Anda di halaman 1dari 13

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Pancasila sebagai dasar Negara bangsa Indonesia hingga sekarang telah mengalami
perjalanan waktu yang tidak sebentar, dalam rentang waktu tersebut banyak hal atau
peristiwa yang terjadi menemani perjalanan Pancasila, sehingga berdirilah pancasila
seperti sekarang ini didepan semua bangsa Indonesia.
Mulai peristiwa pertama saat pancasila dicetuskan sudah menuai banyak konflik
di internal para pencetusnya, hingga sekarangpun di era reformasi dan globalisasi
Pancasila masih hangat diperbincangkan oleh banyak kalangan berpendidikan
terutama kalangan Politik dan mahasiswa.Kebanyakan dari para pihak yang
memperbincangkan

masalah

Pancasila

adalah

mengenai

awal

dicetuskannya

Pancasila tentang sila pertama.


Memang dari sejarah awal perkembangan bangsa Indonesia dapat kita lihat
bahwa komponen masyarakatnya terbentuk dari dua kelompok besar yaitu kelompok
agamis dalam hal ini didominasi oleh kelompok agama Islam dan yang kedua adalah
kelompok Nasionalis.Kedua kelompok tersebut berperan besar dalam pembuatan
rancangan dasar Negara kita tercinta ini.
Maka, setelah banyak aspek memperbincangkan pancasila sebagai dasar
Negara.Sekarang pancasilapun dijadikan bahan perbincangan sebagai prilaku yang
digunakan didalam kampus. Dimana didalam kampus tersebut akan terdidik dengan
kepemimpinan pancasilan. Baik dalam prilaku bergaul juga dalam proses belajar
mengajar didalamnya. Serta molekul-molekul yang menjadi bagiannya.
Makalah ini dibuat sebagai catatan perjalanan Pancasila dari jaman ke jaman,
agar kita senantiasa tidak melupakan sejarah pembentukan Pancasila sebagai dasar
Negara, dan juga dapat digunakan untuk menjadi penengah bagi pihak yang sedang
berbeda pendapat tentang dasar Negara supaya kedepan kita tetap seperti semboyan
kita yaitu Bhineka Tunggal Ika. Terutama hal tersebut dalam penerapannya dalam
kehidupan kita.Termasuk dilingkungan kampus.

1.2 Rumusan Masalah


Berdasarkan uraian diatas maka makalah ini secara khusus membahas
permasalahan sebagai berikut:
1. Apa yang disebut pancasila sebagai dasar negara?
2. Apa yang dimaksud dengan tri darma perguruan tinggi?
3. Bagaimana cara mengaktualisasikan pancasila tersebut di perguruan tinggi atau
kampus?
1.3 Tujuan Penulisan
Setelah penulis mencoba memahami akan latar belakang serta rumusan
masalah diatas, maka tujuan kepenulisan ini adalah:
1. Mengetahui apa yang dimaksud dengan pancasila sebagai dasar negara
2. Memahami makna dari pancasila dalam prilaku sehari-hari
3. serta mengenali betul peran dan cara mengaktualisasikan pancasila sendiri dalam
kehidupan, terutama dalam lingkungan kampus
1.4 Manfaat Penulisan
Setelah penulis mencoba memahami makna dari pancasila sebagai dasar
Negara, maka penulispun tersadar akan pentingnya nilai pancasila tersebut untuk
diaktualisasikan dalam kehidupan sehari-hari. Terutama dalam lingkungan kampus
yang memang kebetulan terdiri dari berbagai macam suku, adat serta agama.
Karena dasar pemikiran tersebutlah, maka sangat layak dan pantas makna,
peran pancasila kembali ditulis guna untuk kembali dibaca sebagai salah satu bahan
penyadaran diri setiap individu agar kembali mengintropeksi dirinya untuk berprilaku
sesuai dengan makna pancasila.
Dimana dengan berjiwa pancasila tersebut, akan terangakai kehidupan yang
matang, selaras dan akan jauh dari poermasalahan yang didasarkan karena perbedaan
adapt, suku bahkan agama tersendiri. Maka dari itu, penulis menganggap sangat perlu
menulis makalah ini.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pancasila Sebagai Dasar Negara
Sebelum kita beranjak mengenali pancasila dalam lingkungan kampus. Maka terpikir
sangatlah perlu bagi kita semua untuk mengetahui posisi, fungsi atau peran pancasila
sebagai dasar negara, sebelum kita akan melanjutkan pemahaman terhadap pancasila
dan aktualisasinya dalam kampus. Karena dengan mengetahui lebih jauh dan lebih
dalam pancasila sebagai dasar Negara kita nanti akan lebih paham untuk
mengaktualisasikan dalam kehidupan kita sehari-hari, termasuk dalam kampus.
Pengertian Pancasila sebagai dasar negara diperoleh dari alinea keempat
Pembukaan UUD 1945 dan sebagaimana tertuang dalam Memorandum DPR-GR 9
Juni 1966 yang menandaskan Pancasila sebagai pandangan hidup bangsa yang telah
dimurnikan dan dipadatkan oleh PPKI atas nama rakyat Indonesia menjadi dasar
negara Republik Indonesia. Memorandum DPR-GR itu disahkan pula oleh MPRS
dengan Ketetapan No.XX/MPRS/1966

