Anda di halaman 1dari 20

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Sistem Saluran Kemih
Sistem saluran kemih adalah suatu sistem dimana terjadinya proses
penyaringan darah sehingga darah bebas dari zat-zat yang tidak dipergunakan oleh
tubuh dan menyerap zat-zat yang masih dipergunakan oleh tubuh. Zat-zat yang tidak
dipergunakan oleh tubuh larut dalam air dan dikeluarkan berupa urin (air kemih).
Sistem saluran kemih terdiri dari ginjal, ureter, kandung kemih (vesika urinaria) dan
uretra.16 Sistem saluran kemih pada manusia dapat dilihat pada gambar berikut :

Gambar 1. Sistem Saluran Kemih Pada Manusia17


2.1.1 Ginjal
Masing-masing ginjal mempunyai panjang kira-kira 12 cm dan lebar 2,5 cm
pada bagian paling tebal dan berbentuk seperti kacang. Terletak pada bagian belakang

Universitas Sumatera Utara

abdomen. Ginjal kanan terletak lebih rendah dari ginjal kiri karena ada hepar di sisi
kanan.18
Ginjal memiliki tiga bagian penting yaitu korteks, medulla dan pelvis renal.
Bagian paling superfisial adalah korteks renal, yang tampak bergranula. Di sebelah
dalamnya terdapat bagian lebih gelap, yaitu medulla renal, yang berbentuk seperti
kerucut disebut piramid renal, dengan dasarnya menghadap korteks dan puncaknya
disebut apeks atau papilla renal. Di antara piramid terdapat jaringan korteks, disebut
kolum renal (Bertini).18
Ujung ureter yang berpangkal di ginjal, berbentuk corong lebar disebut pelvis
renal. Pelvis renal bercabang dua atau tiga, disebut kaliks mayor yang masing-masing
bercabang membentuk beberapa kaliks minor, yang langsung menutupi papilla renal
dari piramid. Kaliks minor ini menampung urin yang terus-menerus keluar dari
papila. Dari kaliks minor, urin masuk ke kaliks mayor, ke pelvis renal kemudian ke
ureter, sampai akhirnya ditampung di dalam kandung kemih.18
Setiap ginjal terdapat satu juta atau lebih nefron, masing-masing nefron terdiri
atas komponen vaskuler dan tubuler. Komponen vaskuler terdiri atas pembuluhpembuluh darah, yaitu glomerulus dan kapiler peritubuler, yang mengitari tubuli.
Komponen tubuler berawal dengan kapsula Bowman (glomerular) dan mencakup
tubuli kontortus proksimal, ansa Henle dan tubuli kontortus distal. Dari tubuli distal,
isinya disalurkan ke dalam duktus koligens (saluran penampung atau pengumpul).18,19
Kedua ginjal menghasilkan sekitar 125 ml filtrat per menit; dari jumlah ini,
124 ml diabsorpsi dan hanya 1 ml dikeluarkan ke dalam kaliks-kaliks sebagai urin.20
Ginjal berfungsi untuk mengatur keseimbangan air dan elektrolit berupa ekskresi

Universitas Sumatera Utara

kelebihan air dan elektrolit, mempertahankan keseimbangan asam basa, mengekskresi


hormon, berperan dalam pembentukan vitamin D, mengekskresi beberapa obatobatan dan mengekskresi renin yang turut dalam pengaturan tekanan darah.19,21
Berikut ini adalah gambar anatomi ginjal :

Gambar 2. Anatomi Ginjal22


2.1.2 Ureter
Ureter terdiri dari dua saluran pipa yang masing-masing menyambung dari
ginjal ke kandung kemih (vesika urinaria). Panjangnya kira-kira 25-30 cm, dengan
penampang 0,5 cm. Ureter sebagian terletak dalam rongga abdomen dan sebagian
terletak dalam rongga pelvis.16
Ureter mempunyai membran mukosa yang dilapisi dengan epitel kuboid dan
dinding otot yang tebal. Urin disemprotkan ke bawah ureter oleh gelombang

