Anda di halaman 1dari 31

LAPORAN KASUS ANAK

SEORANG ANAK LAKI-LAKI 12 TAHUN 9 BULAN DENGAN


DEMAM BERDARAH DENGUE DERAJAT I

Diajukan guna memenuhi tugas Kepaniteraan Komprehensif di Rumah Sakit


Umum Daerah Sunan Kalijaga Demak

Disusun oleh :
Fathia Khairani
22010113210073
Pembimbing :
dr. Budi Nurcahyani, Sp.A

FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS DIPONEGORO


SEMARANG
2015
HALAMAN PENGESAHAN

Nama Mahasiswa

: Fathia Khairani

NIM

: 22010113210073

Bagian

: Komprehensif RSUD Sunan Kalijaga Demak

Judul Kasus

:Seorang Anak Laki-laki 12 Tahun 9 Bulan dengan Demam


Berdarah Dengue Derajat I dan Demam Tifoid

Pembimbing

: dr. Budi Nurcahyani, Sp.A

Demak, 21 Agustus 2015


Pembimbng

(dr. Budi Nurcahyani, Sp.A)

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Demam Berdarah Dengue (DBD) atau Dengue Hemorrhagic Fever
(DHF) adalah penyakit infeksi akut oleh virus Dengue yang sering mematikan.
Virus Dengue termasuk kelompok Arbovirus yang dapat ditularkan kepada
manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk Aedes albopictus,
Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lain dapat juga menularkan virus ini,
namun merupakan vector yang kurang berperan. Jenis nyamuk ini terdapat
hampir diseluruh pelosok Indonesia, kecuali ditempat-tempat ketinggian lebih
dari 1000 meter di atas permukaan air laut. 1,2
Penyakit ini dapat menyerang semua orang dan dapat mengakibatkan
kematian terutama pada anak, serta sering menimbulkan kejadian luar biasa
atau wabah. Indonesia merupakan daerah endemis penyakit ini. DBD pertama
kali dilaporkan di Surabaya pada tahun 1968. Sejak itu penyakit tersebut sudah
menyebar ke berbagai daerah, sehingga sampai tahun 1980 seluruh propinsi di
Indonesia telah terjangkit penyakit. Insidensinya cenderung meningkat dari
tahun ke tahun dengan puncaknya pada bulan Desember sampai Februari, saat
datangnya musim hujan. 2,3 Pada tahun 2000 jumlah kasus DBD sebanyak
33.443 orang (Incidence Rate (IR) = 15,99), tahun 2001 sebanyak 45.904 orng
(IR=21,66), tahun 2002 sebanyak 40.377 (IR=19,24), tahun 2003 sebanyak
50.131 (IR=23,87), tahun 2004 (sampai dengan Maret 2004) jumlah kasus
mencapai 76.015 orang dengan jumlah kematian 389 orang. Menurut laporan
yang dilansir oleh situs Ikatan Dokter Indonesia, sampai tangal 8 Agustus 2005
terdapat 36.500 kasus demam berdarah di 31 propinsi. Kasus tertinggi terjadi
di DKI Jakarta dengan lebih dari 10.000 kasus dimana 57 orang diantaranya
meninggal. 5.6
Meningkatnya

jumlah

kasus

serta

bertambahnya

wilayah

yang

terjangkit disebabkan karena peningkatan distribusi geografis virus dan


intensitas transmisi virus dengue oleh nyamuk Aedes aegypti, kepadatan

penduduk, keadaan daerah pemukiman dibawah standar kesehatan dan


peningkatan transportasi modern yang meningkatkan transmisi virus dengue.
Departemen Kesehatan telah mengupayakan berbagai strategi dalam mengatasi
kasus ini. Pada awalnya digunakan strategi pengasapan, kemudian diperluas
dengan

menggunakan

bubuk

abate

(tomophos)

pada

tempat-tempat

penampungan air. Selain itu disosialisasikan semboyan 3M (menutup,


menguras, mungubur) dalam kampanye kepada masyarakat. 3.5.6
Infeksi

virus

Dengue

pada

manusia

mengakibatkan

spektrum

manifestasi klinis yang bervariasi antara penyakit paling ringan, demam


dengue, demam berdarah dengue (DBD) dan demam berdarah dengue disertai
syok (DSS). 3,4
Sebagian besar penderita dapat tertolong, tetapi korban meninggalpun
tidak terhindarkan. Pemastian diagnosa dini penyakit DBD tidaklah mudah
karena gejala awal penyakit ini sangat mirip dengan penyakit infeksi lain.
Oleh karena itu untuk menegakkan diagnosis harus dilakukan monitoring
berkala, baik klinis maupun laboratoris. 1,2,6
Tidak ada perawatan spesifik untuk penanganan DBD. Pengobatan DBD
bersifat simptomatik dan suportif. Tatalaksana didasarkan atas adanya
perubahan fisiologi berupa perembesan plasma dan perdarahan. Pemilihan
jenis cairan dan jumlah yang akan diberikan merupakan kunci keberhasilan
pengobatan. 1,2,3
1.2 TUJUAN
Tujuan penulisan laporan ini adalah untuk mengetahui cara
menegakkan diagnosa, melakukan pengelolaan penderita demam berdarah
dengue dan demam tifoid serta tindakan pengobatan yang diberikan sesuai
dengan penulisan ilmiah berdasar kepustakaan atau prosedur yang ada.
1.2.1 TUJUAN UMUM
Untuk mengetahui cara menegakkan diagnosa, melakukan pengelolaan
penderita demam berdarah dengue dan demam tifoid

1.2.2 TUJUAN KHUSUS


1. Mahasiswa mampu melakukan autoanamnesis dan alloanamnesis
kepada pasien demam berdarah dengue dan demam tifoid
2. Mahasiswa mampu melakukan pemeriksaan fisik dan mengerti
pemeriksaan penunjang sebagai diagnosis pasti demam berdarah
dengue dan demam tifoid
3. Mahasiswa mampu melakukan pengelolaan secara komprehensif
pada pasien demam berdarah dengue.dan demam tifoid
2. MANFAAT
Diharapkan laporan ini dapat digunakan sebagai media pembelajaran
untuk menegakkan diagnosis, mengelola penyakit tersebut dengan benar dan
mengetahui prognosisnya.

