Anda di halaman 1dari 10

ABSTRAK

Alat penyemprot (Sprayer) digunakan untuk mengaplikasikan sejumlah tertentu bahan


kimia aktif pemberantas hama penyakit yang terlarut dalam air ke objek semprot (daun, tangkai,
buah) dan sasaran semprot (hama-penyakit). Efesiensi dan efektivitas alat semprot ini ditentukan
oleh kualitas dan kuantitas bahan aktif tersebut yang terkandung di dalam setiap butiran larutan
tersemprot (droplet) yang melekat pada objek dan sasaran semprot.

Pengalaman di lapangan selama ini menunjukan bahwa kemampuan droplet tersebut


untuk memberantas hama-penyakit sangat terganggu oleh adanya hembusan angin pada saat
penyemprotan (drifted), sehingga kuantitas droplet yang mencapai objek dan sasaran semprot
menjadi kurang efektif. Masalah ini telah diantisipasi melalui sistem penyemprotan dengan
piringan berputar yang mengaplikasikan butiran bermuatan listrik statik, sehingga butiran tersebut
mampu melayang mendekati dan melekat di objek semprot berdasarkan gaya tarik listrik antara
droplet dan objek semprot. Metode ini sudah efektif, namun masih kurang efisien, karena
kuantitas bahan aktif menjadi terlalu berlebih dan cenderung boros (67 butiran/cm 2 dengan
diameter butiran 464,1m). Masalah ini dapat diatasi dengan cara mereduksi volume bahan aktif
serendah mungkin dengan memodifikasi sprayer piringan berputar yang mengaplikasikan dalam
volume butiran bermuatan listrik-statik sangat rendah (ultra low volume droplet) dengan cara
mengontrol kuantitas bahan aktif dan kecepatan piringan berputar. Dengan modifikasi ini pola
penyebaran droplet lebih merata (79 butiran/cm 2 dengan diameter butiran 362,1 m) dan efektif
pada objek semprot, serta terjadi penghematan bahan aktif antara 11-16 persen.

BAB I
PENDAHULUAN

I.

Latarbelakang

Sprayer merupakan alat aplikator pestisida yang sangat diperlukan dalam rangka
pemberantasan dan pengendalian hama & penyakit tumbuhan. Kinerja sprayer sangat ditentukan
kesesuaian ukuran droplet aplikasi yang dapat dikeluarkan dalam satuan waktu tertentu sehingga
sesuai dengan ketentuan penggunaan dosis pestisida yang akan disemprotkan.
Dari hasil beberapa penelitian menunjukkan bahwa jenis sprayer yang banyak digunakan
petani di lapangan adalah jenis hand sprayer (tipe pompa), namun hasilnya kurang efektif, tidak
efisien dan mudah rusak. Hasil studi yang dilakukan oleh Departemen Pertanian pada tahun 1997
di beberapa tempat di Indonesia menunjukkan bahwa sprayer tipe gendong sering mengalami
kerusakan. Komponen-komponen sprayer yang sering mengalami kerusakan tersebut antara lain :
tabung pompa bocor, batang torak mudah patah, katup bocor, paking karet sering sobek, ulir aus,
selang penyalur pecah, nozzle dan kran sprayer mudah rusak, tali gendong putus, sambungan las
korosi, dsb. (Dirjen Tanaman Pangan, 1977). Di samping masalah pada perangkat alatnya,
masalah lain adalah kebanyakan pestisida yang diaplikasikan tidak sesuai (melebihi) dari dosis
yang direkomendasikan dan ini salah satunya disebabkan oleh disain sprayer yang kurang
menunjang aplikasi (Mimin, et.al., 1992).
Dari hasil penelitian terdahulu dapat diketahui bahwa kinerja sprayer elektrostatika lebih
baik dari tipe sprayer lainnya, namun perlu modifikasi lebih lanjut terutama pada sumber tenaga
(batere) dan pola penyebaran dropletnya agar pengeluarannya benar-benar terkontrol, bahan
pembawa cairan kontak (media kontak) yang mahal mengingat tidak semua bahan kimia dapat
diaplikasikan dengan menggunakan sprayer elektrostatik. Kelemahan lainnya adalah disain yang
dibuat masih belum ergonomis (berat dan kurang flkesibel) sehingga agak menyulitkan dalam
operasionalnya di lapangan. Di samping itu rancangan sprayer elektrostatik ini perlu dimodifikasi
mengingat harga atau biaya produksinya masih tinggi bila dibandingkan dengan tipe sprayer
lainnya (terutama jenis sprayer gendong / knapsack sprayer), baik produk lokal maupun impor.
Hasil penelitian Kusdiana (1991) dan Roni Kastaman (1992) menunjukkan bahwa sebenarnya
jenis sprayer yang dapat dianggap paling baik dan memenuhi kriteria pemakaian yang diinginkan
oleh pemakai (umumnya petani) adalah sprayer dari jenis Microner atau Sprayer Elektrostatik.
Umumnya kriteria yang banyak diutamakan pemakai adalah kriteria jaminan ketersediaan suku
cadang, keamanan dalam penggunaan alat, ekonomis, kapasitas dan kepraktisan. Demikian pula
kesimpulan dari hasil penelitian Mimin et.al. (1992), yaitu bahwa sprayer yang paling baik dari
segi kinerja penyemprotannya adalah sprayer elektrostatik dan yang paling buruk sprayer
hidrolik.
II. PERMASALAHAN