Universitas Sumatera Utara

peristaltik, yang terjadi sekitar 1-4 kali per menit dan urin memasuki kandung kemih
dalam bentuk pancaran.16,19
2.1.3 Kandung Kemih
Kandung kemih adalah kantong yang terbentuk dari otot tempat urin mengalir
dari ureter. Ketika kandung kemih kosong atau terisi setengahnya kandung kemih
tersebut terletak di dalam pelvis, ketika kandung kemih terisi lebih dari setengahnya
maka kandung kemih tersebut menekan dan timbul ke atas dalam abdomen di atas
pubis.21 Dinding kandung kemih terdiri dari lapisan sebelah luar (peritonium), Tunika
muskularis (lapisan otot), Tunika sabmukosa, dan lapisan mukosa (lapisan bagian
dalam).16
2.1.4 Uretra
Bagian akhir saluran keluar yang menghubungkan kandung kemih dengan
luar tubuh ialah uretra. Uretra pria sangat berbeda dari uretra wanita. Pada laki-laki,
sperma berjalan melalui uretra waktu ejakulasi. Uretra pada laki-laki merupakan tuba
dengan panjang kira-kira 20 cm dan memanjang dari kandung kemih ke ujung penis.
Uretra pada laki-laki mempunyai tiga bagian yaitu : uretra prostatika, uretra
membranosa dan uretra spongiosa.20,21
Uretra wanita jauh lebih pendek daripada pria, karena hanya 4 cm panjangnya
dan memanjang dari kandung kemih ke arah ostium diantara labia minora kira-kira
2,5 cm di sebelah belakang klitoris. Uretra ini menjalar tepat di sebelah depan vagina.
Lapisan uretra wanita terdiri dari Tunika muskularis (sebelah luar), lapisan spongiosa
dan lapisan mukosa (lapisan sebelah dalam).16,21

Universitas Sumatera Utara

10

2.2 Pengertian BSK


Batu saluran kemih adalah penyakit dimana didapatkan batu di dalam saluran
kemih. Batu tersebut dibentuk dalam pelvik ginjal, menetap dan menjadi lebih besar,
atau bergerak turun sepanjang ureter ke dalam kandung kemih atau dapat terbentuk di
dalam kandung kemih itu sendiri. Selain itu, batu dapat juga dibentuk dalam uretra.21
2.3 Penyebab3,23
Penyebab BSK masih belum diketahui dengan pasti. Pembentukan BSK
merupakan hasil interaksi beberapa proses yang kompleks, merupakan komplikasi
atau salah satu manifestasi dari berbagai penyakit atau kelainan yang mendasarinya.
Beberapa teori terbentuknya BSK, yaitu :
1. Teori Supersaturasi/Kristalisasi
Urin mempunyai kemampuan melarutkan lebih banyak zat yang terlarut bila
dibandingkan dengan air biasa. Dengan adanya molekul-molekul zat organik
seperti urea, asam urat, sitrat dan mukoprotein, juga akan mempengaruhi
kelarutan zat-zat lain. Bila konsentrasi zat-zat yang relatif tidak larut dalam urin
(kalsium, oksalat, fosfat dan sebagainya) makin meningkat, maka akan terbentuk
kristalisasi zat-zat tersebut. Batasan pH urin normal antara 4,5-8. Bila air kemih
menjadi asam (pH turun) dalam jangka lama maka beberapa zat seperti asam urat
akan mengkristal. Sebaliknya bila air kemih menjadi basa (pH naik) maka
beberapa zat seperti kalsium fosfat akan mengkristal. Dengan demikian,
pembentukan batu pada saluran kemih terjadi bila keadaan urin kurang dari atau

