Anda di halaman 1dari 22

LAPORAN PROSES TUTORIAL

disusun untuk memenuhi salah satu nilai mata kuliah


Ilmu Dasar Keperawatan 1
Disusun oleh :
Kelompok A
Ketua : Nur Indah P. (213114045)
Sriber 1 : Indra Rinaldi (213114086)
Sriber 2 : Ghina Firyal R. (213114099)
Anggota :
1. Rima Nurlatifah
(213114001)
2. Siti Ayu Rahayu P.
(213114002)
3. M. Renaldi Kartiwa
(213114007)
4. Sri Sulastri M.
(213114015)
5. Ryan Septiansyah
(213114016)
6. Hanurita Christy P.
(213114035)
7. Wilda Nur M.
(213114044)
8. Dissa Aulia P.
(213114060)

9. Desi Nurwijaya
(213114061)
10. M. Andre Pratama
(213114074)
11. Melyani Nur Aidah
12.
( 213114081)
13. Shelly Nirmala D
(213114087)
14. Galuh Dyah Arum
(213114088)
15. Rio Afrizal
16.
(213114100)
17. Silvia Andriani A
(213114113)
18. Regia Marsha L
(213114120)

19.

20.
21.

22.Program Studi Ilmu Keperawatan (S1)


23.Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Jenderal A. Yani
Cimahi
24.2014

25.

KATA PENGANTAR

syukur

kami

26.
27.

Puji

panjatkan

kehadirat

Allah

SWT

melimpahkan rahmat dan kasih sayang-Nya sehingga kami dapat


menyelesaikan makalah ini dengan baik sesuai dengan yang
diharapkan. Terimakasih kepada teman-teman yang telah ikut
membantu dan bekerjasama selama proses penulisan laporan ini
dan tak lupa kami ucapkan terimakasih kepada dosen pembimbing
yang telah memberikan waktu dan kesempatan, sehingga kami
dapat menyempurnakan makalah ini sesuai dengan waktu yang
telah ditentukan.
28.

Dalam kesempatan kali ini kami akan membahas tentang

Fraktur Femur kanan Terbuka. Kami menyadari bahwa makalah ini masih
perlu mendapatkan bimbingan, kekurangan baik dari segi isi maupun
penulisan. Maka dari itu, kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya
membangun demi memperbaiki makalah selanjutnya. Semoga apa yang
telah kami sampaikan dalam maklah ini bisa mengandung banyak manfaat
khususnya bagi kami yang masih dalam tahap belajar, dan umumnya bagi
semua pembaca.
29.
30. Cimahi, November 2014
31.
32.

33.

Penyusu

n
34.

35.DAFTAR ISI
36.
37. KATA PENGANTAR.................................................................................................
38. DAFTAR ISI..............................................................................................................
39. BAB 1..........................................................................................................................
40. 1.1......................................................................................Latar Belakang
................................................................................................................3
41. 1.2....................................................................................Batasan Masalah
................................................................................................................4
42. 1.3.................................................................................................Masalah
................................................................................................................4
43. 1.4.....................................................................................Tujuan Masalah
................................................................................................................4
44. 1.5............................................................................Sistematika Penulisan
................................................................................................................5
45. BAB 2..........................................................................................................................
46. 2.1.......................................................................................Analisis Kasus
................................................................................................................6
47. 2.1.1..................................................................................Skenario Kasus
6
48. 2.1.2.................................................................Step 1 (Klasifikasi Istilah)
6
49. 2.1.3.............................................................Step 2 (Identifikasi Masalah)
7
50. 2.1.4..............................................................Step 3 (Klasifikasi Masalah)
7
51. 2.1.5..............................................................................Step 4 (Hipotesis)
9
52. 2.1.6

Step 5 (learning Issue)..........................................................10

53. 2.1.7

Step 6 (Belajar Mandiri).......................................................10

54. 2.1.8...............................................................................Step 7 (Hipotesa)


11
55. BAB 3........................................................................................................................
56. 3.1...........................................................................................Kesimpulan
..............................................................................................................20
57. 3.2.....................................................................................................Saran
..............................................................................................................20
58. DAFTAR PUSTAKA
59.

