Anda di halaman 1dari 5

Imobilisasi

Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan yang tidak bergerak/tirah baring selama


3 hari atau lebih dengan gerak anatomik tubuh menghilang akibat perubahan fungsi
fisiologik. Berbagai faktor fisik, psikologis, dan lingkungan dapat menyebabkan
imobilisasi pada usia lanjut. Penyebab utama imobilisasi adalah adanya rasa nyeri,
lemah, kekakuan otot, ketidakseimbangan, dan masalah psikologis. Osteoartritis
merupakan penyebab utama kekakuan pada usia lanjut. Gangguan fungsi kogmitif berat
seperti pada demensia dan gangguan fungsi mental seperti pada depresi juga
menyebabkan imobilisasi. Kekhawatiran keluarga yang berlebihan dapat menyebabkan
orang usia lanjut terus menerus berbaring di tempat tidur baik di rumah maupun di rumah
sakit (Setiati dan Roosheroe, 2007).
Pengkajian geriatri paripurna diperlukan dalam mengevaluasi pasien usia lanjut
yang mengalami imobilisasi, meliputi (Liza, 2008a):
Evaluasi
Anamnesis

Keterangan

Riwayat dan lama disabilitas/imobilisasi


Kondisi medis yang merupakan faktor risiko dan penyebab
imobilisasi
Kondisi premorbid
Nyeri
Obat obatan yang dikonsumsi
Dukungan pramuwedha
Interaksi sosial
Faktor psikologis
Faktor lingkungan

Pemeiksaan
fisik

Status kardiopolmonal
Kulit
Muskuloskeletal: kekuatan dan tonus otot, lingkup gerak sendi,
lesi dan deformitas kaki
Neurologis: kelemahan fokal, evaluasi persepsi dan sensorik
Gastrointertinal
Genitourinarius

Status
fungsional

Antara lain dengan pemeriksaan indeks aktivitas kehidupan sehari


- hari (AKS) Barthel

Status
Mental

Antara lain penapisan dengan pemeriksaan geriatri depression


scale (GDS)

Status
kognitif

Antara lain penapisan dengan pemeriksaan mini-mental state


examination (MMSE), abbreviated mental test (AMT)

Tingkat
Mobilitas

Mobilitas di tempat tidur, kemampuan transfer, mobilitas di kursi


roda, keseimbangan saat duduk dan berdiri, cara berjalan (gait),

nyeri saat bergerak


Pemeriksaan
Penunjang

Penilaian berat ringannya kondisi medis penyebab imobilisasi


(foto lutut, ekokardiografi, dan lain-lain) dan komplikasi akibat
imobilsasi (pemeriksaan albumin, elektrolit, glukosa darah,
hemostasis, dan lain-lain)