Universitas Sumatera Utara

11

melebihi batas pH normal sesuai dengan jenis zat pembentuk batu dalam saluran
kemih.
2. Teori Nukleasi/Adanya Nidus
Nidus atau nukleus yang terbentuk, akan menjadi inti presipitasi yang kemudian
terjadi. Zat/keadaan yang dapat bersifat sebagai nidus adalah ulserasi mukosa,
gumpalan darah, tumpukan sel epitel, bahkan juga bakteri, jaringan nekrotik
iskemi yang berasal dari neoplasma atau infeksi dan benda asing.
3. Teori Tidak Adanya Inhibitor
Supersaturasi kalsium, oksalat dan asam urat dalam urin dipengaruhi oleh adanya
inhibitor kristalisasi. Hal inilah yang dapat menjelaskan mengapa pada sebagian
individu terjadi pembentukan batu saluran kemih, sedangkan pada individu lain
tidak, meskipun sama-sama terjadi supersaturasi. Terbentuk atau tidaknya batu di
dalam saluran kemih ditentukan juga oleh adanya keseimbangan antara zat-zat
pembentuk batu dan penghambat (inhibitor). Ternyata pada penderita batu saluran
kemih, tidak didapatkan zat yang bersifat sebagai inhibitor dalam pembentukan
batu. Magnesium, sitrat dan pirofosfat telah diketahui dapat menghambat
pembentukan nukleasi (inti batu) spontan kristal kalsium. Zat lain yang
mempunyai peranan inhibitor, antara lain : asam ribonukleat, asam amino
terutama alanin, sulfat, fluorida, dan seng.
4. Teori Epitaksi
Epitaksi adalah peristiwa pengendapan suatu kristal di atas permukaan kristal
lain. Bila pada penderita ini, oleh suatu sebab terjadi peningkatan masukan
kalsium dan oksalat, maka akan terbentuk kristal kalsium oksalat. Kristal ini

Universitas Sumatera Utara

12

kemudian akan menempel di permukaan kristal asam urat yang telah terbentuk
sebelumnya, sehingga tidak jarang ditemukan batu saluran kemih yang intinya
terjadi atas asam urat yang dilapisi oleh kalsium oksalat di bagian luarnya.
5. Teori Kombinasi
Teori terakhir mengenai pembentukan BSK adalah gabungan dari berbagai teori
tersebut yang disebut dengan teori kombinasi. Terbentuknya BSK dalam teori
kombinasi adalah sebagai berikut : Pertama, fungsi ginjal harus cukup baik untuk
mengekskresi zat yang dapat membentuk kristal secara berlebihan. Kedua, ginjal
harus dapat menghasilkan urin dengan pH yang sesuai untuk kristalisasi. Dari
kedua hal tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa ginjal harus mampu
melakukan ekskresi suatu zat secara berlebihan dengan pH urin yang sesuai
sehingga terjadi presipitasi zat-zat tersebut. Ketiga, urin harus tidak mengandung
sebagian atau seluruh inhibitor kristalisasi. Keempat, kristal yang telah terbentuk
harus berada cukup lama dalam urin, untuk dapat saling beragregasi membentuk
nukleus, yang selanjutnya akan mengganggu aliran urin. Statis urin yang terjadi
kemudian, memegang peranan penting dalam pembentukan batu saluran kemih,
sehingga nukleus yang telah terbentuk dapat tumbuh.
2.4 Klasifikasi BSK
Umumnya BSK dapat dibagi dalam 4 jenis yaitu :
1. Batu Kalsium
Batu jenis ini adalah jenis batu yang paling banyak ditemukan, yaitu 70-80%
dari jumlah pasien BSK. Ditemukan lebih banyak pada laki-laki, rasio pasien laki-