BAB II
PENYAJIAN KASUS
A. IDENTITAS PENDERITA
Nama

: An. AI

Umur

: 12 tahun 9 bulan

Jenis kelamin

: Laki-laki

Agama

: Islam

Pendidikan

: SMP kelas 1

Alamat

: Demak

Ruangan

: Dahlia

Tanggal Masuk

: 2 Agustus 2015

IDENTITAS ORANG TUA


Nama Ayah

: Tn. S

Umur

: 37 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: Swasta

Pendidikan

: SMP

Alamat

: Demak

Nama Ibu

: Ny. SA

Umur

: 33 tahun

Agama

: Islam

Pekerjaan

: IRT

Pendidikan

: SMP

Alamat

: Demak

B. DATA DASAR
1. Anamnesis
Autoanamnesis dan alloanamnesis dengan ibu penderita tanggal 4
Agustus 2015, pukul 10.00 di Bangsal Dahlia RSUD Sunan Kalijaga
Demak
a. Keluhan utama

: demam

b. Riwayat penyakit sekarang :


4 hari, anak demam tinggi sejak Jumat siang, demam tinggi
mendadak, suhu tidak diukur, semakin lama semakin tinggi, terusmenerus, menggigil (-), keringat dingin (-), pusing (+), keluar
cairan dari telinga (-), batuk (-), pilek (-), nyeri telan (-), nafsu
makan menurun (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut (+), nyeri otot
dan sendi (+), bintik-bintik merah seperti digigit nyamuk (-),
mimisan (-), gusi berdarah (-), BAB cair (-), BAB seperti petis (-),
BAK merah (-), BAK nyeri (-), BAK lancar jumlah cukup, warna
kuning jernih, tidak berbuih. Dibawa berobat ke bidan, diberi obat
penurun panas, panas turun tetapi naik lagi. .
2 hari, anak masih demam tinggi dan semakin lemas, oleh orang
tua anak dibawa ke IGD RSUD Sunan Kalijaga Demak dan dirawat
inap. Di RSUD, anak dipasang infus, diberi obat penurun panas dan
antibiotic serta diperiksa laboratorium.
b. Riwayat Penyakit Dahulu
Penderita baru pertama kali sakit seperti ini.
Penyakit lain yang pernah diderita oleh anak yaitu : batuk, pilek,
mencret pada saat usia 1 tahun, tetapi tidak sampai dirawat di rumah
sakit/balai pengobatan.
c. Riwayat Penyakit Keluarga
-

Ada anggota keluarga yang sakit demam berdarah maupun

demam dengue
Ada tetangga sekitar rumah yang sakit demam berdarah maupun
demam dengue

d. Riwayat Sosial Ekonomi


5

Ayah bekerja sebagai pegawai swasta dan ibu bekerja sebagai ibu
rumah tangga dengan penghasilan sekitar Rp.2.000.000/bulan.
Memiliki 2 orang anak yang belum mandiri. Biaya pengobatan
ditanggung BPJS.
Kesan : sosial ekonomi cukup
e. Riwayat Perinatal

Prenatal : Pemeriksaan kehamilan dilakukan di bidan >4x.


Selama hamil ibu telah mendapatkan suntikan TT dua kali.
Penyakit dan trauma selama kehamilan disangkal. Obat obat
yang diminum selama kehamilan adalah

vitamin dan tablet

tambah darah.
Natal : lahir bayi laki-laki dari ibu G2P1A0 usia 33 tahun,
hamil aterm, lahir spontan di bidan. Langsung menangis,

kebiruan (-), kuning (-). BBL 2800 gram, PBL lupa.


Postnatal : anak rutin periksa ke bidan Posyandu tiap bulan dan
dikatakan sehat.

Tabel 1. Riwayat Kelahiran


No
1

Kehamilan dan kelahiran


aterm, spontan, bidan, 2800 gram

Umur tanggal lahir


12 th

aterm, spontan, bidan, 3000 gram

4,5 th

f. Riwayat Imunisasi: (oleh bidan di posyandu)


BCG
: 1x (1 bulan)
Polio
: 4x (0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan)
Hepatitis B
: 4x (0 bulan, 2 bulan, 3 bulan, 4 bulan)
DPT
: 3x (2 bulan, 3 bulan, 4 bulan)
Campak
: 1x (9 bulan)
Ulangan campak 1 kali (kelas 1 SD)
DPT (5 tahun)
Kesan
: imunisasi dasar lengkap sesuai usia
g. Riwayat Pertumbuhan dan Perkembangan

Pertumbuhan
Lahir : BB 2800 gram, PB ibu lupa
Saat ini : BB 51 kg, PB 170 cm

Senyum

Perkembangan
: 2 bulan

Miring

: 3 bulan

Tengkurap

: 4 bulan

Duduk

: 6 bulan

Merangkak : 6 bulan
Berdiri
: 9 bulan
Berjalan
: 12 bulan

Gigi keluar : 8 bulan


Saat ini anak duduk di Sekolah Menengah Pertama Kelas 1. Prestasi
cukup, belum pernah tinggal kelas. Suka berolahraga, mampu
menulis dengan baik, memiliki banyak teman seusianya
Kesan pertumbuhan dan perkembangan anak sesuai umur.
h. Riwayat Pemberian Makanan
0-6 bulan

: ASI adlibitum.

