Anda di halaman 1dari 4

Imobilisasi Pada Usia Lanjut

Definisi
Imobilisasi didefinisikan sebagai keadaan tidak bergerak/tirah baring selama 3 hari
atau lebih, dengan gerak anatomic tubuh menghilang akibat perubahan fungsi
fisiologik. Didalam praktik medic, istilah imobilisasi digunakan untuk
menggambarkan sebuah sindrom degernerasi fisiologis yang merupakan akibat
menurunnya aktivitas atau deconditioning.
Epidemiologi
Imobilisasi merupakan salah satu masalah kesehatan yang cukup besar di bidang
geriatric yang timbul sebagai akibat penyakit atau masalah psikososial yang diderita.
Di ruang rawat inap geriatric RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo Jakarta tahun 200
didapatkan prevalensi imobilisasi sebesar 33,6% dan pada tahun 2001 sebesar 31,5%.
Gejala dan Penyebab
1. Rasa Lemah, seringkali disebabkan oleh:
Malnutrisi, gangguan elektrolit, tidak digunakannya otot, anemia, gangguan
neurologis, atau miopati.
2. Rasa Kaku disebabkan oleh :
Osteoarthritis, penyakit Parkinson, artritis reumathoid, gout, dan obat obatan
anti psikotik.
3. Rasa Nyeri disebabkan oleh :
Kelainan tulang (Osteoporosis, osteomalacia, Pagets disease,
metastase kanker tulang, trauma)
Kelainan sendi ( Osteoartritis , Arthritis rheumatoid, gout)
Kelainan Otot ( Polimialgia, pseudoclaudication)
4. Ketidakseimbangan disebabkan oleh:
Kelemahan,
faktor neurologis ( Stroke, kehilangan reflek tubuh, neuropati karena
DM, malnutrisi, gangguan vestibular)
Hipotensi orthostatic
Obat obatan ( Diuretik, Anti hipertensi, Neuroleptik, antidepresan)
5. Gangguan fungsi kognitif

Komplikasi Imobilisasi
1. Trombosis: salah satu gangguan vaskular perifer yang penyebabnya bersifat
multifactorial. Kondisi imobilisasi akan menyebabkan terjadinya akumulasi leukosit
teraktivasi dan akumulasi Trombosit yang teraktivasi. Kondisi tersebut menyebabkan
gangguan pada sel-sel endotel dan juga memudahkan terjadinya trombosis.
2. Kelemahan otot: imobilisasi lama akan mengakibatkan atrofi otot dengan
penurunan ukuran dan kekuatan otot. Penurunan kekuatan otot diperkirakan 1-2
persen sehari. Kelemahan otot pada pasien dengan imobilisasi seringkali terjadi dan
berkaitan dengan penurunan fungsional, kelemahan, dan jatuh.
3. Kontraktur otot dan sendi: pasien yang mengalami tirah baring lama beresiko
mengalami kontraktur karena sendi-sendi tidak digerakkan. Akibatnya timbul rasa
nyeri yang menyebabkan seseorang semakin tidak mau menggerakkan sendi yang
kontraktur tersebut.
4. Osteoporosis: timbul sebagai akibat tidak keseimbangan antara resorpsi tulang dan
pembentukan tulang.
5. Ulkus dekubitus: pasien imobilisasi tidak bergerak pada malam hari karena tidak
adanya gerakan pasif maupun aktif. Faktor resiko timbulnya ulkus dekubitus ialah
semua jenis penyakit dan kodisi yang menyebabkan seseorang terbatas aktivitasnya.
6. Infeksi saluran kemih: aliran urin juga terganggu akibat tirah baring yang kemudian
menyebabkan infeksi saluran kemih lebih mudah terjadi. Inkontinensia urin juga
sering terjadi pada usia lanjut yang mengalami imobilisasi.
7. Gangguan nutrisi: imobilisasi akan mempengaruhi sistem metabolic dan endokrin
yang akibatnya akan terjadi perubahan terhadap metabilosme zat gizi.
8. Konstipasi dan skibala merupakan masalah utama pada usia lanjut dengan
imobilisasi, karena akan menurunkan waktu tinggal feses di kolon.

