Anda di halaman 1dari 56

Kegawatdaruratan Bedah

Pembimbing:
Dr.Yeppy A.N, Sp.B,FINaCS, MM

Penyusun:
RONNY SAPUTRA

Pendahuluan
BTLS (Basic Trauma Life Suport) adalah bagian
awal dari ATLS (Advanced Trauma Life Suport.

Pada

tahap ini, dokter atau tenaga kesehatan


lainnya tidak diminta untuk memberikan
tatalaksana sesuai diagnosis definitifnya, tapi
hanya diminta membantu pasien untuk tetap
hidup
2

Hal dilakukan adalah

Primary Survey
menilai secermat mungkin hal apa yang mengancam
nyawa pasien
- A : Airway with c-spine control
- B : Breathing and ventilation
- C : Circulation with haemorrage control
- D : Disability (neurologic evaluation)
- E : Exposure and Environment

Airway with c-spine


control
Pelayan

kesehatan diharapkan bisa memberikan


distribusi oksigen dalam kurang waktu 8-10
menit.
Pasien sadar, mampu berbicara dengan jelas
tanpa suara tambahan airway is clear
Pengecualian untuk pasien luka bakar, apabila
terdapat jejas kehitaman atau lendir kehitaman
yang keluar dari hidung pasien itu mungkin
disebabkan sudah terjadinya inflamasi pada
saluran pernapasan
4

Kalau pasien tidak sadar lakukan penilaian Look

- Listen - Feel.
Lihat gelisah atau tidak, gerakan dinding dada,
dengarkan ada atau tidak suara nafas, rasakan
hembusan nafas pasien dari pipi dalam satu
waktu.
Kalau terjadi obstruksi totaltimbul apnea

Tindakan yang dapat dilakukan:


untuk pasien sadar memberikan penekanan
pada dinding abdomen melalui manuver
Heilmicth atau Manuver Abdominal Trust.
pada pasien tidak finger sweep, abdominal
trust, dan instrumental.

obstruksi

parsial
maka
pasien
akan
menunjukan tanda bunyi nafas tambahan:

Gurgling (kumur-kumur) = obstruksi akibat adanya


air dalam saluran nafas. Penanganannya melalui
suction.

Stridor (crowing) = obstruksi karena benda padat


dan terjadi pada URT. Penanganan pertama nya
dengan penggunaan endotracheal tube (ETT)

Snorg (mengorok)= biasa nya obstruksi karena


lidah terlipat danpasien dalam keadaan tidak
sadar. Penangannya yang pertama dengan
membuka mulut pasien dengan jalan; chin lift atau
jaw trust. Kemudian diikuti dengan membersihkan
jalan nafas melalui finger sweep

C-spine kontrol mutlak harus dilakukan terutama

pada pasien yang mengalami trauma basis cranii.


(Cirinya adalah keluar darah atau cairan bercampur
darah dari hidung atau telinga. C-spine kontrol
dilakukan dengan indikasi:

Multiple trauma
Terdapat jejas di daerah serviks ke atas
Penurunan kesadaran.
Jika semuanya gagal, maka terapi bedah menjadi pilihan
terakhir

Breathing and Ventilation

Lihat keadaan torak pasien, ada atau tidak cyanosis,


dan kalau pasien sadar maka pasien mampu berbicara
dalam satu kalimat panjang.
Keadaan dada pasien yang mengembung apalagi tidak
simetris mungkin disebabkan pneuomotorak atau
pleurahemorage.
Untuk membedakannya dilakukan perkusi di daerah
paru. Suara paru yang hipersonor disebabkan oleh
pneumotorak sementara pada pleurahemorage suara
paru menjadi redup.
9

Penanganan pneumotorak ini


antara lain dengan menusukan
needle 14 G di daerah yang
hipersonor atau pengguanan
chest tube.

Jika terdapat henti


napasResusitasi Paru

10

Circulation and
haemorage control
Nilai

sirkulasi pasien dengan melihat tandatanda perfusi darah yang turun seperti
keadaan pucat, akral dingin, nadi lemah
atau tidak teraba
Shock tersering shock hemoragik karena
luka pada abdomen, pelvis, tulang panjang,
serta perdarahan torak yang massive.
Kalau terjadi henti jantung maka lakukan
massasse jantung.
11

Disability
Menilai keadaan neurologic pasien. Status

neurologic yang dinilai melalui GCS (Glasgow


Coma Scale) dan keadaan pupil serta
kecepatannya.
Jika terdapat lateralisasi maka kemungkinan
terdapat cedera kepala yang ipsilateral. Jika
respon pupil lambat maka kemungkinan
terdapat cedera kepala.

