Anda di halaman 1dari 12

http://balittra.litbang.deptan.go.

id
Antisipasi Kebakaran Lahan Gambut di Perkebunan Kelapa Sawit *)
Muhammad Noor dan Acep Akbar

Pemerintah telah memperpanjang morotarium atau pengentian sementara pembukaan


hutan primer, hutan sekunder dan lahan gambut dengan terbitnya Inpres No 6/2013 sebagai
pengganti Inpres No 10/2011 yang kedaluwarsa dan habis masa berlakunya pada bulan Juni 2013
setelah 2 tahun. Terlepas dari pro dan kontra tentang perlunya moratorium di atas yang masih
diperdepatkan baik di kalangan akademis maupun para pengusaha perkebunan, terkesan bahwa
tata kelola lahan gambut, khususnya terkait dengan pengembangan perkebunan kelapa sawit di
lahan gambut dinilai belum terlaksana dengan baik. Perlu dketahui, luas perkebunan kelapa sawit
ditaksir sekitar 20% berada di lahan gambut.
Penolakan terhadap pemanfaatan lahan gambut untuk pengembangan pertanian sering
muncul baik dari dalam negeri maupun dunia internasional. Tekanan pemanfaatan lahan gambut
sering dihubungkan dengan kasus-kasus kegagalan seperti Eks PLG Sejuta Hektar Kalimantan
Tengah.

Kawasan PLG Sejuta Hektar menjadi sandungan

karena pembukaannya

memunculkan kebakaran besar yang kemudian diisukan menimbulkan emisi GRK setara dengan
negara Inggris. Kebakaran lahan gambut tahun 1997/1998 yang tercatat seluas 2,12 juta ha
ditaksir menimbulkan emist GRK setara 0,6-4,2 juta ton C atau 2-16 juta ton CO2 (Tacconi,
2003) sehinga Indonesia masuk sebagai emitor GRK ke tiga di dunia.
Dorongan kuat untuk pentingnya tata kelola lahan gambut yang bijak dan ramah
lingkungan terkait dengan komitmen Indonesia yang disampaikan Presiden Susilo Bambang
Yudiyono di Pittsburg, Amerika Serikat dan di Copenhagen pada Konferensi G-20 dan COP-15
pada diakhir tahun 2009 yang menyatakan akan menurunkan emisi GRK sebesar 26% secara
unilateral dan 41% jika ada dukungan bantuan negara maju, diantaranya 9,5-13,0% dari lahan
gambut.
Tulisan ini dimaksudkan sebagai sharing pengalaman dan pengetahuan dalam
memahami dan mengatasi kebakaran di lahan gambut, terutama pada perkebunan kelapa sawit.
Kebakaran lahan gambut merupakan salah satu isu kunci dalam tata kelola lahan gambut yang
ramah lingkungan.
1

