Anda di halaman 1dari 5

Trauma Urogenitalia

Secara anatomis sebagian besar organ urogenitalia terletak di rongga ekstraperitoneal


(kecuali genitalia eksterna), dan terlindung oleh otot-otot dan organ-organ lain. Oleh
karena itu jika di dapatkan cedera organ urogenitalia, harus diperhitungkan pula
kemungkinan adanya kerusakan organ lain yang mengelilinginya. Sebagian besar
cedera organ genitourinaria bukan cedera yang mengancam jiwa kecuali cedera berat
pada ginjal yang menyebabkan kerusakan parenkim ginjal yang cukup luas dan
kerusakan pembuluh darah ginjal.
Cedera yang mengenai organ urogenitalia bisa merupakan cedera dari luar berupa
trauma tumpul maupun trauma tajam, dan cedera iatrogenik akibat tindakan dokter
pada saat operasi atau petugas medik yang lain. Pada trauma tajam, baik berupa
trauma tusuk maupun trauma tembus oleh peluru, harus di pikirkan untuk
kemungkinan melakukan eksplorasi; sedangkan trauma tumpul sebagian besar hampir
tidak diperlukan tindakan operasi.
TRAUMA URETRA
Secara klinis trauma uretra dibedakan menjadi trauma uretra anterior dan trauma
uretra pasterior, hal ini karna keduanya menunjukkan perbedaan dalam hal etiologi
trauma, tanda klinis, pengelolaan, serta prognosisnya.
Etiologi
Trauma uretra terjadi akibat cedera yang berasal dari luar (eksternal) dan cedera
iatrogenik akibat instrumentasi pada uretra. Trauma tumpul yang menimbulkan
fraktur tulang pelvis menyebabkan ruptura uretra pars membranasea, sedangkan
trauma tumpul pada selangkangan atau straddle injury dapat menyebabkan ruptura
uretra pars bulbosa. Pemasangan kateter atau businasi pada uretra yang kurang hatihati dapat menimbulkan robekan uretra karena false route atau salah jalan; demikian
pula tindakan operasi transuretra dapat menimbulkan cedera uretra iatrogenik.
Gambaran Klinis
Kecurigaan adanya trauma uretra adalah jika didapatkan perdarahan per-uretram,
yaitu terdapat darah yang keluar dari meatus uretra eksternum setelah mengalami
trauma. Perdarahan per-uretram ini harus dibedakan dengan hematuria yaitu urine
bercampur darah. Pada trauma uretra yang berat, seringkali pasien mengalami retensi
urine. Pada keadaan ini tidak boleh dilakukan pemasangan kateter, Karena
tindakan pemasangan kateter dapat menyebabkan kerusakan uretra yang lebih parah.
Diagnosis ditegakkan melalui foto uretrografi dengan memasukkan kontras melalui
uretra, guna mengetahui adanya ruptura uretra..
Ruptura Uretra Posterior
Ruptura Uretra Posterior paling sering disebabkan oleh fraktur tulang pelvis. Fraktur
yang mengenai rumus atau simfisis pubis dan menimbulkan kerusakan pada cincin
pelvis, menyebabkan robekan uretra pars prostato-membranasea. Fraktur pelvis dan
robekan pembuluh darah yang berada didalam kavum pelvis menyebabkan hematoma
yang luas di kavum retzius sehingga jika ligamentum pubo-prostatikum ikut terobek,
prostat beserta buli-buli akan terangkat ke kranial.
Klasifikasi
Melalui gambaran uretrogam, Colapinto dan McCollum (1976) membagi derajat
cedera uretra dalam 3 jenis :

1.
2.
3.

Uretra pasterior masih utuh dan hanya mengalami stratching (Peregangan).


Foto uretrogram tidak menunjukkan adanya ekstravasasi, dan uretra hanya
tampak memanjang.
Uretra pasterior terputus pada perbatasan prostato-membranasea, sedangkan
diafragma urogenitalia masih utuh. Foto uretrogram menunjukkan
ekstravasasi kontras yang masih terbatas diatas diafragma urogenitalis.
Uretra posterior, diafragma urogenitalis, dan uretra pars bulbosa sebelah
proksimal ikut rusak. Foto uretrogram menunjukkan ekstravasasi kontras
meluas hingga dibawah diafragma urogenitalia sampai ke perineum.

