Anda di halaman 1dari 11

EKSTRAK METANOL DAUN KERSEN (Muntingia calabura L) SEBAGAI

ANTIMIKROBA ALAMI TERHADAP BAKTERI Staphylococcus aureus


PADA SAPI PERAH DI DAERAH NGANTANG, MALANG
Iwan Kasogi1), Sarwiyono2) dan Puguh Surjowardojo 2)
1)

Mahasiswa Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya,*)


2)
Dosen Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya

*)E-mail : iwaka.putra@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh penggunaan ekstrak metanol
daun kersen dalam menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus penyebab
mastitis subklinis pada sapi perah. Materi penelitian adalah bakteri Staphylococcus aureus
yang berasal dari susu mastitis subklinis di Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang dan
daun kersen yang diperoleh dari daerah Joyogrand Kota Malang. Penelitian ini menggunakan
metode percobaan Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang kemudian data di analisis
menggunakan Anova, apabila terdapat perbedaan yang nyata maka dilanjutkan dengan uji
Duncan. Perlakuan yang digunakan dalam penelitian ialah ekstrak metanol daun kersen
konsentrasi 10% (P1), 20% (P2), 30% (P3), 40% (P4), Iodip 10% (P5) dan dekok daun
kersen 20% (P6). Variabel yang diamati ialah diameter zona hambat. Hasil penelitian
menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun kersen konsentrasi 10%, 20%, 30% dan 40%
mempunyai kemampuan untuk menghambat pertumbuhan bakteri Staphylococcus aureus.
Kemampuan daya hambat teringgi dihasilkan oleh ekstrak metanol daun kersen konsentrasi
40%. Kesimpulan dari penelitian ini yaitu ekstrak metanol daun kersen dengan konsentrasi
10% sampai 40% dapat digunakan sebagai antimikroba terhadap bakteri Staphylococcus
aureus, dan kemampuan daya hambat tertinggi pada konsentrasi 40%. Saran dalam penelitian
ini yaitu untuk menggunakan ekstrak metanol daun kersen konsentrasi 10% sebagai bahan
teat dipping pada sapi perah di kecamatan Ngantang dan adanya uji pengaruh lama simpan
terhadap daya hambat yang dihasilkan.
Kata lunci : mastitis, ekstrak metanol daun kersen, antimikroba dan Staphylococcus aureus
METHANOL EXTRACT of CHERRY LEAF (Muntingia calabura L.) as
NATURAL ANTIMICROBIAL for Staphylococcus aureus BACTERIAL
on DAIRY COWS in the NGANTANG, MALANG
Iwan Kasogi1), Sarwiyono2) and Puguh Surjowardojo 2)
1)

Student of Animal Husbandry Faculty, Brawijaya University, * )


2)
Lecturer of Animal Husbandry Faculty, Brawijaya University

*) E-mail : iwaka.putra@gmail.com
ABSTRACT
The purpose of this research was to find out the effect of cherry leaf methanol extract
in inhibiting growth of Staphylococcus aureus bacterial that cause subclinical matitis in dairy
cows. The research material is Staphylococcus aureus bacterial from subclinical mastitis milk
in Ngantang subdistrict Malang Regency, and cherry leaf from area of Joyogrand, Malang.
This research is using experiment method with a completely randomized design (CRD) and
1

the result of research analyzed using Anova, if there is a real difference then followed by
Duncans test. Treatment used in this research is cherry leaf methanol extract 10% (P1), 20%
(P2), 30% (P3), 40% (P4), iodip 10% (P5) and cherry leaf water extract 20% (P6) as a
control. The variables measured was diameter of inhibition zone. The results of this study
indicates that are cherry leaf methanol extract with concentration 10%, 20%, 30% and 40%
have an influence on inhibitory growth of Staphylococcus aureus bacteria. The highest
potential inhibition produced by cherry leaf methanol extract with concentration 40%. The
conclusion of this study is that the cherry leaf methanol extract with concentration 10% until
40% can be used as an antimicrobial for Staphylococcus aureus bacteria, the highest
inhibition produced by cherry leaf methanol extract with concentrations 40%. Suggestion in
this research is using cherry leaf methanol extract with concentration 10% as teat dipping in
Ngantang subdistrict and need a stoage range test of cherry leaf methanol extract.

