Anda di halaman 1dari 15

LAPORAN KASUS

PTERIGIUM

OLEH:
Wayan Ardyana Prastara, S.Ked

SMF ILMU KESEHATAN MATA


RSUD DR.R.SOSODORO DJATIKOESOEMO
BOJONEGORO
2014

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkat rahmat-Nya
sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas laporan kasus yg berjudul Pterigium
Adapun laporan kasus inhhi merupakan salah satu tugas akademis dalam menempuh
kepaniteraan klinik di SMF ilmu penyakit mata RSUD Dr.sosodoro djatikoesomo
Bojonegoro.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dr.Krido Restiadi,Sp.M., dr.Agung
P.S.,Sp.M.,dr.Nining selaku pembimbing dalam menyelesaikan laporan kasus ini, atas
bimbingan dan bantuan yang diberikan.
Adapun penulisan laporan ini masih banyak kekurangan, untuk itu penulis
mengharapkan kritik dan saran yang membangun dari para pembaca demi kesempurnaan
laporan ini.
Akhir kata penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
membantu hingga tersusunnya laporan kasus ini.

Bojonegoro, Oktober 2014

Penulis

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR
PENDAHULUAN ................................................................................ 1
TINJAUAN PUSTAKA ...................................................................... 2
KASUS .................................................................................................. 9
DAFTAR PUSTAKA

BAB I
PENDAHULUAN

Mata adalah organ fotosensitif yang kompleks dan berkembang lanjut yang
memungkinkan analisis cermat tentang bentuk, intensitas cahaya, dan warna yang
dipantulkan obyek. Mata terletak di dalam struktur tengkorak yang melindunginya, yaitu
orbita. Setiap mata terdiri atas 3 lapis konsentris yaitu lapisan luar terdiri atas sklera dan
kornea, lapisan tengah juga disebut lapisan vaskular atau traktus uveal yang terdiri dari
koroid, korpus siliar dan iris, serta lapisan dalam yang terdiri dari jaringan saraf yaitu retina.
Pterigium adalah pertumbuhan berbentuk sayap pada konjungtiva bulbi, kelainan ini
berupa pertumbuhan segitiga horizontal dari jaringan abnormal yang invasi ke kornea dari
regio kantus pada konjungtiva bulbi . Berpotensi menjadi penyebab kebutaan pada
pertumbuhan pterigium yang lanjut, memerlukan tindakan pembedahan untuk memperbaiki
penglihatan.
Distribusi pterigium tersebar di dunia tetapi sering pada daerah panas, beriklim
kering. Prevalensi pada daerah ekuator kira-kira 22% dan kurang dari 2% di daerah lintang
diatas 40.
Masalah klinis yang menjadi tantangan adalah tingginya frekuensi pterigium
rekurendan pertumbuhan yang agresif pada pterigium rekuren. Selain itu pterigium
menimbulkan keluhan kosmetik dan berpotensi mengganggu penglihatan pada stadium lanjut
yang memerlukan tindakan operasi untuk rehabilitasi penglihatan.
Pada laporan kasus ini, saya akan menampilkan contoh kasus pterigium yang saya
temui di poli mata RSUD DR.Sosodoro Djatikoesomo Bojonegoro. Sangat diharapkan
dengan adanya laporan kasus ini, akan membantu teman-teman dalam pemahaman dan
terhadap pterigium.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A.

DEFINISI
Pterigium adalah penebalan konjungtiva bulbi yang berbentuk segitiga, mirip daging yang
menjalar ke kornea.Menurut Prof. Dr. H. Sidarta Ilyas, Sp.M, pterigium merupakan suatu
pertumbuhan fibrovaskular konjungtiva yang bersifat invasif dan degeneratif.

Asal kata pterigium adalah dari bahasa Yunani, yaitu Pteron yang artinya wing atau sayap.
B. EPIDEMIOLOGI
Di Amerika Serikat, kasus pterigium sangat bervariasi tergantung pada lokasi
geografisnya. Di daratan Amerika serikat, Prevalensinya berkisar kurang dari 2% untuk
daerah di atas 400 lintang utara sampai 5-15% untuk daerah garis lintang 280-360. Hubungan
ini terjadi untuk tempat-tempat yang prevalensinya meningkat dan daerah-daerah elevasi
yang terkena penyinaran ultraviolet untuk daerah di bawah garis lintang utara ini.
Prevalensi pterigium meningkat dengan umur, terutama dekade ke 2 dan 3. Pasien
dibawah umur 15 tahun jarang terjadi pterrygium. Insiden tinggi pada umur 20-49 tahun.
Rekuren lebih sering pada umur muda daripada umur tua. Laki-laki 4 kali lebih resiko dari
perempuan dan berhubungan dengan merokok, pendidikan rendah dan riwayat exposure
lingkungan diluar rumah.

