Anda di halaman 1dari 5

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang

Beberapa bulan terakhir ini kita dikejutkan oleh pemberitaan media cetak serta elektronik tentang kasuskasus kekerasan pada anak, dan beberapa di antaranya harus mengembuskan napasnya yang terakhir. Melihat
berita-berita kekerasan pada anak banyak menjadi headline di televisi dan koran agaknya mengiris hati kita,
sungguh ironis melihat hal ini terjadi di Indonesia. Menurut data pelanggaran hak anak yangdikumpulkan
Komisi Nasional Perlindungan Anak . Komisi Nasional Anak (Komnas Anak) mencatat 21.689.797 kasus
kekerasan telah menimpa anak-anak Indonesia dalam kurun empat tahun terakhir. Dari data
induk lembaga perlindungan anak pada bulan Januari hingga Oktober 2013, Komnas Anak
menerima 2.792 kasus pelanggaran hak anak, dari kasus itu 1424 kasus kekerasaan. Angka ini
meningkat 48 persen jika dibanding dengan pengaduan masyarakat yang diterima Komnas Anak tahun 2012
yakni 1.383 kasus pengaduan dalam kurun waktu yang sama. Sedangkan pada tahun 2014 mengalami
penurunan walaupun tidak signifikan sebesar 2.737 kasus kekerasan. Data statistik tersebut,
ditambah dengan data-data tentang jumlah kasus penculikan anak, kasus perdagangan anak, anak
yang terpapar asap rokok, anak yang menjadi korban peredaran narkoba, anak yang tidak dapat
mengakses sarana pendidikan, anak yang belum tersentuh layanan kesehatan dan anak yang
tidak punya akta kelahiran, memperjelas gambaran muram tentang pemenuhan hak-hak anak
Indonesia. Kenakalan anak adalah hal yang paling sering menjadi penyebab kemarahan orang tua, sehingga
anak menerima hukuman dan bila disertai emosi maka orangtua tidak segan untuk memukul atau
melakukan kekerasan fisik. Bila hal ini sering dialami olehanak maka akan menimbulkan luka
yang mendalam pada fisik dan batinnya. Sehingga akan menimbulkan kebencian pada orang tuanya dan
trauma pada anak. Akibat lain dari kekerasan anak akan merasa rendah harga dirinya karena
merasa pantas mendapat hukuman sehingga menurunkan prestasi anak disekolah atau hubungan sosial
dan pergaulan dengan teman - temannya menjadi terganggu, hal ini akan mempengaruhi rasa percaya diri
anak yang seharusnya terbangun sejak kecil. Apa yang dialaminya akan membuat anak meniru kekerasan
dan bertingkah laku agresif dengan cara memukul atau membentak bila timbul rasa kesal didalam
dirinya. Akibat lain anak akan selalu cemas,mengalami mimpi buruk, depresi atau masalah-masalah
disekolah.

BAB II
GAGASAN
2.1 Kondisi Kekinian

Berbagai peraturan perundang-undangan yang terkait dengan perlindungan anak telah


diterbitkan. Bahkan dalam Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan
Anak telah diatur dengan jelas tentang perlindungan anak sampai kepada aturan sanksi
pidana bagi yang melanggar hak anak. Dalam Undang-Undang tersebut juga dijelaskan
bahwa penyelenggaraan perlindungan anak adalah orang tua, keluarga, pemerintah dan
negara.
Merebaknya berbagai kasus perlindungan anak tentu saja memprihatinkan kita semua.
Keluarga sebagai institusi utama dalam perlindungan anak ternyata belum sepenuhnya
mampu menjalankan peranannya dengan baik. Kasus perceraian, disharmoni keluarga,
keluarga miskin, perilaku ayah atau ibu yang salah, pernikahan sirri, dan berbagai
permasalahan lainnya menjadi salah satu pemicu terabaikannya hak-hak anak dalam
keluarga.
Ironisnya lagi, dalam institusi sekolah juga kerap terjadi tindak kekerasan maupun
diskriminasi pendidikan pada anak. Tentu hal ini menjadi sesuatu yang bertentangan
dengan tujuan dari institusi pendidikan sebagai untuk memberikan bekal moral yang baik
bagi anak yang dididiknya. Demikian pula pada institusi sosial lainnya seperti
yayasan/panti, nampak masih belum sama dalam memaknai kepentingan terbaik bagi
anak. Bahkan pada penanganan anak yang berhadapan hukum, hak-hak anak masih perlu
terus mendapatkan perhatian.
Pada kenyataannya, berbagai persoalan pelanggaran hak anak kerap masih terjadi dan
dianggap biasa oleh masyarakat kita, bahkan kalau diperkirakan cenderung meningkat
seiring dengan meningkatnya masalah kritis seperti kemiskinan, ketidakadilan, kerawanan
bencana baik bencana alam maupun bencana sosial, akses pornografi dan pornoaksi,
disintegrasi bangsa, sindikat perdagangan narkoba dan sebagainya. Berita dari berbagai
media baik media cetak, online maupun elektronik terhadap amaraknya kasus tindakan
kekerasan pada anak maupun anak yang berhadapan hukum merupakan informasi yang
tidak dapat disangkal bahwa kasus-kasus tersebut sering menghiasi pemberitaan di media
massa. Belum lagi kasus yang tidak terungkap, karena luput dari pemberitaan media atau
memang sama sekali tidak ada yang mengetahui maupun melaporkan tentang pelanggaran
terhadap hak anak tersebut.

Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI), seperti yang diamanatkan UU No. 23


Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak, juga bertugas menerima pengaduan masyarakat
yang berkaitan dengan perlindungan anak. Melalui Bidang Data dan Pengaduan yang
dibentuk oleh KPAI, berbagai macam kasuskasus perlindungan anak terus mengalir
datang dan diadukan kepada KPAI.
Pada sisi lain, perlindungan terhadap anak yang terlibat tindak pidana pelanggaran
hukum sering diperlakukan seperti orang dewasa. Hal ini juga merupakan pelanggaran
terhadap hak anak. Tindak kekerasan terhadap anak semakin bervariasi ragam, bentuk,
dan tempatnya, mulai terjadi dari lingkungan rumah tangga, yayasan/panti asuhan,
sekolah, pondok pesantren, dan tempat umum lainnya (jalanan, terminal, stasiun), yang
tidak banyak diketahui kejadiannya, karena kurangnya kepedulian masyarakat terhadap
perlindungan anak.

BAB III
SIMPULAN dan SARAN
3.1 Gagasan yang diajukan

Untuk mengatasi permasalahan kekerasan yang terjadi pada anak-anak di Indonesia,


maka beberapa hal ini perlu dilaksanakan sebagai solusi untuk mencegah terjadinya hal
tersebut kembali:

1. Didikan dan Perilaku Keluarga


Mulailah mendidik anak di lingkungan keluarga tanpa kekerasaan (di bentak, di pukul,
dijewer saat bandel/nakal) berikan cinta dan kasih sayang. Sebaiknya orang tua juga bersikap
sabar terhadap anak. Ingatlah bahwa seorang anak tetaplah seorang anak yang masih perlu
banyak belajar tentang kehidupan dan karena kurangnya kesabaran orang tua banyak kasus
orang tua yang menjadi pelaku kekerasan terhadap anaknya sendiri. Tanamkan sejak dini
pendidikan agama pada anak. Agama mengajarkan moral pada anak agar berbuat baik, hal ini
dimaksudkan agar anak tersebut tidak menjadi pelaku kekerasn itu sendiri.
2. Pembekalan Ilmu Beladiri
Pembekalan ilmu bela diri pun dapat menjadi salah satu solusi, selain mengajarkan
kepada anak mengenai displin dan membentuk mental juga jasmani yang kuat, bela diri juga
dapat digunakan untuk membela diri sendiri dari ancaman-ancaman yang ada. Namun, tetap
harus diberikan pengarahan bahwa ilmu bela diri dipelajari bukan untuk melakukan
kekerasan.
3. Mengawasi Tontonan Anak
Hal lain yang perlu diperhatikan adalah apa yang ditonton oleh anak. Orang tua
menjaga agar anak-anak tidak menonton / meniru adegan kekerasan karena bisa
menimbulkan bahaya pada diri mereka. Beri penjelasan pada anak bahwa adegan tertentu
bisa membahayakan dirinya. Luangkanlah waktu menemani anak menonton agar para orang
tua tahu tontonan tersebut buruk atau tidak untuk anak.

Daftar Pustaka Bagian Hana


_____.2010.Maraknya

Kekerasan

Terhadap

Anak

Pencegahannya.http://kakarisah.wordpress.com/2010/03/09/10/.9

_____.2014.Pencegahan

Kekerasan

Terhadap

Dan

Solusi

Maret

2010

Anak.

http://www.wonogiriku.com/wonogiren/pencegahan-kekerasan-terhadap-anak/.12 Mei 2014