Anda di halaman 1dari 6

Budidaya Jahe Merah dengan karung

Budidaya Jahe Dengan Teknik Vertikultur Media Karung atau Polybag


Teknik vertikultur merupakan cara menanam tanaman dengan cara di tempatkan di media
atau wadah yang disusun secara vertikal, teknik ini digunakan untuk menanam atau
membudidayakan tanaman dengan kondisi lahan yang sempit atau lebih tepatnya cara tanam
dengan memanfaatkan lahan atau ruang tanam yang sedikit untuk menghasilkan panen yang
maksimal.
Teknik vertikultur ini telah banyak dimanfaatkan di daerah perkotaan atau di pedesaan yang
mempunyai lahan yang sempit. Teknik vertikultur dapat diterapkan pada budidaya jahe,
namun vertikultur di sini tidak menyusun tanaman jahe secara vertikal, mengingat tanaman
jahe ini berat nantinya sehingga tidak efisien jika disusun vertikal karena harus mempunyai
penopang yang kuat, sehingga teknik vertikultur pada jahe sering di artikan sebagai cara
tanam yang di susun berjejeran atau bersisian dengan wadah tertentu. lebih jelasnya lihat
gambar di bawah ini.

Nah keunggulannya dengan teknik vertikultur adalah:


Hemat lahan dan air
Wadah atau media dapat disesuaikan dengan kondisi yang ada

Pemeliharaan lebih mudah

Hasil lebih banyak

Mendukung cara pertanian organik

Efisiensi hasil mencapai 90% dari budidaya konvensional

Selanjutnya adalah cara menanam Jahe dengan media karung adalah


1. Penyiapan Media Tanam
Media tanam seperti karung juga mempunyai kelemahan seperti mudah rusak atau bolong,
namun dengan penanganan yang tepat hal tersebut dapat dihindari, selain menggunakan
karung ada juga yang menggunakan polybag, namun permasalahan yang ditemukan adalah
polybag kurang tinggi dan adalagi dengan media keranjang dan pot, namun biayanya tentu
lebih mahal.

Setelah menentukan media apa yang akan kita pakai


selanjutnya yang perlu kita lakukan adalah menyiapkan tanah untuk isian media tadi atau
tempat tanamnya jahe nanti, isian yang digunakan adalah tanah, pasir, dan pupuk organik
dengan perbandingan 1:1:1 atau 1:1:2
Tanah yang baik adalah tanah yang gembur dan subur. Gembur artinya remah dan komposisi
liat, pasir, dan debunya seimbang. Subur berarti banyak kandungan unsur haranya. Jika tanah
tersebut tidak tidak tersedia maka diperlukan perlakuan lain agar tanah dapat digunakan,
seperti penambahan pasir dan pupuk.
Pasir diperlukan jika tanah yang digunakan mengandung fraksi liat yang cukup tinggi. Pasir
yang digunakan adalah pasir ladu atau pasir yang bercampur dengan lumpur. Selain murah,
pasir ini juga masih mengandung bahan-bahan mineral endapan.
Pupuk organik bisa menggunakan pupuk kandang, pupuk kompos atau bokashi. Meskipun
menggunakan pupuk kandang, akan lebih bagus jika pupuk kandang yang telah dihancurkan
dan difermentasi sehingga lebih cepat diserap oleh akar tanaman. Seluruh media tersebut
dicampur merata sambil dibersihkan dari benda-benda yang mengganggu, misalnya plastik,
batu atau benda lainnya. Kemudian media pengisi dimasukkan ke dalam karung atau media
yang telah disiapkan. Pengisian karung atau polybag cukup bagian saja, karena selama
pertumbuhan tanaman nanti, akan dilakukan penambahan pupuk organik.
2. Pembibitan Jahe
Bibit yang ideal adalah bibit telah berumur tua, besar, warnanya cerah dan tidak ada lukanya,
untuk itu saya sarankan untuk memcari bibit dari petani langsung bukan di pasar demi
menjamin kualitas bibit jahe yang akan kita tanam.

Setelah mendapatkan bibit yang kita cari, selanjutnya untuk menghindari penyakit yang
disebabkan jamur perlu dilakukan perendaman bibit kedalam larutan fungisida (misalnya
Dithane M-45) selama lebih kurang 15 menit.
Selanjutnya bibit di semai di tempat yang lembab dan tidak terkena matahari ataupun hujan
secara langsung, bisa di kumbung atau gudang dengan dialasi alang-alang atau jerami,
kemudian letakkan benih secara merata di atas alang-alang atau jerami tadi dan tutup
kembali dengan jerami atau alang-alang.
Perlu diperhatikan untuk mengecek bibit setiap hari guna mengontrol kelembaban benih
dengan menyiraminya dengan sedikit air secara merata, setelah lebih kurang 2 minggu akan
tumbuh tunas-tunas kecil berwarna putih dengan ukuran 3 cm atau lebih, dan itu tandanya
benih siap ditanam ke media.
3. Penanaman Rimpang Jahe

Setelah benih siap ditanam, masukkan rimpang ke dalam karung atau media, banyaknya
jumlah rimpang tergantung besar rimpang dan jumlah mata tunasnya, namun biasanya cukup
menggunakan 5-10 rimpang saja perkarungnya.
Usahakan menanam benih jahe secara merata agar nantinya jahe mudah berkembangnya dan
timbun dengan campuran tanah yang telah diramu sebelumnya. Setelah itu siram dengan air
secukupnya dan letakkan karung yang telah diisi oleh benih ke daerah yang ternaungi dari
sinar matahari langsung sampai usia 2-3 bulan supaya daunnya tidak menguning.
4. Pemeliharaan Tanaman Jahe
Pemeliharaan tanaman jahe dalam karung bisa dikatakan cukup mudah, hanya saja masih

perlu diperhatikan mengenai hal-hal berikut ini.