6-12 bulan

: ASI adlibitum + bubur susu + susu formula

10-24 bulan

: ASI adlibitum + nasi tim dengan sayur, tahu,

tempe, telur/hati/ayam
2 thn-sekarang

: Makanan keluarga (nasi, tempe, tahu, sayur

sop/bayam, telur/daging/ayam/ikan
Kesan : kualitas dan kuantitas cukup
i. Riwayat Kontrasepsi Orang Tua
Ibu penderita saat ini ikut KB suntik setiap 3 bulan.
2. Pemeriksaan Fisik
Tanggal 4 Agustus 2015 pukul 10.30 WIB di Bangsal Dahlia RSUD
Sunan Kalijaga Demak (perawatan hari II/ panas hari ke-4)
Keadaan Umum : lemas, kompos mentis, perdarahan spontan (-)
Tanda Vital

: TD : 100/70 mmHg
N

: 104x/menit, isi dan tegangan cukup

RR : 20 x/mnt, reguler
t

: 38,10C

Rambut

: warna hitam, tidak mudah dicabut

Kulit

: pucat (-), petechiae (-)

Mata

: conjungtiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik


(-/-), oedema palpebra (-/-)

Hidung

: nafas cuping (-), epistaksis (-)

Telinga

: discharge (-)

Mulut

: sianosis (-), gusi berdarah (-), lidah kotor (+)

Tenggorok

: T 1-1 faring hiperemis (-)

Leher

: simetris, pembesaran nnll (-)

Dada :
Paru :

: simetris, statis, dinamis

Pa : stem fremitus kanan=kiri


Pe : sonor
Aus : suara dasar vesikuler +/+
Suara tambahan: wheezing -/-, ronkhi -/-, hantaran -/-.

Vesikulr
ST (-)

Vesikuler,
ST (-)

Jantung : I

Vesikuler,
ST (-)

: iktus kordis tidak tampak

Pa : iktus

kordis

teraba

cm

medial

linea

midclavicularis sinistra
Pe : konfigurasi jantung dalam batas normal
Aus: BJ I-II normal, bising (-), thrill (-), gallop (-)
Abd : I :

datar, venektasi (-)

Aus: bising usus (+) N


Pe : timpani, pekak sisi (+) normal, pekak alih (-)
Pa : supel,

turgor

cepat

kembali,

nyeri

tekan

epigastrium (+), hepar/lien : tidak teraba


Ekstremitas :

Superior

Oedema

-/-

-/-

Sianosis

-/-

-/-

Akral dingin

-/-

-/-

Capillary refill

<2

<2

Petechiae

-/-

-/-

Inferior

Refleks fisiologis +N/+N

+N/+N

Refleks patologis -/-

-/-

Gerak

+/+

+/+

Tonus

N/N

N/N

Rumple Leed (+)


3. Status Antropometri
Laki-laki, 12 tahun 9 bulan, BB saat ini 51 kg, TB 170 cm
WAZ : NA
HAZ : 2.08 (perawakan normal)

Gambar 1. Kurva tinggi badan menurut usia


BMI for age : -0.43 (gizi normal)

Kurva 2. Kurva indeks massa tubuh menurut usia


4. Pemeriksaan Penunjang
a. Laboratorium darah perawatan hari II (4 Agustus 2015)
Tabel 2. Darah rutin dan serologi
Harga normal

2/08/2015

3/08/2015

4/08/2015

Hb

14-18 gr%

22.00
13,2

06.00
13,7

06.00
15,0

Ht

42-52 %

36,9

37,6

41,5

Eritrosit

4,7-6,1 x10 6 /ml

4,7

4,77

5,3

Leukosit

4,8-10,8

2,99

3,67

4,15

Trombosit

x10 3 /ml

86.000

73.000

42.000

Serologi

150-450

Widal Ty O

x10 3 /uL

Widal Ty H

1/400
1/400

5. Kebutuhan Nutrisi 24 jam

10

Anak usia 12 tahun 9 bulan, BB: 51 kg BB ideal : 45 kg


Kalori : 60Kal/kgBB
Protein : 1gr/kgbb
Tabel 3. Kebutuhan nutrisi 24 jam
Kebutuhan

Cairan (cc)

Kalori (kkal)

Protein

24 jam

1920 cc

2700 kal

(gr)

Inf RL 40 tpm

3840

45 gr
-

3x 1 diet lunak

300

1377

53,5

(100cc)

600

396

8,4

3 x susu (200c)
Jumlah
% AKG

4740
246,87%

1773
61,96%

61,9
137,56%

Masalah Pasif

Tanggal

C. DAFTAR MASALAH
No
Masalah aktif
1. Febris 4 hari 12

Tanggal
4-8-2015

2.

Nafsu makan turun 12

4-8-2015

3.

Mual 12

4-8-2015

4.

Nyeri perut 12

4-8-2015

5.
6.

Nyeri otot dan sendi 12 4-8-2015


4-8-2015
Lidah kotor

7.

Nyeri tekan epigastrium 4-8-2015

No

13
8.

Rumple Leed (+) 12

9.

Gizi

baik,

4-8-2015

perawakan 4-8-2015

normal
10

Leukosit : 4150

4-8-2015

Trombosit : 42000 12
11

Widal Ty O 1/400

4-8-2015

Widal Ty H 1/400
12

DBD grade I

4-8-2015

D. DIAGNOSIS KERJA

11

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.

Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis
Diagnosis

Utama
Komorbid
Komplikasi
Gizi
Imunisasi
Pertumbuhan
Perkembangan
Sosial Ekonomi

:
:
:
:
:
:
:
:

Demam berdarah dengue


Gizi baik
Imunisasi lengkap sesuai usia
Perawakan normal
Perkembangan sesuai usia
Sosial ekonomi cukup

E. RENCANA PENATALAKSANAAN
1. Assesment : Demam Berdarah Dengue derajat I
DD/ Demam tifoid
a. IPDx :

-S

:-

- O : Pemeriksaan darah serial, serologi dengue, Xfoto thorax RLD, serologi S.typhii, kultur
kuman, feses rutin
b. IPRx :
Infus RL 7 ml/kgBB/jam 90 tpm (selama 2 jam)
5 ml/kgBB/jam 80 tpm (selama 4 jam)
3 ml/kgBB/jam 40 tpm (selanjutnya)
paracetamol 3 x 500 mg (kalau t > 38 C )
Diet : 3 x lunak, 3 x 200 cc susu
c. IPMx :
Pemeriksaan darah serial tiap 6 jam
Keadaan umum, tanda vital, tanda-tanda syok, warning sign
d. IPEx :

Menjelaskan kepada orangtua mengenai penyakit yang diderita


oleh anak dan bagaimana cara penularannya.