jo.Ketetapan MPR No.V/MPR/1973 dan

Ketetapan MPR No.IX/MPR/1978 yang menegaskan kedudukan Pancasila sebagai


sumber dari segala sumber hukum atau sumber dari tertib hukum di Indonesia.
Inilah sifat dasar Pancasila yang pertama dan utama, yakni sebagai dasar
negara (philosophische grondslaag) Republik Indonesia. Pancasila yang terkandung
dalam alinea keempat Pembukaan UUD 1945 tersebut ditetapkan sebagai dasar
negara pada tanggal 18 Agustus 1945 oleh PPKI yang dapat dianggap sebagai
penjelmaan kehendak seluruh rakyat Indonesia yang merdeka.
Dengan syarat utama sebuah bangsa menurut Ernest Renan: kehendak untuk
bersatu (le desir detre ensemble) dan memahami Pancasila dari sejarahnya dapat
diketahui bahwa Pancasila merupakan sebuah kompromi dan konsensus nasional
karena memuat nilai-nilai yang dijunjung tinggi oleh semua golongan dan lapisan
masyarakat Indonesia.
Maka

pancasila

merupakan

intelligent

choice

karena

mengatasi

keanekaragaman dalam masyarakat Indonesia dengan tetap toleran terhadap adanya


perbedaan.Penetapan Pancasila sebagai dasar negara tak hendak menghapuskan
3

perbedaan (indifferentism), tetapi merangkum semuanya dalam satu semboyan empiris


khas Indonesia yang dinyatakan dalam seloka Bhinneka Tunggal Ika.
Mengenai hal itu pantaslah diingat pendapat Prof.Dr. Supomo: Jika kita hendak
mendirikan Negara Indonesia yang sesuai dengan keistimewaan sifat dan corak
masyarakat Indonesia, maka Negara kita harus berdasar atas aliran pikiran Negara
(Staatside) integralistik Negara tidak mempersatukan diri dengan golongan yang
terbesar dalam masyarakat, juga tidak mempersatukan diri dengan golongan yang
paling kuat, melainkan mengatasi segala golongan dan segala perorangan,
mempersatukan diri dengan segala lapisan rakyatnya
Penetapan Pancasila sebagai dasar negara itu memberikan pengertian bahwa
negara Indonesia adalah Negara Pancasila.Hal itu mengandung arti bahwa negara
harus tunduk kepadanya, membela dan melaksanakannya dalam seluruh perundangundangan. Mengenai hal itu, Kirdi Dipoyudo (1979:30) menjelaskan: Negara Pancasila
adalah suatu negara yang didirikan, dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan
untuk melindungi dan mengembangkan martabat dan hak-hak azasi semua warga
bangsa Indonesia (kemanusiaan yang adil dan beradab), agar masing-masing dapat
hidup