BAB 1
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Keperawatan sebagai profesi memenuhi syarat sebagai profesi keilmuan


karena mempunyai body of knowledge yang jelas. Paradigma keperawatan
dijadikan dasar pembentukkan model konseptual akhirnya memunculkan
teori-teori keperawatan. Teori keperawatan berkembang dan diterapkan dalam
praktek klinik keperawatan, penelitian, dan pendidikan. Salah satu konseptual
model keperawatan yang dimaksud adalah konseptual model dari Sister
Callista Roy tentang Adaptation model.

Teori adaptasi menurut Roy merupakan salah satu teori tentang bagaimana
menerapkan asuhan keperawatan yang berfokus pada kemampuan adaptasi
klien. Teori ini termasuk salah satu teori yang mudah diaplikasikan sehingga
banyak digunakan dalam penerapan asuhan keperawatan. Teori Roy dalam
pelaksanaannya menyentuh hampir semua aspek kehidupan baik secara fisik,
konsep diri, fungsi peran, dan interdependensi. (Roy, 1991). Roy menganggap
klien mempunyai daya adaptasi dalam mengatasi masalahnya. Perawat dalam
teori Roy dituntut untuk mengkaji kemampuan adaptasi klien dan perawat
membantu klien untuk beradaptasi terhadap perubahan termasuk perubahan
yang terjadi dalam tubuh klien, salah satunya perubahan dalam otak.

1.2 Batasan Masalah


1.2.1
1.2.2
1.2.3
1.2.4
1.2.5
1.2.6
1.2.7

Step 1 : Klasifikasi Masalah


Step 2 : Identifikasi Masalah
Step 3 : Analisa Masalah
Step 4 : Hipotesis
Step 5 : Learning Issue
Step 6 : Belajar Mandiri
Step 7 : Sintesis

1.3 Masalah
1.3.1
1.3.2
1.3.3

Apa model konsep dan teori keperawatan Calista Roy?


Apa paradigm dari teori Calista Roy?
Bagaimana implementasi dari teori Calista Roy?

1.4 Tujuan Masalah


1.4.1

Tujuan Umum

Untuk mengetahui model konsep dan teori


1.4.2

keperawatan Calista Roy


Tujuan Khusus
1.4.2.1
Mahasiswa mampu memahami model
1.4.2.2

konsep dan teori keperawatan Calista Roy


Mahasiswa mampu mengetahui paradigma

1.4.2.3

dari teori Calista Roy


Mahasiswa mampu mengetahui
implementasi dari teori Calista Roy

1.5 Sistematika Penulisan


1.5.1

Studi Kepustakaan
Yaitu suatu pengumpulan yang diperoleh dengan cara
penelusuran buku-buku tentang tata tulis karya ilmiah
untuk memperoleh ketentuan-ketentuan dasar terhadap

1.5.2

materi yang akan dibahas.


Pencarian Internet
Yaitu penelusuran dari berbagai macam alamat
website yang mengenai tentang tata tulis karya ilmiah
yang ada di dalam internet untuk memperoleh materi
yang akan dibahas.

BAB 2
PEMBAHASAN

2.1 Analisis Kasus


2.1.1 Skenario Kasus

Seorang gadis bernama Lusi berusia 17 tahun , merupakan


mahasiswa disekolah terkenal di Cimahi, masuk RS karena mengalami
kecelakaan lalu lintas sehingga mengakibatkan dirinya mengalami Fraktur
Femur Kanan terbuka dan dirawat di ruang bedah. Sepanjang hari dia hanya
menangis. Pikirannya selalu muncul yang jelek-jelek saja tentang dirinya,
misal kaki kanan saya tidak akan seperti sediakala, saya akan berjalan
dengan tongkat, merasa malu sekali menjadi perhatian, dan kasihan orang
lain, saya akan cacat, dan akan kehilangan masa bermain dengan temanteman sekolah, tidak akan ada pria yang suka dengan gadis cacat dan
bagaimana tanggung jawab saya sebagai pelajar, saya merasa malu sekali,
merasa diri tidak berharga, setelah dirawat 3 hari Nn Lusi kesulitan
beradaptasi dengan keadaannya saat ini.