Ketidakefektifan dalam penyemprotan pestisida, khususnya dari sisi ukuran droplet yang
disemprotkan dan jumlah dosis yang dapat diaplikasikan akan berdampak tidak saja pada
tanaman yang membutuhkan perlindungan dari serangan hama dan penyakit, akan tetapi juga
pada lingkungan yang kemungkinan dapat tercemar oleh bahan kimia beracun karena cara
aplikasi yang salah / kurang tepat.
Berdasarkan hal tersebut kiranya diperlukan suatu penelitian yang dapat menghasilkan
suatu produk rancang bangun sprayer yang dapat bekerja dengan efektif dan efisien. Untuk
menjawab persoalan tersebut perlu dilakukan suatu riset berupa rancangan elektrostatik piringan
berputar dengan sistem droplet terkontrol, kemudian dilakukan penelitian untuk mendapatkan
bahan kimia alami sebagai media kontak larutan semprot dengan elektroda yang ada pada sprayer
sedemikian rupa, sehingga larutan dapat disemprotkan dengan pola penyebaran droplet yang
halus dan dalam jumlah yang terkontrol.
Apabila hal ini dapat dilakukan akan menghemat biaya penggunaan bahan kimia dan
mengurangi resiko penggunaan dosis aplikasi yang berlebihan yang pada akhirnya akan
mengurangi dampak terhadap lingkungan. Dengan demikian hasil akhir dari penelitian ini
diharapkan akan mampu meningkatkan efektifitas dan efisiensi penyemprotan pestisida yang
diperlukan dalam rangka pengendalian hama dan penyakit tanaman terpadu. Lebih lanjut
berdasarkan kajian ekonomi yang dilakukan pada rancangan hasil penelitian, nantinya akan
dibandingkan dengan kinerja alat / sprayer yang prinsip kerjanya analog yang dibuat di luar
negeri (produk impor). Dengan demikian akan diketahui kelebihan dan kekurangan sprayer yang
dibuat, dan infomasinya sangat penting guna pengembangan rancangan lebih lanjut hingga pada
tahapan komersialisasinya.

IV. DASAR TEORI

Contolled Droplet Application (CDA) adalah suatu teknik penyemprotan dengan cara
mengatur kerapatan dan keseragaman ukuran diameter butiran. Dengan kata lain, titik beratnya
adalah pada ukuran butiran untuk mendapatkan hasil semprotan yang optimum. Yang menjadi
dasar dari metode ini adalah hasil penemuan Bals (1976) yang menggunakan piringan berputar
untuk pengabutan (atomization). Dengan menggunakan piringan berputar sebagai pengganti
fungsi nosel akan dihasilkan ukuran butiran yang lebih baik dan memiliki lebar penyemprotan
yang lebih luas. Untuk volume cairan tertentu, makin kecil ukuran volume partikel larutan keluar
dari pengabut, makin kecil kebutuhan volume larutan pestisidanya (Matthews, 1979). Dengan
demikian, bila menggunakan teknik CDA. Volume larutan pestisida dapat menjadi lebih sedikit.
Teknik ini telah diterapkan dalam sprayer micron yang diproduksi oleh Micromax. Sprayer ini
sangat coook untuk daerah sulit air.
Pada pengabut dengan piringan berputar, larutan pestisida yang diletakkan di dalam
tabung cairan yang dilengkapi dengan kran yang dihubungkan dengan selang menuju permukaan
piringan. Apabila kran dibuka maka cairan akan mengalir melalui selang, selanjutnya tetesan
cairan yang jatuh di atas piringan itu akan diputar oleh piringan tersebut dengan adanya gaya
sentrifugal dari piringan yang berputar sehingga membentuk butiran cairan semprot.
Matthews (1979) menyatakan tiga cara terjadinya butiran yaitu :
1. Butiran tunggal terlempar dari tepian piringan pada penyemprotan dengan volume
rendah.
2. Cairan meninggalkan tepian piringan dalam bentuk benang air yang kemudian pecah
menjadi butiran.
3. Cairan meninggalkan tepian piringan dalam bentuk lembaran tipis yang semakin
mengecil, kemudian membentuk benang air yang selanjutnya terpecah menjadi
butiran.
Pada nosel sentrifugal ukuran butiran yang terbentuk biasanya terdiri atas dua ukuran,
yakni butiran utama dan butiran pengikut (satelit). Butiran pengikut terbentuk dari benang air
yang menghubungkan butiran utama dengan cairan pada nosel. Pada kondisi transisi antara
pembentukan butiran tunggal dengan pembentukan benang air, ukuran diameter dan jumlah
butiran bertambah disebabkan penurunan diameter rata-rata (Dobrowski dan Llyod, 1974 dalam
Matthews., 1979). Butir, semprotan yang dapat dibentuk oleh nosel centrifugal dapat dihitung
secara teoritis menggunakan persamaan yang dikemukakan oleh Walton dan Prewet (1949) dalam
Matthews (1979), Yang secara sederhana ditulis sebagai berikut:
Konstanta

d = ------------------rpm
Konstanta dipengaruhi oleh disain piringan, tetapi biasanya 500.000.

