Anda di halaman 1dari 18

LAPORAN KASUS

HORDEOLUM EKSTERNUM

Pembimbing:
dr. Agah Gadjali, SpM
dr. Hermansyah, SpM
dr. Gartati Ismail, SpM
dr. Mustafa K. Shahab, SpM
dr. Henry A. W, SpM

Disusun oleh:
Andrew Lienata
07120110066

KEPANITERAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA


RUMAH SAKIT BHAYANGKARA TK. 1 RADEN SAID SUKANTO
PERIODE 17 AGUSTUS 2015 - 19 SEPTEMBER 2015
FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS PELITA HARAPAN

BAB 1
LAPORAN KASUS

1.1

Identitas Pasien

Nama

: TN. S

Umur

: 38 Tahun

Jenis Kelamin

: Laki-laki

No. Rekam Medis

: 633382

Tanggal lahir

: 7 Oktober 1983

Agama

: Islam

Bangsa / Suku

: Indonesia / Jawa

Pendidikan

: S1

Pekerjaan

: Karyawan Swasta

Alamat

: Jalan Kirai 64 No 27, Jakarta Timur

Status

: Menikah

Tanggal pemeriksaan

: Rabu, 26 Agustus 2015

1.2

Anamnesis (Autoanamnesis pada 26 Agustus 2015)

Keluhan Utama : Benjolan di kelopak mata kanan atas sejak 1 minggu yang lalu
Keluhan tambahan : tidak ada
Riwayat Penyakit Sekarang

Pasien datang ke Poliklinik Mata RS Polri dengan keluhan ada benjolan di


kelopak mata kanan atas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Awalnya
berupa benjolan kecil yang terasa nyeri dan gatal kemudian semakin lama

semakin membesar sehingga kelopak kanan atas merah dan bengkak. Benjolan
terasa lunak dan saat diraba terasa hangat. Pasien mengaku benjolan tersebut
pecah dan mengeluarkan cairan nanah berwarna putih kekuningan 2 hari lalu.
Sekarang benjolan tidak terasa nyeri namun pasien merasa mengganjal di bagian
kelopak mata kanan atas. Keluar kotoran, mata merah, mata berair dan
penglihatan kabur disangkal oleh pasien. Pasien tidak mengalami demam.
Riwayat Penyakit Dahulu
Pasien menyangkal pernah mengalami keluhan serupa
Riwayat pengobatan : Saat awal timbul benjolan pasien mencoba meneteskan
dengan obat tetes warung selama beberapa hari namun tidak ada perubahan
Riwayat kebiasaan : pasien mengaku mengendarai motor setiap hari tanpa helm
selama 3 tahun terakhir
Riwayat menggunakan kacamata disangkal
Riwayat mengalami benturan atau trauma benda lain pada mata disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus disangkal
Riwayat penyakit hipertensi disangkal
Riwayat alergi makanan disangkal
Riwayat alergi obat disangkal

Riwayat penyakit keluarga


Riwayat keluarga dengan sakit yang sama disangkal
Riwayat penyakit diabetes melitus dalam keluarga disangkal
Riwayat penyakit hipertensi dalam keluarga disangkal

3.3

Pemeriksaan Fisik

Status Generalis:
Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos Mentis

Tanda Vital
Tekanan darah : 120/80
Nadi

: 80 kali/menit

Respirasi

: 20 kali/menit

Suhu

: afebris (36.5 C)

Status Oftalmologi
Inspeksi

Visus
TIO

OD

OS

5/5 E
N/palpasi

5/5 E
Tidak dievaluasi

Posisi Hirschberg
Gerakan bola mata

Palpebra superior

Ortoforia

Ortoforia

Edema (+), hiperemis (+), Edema (-), hiperemis (-),


benjolan
kenyal,

(+)

konsistensi hematom (-), luka (-), pus

permukaan

rata, (-), benjolan

(-), nyeri

ukuran 0.2 x 0.2 x 0.1 tekan (-), panas (-)


cm, tidak terfiksir, nyeri

tekan (-),panas (-)


Palpebra inferior

Edema (-), hiperemis (-), Edema (-), hiperemis (-),


hematom (-), luka (-), pus hematom (-), luka (-), pus
(-), benjolan

(-), nyeri (-), benjolan

tekan (-), panas (-)


Konjungtiva tarsalis superior

tekan (-), panas (-)

Hiperemis (+), papil (-), Hiperemis (-), papil (-),


edema (-)

