Anda di halaman 1dari 11

LARUTAN HIDROTERMAL

2.1

Pendahuluan
Larutan hidrotermal adalah cairan panas (50 >5000 C), mengandung Na,

K, Ca, Cl sebagai komponen utama dan Mg, B, S, Sr, CO 2, H2S, NH4, Cu, Pb, Zn,
Sn, Mo, Ag, Au sebagai komponen tambahan (Skinner 1979). Tekanan yang
dibutuhkan untuk menyebabkan kondensasi pada suhu kritis yang diberikan
disebut tekanan kritis. Ada beberapa kondisi di alam bahwa larutan hidrotermal
sebenarnya berada dalam bentuk cairan.

2.2

Air Larutan Hidrotermal


Berdasarkan sumbernya terbagi menjadi: air meteorik, air laut, air connate,

metamorfik, air juvenile atau magmatik. Kebanyakan larutan hidrotermal


merupakan campuran dari sumber-sumber di atas.
Air meteorik terdiri dari air hujan, air danau, air sungai dan air bawah
tanah, Air ini dapat berpenetrasi ke dalam lapisan kerak bumi, dapat terpanasi dan
termineralisasi sehingga diperoleh larutan hidrotermal. Kerak Samudra di dalam
dan sekitar mid-ocean ridge menyebabkan penetrasi air laut beberapa kilometer di
bawah dasar laut.
Air yang terperangkap selama proses deposit sedimen dan dihasilkan
selama reaksi diagenetik disebut sebagai air connate, atau air formasi. Sekitar
20% volume sedimen takmetamorfis dalam lapisan kulit bumi terdiri dari pori-

pori air. Cairan hidrotermal dapat berkembang selama diagenesis, dan mencapai
salinitas dan suhu yang tinggi.
Air metamorfik terdiri dari dehidrasi mineral pengikat hidroksil (ikatan air)
melewati

tekanan dan temperatur yang meningkat (metamorfik dewatering).

Smirnov (1976) menggambarkan adanya zona hidrotermal di atas metamorfik,


selama metamorfisme regional prograde. Henkey dkk (1976) mengatakan bahwa
metamorfisme dapat merupakan sumber energi yang menunjukkan mineralisasi
lapisan hidrotermal. Adanya cairan yang banyak melepaskan uap selama
metamorfisme dapat dianggap sebagai brine encer yang mengandung H2O, CO2,
CH4.
Air juvenile diduga berasal dari mantel. Air magmatik itu menghasilkan
sistem hidrotermal magmatik yang merupakan agen pengendap bijih yang paling
kuat. Selain air, komponen volatil yang terdapat dalam magma itu adalah H 2S,
CO2, SO2, HCl, B, F, dan H2.

2.3

Sistem Isotop Hidrogen dan Oksigen Cairan Hidrotermal


Oksigen merupakan elemen yang melimpah dan dengan hidrogen

membentuk molekul air, perbandingan 18O/16O dan D/H, merupakan indikator kuat
untuk menunjukkan sumber cairan hidrotermal. Harga isotop merupakan deviasi
dari standar arbitrary, dimana hidrogen dan oksigen dihitung sebagai air oceanik
(SMOW, Standart Mean Ocean Water) dengan 18O=0 dan D=0. Deviasi ini
dirumuskan dengan:

= (Rsampel/Rstandar 1) x 1000
dimana R adalah perbandingan isotop. Harga negatif atau positif menunjukkan
deplesi atau sebaliknya.
Air laut, air meteorik, dan air juvenile dianggap sebagai air referensi,
dimana mereka mempunyai karakteristik isotopik yang tegas pada sumbernya.
Sedangkan air geotermal, air connate, air metamorfik, dan air magmatik
merupakan bentuk re-cycle dari air referensi (Ohmoto, 1986). Dalam
mempelajari sistem isotop oksigen dan hidrogen, sangatlah penting untuk
mengetahui tentang Meteoric Water Line (MWL). Variasi isotop air meteorik
bergantung pada garis lintang dan elevasi, dengan harga D dan 18O menjadi
lebih rendah terhadap garis lintang dan elevasi yang lebih tinggi. Hubungan antara
D dan 18O dapat ditulis sebagai berikut:
D = 8 18O + 10

