Anda di halaman 1dari 11

PROTEIN

OLEH :
Ni Putu Rina Widyasih

P07134014003

Luh Putu Devi Kartika

P07134014006

I Wayan Adi Setiawan

P07134014013

Ni Made siandari

P07134014015

Ni Komang Nesa Wiartini

P07134014021

IGA Arista Wedanthi

P07134014022

KEMENTERIAN KESEHATAN
POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR
JURUSAN ANALIS KESEHATAN
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
SEMESTER II
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Biokimia adalah studi tentang susunan kimia sel, sifat senyawa serta reaksi kimia
yang terjadi dalam sel, senyawa-senyawa yang menunjang aktivitas organisme hidup
serta energi yang diperlukan atau dihasilkan.
Salah satu sub materi yang dipelajari dalam biokimia adalah tentang seluk beluk
protein. Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen,
oksigen, nitrogen dan kadang kala sulfur serta fosfor.
Protein sendiri mempunyai banyak sekali fungsi di tubuh kita. Pada dasarnya
protein menunjang keberadaan setiap sel tubuh, proses kekebalan tubuh. Setiap orang
dewasa harus sedikitnya mengonsumsi 1 g protein per kg berat tubuhnya. Kebutuhan
akan protein bertambah pada perempuan yang mengandung dan atlet-atlet.
Kekurangan Protein bisa berakibat fatal seperti Kerontokan rambut, yang paling
buruk ada yang disebut dengan Kwasiorkor, penyakit kekurangan protein. Biasanya
pada anak-anak kecil yang menderitanya, dapat dilihat dari yang namanya busung
lapar, yang disebabkan oleh filtrasi air di dalam pembuluh darah sehingga
menimbulkan odem.
Protein merupakan bagian dari semua sel hidup dan merupakan bagian terbesar
tubuh sesudah air. Seperlima bagian tubuh adalah protein, separuhnya ada di dalam
otot, seperlima ada di dalam tulang dan tulang rawan, sepersepuluh di dalam kulit,
dan selebihnya ada di jaringan lain dan cairan tubuh. Semua enzim, berbagai hormon,
pengangkut zat-zat gizi dan darah, matriks intrseluler dan sebagainya adalah protein.
Disamping itu asam amino yang membentuk protein bertindak sebagai prekursor
sebagian besar koenzim, hormon, asam nuklet, dan molekul-molekul yang esensial
untuk kehidupan. Protein mempunyai fungsi khas yang tidak dapat digantikan oleh zat
gizi lain, yaitu membangun serta memelihara sel-sel dan jaringan tubuh.
Tujuan

1. Mengetahui definisi protein


2. Mengetahui struktur protein
3. Mengetahui klasifikasi protein
4. Mengetahui sifat kimia asam amino

BAB II
PEMBAHASAN

1. Definisi Protein
Protein berasal dari bahasa Yunani protos yang berarti "yang paling utama". Kata
ini diperkenalkan oleh seorang ahli kimia belanda Gerardus Mulder (1802-1880),
karena ia berpendapat bahwa protein merupakan zat yang paling penting dalam setiap
organisme. Sedangkan penemu protein sendiri adalah Jons Jakob Berzelius pada tahun
1838. Dan hingga saat ini protein merupakan molekul yang paling sering diteliti. Asal
protein sendiri berasal dari makanan yang di konsumsi setiap hari.
Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang
merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan satu
sama lain dengan ikatan peptida. Protein mempunyai berat molekul antara limaribu
hingga beberapa juta. Molekul protein mengandung karbon, hidrogen, oksigen,
nitrogen dan kadang kala mengandung sulfur, fosfor, besi, iodium, dan kobalt .
Protein berperan penting dalam struktur dan fungsi semua sel makhluk hidup dan
virus.
Fungsi protein :
a. Pertumbuhan dan pemeliharaan
Protein tubuh berada dalam keadaan dinamis, yang secara bergantian dipecah
dan disintesis kembali untuk membangun kembali jaringan yang sama atau
jaringan lainnya.
b. Pembentuk ikatan-ikatan esensial tubuh
Bertindak sebagai katalisator yang membantu perubahan biokimia di dalam
tubuh.
c. Mengatur keseimbangan air
d. Memelihara netralis tubuh
Menjaga pH tubuh agar tetap netral atau sedikit alkali (pH 7,35 - 7,45)
e. Pembentukan antibody
f. Mengangkut zat-zat gizi
g. Sumber energi
2. Struktur protein

Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu struktur primer,
sekunder, tersier, dan kuarterner.

