Anda di halaman 1dari 23

PANDANGAN PARA ULAMAK

Muhkam adalah isim maful dari fiil ahkama-yuhkimu yang menurut bahasa diertikan dengan:
Menahan dari goncangan. Menyempurnakan. Adapun menurut istilah, para ulama berbeza
pendapat dalam mengertikan muhkam. Diantara pendapat-pendapat itu adalah: Dalil yang jelas
dan tidak mengandung adanya penasakhan (penghapusan). Ayat yang hanya mengandung
satu tafsir saja. Ayat yang bisa dipahami tanpa memerlukan rujukan kepada ayat lain. Ulamak
yang berpendapat dengan pendapat pertama diantaranya adalah Al-Jarjani.
Diantara perbezaan-perbezaan pendapat tersebut, Ibnu Hazm mengatakan bahwa ada dua
pendapat yang paling benar. Yang pertama yaitu ayat yang maknanya sudah jelas, dapat
menghilangkan musykilah dan kemungkinan-kemungkinan yang ada. Yang kedua adalah ayat
yang sudah tersusun dengan susunan yang mudah difahami, baik dengan ditafsirkan ataupun
tidak tanpa adanya perselisihan. Beliau memaparkan pendapat beliau tersebut dalam kitab AlIhkam fi Ushulil Fiqhi.
Dari perbezaan-perbezaan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahawa ayat muhkam menurut
istilah adalah ayat yang jelas maknanya, dapat difahami dengan melihat zahirnya, tidak
mempunyai kemungkinan dihapus hukumnya dan tidak memerlukan keterangan dari ayat lain
untuk memahaminya.
MANNA AL-QATHTHAN MEMBAGI MUHKAM MENJADI DUA BAHAGIAN :
AM
Am di sini berarti umum. Artinya, secara umum, muhkam adalah sempurna karena dengannya
bisa dibedakan antara yang benar dan yang batil, mana yang menjadi petunjuk dan mana yang
menyesatkan. Bila dimaknakan seperti ini, maka semua ayat dalam Al-Qur`an adalah muhkam.
Karena, Al-Qur`an adalah kalamullah yang sempurna dan dengannya bisa dibedakan mana
yang benar dan mana yang salah.
Inilah maskud dari ayat :


Ertinya: Alif Laam Raa. Ini adalah sebuah kitab yang disempurnakan kemudian diterangkan
ayat-ayatnya (penyempurnaan dan keterangan ayat-ayat tersebut) dari Al-Hakim dan Al-Khabir.
KHAS
Adapun makna Khas, yang dimaksudkan oleh Manna Al-Qaththan di sini adalah
maknamuhkam menurut istilah, seperti yang telah dipaparkan. Ini sebagaimana yang
disebutkan dalam kalamullah:
(( ))
Artinya:

Dia-lah Dzat Yang menurunkan Al-Qur`an atasmu (Nabi Muhammad sas.), yang di dalamnya
(Al-Qur`an) ada ayat-ayat yang muhkam (dan ayat-ayat tersebut menjadi) sumber (apa yang
ada di dalam) kitab (Al-Qur`an) dan sebagian ayat yang lain mutasyabih.
Pengertian yang khash ini dibagi dua oleh Muhammad Adib Shalih :
a. Muhkam Li Dzatihi
Iaitu: Ayat yang tidak mungkin diganti atau dihapus sama sekali sejak pertama kali ayat tersebut
diturunkan. Contoh ayat ini adalah ayat-ayat yang menunjukkan tentang Keesaan Allah dan
ayat-ayat kauniyyah.
b. Muhkam Li Ghairihi
Iaitu: Ayat yang tertutup kemungkinan dinasakhnya dengan wafatnya Rasulullah saw. Contoh
ayat ini adalah ayat-ayat tentang perintah, larangan dan ayat-ayat hukum.
MUTASYABIH
Mutasyabih berasal dari fiil tasyabaha-yatasyabahu yang menurut bahasa bererti apa-apa yang
saling menyerupai satu sama lain. Untuk Al-Qur`an, penyerupaan itu dalam kesempurnaan,
kebagusan, kebaikan dan dalam memberikan banyak hikmah di dalamnya. Sebagaimana para
ulama berbeza pendapat dalam mengertikan muhkam menurut istilah, mereka juga berbeza
pendapat dalam mengertikan mutasyabih menurut istilah, iaitu: Ayat-ayat yang tidak diketahui
makna yang sebenarnya oleh siapapun kecuali Allah saja.
Ayat yang memiliki banyak tafsiran. Ayat yang tidak boleh difahami menurut zahir lafaz
sehingga memerlukan keterangan lain. Dari perbezaan-perbezaan di atas, dapat disimpulkan
bahawa ayat mutasyabih menurut istilah adalah ayat yang masih diperselisihkan tentang
penafsirannya dan penafsiran ayat yang sesungguhnya hanya Allah yang tahu.
Manna Al-Qaththan membahagi mutsyabih menjadi dua bahagian:
AM
Pembagian mutasyabih kepada am ini cenderung merujuk kepada
pengertianmutasyabih menurut bahasa. Yaitu ayat-ayatnya saling menyerupai dalam
kebenaran, keindahan dan tidak ada pertentangan satu sama lain. Bila maknanya seperti ini,
maka semua ayat dalam Al-Qur`an adalah mutasyabih. Karena semua ayat-ayat Al-Qur`an tidak
saling bertentangan satu sama lain, semua ayat-ayatnya benar dan indah.
Inilah yang dimaksud dalam ayat:
(( )) .
Ertinya: Allah telah menurunkan paling bagusnya perkataan sebagai sebuah kitab (Al-Qur`an)
yang saling mneyerupai -tidak ada pertentangan di dalamnya- dan diulang-ulang
KHAS

Adapun makna khas, yang dimaksudkan oleh Manna Al-Qaththan di sini adalah
maknamutasyabih menurut istilah, seperti yang telah dipaparkan. Ini sebagaimana yang
disebutkan dalam kalamulLah:
(( ))
Ertinya:
Dia-lah Dzat Yang menurunkan Al-Qur`an atasmu (Nabi Muhammad sas.), yang di dalamnya
(Al-Qur`an) ada ayat-ayat yang muhkam (dan ayat-ayat tersebut menjadi) sumber (apa yang
ada di dalam) kitab (Al-Qur`an) dan sebahagian ayat yang lain mutasyabih.
Mutasyabih khash terbagi menjadi dua, iaitu:
Mutasyabih Hakiki dan Mutasyabih Nisbi
Mutasyabih Hakiki adalah ayat-ayat yang tidak diketahui makna sebenarnya oleh selain Allah.
Contoh mutasyabih hakiki adalah ayat-ayat yang menerangkan tentang sifat-sifat dan keadaankeadaan Allah. Erti dari ayat-ayat tersebut dapat diketahui. Tetapi, tetap tidak diketahui hakikathakikat atau wujud sifat dan keadaan Allah yang sebenarnya.
Ini dilihat dari kalam Allah:
-

Ertinya:

Dan mereka tidak mempunyai ilmu tentang-Nya .