4.1. Elektrostatik dan Sifatnya

Elektrostatik adalah bagian ilmu listrik yang berkaitan dengan medan listrik yang
ditimbulkan oleh adanya interaksi muatan-muatan listrik pada benda dalam keadaan diam (statis).
Berdasarkan pengertian di atas maka sifat-sifat listrik statik (elektrostatik) terdiri atas sifat dari
muatan-muatan listrik serta sifat dari medan listrik yang secara umum dapat dinyatakan sebagai
berikut :
1. Menurut Coulomb (1788) dalam Hukum Coulomb, Gaya interaksi antara dua benda
titik
Q1 Q2
F = -----------d2
yang bermuatan listrik sebanding dengan kuadrat jarak antara kedua muatan
Keterangan
F = Gaya interaksi muatan
Q = muatan
d = jarak antara muatan
k = konstanta
Gaya interaksi bekerja pada garis penghubung antara kedua benda tersebut dan gaya
interaksi akan tarik menarik bila muatan berbeda tanda ( + dan - ); dan akan tolakmenolak bila
muatan bertanda sama (+ dan +) atau ( - dan - ).
2. Medan elektrostatik secara kualitatif digambarkan sebagai ruang di sekitar gaya
elektrostatik yang bekerja, sedangkan secara kuantitatif dalam membahas medan digunakan
pengertian kuat medan yaitu gaya interaksi yang bekerja pada satu-satuan muatan yang kita
letakkan pada suatu titik dalam medan gaya ini, pengertian ini berlaku bila ditinjau dari muatan
satu titik. Bila pada suatu luas permukaan kuat medan dicirikan dengan besarnya kerapatan
muatan pada permukaan tersebut :
D
E = --------2 0
Keterangan :
E = medan listrik
D = kerapatan muatan
o = konstanta dielektrik
Sifat dari medan listrik ini dapat diketahui melalui garis-garis gaya yang ditimbulkannya,

yaitu dalam sebuah medan listrik, garis-garis gaya akan keluar dari atau berakhir pada sebuah
muatan. Biasanya bergerak dari muatan positif ke muatan negatif. Garis-garis gaya tersebut
beraturan dari satu titik muatan positif ke satu titik muatan negatif.

4.2. Aplikasi Elektrostatik

Berdasarkan sifat-sifat tersebut, elektrostatik dapat diaplikasikan ke dalam alat ini,ialah


Proses Pembelokkan elektrostatik, yaitu proses pembelokkan berkas elektron dengan sarana
medan listrik yang mana medan listrik tersebut dijangkitkan diantara sepasang keping elektroda
logam. Bila seberkas elektron dengan massa M ditembakkan sedemikian rupa sehingga melewati
dua elektroda yang disusun paralel dimana medan listrik terdapat sehingga garis edar elektron
tersebut membentuk parabola.
Larutan pestisida yang terdapat dalam tanki, yang telah diberi muatan (negatif), dengan
tekanan dan kecepatan tertentu disemprotkan sedemikian rupa melalui sebuah lubang pemercik
pengabut sehingga menghasilkan butiran-butiran semprotan dengan ukuran yang relatif kecil. Di
kedua sisi pengabut sepasang elektrada ber muatan (positif) dipasangkan sejajar dimana medan
listrik dijangkitkan diantaranya. Hal ini menyebabkan terjadinya gaya tarik menarik antara dua
konduktor (cairan semprot dan elektroda) dan cairan semprot yang telah dimuati tersebut setelah
pecah akan membentuk butiran - butiran yang seluruhnya bermuatan negatif, terjadi tolak
menolak diantara butiran tersebut. Floating terhadap tanah mengakibatkan gaya tolak menolak
antara butiran-butiran negatif dengan tanah tersebut.
Proses tersebut di atas merupakan penyebab terjadinya pembelokan. Selain peristiwa
proses pembelokan elektrostatik di atas maka butiran-butiran semprot yang secara terus menerus
keluar dari lubang pemercik melewati sepasang elektroda yang bermuatan listrik akan mengalami
pembelokan dengan garis-garis edar membentuk parabola, sebab saat butiran berada di antara
elektroda tersebut, gaya F atau (medan listrik E x muatan Q) Newton akan bekerja tegak lurus
terhadap arah gerak butiran semprot sehingga menimbulkan percepatan sebesar F/m atau E Q/m
m dtk 2 .