Anda di halaman 1dari 31

SKENARIO 3

PERDARAHAN PERVAGINAM

DISUSUN OLEH
KELOMPOK A-4
1. Citra Sari
2. Ibnu Abbas
3. Mustika Nur Jayasari
4. Novita Intan Sari
5. Afda Nakita
6. Amelia Muslimah Syahutami
7. Andhini Maharani Putri
8. Cecep Saeful Huda
9. Febrina Rizkya
10.Indah Tri Handayani

1102006064
1102007137
1102008169
1102008180
1102009013
1102009024
1102009029
1102009061
1102009111
1102009139

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI 2012
PERDARAHAN PERVAGINAM
Seorang wanita umur 35 tahun berobat ke rumah sakit dengan keluhan keluar darah dari
vagina dan berbau. Mempunyai tiga orang anak terkecil umur 6 tahun. Dari pemeriksaan
sensorium komposmentis, TD 120/79 mmHg , temperature 36,5 C, haid teratur

LO 1.Memahami Dan Menjelaskan Perdarahan Pervaginam Bukan Haid


1.1.Menjelaskan Penyebab Perdarahan Pervaginam Bukan Haid
Gangguan haid dansiklusnya dapat digolongkan dalam :

1. Kelainan dalambanyaknya darah dan lamanya perdarahan pada haid :


a. Hipermenoreaataumenoragia :
Perdarahan> N
Lebih lama dari N ( > 8 hari )
Oleh karena adanya mioma uteri dengan permukaan endometrium yang lebih
luas dari biasa sehingga kontraktilitas uterus menurun,polip endometrium dll
b. Hipomenorea
Perdarahan< N
Lebihsebentardari N
Sebabnya terletak pda konstitusi penderita. Pada uterus (misalnya sesudah
miomektomi) gangguan endokrin dll.
2. Kelainan siklus :
a. Polimenorea
Siklus haid< N ( < 21 hari)
Perdarahan N or >dari N
Oleh karena gangguan hormonal yang mengakibatkan gangguan anovulasi,
atau menjadi pendeknya fase luteal, kongesti ovarium karena peradangan,
endometriosis, dsb.
b. Oligomenorea
Siklus haid> N ( > 35 hari)
Perdarahan<N
c. Amenorea
Tidak adanya haid selama 3 bulanberturut-turut
Terbagi 2 yaitu : Amenore primer wanita>18 tahun tidak pernah haid
Amenore sekunder wanita pernah haid tapi tidak haid
lagi
Amenore primer o/k kelainan kelainan kongenintal dan genetic
Amenore sekunder o/k gangguan gizi, gangguan metabolism, tumor, penyakit
infeksi dll

3. Perdarahan diluar haid :


Metroragia
PERDARAHAN BUKAN HAID

Perdarahan bukan haid dalah perdarahan yang terjadi dalam masa antara 2 haid,
atau
perdarahan pervaginam yang terjadi secara berlebihan selama atau diantara periode haid.
Metrogia disebabkan oleh karena kelainan organic pada alat genital atau kelainan fungsional.
Sebab-sebab organik
Perdarahan dari uterus, tuba dan ovarium disebabkan oleh kelainan pada :
a) Serviks uteri ; seperti polypus servisis uteri, erosion porsinosis uteri, ulkuspadaporsio
uteri, karsinoma servisis uteri
b) Korpus uteri ;seperti polip endometrium, abortus imminens, abortus sedang berlangsung,
abortus inkompletus, molahidatidosa, koriokarsinoma , subinvolusio uteri, karsinoma
korporis uteri, sarcoma uteri, mioma uteri.
c) Tuba fallopii : seperti kehamilan ektopik terganggu, radang tuba, tumor tuba
d) Ovarium : seperti radang ovarium,tumor ovarium,dll
Sebab- sebab Disfungsional :
Perdarahan dari uterus yang tidak ada hubungannya dengan sebab organic dinamakan perdarahan
disfungsional. Perdarahan ini dapat terjadi pada setiap umur antara menarche dan menopause.
Tetapi, kelainan ini sering ditemuan sewaktu masa permulaan dan masa akhir fungsi ovarium.

LO 2. Memahami Dan Menjelaskan Karsinoma Serviks


2.1 Definisi karsinoma Serviks
Ca Servix adalah kanker yang terjadi pada servik uterus, suatu daerah pada organ reproduksi
wanita yang merupakan pintu masuk ke arah rahim yang terletak antara rahim (uterus) dengan
liang senggama (vagina).

2.2 Etiologi Karsinoma Serviks

Infeksi Human Papilloma Virus (HPV) tipe 16 dan 18.


Penelitian menunjukkan bahwa 10-30 % wanita pada usia 30an tahun yang sexually active
pernah menderita infeksi HPV (termasuk infeksi pada daerah vulva). Persentase ini semakin
meningkat bila wanita tersebut memiliki banyak pasangan seksual. Pada sebagian besar kasus,
infeksi HPV berlangsung tanpa gejala dan bersifat menetap.
Kedua faktor diatas juga berhubungan dengan infeksi HPV. Semakin banyak berganti-ganti
pasangan maka tertularnya infeksi HPV juga semakin tinggi. Begitu pula dengan terpaparnya selsel mulut rahim yang mempunyai pH tertentu dengan sperma-sperma yang mempunyai pH yang
berbeda-beda pada multipatner dapat merangsang terjadinya perubahan kearah displasia.
Pada usia remaja (12-20 tahun) organ reproduksi wanita sedang aktif berkembang. Rangsangan
penis/sperma dapat memicu perubahan sifat sel menjadi tidak normal, apalagi bila terjadi luka
saat berhubungan seksual dan kemudian infeksi Virus HPV. Sel abnormal inilah yang berpotensi
tinggi menyebabkan kanker serviks.

Infeksi Herpes Simpleks Virus (HSV) tipe 2


Pada awal tahun 1970 virus herpes simpleks tipe 2 merupakan virus yang paling banyak
didiskusikan sebagai penyebab timbulnya kanker serviks; tetapi saat ini tidak ada bukti yang
menunjukkan bahwa virus ini berperan besar, oleh karena itu diduga hanya sebagai ko-faktor
atau dapat dianggap sama dengan karsinogen kimia atau fisik.

Merokok:

Wanita yang merokok berada dua kali lebih mungkin mendapat kanker serviks dibandingkan
mereka yang tidak. Rokok mengandung banyak zat racun/kimia yang dapat menyebabkan kanker
paru. Zat-zat berbahaya ini dibawa ke dalam aliran darah ke seluruh tubuh ke organ lain juga.
Produk sampingan (by-products) rokok seringkali ditemukan pada mukosa serviks dari para
wanita perokok.

Infeksi HIV:
HIV (human immunodeficiency virus) adalah virus yang menyebabkan penyakit AIDS- tidak
sama dengan HPV. Ini dapat juga menjadi faktor resiko kanker serviks. Memiliki HIV agaknya
membuat sistem kekebalan tubuh seorang wanita kurang dapat memerangi baik infeksi HPV
maupun kanker-kanker pada stadium awal.

Infeksi Klamidia :
Ini adalah bakteri yang umum menyerang organ wanita, tersebar melalui hubungan seksual.
Seorang wanita mungkin tidak tahu bahwa ia terinfeksi kecuali dilakukan tes untuk klamidia
selama pemeriksaan panggul.
Beberapa riset menemukan bahwa wanita yang memiliki sejarah atau infeksi saat ini berada
dalam resiko kanker serviks lebih tinggi. Infeksi dalam jangka panjang juga dapat menyebabkan
masalah serius lainnya.

Diet :
Apa yang Anda makan juga dapat berperan. Diet rendah sayuran dan buah-buahan dapat
dikaitkan dengan meningkatnya resiko kanker seviks. Juga, wanita yang obes/gemuk berada
pada tingkat resiko lebih tinggi.

Pil KB:
Penggunaan pil KB dalam jangka panjang dapat meningkatkan resiko terjadinya kanker serviks.
Riset menemukan bahwa resiko kanker serviks meningkat sejalan dengan semakin lama wanita
tersebut menggunakan pil kontrasepsi tersebut dan cenderung menurun pada saat pil di-stop.