layak

sebagai

manusia,

mengembangkan

dirinya

dan

mewujudkan

kesejahteraannya lahir batin selengkap mungkin, memajukan kesejahteraan umum,


yaitu kesejahteraan lahir batin seluruh rakyat, dan mencerdaskan kehidupan bangsa
(keadilan sosial).
Pandangan

tersebut

melukiskan

Pancasila

secara

integral

(utuh

dan

menyeluruh) sehingga merupakan penopang yang kokoh terhadap negara yang


didirikan di atasnya, dipertahankan dan dikembangkan dengan tujuan untuk melindungi
dan

mengembangkan

martabat

dan

hak-hak

azasi

semua

warga

bangsa

Indonesia.Perlindungan dan pengembangan martabat kemanusiaan itu merupakan


kewajiban negara, yakni dengan memandang manusia qua talis, manusia adalah
manusia sesuai dengan principium identatis-nya.
Pancasila seperti yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 dan ditegaskan
keseragaman sistematikanya melalui Instruksi Presiden No.12 Tahun 1968 itu tersusun
secara hirarkis-piramidal. Setiap sila (dasar/ azas) memiliki hubungan yang saling
mengikat dan menjiwai satu sama lain sedemikian rupa hingga tidak dapat dipisah4

pisahkan. Melanggar satu sila dan mencari pembenarannya pada sila lainnya adalah
tindakan sia-sia.Oleh karena itu, Pancasila pun harus dipandang sebagai satu kesatuan
yang bulat dan utuh, yang tidak dapat dipisah-pisahkan. Usaha memisahkan sila-sila
dalam kesatuan yang utuh dan bulat dari Pancasila akan menyebabkan Pancasila
kehilangan esensinya sebagai dasar negara.
Sebagai alasan mengapa Pancasila harus dipandang sebagai satu kesatuan
yang bulat dan utuh ialah karena setiap sila dalam Pancasila tidak dapat diantitesiskan
satu sama lain. Secara tepat dalam Seminar Pancasila tahun 1959, Prof. Notonagoro
melukiskan sifat hirarkis-piramidal Pancasila dengan menempatkan sila Ketuhanan
Yang Mahaesa sebagai basis bentuk piramid Pancasila. Dengan demikian keempat
sila yang lain haruslah dijiwai oleh sila Ketuhanan Yang Mahaesa. Secara tegas, Dr.
Hamka mengatakan: Tiap-tiap orang beragama atau percaya pada Tuhan Yang Maha
Esa, Pancasila bukanlah sesuatu yang perlu dibicarakan lagi, karena sila yang 4 dari
Pancasila sebenarnya hanyalah akibat saja dari sila pertama yaitu Ketuhanan Yang
Maha Esa.
Dengan demikian dapatlah disimpulkan bahwa Pancasila sebagai dasar negara
sesungguhnya berisi:
1. Ketuhanan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang
ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, serta ber-Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
2. Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Ketuhanan yang mahaesa, yang
ber-Persatuan Indonesia, yang ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan, dan ber-Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
3. Persatuan

Indonesia,

yang

ber-Ketuhanan

yang

mahaesa,

yang

ber-

Kemanusiaan yang adil dan beradab, ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat
kebijaksanaan dalam permusyawaratan/ perwakilan, dan ber-Keadilan sosial
bagi seluruh rakyat Indonesia.
5

4. Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/


perwakilan, yang ber-Ketuha nan yang mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang
adil dan beradab, yang ber-Persatuan Indonesia, dan ber-Keadilan sosial bagi
seluruh rakyat Indonesia.
5. Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, yang ber-Ketuhanan yang
mahaesa, yang ber-Kemanusiaan yang adil dan beradab, yang ber-Persatuan
Indonesia, dan ber-Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam
permusyawaratan/ perwakilan.