http://balittra.litbang.deptan.go.id
Sekitar Kecaman dan Tudingan
Lahan gambut dinilai sebagai penyumbang emisi gas rumah kaca (GRK), seperti
karbondioksida (CO2), metan (CH4), dan dinitrooksida (N2O) yang berdampak pada perubahan
iklim dan pemanasan global. Emisi GRK secara nasional cenderung meningkat setiap tahun yang
sebenarnya juga akibat meningkatnya pemakaian bahan bakar fosil dari minyak bumi, gas alam
dan batu bara baik untuk kepentingan energi dan listrik, seperti transportasi, industri, pabrikpabrik maupun kepentingan rumah tangga. Menurut laporan, kegiatan non pertanian
(penggunaan energi dan listrik) di atas telah menyumbang 65% dari total emisi GRK jauh lebih
besar daripada kegiatan pertanian (budidaya pertanian/perkebunan, alih fungsi lahan/hutan, dan
limbah pertanian/rumah tangga) yang menyumbang sekitar 35% dari total emisi GRK.
Keikutsertaan Indonesia dalam berbagai kesepakatan internasional seperti Konvensi
Keanekaragaman Hayati (CBD), Kerangka Kerja PBB tentang Perubahan Iklim (UNFCCC) dan
Konvensi Ramsar tentang Konservasi Lahan Basah, yang telah dituangkan dalam undangundang sebagai bentuk ratifikasi merupakan partisipasi pemerintah dalam pergaulan dunia yang
memang telah diamanatkan oleh Undang-unang Dasar 1945, namun pada tempatnya pemerintah
juga perlu tetap memperhatikan kedaulatan negara dan kepentingan nasional dalam apresiasi
kesepakatan-kesepakatan tersebut, khususnya dalam hal pengaturan sumber daya alam kita,
termasuk lahan gambut.
Tudingan-tudingan masyarakat dunia, khususnya oleh Negara-negara Eropah dan Amerika
Serikat, tentang pemanfaatan lahan gambut yang selama ini dianggap merusak lingkungan,
merusak hutan, dan menguras sumber daya air, menurunkan keanekaragaman hayati,
meningkatkan kemiskinan masyarakat setempat, dan meningkatkan emisi gas rumah kaca atau
menimbulkan perubahan iklim,

pada dasarnya tidak semuanya benar bahkan terkesan

merupakan kampanye negatif untuk menyerang pesatnya perkembangan bisnis Indonesia,


khususnya kelapa sawit (Barani. 2009; Harahap dkk, 2008). Keadaan ini perlu disikapi secara
bijak dan adil karena dibelakang keputusan yang diambil terdapat jutaan rakyat.
Pengalaman dan belajar dari kebijakan masa lalu bagaimana tentang cengkeh, jeruk,
tebu/gula dan banyak yang lainnya (seperti kayu, batu bara, emas) yang telah meminta korban
banyak petani dan masyarakat kita perlu mendapatkan perhatian. Tambahan, terkait gambut dan
perubahan iklim bahwa menurut Sirin dan Laine (2008) dalam Marsyudi (2012) gambut dapat
memegang peran ganda baik sebagai sumber maupun penyimpan GRK. Namun perhatian
2

http://balittra.litbang.deptan.go.id
masyarakat luar (asing) lebih tertuju pada pelepasan karbon ketimbang penyipanannya dalam
bentuk tanaman. Lebih-lebih bahwa angka-angka seperti emisi GRK yang diekspose
menyerang lebih banyak estimasi-estimasi yang sangat mungkin terdistorsi untuk tujuan
politik dan bisnis.