C. ANATOMI
Konjungtiva merupakan membran yang menutupi sklera dan kelopak bagian belakang.
Bermacam-macam obat mata dapat diserap melalui konjungtiva ini. Konjungtiva
mengandung kelenjar musin yang dihasilkan oleh sel Goblet. Musin bersifat membasahi bola
mata terutama kornea.

Konjungtiva terdiri atas tiga bagian, yaitu :


1.Konjungtiva tarsal yang menutupi tarsus, konjungtiva tarsal sukar digerakkan dari tarsus.
2.Konjungtiva bulbi menutupi sklera dan mudah digerakkan dari sklera di bawahnya.
3.Konjungtiva forniks yang merupakan tempat peralihan konjungtiva tarsal dengan
konjungtiva bulbi.
Konjungtiva bulbi dan konjungtiva forniks berhubungan sangat longgar dengan jaringan di
bawahnya, sehingga bola mata mudah bergerak
D . ETIOLOGI
Penyebab pterigium belum dapat dipahami secara jelas, diduga merupakan suatu
neoplasma radang dan degenerasi. Namun, pterigium banyak terjadi pada mereka yang
banyak menghabiskan waktu di luar rumah dan banyak terkena panas terik matahari. Faktor
resiko terjadinya pterigium adalah tinggal di daerah yang banyak terkena sinar matahari,
daerah yang berdebu, berpasir atau anginnya besar. Penyebab paling umum adalah exposure
atau sorotan berlebihan dari sinar matahari yang diterima oleh mata. Ultraviolet, baik UVA
ataupun UVB, dan angin (udara panas) yang mengenai konjungtiva bulbi berperan penting
dalam hal ini. Selain itu dapat pula dipengaruhi oleh faktor2 lain seperti zat allegen, kimia

dan zat pengiritasi lainnya. Pterigium Sering ditemukan pada petani, nelayan dan orang-orang
yang tinggal di dekat daerah khatulistiwa. Jarang menyerang anak-anak.
Faktor Resiko
1. Radiasi ultra violet
Faktor resiko utama timbulnya pterigium adalah exposure sinar matahari. Sinar matahari
diabsorbsi oleh kornea dan konjungtiva menghasilkan kerusakan sel dan proliferasi sel. Letak
lintang, waktu diluar rumah, penggunaan kacamata dan topi juga merupakan faktor penting
2. Faktor Genetik
Beberapa kasus dilaporkan sekelompok anggota keluarga dengan pterigium dan berdasarkan
penelitian case control menunjukkan riwayat keluarga dengan pterigium, kemungkinan
diturunkan autosom dominan.
3. Faktor lain
Iritasi kronik atau inflamasi terjadi pada area limbus atau perifer kornea merupakan
pendukung terjadinya teori keratitis kronik dan terjadinya limbal defisiensi dan saat ini
merupakan teori baru patogenesis dari pterigium. Kelembapan yang rendah dan trauma kecil
dari bahan partikel tertentu, dry eye dan virus papiloma juga penyebab dari pterigium
E. PATOFISIOLOGI
Patofisiologi pterigium ditandai dengan degenerasi elastotik kolagen dan ploriferasi
fibrovaskular, dengan permukaan yang menutupi epithelium, Histopatologi kolagen abnormal
pada daerah degenerasi elastotik menunjukkan basofilia bila dicat dengan hematoksin dan
eosin. Jaringan ini juga bisa dicat dengan cat untuk jaringan elastic akan tetapi bukan jaringan
elastic yang sebenarnya, oleh karena jaringan ini tidak bisa dihancurkan oleh elastase.
Secara histopalogis ditemukan epitel konjungtiva irreguler kadang-kadang berubah
menjadi gepeng. Pada puncak pteregium, epitel kornea menarik dan pada daerah ini membran
bowman menghilang. Terdapat degenerasi stauma yang berproliferasi sebagai jaringan
granulasi yang penuh pembulih darah. Degenerasi ini menekan kedalam kornea serta merusak
membran bauman dan stoma kornea bagian atas.
F. DIAGNOSIS

Mata iritatatif, merah dan mungkin menimbulkan astigmatisme

Kemunduran tajam penglihatan akibat pteregium yang meluas ke kornea (Zone Optic)