Diagnosis
Pasien yang menderita cedera uretra posterior sering kali datang dalam keadaan syok
karna terdapat fraktur pelvis/cedera organ lain yang menimbulkan banyak perdarahan.
Ruptura uretra posterior sering kali memberikan gambaran yang khas berupa : (1).
Perdarahan per-uretram, (2) retensi urine, dan (3) pada pemeriksaan colok dubur
didapatkan adanya Floating prostate (prostat melayang) di dalam suatu hematom.
Pada pemeriksaan uretrografi retrogad mungkin terdapat elongasi uretra atau
ekstravasasi kontras pada pars prostato-membranasea.
Tindakan
Ruptura uretra posterior biasanya diikuti oleh trauma mayor pada organ lain
(abdomen dan fraktur pelvis) dengan disertai ancaman jiwa berupa perdarahan. Oleh
karena itu sebaiknya dibidang urologi tidak perlu melakukan tindakan yang invasif
pada urera. Tindakan yang berlebihan akan menyebabkan timbulnya perdarahan yang
lebih banyak pada kavum pelvis dan prostat serta menambah kerusakan pada uretra
dan struktur neurovaskuler di sekitarnya. Kerusakan neurovaskuler menambah
kemungkinan terjadinya disfungsi ereksi dan inkontinensia.
Pada keadaan akut tindakan yang dilakukan adalah melakukan sistostomi untuk
diversi urine. Setelah keadaan stabil sebagian ahli urologi melakukan primary
endoscopic realigment yaitu melakukan pemasangan kateter uretra sebagai splint
melalui tuntunan uretroskopi. Dengan cara ini daharapkan kedua ujung uretra yang
terpisah dapat saling didekatkan. Tindakan ini dilakukan sebelum 1 minggu pasca
ruptura dan kateter uretra dipertahankan selama 14 hari.
Sebagian ahli lain mengerjakan reparasi uretra (uretroplasti) setelah 3 bulan pasca
trauma dengan asumsi bahwa jaringan parut pada uretra telah stabil dan matang
sehingga tindakan rekonstruksi membuahkan hasil yang lebih baik.
Penyulit
Penyulit yang terjadi pada ruptura uretra adalah striktura uretra yang sering kali
kambuh, disfungsi ereksi, dan inkontinensia urine. Disfungsi ereksi terjadi pada 1330% kasus disebabkan karena kerusakan saraf parasimpatik atau terjadinya
insufisiensi arteria. Inkontinensia urine lebiyh jarang terjadi, yaitu 2-4% yang
disebabkan karena kerusakan sfingter uretra eksterna.
Setelah rekonstruksi uretra seringkali masih timbul striktura (12-15%) yang dapat
diatasi dengan uretrotomia interna(sachse). Meskipun masih bisa kambuh kembali,
striktura ini biasanya tidak memerlukan tindakan uretroplasti ulangan.
Ruptura Uretra Anterior
Cidera dari luar yang sering menyebabkan kerusakan uretra anterior adalah straddle
injury (cedera selangkangan) yaitu uretra terjepit diantara tulang pelvis dan benda