Pemanfaatan dan Kerusakan Lahan Gambut


Pemanfaatan lahan gambut semakin pesat untuk pertanian dan perkebunan seiring dengan
prospek yang menjanjikan. Perlu dicatat rusaknya lahan gambut bukan semata-mata karena
pembukaan dan pemanfaatan untuk pertanian/perkebunan, juga adalah akibat pembalakan liar
maupun resmi, termasuk penjarahan oleh HPH, kebakaran baik sengaja maupun tidak sengaja,
dan pengatusan (drainase) akibat kesalahan perencanaan dan pelaksanaan di lapangan masa lalu.
Hanya perlu dicatat bahwa kerusakan lahan/hutan gambut kita hanyalah dampak dari
kebodohan kita yang kemudian dimanfaatkan oleh Negara-negara maju karena dibalik itu
bukankah mereka telah diuntungkan sebelumnya karena lebih dulu menikmati sebagai penerima
barang-barang (kayu, emas, batu bara) illegal yang diatur oleh oknum sehingga menghidupkan
industri dan bisnis mereka ? Lahan gambut yang dibuka tidak lebih dari 0,5 juta hektar untuk
pertanian tanaman pangan dan sekitar 1,5-2,0 juta hektar untuk perkebunan dengan ketebalan
gambut yang bervariasi dari 0,5-4,0 meter, hanya sebagian kecil yang masuk ke lahan gambut
tebal > 3 m. Kerusakan lahan gambut lebih banyak karena kejahilan sebagian dari masyarakat
yang terperangkap pada kemiskinan yang kemudian dimanfaatkan oleh cukong-cukong untuk
mengambil kayu-kayu dari hutan gambut yang sudah rusak untuk diekspor secara illegal ke
negara-negara maju.
Indonesia sekarang dihadapkan lebih berat lagi dengan penduduk lebih seperempat
milyar (237,5 juta jiwa) dengan laju pertambahan 350.000 per tahun, maka lahan gambut masa
mendatang masih menjadi pilihan untuk pengembangan pertanian/perkebunan, termasuk untuk
penghasil energi hayati (biofuel) masa depan karena ketersedian lahan yang terbatas untuk
dimanfaatkan. Lahan gambut kita maha luas antara sekitar 17 juta hektar, diantaranya 10-13 juta
hektar dapat dimanfaatkan untuk pertanian. Pemerintah daerah yang mempunyai lahan gambut
juga mendapatkan dorongan kuat dari masyarakatnya yang lahannya sudah puluhan tahun tanpa
menghasilkan sesuatupun, kecuali sebagai lahan bongkor yang terbakar setiap tahun. Bagi
pemerintah daerah, investasi yang ditawarkan oleh perusahaan-perusahaan perkebunan seperti
3

http://balittra.litbang.deptan.go.id
kelapa sawit merupakan peluang sebagai sumber pendapatan daerah sehingga menawan untuk
dijadikan wilayah sumber pertumbuhan ekonomi baru.
Pemerintah di bawah Direktorat Jenderal Perkebunan telah merencanakan pembukaan
lahan perkebunan seluas 450 ribu ha per tahun. Dengan semakin sempitnya lahan yang tersedia
akibat konversi lahan pertanian menjadi non pertanian, maka pemanfaatan lahan-lahan sub
optimal seperti lahan rawa dan lahan gambut menjadi pilihan ke depan.

Dalam konteks

pemanfaatan lahan dan kebakaran lahan, boleh jadi dengan adanya tanaman pada lahan-lahan
gambut yang sudah dibuka atau bongkor, maka kebakaran lahan yang sering terjadi baik
disengaja ataupun tidak disengaja akan berkurang. Petani yang lahannya ditanami dengan baik
apakah itu karet atau kepala sawit tentunya tidak membiarkan begitu saja lahannya untuk
terbakar.

Antisipasi atau Pencegahan Kebakaran lahan Gambut


Pencegahan kebakaran di lahan gambut atau hutan gambut merupakan salah satu bagian
tindakan dalam Pengelolaan Kebakaran Lahan atau Hutan. Tindakan lain dalam Pengelolan
Kebkaran Lahan Gambut adalah Kesiapsiagaan, Penanggulangan Kebakaran dan Rehabilitasi
pasca Kebakaran. Namun dalam hal ini pencegahan lebih penting sebagai tindakan pertama dan
jauh lebih baik daripada melakukan pemadaman apalagi rehabilitasi yang jauh lebih sulit dan
mahal. Tindakan pencegahan dalam Pengelolaan Kebakaran lahan atau Hutan ini mempunyai
tujuan antara lain: (1) mencegah kebakaran hutan dan lahan, (2) meminimalkan terjadinya
kebakaran hutan dan lahan, (3) memperkecil dampak kebakaran hutan dan lahan, dan (4)
memelihara dan menjaga sumberdaya hutan dari bahaya kebakaran hutan dan lahan.
Dalam pencegahan atau pengendalian kebakaran hutan dan lahan paling tidak diperlukan
3 (tiga) aspek utama yaitu : (1) operasional teknis, (2) kelembagaan, dan (3) partisipasi atau
pemberdayaan masyarakat. Operasional teknis mencakup perencanaan pencegahan kebakaran,
pemadaman dan penanganan pasca kebakaran hutan dengan prioritas utama pada pencegahan.
Kelembagaan mencakup masalah pembagian tugas dan tanggung jawab institusi serta sistem
pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Partisipasi dan pemberdayaan masyarakat mencakup
masalah peningkatan keterlibatan masyarakat terutama masyarakat setempat dalam pengendalian
kebakaran hutan dan lahan.
4