2.1.2 Step 1 (Klasifikasi Istilah)

Fraktur : Patah tulang


Femur : Tulang Paha

2.1.3 Step 2 (Identifikasi Masalah)

1. Bagaimana cara mengatasi kesulitan beradaptasi dengan keadaan


Nn. Lusi sekarang?
2. Bagaimana peran perawat dalam menangani pasien dengan fraktur?
3. Apakah ketika pasien sudah mengalami fraktur femur kanan akan
mengalami kecacatan?
4. Bagaimana peran perawat dalam mengatasi pasien yang sangat
ketakutan?
5. Bagaimana peran perawat dalam mengembalikan percaya diri
pasien?
6. Bagaimana

cara

mengembalikan

psikologis

Nn.lusi

setelah

mengalami
kecelakaan itu?
7. Teori apa yang dapat diaplikasikan dalam kejadian Nn.Lusi?

2.1.4 Step 3 (Klasifikasi Masalah)


1. Perawat harus memberikan harapan dan motivasi untuk pasien agar
kecatatan yang dialaminya tidak menjadi masalah dan perawat juga bisa
membantu pasien untuk melakukan aktifitas agar kesulitan dalam
beradaptasi bisa diatasi dengan baik.
2. Peran perawat dalam menangani pasien fraktur femur yaitu harus
memenuhi kebutuhan dasar manusianya dan membantu pasien dalam
mobilisasi dan fisiotherapy .

3. Ketika pasien mengalami fraktur femur belum tentu terjadi kecacatan


tergantung kepada kondisi fraktur tersebut apabila kondisi fraktur tersebut
buruk terjadi infeksi adanya suatu syaraf yang putus kemungkina bisa
mengalami kecacatan, pertolongan pertama yg dilakukan dilokasi ada
kemungkinan semakin parah sebab pertolongan tidak optimal. Walaupun
tidak semakin parah kemungkinan pasien mengalami trauma.
4. Sebagai konselor dan konsultan perawat berperan dalam mengatasi pasien
yang sedang ketakutan dengan cara menenangkan pasien, memberikan
pendekatan secara spiritual, dan memberikan tekhnik relaksasi agara
pasien merasa lebih tenang dan tidak merasa ketakutan.
5. Peran perawat untuk mengembalikan rasa percaya diri, yaitu dengan
membantu membentuk mekanisme koping yang baik, memupuk rasa
Fraktur Femur
Kanan
percaya diri, memberikan motivasi, sugesti dan pengertian agar Nn Lusi
Terbuka
yakin bisa sembuh, disamping itu perawat bisa juga memberikan berbagai
alternative agar Nn Lusi merasa lebih baik, salah satunya memberikan
hypnotherapy, maupun fasilitas seperti gips, kursi roda dan kaki palsu.

6. Peran perawat agar psikologis membaik yaitu dengan cara memberi


Stres

konsultasi kepada Nn Lusi, membantu mengubah stressor kearah adaptif


dan memberikan pendekatan spiritual agar Nn Lusi dapat menanggulangi
stressor maladaptif.