Menjelaskan kepada orangtua penderita tentang rencana dan


tujuan dilakukan pemeriksaan darah rutin yang dilakukan secara
serial (informed consent).

Menjelaskan kepada orangtua penderita tentang rencana dan


tujuan dilakukan pemeriksaan foto thorax.

Selama dirawat di bangsal orangtua penderita diberi penjelasan


tentang tanda-tanda syok dan tanda bahaya, bila ada tanda-tanda
tersebut segera lapor kepada petugas kesehatan yang ada.
12

Menjelaskan kepada orangtua mengenai pengobatan yang


diberikan.

Memberikan edukasi tentang 3 M, memberantas sarang nyamuk


di lingkungan rumah.

13

F. CATATAN KEMAJUAN
Tanggal / Hari
Perawatan
5/8/2015
(Hari perawatan
III/ hari panas
ke-5)
08.00

Pemeriksaan Fisik
Keluhan : demam (-), nyeri perut (+), pusing (+)
Kead. Umum : lemas, composmentis perdarahan spontan (-)
TV : TD : 110/70 mmHg
HR : 90 / menit
RR : 20 x / menit
T
: 37,2 0 C
Mata : konj. Anemis (-/-), ikterik (-/-), edema(-)
Hidung : nafas cuping (-), epistaksis (-)
Telinga : discharge (-)
Mulut : gusi berdarah (-)
Tenggorok : T 1-1 , hiperemis (-)
Leher : pembesaran nnll (-)
Kulit : petechie (-) wajah dan leher
Dada : simetris, statis, dinamis, retraksi (-)
a. Jantung : dbn
b. Paru : suara dasar vesikuler
suara tambahan (-)
Abdomen : I
Au
Pe
Pa

:
:
:
:

datar, lemas, venektasi (-)


BU (+) N
timpani, PS (-), PA (-)
supel, turgor cepat kembali, nyeri tekan epigastrium (-),
hepar/lien : tidak teraba

Ekstremitas
Petekhiae
Akral dingin
Cap. Refil
Ref. Fisiologis
Ref. Pathologis

Sup.
-/-/<2
+/+
-/-

Assesment :
Demam Berdarah Dengue Derajat I

15

DD/ Demam tifoid

Inf
-/-/<2
+/+
-/-

Pemeriksaan Penunjang
Hb : 15,9 g/dl
Ht : 43,6 %
Leu : 7140 / mmk
Tro : 40.000 / mmk

Terapi
-

X-foto thorax RLD :


Kesan Efusi pleura minimaldengan PEI 3,53
-

Infus RL 40 tpm
Kloramfenikol 4x500 mg
Parasetamol 3 x 500 mg bila panas
Diet lunak 3x sehari
Program :
Evaluasi KU, TV, tanda perdarahan,
diuresis, tanda syok, warning sign
Darah rutin ulang

6/8/2015
(Hari perawatan
IV/ hari panas
ke-6)
08.00

7/8/2015
(Hari perawatan
V/ hari panas
ke-7)
08.00

Keluhan : demam (-), nyeri perut (-), pusing (+)


KU : Sadar, tanda pendarahan (-)
TV : TD : 110/70 mmHg
N
: 84x / menit, isi dan tegangan cukup
RR : 20 x / menit
T
: 36,2 0 C
PF: tetap
Assesment :
Demam Berdarah Dengue Derajat I
DD/ Demam tifoid
Keluhan : demam (-), nyeri perut (-), pusing (-)
KU : Sadar, tanda pendarahan (-)
TV : TD : 110/70 mmHg
N
: 76x / menit, isi dan tegangan cukup
RR : 20 x / menit
T
: 36,2 0 C
PF: tetap
Assesment :
Observasi febris
DD/ Demam Berdarah Dengue Derajat I
Demam tifoid

17

Hb : 14,8 g/dl
Ht : 41,9 %
Leu : 9030 / mmk
Trom : 31.000 / mmk

Hb : 14,3 g/dl
Ht : 39,7 %
Leu : 9300 / mmk
Trom : 45.000 / mmk

Infus RL 40 tpm
Kloramfenikol 4x500 mg
Parasetamol 3 x 500 mg bila panas
Diet lunak 3x sehari
Program :
Evaluasi KU, TV, tanda perdarahan,
diuresis, tanda syok, warning sign
Darah rutin ulang
Infus RL 20 tpm
Kloramfenikol 4x500 mg
Parasetamol 3 x 500 mg bila panas
Diet lunak 3x sehari
Program :
Evaluasi KU, TV
Darah rutin ulang (boleh pulang bila
trombosit > 50.000)

BAB III
TINJAUAN PUSTAKA

A.DEMAM BERDARAH DENGUE


1. Etiologi dan Vektor
Demam Berdarah Dengue (DBD) disebabkan oleh virus dengue,
termasuk dalam

kelompok B Arthropod borne virus (Arboviruses) yang

sekarang dikenal sebagai genus Flavivirus, famili Flaviviridae dan memiliki 4


jenis serotipe yaitu DEN-1, DEN-2, DEN-3 dan DEN-4 dan serotipe DEN-3
merupakan serotipe yang dominan. Infeksi salah satu serotipe akan
menimbulkan antibodi terhadap serotipe yang bersangkutan, sedangkan
antibodi terhadap serotipe lain kurang, sehingga tidak dapat memberikan
perlindungan yang memadai terhadap serotipe lain. 3,4,8
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi
virus dengue, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus dengue
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes
albopticus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies lainnya. Yang paling
berperan dalam penularan penyakit ini adalah Aedes aegypti, yang hidup subur
di daerah tropis dan subtropics. A. aegypti bersifat antropofiik yaitu senang
sekali terhadap manusia dan mempunyai kebiasaan menggigit ulang ( multiple
biters). Di Indonesia ada dua jenis nyamuk Aedes : A. aegypti dengan jarak
terbang 100 meter dan A. albopictus dengan jarak terbang 50 meter. Nyamuk
ini mempunyai warna dasar hitam dengan bintik-bintik putih pada bagian
badan, kaki dan sayapnya. Nyamuk A. aegypti hidup dan berkembang biak
pada tempat-tempat penampungan air bersih yang tidak langsung berhubungan
dengan tanah, seperti bak mandi/WC, air tempayan/gentong, kaleng, ban
bekas, dll. Untuk A. albopictus lebih senang bertelur di kaleng-kaleng yang
dibuang. Nyamuk jantan menghisap sari bunga untuk keperluan hidupnya,
sedangkan yang betina menghisap darah. Nyamuk betina mencari mangsa pada
siang hari. Biasanya aktivitas menggigit dimulai pada pagi sampai petang hari,