Universitas Sumatera Utara

13

laki dibanding wanita adalah 3:1, dan paling sering ditemui pada usia 20-50 tahun.
Kandungan batu ini terdiri atas kalsium oksalat, kalsium fosfat atau campuran dari
keduanya.3 Kelebihan kalsium dalam darah secara normal akan dikeluarkan oleh
ginjal melalui urin. Penyebab tingginya kalsium dalam urin antara lain peningkatan
penyerapan kalsium oleh usus, gangguan kemampuan penyerapan kalsium oleh ginjal
dan peningkatan penyerapan kalsium tulang.24
2. Batu Infeksi/Struvit
Batu struvit disebut juga batu infeksi, karena terbentuknya batu ini disebabkan
oleh adanya infeksi saluran kemih.3 Adanya infeksi saluran kemih dapat
menimbulkan gangguan keseimbangan bahan kimia dalam urin. Bakteri dalam
saluran kemih mengeluarkan bahan yang dapat menetralisir asam dalam urin
sehingga bakteri berkembang biak lebih cepat dan mengubah urin menjadi bersuasana
basa. Suasana basa memudahkan garam-garam magnesium, ammonium, fosfat dan
karbonat membentuk batu magnesium ammonium fosfat (MAP) dan karbonat apatit.
Terdapat pada sekitar 10-15% dari jumlah pasien BSK. Lebih banyak pada wanita,
dengan rasio laki-laki dibanding wanita yaitu 1:5. Batu struvit biasanya menjadi batu
yang besar dengan bentuk seperti tanduk (staghorn).24
3. Batu Asam Urat
Ditemukan 5-10% pada penderita BSK. Rasio laki-laki dibanding wanita
adalah 3:1. Sebagian dari pasien jenis batu ini menderita Gout, yaitu suatu kumpulan
penyakit yang berhubungan dengan meningginya atau menumpuknya asam urat. Pada
penyakit jenis batu ini gejala sudah dapat timbul dini karena endapan/kristal asam
urat (sludge) dapat menyebabkan keluhan berupa nyeri hebat (colic), karena endapan

Universitas Sumatera Utara

14

tersebut menyumbat saluran kencing. Batu asam urat bentuknya halus dan bulat
sehingga sering kali keluar spontan. Batu asam urat tidak tampak pada foto polos.3,24
4. Batu Sistin
Jarang ditemukan, terdapat pada sekitar 1-3% pasien BSK. Penyakit batu jenis
ini adalah suatu penyakit yang diturunkan. Batu ini berwarna kuning jeruk dan
berkilau. Rasio laki-laki dibanding wanita adalah 1:1. Batu lain yang juga jarang
yaitu Batu Silica dan Batu Xanthine.24
2.5 Epidemiologi BSK
2.5.1 Distribusi dan Frekuensi
Setiap tahunnya penduduk Amerika Serikat menderita BSK sekitar 250.000
sampai 750.000.11 Penyakit BSK umumnya lebih sering ditemukan pada pria daripada
wanita, biasanya di atas usia 30 tahun sampai 50 tahun.24
Penelitian Tarihoran YM pada tahun 2001-2002 di RSUP. H. Adam Malik
Medan terdapat 105 pasien BSK dengan kelompok umur terbanyak 30-50 tahun yaitu
sebesar 46,6% dan jenis kelamin pria lebih banyak daripada wanita dengan proporsi
64,8%.13 Berdasarkan hasil penelitian Rao di India (2006), ditemukan insidens BSK
pada perempuan lebih rendah (26,6%) daripada laki-laki (73,4%).7
Penelitian yang dilakukan oleh Hardjoeno dkk pada tahun 2002-2004 di RS
dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar melaporkan sebanyak 199 pasien penderita BSK
dengan rasio perbandingan pria dan wanita adalah 3-4:1, dan ditemukan jumlah kasus
terbanyak pada umur 31-45 tahun yaitu sebesar 35,7%.11