Gambar 2.1. Komposisi isoptropik air alami ( magmatik primer, metamorfik, air
laut)

Studi mengenai karakteristik isotop air alami oleh Taylor (1979) dan
Sheppard (1986); Gb. 2.1 menunjukkan bahwa sekarang air laut mempunyai harga
D + 5 7 per mil dan 18O +5 1,0 per mil, dengan harga rata-rata 0 per mil
untuk D dan

18

O. Air laut memperlihatkan kenaikan 18O yang progresif sejak

zaman Archean (-8 sampai 12 per mil) dengan harga 18O antara 0 sampai 3 per
mil, dan D sampai 25 per mil. Sedangkan air juvenile belum pernah
diidentifikasi. Harga D dan 18O yang diukur pada kulit batuan berapi yang tetap
dan mineral menggunakan fraksionasi isotopik air pada suhu tinggi (>700oC)
memberikan harga D sekitar 50 sampai 90 per mil dan 18O + 5,5 sampai +10
per mil (Sheppard 1986). Air geotermal kaya akan 18O, dimana jumlah ini
meningkatkan suhu dan salinitas cairan, sehingga cairan memperoleh panas, dan
melarutkan padatan dengan interaksi batuan-batuan panas yang terkubur (Ohmoto
1986). Air connate dan air formasi menunjukkan harga D dan 18O dengan
kisaran yang luas, yaitu sekitar D = +20 sampai 150 per mil, dan 18O = +10
sampai 20 per mil. Komposisi isotopik air metamorfik tergantung pada tipe asli
batuan dan interaksinya dengan cairan. Air metamorfik mempunyai harga D dari
0 sampai 70 per mil, sedangkan harga 18O dari +3 sampai 25 per mil. Air
magmatik mempunyai harga D dan 18O yang bergantung pada pertukaran
isotopik yang mungkin terjadi dengan dinding batuan selama waktu pendinginan
lelehan. Harga D sekitar 30 sampai 75 per mil dan 18O sekitar +7 sampai +13
per mil (Ohmoto 1986).

2.4

Inklusi Cairan
Inklusi cairan adalah tetesan cairan yang terperangkap dalam kristal pada

pertumbuhannya, atau terdapat dalam retakan-retakan kecil dan patahan setelah


kristalisasi mineral induk. Inklusi cairan menunjukkan adanya cairan hidrotermal,
dan bervariasi dalam ukuran dari satu molekul air sampai beberapa milimeter,
dengan rata-rata sekitar 0,01 mm (Roedder 1979).
Inklusi cairan berguna dalam studi deposit bijih, menyediakan informasi
tentang suhu, tekanan, densitas, dan komposisi cairan asal mula mineralisasi.
Terdapat tiga tipe inklusi cairan: primer, sekunder, dan pseudo-sekunder (Gb. 2.2).
Inklusi primer adalah yaNg terperangkap selama pertumbuhan mineral induk,
sehingga diasosiasikan dengan tampilan kristalisasi, seperti zona pertumbuhan;
atau yang terjadi karena ketidaksempurnaan kristal selama pertumbuhan (Gb. 2.2).
inklusi sekunder adalah yang terbentuk setelah pertumbuhan induk mineral
selesai. Mereka memotong zona pertumbuhan, bahkan batas kristal dan
menunjukkan pengisian retakan-retakan kecil oleh cairan yang tidak berhubungan
dengan dengan pembentukan bijih. Inklusi pseudo-sekunder terbentuk antara dua
fasa di atas, dan dicirikan dengan adanya kesejajaran dengan retakan-retakan kecil
yang Berakhir pada zona pertumbuhan (Gb. 2.2).

Gambar 2.2. Tipe inklusi cairan dan distribusinya dalam kristal kuarsa. P primer, S
sekunder, dan PS pseudo-sekunder.

Klasifikasi menurut Shepherd dkk. (1985) (Gb. 2.3):


1.

Inklusi monofasa: seluruhnya terisi dengan cairan (L)

2.

Inklusi dua fasa: terisi dengan suatu fasa cair dan sejumlah kecil
gelembung uap (L+V)

3.