18

terutama pada pukul 07.00, 11.00 dan 17.00. Kemampuan terbang nyamuk
betina rata-rata 40 meter, maksimal 100 meter. Kepadatan nyamuk ini akan
meningkat pada musim hujan, dimana banyak genangan air bersih yang dapat
menjadi tempat perkembangbiakan nyamuk Aedes aegypti .1,3,4
2. Patogenesis
Terdapat tiga faktor yang memegang peranan pada penularan infeksi
virus Dengue, yaitu manusia, virus dan vektor perantara. Virus Dengue
ditularkan kepada manusia melalui gigitan nyamuk Aedes aegypti, Aedes
albopictus, Aedes polynesiensis dan beberapa spesies yang lain dapat juga
menularkan virus ini. Nyamuk Aedes tersebut dapat mengandung virus Dengue
pada saat menggigit manusia yang sedang mengalami viremia. Virus kemudian
berkembang biak dalam tubuh nyamuk yang terutama ditemukan pada kelenjar
liurnya dalam waktu 8-10 hari ( extrinsic incubation period ) sebelum dapat
ditularkan kembali kepada manusia pada saat gigitan berikutnya . Pada
manusia, virus memerlukan waktu 4-6 hari (intrinsic incubation period)
sebelum menimbulkan sakit. Penularan dari manusia kepada nyamuk hanya
dapat terjadi bila nyamuk menggigit manusia yang sedang mengalami viremia,
yaitu 2 hari sebelum panas sampai 5 hari setelah demam timbul. 1
Patogenesis DBD dan DSS masih merupakan kontroversi, tapi teori
yang banyak dianut adalah the secondary heterologous infection. Teori ini
menyatakan apabila setelah terinfeksi virus dengue pertama kali penderita
kemudian mendapatkan infeksi kedua dengan virus Dengue serotip yang
berbeda maka penderita tersebut akan memiliki resiko lebih tinggi untuk
menderita DBD maupun Sindroma Syok Dengue. Antibodi preinfeksi yang
berasal dari serotipe lain tersebut dikenal sebagai antibody dependent
enhancement (ADE). ADE merupakan antibody non neutralisasi yang dibentuk
pada infeksi primer menyebabkan terbentuknya kompleks imun yang akan
meningkatkan infeksi dan replikasi virus Dengue di dalam sel mononuklear.
Sebagai akibat infeksi sekunder oleh serotipe virus Dengue yang berlainan
pada seorang pasien, respon antibodi anamnestik yang terjadi dalam beberapa
hari

mengakibatkan

proliferasi

dan

transformasi

dalam

sel

fagosit
19

mononuklear menghasilkan titer tinggi antibodi IgG anti Dengue. Akibatnya


terbentuk virus kompleks antigen-antibodi yang selanjutnya akan mengaktivasi
sistem komplemen. Pelepasan anafilatoksin C3a dan C5a akan menyebabkan
peningkatan permeabilitas dinding pembuluh darah dan merembesnya plasma
dari ruang intravaskular ke ruang ekstravaskular. Perembesan plasma ini
terbukti dengan meningkatnya kadar hematokrit, penurunan natrium, dan
terdapatnya cairan dalam rongga serosa (efusi pleura, asites). Keadaan yang
berlanjut akan mengakibatkan syok, dan apabila penanganan tidak adekuat
akan menyebabkan asidosis dan anoksia yang berakhir pada kematian. 1

Secondary heterologous dengan infection

Replikasi Virus

Anamnestic antibody response

Kompleks Virus antibody


Agregasi trombosit

Aktivasi koagulasi

Aktivasi komplemen
Plasma

Penghancuran
Trombosit oleh RES

Trombositopenia

Gangguan fungsi
trombosit

Pengeluaran
Platelet faktor III

Aktivasi faktor Hageman

Koagulapati konsumtif

Sistem kinin

Anafilatoksin

Kinin Peningkatan permeabilitas kapiler


Penurunan faktor pembekuan
FDP meningkat
Perdarahan masif

Syok

Gambar 1. Patogenesis terjadinya syok pada infeksi DBD 1,3

3. Diagnosis Demam Berdarah Dengue

20

Diagnosis DBD ditegakkan berdasarkan kriteria diagnosis menurut


WHO tahun 1997 yang terdiri dari kriteria klinis dan laboratoris. Penggunaan
kriteria ini dimaksudkan untuk mengurangi diagnosa yang berlebihan.
Kriteria Klinis :
a. Demam
Demam tinggi mendadak dan terus-menerus selama 2 7 hari.
Umumnya memiliki tipe bifasik. Kadang-kadang suhu tubuh sangat
tinggi sampai 40 C dan dapat terjadi kejang demam. Pada umumnya
ditemukan sindrom trias yaitu demam tinggi, nyeri pada anggota badan
dan timbulnya ruam. Akhir fase demam merupakan fase kritis pada
DBD, oleh karena fase tersebut dapat merupakan awal penyembuhan
tetapi dapat pula sebagai awal fase syok.
b . Tanda-tanda perdarahan
Penyebab perdarahan pada pasien DBD ialah vaskulopati,
trombositopeni dan gangguan fungsi trombosit, serta koagulasi
intravaskular yang menyeluruh. Manifestasi perdarahan paling ringan
yaitu uji torniquet positif pada hari-hari pertama demam. Manifestasi
perdarahan yang paling sering yaitu petekie yang tersebar di
ekstremitas dan dahi atau seluruh tubuh. Perdarahan spontan lainnya
berupa purpura, ekimosis, epistaksis, perdarahan gusi, hematemesis dan
melena.
c. Perbesaran hati (hepatomegali)
Pembesaran

hati

pada

umumnya

dapat

ditemukan

pada

permulaan penyakit, bervariasi dari hanya sekedar dapat diraba (just


palpable) sampai 2-4 cm di bawah lengkung iga kanan. Proses
pembesaran hati, dari tidak teraba menjadi teraba, atau dari just
palpable menjadi lebih besar dari 2-4 cm, dapat meramalkan perjalanan
penyakit DBD. Namun derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan
beratnya penyakit, tetapi nyeri tekan di daerah ulu hati, berhubungan
dengan adanya perdarahan.
d.