7. Teory callista-roy: Memandang pasien sebagai sistem adaptasi membantu


Halusinasi
pasien beradaptasi dengan perubahan kebutuhan fisiologis, konsep diri,
fungsi peran dan hubungan interpedensi selama sehat-sakit.
2.1.5 Step 4 (Hipotesis)
HDR

Rasa Malu

Kesulitan
Beradaptasi

Berkaitan
dengan teori
Callista Roy
9

2.1.6 Step 5 (learning Issue)

1. Mahasiswa mampu memahami konsep teori callista-roy


2. Mahasiswa mampu memahami paradigm dari teori callista-roy
3. Mahasiswa mampu mengimplementasikan teori callista-roy

2.1.7 Step 6 (Belajar Mandiri)

10

Kamis
13 November 2014
16.00-18.00

Sabtu
15 November 2014
13.00 15.00

Pembahasan kembali tentang


hasil tutorial
Mulai menyusun laporan dan
memulai pengetikan dari Bab I
sampai dengan Bab II (Step 1
s.d. Step 5)
Mengerjakan laporan di
Hotspot
Pembagian tugas kecil
Semua anggota kelompok
hadir dan ikut bekerja sama
Pengumpulan tugas kecil
Menyelesaikan penyusunan
dan pengetikan laporan dari
Bab II (Step 6 dan Step 7) dan
Bab III
Mengerjakan laporan di
Hotspot
Semua anggota kelompok
hadir dan ikut bekerja sama
Memeriksa ulang hasil
pengetikan
Mengedit semua hasil laporan
yang sudah lengkap

2.1.8 Step 7 (Hipotesa)


2.1.8.1 Pengertian Model Konsep dan Teori Keperawatan Sister
Calista Roy (Teori Roy)
Sister Calista Roy mengembangkan model adaptasi dalam keperawatan
pada tahun 1964. Model ini banyak digunakan sebagai falsafah dasar dan
model konsep dalam pendidikan keperawatan (Gaffar, 1999). Model
keperawatan adaptasi Roy adalah model keperawatan yang bertujuan
membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap perubahan kebutuhan
fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan interdependensi selama
sehat sakit (Marriner-Tomery, dalam academia.edu). Teori adaptasi Callista
Roy memandang klien sebagai suatu system adaptasi. Model adaptasi Roy

11

menguraikan

bahwa

bagaimana

individu

mampu

meningkatkan

kesehatannya dengan cara memepertahankan perilaku secara adaptif


karena menurut Roy, manusia adalah makhluk holistic yang memiliki
sistem adaptif yang selalu beradaptasi.

2.1.8.2 Tiga Tingkatan Adaptasi (Hidayat, 2008)


Tiga tingkatan konseptual model adaptasi roy adalah:
a

Stimulus fokal adalah derajat perubahan atau stimulus yang secara


langsung mengharuskan manusia berespon adaptif. Stimulus fokal
adalah presipitasi perubahan tingkah laku.

Stimulus konstektual adalah seluruh stimulus lain yang menyertai dan


memberikan konstribusi terhadap perubahan tingkah laku yang
disebabkan atau dirangsang oleh stimulus fokal.

Stimulus residual adalah seluruh factor yang mungkin memberikan


konstribusi terhadap perubahan tingkah laku, akan tetapi belum dapat
di validasi.

2.1.8.3 Empat Mode Adaptasi (Hidayat, 2008)


1)

Pertama, fungsi fisiologis, komponen system adaptasi ini yang


adaptasi fisiologis diantaranya oksigenasi, nutrisi, eliminasi,
aktivitas dan istirahat, integritas kulit, indera, cairan dan elektrolit,
fungsi neurologis dan fungsi endokrin.

2)

Kedua, konsep diri yang mempunyai pengertian bagaimana


seseorang mengenal pola-pola interaksi social dalam berhubungan
dengan orang lain.

12

3)

Ketiga, fungsi peran merupakan proses penyesuaian yang


berhubungan dengan bagaimana peran seseorang dalam mengenal
pola-pola interaksi social dalam berhubungan dengan orang lain

4)

Keempat, interdependent merupakan kemampuan seseorang


mengenal pola-pola tentang kasih sayang, cinta yang dilakukan
melalui hubungan secara interpersonal pada tingkat individu
maupun kelompok.