2.2 Aktualisasi Pancasila


Aktualisasi berasal dari kata aktual, yang berarti betul-betul ada, terjadi, atau
sesungguhnya, hakikatnya.Dimana pancasila memang sudah jelas berdiri di Negara
Indonesia sebagai dasar Negara dan ideologi Negara.
Aktualisasi Pancasila adalah bagaimana nilai-nilai Pancasila benar-benar dapat
tercermin dalam sikap dan perilaku seluruh warga negara mulai dari aparatur dan
pimpinan nasional sampai kepada rakyat biasa.
Nilai-nilai Pancasila yang bersumber pada hakikat Pancasila adalah bersifat
universal, tetap dan tak berubah. Nilai-nilai tersebut dapat dijabarkan dalam setiap
aspek dalam penyelenggaraan Negara dan dalam wujud norma-norma, baik norma
hukum, kenegaraan, maupun norma-norma moral yang harus dilaksanakan dan
diamalkan oleh setiap warga Negara Indonesia.
Aktualisasi Pancasila dapat dibedakan atas dua macam yaitu :
A. Aktualisasi objektif
Aktualisasi Pancasila yang objektif adalah aktualisasi pancasila dalam berbagai
bidang kehidupan kenegaraan yang meliputi kelembagaan Negara antara lain, legislatif,
eksekutif, maupun yudikatif. Selain itu juga meliputi bidang-bidang aktualisasi
lainnya.Seperti politik, ekonomi, hokum terutama dalam penjabaran kedalam undangundang, garis-garis besar haluan Negara, hankam, pendidikan maupun bidang
kenegaraan lainnya.

B. Aktualisasi Subjektif
Aktualisasi Pancasila yang subyektif adalah aktualisasi pancasila pada setiap
individu terutama dalam aspek moral dalam kaitannya dengan hidup Negara dan
masyarakat. Aktualisasi yang subjektif tersebut tidak terkecuali baik warga Negara
biasa, aparat pentelenggara Negara, penguasa Negara, terutama kalangan elit politik
dalam kegiatan politik, maka dia perlu mawas diri agar memiliki moral ketuhanan dan
kemanusiaan sebagaimana terkandung dalam pancasila.
Aktualisasi nilai-nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara memerlukan kondisi dan iklim yang memungkinkan segenap lapisan
masyarakat yang dapat mencerminkan nilai-nilai Pancasila itu dan dapat terlihat dalam
perilaku. Perpaduan ciri tersebut di dalam kehidupan kampus melahirkan gaya hidup
tersendiri yang merupakan variasi dari corak kehidupan yang menjadikan kampus
sebagai pedoman dan harapan masyarakat.
2.3 Tridarma Perguruan Tinggi
Pembangunan di Bidang Pendidikan yang dilaksanakan atas falsafah Negara Pancasila
diarahkan untuk membentuk manusia-manusia pembangunan yang berjiwa Pancasila,
membentuk manusia-manusia Indonesia yang sehat jasmani dan rohaninya, memiliki
pengetahuan dan keterampilan, dapat mengembangkan kecerdasan yang tinggi disertai
budi pekerti yang luhur, mencintai bangsa dan negara dan mencintai sesama manusia.
Peranan perguruan tinggi dalam usaha pembangunan mempunyai tugas pokok
menyelenggarakan pendidikan dan pegajaran di atas perguruan tingkat menengah
berdasarkan kebudayaan bangsa Indonesia dengan cara ilmiah

yang meliputi:

pendidikan dan pengajaran, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat, yang