Memiliki Banyak Kehamilan:


Wanita yang menjalani 3 atau lebih kehamilan utuh memiliki peningkatan resiko kanker serviks.
Tidak ada yang tahu mengapa ini dapat terjadi.
Hamil pertama di usia muda:
Wanita yang hamil pertama pada usia dibawah 17 tahun hampir selalu 2x lebih mungkin terkena
kanker serviks di usia tuanya, daripada wanita yang menunda kehamilan hingga usia 25 tahun
atau lebih tua
Penghasilan rendah:
Wanita miskin berada pada tingkat resiko kanker serviks yang lebih tinggi. Ini mungkin karena
mereka tidak mampu untuk memperoleh perawatan kesehatan yang memadai, seperti tes Pap
Smear secara rutin.
DES (diethylstilbestrol):

DES adalah obat hormon yang pernah digunakan antara tahun 1940-1971 untuk beberapa wanita
yang berada dalam bahaya keguguran. Anak-anak wanita dari para wanita yang menggunakan
obat ini, ketika mereka hamil berada dalam resiko terkena kanker serviks dan vagina sedikit
lebih tinggi.
Riwayat Keluarga:
Kanker serviks dapat berjalan dalam beberapa keluarga. Bila Ibu atau kakak perempuan Anda
memiliki kanker serviks, resiko Anda terkena kanker ini bisa 2 atau 3x lipat dari orang lain yang
bukan. Ini mungkin karena wanita-wanita ini kurang dapat memerangi infeksi HPV daripada
wanita lain pada umumnya.
2.3 Epidemiologi Kanker Serviks

Frekuensi
The American Cancer Society memperkirakan bahwa di Amerika Serikat pada tahun 2009,
11.270 kasus baru kanker serviks akan didiagnosis. Di samping itu, lebih dari 50.000 kasus
karsinoma in situ yang didiagnosis setiap tahun. Internasional, 500.000 kasus baru didiagnosa
setiap tahun.

Mortalitas / Morbiditas
The American Cancer Society memperkirakan bahwa 4.070 perempuan akan mati dari kanker
serviks di Amerika Serikat pada 2009. Ini merupakan 1,3% dari semua kematian kanker dan
6,5% dari kematian akibat kanker ginekologi.

Ras
Di Amerika Serikat, kanker leher rahim lebih sering terjadi di Hispanik, Afrika Amerika, dan
wanita asli Amerika dibandingkan pada wanita kulit putih.
CDC Pengawasan dari beberapa-Terdeteksi Kanker Screening (Colon dan Rektum, Payudara,
dan leher rahim) --- Amerika Serikat, 2004-2006 melaporkan bahwa insiden tingkat stadium
akhir kanker serviks yang tertinggi di antara wanita berusia 50-79 tahun dan Hispanik.

Seks
Kanker serviks ditemukan hanya pada wanita.

Umur
Kanker serviks biasanya mempengaruhi wanita usia pertengahan atau lebih tua, tapi mungkin
bisa didiagnosis pada wanita usia reproduksi.
2.4 Klasifikasi Kanker serviks
Penentuan tahapan klinis penting dalam memperkirakan penyebaran penyakit, membantu
prognosis, rencana tindakan, dan memberikan arti perbandingan dari metode terapi. Tahapan

stadium klinis yang dipakai sekarang ialah pembagian yang ditentukan oleh The International
Federation Of Gynecologi AND Obstetric (FIGO) tahun 19767. Pembagian ini didasarkan atas
pemeriksaan klinik, radiologi, suktase endoserviks dan biopsy. Tahapan tahapan tersebut ialah :
a. Karsinoma pre invasif
b. Karsinoma in-situ, karsinoma intraepitel
c. Kasinoma invasive
Tabel 1. Staging Karsinoma Serviks Menurut FIGO

a. Stadium 0
Stadium 0

: karsinoma insitu, cervical intraepithelial neoplasia 3 ( CIN 3 )

b.Stadium I
Stadium I
: karsinoma hanya terbatas pada serviks ( perluasan ke korpus uteri harus
dikesampingkan ) Stadium la
: karsinoma preklinik, hanya dapat didiagnosis dengan
menggunakan mikroskop. Invasi stromal dengan kedalaman maksimal 5,0 mm dan perluasan
horisontal ,< 7,0 mm. Kedalaman invasi harus tidak melebihi 5,0 mm dari basal epithel jaringan
asal- superfisial atau glanduler. Keterlibatan vascular space - venous atau limfatik tidak merubah
stadium

Ia1
: Kedalaman invasi stromal < 3,0 mm, perluasan horisontal tidak
melebihi
7,0
mm
Ia2
: Kedalaman invasi stromal > 3,0 dan < 5,0 mm, perluasan horison tal tidak melebihi
7,0 mm.
Stadium Ib
: Lesi-lesi yang tampak secara klinik terbatas pada serviks atau kanker preklinik
yang lebih besar daripada stadium la+++
Ib 1

: Lesi < 4 cm , Ib2: Lesi > 4 cm

c.Stadium II
Karsinoma meluas diluar serviks, tetapi belum sampai dinding pelvis;karsinoma tumbuh ke
dalam vagina, tetapi tidak sampai sepertiga bagian bawah
Stadium IIa

: tidak ada perluasan kedalam parametrium

Stadium IIb

: Ielas ada perluasan ke parametrium

d.Stadium III
Karsinoma telah meluas sampai dinding pelvis; pada pemeriksaan rektal tidak terdapat
ruangan bebas karsinoma antara tumor dan dinding pelvis; tumor tumbuh sampai sepertiga
bagian bawah vagina. Adanya hidronefrosis atau ginjal yang tidak berfungsi masuk dalam
stadium ini, kecuali disebabkan karena kelainan lain.
Stadium IIIa : Tidak ada perluasan sampai dinding pelvis, tetapi pertumbuhan tumor
sampai sepertiga bagian bawah vagina
Stadium IIIb
berfungsi

: Perluasan sampai dinding pelvis atau hidronefrosis atau ginjal yang tidak

e.Stadium IV
Karsinoma telah meluas sampai diluar pelvis minor atau secara klinik telah
kedalam mukosa kandung kencing atau rektum ( terbukti dari hasil biopsi )
Stadium IVa : Pertumbuhan tumor ke dalam organ-organ sekelilingnya
Stadium IVb : Perluasan ke organ-organ jauh
2.5 Patofisiologi Kanker serviks

tumbuh

Karsinoma serviks timbul di batas antara epitel yang melapisi ektoserviks (porsio) dan
endoserviks kanalis serviks yang disebut sebagai squamo-columnar junction (SCJ).
Histologi antara epitel gepeng berlapis (squamous complex) dari portio dengan epitel
kuboid/silindris pendek selapis bersilia dari endoserviks kanalis serviks. Pada wanita SCJ ini
berada di luar ostius uteri eksternum, sedangkan pada waniya umur > 35 tahun, SCJ berada di
dalam kanalis serviks. Tumor dapat tumbuh :
1. Eksofilik mulai dari SCJ ke arah lumen vagina sebagai masa yang mengalami infeksi
sekunder dan nekrosis.
2. Endofilik mulai dari SCJ tumbuh ke dalam stomaserviks dan cenderung untuk
mengadakan infiltrasi menjadi ulkus.
3. Ulseratif mulai dari SCJ dan cenderung merusak struktur jaringan serviks dengan
melibatkan awal fornises vagina untuk menjadi ulkus yang luas.
Serviks normal secara alami mengalami proses metaplasi/erosi akibat saling desak-mendesak
kedua jenis epitel yang melapisi. Dengan masuknya mutagen, porsio yang erosif (metaplasia
skuamosa) yang semula fisiologik dapat berubah menjadi patologik melalui tingkatan NIS I, II,
III dan KIS untuk akhirnya menjadi karsinoma invasif. Sekali menjadi mikroinvasif atau invasif,
prose keganasan akan berjalan terus.
Periode laten dari NIS I s/d KIS 0 tergantung dari daya tahan tubuh penderita. Umumnya
fase pra invasif berkisar antara 3 20 tahun (rata-rata 5 10 tahun).
Perubahan epitel displastik serviks secara kontinyu yang masih memungkinkan terjadinya
regresi spontan dengan pengobatan / tanpa diobati itu dikenal dengan Unitarian Concept dari
Richard. Histopatologik sebagian besar 95-97% berupa epidermoid atau squamos cell carsinoma
sisanya adenokarsinoma, clearcell carcinoma/mesonephroid carcinoma dan yang paling jarang
adalah sarcoma.
(ILMU KANDUNGAN EDISI KEDUA PROF.SARWONO)