Dalam proses penyesuaian diri individu harus meningkatkan energi


agar mampu melaksanakan tujuan untuk kelangsungan kehidupan,
perkembangan, reproduksi dan keunggulan sehingga proses ini
memiliki tujuan meningkatkan respon adaptasi.
Teori adaptasi suster Callista Roy memandang klien sebagai suatu
system adaptasi. Sesuai dengan model Roy, tujuan dari keperawatan
adalah membantu seseorang untuk beradaptasi terhadap perubahan
kebutuhan fisiologis, konsep diri, fungsi peran, dan hubungan
interdependensi selama sehat dan sakit (Marriner-Tomery,1994 dalam
academia.edu). Kebutuhan asuhan keperawatan muncul ketika klien
tidak dapat beradaptasi terhadap kebutuhan lingkungan internal dan
eksternal. Seluruh individu harus beradaptasi terhadap kebutuhan
berikut:
1. Pemenuhan kebutuhan fisiologis dasar
2. Pengembangan konsep diri positif
3. Penampilan peran social
4. Pencapaian keseimbangan antara kemandirian dan ketergantungan

13

Perawat menetukan kebutuhan di atas menyebabkan timbulnya


masalah bagi klien dan mengkaji bagaimana klien beradaptasi terhadap
hal tersebut. Kemudian asuhan keperawatan diberikan dengan tujuan
untuk membantu klien beradaptasi.
2.1.8.4 Konsep

Keperawatan

dengan

Model

Adaptasi

Roy

(academia.edu)
Empat elemen penting yang termasuk dalam model adaptasi keperawatan
adalah : (1) Manusia; (2) Lingkungan; (3) Kesehatan; (4) Keperawatan.
Unsur keperawatan terdiri dari dua bagian yaitu tujuan keperawatan dan
aktivitas keperawatan, juga termasuk dalam elememn penting pada konsep
adaptasi.

A
W
P
K
S
V
R
E
IN
T
H
U
G
L
/M
Y

Gambar 1. Konsep Sentral dari Paradigma Keperawatan (Somantri, 2006)


a

Manusia
Roy mengemukakan bahwa manusia sebagai sebuah sistem adaptif.

14

Sebagai sistem adaptif, manusia dapat digambarkan secara holistic


sebagai satu kesatuan yang mempunyai input, control, output, dan
proses umpan balik. Proses control adalah mekanisme koping yang
dimanifestasikan dengan cara adaptasi. Lebih spesifik manusia di
definisikan sabagai sebuah sistem adaptif dengan aktivitas kognator
dan regulator untuk mempertahankan adaptasi dalam empat cara
adaptasi yaitu : fungsi fisiologi, konsep diri, fungsi peran, dan
interdependensi.
b Konsep sehat;
Roy mendefinisikan sehat sebagai suatu continuum dari meninggal
sampai tingkatan tertinggi sehat. Dia menekankan bahwa sehat
merupakan suatu keadaan dan proses dalam upaya dan menjadikan
dirinya secara terintegrasi secara keseluruhan, fisik, mental dan social.
Integritas adaptasi individu dimanifestasikan oleh kemampuan
individu untuk memenuhi tujuan mempertahankan pertumbuhan dan
reproduksi.
Sakit

adalah

suatu

kondisi

ketidakmampuan

individu

untuk

beradapatasi terhadap rangsangan yang berasal dari dalam dan luar


individu.Kondisi sehat dan sakit sangat individual dipersepsikan oleh
individu.

Kemampuan

seseorang

dalam

beradaptasi

(koping)

tergantung dari latar belakang individu tersebut dalam mengartikan dan


mempersepsikan sehat-sakit, misalnya tingkat pendidikan, pekerjaan,
usia, budaya dan lain-lain.
c

Konsep lingkungan;
Roy mendefinisikan lingkungan sebagai semua kondisi yang berasal
dari internal dan eksternal,yang mempengaruhi dan berakibat terhadap

15

perkembangan dari perilaku seseorang dan kelompok. Lingkunan


eksternal dapat berupa fisik, kimiawi, ataupun psikologis yang
diterima

individu

dan

dipersepsikan

sebagai

suatu

ancaman.