disebut Tri Darma Perguruan Tinggi.
Peningkatan peranan Perguruan Tinggi sebagai satuan pendidikan yang
menyelenggarakan pendidikan tinggi dalam usaha pembangunan selain diarahkan
untuk menjadikan Perguruan Tinggi sebagai pusat pemeliharaan dan pengembangan
ilmu pengetahuan dan teknologi serta seni, juga mendidik mahasiswa untuk berjiwa
penuh pengabdian serta memiliki tanggung jawab yang besar pada masa depan

bangsa dan Negara, serta menggiatkan mahasiswa, sehingga bermanfaat bagi usaha
pembangunan nasional dan pengembangan daerah.
Perlu diketahui, bahwa pendidikan tinggi sebagai institusi dalam masarakat
bukanlah merupakan menara gading yang jauh dari kepentingan masyarakat,
melainkan senantiasa mengembangkan dan mengabdi kepada masarakat. Maka
menurut PP. No. 60 Th. 1999, bahwa Perguruan Tinggi mempunyai 3 tugas pokok,
yaitu:
1. Pendidikan tinggi
2. Penelitian
3. Pengabdian terhadap masyarakat
Jadi, di Perguruan Tinggi atau yang biasa disebut dengan kampus, tidak hanya
mengajar akan tetapi mendidik. Dimana dengan didikan tersebut mahasiswa akan lebih
didampingi baik secara intelektual dan emosional. Contoh umumnya adalah bagaimana
cara mahasiswa bergaul dalam sehari-hari mereka dengan berpedoman pada
pancasila.
2.4 Budaya Akademik
Budaya

merupakan

nilai

yang

dilahirkan

oleh

warga

masyarakat

yang

mendukungnya.Budaya akademik merupakan nilai yang dilahirkan oleh masyarakat


akademik yang bersangkutan.

Pancasila merupakan nilai luhur bangsa Indonesia.Masyarakat akademik di

manapun berada, hendaklah perkembangannya dijiwai oleh nilai budaya yang


berkembang di lingkungan akademik yang bersangkutan. Suatu nilai budaya yang
mendorong tumbuh dan berkembangnya sikap kerja sama, santun, mencintai kemajuan
ilmu dan teknologi, serta mendorong berkembangnya sikap mencintai seni.
Perguruan tinggi sebagai suatu institusi dalam masyarakat memiliki cirri khas
tersendiri disamping lapisan-lapisan masyarakat lainnya.Warga dari suatu perguruan
tinggi adalah insane-insan yang memiliki wawasan dan integritas ilmiah.Oleh karena itu
masyarakat akademik harus senantiasa mengembangkan budaya ilmiah yang
merupakan esensi pokok dari aktivitas perguruan tinggi.Terdapat sejumlah cirri
masyarakat ilmiah sebagai budaya akademik.Yaitu, 1.kritis 2. kreatif 3. objektif 4.
8

analitis 5. konstruktif 6. dinamis 7. dialogis 8. menerima kritik 9. menghargai prestasi


ilmiah/akademik 10. bebas dari prasangka 11. menghargai waktu 12. memiliki dan
menjunjung

tinggi

tradisi

ilmiah

13.

berorientasi

ke

masadepan

14.

kesejawatan/kemitraan (PPMB 1990 II-2). Masyarakat ilmiah inilah yang harus


dikembangkan dan merupakan budaya dari suatu masyarakat akademik.
2.5 Kampus Sebagai Moral Force Pengembangan Hukum Dan HAM
Kampus merupakan