Universitas Sumatera Utara

15

2.5.2 Faktor yang Mempengaruhi Kejadian BSK


a. Usia
Lebih sering ditemukan pada usia 30-50 tahun.3
b. Jenis kelamin
Jumlah penderita laki-laki lebih banyak tiga kali dibandingkan dengan
perempuan. Hal ini disebabkan oleh perbedaan struktur anatomi saluran kemih
antara laki-laki dan perempuan serta faktor hormone estrogen yang mencegah
terjadinya agregasi garam kalsium.3
c. Pekerjaan
Pekerja-pekerja keras yang banyak bergerak, misalnya buruh dan petani akan
mengurangi terjadinya BSK bila dibandingkan dengan pekerja-pekerja yang lebih
banyak duduk.3,24
d. Air minum
Memperbanyak diuresis dengan cara banyak minum akan mengurangi
terbentuknya batu, sedangkan bila kurang minum menyebabkan kadar semua
substansi dalam urin akan meningkat dan akan mempermudah pembentukan batu.
Kejenuhan air yang diminum sesuai dengan kadar mineralnya terutama kalsium
diperkirakan mempengaruhi terbentuknya BSK.25,26
e. Makanan
Konsumsi makanan tinggi protein yang berlebihan dan garam akan meningkatkan
pembentukan BSK. Diet banyak purin (kerang-kerangan, anggur), oksalat (teh,
kopi, cokelat, minuman soda, bayam), kalsium (daging, susu, kaldu, ikan asin dan
jeroan) mempermudah terjadinya penyakit BSK. Makan-makanan yang banyak

Universitas Sumatera Utara

16

mengandung serat dan protein nabati mengurangi risiko BSK dan makanan yang
mengandung lemak dan protein hewani akan meningkatkan risiko BSK.3,26
f. Riwayat Keluarga/keturunan
Riwayat anggota keluarga sebelumnya yang pernah menderita BSK akan
memberikan resiko lebih besar timbulnya gangguan/penyakit BSK pada anggota
keluarga lainnya. Lebih kurang 30-40% penderita kalsium oksalat mempunyai
riwayat keluarga yang positif menderita BSK. Namun sampai saat ini bagaimana
peranan faktor keturunan dalam terjadinya BSK masih belum diketahui dengan
jelas.25,26
g. Infeksi Saluran Kemih
Infeksi saluran kemih dapat menyebabkan nekrosis jaringan ginjal dan akan
menjadi inti pembentukan BSK. Infeksi oleh bakteri yang memecah ureum dan
membentuk amonium akan mengubah pH urin menjadi alkali dan akan
mengendapkan garam-garam fosfat sehingga akan mempercepat pembentukan
batu yang telah ada.25
h. Iklim dan temperatur/suhu
Individu yang menetap di daerah beriklim panas dengan paparan sinar ultraviolet
tinggi akan cenderung mengalami dehidrasi serta peningkatan produksi vitamin D
(memicu peningkatan ekskresi kalsium dan oksalat), sehingga insiden BSK akan
meningkat. Tempat yang bersuhu panas misalnya di daerah tropis, di kamar
mesin, menyebabkan banyak mengeluarkan keringat, akan mengurangi produksi
urin dan mempermudah pembentukan BSK.3,26

Universitas Sumatera Utara

17

i. Geografi
Pada beberapa daerah menunjukkan angka kejadian BSK yang lebih tinggi
daripada daerah lain sehingga dikenal sebagai daerah stone belt (sabuk batu).3
2.6 Gejala Klinis/Keluhan BSK
Batu dalam saluran kemih bagian atas (ginjal dan ureter), biasanya akan
menyebabkan keluhan sakit. Keluhan yang timbul tergantung dari lokasi batu, dan
besar batu.3
Gejala klinis/keluhan yang ditimbulkan antara lain demam, nausea (mual),
vomiting (muntah) dan sakit atau nyeri disekitar pinggang, nyeri sewaktu buang air
kecil (BAK) bahkan susah BAK, BAK berdarah (hematuria), BAK berpasir
(kristaluria) dan pembengkakkan daerah punggung bawah.
1. Rasa Nyeri
Biasanya penderita mengeluhkan rasa nyeri yang berulang (kolik) tergantung
dari letak batu. Batu yang berada di ginjal akan menimbulkan dua macam nyeri, yaitu
nyeri kolik ginjal dan nyeri ginjal bukan kolik. Kolik ginjal biasanya disebabkan oleh
peregangan urinary collecting system (system pelviokalises), sedangkan nyeri ginjal
bukan kolik disebabkan distensi dari kapsul ginjal. Batu ureter akan memberi gejala
kolik ureter, nyeri hebat di daerah punggung atau fosa iliaka yang letaknya lebih
rendah daripada kolik ginjal, dapat menyebar ke atas ke daerah ginjal atau ke bawah
sampai ke testis atau labia mayor.23,26