Konjungtiva tarsalis inferior

(-), nyeri

edema (-)

Hiperemis (-), papil (-), Hiperemis (-), papil (-),


edema (-)

edema (-)

Konjungtiva bulbi
Kornea

jernih
Jernih,

Bilik mata depan

infiltrat (-), sikatriks (-)


Dalam, jernih

(-), sikatriks (-)


Dalam, jernih

Hitam bulat, batas tegas,


sinekia anterior (-),
sinekia posterior (-)
Bulat, isokor, jernih, berada

Hitam,bulat, batas tegas,


sinekia anterior (-),
sinekia posterior (-)
Bulat, isokor, berada di

Iris
Pupil

ulkus

jernih
(-), Jernih, ulkus (-), infiltrat

di sentral, refleks cahaya sentral, refleks cahaya (+),


Lensa
Vitreus

(+), diameter 3mm


Jernih
Tidak dievaluasi

diameter 3mm
Jernih
Tidak dievaluasi

Fundus

3.4

Tidak dievaluasi

Tidak dievaluasi

Resume

Pasien laki-laki berumur 38 tahun datang dengan keluhan benjolan pada mata
kanan atas sejak 1 minggu sebelum masuk rumah sakit. Awalnya berupa benjolan
kecil yang terasa nyeri dan gatal kemudian semakin lama semakin membesar
sehingga kelopak kanan atas merah dan bengkak. Pasien mengaku benjolan
tersebut pecah dan mengeluarkan cairan nanah berwarna putih kekuningan 2 hari
lalu. Sekarang benjolan tidak terasa nyeri namun pasien merasa mengganjal di
bagian kelopak mata kanan atas. Benjolan terasa lunak dan saat diraba terasa
hangat.
Pada pemeriksaan fisik :

Visus OD : 5/5 E
Visus OS : 5/5 E

Palpebra Superior OD :

3.5

Edema (+)
Hiperemis (+)
Benjolan (+)

Konjungtiva Tarsalis Superior OD :


- Hiperemis (+)

Diagnosis Kerja
Hordeolum eksternum OD

3.6

Diagnosis Banding
-

3.7

Manajemen
Rencana terapi :
- Insisi dan kuretase hordeolum
- Antibiotik sistemik : Amoxicilin 3x500 mg
- Obat tetes Cendo Xitrol (Dexametason 0.1%, Neomisin sulfat 3.5
mg/ml, Polimiksin B sulfat 6000 iu/ml) 2 tetes setiap 6 jam

3.8

Prognosis
-

Quo Ad Vitam
: Ad Bonam
Quo Ad Fungsionam : Ad Bonam

Quo Ad Sanactionam : Ad bonam


Quo Ad Cosmetican : Ad Bonam

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA

Hordeolum adalah salah satu penyakit yang cukup sering terjadi pada
kelopak mata. Secara klinis kelainan ini sering sulit dibedakan dengan kalazion
akut. Hordeolum merupakan infeksi lokal atau peradangan supuratif kelenjar
kelopak mata. Bila kelenjar Meibom yang terkena disebut hordeolum internum,
sedangkan bila kelenjar Zeiss atau Moll yang terkena maka disebut hordeolum
eksternum.3 Gejalanya berupa kelopak yang bengkak dengan rasa sakit dan
mengganjal, merah, serta nyeri bila ditekan.1
Hordeolum biasanya menyerang pada dewasa muda, namun dapat juga
terjadi pada semua umur, terutama orang-orang dengan taraf kesehatan yang
kurang. Hordeolum mudah timbul pada individu yang menderita blefaritis dan
konjungtivitis menahun.4
A. Anatomi Palpebra
Palpebra superior dan inferior adalah modifikasi lipatan kulit yang dapat
menutup dan melindungi bola mata bagian anterior. Berkedip melindungi kornea
dan konjungtiva dari dehidrasi. Palpebra superior berakhir pada alis mata;
palpebra inferior menyatu dengan pipi. 6
Palpebra terdiri atas lima bidang jaringan utama. Dari superfisial ke dalam
terdapat lapis kulit, lapis otot rangka (orbikularis okuli), jaringan areolar, jaringan
fibrosa (tarsus), dan lapis membran mukosa (konjungtiva pelpebrae). 6

1.

Kulit
Kulit pada palpebra berbeda dari kulit bagian lain tubuh karena tipis,
longgar, dan elastis, dengan sedikit folikel rambut, tanpa lemak subkutan.