Ertinya: Penglihatan-penglihatan itu tidak dapat mengetahui-Nya, akan tetapi Dia-lah yang
mengetahui penglihatan-penglihatan. Dan Dia adalah Dzat Yang Maha Lembut lagi Maha
Banyak Khabarnya .
Mutasyabih Nisbi adalah ayat-ayat yang samar maknanya bagi sebahagian orang saja. Ayatayat tersebut dapat diketahui oleh orang-orang yang teguh dalam ilmu mereka. Kepada
merekalah ayat-ayat yang dimusykilkan itu ditanyakan tentang keterangannya supaya orangorang yang belum faham tentang tafsir Al-Qur`an boleh mengetahui tafsirnya. Sebab,
bagaimana orang akan mengamalkan apa yang ada di dalam Al-Quran bila tidak mengetahui
keterangannya? Sedangkan Allah juga sudah menerangkan bahawa Al-Quran itu adalah
petunjuk, bayan (keterangan), rahmat dan ubat bagi semua manusia. Hal ini dilihat dari kalam
Allah Taala:
()
Ertinya: Ini adalah keterangan untuk manusia sekaligus sebagai petunjuk dan nasehat untuk
orang-orang yang bertakwa.
( )

Ertinya: Dan Kami telah menurunkan Al-Kitab atasmu sebagai keterangan bagi segala
sesuatu..

Semua ayat dalam


Al-Qur`an
adalahmuhkam.
Dikatakan demikian
apabila
makna muhkamdiliha
t secara etimologi
(menurut bahasa)
yaitu sempurna
karena dengannya
bisa dibedakan
antara yang benar
dan yang batil, mana
yang menjadi
petunjuk dan mana
yang menyesatkan.
Ini makna dari
kalamullah surat
Hud: 1.

Semua ayat dalam


Al-Qur`an
adalahmutasyabih.
Dikatakan demikian
apabila
maknamuhkam diliha
t secara etimologi
(menurut bahasa)
yaitu ayat-ayatnya
saling menyerupai
dalam kebenaran,
keindahan dan tidak
ada pertentangan
satu sama lain. Ini
makna dari
kalamullah surat AzZumar: 23.

Dapat dibagi menjadi dua, yaitu


sebagiannyamuhkam dan sebagian
yang lain mutasyabih. Dikatakan
demikian bila
makna muhkamdan mutasyabih dilih
at dari segi terminologi. Ini yang
dimaksudkan dalam kalamullah surat
Ali Imran: 7.

[1] Al-Burhan fi Ulumil Qur`an, Az-Zarkasyi, jz. 2, hlm. 68.


[2] Tajul Arus, Al-Husaini, jz. 1, hlm. 7672.
[3] Manahilul Irfan, Az-Zarqani, jz. 12, hlm. 196.
[4] At-Tarifat, Al-Jarjani, jz. 1, hlm. 67.
[5] Al-Ihkam fi Ushulil Fiqhi, Ibnu Hazm, jz. 1, hlm. 62.
[6] Surat Hud: 1.
[7] Surat Ali Imran: 7.
[8] Tafsirun Nushush, Muhammad Adib Shalih, jz. 1, hlm. 174.
[9] Ushulut Tafsir wa Qawaiduhu, Abdurrahman Al-Ak, hlm. 291.

[10] Lisanul Arab, Ibnu Manzhur, jz. 13, hlm. 503. Gharibul Qur`an, Ashfahani, jz.2, hlm. 254.
[11] Manahilul Irfan, Az-Zarqani, jz. 2, hlm. 196.
[12] Mabahits fi Ulumil Qur`an, Manna Al-Qaththan, hlm. 215.
[13] Surat Az-Zumar: 23.
[14] Surat Ali Imran: 7.
[15] Arsyif Multaqa Ahlit Tafsir, Abu Muhammad Al-Mishriy, jz. 1, hlm. 964.
[16]Surat Thaha : 110.
[17]Surat Al-Anam : 103.
[18] Surat Ali Imran : 138.
[19]Surat An-Nahl : 89.
[20]Surat Asy-Syura : 11.

http://mahadulilmi.wordpress.com/2012/09/23/.11.27pm.ahad.

Definisi Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat


Definisi Ayat Muhkamat dan Mutasyabihat
Al Muhkam: ; yang jelas maknanya.
al Mutasyabih: ; yang tidak jelas maknanya.[1]
Jadi Ayat-ayat Muhkamat : ayat yang dari sisi kebahasaan memiliki satu makna saja dan
tidak memungkinkan untuk ditakwil ke makna lain. Atau ayat yang diketahui dengan jelas
makna dan maksudnya. Seperti firman Allah :


Maknanya: Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi
maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya). (Q.S. asy-Syura: 11)

Maknanya: Dia (Allah) tidak ada satupun yang menyekutui-Nya. (Q.S. al Ikhlash : 4)
(65: )
Maknanya: Allah tidak ada serupa bagi-Nya. (Q.S. Maryam : 65)
Ayat-ayat Mutasyabihat : ayat yang belum jelas maknanya. Atau yang memiliki banyak
kemungkinan makna dan pemahaman sehingga perlu direnungkan agar diperoleh pemaknaan
yang tepat yang sesuai dengan ayat-ayat muhkamat. Seperti firman Allah :
(5: )

Penafsiran terhadap ayat-ayat mutasyabihat harus dikembalikan kepada ayat-ayat
muhkamat. Ini jika memang berkait dengan ayat-ayat mutasyabihat yang mungkin diketahui
oleh para ulama. Sedangkan mutasyabih (hal yang tidak diketahui oleh kita) yang dimaksud
dalam ayat