12

Exposure dan Enviroment


Buka pakaian pasien untuk mengeksplorasi

tubuh pasien untuk melihat kemungkinan


adanya multiple trauma. Kemudian selimuti
pasien agar mencegah hipothermi.
Setelah semua dilakukan dan keadaan pasien
menjadi stabil lakukan kembali Secondary
Survey

13

Pengkajian dan Penatalaksanaan


Trauma yang Terjadi

Trauma Torak

Pneumotoraks dan Hemotoraks

pemasangan selang dada.


Flail chest
operatif
Kontusio Pulmonal
Cedera Trakeobronkial
selang endotrakeal atau trakeostomi
Kontusio Miokardial
tindakan yang dilakukan serupa dengan untuk infark
miokardial akut

14

Cedera penetrasi

Setelah operasi perbaikan, kateter arteri


pulmonal (Swan-Ganz) dan selang arterial
dipasang unutk memudahkan pemantauan
hemodinamik
Tamponade

Trauma Abdomen

Eksplorasi

15

TRAUMA ABDOMEN
1.Cedera pada Lambung dan Usus Halus

Cedera tumpul usus halus atau lambung dapat

terlihat dengan adanya darah pada aspirasi


nasogastrik atau hematemesis.
Cedera penetrasi biasanya menyebabkan LPD
positif. pembedahan biasanya diperlukan untuk
memperbaiki luka-luka penetrasi.

16

2.Cedera pada Duodenum dan Pankreas

Tanda-tanda dan gejala-gejala dapat

mencakup abdomen akut, peningkatan kadar


amylase serum, nyeri epigastrik yang menjalar
ke punggung, mual, dan muntah-muntah.
Laserasi minor atau kontusio hanya akan
memerlukan pemasangan drain, sedangkan
luka-luka besar memerlukan perbaikan
pembedahan.

17

3.Cedera pada Hepar

sifat dari cedera atau LPD positif atau skan CT

digabung dengan kondisi klinis pasien akan


menuntut dilakukannya pembedahan.
Cedera pada hepar juga memrlukan drainase
empedu dan darah pascaoperasi melalui drain.
Setelah pembedahan, mungkin timbul syok
hipovolemik dan koagulopati

18

4.Cedera pada Limpa

Limpa adalah organ abdomen yang paling umum


mengalami cedera. Lebih sering sebagai akibat
trauma tumpul.
Tanda-tanda dan gejala-gejala yang ditunjukkan
termasuk :
1. nyeri kuadran kiri atas menjalar sampai ke bahu
kiri,
2. syok hipovolemik,
3. dan temuan-temuan nonspesifik dengan
peningkatan jumlah sel darah putih.
4. LPD, scan CT abdominal, atau pemeriksaan
radionuklida biasanya penting untuk diagnosa.

19

Trauma Pelvik
1.Cedera pada Kandung Kemih

Kandung kemih dapat mengalami laserasi atau pecah,


paling sering sebagai konsekuensi trauma tumpul.
Cedera pada kandung kemih seringkali berhubungan
dengan fraktur pelvic. Adanya hematuria, nyeri
abdomen bawah, atau ketidakmampuan berkemih
memerlukan pemeriksaan terhadap cedera uretra
dengan uretrogram retrogad sebelum pemasangan
kateter urine.
Cedera pada kandung kemih dapat menyebabkan
ekstravasasi urine intraperitoneal atau
ekstraperitoneal.

20

2.Fraktur Pelvik
Fraktur pelvik yang kompleks berkaitan
dengan mortalitas yang tinggi.
Hemoragi sekunder adalah penyebab yang
paling sering dari kematian dini, sedangkan
sepsis menyebabkan penundaan mortalitas.
Angiogram seringkali diperlukan untuk
menemukan letak dan menyumbat sumber
perdarahan.
Perhatian utama dari perawat unit perawatan
kritis adalah untuk mencegah syok
hemoragi.
21

Trauma pada Ekstremitas


1.Fraktur

Fraktur sering terjadi pada trauma tumpul, kurang jarang


pada trauma penetrasi.
Manakala radiografi sudah memastikan adanya fraktur,
maka harus dilakukan stabilitasi atau perbaikan fraktur.
Fiksasi internal fraktur sering memungkinkan ambulasi
dini pada pasien dengan cedera multipel yang mungkin
akan mengalami komplikasi akibat tirah baring
berkepanjangan (ulkus dekubitus, emboli pulmonal,
penyusutan otot).
22