2.

Musculus orbikularis okuli


Fungsi otot ini adalah untuk menutup palpebra. Serat ototnya mengelilingi
fissura palpebra secara konsentris dan meluas sedikit melewati tepian
orbita. Sebagian serat berjalan ke pipi dan dahi. Bagian otot yang terdapat
di dalam palpebra dikenal sebagai bagian pratarsal; bagian diatas septum
orbitae adalah bagian praseptal. Segmen luar palpebra disebut bagian
orbita. Orbikularis okuli dipersarafi oleh nervus facialis.

3.

Jaringan areolar
Terdapat di bawah muskulus orbikularis okuli, berhubungan degan lapis
subaponeurotik dari kulit kepala.

4.

Tarsus
Struktur penyokong utama dari palpebra adalah lapis jaringan fibrosa
padat yang disebut tarsus superior dan inferior. Tarsus terdiri atas jaringan
penyokong kelopak mata dengan kelenjar Meibom (40 buah di kelopak
atas dan 20 buah di kelopak bawah).

5.

Konjungtiva palpebra
Bagian posterior palpebrae dilapisi selapis membran mukosa, konjungtiva
palpebra, yang melekat erat pada tarsus.

Gambar 1. Anatomi Palpebra 11

Tepian palpebra dipisahkan oleh garis kelabu (batas mukokutan) menjadi


tepian anterior dan posterior. Tepian anterior terdiri dari bulu mata, glandula Zeiss
dan Moll. Glandula Zeiss adalah modifikasi kelenjar sebasea kecil yang bermuara
dalam folikel rambut pada dasar bulu mata. Glandula Moll adalah modifikasi
kelenjar keringat yang bermuara ke dalam satu baris dekat bulu mata. Tepian
posterior berkontak dengan bola mata, dan sepanjang tepian ini terdapat muaramuara kecil dari kelenjar sebasesa yang telah dimodifikasi (glandula Meibom
atau tarsal). 6

Gambar 2. Potongan melintang palpebra 11


Punktum lakrimalis terletak pada ujung medial dari tepian posterior
palpebra. Punktum ini berfungsi menghantarkan air mata ke bawah melalui
kanalikulus terkait ke sakus lakrimalis. 6
Fisura palpebrae adalah ruang elips di antara kedua palpebra yang dibuka.
Fisura ini berakhir di kanthus medialis dan lateralis. Kanthus lateralis kira-kira
0,5 cm dari tepian lateral orbita dan membentuk sudut tajam. Septum orbitale
adalah fascia di belakang bagian muskularis orbikularis yang terletak di antara
tepian orbita dan tarsus dan berfungsi sebagai sawar antara palpebra orbita. 6
Septum orbitale superius menyatu dengan tendo dari levator palpebra
superior dan tarsus superior; septum orbitale inferius menyatu dengan tarsus
inferior. 6
Retraktor palpebrae berfungsi membuka palpebra. Di palpebra superior,
bagian otot rangka adalah levator palpebra superioris, yang berasal dari apeks

orbita dan berjalan ke depan dan bercabang menjadi sebuah aponeurosis dan
bagian yang lebih dalam yang mengandung serat-serat otot polos dari muskulus
Muller (tarsalis superior). Di palpebra inferior, retraktor utama adalah muskulus
rektus inferior, yang menjulurkan jaringan fibrosa untuk membungkus meuskulus
obliqus inferior dan berinsersio ke dalam batas bawah tarsus inferior dan
orbikularis okuli. Otot polos dari retraktor palpebrae disarafi oleh nervus
simpatis. Levator dan muskulus rektus inferior dipasok oleh nervus okulomotoris.
6

Pembuluh darah yang memperdarahi palpebrae adalah a. Palpebra.


Persarafan sensorik kelopak mata atas didapatkan dari ramus frontal nervus V
(Trigeminus), sedang kelopak mata bawah oleh cabang kedua nervus V
(Trigeminus). 6

B. Hordeolum
1. Definisi
Hordeolum adalah infeksi kelenjar pada palpebra. Bila kelenjar
Meibom yang terkena, timbul pembengkakan besar yang disebut hordeolum
interna. Sedangkan hordeolum eksterna yang lebih kecil dan superfisial
adalah infeksi kelenjar Zeiss atau Moll. 6
2. Klasifikasi
Dikenal 2 bentuk hordeolum, yaitu hordeolum internum dan eksternum.
Penjelasannya adalah sebagai berikut : 1
a. Hordeolum eksternum
Hordeolum eksternum merupakan infeksi pada kelenjar Zeiss atau
Moll dengan penonjolan terutama ke daerah kulit kelopak. Pada
hordeolum eksternum, nanah dapat keluar dari pangkal rambut.
Tonjolannya ke arah kulit, ikut dengan pergerakkan kulit dan
mengalami supurasi, memecah sendiri ke arah kulit (Gbr.2).