(7 : )
Menurut bacaan waqaf pada lafazh al Jalalah adalah seperti saat kiamat tiba, waktu pasti
munculnya Dajjal, dan bukan mutasyabih yang seperti ayat tentang istiwa') Q.S. Thaha : 5).
Dalam sebuah hadits Rasulullah shallallahu 'alayhi wasallam bersabda :
" ( " )
Maknanya: Amalkanlah ayat-ayat muhkamat yang ada dalam Al Qur'an dan berimanlah
terhadap yang mutasyabihat dalam Al Qur'an". Artinya jangan mengingkari adanya ayat-ayat

mutasyabihat ini melainkan percayai adanya dan kembalikan maknanya kepada ayat-ayat yang
muhkamat. Hadits inidla'if dengan kedla'ifan yang ringan.
Az-Zabidi mengatakan menukil dari al Qusyairi : "Bukankah ada pendapat yang
mengatakan bahwa bacaan ayat (tentang takwil) tersebut adalah
] ,
[
Allah menyatakan "Orang yang mendalam ilmunya juga mengetahui takwilnya serta beriman
kepadanya" karena beriman kepada sesuatu itu hanya dapat terwujud setelah mengetahui
sesuatu itu, sedang sesuatu yang tidak diketahui tidak akan mungkin seseorang beriman
kepadanya. Karenanya, Ibnu Abbas mengatakan. Saya termasuk orang-orang yang mendalam
ilmunya.
II. Metode Memaknai Ayat Mutasyabihat
Ada dua metode untuk memaknai ayat-ayat mutasyabihat yang keduanya sama-sama
benar :
Pertama : Metode Salaf. Mereka adalah orng-orang yang hidup pada tiga abad hijriyah
pertama. Yakni kebanyakan dari mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara global
(takwil ijmali), yaitu dengan mengimaninya serta meyakini bahwa maknanya bukanlah sifatsifat jism(sesuatu yang memiliki ukuran dan dimensi), tetapi memiliki makna yang layak bagi
keagungan dan kemahasucian Allah tanpa menentukan apa makna tersebut. Mereka
mengembalikan makna ayat-ayat mutasyabihat tersebut kepada ayat-ayat muhkamat seperti
firman Allah :
( : )
Maknanya: Dia (Allah) tidak menyerupai sesuatupun dari makhluk-Nya (baik dari satu segi
maupun semua segi, dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya). (Q.S. asy-Syura: 11)

Takwil ijmali ini adalah seperti yang dikatakan oleh imam asy-Syafi'i semoga Allah
meridlainya- :
" r "
"Aku beriman dengan segala yang berasal dari Allah sesuai apa yang dimaksudkan Allah dan
beriman dengan segala yang berasal dari Rasulullahr sesuai dengan maksud Rasulullah",
yakni bukan sesuai dengan yang terbayangkan oleh prasangka dan benak manusia yang
merupakan sifat-sifat benda (makhluk) yang tentunya mustahil bagi Allah.
Selanjutnya, penafian bahwa ulama salaf mentakwil secara terperinci (takwil tafshili)
seperti yang diduga oleh sebagian orang tidaklah benar. Terbukti bahwa dalam Shahih al

Bukhari, kitab tafsir al Qur'an tertulis :




" "
.

( Q.S. al Qashash : 88) yakni kecuali kekuasaan dan
"Surat al Qashash,
pengaturan-Nya terhadap makhluk-Nya
atau amal yang dilakukan untuk mendekatkan diri kepada-Nya". Kekuasaan Allah adalah sifat
Allah yang azali (tidak memiliki permulaan) , tidak seperti kekuasaan yang Ia berikan kepada
makhluk-Nya. Dalam Shahih al Bukhari juga masih terdapat takwil semacam ini di bagian yang
lain seperti dlahik yang terdapat dalam hadits ditakwilkan dengan rahmat-Nya yang khusus (arRahmah al Khashshah).
Terbukti dengan sahih pula bahwa imam Ahmad yang juga termasuk ulama salaf
mentakwil firman Allah : [ secara tafshili (terperinci), ia mengatakan : yakni datang
kekuasan-Nya (tanda-tanda kekuasaan-Nya) ". Sanad perkataan imam Ahmad ini disahihkan
oleh al Hafizh al Bayhaqi, seorang ahli hadits yang menurut al Hafizh Shalahuddin al 'Ala-i :
"Setelah al Bayhaqi dan ad-Daraquthni, belum ada ahli hadits yang menyamai kapasitas
keduanya atau mendekati kapasitas keduanya ". Komentar al Bayhaqi terhadap sanad tersebut
ada dalam kitabnya Manaqib Ahmad. Sedang komentar al Hafizh Abu Sa'id al 'Ala-i mengenai al
Bayhaqi dan ad-Daraquthni terdapat dalam bukunya al Wasyyu al Mu'lam. Al Hafizh Abu Sa'id
al 'Ala-i sendiri menurut al Hafizh Ibnu Hajar : "Dia adalah guru dari para guru kami", beliau
hidup pada abad VII Hijriyah.
Banyak di antara para ulama yang menyebutkan dalam karya-karya mereka bahwa
imam Ahmad mentakwil secara terperinci (tafshili), di antaranya al Hafizh Abdurrahman ibn al
Jawzi yang merupakan salah seorang tokoh besar madzhab Hanbali. Disebut demikian karena
beliau banyak mengetahui nash-nash (teks-teks induk) dalam madzhab Hanbali dan keadaan
imam Ahmad.
Abu Nashr al Qusyairi juga telah menjelaskan konsekwensi-konsekwensi buruk yang
secara logis akan didapat oleh orang yang menolak takwil. Abu Nashr al Qusyairi adalah
seorang ulama yang digelari oleh al Hafizh 'Abdurrazzaq ath-Thabsi sebagai imam dari para
imam. Ini seperti dikutip oleh al Hafizh Ibnu 'Asakir dalam kitabnya Tabyin Kadzib al Muftari.
Kedua : Metode Khalaf. Mereka mentakwil ayat-ayat mutasyabihat secara terperinci
dengan menentukan makna-maknanya sesuai dengan penggunaan kata tersebut dalam
bahasa Arab. Seperti halnya ulama Salaf, mereka tidak memahami ayat-ayat tersebut sesuai
dengan zhahirnya. Metode ini bisa diambil dan diikuti, terutama ketika dikhawatirkan terjadi
goncangan terhadap keyakinan orang awam demi untuk menjaga dan membentengi mereka
dari tasybih (menyerupakan Allah dengan makhluk-Nya). Sebagai contoh, firman Allah yang
memaki Iblis :
(75 : )