2.Cedera Vaskular

Cedera vaskular sering kali mengakibatkan


perdarahan atau trombosis pembuluh.
Cedera vaskular biasanya disebabkan oleh trauma
penetrasi, dan kurang sering karena fraktur.
Angiogram juga dapat digunakan untuk menentukan
tempat cedera dan mengidentifikasi fistula
arteriovenosa, pseudoaneurisme, dan penutupan
intima.
Dilakukan perbaikan pembedahan primer atau tandur
vaskuler.

23

Pengkajian dan Penatalaksanaan Trauma


Lanjutan

1.Trauma Torak
Trauma torak sering ditemukan, sekitar 25% dan
penderita multi-trauma ada komponen trauma
toraks. 90% pada penderita dengan trauma
toraks ini dapat diatasi dengan tindakan yang
sederhana oleh dokter rumah sakit (atau
paramedic dilapangan), sehingga hanya 10%
yang memerlukan operasi.

24

Pemeriksaan Fisik Paru


Inspeksi
Pemeriksaan paru dilakukan dengan melihat adanya jejas
pada kedua sisi dada,serta ekspansi kedua paru simetris
atau tidak
Palpasi
Palpasi dilakukan dengan kedua tangan memegang
kedua sisi dada.Nilai peranjakan kedua sisi dada
penderita apakah teraba simektris atau tidak oleh kedua
tangan pemeriksa.

25

Perkusi
Dengan mengetukan jari tengah terhadap jari tengah yang
lain yang diletakan mendatar di atas dada.Pada daerah paru
berbunyi sonor,pada daerah jantung berbunyi redup
(dull),sedangkan diatas lambung (dan usus) berbunyi timpani.
Pada keadaan pnuemothorax akan berbunyi hipersonor,berbeda
dengan bagian paru yang lain.
Pada keadaan hemotorak akan berbunyi redup (dull)
Auskultasi
Auskultasi dilakukan pada 4 tempat yakni dibawah kedua
klavikula,(pada garis mid-klavikularis) ,dan pada kedua mid-aksila
(kosta 4-5) bunyi nafas harus sama kiri sama dengan kanan.

26

Jenis Trauma Torak

Manifestasi : gangguan airway (obstruksi)

Penekanan pada trakea didaerah toraks dapat

terjadi karna mislnya fraktur seternum.Pada


pemeriksaan klinis penderita aka nada gejala
penekanan airway seperti stridor inspirasi dan
suara serak.
27

Manifestasi : gangguan breathing (sesak)


Ada 4 gangguan breathing :
Pneumotoraks terbuka /open pneumo-thorax
(sucking chest wound)
Depek atau luka yang besar pada dinding dada
akan menyebabkan pneumo-thorax terbuka
Tension pneumothorax
ditandai dengan gejala nyeri dada,sesak yang
berat,distress pernafasan takikardea,hipotensia
deviasi trakea,hilang suara nafas pada satu
sisi,dan ditensi venaleher
28

Hematothorax massif
terjadi perdrahan hebat dalam rongga dada.Pada
keadaan ini akan terjadi sesak karna darah dalam
rongga pleura dan sok karna kehilangan darah.
Flail chest
Terjadinya flail chest dikarnakan fraktur iga
multiple pada dua atau lebih tulang dengan dua
atau lebih garis
29

Manifestasi : circulation (shok)


Cirdera torak yang akan mempengaruhi sirkulasi
yang harus ditemukan pada primary survey
adalah hemotorak mosip karna terkumpulnya
darah dengan cepat dirongga pleura.
Pada tamponade jantung,walaupun penderita
tidak dalam keadaan sesak namun dalam
keadaan shok ( syok nonhemoragik ) terjadi
paling sering karna luka tajam jantung,walaupun
trauma tumpul juga dapat menyebabkannya.
30

2.Trauma Abdomen

Trauma abdomen akan ditemukan pada 25%


penderita multi-trauma. Sering kali terjadi
bahwa diagnostic akan adanya cedera intraabdomen terlambat karna:
Gejala dan tanda yang ditimbulkannya
kadang-kadang lambat.
Adanya penurunan kesadaran karna ada
cedera kepala yang bersamaan, sehingga
gejala nyeri abdomen tidak ada.
Adanya cedara spinal, sehingga tidak adanya
rasa nyeri.
Pemakaian obat-obatan atau minuman keras.
31