Dapat diserati keratitis Pungtata, delen (Penipisan kornea akibat kering) dan garis besi yang
terletak di ujung pteregium.
4

Pterigium di bagi menjadi 3 bagian yaitu : body, apex (head) dan cap. Bagian
segitiga yang meninggi pada pterigium dengan dasarnya kearah kantus, disebut body,
sedangkan bagian atasnya disebut apex dan kebelakang disebut cap. Subepitelial cap atau
halo timbul pada tengah apex dan membentuk batas pinggir pterigium.
Pterigium berdasarkan perjalanan penyakit dibagi 2 tipe yaitu
1. Progresif pterigium : tebal dan vaskular dengan beberapa infiltrat di kornea didepan kepala
pterigium (disebut cap dari pterigium)
2. Regesif pterigium : tipis, atrofi, sedikit vaskular. Akhirnya menjadi membentuk membentuk
membran tetapi tidak pernah hilang.
Pterigium dapat ke dalam beberapa tipe
1. Tipe I : meluas kurang 2 mm dari kornea atau deposit besi dapat dijumpai pada epitel kornea
dan kepala pterigium. Lesi sering asimptomatis meskipun sering mengalami inflamasi ringan.
Pasien yang memakai kontak dapat menalami keluhan lebih cepat.
2. Tipe II : menutupiu kornea sampai 4 mm dapat primer atau rekuren setelah operasi,
berpengaruh dengan tear film dan menimbulkan astigmatisme
3. Tipe III : mengenai kornea lebih dari 4 mm dan mengganggu aksis visual. Leesi yang luas
khususnya pada kasus rekuren dapat berhubungan dengan fibrosis subkonjungtiva yang
meluas ke fornik dan biasanya memnyebabkan gangguan pergerakan bola mata.
Pterigium dibagi dalam 4 derajat
1. Derajat 1 : Jika pterigium hanya terbatas pada limbus kornea
2.

Derajat 2 : Jika pterigium sudah melewati limbus kornea tetapi tidak lebih dari 2mm
melewati kornea.

3.

Derajat 3 : Jika pterigium sudah melebihi derajat 2 tetapi tidak melebihi pinggiran pupil
mata, dalam keadaan cahaya normal (pupil dalam keadaan normal sekitar 3-4 mm)

4. Derajat 4 : Jika pertumbuhan pterigium sudah melewati pupil sehingga mengganggu


penglihatan
Pterigium dibagi berdasarkan terlihatnya pembuluh darah episklera di pterigium dan harus
diperiksa dengan slitlamp :
1. T1 (atrofi) : pembuluh darah episcleral jelas terlihat
2. T2 (intermediate) : pembuluh darah episclera sebagian terlihat
5

3. T3 (fleshy, opaque) : pembuluh darah tidak jelas.


G.

DIAGNOSIS BANDING
Secara klinis, pterigium dapat dibedakan dengan pinguekula dan pseudopterigium. Pada
pinguekula, bentuknya kecil, meninggi, massa kekuningan berbatasan dengan limbus pada
konjungtiva bulbi di fissura interpalpebra dan kadang-kadang terinflamasi. Pinguekula sering
pada iklim sedang tropis dan angka kejadian sama pada laki-laki dan perempuan. Exposure
sinar ultraviolet bukan faktor resiko penyebab pinguekula.
Berbeda dengan pterigium, pseudopterigium merupakan akibat inflamasi permukaan
okular sebelumnya seperti trauma, trauma kimia, konjungtivitis sikatrik, trauma bedag atau
ulkus perifer kornea. Untuk menidentifikasi pseudopterygiu, cirinya tidak melekat pada
limbus korne. Probing dengan muscle hook dapat dengan mudah melewati bagian bawah
pseudopterigium pada limbus, dimana hal ini tidak dapat dilakukan pada pterigium. Pada
Pterigium tidak didapatkan bagian head, cap dan body dan pseudopterigium cenderung keluar
dari ruang interpalpebra fissure yang berbeda dengan true pterigium