Ayat ini boleh ditafsirkan bahwa yang dimaksud dengan al Yadayn adalah al 'Inayah (perhatian
khusus) dan al Hifzh (memelihara dan menjaga).
http://linkfileex.blogspot.com/2013/07/11.43.ahad
TUGAS ULUMUL QUR'AN MUHKAM DAN MUTASYABIH

BAB I
PENDAHULUAN
1. Latar Belakang
Al-Quran memberikan kemungkian arti yang tak terbatas. Ayat-ayatnya selalu terbuka untuk
interpretasi baru; tidak pernah pasti dan tertutup dalam interpretasi tunggal
(Muhammad Arkoun)
Betapa indah gambaran Muhammad Arkoun dalam menjelaskan Al-Quran. Sepanjang zaman
Al-Quran akan selalu mengalami perkembangan penafsiran (interpretasi baru) sesuai
background sang penafsir. Pendapat Muhammad Arkoun di atas, dapat kita buktikan dalam
salah satu kajian Ulumul Quran, yaitu tentang Muhkam dan Mutasyabih. Sebuah kajian yang
sering menimbulkan kontroversial sepanjang sejarah penafsiran Al-Quran, karena perbedaan
interpretasi antara ulama mengenai hakikat Muhkam dan Mutasyabih.
Dalam Al-Quran, memang disebutkan kata-kata Muhkam dan Mutasyabih. Pertama,
lafal Muhkam , terdapat dalam Q.S. Hud [11]: 1


Surah Hud [11]: 1 Alif laam raa, (Inilah) suatu Kitab yang ayat-ayatNya disusun dengan rapi
serta dijelaskan secara terperinci, yang diturunkan dari sisi (Allah) yang Maha Bijaksana lagi
Maha tahu,
[707] Maksudnya: diperinci atas beberapa macam, ada yang mengenai ketauhidan, hukum,
kisah, akhlak, ilmu pengetahuan, janji dan peringatan dan lain-lain.

Kedua, lafal Mutasyabih terdapat dalam Q.S. Zumar [39]: 23








23. Allah Telah menurunkan perkataan yang paling baik (yaitu) Al Quran yang serupa (mutu
ayat-ayatnya) lagi berulang-ulang [1312], gemetar karenanya kulit orang-orang yang takut
kepada Tuhannya, Kemudian menjadi tenang kulit dan hati mereka di waktu mengingat Allah.
Itulah petunjuk Allah, dengan Kitab itu dia menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya. dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemimpinpun.
[1312] maksud berulang-ulang di sini ialah hukum-hukum, pelajaran dan kisah-kisah itu
diulang-ulang menyebutnya dalam Al Quran supaya lebih Kuat pengaruhnya dan lebih
meresap. sebahagian ahli tafsir mengatakan bahwa maksudnya itu ialah bahwa ayat-ayat Al
Quran itu diulang-ulang membacanya seperti tersebut dalam mukaddimah surat Al Faatihah.

Ketiga, lafal Muhkam dan Mutasyabih sama-sama disebutkan dalam Al-Quran. Hal ini terdapat
pada Q.S. Ali Imran [3]: 7:











7. Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada ayat-ayat
yang muhkamaat[183], Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat[184]. adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan,
Maka mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk
menimbulkan fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya
melainkan Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada
ayat-ayat yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil
pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal.

[183] Ayat yang muhkamaat ialah ayat-ayat yang terang dan tegas Maksudnya, dapat dipahami
dengan mudah.

[184] termasuk dalam pengertian ayat-ayat mutasyaabihaat: ayat-ayat yang mengandung


beberapa pengertian dan tidak dapat ditentukan arti mana yang dimaksud kecuali sesudah
diselidiki secara mendalam; atau ayat-ayat yang pengertiannya Hanya Allah yang mengetahui
seperti ayat-ayat yang berhubungan dengan yang ghaib-ghaib misalnya ayat-ayat yang
mengenai hari kiamat, surga, neraka dan lain-lain.

Berdasarkan tiga ayat dari Surah Hud [11]: 1, Surah al-Zumar [39]: 23, Ali Imran [3]: 7,
tersebut, Ibn Habib al-Naisaburi menceritakan adanya tiga pendapat tentang masalah
ini. Pertama berpendapat
pertama. Kedua

bahwa

Al-Quran

seluruhnya Muhkam berdasarkan

ayat

berpendapat bahwa Al-Quran seluruhnya Mutasyabih berdasarkan ayat

kedua. Ketiga berpendapat

bahwa

sebagian

ayat

Al-Quran Muhkam dan

lainnya Mutasyabih berdasarkan ayat ketiga. Inilah pendapat yang sahih. Ayat pertama,
dimaksudkan dengan Muhkam-nya Al-Quran adalah kesempurnaan dan tidak adanya
pertentangan antara ayat-ayatnya. Maksud Mutasyabih dalam ayat kedua adalah menjelaskan
segi kesamaan ayat-ayat Al-Quran dalam kebenaran, kebaikan dan kemukjizatannya.
Dalam makalah ini, akan dibahas pendapat-pendapat para ulama ahli tafsir mengenaihakikat
ayat Muhkam dan Mutasyabih dalam Al-Quran.

BAB II
PEMBAHASAN
1.

Pengertian Muhkam dan Mutasyabih

Secara etimologi kata muhkam berasal dari kata ihkam yang berarti kekukuhan,
kesempurnaan, keseksamaan, dan pencegahan. Semua pengertian ini rapada dasarnya
kembali kepada satu makna pencegahan.[1]
Muhkam dapat berarti sesuatu yang dikukuhkan, jelas, fasih, dan bermaksud membedakan
antara dua pihak yang bersengketa, serta memisahkan urusan yang lurus dari yang sesat.[2]
Mutasyabih secara lugawi berasal dari kata syabaha, yakni bila salah satu dari dua hal serupa
dengan yang lain. Syubhah ialah keadaan di mana satu dari dua hal itu tidak dapat dibedakan
dari yang lain karena adanya kemiripan di antara keduanya secara konkrit atau abstrak.[3]
Mutasyabih berasal dari kata tasyabuh, yakni bila salah satu dari dua hal serupa dengan
lainnya, yang biasanya dapat membawa kepada kesamaran antara kedua hal
itu. Syubhah ialah keadaan di mana salah satu dari dua hal tidak dapat di bedakan karena
adanya kemiripan baik secara konkrit maupun abstrak.Mutasyabih juga kadang-kadang
dipadankan dengan mutamatsil dalam perkataan dan keindahan.[4]