Insiden
Trauma abdomen bisa disebabkan karna trauma
tajam dan trauma tumpul.
Mekanisme trauma
Luka tikam bisa dibedakan oleh pisau, golok, obeng,
pisau lipat, kaca atau benda-benda yang menancap.
Luka tembak bisa disebabkan menjadi 2 (dua) jenis:
Kecepatan rendah : < 1000 feet/detik, umumya
pada senjata sipil/polisi
Kecepatan tinggi : > 3000 feet/detik, umumnya
pada senjata standar militer
32

Gejala Dan Tanda Trauma Abdomen


Pemeriksaan color dubur sangat penting pada trauma
tajam abdomen dan bila ditemukan adanya darah pada
sarung tangan berarti ada cedera pada usus.
Ada beberapa indikasi untuk melakukan pemeriksaan
secara teliti pada kasus yang kita curigai adanya trauma
tumpul abdomen antara lain:
Perdarahan yang tidak diketahui
Riwayat syok
Adanya trauma dada mayor
Adanya trauma pelvis
Penderita dengan penurunan kesadaran
Adanya hematuri
Pada pemeriksaan fisik ditemukan jejas diabdomen (luka
lecet, kontusio, dan perut distensi)
Mekanisme trauma yang besar
33

Inspeksi
Semua pakaian harus dilepas.abdomen bagian depan dan
belakang diteliti apakah mengalami ekskoriasi atau
memar,m adakah laserasi, tusukan dan sebagainya dengan
cara log roll
Auskultasi
Lakukan auskultasi untuk mendengarkan bising usus
terdengar atau tidak.

Perkusi
Dengan perkusi bisa kita ketahui adanya nada tympani
karna dilatasi lambung akut dikwadran kiri atas ataupun
adanya perkursi redup bila ada hemoperitoneum.
Palpasi
Tujuan palpasi adalah untuk mendapatkan adanya nyeri
lepas yang kadang-kadang dalam. Dengan palpasi juga kita
dapat menentukan besarnya uterus dan usia kehamilan.

34

Penanganan Trauma Abdomen


Pada dasarnya semua trauma abdomen tumpul dan
dan tajam, penanganan awal tindakan penyelamatan
selalu didahulukan dan mengacu prosedur ABCDE.
Disini penolong atau tim harus melakukan resusitasi
dan stabilisasi secepat mungkin.
Airway dan breathing
Ini diatasi terlebih dahulu. Selalu ingat bahwa cedera
bisa lebih dari satu area tubuh, dan apapun yang
ditemukan, ingat untuk memprioritaskan airway dan
breathing terlebih dahulu.
Circulation
Kebanyakan trauma abdomen tidak dapat dilakukan
tindakan apa-apa pada fase pra-RS namun terhadap
syok yang menyertainya perlu penanganan yang
agresif.
35

Disability
Tidak jarang trauma abdomen disertai dengan trauma
kapitis. Selal periksa tingkat kesadaran (dengan GCS)
dan adanya lateralisasi (pupil anisokor dan motorik
yang lebih lemah satu sisi).
Apabila ditemukan usus yang menonjol keluar
(eviserasi) cukup denga menutupnya dengan kasa steril
yang lembab supaya usus tidak kering. Apabila ada
benda menancap, jangan dicabut tetapi dilakukan fikasi
benda tersebut terhadap dinding perut.

36

3.Trauma Termal
Apabila terjadi lka ternal maka kulit akan
mengalami denaturasi protein yang ada dalam
sel, sehingga kehilangan fungsinya,kematian sel di
dalam jaringan, dan kemudian terjadi luka.
Semakin banyak kulit yang hilang maka semakin
berat kehilangan cairan. Saat ini luka ternal (luka
bakar) masih merupakan masalah yang cukup
besar, dan pertolongan pertama yang baik akan
sangat membantu prognosis penderita.

37

Penanganan Luka Bakar

Pada saat penderita ditemukan, biasanya api sudah mati,


apabila penderita masih dalam keadaan terbakar,maka dapat
ditempuh dengan cara :
Menyiram air dengan jumlah yang banyak apabila api
disebabkan karena bensin atau minyak, kerana apabila dalam
jumlah sedikit hanya akan memperbesar api.
Menggulingkan penderita pada tanah yang datar, kalau bisa
dalam selimut basah (penolong jangan sampai turut terbakar).