Struktur primer adalah struktur linear dari rantai protein.


Dalam struktur ini tidak terjadi antaraksi, baik dengan rantai
protein yang lain maupun di antara asam amino dalam rantai
protein itu sendiri. Struktur primer merupakan struktur yang
sederhana dengan urutan-urutan asam amino yang tersusun
secara linear yang mirip seperti tatanan huruf dalam sebuah
kata dan tidak terjadi percabangan rantai. Struktur primer
terbentuk melalui ikatan antara gugus amino dengan gugus karboksil. Ikatan
tersebut dinamakan ikatan peptida atau ikatan amida. Struktur ini dapat menentukan
urutan suatu asam amino dari suatu polipeptida (Voet & Judith, 2009)

Struktur sekunder adalah struktur dua dimensi dari protein. Pada struktur ini
terjadi lipatan (folding) beraturan, seperti heliks dan sheet, akibat adanya ikatan
hidrogen di antara gugus-gugus polar dari asam amino dalam rantai protein. Struktur
sekunder merupakan kombinasi antara struktur primer yang linear distabilkan oleh
ikatan hidrogen antara gugus =CO dan =NH di sepanjang tulang belakang
polipeptida. Salah satu contoh struktur sekunder adalah -heliks dan -pleated.
Struktur ini memiliki segmen-segmen dalam polipeptida yang terlilit atau terlipat
secara berulang. (Campbell et al., 2009; Conn, 2008)
Struktur -heliks terbentuk antara masing-masing atom
oksigen karbonil pada suatu ikatan peptida dengan
hidrogen yang melekat ke gugus amida pada suatu ikatan
peptida empat residu asam amino di sepanjang rantai
polipeptida (Murray et al, 2009).

Pada
struktur

sekunder

pleated

terbentuk melalui ikatan hidrogen antara daerah linear rantai polipeptida. -pleated
ditemukan dua macam bentuk, yakni antipararel dan pararel. Keduanya berbeda
dalam hal pola ikatan hidrogennya. Pada bentuk konformasi antipararel memiliki
konformasi ikatan sebesar 7 , sementara konformasi pada bentuk pararel lebih
pendek yaitu 6,5 (Lehninger et al, 2004). Jika ikatan hidrogen ini dapat terbentuk
antara dua rantai polipeptida yang terpisah atau antara dua daerah pada sebuah rantai
tunggal yang melipat sendiri yang melibatkan empat struktur asam amino, maka
dikenal dengan istilah turn yang ditunjukkan dalam Gambar 9 (Murray et al, 2009)

Struktur

tersier

merupakan

struktur tiga dimensi sederhana


dari rantai protein. Dalam struktur
ini,

selain

terjadi

folding

membentuk struktur heliks dan


sheet, juga terjadi antaraksi van
der Waals dan antaraksi gugus
nonpolar yang mendorong terjadi
lipatan. Struktur tersier dari suatu
protein

adalah

lapisan

yang

tumpang tindih di atas pola struktur sekunder yang terdiri atas pemutarbalikan tak
beraturan dari ikatan antara rantai samping (gugus R) berbagai asam amino. Struktur
ini merupakan konformasi tiga dimensi yang mengacu pada hubungan spasial antar
struktur sekunder. Struktur ini distabilkan oleh empat macam ikatan, yakni ikatan
hidrogen, ikatan ionik, ikatan kovalen, dan ikatan hidrofobik. Dalam struktur ini,
ikatan hidrofobik sangat penting bagi protein. Asam amino yang memiliki sifat
hidrofobik akan berikatan di bagian dalam protein globuler yang tidak berikatan
dengan air, sementara asam amino yang bersifat hodrofilik secara umum akan berada
di sisi permukaan luar yang berikatan dengan air di sekelilingnya (Murray et al, 2009;
Lehninger et al, 2004)

Struktur

tertinggi

dari

protein

adalah struktur kuarterner. Dalam


struktur ini, protein membentuk
molekul kompleks, tidak terbatas
hanya pada satu rantai protein,
tetapi

beberapa

bergabung

rantai

protein

membentuk

seperti

bola. Struktur kuarterner adalah


gambaran dari pengaturan sub-unit
atau promoter protein dalam ruang.
Struktur ini memiliki dua atau
lebih dari sub-unit protein dengan struktur tersier yang akan membentuk protein
kompleks yang fungsional. ikatan yang berperan dalam struktur ini adalah ikatan
nonkovalen, yakni interaksi elektrostatis, hidrogen, dan hidrofobik. Protein dengan
struktur kuarterner sering disebut juga dengan protein multimerik. Jika protein yang
tersusun dari dua sub-unit disebut dengan protein dimerik dan jika tersusun dari empat
sub-unit disebut dengan protein tetramerik (Lodish et al., 2003; Murray et al, 2009)