H. PENATALAKSANAAN
Keluhan fotofobia dan mata merah dari pterigium ringan sering ditangan dengan
menghindari asap dan debu. Beberapa obat topikal seperti lubrikans, vasokonstriktor dan
kortikostreroid digunakan secara aman untuk menghilangkan gejala jika digunakan secara
benar terutama pada derajat 1 dan 2 atau tipe 1. Untuk mencegah progresifitas, beberapa
peneliti menganjurkan penggunaan kacamata pelindung ultraviolet.
Indikasi untuk eksisi pterigium termasuk ketidaknyamanan yang menetap, ganggauan
penglihatan, ukurannya >3-4 mm dan pertumbuhan yang progresif menuju tengah kornea
atau visual axis dan adanya gangguan pergerakan bola mata.
Tindakan Operatif
Tindakan pembedahan adalah suatu tindak bedah plastik yang dilakukan bila
pterigium telah mengganggu penglihatan. Pterigium dapat tumbuh menutupi seluruh
permukaan kornea atau bola mata.
Tindakan operasi, biasanya bedah kosmetik, akan dilakukan untuk mengangkat
pterigium yang membesar ini apabila mengganggu fungsi penglihatan atau secara tetap
meradang dan teriritasi. Paska operasi biasanya akan diberikan terapi lanjut seperti
penggunaan sinar radiasi B atau terapi lainnya.

Jenis Operasi pada Pterigium antara lain :


1. Bare Sklera
Tidak dilakukan untuk pterigium progresif karena dapat terjadi granuloma granuloma
diambil kemudian digraft dari amnion.
2. Subkonjungtiva
Pterigium setelah diambil kemudian sisanya dimasukkan/disisipkan di bawah konjungtiva
bulbi jika residif tidak masuk kornea
3. Graft
Pterigium setelah diambil lalu di-graf dari amnion/selaput mukosa mulut/konjungtiva forniks.
Eksisi pterigium bertujuan untuk mencapai keadaan normal, gambaran permukaan
bola mata yang licin. Teknik bedah yang sering digunakan untuk mengangkat pterigium
menggunakan piasau yang datar untuk mendiseksi pterigium ke arah limbus. Walaupun
memisahkan pterigium dengan bare schlera ke arah bawah pada limbus lebih disukai. Namun
ini tidak penting untuk memisahkan pterigium jaringan tenon dengan secara berlebihan di
daerah medial, karena kadang-kadang dapat timbul pendarahan oleh karena trauma yang
tidak sengaja di daerah jaringan otot. Setelah eksisi, kauter sering digunakan untuk
mengontrol pendarahan.
Beberapa pilihan untuk menutup luka termasuk
1.

Bare sclera : tidak ada jahitan atau benang absorbable digunakan untuk melekatkan
konjungtiva ke superficial sclera di depan insersi rectus Medialis, meninggalkan suatu daerah
sclera terbuka (teknik ini tingkat rekuren 40-50%)

2.

Simple closure : Pinggir dari konjungtiva yang bebas dijahit bersama (efektif jika hanya
defek konjungtiva sangat kecil)

3. Sliding Flap : Suatu insisi bentuk L dibuat sekitar luka untuk membentuk flap konjungtiva ,
untuk menutup luka.
4.

Rotational Flap :Insisi bentuk U dibuat di sekitar luka untuk membentuk lidah dari
conjunctiva yang diputar untuk menutup luka.

5.

Konjungtiva Graft : suatu free graft biasanya dari konjungtiva superior. Di eksisi sesuai
dengan besar luka dan kemudian dipindahkan dan di jahit.

6.

Amnion Membran Transplantasi : mengurangi frekwensi rekuren pterigium , menurangi


fibrosis atau scar pada permukaan bola mata dan penelitian baru mengungkapakan menekan
TGF-B pada konjungtiva dan pterigium . Pemberian mytomicin C dan beta irradiation dapat
diberika untuk mengurangi rekuren tetapi jarang digunakan.

7. Lamellar Keratoplasty, excimer laser Phototherapy keratectomy dan terbaru menggunakan


gabungan angiostatic steroid.
Untuk mencegah terjadinya kekambuhan setelah operasi, dikombinasikan dengan pemberian
1. Mitomycin C 0,02% tetes mata (sitostatika) : 2x1 tetes/hari selama 5 hari bersamaan dengan
pemberian dexametasone 0,1% : 4x1 tetes/hari kemudian tapperring off sampai 6 minggu.
2.

Mitomycin C 0,04% (0,4 mg/ml) : 4x1 tetes/hari selama 14 hari, diberikan bersamaan
dengansalep mata dexamethasone
Terapi Medikamentosa

a.

Pemakaian air mata artifisial (obat tetes topikal untuk membasahi mata) untuk membasahi
permukaan okular dan untuk mengisi kerusakan pada lapisan air mata.

b. Salep untuk pelumas topikal suatu pelumas yang lebih kental pada permukaan okular
c.