Upaya pencegahan komplikasi


Pencegahan timbulnya komplikasi dapat dilakukan dengan memberikan
penatalaksanaan yang tepat terhadap imobilisasi. Penatalaksanaan yang dapat
dilakukan meliputi penatalaksanaan farmakologik dan Non farmakologik
1. Non Farmakologis
Penatalaksanaan non farmakologis memegang peran penting dalam
mencegah terjadinya komplikasi akibat imobilisasi. Berbagai upaya yang
dapat dilakukan adalah dengan beberapa terapi fisik dan latihan jasmani
secara teratur. Pada pasien yang mengalami tirah baring total, perubahan
posisi secara teratur dan latihan di tempat tidur dapat mencegah terjadinya
kelemahan dan kontraktur otot serta kontraktur sendi. Selain itu mobilisasi
dini berupa turun dari tempat tidur, berpindah dari tempat tidur ke kursi
dan latian fungsional dapat dilakukan secara bertahap. Latihan isometric
secara teratur 10-20% dari tekanan maksimal selama beberapa kali dalam
sehari dapat dilakukan untuk mempertahankan kekuatan isometric. Untuk
mencegah terjadinya kontraktur otot dapat dilakukan latihan gerakan pasif
sebanyak satu atau dua kali sehari selama 20 menit.
Untuk mencegah terjadinya decubitus, hala yang harus dilakukan
adalah menghilangkan penyebab terjadinya ulkus yaitu bekas tekanan pada
kulit. Untuk itu dapat dilakukan perubahan posisi lateral 30 derajat,
penggunaan kasur anti decubitus atau menggunakan bantal berongga. Pada
pasien dengan kursi roda dapat dilakuakan reposisi setiap jam atau
diistirahatkan dari duduk. Melatih pergerakan dengan memiringkan pasien
ke kiri dan ke kanan serta mencegah terjadinya gesekan juga mencegah
decubitus. Pemberian minyk setelah mandi atau mengompol dapt
dilakukan untuk mencegah maserasi.
Program latihan jasmani yang dilakukan harus disesuaikan dengan
kondisi pasien, berdasarkan ada tidaknya penyakit, status iobilisasinya,
tingkat aktivitas, dan latihannya. Pasien yang baru sembuh dari penyakit
akut tetapi masih belum banyak bergerak harus menghindari latihan
jasmani yang berat secara tiba tiba.

Kontrol tekanan darah secara teratur dan pengguanan obat obatan yang
menyebabkan penurunan tekanan darah serta mobilisasi dini perlu
dilakukan untuk mencegah hipotensi. Latihan kekuatan otot serta kontraksi
abdomen dan otot pada kaki menyebabkan aliran darah balik vena lebih
efisien. Khusus untuk mencegah terjadinya thrombosis, dapat dilakukan
kompresi intermitten pada tungkai bawah Teknik tersebut meingkatkan
aliran darah dari vena kaki dan menstimulasi aktivitas fibrinolitik.
Kompresi intermitten bebas dari efek samping tapi merupakan kontra
indikasi pada pasien dengan vascular perifer.
Monitor asupan cairan dan makanan yang mengandung serat, perlu
untuk mencegah terjadinya konstipasi dan malnutrisi pada pasien
imobilisasi. Pemberian vitamin dan mineral penting untuk pasien yang
mengalami hipokinesis.
2. Farmakologis
Penatalaksanaan farmakologis yang diberikan sebagai salah satu upaya
pencegahan komplikasi akibat imobilisasi, terutama pencegahan terhadap
terjadinya thrombosis. Pemberian antikoagulan dapat diberi pada pasien
geriatric dengan imobilisasi. Low dose heparin merupakan profilaksis
yang aman untuk pasien geriatric dengan imobilisasi dan resiko
thrombosis non pembedahan terutama stroke. Namun pemberian
antikoagulan pada pasien geriatric perlu dilakukan dengan penuh
pertimbangan. Penurunan faal organ ginjaldan hati serta adanya interaksi
obat terutama antara warfarin dengan beberapa obat analgetik atau NSAID
merupakan hal yang harus amat diperhatikan.