http://balittra.litbang.deptan.go.id

1. Operasional Teknis
Operasional teknis dalam hal ini adalah perencanaan pengendalian kebakaran hutan dan
lahan dengan fokus pada pencegahan terjadinya kebakaran. Pencegahan maksudnya adalah
kegiatan yang bersifat mencegah terjadinya kebakaran atau yang harus dilakukan saat belum
terjadi kebakaran. Berikut ini dikemukakan beberapa usaha pencegahan kebakaran lahan atau
hutan yang antara lain :
1. Pembuatan Peta Rawan Kebakaran.

Hal ini penting dilakukan sehingga luas areal

kebakaran dapat dicegah selaus mungkin dengan cara mendelinasi areal yang rawan
kebakaran baik dari segi bahan bakar maupun sosial kemasyarakatan.
2. Pembuatan Sekat Bakar. Secara teknis hal ini sangat mudah hanya saja efektif tidaknya
sangat tergantung pada peletakan lokasi. Oleh karena itu, dari peta rawan kebakaran
dapat disusun perencanaan pembuatan sekat bakar, baik sekat bakar jalur hijau maupun
sekat bakar jalur kuning dengan jumlah yang memamdai dan tempat-tempat yang
strategis.
3. Sistem Deteksi Kebakaran. Kegiatan ini untuk mengetahui lebih dini kemungkinan
terjadinya kebakaran hutan, sehingga dapat diambil langkah-langkah penanggulangan
yang tepat. Kegiatan yang dapat dilakukan antara lain :

Mendirikan menara pengawas kebakaran dengan jangkauan pandang cukup jauh,


dilengkapi dengan sarana deteksi (teropong, range finder) dan sarana komunikasi. Untuk
dapat memantau areal pengawasan dengan baik, tinggi menara pengawas 25-35 meter
dan ditempatkan pada lokasi strategis;

Patroli secara periodik dengan frekuensi lebih meningkat pada saat musim kemarau;

Membangun dan mendayagunakan pos-pos jaga pada jalan masuk, jalan pengawasan
areal tanaman dan di sekitar kawasan yang berbatasan dengan desa atau lahan usaha
pertanian. Ini dimaksudkan untuk menghindari dari kebakaran hutan akibat kecerobohan
manusia atau kesengajaan;

http://balittra.litbang.deptan.go.id

Memanfaatkan informasi hotspot (titik panas) dan cuaca untuk penilaian tingkat
kerawanan kebakaran,

Desain hutan tanaman/perkebunan yang memiliki risiko kecil terhadap kebakaran.


Dengan telah diperolehnya teknologi model pembangunan hutan tanaman/kebun berisiko
kecil kebakaran, maka pembangunan hutan tanaman dengan model tersebut akan
mempermudah kegiatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan;

Pengelolaan bahan bakar. Pengelolaan bahan bakar adalah kegiatan untuk memanipulasi
bahan bakar, sehingga jumlah bahan bakar tidak berada pada kondisi yang rawan
terbakar;

Penyediaan tenaga dan peralatan pemadam. Tenaga yang terampil dan ketersediaan
peralatan sangat menunjang perlindungan tanaman dari bahaya kebakaran. Tanpa adanya
tenaga terlatih beserta peralatan, api akan sulit dikendalikan;

Penyediaan sumber air. Sumber air merupakan faktor kunci dimusim kebakaran. Untuk
itu waduk serbaguna, bak air beton, sarana transportasi dan komunikasi perlu disediakan;

Memasang rambu-rambu peringatan bahaya kebakaran. Pemasangan rambu-rambu


bahaya kebakaran dilakukan di tempat-tempat umum dan mudah dilihat masyarakat
umum; dan

Menyusun data statistik. Ini bertujuan untuk mengetahui segala asset atau tanaman yang
perlu dilindungi serta sarana prasarana yang ada.