Banyak sekali pendapat para ulama tentang pengertian Muhkam danMutasyabih, salah satunya
al-Zarqani. Di antara definisi yang diberikan Zarqani adalah sebagai berikut:
1). Muhkam ialah ayat-ayat yang jelas maksudnya lagi nyata yang tidak mengandung
kemungkinan nasakh. Mutasyabih ialah ayat yang tersembunyi (maknanya), tidak diketahui
maknanya baik secara aqli maupun naqli, dan inilah ayat-ayat yang hanya Allah
mengetahuinya, seperti datangnya hari kiamat, huruf-huruf yang terputus-putus di awal surat
(fawatih al-suwar). Pendapat ini dibangsakan al-Lusi kepada pemimpin-pemimpin mazhab
Hanafi.
2). Muhkam ialah ayat-ayat yang diketahui maksudnya, baik secara nyata maupun melalui
takwil. Mutasyabih ialah ayat-ayat yang hanya Allah yang mengetahui maksudnya, seperti
datang hari kiamat, keluarnya dajjal, huruf-huruf yang terputus-putus di awal-awal surat (fawatih
al-suwar) pendapat ini dibangsakan kepada ahli sunah sebagai pendapat yang terpilih di
kalangan mereka.
3). Muhkam ialah ayat-ayat yang tidak mengandung kecuali satu kemungkinan makna
takwil. Mutasyabih ialah ayat-ayat yang mengandung banyak kemungkinan makna takwil.
Pendapat ini dibangsakan kepada Ibnu Abbas dan kebanyakan ahli ushul fikih mengikutinya.
4). Muhkam ialah ayat yang berdiri sendiri dan tidak memerlukan keterangan.Mutasyabih ialah
ayat yang tidak berdiri sendiri, tetapi memerlukan keterangan tertentu dan kali yang lain
diterangkan dengan ayat atau keterangan yang lain pula karena terjadinya perbedaan dalam
menakwilnya. Pendapat ini diceritakan dari Imam Ahmad. r.a.
5). Muhkam ialah ayat yang seksama susunan dan urutannya yang membawa kepada
kebangkitan makna yang tepat tanpa pertentangan. Mutasyabih ialah ayat yang makna
seharusnya tidak terjangkau dari segi bahasa kecuali bila ada bersamanya indikasi atau melalui
konteksnya. Lafal musytarak masuk ke dalamMutasyabih menurut pengertian ini. Pendapat ini
dibangsakan kepada Imam Al-Haramain.
6). Muhkam ialah ayat yang jelas maknanya dan tidak masuk
kepadanya isykal(kepelikan). Mutasyabih ialah lawannya Muhkam atas ism-ism (kata-kata
benda)musytarak dan lafal-lafalnya mubhamah (samar-samar). Ini adalah pendapat al-Thibi.
7). Muhkam ialah ayat yang ditunjukkan makna kuat, yaitu lafal nash dan
lafal zahir.Mutasyabih ialah ayat yang ditunjukkan maknanya tidak kuat, yaitu lafal mujmal,
muawwal, dan musykil. Pendapat ini dibangsakan kepada Imam al-Razi dan banyak peneliti
yang memilihnya.
Subhi ash-Shalih merangkum pendapat ulama dan menyimpulkan bahwa Muhkam adalah ayatayat yang bermakna jelas. Sedangkan Mutasyabih adalah ayat yang maknanya tidak jelas, dan
untuk memastikan pengertiannya tidak ditemukan dalil yang kuat.[5]

2.

Kriteria Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih

Perbedaan pengertian Muhkam dan Mutasyabih yang telah disampaikan para ulama di atas,
nampak tidak ada kesepakatan yang jelas antara pendapat mereka
tentang Muhkamdan Mutasyabih, sehingga hal ini terasa menyulitkan untuk membuat sebuah
kriteria ayat yang termasuk Muhkam dan Mutasyabih.
J.M.S Baljon, mengutip pendapat Zamakhsari yang berpendapat bahwa termasuk
kriteria ayat-ayat Muhkamat adalah apabila ayat-ayat tersebut berhubungan dengan hakikat
(kenyataan), sedangkan ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang menuntut penelitian
(tahqiqat).

Ali Ibnu Abi Thalhah memberikan kriteria ayat-ayat Muhkamat sebagai berikut, yakni
ayat-ayat yang membatalkan ayat-ayat lain, ayat-ayat yang menghalalkan, ayat-ayat yang
mengharamkan, ayat-ayat yang mengandung kewajiban, ayat-ayat yang harus diimani dan
diamalkan. Sedangkan ayat-ayat Mutasyabihat adalah ayat-ayat yang telah dibatalkan, ayatayat yang dipertukarkan antara yang dahulu dan yang kemudian, ayat-ayat yang berisi
beberapa versi, ayat-ayat yang mengandung sumpah, ayat-ayat yang boleh diimani dan tidak
boleh diamalkan.
Ar-Raghib al-Ashfihani memberikan kreteria ayat-ayat Mutasyabihat sebagai ayat atau
lafaz yang tidak diketahui hakikat maknanya, seperti tibanya hari kiamat, ayat-ayat Al-Quran
yang hanya boleh diketahui maknanya dengan pentafsiran, baik dengan ayat-ayat Muhkamat,
hadis-hadis sahih maupun ilmu pengetahuan, seperti ayat-ayat yang lafaznya terlihat anih dan
hukum-hukumnya tertutup, ayat-ayat yang maknanya hanya boleh diketahui oleh orang-orang
yang dalam ilmunya. Sebagaimana diisyaratkan dalam doa Rasulullah untuk Ibnu Abbas, Ya
Allah, kurniakanlah ia ilmu yang mendalam mengenai agama dan limpahankanlah pengetahuan
tentang tawil kepadanya. Muhkam menyangkut soal hukum-hukum (faraid), janji, dan ancaman,
sedangkan Mutasyabih mengenai kisah-kisah dan perumpamaan.

3.