Sedangkan lingkungan internal adalah keadaan proses mental dalam


tubuh

individu

(berupa

pengalaman,

kemampuan

emosional,

kepribadian) dan proses stressor biologis (sel maupun molekul) yang


berasal dari dalam tubuh individu. Manifestasi yang tampak akan
tercermin dari perilaku individu sebagai suatu respons. Dengan
pemahaman yang baik tentang lingkungan akan membantu perawat
dalam meningkatkan adaptasi dalam merubah dan mengurangi resiko
akibat dari lingkungan sekitar.
d Keperawatan;
Keperawatan adalah bentuk pelayanan professional berupa pemenuhan
kebutuhan dasar dan diberikan kepada individu baik sehat maupun
sakit yang mengalami gangguan fisik, psikis dan social agar dapat
mencapai derajat kesehatan yang optimal.
Roy mendefinisikan bahwa tujuan keperawatan adalah meningkatkan
respon adaptasi berhubungan dengan empat mode respon adaptasi.
Perubahan internal dan eksternal dan stimulus input tergantung dari
kondisi koping individu. Kondisi koping seseorang atau keadaan
koping seseorang merupakan tingkat adaptasi seseorang. Tingkat
adaptasi seseorang akan ditentukan oleh stimulus fokal, kontekstual,
dan residual. Fokal adalah suatu respon yang diberikan secara
langsung terhadap ancaman/input yang masuk.Penggunaan fokal pada
umumnya tergantung tingkat perubahan yang berdampak terhadap
seseorang. Stimulus kontekstual adalah semua stimulus lain seseorang

16

baik internal maupun eksternal yang mempengaruhi situasi dan dapat


diobservasi, diukur, dan secara subjektif disampaikan oleh individu.
Stimulus residual adalah karakteristik/riwayat dari seseorang yang ada
dan timbul releva dengan situasi yang dihadapi tetapi sulit diukur
secara objektif.
Model adaptasi Roy memberikan petunjuk untuk perawat dalam
mengembangkan

proses

keperawatan.

Elemen

dalam

proses

keperawatan menurut Roy meliputi pengkajian tahap pertama dan


kedua, diagnosa, tujuan, intervensi, dan evaluasi, langkah-langkah
tersebut sama dengan proses keperawatan secara umum.
1). Pengkajian
Roy merekomendasikan pengkajian dibagi menjadi dua bagian,
yaitu pengkajian tahap I dan pengkajian tahap II.
Pengkajian pertama meliputi pengumpulan data tentang perilaku
klien sebagai suatu system adaptif berhubungan dengan masingmasing mode adaptasi: fisiologis, konsep diri, fungsi peran dan
ketergantungan. Oleh karena itu pengkajian pertama diartikan
sebagai pengkajian perilaku,yaitu pengkajian klien terhadap
masing-masing mode adaptasi secara sistematik dan holistic
Setelah pengkajian pertama, perawat menganalisa pola perubahan
perilaku klien tentang ketidakefektifan respon atau respon adaptif
yang

memerlukan

dukungan

perawat.Jika

ditemukan

ketidakefektifan respon (mal-adaptif), perawat melaksanakan


pengkajian tahap kedua.Pada tahap ini, perawat mengumpulkan
data tentang stimulus fokal, kontekstual dan residual yang
17

berdampak terhadap klien. Menurut Martinez, factor yang


mempengaruhi respon adaptif meliputi: genetic; jenis kelamin,
tahap perkembangan, obat-obatan, alcohol, merokok, konsep diri,
fungsi peran, ketergantungan, pola interaksi social; mekanisme
koping dan gaya, strea fisik dan emosi; budaya;dan lingkungan
fisik