2. Kelembagaan
Dalam perusahaan diperlukan kelembagaan khusus yang mengelola kebakaran dalam
bentuk bagian atau gugus tersendiri. Pembagian adanya unit khusus pengelolaan kebakaran ini
dimaksudkan agar dapat memperjelas tugas tanggung jawab dan mempermudah pelaksanaan
pengendalian kebakaran sehingga pengendalian kebakaran dapat lebih efektif. Unit-unit
pengelola ini tidak berdiri sendiri melainkan dikoordinasikan dengan masyarakat atau
perusahaan yang berdampingan sehingga kegiatan pengendalian kebakaran yang dilakukan dapat

http://balittra.litbang.deptan.go.id
bersifat terpadu. Masing-masing unit pengelola tersebut harus memiliki Brigade Pengendalian
Kebakaran yang bersifat operasional dan memiliki kemampuan yang memadai.
Selanjutnya di tingkat masyarakat yang berdekatan perlu dibentuk Regu Pengendali
Kebakaran Kampung/Desa (regu pengendali kebakaran hutan dan lahan yang berbasis
masyarakat) terutama pada daerah rawan kebakaran. Lembaga ini akan berperan sebagai ujung
tombak dan menjadi partner utama pengendalian kebakaran hutan dan lahan yang memiliki
jaringan kerja dengan pusat pengendalian kebakaran pada level kecamatan maupun kabupaten
serta unit-unit pengelola tersebut di atas. Dengan sistem ini memungkinkan terjadinya
keterpaduan antara perusahaan swasta dan masyarakat dalam pengendalian kebakaran hutan dan
lahan.
Posko kampung/desa yang berkedudukan di sekitar daerah rawan kebakaran perlu
supporting dari perusahaan sehingga akan mempermudah pelaksanaan monitoring/pengawasan
areal, sehingga kebakaran yang terjadi dapat diantisipasi sejak dini. Untuk itu dalam posko
kampung harus disediakan peralatan pemadaman kebakaran yang mencukupi dan peralatan
komunikasi untuk mempermudah hubungan dengan jaringan di atasnya. Disamping itu, personel
posko kampung harus dibekali dengan teknik pemadaman kebakaran yang memadai yang dapat
diberikan dengan jalan pendidikan dan pelatihan.

3. Partisipasi dan Pemberdayaan Masyarakat


Konferensi tentang bahaya kebakaran hutan dan kerusakan lahan tingkat ASEAN tahun
2002 menyatakan bahwa masyarakat sekitar hutan merupakan faktor penentu keberhasilan upaya
pengendalian kebakaran hutan (Anonimous, 2002). Hal tersebut juga terbukti di Indonesia bahwa
salah satu ketidakberhasilan upaya pengendalian kebakaran antara lain adalah kurangnya
partisipasi masyarakat. Dengan melihat kenyataan tersebut maka peran serta/keterlibatan
masyarakat setempat harus ditingkatkan untuk lebih menjamin keberhasilan upaya pengendalian
kebakaran hutan dan lahan serta lebih jauh lagi untuk kelestarian sumberdaya hutan dan kebun.
Keterlibatan atau partisipasi masyarakat secara aktif bertujuan agar masyarakat merasa
memiliki sumberdaya baik hutan maupun kebun sehingga kepedulian masyarakat akan
keberadaan sumberdaya tersebut meningkat. Kesadaran masyarakat akan manfaat sumberdaya
7