Kanker cervik merupakan kanker ginekologi yang pada tahap permulaan menyerang pada
bagian lining/permukaan cervix. Kanker jenis ini tidak dengan segera terbentuk menjadi sel yang
bersifat ganas melainkan secara bertahap berubah hingga akhirnya menjadi sel kanker.
Tahap perkembangan ini yang kemudian disebut sebagai tahap pre-kanker (pre-cancerous
yaitu displasia, neoplasia intraepitel cervik/CIN, dan lesi squamosa intraepitel/SIL) kanker cervik
diawali dengan terbentuknya tumor yang bersifat bulky (benjolan) yang berada pada vagina
bagian atas kemudian tumor ini berubah menjadi bersifat invasif serta membesar hingga
memenuhi bagian bawah dari pelvis.
Jika invasinya kurang dari 5 mm maka dikategorikan sebagai karsinoma dengan invasi
mikro(microinvasif) dan jika lebih dari 5 mm atau melebar hingga lebih dari 7 mm maka disebut
sebagai tahap invasif.
Pada tahap ini disebut juga tahap kanker dan membutuhkan evaluasi tahap perkembangan
kanker/stage. Akhirnya, tumor tersebut berubah menjadi bersifat destruktif dengan manifestasi
ulcerasi hingga terjadi infeksi serta nekrosis jaringan. Gambar 4 menunjukkan ilustrasi
patofisiologi kanker cervik. (Anonim (c), 2008)
Infeksi HPV yang berjenis oncogenik merupakan factor utama penyebab kanker cervik.
HPV merupakan virus tumor yang ber-DNA rantai ganda yang menyerang lapisan epitel basal
pada daerah transformasi cervik dimana sel-selnya sangat rapuh. HPV menginfeksi cervik ketika
trauma mikro terjadi atau erosi pada lapisan tersebut. Virus ini mampu menghindari deteksi
system imun dengan cara membatasi ekspresi gen dan replikasinyanya hanya pada lapisan supra
basal dan dapat tetap berada pada lokasi tersebut untuk jangka waktu yang lama. (Sharma et al,
2007)
Pada umumnya screening awal (pap smear) mampu mengidentifikasi abnormalitas
namun pemeriksaan sebaiknya dilanjutkan melalui colposcopy, CT scan, atau MRI untuk
mendapatkan hasil yang definitive. Federation of Gynecology and Obstetrics memberikan
batasan mengenai tahapan-tahapan pada kanker cervik yang selanjutnya tahapan-tahapan ini
menjadi langkah penting guna menentukan terapi.

(
Perjalanan penyakit kanker cervik dan waktu dimana screening dilakukan (uji Pap smear & uji
HPV)

2.6 Manifestasi Klinis Kanker Serviks

Pada fase prakanker, sering tidak ada gejala atau tanda-tanda yang khas. Namun, kadang bisa
ditemukan gejala-gejala sebagai berikut :
1. Keputihan atau keluar cairan encer dari vagina. Getah yang keluar dari vagina ini makin lama
akan berbau busuk akibat infeksi dan nekrosis jaringan
2. Perdarahan setelah sanggama (post coital bleeding) yang kemudian berlanjut menjadi
perdarahan yang abnormal.
3. Timbulnya perdarahan setelah masa menopause.
4. Pada fase invasif dapat keluar cairan berwarna kekuning-kuningan, berbau dan dapat
bercampur dengan darah.
5. Timbul gejala-gejala anemia bila terjadi perdarahan kronis.
6. Timbul nyeri panggul (pelvis) atau di perut bagian bawah bila ada radang panggul. Bila nyeri
terjadi di daerah pinggang ke bawah, kemungkinan terjadi hidronefrosis. Selain itu, bisa juga
timbul nyeri di tempat-tempat lainnya.

7. Pada stadium lanjut, badan menjadi kurus kering karena kurang gizi, edema kaki, timbul
iritasi kandung kencing dan poros usus besar bagian bawah (rectum), terbentuknya fistel
vesikovaginal atau rektovaginal, atau timbul gejala-gejala akibat metastasis jauh.
2.7 Diagnosis Kanker Serviks
a. Anamnesis

Pada anamnesis perlu diidentifikasi data mengenai riwayat perkawinan dan pesalinan,
perilaku seks yang sering berganti ganti pasangan (promiskusitas), waktu coitus
pertama kali, penyakit yang pernah dialami misalnya herpes genitalis, infeksi HPV,
servisis kronis, gaya hidup seperti meroko, hygienis, jenis makanan san social ekonomi
rendah, juga keluhan perdarahan spontan ataupun pasca senggama. Gejala Klinis
kurang menunjang sebagai penunjuk diagnostic karena lesi prakanker umumnya
asimptomatik kecuali pada keganasan yang susdah lanjut..
b.Pemeriksaan Fisik
Diagnosis kanker serviks tidaklah sulit apalagi tingkatannya sudah lanjut.Yang menjadi
masalah adalah bagaimana melakukan skrining untuk mencegah kanker serviks,
dilakukan dengan deteksi, eradikasi, dan pengamatan terhadaplesi prakanker serviks.
Kemampuan untuk mendeteksi dini kanker serviks disertaidengan kemampuan dalam
penatalaksanaan yang tepat akan dapat menurunkanangka kematian akibat kanker
serviks.
1. Keputihan. Keputihan merupakan gejala yang paling sering ditemukan, berbaubusuk
akibat infeksi dan nekrosis jaringan.
2. Pendarahan kontak merupakan 75-80% gejala karsinoma serviks. Perdarahantimbul
akibat terbukanya pembuluh darah, yang makin lama makin seringterjadi diluar
senggama.
3. Rasa nyeri, terjadi akibat infiltrasi sel tumor ke serabut saraf.
4. Gejala lainnya adalah gejala-gejala yang timbul akibat metastase jauh.

Pemeriksaan tanda vital seperti tensi, nadi, respirasi, suhu badan.

Status pasien :
i. Ada atau tidaknya anemia.
ii.Tanda-tanda metastase di paru seperti: sesak napas, batuk darah.

iii.Status lokalis abdomen: umumnya tak khas, jarang menimbulkan kelainan


berupa
benjolan,
kecuali
bila
sudah
ada penyebaran ke rektum menimbulkan obstipasi, ileusobstruktif.
iv.Palpasi hepar, supraklavikula, dan diantara kedua paha untuk melihat ada
tidaknya benjolan untuk meyakinkan ada tidaknya metastase.
c.Pemeriksaan Ginekologi
Pada pemeriksaan makroskopis/inspekulo mungkin tidak ditemukan
kelainan porsio pada lesi tingkat prakan-ker dan kadang hanya
menunjukkan gambaran khas seperti leukoplakia, erosi, ektropion atau
servisitis.
Tetapi tidak demikian halnya pada tingkat lanjut dimana porsio terlihat benjol-benjol
menyerupai bunga kol (pertumbuhan eksofitik) atau mungkin juga ditemukan fistula
rektovaginal ataupun vesikovagina. Pada keadaan ini porsio mudah sekali berdarah
karena kerapuhan sel sehingga pada pemeriksaan ginekologi dianjurkan mulai dengan
pemeriksaan inspekulo yang dilanjutkan dengan pemeriksaan vagina bimanual untuk
eksplorasi vagina.
d. Pemeriksaan Penunjang