38

Survei primer
Airway
Menghisap gas atau pertikel korban yang terbakar
dalam jumlah juga dapat mengganggu airway.
Apabila obsruksi parsial dibiarkan, maka akan menjadi
total dengan akibat kematian penderita indikasi klinis
adanya trauma inhalasi anatara lain:
Luka bakar yang mengenai wajah dan leher
Alis mata dan bulu hidung hangus
Adanya timbunan karbon dan tanda peradangan akut
orofaring
Sputum yang mengandung karbon atau arang
Suara serak
Riwayat gangguan mengunyah dan terkurung dalam api
Luka bakar kepala dan badan akibat ledakan
39

Breathing
Gangguan breating yang timbul cepat, dapat
disebabkan karena:
Inhalasi partikel panas yang menyebabkan
proses peradangan dan edema pada saluran
jalan nafas yang paling kecil
Keracuanan Co (karbondioksida). Asap dan api
mengandung Co. apabila penderita berada
dalam ruangan tertutup yang terbakar maka
kemungkinan keracunan Co cukup besar

40

Circulation
Kulit yang terbuka akan menyebabkan penguapan air
yang berlebih dari tubuh, dengan akibat terjadi dehidrasi.

Disability
Jangan lupa memeriksa skor GCS dan tanda lateralisasi
(pupil dan motorik). Kepanikan mungkin menimbulkan
benturan sehingga perdarahan intracranial dapat saja
terjadi.

Eksposure
Pada eksposure selaluperhatikan penderita jangan
sampai hipotermi
41

Survey Sekunder
Anamnesis
Penting untuk menanyakan dengan teliti hal
sekitar kejadian.Tidak jarang terjadi bahwa
disamping luka bakar akan ditemukan pula
perlukaan lain yang disebabkan usaha melarikan
diri dari dari api dalam keadaan panic tersebut.
Pemeriksaan ujung rambut sampai ujung rambut
sampai ujung.
Luka bakarnya sendiri Menyemprot dengan air
hanya dilakukan bila tiba sebelum 15 menit
setelah kejadian.
42

Penatalaksanaan Luka
Perawatan luka dilakukan segera setelah
tindakan resusitansi jalan nafas dan
mekanisme bernafas serta resusitasi cairan
dilakukan:melakukan tindakan
debridement,nekrotomi,dan pencucian
luka.Tentunya tindakan ini di lakukan di Ruang
Operasi Luka Bakar

43

Luka Bakar Kimia


Zat yang bersifat basa kuat lebih berbahaya di
bandingkan zat bersifat asam kuat. Semakin asam
atau basa, semakin berbahaya pula.
Apabila menemukan penderita masih dalam keadaan
terkena zat kimia:
Selalu proteksi diri
Apabila zak kimia bersifat cair, langsung semprot
dengan air mengalir.
Apabila sifat kimia bersifat bubuk safu dulu sampai
zat kimia tipis baru siram.
Luka karna zat kimia diperlakukan sebagai luka bakar.
44

Indikasi rawat

Pada beberapa kasus luka bakar yang perlu


dirujuk kepusat luka bakar sebagai berikut :
Kasus LB derajat II > l5% persen pada dewasa
dan >10% pada anak-anak.
Kasus LB derajat II pada muka, tangan dan kaki.
Perinium, sendi.
Kasus LB derajat III >2% pada dewasa, setiap
derajat III pada anak-anak.
Kasus LB disebabkan oleh listrik disertai cedera,
jalan nafan atau komplikasi lain.
45

Trauma Kapitis
Jenis trauma kapitis
Fraktur
Fraktur calvaria (atap tengkorak) apabila tidak terbuka
(tidak ada hubungan otak dengan dunia luar) tidak
memerlukan perhatian segera. Yang lebih penting adalah
keadaan intra-kranialnya.
Cedera Otak
Cedera otak dapat berupa Cedera Difus dan Cedera Fokal
Cedera Difus dapat kehilangan kesadaran yang sebentar
(komosio serebri) atau lebih lama (difuse axonal injury).
Cedera Fokal dapat berupa kontusio atau perdarahan intrakranial. Perdarahan intra-kranial dapat berupa perdarahan
epidural, perdarahan subdural atau perdarahan intracranial.
46

Penilaian Trauma kapitis


Penurunan kesadaran
Penurunan kesadaran merupakan tanda utama
trauma kapitis. Saat ini penurunan kesadaran dinilai
memakai Glosgow Coma Scale (GCS), dan
merupakan keharusan untuk dikuasai oleh setiap
para medic.
GCS memakai 3 komponen, yakni Eye (mata), Verbal
(kemampuan berbicara), dan Motorik (gerakan).