Gambar 2. Hordeolum Eksternum 11

b.

Hordeolum internum
Hordeolum internum merupakan infeksi kelenjar Meibom yang
terletak di dalam tarsus dengan penonjolan terutama ke daerah kulit
konjungtiva tarsal. Hordeolum internum biasanya berukuran lebih
besar dibandingkan hordeolum eksternum. Pada hordeolum internum,
benjolan menonjol ke arah konjungtiva dan tidak ikut bergerak
dengan pergerakan kulit, serta jarang mengalami supurasi dan tidak
memecah sendiri (Gbr.3).

Gambar 3. Hordeolum Internum 11


-

Terdapat 2 fase pada hordeolum yaitu :


Fase inflitratif : pada fase ini terdapat gejala khas itu terdapat nyeri

dan tanda-tanda peradangan


Fase supuratif : pada fase ini peradangan sudah reda dan tidak terdapat
rasa nyeri. Pada tahap ini perlu dilakukan insisi dan kuretase

3.

Epidemiologi
Data epidemiologi internasional menyebutkan bahwa hordeolum merupakan
jenis penyakit infeksi kelopak mata yang paling sering ditemukan pada
praktek kedokteran. insidensi tidak tergantung pada ras dan jenis kelamin.12

4.

Etiologi
Staphylococcus aureus adalah agen infeksi pada 90-95% kasus
hordeolum. 4

5.

Faktor resiko
Faktor resiko hordeolum adalah sebagai berikut : 5
a. Penyakit kronik.
b. Kesehatan atau daya tahan tubuh yang buruk.
c. Peradangan kelopak mata kronik, seperti Blefaritis.
d. Diabetes.
e. Hiperlipidemia, termasuk hiperkolesterolemia.
f. Riwayat hordeolum sebelumnya.
g. Higiene dan lingkungan yang tidak bersih.

6.

Patogenesis
Patogenesis

terjadinya

hordeolum

eksterna

diawali

dengan

pembentukan nanah dalam lumen kelenjar oleh infeksi Staphylococcus


aureus. Biasanya mengenai kelenjar Zeis dan Moll. Selanjutnya terjadi
pengecilan lumen dan statis hasil sekresi kelenjar. Statis ini akan
mencetuskan infeksi sekunder oleh Staphylococcus aureus. Terjadi
pembentukan nanah dalam lumen kelenjar. Secara histologis akan tampak
gambaran abses, dengan ditemukannya PMN dan debris nekrotik.
Hordeolum interna terjadi akibat adanya infeksi sekunder kelenjar Meibom
di lempeng tarsal.14,15
7.

Manifestasi klinis
a.

Gejala 3,4
1) Pembengkakan.
2) Rasa nyeri pada kelopak mata.
3) Perasaan tidak nyaman dan sensasi terbakar pada kelopak mata.
4) Penglihatan terganggu
5) Rasa tidak nyaman saat berkedip
6) Sekret purulen di mata
7) Iritasi pada mata

8) Sensitivitas terhadap cahaya


b.

Tanda 1,8
1) Eritema.
2) Edema.
3) Nyeri bila ditekan di dekat pangkal bulu mata.
4) Seperti gambaran absces kecil.

9.

Diagnosis
Diagnosis hordeolum ditegakkan berdasarkan gejala dan hasil pemeriksaan
oftalmologis.13

10. Penatalaksanaan
a. Preventif:
- Jaga kebersihan mata dan membiasakan mencuci tangan sebelum
-

menyentuh mata
Jangan menyetuh mata yang sehat setelah menyentuh mata yang sakit
Tidak memakai kosmetik pada mata yang sakit
Hindari penggunaan kontak lensa selama mata belum sembuh
Menggunakan sapu tangan atau tissue bersih untuk memegang mata

yang sakit
Menggunakan

kacamata

pelindung

jika

bepergian

atau

saat

mengendarai motor
b.Promotif
:
- Memberikan edukasi bahwa penyakit ini kebanyakan disebabkan oleh
infeksi dan penyakit gampang menular dan bagaimana cara
pencegahannya
c.