Sebab-sebab Terjadinya Tasyabuh dalam Al-Quran

Secara tegas dapat dikatakan, bahwa adanya ayat muhkam dan mutasyabih itu karena Allah
SWT. yang menjadikannya demikian itu. Allah Memisahkan / membedakan antara ayat ayat

yang muhkam dari yang mutasyabih, dan menjadikannya ayat yang muhkamat sebagai
bandingan ayat yang mutasyabihat.
Maksudnya : Dia-lah yang menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepada kamu. di antara (isi) nya ada
ayat-ayat yang muhkamaat, Itulah pokok-pokok isi Al qur'an dan yang lain (ayat-ayat)
mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong kepada kesesatan, Maka
mereka mengikuti sebahagian ayat-ayat yang mutasyaabihaat daripadanya untuk menimbulkan
fitnah untuk mencari-cari ta'wilnya, padahal tidak ada yang mengetahui ta'wilnya melainkan
Allah. dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: "Kami beriman kepada ayat-ayat yang
mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami." dan tidak dapat mengambil pelajaran
(daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal. ( Qs, Al-Imran : 7 ).
Sebagian ulama berpendapat, bahwa ayat ayat mutasyabbihat tidak dapat diketahui takwilnya
oleh siapapun kecuali Allah sendiri. Mereka mewajibkan agar orang tidak mencari-cari takwilnya
dan menyerahkan persoalan itu hanya kepada Allah SWT. Sedangkan orang-orang yang
mendalam ilmunya hanya berucap kami mengimaninya, semuanya datang dari Tuhan kami.[8]
Sebab-sebab terjadinya tasyabuh menurut pendapat para ulama ialah disebabkan oleh
ketersembunyian maksud Allah dari kalam-Nya itu sendiri.
Adapun pendapat para ulama mengatakan bahwa penyebab adanya tasyabuh karena tiga hal
yaitu, kesamaran pada lafal ayat, kesamaran pada makna ayat, dan kesamaran pada lafal
sekaligus makna ayat itu sendiri.
1.

Kesamaran pada lafaz ayat

Adanya sebagian ayat-ayat mutasyabihat didalam Al-Quran disebabkan oleh kesamaran pada
lafaz, baik lafaz mufrad maupun lafaz murakkab.
a.

Kesamaran pada lafaz mufrod

Adapun yang dimaksud dengan kesamaran pada lafal mufrad ini adalah adaya lafaz tunggal
yang maknanya tidak jelas, baik disebabkan oleh gharib ataupun musytarak (bermakna ganda).
Kesamaran makna yang kembali kepada lafa mufrod yang gharib,misalnya firman Allah dalam
surat Abasa (80: 31-32), yaitu,


31. Dan buah-buahan serta rumput-rumputan,
32. Untuk kesenanganmu dan untuk binatang-binatang ternakmu.

b.

Kesamaran pada lafal murakkab

Kesamaran pada lafal murakkab kadang-kadang disebabkan karena lafal-lafal semacam itu
terlalu ringkas, panjang atau luas, atau karenasusunan kalimatnya terkesan tidak runtut.

Namun maksud ayat ini akan dapat diketahui melalui penelitian dan pengkajian. Contoh lafal
ayat mutasyabih murakkab yang terlalu ringkas, dapat dijumpai antara lain dalam firman-Nya
surah An-Nisa ayat 3:






Maksudnya : Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan
yang yatim (bilamana kamu mengawininya), Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu
senangi : dua, tiga atau empat.

2.

Kesamaan pada makna ayat

Kesamaran atau ketersembunyian yang terjadi pada makna ayat, umumya adalah berupa ayatayat mutasyabihat yang berhubungan dengan sifat-sifat Allah. Ayat-ayat yang demikian antara
lain dapat disemak dalam firman-Nya:




10. Bahwasanya orang-orang yang berjanji setia kepada kamu Sesungguhnya mereka berjanji
setia kepada Allah[1396]. tangan Allah di atas tangan mereka[1397], Maka barangsiapa yang
melanggar janjinya niscaya akibat ia melanggar janji itu akan menimpa dirinya sendiri dan
barangsiapa menepati janjinya kepada Allah Maka Allah akan memberinya pahala yang besar.

3.

Kesamaran pada lafal dan makna ayat sekaligus

Dalam hubungannya dengan kesamaran pada lafal dan makna ayat tersebut, terdapat lima
aspek yang terkait dengannya, yaitu:
a.
Aspek kuantitas (al-kammiyah), baik yang berkaitan dengan masalah-masalah yang
umum maupun yang khusus. Mengenai hal ini dapat disimak dalam firman Allah:
#s*s yn=|S$# kF{$# Pt:$# (#q=G%$$s t.J9$# ]ym OdqJ
?y`ur

. Apabila sudah habis bulan-bulan Haram itu[630], Maka Bunuhlah orang-orang musyrikin itu
dimana saja kamu jumpai mereka, dan tangkaplah mereka.
Dalam hal ini batas kuantitas yang harus dibunuh masih belum jelas atau samar-samar.
b.
Aspek cara (al-kaifiyah). Yang termasuk ke dalam kategori ini adalah mengenai cara
melaksanakan kewajiban yang diperintahkan agama atau kesunahannya, misalnya dalam
firman Allah:
_R) $tRr& !$# Iw tms9) Hw) O$tRr& T6$$s O%r&ur no4qn=9$# 2
%!
Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah
Aku dan Dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.

Dalam ayat tersebut terdapat kesamaran dalam hal bagaimana cara agar selalu dapat
mengingat Allah SWT.
c.
Aspek waktu (al-wakt, al-zaman) dalam hal yang berkaitan dengan aspek waktu ini,
kesamaran atau ketersembunyiannya terletak pada keumuman dari petunjuk yang dibawakan
oleh ayat Al-Quran itu sendiri. Misalnya dalam firman-Nya surah al-Imron ayat 102:
$pkr't t%!$# (#qYtB#u (#q)?$# !$# ,ym m?$s)?
Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa .
Ayat tersebut memerintahkan kepada orang-orang yang beriman untuk selalu bertakwa dalam
waktu yang tidak terbatas. Waktu yang tidak terbatas tesebut mengandung unsur kesamaran.
Samapi kapan batas waktunya bertakwa itu, tidak dijelaskan.
d.
Aspek tempat (al-makn). Aspek tempat memang terkait erat dengan ketersembunyian
atau kesamaran lafal dan makna yang terdapat pada ayat mutasyabbihaat itu. Sebagaiman
firman Allah dalam surat al- Bakaroh ayat 189:
3 }s9ur 99$# br'/ (#q?'s? Vq69$# `B $ydqg
Dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya.
e.
Aspek syarat (syarath-masyruth). Yang dimaksudkan disini adalah syarat-syarat dalam
melaksanakan suatu kewajiban, baik mengenai ibdah maupun muamalah todak dirinci dalam
ayat-ayat tersebut. Misalnya dalam hal shalat, puasa, haji, nikah dan sebagainya.[9]

4.