1. Pap smear
Pada tahun 1924, George N Papanicolaou seorang ahli anatomi secara tidak sengaja mengganti
tingginya sel-sel abnormal pada sediaan yang diambil dari pasien kanker serviks. Penggunaan
materi seluler dari serviks dan vagina untuk diagnosis kanker serviks ini kemudian
dipublikasikan pada tahun 1928 dan selanjutnya tehnik pengumpulan sel-sel dari vagina
mengalami perbaikan dari penghapusan vagina, spatula ayre, dan cytobrush. Apabila hasil pap
smear abnormal, perlu dipastikan melalui pemeriksaan histopatologi dengan melakukan biopsi.
Terminologi dan sistem pelaporan sitologi sangat beraneka ragam. Sejak 50 tahun terakhir
terminologi sitologi mengalami perubahan terutama setelah berkembangnya pengertian
intraepitelial neoplasia serviks. Sistem pelaporan sitologi pertama kali menggunakan klasifikasi
Papaniculoau, kemudin Reagen mengusulkan sistem pelaporan sitologi dengan memakai istilah
neoplasia intraepitel serviks (NIS). Sistem ini tidak terlalu disukai karena menggunakan istilah
neoplasia. Tidak semua perubahan awal menjadi neoplastik dan tidak semua lesi berlanjut
menjadi karsinoma
Pap smear merupakan pemeriksaan sitologi eksfoliative dengan memeriksa sel-sel epitel cervix
yang lepas. Pemeriksaan ini lebih mudah, murah, sederhana, aman dan akurat. Di negara maju,
skrinning Pap Smear terbukti dapat menemukan lesi prakanker, menurunkan insiden dan
menurunkan angka kematian akibat kanker serviks sampai 70-80%. Tujuan tes Pap adalah

menemukan sel abnormal atau sel yang dapat berkembang menjadi kanker termasuk infeksi
HPV. Kanker serviks merupakan penyakit menular seksual, bila penyakit prakanker/ displasia
ditemukan lebih dini kemungkinan angka penyembuhan mencapai 80-90 % tergantung beratnya
lesi dan cara pengobatannya.
Pap Smear dilakukan paling tidak setahun sekali bagi wanita yang sudah menikah atau yang
telah melakukan hubungan seksual. Para wanita sebaiknya memeriksakan diri sampai usia 70
tahun.
Pap Smear dapat dilakukan kapan saja, kecuali pada masa haid. Waktu yang baik untuk
pemeriksaan adalah beberapa hari setelah selesai menstruasi. Persiapan pasien untuk melakukan
Pap Smear adalah tidak sedang haid, tidak coitus 1 3 hari sebelum pemeriksaan dilakukan dan
tidak sedang menggunakan obat obatan vaginal.

Petunjuk untuk penapisan :

Pemeriksaan tes Pap dilakukan setelah 2 tahun aktif dalam aktifitas seksual.

Interval penapisan. Wanita dengan tes Pap negatif berulang kali diambil setiap 2 tahun,
sedang wanita dengan kelainan atau hasil abnormal perlu evaluasi lebih sering.

Pada usia 70 tahun atau lebih tidak diambil lagi dengan syarat hasil 2 kali negatif dalam 5
tahun terakhir.

2. Uji Colposcopy

Jika pada saat pap smear ditemukan ketidaknormalan pada


serviks, maka langkah selanjutnya adalah dilakukan colposcopy. Colposcopy adalah suatu
pengujian yang memungkinkan dokter untuk melihat serviks (leher rahim) lebih dekat dengan
menggunakan sebuah alat bernama colposcope.
Cara ini merupakan cara penilaian sel invito dengan pembesaran 200 kali karena
abnormalitas pada neoplasma yang terlihat dengan pembesaran u m u m n y a t e r l i h a t
pada inti sel. Maka inti sel harus diwarnai terlebih d a h u l u d e n g a n b i r u
t o l v i d i n 1 % . D a l a m 2 0 - 3 0 d e t i k i n t i s e l a k a n mengambil zat warna.
Zat warna yang tersisa dibersihkan dengan larutan garam fisiologik dan pemeriksaan
dapat segera dimulai dengan menyentuhujung alat ke serviks. Colposcope akan dimasukkan ke
dalam vagina dan kemudian gambar yang ditangkap oleh alat tersebut akan ditampilkan pada
layar computer atau televisi. Dengan cara seperti ini, kondisi yang terjadi dalam leher rahim akan
sangat jelas terlihat.

3. Tes schiller
Tes Schiller atau tes pengecatan dengan yodium ialah tes yang digunakanuntuk mengenal
kanker serviks lebih dini. Tes ini didasarkan pada sifatepitel serviks yang berubah
menjadi berwarna coklat gelap atau tua jika terkena larutan yodium.
4. Biopsi Serviks dan Kuretase
Selama melakukan colposcopy, dokter mungkin saja melakukan biopsy dan tentunya biopsy ini
dilakukan berdasarkan apa yang dia temukan selama pemeriksaan itu. Biopsi serviks dilakukan
dengan cara mengambil sejumlah contoh jaringan serviks untuk kemudian diperiksa di bawah
mikroskop. Dibutuhkan hanya beberapa detik untuk melakukan biopsi contoh jaringan dan hanya

menimbulkan ketidaknyamanan dalam waktu yang tidak lama. Jika diperlukan maka akan
dilakukan biospi disekitar area serviks, tergantung pada temuan saat melakukan colposcopy.
Bersamaan dengan biopsi serviks, kuretase endoserviks juga bisa dilakukan. Selama kuretase,
dokter akan menggunakan sikat kecil untuk menghilangkan jaringan pada saluran endoserviks,
area antara uterus dan serviks. Kuretase akan menimbulkan sedikit nyeri, tapi nyeri akan hilang
setelah kuretase dilakukan. Hasil biopsi dan kuretase biasanya baru bisa dilihat paling tidak 2
minggu.
5.Biopsi Kerucut dan LEEP

Adakalanya biopsi yang lebih besar dibutuhkan untuk mendiagnosis kanker serviks. Pada kasus
ini, maka dapat dipilih biopsi kerucut. Selama biopsi kerucut, sebuah kerucut yang tajam akan
digunakan untuk mengambil jaringan dan pada prosedur ini dibutuhkan anestesi umum. Biopsi
kerucut juga digunakan untuk membuang jaringan pra-kanker dari serviks. Loop Electro Surgical
Excision Procedure (LEEP) atau Prosedur Pembedahan Eksisi dengan Loop Elektro adalah
prosedur yang dilakukan dengan anestesi local untuk mengangkat jaringan dari serviks. LEEP
menggunakan listrik untuk membuang contoh jaringan. Metode ini umumnya digunakan untuk
mengobati kanker stadium tinggi dari pada hanya untuk mendiagnosis kanker serviks.
6.Konisasi
Konisasi serviks ialah pengeluaran sebagian jaringan serviks sedemikian rupa sehingga yang
keluarkan berbentuk kerucut (konus), dengan kanalis servikalis sebagai sumbu kerucut. Untuk
tujuan diagnostik, tindakan konisasi harus selalu dilanjutkan dengan kuretase. Batas jaringan
yang dikeluarkan ditentukan dengan pemeriksaan kolposkopi. Jika karena suatu hal pemeriksaan
kolposkopi tidak dapat dilakukan, dapat dilakukan tes Schiller. Pada tes ini digunakan pewarnaan

dengan larutan lugol (yodium 5g, kalium yodida 10g, air 100 ml) dan eksisi dilakukan di luar
daerah dengan tes positif (daerah yang tidak berwarna oleh larutan lugol).
Konisasi diagnostik dilakukan pada keadaan-keadaan sebagai berikut :
1. Proses dicurigai berada di endoserviks
2.Lesi tidak tampak seluruhnya dengan pemeriksaan kolposkopi
3.Diagnostik mikroinvasi ditegakkan atas dasar spesimen biopsi
4.Ada kesenjangan antara hasil sitologi dan histopatologik.
Untuk menentukan stadium kanker dilakukan beberapa tes berikut:
-

Sistoskopi
Rontgen dada
Urografi intravena
sigmoidoskopi

2.9.Penatalaksanaan Kanker Serviks


Tiga jenis utama dari pengobatan untuk kanker serviks adalah operasi, radioterapi, dan
kemoterapi.
1. Stadium pra kanker hingga 1A biasanya diobati dengan histerektomi. Bila
pasien masih ingin memiliki anak, metode LEEP atau cone biopsy dapat menjadi pilihan.