Key word : mastitis, cherry leaf methanol extract, antimicrobial and Staphylococcus aureus
PENDAHULUAN

sedangkan yang tidak menampakkan


perubahan yang nyata pada ambing dan
susu yang dihasilkan disebut dengan
mastitis subklinis. Sebesar 97-99%
merupakan mastitis subklinis dan 2-3%
mastitis klinis yang terdeteksi, hal tersebut
merupakan kejadian mastitis yang ada di
lapangan.
Beberapa kerugian yang diakibatkan
oleh mastitis menurut Leitner, Silanikove
dan Merin (2008), antara lain penurunan
produksi susu sekitar 10-25%, kematian
anak karena tidak mendapatkan kolostrum,
peningkatan biaya pengobatan yang cukup
mahal, meningkatnya jumlah hewan yang
harus dikeluarkan, dan susu yang ditolak
di pasaran dikarenakan jumlah sel somatik
(JSS) yang tinggi. Contreras, Sierra,
Corrales, Marco, Paape dan Gonzalo
(2007) melaporkan bahwa infeksi bakteri
merupakan penyebab mastitis yang paling
sering dijumpai. Staphylococcus sp.
merupakan bakteri yang paling banyak
diisolasi dari kasus mastitis klinis maupun
subklinis. Menurut Wahyuni dan Budiarso
(2010),
Staphylococcus
aureus,
Streptococcus agalactiae dan Coliform
merupakan tiga bakteri utama yang sering
menyebabkan mastitis subklinis.

Kebutuhan masyarakat akan protein


hewani semakin bertambah seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk dan tingkat
kesadaran masyarakat akan pentingnya
gizi. Salah satu sumber protein hewani
yang memiliki peranan besar yaitu susu.
Peternakan sapi perah merupakan aspek
utama dalam menghasilkan susu segar
untuk memenuhi kebutuhan susu di dalam
negeri. Berdasarkan data dari Direktorat
Jendral Pengolahan dan Pemasaran Hail
Pertanian tahun 2014, presentase susu
segar untuk memasok kebutuhan nasional
pada tahun 2013 mengalami penurunan
sebesar 10 sampai 15% dibandingkan
tahun sebelumnya.
Penurunan produksi susu disebabkan
oleh beberapa hal, salah satunya yaitu
kejadian mastitis pada peternakan sapi
perah. Sudarwanto (1999) dalam Wahyuni
dan Budiarso (2010) melaporkan bahwa
masalah utama dalam peternakan sapi
perah adalah mastitis yang merupakan
peradangan pada ambing. Mastitis yang
bersifat klinis dan mastitis subklinis
merupakan 2 bentuk kejadian mastitis
yang dikenal. Tanda-tanda mastitis klinis
senantiasa diikuti oleh tanda-tanda klinis,
2

Tumbuhan kersen atau Muntingia


calabura merupakan tumbuhan yang
sangat melimpah jumlahnya di Indonesia
karena mudah tumbuh di berbagai tempat.
Tumbuhan ini seringkali dijumpai di
pinggir-pinggir jalan, pekarangan rumah,
kebun dan tempat-tempat di sekitar kita.
Zakaria, Fatimah, Mat, Zaiton, Henie dan
Sulaiman (2006) menyatakan bahwa daun
kersen dipercaya memiliki efek antipiretik
dan antiinflamasi. Diketahui bahwa
ekstrak aqueous daun kersen atau
Muntingia calabura memiliki aktivitas
antinociceptive,
anti-inflamasi
dan
antipiretik yang diduga disebabkan oleh
efek sinergis dari flavonoid, saponin,
tannin
dan steroid
yang
berada
didalamnya. Menurut Juliantina, Citra,
Nirwanti, Nurmasitoh dan Bowo (2009),
kandungan senyawa tannin dalam daun
kersen mampu menghambat pertumbuhan
bakteri
dengan
mengkoagulasi
protoplasma
dari
bakteri.
Tannin
mempunyai peranan sebagai antibakteri
dikarenakan dapat mengikat protein
sehingga pembentukan dinding sel akan
terhambat.
Berdasarkan uraian-uraian diatas
maka kemungkinan daun kersen atau
Muntingia calabura dapat digunakan
sebagai antibakteri terhadap penyakit
mastitis subklinis pada sapi perah.