tumpul. Jenis kerusakan uretra yang terjadi berupa : Kontusio dinding uretra, ruptur
parsial, atau ruptur total dinding uretra.
Patologi
Uretra anterior terbungkus didalam korpus spongiosum penis. Korpus spongiosum
bersama dengan korpora kavernosa penis dibungkus oleh fasia Buck dan fasia Colles.
Jika terjadi ruptur uretra beserta korpus spongiosum, darah dan urine keluar dari
uretra tetapi masih terbatas pada fasia Buck, dan secara klinis terlihat hematoma yang
terbatas pada penis. Namun jika fasia Buck ikut robek, ekstravasasi urine dan darah
hanya dibatasi oleh fasia Colles sehingga darah dapat menjalar hingga skrotum atau
ke dinding abdomen. Oleh karena itu robekan ini memberikan gambaran seperti kupukupu sehingga disebut butterfly hematoma atau hematoma kupu-kupu.
Diagnosis
Pada kontusio uretra, pasien mengeluh adanya perdarahan per-uretram atau hematuria.
Jika terdapat robekan pada korpus spongiosum, terlihat adanya hematom pada penis
atau hematoma kupu-kupu. Pada keadaan ini seringkali pasien tidak dapat miksi.
Pemeriksaan uretrografi retrograd pada kontusio uretra tidak menunjukkan adanya
ekstravasasi kontras, sedangkan pada ruftur uretra menunjukkan adanya ekstravasasi
kontras di pars bulbosa.
Tindakan
Kontusio uretra tidak memerlukan terapi khusus, tetapi mengingat cedera ini dapat
menimbulkan penyakit striktura uretra di kemudian hari, maka setelah 4 6 bulan
perlu dilakukan pemeriksaan uretrografi ulangan. Pada ruptur uretra parsial dengan
ekstravasasi ringan, cukup dilakukan sistostomi untuk mengalihkan aliran urine.
Kateter sitostomi dipertahankan sampai 2 minggu, dan dilepas setelah diyakinkan
melalui pemeriksaan uretrografi bahwa sudah tidak ada ekstravasasi kontras atau tidak
timbul striktura uretra. Namun jika timbul striktura uretra, dilakukan reparasi uretra
atau sachse.
Tidak jarang ruptur uretra anterior disertai dengan ekstravasasi urine dan hematom
yang luas sehingga diperlukan debridement dan insisi hematoma untuk mencegah
infeksi. Reparasi uretra dilakukan setelah luka menjadi lebih baik.
Uretra
Berdasarkan anatomi, ruptur uretra dibagi atas ruptur uretra pasterior yang terletak
proksimal diafragma urogenital dan ruptur uretra anterior yang terletak distal
diafragma urogenital.
Cedera menyebabkan memar dinding dengan atau tanpa robekan mukosa baik parsial
atau total.
Ruptur uretra posterior hampir selalu disertai fraktur tulang pelvis.
Akibat fraktur tulang pelvis, terjadi robekan pars membranasea karna prostat dengan
uretra prostatika tertarik ke kranial bersama fragmen fraktur, sedangkan uretra
membranasea terikat di diafragma urogenital. Ruptur uretra posterior dapat terjadi
total atau inkomplit. Pada reptur total, uretra terpisah seluruhnya dan ligamentum
puboprostatikum robek sehingga buli-buli dan prostat terlepas ke kranial.
Cedera uretra bulbosa terjadi akibat jatuh terduduk atau terkangkang sehingga uretra
terjepit antara objek yang keras, seperti batu, kayu, atau palang sepeda, dengan tulang
simfisis.