Macam-macam Ayat Mutasyabih

Al-Zarqani membagi ayat-ayat Mutasyabihat menjadi tiga macam.[10]

a.
Ayat-ayat yang seluruh manusia tidak dapat sampai kepada maksudnya, seperti
pengetahuan tentang zat Allah dan hakikat sifat-sifat-Nya, pengetahuan tentang waktu kiamat
dan hal-hal gaib lainnya. Allah berfirman Q.S. al-Anam [6]: 59

....

Dan pada sisi Allah-lah kunci-kunci semua yang gaib; tidak ada yang mengetahuinya kecuali
Dia sendiri....
b.
Ayat-ayat yang setiap orang bisa mengetahui maksudnya melalui penelitian dan
pengkajian, seperti ayat-ayat Mutasyabihat yang kesamarannya timbul akibat ringkas, panjang,
urutan, dan seumpamanya. Allah berfirman Q.S. an-Nisa(4:3)
....

Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim,
Maka kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi....
Maksud ayat ini tidak jelas dan ketidak jelasanya timbul karena lafalnya yang ringkas. Kalimat
asal berbunyi :


...
Dan jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil terhadap (hak-hak) perempuan yang yatim
sekiranya kamu kawini mereka, maka kawinilah wanita-wanita selain mereka.
c.
Ayat-ayat Mutasyabihat yang maksudnya dapat diketahui oleh para ulama tertentu dan
bukan semua ulama.
Inilah yang diisyaratkan Nabi dengan doanya bagi Ibnu Abbas:

Ya Tuhanku, jadikanlah dia seorang yang paham dalam Agama, dan ajarkanlah kepadanya
takwil.
5.

Pandangan dan Sikap Ulama dalam Menghadapi Ayat Mutasyabih

Sedang menurut para ulama berbeda beda dalam memberikan pengertian al-muhkan dan almutasyabih diantaranya sebagai berikut :
Ulama Ahlus sunnah wal jamaah mengatakan lafadz muhkam adalah lafadz yang
diketahui mana maksudnya, baik karena memang sudah jelas artinya maupun karena dengan
di tawilkan. Sedang lafadz mutasyabih adalah lafadz yang pengetahuan artinya hanya
dimonopoli Allah SWT. Manusia tidak ada yang bisa mengetahuinya. Contohnya, terjadinya hari
kiamat, keluarnya Dajjal, artti dari huruf huruf muqathaah.

Ulama golongan Hanafiyah mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang jelas
petunjuknya, dan tidak mungkin telah dinaskh (dihapus hukumnya). Sedang
lafadzmutasyabih adalah lafadz yang sama maksud petunjuknya sehingga tidak terjangkau oleh
akal pikiran manusia ataupun tidak tercantum dalam dalil-dalil naskh. Sebab
lafadz mutasyabih itu termasuk hal-hal yang diketahui Allah saja artinya. Contohnya seperti halhal yang ghaib.
.
Mayoritas ulama golongan ahlu fiqh yang berasal dari pendapat sahabat Ibnu Abbas
mengatakan, lafadz muhkam ialah lafadz yang tidak bisa ditawil kecuali satu arah / segi saja.
Sedangkan lafadz mutasyabih adalah artinya dapat ditawilkan dalam beberapa arah / segi,
karena masih sama. Seperti masalah surga, neraka, dan sebagainya.[11]
6.

Metode Memahami Ayat Ayat Mutasyabih

Para Ulama dalam mamahami ayat ayat mutasyabihat yang terdapat dalam al-Qur'an
khususnya ayat ayat mengenai sifat sifat Allah terbagi dalam dua aliran.
a.
Madzhab salaf, yaitu para ulama dari generasi sahabat. Mereka ketika menghadapi
ayat mutasyabihat berusaha untuk mengimaninya dan menyerahkan makna serta
pengertiannya hanya kepada Allah SWT.
Bagi kaum salaf, ayat ayat mutasyabihat tidak perlu ditakwilkan. Sebab yang mengetahui
hakikatnya hanyalah Allah SWT, mereka hanya berusaha mengimaninya.
b.
Madzhab khalaf, iaitu para ulama berikutnya generasi berikutnya, seperti Imam Huramain.
Mereka berpendapat bahwa ayat ayat mutasyabihat yang secara lahir mustahil bagi Allah
SWT. harus ditetapkan maknanya dengan pengertian yang sesuai dan sedekat mungkin
dengan zat-Nya..
Mereka mentakwil lafz istiwa' (besemayam) dengan maha berkuasa menciptakan sesuatu
tanpa susah payah. Kalimat ja'a rabbuka (kedatangan Allah) dalam Qs. Al-Fajr : 22, ditakwilkan
dengan kedatangan perintah-Nya. Kata fauqa (diatas) didalam Qs. Al-An'am : 61, dengan
ketinggian yang bukan arah atau urusan dan lain sebagainya.

7.

Hikmah Diturunkannya Ayat Muhkam dan Mutasyabih

Ada pepatah yang mengatakan, khudil hikmata min ayyi wiain kharajat, ambillah hikmah dari
manapun keluar. Begitu pun dalam masalah Muhkam dan Mutasyabih. Muhammad Chirzin
menyimpulkan setidaknya ada tiga hikmah yang dapat kita ambil dari
persoalan Muhkam dan Mutasyabih tersebut, hikmah-hikmah itu adalah:
a.
Andaiakata seluruh ayat Al-Quran terdiri dari ayat-ayat Muhkamat, niscaya akan sirnalah
ujian keimanan dan amal lantaran pengertian ayat yang jelas.

b.
Seandainya seluruh ayat Al-Quran Mutasyabihat, niscaya akan lenyaplah kedudukannya
sebagai penjelas dan petunjuk bagi manusia orang yang benar keimanannya yakin bahwa AlQuran seluruhnya dari sis Allah, segala yang datang dari sisi Allah pasti hak dan tidak mungkin
bercampur dengan kebatilan.


Tidak akan datang kepadanya (Al-Quran) kebatilan, baik dari depan maupun dari belakang,
yang diturunkan dari Tuhan yang Maha Bijaksana lagi Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji. (Q.S.
Fussilat [41]: 42)
c.
Al-Quran yang berisi ayat-ayat Muhkamat dan ayat-ayat Mutasyabihat, menjadi motivasi
bagi umat Islam untuk teus menerus menggali berbagai kandungannya sehingga mereka akan
terhindar dari taklid, bersedia membaca Al-Quran dengan khusyu sambil merenung dan
berpikir. [13]
Menurut Yusuf Qardhawi, adanya Muhkam dan Mutasyabih sebenarnya merupakan kemahabijaksanaan-Nya Allah, bahwa Al-Quran ditujukan kepada semua kalangan, karena bagi
orang yang mengetahui berbagai tabiat manusia, di antara mereka ada yang senang terhadap
bentuk lahiriyah dan telah merasa cukup dengan bentuk literal suatu nash. Ada yang
memberikan perhatian kepada spritualitas suatunash, dan tidak merasa cukup dengan
bentuk lahiriyahnya saja, sehingga ada orang yang menyerahkan diri kepada Allah dan ada
orang yang melakukan pentakwilan, ada manusia intelek dan manusia spiritual.[14]

Muhkam
1.
Menjadi rahmat bagi manusia, khususnya yang kemampuan bhs. Arabnya lemah. Sebab
arti dan maknanya sudah cukup terang dan jelas.
2.