penggilingan dilakukan di Laboratorium


Nutrisi dan Makanan ternak Fakultas
Peternakan
Universitas
Brawijaya.
Ekstraksi daun kersen dilakukan di
Laboratorium Kimia Organik Fakultas
Sains dan Teknologi Universitas Islam
Negeri Malang.
Materi
Materi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah
1. Daun
dari
tumbuhan
kersen
(Muntingia calabura) yang diperoleh
dari daerah Joyogrand, Malang. Daun
kersen diekstrak dengan pelarut
metanol dan juga dibuat dekok.
2. Bakteri Staphylococcus aureus yang
ditumbuhkan dari susu mastitis pada
peternakan sapi perah di Desa
Waturejo
Kecamatan
Ngantang
Kabupaten Malang dengan skor CMT
2.
3. Iodip yang biasa digunakan di
Koperasi Agro Niaga (KAN) Jabung,
adapun komposisi yang tertera di label
kemasan antara lain Iodophores,
Emollient,
White
mineral
oil,
Orthophosphoric acid, Acid lactid dan
Detergen
4. Alat dan bahan yang digunakan pada
penelitian ini meliputi alat dan bahan
untuk pengeringan dan grinding daun
kersen, ekstraksi daun kersen,
pemeriksaan mastitis dengan skor
CMT
2,
pembiakan
bakteri,
pewarnaan gram dan uji daya hambat
bakteri.

MATERI DAN METODE


Lokasi dan Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai
tanggal 13 Januari sampai 13 Februari
2014 di Laboratorium Bakteriologi
Jurusan Hama dan Penyakit Tanaman
Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya
untuk penanaman, pembiakan dan
pengujian
daya
hambat
bakteri.
Pengeringan daun kersen segar dan

Metode
Penelitian ini dilakukan dengan
menggunakan enam level perlakuan
dengan empat ulangan. Rancangan
percobaan
yang
digunakan
dalam
penelitian ini yaitu rancangan acak
3

lengkap (RAL) dengan 6 perlakuan dan 4


ulangan. Apabila berbeda nyata maka
dilanjutkan dengan Multiple Range Test
Duncan.

dengan jumlah yang sama dan dilakukan


proses yang sama secara berulang-ulang
hingga cairan hasil penyaringan berwarna
bening yang menandakan bahwa senyawa
dalam daun kersen telah habis
(Rostinawati, 2009)

Prosedur Penelitian
Pengeringan daun kersen segar dan
grinding daun kersen kering
Daun kersen diambil dari daerah
Joyogrand Kota Malang, daun yang sudah
diambil kemudian dikeringkan dengan
cara di oven pada suhu 60 oC selama 24
jam dan dilanjutkan dengan proses
penghalusan daun dengan cara digrinding
dengan hammer meal hingga berbentuk
halus (mash) dengan ukuran partikel 0,75
mm.

Prosedur Pembuatan Dekok Daun


Kersen
Dekok daun kersen yang digunakan
yaitu dengan kadar 20%, prosedur
pembuatannya adalah sebagai berikut :
1. Sebanyak 200 g daun kersen segar
dicuci dengan air bersih
kemudian
ditiriskan
2. Daun kersen yang sudah bersih
kemudian dipotong kecil-kecil atau
dicincang
3. Direbus
dengan
air
mendidih
sebanyak 800 ml selama 15 menit
4. Ditunggu sampai dingin
5. Siap untuk digunakan sebagai
antibakteri
(Kurniawan, dkk. 2013)

Ekstraksi daun kersen


Metode ekstraksi yang dilakukan
dalam penelitian ini ialah metode ekstraksi
cara dingin yang tepatnya dengan metode
maserasi. Dalam metode ini, daun kersen
yang sudah halus dicampur dengan pelarut
metanol dengan imbangan 1:4, yang
artinya dari 150 g serbuk daun kersen yang
digunakan dilarutkan dengan 600 ml
pelarut metanol. Larutan dicampur pada
erlenmeyer 500 ml dan dihomogenkan
dengan menggunakan incubator shaker
selama 60 menit, maka selanjutnya larutan
disaring menggunakan kertas saring
whatman dan vacuum pump agar terpisah
cairan dan ampas daun kersen tersebut.
Cairan
hasil
penyaringan
tersebut
berwarna hitam dan pekat, kemudian di
destilasi pada alat rotary evaporator
dengan tujuan memisahkan pelarut
metanol dengan senyawa dalam daun
kersen tersebut dengan cara menguapkan
pelarut metanol pada suhu didihnya
sehingga yag tersisa ialah ekstrak
pekatnya. Ampas daun kersen dari hasil
penyaringan tersebut kemudian dicampur
lagi dengan menggunakan pelarut metanol

Pemeriksaan mastitis skor CMT 2


Bakteri
Staphylococcus
aureus
penyebab mastitis dalam penelitian ini
ditumbuhkan dari susu mastitis yang
diambil dari sapi perah pada peternakan
sapi perah di Desa Waturejo Kecamatan
Ngantang Kabupaten Malang. Susu
mastitis yang digunakan ialah susu mastitis
dengan skor CMT 2, untuk prosedur yang
dilakukan seperti dibawah ini :
1. Dipersiapkan alat dan bahan yang
dibutuhkan antara lain cawan paddle,
pipet 10 ml, reagen CMT dan alkohol
70%
2. Diambil susu (kira-kira 1-2 ml) dari
sapi yang diduga terkena mastitis,
susu diambil dari 4 puting dan
kemudian diletakkan di cawan paddle
sesuai urutan posisi pengambilan
4

3.