Biopsi Cone. Selama operasi ini, dokter menggunakan scalpel untuk mengambil selembar
jaringan serviks berbentuk cone dimana abnormalitas ditemukan

Loop electrosurgical excision procedure (LEEP). Teknik ini menggunakan lintasan kabel
untuk memberikan arus listrik, yang memotong seperti pisau bedah , dan mengambil sel dari
mulut serviks

2. Untuk stadium IB dan IIA kanker serviks:


Bila ukuran tumor < 4cm: radikal histerektomi ataupun radioterapi dengan/tanpa
kemoterapi

Bila ukuran tumor >4cm: radioterapi dan kemoterapi berbasis cisplatin, histerektomi,
ataupun kemo berbasis cisplatin dilanjutkan dengan histerektomi
3. Kanker serviks stadium lanjut (IIB-IVA) dapat diobati dengan radioterapi dan kemo
berbasis cisplatin.
4. Pada stadium sangat lanjut (IVB), dokter dapat mempertimbangkan kemo dengan
kombinasi obat, misalnya hycamtin dan cisplatin.
Jika kesembuhan tidak dimungkinkan, tujuannya pengobatan adalah untuk mengangkat atau
menghancurkan sebanyak mungkin sel-sel kanker. Kadang-kadang pengobatan ditujukan untuk
mengurangi gejala-gejala. Hal ini disebut perawatan paliatif.
Faktor-faktor lain yang mungkin berdampak pada keputusan pengobatan Anda termasuk usia
Anda, kesehatan Anda secara keseluruhan, dan preferensi Anda sendiri. Seringkali cukup bijak
untuk mendapatkan pendapat kedua (second opinion) yang memberikan Anda perspektif lain dari
penyakit Anda.
Pembedahan untuk Kanker Serviks
Ada beberapa jenis operasi untuk kanker serviks. Beberapa melibatkan pengangkatan rahim
(histerektomi), yang lainnya tidak. Daftar ini mencakup jenis operasi yang paling umum untuk
kanker serviks.

Cryosurgery
Sebuah probe metal yang didinginkan dengan nitrogen cair dimasukkan ke dalam vagina dan
pada leher rahim. Ini membunuh sel-sel abnormal dengan cara membekukan mereka.
Cryosurgery digunakan untuk mengobati kanker serviks yang hanya ad adi dalam leher rahim
(stadium 0), tapi bukan kanker invasif yang telah menyebar ke luar leher rahim.
Bedah Laser
Sebuah sinar laser digunakan untuk membakar sel-sel atau menghapus sebagian kecil dari
jaringan sel rahim untuk dipelajari. Pembedahan laser hanya digunakan sebagai pengobatan
untuk kanker serviks pra-invasif (stadium 0).
Konisasi

Sepotong jaringan berbentuk kerucut akan diangkat dari leher rahim. Hal ini dilakukan dengan
menggunakan pisau bedah atau laser tau menggunakan kawat tipis yang dipanaskan oleh listrik
(prosedur ini disebut LEEP atau LEETZ). Pendekatan ini dapat digunakan untuk menemukan
atau mengobati kanker serviks tahap awal (0 atau I). Hal ini jarang digunakan sebagai satusatunya pengobatan kecuali untuk wanita dengan kanker serviks stadium dini yang mungkin
ingin memiliki anak. Setelah biopsi, jaringan (berbentuk kerucut) diangkat untuk diperiksa di
bawah mikroskop. Jika batas tepi dari kerucut itu mengandung kanker atau pra-sel kanker,
pengobatan lebih lanjut akan diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh sel-sel kankernya
telah diangkat.
Histerektomi
Histerektomi sederhana: Rahim diangkat, tetapi tidak mencakup jaringan yang berada di
dekatnya. Baik vagina maupun kelenjar getah bening panggul tidak diangkat. Rahim dapat
diangkat dengan cara operasi di bagian depan perut (perut) atau melalui vagina. Setelah operasi
ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Histerektomi digunakan untuk mengobati beberapa
kanker serviks stadium awal (I). Hal ini juga digunakan untuk stadium pra-kanker serviks (o),
jika sel-sel kanker ditemukan pada batas tepi konisasi.
Histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul: pada operasi ini, dokter
bedah akan mengangkat seluruh rahim, jaringan di dekatnya, bagian atas vagina yang berbatasan
dengan leher rahim, dan beberapa kelenjar getah bening yang berada di daerah panggul. Operasi
ini paling sering dilakukan melalui pemotongan melalui bagian depan perut dan kurang sering
melalui vagina. Setelah operasi ini, seorang wanita tidak bisa menjadi hamil. Sebuah
histerektomi radikal dan diseksi kelenjar getah bening panggul adalah pengobatan yang umum
digunakan untuk kanker serviks stadium I, dan lebih jarang juga digunakan pada beberapa kasus
stadium II, terutama pada wanita muda.
Trachelektomi
Sebuah prosedur yang disebut trachelectomy radikal memungkinkan wanita muda tertentu
dengan kanker stadium awal untuk dapat diobati dan masih dapat mempunyai anak. Metode ini
melibatkan pengangkatan serviks dan bagian atas vagina dan meletakkannya pada jahitan
berbentuk seperti kantong yang bertindak sebagai pembukaan leher rahim di dalam rahim.
Kelenjar getah bening di dekatnya juga diangkat. Operasi ini dilakukan baik melalui vagina
ataupun perut.
Ekstenterasi Panggul
Selain mengambil semua organ dan jaringan yang disebutkan di atas, pada jenis operasi ini:
kandung kemih, vagina, dubur, dan sebagian usus besar juga diangkat. Operasi ini digunakan
ketika kanker serviks kambuh kembali setelah pengobatan sebelumnya.

Jika kandung kemih telah diangkat, sebuah cara baru untuk menyimpan dan membuang air kecil
diperlukan. Sepotong usus pendek dapat digunakan untuk membuat kandung kemih baru. Urine
dapat dikosongkan dengan menempatkan sebuah tabung kecil (disebut kateter) ke dalam lubang
kecil di perut tersebut (disebut: urostomi). Atau urin bisa mengalir ke kantong plastik kecil yang
ditempatkan di bagian depan perut.
Radioterapi untuk Kanker Serviks
Radioterapi adalah pengobatan dengan sinar berenergi tinggi (seperti sinar-X) untuk membunuh
sel-sel kanker ataupun menyusutkan tumornya. Sebelum radioterapi dilakukan, biasanya Anda
akan menjalani pemeriksaan darah untuk mengetahui apakah Anda menderita Anemia. Penderita
kanker serviks yang mengalami perdarahan pada umumnya menderita Anemia. Untuk itu,
transfusi darah mungkin diperlukan sebelum radioterapi dijalankan.
Pada kanker serviks stadium awal, biasanya dokter akan memberikan radioterapi (external
maupun internal). Kadang radioterapi juga diberikan sesudah pembedahan. Akhir-akhir ini,
dokter seringkali melakukan kombinasi terapi (radioterapi dan kemoterapi) untuk mengobati
kanker serviks yang berada antara stadium IB hingga IVA. Yaitu, antara lain bila ukuran
tumornya lebih besar dari 4 cm atau bila kanker ditemukan telah menyebar ke jaringan lainnya
(di luar serviks), misalnya ke kandung kemih atau usus besar.
Radioterapi ada 2 jenis, yaitu radioterapi eksternal dan radioterapi internal. Radioterapi
eksternal : berarti sinar X diarahkan ke tubuh Anda (area panggul) melalui sebuah mesin besar.
Radioterapi internal : berarti suatu bahan radioaktif ditanam ke dalam rahim/leher rahim Anda
selama beberapa waktu untuk membunuh sel-sel kankernya. Salah satu metode radioterapi
internal yang sering digunakan adalah brachytherapy.

