harus bergaya hidup bersih dan sehat. Kondisi
sehat ialah manusianya yang memiliki ketahanan tubuh yang kuat, sehingga tercipta
generasi dan masyarakat yang tercantum dalam firman Allah SWT:


Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan
dibelakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap
(kesejahteraan) mereka. oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah
dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar. (an Nisaa:9)

"Sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat bagi orang lain." (Al-Hadits)

DAFTAR PUSTAKA
10 Langkah Tatalaksana Gizi Buruk diunduh 29 Mei 2013 dari: http://pkm-banjarsari-lebak.blogspot.com/2011/02/10langkah-tatalaksana-gizi-buruk.html
Draft Panduan Gerakan Nasional Sadar Gizi Menuju Manusia Indonesia Prima diunduh 28 Mei 2013 dari:
http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/02/Draft-Pedoman-Gerakan-Nasional-Sadar-Gizi-Februari-2012.pdf
Fikawati, Sandra. 2008. Kumpulan Materi Gizi Kesehatan Masyarakat. Depok : FKM UI
Hubungan
Perilaku
Hidup
Bersih
dan
Sehat
(PHBS)
diunduh
27
http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/29777/4/Chapter%20II.pdf

Mei

2013

dari:

Mensucikan Diri diunduh 27 Mei 2013 dari: http://www.dzikir.org/index.php/syariat-islam/shalat?start=1


Notoatmodjo, Soekidjo (2003). Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat.Jakarta : Rineka Cipta
Panduan Penyelenggaraan Pemberian Makanan Tambahan Pemulihan Bagi Balita Gizi Kurang (Bantuan Oprasional
Kesehatan) diunduh 29 Mei 2013 dari: http://gizi.depkes.go.id/wp-content/uploads/2012/05/Panduan-PMT-BOK2011.pdf
Pedoman Pengembangan Kabupaten/Kota Percontohan Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) diunduh
27 Mei 2013 dari: http://dinkes-sulsel.go.id/pdf/Perilaku_hidup_bersih_&_sehat.pdf
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) diunduh 27 Mei 2013 dari: http://dinkes.malangkota.go.id/index.php/artikelkesehatan/119-perilaku-hidup-bersih-dan-sehat
Perilaku Hidup Bersih dan Sehat dan Penyakit Berbasis Lingkungan diunduh 27 Mei 2013 dari:
www.pamsimas.org/index.php?option=com...penyakit
Rancangan Undang-Undang RI Tentang Pemberian Makanan Tambahan dan Pemeriksaan Kesehatan Berkala Bagi
Anak Usia 1 (Satu) sampai dengan 12 (Dua Belas) Tahun diunduh 29 Mei 2013 dari: http://staff.blog.ui.ac.id/wikua/files/2009/02/ruu-ttg-pemberian-makanan-tambahan.pdf
Suhardjo. 1992. Prinsip-Prinsip Ilmu Gizi. Yogyakarta : Kanisius

39