Memudahkan manusia mengetahui arti dan maksudnya serta menghayatinya.

3.
Mendorong umat untuk giat memahami, menghayati dan mengamalkan isi al-Qur'an
sebab ayatnya mudah dimengerti dan dipahami.
4.

Menghilangkan kesulitan dan kebingungan umatdalam mempelajari isinya.

5.

Mempercepat usaha tahfidzul Qur'an.[15]

Mutasyabih
1.
Rahmat Allah, sebab sifat dan dzat Allah itu ditampakkan kepada manusia yang lemah,
tidak mengetahui segala sesuatu.
2.
Sebagai bagian dari ujian kepada manusia, apakah dia akan tetap beriman terhadap
kabar-kabar yang hak itu, atau malah berpaling.

3.
Menampilkan dalil atas keberadaan manusia sebagai makhluk yang lemah dan
menampilkan syahid terhadap kekuasaan Allah

Mereka menjawab: "Maha Suci Engkau, tidak ada yang kami ketahui selain dari apa yang Telah
Engkau ajarkan kepada Kami; Sesungguhnya Engkaulah yang Maha mengetahui lagi Maha
Bijaksana". ( Qs. Al-Baqarah : 31 )
4.

Menegaskan Kemukjizatan al-Qur'an.

5.
Memudahkan bacaan, hafalan, dan pemahaman al-Qur'an. Sebab adanya
ayatmutasyabihatmutasyabihat sulit dimengerti, maka orang akan banyak berfikir.
6.
Menambah pahala usaha manusia dengan menambah sukarnya memahami ayat
ayat mutasyabihat.

Kalau hikmah ini kita kaitkan dengan dunia pendidikan, setidaknya Allah telah mengajarkan
ajaran Muhkam dan Mutasyabih kepada manusia agar kita mengakui adanya perbedaan
karakter pada setiap individu, sehingga kita harus menghargainya. Kalau kita sebagai guru,
sudah sepatutnya meneladani-Nya untuk kita aplikasikan dalam menyampaikan pelajaran yang
dapat diterima oleh peserta didik yang berbeda-beda dalam kecerdasan dan karakter.
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
Adapun yang dapat penulis simpulkan dari penulisan makalah ini adalah:
1.
Muhkam adalah ayat yang sudah jelas maksudnya ketika kita membacanya,
sehingga tidak menimbulkan keraguan dan memerlukan pentakwilan.
2.
Sedangkan mutasyabih adalah ayat-ayat yang perlu ditakwilkan, dan setelah
ditakwilkan baru kita dapat memahami tentang maksud ayat-ayat itu.
3.
Ayat-ayat mutasyabih adalah merupakan salah satu kajian dalam al-quran yang
para ulama menilainya dengan alasannya masing-masing menjadi dua macam, yaitu pendapat
ulama Salaf dan Khalaf.
4.
Kita dapat mengatakan bahwa semua ayat al-Quran itu Muhkam. Jika maksud
Muhkam adalah kuat dan kokoh. Tetapi kita dapat pula mengatakan bahwa semua ayat itu
adalah Mutasyabih, jika maksud Mutasyabih itu adalah kesamaan ayat-ayatnya dalam
hal Balaghah dan Ijaznya.
2. Saran
Ayat-ayat Muhkam dan Mutasyabih adalah dua hal yang saling melengkapi dalam AlQuran. Muhkam sebagai ayat yang tersurat merupakan bukti bahwa Al-Quran berfungsi
sebagai bayan (penjelas) dan hudan (petunjuk). Mutasyabih sebagai ayat yang tersirat
merupakan bukti bahwa Al-Quran berfungsi sebagai mukjizat dan kitab sastra
terbesar[17] sepanjang sejarah manusia yang tidak akan habis-habisnya untuk dikaji dan di
teliti. Sebagai ummat Islam hendaknya kita lebih merenungi lagi maksud-maksud Allah
menurunkan ayat-ayat tersebut dalam bentuk yang berlainan. Dan menjadikannya pedoman
dalam seiap langkah kita.

Akhirnya, Wallahu alam bi as-Sawab.

[1] Usman.Ulumul Quran, Yogyakarta: Teras. 2009, hal.220.


[2] Ibid.hal.220.
[3] Muhammad Chirzin. 2003. Al-Quran dan Ulumul Quran. Yogyakarta: PT. Dana Bhakti
Prima Yasa, hal. 70.
[4] Usman. Hal 220-221.
[5] Muhammad Chirzin Opcit, Hal, 71.
[6] Muhammad Chirzin, op.cit, hal 73.
[7] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii. 2000. Ulumul Quran I. Bandung: CV. Pustaka setia, hal.
201.
[8] Usman, opcit, hal 228.
[9] Usman, Opcit, hal 237-239
[10] Ahmad Syadali dan Ahmad Rofii. 2000. Ulumul Quran I. Bandung: CV. Pustaka setia, hal.
206.

[11] Drs. Miftah Faridl, Drs. Agus Syihabudin, Al-Quran Sumber Hukum Islam Yang Pertama,
Bandung, Pustaka, 1989, hlm., 241
[12] Drs. Moh. Chotib, Buku Ajar Ulumul Quran, Stain Pemekasan Press, 2006, hlm.265.
[13] Muhammad chirzin, Op.cit. hal. 74-75
[14]Yusuf, Qardhawi. 1997. Al-Quran dan As-Sunnah Referensi Tertinggi Umat Islam. Jakarta:
Rabbani Press. hal. 226.
[15] Prof. Dr. H. Abdul Djalal H. A., Ulumul Quran, Surabaya, Dunia Ilmu, 1998, hlm., 262.
[16] Drs. Miftah Faridl, Drs. Agus Syihabudin, Al-Quran Sumber H

http://laluhendrinuriskandar.blogspot.com/2012/12/12.01.ahad