Brachytherapy untuk Kanker Serviks


Brachytherapy telah digunakan untuk mengobati kanker serviks sejak awal abad ini. Pengobatan
yang ini cukup sukses untuk mengatasi keganasan di organ kewanitaan. Baik radium dan cesium
telah digunakan sebagai sumber radioaktif untuk memberikan radiasi internal
Efek Samping Radioterapi Ada beberapa efek samping dari radioterapi, yaitu:
Kelelahan
Sakit maag
Sering ke belakang (diare)

Mual
Muntah
Perubahan warna kulit (seperti terbakar)
Kekeringan atau bekas luka pada vagina yang menyebabkan senggama menyakitkan
Menopause dini
Masalah dengan buang air kecil
Tulang rapuh sehingga mudah patah tulang
Rendahnya jumlah sel darah merah (anemia)
Rendahnya jumlah sel darah putih
Pembengkakan di kaki (disebut lymphedema)
Kemoterapi untuk Kanker Serviks
Kemoterapi adalah penggunaan obat-obatan untuk membunuh sel-sel kanker. Biasanya obatobatan diberikan melalui infuse ke pembuluh darah atau melalui mulut. Setelah obat masuk ke
aliran darah, mereka menyebar ke seluruh tubuh. Kadang-kadang beberapa obat diberikan dalam
satu waktu.
Kemoterapi dapat menyebabkan efek samping. Efek samping ini akan tergantung pada jenis obat
yang diberikan, jumlah/dosis yang diberikan, dan berapa lama pengobatan berlangsung. Efek
samping bisa termasuki:
Sakit maag dan muntah (dokter bisa memberikan obat mual/muntah)
Kehilangan nafsu makan
Kerontokan rambut jangka pendek
Sariawan
Meningkatkan kemungkinan terjadinya infeksi (kekurangan sel darah putih)
Pendarahan atau memar bila terjadi luka (akibat kurang darah)
Sesak napas (dari rendahnya jumlah sel darah merah)
Kelelahan
Menopause dini

Hilangnya kemampuan menjadi hamil (infertilitas)


2.10 Pencegahan dan Skrining Kanker Serviks
Ada 2 cara untuk mencegah kanker serviks:
1. Mencegah terjadinya infeksi HPV
2. Melakukan pemeriksaan Pap smear secara teratur .
Pap smear (tes Papanicolau) adalah suatu pemeriksaan mikroskopik terhadap sel-sel yang
diperoleh dari apusan serviks.Pada pemeriksaan Pap smear, contoh sel serviks diperoleh dengan
bantuan sebuah spatula yang terbuat dari kayu atau plastik (yang dioleskan bagian luar serviks)
dan sebuah sikat kecil (yang dimasukkan ke dalam saluran servikal).
Sel-sel serviks lalu dioleskan pada kaca obyek lalu diberi pengawet dan dikirimkan ke
laboratorium untuk diperiksa. 24 jam sebelum menjalani Pap smear, sebaiknya tidak melakukan
pencucian atau pembilasan vagina, tidak melakukan hubungan seksual, tidak berendam dan tidak
menggunakan tampon. Pap smear sangat efektif dalam mendeteksi perubahan prekanker pada
serviks. Jika hasil Pap smear menunjukkan displasia atau serviks tampak abnormal, biasanya
dilakukan kolposkopi dan biopsi
Anjuran untuk melakukan Pap smear secara teratur:
Setiap tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun
Setiap tahun untuk wanita yang berganti-ganti pasangan seksual atau pernah menderita
infeksi HPV atau kutil kelamin
Setiap tahun untuk wanita yang memakai pil KB
Setiap 2-3 tahun untuk wanita yang berusia diatas 35 tahun jika 3 kali Pap smear berturutturut menunjukkan hasil negatif atau untuk wanita yang telah menjalani histerektomi bukan
karena kanker
Sesering mungkin jika hasil Pap smear menunjukkan abnormal
Sesering mungkin setelah penilaian dan pengobatan prekanker maupun kanker serviks.
Untuk mengurangi kemungkinan terjadinya kanker serviks sebaiknya:
- Anak perempuan yang berusia dibawah 18 tahun tidak melakukan hubungan seksual.
- Jangan melakukan hubungan seksual dengan penderita kutil kelamin atau gunakan kondom
untuk mencegah penularan kutil kelamin
- Jangan berganti-ganti pasangan seksual

- Berhenti merokok.
Pemeriksaan panggul setiap tahun (termasuk Pap smear) harus dimulai ketika seorang wanita
mulai aktif melakukan hubungan seksual atau pada usia 20 tahun. Setiap hasil yang abnormal
harus diikuti dengan pemeriksaan kolposkopi dan biopsi.
Beberapa peneliti telah membuktikan bahwa vitamin A berpertan dalam menghentikan atau
mencegah perubahan keganasan pada sel-sel, seperti yang terjadi pada permukaan serviks.
3. Mampu memahami dan menjelaksan etika berobat dalam Islam
JIKA WANITA BEROBAT KE DOKTER LELAKI BAGAIMANA HUKUMNYA ?

Menyangkut problem yang dihadapi wanita muslimah saat harus berobat atau memeriksakan
kesehatan kepada dokter lelaki. Ini menjadi ganjalan bagi kaum hawa. Apabila tidak ada dokter
wanita, atau jika sulit mendapatkan dokter wanita, lantas bagaimanakah hukumnya? Apalagi jika
menyangkut hal-hal yang sangat pribadi, seperti partus (persalinan), atau keluhan lain yang
memaksa wanita membuka auratnya.
Islam mensyariatkan, jika seseorang tertimpa penyakit maka ia diperintahkan untuk berusaha
mengobatinya. Al-Qur`n dan as-Sunnah telah menetapkan syariat tersebut. Dan pada pelayanan
dokter memang terdapat faedah, yaitu memelihara jiwa. Satu hal yang termasuk ditekankan
dalam syariat Islam.

Kematian pada kasus kanker serviks terjadi karena sebagian besar penderita yang berobat sudah
berada dalam stadium lanjut. Padahal, dengan ditemukannya kanker ini pada stadium dini,
kemungkinan penyakit ini dapat disembuhkan sampai hampir 100%. Malahan sebenarnya kanker
serviks ini sangat bisa dicegah. Menurut ahli obgyn dari New York University Medical Centre ,
dr. Steven R. Goldstein, kuncinya adalah deteksi dini .
Sekitar 90-99 persen jenis kanker serviks disebabkan oleh human papillomavirus (HPV). Virus
ini bisa ditransfer melalui hubungan seksual dan bisa hadir dalam berbagai variasi. Ada beberapa
kasus virus HPV yang reda dengan sendirinya, dan ada yang berlanjut menjadi kanker serviks,
sehingga cukup mengancam kesehatan anatomi wanita yang satu ini.
Salah satu problema yang timbul akibat infeksi HPV ini seringkali tidak ada gejala atau tanda
yang tampak mata. Menurut hasil studi National Institute of Allergy and Infectious Diseases ,
hampir separuh wanita yang terinfeksi dengan HPV tidak memiliki gejala-gejala yang jelas. Dan
lebih-lebih lagi, orang yang terinfeksi juga tidak tahu bahwa mereka bisa menularkan HPV ke
orang sehat lainnya.

Kini, 'senjata' terbaik untuk mencegah kanker ini adalah bentuk skrining yang dinamakan Pap
Smear , dan skrining ini sangat efektif. Pap smear adalah suatu pemeriksaan sitologi yang
diperkenalkan oleh Dr. GN Papanicolaou pada tahun 1943 untuk mengetahui adanya keganasan
(kanker) dengan mikroskop. Pemeriksaan ini mudah dikerjakan, cepat dan tidak sakit.
Masalahnya, banyak wanita yang tidak mau menjalani pemeriksaan ini, dan kanker serviks ini
biasanya justru timbul pada wanita-wanita yang tidak pernah memeriksakan diri atau tidak mau
melakukan pemeriksaan ini. 50% kasus baru kanker servik terjadi pada wanita yang sebelumnya
tidak pernah melakukan pemeriksaan pap smear. Padahal jika para wanita mau melakukan
pemeriksaan ini, maka penyakit ini suatu hari bisa saja musnah, seperti halnya polio.
2.11 Prognosis
Prognosis kanker serviks tergantung dari stadium penyakit. Umumnya, 5-years survival rate
untuk stadium I lebih dari 90%, untuk stadium II 60-80%, stadium III kira - kira 50%, dan untuk
stadium IV kurang dari 30%.
1. Stadium 0
100% penderita dalam stadium ini akan sembuh
2. Stadium 1
Kanker serviks stadium I sering dibagi menjadi 2, IA dan IB. dari semua wanita yang
terdiagnosis pada stadium IA memiliki 5-years survival rate sebesar 95%. Untuk stadium
IB 5-years survival rate sebesar 70 sampai 90%. Ini tidak termasuk wanita dengan
kanker pada limfonodi mereka.
3. Stadium 2
Kanker serviks stadium 2 dibagi menjadi 2, 2A dan 2B. dari semua wanita yang
terdiagnosis pada stadium 2A memiliki 5-years survival rate sebesar 70 - 90%..
Untuk stadium 2B 5-years survival rate sebesar 60 sampai 65%.
4. Stadium 3
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 30-50%
5. Stadium 4
Pada stadium ini 5-years survival rate-nya sebesar 20-30%