wadah

kegiatan

pendidikan,

penelitian,

dan

pengabdian

masyarakat, sekaligus merupakan tempat persemaian dan perkembangan nilai-nilai


luhur.Kampus merupakan wadah perkembangan nilai-nilai moral, di mana seluruh
warganya diharapkan menjunjung tinggi sikap yang menjiwai moralitas yang tinggi dan
dijiwai oleh pancasila.
Kampus merupakan wadah membentuk sikap yang dapat memberikan kekuatan
moral yang mendukung lahir dan berkembangnya sikap mencintai kebenaran dan
keadilan dan menjunjung tinggi hak asasi manusia.
Masarakat kampus sebagai masyarakat ilmiah harus benar-benar mengamalkan
budaya akademik. Masarakat kampus wajib senantiasa bertanggung
jawab secara moral atas kebenaran obyektif, bertanggung jawab terhadap masarakat
bangsa dan negara, serta mengabdi pada kesejahteraan kemanusiaan. Oleh karena itu
sikap masarakat kampus tidak boleh tercemar oleh kepentingan-kepentingan politik
penguasa sehingga benar-benar luhur dan mulia.
A. Kampus Sebagai Sumber Pengembangan Hukum
Dalam rangka bangsa Indonesia melaksanakan reformasi dewasa ini suatu
agenda yang sangat mendesak untuk mewujudkan adalah reformasi dalam bidang
hukum dan peraturan perundang- undangan. Negara indonesia adalah negara yang
berdasarkan hukum, oleh karena itu dalam rangka melakukan penataan Negara untuk
mewujudkan masyarakat yang demokratis maka harus menegakkan supremasi hukum.
Agenda reformasi yang pokok untuk segera direalisasikan adalah untuk melakukan
reformasi dalam bidang hukum. Konsekuensinya dalam mewujudkan suatu tatanan
hukum yang demokratis, maka harus dilakukan pengembangan hukum positif.

Sesuai dengan tatib hukum Indonesia dalam rangka pengembangan hukum


harus sesuai dengan tatib hukum Indonesia. Berdasarkan tatib hukum Indonesia maka
dalam pengembangan hukum positif Indonesia, maka falsafah negara merupakan
sumber materi dan sumber nilai bagi pengembangan hukum. Hal ini berdasarkan Tap
No. XX/MPRS/1966, dan juga Tap No. III/MPR/2000. namun perlu disadari, bahwa yang
dimaksud dengan sumber hukum dasar nasional, adalah sumber materi dan nilai bagi
penyusunan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Dalam penyusunan hukum
positif di Indonesia nilai pancasila sebagai sumber materi, konsekuensinya hukum di
Indonesia harus bersumber pada nilai-nilai hukum Tuhan (sila I), nilai yamh terkandung
pada harkat, martabat dan kemanusiaan seperti jaminan hak dasar (hak asasi) manusia
(sila II), nilai nasionalisme Indonesia (sila III), nilai demokrasi yang bertumpu pada
rakyat sebagai asal mula kekuasaan negara (sila IV),

dan nilai keadilan dalam

kehidupan kenegaraan dan kemasyarakatan (sila V).


Selain itu, tidak kalah pentingnya dalam penyusunan dan pengembangan hukum
aspirasi dan realitas kehidupan masyarakat serta rakyat adalah merupakan sumber
materi dalam penyusunan dan pengembangan hukum.
B. Kampus Sebagai Kekuatan Moral Pembangunan Hak Asasi Manusia
Dalam penegakan hak asasi manusia tersebur, mahasiswa sebagai kekuatan
moral harus bersikap obyektif, dan benar-benar berdasarkan kepentingan moral demi
harkat dan martabat manusia, bukan karena kepentingan politik terutama kepentingan
kekuasaan politik dan konspirasi kekuatan internasional yang ingin menghancurkan
negara Indonesia. Perlu kita sadari bahwa dalam penegakan hak asasi tersebut,
pelanggaran hak asasi dapat dilakukan oleh seseorang, kelompok orang termasuk
aparat negara, penguasa negara baik disengaja ataupun tidak disengaja (UU. No. 39
Tahun 1999).
Dasawarsa ini, kita melihat dalam menegakkan hak asasi seringkali kurang adi.
Misalnya kasus pelanggaran di Timur-timur, banyak kekuatan yang mendesak untuk
mengusut dan mernyeret bangsa sendiri ke Mahkamah Internasional. Namun, ratusan
ribu rakyat kita. Seperti korban kerusuhan Sambas, Sampit, Poso dan lainnya tidak ada
kelompok yang mau memperjuangkannya. Padahal hak asasi mereka sudah diinjak-