Tatalaksana umum pada pasien imobilisasi membutuhkan kerjasama tim medis


interdisiplin dengan partisipasi pasien, keluarga, dan pramuwedha. Edukasi kepada
pasien dan keluarga mengenai bahaya tirah baring lama, pentingnya latihan bertahap dan
ambulasi dini, serta mencegah ketergantungan pasien dengan melakukan aktivitas
kehidupan seharihari sendiri, semampu pasien. Dilakukan pengkajian geriatri paripurna,
perumusan target fungsional, dan pembuatan rencana terapi yang mencakup perkiraan
waktu yang diperlukan untuk mencapai target terapi. Temukenali dan berikan terapi bila
terjadi infeksi, malnutrisi, anemia, gangguan cairan dan elektrolit yang mungkin terjadi
pada kasus imobilisasi, serta penyakit/kondisi penyetara lainnya. Evalusi seluruh obatobatan yang dikonsumsi. Obat-obatan yang dapat menyebabkan kelemahan atau
kelelahan harus diturunkan dosisnya atau dihentikan bila memungkinkan. Berikan nutrisi
yang adekuat, asupan cairan dan makanan yang mengandung serat, serta suplementasi
vitamin dan mineral. Program latihan dan remobilisasi dimulai ketika kestabilan kondisi
medis terjadi meliputi latihan mobilitas ditempat tidur, latihan gerak sendi (pasif, aktif,
dan aktif dengan bantuan), latihan penguat otot otot (isotonik, isometrik, isokinetik)
latihan koordinasi/ keseimbangan, dan ambulasi terbatas. Bila diperlukan, sediakan dan
ajarkan cara penggunaan alat-alat bantu berdiri dan ambulasi. Manajemen miksi dan
defekasi. Pada keadaan-keadaan khusus, konsultasikan kondisi medik kepada dokter
spesialis yang kompeten. Lakukan remobilisasi segera dan bertahap pada pasien-pasien
yang menglami sakit atau dirawat di rumah sakit dan panti werdha untuk mobilitas yang
adekuat bagi usia lanjut yang menglami disabilitas permanen (Liza, 2008a).
Komplikasi pada pasien imobilisasi antara lain (Setiati dan Roosheroe, 2007) :
1. Trombosis
Trombosis vena dalam merupakan salah satu gangguan vaskular perifer yang
penyebabnya multifaktorial, meliputi faktor genetik dan lingkungan. Terdapat tiga
faktor yang meningkatkan risiko trombosis vena dalam yaitu karena adanya luka di
vena dalam karena trauma atau pembedahan, sirkulasi darah yang tidak baik pada
vena dalam, dan berbagai kondisi yang meningkatkan resiko pembekuan darah.

Beberapa kondisi yang dapat menyebabkan sirkulasi darah tidak baik di vena dalam
meliputi gagal jantung kongestif, imobilisasi lama, dan adanya gumpalan darah yang
telah timbul sebelumnya. Gejala trombosis vena bervariasi, dapat berupa rasa panas,
bengkak, kemerahan, dan rasa nyeri pada tungkai.
2. Emboli Paru
Emboli paru dapat menghambat aliran darah ke paru dan memicu refleks
tertentu yang dapat menyebabkan panas yang mengakibatkan nafas berhenti secara
tiba-tiba. Sebagian besar emboli paru disebabkan oleh emboli karena trombosis vena
dalam. Berkaitan dengan trombosis vena dalam, emboli paru disebabkan oleh
lepasnya trombosis yang biasanya berlokasi pada tungkai bawah yang pada gilirannya
akan mencapai pembuluh darah paru dan menimbulkan sumbatan yang dapat
berakibat fatal. Emboli paru sebagai akibat trombosis merupakan penyebab kesakitan
dan kematian pada pasien lanjut usia.
3. Kelemahan Otot
Imobilisasi akan menyebabkan atrofi otot dengan penurunan ukuran dan
kekuatan otot. Penurunan kekuatan otot diperkirakan 1-2% sehari. Kelemahan otot
pada pasien dengan imobilisasi seringkali terjadi dan berkaitan dengan penurunan
fungsional, kelemahan, dan jatuh.
4. Kontraktur otot dan sendi
Pasien yang mengalami tirah baring lama berisiko mengalami kontraktur
karena sendi-sendi tidak digerakkan. Akibatnya timbul nyeri yang menyebabkan
seseorang semakin tidak mau menggerakkan sendi yang kontraktur tersebut.
5. Osteoporosis
Osteoporosis timbul sebagai akibat ketidakseimbangan antara resorpsi tulang
dan pembentukan tulang. Imobilisasi meningkatkan resorpsi tulang, meningkatkan
kalsium serum serum, menghambat sekresi PTH, dan produksi vitamin D3 aktif.
Faktor utama yang menyebabkan kehilangan masa tulang pada imobilisasi adalah
meningkatnya resorpsi tulang.
6. Ulkus dekubitus
Luka akibat tekanan merupakan komplikasi yang paling sering terjadi pada
pasien usia lanjut dengan imobilisasi. Jumlah tekanan yang dapat mempengaruhi
mikrosirkulasi kulit pada usia lanjut berkisar antara 25 mmHg. Tekanan lebih dari 25
mmHg secara terus menerus pada kulit atau jaringan lunak dalam waktu lama akan