Syok , manifestasinya berupa:

21

- Nadi cepat, lemah, tekanan nadi menurun ( 20 mmHg), tekanan


darah turun, kulit dingin dan lembab.
- Penderita kelihatan lesu, gelisah dan lambat laun kesadarannya
menurun menjadi apatis, sopor dan koma
Kriteria Laboratoris :
a. Trombositopeni (100.000/L atau kurang)
b. Hemokonsentrasi

(peningkatan

hematokrit

20

atau

lebih

dibandingkan nilai hematokrit pada masa konvalesen).


Dua

kriteria

klinis

pertama

ditambah

trombositopenia

dan

hemokonsentrasi cukup untuk menegakkan diagnosis klinis DBD. Efusi pleura


dan atau hipoalbuminemia dapat memperkuat diagnosis terutama pada pasien
anemi dan atau terjadi perdarahan.
Derajat penyakit DBD menurut WHO tahun 1997 diklasifikasikan
dalam 4 derajat:
1. Derajat I

: Demam disertai gejala tidak khas dan satu-satunya


manifestasi perdarahan adalah uji torniquet

2. Derajat II

: Seperti derajat I disertai perdarahan spontan di kulit atau


perdarahan lain

3. Derajat III

: Didapatkan kegagalan sirkulasi, yaitu nadi cepat dan


lemah, tekanan nadi menurun (20 mmHg atau kurang)
atau hipotensi, sianosis sekitar mulut, kulit dingin dan
lembab dan anak tampak gelisah

4. Derajat IV

: Syok berat (profound shock), nadi tidak teraba dan


tekanan darah tidak terukur.

1,3

22

4. Patofisiologi infeksi virus dengue 1,3


Infeksi Virus Dengue

Trombositopeni
Dengan anoreksia muntah

Hepatomegali
Komplek AgAb komplomen

Manifestasi perdarahan

Permeabilitas vaskular naik


I

Kebocoran plasma :
Hepokonsentrasi
Hipoproteinemia
Afusi pleura
Asites

Dehidrasi

II
Derajat

Demam dengue
Hipovolemi

DIC

Syok

Perdarahan saluran cerna

Anoksia

III

Asidosis

IV

Meninggal
Demam berdarah dengue derajat I II III - IV

Pada kasus ini, penderita anak perempuan berusia 12 tahun dengan :


1. Demam tinggi mendadak, terus-menerus, selama 4 hari.
2. Pemeriksaan Rumple Leed (+)
Hasil laboratorium pada kasus ini :
1. Trombositopenia (Trombosit : 70.000/mm 3 )
2. Pada

pasien

didapatkan

hemokonsentrasi

melalui

pemeriksaan

hematokrit serial pada hari I perawatan (37,0% menjadi 37,8%)

Diagnosis definitif infeksi virus dengue hanya dapat dilakukan dengan


cara isolasi virus, deteksi antigen virus dan deteksi antibodi spesifik dalam
serum atau jaringan tubuh pasien. Dikenal 5 uji serologis yang biasa dipakai
untuk menentukan adanya infeksi virus dengue, yaitu:
1. Uji hemoglutinasi inhibisi (Haemagglutination Inhibiton test : HI test)
2. Uji komplemen fiksasi (Complement Fixation test : CF test)
3. Uji neutralisasi (Neutralization test : NT test)
4. IgM Elisa dan
5. IgG Elisa
Akhir-akhir ini dapat dilakukan tes PCR (polymerase chain reaction) yang
dapat menampilkan diagnosis serotipe spesifik secara cepat. Cara ini
merupakan cara diagnosis yang sangat sensitif dan spesifik terhadap serotype
tertentu. Pada pasien ini tidak dilakukan pemeriksaan serologis karena alasan
waktu dan biaya, tetapi dilakukan pemeriksaan laboratorium dan X-foto
thorax. Adanya perembesan plasma dibuktikan dengan adanya peningkatan
nilai hematokrit yang merupakan manifestasi hemokonsentrasi.
Manifestasi lain dari kebocoran plasma adalah asites. Untuk memantau
progresifitas asites diperlukan pemantauan terhadap lingkar perut. Dari
pemeriksaan fisik berkala pada pasien ini tidak ditemukan tanda fisik yang
mengarah ke kecurigaan terdapatnya asites, sehingga tidak dilakukan
pengukuran terhadap lingkar perut.
Pada pasien Demam Berdarah Dengue terjadi vaskulopati, trombositopeni,
trombositopati

dan

koagulasi

intravaskular

yang

menyeluruh

yang

menyebabkan terjadinya perdarahan. Manifestasi perdarahan yang biasanya


terjadi yaitu perdarahan kulit seperti uji torniquet positif, petekie, ekimosis
dan perdarahan konjungtiva. 1 Petekie merupakan tanda perdarahan yang
tersering ditemukan.
Trombositopenia merupakan kelainan hematologis yang ditemukan pada
sebagian besar kasus DBD. Penurunan jumlah trombosit pada infeksi dengue
melibatkan produksi pada sumsung tulang dan fisiologi trombosit pada darah
tepi. Nilai trombosit mulai turun pada masa demam, sebelum ada peningkatan

hematokrit dan mencapai nilai terendah pada masa syok. Biasanya terjadi pada
hari ke 3-7. 1,3
5. Komplikasi
Komplikasi Demam Berdarah Dengue dapat berupa 1,3
1. Ensefalopati
Umumnya terjadi sebagai komplikasi syok yang berkepanjangan dengan
perdarahan, tetapi dapat juga terjadi pada DBD yang tidak disertai syok
Gangguan metabolik seperti hipoksemia, hiponatremia, atau perdarahan dapat
menyebabkan

ensefalopati.