Universitas Sumatera Utara

18

2. Demam
Timbulnya demam merupakan tanda-tanda adanya kuman yang beredar di
dalam darah. Biasanya gejala yang timbul selain demam adalah jantung berdebardebar, tekanan darah rendah dan pelebaran pembuluh darah di kulit. Demam akibat
obstruksi saluran kemih memerlukan dekompresi secepatnya.26,27
3. Hematuria dan Kristaluria
Hematuria adalah adanya darah yang keluar bersama urin. Namun lebih
kurang 10-15% penderita BSK tidak menderita hematuria. Kristaluria adalah urin
yang disertai dengan pasir atau batu.3,26
4. Nausea dan Vomiting
Obstruksi saluran kemih bagian atas sering menimbulkan mual dan muntah.26
5. Pembengkakkan daerah punggung bawah
Penyumbatan saluran kemih bagian atas yang akut ditandai dengan rasa sakit
punggung bagian bawah. Pada sumbatan yang berlangsung lama, kadang-kadang
dapat diraba adanya pembengkakkan ginjal yang membesar (Hidronefrosis).28
6. Infeksi
Biasanya dengan gejala-gejala menggigil, demam, nyeri pinggang, nausea
serta muntah dan disuria. Secara umum infeksi pada batu struvit (batu infeksi)
berhubungan dengan infeksi dari Proteus sp, Pseudomonas sp, Klebsiella sp.26

Universitas Sumatera Utara

19

2.7 Pemeriksaan dan Diagnosis BSK


2.7.1 Fisik26,27
Hasil pemeriksaan fisik antara lain :
a. Kadang-kadang teraba ginjal yang mengalami hidronefrosis/obstruktif.
b. Nyeri tekan/ketok pada pinggang.
c. Batu uretra anterior bisa di raba.
d. Pada keadaan akut paling sering ditemukan adalah kelembutan di daerah
pinggul (flank tenderness), ini disebabkan oleh hidronefrosis akibat obstruksi
sementara yaitu saat batu melewati ureter menuju kandung kemih.
2.7.2 Laboratorium
Pada urin biasanya dijumpai hematuria dan kadang-kadang kristaluria.
Hematuria biasanya terlihat secara mikroskopis, dan derajat hematuria bukan
merupakan ukuran untuk memperkirakan besar batu atau kemungkinan lewatnya
suatu batu. Tidak adanya hematuria dapat menyokong adanya suatu obstruksi
komplit, dan ketiadaan ini juga biasanya berhubungan dengan penyakit batu yang
tidak aktif. Pada pemeriksaan sedimen urin, jenis kristal yang ditemukan dapat
memberi petunjuk jenis batu. Pemeriksaan pH urin < 5 menyokong suatu batu asam
urat, sedangkan bila terjadi peningkatan pH (7) menyokong adanya organisme
pemecah urea seperti Proteus sp, Klebsiella sp, Pseudomonas sp dan batu struvit. 23,26

Universitas Sumatera Utara

20

2.7.3 Radiologis 3,23,27


Ada beberapa jenis pemeriksaan radiologis yaitu :
a. Foto polos abdomen
Foto polos abdomen dapat menentukan besar, macam dan lokasi batu
radiopaque. Batu-batu jenis kalsium oksalat dan kalsium fosfat bersifat
radiopaque dan paling sering dijumpai diantara batu jenis lain, sedangkan batu
asam urat bersifat radiolusen.
b. Intravenous Pyelogram (IVP)
IVP dapat menentukan dengan tepat letak batu, terutama batu-batu yang
radiolusen dan untuk melihat fungsi ginjal. Selain itu IVP dapat mendeteksi
adanya batu semi opaque ataupun batu non opaque yang tidak dapat terlihat
oleh foto polos abdomen.
c. CT Scan
CT Scan (Computerized Tomography) adalah tipe diagnosis sinar X yang
dapat membedakan batu dari tulang atau bahan radiopaque lain.
d. Retrograte Pielografi (RPG)
Dilakukan bila pada kasus-kasus di mana IVP tidak jelas, alergi zat kontras,
dan IVP tidak mungkin dilakukan.
e. Ultrasonografi (USG)
USG dilakukan bila pasien tidak mungkin menjalani pemeriksaan IVP, yaitu
pada keadaan-keadaan : alergi terhadap bahan kontras, faal ginjal yang
menurun dan pada wanita yang sedang hamil. USG ginjal merupakan
pencitraan yang lebih peka untuk mendeteksi batu ginjal dan batu radiolusen