Inklusi dua fasa: fasa uap lebih mendominasi dan menempati 50%
volume (V+L)

4.

Inklusi uap monofasa (V): seluruhnya terisi dengan fasa uap berberat
jenis rendah (biasanya campuran H20, CH4, CO2)

5.

Inklusi multifasa mengandung padatan (S+L+/-V): mengandung fasa


kristal padat yang disebut sebagai anak mineral. Biasanya halite
(NaCl) dan sylvite (KCl), tetapi mineral lainnya juga banyak, termasuk
sulfida.

6.

Inklusi cairan tak larut: mengandung dua cairan, biasanya yag satu
kaya H2O dan yang lain kaya CO2 (L1+L2=/-V)

Gambar 2.3. Klasifikasi inklusi cairan yang diamati pada suhu kamar.

Adanya tipe II (L+V) dan tipe III (V+L) menunjukkan bahwa cairan
mendidih pada waktu terperangkap. Pada sistem satu komponen, gelembung gas
adalah fasa uap dari induk cairan, sedangkan pada sistem heterogen, fasa gas
keluar dengan efervesent.
Cairan inklusi biasanya larutan encer dengan ion-ion terlarut seperti Na+,
Cl-, Ca2+, Mg2+, SO42-, HCO32-, CO32-. Konsentrasi garam dalam larutan adalah 150% berat. Gambar 2.4 menunjukkan salinitas dan homogenitas suhu dari deposit
mineral hidrotermal (Large, dkk 1988).

Gambar 2.4. Kurva gradien rata-rata dan daerah salinitas-suhu pada beberapa
deposit mineral hidrotermal. 1 Archean Iode; 2 Epitermal Au-Ag; 3 Deposit
sulfida; 4 Sungai Tennant Au-Cu, Australia; 5 deposit porphyry Au-Cu.

2.5

Komponen Terlarut dan Partisi Logam dalam Larutan Hidrotermal


Beberapa komposisi diberikan pada Tabel 2.1 - 2.3. Dari tabel-tabel

tersebut dapat dilihat bahwa: (1) Na, K, Cl, dan Ca merupakan komponen utama
larutan; sedangkan komponen tambahannya Sr, Fe, Zn, Mg, Fe, Mn, CO 2, SO2,
H2S, dan NH3; (2) dengan beberapa pengecualian, konsentrasi logam pembentuk
bijih dalam air biasanya rendah. Dari tabel terlihat bahwa konsentrasi logam
dalam cairan hidrotermal tidak perlu tinggi dalam membentuk deposit bijih.

Tabel 2.1 Komposisi larutan hidrotermal lama dan baru dalam ppm.
Tabel 2.2 Analisis air geotermal dalam ppm
Tabel 2.3 Analisis partisi oil field brine dalam ppm

Cairan hidrotermal memperoleh komponen terlarutnya dengan salah satu


atau dua proses dasar berikut: (1) komponen dilepaskan ke cairan dengan magma
kristal, dan (2) komponen berasal dari batuan melewati sirkulasi larutan encer
yang panas.

2.5.1

Partisi Elemen Logam ke dalam Larutan Hidrotermal


Reaksi pertukaran antara cairan hidrotermal dan mineral pembentuk

batuan menghasilkan partisi elemen logam ke dalam pembentuknya. Eksperimen


menunjukkan bahwa elemen-elemen seperti Fe, Zn, Cd, Cu, dan Mn terpartisi
kuat ke dalam cairan hidrotermal yang kaya klorida. Elemen-elemen ini melumer
dari mineral pembentuk batuan dan masuk ke fasa cairan. Litosom yang
mengandung biotit, klorit, hornblende, dan feldspars akan juga mengandung
elemen logam yang substansial.

2.6

Perpindahan Logam
Pembentukan ion kompleks dapat menerangkan adanya perpindahan

elemen dalam larutan hidrotermal. Ion kompleks dibentuk antara logam dan ligan
dalam larutan dan merupakan agen pemindah logam.