PENCEGAHAN

PANDANGAN ISLAM TERHADAP IKHTILAT


Pembahasan tentang ikhtilat sangat penting untuk menjawab persoalan di atas. Yakni untuk
menjaga kehormatan dan menghindarkan dari perbuatan yang mengarah dosa dan kekejian.
Yang dimaksud ikhtilat, yaitu berduanya seorang lelaki dengan seorang perempuan di tempat
sepi. Dalam hal ini menyangkut pergaulan antara sesama manusia, yang rambu-rambunya sangat
mendapat perhatian dalam Islam. Yaitu berkait dengan ajaran Islam yang sangat menjunjung
tinggi keselamatan bagi manusia dari segala gangguan. Terlebih lagi dalam masalah mu'amalah
(pergaulan) dengan lain jenis. Dalam Islam, hubungan antara pria dan wanita telah diatur dengan
batasan-batasan, untuk membentengi gejolak fitnah yang membahayakan dan mengacaukan
kehidupan. Karenanya, Islam telah melarang pergaulan yang dipenuhi dengan ikhtilat (campur
baur antara pria dan wanita).
Dalam hadits di bawah ini, Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah memperingatkan kaum
lelaki untuk lebih berhati-hati dalam masalah wanita.




"Berhati-hatilah kalian dari menjumpai para wanita, maka seorang sahabat dari Anshar
bertanya,"Bagaimana pendapat engkau tentang saudara ipar, wahai Rasulullah? Rasulullah
menjawab,"Saudara ipar adalah maut (petaka). [HR Bukhari dan Muslim].
Imam Ibnul-Qayyim rahimahullah memperingatkan bahaya ikhtilat ini dengan pernyataannya:
Ikhtilat yang terjadi di antara lelaki dan wanita menjadi penyebab banyaknya perbuatan keji dan
zina.[1] Maka, sungguh kehatian-hatian Islam dalam banyak hal, ialah demi kemaslahatan
kehidupan manusia itu sendiri.
PERINTAH MENJAGA AURAT DAN MENAHAN PANDANGAN
Di antara keindahan syariat Islam, yaitu ditetapkannya larangan mengumbar aurat dan perintah
untuk menjaga pandangan mata kepada obyek yang tidak diperbolehkan, lantaran perbuatan itu
hanya akan mencelakakan diri dan agamanya.
Allah Subhanahu wa Ta'ala telah berfirman (yang artinya): Katakanlah kepada orang laki-laki
yang beriman: "Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang
demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang
mereka perbuat". Katakanlah kepada wanita yang beriman: "Hendaklah mereka menahan
pandangan mereka, dan memelihara kemaluan mereka, dan janganlah mereka menampakkan
perhiasan mereka kecuali yang (biasa) nampak dari mereka. Dan hendaklah mereka menutupkan
kain kudung ke dada mereka, dan janganlah menampakkan perhiasan mereka, kecuali kepada

suami mereka, atau ayah mereka, atau ayah suami mereka, atau putera-putera mereka, atau
putera-putera suami mereka, atau saudara-saudara mereka, atau putera-putera saudara laki-laki
mereka, atau putera-putera saudara perempuan mereka, atau wanita-wanita Islam, atau budakbudak yang mereka miliki atau pelayan-pelayan laki-laki yang tidak mempunyai keinginan
(terhadap wanita) atau anak-anak yang belum mengerti tentang aurat wanita . . ." [an-Nr/24: 3031].
Larangan melihat aurat, tidak hanya untuk yang berlawan jenis, akan tetapi Islam pun
menetapkan larangan melihat aurat sesama jenis, baik antara lelaki dengan lelaki lainnya,
maupun antara sesama wanita.
Disebutkan dalam sebuah hadits:



"Dari Abdir-Rahman bin Abi Sa`id al-Khudri, dari ayahnya, bahwasanya Nabi Shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda: Janganlah seorang lelaki melihat kepada aurat lelaki (yang lain), dan
janganlah seorang wanita melihat kepada aurat wanita (yang lain)". [HR Muslim]
Imam an-Nawawi rahimahullah mengatakan, di antara kandungan hadits ini, yaitu larangan bagi
seorang lelaki melihat aurat lelaki (lainnya) dan wanita melihat aurat wanita (lainnya). Di
kalangan ulama, larangan ini tidak diperselisihkan. Sedangkan lelaki melihat aurat wanita, atau
sebaliknya wanita melihat aurat lelaki, maka berdasarkan Ijma', perbuatan seperti ini merupakan
perkara yang diharamkan. Rasulullah mengarahkan dengan penyebutan larangan seorang lelaki
melihat aurat lelaki lainnya, yang berarti lelaki yang melihat aurat wanita maka lebih tidak
dibolehkan.
Selain itu juga, guna mengantisipasi terjadinya perbuatan buruk, yang disebabkan karena
terjalinnya hubungan bebas antara lelaki perempuan, sehingga Islam benar-benar menutup akses
ke arah sana. Yaitu dengan mengharamkan terjadinya persentuhan antara kulit lelaki dan
perempuan. Bahkan Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam telah bersabda:



"Tertusuknya kepala salah seorang di antara kalian dengan jarum besi, (itu) lebih baik daripada ia
menyentuh wanita yang tidak halal baginya".
Demikian sekilas prinsip pergaulan dengan lawan jenis yang telah ditetapkan Islam. Tujuannya,
ialah demi kebaikan yang sebesar-besarnya.

IDEALNYA MUSLIMAH BEROBAT KE DOKTER WANITA


Hukum asalnya, apabila ada dokter umum dan dokter spesialis dari kaum Muslimah, maka
menjadi kewajiban kaum Muslimah untuk menjatuhkan pilihan kepadanya. Meski hanya sekedar
keluhan yang paling ringan, flu batuk pilek sampai pada keadaan genting, semisal persalinan
ataupun jika harus melakukan pembedahan.
Berkaitan dengan masalah itu, Syaikh Bin Bz rahimahullah mengatakan: Seharusnya para
dokter wanita menangani kaum wanita secara khusus, dan dokter lelaki melayani kaum lelaki
secara khusus kecuali dalam keadaan yang sangat terpaksa. Bagian pelayanan lelaki dan bagian
pelayanan wanita masing-masing disendirikan, agar masyarakat terjauhkan dari fitnah dan
ikhtilat yang bisa mencelakakan. Inilah kewajiban semua orang
Lajnah D-imah juga menfatwakan, bila seorang wanita mudah menemukan dokter wanita yang
cakap menangani penyakitnya, ia tidak boleh membuka aurat atau berobat ke seorang dokter
lelaki. Kalau tidak memungkinkan maka ia boleh melakukannya.
Bagaimana tidak? Karena seorang muslimah harus menjaga kehormatannya, sehingga ia harus
menjaga rasa malu yang telah menjadi fitrah wanita, menghindarkan diri dari tangan pria yang
bukan makhramnya, menjauhkan diri dari ikhtilath. Tatkala ia ingin mendapatkan penjelasan
mengenai penyakitnya secara lebih banyak, lebih leluasa bertanya, dan sebagainya, maka mau
tidak mau hal ini tidak akan bisa didapatkan dengan baik, melainkan jika seorang wanita berobat
atau memeriksakan dirinya kepada dokter atau ahli medis wanita. Bila tidak, maka hal itu sulit
dilakukan secara maksimal.
BAGAIMANA BILA TIDAK ADA DOKTER WANITA?
Kenyataan yang kita saksikan cukup langkanya dokter umum maupun spesialis dari kalangan
kaum hawa. Keadaan ini, sedikit banyak tentu menimbulkan pengaruh yang cukup membuat
risih kaum wanita, bila mereka mesti berhadapan dengan lawan jenis untuk berobat. Sehingga
banyak diantara kaum wanita yang terpaksa berobat kepada dokter pria.
Syaikh Bin Bz rahimahullah memandang permasalahan ini sebagai persoalan penting untuk
diketahui dan sekaligus menyulitkan. Akan tetapi, ketika Allah Subhanahu wa Ta'ala telah
memberi karunia ketakwaan dan ilmu kepada seorang wanita, maka ia harus bersikap hati-hati
untuk dirinya, benar-benar memperhatikan masalah ini, dan tidak menyepelekan. Seorang wanita
memiliki kewajiban untuk mencari dokter wanita terlebih dahulu. Bila mendapatkannya,
alhamdulillah, dan ia pun tidak membutuhkan bantuan dokter lelaki.