Universitas Sumatera Utara

21

daripada foto polos abdomen. Cara terbaik untuk mendeteksi BSK ialah
dengan kombinasi USG dan foto polos abdomen. USG dapat melihat
bayangan batu baik di ginjal maupun di dalam kandung kemih dan adanya
tanda-tanda obstruksi urin.
f. Radioisotop
Untuk mengetahui fungsi ginjal secara satu persatu, sekaligus adanya
sumbatan pada gagal ginjal.
2.8 Penatalaksanaan Medis BSK
Berhasilnya penatalaksanaan medis BSK ditentukan oleh lima faktor yaitu :
ketetapan diagnosis, lokasi batu, adanya infeksi dan derajat beratnya, derajat
kerusakan fungsi ginjal, serta tata laksana yang tepat. Terapi dinyatakan berhasil bila:
keluhan menghilang, kekambuhan batu dapat dicegah, infeksi telah dapat dieradikasi
dan fungsi ginjal dapat dipertahankan.23
2.8.1 Terapi Konservatif
Batu kecil dalam ginjal yang tidak memberi tanda (silent stone) dapat diobati
secara konservatif dengan menunggu sampai batu dapat keluar dengan sendiri. Pasien
diberikan air minum minimal 2-3 liter per hari. Selain itu juga dilakukan pembatasan
diet kalsium, oksalat, natrium, fosfat dan protein tergantung pada penyebab batu.28
2.8.2 Pengobatan Medik Selektif dengan Pemberian Obat-obatan
Pemberian obat-obatan pada penderita BSK bertujuan mengurangi rasa sakit
yang hebat, mengusahakan agar batu keluar spontan, disolusi batu dan mencegah
kambuhnya batu. Beberapa jenis obat yang diberikan antara lain spasmolitika yang

Universitas Sumatera Utara

22

dicampur dengan analgesik untuk mengatasi nyeri, kalium sitrat untuk meningkatkan
pH urin, selulosa fosfat untuk menghambat absorbsi usus, antibiotika untuk
mencegah infeksi, tiazid untuk diuresis dan sebagainya.23
2.8.3 Tanpa Operasi
1. Medikamentosa
Terapi medikamentosa ditujukan untuk batu yang ukurannya kurang dari 5
mm, karena diharapkan batu dapat keluar spontan. Terapi yang diberikan
bertujuan untuk mengurangi nyeri, memperlancar aliran urin dengan
pemberian diuretikum, dan minum banyak supaya dapat mendorong batu
keluar dari saluran kemih.3
2. Extracorporeal Shock Wave Lithotripsy (ESWL)
Alat ESWL adalah pemecah batu yang diperkenalkan pertama kali oleh
Caussy pada tahun 1980. Alat ini dapat memecah batu ginjal, batu ureter
proksimal atau batu kandung kemih tanpa melalui tindakan invasif dan tanpa
pembiusan. Batu dipecah menjadi fragmen-fragmen kecil sehingga mudah
dikeluarkan melalui saluran kemih. Tidak jarang pecahan-pecahan batu yang
sedang keluar menimbulkan perasaan nyeri kolik dan menyebabkan
hematuria.3,28
Persyaratan BSK yang dapat ditangani dengan ESWL :
a. Batu ginjal berukuran mulai dari 5 mm hingga 20 mm.
b. Batu ureter berukuran 5 mm hingga 10 mm.
c. Fungsi ginjal masih baik.
d. Tidak ada sumbatan distal dari batu.