Pada

ensefalopati

dengue

tampak

adanya

penurunan kesadaran dari apatis atau somnolen, dapat disertai kejang. Pada
ensefalopati dapat ditemukan peningkatan kadar transaminase (SGOT/SGPT),
studi koagulasi memanjang, kadar gula darah menurun, alkalosis pada analisa
gas darah, dan hiponatremi.
2. Kelainan ginjal.
Pada fase terminal akibat syok yang tidak teratasi dapat terjadi gagal
ginjal akut. Diuresis merupakan parameter yang penting untuk mengetahui
apakah syok sudah teratasi. Diuresis diusahakan >1 ml/kgBB/jam. Pada syok
yang berat seringkali dijumpai acute tubular necrosis, ditandai dengan
penurunan jumlah urin, dan peningkatan kadar ureum dan kreatinin.
3. Udem paru
Udem paru dapat terjadi akibat pemberian cairan berlebih. Pemberian
cairan yang terus berlangsung pada saat terjadi reabsorbsi plasma dari ruang
ekstravaskular, akan mengakibatkan distres pernapasan, disertai sembab pada
kelopak mata, dan adanya gambaran udem paru pada foto dada.
6. Pengelolaan Demam Berdarah Dengue Derajat I
Dalam menanggulangi dan mengatasi masalah yang dihadapi penderita
ini dibutuhkan penanganan secara menyeluruh dan komprehensif.

a. Aspek Keperawatan
Pengawasan keadaan umum penderita, tanda vital (tensi, nadi, RR, dan suhu),
tanda-tanda perdarahan seperti melena, epistaksis, nyeri epigastrial, dan tandatanda syok dan diuresis. Dilakukan pemantauan kadar hematokrit dan
hemoglobin untuk memantau hasil terapi. Hematokrit, hemoglobin dan
trombosit diperiksa tiap 6 jam sampai keadaan klinis pasien stabil
. b. Aspek Medikamentosa
Pengobatan DBD bersifat suportif, yaitu mengatasi kehilangan cairan
plasma sebagai akibat peningkatan permeabilitas kapiler dan sebagai akibat
perdarahan. Pemilihan cairan untuk penderita DBD derajat I dengan
peningkatan hematokrit, menurut pedoman tatalaksana dari WHO diberikan
infus RL/NaCl 0,9 % atau Dekstrosa 5 % dalam RL/NaCl 0,9 % sejumlah 6-7
ml/kgBB/Jam. Setiap 6 jam dimonitor tanda vital dan kadar hematokrit serta
trombosit. Kemudian di evaluasi 12-24 jam. Jika selama observasi keadaan
umum membaik yaitu anak nampak tenang, tekanan nadi kuat, tekanan darah
stabil, diuresis cukup, dan kadar Ht cenderung turun minimal dalam 2 kali
pemeriksaan berturut-turut, maka tetesan dikurangi menjadi 5 ml/kgBB/jam.
Apabila dalam observasi selanjutnya tanda vital tetap stabil, tetesan dikurangi
menjadi 3 ml/kgBB/jam dan akhirnya cairan dihentikan setelah 24-48 jam

TATALAKSANA KASUS DBD DENGAN HEMOKONSENTRASI 20 %

DBD II deng

RL/Na C
Na Cl 0,9

Monitor TV, H

Transfusi
Koloid
darah segar
20-30
10 ml/kg

Perbaikan

Perbaikan
Tidak gelisah
Nadi kuat
Tekanan darah stabil
Diuresis cukup
(1-2 ml/kgBB/jam)
Ht turun (2 pemeriksaan)

Tetesan
Dikurangi
5 ml/kgBB/jam

Tan
Me

P
Perbaikan
3 ml/kg BB/jam

IVDF stop pada 24 48 jam bila TV/Ht stabil & di

Sumber : DHF, diagnosis, treatment, prevention and control, 2 nd , Geneva, WHO, 1999

c. Aspek Dietetik
Prinsipnya dietetik peroral pada penderita DBD bukan merupakan
kontra indikasi bahkan sangat dianjurkan terutama untuk mengembalikan
keseimbangan cairan tubuh.
Kriteria pasien dipulangkan dari rumah sakit apabila memenuhi semua
keadaan berikut : tampak perbaikan secara klinis, tidak demam selama 24 jam
tanpa antipiretik, hematokrit stabil, jumlah trombosit cenderung naik
>50.000/ul, nafsu makan membaik.
d. Aspek Edukasi
Pada kedua orang tua pasien dijelaskan tentang penyakit DBD serta
cara-cara yang dapat dilakukan dalam rangka pemberantasan dan pencegahan
penyakit tersebut.
a. Penjelasan tentang penyakit DBD meliputi :
Penyebab dari penyakit ini adalah virus dengue yang ditularkan dengan
perantaraan nyamuk Aedes aegypti. Nyamuk tersebut hitam berbintik-bintik
putih di seluruh tubuh dan kaki, berkeliaran pada waktu siang sampai sore
hari yaitu kurang lebih pukul 10.00 sampai pukul 17.00 dan lebih suka pada
tempat genangan air yang bersih. Dijelaskan pula bahwa penyakit tersebut
sangat berbahaya karena dapat mematikan.
b. Perlindungan perorangan untuk mencegah gigitan nyamuk dengan cara :
-

Pemasangan kasa nyamuk, sehingga nyamuk tidak akan masuk ke


rumah.

Menggunakan mosquito repellent atau insektisida bentuk spray.

c. Pemberantasan vektor jangka panjang / pemberantasan sarang nyamuk


(PSN)
-

Menutup tempat-tempat penyimpanan air

Mengubur barang-barang bekas seperti kaleng, botol atau ban bekas


serta semua barang bekas yang memungkinkan nyamuk bersarang.