Penyiraman
Untuk penyiraman tanaman usia sampai 3 bulan perlu dilakukan setiap hari jika kondisi tidak
hujan, hal ini karena pada usia tersebut rimpang masih banyak membutuhkan air, waktunya
lebih baik pada sore hari, untuk usia 3 bulan lebih tidak perlu terlalu sering disiram namun
kondisikan tanahnya agar tanah tidak terlalu kering dan tidak terlalu lembab karena dapat
menyebabkan rimpang menjadi busuk.

Penyiangan
Sampai usia 4 bulan tanaman jahe perlu disiangi karena tanamannya belum begitu rimbun,
hal ini juga masih bisa diakali dengan menambahkan mulsa jerami untuk menekan
pertumbuhan gulma. Selain itu tanah dalam karung perlu digemburkan agar akar tumbuh
dengan mudah dan sirkulasi udaranya baik, caranya bisa menggunakan cetok atau alat bantu
lain yang ada dan bisa memudahkan proses tersebut.
Pemupukan
Pemupukan dapat dilakukan dengan pupuk kimia ataupun pupuk organik, namun dianjurkan
untuk memakai pupuk organik untuk menjamin kualitas alaminya, untuk pupuk organik bisa
di berikan pada usia 2 bulan, banyaknya sekitar 1/5 ukuran media atau karungnya dan
sekaligus melakukan proses pembumbunan tanaman jahe. Pemupukan dapat dilakukan
sebanyak 3 kali sampai waktu panen.
Pemangkasan
Pemangkasan perlu dilakukan untuk merangsang pertumbuhan tunas baru, pada usia 2-3
bulan dapat dilakukan pemangkasan, pangkaslah beberapa tangkai saja, sisakan sedikit untuk
proses fotosintesis tanaman jahe.
5. Pengendalian Hama dan Penyakit

Walaupun jarang terdengar penyakit dan hama yang serius terhadap tanaman jahe ini namun
hal itu cukup merepotkan jika tidak diantisispasi dengan tepat, hama dan penyakit dapat
membunuh tanaman jahe kita jika tidak kita tangani dengan serius, dan berikut adalah hal-hal
yang bisa dilakukan dalam menangani hal tersebut.
Pengendalian dengan Cara Mekanis
Cara ini dengan membunuh atau menyingkirkan secara langsung hama yang mengganggu
tanaman jahe kita, atau dengan alat bantu perangkap seperti menggunakan plastik yang
berwarna cerah (kuning atau merah) yang lekatkan pada bambu dan di olesi dengan lem dan
meletakkannya di sekitar tanaman jahe kita.
Pengendalian dengan Cara Kimiawi
Cara ini dengan menggunakan insektisida yang disemprotkan ke tanaman jahe kita untuk
menanggulangi hama seperti belalang dan ulat, dan dianjurkan untuk menggunakan
insektisida yang berbahan organik supaya tidak merusak tanaman.
Pengendalian Penyakit
Pengendalian penyakit lebih dititik beratkan pada saat pemilihan benih dan perlakuan
sebelum ditanamnya rimpang, dengan perendaman fungisida dan pemilihan benih yang baik
dapat mencegah tanaman dari penyakit, yang pada umumnya disebabkan oleh bibit yang
kurang sehat, biasanya penyakit yang dapat ditimbulkan adalah penyakit layu bakteri dan
penyakit bercak kuning pada daun serta penyakit busuk rimpang, hal tersebut dapat dihindari
dengan pemilihan induk rimpang yang sehat dan perendaman dengan fungisida serta menjaga
kebersihan tanaman serta mencegah genangan air atau kondisi yang terlalu lembab.
Jika tanaman jahe terserang penyakit penanggulangan pertama yang kita lakukan adalah
dengan menyemprotkan bakterisida atau fungisida, namun jika hal tersebut tidak berpengaruh
juga langkah paling tepat adalah memusnahkan tanaman yang terkena penyakit tadi agar
tidak menular ke tanaman di sekitarnya.
6. Pemanenan
Usia pemanenan disesuaikan dengan tujuan produk yang akan kita jual, tanaman jahe merah
dapat dipanen minimal pada usia 10 bulan, jika tujuannya untuk disuling usia panen ideal
adalah usia 10 bulan karena pada usia tersebut kandungan air masih banyak, namun untuk
industri obat-obatan, jamu dan jahe instan usia idealnya adalah satu tahun supaya kualitasnya
kandungannya baik. Selain itu tanda bahwa tanaman jahe merah kita siap dipanen adalah
dengan menguning dan mengeringnya bagian daun dan batang tanaman jahe kita.

Pemanenan jahe dengan media karung sangat mudah, karena hanya dengan menyobek karung
dengan hati-hati lalu bersihkan tanah dari rimpang jahe, bila perlu dicuci dengan air sampai
bersih.
Banyaknya hasil panen tergantung pada ketekunan dan kejelian kita dalam merawat tanaman
jahe kita, namun para petani yang menggunakan media karung minimal menghasilkan 5 kg
per karung ukuran 50 kg, namun dengan penanganan dan cara tanam serta perawatan yang
tepat dapat menghasilkan sampai 20 kg perkarungnya
Demikian pembahasan saya tentang cara budidaya jahe merah dengan media karung. Semoga
dapat menjadi referensi anda yang tepat dalam mengembangkan tanaman jahe merah anda.
Terima kasih telah mampir di blog saya.