3. Klasifikasi protein
a) Berdasarkan komposisi kimia
a. Protein sederhana: terdiri atas asam amino tanpa gugus kimia lain.
Contoh : enzim ribunoklease
b. Protein konjugasi: terdiri atas rantai polipeptida yang terikat pada gugus
kimia lain.

contoh : -

Lipoprotein, protein yang terkonjugasi lipid (lemak)

Glikoprotein, protein yang terkonjugasi karbohidrat

Fosfoprotein, protein yang terkonjugasi gugus fosfat

Ikatan Peptida

b) Berdasarkan bentuk
a. Protein serabut
Ciri: 1. serabut panjang
2. tidak larut dalam air
3. mempunyai fungsi struktural atau pelindung
contoh: kolagen: jenis protein yang terdapat pada jaringan ikat
keratin: jenis protein yang terdapat dalam bulu domba, sutera
alam,
rambut, kuku, kulit
aktin: (interaksi otot)
fibrin: pembekuan darah.
b. Protein globuler
Ciri: 1. protein yang sangat besar
2. larut dalam air dan mudah berdifusi
contoh: albumin: terdapat dalam serum darah dan putih telur
globulin: terdapat dalam serum darah, otot dan jaringan lain pada
tubuh
histon: terdapat pada jaringan kelenjar pankreas
protamin: terdapat dalam sel sperma ikan
enzim, antibodi, hemoglobin, kasein, dan lain-lain.

c) Berdasarkan fungsi biologi


a. Protein struktur
Fungsi: memberikan struktur biologi kekuatan atau perlindungan
Contoh: kolagen, keratin, fibroin
b. Protein nutrien dan penyimpan
Fungsi: cadangan makanan
Contoh: ovalbumin pada telur, kasein pada susu

c. Anti bodi
Fungsi: kekebalan tubuh
Contoh: imunoglobin, fibrinogen, dan trombin
d. Enzim
Fungsi: biokatalis
Contoh: fibrinogen, amilase
e. Protein pengatur
Fungsi: pengatur aktifitas seluler
Contoh: hormon
f. Protein transport
Fungsi: mengikat dan memindahkan molekul atau ion spesifik
Contoh: Hemoglobin
g. Protein kontraktil
Fungsi: memberikan kemampuan makhluk hidup untuk bergerak
Contoh: aktin, miosin.

d) Berdasarkan gabungan dengan senyawa lain


a. Muka protein: gabungan protein dengan gugus karbohidrat
b. Lipoprotein: gabungan protein dengan lemak
c. Nukleoprotein: gabungan protein dengan asam nukleat.

4. Sifat-sifat asam amino:

larut dalam air dan pelarut polar lain tetapi tidak larut dalam pelarut nonpolar
seperti dietil eter atau benzena.

momen dipol yang besar

kurang bersifat asam dibandingkan sebagian besar asam karboksilat

kurang basa dibandingkan sebagian besar amina


BAB III
PENUTUP

Simpulan

1. Protein adalah senyawa organik kompleks berbobot molekul tinggi yang


merupakan polimer dari monomer-monomer asam amino yang dihubungkan
satu sama lain dengan ikatan peptide
2. Struktur protein dapat dikelompokkan menjadi empat golongan, yaitu struktur
primer, sekunder, tersier, dan kuarterner.
3. Klasifikasi protein dibedakan berdasarkan komposisi kimia, berdasarkan
bentuk, berdasarkan fungsi biologi, berdasarkan gabungan dengan senyawa
lain
4. Asam animo memiliki sifat kimia, antara lain: larut dala air, dll

Daftar Pustaka

Almatsier,Sunita. 2001. Prinsip Dasar ilmu Gizi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Anonim.

2012.

Struktur

dan

fungsi

protein.

[online].

Tersedia:

http://www.generasibiologi.com/2012/09/struktur-dan-fungsi-protein.html.
(diakses 5 maret 2015. 18:16 wita)

Anonim.

-.

Protein.

[online].

Tersedia

http://staff.uny.ac.id/sites/default

/files/Protein-kuliah%20ko2.pdf. (diakses : 5 maret 2015. 18: 35 wita)

Siska. 2012. Klasifikasi protein. [online]. Tersedia : http://matakristal.com


/klasifikasi-protein/. (diakses : 5 maret 2015. 20:59 wita)