Kuratif

Biasanya hordeolum dapat sembuh sendiri dalam waktu 5-7 hari. 9


- Farmakologi
Antibiotik diindikasikan bila dengan kompres hangat selama 24 jam
tidak ada perbaikan dan bila proses peradangan menyebar ke sekitar
daerah hordeolum.4
1) Antibiotik topikal
Bacitracin atau tobramicin salep mata diberikan setiap 4 jam
selama 7-10 hari.

Dapat juga diberikan eritromisin salep mata

untuk kasus hordeolum eksterna dan hordeolum interna yang


ringan.10
2) Antibiotik sistemik
Diberikan bila terdapat tanda-tanda bakterimia atau terdapat tanda
pembesaran kelenjar limfe di preauricular.4 Pada kasus hordeolum
internum dengan kasus yang sedang sampai berat. Dapat diberikan
cephalexin atau dicloxacilin 500 mg per oral 4 kali sehari selama 7
hari. Bila alergi penisilin atau cephalosporin dapat diberikan
clindamycin 300 mg oral 4 kali sehari selama 7 hari atau
klaritromycin 500 mg 2 kali sehari selama 7 hari. 10
-

Pembedahan
Bila dengan pengobatan tidak berespon dengan baik, maka prosedur
pembedahan mungkin diperlukan untuk membuat drainase pada
hordeolum.9
Pada insisi hordeolum terlebih dahulu diberikan anestesi topikal dengan
pantokain tetes mata. Dilakukan anestesi filtrasi dengan prokain atau
lidokain di daerah hordeolum dan dilakukan insisi : 7
1) Hordeolum internum dibuat insisi pada daerah fluktuasi pus, tegak
lurus pada margo palpebra.
2) Hordeolum eksternum dibuat insisi sejajar dengan margo palpebra.
Setelah dilakukan insisi, dilakukan ekskohleasi atau kuretase seluruh isi
jaringan meradang di dalam kantongnya dan kemudian diberikan salep
antibiotik.

Gambar 4. Insisi hordeolum10


-

Non Medikamentosa
Kompres hangat 3 - 4 kali sehari selama 10 - 15 menit tiap kalinya
untuk membantu drainase. Lakukan dengan mata tertutup. Jangan
mencoba memecahkan hordeolum, biarkan pecah sendiri. Bersihkan
kelopak mata dengan air bersih
d.

Rehabilitatif :
Pasien kontrol kembali 1 minggu lagi untuk melihat efek pengobatan dan
untuk dilakukan insisi dan kuretase
11. Komplikasi
Komplikasi hordeolum adalah mata kering, simblefaron, abses, atau selulitis
palpebra yang merupakan radang jaringan ikat jarang palpebra di depan
septum orbita dan abses palpebra.14
12. Pencegahan
Pencegahan hordeolum dapat dilakukan dengan cara berikut : 14
a.

Menjaga kebersihan wajah dan membiasakan mencuci tangan


sebelum menyentuh wajah agar hordeolum tidak mudah berulang.

b.

Mengusap kelopak mata dengan lembut menggunakan washlap


hangat untuk membersihkan ekskresi kelenjar lemak.

c.

Menjaga

kebersihan

peralatan

make-up

mata

agar

tidak

terkontaminasi oleh kuman.


d.

Menggunakan kacamata pelindung jika bepergian di daerah berdebu.

13. Prognosis
Prognosis umumnya baik, karena proses peradangan pada hordeolum bisa
mengalami penyembuhan dengan sendirinya, asalkan kebersihan daerah mata
tetap dijaga dan dilakukan kompres hangat pada mata yang sakit serta terapi
yang sesuai.14