4.
5.

Ditambahkan dengan reagen CMT


yang jumlahnya sama dengan volume
susu, kemudian digoyang dengan
posisi angka 8 agar homogen selama
15 detik
Diamati perubahan yang terjadi dan
dinilai
Diambil susu dari puting yang diduga
terkena mastitis skor CMT 2 tersebut.
(Kurniawan, dkk. 2013)

2.

3.

4.

5.

Pembuatan Media Mannitol Salt Agar


( MSA)
Komposisi MSA sendiri terdiri dari
10 g pepton, 10 g mannitol, 15 g agar, 75 g
sodium klorida, 0.25 phenol red. Cara
pembuatannya ialah sebagai berikut :
1. Ditambahkan 500 ml aquadest pada
media dan dipanaskan hingga
mendidih
2. Ditambahkan lagi aquadest hingga
volume mencapai 1000 ml kemudian
dimasukkan ke dalam tabung atau
botol steril
3. Disterilisasi dengan autoklaf pada
suhu 121oC dengan tekanan 2 atm
selama 1 jam
4. Dituang pada cawan petri 20 ml dan
ditunggu sampai membentuk gel.
(Rahmawati, 2013)

6.
7.
8.

Sterilisasi tangan dengan alkohol


70%, dan pembiakan dilakukan pada
ruang laminar yang terdapat bunsen
didalamnya
Penuangan media selektif MSA
(Manitol Salt Agar) sebanyak 20 ml
pada tiap cawan petri.
Cawan petri ditutup dan dilapisi
dengan plastik wrap dan ditunggu
sampai media agar menjadi keras.
Cawan petri dibuka kembali dan susu
mastitis skor CMT 2 diambil sebanyak
100 l dan disuspensikan ke media
agar
Diratakan dengan menggunakan gelas
L.
Cawan petri ditutup kembali dan
dilapisi dengan plastik wrap
Diinkubasi pada suhu 37 oC selama 24
jam, jika terdapat koloni bakteri
menandakan bahwa bakteri tumbuh
dan dilakuan pewarnaan gram untuk
mengidentifikasi bakteri tersebut.

Pewarnaan gram
Prosedur
yang
dilakukan
menurut Maria dan Surya (2012),
ialah sebagai berikut :
1. Sterilisasi
tangan
dengan
menggunakan alkohol 70%
2. Kawat ose dibakar pada api bunsen
sampai berwarna merah, kemudian
dibiarkan sebentar agar tidak terlalu
panas
3. Diambil koloni bakteri dengan
menggunakan
kawat
ose
dan
kemudian di strike tipis pada object
glass
4. Ditetesi dengan methylene blue 1-2
tetes dan ditunggu selama 1 menit
5. Dibasuh dengan aquadest steril secara
mengalir dan dikeringkan
6. Ditetesi dengan iodine 1-2 tetes dan
ditunggu selama 1 menit

Pembiakan bakteri Staphylococcus


aureus di media MSA
(Beishir, 1991; Fox, 2000; Cappucino and
Sherman, 2005)
Susu mastitis dengan skor CMT 2
yang sudah diambil dari sapi perah di
peternakan sapi perah tersebut kemudian
dibawa ke Laboratorium untuk dibiakkan.
Prosedur yang dilakukan yaitu seperti
dibawah ini :
1. Sterilisasi alat yang digunakan dengan
autoklaf pada suhu 121oC, tekanan 15
lbs selama 15 menit.
5

7.

Dibasuh lagi dengan aquadest steril


secara mengalir dan dikeringkan
8. Ditetesi dengan etanol 1-2 tetes dan
ditunggu selama 30 detik
9. Dibasuh lagi dengan aquadest steril
secara mengalir dan dikeringkan
10. Ditetesi dengan safranin 1-2 tetes dan
ditunggu selama 2 menit kemudian
difiksasi
11. Diamati dan diidentifikasi dibawah
mikroskop dengan perbesaran 1000
kali
12. Di dokumentasi