Universitas Sumatera Utara

23

3. Endourologi
Tindakan endourologi adalah tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan
BSK yang terdiri atas memecah batu, dan mengeluarkannya dari saluran
kemih melalui alat yang dimasukkan langsung ke dalam saluran kemih. Alat
itu dimasukkan melalui uretra atau melalui insisi kecil pada kulit (perkutan).
Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik, dengan memakai
energi hidroulik, energi gelombang suara atau energi laser.3
2.8.4 Tindakan Operasi3
1. Bedah Laparoskopi
Pembedahan laparoskopi untuk mengambil BSK saat ini sedang berkembang.
Cara ini banyak dipakai untuk mengambil batu ureter.
2. Bedah Terbuka
Di klinik-klinik yang belum mempunyai fasilitas yang memadai untuk
tindakan-tindakan endourologi, laparoskopi maupun ESWL, pengambilan
batu masih dilakukan melalui pembedahan terbuka. Pembedahan terbuka itu
antara lain adalah : pielolitomi atau nefrolitotomi untuk mengambil batu pada
saluran ginjal, dan ureterolitotomi untuk batu di ureter. Tidak jarang pasien
harus menjalani tindakan nefrektomi atau pengambilan ginjal karena ginjalnya
sudah tidak berfungsi dan berisi nanah (pionefrosis), korteksnya sudah sangat
tipis atau mengalami pengkerutan akibat BSK yang menimbulkan obstruksi
dan infeksi yang menahun.

Universitas Sumatera Utara

24

2.9 Pencegahan BSK.3,26,27,29


2.9.1 Pencegahan Primer
Tujuan pencegahan primer adalah untuk mencegah agar penyakit tidak terjadi,
dengan mengendalikan faktor penyebab suatu penyakit. Kegiatan yang dilakukan
meliputi promosi kesehatan, pendidikan kesehatan dan perlindungan kesehatan.
Pencegahan primer penyakit BSK seperti minum air putih yang banyak. Konsumsi air
putih minimal 2 liter per hari akan meningkatkan produksi urin. Konsumsi air putih
juga akan mencegah pembentukan kristal urin yang dapat menyebabkan terjadinya
batu. Selain itu, dilakukan pengaturan pola makan yang dapat meningkatkan risiko
pembentukan BSK seperti, membatasi konsumsi daging, garam dan makanan tinggi
oksalat (sayuran berwarna hijau, kacang, coklat), dan sebagainya. Aktivitas fisik
seperti olahraga juga sangat dianjurkan, terutama bagi yang pekerjaannya lebih
banyak duduk.
2.9.2 Pencegahan Sekunder
Pencegahan sekunder bertujuan untuk mengurangi keparahan penyakit dengan
melakukan diagnosis dan pengobatan dini. Untuk jenis penyakit yang sulit diketahui
kapan penyakit timbul, diperlukan pemeriksaan teratur yang dikenal dengan
pemeriksaan Check-up. Pemeriksaan urin dan darah dilakukan secara berkala, bagi
yang pernah menderita BSK sebaiknya dilakukan setiap tiga bulan atau minimal
setahun sekali. Tindakan ini juga untuk mendeteksi secara dini apabila terjadi
pembentukan BSK yang baru. Untuk pengobatan, pemberian obat-obatan oral dapat
diberikan tergantung dari jenis gangguan metabolik dan jenis batu. Pengobatan lain
yang dilakukan yaitu melakukan kemoterapi dan tindakan bedah (operasi).

Universitas Sumatera Utara

25

2.9.3 Pencegahan Tersier


Pencegahan tersier mencakup pembatasan terhadap segala ketidakmampuan
dengan menyediakan rehabilitasi saat penyakit, cedera atau ketidakmampuan sudah
terjadi dan menimbulkan kerusakan. Kegiatan yang dilakukan meliputi rehabilitasi
(seperti konseling kesehatan) agar orang tersebut lebih berdaya guna, produktif dan
memberikan kualitas hidup yang sebaik mungkin sesuai dengan kemampuannya.

Universitas Sumatera Utara