Menguras bak mandi / tempat menampung air.

d. Menggunakan bahan kimia (abate pada tempat penyimpanan air, fogging


dengan malation).
7. Prognosis
Prognosis pada pasien ini untuk kehidupan (quo ad vitam) adalah baik
(ad bonam) oleh karena tidak terjadi dan tidak ada komplikasi yang berat.
Prognosis untuk kesembuhan (quo ad sanam) adalah dubia ad bonam
yang nampak dari keadaan umum, tanda vital, pemeriksaan berkala dari Hb,
Ht, trombosit karena pasien sudah diberi terapi sesuai keadaannya dan segera
dilakukan rujukan ke RS untuk mendapatkan perawatan yang lebih baik.
Prognosis membaiknya faal tubuh (quo ad fungsionum) adalah baik (ad
bonam) karena tidak ada ancaman adanya sekuele ataupun kecacatan tubuh.
Kriteria

memulangkan

pasien

menurut

Pan

American

Health

Organization: Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever: Guidelines for


Prevention and Control. PAHO: Washington, D.C., 1994: 69 adalah :

Tidak demam selama 24 jam tanpa antipiretik.

Tampak perbaikan secara klinis

Hematokrit stabil

3 hari setelah syok teratasi

Jumlah trombosit 50,000/mm 3

Tidak ada distress respirasi akibat efusi pleura atau asites.

BAB IV
PEMBAHASAN
Pada tulisan ini telah dilaporkan kasus seorang anak laki-laki usia 12 tahun
dengan Demam Berdarah Dengue Derajat I dan Demam Tifoid dengan pembahasan
diagnosis, pengelolaan dan prognosisnya.
Anak dibawa orang tua dengan keluhan demam 4 hari, anak demam tinggi
sejak Jumat siang, demam tinggi mendadak, suhu tidak diukur, semakin lama
semakin tinggi, terus-menerus, menggigil (-), keringat dingin (-), pusing (+),
keluar cairan dari telinga (-), batuk (-), pilek (-), nyeri telan (-), nafsu makan
menurun (+), mual (+), muntah (-), nyeri perut (+), nyeri otot dan sendi (+), bintikbintik merah seperti digigit nyamuk (-), mimisan (-), gusi berdarah (-), BAB cair
(-), BAB seperti petis (-), BAK merah (-), BAK nyeri (-), BAK lancar jumlah
cukup, warna kuning jernih, tidak berbuih. Dibawa berobat ke bidan, diberi obat
penurun panas, panas turun tetapi naik lagi. .
Dari pemeriksaan fisik didapatkan suhu 38,1 0 C, adanya lidah kotor, nyeri
tekan epigastrium dan uji Rumple Leed positif. Pada pemeriksaan laboratorium
didapatkan trombositopeni dan widal positif. Diagnosis DBD Derajat I ditegakkan
berdasarkan kriteria WHO 1997, yaitu didapatkan 2 kriteria klinis dan 1 kriteria
laboratoris, yaitu demam tinggi selama 4 hari, uji rumple leed (+) dan
trombositopenia. Sedangkan kriteria demam tifoid didapatkan dari tanda dan gejala
yaitu demam tinggi, lidah kotor, gangguan saluran cerna dan hasil laboratorium
yang mendukung.
Pengelolaan penderita ini telah dilakukan sesuai dengan standar tatalaksana
pengelolaan demam berdarah dengue dan juga demam tifoid. Yaitu menjaga
kebutuhan cairan penderita agar tidak masuk ke fase syok, terapi simptomatis
(antipiretik), diet lunak serta terapi medikamentosa definitif untuk demam tifoid.
Edukasi yang diberikan pada orang tua penderita berupa pencegahan dan
pemberantasan penyakit untuk mencegah penularan DBD dengan Gerakan 3 M,
yakni : Menutup tempat penampungan air, Membersihkan / menguras bak mandi,
Mengubur barang-barang bekas, serta membersihkan lingkungan, karena tidak
menutup kemungkinan anak dapat sakit DBD lagi bahkan derajatnya bisa lebih
berat lagi daripada sekarang. Dan juga diberikan edukasi untuk menjaga higientias
diri sendiri terutama makanan agar terhindar dari demam tifoid.

DAFTAR PUSTAKA

1. Hadinegoro SRH, Soegijanto S, Wuryadi S, Suroso T. Tatalaksana Demam


Dengue/Demam Berdarah Dengue. Departemen Kesehatan RI, Direktorat
Jenderal Pemberantasan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan
Pemukiman 2001:1-42.
2. Sumarno PS. Masalah Demam Berdarah Dengue di Indonesia. Dalam: Demam
Berdarah Dengue. Sri Rezeki H, Hindra Irawan Satari, Penyunting. Jakarta:
Balai Penerbit FKUI.1999: h. 1-12.
3. Sutaryo. Dengue. Yogyakarta: Medika FK UGM, 2004: 43-53, 131-9
4. Soedarmono S,

Infeksi Virus Dengue. Dalam :Infeksi dan Penyakit Tropik

Buku Ajar Ilmu Kesehatan Anak Edisi I. Jakarta: Balai Penerbit FK UI 2002:
176-207
5. Kirstina,

Isminah,

Wulandari

L:Demam

Berdarah

Dengue.

Online:http://Litbang.depkes.go.id/maskes/052004/demamberdarah1.htm.
6. IDI:

Pendiagnosa

DB

Produksi

AttoGenix

Biosystem.

Online:

http://www.idionline.org/iptek-isi.php
7. Mansjoer A, Suprohaita, Wardhani WI, Setiowulan W. Kapita Selekta, vol 2.
Ed 3.Jakarta: Media aesculapius, 2000: 419-27.
8. Nelson WE, Behrman, Kleigman, Arvin. Ilmu Kesehatan Anak. 15 th

ed.

Jakarta: EGC, 2000: 211-4, 1134-6.


9. Ikatan Dokter Anak Indonesia. Standar Pelayanan Medis Kesehatan Anak. Ed.1.
Badan Penerbit IDAI. 2005 : 109-113