ekstrak pekat dengan 6 ml aquadest steril),


konsentrasi iodip 10% (1 ml iodip murni
dengan 9 ml aquadest steril), dan dekok
daun kersen 20%. Larutan dimasukkan ke
dalam tabung reaksi 10 ml.
b. Pembuatan media
1. Media MSA (Mannitol Salt Agar)
yang sudah dalam bentuk cair
dituangkan ke dalam cawan petri steril
sebanyak 20 ml dan ditutup kembali
serta dilapisi plastik wrap.
2. Ditunggu sampai media menjadi
keras.
c. Pembuatan suspensi bakteri
(pemanenan bakteri)
1. Koloni
bakteri
yang
sudah
diidentifikasi dengan pewarnaan gram
kemudian di panen, koloni bakteri
dalam cawan petri disuspensikan
aquadest steril sebanyak 5 ml.
2. Diratakan dengan gelas L sampai
rata kemudian dituang kedalam wadah
steril.
d. Uji Aktivitas Antibakteri
1. Media MSA (Mannitol Salt Agar)
yang
sudah
keras
kemudian
ditambahkan
suspensi
bakteri
sebanyak 100 l setiap cawan petri
kemudian diratakan dengan gelas L.
2. Dibuat lubang sumuran dengan
melubangi media MSA menggunakan
cork borer sebanyak 4 lubang
sumuran tiap cawan. Diameter lubang
sumuran sebesar 6 mm dengan tinggi
sumuran 0.5 cm.
3. Tiap sumuran disuspensikan larutan
ekstrak daun kersen, larutan iodip, dan
dekok daun kersen sebanyak 50 l
sesuai dengan konsentrasi yang telah
ditentukan sebagai perlakuan.
4. Cawan petri ditutup kembali dan
dilapisi dengan plastik wrap dan

Uji daya hambat


Uji daya hambat dilakukan untuk
mengetahui besar hambatan ekstrak daun
kersen dengan meggunakan pelarut
metanol terhadap pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus. Prosedur daya
hambat adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan larutan
1. Rumus :
Konsentrasi Ekstrak :
e
X 100%
e+a
keterangan :
e : volume ekstrak yang diambil dari
hasil ekstraksi (ml)/ volume of piper
betle extract
a : volume aquades yang ditambahkan
(ml)/ volume of destilated water
e + a : volume total antara ditambah
aquadest, dengan total 10 ml
(Ahmad dan Suryana, 2009)
Konsentrasi ekstrak ialah 10 sampai 40%,
konsentrasi 10% (1 g ekstrak pekat dengan
9 ml aquadet steril), 20% (2 g ekstrak
pekat dengan 8 ml aquadest steril),
konsentrasi 30% (3 g ekstrak pekat dengan
7 ml aquadest steril), konsentrasi 40% (4 g
6

diikubasi pada suhu 37 oC selama 24


jam

antara perlakuan menunjukkan perbedaan


pengaruh yang nyata atau sangat nyata
maka dilanjutkan dengan Multiple Range
Test Duncan. Dalam penelitian ini terdapat
enam perlakuan dengan ulangan sebanyak
empat.
Tabel 1. Rataan diameter zona hambat

5. Dihitung diameter zona hambatnya


dengan menggunakan jangka sorong
(Simorangkir, dkk.2013).
e. Pengukuran diameter zona hambat
1. Diukur diamater zona hambat yang
maksimum
2. Diukur diameter zona hambat yang
minimum
3. Masing-masing hasil pengukuran
dikurangi diameter lubang sumuran
sebesar 6 mm
4. Hasil dari pengurangan dengan
diameter lubang sumuran kemudian
dirata-rata

HASIL DAN PEMBAHASAN


Berdasarkan
analisis
ragam
menunjukkan bahwa ekstrak metanol daun
kersen dengan berbagai konsentrasi dapat
menghambat
pertumbuhan
bakteri
Staphylococcus aureus penyebab mastitis
subklinis pada sapi perah. Rataan diameter
zona hambat diperlihatkan pada Tabel 1.

Analisis Data
Data yang diperoleh kemudian dianalisis
menggunakan Analisis Ragam dalam
Rancangan Acak Lengkap, apabila di
Perlakuan
Ulangan