Bila memang dalam keadaan darurat dan terpaksa, Islam memang membolehkan untuk

menggunakan cara yang mulanya tidak diperbolehkan. Selama mendatangkan maslahat, seperti
untuk pemeliharaan dan penyelamatan jiwa dan raganya. Seorang muslimah yang keadaannya
benar-benar dalam kondisi terhimpit dan tidak ada pilihan, (maka) ia boleh pergi ke dokter lelaki,
baik karena tidak ada ada seorang dokter muslimah yang mengetahui penyakitnya maupun
memang belum ada yang ahli.
Allah Ta`ala menyebutkan dalam firman-Nya surat al-An'm/6 ayat 119:



"(padahal sesungguhnya Allah telah menjelaskan kepada kamu apa yang diharamkan-Nya
atasmu, kecuali apa yang terpaksa kamu memakannya)".
Meskipun dibolehkan dalam kondisi yang betul-betul darurat, tetapi harus mengikuti ramburambu yang wajib untuk ditaati. Tidak berlaku secara mutlak. Keberadaan mahram adalah
keharusan, tidak bisa ditawar-tawar. Sehingga tatkala seorang muslimah terpaksa harus bertemu
dan berobat kepada dokter lelaki, ia harus didampingi mahram atau suaminya saat pemeriksaan.
Tidak berduaan dengan sang dokter di kamar praktek atau ruang periksa.
Syarat ini disebutkan Syaikh Bin Bz rahimahullah untuk pengobatan pada bagian tubuh yang
nampak, seperti kepala, tangan, dan kaki. Jika obyek pemeriksaan menyangkut aurat wanita,
meskipun sudah ada perawat wanita umpamanya- maka keberadaan suami atau wanita lain
(selain perawat) tetap diperlukan, dan ini lebih baik untuk menjauhkan dari kecurigaan.
Ketika Syaikh Shalih al-Fauzan ditanya mengenai hukum berobat kepada dokter yang berbeda
jenisnya, beliau menjelaskan:
Seorang wanita tidak dilarang berobat kepada dokter pria, terlebih lagi ia seorang spesialis yang
dikenal dengan kebaikan, akhlak dan keahliannya. Dengan syarat, bila memang tidak ada dokter
wanita yang setaraf dengan dokter pria tersebut. Atau karena keadaan si pasien yang mendesak
harus cepat ditolong, (karena) bila tidak segera, penyakit (itu) akan cepat menjalar dan
membahayakan nyawanya. Dalam masalah ini, perkara yang harus diperhatikan pula, dokter
tersebut tidak boleh membuka sembarang bagian tubuh (aurat) pasien wanita itu, kecuali sebatas
yang diperlukan dalam pemeriksaan. Dan juga, dokter tersebut adalah muslim yang dikenal
dengan ketakwaannya. Pada situasi bagaimanapun, seorang muslimah yang terpaksa harus
berobat kepada dokter pria, tidak dibolehkan memulai pemeriksaan terkecuali harus disertai oleh
salah satu mahramnya".
Ketika Lajnah D-imah menjawab sebuah pertanyaan tentang syarat-syarat yang harus terpenuhi
bagi dokter lelaki untuk menangani pasien perempuan, maka Lajnah D-imah mengeluarkan
fatwa yang berbunyi: (Syarat-syaratnya), yaitu tidak dijumpai adanya dokter wanita muslimah

yang sanggup menangani penyakitnya, dokter tersebut seorang muslim lagi bertakwa, dan pasien
wanita itu didampingi oleh mahramnya.
Demikian pula menurut Syaikh Muhammmad bin Shalih al-Utsaimin. Hanya saja, untuk
menangani wanita muslimah, beliau rahimahullah lebih memilih seorang dokter wanita
beragama Nashrani yang dapat dipercaya, daripada memilih seorang dokter lelaki muslim. Kata
beliau: Menyingkap aurat lelaki kepada wanita, atau aurat wanita kepada pria ketika dibutuhkan
tidak masalah, selama terpenuhi dua syarat, yaitu aman dari fitnah, dan tidak disertai khalwat
(berduaan dengan lawan jenis yang bukan mahramnya). Akan tetapi, berobat kepada dokter
wanita yang beragama Nasrani dan amanah, tetap lebih utama daripada ke doker muslim
meskipun lelaki, karena aspek persamaan.
Penjelasan tambahan Syaikh al-Utsaimin di atas, juga dipilih oleh para ulama yang tergabung
dalam Lajnah Daimah. Dalam fatwanya yang bernomor 16748, Lajnah D-imah memfatwakan,
wanitalah yang menangani (pasien) wanita, baik ia seorang muslimah maupun bukan. Seorang
lelaki yang bukan mahram, tidak boleh menangani wanita, kecuali dalam kondisi darurat. Yaitu
bila memang tidak ditemukan dokter wanita.
Begitu pula bagi wanita yang menghadapi persalinan.
Ada sebuah pertanyaan mengenai hukum wanita memasuki rumah sakit untuk menjalani
persalinan, sedangkan dokter-dokter di rumah sakit tersebut seluruhnya laki-laki. Lajnah Dimah memberi jawaban: "Dokter laki-laki tidak boleh menangani persalinan wanita, kecuali
dalam kondisi darurat, seperti mengkhawatirkan kondisi wanita (ibu bayi), sementara itu tidak
ada dokter wanita yang mampu mengambil alih pekerjaan itu.
KESIMPULAN
Sebagaimana hukum asalnya, bila ada dokter wanita yang ahli, maka dialah yang wajib
menjalankan pemeriksaan atas seorang pasien wantia. Bila tidak ada, dokter wanita non-muslim
yang dipilih. Jika masih belum ditemukan, maka dokter lelaki muslim yang melakukannya. Bila
keberadaan dokter muslim tidak tersedia, bisa saja seorang dokter non-muslim yang menangani.
Akan tetapi harus diperhatikan, dokter lelaki yang melakukan pemeriksaan hanya boleh melihat
tubuh pasien wanita itu sesuai dengan kebutuhannya saja, yaitu saat menganalisa penyakit dan
mengobatinya, serta harus menjaga pandangan. Dan juga, saat dokter lelaki menangani pasien
wanita, maka pasien wanita itu harus disertai mahram, atau suaminya, atau wanita yang dapat
dipercaya supaya tidak terjadi khalwat.
Dalam semua kondisi di atas, tidak boleh ada orang lain yang menyertai dokter lelaki kecuali
yang memang diperlukan perannya. Selanjutnya, para dokter lelaki itu harus menjaga
kerahasiaan si pasien wanita.

Bertolak dari keterangan di atas, bagaimanapun keadaannya, sangat diperlukan kejujuran kaum
wanita dan keluarganya tentang masalah ini. Hendaklah terlebih dulu beriktikad untuk mencari
dokter wanita. Tidak membuat bermacam alasan dikarenakan malas untuk berusaha. Semua
harus dilandasi dengan takwa dan rasa takut kepada Allah, kemudian berusaha untuk
mewujudkan tujuan-tujuan mulia di atas. Barangsiapa yang bertakwa kepada Allah Azza wa Jalla
, niscaya Allah Azza wa Jalla menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.