2.6.1

Ion Kompleks dan Ligan


Ion kompleks adalah ion dimana ion logam bergabung dengan ikatan

kovalen koordinat dengan molekul netral dan atau ion negatif (maseton, dkk
1981).
Logam yang mempunyai kecenderungan untuk membentuk ion kompleks
adalah logam transisi (Ni, Cu, Zn, Pt, Au, Co, Cr, Mo, W), sedangkan logam nontransisi (Al, Sn, Pb) membentuk ion kompleks yang lebih terbatas. Ion pusat
dalam kompleks adalah logam kation, dan molekul netral atau anion yang terikat
pada kation disebut ligan. Jumlah ikatan yang dibentuk ion pusat disebut jumlah
koordinat.
Jika suatu ligan mempunyai lebih dari satu ikatan, maka disebut agen
khelat. Biasanya ligan mengandung atom dengan elemen elektronegatif (C, N, O,
S, F, Cl, Br, I). Ligan yang sering dijumpai adalah NH 3, H2O, Cl-, OH-, HS-.
Jumlah koordinat biasanya adalah 6, 4, dan 2. Jumlah koordinat juga menentukan
geometri dari ion kompleks.
Kompleks logam dengan jumlah koordinat empat, membentuk struktur
tetrahedral atau bujur sangkar (Gb. 2.5A, B), sedangkan jika jumlah koordinatnya
enam, membentuk struktur oktahedral (Gb. 2.5C).

Gambar 2.5A-C. Struktur molekul sederhana ion kompleks

Interaksi ligan-logam sama halnya seperti reaksi asam basa, dimana logam
sebagai akseptor elektron dan ligan sebagai donor eleKtron. Logam dan ligan
dapat dikelompokkan menjadi dua kelas utama: kelas A (keras), dan kelas B
(lunak). Kelas A dicirikan dengan mudah dicharge, kecil dan tidak terpolarisasi,
sedangkan kelas B dicirikan dengan besar, tidak mudah dicharge, dan mudah
terpolarisasi.. Tabel 2.4 menunjukkan logam dan ligan penting dalam proses
hidrotermal.

Tabel 2.4 Klasifikasi logam dan ligan menurut Brimhall dan Crerar (1987)

Gambar 2.6 Plot energi stabilisasi daerah ligan LFSE terhadap potensial ion,
menunjukkan perbedaan daerah A dengan ion logam yang umum membentuk
deposit hidrotermal, dan daerah B dengan ion logam yang jarang membentuk
deposit hidrotermal.

Elektronegativitas, potensial ion, dan energi stabilitas ligan (LFSE: Ligan


Field Stability Energy; energi yang mempengaruhi stabilitas dan sifat ion logam
transisi dalam larutan hidrotermal) dianggap sebagai parameter penting untuk
menentukan sifat logam transisi dalam larutan hidrotermal. Suatu plot potensial
ion dari logam-logam tertentu terhadap LFSE (Gb. 2.6) memperlihatkan adanya
dua hal berbeda. Salah satunya terdapat ion dengan elemen yang umum
membentuk deposit hidrotermal (potensial ion dan LFSE rendah), sedang yang

lainnya ion dengan elemen yang jarang ditemukan dalam deposit hidrotermal.
Brimhall dan Crerar (1987) menemukan bahwa dari 30 logam transisi, hanya Mn,
Fe, Cu, Zn, Mo, Au, Ag, W, Hg, dan Co yang umum membentuk deposit
hidrotermal,

walaupun

susunan elemen

ini tidak

berhubungan

dengan

kelimpahannya.

2.6.2

Ion Kompleks dalam Larutan Hidrotermal


Dua kompleks yang penting dalam perpindahan bijih logam dalam larutan

hidrotermal adalah sulfida (HS- dan H2S) dan klorida (Cl-). Keduanya mampu
memindahkan sejumlah besar logam. Ligan lain yang kurang umum tetapi cukup
penting adalah OH-, NH3, F-, CN-, SCN-, SO2-, dan kompleks organik (asam
humiat).
Kapasitas pengangkut bijih dari cairan lebih ditentukan oleh aktivitas
ligan, daripada oleh kelimpahan logam dimana ligan terikat. Aktivitas ini
merupakan suatu fungsi konsentrasi suhu, kuat ion, pH, dan Eh.