Rata-rata

U1

U2

U3

U4

P1

5,12

6,12

6,45

7,74

6,358 1,081ab

P2

6,44

6,84

6,17

6,84

6,573 0,329b

P3

7,35

6,57

6,81

6,65

6,845 0,351b

P4

8,18

7,14

6,93

6,57

7,205 0,691b

P5

6,64

5,90

5,53

5,15

5,805 0,636ab

P6

4,87

4,75

4,17

5,93

4,930 0,733a

Secara berurutan rataan diameter


daya hambat dari yang terkecil yaitu dekok
daun kersen (4,930 mm), iodip (5,805
mm), ekstrak daun kersen konsentrasi 10%
(6,358 mm), ekstrak daun kersen
konsentrasi 20% (6,573 mm), ekstrak daun
kersen konsentrasi 30% (6,845 mm) dan
untuk konsentrasi 40% (7,205 mm).
Nilai diameter zona hambat yang
semakin besar menunjukkan bahwa

kemampuan
suatu
bahan
dalam
menghambat pertumbuhan bakteri semakin
baik. Pada tabel 3 juga menunjukkan
bahwa diameter zona hambat yang
dihasilkan ekstrak daun kersen dengan
menggunakan pelarut metanol tersebut
semakin tinggi seiring dengan konsentrasi
yang juga semakin tinggi, diameter zona
hambat tertinggi dicapai oleh ekstrak daun
kersen konsentrasi 40%.
7

Kemampuan ekstrak metanol daun


kersen dengan konsentrasi 10% - 40%
dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus
aureus
setara
kemampuannya dengan larutan iodip 10%,
bahkan
secara
deskriptif
dengan
konsentrasi ekstrak daun kersen terendah
(10%) sudah mampu menghasilkan
diameter zona hambat yang lebih tinggi
daripada iodip dan dekok daun kersen.
Kemampuan ekstrak metanol daun kersen
konsentrasi 20%, 30% dan 40%
memberikan pengaruh yang sangat nyata
atau lebih tinggi daripada dekok 20%. Hal
ini menunjukkan bahwa konsentrasi
ekstrak metanol daun kersen mulai
konsentrasi 20% sampai 40% memiliki
kemampuan yang lebih tinggi dalam
menghambat
pertumbuhan
bakteri
Staphylococcus aureus dibanding dengan
dekok 20%, akan tetapi dengan
konsentrasi ekstrak metanol daun kersen
10% masih memiliki kemampuan yang
setara dengan dekok daun kersen 20%
dalam menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus.
Semakin besarnya nilai hambatan
yang dihasilkan seiring dengan konsentrasi
ekstrak yang juga semakin besar
kemungkinan disebabkan olah kandungan
senyawa antimikroba dalam daun kersen
seperti flavonoid, tanin dan saponin yang
di ekstrak juga semakin besar sehingga
daya hambat yang dihasilkan juga semakin
besar. Menurut Santoso dkk., (2009),
bahwa
dalam
beberapa
penelitian
menyebutkan daun kersen dapat digunakan
sebagai obat karena diduga didalam daun
kersen mengandung senyawa flavonoid,
polifenol dan tannin. Ditambahkan oleh
Priharyanti (2007) dalam Zakaria (2007)
bahwa kelompok senyawa atau lignan
yang terkandung dalam daun talok
(Muntingia calabura) yang menunjukkan

aktivitas
antioksidatif
antara
lain
flavonoid, tannin, triterpene, saponin dan
polifenol. Zakaria (2007) melaporkan
bahwa flavonoid merupakan senyawa yang
secara kualitatif paling dominan pada daun
talok (Muntingia calabura).
Bakteri Staphylococcus aureus yang
merupakan
bakteri
gram
positif
mempunyai dinding sel yang sederhana,
hal ini yang menyebabkan bakteri akan
sensitif
terhadap
antibakteri
yang
mempunyai target penghambatan dinding
sel. Keberadaan senyawa tanin sebagai
antibakteri akan mengganggu sintesa
peptidoglikan sehingga pembentukan
dinding sel menjadi kurang sempurna.
Keadaan
yang
seperti
itu
akan
menyebabkan sel bakteri menjadi lisis
dikarenakan tekanan osmotik maupun fisik
sehingga sel bakteri menjadi mati (Kane
dan Kandeli, 1986; Safera, 2005). Suatu
bahan uji dapat membunuh suatu
mikroorganisme apabila bahan uji tersebut
dapat masuk kedalam sel dengan melalui
dinding sel. Kelompok bakteri dari gram
positif seperti Staphylococcus aureus
memiliki struktur dinding sel yang sedikit
lipid, sedangkan E. Coli yang merupakan
kelompok gram negatif mengandung lipid
yang relatif lebih banyak (Pelczar et al,
1998; Rosyidah dkk., 2010).
Saponin yang juga merupakan
senyawa yang terkandung dalam daun
kersen mempunyai sifat antibakteri,
Karlina, dkk (2013), melaporkan bahwa
tegangan permukaan dinding sel dapat
menurun dikarenakan adanya senyawa
saponin, apabila berinteraksi dengan
dinding bakteri maka dapat menyebabkan
dinding tersebut akan pecah atau lisis
sehingga dapat menekan pertumbuhan
bakteri. Senyawa saponin juga dapat
mengganggu tegangan permukaan dinding
sel, dan apabila tegangan permukaan
8