http://balittra.litbang.deptan.go.id
hutan dan kebun akan semakin tinggi. Contoh kasus mengenai tradisi masyarakat Dayak Desa
Loksado di Hulu Sungai Selatan. Kelompok masyarakat ini memiliki tradisi melakukan
pembakaran untuk penyiapan ladang pertanian. Namun karena masyarakat ini merasa memiliki
dan sangat bergantung pada lahan tersebut maka meskipun melakukan pembakaran tidak pernah
terjadi kebakaran yang tidak terkendali. Dengan demikian keterlibatan masyarakat secara aktif
diarahkan agar : (1) masyarakat merasa memiliki areal tersebut sehingga muncul kepedulian, (2)
secara bertahap menimbulkan ketergantungan/kesadaran masyarakat akan pentingnya areal
tersebut bagi kehidupannya.
Dengan tercapainya dua hal tersebut di atas maka secara tidak langsung masyarakat telah
berperan dalam pengendalian kebakaran hutan dan lahan. Keterlibatan masyarakat secara aktif
dalam pengendalian kebakaran hutan dapat dilakukan pada :
a. Kegiatan Pencegahan Kebakaran
Dalam hal ini masyarakat terlibat dalam kegiatan patroli dan pengawasan areal terhadap
bahaya kebakaran yang merupakan salah satu sistem deteksi dini. Patroli dan pengawasan
yang dilakukan oleh masyarakat setempat akan jauh lebih efektif karena masyarakat tinggal
di lokasi yang relatif dekat dengan hutan atau kebun. Namun demikian pembinaan dari
instansi terkait harus selalu dilakukan sehingga terdapat rasa kebersamaan dengan
masyarakat setempat.
b. Kegiatan Pemadaman Kebakaran
Pembentukan posko pengendalian kebakaran tingkat kampong/desa (posko kampung) yang
beranggotakan masyarakat setempat akan sangat efektif dalam melakukan kegiatan
pemadaman jika terjadi kebakaran hutan dan lahan. Hal ini dikarenakan posko ini terletak
paling dekat dengan lokasi kebakaran sehingga dapat bergerak secara cepat untuk
memadamkan api secara dini ketika masih kecil dan menghambat terjadinya kebakaran
besar. Posko kampung adalah posko terdepan dalam sistem pengendalian kebakaran hutan
dan lahan. Jika kebakaran tidak dapat diatasi di tingkat desa maka regu pengendali
kebakaran desa dapat melaporkan dan meminta bantuan pada pusat pengendalian kebakaran
di Kecamatan, kabupaten bahkan provinsi. Posko kampung harus dilengkapi dengan
peralatan pemadam kebakaran sederhana dan juga alat komunikasi.
8

http://balittra.litbang.deptan.go.id
c. Penyuluhan
Upaya ini bertujuan untuk menimbulkan kesadaran masyarakat terhadap bahaya kebakaran
maupun tentang rehabilitasi hutan. Kementerian Kehutanan telah membuat Surat Keputusan
Menteri Kehutanan nomor 260/Kpts-II/1995 yang menekankan perlunya usaha pencegahan
dan penanggulangan kebakaran secara preventif dengan cara mendidik dan melatih semua
masyarakat yang berperan dalam pengendalian kebakaran. Hal-hal yang perlu diperhatikan
dalam kegiatan penyuluhan terhadap masyarakat setempat adalah metode penyuluhan, bahan
informasi/materi yang disampaikan harus sesuai dengan permasalahan setempat dan
disampaikan dengan bahasa yang mudah dimengerti, pemilihan sarana penyampaian serta
perlunya bantuan tokoh-tokoh masyarakat baik tokoh formal maupun informal. Penyuluhan
juga dapat digunakan sebagai sarana sosialisasi peraturan dan perundangan kebakaran hutan
dan lahan kepada masyarakat.
d. Pelatihan
Kegiatan lain yang perlu juga dilakukan adalah memberikan pelatihan kepada masyarakat
sekitar areal rawan kebakaran, antara lain :

Pelatihan teknik pemadaman api, pelatihan ini bertujuan agar masyarakat dapat
melakukan praktek pemadaman dengan menggunakan teknik yang benar sehingga
aktivitas pemadaman menjadi lebih efektif. Peralatan yang digunakan adalah peralatan
pemadam sederhana seperti kepyok dan pompa punggung.