Cedera uretra anterior, selain oleh cedera kangkang, juga dapat disebabkan oleh
instrumentasi urologik, seperti pemasangan kateter, businasi, dan bedah endoskopi.
Gambaran Klinis. Pada ruftur uretra posterior, terdapat tanda patah tulang pelvis.
Pada daerah suprapubik dan abdomen bagian bawah, dijumpai jejas, hematom, dan
nyeri tekan. Bila disertai ruftur kandung kemih, bisa ditemukan tanda rangsangan
peritonium.
Pada ruftur uretra anterior terdapat daerah memar atau hematom pada penis dan
skrotum. Beberapa tetes darah segar di meatus uretra merupakan tanda klasik cedera
uretra. Bila terjadi ruptur uretra total, penderita mengeluh tiak bisa buang air kecil
sejak terjadi trauma, dan nyeri perut bagian bawah dan daerah suprapubik. Pada
perabaan mungkin ditemukan kandung kemih yang penuh.
Cedera uretra karena kateterisasi dapat menyebabkan obstruksi karena udem atau
bekuan darah. Abses periuretrial atau sepsis mengakibatkan demam. Ekstravasasi urin
dengan atau tanpa darah dapat meluas jauh, tergantung fasia yang turut rusak. Pada
ekstravasasi ini mudah timbul infiltrat yang disebut infiltrat urin yang mengakibatkan
selulitis dan septisemia bila terjadi infeksi.
Diagnosis. Ruptur uretra posterior harus dicurigai bila terdapat darah sedikit di
meatus uretra disertai patah tulang pelvis. Selain tanda setempat, pada pemeriksaan
colok dubur ditemukan prostat seperti mengapung karena tidak terfiksasi lagi pada
diafragma urogenital. Kadang sama sekali tidak teraba prostat lagi karena pindah ke
kranial. Pemeriksaan colok dubur harus dilakukan dengan hati-hati karena fragmen
tulang dapat mencederai organ lain, seperti rektum.
Kecurigaan ruptur uretra anterior timbul bila ada riwayat cedera kangkang atau
instrumentasi dan darah yang menetes dari meatus uretra.
Pemeriksaan radiologik dengan uretrogram retrograd dapat memberi keterangan letak
dan tife ruptur uretra.
Terapi. Bila ruptur uretra posterior tidak disertai cedera organ intraabdomen atau
organ lain, cukup dilakukan sistostomi. Reparasi uretra dilakukan 2-3 hari kemudian
dengan melakukan anastomosis ujung ke ujung, dan pemasangan kateter silikon
selama tiga minggu. Bila disertai cedera organ lain sehingga tidak mungkin dilakukan
reparasi 2-3 hari kemudian. Sebaiknya dipasang kateter secara langsir (rail roading).
Pada ruptur uretra anterior total, langsung dilakukan pemulihan uretra dengan
anastomosis ujung ke ujung melalui sayatan parineal. Dipasang kateter silikon selama
tiga minggu. Bila ruptur parsial, dilakukan sistostomi dan pemasangan kateter foley di
uretra selama 7-10 hari, sampai terjadi epitelisasi uretra yang cedera. Kateter
sistostomi baru di cabut bila saat kateter sistostomi diklem ternyata penderita bisa
buang air kecil.
Komplikasi. Komplikasi dini setelah rekonstruksi uretra adalah infeksi, hematoma,
abses periuretral, fistel uretrokutan, dan epididimitis.
Komplikasi lanjut yang paling sering terjadi adalah striktur uretra. Khusus pada ruptur
uretra posterior, dapat timbul komplikasi impotensi dan inkontinensia.
Hiperplasia Prostat
Kelenjar prostat adalah salah satu organ genitalia yang terletak disebelah inferior bulibuli dan membungkus yretra posterior. Bila mengalami pembesaran, organ ini
membantu uretra pars prostatika dan menyebabkan terhambatnya aliran urine keluar
dari buli-buli. Bentuknya sebesar buah kenari dengan berat normal pada orang dewasa
+ 20 gram. McNeal (1976) membagi kelenjar prostat dalam beberapa zona antara
lain : zona perifer, zona sentral, zona transisional, zona fibromuskular, dan zona

periuretra. Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional;


sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.
Pertumbuhan kelenjar ini sangat tergantung pada hormon testosteron, yang didalam
sel-sel kelenjar prostat hormon ini akan dirubah menjadi metabolit aktif
dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5 alpha reduktase.
Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA didalam sel-sel
kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu pertumbuhan
kelenjar prostat.
Pada usia lanjut beberapa pria mengalami pembesaran prostat benigna. Keadaan ini
dialami oleh 50% pria yang berusia 60 tahun dan kurang lebih 80% pria yang berusia
80 tahun. Pemebesaran kelenjar prostat mengakibatkan terganggunya aliran urine
sehingga menimbulkan gangguan miksi.
Etiologi
Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab terjadinya hiperplasia
prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa hiperplasia prostat erat
kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron (DHT) danh proses aging
(menjadi tua). Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya
hiperplasia prostat adalah : (1) teori dihidrotestosteron, (2) adanya ketidak
seimbangan antara estrogen-testosteron, (3) interaksi antara sel stroma dan sel epitel
prostat, (4) berkurangnya kematian sel (apoptosis), dan (5) teori stem sel.