terganggu zak antibakteri akan masuk


dengan mudah kedalam sel dan akan
menyebabkan terganggunya metabolisme
sehingga pada akhirnya akan terjadi
kematian bakteri.
Hasil zona hambat yang dihasilkan
oleh dekok daun kersen dalam penelitian
ini adalah yang paling kecil apabila
dibandingkan dengan ekstrak daun kersen
dan larutan iodip. Pembuatan dekok daun
kersen juga merupakan metode ekstraksi,
akan tetapi jenis ekstraksi yang digunakan
adalah metode ekstraksi dengan cara panas
yang menggunakan prinsip dekokta.
Ekstraksi dengan prinsip ini yaitu
mengambil senyawa dalam suatu bahan
dengan melarutkan dalam air mendidih,
hal ini juga yang menjadi kekurangan
ekstraksi cara panas yaitu kemungkinan
adanya kerusakan senyawa-senyawa akibat
proses pemanasan itu sendiri. Pada metode
ekstraksi dengan prinsip maserasi yang
dijadikan poin utama dalam peneltian ini,
yang mana proses penguapan metanol
tidak terlalu panas (60oC) sehingga
kemungkinan akan mengurangi resiko
kerusakan
senyawa-senyawa
yang
terkandung dalam daun kersen. Hasil zona
hambat yang dihasilkan larutan iodip 10%
dengan ekstrak daun kersen 10% juga
tidak terlalu jauh dan hasil notasi analisis
ragam menunjukkan hasil yang setara,
sehingga tidak dapat dikatakan bahwa
penggunaan iodip lebih jelek daripada
ekstrak daun kersen begitupun sebaliknya.
Dari segi daya hambat terhadap bakteri
Staphylococcus aureus, secara deskriptif
memang ekstrak metanol daun kersen
konsentrasi 10% lebih tinggi daripada
larutan iodip 10%.

KESIMPULAN
1. Ekstrak
metanol
daun
kersen
(Muntingia
calabura
L.)
dapat
menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus
aureus
penyebab
mastitis subklinis dan dapat digunakan
sebagai bahan alternatif untuk teat
dipping pada sapi perah di Kecamatan
Ngantang Kabupaten Malang
2. Ekstrak
metanol
daun
kersen
(Muntingia calabura L.) dengan
konsentrasi 10%-40% mempunyai
kemampuan yang setara dengan iodip
10%, akan tetapi pada konsentrasi 20%,
30% dan 40%, kemampuan ekstrak
metanol daun kersen lebih tinggi
daripada dekok daun kersen 20% dalam
menghambat pertumbuhan bakteri
Staphylococcus aureus.
SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang
dilakukan ini, maka disarankan untuk
menggunakan ekstrak metanol daun kersen
dengan konsentrasi 10% sebagai bahan
untuk teat dipping pada sapi perah di
Kecamatan Ngantang Kabupaten Malang,
dan adanya uji pengaruh lama simpan dari
ekstrak metanol daun kersen terhadap daya
hambat yang dihasilkan.
UCAPAN TERIMA KASIH
Dalam
kesempatan
ini
penulis
mengucapkan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada Bapak Ir. Sarwiyono.
M.Agr.St., Bapak Dr. Ir. Puguh
Surjowardojo, MS dan Bapak Aswah
Ridhowi, S.Pt., M.Sc atas bimbingannya
dari awal penelitian hingga selesai.
Teman-teman kelompok penelitian Tim

Kersen, Happy Aprilia Mahardika,


Imroatul Khasanah dan Eny Sholikhatin.

Leitner, G., N. Silanikove and U. Merin.


2008. Estimate of milk and curd
yield loss of sheep and goats with
intramammary infection and its
relation to somatic cell count. Small
Rumin Res. 74:221-225.

DAFTAR PUSTAKA
Ahmad dan I. Suryana. 2009. Pengujian
Aktivitas Ekstrak Daun Sirih (Piper
betle Linn.) Terhadap Rhizoctonia
sp. Secara In Vitro. Bul. Littro. Vol.
20 No. 1, 2009, 92 98

Maria, Y.E.P dan Surya R.P. 2012. Isolasi


dan Identifikasi Bakteri Termofilik
Dari Sumber Mata Air Panas Di
Songgoriti Setelah Dua Hari
Inkubasi. Jurnal Teknik POMITS
vol. 1, No. 1

Cappucino, J.G. and N. Sherman. 2005.