Obat tetes mata anti inflamasi , untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan
jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan
pterigium yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada
permukaan okular di dekat jejasnya.
Obat tetes mata anti inflamasi , untuk mengurangi inflamasi pada permukaan mata dan
jaringan okular lainnya. Bahan kortikosteroid akan sangat membantu dalam penatalaksanaan
pterigium yang inflamasi dengan mengurangi pembengkakan jaringan yang inflamasi pada
permukaan okular di dekat jejasnya

BAB III
KASUS

I.

Identitas Pasien

Nama

: Ny. N

Umur

:43 Tahun

Jenis Kelamin : Perempuan


Alamat

: Ds. Kalisan RT05 RW01 Sukosewu Bojonegoro

Pekerjaan

: Petani

Agama

: Islam

Suku Bangsa : Jawa


Tanggal Pemeriksaan : 20 Oktober 2014
II.

Anamnesa

Keluhan utama : Terdapat selaput seperti daging tumbuh pada kedua mata
Riwayat penyakit sekarang :
Mata kiri timbul lapisan selaput seperti daging sejak sekitar 2 tahun yang lalu. Mulamula kecil, selanjutnya makin melebar. Lapisan daging tumbuh dari arah hidung ke tengah
mata, kadang terasa gatal dan berair. Tidak didapatkan pandangan kabur maupun mata merah.
Pada mata kanan juga terdapat selaput seperti daging muncul sejak kurang lebih 1 tahun yang
lalu dan bertambah lebar. Tidak didapatkan pandangan kabur maupun mata merah
Riwayat penyakit dahulu:
Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. Riwayat penyakit hipertensi dan
diabetes disangkal olah pasien.
Riwayat penyakit keluarga:
Keluarga tidak ada yang pernah menderita penyakit ini sebelumnya
Riwayat sosial:
Pasien bekerja sebagai petani yang setiap hari bekerja di ladang sehingga sangat mungkin
terpapar sinar ultraviolet dan debu.
Riwayat pengobatan:
Pesien sebelumnya Belum pernah berobat
9

III.

Pemeriksaan fisik

Keadaan umum

: Baik

Kesadaran

: Compos mentis

Tekanan darah

: 130/80 mmhg

Nadi

: 82x/menit

RR

: 18x/menit

Status lokalis:

Okuli Dextra

Okuli Sinistra

6/6 F
Spasme (-) Hiperemi (-),

Pemeriksann Visus
Palpebra

6/7.5
Spasme (-) Hiperemi (-),

edema (-)
Hiperemi (-), selaput (+)

Konjungtiva

edema (-)
Hiperemi (-), selaput (+)

daerah nasal ( 3mm dari

daerah nasal ( 3mm dari

limbus ke kornea)
Jernih
Dalam, Hipopion (-),

Kornea
BMD

limbus ke kornea)
Jernih
Dalam, Hipopion (-),

Hifema (-)
Reguler, warna cokelat

Iris

Hifema (-)
Reguler, warna cokelat

kehitaman
Bulat, 3mm, RC (+)
Jernih

Pupil
Lensa

kehitaman
Bulat, 3mm, RC (+)
Jernih

IV.

Daftar masalah

ODS Selaput di daerah nasal 3mm dari limbus ke kornea


10

V.

Assesment : ODS Pterigium

VI.

Planing

Terapi

: - indomethacin 0,1% 3x1 tetes/hari


- rencanakan orasi (ekstirpasi pterigium Graf konjungtiva)

Edukasi

: - menjelaskan kepada pasien mengenai penyakitnya dan


Komplikasinya
-

Mengurangi terpapar angan sinar matahari dan udara luar,


dianjurkan memakai kacamata pelindung sinar.

11

DAFTAR PUSTAKA
Fakultas kedokteran Airlangga.2006.Pedoman diagnosis dan terapi bagian/SMF ilmu
penyakit mata edisi III. Surabaya:FK Unair.
Fisher, J. Pterigium. [online] 2009 Available from:
http://emedicine.medscape.com/article/1192527-overview
Garbaulet A., Limbergen EV. Pterigium. [online] 2009 Available from: http://www.estroeducation.org/publications/Documents/TB%20%2034%200508
2002%20Pterigium%20Print_proc.pdf
Ilyas, S. 2005.Ilmu Penyakit Mata. Edisi Ketiga. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
Pope, DB. Pterigium and Pinguecula. [online] 2009 Available from: http://eyenet.org
Tim Pengajar Oftamologi FKUH. 2005. Pterigium. Makassar: FKUH.
Vaughan, D, Asbury.2000. Oftalmologi Umum. Jakarta: Widya Merdeka.

12