47

Tanda lateralisasi

Pupil
Motorik
Tanda-tanda peningkatan tekanan intra-kranial (TIK)

Pusing dan muntah


Tekanan darah sistolik meninggi
Nadi melambat (bradikardia)
Tanda tanda peninggian tekanan intra-kranial
tidak mudah untuk dikenali, namun apabila
ditemukan maka harus sangat waspada

48

Pengelolaan cedera kepala

Airway dan Breathing


Circulation
Disability

49

Non Trauma

1.Peradangan

Radang merupakan mekanisme pertahanan

tubuh disebabkan adanya respon jaringan


terhadap pengaruh-pengaruh merusak baik
bersifat lokal maupun yang masuk ke dalam
tubuh (Mutschle, 1991; Korolkovas, 1988).
Di sekitar jaringan terkena radang terjadi
peningkatan panas (kalor), timbul warna
kemerah-merahan (rubor) dan pembengkakan
(tumor).
50

2. Perdarahan
Perdarahan adalah keluarnya darah dari pembuluh
darah akibat kerusakan (robekan) pembuluh darah.
Banyak kemungkinan penyebab perdarahan saluran
cerna bagian atas pada buku The Merck Manual of
Patient Symptoms (Porter, R.S., et al., 2008):
1. Duodenal ulcer (20 30 %)
2. Gastric atau duodenal erosions (20 30 %)
3. Varices (15 20 %)
4. Gastric ulcer (10 20 %)
5. Mallory Weiss tear (5 10 %)
6. Erosive esophagitis (5 10 %)
7. Angioma (5 10 %)
8. Arteriovenous malformation (< 5 %)
9. Gastrointestinal stromal tumors
51

3. Perforasi

Pada orang dewasa, perforasi ulkus peptik adalah penyebab


umum dari morbiditas dan mortalitas akut abdomen sampai
sekitar 30 tahun lalu..
Etiologi :
Perforasi non-trauma, misalnya :
Akibat volvulus gaster karena overdistensi dan iskemia
Spontan pada bayi baru lahir yang terimplikasi syok dan stress
ulcer
Ingesti aspirin, anti inflamasi non steroid, dan steroid :
terutama pada pasien lanjut usia
Adanya faktor predisposisi : termasuk ulkus peptik
Perforasi oleh malignansi intraabdomen atau limfoma
Benda asing (misalnya jarum pentul) dapat menyebabkan
perforasi
esofagus, gaster, atau usus dengan infeksi intraabdomen,
peritonitis,
dan sepsis.

52

Perforasi trauma (tajam atau tumpul),


misalnya :
Trauma iatrogenik setelah pemasangan pipa
nasogastrik saat endoskopi
Luka penetrasi ke dada bagian bawah atau
abdomen (misalnya tusukan pisau)
Trauma tumpul pada gaster : trauma seperti
ini lebih umum pada anak daripada dewasa dan
termasuk trauma yang berhubungan dengan
pemasangan alat, cedera gagang kemudi
sepeda, dan sindrom sabuk pengaman.
(Sjamsuhidayat, 2004).
53

4.Penyumbatan

Penyumbatan pada usus dapat terjadi secara dua


mekanisme yaitu :
- Ileus obstruktif ialah suatu penyumbatan mekanis pada usus
dimana merupakan penyumbatan yang sama sekali menutup
atau mengganggu jalannya isi usus (Doherty et al 2002).
- Ileus paralitik ialah suatu keadaan dimana pergerakan
kontraksi normal dinding usus untuk sementara waktu
berhenti. Seperti halnya penyumbatan mekanis, ileus juga
menghalangi jalannya isi usus, tetapi ileus jarang
menyebabkan perforasi.

54

5.Hernia
Hernia ialah menonjolnya suatu organ atau

struktur organ dan tempatnya yang normal


melalui sebuah defek kongenital atau yang
didapat.
Menurut gejalanya, hernia dapat dibedakan
antara : reponibel, ireponibel, inkarserata,
strangulata

55

THANK YOU

56