Microbiology:
A
Laboratory
Manual. 7th ed. Pearson Education
Inc. USA. 101 - 102, 117, 164, 166,
189, 204, 409 - 416, 509 - 512

Rahmawati, DN. 2013. Media-bakteri.


Jurusan Analis Kesehatan. Poltekkes
Kemenkes. Surabaya
Rostinawati,
T.
2009.
Aktivitas
Antibakteri Ekstrak etanol Bunga
Rosella (Hibiscus sabdariffa L.)
Terhadap
Escherichia
coli,
Salmonella typhi dan staphylococcus
aureus Dengan Metode Difusi Agar.
Fakultas
Farmasi.
Universitas
Padjadjaran. Jatinagor

Contreras, A., D. Sierra, A. Sanchez, J.C.


Corrales, J.C. Marco, M.J. Paape
and C. Gonzalo. 2007. Mastitis in
small ruminants. Small Rumin Res.
68:145-153.
Juliantina, R.F., M.D.A. Citra, B. Nirwani,
T. Nurmasitoh dan E.T. Bowo. 2009.
Manfaat
sirih
merah
(piper
crocatum) sebagai agen anti bacterial
terhadap bakteri gram positif dan
gram negative. Jurnal kedokteran
dan kesehatan Indonesia

Rosyidah, K., S. Nurmuhaimina, N.


Komari dan D. Astuti. 2010.
Aktivitas Antibakteri Fraksi Saponin
Dari Kilit Batang Tumbuhan Kasturi
(Mangifera
casturi).
BIOSCIENTIAEVolume 7, Nomor
2, Juli 2010, Halaman 25-31

Karlina, C.Y., M. Ibrahim dan G.


Trimulyono.
2013.
Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Herba Krokot
(Portulaca oleracea L.) terhadap
Staphylococcus
aureus
dan
Escherichia coli. E journal UNESA
LenteraBio. 2 (1) :8793

Safera, W. 2005. Optimasi Waktu


Ekstraksi Terhadap Kandungan
Tanin Pada Bubuk Ekstrak Daun
Jambu Biji (psidittolium) Serta
Analisis
Finansialnya.
Malang:
jurusan teknologi industri pertanian
FTP Unibraw

Kurniawan,
I.,
Sarwiyono
dan
Surjowardojo, P. Pengaruh Teat
Dipping Menggunakan Dekok Daun
Kersen (Muntingia calabura L)
Terhadap
Tingkat
Kejadian
Mastitis. Program Studi Peternakan.
Fakultas Peternakan. Universitas
Brawijaya.

Santoso S., Soemardini dan N.L.


Rusmayanti. 2009. Ekstrak Etanol
Daun Kersen (Muntingia calabura)
Sebagai Antimikroba Terhadap
Bakteri Salmonella typhi Secara In
VItro.
Fakultas
Kedokteran
Universitas Brawijaya
10

Simorangkir, M.. M. Sitepu dan P.


Simanjuntak.
2013.
Aktivitas
Antibakteri Ekstrak Daun Ranti
Hitam (Solanum blumei Nees ex
Blume)
Terhadap
Salmonella
typhimurium. Prosiding SNYube
2013
Wahyuni, A.E.T.H., dan T.Y. Budiarso.
2010. Peluang Pembuatan Anti
Adesi
Escherichia
coli
dan
Enterobacter
sakazakii
Isolat
Indonesia
Sebagai
Pencegahan
Mastitis Subklinis Pada Sapi Perah.
Lembaga Penelitian dan Pengabdian
Kepada Masyarakat Universitas
Gadjah Mada. Yogyakarta
Zakaria, ZA. 2007. Free radical
scavenging activity of some plants
available in malaysia. IJPT. 6: 87-91
Zakaria, Z.A., A.M. Mat, M. Mastura, S.H.
Mat, A.M. Mohamed, N.S. Moch
Jamil, M.S. Rofiee dan M.R.
Sulaiman.
2007.
In
vitro
Antistaphylococcal Activity of the
Extract of Several Neglected Plants
in Malaysia. International Journal of
Pharmacology, 3 (5): 428-431.
Zakaria, Z.A., C.A. Fatimah, A.M. Mat, H.
Zaiton,
E.F.P.
Henie,
M.R.
Sulaiman, M.N. Somchit, M.
Thenamutha dan D. Kasthuri D.
2006. The In vitro Antibacterial
Activity of Muntingia calabura
Extract. International Journal of
Pharmacology, 2 (4): 439-442.

11