menyebabkan kompresi pembuluh kapiler. Kompresi pembuluh dalam waktu lama


akan mengakibatkan trombosis intra arteri dan gumpalan fibrin yang secara permanen
mempertahankan iskemia kulit. Relief bekas tekanan mengakibatkan pembuluh darah
tidak dapat terbuka dan akhirnya terbentuk luka akibat tekanan.
7. Hipotensi postural
Hipotensi postural adalah penurunan tekanan darah sebanyak 20 mmHg dari
posisi berbaring ke duduk dengan salah satu gejala klinik yang sering timbul adalah
iskemia serebral, khusunya sinkop. Pada posisi berdiri, secara normal 600-800 ml
darah dialirkan ke bagian tubuh inferior terutama tungkai. Penyebaran cairan tubuh
tersebut menyebabkan penurunan curah jantung sebanyak 20%, penurunan volume
sekuncup 35% dan akselerasi frekuensi jantung sebanyak 30%. Pada orang normal
sehat, mekanisme kompensasi menyebabkan vasokonstriksi dan peningkatan denyut
jantung yang menyebabkan tekanan darah tidak turun. Pada lansia, umumnya fungsi
baroreseptor menurun. Tirah baring total selama paling sedikit 3 minggu akan
mengganggu kemampuan seseorang untuk menyesuaikan posisi berdiri dari berbaring
pada orang sehat, hal ini akan lebih terlihat pada lansia.
8. Pneumonia dan infeksi saluran kemih (ISK)
Akibat imobilisasi retensi sputum dan aspirasi lebih mudah terjadi pada pasien
geriatri. Pada posisi berbaring otot diafragma dan interkostal tidak berfungsi dengan
baik sehingga gerakan dinding dada juga menjadi terbatas yang menyebabkan sputum
sulit keluar dan pasien mudah terkena pneumonia. Aliran urin juga terganggu akibat
tirah baring yang kemudian menyebabkan infeksi saluran kemih. Inkontinensia urin
juga sering terjadi pada usia lanjut yang mengalami imobilisasi yang disebabkan
ketidakmampuan ke toilet, berkemih yang tidak sempurna, gangguan status mental,
dan gangguan sensasi kandung kemih.
9. Gangguan nutrisi (hipoalbuminemia)
Imobilisasi akan mempengaruhi sistem metabolik dan endokrin yang
akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabolisme zat gizi. Salah satu yang
terjadi adalah perubahan metabolisme protein. Kadar plasma kortisol lebih tinggi pada
usia lanjut yang imobilisasi sehingga menyebabkan metabolisme menjadi
katabolisme. Keadaan tidak beraktifitas dan imobilisasi selama 7 hari akan
meningkatkan ekskresi nitrogen urin sehingga terjadi hipoproteinemia.
10. Konstipasi dan skibala

Imobilisasi lama akan menurunkan waktu tinggal feses di kolon. Semakin


lama feses tinggal di usus besar, absorpsi cairan akan lebih besar sehingga feses akan
menjadi lebih keras. Asupan cairan yang kurang, dehidrasi, dan penggunaan obatobatan juga dapat menyebabkan konstipasi pada pasien imobilisasi
Prognosis pada pasien imobilisasi tergantung pada penyakit yang mendasari
imobilisasi dan komplikasi yang ditimbulkananya. Perlu dipahami, imobilisasi dapat
memperberat penyakit dasarnya bila tidak ditangani sedini mungkin, bahkan dapat
sampai menimbulkan kematian (Liza, 2008a).

Juwita,

P.

2009.

Imobilitas

dan

Toleransi

Aktivitas

pada

Lansia.

http://pusva.wordpress.com/category/health.
Liza.

2008a.

Imobilisasi.

INKONTINENSIA-URIN

http://www.scribd.com/doc/6240327/IMOBILISASI-