BAB 3
PEMBAHASAN

Dari hasil anamnesis didapatkan bahwa pasien memiliki keluhan utama yaitu
terdapat benjolan di kelopak mata kanan atas. Keluhan ini dirasakan 1 minggu pasien
datang ke rumah sakit. Awalnya berupa benjolan kecil yang terasa nyeri dan gatal
kemudian semakin lama semakin membesar sehingga kelopak kanan bawah merah
dan bengkak. Benjolan terasa lunak dan saat diraba terasa hangat. Pasien mengaku
benjolan tersebut pecah dan mengeluarkan cairan nanah berwarna putih kekuningan 2
hari lalu. Sekarang benjolan tidak terasa nyeri namun pasien merasa mengganjal di
bagian kelopak mata kanan atas. Pasien merasa tidak nyaman saat berkedip. Visus
pasien normal dan tidak terganggu, Hal ini sesuai dengan manifestasi klinis pada
hordeolum.
Dari hasil pemeriksaan fisik khusus dengan membalikan kelopak mata
superior kanan terdapat daerah yang berwarna kemerahan dan tidak ada benjolan.
Pada inspeksi terlihat benjolan besar di palpebra superior mata kanan. Hal ini sesuai
dengan keadaan klinis hordeolum eksternum terjadi apabila yang terkena kelenjar
yang berada di anterior palpebra yaitu pada kelenjar Moll atau Zeiss dengan
kemerahan dan bengkak yang mengarah ke kulit. Hal ini membedakan hordeolum
interna dengan externa. Pada hordeolum interna terjadi peradangan pada kelenjar
Meibom. Benjolan nampak dari dalam konjungtiva palpebra.
Edema pada kelopak mata kanan superior disebabkan adanya peningkatan
permeabilitas pembuluh darah. Gejala ini disebabkan infeksi atau peradangan pada
kelenjar Moll atau Zeiss di kelopak mata bagian bawah. Penyebab dari hordeolum
adalah infeksi bakteri, biasanya bakteri Staphylococcus (Staphylococcus aureus).
Pasien saat datang ke rumah sakit sudah tidak mengalami rasa nyeri lagi dan
tanda peradangan hanya tersisa sedikit. Hal ini menunjukkan bahwa pasien sedang
dalam tahap supurasi.

Berdasarkan gejala dan tanda yang didapat pada pasien ini disimpulkan bahwa
pasien ini mengalami hordeolum ekstenum fase supurasi pada mata kanannya.
Pengobatan yang diberikan pada pasien ini adalah Cendo xytrol tetes, dan
amoxicilin oral. C xytrol merupakan salah satu contoh antibiotika steroid yang
memberikan efek sangat baik pada peradangan utamanya pada hordeolum. Obat ini
mengurangi permeabilitas pembuluh darah, mengurangi gejala radang, dan
mengurangi pembentukan jaringan parut atau scar. Asam mefenamat merupakan salah
satu jenis dari obat anti inflamasi non steroid yang dapat mengurangi keluhan merah
atau tanda peradangan lainnya pada hordeolum. Amoxicilin per oral diberikan sebagai
antibiotik untuk menghambat penyebaran infeksi bakteri, dan mencegah timbulnya
infeksi pasca insisi.
Prognosis pada penderita baik, karena sebagian besar hordeolum akan sembuh
sendiri, tidak berbahaya bagi mata dan tidak mengganggu penglihatan.

BAB 4
DAFTAR PUSTAKA
1. Kamus Saku Kedokteran Dorland Edisi 25. 1996. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
2. American Academy of Ophthalmology. 2008. Classification and Management
of Eyelid Disorders. In Orbit, Eyelids, and Lacrimal System. Singapore:
Lifelong Education Ophthalmologist. pp 165-167.
3. Vaughan DG, Asbury T, Eva PR. 2000. Palpebra dan Aparatus Lakrimalis.
Dalam Oftamologi umum. Edisi 14. Jakarta : Widya Medika. Hal 81-82
4. Ilyas,Sidharta. 2005. Kelopak Mata. Dalam Penuntun Ilmu Penyakit Mata. 3rd
edisi. Jakarta : Balai Penerbit FKUI, hlm : 58-60
5. Ehranheus, Michael P. Hordeolum. Diakses dari: http://www.emedicine.com
pada tanggal 30 Maret 2013.
6. http://www.prod.hopkins-abxguide.org/diagnosis/heent/hordeolum_stye_
chalazion.html
7. http://dermatlas.med.jhml.edu/derm
8. http://dokterie.wordpress.com/2010/03/09/hordeolum/
9. http://indonesiaindonesia.com/f/13173-hordeolum/
10. http://www.aafp.org.afp/980600ap/articles.html
11. http://www.emedicine.com/oph/LID.html
12. http://www.emedicine.com/emerg/OPHTHALMOLOGY.htm
13. http://www.3-rx.com/stye/default.php
14. http://www.emedicinehealth.com/script.main/art.asp?
articlekey=58821&page=1