Pelatihan mengenai teknik pembakaran terkendali, pelatihan ini bertujuan jika


masyarakat

sekitar

memiliki

kebiasaan

melakukan

pembakaran

lahan

dapat

melakukannya secara terkendali sehingga tidak terjadi kebakaran yang tidak terkendali.

Kendala Implementasi
Kebijakan pemerintah tentang lahan gambut, seperti Peraturan Menteri Pertanian No
14/2009, 16 Pebruari 2009 tentang Pedoman Pemanfaatan Lahan Gambut untuk Budidaya
Kelapa Sawit, peraturan lainnya tentang Pembukaan atau Penyiapan Lahan Tanpa Bakar
(PLTB), pembentukan Tim Pengendalian Kebakaran Lahan Gambut, Kelompok Kerja (Pokja)
Pengelolaan Lahan Gambut dan Konsorsium Pengelolaan Lahan Gambut menunjukkan bahwa
9

http://balittra.litbang.deptan.go.id
pengelolaan lahan gambut secara berkelanjutan cukup banyak diapresiasi dalam kebijakan
pengelolaan lahan gambut selama ini, termasuk pencegahan kebakaran yang tertuang dalam
Undang-undang tentang Perkebunan (UU No 18/2004) dan Peraturan Pengendalian terhadap
Kerusakan Lingkungan dan Polusi (PP No 4/2001).

Hanya saja belum diimplementasikan

sepenuhnya, termasuk oleh perusahaan.


Pemahaman tentang perilaku lahan gambut dan perubahan-perubahan pasca reklamasi
serta pemanfaatan kearifan lokal sebagai sumber informasi empirik sangat penting dalam
penyusunan strategi dan langkah pengelolaan lahan gambut yang berkelanjutan. Dengan
demikian, ke depan pemanfaatan dan pengembangan lahan gambut seyogyanya dapat lebih baik
sesuai kaidah-kaidah pengelolaan lahan gambut berkelanjutan artinya gambut tidak saja
dipandang secara ekonomi, tetapi juga secara ekologi dan sosial budaya masyarakat setempat.

---------------------------------------------------------------Dr. Ir. Muhammad Noor, MS dan Dr. Ir. Acep Akbar, MS. masing-masing adalah Peneliti pada
Balai Penelitian Pertanian Lahan Rawa (BALITTRA) dan Balai Penelitian Kehutanan (BPK)
Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
*) Terbit dalam Majalah Sawit IndonesiaVol II, Edisi 21, 15 Juli-15 Agutus 2013 (Bagian I
) dan Edisi 22 Agustus-September 2013 (Bagian II)

Terlampir foto-foto

10

http://balittra.litbang.deptan.go.id

Keterangan : Kebakaran besar di lahan gambut tahun 1997 (kiri atas); Kebakaran persawahan
lahan gambut, Kalimantan Selatan 1992 (kanan atas); Kebakaran hutan di lahan gambut PLG,
1997/1998 (kiri bawah). Kebakaran tidak hanya merugikan secara ekonomi, tetapi juga ekologis
.

11

http://balittra.litbang.deptan.go.id

Keterangan : Kelapa sawit di lahan gambut Riau (kiri atas); Kelapa sawit di lahan gambut,
Kalimantan Barat (kanan atas); Model Pintu air dari kayu (kiri bawah); Model pintu air dari
benton dan pintu ulir besi (kanan bawah) Menjaga permukaan air dan mengkonservasi asir di
saluran dapat mencegah atau membatasi kebakaran lahan gambut.

12