10

injak, jelaslah kejadian serta menderitanya mereka sama. Akan tetapi tetap tidak ada
yang mau menolong.
Jadi, marilah kita sebagai mahasiswa pencetus terjadinya reformasi, mari kita
tujukan pada dunia bahwa kita mampu dalam merealisasikan semua cita-cita dan
tujuan dasar dari reformasi. Akan tetapi disamping itu, perlu kita sadari juga
bahwasanya kita merupakan mahasiswa sebagai tonggak dari penjunjung tinggi hak
asasi manusi masihlah belum maksimal kinerjanya untuk hal yang disebutkan diatas.
Maka, dari detik ini. Kita sebagai generasi bangsa haruslah benar-benar menanamkan
nilai-nilai pancasila dalam setiap prilaku kita. Dimanapun, dan pada siapapun.

11

BAB III
PENUTUP
3.1 KESIMPULAN
Pancasila sebagai paradigma pembangunan merupakan suatu sumber nilai,
kerangka piker, model, orientasi dasar, sumber asas serta arah dan tujuan
pembangunan.Yang meliputi pembangunan politik, IPTEK, pengembangan bidang
politik, poembangunan ekonomi, pembangunan social budaya, pengembangan
hankam, pembangunan pertahanan keamanan, dan sebagai reformsi, baik itu reformasi
hukum ataupun reformasi politik.Semuanya ditujukan untuk membuat menjadikan
bangsa yang semakin berkembang dan masyarakat yang semakin mapan.
Pancasila sebagai aktualisasi diri yang berarti betul-betul ada, terjadi atau
sesungguhnya.Sehingga terbentuklah aktualisasi objektif dan subjektif.Aktualisasi
Pancasila yang objektif adalah pelaksanaan Pancasila dalam bentuk realisasi dalam
setiap aspek penyelenggaraan negara, baik di bidang legislatif, eksekutif, yudikatif
maupun semua bidang kenegaraan lainnya.Aktualisasi Pancasila yang subyektifadalah
pelaksanaan dalam sikap pribadi, perorangan, setiap warga negara, setiap individu,
setiap penduduk, setiap penguasa, dan setiap orang Indonesia.
Aktualisasi diripun meliputi mencakup dalam tridarma perguruan tinggi, budaya
akademik dan lingkungan kampus sebagai moral force pengembangan hukum dan
HAM, yang mencerminkan bahwa aktualisasi diri itupun benar-benar ada dan terjadi
disekitar kita. Terrmasuk dalam lingkungan kampus.
3.2 SARAN
Sebelum kita terlampau melangkah jauh, menyisakan jejak yang tidak pantas
bagi seorang mahasiswa.Marilah kita kembali pahami arti dari keberadaan pancasila itu
sendiri. Serta kita harus sadar diri, bahwa kitalah yang akan memegang Negara kita ini.
Maka dari itu, mulai saat ini, biasakanlah berprilaku, bertindak bahkan menganbil
keputusan dengan jiwa pancasila kita. Karena dengan itulah, akan terwujud bangsa
yang makmur serta tujuan Negara akan mudah dicapai.

12

DAFTAR PUSTAKA
Wibisono Siswomihardjo Koento, 1985, Ilmu Filsafat dan Aktualisasinya dalam
pembangunan Nasional, Yogyakarta.
Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan Untuk Kelas 2 SMU.
http://www.scribd.com/doc/18184016/Pancasila-Sebagai-Sumber-Nilai-Dan-ParadigmaPembangunan
http://www.anakkendari.co.cc/2009/01/pancasila-sebagai-paradigma-pembangunan/

13