2). Perumusan diagnosa keperawatan


Roy mendefinisikan 3 metode untuk menyusun diagnosa
keperawatan:
a). Menggunakan tipologi diagnosa yang dikembangkan oleh Roy
dan berhubungan dengan 4 mode adaptif .dalam mengaplikasikan
diagnosa ini, diagnosa pada kasus Nn. Lusi Fraktur Femur Kanan
Terbuka.
b). Menggunakan diagnosa dengan pernyataan/mengobservasi dari
perilaku yang tampak dan berpengaruh tehadap stimulusnya.
Dengan menggunakan metode diagnosa ini maka diagnosanya
adalah Patah tulang paha kanan terbuka sehingga klien
mengalami stres.
c). Menyimpulkan perilaku dari satu atau lebih adaptif mode
berhubungan dengan stimulus yang sama, yaitu berhubungan
Misalnya jika seorang gadis mengalami patah tulang paha, dimana
ia mengalami percobaan bunuh diri. Pada kasus ini, diagnosa yang

18

sesuai adalah kegagalan peran berhubungan dengan keterbatasan


fisik untuk menjalani aktifitasnya

3). Intervensi keperawatan


Intervensi keperawatan adalah suatu perencanaan dengan tujuan
merubah ataumemanipulasi stimulus fokal, kontekstual, dan
residual. Pelaksanaannya juga ditujukan kepada kemampuan klien
dalam koping secara luas, supaya stimulus secara keseluruhan
dapat terjadi pada klien, sehinga total stimuli berkurang dan
kemampuan adaptasi meningkat.
Tujuan intervensi keperawatan adalah pencapaian kondisi yang
optimal, dengan menggunakan koping yang konstruktif.Tujuan
jangka panjang harus dapat menggambarkan penyelesaian masalah
adaptif dan ketersediaan energi untuk memenuhi kebutuhan
tersebut

(mempertahankan,

pertumbuhan,

reproduksi).Tujuan

jangka pendek mengidentifikasi harapan perilaku klien setelah


manipulasi stimulus fokal, kontekstual dan residual.

4) Implementasi
Implementasi keperawatan direncanakan dengan tujuan merubah
atau memanipulasi fokal, kontextual dan residual stimuli dan juga
memperluas kemampuan koping seseorang pada zona adaptasi
sehinga total stimuli berkurang dan kemampuan adaptasi
meningkat.

19

e). Evaluasi
Penilaian terakhir dari proses keperawatan berdasarkan tujuan
keperawatan yang ditetapkan. Penetapan keberhasilan suatu
asuhan keperawatan didasarkan pada perubahan perilaku dari
kriteria hasil yang ditetapkan, yaitu terjadinya adaptasi pada
individu.

BAB 3
PENUTUPAN

3.1

Kesimpulan

20

Teori Calista Roy merupakan teori yang memandang


individu sebagai makhluk bio-psiko-sosio-spiritual sebagai satu
kesatuan yang utuh memilik mekanisme koping untuk beradaptasi
terhadap

perubahan

lingkungan,

sehingga

individu

selalu

berinteraksi terhadap perubahan lingkungan. Untuk mampu


beradaptasi setiap individu akan berespon terhadap kebutuhan
fisiologis, kebutuhan akan konsep diri yang positif, kemampuan
untuk hidup mandiri serta kemampuan akan berperan dan berfungsi
secara optimal untuk memelihara integritas diri dan individu selalu
berada dalam rentang sehat-sakit yang berhubungan dengan koping
yang efektif dalam memelihara proses adaptasi.

3.2

Saran

Sebaiknya dalam mengimplementasikan teori Calista Roy kita harus


selalu memandang manusia itu unik dan holistik, sehingga dalam
melakukan asuhan keperawatan harus memperhatikan bahwa setiap
individu itu berbeda.

DAFTAR PUSTAKA

Gaffar, La Ode Jumadi. 1999. Pengantar Keperawatan Profesional.


Jakarta : EGC

21

Somantri, Irman. 2006. Konsep Dasar Keperawatan. Cimahi : Stikes A.


Yani Press
Hidayat, A. Aziz Alimul. 2008. Pengantar Konsep Dasar Keperawatan.
Jakarta : Salemba Medika
www.academia.edu.com

22

Anda mungkin juga menyukai